HUKUM INTERNASIONAl
Oleh : Nurul Hikmah
• Menurut Mochtar Kusumaatmadja, Hukum
internasional (publik)  keseluruhan kaidah
dan asas hukum yang mengatur hubungan
atau persoalan yang melintasi batas negara.
• Hukum perdata internasional  keseluruhan
kaidah dan asas-asas hukum yang mengatur
hubungan perdata yang melintasi batas
negara
Istilah yang digunakan:
•
•
•
•
•
International law
Public international law
Law of nations
Inter state law
Transnational law  istilah ini digunakan oleh
pakar yang tidak setuju pada pembagian hukum
internasional public dan hukum internasional
perdata. Yaitu prinsip dan kaidah yang mengatur
hubungan hukum antara subjek-subjek hukum
dan bersifat lintas batas negara.
Sifat Hukum Internasional
• Sifatnya koordinatif bukan sub-ordinatif
• Hubungan internasional yang diatur oleh
hukum internasional dilandasi oleh
persamaan kedudukan antar anggota
masyarakat bangsa-bangsa.
• Tidak ada badan supranasional ataupun
pemerintahan dunia (world government) yang
memiliki kewenangan membuat dan
memaksakan berlakunya aturan internasional.
Tidakkah PBB
merupakan badan
supranasional ?
Organisasi terbesar
dengan anggota
hampir 200 negara
Mengurus masalah
politik, ekonomi,
keamanan &
hukum
Dipimpin oleh
SEKJEN
Memiliki
Mahkamah
Internasional
International Law
Commission (ILC)
Perwujudan Hukum Internasional
bilateral
universal
multilateral
trilateral
regional
Eksistensi Hukum Internasional
• Austin :
- bukan hukum sesungguhnya
- menurutnya utk dikatakan sebagai hukum
harus memenuhi dua unsur :
> badan legislatif
> aturan yang dipaksakan
- positif morality
• Oppenheim :
- menurutnya, really law memenuhi tiga
syarat: adanya aturan hukum, adanya
masyarakat internsional, adanya jaminan
pelaksanaan dari luar (external power).
- menurutnya hukum internasional adalah
hukum yang lemah (weak law)
• Para pakar HI modern menyatakan bahwa
hukum internasional adalah hukum yang
sesungguhnya bukan sekedar positive
morality.
Bilamana HI merupakan kaidah moral  tidak
ada external power  kesadaran subjek
hukum.
Pengakuan masy. Internasional
trhadap Hi sbg hukum
• Dari pendapat Dixon:
1. HI bnyk dipraktekkan oleh pejabat2 LN,
foreign offices, pengadilan nasional dan
organisasi internasional
2. negara2 yg melanggar HI dlm praktek tdk
mengatakan bhw mrk melanggar hukum krn
HI tdk mengikat mrk.
3. Mayoritas negara mematuhi HI
4. Adanya lembaga2 penyelesaian hukum sprt
arbritase dan berbagai pengadilan
internasional yg menggunakan argumentasi2
hukum dlm penyelesaian sengketa yg
ditanganinya
5. Dlm praktek HI dpt diterima kedalam hukum
nasional negara2. tidak ada satu negarapun
dlm membuat hukum nasionalnya tanpa
melihat kaidah HI yg ada.
DASAR MENGIKATNYA HI :
•
•
•
•
Menurut aliran dalam HI
1. hukum alam
2.positivisme
3.modern
Hukum Internasional, Negara Maju,
dan Negara Berkembang
• HI meskipun mengalami perkembangan
namun masih etnosentris, berpihak pada
kepentingan negara-negara barat dan negaranegara maju.
• Hukum bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak
tertentu sbg alat untuk mencapai suatu
kepentingan.
Pemanfaatan HI sbg instrumen politik
mnrt. Hikmahanto :
Pengubah
konsep
Sarana
Intervensi
urusan domestik
Alat penekan
SUMBER-SUMBER HUKUM
INTERNASIONAL
Oleh: Nurul Hikmah
• Dalam HI ada 2 pasal yg mencantumkan sec
tertulis sumber hukum dlm arti formil :
1. konvensi Den Haag XII tgl 18 okt 1907
 mendirikan Makamah Internsn Perampasan
kapal di laut (Internasional Prize Court).
2. pasal 38 Piagam Mahkamah Internasnl
Permanen tgl 16 des 1920 yg kmd diterima
berlakunya piagam PBB tgl 26 jun 1945
Pasal 38 ayat 1 : dlm mengadili perkara yg diajukan,
Mahkamah Internasional akn mempergunakan:
Kebiasaan
Perjanjian
Internasional
Internasional
(Internasional
(treaty)
Custom)
Prinsip
Hukum
Umum
(General
Principles of
Law)
Sumber
hukum
tambahan
Keputusan
badan
organisasi dan
lembaga
internasional
treaty
• Menurut Konvensi wina Pasal 2 1969,
Perjanjian Internasional (treaty) didefinisikan
sebagai:
“Suatu Persetujuan yang dibuat antara negara
dalam bentuk tertulis, dan diatur oleh hukum
internasional, apakah terdiri dari satu
instrumen atau lebih dan apapun nama yang
diberikan.”
• Konvensi Wina 1969  dapat digunakan trhdp
sengketa mengenai perjanjian yg dibentuk
negara dg negara dan bentuknya tertulis.
• Konvensi Wina 1986  utk sengketa yg
pihaknya bukan negara melainkan organisasi
internasional.
International customary law (Hukum
Kebiasaan Internasional)
• Men. Dixon: hukum yang berkembang dari
praktek/ kebiasaan negara-negara.
• Merupakan sumber hukum tertua dalam HI
• HI tumbuh dan berkembang melalui kebiasaan
negara-negara.
• Hukum kebiasaan internasional berbeda
dengan hukum adat istidat (usage) atau
kesopanan internasional (international
community) ataupun persahabatan
(friendship)
• Praktek negara-negara yang tidak diterima
sebagai hukum kebiasaan mrp kesopanan
internasional
Praktek suatu negara mrp hukum
kebiasaan / kesopanan / adat ?
1. Memenuhi dua unsur hukum kebiasaan
intenasional secara kumulatif
a. Unsur faktual  adanya praktek umum
negara, berulang-ulang dan dlm jangka
waktu lama
b. Unsur psikologis  bersifat abstrak dan
subjektif
2. Perubahan hukum kebiasaan internasional
 Suatu hukum kebiasaan baru (new customary
law) dapat menggantikan hukum kebiasaan
lama  bila ada praktik negara yang
bertentangan dg hukum kebiasaan yg sudah
ada  di dukung oleh opinio jurist
3. Hubungan antara hukum kebiasaan dengan
perjanjian internasional
SUBJEK HUKUM INTERNASIONAL
Mampu menuntut
hak-haknya di dpn
pengadilan
Menjadi subjek dari
bbrp kewajiban HI
Kecakapan hukum
bagi subjek HI
Mampu membuat
perjanjian
internasiona yg sah
Memiliki imunitas
dari yurisdiksi
pengadilan domestik
Subjek HI
• Negara
• Organisasi
Internasional
• INGO
• Individu
• Tahta suci (vatikan)
• Palang Merah
Internasional
• Belligerent
• Perusahaan
Transnasional
• Organisasi bangsa
yang
memperjuangkan
haknya
1. negara
• Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933 tentang
hak dan kewajiban negara merupakan
konvensi regional kawasan Amerika yg
senantiasa mjd rujukan pertanyaan kapan
suatu kesatuan (entitas) dikatakan sbg negara.
KARAKTERISTIK NEGARA “PASAL 1
KONVENSI MONTEVIDEO 1933”
•
•
•
•
Wilayah negara (Defined Territory)
Penduduk (Permanent Population)
Pemerintah (Government)
Kemampuan melakukan hubungan dg neg lain
2. 0rganisasi internasional
• Baru diakui sbg subjek HI yg berhak
menyandang hak dan kewajibannya sejak
keluarnya advisory opinion MI dalam kasus
Repration Case 1949.
• Kasus ini bermula dari tertembaknya
Pangeran Bernadotte dari Swiss oleh tentara
Israel, saat menjalankan tugas sbg mediator
PBB di Timur Tengah.
• Men PBB: Israel tlh gagal utk mencegah tjdnya
pembunuhan dan menghukum pembunuh shg
PBB menuntut ganti rugi berdasarkan HI.
• Apakah PBB memiliki legal personality dan
legal capacity utk menuntut kerugian pada
israel.
• MI dalam advisory opinion nya  secara de
jure dan de facto cukup PBB yg memiliki legal
personality dan legal capacity utk bertindak di
depan hukum mewakili kepentinan PBB juga
kepentingan korbannya.
• legal personality dan legal capacity  hal
yang sangat penting dimiliki oleh organisasi
internasional agar dpt menjalankan fungsinya.
Karakteristik Organisasi
internasional:
Adanya
perjanjian yg di
bentuk oleh
negara-negara
Memiliki
sekretariat tetap
Mampu membuat
perjanjan internsnl dg
subjek2 HI
Memiliki property atas
nama sendiri
International legal
capacity yg hrs dimiliki
OI
Dpt melakukan
perbuatan hukum atas
nama anggota2nya
Dpt menuntut dan
dituntut di pengaadilan
Internasionl
• Organisasi tidaklah sebebas negara, krn setiap
putusannya melibatkan persetujuan negara2
angotanya.
• Pd dasarnya organisasi internasional dan
subjek-subjek lain non negara  subjek
derivatif  subjek turunan yg keberadaannya
atas kehendak negara.
• Convention on the Recognition of the legal
Personality of INGO 1986 adlh contoh
instrumen hukum yg mencoba utk
menetapkan status hukum INGO. Kovensi ini
dibentuk dan ditandatangani oleh negaranegara anggota The Council of Europe yg
mengakui dan menyadari semakin besarnya
peran INGO dalam hubungan internasional.
4. INGO / NGO’s
• Organisasi privat internasional.
• Th 1945 organisasi ini semakin besar.
Organisasi ini bergerak di berbagai bidang sprt
berbagai layanan hukum, psikiater, save the
children (KB), pekerja sosial, perlindungan
satwa langka, dll.
5. individu
• Case Concerning Competence of the Courts of
Danzig tahun 1928.
Dlm kasus ini mahkamah internasional melalui
PJIC menyimpulkan bahwa “pada dasarnya
perjanjian yg tlh disepakati tidak
menimbulkan hak dan kwjbn bg individu
kecuali apbl para pihak perjanjian bermaksud
demikian”.
• Individu memiliki international personality,
mampu menyandang hak dan kewajiban yg
diberikan HI padanya.
• Para ahli HI menyatakan bhw dibuatnya berbagai
konvensi HAM menunjukkan keseriusan HI
menempatkan individu sbg subjek HI, namun
keberadaan konvensi2 akn kurang berarti tnpa di
sertai penguatan hak individu utk mengaukn
tuntutan ats nama dirinya ke pengadilan
internasional.
6.Tahta suci (vatikan)
• Peninggalan sejarah jaman dahulu ketika itu
Paus bukan hanya sbg kepala gereja Roma ttp
jg memiliki kkuasaan dunia.
• Tahta suci mrp subjek hukum yg
kedudukannya sejajar dg negara.
7. Palang merah internasional
• Berkedudukan di Swiss.
• Kedudukannya tdk lepas dari perannya yg
besar dlm memberikan pertolongan korban
perang dunia I dan II.
• Walaupun sbg orgnss non pemerintah,
organisasi ini tlh mmbrkn kontribusi yg besar
pd pembentukan konvensi jenewa 1949.
8. belligerent
• Pemberontak
PENGAKUAN INTERNASIONAL
• Munculnya teori “pengakuan” memberikan
dorongan kpd bangsa2 terjajah utk
memperjuangkan haknya
• Eksistensi suatu negara berkenaan dg
kemampuannya utk menyelenggarakan
hubungan internasional meskipun kepastian
batas wilayah blm ditentukan.
• Pengakuan thdp neg baru adlh suatu
pernyataan/sikap dr suatu pihak utkn
mengakui eksistensi entitas politik baru sbg
neg baru, subjek HI dg hak2 dan kwjbn,
dimana dg pengakuan berarti bhw pihak yg
mengakui bersedia mlkkn hub dg pihak yg
diakui.
HUKUM INTERNASIONAL DAN
HUKUM NASIONAL
Oleh: Nurul Hikmah
HI-HN merupakan satu kesatuan
hukum/terpisah satu sama lain?
Aliran
monisme
Aliran
Dualisme
• Aliran monisme primat HI
• Aliran monisme primat HN
• Dua sistem hukum yg berbeda
antara satu dg yg lain.
Men. Aliran Monisme:
• HI dan HN merupakan dua kesatuan hukum dari
satu sistem hukum yg lebih besar yaitu hukum
pada umumnya.
• Kemungkinan terjadinya konflik antar keduanya
sangat besar sekali karena terletak dalam satu
sistem hukum
• Muncul persoalan hirarki antara HN-HI yg
melahirkan beberapa sudut pandang yang
berbeda
Pandangan monisme dg primat HN:
• Aliran ini pernah kuat di Jerman dg nama
madzhab Bonn yg diikuti oleh Max Wenzel
• HI merupakan lanjutan HN
• Pd hakikatnya HI bersumber pd HN oleh karena
itu HN kedudukannya lebih tinggi dr pd HI
Pandangan monisme dg primat HI:
• HN bersumber pada HI  men. Pandangannya
mrp suatu perangkat ketentuan hukum yang
hirarkis lebih tinggi
• Kekuatan mengikatnya HI thdp HN berdasarkan
suatu pendelegasian wewenang dari HI
• Paham ini dikembangkan oleh madzhab Vienna
dan didukung oleh aliran yg berpengaruh di
Perancis
• Kelemahan-kelemahan:
1. ada pandangan bhw HN bergantung pd HI.
Hal itu bertentangan dg sejarah bhw HN telah
ada sebelum adanya HI
2. wewenang suatu negara sepenuhnya
adalah wewenang HN
• Kesimpulan : pada hakikatnya HI mrp suatu
perangkat hukum yg mengatur kehidupan
antar negara dan tunduknya negara pd HI mrp
persoalan hubungan subordinasi dalam arti
struktural organis.
Aliran Dualisme
• Pernah berpengaruh di Jerman dan Italia
• Pemuka aliran ini: Triepel dan Anzilotti
• Aliran ini mengemukakan bhw antara HI-HN mrp
dua sistem hukum yg berbeda, perbedaanny
pada:
-sumber
-subjek
-HN memiliki integritas yg lebih sempurna
dibandingkan dg HI
Praktek HN di depan pengadilan
internasional:
• Suatu negara tidak dapat menggunakan HN
nya yg bertentangan dg HI sbg alasan utk
menjustifikasi pelanggaran HI yg dilakukan
pada pihak lain
• Suatu negara tidak dapat menggunakan alasan
ketiadaan HN-nya utk menjustifikasi
pelanggaran HI yg dilakukan pada pihak lain
• Tanggung jawab internasional timbul hanya ketika
negara gagal utk memenuhi kewajiban
internasional
• HN dpt diajukan di Pengadilan Internasional
apabila tidak bertentangan dg HI  teori
oposabilitas
• HN dpt diajukan di Pengadilan Internasional sbg
bukti adanya praktek hukum kebiasaan
internasional
• Pengadilan Internasional dpt memberikan
putusan bahwa suatu HN tdk cukup
memenuhi kewajiban HI. Demikian pula
pengadilan internasional tidak berhak
menyatakan bahwa HN mrp negara valid atau
invalid krn menyangkut urusan domestik
negara yg bersangkutan.
Hukum Internasional di depan
Pengadilan Nasional
• Status dan perlakuan terhadap HI berbedabeda dalam praktek antara satu negara dg yg
lain. Mayoritas negara memiliki konstitusi
tertulis atau document sbg ketentuan yg
fundamental bgmn HI di depan pengadilan
nasional
Ada dua praktek yg diikuti oleh banyak
negara:
• HI berlaku otomatis mjd bagian HN tanpa
adopsi sebelumnya
• Perjanjian yg sdh diratifikasi akn mengikat
Doctrine of
lgsg pd warga negara
incorporation
Doctrine of
transformation
• HI menjadi HN setelah diimplementasikan
dlm HN lebih dahulu
Eksistensi HI terhadap HN:
1. HI akan lebih efektif bila ditransformasikan ke dalam
HN
2. HI akan menjembatani HN ketika tidak dapat
diterapkan di wilayah negara lain
3. HI akan mengharmonisasikan perbedaan-perbedaan
dalam HN
4. HI banyak tumbuh dari praktek HN negara-negara
5. Prescription Jurisdiction  negara memiliki
kewenangan membuat aturan perundang2an dlm
HN-ny namun tidak bisa lepas dari aturan HI
WILAYAH
Oleh: Nurul Hikmah
• Wilayah merupakan atribut yg sangat penting
bagi eksistensi suatu negara.
• Negara memiliki hak-hak untuk melaksanakan
kedaulatan atas orang, benda juga peristiwa
atau perbuatan hukum yang terjadi di
wilayahnya.
• Negara wajib mengatur wilayahnya sendiri. Di
atas wilayahnya, negara wajib untuk tidak
menggunakan tindakan-tindakan yang
merugikan negara lain serta tidak
membahayakan perdamaian dan keamanan
internasional (pasal 7 Draft Deklarasi PBB
tentang hak-hak dan kewajiban negara 1949).
UU No.43 th. 2008 mengatur wilayah
negara Indonesia dg tujuan:
1. Menjamin keutuhan wilayah negara,
kedaulatan negara dan ketertiban di
kawasan perbatasan demi kepentingan
kesejahteraan segenap bangsa
2. Menegakkan kedaulatan dan hak-hak
berdaulat
3. Mengatur pengelolaan dan pemanfaatan
wilayah negara dan kawasan perbatasan,
termasuk pengawasan batas-batasnya.
• UU No. 43 menetapkan bahwa wilayah negara
Indonesia meliputi wilayah darat, wilayah
perairan, dasar laut dan tanah di bawahnya
serta ruang udara di atasnya termasuk wilayah
sumber kekayaan yang terkandung di
dalamnya.
Daratan suatu
negara terdiri
dari:
Darat (bagian
wilayah yang
kering)
Perairan
daratan
Sungai
Danau
Daratan suatu negara
• Merupakan daratan awal suatu negara atau
wilayah tambahan negara tersebut
• Luas daratan awal ditentukan oleh tindakan
atau pernyataan sepihak suatu negara ketika
memproklamirkan kemerdekaannya
• Atau ditentukan oleh perkembangan setelah
negara itu terbentuk sbgmn terjadi pada Israel
dan Polandia yg wilayah daratan awalnya
belum pasti saat merdeka.
• Perjanjian internasional pada umumnya di
buat oleh negara untuk mengatur masalah
perbatasan wilayahnya di darat.
• Indonesia memiliki perbatasan wilayah darat
dg tiga negara, yaitu Malaysia, Timor Leste
dan Papua Nugini.
Disamping daratan awal,
dalam Hukum Internasional
dikenal adanya wilayah
tambahan yang berdasarkan
teori-teori hukum
internasional klasik yg dapat
diperoleh suatu negara dg
cara-cara berikut :
1. Okupasi atau Pendudukan
• Merupakan perolehan atau penegakan
kedaulatan atas wilayah yang terra nulius
• Yaitu wilayah yang sebelumya belum pernah
diletakkan di bawah kedaulatan suatu negara.
Unsurunsur yg
harus
terpenuhi
oleh
tindakan
okupasi:
• Adanya penemuan terhadap
wilayah terra nulius
• Adanya kehendak dari negara
yg menemukan wilayah baru
utk ditempatkan di bawah
kedaulatannya
• Harus di wujudkan dalam
tindakan-tindakan yg efektif
(prinsip efektivitas)
• Unsur penemuan  unsur objektif.
• Unsur kehendak yang diwujudkan dengan
tidakan-tindakan nyata  unsur subjektif.
• Terpenuhinya unsur penemuan merupakan
unsur pendahuluan bagi keabsahan tindakan
(enchoate title ).
• Tindakan-tindakan efektif dalam okupasi
tampak dari beberapa putusan pengadilan
Internasional seperti Palman Case, Clipperton
Island Case Eastern Greenland Case, juga
Sipadan Ligitan.
Bagaimana kriteria tindakantindakan dalam pelaksanaan
prinsip evektifitas ?
• Tindakan efektivitas dalam klaim okupasi adalah
tindakan administrasi bukan tindakan kekerasan.
• Okupasi berasal dari bahasa Romawi Occupatio
yang artinya administrasi.
• Bukan okupasi dari kata Occupation (bahasa
Inggris) yang mengandung arti pendudukan yang
di dalamanya ada unsur kekerasan militer.
Besar kecilnya
pulau
Jauh tidaknya
pulau yg
diklaim
Sulit tidaknya
medan yg hrs
ditempuh
Tindakan yg
dilakukan
negara utk
mengklaim
hak okupasi:
Banyak
tidaknya
kekayaan alam
di pulau tsb.
2. Aneksasi atau Penaklukan
•  penggabungan suatu wilayah negara lain dg
kekerasan atau paksaan ke dalam wilayah negara
yg menganeksasi.
• Syarat atau unsur terjadinya perolehan wilayah
dg aneksasi  wilayah benar-benar telah
ditaklukkan serta adanya pernyataan kehendak
secara formal oleh negara penakluk utk
menganeksasinya.
• Aneksasi yg bertentangan dg HI tidak perlu diakui.
Aneksasi mrp tindakan yg bertentangan
dg HI. Hal ini di sebutkan oleh:
• Kellog Briand Pact 1928  yg melarang
perang sebagai instrumen kebijakan suatu
negara.
• Pasal 2 (4) Piagam PBB  melarang tindakan
mengancam / menggunakan kekerasan
terhadap integritas wilayah atau kemerdekaan
politik negara lain
• Deklarasi prinsip-prinsip HI tentang
hubungan baik dan kerjasama antar negara
1974  wilayah suatu negara tidak bisa
dijadikan objek perolehan oleh negara lain dg
cara ancaman / penggunaan kekuatan.
• Contohnya di Indonesia yaitu pulau karang.
Pulau terluar indonesia yang terletak di laut Aru
dan berbatasan dengan negara Australia. Pulau
Karang ini merupakan bagian dari wilayah
pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi
Maluku.
Pulau ini berada di sebelah selatan dari Pulau
Aru dengan koordinat 7° 1′8″ LS, 134° 41′26″ BT.
Pulau-pulau ini terdapat kemungkinan untuk di
duduki negara lain karena letaknya yang berada
paling luar di indonesia yang juga kurang
mendapat perhatian lebih dari pemerintah
Indonesia.
Kecuali jika telah terdapat negara lain yang
terlihat sedang berusaha mengambil pulau ini,
baru pemerintah akan bertindak.
• Contohnya seperti Amerika, China, Korea yang
mempunyai personil militer banyak yang kuat.
Seperti yang kita ketahui, Amerika menggunakan
kekuasaannya dengan mengirim pasukan militer untuk
menguasai suatu negara. Hal ini terlihat bahwa
Amerika lebih suka menggunakan cara kekerasan untuk
mendapatkan atau memperoleh suatu wilayah.
Seperti yang terjadi di negara Israel. Israel dulunya
yang tidak mempunyai wilayah atau tempat sekarang
mendapatkan wilayah di sekitar Palestina, dan saat ini
Israel bisa dikatakan dibawah kekuasaan Amerika
karena Israel sangat bergantung pada Amerika. Namun
yang disadari, bagaimanapun juga pemerolehan
wilayah dengan cara kekerasan tidak dibenarkan
menurut Hukum Internasional karena bertentangan
dengan Piagam PBB pasal 2 ayat 4.
3. Akresi / avulsi
• Merupakan cara perolehan wilayah baru dg
proses alam (geografis) terhadap wilayah yg
sudah ada di bawah kedaulatan suatu negara.
• Proses atau kejadian alam terjadi perlahan-lahan,
bertahap seperti endapan-endapan lumpur yg
membentuk daratan, ataupun mendadak seperti
pemindahan tanah.
• Akresi  secara bertahap, avulsi  secara
mendadak
• Perolehan wilayah atas alas hak akresi tidak
memerlukan tindaan resmi atau formal seperti
pernyataan resmi dari negara yg
bersangkutan.
4. preskripsi
• Berbeda dg okupasi, preskripsi ini mrp
pelaksanaan kedauatan oleh negara sec de facto
dan damai, bukan trhdp terra nulius melainkan
thd wilayah yg berada di bwh kedaulatan neg lain.
•  perolehan wilayah oleh suatu negara akibat
pelaksanaan secara damai kedaulatan de facto
dalam jangka waktu yang lama atas wilayah yg
sebenarnya de jure masuk wilayah negara lain.
Beberapa syarat preskripsi men. Fauchille
& Johnson yg dikutip oleh Ian Brownlie:
• Kepemilikan harus memperlihatkan suatu
kewenangan / kekuasaan negara dan wilayah tsb,
tidak ada negara lain yg mengklaimnya.
• Kepemilikan hrs berlangsung secara terus
menerus dan damai, juga tdk ada negara lain yg
mengklaimnya.
• Kepemilikan hrs bersifat publik  hrs diumumkan
dan diketahui oleh pihak lain.
5. Cessie
•  cara perolehan tambahan wilayah melalui
proses peralihan hak dari suatu negaraa ke
negara lain.
• Cessie dapat dilakukan dg sukarela maupun dg
kekerasan
• Pada umumnya kekerasan dilakukan akibat kalah
perang. Pihak yg kalah dipaksa untuk
menyerahkan sebagian wilayahnya kepada pihak
pemenang melalui perjanjian Internasional.
Cessie dapat dilakukan dg cara:
• Jual beli  penjualan Alaska oleh Rusia pada AS
th 1867. Denmark menjual bbrp daerahnya di
West Indies pd Amerika pd th 1916.
• Tukar menukar  penukaran Helgoland dg
Zanzibar oleh Jerman dan Inggris tahun 1890.
• Penyewaan  penyewaan oleh Cina pada Inggris
selama 99 th (1898-1997)
• Penyerahan  penyerahan Elsace-Lorraine pada
1871 oleh Perancis pada Jerman akibat kalah
perang yg kmd dikembalikan pd th 1919.
• Pada cessie beralih semua hak-hak berdaulat
yg terkandung dlm wilayah yg diserahkan. Dan
suatu negara yg melakukan penyerahan
wilayah tidak dpt mengalihkan lebih dr pd
wilayah di mana ia telah melaksanakan
kedaulatannya.
6. Referendum
• Cara ini mrp cara perolehan tambahan wilayah
yang modern.
• Referendum (pemungutan suara) mrp
implementasi atau tindak lanjut dari
keberadaan hak menentukan nasib sendiri
(self determination right) dalam HI.
• Proses referendum yg sah dilakukan secara
langsung one man one vote dg dipantau
lembaga internasional yg sah.
• Sebagaimana yg pernah dilakukan oleh Timor
timur 1999 untuk memintai pendapat rakyat
apakah mau merdeka ataukah tetap
berintegrasi dg Indonesia? Kasusnya dikawal
oleh UNTAET.
Hukum Laut
Oleh: Nurul Hikmah
• Wilayah laut adalah laut beserta tanah yg ada di
bawahnya.
• Tanah di bawah laut terdiri dari dasar laut &
tanah di bawah dasar laut
• Wilayah laut terbagi atas wilayah yg dikuasai oleh
negara (negara pantai) dg laut yg tdk dikuasai
oleh negara.
• Konvensi PBB tentang hukum laut 1982 (UNCLOS
1982) melahirkan delapan zonasi pengaturan
(regime) hukum laut, yaitu:
1. Perairan Pedalaman
• Perairan yg berada pada sisi darat (dalam) dari
garis pangkal yg dipakai utk menetapkan laut
teritorial suatu negara.
• Di kawasan ini negara memiliki kedaulatan mutlak
seperti kedaulatan negara di daratan tanpa
adanya pembatasan oleh HI dlm bentuk kwjbn
utk memberikan jaminan hak lintas damai bg
kapal asing
• Pada prinsipnya tidak ada hak lintas damai di
kawasan ini, kecuali kawasan perairan pedalaman
yg terbentuk krn penarikan garis dasar lurus.
• Batas terluar dari perairan pedalaman bg
suatu negara pantai biasa adlh garis pangkal.
• Sedangkan bagi negara kepulauan berlaku
suatu ketentuan khusus bhw perairan
pedalaman dpt ditetapkan dg menarik suatu
grs penutup pd mulut sungai, teluk,
pelabuhan yg berada pd perairan
kepulauannya.
2. Laut Teritorial
• Laut yg terletak pada sisi luar dari garis pangkal
dan tidak melebihi dari 12 mil laut.
• Di kawasan ini kedaulatan negara penuh trmsk
atas ruang udara di atasnya.
• Hak lintas damai diakui bagi kapal-kapal asing yg
melintas
• Hak lintas damai adalah menurut konvensi
Hukum Laut 1982  hak untuk melintas secepatcepatnya tanpa berhenti dan bersifat damai tidak
mengganggu keamanan dan ketertiban negara
pantai.
Tidak menggunakan
kekerasan yg
melanggar integritas
wilayah
Tidak melakukan
latihan militer tanpa
seizin negara pantai
Tidak melakukan
kegiatan yg melanggar
keamanan ketertiban
negara pantai
Tidak melakukan
tindakan propaganda
melanggar keamanan
ketertiban negara
pantai
Tidak melakukan
kegiatan penangkapan
ikan
Kegiatan penelitian
Tdk melakukan aktifitas
yg menimbulkan
pencemaran
Kegiatan yg
mengganggu sistem
komunikasi
Tidak melakukan
bongkar muat
komoditas,
penumpang, mata
uang yg melanggar
aturan customs, fiscal
& immigration
Kapal-kapal selam hrs
tampak dari
permukaan serta
menunjukkan bendera
negaranya
Tidak melakukan
peluncuran dan
pendaratan dari atas
kapal tms kapal militer
Pelaksanaan
Lintas Damai
• Selama kurang lebih setengah abad lebar laut
teritorial mjd objek pertentangan antara
negara, dg variasi tuntutan antara 3 sampai dg
200 mil laut.
• Batas terluar laut teritorial akan disesuaikan
dg lebar laut teritorial yg dipilih oleh masing2
negara.
• Adanya perubahan lebar laut teritorial dari 3
mjd 12 mil sbgian besar dari selat yg biasa
digunakan utk pelayaran internasional
berubah statusnya mjd bagian laut teritorial
bahkan ada yg mjd bag dari perairan
pedalaman.
3. Zona Tambahan
• Di luar laut teritorial, suatu jalur / zona yg
berbatasan dgnya disebut jalur / zona tambahan.
• Laut yg terletak pada sisi luar dari garis pangkal
dan tidak melebihi batas 24 mil laut dari garis
pangkal.
• Negara pantai dpt melaksanakan pengawasan yg
diperlukan utk mencegah pelanggaran peraturan
perundang-undangannya di bidang bea cukai,
fiskal, imigrasi dan perikanan.
4. Landas Kontinen
• Meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya
(seabed and subsoil) dari area di bawah
permukaan laut yg terletak di luar laut teritorial –
hingga jarak 200 mil laut dari garis pangkal dari
mana lebar laut teritorial diukur.
• Negara pantai mpy hak-hak berdaulat utk
melakukan kegiatan2 eksplorasi dan eksploitasi
dari kekayaan alam yg terkandung di dalamnya.
5. Zona Ekonomi Eksklusif
• Batas terluar ZEE tidak boleh melebihi 200 mil laut,
diukur dr garis pangkal yg sama yg dipakai utk
mengukur lebar laut teritorial.
• Di zona ini negara memiliki hak-hak berdaulat yg
eksklusif utk keperluan eksplorasi dan eksploitasi
sumber kekayaan alam serta yurisdiksi terhadap:
- pembuatan dan pemakaian pulau buatan, instalasi
dan bangunan
- riset imiah kelautan
- perlindungan & pelestarian lingkungan laut.
• Pasal 55 konvensi hukum laut 1982
menetapkan bhw pd suatu jalur laut yg
terletak di luar dan berdampingan dg laut
teritorialnya yg dinamakan zona ekonomi
eksklusif, suatu negara mpy hak2 berdaulat
dan yurisdiksi khusus utk memanfaatkan
kekayaan alam yg berada pd jalur tsb tms pd
dasar laut dan tanah dibawahnya.
• Setiap neg pantai memiliki hak2 berdaulat utk
eksplorasi dan eksploitasi, konservasi dan
pengelolaan sumber daya alam baik hayati
maupun non hayati yg terkandung dlm zona
ekonomi eksklusif yg terletak di luar dan
berbatasan dg laut teritorial.
• Di ZEE negara2 lain tetap memiliki kebebasan utk
berlayar dan terbang di atasnya, serta utk
memasang kabel dan pipa di dasar lautnya.
6. Laut Lepas
• Tidak dapat diletakkan di bawah kedaulatan yg dikuasai
oleh suatu negara manapun
• Kawasan laut lepas berlaku sbg prinsip kebebasan
dalam batas-batas HI. Di laut lepas, setiap negara biak
neg pantai/neg tdk berpantai dpt menikmati
kebebasan2 di laut lepas (freedom of the high seas)
• Seperti kebebasan berlayar, penerbangan, memasang
kabel dan pipa, pembuatan pulau buatan, kebebasan
menangkap ikan dan penelitian ilmiah.
• Kebebasan utk menangkap ikan di bag laut
lepas dihapuskan sampai dg batas 200 mil laut
dr garis pangkal yg skrg diberi status sbg zona
ekonom eksklusif.
7. Dasar Laut Samudra Dalam
(Sea Bed Area)
•  kawasan dasar laut yang tidak terletak di
dalam yurisdiksi negara manapun.
• Satu kemajuan yang sangat berarti di peroleh
oleh negara-negara berkembang di kawasan
ini karena diakuinya prinsip warisan bersama
umat manusia (common heritage of mankind)
serta terbentuknya badan otorita hukum laut
internasional sbg tindak lanjutnya
PENGAKUAN INTERNASIONAL
• Munculnya teori “pengakuan” memberikan
dorongan kpd bangsa2 terjajah utk
memperjuangkan haknya
• Eksistensi suatu negara berkenaan dg
kemampuannya utk menyelenggarakan
hubungan internasional meskipun kepastian
batas wilayah blm ditentukan.
• Pengakuan thdp neg baru adlh suatu
pernyataan/sikap dr suatu pihak utkn
mengakui eksistensi entitas politik baru sbg
neg baru, subjek HI dg hak2 dan kwjbn,
dimana dg pengakuan berarti bhw pihak yg
mengakui bersedia mlkkn hub dg pihak yg
diakui.
• Men. J.G. Starke dlm bukunya terdapat dua teori
mengenai hakikat dan fungsi dari “pengakuan”
1. teori konstitutif : hanya tindakan pengakuan
yg menciptakan status kenegaraan atau
melengkapi pemerintah baru dg otoritasnya di
lingkungan internasional
2. teori deklaratif : status kenegaraan tdk
tergantung pd pengakuan semata, pengakuan
hny pengumuman resmi semata trhdp fakta yg
ada
Sarjana HI lain berpendapat bhw:
“Pengakuan harus dilihat sifatnya, apakah
bersifat membentuk  menganggap
pengakuan mrp unsur penting berkenaan dg
status negara dlm pergaulan internasional
Atau bersifat menyatakan  hny mempertegas
existensi negara tsb dlm pergaulan
internasional.
Bantahan trhdp kedua teori tsb.
• Teori konstitutif : mslh pengakuan bkn mrp
kewajiban, tdk adanya ketentuan yg mengatur
jumlah min. Negara yg mmbri pengakuan.
• Teori deklaratif : pengakuan hny bersifat
formalitas. Existensi negara tdk ditentukan
oleh ada/tdknya pengakuan dr neg lain.
Contoh: negara Transkey di Afrika bag selatan
• Kedua teori tsb bnyk mengandung kelemahan
praktis terutama dlm kaitannya antara neg
baru dg neg yg menolak memberi pengakuan
 teori jalan tengah
• Teori jalan tengah hendaknya membedakan
antara negara sbg pribadi internasioanal pd
satu pihak dan kemampuan negara sbg pribadi
internasional dlm melaksanakan hak dan
kewajiban internasional.
Praktek negara dlm memberi
“pengakuan”
Dilakukan sec tegas (express
recognition)
Sec diam-diam atau tersirat (implied
recognition)
Sec bersyarat
Secara kolektif
Pengakuan sec. tegas
• Adanya pengakuan lewat public statement,
perjanjian bilateral, nota diplomatik atau
pembukaan kedutaan besar di suatu negara
Pengakuan sec diam-diam
•  didasarkan tindakan pihak yg
bersangkutan, shg terdpt “niat” utk memberi
pengakuan
Pengakuan bersyarat
• Adanya kwjbn yg hrs dipenuhi oleh negara yg
diakui
• Akibatnya: apabila kwjbn tdk dipenuhi tdk akn
menghapus pengakuan ttp kemungkinan neg
yg mengakui memutuskn hub diplomatik sbg
sanksi
Pengakuan sec. kolektif
•  pemberian pengakuan yg diberikan
sekelompok neg kpd satu neg.
• Contoh:
- Liga Arab memberi pengakuan thdp
kemerdekaan RI th. 1947
- masyrkt Eropa (kongres Belrin) mengakui
Bulgaria
Konskuensi adanya pengakuan
• Status negara yg diakui sec. de jure mpy hak
penuh dlm keanggotaan di masyarakat
internasional. Shg neg tsb dpt menjalin
hubungan diplomatik dg neg lain.
• Sejak pengakuan diberikan, kedua belah pihak
memikul beban hak dan kewajiban huk
internasional.
Pengakuan thdp pemerintah baru
•  suatu sikap, pernyataan ata kebijakan utk
menerima suatu pemerintah sbg wakil yg sah
dari suatu negara dan pihak yg mengakui siap
melakukan hub internasional dgnya.
• Teori-teori yg menjelaskan pengakuan thdp
pemerintah baru:
1. Teori legitimasi (Oppenheim)
• Pengakuan hny suatu formalitas atau
kesopanan dlm hub internasional
• Teori ini bs diterapkan dlm kasus pergantian
pemerintah yg konstitusional
• Di dlm praktek, teori ini tdk bs diterapkan dg
mudah ktk pergantian yg trjd sec
inkonstitusional, shg pemerintah yg baru
sering mengalami kesulitan manakala neg neg
lain menolak utk mengetahui eksistensinya
2. Teori Defacstoism
• Banyaknya kudeta yg trjd di negara2 khususnya
kwsn Amerika Latin, Afrika dan Asia, Thomas
Jefferson mencoba utk memberikan penilaian yg
obyektif thdp kriteria pemerintah yg lahir sec
inkonstitusional utk layak diakui.
• Parameternya:
- menguasai sec efektif organ2 pemerintahan yg
ada
- mendpt dukungan dr rakyat
3. Teori Legitimasi Konstitutif
• Men. Tobar  ktk trjd pergantian pemerintah
sec inkonstitusional sebaiknya pengakuan
diberikan stlh pemerintah baru mndpt
legitimasi konstitusional dlm huk Nas Neg
stmpt.
4. Teori Stimson
• Men Stimson: pengakuan tdk perlu diberikan
trhdp pemerinth baru yg lahir dr kudeta
• Teori ini mencegah tjd nya kudeta suatu negara
krn akn menimbulkan ketidakadilan pemerintah
yg berkuasa yg memiliki sifat otoriter, kejam dan
membuat rakyat menderita.
• Tdk ada cara demokratis yg dpt digunakan rakyat
utk menggulingkan rezim otoriter tsb kecuali dg
kudeta.
YURISDIKSI
Oleh: Nurul Hikmah
• Setiap negara memiliki kedaulatan utk
mengatur segala sst yg ada dan terjadi di
wilayah atau teritorialnya. Sbg implementasi
dimilikinya kedaulatan, neg berwenang utk
menetapkan dan mebegakkan ketentuan2
hukum nasionalnya trhdp suatu peristiwa,
kekayaan dan perbuatana. Kewenangan ini
dikenal sbg yurisdiksi dlm HI.
• Men. Wayan Parthiana, kata yurisdiksi berarti
kekuasaan atau kewenangan yg dimiliki suatu
badan peradilan atau badan2 negara lain yg
berdasarkan atas hukum yg berlaku.
Men. John O’Brien ada 3 macam
yurisdiksi yg dimiliki neg berdaulat :
kewenangan neg utk membuat
Prescriptive • ketentuan2
hukum di wil
jurisdiction
teritroialnya
• Kewenangan neg utk
Enforcement memaksakan berlakunya
jurisdiction
ketentuan2 hukum nasionalnya
• Kewenangan pengadilan neg utk
Yudicial
mengadili dan memberikan
jurisdiction putusan hukum.
• Akherust menekankan perbedaan antara
enforcement jurisdiction dg judicial jurisdiction.
• Men. Akehurst enforcement jurisdiction mrp
powers of physical interference exercised by the
executive.
• Contoh: menangkap seseorg, menyita harta
kekayaan.
• Judicial enforcement adalah persidangan yg
dilakukan pengadilan suatu negara berkaitan dg
org, benda maupun peristiwa ttt.
• Martin Dixon dan Tien Saefullah
menggabungkan keduanya dlm enforcement
jurisdiction.
• Kewenangan neg utk menetapkan ketentuan2
hukum di kenal sbg jurisdiction to prescribe.
• Kewenangan utk menegakkan atau
menerapkan ketentuan hukum nasionalnya
thdp peristiwa, kekayaan dan di kenal sbg
jurisdiction to enforce.
• prescriptive jurisdiction tidak dibatasi oleh HI,
namun bila dlm pelaksanaannya HN
bertentangan dg HI dan mengakibatkan
kerugian pada WNA maka pihak yg dirugikan
dpt menuntut berdasarkan HI yg ada.
• Berkaitan dg jurisdiction to enforce, negara tdk
dpt sec otomatis memaksakan ketentuan
hukum yg tlh dirumuskannya di luar wil
negaranya.
• Hal ini dikarenakan adanya prinsip par in
parem non habit imperium yg melarang suatu
negara berdaulat melakukan tindakan
kedaulatan di dlm wil neg lain.
• Senada dg yg dikemukakan oleh Muhtar
Kusumaatmadja  kedaulatan negara
berakhir ketika dimulai wilayah negara lain.
Kedaulatan negara dibatasi oleh HI dan
kepentingan negara lain.
• Penerapan yurisdiksi mjd masalah hukum
internasional bila dlm suatu kasus ditemukan
unsur asing. Misalkan saja kewarganegaraan
pelaku ataukorban, atau tempat perbuatan
atau peristiwa terjadi di luar negeri.
Prinsip-prinsip yurisdiksi dalam HI:
• Secara garis besar yurisdiksi pengadilan
(judicial jurisdiction) mencakup perdata dan
pidana.
• HI publik tdk byk membuat aturan atau
pembatasan berkaitan dg kasus2 perdata
internasional. HI publik lebih fokus pd
yurisdiksi pengadilan yg berkaitan dg kasus2
pidana internasional.
1. Prinsip Yurisdiksi Teritorial
• Prinsip teritorial mrp prinsip tertua,
terpopuler dan terpenting dlm pembahasan
yurisdiksi.
• Men. Hakim Loed Macmillan  suatu negara
hrs memiliki yurisdiksi thdp semua org, benda
dan perkara2 perdata dan pidana dlm batas2
teritorialnya sbg pertanda negara tsb
berdaulat.
• Penerapan yurisdiksi teritorial tidaklah
absolut.
• Ada bbrp pengecualian yg diatur dlm HI
dimana neg tdk dpt menerapkan yurisdiksi
teritorialnya meskipun suatu peristiwa tjd di
wilayahnya.
Pejabat
diplomatik neg
asing
Negara dan
kepala neg asing
Yurisdiksi
teritorial tdk dpt
diterapkan
Kapal publik neg
asing
Organisasi
internasional
Pangkalan militer
neg asing
2. Prinsip Teritorial Subjektif
• Berdasarkan prinsip ini negara memiliki
yurisdiksi thdp ssorg yg melakukan kejahatan
dimulai dari wilayahnya, ttp menimbulkan
kerugian di negara lain.
3. Prinsip Teritorial Objektif
• Negara memiliki yurisdiksi thdp ssorg yg
melakukan kejahatan yg menimbulkan
kerugian di wilayahnya meskipun perbuatan
itu dimulai dari neg lain.
4. Prinsip Nasionalitas Aktif
• Negara memiliki yurisdiksi thdp warganya yg
melakukan kejahatan di luar negeri.
5. Prinsip Nasionalitas Pasif
• Negara memiliki yurisdiksi thdp warganya yg
mjd korban kejahatan yg dilakukan org asing di
luar negeri.
6. Prinsip Universal
• Setiap negara memiliki yurisdiksi utk mengadili
pelaku kejahatan internasional yg dilakukan
dimanapun tanpa memperhatikan kebangsaan
pelaku maupun korban.
• Alasan munculnya prinsip ini  pelaku dianggap
org yg sangat kejam, musuh slrh umat mns, jgn
sampai ada tempat utk pelaku meloloskan diri
dari hukuman shg tuntutan yg dilakukan oleh
negara thdp pelaku adlh atas nama slrh masyrkt
internasional.
• Yurisdiksi universal dlm HI bertujuan utk
merespons fenomena pengampunan
(impunity) bg org2 ttt.
7. Prinsip Perlindungan
• Negara memiliki yurisdiksi thdp org asing yg
melakukan kejahatan sangat serius yg
mengancam kepentingan vital negara,
keamanan, integritas dan kedaulatan serta
kepentingan vital ekonomi negara.
• Beberapa kejahatan yg masuk yurisdiksi
perlindungan antara lain: spying, plots to
overthhrow the government, forging currency,
immigration and economic violation.
• Prinsip ini terkadang sangat berbahaya krn dpt
diinterpretaskan dg sangat luas oleh suatu
negara utk mengadili ssorg ats dasar prinsip
perlindungan bg negaranya.
• Bbrp neg barat menggunakan prinsip ini dlm
kasus perdagangan obat-obat terlarang jg
terorisme.
Penerapan Yurisdiksi Ekstrateritorial
• HI tdk mengatur sec detail pembatasan2
yurisdiksi suatu neg kecuali yg tlh dikenal dlm
prinsip2 yurisdiksi HI.
• Yurisdiksi ekstrateritorial digunakan bbrp neg
berlandaskan kepentingan nasional khususnya
kepentingan bisnis mrk.
Download

HUKUM INTERNASIONAl