1. Pembuatan Koloid Secara Dispersi

advertisement
Peta Konsep
Sistem Koloid
Terdiri dari
Cara
pembuatannya
Fase
Terdispersi
So
l
Emulsi
Medium
Pendispersi
Buih
Cara
Dispersi
mempunyai
Sifat Khas
Efek
Tyndall
Cara
Kondensasi
Gerak
Brown
Cara
Busur Bredig
Bermuatan
Listrik
A. Sistem Koloid
1. Pengertian Sistem Koloid
Untuk memahami sistem koloid, marilah kita membandingkan tiga
jenis campuran berikut:
Gambar 1. Campuran gula dengan air (a), campuran tepung terigu
dengan air (b), campuran susu dengan air (c).
Sumber Gambar 1: dapurkimia.blogspot.com
Apabila kita campurkan gula dengan air, ternyata gula larut dan
diperoleh larutan gula. Di dalam larutan, zat terlarut tersebar dalam bentuk
partikel yang sangat kecil, sehingga tidak dapat dibedakan lagi dari
mediumnya walaupun menggunakan mikroskop ultra. Larutan bersifat
kontinu dan merupakan system satu fase (homogen). Ukuran partikel zat
terlarut kurang dari 1 nm. Larutan bersifat stabil (tidak memisah) dan tidak
dapat disaring.
Jika kita mencampurkan tepung terigu dengan air, ternyata tepung
terigu tidak larut. Walaupun campuran ini diaduk, lambat laun tepung terigu
akan memisah (mengalami sedimentasi). Campuran ini kita sebut suspensi.
Suspensi bersifat heterogen, tidak kontinu, sehingga merupakan sistem dua
fase. Ukuran partikel tersuspensi lebih besar dari 100 nm. Suspense dapat
dipisahkan dengan penyaringan.
Selanjutnya, jika kita campurkan susu (misalnya, susu instan) dengan
air, ternyata susu “larut” tetapi “larutan” itu tidak bening melainkan keruh.
Jika didiamkan campuran itu tidak memisah dan juga tidak dapat dipisahkan
dengan penyaringan (hasil penyaringan tetap keruh). Secara makrokopis
campuran ini tampak homogen. Akan tetapi, jika diamati dengan mikroskop
ultra ternyata masih dapat dibedakan partikel-partikel lemak susu yang
tersebar di dalam air. Campuran seperti inilah yang disebut koloid. Ukuran
partikel koloid berkisar antara 1 nm – 100 nm. Jadi koloid tergolong
campuran heterogen dan merupakan sistem dua fase. Zat yang didispersi
disebut fase terdispersi, sedang medium yang digunakan untuk
mendispersikan zat disebut medium dispersi. Fase terdispersi bersifat
diskontinu (terputus-putus), sedangkan medium disperse bersifat kontinu.
Pada campuran susu dengan air, fase terdispersi adalah lemak, sedangkan
medium dispersinya adalah air.
Tabel 1. Perbandingan sifat larutan, koloid, dan supensi.
Larutan
Koloid
Suspensi
(dispersi molekuler)
(dispersi koloid)
(dispersi kasar)
Homogen
Secara makroskopis
Heterogen
bersifat hogen tetapi
heterogen jika diamati
dengan mikroskop ultra
Partikelnya berdimensi
Partikelnya berdimensi
Partikelnya berdimensi
kurang dari 1 nm
antara 1 nm sampai 100
lebih besar dari 100nm
nm
Satu fase
Dua fase
Dua fase
Stabil
Pada umumnya stabil
Tidak stabil
Tidak dapat disaring
Tidak
dapat
disaring Dapat disaring
kecuali dengan penyaring
ultra
2. Jenis-jenis koloid
a. Aerosol, sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispesi
dalam gas.
b. Sol, sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair.
c. Emulsi, sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain.
d. Buih, sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair.
e. Gel, koloid yang setengah kaku (antara padat dan cair).
Keterangan:
Terdispersi
Gas
Padat
Cair
Padat
Gas
Cair
Cair
Padat
pendispersi
Aerosol
Sol
Asap (smoke), debu di udara
Sol emas, sol belerang, tinta, cat
Sol Padat
Gelas berwarna, intan hitam
Aerosol Cair
Kabut (fog) dan awan
Emulsi
Susu, santan, minyak ikan
Emulsi Padat
Cair
Buih
Padat
Buih Padat
Jeli, mutiara
Buih sabun, krim
kocok
Gas
Karet busa, batu apung,
stirofoam
B. Sifat-sifat koloid
1. Efek tyndall
Penampilan sistem koloid pada umumnya keruh, tetapi tidak selalu
begitu. Beberapa larutan tampak bening dan sukar dibedakan dengan larutan
sejati. Salah satu cara sederhana untuk membedakannya yaitu dengan
menjatuhkan seberkas cahaya pada campuran. Larutan sejati meneruskan
cahaya (transparan), sedangkan koloid menghamburkannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengamati efek Tyndall,
antara lain:
a. Sorot lampu mobil pada malam yang berkabut.
b. Sorot lampu proyektor dalam gedung bioskop yang berasap/berdebu.
c. Berkas sinar matahari melalui celah daun pohon-pohon pada pagi hari
yang berkabut.
Gambar 2. Efek Tyndall. Oleh larutan, berkas
sinar diteruskan sedangkan jejaknya taktelihat;
sedang oleh partikel koloid dan suspensi, berkas
sinar dihamburkan sehingga jejaknya terlihat.
Sumber Gambar 2: sangsan3.blogspot.com
2. Gerak Brown
Jika diamati dengan mikroskop ultra, akan terlihat partikel koloid
senantiasa bergerak tersu menerus dengan gerak patah-patah (gerak zig-zag).
Gerak zig-zag partikel koloid ini disebut gerak Brown, sesuai dengan nama
penemunya, Robert Brown, seorang ahli biologi berkebangsaan Inggris.
Gambar 3. Gerak Brown
Gerak Brown menunjukkan kebenaran teori kinetic molekul yang
menyatakan bahwa molekul-molekul dalam zat cair senantiasa bergerak.
Gerak Brown terjadi sebagai akibat tumbukan yang tidak seimbang dari
molekul-molekul medium terhadap partikel koloid. Dalam suspensi tidak
terjadi Gerak Brown karena ukuran partikel cukup besar, sehingga tumbukan
yang dialaminya setimbang. Partikel zat terlarut juga mengalami gerak Brown
tetapi tidak dapat diamati. Gerak Brown merupakan salah satu faktor yang
menstabilkan koloid. Oleh karena bergerak terus-menerus, maka partikel
koloid dapat mengimbangi gaya grafitasi, sehingga tidak mengalami
sedimentasi.
3. Muatan Koloid
a. Elektroforesis
Partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik. Hal ini
menunjukkan bahwa partikel koloid tersebut bermuatan. Pergerakan partikel
koloid dalam medan listrik ini disebut elektroforesis. Koloid bermuatan
negative akan bergerak ke anode (elektrode positif) sedangkan koloid yang
bermuatan positif bergerak ke katode (electrode negatif). Dengan demikian
elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan koloid.
Elektroforesis menjadi salah satu cara yang canggih untuk identifikasi DNA
dalam rangka mengidentifikasi korban/pelaku kejahatan.
b. Adsorpsi
Partikel koloid mempunyai kemampuan menyerap berbagai macam zat
pada permukaannya. Penyerapan pada permukaan ini disebut adsorpsi.
Muatan koloid terjadi karena adsopsi ion-ion tertentu. Sol Fe(OH)3 dalam air
mengadsorpsi ion positif sehingga bermuatan positif, sedangkan sol As 2S3
mengadsorpsi ion negative sehingga bermuatan negatif.
Sumber: kimia.upi.edu
Muatan koloid juga merupakan faktor yang menstabilkan koloid,
disamping gerak Brown. Oleh karena bermuatan sejenis, maka partikelpartikel koloid saling tolak menolak sehingga terhindar dari pengelompokan
(agrerasi) antarsesama partikel koloid itu (jika partikel koloid itu saling
bertumbukan dan kemudian bersatu, maka lama-kelamaan dapat terbentuk
partikel yang cukup besar dan akhirnya mengendap). Sifat adsorpsi dari
koloid ini digunakan dalam berbagai proses, antara lain sebagai berikut.
1. Pemutiha gula tebu, gula yang masih berwarna dilarutkan dalam air
kemudian dialirkan melalui tanah diatomae dan arang tulang. Zat-zat
warna dalam gula akan diadsrpsi, sehingga diperoleh gula yang putih
bersih.
2. Norit, merupakan tablet yang terbuat dari kae\rbon aktif. Di dalam
usus, norit membentuk sistem koloid yang dapat mengadsorpsi gas
atau zat racun
3. Penjernihan air, untuk menjernihkan air dapat dilakukan dengan
menambahkan tawas atau aluminium sulfat. Di dalam air, aluminium
sulfat terhidrolisis membentuk Al(OH)3 yan berupa koloid. Koloid
Al(OH)3 ini dapat mengadsorpsi zat-zat warna atau zat pencemar
dalam air.
4. Koagulasi
Penggumpalan sitem koloid disebut koagulasi. Koagulasi koloid
karena penambahan elektrolit terjadi sebagai berikut. Koloid yang bermuatan
negatif akan menarik ion positif (kation), sedangkan koloid yang bermuatan
positif akan menarik ion negative (anion). Ion-ion tersebut akan membentuk
selubung lapisan kedua. Apabila selubung lapisan kedua itu terlalu dekat
maka selubung itu akan menetralkan muatan koloid, sehingga terjadi
koagulasi. Semakin besar muatan ion, semakin kuat gaya tarik-menariknya
dengan partikel koloid, sehingga semakin cepat terjadi koagulasi.
Beberapa contoh koagulasi dalam kehidupan sehari-hari dan industri:
1. Pembentukan delta di muara sungai terjadi karena koloid tanah liat
(lempung) dalam air sungai mengalami koagulasi ketika bercampur
elektrolit dalam air laut.
2. Karet dalam lateks digumpalkan dengan menambahkan asam format.
3. Lumpur koloidal dalam air sungai dapat digumpalkan dengan
menambahkan tawas.
4. Asap/debu dari pabrik atau industry dapat digumpalkan dengan alat
koagulasi listrik dari Cottrel.
5. Koloid Pelindung
Suatu koloid dapat distabilkan dengan menambahkan koloid lain yang
disebut koloid pelindung. Koloid pelindung ini akan membungkus partikel zat
terdispersi, sehingga tidak dapat lagi mengelompok. Contoh koloid pelindung
adalah sebagai berikut:
1. Pada pembuatan es krim digunakan gelatin untuk mencegah pembentukan
Kristal besar es atau gula.
2. Cat dan tinta dapat bertahan lama karena menggunakan suatu koloid
pelindung.
3. Zat-zat pengelmusi, seperti sabun dan detergen, juga tergolong koloid
pelindung.
6. Dialisis
Ion-ion pengganggu kestabilan koloid dapat dihilangkan dengan suatu
proses yang disebut dialysis. Dalam proses ini, system koloid dimasukan
kedalam kantong koloid, lalu kantong koloid dimasukan ke dalam bejana
yang berisi air mengalir. Kantong koloid terbuat dari selaput semipermeabel,
yaitu selaput yang dapat melewatkan partikel-partikel kecil, seperti ion-ion
atau molekul sederhana, tetapi menahan partikel koloid. Dengan demikian,
ion-ion keluar dari kantong dan hanyut bersama air.
Proses pemisahan hasil-hasil metabolism dari darah oleh ginjal, juga
merupakan proses dialysis, jaringan ginjal bersifat sebagai selaput
semipermeabel yang dapat dilewati air dan molekul-molekul sederhana seperti
urea, tetapi menahan butir-butir darah yang merupakan koloid. Orang yang
menderita gagal ginjal dapat menjalani “cuci darah”, dimana fungsi ginjal
diganti oleh suatu mesin dialisator.
Gambar. Dialisis
Sumber: www.slideshare.net2
7. Koloid Liofil dan Koloid Liofob
Koloid yang medium dispersinya cair dibedakan atas koloid liofil dan
koloid liofob. Suatu koloid disebut liofil apabila terdapat gaya tarik menarik
yang cukup besar antara zat terdispersi dengan mediumnya. Sebaliknya, suatu
kolid disebut liofob jika gaya tarik-menari tersebut tidak ada atau sangat
lemah. Jika medium dispersi yang dipakai adalah air, maka kedua jenis koloid
di atas masing-masing disebut koloid hidrofil dan koloid hidrofob. Koloid
hidrofil memiliki gugus ionic atau gugus polar di permukaannya, sehingga
mempunyai interaksi yang baik dengan air.
Tabel . perbandingan sifat sol hidrofil dan sol hidrofob
Sol hidrofil
Sol hidrofob
Tidak mengadsopsi mediumnya
Mengadsopsi mediumnya
Dapat dibuat dengan konsentrasi yang Hanya stabil pada konsentrasi kecil
reltif besar
Tidak mudah digunakan dengan Mudah menggumpal pada penambahan
elektrolit
penambahan elektrolit
hamper
sama
dengan
Viskositas lebih besar daripada Viskositas
mediumnya
mediumnya
Tidak reversibel
Bersifat reversibel
Efek Tyndall lebih jelas
Efek Tyndall lemah
Contoh: protein, sabun, detergen, Contoh: susu, mayonaise, sol belerang,
sol Fe(OH)3, sol-sol sulfide dan sol-sol
agar-agar, kanji dan gelatin
logam
(Purba.dkk, 2012)
C. Cara Pembuatan Sistem Koloid
Sistem koloid dapat dibuat secara langsung dengan mendispersikan suatu
zat ke dalam medium pendispersi. Selain itu, dapat dilakukan dengan mengubah
suspensi menjadi koloid atau dengan mengubah larutan menjadi koloid. Jika
ditinjau dari pengubahan ukuran partikel zat terdispersi, cara pembuatan koloid
dapat dibedakan menjadi dua cara, yaitu pembuatan koloid secara dispersi dan
pembuatan koloid secara kondensasi.
Pembuatan koloid secara dispersi adalah memperkecil partikel. Cara
ini melibatkan pengubahan ukuran partikel besar (misalnya suspensi atau
padatan) menjadi ukuran partikel koloid. Sementara itu, pembuatan koloid
secara kondensasi adalah memperbesar ukuran partikel. Pada umumnya, dari
larutan diubah menjadi koloid. Secara skematis, kedua proses tersebut dapat
digambarkan sebagai proses yang berlawanan, di mana sistem koloid berada
di antara dua sistem dispersi yang lain.
1. Pembuatan Koloid Secara Dispersi
a. Dispersi langsung (mekanik)
Cara ini dilakukan dengan memperkecil zat terdispersi sebelum didispersikan
ke dalam medium pendispersi. Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggiling
atau menggerus partikel sampai ukuran tertentu. Sebagai contoh adalah pembuatan
sol belerang dalam air, serbuk belerang dihaluskan terlebih dahulu dengan menggerus
bersama kristal gula secara berulang – ulang. Campuran semen dengan air dapat
membentuk koloid secara langsung karena partikel – partikel semen sudah digiling
sedemikian rupa sehingga ukuran partikelnya menjadi ukuran koloid.
b. Homogenisasi
Pembuatan susu kental manis yang bebas kasein dilakukan dengan
mencampurkan serbuk susu skim ke dalam air di dalam mesin homogenisasi sehingga
partikel – partikel susu berubah menjadi seukuran partikel koloid. Emulsi obat pada
pabrik obat dilakukan dengan proses homogenisasi mengunakan mesin homogenisasi.
c. Peptisasi
Proses peptisasi dilakukan dengan cara memecah partikel – partikel besar,
misalnya suspensi, gumpalan, atau endapan dengan menambahkan zat pemecah
tertentu. Sebagai contoh, endapan Al(OH)3 akan berubah menjadi koloid dengan
menambahkan AlCl3 ke dalamnya. Endapan AgCl akan berubah menjadi koloid
dengan menambahkan larutan NH3 secukupnya. Contoh lain, karet bisa dipeptisasi
oleh bensin, agar – agar oleh air, nitroselulosa oleh aseton. Endapan NiS dapat
dipeptisasi oleh H2S.
d. Busur Bredig
Busur Bredig adalah suatu alat yang khusus digunakan untuk membentuk
koloid logam. Proses ini dilakukan dengan cara meletakkan logam yang akan
dikoloidkan pada kedua ujung elektrode dan kemudian diberi arus listrik yang cukup
kuat sehingga terjadi loncatan bunga api listrik. Suhu tinggi akibat adanya loncatan
bunga api listrik mengakibatkan logam akan menguap dan selanjutnya terdispersi ke
dalam air membentuk suatu koloid logam.
2. Pembuatan Koloid Secara Kondensasi
Pembuatan koloid secara kondensasi dilakukan dengan mengubah suatu
larutan menjadi koloid. Proses ini umumnya melibatkan reaksi – reaksi kimia yang
menghasilkan zat yang menjadi partikel – partikel terdispersi.
a. Reaksi hidrolisis
Reaksi ini umumnya digunakan untuk membuat koloid – koloid basa dari suatu
garam yang dihidrolisis (direaksikan dengan air).
Contoh:
Pembuatan sol Fe(OH)3 dengan cara memanaskan larutan FeCl3.
FeCl(aq) + 3H2O(l) → Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)
b. Reaksi Redoks
Reaksi yang melibatkan perubahan bilangan oksidasi. Koloid yang terjadi merupakan
hasil oksidasi atau reduksi.
Contoh:
Pembuatan sol belerang dengan cara mengalirkan gas H2S ke dalam larutan SO2.
2H2S(g) + SO2(aq) → 2H2O(l) + 3S(s)
c. Pertukaran Ion
Reaksi pertukaran ion umumnya dilakukan untuk membuat koloid dari zat – zat yang
sukar larut (endapan) yang dihasilkan pada reaksi kimia.
Contoh:
Pembuatan sol As2S3 dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan As2O3.
3H2S(g) + As2O3(aq) → As2S3(s) + 3H2O(l)
Selain dengan cara – cara di atas, koloid ada yang terbentuk secara alamiah, misalnya
lumpur, getah karet, dan getah pohon nangka.
(Sudarmo, 2013)
D. Manfaat Koloid
1. Pemutihan Gula
Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan
gula ke dalam air, kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah
diatomae atau karbon. Partikel koloid akan mengadsorpsi zat warna tersebut.
2.
3.
4.
5.
Partikel-partikel koloid tersebut mengadsorpsi zat warna dari gula tebu
sehingga gula dapat berwarna putih.
Penggumpalan Darah
Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif.
Jika terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau
tawas yang mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu
agar partikel koloid di protein bersifat netral sehingga proses penggumpalan
darah dapat lebih mudah dilakukan.
Penjernihan Air
Untuk memperoleh air bersih perlu dilakukan upaya penjernihan air.
Kadang-kadang air dari mata air seperti sumur gali dan sumur bor tidak dapat
dipakai sebagai air bersih jika tercemari. Air permukaan perlu dijernihkan
sebelum dipakai. Upaya penjernihan air dapat dilakukan baik skala kecil
(rumah tangga) maupun skala besar seperti yang dilakukan oleh Perusahaan
Daerah Air Minum (PDAM).Air keran (PDAM) yang ada saat ini
mengandung partikel-partikel koloid tanah liat,lumpur, dan berbagai partikel
lainnya yang bermuatan negatif. Oleh karena itu, untuk menjadikannya layak
untuk diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar partikel koloid
tersebut dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan dengan cara menambahkan tawas
(Al2SO4)3.Ion Al3+ yang terdapat pada tawas tersebut akan terhidroslisis
membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang bermuatan positif melalui reaksi:
Al3+ + 3H2O  Al(OH)3 + 3H+
Setelah itu, Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari
partikel koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur. Lumpur
tersebut kemudian mengendap bersama tawas yang juga mengendap karena
pengaruh gravitasi. Berikut ini adalah skema proses penjernihan air secara
lengkap:
Pembentukan delta di muara sungai
Air sungai mengandung partikel-partikel koloid pasir dan tanah liat
yang bermuatan negatif. Sedangkan air laut mengandung ion-ion Na+, Mg+2,
dan Ca+2 yang bermuatan positif. Ketika air sungai bertemu di laut, maka
ion-ion positif dari air laut akanmenetralkan muatan pasir dan tanah liat.
Sehingga, terjadi koagulasi yang akan membentuk suatu delta.
Pengambilan endapan pengotor
Gas atau udara yang dialirkan ke dalam suatu proses industri
seringkali mangandung zat-zat pengotor berupa partikel-partikel koloid.
Untukmemisahkan pengotor ini, digunakan alat pengendap elektrostatik yang
pelat logamnya yang bermuatan akan digunakan untuk menarik partikelpartikel koloid.
6. Mengurangi polusi udara
Gas buangan pabrik yang mengandung asap dan partikel berbahaya
dapat diatasi dengan menggunakan alat yang disebut pengendap cottrel.
Prinsip kerja alat ini memanfaatkan sifat muatan dan penggumpalan koloid
sehingga gas yang dikeluarkan ke udara telah bebas dari asap dan partikel
berbahaya. Asap dari pabrik sebelum meninggalkan cerobong asap dialirkan
melalui ujung-ujung logam yang tajam dan bermuatan pada tegangan tinggi
(20.000 sampai 75.000 volt). Ujung-ujung yang runcing akan mengionkan
molekul-molekul dalam udara. Ion-ion tersebut akan diadsorpsi oleh partikel
asap dan menjadi bermuatan. Selanjutnya, partikel bermuatan itu akan
tertarik dan diikat pada elektrode yang lainnya. Pengendap Cottrel ini banyak
digunakan dalam industri untuk dua tujuan, yaitu mencegah polusi udara oleh
buangan beracun dan memperoleh kembali debu yang berharga (misalnya
debu logam).
7. Penggumpalan lateks
Getah karet dihasilkan dari pohon karet atau hevea. Getah karet
merupakan sol, yaitu dispersi koloid fase padat dalam cairan. Karet alam
merupakan zat padat yang molekulnya sangat besar (polimer). Partikel karet
alam terdispersi sebagai partikel koloid dalam sol getah karet. Untuk
mendapatkan karetnya, getah karet harus dikoagulasikan agar karet
menggumpal dan terpisah dari medium pendispersinya. Untuk
mengkoagulasikan getah karet, biasanya digunakan asam formiat; HCOOH
atau asam asetat; CH3COOH. Larutan asam pekat itu akan merusak lapisan
pelindung yang mengelilingi partikel karet. Sedangkan ion-ion H+-nya akan
menetralkan muatan partikel karet sehingga karet akan menggumpal.
Selanjutnya, gumpalan karet digiling dan dicuci lalu diproses lebih
lanjut sebagai lembaran yang disebut sheet atau diolah menjadi karet remah
(crumb rubber). Untuk keperluan lain, misalnya pembuatan balon dan karet
busa, getah karet tidak digumpalkan melainkan dibiarkan dalam wujud cair
yang disebut lateks. Untuk menjaga kestabilan sol lateks, getah karet
dicampur dengan larutan amonia; NH3. Larutan amonia yang bersifat basa
melindungi partikel karet di dalam sol lateks dari zat-zat yang bersifat asam
sehingga sol tidak menggumpal.
8. Membantu pasien gagal ginjal
Proses dialisis untuk memisahkan partikel-partikel koloid dan zat
terlarut merupakan dasar bagi pengembangan dialisator. Penerapan dalam
kesehatan adalah sebagai mesin pencuci darah untuk penderita gagal ginjal.
Ion-ion dan molekul kecil dapat melewati selaput semipermiabel dengan
demikian pada akhir proses pada kantung hanya tersisa koloid saja. Dengan
melakukan cuci darah yang memanfaatkan prinsip dialisis koloid, senyawa
beracun seperti urea dan keratin dalam darah penderita gagal ginjal dapat
dikeluarkan. Darah yang telah bersih kemudian dimasukkan kembali ke tubuh
pasien.
9. Sebagai deodoran
Deodoran mengandung aluminium klorida yang dapat mengkoagulasi atau
mengendapkan protein dalam keringat.endapan protein ini dapat menghalangi
kerja kelenjer keringat sehingga keringat dan potein yang dihasilkan
berkurang.
10. Sebagai bahan makanan dan obat
Ada zat-zat yang tidak larut dalam air sehingga harus dikemas dalam
bentuk koloid sehingga mudah diminum. Contohnya obat dalam bentuk
kapsul.
11. Sebagai bahan kosmetik
Ada berbagai bahan kosmetik kosmetik berupa padatan, tetapi lebih
baik digunakan dalam bentuk cairan. Untuk itu biasanya dibuat berupa koloid
dengan tertentu.
12. Sebagai bahan pencuci
Prinsip koloid juga digunakan dalam proses pencucian dengan sabun
dan detergen. Dalam pencucian dengan sabun atau detergen, sabun/ detergen
berfungsi sebagai emulgator. Sabun/detergen akan mengemulsikan minyak
dalam air sehingga kotoran-kotoran berupa lemak atau minyak dapat
dihilangkan dengan cara pembilasan dengan air.
13. Penghilang Kotoran pada Proses Pembuatan Sirup
Kadang-kadang gulam masih mengandung pengotor sehingga jika
dilaturkan tidak jernih, pada industri pembuatan sirup, untuk menghilangkan
pengotor ini biasanya digunakan putih telur. Setelah gula larut, sambil diaduk
ditambahkan putih telur sehingga putih telur tersebut menggumpal dan
mengadsorpsi pengotor. Selain putih telur, dapat juga digunakan zat lain,
seperti tanah diatome atau arang aktif.
14. Penggunaan Arang Aktif
Arang aktif merupakan contoh dari adsorben yang dibuat dengan cara
memanaskan arang dalam udara kering. Arang aktif memiliki kemampuan
untuk menjerap berbagai zat. Obat norit (obat sakit perut) mengandung zat
arang aktif yang berfungsi menjerap berbagai zat dan racun dalam usus.
Arang aktif ini juga digunakan para topeng gas, lemari es (untuk
menghilangkan bau), dan rokok filter (untuk mengikat asap nikotin dan tar)
15. Perebusan Telur
Telur mentah merupakan suatu sistem koloid dengan fase terdispersi
berupa protein. Jika telur tersebut direbus akan terjadi koagulasi sehingga
telur tersebut menggumpal.
16. Pembuatan Yoghurt
Susu dapat diubah menjadi yoghurt melalui fermentasi. Pada
fermentasi susu akan terbentuk asam laktat yang menggumpal dan berasa
asam.
17. Pembuatan Tahu
Pada pembutan tahu dari kedelai, mula-mulai kedelai dihancurkan
sehingga terbentuk bubur kedelai (seperti susu). Kemudian, ditambahkan
larutan elektrolit, yaitu CaSO4.2H2O yang disebut batu tahu sehingga protein
kedelai menggumpal dan membentuk tahu.
Daftar Pustaka
Purba, Michael. dan Sunardi. 2012. Kimia untuk SMA/MA kelas XI. Jakarta:
Erlangga.
Sudarmo, U. 2013. KIMIA: Untuk SMA/MA Kelas XI, Kelompok Peminatan
Matematika dan Ilmu Alam. Erlangga: Jakarta
Download