realitas sosial ekonomi masyarakat bangsawan bugis di desa

advertisement
i
REALITAS SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT BANGSAWAN BUGIS DI
DESA SANREGO KECAMATAN KAHU KABUPATEN BONE
SOCIOECONOMIC REALITY LORDS BUGIS COMMUNITY IN SANREGO
VILLAGE, KAHU DISTRICT, BONE REGENCY
SKRIPSI
SUKIRMAN
E411 08 260
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Guna Memperoleh
Derajat Kesarjanaan pada Jurusan Sosiologi
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012
ii
REALITAS SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT
BANGSAWAN BUGIS DI DESA SANREGO KECAMATAN
KAHU KABUPATEN BONE
SKRIPSI
SUKIRMAN
NIM : E411 08 260
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Guna Memperoleh
Derajat Kesarjanaan Pada Jurusan Sosiologi
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012
iii
iv
v
vi
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Yang bertanda tangan di bawah ini saya :
NAMA
: SUKIRMAN
NIM
: E411 08 260
JUDUL
: REALITAS SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT
BANGSAWAN BUGIS DI DESA SANREGO
KECAMATAN KAHU KABUPATEN BONE
Menyatakan dengan sesungguhnya dan sejujurnya, bahwa skripsi yang saya tulis ini
benar-benar merupakan hasil karya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan
tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat
dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan skripsi ini hasil karya orang lain, maka
saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Makassar, 12 November 2012
Yang memberi pernyataan
SUKIRMAN
vii
HALAMAN PERSEMBAHAN
Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu (Laskar Pelangi)
“Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang
yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan”(Mario Teguh)
Skripsi ini didedikasikan untuk insan yang teramat berarti dalam hidup penulis.
Teruntuk kedua orang tua, Ayahanda tercinta Andi Nippi dan Ibunda
tercinta Hj. Andi Hadrah.Untuk Saudariku tercinta A. Herianti dan A.
Hardiana.
Terimaksih tuk segalanya... Ku gapai titik ini diiringi torehan jasa kalian Akan ku
buktikan pada dunia... Aku bisa banggakan kalian!
viii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil’alamin.Untaian rasa syukur penulis haturkan kepada
Sang Penguasa Ilmu yang Hakiki, Allah SWT.Rabb yang senantiasa menyertai dalam
tiap desah nafas. Rabb yang selalu mencurahkan segenap kasih dan sayangnya serta
mengukir rencana terindah untuk tiap insan yang meniti jalan-Nya.
Terima kasih yang teramat dalam penulis haturkan kepada Prof. Dr. Dwia A
Tina NK, MA selaku pembimbing I dan penasehat akademik bagi penulis. Terima
kasih karena telah menjadi sosok yang begitu berarti dalam perjalanan studi ananda.
Terima kasih karena telah menjadi orang tua bagi ananda selama mengenyam
pendidikan di dunia kampus. Bagi ananda, jasa yang beliau torehkan tak mampu
diurai satu per satu. Uluran tangan, sentuhan kasih sayang dan goresan ilmu yang
beliau persembahkan untuk penulis sejak awal hingga akhir masa studi teramat
berharga bagi penulis.
Kepada pembimbing II Drs.Mansyur Radjab, M.Siyang telah menorehkan
jasa yang teramat penting dalam perjalanan akademik penulis. Telah membimbing
dan berbagi ilmu serta mengarahkan dalam penyelesaian tugas akhir yang disusun
oleh penulis. Terimakasih atas segenap nasehat yang diberikan kepada penulis untuk
menjalankan tanggungjawab secara maksimal untuk mencapai hasil yang terbaik.
ix
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan pula kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Idrus A. Paturusi Sp.B.Sp.Bo selaku Rektor Universitas
Hasanuddin Makassar.
2. Prof Dr. Hamka Naping, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Hasanuddin Makassar.
3. Dr. H. Darwis, MA.DPS selaku Ketua Jurusan dan Dr. Rahmat Muhammad
M.Si selaku Sekertaris Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Hasanuddin .
4. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen yang telah mendidik penulis dalam pendidikan di
Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sehingga penulis bisa
menyelesaikan studi dengan baik. Seluruh staf karyawan Jurusan Sosiologi dan
Staf Perpustakaan yang telah memberikan bantuan kepada penulis selama menjadi
mahasiswa. Terkhusus buat Pak Yan Tandea yang selalu menampakkan sikap
yang bersahabat kala penulis berhadapan dengan masalah administratif dalam
dunia akademik. Terima kasih penulis haturkan juga untukBu Nur Aida,
S.Sos.selaku pustakawati Ruang Baca Fisip yang selalu memberi referensi yang
teramat berarti bagi penulis selama menjadi mahasiswa
5. Keluarga Mahasiswa Sosiologi Fisip Unhas yang telah memberi ruang bagi
penulis dalam mengenal panggung keorganisasian meskipun penulis sadar bahwa
tak banyak jasa yang kami torehkan. Salam Bumi Hijau untukmu Kemasosku.
6. Teruntuk orang-orang yang teramat berarti selama penulis menjadi mahasiswa.
Untuk St. Muttia A. Husain, S.Sos, Muhammad Hamka, S. Sos, Andi Idris S.
x
Sos, sahabat penulis yang selalu hadir mewarnai perjalanan hidup penulis,
menawarkan begitu banyak jasa sejak penulis berstatus maba hingga detik-detik
terakhir perjalanan akademik. Meskipun ia adalah sosok yang sangat egois,
namun penulis tetap tak mampu menepis namanya sebagai sahabat dalam relung
hati penulis. Teruntuk sahabat dan saudariku tercinta, Rima Hardiyanti, S. Sos.
yang hadir dengan segenap ketulusan untuk menjadi sosok yang selalu memberi
semangat dan menjadi kakak yang senantiasa mendengarkan keluh kesahku,
meskipun ku sadar bahwa aku mungkin belum bisa menjadi saudara terbaik
buatmu. Thank you so much for you, my soul sister. Juga untuk Irasmi, S.Sos.
saudariku yang selalu hadir memberi beribu sumbangsi dalam perjalanan studiku.
Untuk Hilmi Nasruddin S. Sos, Sri Mandayanti S.Sos, Sukmawati S. Sos
Wahyudin Lukman, dan Syahrul, sahabat dan saudara-saudara yang teramat
berarti bagi penulis yang dengan keteduhan jiwanya ingin menerima dan
merangkul penulis untuk menjadi bagian hidup mereka meskipun penulis
bukanlah sosok yang lahir dari latar belakang yang terpandang layaknya
background mereka. Lot of luv for u my best brothers and sisters.
7. Teman-teman Bunglon 08 yang tak sanggup penulis urai satu per satu yang telah
mengukir kisah indah dan menorehkan banyak jasa selama menjadi mahasiswa.
Terkhusus untuk bunda Kamarya selaku ketua himpunan yang selalu memberi
semangat kala jenuh dan lelah bergelayut dalam benak penulis.
8. Teruntuk Kanda-kandaku di Kemasos yang telah banyak membimbing penulis
sejak berstatus sebagai mahasiswa baru hingga akhir studi.
xi
9. Kepada keluarga baruku yang setia menyemangati dan memberi inspirasi baru
dalam menyelesaikan studi di Kampus Merah. Teman KKN Reguler Angkatan 80
Desa Cakura Kec. Polongbangkeng Selatan Kab. Takalar Tahun 2011. Mereka
yang selalu care dan memberi banyak pelajaran berharga yang mendidik penulis
untuk menjadi lebih bijak dan dewasa dalam menjalani kehidupan ini, Ayu
Nurmuliawati, Julita Fardani, Rudolf, Helmi Ayradi, Rachmat, Bayu
Kresna, Kalian ga bakal gue lupain, makasih buat semuanya guys!!
Makassar, 12 November 2012
Penulis
xii
ABSTRAK
Sukirman, E411 08 260. Realitas Sosial Ekonomi Masyarakat Bangsawan
Bugis di Desa Sanrego Kecamatan Kahu Kabupaten Bone (dibimbing oleh Dwia
A Tina NK dan Masyur Radjab ).
Desa Sanrego merupakan salah satu daerah yang didiami oleh banyak
masyarakat Bugis. Masyarakat Bugis dikenal dengan masyarakat yang sarat dengan
kompleksitas corak kulturnya. Salah satu hal yang menjadi ciri khas dari masyarakat
Bugis adalah sistem kemasyarakatan yang masih kental dengan sistem feodalatau
tradisional. Saat ini telah terjadi pergeseran dalam hal status sosial tiga tingkatan.
Masyarakat saat ini cenderung menghargai golongan ata (golongan ketiga)yang kaya
dibandingkan dengan bangsawan (golongan pertama) tetapi miskin.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kehidupan sosial ekonomi kaum
bangsawan dan untuk mengetahui dinamika posisi kebangsawanan terhadap posisi
birokrasi, politik dan bidang kelembagaan lainnya di Desa Sanrego Kecamatan Kahu
Kabupaten Bone. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang
bertujuan untuk memberikan gambaran tentang realitas sosial masyarakat bangsawan
di Desa Sanrego Kecamatan Kahu Kabupaten Bone.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakter ekonomi masyarakat
bangsawan di Desa Sanrego masih didominasi oleh petani dan kepemilikan lahan
juga masih didominasi oleh masyarakat bangsawan akan tetapi lahan tersebut
dikelolah oleh masayarakat biasa dengan menggunakan sistem bagi hasil. Pada posisi
birokrasi, politik dan bidang kelembagaan di Desa Sanrego, masyarakat bangsawan
masih mendominasi. Hal ini disebabkan masyarakat tingkat pendidikan bangsawan
masih tinggi dibanndingkan dengan masyarakat biasa sehingga sampai saat ini
masyarakat masih menyimpan kepercayaan yang tinggi terhadap bangsawan.
Kata Kunci: bangsawan, realitas, sosial ekonomi
xiii
ABSTRACT
Sukirman, E411 08 260. Socioeconomic Reality Lords Bugis Community
In Sanrego Village, Kahu District, Bone Regency (Supervised by Dwia A Tina
NK and Masyur Radjab).
Sanrego village is one of the areas inhabited by many Bugis people. Bugis
society known as the complexity of the patterns that are loaded with culture. One of
the things that is characteristic of the Bugis community is the social system that is
still strong with the feudal system or traditional. Today has been a shift in terms of
three levels of social status. People today tend to value group ata (third group) are
richer than royalty (first class) but poor.
This study aims to determine the socio-economic life of the nobility and to
know the dynamics of the position of the nobility against bureaucratic positions,
political and other institutional areas in the Village District Kahu Sanrego of Bone.
This research uses descriptive qualitative method that aims to provide an overview of
social reality in the village nobleman Sanrego Kahu District of Bone.
The results of this study indicate that the economic character of the nobles in
the village Sanrego still dominated by farmers and land ownership is still dominated
by the nobility but the land is managed by the communities used to using the system
for yield. At the position of bureaucratic, political and institutional fields in the
village of Sanrego, the nobility still dominate. This is due to the still high level of
education nobility dibanndingkan the ordinary so far, people still keep high
confidence the nobility.
Keywords: Lords Bugis , Reality, Socioeconomic
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Bangsawan yang Menjadi Bupati ........................................................... 22
Tabel 2. Perkembangan Desa Sanrego .................................................................. 33
Tabel 3. Jumlah Penduduk Desa Sanrego ............................................................. 35
Tabel 4. Tingkat Pendidikan ................................................................................. 36
Tabel 5. Tingkat Mata Pencaharian ...................................................................... 37
Tabel 6. Kepemilikan Ternak ................................................................................ 38
Tabel 7. Prasarana Desa ........................................................................................ 39
Tabel 8. Informan Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin .................................... 45
Tabel 9. Distribusi Informan Menurut Status atau Kedudukan
Kebangsawanannya dan Pendidikan ......................................................... 46
Tabel 10. Status Kebangsawanan Berdasarkan Kelahiran .................................... 47
Tabel 11. Mata Pencaharian Penduduk Desa Sanrego Kecamatan Kahu
Kabupaten Bone .................................................................................................... 51
Tabel 12. Kecenderungan Kedudukan dan Kepemilikan Rumah ........................ 54
Tabel 13. Kedudukan dan Kepemilikan Lahan ..................................................... 58
Tabel 14. Kepala Desa Sanrego ............................................................................ 66
Tabel 15. Kedudukan dalam Birokrasi Desa......................................................... 70
xv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..........................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN SEBELUM UJIAN ............................................
HALAMAN PENGESAHAN SETELAH UJIAN .............................................
HALAMAN PENERIMAAN TIM EVALUASI ................................................
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ..........................................
HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................
KATA PENGANTAR .......................................................................................
ABSTRAK .........................................................................................................
ABSTRACT .......................................................................................................
DAFTAR TABEL ..............................................................................................
DAFTAR ISI .......................................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................
A. LatarBelakangMasalah ............................................................................
B. RumusanMasalah ....................................................................................
C. Tujuan dan ManfaatPenelitian ................................................................
1. Tujuan Penelitian ..............................................................................
2. ManfaatPenelitian .............................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEPTUAL
A. Teori dan HasilPenelitian yang Relevan .................................................
1. Tinjauan Tentang Realitas Sosial ......................................................
2. TinjauanTentang Sosial Ekonomi .....................................................
3. Konsep Masyarakat Desa ..................................................................
4. TinjauanTentang Bangsawan Bugis Bone ........................................
5. Teori Pelapisan Sosial .......................................................................
6. Teori Perubahan Sosial .....................................................................
B. KerangkanKonseptual .............................................................................
C. DefinisiOperasional.................................................................................
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan dan Strategi Penelitian .........................................................
B. Waktu dan Lokasi Penelitian .................................................................
C. Tipe dan Dasar Penelitian .......................................................................
D. Informan Penelitian .................................................................................
E. Teknik Pengumpulan Data ......................................................................
F. Analisis Data ...........................................................................................
BAB IV GAMBARAN LOKASI DAN OBYEK PENELITIAN
A. Sejarah Desa Sanrego ..............................................................................
1. Legenda dan Sejarah Pembangunan Desa ..........................................
2. Kondisi Umum Desa Sanrego ............................................................
3. Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk ...................................................
B. Gambaran Bangsawan Bugis di Deas Sanrego Kec. Kahu Kab. Bone ...
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
x
xi
xii
xiii
xv
1
1
6
6
6
6
8
8
10
11
13
14
17
20
26
28
28
29
29
30
31
32
32
34
35
39
xvi
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
A. Profil Informan ........................................................................................
1. Informan Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin dan Pekerjaan ..............
2. Informan Berdasarkan Status dan Pendidikan ....................................
B. Karakter Sosial EkonomiKelompok Kebangsawanan Bugis di Desa
Sanrego Kec. Kahu Kab. Bone ...............................................................
1. Jenis Pekerjaan ...................................................................................
2. Kepemilikan Rumah ...........................................................................
3. Pendapatan ..........................................................................................
4. Pendidikan ..........................................................................................
C. Dinamika Posisi Kebangsawanan Terhadap Posisi Birokrasi, Politik Dan
Bidang Kelembagaan lainnya di Desa Sanrego Kec. Kahu Kab. Bone ..
D. Kriteria Dasar Penentu Stratifikasi Sosial ...............................................
E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Perubahan Sosial ...............
BAB VI PENUTUP
A. Simpulan .................................................................................................
B. Saran ........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................
LAMPIRAN ........................................................................................................
44
44
45
48
50
52
55
60
63
72
74
80
82
84
85
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Dokumentasi Kegiatan ..................................................................... 85
Lampiran 2. Lembar Konsultasi............................................................................ 86
Lampiran 3. Surat Keterangan Hasil Penelitian .................................................... 87
Lampiran 4. Daftar Riwayat Hidup ....................................................................... 88
xviii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara administrasi Kabupaten Bone terdiri atas 27 Kecamatan, 333
desa, 39 kelurahan, 893 dusun dan 121 lingkungan. Kabupaten Bone merupakan
pusat pengembangan wilayah timur Sulawesi Selatan. Sistem Pemerintah Daerah
yang telah mengacu pada UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
dan PP 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, maka Bupati Bone
dalam mengemban tugas, pemerintahan dan pembangunan dibantu oleh perangkat
Daerah dan lembaga teknis yang meliputi bidang ekonomi, politik, sosial dan
budaya. Kabupaten Bone memeiliki 27 Kecamatan seperti pada tabel berikut:
Kabupaten Bone sebagai kabupaten terluas di Sulawesi Selatan untuk
saat ini, selain daya tarik sejarahnya, Kabupaten Bone juga merupakan kota
multietnis. Terdapat dua etnis besar yang berdiam di Sulawesi Selatan yaitu Bugis
(44,90%).
Salah satu daerah yang didiami oleh suku Bugis adalah Kabupaten
Bone. Daerah ini sejak beberapa dekade yang lalu, dikenal dengan masyarakat
yang sarat dengan kompleksitas corak kulturnya. Salah satu hal yang menjadi ciri
khas dari wilayah ini adalah sistem kemasyarakatan yang masih kental dengan
sistem feodal,atau tradisional, yaitu suatu gambaran relitas sosial dengan corak
masyarakat dimana terdapat bangsawan yang kuat, dan memiliki ketaatan yang
xix
kuat kepada aturan hukum adat, sebagai salah satu sistem yang masih terjaga
eksistensinya hingga saat ini.
Kelompok masyarakat bangsawan di Sulawesi Selatan dapat ditemui
hampir di beberapa daerah, termasuk di Kabupaten Bone, sebuah kabupaten yang
terletak di bagian utara provinsi SulawesiSelatan dengan jarak tempuh ± 3 (tiga)
jam dari Kota Makassar. Dewasa ini orang-orang Bugis dan Makassar bersamasama berjumlah kira-kira 80% dari keseluruhan penduduk di Provinsi Sulawesi
Selatan, dengan orang Bugis sedikit lebih banyak.
Bahasa Bugis dan Makassar berasal dari leluhur yang sama, dan kedua
kelompok itu mempunyai persamaan kebudayaan dan adat, dan terjadi kawinmawin antara kalangan kelas atas Golongan kelas Bawah (Fawwaz, 2011).Sistem
kekerabatan masyarakat Bugis terbagi atas tiga tingkatan. Pertama: ana’ karaeng,
menempati kasta tertinggi dalam stratifikasi sosial kemasyarakatan. Tingkatan ini
terdiri atas kerabat raja-raja yang menguasai ekonomi dan pemerintahan. Kedua:
tu maradeka, kasta kedua dalam sistem kemasyarakatan Bugis. dalam orangorang yang merdeka (bukan budak atau ata).
Masyarakat Bugis Sulawesi Selatan mayoritas berstatus kasta kedua.
Ketiga: ata, sebagai kasta terendah dalam strata sosial. Tingkatan ketiga terdiri
dari budak/abdi yang bisaanya diperintah oleh Dua tingkatan di atasnya.
xx
Umumnya tinngkatan ketiga menjadi budak karena tidak mampu membayar
utang, melanggar pantangan adat dan lain-lain.
Seiring dengan perjalanan waktu ketika sistem kerajaan runtuh dan
digantikan oleh pemerintahan kolonial, stratifikasi sosial masyarakat Bugis
berangsur luntur. Hal ini terjadi karena desakan pemerintah kolonial untuk
menggunakan strata sosial tersebut. Selain itu, desakan agama (Islam) yang
melarang kalsifikasi status sosial berdasarkan kasta. Pengaruh ini terlihat jelas
menjelang abad 20, dimana kasta terendah, ata, mulai hilang. Bahkan, sampai
sekarang kaum ata sudah sulit ditemukan lagi, kecuali di kawasan pedalaman
yang masih dipengaruhi sistem kerajaan.
Setelah Indonesia merdeka, 2 kasta tertinggi, yaitu ana’ karaeng dan tu
maradeka juga berangsur mulai hilang dalam kehidupan masyarakat. Pemakaian
gelar ana’ karaeng, sepertiKaraenta, Petta, Puang dan Andi masih dipakai, tetapi
maknanya tidak sesakral dulu lagi. Pemakaian gelar kebangsawanan tersebut
tidak lagi dipandang sebagai pemilik status sosial tertinggi. Lebih banyak dipakai
karena alasan keturunan dan adat istiadat.
Tiga kasta dalam masyarakat Bugis Makassar dianggap menjadi
hambatan. Hal tersebut bisa dilihat dari sistem pemerintahan yang dianut oleh
Indonesia, sedikit banyak menyudutkan stratifikasi sosial ini. Oleh karenanya,
sosialisasi untuk tidak mengedepankan strata sosial lama terus digaungkan.
xxi
Saat ini gelar kebangsawanan memang masih melekat tetapi kondisi
golongan ini sudah jauh berbeda dimana masyarakat yang dulunya berada pada
tingkatan ketiga kadang lebih mapan dari segi ekonomi dibandingkan dengan
bangsawan. Tidak ada lagi pemaknaan status yang membatasi pergaulan antara
bangsawan dan golongan ata pada saat sekarang. Golongan ata juga sudah
menolak disebut sebagai ata meski benar-benar berasal dari tingkatan ketiga.
Perkembangan kehidupan masyarakat Bugis yang cepat ikut menggerus
nilai lama yang dianutnya, yaitu pengkastaan seperti yang disebutkan di atas. Hal
ini terlihat jelas terutama di wilayah perkotaan. Gelar kasta tidak lagi dianggap
sebagai penentu tinggi rendahnya status sosial seseorang di mata masyarakat.
Telah terjadi pergeseran dalam hal status sosial tiga tingkatan melainkan
saat ini lebih dipengaaruhi oleh status ekonomi yang lebih berpengaruh. Saat ini
ada kecenderungan dimana orang akan lebih menghargai golongan ata yang kaya
dibandingkan dengan bangsawan tetapi miskin.
Sedikit berbeda dengan wilayah pelosok yang masih kental dengan
unsur feodalis. Dimana dua kasta tertinggi masih menempati posisi tinggi.
Seperti yang terlihat dari beberapa kecamatan yang beradadi Kabupaten Bone.
Harus diakui bersama bahwa perubahan zaman dan tuntutan kondisi saat
ini sedikit banyaknya telah mempengaruhi kehidupan sosial kelompok
xxii
masyarakat bangsawan Bugis di Sulawesi Selatan. Hal inilah yang mendorong
menjadi landasan kuat melakukan penelitian dengan judul “Realitas Sosial
Ekonomi Kelompok Bangsawan Bugis Di Desa Sanrego Kecamatan Kahu
Kabupaten Bone”.
Melakukan penelitian di Kabupaten Bone dengan judul “Realitas
Sosial Ekonomi Masyarakat Bangsawan Bugis Di Desa Sanrego Kecamatan
Kahu
Kabupaten Bone“. Untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk
mengetahui kondisi sosial ekonomi kelompok bangsawan yang ada di Desa
Sanrego Kecamatan Kahu Kabupaten Bone, dengan melakukan pengumpulan
data yang diperoleh dengan cara mewawancarai masyarakat di Kabupaten Bone.
Wawancara dilakukan pada masyarakat yang berstatus bangsawan (Petta dan
Andi) dengan masyarakat umum. Sebagaimana diketahui bahwa Kabupaten Bone
masih sangat kental dengan kultur kebangsawanannya.
B. Rumusan Masalah
Untuk memfokuskan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini, maka
dianggap perlu untuk menyusun sebuah fokus penelitian dalam format rumusan
masalah berikut :
1. Bagaimana karakter sosial ekonomi kebangsawanan Bugis Di Desa Sanrego
Kecamatan Kahu Kabupaten Bone?
xxiii
2. Bagaimana dinamika posisi kebangsawanan terhadap posisi birokrasi, politik
dan bidang kelembagaan lainnya di Desa Sanrego Kecamatan Kahu
Kabupaten Bone ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berangkat dari rumusan masalah di atas, maka berikut ini dapat
diuraikan tujuan dari penelitian ini antara lain :
a. Untuk mengetahui karakter sosial ekonomi kebangsawanan Bugis Di
Desa Sanrego Kecamatan Kahu Kabupaten Bone.
b. Untuk mengetahui dinamika posisi kebangsawanan terhadap posisi
birokrasi, politik dan bidang kelembagaan lainnya di Desa Sanrego
Kecamatan Kahu Kabupaten Bone.
2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini akan diklasifikasikan dalam dua sub bagian antara lain:
1. Manfaat Akademis
Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat mendatangkan berbagai
faedah, antara lain :
a. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada tingkat
strata satu (S1) untuk memperoleh gelar sarjana pada Jurusan
xxiv
Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Hasanuddin.
b. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi tambahan
bagi teman- teman yang ingin menganalisa sebuah fenomena yang
memiliki kemiripan dengan kasus yang peneliti angkat pada tulisan
ini.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, manfaat penelitian ini antara lain :
a. Menjadi
landasan
dalam
menganalisis
masalah
dinamika
kehidupan sosial ekonomi kaum bangsawan bugis dan potret
interaksi sosial Golongan dengan masyarakat umum di Kabupaten
Bone.
b.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi input bagi pihak
terkait untuk melakukan pengkajian implikatif bagi kebutuhan
studi etnografi di wilayah Sulawesi-Selatan.
xxv
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan
1. Tinjauan tentang Realitas Sosial
Realitas sosial adalah pengungkapan tabir menjadi suatu realitas yang
tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan-aturan ilmiah dan
melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian
prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari
penilaian normatif.
Realitas sosial berbeda dari individu biologis kognitif realitas atau
kenyataan, dan terdiri dari prinsip-prinsip sosial yang diterima dari suatu
komunitas. Masalah realitas sosial telah diperlakukan secara mendalam oleh
para filsuf dalam tradisi fenomenologis, terutama Alfred Schütz, yang
menggunakan istilah dunia sosial untuk menunjuk ini tingkat realitas yang
berbeda. Sebelumnya, subjek telah dibahas dalam sosiologi serta disiplin ilmu
lainnya. Herbert Spencer, misalnya, istilah super-organik untuk membedakan
tingkat sosial realitas di atas biologis dan psikologis.
Saat ini, berdasarkan realitas yang ada, sudah jelas bahwa kita berada
pada gelombang ketiga, dimana kita hidup di zaman yang ditopang oleh
kemajuan teknologi informasi yang memicu terjadinya ledakan informasi.
xxvi
Ledakan informasi yang terjadi membawa berubahan besar dalam kehidupan
umat masyarakat. Kita telah mengalami masa peralih dari masyarakat industri
menjadi masyarakat informasi.
Paradigma definisi sosial memusatkan perhatian kepada realitas sosial
pada tingkatan mikro-subyektif dan sebagai mikro-obyektif yang tergantung
kepada
proses-proses
mental
(tindakan).
Paradigma
perilaku
sosial
menjelaskan sebagian realitas sosial pada tingkatan mikro-obyektif yang tak
tercakup kepada proses mental atau proses berfikir, yakni yang menyangkut
tingkahlaku yang semata-mata dihasilkan stimuli yang dating dari luar diri
actor, yang disini disebut sebagai ‘behavior’ itu.
Paradigma ilmu sosial pada dasarnya mengakar kuat pada disiplin ilmu
lainnya : disiplin komunikasi, filsafat, antropologi dan disiplin sosiologi itu
sendiri. Dari cabang paradigma tersebut kemudian diformulasikan sehingga
membentuk beragam definisi yang berasal dari fakta sosial itu sendiri. Sosial
berbudaya , sosial berpolitik, sosial beragama, dsb. Semuanya itu
dikembangkan oleh pengkajian ilmiah para sosiolog terdahulu yang
dilestarikan dalam bentuk tulisan maupun lisan secara turun-temurun sehingga
melahirkan reward bagi aspek perkembangan zaman.
xxvii
2. Tinjauan tentang Sosial Ekonomi
Ilmu ekonomi yang merupakan gabungan antara ilmu dan seni,
dipeljari dengan berbagai alasan, yaitu untuk memahami segala masalah yang
dihadapi oleh masyarakat dan rumah tangga untuk membantu pemerintah
Negara berkembang maupun Negara maju dalam menunjang pertumbuhan
dan meningkatkan kualitas hidup, serta menghindari timbulnya depresi dan
inflasi untuk menganalisis dan mengubah ketidakmerataan distribusi
pendapatan dan kesempatan.
Diantara berbagai defenisi yang ada, ilmu ekonomi dirumuskan
sebagaiberikut: ilmu ekonomi merupakan suatu studi tentang bagaimana kita
memilih bagaimana cara mengolah sumber daya produktif terbatas yang
memiliki beberapa alternatif
penggunaan dalam rangka memproduksi
berbagai komoditi. (Samuelson dan Willim, 1997:5).
Ilmu ekonomi yang saling bertumpang tindih dengan ilmu-ilmu sosial
dan perilaku lain, seperti psikologi, sosiologi, dan sejarah, menggunakan
metode-metode deduktif yang logika dan geometri, serta metode induktif
yaitu statistik dan empiris. Oleh karena itu pakar ekonomi tidak melakukan
eksperimen yang terkendali seprti halnya para pakar ilmu fisik, maka setiap
pakar ekonomi harus memecah masalah-masalah metodologi yang mendasar,
yaitu berusaha memisahkan dengan tegas deskripsi dari pertimbangan nilai,
xxviii
dan kekeliruan komposisi, mengakui adanya subjyaktifitas yang tidak
terklakukan dalam teori observasi.
Aktifitas ekonomi secara sosial didefenisikan sebagai aktifitas
ekonomi yang dipengaruhi oleh interaksi sosial dan sebaliknya mereka
mempengaruhinya. Perspektif ini digunakan oleh Ibnu Khaldun dalam
menganalisis nilai pekerja masyarakat, dalam arti mata pencaharian dan
stratifikasi sosial ekonomi.
3. Konsep Masyarakat Desa
Ciri khas desa sebagai suatu komunitas masa lalu selalu dikaitkan
dengan kebersahajaan, keterbelakangan, tradisionalisme, dan keterisolasian.
Meskipun tidak dapat di generalisasikan pada semua pedesaan yang ada
sekarang ini, namun ada sosiolog yang berhasil mengidentifikasi ciri-ciri
kehidupan masyarakat pedesaan. Sebagaimana dikatakan Roucek dan Warren
(Dalam Shahab, 2007:11), masyarakat pedesaan memiliki karakteristik
sebagai berikut :
a) Punya sifat homogen dalam mata pencaharian, nilai-nilai,
dalam kebudayaan, serta sikap dan tingkahlaku.
xxix
b) Kehidupan desa lebih menekankan anggota keluarga sebagai
unit ekonomi. Artinya, semua anggota keluarga turut bersamasama memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga.
c) Faktor geografi sangat berpengaruh atas kehidupan yang ada.
Misalnya, keterkaitan anggota masyarakat dengan tanah atau
desa kelahirannya.
d) Hubungan masyarakat lebih intim dan awet daripada kota, serta
jumlah anak yang ada dalam keluarga inti lebih besar.
Berkaitan dengan karakteristik masyarakat pedesaan ini, James C.
scoff (Dalam Shahab, 2007:12). Dalam The Moral Economy of the Peasent,
menyatakan bahwa petani terutama di pedesaan pada dasarnya menginginkan
kedamaian dan hubungan patron-klien paternalistic yang member jaminan dan
keamanan sosial.
Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih
erat dan lebih membutuhkan disbanding hubungan mereka dengan masyrakat
pedesaan lainnya. Sistem kehidupan berkelompok atas dasar sistem
kekeluargaan. Penduduk masyrakat pedesaan pada umumnya hidup dari
pertanian, meskipun banyak di antara mereka ada yang bekerja di bidang
usaha lain, namun pekerjaan utama masyarakat desa adalah bertani.
xxx
Koentjaraningrat (dalam Shahab, 2007:13) menyebutkan bahwa suatu
masyrakat desa menjadi suatu persekutuan hidup dan kesatuan sosial yang
didasrka pada perinsip :
a) Hubungan kekerabatan
b) Hubungan tempat tinggal dekat.
4. Tinjauan tentang Bangsawan Bugis Bone
Sebutan Andimerupakan sebutan untuk alur kebangsawanan yang
diwariskan hasil genetis (keturunan) Lapatau, pasca Bugis merdeka dari orang
Gowa. Gelar ini merupakan tingkatan tertinggi pada masyarakat Bugis.
Masyarakat yang memiliki gelar andi apabila telah menikah, secara otomatis
namanya akan bertambah menjadi Petta. Gelar Andi ini dimulai ketika 24
Januari 1713 dipakai sebagai extention untuk semua keturunan hasil
perkawinan Lapatau dengan putri Raja Bone sejati, Lapatau dengan putri Raja
Luwu (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri raja
Wajo (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri Sultan
Hasanuddin (Sombayya Gowa), Anak dan cucu Lapatau dengan putri Raja
Suppa dan Tiroang. Anak dan cucu Lapatau dengan putri raja sejumlah
kerajaan kecil yang berdaulat di Celebes.
Dalam versi yang hampir sama, gelar Andi pertama kali digunakan
oleh Raja Bone ke-30 dan ke 32 La Mappanyukki, beliau adalah Putra Raja
xxxi
Gowa dan Putri Raja Bone. Gelar itu disematkan didepan nama beliau pada
Tahun 1930 atas Pengaruh Belanda. Gelar Andi tersebut bertujuan untuk
menandai bangsawan-bangsawan yang berada dipihak Belanda dan ketika
melihat berbagai keuntungan dan kemudahan yang diperoleh bagi Bangsawan
yang memakai gelar “Andi” didepan namanya, akhirnya setahun kemudian
secara serentak seluruh raja-raja yang berada di Sulawesi Selatan
menggunakan Gelar tersebut didepan namanya masing-masing.
5. Teori Pelapisan Sosial
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial dalam sosiologi artinya pembedaan
penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat yang
diwujudkan dalam lapisan atas, lapisan menengah dan lapisan bawah. Menurut
Pitirin A. Sorokin dalam buku pengantar sosiologi, pelapisan sosial adalah
pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat
atau hierarkis.Sejak zaman dahulu, masyarakat mengakaui sistem pelapisan sosial
yang mempunyai kedudukan yang bertingkat ke atas.
Dengan kata lain, startifikasi sosial ada jika ketidaksetaraan sosial
melibatkan pengaturan terhadap anggota masayarakat ke dalam starat atau kelas
yang tersusun bertingkat sehingga menyebabkan terjadinya kelompok yang
diuntungkan dankelompok yang tidak diuntungkan (Fulcher & Scott, 2007).
xxxii
Startifikasi sosial dapat dipahami sebagai perbedaan kelompok orang
menurut struktur rangking tertentu berdasarkan kepemilikian sumber-sumber
ekonomi, kekuasaan, prestise, kepercayaan dan sebagainya yang menandai
adanay ketidaksetaraan di dalam masyarakat(Meinano, 2011: 188).
Pelapisan sosial yang mempunyai kedudukan yang bertigkat dari bawah ke
atas. Pelapisan sosial ini terjadi baik di desa maupun di kota. Menurut Aristoteles
dalam Soekanto (1990) bahwa dalam setiap Negara terdapat tiga lapisan sosial
yang terdiri dari mereka yang kaya dan melarat (Seokanto, 1990: 227).
Secara umum pelapisan sosial dalam masyarakat terbagi menjadi dua
proses:
1. Proses sosial yang terjadi dengan perkembangan masyrakat, sedangkan
masyarakat yang tidak menyadari menciptakan kondisi tersebut.
2. Pelapisan sosial yang sengaja dibentuk untuk kepentingan bersama
yang sengaja dibentuk berkaitan dengan kekuasaan san wewenang
resmi dalam organisasi formal.
Kriteria umum digunakan dalam masyarakat untuk menggolongkan status
seseorang mengacu pada pandangan Max Weber yang melihat pelapisan sosial
berdasarkan dimensi kekayaan (ekonomi), kehormatan dan kekuasaan (Sunarto,
1993:112-126).
xxxiii
I
I
I
III
III
I
I
IIIIIIIIIIIIIIIsd
Keterangan gambar:
I. Lapisan sosial atas
II. Lapisan menengah
Gambarbawah
1. Pelapisan sosial masyarakat
III. Lapisan
Kalr Marx sebagai tokoh varian Marxkian menetapkan kelas sebagai
aspek sentral analisis tentang teori masyarakat dan perubahan-perubahan sosial.
Antara kedua kelas itu senantiasa terdapat pertentangan kepentingan yang tidak
dapat didamaikan kecuali salah satu pihak mengalami kehancuran (Manifesto
Partai Komunis, 1960: 47-64).
Max Weber sebagai tokoh varian weberian memandang kepentingan
ekonomi hanya sebagai salah satu diantara seperangkat kategori nilai yang
xxxiv
mencakup berbagai hal, yang dalam kehidupan sehari-hari termasuk ke dalam
pengertian kepentingan ekonomi. Kepentingan ekonomi yang dimaksud disini
adalah semua aktifitas orang dan masyarakat yang berhubungan dengan produksi,
distribusi, dan konsumsi barang-barang langka (Damsar, 2009).
Menurut Soedjatmoko (1980), mudah tidaknya seseorang melakukan
perpindahan status ditentukan oleh kekakuan dan keluwesan struktur sosial di
mana orang tersebut hidup. Masyarakat yang memiliki pendidikan yang tinggi
dan hidup di lingkungan masayarakat yang menghargai profesionalisme, besar
kemungkinan akan lebih mudah menembus batas-batas lapisan sosial dan naik ke
kedudukan yang lebih tinggi sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.
Pentingnya pendidikan yang lebih tinggi dalam masyarakat dapat dilihat
jelas, dimana pendidikan tidak dapat dihindari telah menyebabkan anggota
masyarakat menguasai kehidupan modern (Elly, 2011). Pendidikan pada sistem
stratifikasi sosial dapat menjadi penyebab mobilitas sosial atau perpindahan status
seseorang.
6. Teori Perubahan Sosial
Kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala
yang wajar yang timbul dari pergaulan hidup masyarakat di dalam masyarakat.
Perubahan-perubahan sosial akan terus berlangsung sepanjang masih terjadi
interaksi antarmasyarakat dan antarmasyarakat. Perubahan sosial terjadi karena
adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan
masyarakat, seperti perubahan dalam unsur-unsur geografis, biologis, ekonomis,
xxxv
dan kebudayaan. Perubahan-perubahan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan
dengan perkembangan zaman yang dinamis.
Teori ini pada dasarnya berpijak pada perubahan yang memerlukan
proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan
yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Masyarakat yang
dulunya hanya bekerja pada sektor pertanian, saat ini sudah mulai bekerja pada
sektor lain (off-farm). Off-Farm dapat didefinisikan sebagai semua pekerjaan
yang dilakukan di luar usaha tani sendiri termasuk bekerja di usaha tani tetangga
dan perkebunan (Saeni, 2005).
Secara garis besar, perubahan sosial dipengaruhi oleh faktor yang berasal
dari dalam dan luar dari masyrakat itu sendiri. Di antara faktor yang berasal dari
dalam masyarakat seperti perubahan pada kondisi ekonomi, sosial, dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun yang berasal dari luar
masyarakat biasanya ialah yang terjadi diluar perencanaan masyarakat seperti
bencana alam.
Para sosiolog saling berbeda pendapat tentang batasan perubahan sosial.
Untuk membatasinya akan dikutip definisi dari para sosiolog di antaranya:
1. William Ogburn menyatakan batasan ruang lingkup perubahan sosial, mencakup
unsur-unsur kebudayaan baik yang bersifat materiil maupun yang bersifat tidak
xxxvi
materiil dengan menekankan pengaruh yang besar dari unsur-unsur kebudayaan
materiil terhadap unsur-unsur immaterial.
2. Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang
terjadi
dalam
struktur
dan
fungsi
masyarakat.
Misalnya
timbulnya
pengorganisasian baru dalam masyrakat kapitalistis, menyebabkan perubahanprerubahan dalam hubungan antara buruh dan majikan yang kemudian
menyebabkan perubahan dalam organisasi politik.
3. Gillin dan Gillin mengartikan perubahan sosial sebagai suaatu variasi dari caracara hidup yang telah diterima, yang disebabkan karena perubahan kondisi
geografis, kebudayaan materil, komposisi penduduk, idiologi maupun karena
adanya difusi maupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat tersebut.
4. Selo Soemardjan menyatakan perubahan sosial adalah, segala perubahan pada
lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam masyarkat, yang mempengaruhi sistem
sosialnya, termasuk di dalam nilai-nilai, sikap, dan pola peri kelakuan di antara
kelompok-kelompok dalam masyarakat.
5. Hans Garth dan C. Wirght Mills mendefenisikan perubahan sosial adalah apapun
yang terjadi dalam kurun waktu tertentu terhdap peran, lembaga, atau tatanan
yang meliputi struktur sosial.
6. Samel Koeningmenunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam polapola kehidupan masyarakat.
B. Kerangka Konseptual
xxxvii
Dalam
kehidupan
masyarakat
tradisional
dibandingkan
dengan
kehidupan masyarakat modern, bahwa pelapisan sosial dalam masyarakat pada
awalnya didasarkan pada perbedaan yang menyangkut status atau keturunan,
seiring dengan masyarakat yang majemuk maka pelapisan sosial didasarkan pada
pekerjaan atau kekayaan. Pada perkembangan selanjutnya pelapisan sosial di
masyarakat menjadi beragam.
Dasar pelapisan sosial masyarakat adalah tidak adanya keseimbangan
dalam pembaian hak-hak dan kewajiban serta tanggung jawab nilai-nilai sosial
dan pengarunhya di antara anggota masyarakat mempunyai kesempatan berusaha
untuk berpindah lapisan dari bawah ke atas.
Pelapisan sosial merupakan gejala yang umum dalam suatu masyarakat
dimanapun dan kapanpun pasti selalu ada Selo Soemardjan dan Soelaiman
Soemardi menyebut bahwa selama dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai,
maka dengan sendirinya pelapisan sosial terjadi. Sesuatu yang dihargai dalam
masyarakat bisa berupa harta kekayaan, ilmu pengetahuan, atau kekuasaan.
Pelapisan sosial atau di sebut juga stratifikasi sosial adalah pembedaan
penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atau
hierarkis(Pitirim A. Sorokin). Pelapisan sosial kenyataanya dapat di ketahui
dalam masyarakat yaitu dengan munculnya kelas-kelas tinggi dan kelas kelas
yang lebih rendah.
xxxviii
Adapun pengertian pelapisan sosial menurut P.J. Bouman, pelapisan sosial
adalah golongan masyarakat yang di tandai dengan suatu cara hidup dalam
kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu. Didalam masyarakat pelapisan
masyarakat ini muncul karena gengsi kemasyarakatan sehingga timbulah
pembedaan kelas-kelas dalam masyarakat, ada kelas-kelas tinggi yaitu yang
mempunyai kekuasaan lebih dan hak-hak istimewa di banding dengan kelas-kelas
rendah.
Pelapisan sosial adalah perbedaan tinggi dan rendahnya suatu kedudukan
seseorang dalam kelompoknya, bila dibandingkan dengan posisi seseorang
maupun kelompok lainnya. Yang menentukan tinggi dan rendahnya lapisan sosial
seseorang itu biasanya disebabkan oleh macam-macam perbedaan, sepertihalnya
kekayaan di bidang ekonomi, nilai-nilai sosial, serta kekuasaan dan wewenang.
Secara umum politik lokal di Sulawesi Selatan mengalami sebuah
kemajuan dengan melihat capaian dan keberhasilan para golongan bangsawan
menjadi penguasa tunggal di beberapa kabupaten. Tampilnya para Karaeng atau
Andi di sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan merupakan bukti bahwa kaum
aristokrat sedang bangkit kembali dalam peta politik lokal. Kehadirannya sebagai
pucuk pimpinan membuktikan bahwa golongan bangsawandapat bersaing untuk
menjadi orang nomor satu di daerah masing-masing.
xxxix
Hasil penelusuran berbagai sumber menunjukkan bahwa ada sembilan
kepala daerah yang dipimpin oleh golongan bangsawan. Sebut saja A. Sutomo. di
Kabupaten Soppeng, A. M Rum di Kabupaten Barru, A. Bau Kemal di Pangkep,
A. Jamaluddin di Kabupaten Maros, Nurdin Abdullah Kr. Nurdin di Bantaeng, A.
Burhanuddin Unru di Kabupaten Wajo, A. M. Idris Galigo di Bone, A. Rudiyanto
Asapa di Kabupaten Sinjai, Radjamilo di Kabupaten Jeneponto.
Tabel 1. Bangsawan yang Menjadi Bupati
DAERAH
Soppeng
NAMA KANDIDAT
KETERANGAN
A Munarfah/A Rizal M
A. Harta Sanjaya/Syarifuddin
Rauf
A. Sutomo.A. Sarimin
Bismirkin
Terpilih
Manrulu/A.
Burhanuddin
Barru
A.
Anwar
Aksa/Hasan
Syukur
H.M Basir palu/Indris Bau
Mange
A. M Rum/Kamrir Mallongi
Pangkep
Gaffar
Kasmin
Patappe/Efendi
Terpilih
xl
Syahruddin
Noor/A.
Bau
Fahruddin/A.
Ilyas
Terpilih
Kemal
Taufik
Mangena
Maros
A. Jamaluddin/A. Paharuddin
Terpilih
Bachtiar
Mahmud/Syarifuddin
A. Baso Peresah/M Hatta
Rahman
Irwansyah
kasim/Anwar
Ismail
Bantaeng
Nurdin
Abdullah
Kr.
Nurdin/Asli Mustajab Kr.
Lili
Arfandy
Idris-Irvandi
Langgara
Syahlan
Solthan/Samhi
Muawan Djamal
Jeneponto
Agus Anwar Moka/ Natsar
Desi
Baharuddin
BT/
Agus
Terpilih
xli
Abdullah Kr. Ca’di
Jabar Natsir/ Sarbini Haerah
Sonda
Tayang/
Arief
Syamsuddin
Radjamilo/ Burhanuddin BT
Terpilih
Zainal Syamsuddin/ Zaini Kr
Lontang
Wajo
A. Burhanuddin Unru-Amran
Terpilih
Mahmud
A Asriadi Mayang-A.Ansari
Mangkona
A
Yaksan
Hamzah-A
Safaruddin
HA Asmidin-Drs M Ridwan
Sinjai
A.
Rudiyanto
Asapa/A.
Terpilih
Massalinri Litief
Sabirin Yahya/A. Mansyur
Baso
Bone
A.
M.
Idris
Galigo/Said
Pabokori
A.
Fashar
Padjalangi/A.
Terpilih
xlii
Abdullah
A. Mangunsidi/Aziz Halid
Data diolah dari berbagai sumber.
Terpilihnya sembilan bupati sebagaimana disebutkan pada tabel di atas
bisa dibaca sebagai kembalinya kekuatan bangsawan dalam struktur politik. Hal
yang menarik untuk ditelisik dari kemenangan bangsawan lokal dalam Pilkada
tidak bisa dilepaskan dari bekerjanya jaringan kekerabatan.
Kuatnya jaringan kekerabatan yang dimiliki para bangsawan sangat
berpengaruh dalam memenangkan Pilkada. Seorang responden mengatakan
bahwa golongan bangsawan sangat diuntungkan dalam sistem pemilihan
langsung. Argumen ini bisa dipahami karena selama ini para bangsawan
mempunyai jaringan yang luas sehingga mobilisasi pemilih relatif lebih mudah
dilakukan. Apalagi jika pasangan calon yang maju adalah tokoh masyarakat dan
mempunyai rekam jejak yang baik dalam kehidupan masyarakat.
Kemenangan golongan bangsawan dalam Pilkada, menjadi pemicu
terjadinya ledakan partisipasi golongan bangsawan dalam Pilkada. Dari sembilan
kabupaten yang dimenangkan oleh golongan bangsawan, sebanyak 74 calon
bupati dan wakil bupati dan 30 diantaranya berlatar belakang golongan
bangsawan. Bahkan di daerah yang masih kental semangat kebangsawanannya
xliii
pun seperti Kabupaten Bone, Wajo, Jeneponto, dan Soppeng para bangsawan
yang mendominasi bursa bupati dan wakil bupati.
Dominasi bangsawan di empat kabupaten ini bisa dimaknai bahwa trah
bangsawan tetap eksis dalam panggung politik lokal. Mereka adalah figur-figur
yang bisa memanfaatkan dan menguasai proses politik desentralisasi dan
liberalisasi politik. Kelincahan bangsawan dalam menangkap perubahan politik
lokal merupakan bukti kepiawaian mereka dalam berstrategi untuk menguasai
sistem, dan jaringan politik di tingkat lokal. Lebih dari itu, kehadiran golongan
bangsawan di gelanggang politik lokal merupakan salah satu cara untuk
mempertahankan identitas trah dan prestise bisa dinaikkan di tengah situasi dan
kondisi politik yang sangat mendukung kehadirannya.
xliv
REALITAS
SOSIAL
EKSISTENSI
BANGSAWAN
KETURU
PENDIDI
NAN
KAN
EKO
NO
- POSISI BIROKRASI
Gambar
1. Kerangka Konsep
C. Definisi Operasional
-
POSISI POLITIK
KELEMBAGAAN LAINNYA
MI
KETURUNAN
Realita sosial ekonomi adalah keadaan kelompok masyarkat bangsawaan
pada saat sekarang. Hal ini bisa diketahui dengan cara membandingkan realita
sosial ekonomi kelompok masyarakat bangsawan pada zaman dahulu dengan yang
terjadi saat ini.
Bangsawan adalah kelompok masyarakat kelas atas , masyarakat Bugis
Bone menyebutnya dengan istilah arung (Andi). Golongan bangsawan tersebut
bisa dilihat pada masyarakat yang menggunakan nama depan Andi. Apabila
golongan andi tersebut telah menikah maka akan mendapatkan tambahan nama
yaitu petta contohnya sebelum menikah nama lengkapnya hanya Andi Anwar ,
setelah menikah berubah menjadi Andi Anwar Petta Tuju.
xlv
Golongan bangsawan tersebutlah yang menduduki kelas tertinggi dalam
masyarakat Bugis Bone. Beberapa kecamatan di Kabupaten Bone yang masih
kental dengan kebangsawanannya antara lain Kecamatan Sibulue, Kecamatan
Kahu, Kecamatan Patimpeng dan beberapa kecamatan lainnya.
Stratifikasi sosial merupakan penggolongan masyarakat ke dalam kelaskelas tertentu secara bertingkat. Dapat dilihat dari sudut pandang ekonomi,
pendidikan dan kedudukan dalam birokrasi.
xlvi
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Strategi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
deskriptif yang bermaksud untuk memberikan gambaran umum tentang realita
sosial ekonomi kelompok masyarakat bangsawan Bugis di Desa Sanrego
Kecamatan Kahu Kabupaten Bone. Data yang diperoleh kemudian dianalisis
secara kualitatif untuk mencapai kejelasan masalah yang akan dibahas. Dari hasil
analisis data tersebut kemudian akan ditarik sebuah kesimpulan yang merupakan
jawaban dari permasalahan penelitian (Daymont, 2008).
B. Waktu dan Lokasi Penelitian
1. Waktu
Penelitian ini dilakukan pada bulan 10 Juni sampai dengan 10 Agustus
2012.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini bertempat di Desa Sanrego Kecamatan Kahu Kabupaten
Bone. Alasan dipilihnya Desa Sanrego Kecamatan Kahu Kabupaten
Bonesebagai lokasi penelitian, dengan pertimbangan bahwa:
a.
Merupakan salah satu basis masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan
xlvii
b. Desa Sanrego merupakan salah satu desa yang masih tetap
mempertahankan status sosial dalam masyarakat.
C. Tipe dan Dasar Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
deskriptif. Tipe penelitian yang digunakan adalah survei. Survei yang dimaksud
disini adalah melakukan survei di lapangan atau lokasi yang akan diteliti atau
terjun langsung ke lapangan untuk melakukan survei langsung untuk malakukan
wawancara langsung kepada informan yang akan diteliti untuk memperoleh data.
D. Informan Penelitian
Informan penelitian pada penelitian ini ditentukan dengan menggunakan
teknik snowball yaitu teknik penentuan informan yang dilakukan dengan
mendatangi terlebih dahulu masyarakat yang dianggap bisa memberikan
informasi tentang informan yang dianggap bisa memberikan informasi terkait
dengan masalah penelitian.
Informan penelitian awal yang dipergunakan sebagai sumber data
primer dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan kriteria:
1. Bangsawan
2. Non Bangsawan
xlviii
E. Teknik Pengumpulan Data
a.
Wawancara Mendalam
Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan mengajukan
pertanyaan secara lisan dan langsung (bertatap muka) dengan informan
yang ditunjang oleh pedoman wawancara. Dengan tujuan untuk
memperoleh informasi secara lengkap
dan mendetail dari objek yang
diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahi hal-hal dari responden
yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/ kecil. (Sugiyono
2010).
b. Observasi
Observasi yang dimaksud peneliti yaitu berupa pengamatan secara
langsung di lapangan untuk mengetahui hal yang berhubungan dengan
masalah penelitian. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui objektivitas
dari kenyataan yang ada tentang keadaan dan kondisi objek yang akan di
teliti. Penggunaan teknik observasi ini di maksudkan untuk mengungkap
fenomena yang tidak diperoleh melalui tekhnik wawancara.
c. Studi Kepustakaan
Data ini diperoleh dari studi kepustakaan yaitu penelusuran sumber
pustaka yang berkaitan dengan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan
objek penelitian.
xlix
F. Analisis Data
Data dapat diorganisasi secara kronologis, kategori atau dimasukkan ke
dalam tipologi. Analisis data dilakukan sejak peneliti di lapangan, sewaktu
pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan
lapangan. Editing bertujuan untuk memperbaiki kualitas data dan menghilangkan
keragu-raguan data. Jawaban-jawaban yang didapat dari hasil wawancara
kemudian dibuatkan transkrip untuk mempermudah proses analisis data.
Data yang telah peneliti dapatkan melalui wawancara kemudian data
tersebut perlu dibaca kembali untuk melihat apakah ada hal-hal yang masih
meragukan dari jawaban informan. Setelah data terkumpul peneliti dapat mulai
mengagregasi, mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang
dapat dikelola. Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi
hal-hal umum guna menemukan pola umum data.
l
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Desa Sanrego
1. Legenda dan Sejarah Pembangunan Desa
Desa Sanrego merupakan salah satu Desa dari 19 Desa yang ada di
Kecamatan Kahu kabupaten Bone. Desa Sanrego 7 Dusun yakni Dusun
Mahung, Batu Tire, Teko, Berru, Macege, Poppai dan Dusun Ujung Sanrego.
Sanrego adalah salah satu Desa penghasil produk-produk pertanian dan
perkebunan. Berikut adalah gambaran tentang perkembangan Desa Sanrego.
li
Tabel 2. Perkembangan Desa Sanrego
Tahun
Peristiwa
1961-1974
Sanrego
awlnya
membawahi
wilayah
kampung
Mahung, Teko, Berru, dan Poppai. Komoditas utama
penduduk Sanrego adalah Padi. Karena pada saat itu
belum ada akses transportasi sehingga kendaraan umum
penduduk adalah kuda. Pada zaman ini Desa Sanrego di
Kepalai oleh A. Ramli Petta Intang.
1974
Setelah
A.
Ramli
Petta
Intang
mengakhiri
Pemerintahannya, maka pemerintah wilayah Kecamatan
menunjuk Andi Page Petta Renring untuk menjabat
sebagai kepala Desa, namun tidak belangsung lama
jabatan diserahkan kepada Petta Baso, kemudia di
limpahkan lagi kepada a. Idris.
1975-1983
Jabatan Kepala Desa di dudki oleh A. Pawellangi.
1984-1992
Masa jabatan A. Pawellangi berakhir, pemilihan kepala
Desa dilakukan dengan Dua calon yakni A. Pawellangi
dengan Syamsuddin . hasil pemilihan menunjukkan
keunggulan
Syamsuddin,
maka
ditetapkanlah
Syamsuddin sebagai kepala Desa.
1992-1993
Syamsuddin hanya mampu menjalankan separuh masa
jabatannya, oleh sebab itu selaku sekertaris Desa A.
Kamaruddin ditunjuk selaku pelaksana tugas sampai
akhir masa jabatan.
1994-2002
A. Kamaruddin kembali terpilih setelah mengalahkan
kedua rifalnya A. Massiara dan A. Hasdar.
lii
2003-2008
Untuk kedua kalainya A. Kamaruddin Kembali terpilih
dengan mengungguli Drs. A. Surya dan Muhtar Abu.
2009- Sekarang
Drs. A. Suraya memperoleh suara terbanyak setelah A.
Malla. M dan Zainuddin.
Sumber : Mahmud ( Kaur Pemerintah Desa Sanrego )
2. Kondisi Umum Desa Sanrego
a. Geografis
Desa Sanrego Merupakan salah satu dari 19 Desa di Wilayah
Kecamatan Kahu dengan luas wilayah seluas ± 1.091 Hektar. Batas
wilayah sebagai berikut :
1) Sebelah Utara adalah Desa Tompong Patu
2) Sebelah Timur adalah Desa Palakka
3) Sebelah Selatan adalah Desa Bonto Padang
4) Sebelah Barat adalah Desa Lamoncong
b. Iklim
Iklim Desa Sanrego sebagaimana desa-desa lain di wilayah
Indonesia beriklim tropis dengan dua musim yaitu musim kemarau dan
Penghujan.
liii
3. Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk
a. Jumlah Penduduk
Penduduk Desa Sanrego terdiri atas 969 KK, 947 RT dengan total
jumlah jiwa 4. 076 orang yang tersebar dalam 7 wilayah Dusun dengan
perincian sebagaimana dalam tabel berikut:
Tabel 3. Jumlah Penduduk Desa Sanrego
No
Nama Dusun
Jumlah Penduduk
1
Batu Tire
658 orang
2
Mahung
613 orang
3
Teko
512 orang
4
Macege
512 orang
5
Poppai
548 orang
6
Ujung Sanrego
617 orang
7
Berru
437 orang
Jumlah Penduduk
3349 orang
Sumber: Dokumen Rancangan pembangunan Jangka Menengah Desa
(2011)
liv
a) Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan penduduk Desa Sanrego dibagi menjadi beberapa
tingkatan antara lain pendidikan pra sekolah, Sekolah Dasar, SMP, SMA dan sarjana.
Tabel 4. Tingkat Pendidikan
No
Pendidikan
Jumlah
1
Pra sekolah
412 orang
2
SD
958 orang
3
SMP
1190 orang
4
SMA
1182 orang
5
Sarjana
25 orang
Sumber: Dokumen Rancangan pembangunan Jangka Menengah
Desa (2011)
Saat ini masyarakat Desa Sanrego yang belum menempuh pendidikan
dasar sebanyak 412 orang, Sekolah Dasar sebanyak 958 orang, SMP sebanyak
1190 orang, SMA ssebanyak 1182 orang sedangkan sarjanah sebanyak 25 orang.
b) Mata Pencaharian
Desa Sanrego merupakan Desa Pertanian, maka sebagian besar
penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, selengkapnya sebagai berikut:
lv
Tabel 5. Tingkat Mata Pencaharian
No
Pekerjaan
Jumlah
1
Petani
3921 orang
2
Pedagang
132 orang
3
PNS
8 orang
4
Buruh
15 orang
5
Lainnya
-
Sumber: Dokumen Rancangan pembangunan Jangka Menengah Desa
(2011).
Berdasarkan keteranagan dari tabel di atas menunjukan bahwa penduduk
desa Sanrego pekerjaan utama masyarakatnya adala bertani, jumlah petani di desa
Sanrego adalah 3921 orang, pedagang 132 orang yang mana pedagang merupakan
pekerjaan ke dua atau merupakan pekerjaan sampingan oleh masyarakat desa
Sanrego. PNS sebanyak 8 orang, dan buruh debanyak 15 orang.
c) Pola Penggunaan Tanah
Penggunaan tanah di Desa Sanrego sebagian besar diperuntukan
sebagai tanah pertanian sawah sedangkan sebagian sisanya untuk tanah kering
yang merupakan tempat untuk mendirikan bangunan dan fasilitas-fasilitas
lainnya.
lvi
d) Pemilik Ternak
Penduduk Desa Sanrego selain bekerja sebagai petani, penduduk di
Desa ini juga mememlihara ternak. Jumlah kepemilikan hewan ternak oleh
penduduk Desa Sanrego adalah sebagai berikut:
Tabel 6. Kepemilikan Ternak
Jenis Ternak
Jumlah
Ayam / itik
3250 orang
Kambing
27 orang
Sapi
1500 orang
Lain-lain
-
Sumber: Dokumen Rancangan pembangunan Jangka Menengah Desa
(2011).
Selain bertani penduduk desa Sanrego juga memilih untuk memelihara ternak,
penduduk desa Sanrego yang memelihara itik dan ayam sebanyak 3250 orang,
yang memelihara kambing 27 orang, dan yang memelihara sapi adalah 1500
orang.
e) Sarana dan Prasarana Desa
Kondisi sarana dan prasarana umum Desa Sanrego secara garis besar
adalah sebagai berikut:
lvii
Tabel 7. Prasarana Desa
No
Prasarana Desa
Jumlah
1
Balai Desa
1 unit
2
Jalan Kabupaten
1 poros
3
Jalan Kecamatan
-
4
Jalan Desa
6 jalan
5
Mesjid
7 unit
Sumber: Dokumen Rancangan pembangunan Jangka Menengah Desa
(2011).
Prasarana
sebuah
desa
juga
sanagat
penting
untuk
kebutuhan
masyarakatnya, parasarana desa Sanrego adalah balai desa sebnyak 1 unit, jalan
kabupaten yang merupakan jalur untuk mengakses ke kabupaten Bone dari desa
Sanrego yaitu 1 poros, jalan desa sebanyak 6 jalan dan Mesjid yang merupakan
tempat ibadah dan harus dimiliki oleh setiap daerah, dan desa Sanrego memiliki
7 unit Mesjid.
B. Gambaran Bangsawan Bugis Di Desa Sanrego Kecamatan Kahu Kabupaten
Bone
Andi sebagai gelar yang digunakan para bangsawan Bugis.Sebutan “Andi”
adalah sebutan alur kebangsawanan yang diwariskan hasil genetis (keturunan)
Lapatau, pasca Bugis merdeka dari orang Gowa.” Andi” ini dimulai ketika 24
lviii
Januari 1713 dipakai sebagai extention untuk semua keturunan hasil perkawinan
Lapatau dengan putri Raja Bone sejati, Lapatau dengan putri Raja Luwu (yang
bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri raja Wajo (yang
bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri Sultan Hasanuddin
(Sombayya Gowa), Anak dan cucu Lapatau dengan putri Raja Suppa dan Tiroang.
Anak dan cucu Lapatau dengan putri raja sejumlah kerajaan kecil yang berdaulat
di Celebes.
Gelar Andi, menurut Susan Millar dalam bukunya ‘Bugis Weddings’
(telah diterbitkan oleh Ininnawa berjudul (Perkawinan Bugis) disinggung
bagaimana proses lahirnya gelar Andi itu. Memang, seperti yang disinggung di
atas, saat itu Pemerintah Belanda di tahun 1910-1920an ingin memperbaiki
hubungan dengan para bangsawan Bugis dengan membebaskan keturunan
bangsawan dari kerja paksa.
Saat itu muncul masalah bagaimana menentukan seorang berdarah
bangsawan atau tidak. Akibatnya, berbondong-bondonglah warga mendatangi raja
dan menegosiasikan diri mereka untuk diakui sebagai bangsawan, karena
rumitnya proses itu maka dibuatlah sebuah gelar baru untuk menentukan
kebangsawanan seseorang dengan derajat yang lebih rendah, di pakailah kata
Andi untuk menunjukkan kebangsawanan seseorang dalam bentuk sertifikat
lix
(mungkin sejenis sertifikat yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah
lulus dalam kursus montir mobil atau sejenisnya).
Adapun gelar Andi, pertama-tama yang menggunakannya adalah Andi
Mattalatta untuk membedakan antara pelajar dari turunan bangsawan dan rakyat
biasa. Dan gelar Andi inilah yang diikuti oleh turunan bangsawan Luwu dan
Makassar. Jadi di zaman Andi Mattalatta gelar ini muncul.
Secara umum Bangsawan Bugis berasal dari pemimpin-pemimpin
anang/kampung/wanua sebelum datangnya To Manurung/To Tompo. Pimpinanpimpinan kampung ini yang selanjutnya disebut kalula/arung dengan nama
alias/gelar
berbeda-beda
kampung/kondisi/perilaku
yang
bersangkutan
disesuaikan
yang
dia
dengan
nama
peroleh
melalui
pengangkatan/pelantikan oleh sekelompok anang/masyarakat maupun secara
kekerasan (peperangan bersenjata) yang selanjutnya diwariskan secara turuntemurun kepada ahli warisnya, kecuali jika dikemudian hari ternyata dia
ditaklukkan dan diganti oleh penguasa yang lebih tinggi/kuat.Masyarakat Bugis
dibagi dalam kelas sebagai berikut :
1. Lapisan Bangsawan (Ana’arung/Ana’karaeng)
2. Lapisan Masyarakat Merdeka (To Maradeka/Tumaradeka)
3. Lapisan Hamba/Budak (Ata)
lx
Lapisan di atas pada intinya masih memiliki klassifikasi kualitas yang
sesuai dengan apa yang tercantum dalam Lontara Latoa, yaitu klassifikasi
tingkatan pada masing-masing lapisan masyarakat. Hal ini penting terutama
dalam persoalan suksesi pemerintahan dimana pemegang hak utama terdapat pada
lapisan Bangsawan kelas tertinggi yang disebut Ana’pattola atau Ana’ti’no.
Kebangsawanan atau stratifikasi sosial lapisan atas dalam perjalanan
sejarah Sulawesi Selatan ditemukan adanya dua sumber. Yang pertama, lapisan
bangsawan yang berdasar pada sejarah keturunan leluhurnya menurut takaran adat
istiadat, hal mana lapisan ini mulai dikenal sejak kedatangan Tomanurung, dan
keturunan langsung Tomanurung inilah yang merupakan sebuah lapisan tersendiri
yang disebut bangsawan. Yang kedua adalah faktor kondisi dan keadaan yang
dipaksakan artinya menduduki lapisan sebagai bangsawan karena kedudukan
yang diberikan oleh Belanda sebagai penjajah yang menguasai kebijakan politik.
Pada unsur yang pertama dapat diketahui dengan menelaah silsilah
leluhurnya berdasarkan lontara panguriseng (lontara silsilah). Jika seseorang
adalah keturunan Tomanurung dan dalam perkembangan keluarganya tetap
menjaga aturan wari’(stratifikasisosial) maka orang tersebut dikatakan sebagai
lapisan bangsawan asli. Di lain pihak meski adalah keturunan Tomanurung
namun dalam proses perkembangannya tidak lagi menjaga aturan wari’ maka
dikatakan kebangsawanan orang tersebut telah luntur (tuasa, Bahasa Makassar,
lxi
atau malawi’, Bahasa Bugis) dan stratifikasinya bergeser ke stratifikasi sosial
yang lebih rendah.
Pada Unsur kedua adalah kebangsawanan yang bukan bersumber dari
Tomanurung, tetapi merupakan bangsawan ciptaan Kolonial Belanda sebagai
pemegang kekuasaan politik dalam masa penjajahan, sehingga seseorang karena
diberi kedudukan oleh Belanda sebagai seorang raja ‘boneka’, menempatkannya
pada strata kedudukan sosial yang tinggi dalam masyarakat hingga keturunannya
yang merupakan hasil imitasi.
lxii
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Profil Informan
Informan penelitian didapatkan dengan menggunakan teknik snowball
yaitu suatu teknik penentuan informan yang dilakukan dengan mendatangi
terlebih dahulu masyarakat yang dianggap bisa memberikan informasi tentang
masalah yang diteliti, selain itu informan tersebut juga bias memberikan
infoemasi tentang informan lain yang dianggap bisa memberikan informasi terkait
dengan masalah penelitian.
1. Informan Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin dan Pekerjaan
Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa informan yang berumur 43
tahun sebanyak satu orang, informan berumur 35 tahun sebanyak satu orang
berprofesi sebagai kepala desa, informan yang berumur 65 tahun sebanyak
satu orang berprofesi sebagai Kepala Dusun, Informan yang berumur 55 tahun
sebanyak satu orang berprofesi sebagai Anggota DPD, informan
yang
berprofesi sebagai petani sebanyak empat orang dengan usia masing-masing
65 tahun, 85 tahun, 72 tahun dan 67 tahun. Informan yang berusia 62 tahun
berprofesi sebagai wiraswasta dan informan berusia 65 tahun sebanyak satu
orang yang berprofesi sebagai IRT.
lxiii
Tabel 8. Informan Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin
N
Jenis
Nama
Umur
o
1
Kelamin
AS
2
3
MS
AL
43
L
35
L
55
L
4
PU
65
L
5
PUM
85
L
6
AR
72
L
7
HAK
62
L
8
TM
67
L
9
HAB
65
P
Sumber : Data Primer.
2. Informan berdasarkan Status dan Pendidikan
Informan yang berstatus sebagai bangsawan sebanyak lima orang
dan masyarakat biasa sebanyak empat orang. Informan penelitian ini
didominasi oleh masyarakat yang berpendidikaan sampai empat orang, SMA
sebanyak empat orang dan Sarjana sebanyak satu orang. Hal ini menunjukkan
tingkat kepedulian masyarakat Desa Sanrego terhadap pendidikan cukup
lxiv
tinggi. Dimana program wajib belajar sembilan tahun telah terpenuhi. Tingkat
status kedudukan dan pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 9. Distribusi Informan Menurut Status atau Kedudukan
Kebangsawanannya dan Pendidikan
No
Nama
Status
Pendidikan
Kebangsawanan
1
AS
2
3
MS
AL
Arung/ Andi
S1
Masyrakat biasa
SMA
Arung/ Andi
SMA
4
PU
Arung/ Andi
SMP
5
PUM
Masyarakat biasa
SMP
6
AR
Masyarakat biasa
SMP
7
HAK
Arung/ Andi
SMA
8
TM
Masyarakat biasa
SMA
9
HAB
Arung/ Andi
SMP
Sumber : Data Primer
Masyarakat yang termasuk dalam kelompok arung/ andi merupakan
keturunan bangsawan yang diperoleh sejak lahir dan diwariskan dari orang tua.
Pada masayrakat Bugis, gelar bangsawan akan melekat apabila berasal dari garis
ketururnan ayah yang bangsawan atau ayah dan ibu yang bagsawan. Gelar ini akan
lxv
hilang apabila ayah berasal dari kalangan masyarakat biasa tetntu saja kana
melahirkan anak yang tidak bangsawan lagi. Seperti penjelasan tabel berikut ini:
Tabel 10. Status Kebangsawanan Berdasarkan Kelahiran
Ayah
Ibu
Anak
+
+
+
+
_
+
-
+
-
-
-
-
Keterangan:
+ artinya bagsawan
--artinya bukan bangsawan
Sistem kekerabatan masyarakat Bugis di Desa Sanrego mempunyai
sistem kekerabatan yang disebut dengan assiajingeng yang mengikuti sistem
bilateral, yaitu sistem kekerabatan yang mengikuti lingkungan pergaulan hidup
dari ayah maupun dari pihak ibu. Hubungan kekerabatan ini menjadi sangat luas
disebabkan karena, selain menjadi anggota keluarga ibu, juga menjadi anggota
keluarga dari pihak ayah. Garis keturunan berdasarkan garis keturunan dari pihak
ayah atau dikenal dengan sistempatrilinear. Sistem patrilinear merupakan prinsip
penarikan garis keturunan hanya dari satu pihak yaitu dari ayah.
Kalau bapaknya bangsawan dan ibunya juga bangsawan maka
anaknya juga bangsawan, kalau bapaknya saja yang bangsawan
lxvi
ibunya bukan masih bisaji anaknya juga bangsawan. Karena dari
bapak saja yang menjadi patokan (mappanessa). (Wawancara HAB,
01 Juli 2012)
Hal ini jelas bahwa yang menjadi ukuran untuk menentukan garis
keturunan adalah dari garis ayah. Sebagaimana telah diungkapkan dalam
wawancara pada responden, bahwa kalau dari ayah yang berasala dari
kalangan bangsawan dan diikuti oleh garis keturunan ibu pula yang samasama berasal dari kalangan bangsawan maka anak atau keturunannya bisa di
panggil Andi.
Sistem kekerabatan di Desa Sanrego hanya menarik garis keturunan
dari ayah tidak mengenal penarikan garis keturunan dari ibu, apabila ibunya
bukan dari golongan bangsawan dan ayahnya juga bukan dari golongan
bansawan maka anak mereka tidak bisa memakai gelar Andi.
B. Karakter Sosial Ekonomi Kelompok Kebangsawanan Bugis Di Desa Sanrego
Kecamatan Kahu Kabupaten Bone
Kehidupan sosial memerlukan benda-benda karena melalui perolehan,
penggunaan dan pertukaran benda-benda, individu-individu kemudian memiliki
kehidupan sosial (Damsar, 2009). Dengan kata lain kehidupan sosial individuindividu tidak terlepas dari hubungan dengan benda-benda yang diberi nilai
pemaknaan.
Terwujudnya kehidupan ekonomi seseorang tidak terlepas dari usaha
masyarakat itu sendiri dalam memenuhi kebutuhannya serta dipengaruhi oleh
lxvii
beberapa faktor pendorong antara lain adanya dorongan untuk mempertahankan
diri dalam hidupnya dari berbagai pengaruh alam, serta dorongan untuk
mengembangkan diri dan kelompok masyarakat.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya masyarakat perlu bekerja. Hal ini
merupakan salah satu bentuk fenomena ekonomi. Fenomena ekonomi merupakan
gejala dari cara bagaimana orang atau masyarakat memenuhi kebutuhan hidup
mereka terhadap jasa dan barang langka. Cara yang dimaksud disini adalah semua
aktifitas orang dan masyarakat yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan
konsumsi barang-barang langka (Damsar, 2009).
Aktivitas ekonomi secara sosial didefinisikan sebagai aktivitas ekonomi
yang dipengaruhi oleh interaksi sosial dan sebaliknya. Prespektif ini digunakan
oleh Ibnu Khaldun dalam menganalisis nilai pekerja masyarakat, dalam arti mata
pencaharian dan stratifikasi ekonomi sosial. Salah satu aspek kehidupan sosial
ekonomi adalah aspek ekonomi yang meliputi kesempatan kerja, tingkat
pendapatan dan pemilikan barang.
1. Jenis Pekerjaan
lxviii
Jenis pekerjaan dapat dipergunakan untuk membedakan lapisanlapisan sosial dalam masyarakat. Setelah masyarakat mengembangkan
berbegai jenis lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat.
Pada umumnya kegiatan ekonomi masyarakat berpusat di daerah
pedesaan yang masih menyediakan lahan yang cukup luas untuk kegiatan
ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa masyarakat Desa
Sanrego sebagian besar penduduknya didominasi oleh masyarakat yang
berprofesi sebagai petani. Profesi petani tidak hanya dilakukan oleh
masyarakat yang berasal dari kelas bawa, tetapi juga masyarakat bangsawan
mengingat prekonomian utama masyarakat Desa Sanrego adalah pertanian.
Masih banyak bagsawan yang mempekerjakan masyarakat biasa. Basawan
yang masih kaya biasanya banyak sawahnya, mungkin hasil warisan
orang tuanya dulu. Hasilnya nanti dibagi dengan pekerjanya
(Wawancara, Informan PU 30 Juni 2012).
Lahan pertanian diwariskan baik kepada laki-laki maupun perempuan.
Seperti pada masyarakat Bugis pada umumnya, enam puluh persen petani
memiliki lahan sendiri dan empat puluh persen sisanya menyewa lahan atau
bekerja sebagai petani penggarap bagi hasil. Selain sebagai petani, masyarakat
Desa Sanrego juga bekerja di luar sektor pertanian (off-farm). Off-Farm dapat
didefinisikan sebagai semua pekerjaan yang dilakukan di luar usaha tani
sendiri termasuk bekerja di usaha tani tetangga dan perkebunan (Saeni, 2005).
Selama dalam masyarakat masih terdapat sesuatu yang dihargai, maka
akan tetap menimbulkan adanya pembagian masyarakat ke dalam kelas secara
lxix
bertingkat. Berikut tabel yang menjelaskan jenis-jenis pekerjaan masyarakat
Desa Sanrego.
Tabel 11. Mata Pencaharian Penduduk Desa Sanrego Kecamatan Kahu
Kabupaten Bone
Jenis
No.
Jumlah
Pekerjaan
1.
Petani
3921 orang
2.
Pedagang
132 orang
3.
PNS
8 orang
4.
Buruh
15 orang
5.
Lainnya
-
Sumber: Profil Desa Sanrego 2012
Dari tabel tersebut dapat dilihat distribusi pekerjaan masyarakat yang
sebagian besarnya bekerja sebagai petani. Pedagang merupakan pekerjaan
yang
hanya digeluti oleh 132 masyarakat Desa Sanrego, yang berstatus
sebagai PNS sebanyak 8 orang sedangkan yang bekerja sebagi buruh sebanyak
15 orang.
Dapat disimpulkan bahwa hanya ada empat jenis pekerjaan di Desa
Sanrego. Konsentrasi pemilikan lahan pertanian masih didominasi oleh
masyarakat bangsawan dan petani penggarap didominasi oleh masyarakat
biasa. Msyarakat yang berasal dari golongan non bangsawan hanya
lxx
mengerjakan lahan yang dimiliki oleh kalangan bangsawan, meskipun sudah
ada dari golongan non bangsawan
yang memiliki sendiri lahan namun
jumlahnya masih sedikit.
2. Kepemilikan Rumah
Salah satu ukuran yang digunakan untuk mengelompokkan masyarakat
ke dalam kelas-kelas secara bertingkat adalah kepemilikan rumah. Daya
dukung ekonomi juga dapat diukur dari kepemilikan rumah yang meliputi
bentuk rumah, ukuran, interior dan bahan dasar. Rumah yang dibangun
tergantung dari daya dukung ekonomi pemiliknya.
Indikator yang digunakan dalam menentukan baik tidaknya sebuah
rumah antara lain bentuk rumah, ukuran, interior dan bahan dasar. Berdasarkan
indikator tersebut maka dapat dikatakan bahwa masyarakat bangsawan memiki
bentuk rumah yang mewah sedangkan rumah masyarakat bawah tidak lebih
mewah dibandingkan dengan rumah masyarakat bagsawan. Penjelasan tersebut
menunjukkan adanya perbedaan gaya hidup antara masyarakat bangsawan
dengan masyarakat biasa.
Sejak zaman dahulu, masyarakat mengakui sistem pelapisan sosial yang
mempunyai kedudukan yang bertingkat ke atas. Pelapisan sosial ini
terjadi baik di desa maupun di kota (Soenarto, 2004).
lxxi
Rumah masyarakat biasa dapat dilihat dari bentuk bumbungannya.
Masyarakat bangsawan memiliki bumbungan rumah lebih dari tiga. Sedangkan
masyarakat yang memilki bumbungan kurang dari tiga termasuk masyarakat
biasa. Selain bumbungan rumah, bentuk dan ukuran rumah juga dapat
menunjukkan status sosial seseorang.
Biasanya tipe rumah tempat tinggal bagi kelompok kelas menengah
berada dalam suatu kawasan tertentu yang sering kali disebut dengan kawasan
elite. Namun di Desa Sanrego Kecamatan Kahu perumahan yang dimiliki oleh
kaum bangsawan dibangun dengan bertetangga dengan golongan biasa, akan
tetapi dapat di bedakan dengan model atau bentuk rumah yang mana biasanya
rumah permanen dan megah itu dimiliki oleh kalangan bangsawan.
Rumah permanen adalah rumah yang berbahan dasar dari batu, pasir,
dan semen yang digunakan untuk membangun dasar pondasi rumah hingga
tembok rumah. Rumah permanen ini tidak dapat dipindah tempatkan karena
sudah dibangun secara permanen. Sedangkan, rumah semi permanen adalah
rumah yang dibangun dengan bahan dasar dari kayu. Rumah semi permanen
ini bisa dipindahkan atau dipindah tempatkan karena rumah semi permanen
mudah untuk dibongkar kemudian di pasang kembali.
Rumah dengan bahan dasar semen hanya dimiliki oleh masyarakat
yang berstatus ekonomi tinggi yang hanya dimiliki oleh masyarakat
bangsawan. Sedangkan rumah masyarakat biasa terbuat dari bahan dasar kayu
(rumah panggung).
lxxii
Tabel 12. Kecenderungan Kedudukan dan Kepemilikan Rumah
No
Kedudukan
Kepemilikan Rumah
Rumah Permanen
1
Bangsawan
2
Masyarakat Biasa
Semi permanen


Sumber Data : Data Primer
Berdasarkan dari keterangan tabel tersebut di atas yang didapat dari
hasil penelitian maka dapat dijelaskan bahwa kedudukan bangsawan di Desa
Sanrego juga dapat dilihat dari bentuk dan struktur bangunan rumah yang
dimiliki. Status sosial ekonomi di desa Sanrego dapat dilihat dengan
memperhatikan model rumah yang dimiliki masyarkatnya, meskipun ada
masyarakat biasa yang model rumahnya seperti model rumah bangsawan.
Kemiripan model rumah antara bangsawan dengan rumah masyarakat
biasa sudah tidak banyak, hal ini disebabkan bahwa masyarakat di desa
Sanrego masih didominasi oleh Petta/Andi (bangsawan). Berbeda dengan
masyarakat biasa yang memiliki struktur bangunan yang tidak semewah dan
semegah bangunan rumah kalangan bangsawan yang mana bangunan kalangan
masyarakat biasa yaitu semi permanen.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan status
ekonomi yang jelas antara masyarakat bangsawan dengan masyarakat biasa.
lxxiii
Pendapatan dan kepemilikan lahan juga berpengaruh terhadap bentuk rumah
masyarakat setempat. Disini dominasi masyarakat bangsawan masih terlihat,
dari segi jumlah penduduk masyarakat bangsawan masih lebih banyak dari
masyarakat biasa. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara pada informan AR:
Masih gampang sekali itu dibedakan siapa di sini Petta (Andi), di lihat
saja dari bentuk rumahnya, kalau rumahnya bagus itu kemungkinan
besar Petta (Andi). Di sini juga (Desa Sanrego) masih banyak sekali
yang Bangsawan (Petta) dan masih didominasi keluarga Bangsawan
(Petta). Dan selain itu di sini juga masih di kuasai juga
persawahannya dari kalangan babgsawn (Petta), sehingga mereka
masih banyak harta misanya, tanah pesawahan mereka. (Wawancara
AR, 03 Juli 2012).
Berdasarkan hasil wawncara tersebut diketahui bahwa bangsawan di
Desa Sanrego sangat mudah didapatkan, hanya dengan melihat bentuk
rumahnya. Status kebangsawanaan berdasarkan kepemilikan lahan pertanian
dapat dilihat dari jumlah sawah yang dimilikinya. Bangsawan juga yang paling
banyak mempekerjakan masyarakat biasa untuk menggap lahan.
3. Pendapatan
Penelitian ini menunjukkan bahwa perolehan pendapatan masyarakat
dihitung berdasarkan jumlah hasil yang diperoleh pada saat panen. Panen
dilakukan tiga kali dalam satu tahun. Setiap satu kali panen petani
mendapatkan 70 sampai dengan 100 karung (dengan ukuran karung tertentu)
dengan luas sawah 1 hektar. Pembagian hasilnya, jika petani penggarap
menanggung semua biaya sampai masa panen, maka pendapatan yang
lxxiv
diperoleh 3:1. Dalam istilah sosiologi kelompok ini dikenal dengan sebut
dengan penyakap.
Para petani di desa Sanrego ini panennya biasanya panen sebanyak tiga
kali dalam satu tahun, dan kalau sistem pembagian hasilnya itu kalau
orang yang menggarapsawah milik ornag lain itu kalau yang
menggarap, dan dia juga yang menanggung semua biaya misanlaya
pupuk, racun dan lain sebagainya itu di bagi dua. Tapi kalu pemilik
sawah yang menanggung biaya sampai panen selesai maka hasilnya
di bagi menjadi 3:1, misalnya kalau hasil dari panen tersebut 30
karung maka sipenggarap hannya mendapatkan 10 karung saja. Tapi
kalau penggarap juaga yang menanggung semua biaya sampai panen
maka dia mendapatkan 15 karung atau di bagi dua hasil panen
tersebut. (Wawancara AS, 28 Juni 2012).
Kondisi ini menguntungkan bagi petani pemiliki. Masyarakat petani
dalam lapisan utama terbagi atas kelompok petani dan kelompok penyakap.
Kelompok petani artinya kelompok yang bermasyarakat dengan bermata
pencaharian bercocok tanam dan memiliki sejumlah areal pertanian.
Masyarakat petani kaya menduduki peringkat paling atas karena memiliki
lahan pertanian yang relative luas serta memiliki sejumlah peralatan penggarap
sawah yang memadai termasuk tenaga kerja yang relatif banyak.
Klasifikasi kelompok petani berdasarkan pemilikan dan penguasaan
tanah petanian terbagi atas pemilik atau tuan tanah atau bangsawan, pemilik
dan penggarap, penyakap dan buruh tani. Pada saat sekarang di Desa Sanrego,
tidak ada lagi buruh tani. Buruh tani yang dimaksud disini adalah petani yang
tidak memiliki tanah pertanian dan hanya bekerja dengan upah tertentu sesuai
lxxv
dengan aturan yang berlaku. Sedangkan petani kaya yang memiliki peralatan
penggarap sawah seperti traktor akan memberikannya kepada petani lain untuk
dipakai menggarap sawah orang lain dengan sistem bagi hasil. Hal ini sejalan
dengan yang dikemukakan oleh salah satu informan AS.
Di sini itu (desa Sanrego) tidak adami yang namanya buruh, tapi ada
yang dibilang orang yang mengerjakan sawahnya orang banyak
sawahnya namun tidk bisami lagi mengerjakannya sendiri itu juga di
kasi gaji atau disuruh saja mengerjakan sawah tersebut sampai panen
namun dengan ketentuan tertentu dari pemilik sawah. Biasa juga ada
pemilik sawah yang punnya alat pertanian misalnya traktor untuk
membajak sawah, dia juga sering memberikan traktor tersebut kepada
orang yang mau mengerjakan sawahnya supaya mempercepat
pekerjaan orang yang mengerjakan sawah miliknya (Wawancara AS,
28 Juni 2012).
Selain kedua kelompok petani tersebut di atas, ada juga petani yang
memilki tanah yang tidak terlalu luas dan mengerjakannya sendiri. Luas sawah
yang dimilikinya biasanya 1/8 sampai dengan ¾ hektar. Lauas sawah yang
tidak terlalu luas ini mereka kelolah sendiri yang biasanya menghasilkan hasil
panen yang tidak terlalu banyak juga biasnya kalau seluas 1/8 hektar saja
hanya akan menghasilkan 20-25 karung saja.
lxxvi
Tabel 13. Kedudukan dan Kepemilikan Lahan
No
Kedudukan
Kepemilikan Lahan
Lahan Luas
1
Bangsawan
2
Masyarakat Biasa
Lahan Sempit


Sumber Data: Data Primer
Klasifikasi kelompok petani berdasarkan pemilikan lahan, berdasarkan
dari keterangan tabel tersebut di atas menunjukan bahwa kepemilikan lahan
masih didominasi oleh kalangan Bangsawan (Andi/Arung), jadi lahan luas
dimiliki dari kalangan bangsawan. Kepemilikan lahan yang dianggap lahan
sempit itu diduduki oleh kalangan non bangsawan, adapun kepemilikan lahan
sempit yang berasal dari kalangan buruh. Kalangan buruh ini biasanya
mengolah lahan dari kalngan bangsawan (Andi/Arung) yang tidak bisa
mengolah lahan mereka, jadi mereka lebih memilih memberikan lahan kepada
buiruh untuk di kelola. Wawncara AS mengatakan bahwa :
Saya kasi sebagian sawah sya kepada tetangga yang butuh, yaa sya
kasimi sebagian karena tidak biasjika juga kerjaki semua, daripada
kupaksaki diriku sendiri kerjakanki mungkin tidk bisajika juga
mengurus semua nanti. Biasa yang saya kasi itu orang yang baru
datang ke desa sanrego ini, biasa ada orng yang menikah sama orang
lxxvii
di desa ini itu kalau sudah berumah tanggami biasa mencari siapa
yang ada sawahnya yang mau di garapkan. (Wawancara 28 Juni
2012).
Sistem kelas sosial mengurutkan masyarakat yang didasarkan terutama
pada posisi ekonomi. Perbedaanya dengan sistem lain adalah posisi dalam
sistem ini tidak secara rigid diperoleh berdasarkan keturunan, tetapi dapat
diusahakan sehingga memungkinkan adanya mobilitas sosial. Perbedaan
pendapatan tersebut kemudian membuat masyarakat dapat dikelompokkan
menjadi beberapa status ekonomi.
Sistem kepemilikan lahan di desa Sanrego yaitu masih didoninasi oleh
kalangan masyarakat bangsawan, kepemilikan lahan ini ada yang di peroleh
dengan usaha sendiri dan ada yang diperoleh dari warisan keluarga.
Kepemilikan lahan
pada kalangan bangsawan tidak semua bangsawan
memiliki lahan yang luas ada di antara kalangan bangsawan yang memiliki
lahan sempit namun di desa Sanrego sangat sedikit dari golongan bangsawan
yang memiliki lahan yang sempit. Kalangan bangsawan ini memiliki lahan
sempit disebabkan karena berasal dari keluarga yang memiliki anggota
keluarga yang banyak sehingga mereka harus berbagi lahan dengan anggota
keluarga yangb lain.
Di desa Sanrego yang penduduknya bekerja dalam bidan pertanian
kepemilikan lahan sangat penting, adapun kalangan non bangsawan yang
memiliki lahan yang lauas tidak bisa dikatakan tidak ada karean di desa
lxxviii
Sanrego ada beberapa kalangan non bangsawan yang memiliki lahan yang luas
meskipun di Desa Sanrego ini masih di dominasi oleh kalangan bangsawan
yang memiliki lahan luas. Kalangan non bangsawan ini bisa memiliki lahan
yang lauas karena hasil kerja keras mereka ada yang membeli lahan dari hasil
tabungan mereka dan ada juga dari hasil merantau mereka.
4. Pendidikan
Spesialisasi pekerjaan yang meningkatkan desakan permintaan akan
spesialisasi berpendidikan tinggi. Ada beberapa spesifikasi pekerjaan yang
tidak mengutamakan pendekataan dan kekeluargaan, melainkan pendidikan
yang lebih diutamakan. Pendidikan tinggi akan berpengaruh terhadap proses
mobilitas sosial.
Pentingnya pendidikan yang lebih tinggi dalam masyarakat dapat
dilihat jelas, dimana pendidikan tidak dapat dihindari telah menyebabkan
anggota masyarakat menguasai kehidupan modern (Elly, 2011). Kesemuanya
penting bagi masyarakat dalam proses mobilitas. Semakin tinggi pendidikan
formal seseorang akan semakin tinggi kemungkinan status sosial dan perannya
di masyarakat.
Di sini itu siapa yang sekolahnya tinggi dan dapat dipercaya untuk
mengayomi kita semua di sini itumi yang dituakan tidak peduli dari
golongan apa dia, bair bukan bangsawan, petta, andi kalau pintarki
dan tinggi sekolahnya dan biasa juga dipercaya untuk mengurus apaapa ynag mau diurus sama pemerintah misalnya. (Wawancara HAB,
01 Juli 2012).
lxxix
Konsekuensi dari perbedaan ststus ekonomi tersebut adalah perbedaan
dalam kemampuan membiayai pendidikan. Bagi masyarakat yang kurang
mampu, biaya pendidikan menjadi persoalan utama yang menghalangi untuk
menempuh pendidikan samapi ke jenjang yang lebih tinggi.
Pendidikan merupakan salah satu jalan untuk melakukan mobilitas
sosial tersebut. Pendidikan dipandang sebagai sebuah kesempatan untuk
beralih dari suatu golongan ke golongan yang lebih tinggi. Pendidikan secara
merata memberi kesamaan dasar pendidikan dan mengurangi perbedaan antara
golongan tinggi dan rendah, selain itu pendidikan juga merupakan sesuatu hal
yang sangat berharga karena dapat memberikan akses untuk jabatan dengan
bayaran yang lebih baik.
Dalam sistem stratifikasi sosial terbuka (opened sosial stratification),
seseorang dapat melakukan perpindahan dari status rendah ke status tinggi
maupun sebaliknya. Perpindahan status ini disebut dengan mobilitas sosial.
Banyak contoh yang dapat diamati tentang seseorang yang statusnya
meningkat berkat pendidikan yang ditempuhnya. Hal ini sejalan dengan
penuturan informan berikut ini:
Sekarang tidak melihat lagi anaknya siapa, pokoknya siapa yang memiliki
uang maka menyekolahkan anaknya. Banyakmi anak-anak sekarang
lxxx
sekolah tinggi-tinggi karena menganggap pendidikan itu penting.
(Wawancara informan AL, 30 Juni 2012).
Terdapat korelasi yang tinggi antara kedudukan sosial seseorang
dengan tingkat pendidikan yang ditempuhnya. Meskipun tingkat pendidikan
sosial seseorang tidak bisa sepenuhnya diramalkan melalui kedudukan
sosialnya, namun pendidikan sosial yang tinggi sejalan dengan kedudukan
sosial yang tinggi pula.
Antara kelas sosial dan pendidikan saling mempengaruhi, karena
mencakup pendidikan tinggi dan sangat memerlukan uang. Oleh karena itu
tinggi dan rendahnya pendidikan akan berpengaruh pada jenjang sosial
seseorang. Pada tahun 2012 sebagian penduduk Desa Sanrego berpendidikan
SMP, disusul SMA, SD, pra sekolah dan sarjana.
Masyarakat Desa Sanrego yang berpendidikan pra sekolah sebanyak
412 orang, SD sebanyak 958 orang, SMP sebanyak 1.190 orang, SMA
sebanyak 1.182 orang dan sarjana sebanyak 25 orang. Di Desa Sanrego, tingkat
pendidikan tidak menggambarkan status sosial seseorang. Sebagian besar
masyarakat biasa sudah banyak yang menempuh pendidikan bukan hanya
masyarakat bangsawan saja. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepedulian
masyarakat terhadap pendidikan cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa
lxxxi
tingkat perekonomian masyarakat Desa Sanrego tergolong sejahtera meskipun
masyarkatnya berprofesi sebagai petani.
Pada saat sekarang ini pendidikan snagat penting menurut saya karena
kalau tadak ada sekolah justru kita tambah di bodoh-bodohin. Di desa
Sanrego biar dari kalangan Bangsawan maupun dari kalangan non
Bangsawan semuanya bisami sekolah. Masyarakat di desa Sanrego ini
sanagat mengarapkan anak mereka supaya bersekolah yang tinggi,
dengan alasan untuk memperbaiki keturunan. (Wawancara informan
MS, 28 Juni 2012).
Pada masyarakat saat ini, pendidikan telah menjadi salah satu faktor
yang memengaruhi mobilitas sosial. Seseorang biasanya akan pindah ke kelas
sosial yang lebih tinggi karena pendidikan yang ditempuhnya. Semakin tinggi
pendidikan, semakin tinggi pula kelas sosialnya. Pendidikan juga menjadi
penyebab terjadinya mobilitas antar generasi (Schaefer, 2006). Anak yang
mengenyam pendidikan tinggi memiliki kelas sosial lebih tinggi dibandingkan
orang tuanya yang tidak bersekolah tinggi, tetapi dapat menyekolahkan anak
tersebut.
lxxxii
C. Dinamika Posisi Kebangsawanan terhadap
Posisi Birokrasi, Politik dan
Bidang Kelembagaan Lainnya Di Desa Sanrego Kecamatan Kahu
Kabupaten Bone
Masyarakat
dengan
orientasi
kekerabatan
ditandai
dengan
penghargaan yang tinggi atas harmoni sosial, melebihi penghargaan atas
kekayaan atau status. Orientasi kekerabatan kadang dikontraskan dengan orientasi
ekonomi yang mengangungkan kekayaan materi, mendorong stratifikasi,
kompetisi dan konflik. Pada masyarakat berorientasi kekerabatan, anggota
masayrakat justru aktif menjaga kesetaraan di antara masyarakat. Masyarakat
sebisa mungkin mencegah agara para anggotanya tetap egaliter dengan berbagai
cara.
Status sosial merupakan sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki
seseorang dalam masyarakatnya. Orang yang memiliki status sosial yang tinggi
akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan
orang yang status sosialnya rendah. Hal tersebut sejalan dengan pendapat
informan berikut ini.
Kalau sudah tinggimi sekolahnya maka dia akan dihormatimi, krena dia
sudah dianggap pintarmi dan dapatmi juga menjadi pemimpin
misalnya kalu ada pencalonan kepala Desa dia jga bisami menjadi
calon karena sudah tinggimi sekolahnya. (Wawancara PU, 28 Juni
2012).
lxxxiii
Penjelasan dari informan di atas sejalan dengan narasumber yang
berinisial AMR dia merupakan salahsatu pengurus parpol. AMR adalah berasal
dari keturunan bangsawan dia adalah cucu dari mantan kepala desa Sanrego yang
menjabat Pada tahun (1992-1993) yaitu Andi Kamaruddin.
Saya terlibat dan masuk ke dunia birokrasi dan politik bukan karena latar
belakang keluarga saya, karena saya rasa apabila harus melihat atas
dasar keturunan maka akan menjadikan penghambat bagi golongan
biasa (non bangsawan) tidak bisa terlibat untuk membngun negeri ini.
Saya masuk ke dunia politik itu karena pendidikan bukan karena
berasal dari kalangan bangsawan. Menurut saya kalaupun ada dari
kalangan biasa yang tinggi pendidikannya kanapa tidak ? yang
penting dia mampu setidaknya memiliki pendidikan.
Startifikasi sosial dapat dipahami sebagai perbedaan kelompok orang
menurut struktur atau rangking tertentu berdasarkan kepemilikian sumber-sumber
ekonomi, kekuasaan, prestise, kepercayaan dan sebagainya yang menandai
adanay ketidaksetaraan di dalam masyarakat. (Meinano, 2011: 188).
Berdasarkan hasil temuan di lapangan, diketahui bahwa kedudukan
dalam birokrasi dapat dilihat pada kedudukan seorang masyarakat pada birokrat
desa. Di Desa Sanrego bangsawan masih memegang posisi penting dalam
birokrasi desa. Berikut tabel yang menunjukkan posisi bangsawan dalam
pemerintahan di Desa Sanrego:
lxxxiv
Tabel 14. Kepala Desa Sanrego
Tahun
Peristiwa
Keterangan
Status
Sosial
1961-1974 A..Ramli Petta Intang
Menjabat
Bangsawan
sampai
akhir
periode
1974-1975
A. Page
Petta
Terjadi
pergantian
Renring,
Petta
Baso, A. Idris
kepemimpinan
1975-1983 A..Pawellangi
Menjabat
sampai
Bangsawan
Bangsawan
akhir periode
1984-1992 Syamsuddin
1992-1993
A. Kamaruddin
1994-2002 A. Kamaruddin
Tidak menyelesaikan
Non
periode
Bangsa
kepemimpinannya
wan
Menjabat sementara
Bangsawan
Menjabat
Bangsawan
sebagai
kepala desa
2003-2008 H. A. Kamaruddin
Terpilih untuk kedua
kalinya
Bangsawan
lxxxv
2009-
Drs. A. Surya
Menjabat
sebagai
sekaran
kepala
g
hingga sekarang
Bangsawan
desa
Sumber: Kaur Desa Sanrego
Dalam sistem politik masyarakat Bugis saat ini, garis keturunan tidak
menjadi jaminan untuk mendapatkan posisi jabatan politik. Tidak ada pedoman
dalam proses pemilihan calon pemimpin. Namun terdapat sebuah petunjuk yang
menggariskan bahwa untuk jabatan tertentu, calon yang akan dipilih biasanya
harus sesemasyarakat dari sekian banyak keturunan pemegang jabatan
sebelumnya, dan dia sendiri berasal dari status tertentu saja.
Dalam hal pemilihan akan terdapat beberapa kandidat yang memiliki hak
yang kurang lebih sama untuk berkompetisi dalam pemilihan tersebut. Faktor
utama yang dapat memenangkan adalah kandidat yang memiliki pengikut paling
banyak serta didukung oleh pengikut yang paling berpengaruh.
Masyarakat biasa yang mengabdi langsung kepada salah satu kandidat
atau memiliki hubungan kekerabatan dengan kandidat tersebut secara otomatis
akan menjadi pengikut kandidta tersebut. Hal ini akan semakin menambah jumlah
pendukung bagi salah satu kandidat. Kandidat yang paling banyak memiliki
pengikut memiliki peluang untuk menjadi pemenang. Pengikut dari kalangan
lxxxvi
bangsawan yang menjadi pendukung, yang juga memiliki pengikut dan
pendukung sendiri. (Pelras,12-13;1981)
Tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa bangsawan masih
mendominasi jabatan pemerintahan desa. Bangsawan masih memiliki jalur
koneksi dan taraf integrasi tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa bangsawan
berpengaruh terhadap pengendalian dan kebijaksanaan di tingkat desa.
Terpilihnya Samsuddin pada tahun 1984 pada waktu itu mengakhiri dominasi
bangsawan pada birokrasi desa, yang mana Samsuddin adalah masyarakat yang
berasal
dari
kalangan
masyarakat
biasa.
Meskipun
Samsuddin
tidak
menyelesaikan jabatannya sampai akhir periode namun terpilihnya Sainuddin
menunjukan bahwa kalangan non Bangsawan juga bisa terlibat dalam birokrasi
dan politik.
Pada tahun 2009, Ashar dan Zainuddin yang berasal dari non bangsawan
mencalonkan diri menjadi kepala desa namun tidak terpilih. Hal ini menandakan
bahwa masayarakat desa tidak hanya berpatokan pada status kebagsawanan saja
tetapi ada hal lain yang dinilai sehingga masayrakat tersebut mencalonkan diri
untuk menjadi kepala desa.
Tidak selamanya bangsawan yang harus menjadi kepala desa, tergantung
dari pendidikan seseorang. Tidak bolehmi begitu sekarang karena sudah
bukan zamanya lagi. Kalau dulu memang harus dari bangsawan
(Wawancara informan AS, 28 Juni 2012).
lxxxvii
Penjelasan informan tersebut menunjukkan bahwa terjadi perubahan
dalam masayrakat, diaman pada zaman dahulu hanya golongan bangsawan yang
diperbolehkan mencalonkan diri menjadi kepala desa. Saat ini di Desa sanrego
pendidikan dianggap paling penting sebagai modal awal untuk memimpin desa.
Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan memiliki andil terhadap perkembangan
suatu masyarakat.
Berangkat dari fenomena tersebut di atas, maka semasyarakat patron
harus berupaya untuk memperluas jaringan kliennya. Beberapa cara untuk
membangun dukungan jaringan klien. Cara pertama adalah dengan menunjukkan
kedemawanan dan membangkitkan rasa hormat dari kalangan pengikut dengan
melindungi dan menjaga kesejahteraan mereka lebih baik dibanding yang lain.
Cara lain adalah dengan membangkitkan kebanggaan pengikut dan
harapan akan masa depan yang lebih baik dengan menduduki jabatan tinggi atau
tampak sebagai masyarakat yang paling berpeluang untuk menduduki jabatan
tersebut. Pengikut pada gilirannya akan merasa ikut terhormat, dan berharap
memperoleh keuntungan dari jabatan pemimpinnya, karena dengan memegang
jabatan tersebut meningkatkan peluang patron untuk mendistribusikan kembali
kekayaan yang diperolehnya. Hal ini tidak hanya terjadi pada masyarakat desa
tetapi berlaku secara umum pada masyarakat umum terutama dalam pemilihan
skala besar seperti pemilihan bupati, anggota dewan dan gubernur.
lxxxviii
Tabel 15. Kedudukan dalam Birokrasi Desa
No
Nama
Status
Kedudukan
Kebangsawanan
1
AS
2
3
MS
AL
Arung/ Andi
Kepala desa
Masyarakat biasa
Kepala Dusun
Arung/ Andi
DPD
4
PU
Arung/ Andi
Sesepuh
5
PUM
Masyarakat biasa
Petani
6
AR
Masyarakat biasa
Petani
7
HAK
Arung/ Andi
Swasta
8
TM
Masyarakat biasa
Petani
Arung/ Andi
Swasta dan Pengurus
9
HAB
Parpol
Sumber: Data Primer
Saat ini AS menjabat sebagai kepala desa, MS sebagai sekretaris desa,
PU menjadi sesepuh di Desa Sanrego sedangkan pengurus partai politik juga
masih didominasi oleh bangsawan, salah satu diantaranya adalah HAB. Kondisi
tersebut akan memperkuat posisi elit serta pengaruhnya terhadap masyarakat
setempat. Masyarakat biasa akan mendominasi penentuan kebijaksanaan apabila
melibatkan diri dalam implementasi pembangunan pedesaan. Kondisi ini juga
akan semakin memperkuat kondisi ekonomi masyarakat yang memegang jabatan
lxxxix
pada birokrasi dan sangat memungkinkan membangun basis kekuatan politik di
masyarakat dan memperjuangkan kepentingan-kepentingannya melalui jalur
birokrasi.
Dominasi dan tingkat kepercayaan masyarakat pada kalangan bangsawan
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan masayarakat dari kalangan biasa. Tetapi
tidak dapat dihindari bahwa saat ini masyarakat telah mengalami perubahan. Saat
ini masayarakat telah mengalami banyak perubahan yang semakin lama semakin
cepat. Tidak ada yang dapat menghentikan perubahan, sebagaimana di jelaskan
oleh informan AL:
Kalau kelakuannya baik, sopan, dan tidak sombong di situmi juga di lihat
biar bukan Petta, Andi, atau Arung kalau baikki itumi yang dipercaya
dan bisa saja kita di sini itu menghormatinya. Begitu juga kalau
kelakuannya tidak baik biar Petta, Andi atau Arung biasa di hindari
untuk berhubungan sama dia.dan yang utama adalah pendidkan dia
harus ada, (Wawancara AL, 30 Juni 2012).
Perubahan yang dimaksud disini adalah perubahan yang terjadi akibat
ketidak sesuaian di antara unsur-unsur sosial dan kebudayaan yang saling berbeda
sehingga terjadi keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan. Menurut
Selo Soemarjan (2008) bahwa perubahan sosial adalah perubahan pada lembagalembaga kemasayarakatan dalam suatu masayrakat yang mempengaruhi sistem
sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara
kelompok-kelompok dalam masyarakat tersebut.
xc
Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar masyarakat
yang selalu ingin mengadakan perubahan. Perubahan sosial yang terjadi
terkadang membawa perubahan yang akan berpengaruh besar pada masyarakat.
Perubahan kelembagaan masyarakat akan ikut mempengaruhi hubungan kerja,
sistem kepemilikan, hubungan kekeluargaan, stratifikasi masyarakat dan lain
sebagainya.
Max Weber, mengelompokan masyarakat ke dalam kelompok-kelompok
status atas dasar kehormatan. Mendefenisikan kelompok status sebagai kelompok
yang anggotanya memiliki gaya hidup sosial tertentu dan mempunyai tingkat
penghargaan sosial dan kehormatan sosial tertentu pula. Dalam bentuk sederhana,
membagi stratifikasi atas dasar status masyarakat ke dalam dua kelompok yaitu:
1) Kelompok masyarakat yang dihormati atau disegani.
2) kelompok masyarakat biasa.
Kelompok masyarakat yang dihormati atau disegani ini menekankan arti
pentingnya akar sejarah yang dijadikan patokan pembenaran mengapa mereka
memiliki kedudukan yang istimewa di dalam masyarakat. Seorang keturunan
baangsawan biasanya selalu tampil terhormat di dalam masyarakat.
D. Kriteria Dasar Penentu Stratifikasi Sosial
Kriteria atau ukuran yang umumnya digunakan untuk mengelompokkan
para anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan tertentu adalah sebagai
berikut
a. Kekayaan
:
xci
Kekayaan atau sering juga disebut ukuran ekonomi. Orang yang
memiliki harta benda berlimpah (kaya) akan lebih dihargai dan dihormati
daripada orang yang miskin.
b. Kekuasaan
Kekuasaan dipengaruhi oleh kedudukan atau posisi seseorang
dalam masyarakat. Seorang yang memiliki kekuasaan dan wewenang besar
akan menempati lapisan sosial atas, sebaliknya orang yang tidak
mempunyai kekuasaan berada di lapisan bawah.
c. Keturunan
Ukuran keturunan terlepas dari ukuran kekayaan atau kekuasaan.
Keturunan yang dimaksud adalah keturunan berdasarkan golongan
kebangsawanan atau kehormatan. Kaum bangsawan akan menempati
lapisan atas seperti gelar :
a) Andi di masyarakat Bugis,
b) Raden di masyarakat Jawa,
c) Tengku di masyarakat Aceh.
d. Kepandaian/penguasaan ilmu pengetahuan
Seseorang yang berpendidikan tinggi dan meraih gelar kesarjanaan
atau yang memiliki keahlian/profesional dipandang berkedudukan lebih tinggi,
jika dibandingkan orang berpendidikan rendah. Status seseorang juga
ditentukan dalam penguasaan pengetahuan lain, misalnya pengetahuan agama,
keterampilan khusus, kesaktian.
xcii
E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Perubahan Sosial
Perubahan
sosial
merupakan
perubahan
yang
terjadi
akibat
ketidaksesuaian di antara unsur-unsur sosial dan kebudayaan yang saling
berbeda sehingga terjadi keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses perubahan sosial yang terjadi
dalam masyarakat:
a. Sistem pendidikan formal yang semakin maju dan berkembang
Pada saat sekarang peranan sekolah sangat penting dalam melakukan
perubahan-perubahan pada murid yang juga merupakan anggota masayrakat
secara keseluruhan. Melalui pendidkan, seseorang diajarkan berbagai
kemampuan dan nilai-nilai yang berguna bagi masyarakat, terutama untuk
membuka pikirannya terhadap hal-hal baru juga tentang bagaimana cara
berpikir secara rasional dan objektif.
Saat ini masayrakat sudah menganggap pendidikan penting untuk
menjaga dan memelihara kelangsungan hidup masayrakat itu sendiri.
Pendidikan diaanggap sebagai alat yang dapat memperbaiki taraf kehidupan
seseorang. Ilmu pengetahuan akan terhambat apabila masyarakat berada di
wilayah yang terasing sehingga mendapat pembatasan-pembatasan dalam
berbagai bidang.
b. Orientasi ke masa depan
xciii
Pada umumnya masyarakat beranggapan bahwa masa yang akan
datang berbeda dengan masa sekarang. Sehingga masayarakat berusaha
untuk menyesuaikan diri, baik yang sesuai dengan keinginannya maupun
keadaan yang buruk sekalipun. Untuk itu perubahan-perubahan harus
dilakukan agar dapat menerima masa depan yang lain daripada masa
sekarang.
Hal ini akan terhambat apabila adanya sikap yang menganggungkan
tradisi-tradisi lama serta anggapan bahwa tradisi tidak dapat dirubah.
Kondisi tersebut akan lebih parah apabila dikuasai oleh golongan yang
konservatif. Seperti di Desa Sanrego yang masih memiliki golongan yang
menganggap bahwa hanya bangsawanlah yang berhak memimpin Desa
Sanrego sementara yang bukan berasal dari golongan bangsawan dianggap
tidak mampu. Golongan ini masih mengingat kepemimpinan bangsawan di
masa lalu yang menurutnya sangat baik dan mencerminkan pemimpin yang
bijaksana. Ada semacam kekhawatiran ketika tidak dipimpin lagi oleh
bangsawan maka tidak akan seperti dulu lagi.
c. Startifikasi sosial masyarakat
Sistem stratifikasi sosial yang terbuka akan sangat membantu
terjadinya perubahan sosial. Ketidaksetaraan sosial adalah sebuah kondisi
yang bercirikan adanya perbedaan masayraakat dalam jumlah kekayaan,
prestise dan kekuatan atau kekuasaan.
xciv
Ketika ketidak setaraan sosial didasarkan pada hierarki kelompokkelompok yang ada dalam masayarakat, maka digunakan konsep startifikasi
sosial. Dengan kata lain, startifikasi sosial ada jika ketidaksetaraan sosial
melibatkan pengaturan terhadap anggota masayarakat ke dalam starat atau
kelas yang tersusun bertingkat sehingga menyebabkan terjadinya kelompok
yang diuntungkan dankelompok yang tidak diuntungkan (Fulcher & Scott,
2007).
Penjelasan mengenai stratifikasi sosial juga diberikan oleh Bruce
J.Cohen. Menurutnya sistem stratifikasi akan menempatkan setiap
orangberdasarkan kualitas yang dimiliki, untuk ditempatkan pada kelas
sosial yangsesuai ( Bruce J. Cohen, 1992: 244). Hal ini menjelaskan kepada
kita bahwasetiap anggota masyarakat akan ditempatkan ke dalam kelaskelas sosial ataustrata berdasarkan kualitas yang dimiliki.
Bila masyarakat menilai kualitasyang dimiliki oleh seorang anggota
masyarakat rendah maka orang tersebutakan ditempatkan pada kelas yang
rendah namun sebaliknya bila masyarakatmenganggap kualitas yang
dimilikinya tinggi maka masyarakat akanmenempatkan orang itu pada kelas
yang tinggi. Sebagai contoh dalammasyarakat ada dokter, pedagang dan
tukang sampah.
Status bangsawan merupakan status yang diperoleh seseorang sejak
lahir, sehingga hal ini tidak dapat dirubah. Ascribed stastus merupakan status
yang diperoleh seseorang sejak lahir bukan karena diusahakan oleh individu
xcv
yang memengang status tersebut. Sedangakan achieved status merupakan
status yang diperoleh seseorang berkat usahanya dan dicapai karena
diusahakan oleh pemegang ststus bisa melalui sekolah, belajar, keterampilan
dan lain sebagainya.
Pada achieved status inilah masayarakat yang berasal dari kalangan
biasa dapat meningkatkan kedudukannya. Anak masyarakat biasa yang
memiliki pendidikan tinggi tentu akan disegani oleh masyarakat sama dengan
masyarakat bangsawan. Menurut Marx bahwa pengaruh kelas sosial terhadap
masayarakat sangat banyak dan dianggap sebagai pelaku utama dalam
masyarakat.
Kedua golongan ini (bangsawan dan masayarakat biasa) memiliki
peran masing-masing dan saling mengimbangi, yaitu terdiri dari kekuatan
orang yang mendukung hierarki dan yang menolak hierarki. Kelompok
pendukung inilah yang membentuk dan memperjuangkan ketidaksetaraan
sedangkan kelompok yang menolak hierarki akan memperjuangkan kesetaraan.
d. Perbedaan kemampuan
Setiap
masyarakat
memiliki
kemampuan
yang
berbeda-beda.
Masyarakat yang memiliki kemampuan yang lebih mempunyai kesempatan
dalam menentukan keberhasilan hidupnya. Perubahan dalam mobilitas sosial
ditandai oleh perubahan struktur sosial yang meliputi hubungan antarindividu
dalam kelompok dan antara individu dengan kelompok. Baik mobilitas
xcvi
individu maupun kelompok sama-sama memiliki dmapak sosial. Keduanya
membawa pengaruh bagi perubahan struktur masyarakat yang bersangkutan.
Menurut Soedjatmoko (1980), mudah tidaknya seseorang melakukan
perpindahan status ditentukan oleh kekakuan dan keluwesan struktur sosial di
mana orang tersebut hidup. Masyarakat yang memiliki pendidikan yang tinggi
dan hidup di lingkungan masayarakat yang menghargai profesionalisme, besar
kemungkinan akan lebih mudah menembus batas-batas lapisan sosial dan naik
ke kedudukan yang lebih tinggi sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.
Stratifikasi sosial masih dianggap penting agar dalam masyarakat
tercapai keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban serta
tanggung jawab dalam pembagian nilai-nilai sosial dan pengaruhnya diantara
para anggota masyarakat tersebut.
Menurut teori fungsionalis, stratifikasi sosial itu juga penting karena
antara strata atas, menengah, bawah itu saling membutuhkan. Misalnya, buruh
membutuhkan pekerjaan dan sebaliknya. Selain itu, stratifikasi sosial juga
digunakan untuk menstabilkan sistem sosial dalam masyarakat. Seperti halnya
yang terjadi di Desa Sanrego yang sebagian penduduknya ada yang berasal
dari golongan bawah, namun tidak dipungkiri bahwa golongan Bansawan di
Desa Sanrego masih membutuhkan peran dari golongan bukan Bangsawan
atau kelas menengah ke bawah dala kehidupan sehari-hari.
Sistem stratifikasi sosial berkembang hingga masa modern ini dimana
dimulai dari bagian terkecil yaitu masyarakat terdapat tokoh agama, tokoh
xcvii
yang disegani, pihak RT dan RW, kelurahan, kecamatan, dan lain-lain.
Kemudian berkembang dalam sistem pemerintahan negara dimana masingmasing telah memiliki peranan sosial yang harus dijalani, dimana stratifikasi
sosial tidak bisa hilang dan berdasarkan pada keterampilan, kekayaan,
kekuasaan, serta tingkat popularitas.
xcviii
BAB VI
PENUTUP
A. Simpulan
1. Karakter sosial ekonomi kebangsawanan Bugis Di Desa Sanrego Kecamatan
Kahu Kabupaten Bone
Sebagian besar masyarakat Desa Sanrego berprofesi sebagai petani
karena pada umumnya kegiatan ekonomi masyarakat berpusat di daerah
pedesaan yang masih menyediakan lahan yang cukup luas untuk kegiatan
ekonomi. Petani yang tidak memiliki lahan sawah akan bekerja sebagai petani
penggarap sawah milik orang lain.
Petani yang berasal dari kalangan bangsawan yang memiliki lahan yang
luas biasanya memberikan lahan mereka kepada kalangan non bangsawan
untuk di garap dengan ketentuan bagi hasil. Di desa Sanrego penduduk non
bangsawan tidak semuanya memilki lahan yang sempit ada beberapa di antara
mereka sudah ada yang memiliki lahan yang luas.
Kepemilikan lahan di desa Sanrego masih didominasi oleh kalangan
bangsawan meskipun ada juga di antara mereka yang berada dalam posisi
bangsawan namun tidak memilki lahan yang luas karena beberapa faktor
seperti jumlah dalam keluarga yang banyak jumlahnya sehingga mereka harus
berbagi lahan. Berdasarkan kepemilikan lahan ini dapat mempengaruhi
xcix
pendapatan dari setiap pemilik lahan yang berasal dari kalangan bangsawan
maupun non bangsawan. Dari segi pendapatan, pendapatan masyarakat
dihitung berdasarkan jumlah hasil yang diperoleh pada saat panen, dimana
panen dilakukan setiap tiga bulan sekali dengan jumlah pendapatan 70 sampai
dengan 100 karung setiap kali panen, dan yang memiliki lahan sempit jumlah
pendapatan juga sedikit misalnya hanya mendapatkan 30 sampai 50 karung
saja per satu kali panen.
Selain kepemilikan lahan, status kebangsawanan dapat diukur dari
kepemilikan rumah. Bentuk dan ukuran rumah seseorang mewakili status
ekonomi. Masyarakat bagsawan pada umumnya memiliki rumah permanen
sangat berbeda dengan masyarakat biasa yang memiliki bentuk rumah yang
semi permanen.
Status pendidikan juga memiliki peranan penting di Desa Sanrego,
dimana saat ini pendidikan telah menjadi faktor penting untuk memeroleh
kedudukan di masyarakat. Berdasarkan penilaian masyarakat desa Sanrego
bahwa peranan pendidikan dalam kehidupan sehari-hari sangat penting
sehingga mereka terdorong untuk menyekolahkan anak mereka hingga ke
pendidikan yang labih tinggi dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan
mereka di masa yang akan dating. Di desa Sanrego ini baik yang berasal dari
kalangan bangsawan maupun non bangsawan merekamenyekolahkan anak
c
mereka. Peningkatan mutu pendidikan bagi kalangan bangsawan di desa
Sanrego menganggap bahwa pendidikan penting bagi siapa saja bukan karena
atas dasar latar belakang status sosial seseorang ataupun dinilai dari
kedudukan seseorang.
2. Dinamika posisi kebangsawanan terhadap posisi birokrasi, politik dan bidang
kelembagaan lainnya di Desa Sanrego Kecamatan Kahu Kabupaten Bone
Masyarakat Desa Sanrego tidak dapat dipisahkan dari sistem pelapisan
sosial. Pelapisan sosial dapat dipahami sebagai perbedaan kelompok orang
menurut struktur atau rangking tertentu berdasarkan kepemilikian sumbersumber ekonomi, kekuasaan, prestise, kepercayaan dan sebagainya yang
menandai adanya ketidaksetaraan di dalam masyarakat.
Dominasi dan tingkat kepercayaan masyarakat pada kalangan
bangsawan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat dari kalangan
biasa sehingga menyebabkan dominasi kalangan bangsawan pada posisi
birokasi, politik dan bidang kelembagaan lain masih tinggi.
B. Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan simpulan yang telah
diuraikan di atas maka dapat dikemukakan saran bahwa:
ci
1. Sebagai masyarakat yang memiliki rasa empati sebaiknya tidak membedabedakan antara masyarakat satu dengan yang lainnya karena setiap
masyarakat diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing
dan setiap masyarakat mempunyai nilai yang dapat di lakukan untuk orang
banyak baik itu yang berasal dari golongan bangsawan atau yang berasal
dari golongan non bangsawan.
2. Keterlibatan
bangsawan pada posisi birokrasi, politik dan bidang
kelembagaan di Desa Sanrego hendaknya menyertakan masyarakat biasa
kedalam struktur tersebut karena masyarakat tidak seharusnya melihat
status sosial dan kedudukan.Pemerintah
kabupaten Bone hendaknya
memberikan keleluasaan bagi siapa saja yang mau menjabat sebagai
kepala desa dan bergerak dalam birokrasi untuk memberikan kesempatan
bagi siapa saja yang mau ikut andil dibidang masing-masing dengan tidak
membedakan status sosial orang tersebut baik yang berasal dari kalangan
bangsawan maupun non bangsawan.
cii
DAFTAR PUSTAKA
Daymont, Cristine. 2008. Metode Riset Kualitatif. Jakarta: Bentang.
Damsar. 2009. Sosiologi Ekonomi. Jakarta: Kencana.
Fulcher, J. & scoot, J. 2007. Sosciology. Oxford: Oxford University Press.
Meinanrno, Eko A dkk. 2011. Masyarakat dalam Kebudayaan dan Masyarakat.
Millar, Susan. 2010. Perkawinan Bugis. Makassar: Ininawa.
Pelras, Christian. 2006. Masyarakat Bugis. Jakarta: Nalar.
Ritzer, George. 2009. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta:
Rajawali Pers.
Saeni, Rahman. 2005. Stratifikasi Sosial dan pergeseran Kerja Petani Luar
Pertanian. Jurnal Sosiologi Socius, Volume VII-Juni, p 67.
Setiadi, Elly M. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana.
Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia.
Wardi. 2008. Ringkasan Materi Sosiologi. Jakarta: Graha Pustaka.
Download