universitas sumatera utara

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Sruktural Fungsional
Durkheim meletakkan landasan paradigma fakta sosial melalui karyanya “
The rules of sociological Method” (1905) dan socide (1987). Durkheim melihat
sosiologi yang baru lahir itu dalam upaya untuk memperoleh kedudukan sebagai
cabang ilmu sosial yang berdiri sendiri, tengah berada dalam ancaman bahaya
kekuatan pengaruh dua cabang ilmu pengetahuan yang telah berdiri kokoh, yakni
filsafat dan psikologi. Durkheim melihat filsafat sebagai ancaman dari lewat dua
tokoh sosiologi dominan saat itu ,yaitu comte dan Spencer. Keduanya memiliki
pandangan yang lebih bersifat filosophi dari pada sosiologis. Karena itu Durkheim
mencoba menguji teori-teori yang dihasilkan dari belakang meja atau dari hasil
pemikiran spekulatif itu dengan data kongkrit berdasarkan penelitian empiris.
Menurut Durkheim data Empiris inilah yang membedakan antara sosiologi sebagai
cabang ilmu pengetahuan dari filsafat.
Secara garis besarnya fakta sosial terdiri atas dua tipe, Masing-masing adalah
struktur sosial dan pranata sosial. Secara lebih terperinci, fakta sosial itu terdiri dari
kelompok, kesatuan masyarakat tertentu (societies) , sistem sosial, posisi, peranan,
nilai-nilai, keluarga , pemerintahan, dan sebagainya. Ada empat varian teori yang
bergabung didalam paradigma fakta sosial yaitu :
1. Teori Fungsionalisme Struktural
Universitas Sumatera Utara
2. Teori konlik
3. Teori system
4. Teori sosiologi makro
Struktural fungsional juga memunculkan asumsi tentang hakekat manusia.
Didalam fungsionalisme, manusia di perlukan sebagai abstraksi yang menduduki
status dan peranan yang membentuk stuktur sosial. Didalam perwujutannya,
struktural fungsional memperlakukan manusia sebagai pelaku yang memainkan
ketentuan-ketentuan yang telah di rancang sebelumnya sesuai dengan norma-norma/
aturan-aturan masyarakat. Artinya manusia di bentuk oleh struktur sosial dimana ia
hidup,
yang
didalam melakukan tindakannya
manusia
memiliki beberapa
pilihan/alternatif yang secara sosial di mantapkan oleh tuntutan-tuntutan normatif.
Dengan demikian manusia merupakan aktor-aktor yang memiliki kebebasan yang
luas untuk melakukan apa yang mereka inginkan dan bukan sebagai robot-robot
otomatis yang tindakan-tindakannya benar-benar telah ditentukan sebelumnya,
(poloma, 1987 :45)
Pendekatan struktural fungsional di bangun atas asumsi bahwa masyarakat
merupakan organisasi. Karena itu penekanan dari pendekatan ini pada umumnya
diberikan kepada institusi sosial dan program jamkesmas yaitu berupa bagian dari
program kesehatan dari pemerintah merupakan suatu institusi sosial. Disamping itu
teori ini cenderung memusatkan perhatian pada fungsi yang harus dipenuhi oleh
setiap sistem yang hidup untuk kelestariannya.
Universitas Sumatera Utara
Disamping menggunakan teori fugsional Parsons, peneliti juga menggunakan
teori fungsional Robert K Merton yang menjelaskan bahwa analisis srtuktural
fungsional memusatkan perhatian pada kelompok, organisasi, masyarakat dan kultur.
Perbedaan analisa Parsons dan Merton terletak Pada Kajian Merton mengenai
disfungsional serta fungsi manifest dan fungsi Latent, dimana semua itu belum di
jelaskan oleh Parsons. Merton dalam (Ritzer 2004: 142) menyatakan bahwa setiap
objek yang dapat dijadikan sasaran analisis struktural fungsional tentu mencerminkan
hal yang standar ( artinya terpola dan berulang). Sasaran studi struktural fungsional
adalah : peran sosial, pola institusional, proses sosial, pola kultur, emosi yang terpola
secara kultural, norma sosial. Organisasi kelompok, struktural sosial, perlengkapan
untuk pengendalian sosial dan sebagainya. Dimana struktur sosial lebih dipusatkan
pada fungsi sosial dibandingkan motif individual. Fungsi itu sendiri didefenisikan
sebagai konsekuensi-konsekuensi yang dapat diamati yang dapat menimbulkan
adaptasi atau penyesuaian dari sistem itu.
Dalam pembahasan mengenai struktur sosial, Merton dalam (Kamanto
2000:186) mengemukakan bahwa dalam struktur sosial dan budaya di jumpai tujuan,
sasaran dan kepentingan yang didefenisikan sebagai tujuan yang sah bagi seluruh atau
sebagian anggota masyarakat. Institusi dan struktur budaya mengatur cara yang harus
ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Merton struktural sosial tidak
hanya menghasilkan perilaku konformis, tetapi menghasilkan pula perilaku
menyimpang nonkonform.
Universitas Sumatera Utara
Ketika menjelaskan teori fungsional Merton dalam (Ritzer 2004:142)
menunjukan bahwa struktur mungkin bersifat disfungsional untuk sistem secara
keseluruhan. Dengan demikian tidak semua srtuktur diperlukan untuk berfungsinya
sistem sosial, dimana akibat yang tidak diharapkan tidak sama dengan fungsi yang
tersembunyi. Fungsi tersembunyi adalah satu jenis dari akibat dari yang tidak
diharapkan, satu jenis fungsional untuk jenis tertentu.
Parsons dalam (Doyle 1986 : 103) menyatakan bahwa kenyataan sosial dari
suatu perspektif tidak terbatas pada tingkat struktur sosial saja. Sistem sosial hanya
salah satu dari sistem-sistem yang termasuk dalam perspektif keseluruhan; sistem
kepribadian dan sistem budaya merupakan sistem-sistem yang secara analitis dapat di
bedakan, juga termasuk di dalamnya seperti halnya dengan organisme perilaku,
sistem sosial terbentuk dari tindakan-tindakan sosial individu.
Inti pemikiran parsons adalah bahwa :
1. tindakan itu di arahkan pada tujuan ( memiliki suatu tujuan)
2. tindakan terjadi dalam situasi, dimana beberapa elemennya sudah pasti,
sedangkan elemen-elemen lainnya digunakan oleh yang bertindak itu sebagai
alat mencapai tujuan itu.
3. secara normative tindakan itu di atur sehubungan dengan penentuan alat dan
tujuan.
Singkatnya tindakan itu dilihat sebagai satuan kenyataan sosial yang paling
kecil dan yang paling fundamental . Komponen-komponen dasar dari satuan tindakan
Universitas Sumatera Utara
adalah tujuan , alat, kondisi dan norma. Alat dan kondisi berbeda dalam hal dimana
orang yang bertindak itu mampu menggunakan alat dan usahanya mencapai tujuan ;
kondisi merupakan aspek situasi yang tidak dapat dikontrol oleh yang bertindak itu.
Ide-ide mengenai hakekat tindakan sosial sesuai dengan pikiran sehat dan
pengalaman sehari-hari. Pasti banyak orang mengenal tindakannya sendiri sebagai
tujuan yang di atur secara normatif dan banyak pula yang mengakui bahwa situasi
dimana tindakan itu terjadi dan juga penting.
Struktural fungsional sering menggunakan konsep sistem ketika membahas
struktur atau lembaga sosial. Sistem adalah organisasi dari keseluruhan
bagian-
bagian yang saling tergantung. Sedangkan sistem soial adalah struktur atau bagian
yang saling berhubungan aatu posisi-posisi yang saling dihubungkan oleh peranan
timbal balik yang diharapkan. Masyarakat dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri
dari bagian-bagian yang saling tergantung satu sama lain. Pemerintah mengeluarkan
kebijakan dengan mengeluarkan program jamkesmas guna meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat khususnya bagi masyarakat miskin dan tidak mampu.
Masyarakat sebagai sumber daya manusia yang berperan sebagai asset negara untuk
menuju pembangunan yang lebih baik maka harus menciptakan masyarakat yang
sehat karena masyarakat merupakan sarana pelaksana pembangunan.
Program jamkesmas yang merupakan sturuktur sosial yang diselenggarakan
oleh rumah sakit serta puskesmas tidak terkecuali pada puskesmas Limbong. Sebagai
sistem sosial, puskemas Limbong menjalankan program jamkesmas pada masyarakat
Limbong. Masyarakat yang sebagai peserta jamkesmas memandang program
Universitas Sumatera Utara
jamkesmas fungsional
yaitu dengan berorientasi pada
masyarakat
yang
membutuhkan. dengan memberi respon terhadap program. Dengan mengacu pada
kontribusi pemberian respon oleh peserta program jamkesmas maka dapat dilihat
melalui respon yang diberikan bersifat fungsi manifest (diharapkan) atau sebaliknya
atau fungsi latent oleh sistem sosial terhadap struktur.
2.2 Teori Dramaturgi
Untuk memberikan tanggapan terhadap struktur didalam sistem sosial maka
perlu juga dilihat bagaimana pemberian nilai oleh sistem terhadap struktur yang
tergambar dalam teori dramaturgi.
Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan
merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang
mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan
orang lain. Disinalah dramaturgi masuk, bagaimana individu menguasai interaksi
tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan
teater. Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus
mempersiapkan
kelengkapan
pertunjukan.
Kelengkapan
itu
antara
lain
memperhitungkan setting, kostum, penggunaan kata, dan tindakan non verbal
lainnya, hal ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan pada lawan interaksi
dan memuluskan jalan mencapai tujuan. Oleh Goffman, tindakan diatas disebut
dalam istilah ”impression management”.
Universitas Sumatera Utara
Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor
berada diatas panggung (front stage) dan dibelakang panggung (back stage) drama
kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton (yang melihat kita)
dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu individu berusaha untuk
memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku
individu. Sedangkan back stage adalah dimana individu berada dibelakang panggung,
dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga individu dapat berperilaku bebas
tanpa
memperdulikan
plot
perilaku
yang
harus
kita
bawakan
(http://meiliema.wordpress.com.2008/01/27/dramaturgi)
Dramaturgis dianggap masuk kedalam perspektif obyektif karena teori ini
cenderung melihat manusia sebagai mahluk pasif (berserah). Meskipun, pada awal
ingin memasuki peran tertentu manusia memiliki kemampuan untuk menjadi
subjektif (kemampuan untuk memilih) namun pada saat menjalankan peran tersebut
manusia berlaku obyektif, berlaku natural, mengikuti alur. Pelakunya menjalankan
perannya secara natural, alamiah, mengetahui langkah-langkah yang harus dijalani.
Masyarakat merupakan aktor yang sekaligus menjadi obyek didalam program
jamkesmas. Peran masyarakat yang sebagai peserta jamkesmas adalah memberi
tanggapan atau respon terhadap jalannya program jamkesmas. Bagaimana masyarakat
yang menjadi peserta jamkesmas mengekspresikan sikap, persepsi, serta partisipasi
yang sesuai dengan keadaan sebenarnya atau sebaliknya guna mencapai maksud
masyarakat tersebut yang gambarkan dalam respon.
Universitas Sumatera Utara
2.3 Respon
Respon diartikan suatu tingkah laku atau sikap yang berwujud baik sebelum
pemahaman yang lebih mendeteil, penilaian, pengaruh atau penolakan, suka atau
tidak serta pemanfaatan pada suatu fenomena tertentu. Melihat sikap seseorang atau
sekelompok orang terhadap sesuatu maka akan diketahui bagaimana respon mereka
terhadap kondisi tersebut.
Respon pada hakekatnya merupakan tingkah laku balas atau juga sikap yang
menjadi tingkah laku balik, yang juga merupakan proses pengorganisasian rangsang
dimana rangsangan-rangsangan proksimal tersebut (Adi, 1994;105). Respon pada
prosesnya didahului sikap seseorang, karena sikap merupakan kecenderungan atau
kesediaan seseorang untuk bertingkah laku ia menghadapi rangsangan tertentu. Jadi,
berbicara mengenai respon atau tidak respon tidak terlepas dari pembahasan sikap.
Melihat sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap sesuatu maka akan
diketahui bagaimana respon mereka terhadap kondisi tersebut. Respon merupakan
sejumlah kecenderungan dan perasaan, kecurigaan, dan prasangka, pra pemahaman
yang mendetail, ide-ide, rasa takut, ancaman dan keyakinan tentang suatu hal yang
khusus. Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa cara pengungkapan sikap
dapat melalui:
a. Pengaruh atau penolakan
b. Penilaian
Universitas Sumatera Utara
c. Suka atau tidak suka
d. Kepositifan atau kenegatifan suatu objek
Menurut Hunt (1962) orang dewasa mempunyai sejumlah unit untuk
memproses informasi-informasi. Unit-unit ini dibuat khusus untuk menangani
represetasi fenomenal dari keadaan diluar yang ada dalam diri individu. Lingkungan
internal ini dapat digunakan untuk memperkirakan peristiwa-peristiwa yang terjadi
diluar. Proses yang terjadi secara rutin inilah yang disebut Hunt sebagai suatu respon
(Adi, 1994;129).
Respon dikatakan Darryl Beum sebagai tingkah laku atau sikap yang menjadi
tingkah laku adekuat. Sementara itu Scheerer menyebutkan respon merupakan proses
pengorganisasian sedemikian rupa sehingga terjadi representasi fenomenal dari
rangsangan proksimal (Wirawan dalam skripsi Rahmadani:1999:14)
Untuk mengetahui respon masyarakat dapat dilihat melalui persepsi, sikap, dan
partisipasi masyarakat.
2.3.1 Persepsi
Persepsi menurut Mac Mahon adalah proses menginterpretasikan rangsangan
(input) dengan menggunakan alat penerima informasi (sensori information).
Sedangkan menurut Morgan, King dan Robinson menunjuk pada bagian kita melihat,
mendengar, mencium dunia sekitar kita, dengan kata lain persepsi dapat pula
Universitas Sumatera Utara
didefenisikan sebagai segala sesuatu yang dialami manusia (Mac Mahon dalam
Adi;1994:105)
Berdasarkan uraian diatas William James menyatakan bahwa persepsi
terbentuk atas dasar data yang kita peroleh dari lingkungan yang kita serap oleh indra
kita, serta sebagian yang lainnya. Diperoleh dari pengolahan ingatan (memory) diolah
kembali berdasarkan pengalaman yang kita miliki.
Persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dialami oleh setiap orang
didalam memehami informasi tentang lingkungan baik lewat penglihatan,
pendengaran, penghayatan, perasaan dan penerimaan. Persepsi merupakan suatu
penafsiran yang unik terhadap situasi dan bukan suatu pencatatan yang benar
(Rahmadani;1999:14)
Fenomena lain yang terpenting dengan persepsi adalah atensi (attention).
Atensi adalah suatu proses penyeleksian input yang diproses dalam kaitan dengan
pengalaman. Oleh karena itu atensi ini menjadi bagian yang terpenting dalam proses
persepsi. Sedangkan atensi itu banyak mendasarkan diri proses yang disebut filtering
atau proses untuk menyaring informasi yang ada pada lingkungan, karena sensori
chanel kita tidak mungkin memproses semua rangsangan yang berada pada
lingkungan kita.
Hal-hal yang mempengaruhi atensi seseorang dapat dilihat dari faktor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi atensi adalah:
a. Motif dan kebutuhan
Universitas Sumatera Utara
b. Prepator set, yaitu kesiapan seseorang untuk merespon terhadap suatu input
sensori tertentu, tetapi tidak pada input yang lain.
c. Minat (interest)
Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi atensi:
a. Intensitas dan ukuran (intensity and size) missal makin keras suatu bunyi
semakin menarik perhatian seseorang
b. Kontras dengan hal-hal baru
c. Pengulangan
d. Pengerakan
Bila berbicara tentang respon tidak lepas dari perubahan konsep sikap. Sikap
merupakan kecenderungan atau kesediaan seseorang untuk bertingkah laku tertentu
kalau ia menghadapi suatu rangsangan (Wirawan dalam Rahmadani,1999).
2.3.2 Sikap
Salah satu pengertian sikap dikemukakan oleh Daryl Beum (1964) yang
mendasarkan pada kenyataan Skinner bahwa tingkah laku manusia berkembang dan
dipertahankan oleh anggota-anggota masyarakat yang member penguat pada individu
untuk bertingkah laku secara tertentu. Berdasarkan pendapat Skinner itu Beum
mengemukakan empat asumsi dasar yaitu;
Universitas Sumatera Utara
a. Setiap tingkah laku baik yang verbal maupun social adalah suatu hal yang
bebas dan berdiri sendiri bukan merupakan refleksi sikap, system kepercayan,
dorongan, kehendak, ataupun keadaan tersembunyi lainnya dalam diri
individu.
b. Rangsangan dan tingkah laku balas diolah konsep-konsep dasar untuk
menerangkan suatu gejala tingkah laku. Konsep-konsep ini hanya dapat
diukur secara fisik dan nyata
c. Prinsip-prinsip hubungan rangsangan balas sebetulnya hanya sedikit. Ia
kelihatan sangat bervariasinya lingkungan dimana hubungan rangsangan balas
itu berlaku
d. Dalam analisa tingkah laku perlu dihindari diikutsertakannya keadaankeadaan internal yang terjadi pada tingkah laku timbul, baik yang bersifat
fisiologik, maupun konseptual.
Berdasarkan asumsi-asumsi dasar tersebut, Beum mengemukakan teori
tentang hubungan fungsional (fungsional relationship) dalam interaksi sosial. Dalam
teori tersebut Beum menyatakan bahwa interaksi sosial terjadi dua macam hubungan
yaitu;
a. Hubungan fungsional dimana terdapat control penguat, yaitu apabila tingkah
laku (respon) menimbulkan penguat (reward)
Universitas Sumatera Utara
b. Hubungan fungsional kedua terjadi jika tingkah laku balas jasa hanya
mendapat ganjaarn pada keadaan-keadaan tertentu. Hubungan fungsional
seperti ini disebut hubungan fungsional dimana terdapat kontrol diskriminatif
(discriminative control) dan tingkah laku balas yang terjadi hanya jika ada
rangsangan diskriminatif disebut tack. Tack lama-lama akan menjadi
kepercayaan.Selanjutnya kumpulan kepercayaan terhadap suatu hal akan
menyebabkan timbul sikap (attitude) tertentu terhadap hal tersebut.
Sikap pada hakekatnya adalah tingkah laku balas yang tersembunyi (implicate
response) yang terjadi langsung setelah terjadi rangsangan baik secara disadari atau
tidak (Doob: 1947). Faktor-faktor yang tersembunyi ini ditambah dengan faktorfaktor lain dari dalam diri individu (internal factors) seperti dorongan, kehendak,
kebiasaan dan lain-lain akan menimbulkan tingkah laku nyata (over behavior).
Dengan demikian maka, sikap selalu mendahului suatu tingkah lakunya tertentu dan
selalu merujuk ketingkah laku nyata tersebut (Wirawan, 1998:17-20)
2.3.3 Partisipasi
Didalam kamus Bahasa Indonesia Kontemporer partisipasi adalah ikut serta
dalam suatu kegiatan. Partisipasi ini sangat dipengaruhi oleh persepsi, sikap. Bila
ditinjau dari segi motivasi, partisipasi masyarakat timbul karena: takut/terpaksa, ikutikutan, kesadaran. Partisipasi yang timbul karena takut biasanya akibat perintah
atasan, partisipasi yang timbul karena ikut-ikutan disebabkan karena rasa solidaritas
yang tinggi, dan persepsi yang timbul karena kesadaran diakibatkan oleh karena
Universitas Sumatera Utara
kehendak pribadi hal ini dilandasi oleh dorongan yang timbul dari hati nurani
(Hasanuddin, 1998:28)
Faktor-faktor yang dipengaruhi respon, yaitu:
1. Diri orang yang bersangkutan apabila seseorang itu berusaha untuk
memberikan interpretasi tentang apa yang dilihat itu, ia dipengaruhi oleh
karakteristik individual yang turut terpengaruhi seperti sikap, motif,
kepentingan, melihat, pengakuan dan harapan.
2. Sasaran respon tersebut berupa orang, benda,atau respon peristiwa. Sifat-sifat
sasaran ini biasanya berpengaruh terhadap respon seseorang yang melihatnya.
Dengan kata lain gerakan, suara, ukuran, tindak tanduk dan cirri-ciri llain dari
sasaran respon turut menentukan cara pandang orang.
3. Faktor situasi. Respon dapat dilihat secara karaktektual yang berarti dalam
situasi manapun respon itu timbul perlu mendapat perhatian. Situasi
merupakan faktor yang turut berperan dalam pembentukan atau tanggapan
seseorang (Hasanuddin,1998:14-15)
Respon positif masyarakat berarti masyarakat setuju dengan program
jamkesmas, yaitu mengetahui dan memahami mengenai program jamkesmas, manfaat
dari program jamkesmas, mematuhi peraturan program yakni berupa membawa kartu
jamkesmas sewaktu mempergunakan program, sehingga mengharapkan hasil yang
memuaskan dari program Jamkesmas.
Universitas Sumatera Utara
Respon negatif masyarakat berarti masyarakat yang menjadi peserta
jamkesmas tidak setuju dengan program jamkesmas; yaitu tidak mengetahui dan
memahami mengenai jamkesmas, manfaat dari program Jamkesmas, bersifat apatis
terhadap program jamkesmas, sehingga tidak mengharapkan hasil apa-apa dari
program jamkesmas.
2.4 Masyarakat
Masyarakat adalah sekelompok orang yang memiliki identitas sendiri dan
mendiami wilayah atau daerah tertentu, serta mengembangkan norma-norma yang
harus dipatuhi oleh para anggotanya. Masyarakat dibedakan dalam kata society dan
community. Kata “society” itu menunjuk kepada pengertian masyarakatluas, yang
merupakan kumpulan-kumpulan dari individu yang saling berinteraksi, yang
mempunyai tujuan bersama, dan yang cenderung mempunyai kepercayaan, sikap dan
persepsi yang sama. Selanjutnya society ini dibagi menjadi kelompok-kelompok yang
lebih kecil yang dinamakan community atau komunitas (Solita Sarwono, 1997:2)
Mac iver dan Charles H. Page menyatakan bahwa masyarakat adalah suatu
system dari kebiasaan dan tata cara wewenang dari kerja sama antara berbagai
kelompok dan golongan dari pengawasan tingkah laku serta kebebasan manusia.
Keseluruhan yang selalu berubah ini kita namakan masyarakat. Masyarakat
merupakan jalinan hubungan sosial.
Universitas Sumatera Utara
2.5 Peranan jamkesmas terhadap masyarakat
Perspektif dasar peranan adalah bahwa tingkah laku dibentuk oleh perananperanan
yang
diberikan
oleh
masyarakat
bagi
individu-individu
untuk
melaksanakannya. Dengan kata lain, teori ini mengakui pengaruh faktor-faktor sosial
pada tingkah laku individu dalam situasi yang berbeda. Peranan pada umumnya
didefenisikan sebagai sekumpulan tingkah laku yang dihubungkan dengan suatu
posisi tertentu.
Peranan yang berbeda membuat jenis tingkah laku yang berbeda pula. Tetapi
yang membuat tingkah laku itu sesuai dalam situasi dan tidak sesuai dengan situasi
dalam situasi lain relatif bebas pada seseorang yang menjalankan peranannya
tersebut. Oleh karena itu masing-m,asing peranan diasosiasikan dengan sejumlah
harapan mengenai tingkah laku apa yang sesuai dan dapat diterima dalam peranan
tersebut. Peranan itu tidak hanya selalu dikaitkan dengan individu. Suatu institusi
atau organisasi atau program sekalipun juga mempunyai peran pada masing-masing
dalam perkembangannya. Jadi tidak hanya individu yang mempunyai peran pada
masing-masing situasi tetapi juga berlaku institusi atau organisasi dalam bidangnya
masing-masing.
Universitas Sumatera Utara
Download