Pengaturan Hubungan Hukum Keuangan

advertisement
Majalah Hukum Forum Akademika
Pengaturan Hubungan Hukum Keuangan Pemerintah
Pusat Dan Pemerintah Daerah Dalam Perspektif
Hukum Keuangan Negara
Oleh :
Fitria1
ABSTRAK
Penelitian ini membahas tentang Pengaturan Hubungan Hukum Keuangan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Perspektif Hukum Keuangan
Negara. Pada hakekatnya pengaturan Hubungan Hukum Keuangan Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah terdapat konflik norma dan memberi ruang untuk
penafsiran norma-norma tersebut. Adapun permasalahan dari penelitian ini
adalah mengkaji bagaimana
Pengaturan Hubungan Hukum Keuangan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan Bagaimana Pengelolaan Hukum
Keuangan Daerah di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk
mengetahui dan menganalisis Pengaturan Hubungan Hukum Keuangan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan Untuk mengetahui Pengelolaan
Hukum Keuangan Daerah di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode
yuridis normatif yang mengkaji hal-hal yang bersifat teoritis: prinsip, konsepsi,
doktrin hukum serta isi kaedah hukum yang berhubungan dengan Pengaturan
Hubungan Hukum Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam
Perspektif Hukum Keuangan Negara. Penelitian diharapkan mengenai Keuangan
Negara terdapat penegasan di bidang pengelolaan keuangan, yaitu bahwa
kekuasaan pengelolaan keuangan negara adalah sebagai bagian dari kekuasaan
pemerintahan; dan kekuasaan pengelolaan keuangan negara dari presiden
sebagian diserahkan kepada gubernur/bupati/walikota selaku kepala pemerintah
daerah untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah
dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. Ketentuan tersebut
berimplikasi pada pengaturan pengelolaan keuangan daerah, yaitu bahwa
gubernur/bupati/walikota bertanggungjawab atas pengelolaan keuangan daerah
sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan daerah. Oleh karena itu haruslah
ada aturan mengenai pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan baik
Pemerintah daerah dan Pemerintah Pusat yang diatur berdasarkan UndangUndang Otonomi daerah dan Keuangan Negara. Sehingga tidak menimbulkan
konflik kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang
berkaitan dengan Keuangan Negara dan Daerah.
1
Dosen Fakultas Hukum Universitas Jambi.
( 140 )
Majalah Hukum Forum Akademika
Kata Kunci: Hukum Keuangan Negara, Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah.
A. Pendahuluan.
Bentuk Negara Republik Indonesia dalam UUD 1945, pasal khusus tentang
hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, yaitu pasal 18 ayat
(5) “ pemerintah daerah menjalankan otonomi yang seluas-luasnya, kecuali urusan
pemerintah yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat
“. Kemudian ditegaskan kembali dalam UU No 32 tahun 2004 tentang pemerintah
daerah yang menjelaskan secara terinci tentang kekuasaan/urusan pemerintah
pusat yaitu meliputi: a. politik luar negeri, b. pertahanan, c. keamanan, d. yuistisi,
e. moneter dan fiskal nasional, f. agama “. Hal tersebut menunjukkan adanya
unsur bentuk negara federal dalam Negara Republik Indonesia.
Konsep Negara kesatuan yang dianut Indonesia dengan sistem desentralisasi
dalam naunsa otonomi daerah memberikan konsekuensi pada permasalahan
pertanggungjawaban keuangan Negara terutama dalam pertanggungjawaban
kauangan daerah. Hal tersebut selanjutnya terkait dengan
kewenangan yang
dimiliki oleh pemerintah daerah sebagaimana ditegaskan dalam Undang-undang
Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah. Pasal 155 dan 156 UU Nomor
32 tahun 2004, Pasal 155 ayat (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang
menjadi kewenangan, daerah didanai dari dan atas beban anggaran pendapatan
dan belanja daerah. Ayat (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan Pemerintah di daerah didanai dari dan atas beban anggaran
pendapatan
dan
belanja
negara.
Ayat
(3)
Administrasi
pendanaan
penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan secara terpisah dari administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan
pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Selanjutnya dalam Pasal 156
ditegaskan pada ayat (1) Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan
keuangan daerah. Ayat (2) Dalam melaksanakan kekuasaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), kepala daerah melimpahkan sebagian atau seluruh
kekuasaannya yang berupa perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan
( 141 )
Majalah Hukum Forum Akademika
dan pertanggungjawaban, serta pengawasan keuangan daerah kepada para pejabat
perangkat daerah. Ayat (3) Pelimpahan sebagian atau seluruh kekuasaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada prinsip pemisahan
kewenangan
antara
yang
memerintahkan,
menguji,
dan
yang
menerima/mengeluarkan uang.
Penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah akan terlaksana secara optimal
apabila penyelenggaraan urusan pemerintahan diikuti dengan pemberian sumbersumber penerimaan yang cukup kepada daerah, dengan mengacu kepada UndangUndang tentang
Perimbangan
Keuangan
antara Pemerintah
Pusat
dan
Pemerintahan Daerah, dimana besarnya disesuaikan dan diselaraskan dengan
pembagian kewenangan antara Pemerintah dan Daerah. Semua sumber keuangan
yang melekat pada setiap urusan pemerintah yang diserahkan kepada daerah
menjadi sumber keuangan daerah. Daerah diberikan hak untuk mendapatkan
sumber keuangan yang antara lain berupa: kepastian tersedianya pendanaan dari
Pemerintah sesuai dengan urusan pemerintah yang diserahkan;, kewenangan
memungut dan mendayagunakan pajak dan retribusi daerah dan hak untuk
mendapatkan bagi hasil dari sumber-sumber daya nasional yang berada di daerah
dan dana perimbangan lainnya;, hak untuk mengelola kekayaan Daerah dan
mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah serta sumber-sumber
pembiayaan. Dalam hal ini pada dasarnya Pemerintah menerapkan prinsip “uang
mengikuti fungsi”. Di dalam Undang-Undang mengenai Keuangan Negara,
terdapat penegasan di bidang pengelolaan keuangan, yaitu bahwa kekuasaan
pengelolaan keuangan negara adalah sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan;
dan kekuasaan pengelolaan keuangan negara dari presiden sebagian diserahkan
kepada gubernur/bupati/walikota selaku kepala pemerintah daerah untuk
mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan
kekayaan daerah yang dipisahkan.
Ketentuan tersebut berimplikasi pada pengaturan pengelolaan keuangan
daerah, yaitu bahwa gubernur/bupati/walikota bertanggungjawab atas pengelolaan
keuangan daerah sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan daerah. Dengan
demikian pengaturan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah
( 142 )
Majalah Hukum Forum Akademika
melekat dan menjadi satu dengan pengaturan pemerintahan daerah, yaitu dalam
Undang-Undang mengenai Pemerintahan Daerah. Berdasarkan hal tersebut untuk
mendapatkan pemahaman tentang
hubungan Hukum Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan Menyadari pentingnya pengaturan
antara hubungan keuangan pemerintah pusat dan daerah ini lah yang
melatarbelakangi tulisan dengan judul “ Pengaturan Hubungan Hukum
Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Perspektif
Hukum Keuangan Negara dengan Permasalahan Pengaturan Hubungan
Hukum Keuangan Pemerintah Pusat dan
Daerah dan Pengelolaan Hukum
Keuangan Daerah di Indonesia?
B. Pembahasan.
1.
Hubungan Kewenangan
Dianutnya desentralisasi dalam organisasi Negara tidak berarti
ditanggalkannya asas sentralisasi, karena kedua asas tersebut tidak bersifat
dikotomis, melainkan kontinum. Pada prinsipnya, tidaklah mungkin
diselenggarakan desentralisasi tanpa sentralisasi. Sebab desentralisasi tanpa
sentralisasi akan menghadirkan disentegrasi, oleh karena itu otonomi daerah
pada hakekatnya mengandung kebebasan dan keleuasaan berprakarsa,
memerlukan bimbingan dan pengawasan Pemerintah, sehingga tidak
menjelma menjadi kedaulatan. Otonomi daerah dan daerah otonom adalah
ciptaan pemerintah. Walaupun demikian, hubungan antara daerah otonom dan
pemerintah adalah hubungan antarorganisasi dan bersifat resiprokal.2
Hubungan kewenangan, antara lain bertalian dengan cara pembagian urusan
penyelenggaraan pemerintahan atau cara menentuakan urusan rumah tangga
daerah. Cara penentuan ini akan mencerminkan suatu bentuk otonomi
terbatas atau otonomi luas . dapat digolongkan sebagai otonomi terbatas
apabila; pertama, urusan-urusan rumah tangga daerah ditentukan secara
kategoris dan pengembangannya diatur dengan cara-cara tertentu pula.kedua,
2
Bhenyamin Hoessein, 2005, Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah, dalam Soetandyo
wignosubroto dkk., Pasang Surut Otonomi Daerah Sketsa Perjalanan 100 Tahun, Institute for
Local Development Yayasan Tifa, hal. 199.
( 143 )
Majalah Hukum Forum Akademika
apabila sistem supervise dan pengawasan dilakukan sedemikan rupa,
sehingga daerah otonom kehilangan kemandirian untuk menentukan secara
bebas cara-cara mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya, ketiga,
sistem hubungan keuangan antara pusat dan daerah yang menimbulkan halhal seperti keterbatasan kemampuan keuaangan asli daerah yang akan
membatasi ruang gerak otonomi daerah. Otonomi luas biasa bertolak dari
prinsip: semua urusan pemerintahan pada dasarnya menjadi urusan rumah
tangga daerah, kecuali yang ditentukan sebagai urusan pusat. Dalam Negara
modern, lebih-lebih apabila dikaitkan dengan paham Negara kesejahteraan,
urusan pemerintahan tidak dapat dikenali jumlahnya.3 Selanjutnya terkait
dengan pengelolaan keungan di daerah juga tidak terlepas dari sistem yang
dianut oleh Negara Indonesia terutama dalam nuansa otonomi daerah yang
mengedepankan desentralisasi. Selanjutnya pelaksanaan keuangan Negara di
Negara Republik Indonesia setelah tidak berlakunya lagi ICW diatur dalam
UU No 17 tahun 2003. dalam pasal 30 ayat (1) dan ayat (2) UU No 17 tahun
2003 mengatur bahwa presiden menyampaikan rancangan Undang-undang
tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBN kepada DPR berupa laporan
keungan yang telah
diperiksa oleh BPK yang meliputi laporan realisasi
APBN, Neraca, Laporan arus Kas dan catatan laporan keuangan perusahaan
Negara dan badan lainnya.
2.
Sumber Keuangan Daerah
Adapun yang dimaksud dengan sumber keuangan daerah adalah asal
keuangan daerah itu didapat. Hal ini jika dicerna dapat dilihat dari pemecahan
kata sumber keuangan daerah yaitu sumber yang berarti asal mula atau berasal
dari, sedangkan keuangan daerah merupakan semua hak dan kewajiban daerah
yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik yang berupa uang
maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik Negara berhubung dengan
pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Pengertian keuangan daerah tersebut
3
Bagirmanan, 2001, Menyosong Fajar Otonomi Daerah, PSH FH UII, Yogyakarta. hal.
37.
( 144 )
Majalah Hukum Forum Akademika
diambil dari pengertian keuangan Negara sebagaimana diatur dalam pasal 1
ayat (1) Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan Negara yang
menegaskan “ Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara
yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun
berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan
pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut“. Dengan demikian jika digabungkan
pengertian sumber keuangan daerah mempunyai arti asal mula atau berasal
darimana semua hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan uang,
serta segala sesuatu baik yang berupa uang maupun berupa barang yang dapat
dijadikan milik Negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban
tersebut.
3.
Kewenangan pemerintah daerah
Adapun yang dimaksud dengan kewenangan pemerintah daerah
adalah dilihat dari dua sudut pandang yaitu pertama, dilihat dari pengertian
kewenangan. terkait dengan kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah
daerah menunjukkan pada hak dan kewajiban yang dimiliki oleh pemerintah
daerah dalam hal ini Kepala Daerah dan DPRD sebagaimana diberikan oleh
undang-undang yaitu UUD 1945 dan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004
tentang pemerintah daerah. Dalam UUD 1945 ditegaskan pada pasal 18 ayat
(2) “ pemerintah daerah provinsi, daerah kabupaten dan kota mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan. Kemudian ketentuan tentang kewenangan yang dimiliki oleh
pemerintah daerah dalam nuansa otonomi diatur secara jelas dalam Undangundang Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah. Ketentuan yang
dimaksud diatur dalam Pasal 13 ayat (1) Urusan wajib yang menjadi
kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan urusan dalam skala
provinsi yang meliputi:
a. perencanaan dan pengendalian pembangunan;
b. perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;
c. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat;
( 145 )
Majalah Hukum Forum Akademika
d. penyediaan sarana dan prasarana umum;
e. penanganan bidang kesehatan;
f. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia
potensial;
g. penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota;
h. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota;
i. fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah termasuk
lintas kabupaten/kota;
j. pengendalian lingkungan hidup;
k. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota;
l. pelayanan kependudukan, dan catatan sipil;
m. pelayanan administrasi umum pemerintahan;
n. pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas
kabupaten/kota;
o. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat
dilaksanakan oleh kabupaten/kota; dan
p. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundangundangan.
Kemudian dalam ayat (2) menguraikan “ Urusan pemerintahan provinsi
yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada
dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai
dengan
kondisi,
kekhasan,
dan
potensi
unggulan
daerah
yang
bersangkutan”. Selanjutnya dalam Pasal 14 pada ayat (1) menjelaskan
Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk
kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi:
a. perencanaan dan pengendalian pembangunan;
b. perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;
c. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat;
d. penyediaan sarana dan prasarana umum;
e. penanganan bidang kesehatan;
f. penyelenggaraan pendidikan;
( 146 )
Majalah Hukum Forum Akademika
g. penanggulangan masalah sosial;
h. pelayanan bidang ketenagakerjaan;
i. fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah;
j. pengendalian lingkungan hidup;
k. pelayanan pertanahan;
l. pelayanan kependudukan, dan catatan sipil;
m. pelayanan administrasi umum pemerintahan;
n. pelayanan administrasi penanaman modal;
o. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan
p. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundangundangan.
Kemudian ayat (2) menjelaskan bahwa Urusan pemerintahan
kabupaten/kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara
nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai
dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan.
Pasal-pasal
tersebut
diatas
menjelaskan
bahwa
dalam
pelaksanaan
pemerintahan di daerah sepenuhnya menjadi tanggungjawab pemerintahan
daerah. Sementara itu hal yang terkait dengan pendanaan bersumber dari
pemerintah daerah itu sendiri dan pemerintah pusat melalui APBN.
Kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah tersebut merupakan
perincian kewenangan selain kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah pusat.
Dalam hal ini pemerintah pusat hanya memiliki kewenangan terbatas,
sebagaimana diuraikan dalam pasal 10 ayat (3) menegaskan “ urusan
pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi: a). Politik luar negeri, b). Pertahanan, c). Keamanan, d).
Yustisi, d). Moneter dan Fiscal Nasional serta f). Agama.
4.
Kewenangan Pemerintah Daerah dibidang keuangan
Pemerintah daerah juga mememiliki kewenangan dibidang keuangan
daerah. Dalam hal ini pemerintah daerah memiliki kewenangan dalam
mengelola sumber-sumber pendapatan daerah sebagaimana ketentuan yang
( 147 )
Majalah Hukum Forum Akademika
diatur dalam undang-undang. Pemerintah daerah juga mempunyai keterkaitan
dalam pengelolaan keuangan yang berasal dari pemerintah pusat melalui dana
perimbangan. Ketentuan yuridis tentang kewenangan pengelolaan keuangan
oleh pemerintah daerah menjadi kewenangan yang dimiliki oleh kepala daerah
dengan DPRD melaui format peraturan daerah tentang APBD sebagaimana
diatur dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah
daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 tahun 2007 tentang
perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13 tahun 2006 tentang
pedoman pengelolaan keuangan daerah.
5.
Pengaturan Hubungan Hukum Keuangan Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah
Pada umumnya hubungan antara pemerintah pusat dan daerah
terrefleksi dalam intergovernmental fiscal relatiions. Pelimpahan tugas kepada
pemerintah daerah dalam otonomi harus disertai dengan pelimpahan keuangan
(Money
follows
functions).
Pendelegasian
pengeluaran
(expenditure
assignment) sebagai konsekuensi diberikannya kewenangan yang luas serta
tanggungjawab pelayanan publiktentunya harus diikuti dengan adanya
pendelegasian pendapatan (revenue assignment). Tanpa pelimpahan ini,
otonomi daerah menjadi tidak bermakna. Seiring dengan perkembangan
waktu, masalah hubungan keuangan dan pembagian wewenang antara
pemerintah pusat dan daerah tersebut pada akhirnya sangat tergantung pada
tingkatan atau derajat desentralisasi (degree of decentralization) yang
tercermin dalam pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah.4
Apabila derajat desentralisasinya rendah (dekonsentrasi dominan), maka
pemerintah pusat akan memegang kendali utama dalam perencanaan dan
penganggaran
pembangunan
daerah.
Sebaliknya,
apabila
tingkatan
desentralisasinya tinggi (desentraliasasi dominan), maka pemerintah daerah
yang bertanggungjawab penuh dalam perencanaan dan penanggaran
4
Josef Riwu Kaho,1988,Prospek Otonomi daerah di Negara Republik Indonesia,Rajawali
Pers,Jakarta,Cet. Pertama,hal. 15-18.
( 148 )
Majalah Hukum Forum Akademika
pembangunan di daerah. Adanya kaitan yang erat antara kegiatan
pemerintahan dengan sumber pembiayaan pada hakekatnya memberikan
petunjuk bahwa pengaturan hubungan keuangann pusat dan daerah tidak
terlepas dari masalh pembagian tugas antara pemerintah pusat dan pemerintah
daerah. Suatu sistem hubungan keuangan pusat dan daerah hendaknya dapat
memberikan kejelasan mengenai berapa luas kewenangan yang dipunyai
pemerintah daerah dalam kebebasannya untuk mengadakan pungutanpungutan, menetapkan tarif dan ketentuan-ketentuan penerapan sanksinya; dan
seberapa luas kebebasan pemerintah daerah dalam menetukan besar dan arah
pengeluarannya. Oleh karena itu, untuk melihat suatu sistem hubungan
keuangan pusat dan daerah perlu dilihat dari keseluruhan tujuan hubungan
keuangan pusat dan daerah. Dalam hal ini ada empat kriteria yang perlu
diperhatikan untuk menjamin adanya sistem hubungan keuangan pusta dan
daerah yaitu:
a. sistem tersebut seharusnya memberikan distribusi kekuasaan yang
rasional diantaranya berbagai tingkat pemerintah mengenai penggalian
sumber-sumber dana pemerintah dan kewenangan penggunaannya,
yaitu suatu pembagian yang sesuai pola umum desentralisasi;
b. sistem tersebut seharusnya menyajikan suatu bagian yang memadai
dari sumber-sumber dana masyarakat secara keseluruhan untuk
membiayai pelalsanaan fungsi-fungsi penyediaan pelayanan dan
pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah.
c. Sistem tersebut seharusnya sejauh mungkin mendistribusikan
pengeluaran pemerintah secara adil diantaranya daerah-daerah, atau
sekurang-kurangnya memberikan prioritas pada pemerataan pelayanan
kebutuhan dasar tertentu;
d. Pajak dan retribusi yang dikenakan oleh pemerintah daerah harus
sejalan dengan distribusi yang adil atas beban keseluruhan dari
pengeluaran pemerintah dalam masyarakat. 5
Masalah hubungan keuangan antara Pusat dengan Daerah dapat
dipecahkan dengan sebaik-baiknya hanya apabila masalah pembagian tugas
dan kewenangan antara pusat dan daerah juga dipecahkan dengan jelas.
Pemerintah daerah sudah tentu harus memiliki kewenangan memberlanjakan
5
Machfud Sidik,2005,Hubungan Keuangan Pusat-Daerah,Makalah ,tanpa tahun,hlm. 2-3.
Dikutip oleh Ni’matul Huda dalam Otonomi Daerah,Pustaka Peljar,Yogyakarta,Hal.102-102
( 149 )
Majalah Hukum Forum Akademika
suber-sumber daya keuangannya agar dapat menjalankan fungsi-fungsi yang
menjadi tanggungjawabnya. pemerintahan suatu negara pada hakikatnya
mengemban tiga fungsi utama. Pertama, fungsi alokasi, yang meliputi sumbersumber ekonomi dalam bentuk barang dan jasa pelayanan masyarakat.Kedua,
fungsi distribusi, yang , meliputi pendapatan dan kekayaan masyarakat,
pemerataan pembangunan. Ketiga, fungsi stabiliasasi yang meliputi pertahanan
keamanan, ekonomi dan moneter. Fungsi distribusi dan fungsi stabilisasi pada
umumnya lebih efektif dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat, sedangkan fungsi
alokasi pada umumnya lebih efektif dilaksakanan oleh pemerintah daerah,
karena daerah pada umumnya lebih mengetahui kebutuhan serta estándar
pelayanan masyarakat. Dengan demikian, pembangian ketiga fungsi dimaksud
sebagai landasan dalam menentukan dasar-dasar perimbangan keuangan antara
pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara jelas dan tegas.6 Didalam UU
No. 32 Tahun 2004 pasal 15, diatur hubungan dalam bidang keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, yang meliputi :
a. Pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah;
b. Pengalokasian dana perimbanagn kepada pemerintah daerah; dan
c. Pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintah daerah.
Hubungan dalam bidang keuangan antar-pemerintahan daerah meliputi:
a. Bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan daerah provinsi
dan pemerintahan daerah kabupaten/Kota;
b. Pendanaan urusan pemerintahan yang meliputi tanggung jawan
bersama;
c. Pembiayaan bersama atas kerjasama anardaerah dan
d. Pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah.
Di dalam Undang-undang mengenai keuangan negara terdapat
penegasan di bidang pengelolaan keuangan, yaitu bahwa kekuasaan
pengelolaan keuangan negara adalah sebgai bagian dari kekuasaan
pemerintahan; dan kekuasaan pengelolaan keuangan negara dari presiden
6
Ni’matul Huda,Op.Cit.,hal.29
( 150 )
Majalah Hukum Forum Akademika
sebagian diserahkan kepada gubernur/bupati/ walikota selaku kepala
pemerintahan daerah untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili
pemerintah daerah dalam kepemilikian kekayaan daerah yang dipisahkan.
Ketentuan tersebut berimplikasi pada pengaturan pengelolaan keuangan
daerah, yaitu bahwa gubernur/bupati/walikota bertanggung jawab atas
pengelolaan keuangan daerah sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan
daerah. Dengan demikian pengaturan pengelolaan dan pertanggungjawaban
keuangan daerah melekat dan menjadi satu dengan pengaturan pemerintahan
daerah yaitu dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
pemerintahan daerah.
6.
Pengelolaan Keuangan pemerintah Daerah di Indonesia
Pengelolaan keuangan pemerintah daerah di Indonesia terkait dengan
kekuasaan atau kewenangan yang dimiliki oleh kepala daerah sebagai
pemimpin pemerintahan daerah. Ketentuan yuridis tentang kekuasaan
pengelolaan keuangan pada pemerintah daerah dapat dilihat dari beberapa
peraturan yang mengatur tentang keuangan Negara yang sekaligus terkait
dengan pemerintah daerah. Ketentuan dalam Undang-undang yang dimaksud
adalah :
1. Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah
Ketentuan tentang kekuasaan atas pengelolaan keuangan daerah diatur
dalam pasal 156 ayat (1) Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan
pengelolaan keuangan daerah. Kemudian dalam ayat (2) Dalam
melaksanakan kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kepala
daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya yang berupa
perencanaan,
pelaksanaan,
penatausahaan,
pelaporan
dan
pertanggungjawaban, serta pengawasan keuangan daerah kepada para
pejabat perangkat daerah. Pada ayat (3) Pelimpahan sebagian atau seluruh
kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada prinsip
pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan, menguji, dan yang
menerima/mengeluarkan uang. Ketentuan pasal dalam Undang-undang ini
( 151 )
Majalah Hukum Forum Akademika
menekankan bahwa yang memiliki kekuasaan dalam pengelolaan
keuangan daerah adalah Kepala Daerah selaku pemimpin pemerintahan
daerah. Dalam hal ini Kepala daerah dapat melimpahkan kepada pejabat
lain berdasarkan prinsip pemisahan kekuasaan.
2. Undang-undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Ketentuan tentang kewenangan atau pihak yang memiliki kekuasaan
dalam pengelolaan keuangan pemerintah daerah diatur dalam pasal 66
ayat (1) keuangan daerah dikola secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan,
efisien,
ekonomis,
efektif,
transparan
dan
bertanggungjawab dengan memperhatikan keadilan, kepatutan dan
manfaat untuk masyarakat. Ayat (2). APBD, perubahan APBD dan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD setiap tahun ditetapkan dengan
peraturan daerah. Ayat (3). APBD mempunyai fungsi otorisasi,
perencanaan, pengawasan, alokasi dan distribusi. Ayat (4). Semua
penerimaan dan pengeluaran daerah dalam tahun anggaran yang
bersangkutan harus dimasukkan dalam APBD. Berdasarkan ketentuan
pasal tersebut, dapat dilihat bahwa yang memiliki kekuasaan dalam
pengelolaan keuangan daerah adalah Kepala Daerah sebagai pimpinan
eksekutif dan DPRD sebagai Lembaga Legislatif. Kedua lembaga
tersebut saling berhubungan sebab terkait dengan pembentukan peraturan
daerah sebagai landasan dalam penerimaan dan pengeluaran keuangan
daerah atau ketentuan tentang keuangan pemerintah daerah dalam satu
tahun anggaran.
3. Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan Negara.
Ketentuan tentang pihak yang mempunyai kekuasaan dalam pengelolaan
keuangan pemerintah daerah pada undang-undang ini diatur dalam pasal
Pasal 10 ayat (1) Kekuasaan pengelolaan keuangan daerah sebagaimana
tersebut dalam Pasal 6 ayat (2) huruf c :
a. Dilaksanakan oleh kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah
selaku pejabat pengelola APBD;
( 152 )
Majalah Hukum Forum Akademika
b. Dilaksanakan oleh kepala satuan kerja perangkat daerah selaku
pejabat pengguna anggaran/barang daerah.
Ayat (2) Dalam rangka pengelolaan Keuangan Daerah, Pejabat Pengelola
Keuangan Daerah mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan APBD;
b. Menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD;
c. Melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan
dengan Peraturan Daerah;
d. Melaksanakan fungsi bendahara umum daerah;
e. Menyusun laporan keuangan yang merupakan pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD.
Ayat (3) Kepala satuan kerja perangkat daerah selaku pejabat pengguna
anggaran/barang daerah mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Menyusun
anggaran
satuan
kerja
perangkat
daerah
yang
dipimpinnya;
b. Menyusun dokumen pelaksanaan anggaran;
c. Melaksanakan anggaran satuan kerja perangkat daerah yang
dipimpinnya;
d. Melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak;
e. Mengelola utang piutang daerah yang menjadi tanggung jawab
satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya;
f. Mengelola barang milik/kekayaan daerah yang menjadi tanggung
jawab satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya;
g. Menyusun dan menyampaikan laporan keuangan satuan kerja
perangkat daerah yang dipimpinnya.
Ketentuan dalam undang-undang ini juga memberikan kekuasaan dalam
pengelolaan keuangan pemerintah daerah kepada Kepala daerah dan
perangkat penyelenggara pemerintahan daerah. Selain itu juga terkait
dengan DPRD sebagai lembaga yang berperan dalam pembentukan dan
pengesahan APBD serta pelaporan pelaksanaan APBD dalam setiap
tahun anggaran.
( 153 )
Majalah Hukum Forum Akademika
C. Penutup.
1.
Kesimpulan
Dari keseluruhan penjelasan yang telah diuraikan, maka dapat penulis
simpulkan sebagai berikut:
a.
Keuangan daerah merupakan semua hak dan kewajiban daerah yang
dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik yang berupa uang
maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik Negara berhubung
dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Dalam hal ini
pengelolaan keuangan daerah sangat terkait dengan sumber keuangan
daerah yaitu berasal dari pendapatan asli daerah dan dari pemerintah pusat
yang berupa Dana Alokasi Khusus dan Dana Alokasi Umum.
b. Di dalam Undang-Undang mengenai keuangan negara terdapat penegasan
di bidang pengelolaan keuangan, yaitu bahwa kekuasaan pengelolaan
keuangan negara adalah sebgai bagian dari kekuasaan pemerintahan; dan
kekuasaan pengelolaan keuangan negara dari presiden sebagian diserahkan
kepada gubernur/bupati/ walikota selaku kepala pemerintahan daerah
untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam
kepemilikian kekayaan daerah yang dipisahkan.
2.
Saran-saran
Berhubungan dengan masalah pengaturan hubungan hukum keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang masih perlu secara jelas
pembagian baik segi pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah,
maka penulis memberikan saran sebagai berikut :
a. Perlu adanya penjelasan secara rinci mengenai masalah hubungan keuangan
antara Pusat dengan Daerah agar dapat dipecahkan dengan sebaik-baiknya
hanya apabila masalah pembagian tugas dan kewenangan antara pusat dan
daerah juga dipecahkan dengan jelas. Pemerintah daerah sudah tentu harus
memiliki kewenangan memberlanjakan suber-sumber daya keuangannya
( 154 )
Majalah Hukum Forum Akademika
agar dapat menjalankan fungsi-fungsi yang menjadi tanggungjawabnya dan
mana yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat mengenai keuangan
daerah yang dapat dikelolanya.
b. Diharapkan peningkatkan koordinasi antar instansi untuk memonitor dan
melaporkan pengelolaan keuangan yang menjadi tanggungjawabnya.
Melihat pentingnya pengelolaan keuangan daerah dalam penyelenggaraan
pembangunan daerah, serta untuk mengetahui lebih lanjut mengenai
pengelolaan keuangan yang dilakukan pada suatu Pemerintah daerah.
( 155 )
Majalah Hukum Forum Akademika
Daftar Pustaka
Buku:
Ismail Suny, Pergeseran kekuasaan Eksekutif, Rheneka, Jakarta, 1965.
N.E. Algra Et.al., Kamus Istilah Hukum Fockema Andreae, Belanda Indonesia,
terjemahan Saleh Adiwinata, A.Teloeki, Boerhanuddin St. Batoeah, Bina
Cipta, Jakarta, 1983.
Muhammad Fauzan, Hukum Pemerintahan Daerah Kajian Tentang Hubungan
Keuangan antara Pusat dan Daerah, UII Press, Yogyakarta,2006.
Ni’matul Huda, Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah,FH UII Press,Yogyakarta,2007
Sugijanto, Majalah Triwulan BPK-RI, pemeriksa, Nomor 73, Januari 2000.
W.J.S. Purwadarminta, Tim Redaksi, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi
Ketiga, Balai Pustaka, Jakarta, 2002.
Undang-undang :
-----------UUD 1945 Hasil Amandemen
-----------Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah.
-----------Undang-undang nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan
antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.
-----------Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan Negara.
-----------Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 tahun 2007 tentang
perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
( 156 )
Download