View/Open - Repository | UNHAS

advertisement
KEHIDUPAN SOSIAL DAN EKONOMI PENDUDUK ASLI PASCA
KONVERSI LAHAN OLEH PT. INCO. TBK
( Studi kasus Desa Sorowako Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu Timur
Provinsi Sulawesi Selatan )
SOCIAL AND ECONOMIC LIFE AFTER THE CONVERSION OF
NATIVE LAND BY PT.INCO.TBK
(Case Study Sorowako Luwu East Village South Sulawesi).
SKRIPSI
JULIANTI
E411 08 851
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya,
yang telah diberikan kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan skripsi
dengan judul “
Kehidupan Sosial dan Ekonomi Penduduk Asli Pasca
Konversi Lahan Oleh PT. INCO. Tbk Studi Kasus : Desa Sorowako
Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan”.
Berbagai
tantangan dan hambatan
yang telah dialami
penulis
dalam
menyelesaikan skripsi ini, namun dengan bimbingan dan kerja sama yang tulus
dan ikhlas dari berbagai pihak akhirnya berbagai tantangan dan hambatan dapat
teratasi. Penulis sadar bahwa hasil yang dicapai jauh dari kesempurnaan, namun
inilah orisinal gagasan penulis Selma menempuh pendidikan dibangku kuliah
Universitas Hasanuddin.
Pada kesempatan ini perkenankan penulis menghanturkan hormat dan
terima kasih yang mendalam kepada orang tua, ayahanda Dodo Arianto yang
telah menjadi guru dan tauladan bagiku. Serta Ibunda Susi Lawati, yang selalu
menyanyangi dan selalu mendoakan anak-anaknya.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak mungkin terwujud
tanpa bantuan, dorongan dan semangat dari berbagai pihak. Oleh karena itu
sepatutnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr.dr.H.Idrus A. paturusi, Sp.B,Sp.B.O selaku rektor
Universitas Hasanuddin
2. Ibu Prof. Dr.Dwia Aries Tina Kalla MA, selaku pembimbing I yang
senantiasa meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan
koreksi dan Bapak Drs. Suparman Abdullah, M.Si selaku pembimbing II
dan juga sebagai penasehat akademik terima kasih atas waktu, perhatian,
dan arahannya dalam menyelesaikan skipsi ini.
3. Bapak Dr. H.M Darwis, MA, DPS selaku ketua dan Dr. Rahmat
Muhammad M,Si selaku sekretaris Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.
4. Para dosen, staf Jurusan Sosiologi Fisip Unhas dan staf akademik Fisip
5. Seluruh informan baik indivudu maupun instansi yang telah meluangkan
waktunya untuk memberikan data terkait masalah penelitian.
6. Kepada sahabat sekaligus saudara saya Abd. Kamal Nurdin terima kasih
atas kebersamaanya, kenangan yang indah dari awal memijakkan kaki di
fakultas Sospol, pengalaman dan pelajaran hidup yang berharga hingga
pada akhirnya kita bersama bisa selesai dibangku kuliah. Aku
menyanyangimu.
7. Kepada kanda Andi Baso Nurzain A.M. ST selaku guru, kakak, sahabat,
dan kekasih hatiku. terima kasih atas bimbingan, nasehat dan berbagai
pelajaran sekaligus pengalaman yang sangat berharga.
8. Kepada teman-teman angkatan 2008 Bunglon, kalian adalah bagian dari
pengalaman berharga yang saya miliki.
9. Kepada teman-teman sewaktu maba (Nataniel Tangdibali, Jasman
Samaneri, Andi Ganing, Mardaya, Faramitha Noerham, Marcelino,
Anugrah Febriadi, Abdillah Suardi, Andi Said Kasri, Novitalista, Andi
Denada, Rima Hardianty, dan Winda Wulandari) kalian spesial dihatiku
selamanya.
10. Kepada teman-teman Teknik Geologi Unhas yang begitu banyak
membantu, baik motivasi maupun sharing-sharing. Berserta nongkrong
dijasmip yang member kesegaran kembali disaat otakku galau.
11. Serta banyak pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
Makassar 28 Mei 2012
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul ……………………………………………………………..
i
Halaman Pengesahan ……………………………………………………....
ii
Halaman Penerimaan Tim Evaluasi ……….………...................................
iii
Peryataan Keaslian Skripsi ………………………………………………...
iv
Kata Pengantar…………………………..…………………………………
v
Daftar Isi……..………………………………………………………………
vii
Abstraksi……………………………………………………………………..
x
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang……………………………………………………
1
B. Rumusan Masalah………………………………………………..
5
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian…………………………….........
6
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEPTUAL
A. Teori dan Hasil Penelitian Yang Relevan ………………………
7
1. Konversi Lahan …………………………………………….
7
2. Perubahan Sosial …………………………………………...
9
3. Kehidupan Sosial dan Ekonomi ……………………………
15
4. Teori Emile Dhurkheim ……………………………………
17
5. Teori Karl Marx ……………………………………………
22
B. Kerangka Konseptual ………………………………………….
23
C. Defenisi Operasional …………………………………………..
28
BAB III
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian ………………………………..
29
B. Tipe dan Dasar Penelitian …………………………………..
29
1. Pendekatan Penelitian …………………………………..
29
2. Teknik Penentuan Lokasi ……………………………….
29
3. Jenis dan Sumber Data ………………………………….
29
4. Teknik Mendapatkan Informan ………………………….
30
C. Teknik Pengumpulan Data ………………………………….
32
-
Data Primer……………………………………………….
-
Data Skunder …………………………………………….
D. Teknik Analisis Data ………………………………………...
34
E. Draf Pembahasan Hasil Penelitian …………………………..
35
GAMBARAN LOKASI DAN OBJEK PENELITIAN
A. Sejarah Singkat Lokasi Penelitian ………………………….
36
B. Kondisi Geografis dan Luas Wilayah ………………………
39
C. Kependudukan dan Tenaga Kerja …………………………..
40
1. Kependudukan
2. Tanaga Kerja
D. Pendidikan …………………………………….………….…
41
E. Kesehatan ………………………………………………..….
41
F. Agama ………………………………………….…………...
42
G. Ekonomi ………………………………………………..…...
42
H. Angkutan dan Komunikasi …………………………..……..
45
I. Sarana Hiburan ………………….………………………….
46
J. Keanekaragaman Hayati ……………………………….…..
47
BAB V
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
A. Karakteristik Informan ……………………………………….
51
B. Proses terjadinya konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk
Di Sorowako………………... ……………………..…………
54
C. Kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli pasca
konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk di Sorowako ………..….
BAB VI
65
PENUTUP
A. Kesimpulan ………………………………………...…..…….
97
1. Proses konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk
di Sorowako ……………………………………………..…..
97
2. Kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli
Sorowako pasca konversi lahan oleh
PT. INCO. Tbk di Sorowako ……………………….………
98
B. Saran ………………………………………………………...
100
Daftar Pustaka ………………………………………………………….....
LAMPIRAN
-
Biodata Penulis…………………………………………………..
Foto-foto…………………………………………………………
ABSTRAK
JULIANTI, E411 08 851. Dibimbing oleh Dwia Aries Tina dan
Suparman Abdullah. Penelitian kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli
pasca konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk di lakukan di daerah Sorowako
kecamatan Nuha kabupaten Luwu Timur Provonsi Sulawesi Selatan yang dikenal
sebagai salah satu daerah tambang nickel di Pulau Sulawesi. Secara geografis
Sorowako terletak dibagian selatan garis khatulistiwa 2018’00” – 203900” Bujur
Timur dan 1210300” - 121034’30” Lintang Selatan.
Maksud dan tujuan dari peneliti adalah untuk mengetahui proses konversi
lahan yang dilakukan oleh PT. INCO. Tbk di Sorowako dan untuk mengetahui
kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli Sorowako pasca konversi lahan oleh
PT. INCO. Tbk . Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
observasi partisipatif dimana peneliti terlibat secara langsung pada objek
penelitian. Penentuan lokasi dan informan dilakukan secara purposive atau secara
sengaja sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti, yang dilaksanakan pada
bulan Februari – Maret 2012 selama lima minggu.
Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa telah terjadi konversi lahan
atau perubahan alih fungsi lahan yang dulunya sebagai lahan hutan milik
penduduk asli Sorowako menjadi lahan tambang yang dikelola oleh perusahaan
tambang asing yaitu PT. INCO. Tbk. Setelah terjadinya konversi lahan di
Sorowako dan berdirinya perusahaan tambang yang membuka lowongan kerja
yang besar bagi warga Negara Indonesia dan warga Negara Asing telah membawa
banyak perubahan terhadap wilayah Sorowako dan penduduk asli Sorowako.
Perubahan dalam sektor infastruktur, kehidupan sosial, dan perekonomian
penduduk asli Sorowako dan pemerintah setempat. Dalam kehidupan sosial
terdapat beberapa perubahan kehidupan sosial yang terjadi pada penduduk asli
Sorowako diantaranya pola interaksi sosial cenderung individualistik, persaingan
status sosial semakin tinggi, dan mulai lunturnya aturan-aturan adat setempat,
terlihat dari fenomena perubahan prilaku sosial seperti berhutang dan
perselingkuhan yang sering kali menjadi pemicu terjadinya konflik diantara
individu maupun kelompok. Dalam kehidupan ekonomi penduduk asli Sorowako
pasca konversi lahan dengan hadirnya perusahaan tambang menjadikan kegiatan
dan pendapatan ekonomi penduduk asli Sorowako meningkat secara pesat. Prilaku
ekonomi penduduk juga mengalami perubahan seperti penduduk yang dulunya
merupakan masyarakat yang bersifat komunal primitive yaitu dengan pola
kehidupan ekonomi sederhana kini telah berubah menjadi masyarakat yang
bersifat komsumtif untuk memenuhi berbagai kebutuha hidupnya sehari-hari,
sehingga cenderung mengarah pada sifat kapitalis yang pada awalnya telah
diberlakukan dalam sistem perusahaan tambang asing tersebut.
ABSTRACT
The study of social and economic life after the conversion of native land
by PT. INCO. Tbk done in the district Sorowako Nuha Provonsi Luwu district of
South Sulawesi is known as one of the nickel mine on Sulawesi Island. Sorowako
geographically located in the south of the equator 2018'00 "- 203 900" east
longitude and 1.2103 million "- 121034'30" south latitude.
Purposes and objectives of the research was to determine the land
conversion process carried out by PT. INCO. Limited in Sorowako and to
determine the social and economic life of indigenous people Sorowako postconversion land by PT. INCO. Limited. The research method used in this study
were participant observation where the researcher was directly involved in the
research object. Determination of the location and the informant made a purposive
or deliberate according to the issues to be researched, implemented in February March 2012 for five weeks.
The results of this study illustrate that there has been land conversion or
change of land use as forest land formerly owned by the original inhabitants of
land mines Sorowako be managed by a foreign mining company, PT. INCO.
Limited. After the conversion of land in Sorowako and the establishment of mine
who opened a big job for Indonesian citizens and foreign nationals have brought
many changes to the region and indigenous Sorowako Sorowako. Changes in
infastruktur sector, social, and economic Sorowako indigenous and local
governments. In social life there are some changes that occur in the social life of
the natives Sorowako including patterns of social interaction tend to be
individualistic, competitive higher social status, and begin the erosion of local
customary rules, seen from the phenomenon of changes in social behavior such as
debt and infidelity that often becomes trigger of conflict among individuals and
groups. In the economic life of indigenous land Sorowako post-conversion in the
presence of mining companies to make economic activities and income Native
Sorowako increased exponentially. Economic behavior of the population is also
changing as the population that was once a primitive communal society that is
with a simple pattern of economic life has now turned into a society that is
kebutuha komsumtif to meet a variety of everyday life, so it tends to lead to the
capitalist nature of which was originally enacted the system of foreign mining
companies.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang mempunyai kekayaan alam yang
sangat melimpah. Berbagai sumber daya alam terkandung diperut bumi Indonesia,
seperti nickel, batu bara, emas, dan minyak bumi. Dan seiring perkembangan
zaman dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat yang menuntut pemenuhan
kebutuhan yang semakin meningkat, maka manusia mulai melakukan berbagai
cara untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Salah satunya adalah konversi lahan, dimana konversi lahan merupakan
konsekuensi logis dari peningkatan aktivitas dan jumlah penduduk serta proses
pembangunan lainnya. Konversi lahan pada dasarnya merupakan hal yang wajar
terjadi, namun pada kenyataannya konversi lahan menjadi masalah karena terjadi
diberbagai kepentingan dan pemenuhan kebutuhan hidup yang berbeda pula.
Konversi lahan biasanya terkait dengan proses perkembangan wilayah,
bahkan dapat dikatakan bahwa konversi lahan merupakan konsekuensi dari
perkembangan wilayah. Sebagian besar konversi lahan yang terjadi, menunjukkan
adanya ketimpangan dalam penguasaan lahan yang lebih didominasi oleh pihak
kapitalis dengan mengantongi izin mendirikan bangunan yang dikeluarkan oleh
pemerintah. Salah satu contohnya seperti pengubahan fungsi lahan menjadi
kawasan tambang.
Konversi lahan banyak terjadi di pulau Sulawesi, seperti sulawesi utara,
sulawesi barat, sulawesi selatan, sulawesi tengah, dan sulawesi tenggara.
Khususnya pada daerah Sorowako, Pomala, Morowali, kolaka, Kendari, Kabaena,
Mamuju, Menado. Lahan yang sebelumnya digunakan sebagai perkebunan,
peternakan, pertanian, dan hutan diubah atau dikonversi menjadi lahan tambang.
Salah satu contoh kasus yang hangat diperbincangkan ialah kasus Mesuji
yaitu konversi lahan milik penduduk, pada kasus yang berkembang ini yang
terlihat bahwa dari konversi lahan yang terjadi pihak yang terugikan adalah
pemilik lahan yang dikonversi tersebut. Dimana penduduk selaku pemilik lahan
perlahan-lahan haknya mulai diabaikan dan dilanggar. Seperti pengambilan penuh
atas hak kepemilikan, pelanggaran atas perjanjian dengan alasan tidak ada hitam
diatas putih, dan perlindungan hukum yang jelas. Sedangkan pada hakikatnya
konversi lahan dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat yang
lebih baik. Dengan mengubah lahan yang awalnya kurang produktif menjadi lahan
yang mampu membantu dan memenuhi kebutuhan masyarakat pada umumnya.
Contoh lain ialah Konversi lahan pertanian menjadi areal penggunaan non
pertanian, semakin marak terjadi di sebagian wilayah di Indonesia, terutama di
Pulau Jawa. Perlahan namun pasti, lahan yang dulunya menghampar hijau oleh
padi, sedikit demi sedikit mulai lenyap, digantikan oleh bangunan-bangunan beton
yang semakin menjamur. Kompleks perumahan, kawasan industri, kawasan
perdagangan, dan berbagai sarana publik lainnya berdiri di areal ini. Implikasinya,
lahan pertanian semakin menyusut, padahal kebutuhan penduduk akan komoditas
pertanian yang sebagian besar merupakan bahan untuk memenuhi kebutuhan
pangan, semakin meningkat.
Dalam situasi dimana perluasan lahan pertanian semakin sulit dilakukan
mengingat pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, ditambah tantangan
perubahan iklim yang membuat produksi komoditas pertanian terganggu, adanya
konversi lahan pertanian ini merupakan salah satu masalah yang cukup serius.
Jika dirunut, masalah ini akan menimbulkan efek domino yang dapat mengganggu
ketahanan pangan nasional, kestabilan ekonomi, sosial, lingkungan, maupun
politik dalam negeri. Kita ambil contoh, beras sebagai komoditi pangan utama di
negara ini. Pemerintah akan kesulitan mempertahankan produktifitas beras dalam
negeri jika lahan yang digunakan untuk menanam pun sudah tidak ada. Teknologi
yang masih minim, ditambah lagi upaya pencerdasan petani yang masih kurang,
menambah kompleksnya masalah ini. Lalu, jika produktifitas menurun, mau tidak
mau pemerintah harus mengimpor beras. Pilihan mengimpor beras pun
sebenarnya akan merugikan petani dalam negeri, karena beras mereka harus
bersaing dengan beras impor. Sementara itu pasar beras internasional sifatnya
tidak stabil, yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerawanan pangan dan pada
gilirannya akan mengancam kestabilan nasional.
Dalam kasus-kasus tertentu, konversi lahan sawah memang tak dapat
dihindari. Meskipun demikian, sesungguhnya dapat diperkecil apabila ada
komitmen yang kuat dari pemerintah. Sudah barang tentu, untuk itu dibutuhkan
seperangkat argumen yang kuat yang menunjukkan bahwa sesungguhnya konversi
lahan pertanian ke penggunaan lain mengakibat-kan terjadinya kerugian yang
sangat besar walaupun secara empiris sifat multifungsi lahan pertanian tak
terbantahkan. Lahan pertanian tiap tahunnya terkonversi ratusan ribu hektar. Bila
terus berlangsung maka kerawanan pangan dan melonjaknya harga pangan akan
terjadi terutama pada produktivitas padi. Masyarakat kecil menjadi kelompok
pertama yang menjadi korban.
Berangkat dari beberapa kasus konversi lahan yang terjadi saat ini, peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian secara mendalam terhadap konversi lahan
yang terjadi di Desa Sorowako Sulawesi Selatan. Sorowako merupakan wilayah
kecil yang terletak di Kecamatan Luwu Timur yang berjarak 500 km dari
Makassar (Ibu Kota Sulawesi Selatan). Soroako dikelilingi oleh 3 danau besar
yaitu Danau Mahalona, Danau Towuti dengan luas 56.100 ha yang merupakan
danau terbesar kedua di Indonesia setelah Danau Toba serta Danau Matano seluas
16,400 ha. Danau Matano merupakan danau ketiga terdalam di Indonesi dan ke
delapan di dunia. Kedalaman danau ini mencapai kurang lebih 600 meter. Danau
ini dihuni berbagai jenis flora dan fauna endemik yang masih terjaga dengan baik.
Secara umum, flora dan fauna endemik adalah mahluk hidup yang hanya ditemui
di suatu tempat dan tidak bisa ditemukan di tempat yan lain. Air yang mengalir
dari Danau Matano ke Danau Mahalona kemudian ke Danau Towuti dan
selanjutnya mengalir ke sungai Larona. Sungai inilah yang menjadi penggerak dua
PLTA milik PT. INCO Tbk, yaitu PLTA Larona dan PLTA Balambano. Bahkan
tidak lama lagi INCO juga akan membangun PLTA yang ketiga yang sumber
energinya berasal dari Danau Matano, yaitu PLTA Karebbe. Danau Matano
benar-benar vital bagi INCO dan masyarakat sekitar Sorowako. Meski letaknya
cukup terpencil atau sekitar 12 jam dari Makassar (menggunakan bus), kota kecil
ini sangat terkenal dan memiliki infrastruktur yang cukup lengkap. Ini tak lepas
dari kehadiran sebuah perusahaan pertambangan nikel milik PT. International
Nickel Indonesia (INCO) karena Sorowako merupakan salah satu daerah
penghasil nikel terbesar dunia. Di Desa Sorowako berdiri sebuah perusahaan
tambang nickel yaitu PT. INCO.Tbk yang telah mengubah atau mengalih
fungsikan lahan, dari lahan yang ditumbuhi pepohonan kini berubah menjadi
lahan pertambangan.
Dari konversi/alih fungsi lahan tersebut tentunya akan membawa pengaruh
terhadap masyarakat atau penduduk asli daerah tersebut. Diantaranya adalah
pengaruh terhadap kehidupan sosial dan kehidupan ekonomi penduduk asli yang
mengalami perubahan sebelum dan setelah terjadinya pengalih fungsian lahan
tersebut.
Dimana hadirnya sebuah Industri menjadi salah satu syarat terjadinya
sebuah perubahan dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. Sehingga peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian secara mendalam mengenai kehidupan sosial
dan ekonomi penduduk asli pasca konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk di
Sorowako.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan deskripsi pada latar belakang diatas, penulis mencoba
mengerucutkan persoalan agar lebih memudahkan objek penelitian dan
menghindari luasnya pembahasan yang dilakukan. Berkenaan dengan itu penulis
berupaya membatasi masalah yang diteliti, maka pokok yang akan di bahas
sebagai rumusan masalah adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana proses konversi lahan yang dilakukan oleh PT.INCO. Tbk
di Sorowako ?
2. Bagaimana kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli pasca
konversi lahan oleh PT. INCO di Sorowako ?
C.
Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian

Secara umum tujuan utama dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui proses konversi lahan yang dilakukan oleh
PT.INCO. Tbk di Sorowako.
2. Untuk mengetahui kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli pasca
konversi lahan oleh PT.INCO. Tbk di Sorowako

Kegunaan dari penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu :
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menemukan teori yang
cocok untuk memecahkan masalah penelitian dan menjadi media untuk
mengaplikasikan berbagai teori yang telah dipelajari. Selain berguna
untuk mengembangkan pemahaman, penalaran, dan pengalaman
peneliti, penelitian ini juga berguna bagi pengembangan ilmu
pengetahuan dan merangsang munculnya penelitian lebih lanjut.
2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran pada pemerintah maupun pihak yang terkait sebagai acuan
untuk menyelesaikan masalah yang muncul akibat konversi lahan.
BAB II
TINJAUAN PUTAKA DAN KERANGKA KONSEPTUAL
A. Teori dan Hasil Penelitian Yang Relevan
1. Konversi Lahan
Utomo dkk (1992) mendefinisikan alih fungsi lahan atau lazimnya disebut
sebagai konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan
lahan dari fungsinya semula menjadi fungsi lain yang menjadi dampak negatif
atau masalah terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri. Alih fungsi lahan
dalam artian perubahan/penyesuaian peruntukan penggunaan, disebabkan oleh
faktor-faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi
kebutuhan penduduk yang makin bertambah jumlahnya dan meningkatnya
tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik.
Sihaloho (2004) membagi konversi lahan kedalam tujuh pola atau tipologi,
antara lain:
a. Konversi gradual berpola sporadis; dipengaruhi oleh dua faktor utama
yaitu lahan yang kurang/tidak produktif dan keterdesakan ekonomi pelaku
konversi.
b. Konversi sistematik berpola ‘enclave’; dikarenakan lahan kurang
produktif,
sehingga
konversi
dilakukan
secara
serempak
untuk
meningkatkan nilai tambah.
c. Konversi lahan sebagai respon atas pertumbuhan penduduk (population
growth driven land conversion); lebih lanjut disebut konversi adaptasi
demografi, dimana dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk, lahan
terkonversi untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal.
d. Konversi yang disebabkan oleh masalah sosial (social problem driven land
conversion); disebabkan oleh dua faktor yakni keterdesakan ekonomi dan
perubahan kesejahteraan.
e. Konversi tanpa beban; dipengaruhi oleh faktor keinginan untuk mengubah
hidup yang lebih baik dari keadaan saat ini dan ingin keluar dari kampung.
f. Konversi adaptasi agraris; disebabkan karena keterdesakan ekonomi dan
keinginan untuk berubah dari masyarakat dengan tujuan meningkatkan
hasil pertanian.
g. Konversi multi bentuk atau tanpa bentuk; konversi dipengaruhi oleh
berbagai faktor, khususnya faktor peruntukan untuk perkantoran, sekolah,
koperasi, perdagangan, termasuk sistem waris yang tidak dijelaskan dalam
konversi demografi.
Di
Indonesia,
terdapat
tiga
macam
ketimpangan
(Cristo-doulou
sebagaimana dikutip Wiradi, 2000), yakni:
a. Ketimpangan dalam hal struktur “pemilikan” dan “penguasaan” tanah
Kepentingan/keberpihakan
Pemerintah.
Peran
pemerintah
mendominasi dalam menentukan kebijakan peruntukan penggunaan
lahan dan mendukung pihak bermodal dan penguasaan lahan,
sedangkan peran masyarakat rendah.
b. Ketimpangan dalam hal peruntukan tanah, terdapatnya indikasi
kesenjangan, yakni tanah yang seharusnya diperuntukan bagi pertanian
rakyat digusur, sedangkan sektor non pertanian semakin bertambah
luas.
c. Ketimpangan atau Incompability dalam hal persepsi dan konsepsi
mengenai agraria. Terjadi perbedaan persepsi dan konsepsi mengenai
bermacam hak atas tanah, yakni pemeritah dan pihak swasta yang
menggunakan hukum positif dengan penduduk yang berpegang pada
hokum normatif/hukum adat.
2. Perubahan Sosial
Perubahan sosial dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi di
dalam atau mencakup sistem sosial. Lebih tepatnya, terdapat perbedaan
antara keadaan sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan.
Perubahan sosial sebagai proses sosial yang terjadi dalam masyarakat
merupakan suatu gejala umum yang berlaku di mana pun selama hidup
manusia. Perubahan-perubahan yang terjadi dapat berupa suatu kemajuan
dapat
pula
berupa
suatu
kemunduran.
Secara
umum
unsur-unsur
kemasyarakatan
yang
mengalami perubahan antara lain nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, polapola
perilaku,
stratifikasi
sebagainya.
organisasi
sosial,
sosial,
kekuasaan,
lembaga-lembaga
tanggung jawab,
kemasyarakatan,
kepemimpinan,
dan
Menurut Selo Soemardjan (1974), perubahan sosial adalah perubahan
yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat
yang mempengaruhi sistem sosialnya termasuk nilai, sikap-sikap dan pola
perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Hal ini
dikarenakan sifat perubahan sosial yang berantai dan saling berhubungan
antara satu unsur dengan unsur kemasyarakatan yang lainnya.
Dalam pengkajian mengenai perubahan sosial yang relatif sangat luas,
dikhawatirkan terjadi suatu kekaburan materi. Oleh karena itu, beberapa ahli
berusaha mendefinisikan pengertian perubahan sosial, seperti:
a.
Kingsley Davis, Perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan
yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
b. Samuel Koening, Perubahan sosial menunjuk pada modifikasimodifikasi yang terjadi pada kehidupan masyarakat.
c. Mac Iver, Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan dalam
hubungan sosial atau perubahan terhadap keseimbangan sosial.
d. Roucek dan Warren, Perubahan sosial adalah perubahan dalam
proses sosial atau dalam struktur masyarakat.
e. Gillin dan Gillin, Perubahan sosial adalah suatu variasi dari caracara hidup yang telah diterima dan yang disebabkan baik karena
perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan materiil,
komposisi penduduk, ideologi maupun adanya difusi ataupun
penemuan-penemuan baru dalam masyarakat tersebut.
Tidak semua gejala-gejala sosial yang mengakibatkan perubahan dapat
dikatakan sebagai perubahan sosial, gejala yang dapat mengakibatkan
perubahan sosial memiliki ciri-ciri antara lain:
1. Setiap masyarakat tidak akan berhenti berkembang karena mereka
mengalami perubahan baik lambat maupun cepat.
2. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan tertentu akan
diikuti dengan perubahan pada lembaga-lembaga sosial lainnya.
3. Perubahan sosial yang cepat dapat mengakibatkan terjadinya
disorganisasi yang bersifat sementara sebagai proses penyesuaian diri.
4. Perubahan tidak dibatasi oleh bidang kebendaan atau bidang spiritual
karena keduanya memiliki hubungan timbal balik yang kuat.
1. Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial
Perubahan sosial dapat dibedakan ke dalam beberapa bentuk, yaitu
sebagai berikut:
a. Perubahan lambat dan perubahan cepat
Perubahan lambat atau evolusi adalah perubahan-perubahan yang
memerlukan waktu lama, dan rentetan perubahan kecil yang saling
mengikuti dengan lambat. Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha
masyrakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, dan
kondisi baru, yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.
Ada beberapa macam teori evolusi (Alex Inkeles dalam Soekanto,
1982 : 269-271), yang pada umunya dapat digolongkan ke dalam
beberapa kategori sebagai berikut :

Unlinear theories of evolution
Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat mengalami
perkembangaan sesuai dengan tahap-tahap tertentu, bermula dari
bentuk yang sederhana, kemusian bentk yang kompleks sampai
tahap yang sempurna.

Universal theory of evolution
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidaklah
perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap.

Multilined theory of evolution
Teori ini menekankan pada penelitian terhadap tahap-tahap
perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat.
Perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung
dengan cepat dan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok
kehidupan masyrakat (lembaga-lembaga kemasyarakatan) lazimnya
dinamakan revolusi. Unsur-unsur pokok revolusi adalah adanya
perubahan yang cepat, dan perubahan tersebut mengenai dasar-dasar
pokok kehidupan masyarakat. Kecepatan suatu perubahan yang
dinamakan revolusi, sebenarnya relatif karena revolusi memerlukan
waktu yang lama.
b. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
Perubahan berpengaruh besar dan perubahan berpengaruh kecil.
Perubahan berpengaruh besar suatu perubahan dikatakan berpengaruh
besar jika perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan pada
struktur kemasyarakatan, hubungan kerja, sistem mata pencaharian, dan
stratifikasi masyarakat. Sebagaimana tampak pada perubahan masyarakat
agraris menjadi industrialisasi. Pada perubahan ini memberi pengaruh
secara besar-besaran terhadap jumlah kepadatan penduduk di wilayah
industri dan mengakibatkan adanya perubahan mata pencaharian.
Sedangkan perubahan berpengaruh kecil perubahan berpengaruh kecil
merupakan perubahan- perubahan yang terjadi pada struktur sosial yang
tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat.
c. Pengaruh yang tidak dikehendaki (intended-change) dan perubahan
yang tidak dikehendaki (unintended-change)
Perubahan yang dikehendaki (Selo Soemarjan dalam Soekanto,
1982 : 272) merupakan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan
terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di
dalam masyarakat. Sedangkan perubahan yang tidak dikehendaki
merupakan perubahan-perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki,
berlangsung di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat
menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan
masyarakat.
Faktor-Faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial
a. Bertambah atau Berkurangnya Penduduk
b. Penemuan-Penemuan Baru
c. Pertentangan (conflict) masyarakat
Di dalam masyarakat di mana terjadi suatu proses perubahan, terdapat
faktor-faktor yang mendorong jalannya perubahan yang terjadi. Faktorfaktor tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
a. Kontak dengan kebudayaan lain
Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffusion. Difusi
adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu kepada
individu lain. Dan dari suatu masyarakat ke masyarakat lain. Ada dua
tipe difusi, yaitu pertama difusi intramasyarakkat (intrasociety
diffusion) dan kedua difusi antarmasyarakat (inter-society diffusion).
b. Sistem pendidikan formal yang maju
Pendidikan mengajarkan aneka macam kemampuan kepada
individu. Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia,
terutama dalam membuka pikirannya serta menerima hal-hal beru dan
juga bagaimana cara berpikir ilmiah. Pendidikan mengajarkan manusia
untuk dapat berpikir secara objektif, yang akan memberikan
kemampuan untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya akan
dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan zaman atau tidak.
c. Sistem terbuka lapisan masyarakat (open stratification)
Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertical yang
luas atau berarti memberi kesempatan kepada para individu untuk maju
atas dasar kemampuan sendiri.
d. Penduduk yang heterogen
Pada masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang
mempunyai latar belakang kebudayaan ras ideology yang berbeda dan
seterusnya, mudah terjadi konflik yang mengandung goncagan.
Keadaan demikian akan mendorong terjadinya perubahan.
e. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan
tertentu
Ketidakpuasan masyarakat yang berlangsung terlalu lama dalam
sebuah masyarakat berkemungkinan besar akan mendatangkan revolusi.
Arah Perubahan (Directionof Change)
Perubahan bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi,
setelah meninggalkan faktor itu, mungkin perubahan bergerak kepada
sesuatu bentuk yang sama sekali baru, atau mungkin pula bergerak kea rah
suatu bentuk yang sudah ada di dalam waktu yang lampu.
3. Kehidupan sosial dan ekonomi
Masyarakat merupakan sistem sosial, menurut Soekanto, (1988:153)
mengemukakan bahwa ada beberapa ciri-ciri kehidupan masyarakat (kolektif)
yang menunjukkan pada unsur-unsur sistem sosial yaitu :
a. Adanya pembagian kerja
b. Adanya ketergantungan antar individu
c. Adanya kerjasama
d. Adanya komunikasi dua arah
e. Adanya perbedaa-perbedaan fungsi antar individu.
Kehidupan manusia merupakan tujuan dan sekaligus motivasi dari
kegiatan ekonomi, produksi, komsumsi, dan tukar-menukar. Menurut Boediono
(1982:68) bahwa kebutuhan manusia akan senantiasa mengalami perkembangan
yaitu :
a. Kebutuhan biologis untuk hidup
b. Kebutuhan yang timbul dari peradaban dan kebudayaan manusia itu
sendiri (pendidikan, kesehatan, dan sebagainya)
c. Kebutuhan lain-lain yang khas pada masing-masing perorangan seperti
kebutuhan akan pemenuhan perabot rumah tangga, barang elektronik
dan sebagainya.
Kebutuhan manusia sangatlah luas dan tidak terbatas, dalam artian
kepuasan manusia sulit untuk dibatasi. Oleh karena itu setiap insane dari segala
penjuru selalu mempunyai masalah ekonomi karena adanya ketimpangan atau
ketidak serasian atau ketidak seimbangan antara kebutuhan dengan jumlah barang
atau jasa tersedia untuk memenuhi tuntutan kebutuhan tersebut (Sukimo, 1981:3).
Oleh Djasman (1997:56) mengatakan bahwa sistem sosial ekonomi membahas
mengenai rangkaian upaya tentang bagaimana cara orang atau masyarakat
memenuhi kebutuhan hidup mereka baik melalui sector formal maupun sector
informal. Cara yang dimaksud berkaitan dengan produksi, distribusi, pertukaran,
dan komsumsi jasa-jasa dan barang-barang langkah.
Soekanto, (1982:464) memberikan pandangan mengenai kata sosial sebagai
sesuatu yang berkenaan dengan proses sosial. Oleh karena itu, maka interaksi
sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial. Tanpa adanya suatu
interaksi sosial, maka tidak mungkin aka nada kehidupan bersama anta individu.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa interaksi sosial merupakan dasar dari
proses sosial, pengertian mana menunjuk pada hubungan-hubungan sosial yang
dinamis dalam masyarakat.

Teori Emile Dhurkheim
Berkaitan dengan perkembangan masyarakat, Durkheim melihat bahwa
masyarakat berkembang dari masyarakat sederhana menuju masyarakat
modern. Salah satu komponen utama masyarakat yang menjadi pusat perhatian
Durkheim dalam memperhatikan perkembangan masyarakat adalah bentuk
solidaritas sosialnya. Masyarakat sederhana memiliki bentuk solidaritas sosial
yang berbeda dengan bentuk solidaritas sosial pada masyarakat modern.
Masyarakat sederhana mengembangkan bentuk solidaritas sosial mekanik,
sedangkan masyarakat modern mengembangkan bentuk solidaritas sosial
organik. Jadi, berdasarkan bentuknya, solidaritas sosial masyarakat terdiri dari
dua bentuk yaitu:
1. Solidaritas Sosial Mekanik
Pandangan Durkheim mengenai masyarakat adalah sesuatu yang hidup,
masyrakat berpikir dan bertingkah laku dihadapkan kepada gejala – gejala
sosial atau fakta-fakta sosial yang seolah-olah berada di luar individu. Fakta
sosial yang berada di luar individu memiliki kekuatan untuk memaksa. Pada
awalnya, fakta sosial berasal dari pikiran atau tingkah laku individu, namun
terdapat pula pikiran dan tingkah laku yang sama dari individu-individu yang
lain, sehingga menjadi tingkah laku dan pikiran masyarakat, yang pada
akhirnya menjadi fakta sosial. Fakta sosial yang merupakan gejala umum ini
sifatnya kolektif, disesbabkan oleh sesuatu yang dipaksakan pada tiap-tiap
individu.
Dalam masyarakat, manusia hidup bersama dan berinteraksi, sehingga
timbul rasa kebersamaan diantar mereka. Rasa kebersamaan ini milik
masyarakat yang secara sadar menimbulkan perasaan kolektif. Selanjutnya,
perasaan kolektif yang merupakan akibat (resultant) dari kebersamaan,
merupakan hasil aksi dan reaksi diantara kesadaran individual. Jika setiap
kesadaran individual itu menggemakan perasaan kolektif, hal itu bersumber
dari dorongan khusus yang berasal dari perasaan kolektif tersebut.
Pada saat solidaritas mekanik memainkan peranannya, kepribadian tiap
individu boleh dikatakan lenyap, karena ia bukanlah diri indvidu lagi,
melainkan hanya sekedar mahluk kolektif. Jadi masing-masing individu
diserap dalam kepribadian kolektif. Argumentasi Durkheim, diantaranya pada
kesadaran kolektif yang berlainan dengan dari kesadaran individual terlihat
pada tingkah laku kelompok.
Moralitas mempunyai keterikatan yang erat dengan keteraturan
perbuatan dan otoritas. Suatu tindakan bisa disebut moral, kalau tindakan itu
tidak menyalahi kebiasaan yang diterima dan didukung oleh sistem
kewenangan otoritas sosial yang berlaku, juga demi keterikatan pada
kelompok.
Solidaritas mekanik tidak hanya terdiri dari ketentuan yang umum dan
tidak menentu dari individu pada kelompok, kenyataannya dorongan kolektif
terdapat dimana-mana, dan membawa hasil dimana-mana pula. Dengan
sendirinya, setiap kali dorongan itu berlangsung, maka kehendak semua orang
bergerak secara spontan dan seperasaan. Terdapat daya kekuatan sosial yang
hakiki yang berdasarkan atas kesamaan-kesamaan sosial, tujuannya untuk
memelihara kesatuan sosial. Hal inilah yang diungkapkan oleh hukum
bersifat
represif
(menekan).
Pelanggaran
yang
dilakukan
individu
menimbulkan reaksi terhadap kesadaran kolektif, terdapat suatu penolakkan
karena tidak searah dengan tindakan kolektif.
2.
Solidaritas Sosial Organik
Solidaritas
organik
berasal
dari
semakin
terdiferensiasi
dan
kompleksitas dalam pembagian kerja yang menyertai perkembangan sosial.
Durkheim merumuskan gejala pembagian kerja sebagai manifestasi dan
konsekuensi perubahan dalam nilai-nilai sosial yang bersifat umum. Titik
tolak perubahan tersebut berasal dari revolusi industri yang meluas dan sangat
pesat dalam masyarakat.
Menurutnya, perkembangan tersebut tidak menimbulkan adanya
disintegrasi dalam masyarakat, melainkan dasar integrasi sosial sedang
mengalami perubahan ke satu bentuk solidaritas yang baru, yaitu solidaritas
organik. Bentuk ini benar-benar didasarkan pada saling ketergantungan di
antara bagian-bagian yang terspesialisasi.
Kesadaran
kolektif
pada
masyarakat
mekanik
paling
kuat
perkembangannya pada masyarakat sederhana, dimana semua anggota pada
dasarnya memiliki kepercayaan bersama, pandangan, nilai, dan semuanya
memiliki gaya hidup yang kira-kira sama. Pembagian kerja masih relatif
rendah, tidak menghasilkan heterogenitas yang tinggi, karena belum
pluralnya masyarakat. Lain halnya pada masyarakat organik, yang merupakan
tipe masyarakat yang pluralistik, orang merasa lebih bebas. Penghargaan baru
terhadap kebebasan, bakat, prestasi, dan karir individual menjadi dasar
masyarakat pluralistik. Kesadaran kolektif perlahan-lahan mulai hilang.
Pekerjaan orang menjadi lebih terspesialisasi dan tidak sama lagi, merasa
dirinya semakin berbeda dalam kepercayaan, pendapat, dan juga gaya hidup.
Pengalaman orang menjadi semakin beragam, demikian pula kepercayaan,
sikap, dan kesadaran pada umumnya.
Heterogenitas yang semakin beragam ini tidak menghancurkan
solidaritas sosial. Sebaliknya, karena pembagian kerja semakin tinggi,
individu dan kelompok dalam masyarakat merasa semakin tergantung kepada
pihak lain yang berbeda pekerjaan dan spesialisasinya. Peningkatan terjadi
secara bertahap, saling ketergantungan fungsional antar pelbagai bagian
masyarakat yang heterogen itu mengakibatkan terjadi suatu pegeseran dalam
tata nilai masyarakat, sehingga menimbulkan kesadaran individu baru. Bukan
pembagian kerja yang mendahului kebangkitan individu, melainkan
sebaliknya perubahan dalam diri individu, di bawah pengaruh proses sosial
mengakibatkan pembagian kerja semakin terdiferensiasi.
Kesadaran baru yang mendasari masyarakat modern lebih berpangkal
pada individu yang mulai mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok yang
lebih terbatas dalam masyarakat dan mereka tetap mempunyai kesadaran
kolektif yang terbatas pada kelompoknya saja, contohnya yang sesuai dengan
pekerjaannnya saja. Corak kesadaran kolektif lebih bersifat abstrak dan
universal. Mereka membentuk solidaritas dalam kelompok-kelompok kecil,
yang dapat bersifat mekanik.
Terjadinya perubahan sosial yang ditandai oleh meningkatnya
pembagian kerja dan kompleksitas sosial, dapat juga dilihat sebagai
perkembangan evolusi model linier (Lawang, 1986:188). Kecenderungan
sejarah pada umumnya dalam masyarakat Barat adalah ke arah bertambahnya
spesialisasi dan kompleksitas dalam pembagian kerja. Perkembangan ini
mempunyai dua akibat penting. Pertama, dia merombak kesadaran kolektif
yang
memungkinkan
berkembangnya
individualitas.
Kedua,
dia
meningkatkan solidaritas organik yang didasarkan pada saling ketergantungan
fungsional. Durkheim melihat masyarakat industri kota yang modern ini
sebagai perwujudan yang paling penuh dari solidaritas organik.

Teori Karl Marx
Terjadinya sebuah perubahan dalam masyarakat disebabkan oleh
faktor ekonomi. Akan ada pergeseran pola kehidupan masyarakat yang
awalnya merupakan masyarakat komunal primitive menjadi masyarakat
yang
komsumtif
sehingga
pada
akhirnya
kapitalisme
menguasai
masyarakat.
Karl Marx percaya dalam kapitalisme, terjadi keterasinagan (alienasi)
manusia dari dirinya sendiri. Kekayaan pribadi dan pasar menurutnya tidak
memberikan nilai dan arti pada semua yang mereka rasakan sehingga
mengasingkan manusia, manusia dari diri mereka sendiri. Hasil keberadaan
pasar, khususnya pasar tenaga kerja menjauhkan kemampuan manusia
untuk memperoleh kebahagiaan sejati, karena dia menjauhkan cinta dan
persahabatan. Dia berpendapat bahwa dalam ekonomi klasik, menerima
pasar tanpa memperhatikan kekayaan pribadi, dan pengaruh kebradaan
pasar pada manusia. Sehingga sangat penting untuk mengetahui hubungan
antra kekayaan pribadi, ketamakan, pemisahan buruh, modal dan kekayaan
tanah, antara pertukaran dengan kompetisi, nilai dan devaluasi manusia,
monopoli dan kompetisi dan lain-lain. Fokus kritiknya terhadap ekonomi
klasik adalah, is tidak memeperimbangkan kekuatan produksi akan
meruntuhkan hubungan produksi.
Menurut Karl Marx dalam komoditas dan kelas dapat dibagi menjadi
dua kelas, yaitu:
a. kaum kapitalis (borjuis) yang memiliki alat-alat produksi.
b. Kaum buruh (proletar) yang tidak memiliki alat-alat produksi, ruang kerja,
maupun bahan-bahan produksi.
Karl Marx berpandagan ada pengaruh yang kuat para kapitalis untuk
menghimpun modal. Penghimpunan modal ini berarti bahwa aka nada lebih
banya fariabel modal yang digunakan untuk menambah tenaga kerja,
sehingga
akan
menaikkan
upah
dan
akan
mengurangi
tingkat
pengangguran. Tingkat surplus value akan mengalami penurunan sebagai
akibat dari naiknya upah, begitu juga tingkat laba juga akan turun. Para
kapitalis akan bereaksi dengan mengganti tenaga kerja manusia dengan
mesin dengan menambah organic composition of capital. Jika tingkat
surplus value dipertahankan untuk tidak berubah maka kenaikan pada
organic composition of capital akan mendorong tingkat keuntungan pada
level yang lebih rendah.
B. Karangka Konseptual
Dalam masyarakat terdapat sebuah hubungan yang mengikat antar
individu dalam sebuah hukum sosial berupa budaya yang dipahami secara
kolektif. Dimana masyarakat harus menjaga nilai dan budaya sehingga menjadi
sebuah kultur yang tetap.
Namun terkadang terdapat beberapa nilai-nilai kebudayaan yang mulai
luntur dan cenderung cair, dalam hal ini mengenai sistem sosial berupa pola
interaksi sosial, dan sistem mata pencaharian, karena adanya perubahan pola
pembangunan.
Hadirnya industri besar dalam sebuah wilayah tertentu dapat menjadi
sebuah syarat akan terjadinya perubahan sosial. Hal ini terjadi karena pola
kebiasaan yang tadinya sederhana seperti pembagian kerja, hukum sosial, adat dan
lain-lain perlahan juga ikut berubah menjadi lebih kompleks.
Durkheim menjelaskan perubahan masyarakat dapat terjadi dan bergeser
dari masyarakat mekanik menuju ke masyarakat organik.
Masyarakat mekanik adalah kondisi masyarakat mekanik dapat di kenal melalui
ciri ciri sebagai berikut :
1. Pembagian kerja sederhana : pekerjaan dalam masyarakat mekanik sangat
terbatas misalnya jika bukan menjadi petani, pedagang, nelayan atau
pekerjaan rumah tangga. Jadi pilihan pilihan pekerjaan dalam masyarakat
ini terbilang hanya berputar diseputar itu saja. Kondisi ini dapat kita lihat
dalam masyarakat pedesaan.
2. Masyarakat homogen : yakni kondisi dimana masyarakat memiliki
kesamaan latar belakang seperti agama, bahasa dan kebudayaan. Jadi
semakin banyak persamaan yang dimiliki makan kondisi masyarakatnya
semakin mekanik
3. Hukum bersifat represif : artinya jika ada sebuah kondisi dimana individu
melanggar atau mencoreng nilai nilai yang di pahami bersama maka
cenderung hukuman dalam masyarakat mekanik di tuangkan dalam proses
penghakiman bersama.
Sedangkan masyarakat organik adalah kebalikan dari mekanik dengan ciri-ciri
sebagai berikut :
1. Pembagian kerja kompleks : kondisi dalam bidang pekerjaan perlahan
mulai memiliki banyak pilihan dengan adanya perubahan pembangunan
atau kondisi
2. Masyarakat heterogen : kondisi masyarakat berasal dari latar belakang
berbeda karena terjadi perpindahan penduduk atau perubahan iklim
masyarakat menjadi modern yang menjadikan masyarakat semakin
individualistik.
3. Hukum bersifat restitutif : jika ada individu yang bermasalah maka akan
ditindaki sesuai dengan institusi yang khusus di buat untuk menindak
lanjutinya. Seperti polisi, militer, dan sebagainya.
Sorowako sebagai sebuah desa yang memiliki kekayaan alam yang melimpah
yang termasuk dalam pertambangan mineral (UU Tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara, Nomor 4 Tahun 2009) telah menjadi sebuah lahan subur untuk di
kelola dan di jadikan sebagai sumber dalam memenuhi kebutuhan mata
pencaharian. Namun kekayaan ini di kelola bukan oleh penduduk setempat atau
dalam negeri melainkan orang asing dan dikelola secara swasta sehingga
mengakibatkan perubahan masyarakat yang cukup drastis.
Maka benarlah yang dikatakan oleh salah seorang sosiolog asal Jerman yaitu
Karl Marx yang mengatakan bahwa pola perubahan masyarakat baik stratifikasi
maupun nilai-nilai kebudayaan dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Tahap
perkembangan kehidupan masyarakat dari komunal primitive hingga ke kapitalis
yang di ramalkan oleh marx karena pertentangan antara kaum proletar dan kaum
borjuis semakin jelas dengan stagnannya masyarakat pada pola kerja kapitalisme.
Kita dapat melihat kondisi ini dalam skema berikut :
LAHAN ORIGINAL
PENDUDUK ASLI
SOSIAL
EKONOMI
PT. INCO. TBK
KONVERSI LAHAN
Emile Dhurkheim
1.
2.
3.
4.
PENDUDUK ASLI
SOSIAL
Interaksi sosial
Strata/status sosial
Eksistensi adat istiadat
Keamanan
C. Defenisi Operasional
EKONOMI
Karl Marx
1. Pendapatan kas negara
2. Lapangan kerja
3. Pengembangan SDM
4. Peningkatan ekonomi
1. Konversi lahan
-
Konversi adalah pengubahan alih fungsi dari satu bentuk kebentuk
yang lain.
-
Lahan adalah tanah garapan milik pemerintah atau warga, yang
merupakan kekayaan alam yang memiliki potensi
2. Kehidupan Sosial dan Ekonomi
-
Kehidupan ekonomi adalah bentuk aktivitas dalam bidang ekonomi
(berhubungan dengan uang) untuk memenuhi berbagai kebutuhan
hidup.
-
Kehidupan Sosial adalah segala bentuk aktivitas masyarakat yang
berhubungan dengan norma, budaya dan syarat-syarat interaksi sosial
dalam kehidupan masyarakat.
3. Penduduk Asli
Penduduk asli adalah orang yang turun temurun tinggal disuatu daerah.
4. PT. INCO. Tbk
PT. INCO. Tbk adalah sebuah perusahaan tambang berasal dari Canada
yang merupakan anak perusahaan dari PT. VALE. Tbk yang melakukan
konversi lahan melalui izin dari pemerintah secara resmi.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 2 (dua) bulan yaitu pada bulan Februari
sampai Maret dengan menetapkan lokasi penelitian di Desa Sorowako
Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan.
B. Tipe dan Dasar Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif yang dimaksud
disini merupakan bentuk penelitian yang mendeskripsikan peristiwa, perilaku
orang atau suatu keadaan pada tempat tertentu secara rinci dan mendalam
dalam bentuk narasi.
2. Teknik Penentuan Lokasi Penelitian
Pada penelitian ini peneliti menggunakan lokasi penelitian yang
ditentukan secara sengaja (purposive) dimana lokasi penelitian ini terletak
di Desa Soroako Kecamatan Nuha
Kabupaten Luwu Timur Provinsi
Sulawesi Selatan.
3. Jenis dan Sumber Data Penelitian
Jenis data yang digunakan adalah jenis data kualitatif yaitu semua
bahan, keterangan data fakta-fakta yang tidak dapat diukur dan dihitung
secara eksak matematis, tetapi hanya berwujud keterangan naratif semata.
Bahan-bahan ini hanya dapat digolongkan dalam bentuk kategori-kategori
(Andi Prastowo,2011 : 204).
Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi 2 yaitu :
a. Data primer adalah data yang dapat diperoleh dengan melakukan
penelitian langsung terhadap objek penelitian. Yaitu dengan
wawancara dari sejumlah informan, catatan lapagan, foto dan hasil
observasi.
b. Data Skunder adalah data yang diperoleh melalui beberapa media
yang ada, dan bersifat melengkapi data primer seperti buku, literatur,
ataupun artikel-artikel yang terkait dengan penelitian ini.
4. Teknik Mendapatkan Informan
Untuk mengumpulkan data, telah ditentukan para informan yang akan
memberikan informasi mengenai masalah yang diteliti. Penentuan
informan dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu :
a. Menentukan informan sebanyak 11 orang, informan yang merupakan
penduduk asli sebanyak 9 orang dan 3 orang informan dari pihak
perusahaan PT. INCO. Tbk
b. Informan yang merupakan penduduk asli Sorowako, yang akan
memberikan informasi harus memenuhi beberapa kriteria yang
ditentukan oleh peneliti. Beberapa kriteria tersebut adalah sebagai
berikut :
-
Informan merupakan penduduk asli Sorowako yang terindetifikasi
dalam organisasi daerah Kerukunan Wawania Asli Sorowako
yang telah mendapat pengakuan dari pemerintah setempat dan
Perusahaan PT. INCO. Tbk.
-
Informan merupakan tokoh masyarakat yang mengetahui sejarah
Sorowako.
-
Informan merupakan penduduk yang berdomisili di Sorowako
-
Sebagian informan yang dipilh merupakan karyawan PT. INCO.
Tbk, pensiun PT. INCO. Tbk, petani, dan wiraswasta.
-
Informan berusia rata-rata di atas 40 tahun, dengan alasan umur di
atas 40 tahun telah berpengalaman mengenai kehidupan selama di
Sorowako dan mengetahui cerita tentang Sorowako, penduduk
asli, dan PT. INCO. Tbk.
-
Informan sebagian besar berjenis kelamin laki-laki maksimal 8-9
orang dan berjenis kelamin perempuan maksimal 2-3 orang.
Alasan memilih informan berjenis kelamin laki-laki lebih banyak
dibandingkan informan perempuan, dikarenakan pada umumnya
di Sorowako yang berkerja dan terlibat dalam pengambilan
keputusan adalah kaum laki-laki. Namun tetap melibatkan kaum
perempuan dalam pencaharian informasi dalam penelitian ini.
c. Informan dari pihak perusahaan tambang PT. INCO. Tbk yaitu
karyawan pada divisi Community Development perusahaan, yang
mengurus
dan
mengatur
hubungan
antar
perusahaan
dengan
masyarakat area pertambangan, penduduk asli Sorowako, dan
pemerintah setempat.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam
penelitian. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai cara, sumber dan
pengaturan. Dalam penelitian perolehan data sangat luas serta mendalam, maka
perlu diklasifikasikan upaya yag dilakukan dalam penelitian ini, antara lain
sebagai berikut :
-
Data Primer
a. Observasi
Yaitu berupa pengamatan secara langsung di lapangan untuk
mengetahui hal yang berhubungan dengan masalah penelitian ini
dimaksudkan untuk mengetahui objektivitas dari kenyataan yang ada
tentang keadaan dan kondisi objek yang akan di teliti. Penggunaan teknik
observasi ini dimaksudkan untuk mengungkap fenomena yang tidak
diperoleh melalui teknik wawancara.
b. Wawancara Mendalam, (depth interview),
Merupakan teknik pengumpulan data melalui wawancara secara
mendalam dengan para informan yang dipilih berdasarkan pertimbangan
bahwa mereka mengetahui dan dapat memberikan penjelasan tentang objek
atau permasalahan yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini dengan
menggunakan
pedoman
wawancara
yang
berisikan
pokok-pokok
pertanyaan yang sehubungan dengan fokus permasalahan didalam
penelitian.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat
mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara,
sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam
mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu
autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau
responden)
dan
aloanamnesa
(wawancara
dengan
keluarga
responden).
Ada beberapa langkah-langkah yang dilakukan dalam wawancara
dilokasi penelitian, seperti yang dikemukakan oleh Lincoln and Guba
dalam Sanapiah Faisal adalah :
1. Menetapkan informan
2. Menyiapkan pokok-poko maslah yang akan dibicarakan
3. Membuka dan menutu alur wawancara
4. Mengkonfirmasi ikhtiar hasil wawancara dengan mengahirinya
5. Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan
6. Mengindentifikasi tindak lanjut hasil wawancara
-
Data Skunder
Studi kepustakaan
Data ini diperoleh dari studi kepustakaan yaitu literatur yang
berkaitan dengan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan objek
penelitian.
D. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini akan dianalisis secara
kualitatif. Analisis kualitatif adalah memberikan gambaran informasi masalah
secara jelas dan mendalam untuk menghasilkan data kualitatif yang baru.
Hasil dari gambaran informasi akan diinterpretasikan sesuai dari hasil
penelitian yang dilakukan berdasarkan dukungan teori yang berkaitan dengan
objek penelitian.
Teknis ini menurut Miles dan Hubermen diterapkan melalui tiga alur
yaitu:
1. Data Reduction /Reduksi Data
Yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan
terhadap pada hal-hal yang penting. Dengan demikian data yang telah
direduksi akan memberi gambaran yag lebih jelas dan akan
mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data.
2.
Data Display/Data Penyajian
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dilakukan dalam bentuk
uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, dan sejenisnya. Yang
paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian
kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.
3. Verification/Penarikan Kesimpulan
Langkah terakhir adalah pengambilan kesimpulan, dimana
kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat semantara dan
akan berubah bila ditemukan bukti-bukti yang valid dan konsisten saat
peneliti kembali dari lapangan.
E. Draf Pembahasan Hasil Penelitian
Rancangan dalam laporan hasil penelitian pada bab V yaitu :
1. Karakteristik Informan
2. Proses terjadinya konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk di Sorowako
-
Faktor konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk di Sorowako
-
Proses terjadinya konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk di Sorowako
3. Kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli pasca konversi lahan oleh
PT. INCO. Tbk di Sorowako
-
Kehidupan sosial penduduk asli pasca konversi lahan oleh PT. INCO.
Tbk di Sorowako.
-
Kehidupan ekonomi penduduk asli pasca konversi lahan oleh PT.
INCO. Tbk di Sorowako.
BAB IV
GAMBARAN LOKASI DAN OBJEK PENELITIAN
A. Sejarah Singkat Lokasi Penelitian
Sorowako adalah daerah tambang Nickel yang terletak di Pulau Sulawesi,
Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Luwu Timur, Kecamatan Nuha. Sorowako
memperoleh status dari pemerintah sebagai suatu daerah tinggal pada tahun 1964.
Sorowako dulunya merupakan sebuah wilayah yang jauh dari teknologi
dengan masyarakat yang dapat dikategori masyarakat yang homogen. Namun
seiring dengan perkembangan zaman dan konversi lahan yang terjadi di daerah
tersebut membuat Sorowako menjadi sebuah wilayah yang modern, dan sebagai
salah satu daerah penghasil pajak yang cukup besar untuk pemerintah setempat.
Sorowako juga merupakan suatu daerah dengan fasilitas dan infastuktur
terlengkap dengan tatanan kota yang indah.
Pada awalnya Sorowako merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh
suku Tomoni yang merupakan penduduk asli dari desa Sorowako yang tinggal di
pinggir Danau Matano, namun terjadi dinamika perebutan lahan tinggal dikarena
terjadinya bencana alam Tsunami. Ada 4 area hunian penduduk asli yaitu Helai,
Sukoyo, Pontada, dan Lentebure. Awalnya penduduk asli Sorowako tinggal di
daerah
Pontada,
kemudian
karena
bencana
alam
Tsunami
sehingga
perkampungannya tenggelam, dimana dulunya Danau Matano memiliki luas yang
kecil namun setelah adanya Tsunami Danau Matano menjadi sangat luas.
Kemudian mereka berpindah ke Sukoyo, di daerah tersebut terjadi perang suku
antar penduduk asli suku Tomoni dengan Suku Tomobahono. Setelah berpindah
dari Sukoyo suku Tomoni melakukan perjalanan mencari perkampungan sebagai
tempat tinggal. Dan mereka menemukan daerah yang disebut Helai sebagai
tempat bermukim. Namun perang suku pun terus berlanjut antara suku Tomoni
dengan Suku Tomori sehingga banyak korban jiwa. Sehingga pada akhirnya
sebagian penduduk yang tersisa kembali melakukan perjalanan mencari tempat
bermukim. Dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal dan bermukim
di daerah Sorowako pinggir Danau Matano.
Pada awal suku Tomoni berdomisili di daerah yang sekarang dinamakan
Sorowako, mereka tidak punya agama hanya menyembah berhala dan tidak
mengetahui cara bercocok tanam, dan berternak. Kemudian datanglah keturunan
opu yaitu Opu Andi Halu yang berasal dari Kerajaan Luwuk dan keturunan Opu
daeng Tanumpa yang berasal dari Kerjaan Sinjai. Yang mengajarkan Suku
Tomoni / penduduk asli agama Islam dan mengajarkan cara bersawah, berkebun,
dan berternak. Sehingga aktifitas ekonomi, budaya , dan sosial mulai berjalan
lancar. Bertani, berkebun, berternak, dan menangkap ikan pun menjadi sumber
mata pencaharian penduduk setempat. Sebagai ucapan terima kasih penduduk asli
kepada keturunan Opu yang telah membantu dan mengajari penduduk, mereka di
berikan tanah di Sorowako. Mereka hidup berdampingan dengan menjunjung
tinggi adat istiadat daerah mereka.
Setelah
11
tahun
pasca
menetapnya
suku
Tomoni
di
daerah
pemukimannya yang sekarang dinamakan Sorowako pada tahun 1927, aktifitas
kehidupan penduduk berjalan dengan lancar, hingga datanglah team survey /
geologist dari jerman yang mengadakan penelitian mengenai kandungan biji
nickel di daerah Sorowako pada tahun 1937. Setelah terjadinya proses konversi
lahan dan masuknya PT. INCO. Tbk di Sorowako pada tahun 1973, perusahaan
membangun daerah Sorowako menjadi daerah yang berkembang pesat baik dari
mata pencaharian, tatanan kota, infrastuktur, fasilitas, dan juga interaksi sosial
masyarakat.
Hadirnya perusahaan tambang di Sorowako membuat daerah ini terkenal
sebagai daerah yang menjanjikan sebagai lapangan pekerjaan baik di sektor
industri maupun perdagangan. Banyak orang-orang yang berdatangan untuk
mengadu nasib di daerah tambang ini, sehingga laju peningkatan penduduk pun
berkembang pesat. Berbagai suku dan etnis sekarang ada di Sorowako,
diantaranya suku Toraja, Padoe, Bugis, Batak, Sunda, Jawa, Kalimantan bahkan
dari luar negeri WNA banyak ditemui di Sorowako.
Sejak berdirinya perusahaan tambang PT. INCO. Tbk di Sorowako,
mengubah beberapa lahan yang awalnya adalah hutan belantara menjadi area
tambang, pemukiman tempat tinggal karyawan perusahaan PT. INCO. Tbk dan
masyarakat Sorowako yang pada umunya adalah pendatang. Sorowako
mempunyai 8 area pemukiman, yaitu Salonsa, Pontada, dan Old Cam sebagai
pemukiman Karyawan PT. INCO. Tbk , Sorowako Lama/ Desa Nikkel identik
sebagai pemukiman penduduk asli Sorowako, Sorowako Baru, Sumasang 1,
Sumasang 2, Magani sebagai pemukiman campuran dari berbagai etnis pendatang,
baik karyawan PT. INCO. Tbk dan kontraktor, pedagang, dan penduduk asli
Sorowako.
Penduduk asli Sorowako mempunyai suatu organisasi daerah yaitu KWAS
(Kerukunan Wawania Asli Sorowako). Yang mengidentifikasikan dan menjaga
penduduk asli Sorowako agar tetap terakreditasi, diakui keberadaanya, dan
mendapatkan hak-haknya sebagai tuan rumah.
B. Kondisi Geografis dan Luas Wilayah
Sorowako secara geografis terletak dibagian selatan garis khatulistiwa
2018’00” – 203900” Bujur Timur dan diantara 1210300” - 121034’30” Lintang
Selatan.
Dan mempunyai batas-batas administrasi sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah

Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Towuti

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Towuti

Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Wasuponda
Kota Sorowako mempunyai luas wilayah daratan 808,27 km, luas wilayah
perairan 56.100 ha yang merupakan kawasan pembangkit tenaga listrik.
Kondisi topografi wilayah pusat Sorowako pada umunya pegunugan dan
berbukit. Sorowako terdapat 3 buah danau yang terkenal yaitu Danau Matano
yang Sorowako berada persis di pinggirnya, Danau Mahalona dan Danau Towuti.
Ketiga danau tersebut dihubungkan oleh sungai Larona dan bermuara di Malili
ibukota Kabupaten Luwu Timur.
Sorowako termasuk dalam kecamatan Nuha, kabupaten Luwu Timur,
Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Berada di ketinggian ± 1388 kaki dari
permukaan laut. Sorowako berjarak 500 km dari Makassar (Ibu Kota Sulawesi
Selatan). Desa-desa di sekitar Sorowako yang termasuk dalam Kecamatan Nuha
adalah: Desa Nuha, Desa Matano, Desa Magani, dan dusun disekitarnya antara
lain: Pontada, Salonsa, Old Camp, Lawewu, Tapulemo, Sorowako, Tambeha,
Otuno, Helai, Lamoare, Sumasang, Tapuondau.
Keadaan iklim diSorowako sama dengan daerah yang lain yaitu musim
hujan dan musim kemarau namun, karena Sorowako merupakan daerah tambang
yang membutuhkan sumber energi listrik yang besar. Maka musim kemarau akan
sangat mempengaruhi aktivitas pertambangan, sehingga perusahaan sering
membuat hujan tembak atau hujan buatan setiap musim kemarau yang
berkepanjangan.
C. Kependudukan dan Tenaga Kerja
1. Kependudukan
Dengan adanya Perusahaan tambang PT. INCO. Tbk yang beroperasi
di daerah ini, menjadikan Sorowako yang dulunya penduduknya sedikit
(1968), sekarang (2012) sudah bertambah banyak karena sebagian besar
karyawan berdomisili di daerah ini. Hampir 70% penduduk di Sorowako
adalah pendatang yang berasal dari hampir semua propinsi di Indonesia.
Berdasarkan data hasil Sensus Penduduk (SP) priode 26 desember –
25 februari 2012, bisa dilihat pertumbuhan penduduk yang cukup besar.
Jumlah penduduk mencapai 20.888 jiwa. Dari jumlah tersebut, terdapat
jumlah penduduk laiki-laki 11.055 jiwa dan perempuan 9.833 jiwa.
2. Tenaga Kerja
Penduduk usia kerja di Sorowako pada tahun 2011 berjumlah 19.831
orang, sebanyak 11.311 atau 62,31 persen merupakan angkatan kerja dan
sisanya sebanyak 8520 orang atau 27,69 persen bukan angkatan kerja.
Berdasarkan data dari perusahaan PT.INCO. Tbk tercatat jumlah karyawan
pada tanggal 31 desember 2011 adalah 7.735 orang.
D. Pendidikan
Dalam pendidikan Sorowako mempunyai sarana dan prasarana yang
cukup lengkap. Terdapat 5 unit Taman Kanak – Kanak yaitu, TK Al-Ikhwan, TK
Yayasan Pendidikan Sorowako (YPS), TK Darma Wanita, TK Budi Utomo dan
TK Benteng. 4 unit Sekolah Dasar yaitu SD Yayasan Pendidikan Sorowako,
SDN Nikkel, SDN Dongi, SDN 220, dan SDN Budi Utomo. 3 unit Sekolah
Menengah Pertama (SMP) yaitu SMP YPS, SMP YAPMAN, SMPN Sumasang.
4 unit Sekolah Menengah Atas yaitu SMA YPS, SMA Yapman, SMAN
Sumasang, dan SMK Budi Utomo. Dan 1 unit perguruan tinggi yaitu Akademik
Teknik Sorowako (ATS).
E. Kesehatan
Dalam bidang kesehatan, Sorowako termasuk daerah yang mempunyai
fasilitas lengkap. Beberapa sarana kesehatan yang ada di Sorowako.
Tabel Sarana Kesehatan
No
Sarana Kesehatan/paramedic
Jumlah
keterangan
1
Rumah sakit PT. INCO
1 unit
Desa Magani
2
Posyandu
7 unit
Disetiap desa
3
Puskesmas
1 unit
Desa Nickel
4
Dokter spesialis
8 orang
Disetiap desa
5
Dokter umum
3 orang
Disetiap desa
6
Apoteker
3 orang
Disetiap desa
7
Perawat
135 orang
Disetiap desa
8
Anastesi
5 orang
Desa Magani
9
Analisa Laboratorium Kesehatan 5 orang
Desa Magani
F. Agama
Pada awalnya agama mayoritas penduduk asli Sorowako yaitu Islam
namun seiring pertumbuhan penduduk baik yang lahir maupun pendatang
mulai muncul berbagai keyakinan dan kepercayaan.
Table Sarana Ibadah
No
Sarana ibadah
Jumlah
1
Mesjid
7 unit
2
musollah
2 unit
3
Gereja khatolik
1 unit
4
Gereja protestan
3 unit
5
Pura Hindu
1 unit
G. Ekonomi
1. Pertambangan
Sorowako merupakan suatu daerah yang mengandung banyak biji
nickel sehingga menjadikannya wilayah pertambangan. Sebagian besar
masyarakatnya berkerja sebagai karyawan di perusahaan tambang tersebut
baik masyarakat di Sorowako maupun daerah sekitar Sorowako seperti
Malili, Wawondula, dan
Wasuponda yang juga merupakan daerah
pemberdayaan perusahaan. Dan hal tersebut yang menjadi faktor sehingga
banyak industri yang muncul seperti CV dan kontraktor baik barang maupun
jasa. Berdasarkan data perusahaan diperoleh jumlah karyawan perusahaan
PT. INCO yang telah berganti menjadi PT. VALE ini berkisar 7.735 orang.
Di Sorowako tercatat ada 13 anak perusahaan dan kontraktor swasta,yaitu
Trakindo, United Tractor, Thiess, Volvo, Truba, Orsal, Srawegading, Charles,
Maharani, Taruna Mandiri, Bujaya Karya, Mahalona, dan Kajima yang
bergerak dalam bidang industri pertambangan.
2. Perdagangan
Perdagangan merupakan salah satu penghasilan yang sangat
menguntungkan di daerah tambang seperti Sorowako. Banyaknya imigran
yang datang dari luar daerah sehingga meningkatkan permintaan kebutuhan
hidup. Hal ini yang menjadi faktor perdagangan sebagai lapangan kerja yang
sangat menguntungkan. Perkembangan dalam bidang perdagangan di
Sorowako sangat pesat, orang-orang dari berbagai daerah berbondongbondong datang bukan hanya untuk berkerja diperusahaan namun juga untuk
berdagang baik dalam bidang jasa maupun barang.
3. Pertanian dan Perkebunan
Pada awalnya sebelum terjadi konversi lahan mata pencaharian
masyarakat Sorowako ialah bertani dan berkebun, namun setelah terjadinya
konversi lahan, bertani dan berkebun hanya dikerjakan oleh para penduduk
asli Sorowako yang mempunyai sawah dan tanah perkebunan diluar area
pertambangan.
Di Sorowako terdapat sawah dengan luas 1.765 Ha di desa nikkel dan
menjadi satu-satunya lahan pertanian yang ada di Sorowako. Sedangkan
dalam bidang perkebunan tidak dapat ditafsirkan luas lahan, karena setelah
adanya konversi lahan perkebunan menjadi lahan tambang masyarakat yang
masih berkebun lahannya berada di daerah yang cukup jauh dari area
pertambangan seperti di Matano, Nuha, Bure, Batu Merah dan Taipe.
4. Perternakan dan Perikanan
Bedasarkan data kecamatan setempat, jumlah produksi ternak pada
tahun 2012 yaitu sapi sebanyak 132 ekor, kambing 42 ekor, sedangkan untuk
unggas yaitu ayam sebanyak 221 ekor, dan itik/bebek 60 ekor. Dalam bidang
perikanan biasanya masyarakat hanya menangkap untuk dikomsumsi sehari-
hari, adapun ikan khas dari Sorowako yaitu ikan butini, opudi. Sedangkan
udang hias endemik di perjual belikan. Dan yang sering melakukan aktifitas
ini hanya kalangan masyarakat tertentu yaitu penduduk asli Sorowako.
H. Angukatan dan Komunikasi
1. Aksesbilitas
Selain merupakan daerah tambang Sorowako juga merupakan daerah
penghubung antara Sulawesi Selatan dengan Sulawesi Tengah. Hanya butuh
waktu 1 jam menyebrang Danau Matano dengan menggunakan rap/ katinting
dan angkutan darat sekitar 2 jam telah sampai ke Sulawesi Tengah.
Sorowako dapat diakses secara langsung melalui jalur MakassarSorowako dan Sulawesi Tengah-Sorowako dengan 3 (tiga) cara/fasilitas yaitu
:
1. Melalui jalur darat dengan menggunakan Bus yang telah tersedia
degan tujuan Sorowako, bisa pula dengan kendaraan pribadi seperti
mobil maupun motor dengan jarak tempuh kurang lebih 14 jam dari
Makassar ke Sorowako.
2. Melalui jalur udara dengan menggunakan pesawat Pelita Air yang
telah tersedia dengan rute Makassar – Sorowako menempuh jarak
kurang lebih 40 menit.
3. Melalui jalur perairan dengan menggunakan rap atau katinting dengan
rute melalui Sulawesi Tengah. Menempuh jarak sekitar 4 jam, melalui
jalur darat 3 jam dari kota Sulawesi Tengah dan melalui jalur perairan
selama 1 jam menyeberangi Danau Matano.
2. Angkutan
Jenis angkutan darat yang dicakup adalah kendaraan bermotor meliputi
kendaraan penumpang, bus penumpang, mobil barang, bus karyawan, mini
bus karyawan, sepeda motor. Dan tersedia sarana perwakilan bus penumpang,
mining site bus karyawan, dan terminal angkutan penumpang.
Jenis angkutan udara yang ada di Sorowako hanya 1 yaitu Pelita.
Dengan sarana AIRPORT yang di namakan Indonesia Air Transport,
Sedangkan angkuatan perairan/ laut tersedia dermaga sebagai tempat
berlabuh kapal, katinting, dan rap.
3. Pos dan Telekomunikasi
Dalam penyampaian informasi surat terdapat 1 unit Kantor Pos yang
memadai. Dan penggunaan telpon sebagai sarana komunikasi terdapat 1 unit
kantor Telkom dan 1 unit Kantor Telkomsel.
I. Sarana Hiburan
Sorowako merupakan salah satu daerah dengan tatanan kota yang indah
baik jalanan, bangunan, maupun sarana hiburan, seperti :
1. Sarana Hiburan
Terdapat berbagai sarana hiburan seperti 5 buah pantai buatan dengan
desain yang indah yaitu pantai Ide, pantai C, pantai Impian, pantai Kupukupu, dan dolmitori. 1 buah mata buntu yang terletak di pulau matano. Gua
air berada di tengah-tengah danau, 2 unit taman bermain anak-anak, 2 studio
musik, dan 1 buah area perkemahan, 1 buah Poci, dan 4 unit Hotel berbintang
yaitu Hotel Grand Mulia, Hotel Transisco, Hotel Mulia, dan Hotel dan
Karakatau Gues House. Sarana ini dapat digunakan masyarakat untuk
melepaskan jenuh dan rekreasi. Banyak pula masyarakat yang datang untuk
menikmati sarana hiburan tersebut dari luar daerah Sorowako.
2. Sarana Olahraga
Di Sorowako terdapat sarana dan fasilitas olahraga yang cukup lengkap,
yang telah disediakan oleh PT. INCO. Tbk sebagai fasilitas umum yang dapat
digunakan oleh karyawan perusahaan dan seluruh masyarakat Sorowako.
Tabel Sarana Olahraga
No
Sarana Olahraga
Jumlah
1
Lapangan Golf
2 Unit
2
Lapangan Tennis
3 Unit
3
Gedung Badminton
3 Unit
4
Lapangan Basket
3 Unit
5
Lapangan Spak Bola
6 Unit
6
GYM/ Fitnes
1 Unit
7
Jogging Area
1 Unit
8
Gedung latihan Karate dan Taikondo
2 Unit
3. Sarana Perdagangan
Aktifitas perdagangan masyarakat Sorowako dapat ditemui di Pasar
yang dinamakan Pasar Malindungi (Pasar Tradisional) yang terletak di
Sorowako Lama, Pasar F ( Pasar Moderen), yang terletak di Magani dan
Toko Baru yang menyediakan berbagai produk luar negeri, yang terletak di
kawasan PT. INCO.Tbk
J.
Keanekaragaman Hayati
Sorowako memiliki banyak keanekaragaman hayati di antaranya yaitu :
1. Spesies udang hias endemic, salah satu Celebes beauty keindahan yang
disukai kolektor baik dalam negeri maupun mancanegara. Dapat
ditemukan di danau Matano dan danau Towuti.
2. Kera pantat merah atau Macaca Ochreata khas Sorowako merupakan
satwa yang dilindungi. Sering ditemui sebelah Timur Sorowako,
tepatnya di daerah Sumasang dan Old Camp.
3. Pohon / Kayu Eboni, merupakan kayu Eboni dengan semurat yang
sangat indah batanya berilis hitam pekat diseligi wana cokelat. Sifat
kayu ini sangat keras dan
berat. Eboni tumbuh didaerah tropis.
Penduduk asli Sorowako meyakini meminum air dengan cawan dari
kayu Eboni dapat menangkal racun dan roh jahat.
4. Ikan Butini, ikan yang jenis ini hanya dapat ditemukan di Danau
Matano.
5. Buah dengen, buah ini hanya dapat ditemukan di Sorowako. Yang
kemudian di olah menjadi jus atau sirup.
BAB V
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
Pada pembahasan laporan hasil penelitian, penulis akan mengungkapkan
kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli pasca konverssi lahan oleh PT.
INCO. Tbk di Sorowako. Berdirinya sebuah perusahaan tambang Nickel
Internasional yaitu PT.INCO.Tbk di Sulawesi Selatan kabupaten Luwu Timur
Kecamatan Nuha Desa Sorowako, membawa pengaruh yang sangat besar
terhadap wilayah dan masyarakat di daerah tersebut.
Tak heran jika hadirnya perusahaan tambang tersebut menjadikan
Sorowako sebagai salah satu daerah yang memiliki daya tarik bagi para imigran
untuk mengadu nasib meningkatkan kesejahteraan ekonominya. Sehubungan
dengan kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli pasca konversi lahan oleh
PT. INCO. Tbk, ada 2 (dua) komponen penting yang menjadi inti kajian ini yaitu
pihak perusahaan PT.INCO.Tbk dan penduduk asli Sorowako. Dinamika dalam
interaksi pada kedua komponen tersebut banyak mempengaruhi kajian teori
perubahan sosial yang menjadi inti pembahasan.
Gillin dan Gillin mengemukakan perubahan sosial adalah suatu variassi
dari cara-cara hidup yang telah diterima dan yang disebabkan baik karena
perubahan-perubahan
kondisi
geografis,
kebudayaan
materil,
komposisi
penduduk, ideology maupun adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru
dalam masyarakat tersebut.
Faktor-faktor yang memperngaruhi terjadinya perubahan sosial adalah :
1. Kontak dengan kebudayaan lain
2. Sistem pendidikan formal yang lebih maju
3. Sistem terbuka lapisan masyarakat
4. Penduduk yang heterogen
5. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.
Terciptanya keseimbangan atau goncagan, konsesnsus atau pertikaian,
harmonis atau perselisihan, kerja sama atau konflik, damai atau perang,
kemakmuran atau krisis dan sebagainya. Semua berasal dari sifat saling
mempengaruhi dari keseluruhan ciri-ciri sistem sosial yang kompleks itu.
Adapun jumlah informan yang peneliti pilih secara purposive yaitu
sebanyak 11 (sebelas) orang. Peneliti memilih 9 (sembilan) informan dari
penduduk asli Sorowako yang merupakan pemilik atau keturunan pemilik lahan
yang dikonversi oleh pihak perusahaan PT. INCO. Tbk. Yang telah tinggal di
Sorowako sebelum PT. INCO. Tbk berdiri. Dan terorganisir dalam suatu
organisasi daerah yaitu Kerukunan Wawania Asli Sorowako (KWAS) yang telah
diakui oleh PT. INCO. Tbk dan pemerintah setempat. Serta 3 (tiga) informan dari
pihak perusahaan PT.INCO.Tbk Divisi Eksternal Comunnity Development yang
merupakan bagian yang mengurus hubungan antara perusahaan PT. INCO. Tbk
dengan masyarakat Sorowako, penduduk asli dan pemerintah setempat. Dan
mengatur berbagai perjanjian dan fasilitas yang diberikan kepada masyarakat
Sorowako khususnya penduduk asli.
Dalam penelitian ini ada dua permasalahan yang akan menjadi pokok
pembahasan laporan hasil penelitian. Pokok pembahasan yang pertama yaitu
bagaimana proses konversi lahan yang dilakukan oleh pihak PT. INCO.Tbk. di
Sorowako. kedua bagaimana kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli pasca
konversi lahan oleh PT.INCO.Tbk di Sorowako.
Adapun susunan isi dari hasil penelitian tentang kehidupan sosial dan
ekonomi penduduk asli pasca konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk di Sorowako
adalah sebagai berikut :
-
Karakteristik informan (nama samaran sesuai dengan permintaan
informan)
-
Proses konversi lahan yang dilakukan oleh PT. INCO.Tbk di Sorowako.
-
Kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli pasca konversi lahan oleh
PT.INCO.Tbk di Sorowako.
A. KARAKTERISTIK INFORMAN
Karakteristik informan merupakan hal yang sangat penting untuk
diketahui, sebelum membahas lebih dalam mengenai masalah-masalah pokok
dalam penelitian ini. Ada beberapa karakteristik informan yang telah
digabungkan dalam table karakteristik informan, diantaranya sebagai berikut :
1. Usia
Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dalam proses
pengambilan peran, memperoleh informasi atau berbagi pengalaman dan
pengambilan keputusan dalam lingkungannya. Umur juga memberi
pengaruh besar terhadap seseorang tentang bagaimana ia melakukan
kegiatan dalam memenuhi kebutuhannya. Berdasarkan penelitian dari
beberapa informan, maka diketahui rata-rata umur informan, yang paling
muda berumur 31 tahun sedangkan yang paling tua berumur 88 tahun.
2. Jenis Kelamin
Berdasarkan penentuan informan secara purposive/sengaja sebelumnya,
dan setelah melakukan penelitian di lapangan. Diperoleh 9 (Sembilan)
informan berjenis kelamin laki-laki dan 2 (dua) informan berjenis kelamin
perempuan.
3. Pekerjaan
Pekerjaan sangat menentukan untuk seorang manusia memenuhi
kebutuhan hidupnya sehari-hari. Pekerjaan sangat berpengaruh terhadap
peran manusia dalam keluarga dan status sosialnya. Selain itu pekerjaan
informan juga menjadi salah satu pertimbangan dalam penelitian ini.
4. Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang berpengaruh besar
terhadap pola pikir seseorang. Sedikit banyaknya tindakan dan gaya hidup
seseorang dipengaruhi oleh kualitas pendidikannya. Dan kelangsungan
hidup seseorang akan sangat dipengaruhi oleh pendidikan yang ia miliki
khususnya pekerjaan dan status sosial yang ia dapatkan. Walaupun tidak
dipungkiri banyak juga orang yang kualitas berfikirnya patut diajukan
jempol karena berbagai pengalaman yang dilaluinya seperti kata pepatah “
pengalaman adalah guru yang paling berharga”.
5. Tempat Tinggal
Tempat tinggal atau lingkungan sosial cukup berpengaruh dalam
membentuk karakter serta tingah laku seseorang.
Tabel Karakteristik Informan
No
1
Nama
Samaran
Nt
Umur
67 tahun
Jenis
Kelamin
Laki-Laki
Pekerjaan
Petani/ketua
Pendidikan
Tempat
tinggal
SR 6 tahun
Sorowako
kwas
2
Mh
78 tahun
Laki-Laki
Pensiun Inco
Lama
SD
Sorowako
Lama
3
Mr
88 tahun
Laki-Laki
Petani
SD
Sorowako
Lama
4
YP
43 tahun
Laki-Laki
PNS
S1
Sorowako
Lama
5
On
50 tahun
Laki-Laki
Karyawan
SD
Magani
SMP
Sorowako
Inco
6
AB
62 tahun
Laki-Laki
Pensiun Inco
Baru
7
8
Rj
49 tahun
Perempuan
Wiraswasta
SMP
Sumasang
AHM
44 tahun
Laki-Laki
Anggota
S1
Sumasang
S1
Old Camp
DPR Lutim
9
Jm
31 tahun
Perempuan
Karyawan
Inco
10
RT
42 tahun
Laki-Laki
Karyawan
S1
Salonsa
SMA
Pontada
Inco
11
Km
41 tahun
Laki-Laki
Karyawan
Inco
B. PROSES TERJADINYA KONVERSI LAHAN OLEH PT. INCO. TBK
DI SOROWAKO
Faktor terjadinya konversi lahan di Sorowako
Sorowako merupakan daerah yang kaya akan sumber daya alam. Oleh
karena itu Sorowako termasuk salah satu wilayah target investasi skala besar
karena aset sumber daya alam yang dimilikinya begitu besar. Hal ini menjadi
salah satu faktor pemicu terjadinya proses-proses konversi lahan yang
mengakibatkan cepatnya laju deforestrasi di Sorowako.
Konversi lahan yang dilakukan di Sorowako dapat dikategorikan konversi
lahan sistematik berpola ‘enclave yaitu dikarenakan lahan kurang produktif,
sehingga konversi dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah (Sihaloho, 2004).
Faktor yang menyebabkan terjadinya konversi lahan di Sorowako antara lain :
1. Tanah Sorowako yang mengandung banyak nickel dan bijih besi .
2. Sektor pertanian dan perkebunan yang tidak bisa berkembang.
3. Adanya keinginan untuk merubah taraf kehidupan yang lebih baik.
Menurut para arkeolog, ekspolitasi dan tradisi peleburan disekitar Danau
Matano yaitu Sorowako jauh sebelum masa keemasan Majapahit, yang pernah
mencatat Luwu sebagai pemasok bijih besi. Menurut sebuah catatan, sekitar
Danau Matano telah menjadi pusat tambang besi-nickel jauh sebelum Majapahit
lahir (1293). Kabarnya, kalau membawa magnet, butiran tanah pada daerah yang
mengandung besi akan menempel pada magnet.
Karena tingginya kandungan bijih besi dan nickel di Sorowako,
masyarakat dulunya mempunyai kebiasaan melakukan peleburan besi dengan cara
sederhana. Tungkunya dari tanah sedangkan pipanya terbuat dari bambo,
sementara tuasnya dari bahan kayu yang dilapisi bulu ayam, agar angin yang
dihasilkan tidak keluar dari bambu dan menghembus cepat ke tungku.
Seperti
halnya
yang
di
ungkapkan
oleh
informan
Mh
yang
mengungkapkan bahwa :
“ Peleburan besi dilakukan di pesisir Danau Matano yang menjadi jalan
utama desa sekarang. Tanahnya itu kelihatan gosong, itu hitam karena ada
peleburan besi. Tapi jaman sekarang tidak ada lagi peleburan seperti itu
karena tidak ada generasi sekarang yang mau tau lagi apalagi melakukan
kegiatan itu (wawancara 20 februari 2012).
Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa daerah Sorowako sejak
lama telah terkenal dengan tanahnya yang memiliki kandungan bijih besi.
Namun
belum
terjamah
oleh
tangan-tangan
produsen
karena
hanya
dimanfaatkan oleh sedikit penduduk setempat yang memiliki keahlian saja.
Untuk melakukan kegiatan ekonomi lainnya juga sangat terbatas.
Masyarakat tidak dapat mengelolah dan mengembangkan sumber daya alamnya
secara maksimal. Khususnya mengelolah dan mengembangkan lahan dalam
sektor pertanian dan perkebunan. Hanya sedikit lahan yang dapat dikelolah
sedangkan lahan yang lainnya tidak dapat dijadikan lahan petanian dan
perkebunan karena lahannya mengandung bijih besi dan nickel yang tinggi.
Selain itu, untuk melakukan kegiatan perdagangan juga sangat sulit,
karena sarana transportasi yang sangat terbatas. Penduduk harus menempuh
jarak yang cukup jauh untuk sampai ke Kabupaten Luwu Timur yaitu Malili
yang merupakan pusat kegiatan perdagangan. Melalui jalur darat penduduk
harus melewati 5 gunung dengan berjalan kaki sedangkan melalui jalur air
dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam, tetapi penduduk harus menyewa kapal
yang biasa disebut katinting.
Seperti yang dituturkan oleh Informan Mr yang menuturkan bahwa :
“ Susah sekali kami penduduk untuk bertani dan berkebun karena
hanya sebagian kecil lahan yang dapat dijadikan lahan untuk berkebun dan
bertani. Karena kalau ditanam di lahan yang ada bijih besi dan nickelnya
tidak mau tumbuh tanaman ta. Yang tumbuh hanya jenis tanaman yang keras
saja. Untuk tanaman kebutuhan pokok tidak bisa tumbuh. Kalau kita juga
mau pergi keluar Sorowako susah sekali, tidak ada jalan untuk kendaraan,
lewat air menyewa dulu sedangkan kita uang dari mana. Yah kami dulu itu
penduduk hidup dari bercocok tanam di lahan yang bisa ditanami saja nak
dengan cara orang-orang dulu. Kalau bagus panen bisa untuk persiapan
berbulan-bulan. Kalau gagal yah kita meminta atau meminjam ke desa
tetangga nuha, matano, dan bure. Karena banyak juga keluarga kami yang
menikah dengan orang desa sebelah jadi bisa na bantu-bantuki nak’
(Wawancara 22 Februari 2012).
Sektor perekonomian yang rendah karena berbagai keterbatasan sumber
daya manusia dan keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan
maju. Mendorong penduduk Sorowako berkerjasama dengan perusahaan untuk
melakukan konversi lahan di Sorowako, yaitu mengubah lahan Sorowako
menjadi area pertambangan perusahaan dengan berbagai kesepakatan tertentu.
Proses terjadinya konversi lahan oleh PT. INCO.Tbk di Sorowako
Proses konversi lahan ini dimulai ketika beberapa ahli Geologi (Geologist)
yang berasal dari Vale Inco Limited yang berpusat di Canada diundang oleh
sebuah perusahaan ekspolitasi dari Belanda. Melakukan kunjungan di Sulawesi
yang dulunya merupakan wilayah jajahan Belanda untuk menkaji pembentukan
nickel laterit. Hingga pada tahun 1937 seorang geologist bernama Flat Elves
berkebangsaan Jerman berhasil menemukan daerah yang lahannya mengandung
nickel yaitu Sorowako.
Seperti yang diungkapkan oleh Informan Nt yang mengungkapkan bahwa :
“ Waktu datang itu ada beberapa orang bule dari luar negeri melakukan
penelitian dilahannya kita. Mulai dari wasuponda, wawondula sampai mereka
tembus di Sorowako. Dulunya inikan semua hutan, sempat itu waktu juga
orang bule tinggal sama kita di perkampungan ta. Baru kita bawa mereka
sampai ke daerah bure, matano dan nuha. Nah, di matano mi itu orang bule
juga terkejut lihat kita punya kebiasaan melebur besi. dan pada akhirnya
mereka menemukan banyak kandungan nickel didaerah Plant Site yang
dijadikan daerah tambang sekarang” (wawancara 19 februari 2012).
Setelah kunjungan tersebut kemudian dillakukan eksplorasi dan studi
kelayakan pada tahun 1968. Dimana para ahli geologist tersebut mengemukakan
bahwa Endapan nikel laterit di Sorowako terbentuk karena proses pelapukan dari
batuan ultramafik yang terbentang dalam suatu singkapan tunggal terbesar di
dunia seluas lebih dari 120 km x 60 km. Sejumlah endapan lainnya tersebar di
provinsi Sulawesi Tengah dan Tenggara. Untuk mengetahui kandungan nikel di
dalam tanah dilakukan uji analisis laboratorium dan analisis dengan menggunakan
software GIS. Operasi penambangan nikel PT. INCO. Tbk di Sorowako
digolongkan sebagai tambang terbuka dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pemboran, Pada jarak spasi 25 - 50 meter untuk mengambil sampel batuan
dan tanah guna mendapatkan gambaran kandungan nickel yang terdapat di
wilayah tersebut.
2. Pembersihan dan pengupasan, Lapisan tanah penutup setebal 10– 20 meter
yang kemudian dibuang di tempat tertentu ataupun dipakai langsung untuk
menutupi suatu wilayah purna tambang.
3. Penggalian, lapisan bijih nikel yang berkadar tinggi setebal 5-10 meter dan
dibawa ke stasiun penyaringan.
4. Pemisahan, bijih di stasiun penyaringan berdasarkan ukurannya. Produk
akhir hasil penyaringan bijih tipe Timur adalah -6 inci, sedangkan produk
akhir bijih tipe Barat adalah – 4/-2 inci.
5. Penyimpanan, bijih yang telah disaring di suatu tempat tertentu untuk
pengurangan kadar air secara alami, sebelum dikonsumsi untuk proses
pengeringan dan penyaringan ulang di pabrik (PT. INTERNASIONAL
NICKEL INDONESIA Tbk, 2010)
Setelah dilakukannya ekplorasi dan studi kelayakan tersebut, dan
mendapat respon yang sangat baik dari pihak perusahaan Vale Inco Limited. Pada
tahun 1968 didirikan sebuah perseroan sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya
dimiliki oleh Vale Inco Limited yang dinamakan PT. INCO. Tbk ( PT.
Internasional Nickel Indoneia TBk). Dan kemudian menandatangani kontak karya
dengan Pemerintah Indonesia pada tanggal 27 juli 1968, dimana pemerintah
Indonesia menyetujui hak melakukan penambangan di Sulawesi Selatan selama
30 tahun. Berlaku sejak produksi komersial pertama pada tanggal 1 April sampai
dengan 31 Maret 2008. Dengan luas aera konsesi awal perusahaan sebesar
118,387 hektar (PT. INCO. Tbk. Maret 2012).
Namun sebelum membuat kontrak dengan pemerintah, pihak perusahaan
terlebih dahulu membuat kesepakatan secara lisan kepada masyarakat penduduk
asli Sorowako bahwa akan meningkatkan kesejahteraan penduduk Sorowako
dengan memberdayakan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada.
Seperti yang dipaparkan oleh Informan Mh yang mengungkapkan bahwa :
“ Pada waktu itu tahun 1968 sebelum perusahaan menandatangani
kontrak dengan pemerintah kami terlebih dahulu dibuatkan perjanjian secara
lisan yang dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat. Kemudian diumumkan di
mesjid setempat kepada masyarakat luas. Dengan perjanjian bahwa dengan
didirikannya perusahaan tambang di daerah Sorowako ini masyarakat tidak
perlu lagi bertani dan berkebun. Sudah ada beras di toko dan bahan pangan
lainnya. Siapapun masyrakat yang ingin berkerja di perusahaan akan
diterima” (wawancara 20 februari 2012).
Perjanjian antara perusahaan dengan penduduk Sorowako selaku pemilik
lahan, kemudian disampaikan dalam musyawarah yang melibatkan pihak
perusahaan, tokoh masyarakat yang mewakili penduduk Sorowako dan
pemerintah. Dan tertuang dalam kontak karya yang dibuat oleh pihak community
development PT. INCO. Tbk bersama dengan tokoh masyarakat mewakili
penduduk Sorowako dan pemerintah. Adapun isi dari kontrak karya tersebut
antara lain sebagai berikut :
1. Dalam pasal 11 ayat (3) UU No.22 tahun 2001 tentang minyak bumi dan
gas bumi memuat 17 ketentuan pokok yang harus dicantumkan dalam
kontrak kerja sama. Salah satu kewajiban itu adalah pengembangan
masyarakat sekitarnya dan jaminan masyarakat adat. Pengembangan
masyrakat sekitar lingkaran tambang dengan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat sekitar dan tetap memberikan mayarakat melaksanakan nilainilai adat yang hidup dan berkembang dalam mayarakat tersebut (H. Salim
HS, 2004.318).
2. Ketentuan pasal 6 dan 7 Keputusan Mentri Energi dan Sumber data
Mineral Nomor. 1453 K/29/MEM/2000. Tentang pedoman teknis
penyelenggara Tugas Pemerintah di Bidang Pertambangan. Yaitu
menugaskan pemegang kekuasaan perusahaan untuk membantu program
pengembangan masyarakat dan pengembangan wilayah pada masyarakat
setempat meliputi pengembangan sumber daya manusia, kesehatan dan
pertumbuhan ekonomi.
3. Pasal 7 Gubernur/Walikota/Bupati wajib menciptakan kemitrausahaan
antara pemegang KP (kuasa pertambangan), KK (kontrak karya), dan
PKP2B
dengan
masyarakat
setempat
berdasarkan
prinsip-prinsip
keuntungan.
Berdasarkan
jaminan
yuridis
tersebut,
dituliskan
bahwa
perusahaan
pertambangan bertugas untuk melakukan program pengembangan masyarakat.
Pengembangan wilayah dan kemitrausahaan yang meliputi :
1. Sumber daya manusia
2. Kesehatan
3. Pertumbuhan ekonomi
4. Pengembangan wilayah
5. Kemitrausahaan / bantuan dana usaha (kontrak karya PT. INCO. Tbk,
Maret 2012)
Kemudian hasil dari studi kelayakan dan eksplorasi tersebut dikirim ke
pusat penelitian Inco di Port Colborne Ontario pada tahun 1970, sebanyak 50 ton
sampel bijih besi. Setelah 3 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1973 perusahaan
memulai konstruksi pabrik pertama dengan satu lini pengelolahan pyrometalurgi
dan fasilitas-fasilitas terkait. Dan dibuka lowongan pekerjaan untuk 10.000 orang
pekerja asal Indonesia dan 1.000 pekerja asal luar negeri. Yang bersama-sama
kemudian
membangun prasarana penambangan, seperti pabrik pengelolahan,
akses jalan, kota, pelabuhan, bandara dan infastruktur yang di perlukan di
Sorowako.
Pada tahun 1975, perusahaan memulai kostruksi kedua yaitu pengelolahan
lagi dan membuat satu instalasi pembangkit listrik tenaga air yang digunakan
untuk pabrik pengelolahan nickel. Kemudian pada bulan April 1978 perusahaan
mulai memproduksi secara komersial. Dengan tahapan operasional mencakup
kegiatan penambangan, dan pengelolahan bijih nickel.
Dimana Pabrik pengolahan PT. INCO. Tbk di Sorowako mempunyai
kapasitas produksi 72.500 ton nikel setahun. Proses pengolahan dilakukan untuk
menghasilkan nikel matte yaitu produk dengan kadar nikel di atas 75 %. Tahaptahap utama dalam proses pengolahan adalah sebagai berikut:
1. Pengeringan di Tanur Pengering, bertujuan untuk menurunkan kadar air
bijih laterit yang dipasok dari bagian Tambang dan memisahkan bijih yang
berukuran +25 mm dan – 25 mm.
2. Kalsinasi dan Reduksi di Tanur Pereduksi, untuk menghilangkan
kandungan air di dalam bijih, mereduksi sebagian nikel oksida menjadi
nikel logam, dan sulfidasi.
3. Peleburan di Tanur Listrik, untuk melebur kalsin hasil kalsinasi/reduksi
sehingga terbentuk fasa lelehan matte dan terak.
4. Pengkayaan di Tanur Pemurni, untuk menaikkan kadar Ni di dalam matte
dari sekitar 27 % menjadi di atas 75 %.
5. Granulasi dan Pengemasan. Untuk mengubah bentuk matte dari logam cair
menjadi butiran-butiran yang siap diekspor setelah dikeringkan dan
dikemas (PT. INCO. Tbk Annual Report 2007).
Selanjutnya pada tanggal 15 Januari 1996, perusahaan menandatangani
perjanjian perubahan dan perpanjangan Kontrak Karya tahun 1968 dengan
pemerintah di perpanjang hingga tahun 2025. Penjelasan diatas merupakan proses
terjadinya konversi lahan pertama kali oleh pihak PT. INCO. Tbk di Sorowako
yang melalui berbagai tahap dan proses.
Bagi penduduk Sorowako, konversi lahan yang dilakukan PT. INCO. Tbk
merupakan suatu inovasi yang akan mengubah kehidupan penduduk terutama
pada sektor perekonomiannya dan peningkatan taraf hidup yang lebih baik.
Karena tidak dapat dipungkiri pertambangan dan energi merupakan sektor
pembangunan penting bagi Sorowako. Namun dari sisi lingkungan hidup,
pertambangan dianggap paling merusak dibanding kegiatan-kegiatan eksploitasi
sumberdaya alam lainnya.
Seperti yang diungkapkan oleh Informan Mh yang berpendapat bahwa :
“ Memang Inco banyak member keuntungan buat Sorowako, tapi yang
kita semua lupa itu masalah lingkungan alam kita. Dengan adanya Inco di
Sorowako banyak lingkungan kita yang menjadi tercemar. Contohnya dulu air
Danau Matano dapat diminum langsung tanpa dimasak walaupun kita ambil
airnya dipinggir. Tapi sekarang air danau sudah kotor sekali, kecuali diambil
ditengah-tengah danau. entah itu karena pabrik Inco atau mulai banyaknya
penduduk di Sorowako hingga tidak kebagian lahan untuk tinggal dan
membangun rumah di atas air. Jadi bisa kita lihat banyak sampah di bawah
kolong rumah yang di atas air itu. Dulu juga banyak sekali ikan di Danau
Matano sekarang yah, masih ada tapi sedikit. Sama sekarang kalau kita
melintas di area pabrik plant site kita harus tutup mulut dan hidung, karena
asap pabrik perusahaan (Wawancara 20 Februari 2012).
Selain itu, pertambangan dapat mengubah bentuk bentang alam, merusak
dan menghilangkan vegetasi, menghasilkan limbah tailing, maupun batuan
limbah, serta menguras air tanah dan air permukaan. Jika tidak direhabilitasi,
lahan-lahan bekas pertambangan akan membentuk kubangan raksasa dan
hamparan tanah gersang yang bersifat asam. Maka peran aktif pemerintah sangat
dibutuhkan untuk mengawasi perusahaan dalam tindak pemulihan dan
pemeliharaan alam pasca konversi lahan yang diekpolitasi. Agar ada
keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan manusia dan kelestarian alam yang
merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia.
Seperti yang dikemukakan oleh Informan AHM yang merupakan anggota
DPR Lutim, mengemukakan bahwa :
“ Kami selaku pemerintah Luwi Timur, selain menerima pendapatan dari
hasil pengelolahan pabrik. Kami juga berkewajiban untuk mengontrol
konservasi yang dilakukan oleh pihak perusahaan PT. INCO. Tbk, guna
menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Sesuai dengan perjanjian yang
telah dibuat oleh perusahaan PT. INCO. Tbk dengan pemerintah sebelumnya
yakni melakukan konservasi/ pemeliharaan lingkungan hidup” (Wawancara 9
Maret 2012).
Berdasarkan pemaparan oleh informan AHM selaku badan pemerintahan dan
penduduk asli Sorowako yang tetap memperhatikan lingkungan hidup.
Menggambarkan bahwa pemerintah setempat peduli akan lingkungan hidup yang
ada di Sorowako. Gambaran mengenai kepedulian terhadap lingkungan hidup
juga ditambahkan oleh Informan Km, yang merupakan karyawan PT. INCO. Tbk.
Berikut pemaparannya :
“ Sebagai karyawan yang mengurusi ekternal dari perusahaan PT. INCO.
Tbk, yang saya ketahui bahwa pihak perusahaan mempunyau jadwal atau
proyek penghijauan. Yang berkerja untuk memperbaiki dan memulihkan lahan
yang telah dikonversi/dikelolah. Dan pihak perusahaan juga memberikan
proyek kepada kontraktor dalam bidang kebersihan, yaitu mengelolah sampahsampah masyarakat agar tidak menganggu kebersihan lingkungan dan ada
beberapa lagi ” (Wawancara 20 Maret 2012).
Pada dasarnya setiap pihak mulai dari perusahaan PT. INCO. Tbk,
pemerintah dan masyarakat Sorowako sadar dengan adanya dampak terhadap
lingkungan hidup akibat pabrik perusahaan PT. INCO. Tbk. Sehingga secara
umum baik dari pihak perusahaan dan pemerintah berkerja secara optimal untuk
menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Walaupun hal tersebut
masih jauh dari kata cukup untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian
lingkugan hidup yang telah diekpolitasi.
C. KEHIDUPAN SOSIAL DAN EKONOMI PENDUDUK ASLI PASCA
KONVERSI LAHAN OLEH PT. INCO. TBK DI SOROWAKO
Sorowako merupakan salah satu daerah yang mengalami konversi lahan,
dimana lahan yang dulunya merupakan lahan original/ hutan telah dikonversi
menjadi lahan pertambangan. Tidak dapat dipungkiri secara garis besar PT.
INCO Tbk banyak membawa perubahan bagi penduduk Sorowako baik
perubahan positif maupun negatif. Namun yang menjadi pertanyaan seberapa
besar pengaruh yang ditimbulkan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi
penduduk asli Sorowako pasca konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk di Sorowako.
1. Kehidupan Sosial penduduk asli pasca konversi lahan oleh PT. INCO.
Tbk di Sorowako
Sorowako sekarang merupakan daerah yang sangat dikenal sebagai
tambang nickelnya diseluruh penjuru dunia, sorowako juga terkenal dengan
kemajuan teknologi dan infrastuktur yang lengkap. Secara otomatis
mengubah daerah yang dulunya terpencil dan minim akan sarana dan prasana
menjadi daerah yang diketahui oleh seluruh penjuru dunia dengan sarana dan
prasarana lengkap. Namun dari sebuah perubahan yang begitu pesat tersebut
terjadi juga sebuah perubahan terhadap nilai sosial dalam kehidupan
masyarakatnya seperti yang dikemukakan sebelumnya oleh seorang Sosiolog
yaitu Emile Dhurkeim bahwa masyarakat akan mengalami perubahan dari
masyarakat mekanik menuju masyarakat mekanik.
Dalam pembahasan mengenai kehidupan sosial penduduk asli pasca
konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk di Sorowako. Dapat diklasifikasikan
kedalam beberapa aspek kehidupan sosial, diantaranya sebagai berikut :
a. Interaksi sosial antar individu
b.
Strata/status sosial
c. Eksistensi adat istiadat setempat
d. Keamanan
Berbicara mengenai kehidupan sosial penduduk asli Sorowako,
dulunya penduduk asli Sorowako dapat dikategorikan sebagai masyarakat
yang bersifat mekanik. Yaitu, masyarakat yang mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
1. Pembagian kerja sederhana : pekerjaan dalam masyarakat mekanik
sangat terbatas misalnya jika bukan menjadi petani, pedagang, nelayan
atau pekerjaan rumah tangga. Jadi pilihan pilihan pekerjaan dalam
masyarakat ini terbilang hanya berputar diseputar itu saja. Kondisi ini
dapat kita lihat dalam masyarakat pedesaan.
2. Masyarakat homogen : yakni kondisi dimana masyarakat memiliki
kesamaan latar belakang seperti agama, bahasa dan kebudayaan. Jadi
semakin banyak persamaan yang dimiliki maka kondisi masyarakatnya
semakin mekanik.
3. Hukum bersifat represif : artinya jika ada sebuah kondisi dimana
individu melanggar atau mencoreng nilai nilai yang di pahami bersama
maka cenderung hukuman dalam masyarakat mekanik di tuangkan
dalam proses penghakiman bersama.
Namun seiring dengan berdirinya sebuah perusahaan tambang asing yaitu
PT. INCO. Tbk di Sorowako, perlahan-lahan membawa perubahan dan
pergeseran pola kehidupan sosial penduduk asli Sorowako menjadi lebih
kompleks dan praktis. Dengan hadirnya sebuah industri tambang di Sorowako
menjadikan daerah ini sebagai salah satu daerah yang memiliki daya tarik
bagi masyarakat dari berbagai wilayah baik dalam negeri maupun luar negeri.
Sehingga inilah yang menjadi salah satu faktor atau syarat terjadinya
perubahan sosial pada kehidupan penduduk asli Sorowako.
a. Interaksi sosial antar individu
Menurut data hasil dari sensus penduduk Luwu Timur, diketahui
bahwa Sorowako merupakan daerah yang memiliki penduduk dari berbagai
suku dan etnis yang beragam baik dalam negeri maupun luar negeri.
Perpaduan berbagai suku dan etnis yang berbeda ada di Sorowako. Datangnya
para imigran yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar
negeri telah membawa berbagai perubahan terhadap kehidupan sosial
penduduk asli Sorowako. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa
ada beberapa aspek dalam kehidupan sosial, salah satunya adalah interaksi
sosial antar individu dan antar kelompok. Dari hasil wawancara yang
dilakukan dapat tergambarkan bahwa interaksi sosial antar individu dan antar
kelompok mengalami perubahan.
Seperti yang diutarakan oleh Informan Nt yang mengungkapkan bahwa :
“ Waktu dulu belum ada INCO di Sorowako, kita penduduk disini
kebanyakan hanya berkerja sebagai petani dan berkebun, kadang juga kita
pergi menagkap ikan dan udang didanau. Tapi kehidupan kita begitu saja
terus, sama halnya dengan orang-orang yang tinggal dikampung pada
umumnya. Jadi kita semua itu sering berkumpul bercerita-cerita setelah
pulang dari kebun atau sawah tapi sekarang jarang mi kita semua
berkumpul cerita bersama karena sibuk semuami oarng-orang apalagi yang
kerja di perusahaan. tidak adami lagi. (wawancara 19 februari 2012).
Yang kemudian dilanjutkan oleh Informan Mr yang mengungkapkan
bahwa :
“ Kalau saya ditanyaka tentang interaksinya masyarakat sekarang,
berbeda sekali dengan masyarakat yang dulu. Dulu kita itu saling
memperhatikan dan silahturahmi sangat terjaga karena sering diadakan
pertemuan-pertemuan. Kadang dimesjid, di kantor desa, dimana-mana saja
yang penting bisa saling bercerita. Tapi sekarang orang-orang sudah sibuk
semua dengan kegiatannya. Pulang kerja capek istrahat, hari libur tinggal
dirumah, sebelum pergi kerja istrahat memang. Karena bukan main juga
jam kerja kita di tempat kerja sampai 8 atau 9 jam belum lagi kalau over
time ki. Tidak ada waktu ta lagi mau kumpul-kumpul. Beda kalau bersawah
dan berkebun, sambil kerja cerita, sambil istrahat kumpul cerita-cerita”
(wawancara 22 Februari).
Berdasarkan pemaparan dari informan 1 dan informan 3, penulis
merasakan terjadinya perubahan kehidupan sosial penduduk Sorowako.
Dimana dulu interaksi sosial penduduk Sorowako dengan sekitarnya sangat
erat kini mulai berubah dikarenakan pembagian kerja yang mulai kompleks
dengan berbagai pilihan perkerjaan. Sehingga menggabaikan interaksi
sosialnya dengan lingkungan sekitarnya.
Selanjutnya, dari hasil penelusuran peneliti ada beberapa fenomena
perubahan prilaku sosial dalam masyarakat Sorowako. Yang menjadi pemicu
kurang harmonisnya interaksi sosial antar individu dan antar kelompok.
Diantaranya adalah kebiasaan yang mulai menyebar keseluruh masyarakat
Sorowako khususnya penduduk asli Sorowako yaitu berutang/pinjaman.
Tingginya biaya hidup, persaingan status sosial, dan sifat komsumtif yang
semakin modern pada masyarakat Sorowako menjadi alasan untuk berutang.
Terlihat jelas terjadi sebuah perubahan prilaku masyarakat Sorowako
khususnya penduduk asli. Dimana dulu penduduk asli
Sorowako tidak
mengenal utang piutang, yang ada adalah saling memberi dan melengkapi satu
sama lain kini telah berubah.
Seperti yang diungkapkan oleh Informan AB yang mengungkapkan
bahwa :
“ Segala sesuatunya diukur dengan uang, tidak ada lagi istilah saling
memberi. Tidak punya uang silahkan berutang atau meminjam. Tidak
berani punya utang atau meminjam tidak punya apa-apa. Tidak punya apaapa tidak dianggap di masyarakat. Ini menurut beberapa orang saja, tapi
kalau saya pribadi tidak usah punya apa-apa dari pada dinilai dari harta
yang diutangi dari orang lain” (Wawancara 31 Februari).
Berdasarkan pemaparan informan AB, terlihat bahwa tingkat persaingan
status sosial dalam masyarakat Sorowako menjadi hal yang sangat
berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat Sorowako. Berutang untuk
memenuhi kebutuhan status sosial saja. Persaingan status sosial yang tinggi ini
pula yang menjadi salah satu faktor tingginya biaya hidup di Sorowako.
Dimana masalah persaingan yang terjadi diantara masyarakat Sorowako
menjadi suatu peluang yang baik bagi para pedagang untuk meningkatkan
nilai jualnya.
Seperti yang dipaparkan oleh Informan Rj yang merupakan wiraswasta
memaparkan bahwa :
“ Di Sorowako itu tinggi gaji tapi tinggi juga biaya hidup. Jadi orangorang disini kebanyakan utang. Biar mahal bagamana hanrganya barang
asalkan diutang atau dicicil gampangmi itu. Barang cakar saja diutang,
baju, sampai perabotan rumah tangga. Jujur saya sebagai penjual juga
kadang menaikkan harga sampai 2 kali lipat karena orang disini utang
maunya sedangkan modal ta harus diputar. Baru di Sorowako itu bergayabergaya mau semua dibilang walaupun tidak ada. Mau pendatang atau
penduduk asli sama saja begitu semua. Gara-gara utang biasanya orang
sampai masuk penjara dan berkelahi. Hal begitu biasami kalau di
Sorowako (Wawancara 4 Maret 2012).
Berutang atau pinjaman bukan suatu kesalahan atau penyimpangan prilaku
sosial apabila berada dalam batas, dan mengikuti aturannya. Misalnya untuk
memenuhi kebutuhan hidup seperlunya dan menepati kesepakatan yang telah
dibuat sebelumnya. Namun yang seringkali menjadi masalah pada masyarakat
Sorowako ialah utang menjadi pemicu terjadinya kesenjagan hubungan antar
individu. Karena melanggar aturan dan batasan yang telah disepakati. Menurut
beberapa informan masalah utang sering diselesaikan melalui jalur hukum
bahkan hukuman penjaga dalam sel kepolisian menjadi jaminan sampai utang
piutang tersebut selesai. Hal tersebut yang kemudian menjadi pemicu
terjadinya pertengkaran dan rengangnya silahturahmi antar individu. Berawal
dari masalah kecil, sehingga membawa dampak yang cukup besar bagi
interaksi sosial dalam masyarakat Sorowako.
Selanjutnya fenomena perubahan prilaku sosial yang terjadi ialah
perselingkuhan. Fenomena perubahan prilaku sosial ini menjadi perbincangan
masyarakat Sorowako saat ini. Berdasarkan data yang diperoleh dari pihak
yang berwajib/kepolisian. Telah terjadi 68 kasus perselingkuhan 1 (satu) tahun
terakhir ini yang dilaporkan oleh masyarakat Sorowako kepada pihak
kepolisian.
Seperti yang dituturkan oleh Informan YP yang mengutarakan bahwa :
“ Masalah yang paling sering terjadi di masyarakat sekarang itu
perselingkuhan, akhir-akhir ini sering banyak kasus perselingkuhan yang
dilaporkan ke kantor desa bahkan sampai ke kantor polisi. Mungkin kalau
menurut saya yang menjadi faktor selingkuh itu karena pergaulan, ratarata yang menjadi pelaku perselingkuhan adalah bapak-bapak atau ibu-ibu
yang suami atau istrinya ditugas kerja diluar kota. Dan bapak-bapak atau
ibu-ibu yang sering bergaul ditempat-tempat seperti senam bugar, dan café.
Itu menurut mengamatanku, yah mungkin banyak juga faktor lainnya.
(Wawancara 25 Februasi 2012)
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, peneliti berkesimpulan
bahwa kasus perselingkuhan ini merupakan akibat dari perubahan sosial yang
terjadi pada masyarakat Sorowako. Dimana pola hidupnya telah berubah
semakin maju dan modern, setelah hadirnya perusahaan tambang PT. INCO.
Tbk yang secara tidak langsung mengundang berbagai sumber daya manusia
(SDM) dari suku, kebiasaan, dan budaya yang berbeda-beda. Sehingga nilainilai tata karma dan kesopanan menjadi luntur dan terabaikan. Contoh
terjadinya perubahan masyarakat dari masyarakat yang mekanik menjadi
masyarakat yang organik ialah hukum pada masyarakat dulunya bersifat
represif, yakni pelanggaran norma asusila akan mendapatkan hukum sosial
atau penghakiman bersama. Pada masyarakat saat ini telah berubah menjadi
hukum yang bersifat restitutif, yakni setiap pelanggaran diserahkan kepada
pihak yang berwajib/kepolisian.
Menurut informasi dari beberapa informan, pemicu dari terjadinya kasus
perselingkuhan adalah pergaulan pada masyarakat Sorowako yang mulai
bercampur dengan budaya Barat. Menurut survei kasus perselingkuhan ini
terjadi pada kalangan karyawan perusahaan baik sesama warga Indonesia atau
perselingkuhan antara warga Indonesia dengan warga asing sehingga sering
terjadi sistem kawin kontrak. Walapun tidak keseluruhan namun sebahagian
menggambarkan hal demikian.
b. Strata/Status Sosial
Strata sosial atau status sosial yang juga merupakan aspek dari kehidupan
sosial pada penduduk asli Sorowako pasca konversi lahan PT. INCO. Tbk.
Bila kita berkunjung ke Sorowako pastinya pada umunya orang-orang akan
mengangumi kemajuan dari daerah ini, baik tatanan bangunan, fasilitasnya
yang lengkap, kecanggihan teknologi, wisata alam, dan keanekaragaman
hayati yang dimilikinya. Namun ketika kita mencoba melihat keadaan
Sorowako secara keseluruhan hingga ke pesisir Danau Matano akan tampak
perbedaan mencolok antara kehidupan penduduk asli dengan kehidupan
karyawan PT. INCO. Tbk seperti halnya rumah penduduk asli di kampung
Sorowako dipinggir Danau Matano.
Rumah penduduk di daerah Sorowako Lama/ Desa Nickel terlihat tua,
sempit dan berhimpit tidak teratur. Berbeda dengan rumah karyawan yang
tertata rapi dan luas yang dibangun di kompleks perumahan khusus yaitu
salonsa, pontada, dan old camp. Bahkan sebahagian penduduk terpaksa harus
membangun rumah diatas danau karena tidak tersedia lahan yang cukup dan
harga lahan yang relative sangat mahal. Maka pemandagan sebaliknya dapat
kita lihat pada perumahan karyawan yang memiliki halaman yang luas dan
jalanan yang tertata sangat rapi.
Seperti yang dituturkan oleh Informan AHM yang menggungkapkan
bahwa :
“ Sebenarnya kalau kita lihat kasian penduduk di daerah Sorowako
lama/ desa nickel tatanan rumahnya baku dempet-dempet. Jadi kalau terjadi
insiden seperti kebakaran satu ji rumah terbakar ikutmi juga satu baris.
Apalagi fire nya datang habispi 5-6 rumah. Ada juga masyarakat yang
bangun rumah di atas air, itupun bersambung sampai kedalam, tapi
rencananya mau dikasi pindah kedaerah sumasang. Bagi penduduk asli
Sorowako dapat jatah tanah, pendatang yah beli tanah dulu “ (Wawancara 9
Maret 2012).
Selain perbedaan yang mencolok dari pemukiman, berdasarkan hasil
wawancara kebeberapa penduduk asli Sorowako. Mereka mengemukakan
bahwa telah terjadi kesenjagan dalam pembagian kerjaan. Dimana sebagian
penduduk asli Sorowako berkerja sebagai pekerja-pekerja kasar dan pekerjapekerja untuk posisi yang lebih tinggi seperti staf kebanyakan direkrut dari luar
Sorowako. Hal tersebut juga pernah disuarakan oleh penduduk asli Sorowako
dengan cara melakukan demonstrasi kepada pihak perusahaan pada tahun
1998. Namun hal tersebut kemudian diklarifikasi oleh pihak perusahaan
PT.INCO yaitu Informan 9 yang juga merupakan keturunan penduduk asli
Sorowako.
Berikut yang diutarakan oleh Informan Jm yang mengungkapkan bahwa :
“ Dari pihak perusahaan bukannya ingin mendiskriminasi, tapi kita
juga harus melihat kapasitas dari sumber daya manusianya. Kalau
dipertanyakan kenapa penduduk sorowako jadi pekerja kasar dan pendatang
jadi pekerja kantoran. Yah, kita lihat dari latar belakang pendidikannya
juga. Karena perusahaan juga harus mengedepankan kemajuan dan
eksistensi perusahaan” (Wawancara 15 Maret 2012).
Berdasarkan pendapat dari berbagai nara sumber, penulis berkesimpulan
bahwa dalam pembagian kerja penduduk asli juga dapat berkarir pada posisi
yang lebih baik apabila penduduk sadar mengenai pentingnya pendidikan.
Sehingga mereka juga mampu menjadi sumber daya manusia yang lebih
kompetitif dan berkualitas.
Dari berbagai pemaparan diatas yang membahas mengenai strata sosial
/status sosial dan kesenjagan yang terjadi antara penduduk asli Sorowako
dengan karyawan PT. INCO. Tbk yang pada umumnya adalah pendatang. Baik
dari pemukiman tempat tinggal dan pembagian kerja. Perlu diketahui bahwa
penduduk asli Sorowako juga mendapatkan beberapa hak-hak khusus yang
diberikan oleh perusahaan, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Jaminan Kesehatan
2. Jaminan listrik dan air gratis
3. Jaminan untuk mengenyam pendidikan di yayasan sekolah PT. INCO.
Tbk mulai dari Tk, Sd, Smp, Sma dan perguruan tinggi (ATS).
4. Mendapatkan jatah dari pengrekrutan tenaga kerja baik untuk perusahaan
maupun pelatihan tenaga kerja industri. Sesuai dengan kesepakatan
bersama sebelumnya.
5. Mendapatkan jatah lahan tempat tinggal didaerah perumahan yang baru
dibuat oleh PT. INCO. Tbk yaitu Sumasang.
6. Mendapatkan dana bantuan dari perusahaan untuk pembangunan fasilitas
untuk kepentingan umum melalui proposal yang diajukan kepada
perusahaan.
Perbedaan status sosial penduduk asli Sorowako dalam masyarakat dapat
dilihat dari hak-hak khusus yang diperoleh serta kekuasaan terhadap lahan
dibandingkan dengan para imigran. Karena pada dasarnya penduduk asli
Sorowako merupakan tuan di daerah tersebut.
c. Eksistensi tradisi dan adat istiadat setempat
Berbicara mengenai kehidupan sosial tentunya tidak lepas dari eksistensi
adat istiadat daerah tersebut. Adat istiadat merupakan identitas dari suatu
daerah. Namun hal yang sering terjadi adalah lunturnya adat istiadat suatu
daerah, dikarenakan banyaknya suku dan etnis yang datang ke daerah tersebut.
Sorowako selain dikenal sebagai daerah penghasil nickel, juga dikenal
sebagai daerah yang memiliki pesona alam yang indah dan tradisi dan adat
istiadat yang unik. Hal ini yang menjadi daya tarik bagi para pelancong dan
penikmat alam. Ada beberapa traidisi dan adat istiadat yang sering dilakukan
oleh penduduk asli Sorowako, diantaranya sebagai berikut :
1. Pesta panen, yang diselenggarakan setiap kali masyarakat memanen hasil
bercocok tanam. Sebagai ungkapan syukurnya kepada sang pencipta.
Dan yang menjadi ciri khas dari pesta panen adalah nasi bambu atau
peong yang dibagikan kepada masyarakat sekitar.
2. Dero, yaitu kegiatan yang diselenggarakan setiap ada hajatan. bernari
bersama membuat lingkaran sambil diiringi musik dengan gerakangerakan khusus.
3. Meompudi, yaitu kegiatan menangkap ikan di Danau Matano yang
dilakukan oleh beberapa ibu-ibu rumah tangga. Dengan alat sederhana
yaitu bambu dan jarring yang digerak-gerakkan secara bersamaan sambil
bernyanyi.
4. Lomba dayung di Danau Matano, Panjat pinang dan lari maraton. Yang
merupakan tradisi penduduk asli Sorowako setiap 17 agustus.
5. Tarian-tarian khas Sorowako yaitu Monsado, Tumbuk lesung, dan
Mounre.
Berbagai tradisi dan adat istiadat tersebut merupakan jati diri daerah
Sorowako. Seiring dengan berdirinya perusahaan tambang tersebut sehingga
banyaknya pendatang yang berdomisili di Sorowako dari berbagai suku dan
etnis. Tidak membuat tradisi dan adat istiadat daerah Sorowako luntur ataupun
menghilang.
Seperti yang di paparkan oleh informan On yang mengungkapkan bahwa :
“ Tradisi kami itu, sampai sekarang masih tetap ada karena tradisi itu
telah dilakukan oleh orang tua kami terdahulu. Jadi sangat pantang bagi
kami masyarakat penduduk asli untuk tidak melakukan berbagai kegiatan
itu. Sepertinya itu sudah sangat mendarah daging ditubuh kami.
(Wawancara 28 Februari 2012).
Eksistensi tradisi dan adat istiadatnya hingga saat ini masing terus
berlangsung bahkan dinikmati oleh masyarakat Sorowako secara luas. Terlihat
dari pastisipasi masyarakat Sorowako yang pada umumnya telah berbaur dari
berbagai suku dan etnis. Dalam acara-acara perusahaan PT. INCO. Tbk juga
sering menampilkan pertunjukan adat istiadat Sorowako
Sesuai dengan kontak karya yang telah disepakati Dalam pasal 11 ayat (3)
UU No.22 tahun 2001 tentang minyak bumi dan gas bumi memuat 17
ketentuan pokok yang harus dicantumkan dalam kontrak kerja sama. Salah satu
kewajiban perusahaan adalah pengembangan masyarakat sekitarnya dan
jaminan masyarakat adat. Pengembangan masyrakat sekitar lingkaran tambang
dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan tetap memberikan
mayarakat melaksanakan nilai-nilai adat yang hidup dan berkembang dalam
mayarakat tersebut. (H. Salim HS, 2004.318)
Seperti halnya yang diutarakan oleh Informan RT yang merupakan
karyawan PT. INCO. Tbk bagian Community Development perusahaan yang
diwawancarai di kantornya Mengungkapkan bahwa :
“ Kami selaku karyawan perusahaan yang bertugas menangani acaraacara penting yang akan dilaksanakan oleh perusahaan memang
mengarahkan untuk menampilkan pertunjukan yang merupakan adat
istiadat dari Sorowako. Dengan tujuan memperlihatkan kepada masyarakat
luas mengenai adat istiadat Sorowako. Dan menjaga eksistensi adat istiadat
Sorowako. Sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat oleh pihak
perusahaan dengan tokoh masyarakat” (Wawancara 18 Maret 2012).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan 10 yang juga merupakan
karyawan PT. INCO. Tbk dapat terlihat bahwa pihak perusahaan peduli
terhadap eksistensi tradisi dan adat istiadat setempat. Dari hasil penelitian yang
dilakukan selama kurang lebih 1 (satu) bulan, terlihat nuansa tradisi dan adat
istiadat setempat masih sangat kental. Contohnya saja pesta rakyat yang
diadakan pada tanggal 9 Maret 2012 oleh pihak perusahaan yang berganti
nama dari PT. INCO. Tbk menjadi PT. VALE. Tbk ditampilkan berbagai adat
istiadat Sorowako seperti Tarian Monsado, Musik tumbuk Lesung, Tarian
Dero, dan Lomba dayung. dan masyarakat Sorowako menyambut acara
tersebut dengan bersukaria.
d. Keamanan
Keamanan merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan
masyarakat. Rasa aman adalah sebagai salah satu syarat tercapai kesejahteraan
bagi masyarakat. Sebagai suatu daerah yang paling banyak diminati oleh para
imigran, keamanan Sorowako mulai dipertanyakan oleh berbagai pihak.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti ditemukan beberapa fakta
mengenai status keamanan di Sorowako.
Menurut pemaparan beberapa responden yang telah diwawancarai
mengenai status keamanan di Sorowako. Mengemukakan bahwa walaupun
masyarakat di Sorowako telah berbaur dengan berbagai suku dan etnis yang
berasal dari penjuru dunia. Rasa aman tetap dirasakan oleh masyarakat
terutama penduduk asli Sorowako. Selain didukung oleh tingkat keamanan
yang tinggi dari pihak kepolisian, kesadaran dan kepedulian masyarakat
terhadap keamanan lingkungannya patut diapresiasikan. Seperti adanya pos
ronda di kompleks perumahan masing-masing.
Seperti yang dituturkan oleh Informan On yang mengungkapkan bahwa :
“ kalau masalah keamanan disini amanji, karena selama saya tinggal di
Sorowako tidak pernah ada tindak kejahatan seperti yang kita nonton biasa
di tv kayak di kota-kota pembunuhan, perampokan dan sebagainya. Karena
pendatang juga beretikat baik untuk mengikuti aturan yang ada di desa
kami. Ditambah ini area tambang jadi penjagaanya lebih ketat lagi dari pada
di daerah lain. Selain itu kesadaran masyarakat kalau ini daerah tambang,
jadi mereka lebih waspada (Wawancara 28 Februari 2012).
Berdasarkan penjelasan diatas tergambar status keamanan di Sorowako
sangat baik dan terjaga. Namun selanjutnya yang menjadi pertanyaan, apakah
masyarakat Sorowako khususnya penduduk asli Sorowako benar merasa aman.
Bila kita melihat berita-berita dan artikel yang ada di koran sering kali di
Sorowako terjadi konflik antara pihak perusahaan dengan karyawan, yang pada
dasarnya adalah penduduk asli Sorowako. Dengan cara melakukan demontrasi
kepada PT. INCO. Tbk.
Berikut aksi demonstrasi yang terjadi antara penduduk asli Sorowako
terhadap PT. INCO. Tbk :

Tahun 1980
Ketika Inco membangun PLTA Larona, 95 keluarga yang
bermukim di tepi Danau Matano meminta ganti rugi kepada PT. INCO.
Tbk yang diteruskan ke pengadilan Makassar. Masyarakat menuntut ganti
rugi tanah Rp. 750 juta. Masalahnya kemudian diselesaikan diluar
pengadilan,
Inco
bersedia
membayar
sejumlah
ganti
rugi
dan
memindahkan mesjid ke dataran yang lebih tinggi.

Tahun 1998
Pada kasus pembangunan PLTA Balambano, masyarakat menuntut
ganti rugi tanah dan PT. INCO. Tbk meminta warga untuk menuntut
melalui jalur pemerintah yang sudah dititipkan uang ganti rugi. Dan
meminta pemerintah memenuhi haknya yang diakui belum diterima.

Februari 1999
Masyarakat Sorowako berdemonstrasi mempermasalahankan ganti
rugi tanah dan janji-janji PT. INCO. Tbk yang belum ditepati, seperti:
pelayanan pendidikan, kesehatan, listrik dan air bersih. Padahal janji ini
sudah dilakukan semenjak tahun 1969 oleh seorang pinpinan PT. INCO.
Tbk yaitu Hitler Singawinata.

3 April 2000
Ratusan masyarakat asli Sorowako yang tergabung dalam
Kerukunan Wawainia Asli Soroako (KWAS), melakukan aksi unjuk rasa
di PT. INCO. Tbk Sorowako. Mereka memprotes perlakuan salah seorang
pengawas pertambangan (mining superintendent) PT. INCO. Tbk, yang
dinilai melecehkan masyarakat asli Sorowako.
Protes ini dipicu oleh kebijakan perusahaan yang memindahkan
salah seorang warga lokal yang baru diterima bekerja di PT. INCO. Tbk
dipindahkan ke bagian lain secara sepihak. Saat keberatan disampaikan
kepada pihak manajemen, pengawas pertambangan tadi malah berkeras
dan menyuruh warga tersebut keluar jika tidak bersedia menerima
penempatannya di bagian penghijauan. Ini merupakan pelecehan terhadap
masyarakat asli dan sekaligus menunjukkan sikap arogan perusahaan.

Oktober 2002
Masyarakat Karonsie Dongi melakukan pendudukan di areal
lapangan golf PT. INCO. Tbk yang merupakan tanah milik ulayat
masyarakat yang diambil perusahaan tanpa ganti rugi. Dalam waktu yang
berbeda-beda, aksi pendudukan ini ditanggapi perusahaan dengan surat
ancaman, pengusiran, pembakaran pondok, sampai penangkapan dengan
alasan masyarakat adat telah melakukan aktivitas di wilayah Kontrak
Karya milik perusahaan. masalah ini sulit untuk diselesaikan karena terjadi
perbedaan pendapat antara penduduk asli Sorowako yang mengatakan
bahwa masyarakat Karonsie Dongi tidak mempunyai hak atas tanah yang
dituntutnya tersebut.

6 Agustus 2004
Sekitar 50 masyarakat melakukan aksi protes terhadap proyek
Community Development PT Inco. Hal ini dikarenakan, pembangunan
pemukiman yang tidak sesuai dengan strandar pemukiman dan terkesan
pembangunannya asal-asalan. Misalnya; 1) Lokasi pemukiman berada
diatas lahan bekas penggusuran, 2) Tidak ada sarana jalan. 3) Pipa untuk
sarana air bersih, bukan pipa standar PDAM.
Masyarakat menuntut Inco memenuhi tiga hal, yakni:
1.
Pengaspalan Jalan.
2. Pemadatan lokasi pemukiman.
3.

Penggantian material bangunan dengan material yang standar.
28 Jan 2005
Sekitar 250 karyawan PT. INCO. Tbk yang masuk dalam daftar
PHK, bersama sanak keluarganya, mengadakan aksi blokir jalan di poros
Wasuponda dan Nuha, mulai pukul 06:00 Wita. Mereka menahan seluruh
kendaraan milik PT Inco, yang memuat material nikel dari SorowakoMalili, utamanya truk yang akan menuju ke pelabuhan Balantang.
Akibatnya, puluhan kontainer milik PT Inco yang memuat nikel dari arah
Sorowako, tertahan. Menariknya, kendaraan umum lainnya, termasuk
kendaraan pribadi yang melintas di lokasi demontrasi.
Pengunjuk rasa memprotes dan menuntut kepada direksi PT Inco
mencabut kebijakan PHK dan protes terhadap direksi PT. INCO. Tbk yang
melibatkan aparat kepolisian setempat, untuk menjemput para karyawan
yang di-PHK di tempat kerjanya, lalu dibawa ke rumah masing-masing.
(www.fajar.co.id/news.php?newsid=2504)

31 Maret 2005
Sekitar 500 pemuda yang tergabung dalam KWAS ( Kerukunan
Wawania Asli Sorowako), berunjuk rasa ke PT Inco. Mulai pukul 05:00
Wita, massa memenuhi lapangan golf milik PT. INCO. Tbk Mereka
mengadakan long march dari Kampung Sorowako menuju lapangan golf
Inco club. Massa menuntut kepada manajemen PT Inco untuk
mentransparankan
segala
bentuk
penerimaan
karyawan,
termasuk
penerimaan tenaga medis.Mereka menuntut agar PT. INCO. Tbk
memprioritaskan putera daerah setempat dalam setiap rekruitmen
karyawan, termasuk mitra kerja Inco yang membuka berbagai industri
kecil di Lutim. ( www.fajar.co.id/news.php?newsid=4250)

21 Juli 2005
Ratusan orang karyawan korban PHK melakukan aksi blokir
bandar udara (Bandara) milik PT. Inco di Soroako. Massa mendesak
Direksi PT. Inco untuk melakukan pertemuan dengan mereka. Sekitar satu
jam lebih di depan jalan masuk Bandara, para pengunjuk rasa melakukan
orasi dengan yel-yel, "Usir Phil Toulele di Bumi Sawerigading, " dan
kalau perlu pulangkan semua dalang PHK sepihak, "Karena menurut kami
PHK sepihak PT. Inco di arsiteki otak Fir’aun," tegas Ustadz H. Hizbulla,
salah satu korban PHK.

28 oktober 2010
Sejumlah orang yang tergabung dalam KWAS (kerukunan
Wawania Asli Sorowako) melakukan demonstrasi menuntut kepada
perusahaan untuk menagih janji perusahaan, yang mengatakan akan
menerima penduduk asli Sorowako sebagai karyawan pada rekruitmen
karyawan perusahaan dan kegiatan pelatihan yang diadakan oleh pihak PT.
INCO. Tbk.
Yang kemudian memicu terjadinya konflik antar suku yaitu
penduduk asli melawan suku Toraja. Dimana pada saat itu terjadi
kesalahpahaman antara massa demonstrasi dengan salah seorang warga
yang berasal dari suku Toraja. Kesalah pahaman berlanjut hingga diproses
melalui jalur hukum.
Konflik akhirnya terselesaikan dengan diadakannya musyawarah
antar tokoh suku masing-masing. Dan tuntutan demonstrasi mendapat
respon dan kesepakatan dari pihak PT. INCO. Tbk (Fajar, 29 oktober
2010).
Dari beberapa pristiwa demonstrasi yang dilakukan oleh penduduk
asli Sorowako kepada PT. INCO. Tbk yang dapat memicu konflik
tersebut, ternyata tidak membuat resah masyarakat khususnya penduduk
asli Sorowako. Hal tersebut dianggap sebagai hal yang wajar untuk
menuntut hak yang seharusnya mereka peroleh.
Seperti yang diutarakan oleh Informan Nt yang diwawancara di
rumahnya mengungkapkan bahwa :
“ Demostrasi yang dilakukan penduduk Sorowako, niatnya baik untuk
memperjuangkan hak mereka. Dan selama kami mengadakan demo
semuanya untuk masyarakat juga. Sperti penerimaan karyawan kami
menuntut agar perusahaan memberdayakan SDM daerah seperti janji
mereka dulu. Dan apapun yang terjadi kami pasti mengutamakan
kepentingan masyarakat juga. Dan yang perlu di ketahui kita melakukan
demo secara tertib dan ada surat izin dari pihak kepolisian. Jadi kalau kita
demo tidak merugikan masyarakat, hanya saja kalau demonstrasi kami tidak
ditanggapi hal yang kami lakukan memblokir jalan bagi petinggi
perusahaan. Nah kalau kemarin sempat terjadi konflik antar suku, itu hanya
kesalahpahaman dan adu domba saja. Dan sejauh ini masyarakat Sorowako
juga mendukung kami” (Wawancara 19 Februari 2012).
Selanjutnya dipertegas oleh Informan Rj yang merupakan seorang ibu
rumah tangga sekaligus wiraswasta, yang diwawancarai di tokonya
mengatakan bahwa :
“ Memang di Sorowako sering ada demo bahkan berlangsung berharihari dan sempat terjadi masalah. Tapi bagi kami kalau ditanya takut atau
resah, kayaknya tidakji juga karena hal kayak begini mungkin kami sudah
terbiasa dan memang untuk perjuangkan hak mereka. Dan selama
melakukan demo bagi saya, keluarga dan orang-orang yang saya kenal tidak
pernahji sampai merasa sangat terganggu kerana mereka tidak rugikan
kami juga” (Wawancara 4 Maret 2012).
Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh informan Nt dan informan
Rj, tergambarkan rasa aman dan nyaman yang dirasakan oleh masyarakat
khususnya penduduk asli Sorowako di tengah-tengah beragam tuntutan dan
aksi demonstrasi yang dilakukan oleh beberapa oknum yang tergabung dalam
Kerukunan Wawania Asli Sorowako (KWAS) beberapa tahun ini.
Rasa aman yang dirasakan oleh masyarakat Sorowako, merupakan salah
satu bukti tingginya tingkat keamanan yang dilakukan oleh pihak yang
berwajib. Serta tingginya kesadaran dan kepedulian masyarakat atas
pentingnya keamanan dalam kehidupan sosialnya. Bila berkunjung ke
Sorowako dapat ditemui pos keamanan di sepanjang jalan dan di kompleks
perumahan. Pemeriksaan yang dilakukan juga sangat ketat dengan alat-alat
yang canggih. Seperti pemeriksaan Kartu Tanda penduduk (KTP), Id Card,
STNK kendaraan, CT kendaraan, pemeriksaan isi kendaraan, surat pengantar
bila membawa barang daerah daerah lain, alat pendeteksi benda tajam,
pendeteksi bom, dan camera sisi tv yang dipasang di setiap pos/point center.
Menjadikan Sorowako daerah yang memiliki tingkat keamanan yang tinggi.
2. Kehidupan ekonomi penduduk asli pasca konversi lahan oleh PT.
INCO. Tbk di Sorowako
Ekonomi merupakan aspek utama untuk memenuhi kesejahteraan
seseorang. Banyak orang yang berpindah dari suatu daerah ke daerah lain
untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Berdasarkan sejarah terbentuknya
desa Sorowako dan proses terjadinya konversi lahan di Sorowako, diketahui
bahwa Sorowako merupakan daerah yang memiliki perekonomian yang
rendah. Dikarena kurangnya pontensi alam dibidang pertanian dan
perkebunan yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk Sorowako. Sehingga
penduduk setempat tidak memiliki penghasilan tetap dan kegiatan
perekonomian yang baik. Walaupun pada dasarnya Sorowako memiliki
sumber daya alam yang melimpah. Yaitu kandungan besi dan nickel yang
terdapat di tanah Sorowako. Namun pada saat itu tidak dapat dikelolah karena
keterbatasan kemampuan, alat, modal, dan sumber daya manusianya.
Hingga kedatangan ahli geologi yang melakulan penelitian dan
mendirikan perusahaan tambang di Sorowako. Sejak didirikannya sebuah
perusahaan tambang yaitu PT. INCO. Tbk di Sorowako. Membawa pengaruh
yang sangat besar terhadap perekonomian masyarakat khususnya penduduk
asli Sorowako. Berdasarkan data yang diperoleh dari pihak yang
bersangkutan diketahui bahwa perusahaan tambang ini telah memberikan
pemasukan kepada kas pemerintah berdasarkan Kontrak Karya I, royalti yang
diterima pemerintah Indonesia hanya sebesar 0,015% dari harga setiap
kilogram nikel. Sewa lahan tambang setiap tahunnya hanya sebesar 1 US
dollar per hektar per tahun. Dalam Kontrak Karya II, sewa lahan tambang
dinaikkan menjadi 1,5 US dollar per hektar per tahun, namun royalti sama
sekali tidak berubah.
Selain pendapatan yang diperoleh pemerintah Indonesia dari hasil
penambangan dan sewa tanah yang telah dijelaskan sebelumnya PT. INCO.
Tbk juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat walaupun hanya
sebagian penduduk asli Sorowako yang berkerja di perusahaan tambang
tersebut.
PT. INCO. Tbk mengubah desa yang dulunya sulit dilalui oleh
kendaraan menjadi sebuah desa yang memiliki fasilitas lengkap, seperti
fasilitas transportasi, komunikasi, wisata, kesehatan, dan pendidikan. Tatanan
bangunan, jalanan dan infastruktur yang rapi dan indah. Sehingga Sorowako
menjadi daerah yang banyak diminati oleh wisatawan dan orang yang ingin
mencari pekerjaan. Namun yang perlu disadari bahwa dengan berdirinya
sebuah perusahaan tambang asing di desa Sorowako akan mengakibatkan
perubahan dalam pola hidup masyarakat baik dalam kehidupan sosial maupun
dalam kehidupan ekonomi.
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan dilokasi penelitian,
tergambar kondisi ekonomi masyarakat khususnya penduduk asli Sorowako
yang mengalami perubahan dan peningkatan pasca hadirnya PT. INCO. Tbk.
Diantaranya sebagai berikut :
1. Pendapatan kas negara
2. Pembagunan daerah
3. Lapangan kerja yang luas
4. Pendapatan ekonomi
5. Pengembangan SDM dan SDA
6. Peningkatan taraf kehidupan
Hadirnya PT. INCO. Tbk di Sorowako menjadi faktor utama
terbukanya lapangan kerja lain seperti lapangan kerja di perusahaan
kontraktor, wiraswasta, dan sebagainya. Berbagai imigran dari luar daerah
dan luar negeri datang berkerja dan tinggal di Sorowako. Sehingga
permintaan kebutuhan sandang, papan dan pangan semakin meningkat.
Berdasarkan perjanjian yang telah disepakati antara pihak perusahaan
dengan tokoh masyrakat penduduk asli Sorowako. Perusahaan berjanji selain
membangun dan mengekspolitasi lahan Sorowako akan membuka lapangan
kerja sebesar-besarnya bagi penduduk asli Sorowako baik dalam bidang
industri tambang, kontraktor, dan wiraswasta. Serta mengedepankan
kemajuan ekonomi penduduk asli Sorowako.
Seperti yang diutarakan oleh Informan RT yang merupakan
karyawan PT. INCO. Tbk divisi Community Development. Mengemukakan
bahwa :
“ Pihak perusahaan membuka lapangan pekerjaan kepada seluruh
masyarakat Sorowako terutama penduduk asli Sorowako untuk berkerja di
perusahaan tapi sesuai dengan standar karekteria dari perusahaan dan
memberikan berbagai bantuan dana kepada masyarakat Sorowako yang
mengajukan proposal untuk berwirausaha, kegiatan untuk masyarakat dan
membangun sarana dan prasarana Sorowako. Tugas kami di divisi Condev
ini ialah melayani masyarakat dalam bantuan dana. Dan ada perlakuan
khusus bagi penduduk asli Sorowako tetapi harus mempunyai bukti seperti
pengantar dari KWAS (kerukunana wawania asli Sorowako)” (Wawancara
20 Maret 2012).
Berdasarkan hasil wawancara pada 2 informan dari pihak perusahaan PT.
INCO. Tbk mengenai peran perusahaan dalam meningkatkan perekonomian
penduduk asli. Diketahui ada beberapa tunjagan atau fasilitas yang diberikan
kepada penduduk asli Sorowako, diantaranya sebagai berikut :
1. Jaminan Kesehatan
2. Jaminan listrik dan air gratis
3. Jaminan untuk mengenyam pendidikan di yayasan sekolah PT. INCO.
Tbk mulai dari Tk, Sd, Smp, Sma dan perguruan tinggi (ATS).
4. Mendapatkan jatah dari pengrekrutan tenaga kerja baik untuk
perusahaan maupun pelatihan tenaga kerja industri. Sesuai dengan
kesepakatan bersama sebelumnya.
5. Mendapatkan jatah lahan tempat tinggal didaerah perumahan yang
baru dibuat oleh PT. INCO. Tbk yaitu Sumasang.
6. Mendapatkan dana bantuan dari perusahaan untuk pembangunan
fasilitas untuk kepentingan umum melalui proposal yang diajukan
kepada perusahaan.
7. Bantuan dana kepada masyarakat Sorowako khususnya penduduk asli
yang ingin mengembangkan usahanya dalam sektor wirausaha dengan
memanfaatkan sumber daya alam yang ada di Sorowako.
Selanjutnya yang menjadi pertanyaan besar bagi peneliti adalah apakah
berbagai program pemberdayaan yang dirancang oleh pihak perusahaan PT.
INCO. Tbk telah terealisasi dengan baik kepada penduduk asli Sorowako.
Berdasarkan
informasi
dari
9
informan
yang
telah
dipilih,
mengemukakan bahwa berbagai program tersebut telah diperoleh penduduk
asli sebagai haknya seperti kesehatan gratis di rumah sakit INCO,
mendapatkan listrik dan air gratis, mendapatkan pelayanan pendidikan yang
baik mulai dari tingkat SD samapi dengan perguruan tinggi, dan mendapatkan
dana dari perusahaan untuk mengadakan acara rakyat dan bantuan dana
kewirausahaan. Namun menurut para informan ada 2 (dua) program
pemberdayaan yang belum terealisasi dengan baik. Yaitu penerimaan jatah
tenaga kerja daerah pemberdayaan dan pembagian lahan tempat tinggal di
daerah Sumasang, yang sampai saat ini masih sering menjadi masalah antara
penduduk asli Sorowako dengan pihak perusahaan PT. INCO. Tbk.
Dari berbagai program pemberdayaan yang dirancang oleh PT. INCO.
Tbk untuk penduduk asli Sorowako. Bantuan dana kepada masyarakat
Sorowako khususnya penduduk asli yang ingin mengembangkan usaha pada
sektor wirausaha dengan mengembangkan sumber daya alam yang ada di
Sorowako merupakan suatu program sekaligus solusi dalam upaya
menciptakan sumber daya manusia yang mandiri, kompetitif, dan bermutu.
Dari hasil penelitian di Sorowako terdapat beberapa sektor informal
yang dikembangkan oleh penduduk asli Sorowako dengan memanfaatkan
sumber daya alam yang ada. Yang kemudian menjadi binaan Community
Development PT. INCO. Tbk. Diantaranya ialah :
1. SGC (Sorowako Green Community), usaha yang berkembang
dalam bidang suvenir. Mengubah sampah menjadi berbagai bentuk
hiasan seperti kapal, kuda, lukisan timbul dan berbagai miniature
2. Kotinro dan Konde Manu yaitu sektor peternakan unggas,
memperoduksi ternak dan telur yang berkualitas.
3. Kelompok Tani Bintang Kilat, menghasilkan ikan bandeng super.
4. Unit usaha rotan Polish, kreasi kaki lima kualitas ekspor. Begitulah
kata oarng-orang mengenai hasil dari kerajinan usaha ini.
5. Sari Laos, yaitu Kripik pisang dan talas dengan berbagai rasa dan
variasi.
6. Sirup Degen, merupakan sari dengen dari buah cirri khas Sorowako
7. Pengrajin kayu, membuat berbagai fasilitas kayu seperti kursi,
lemari, pintu, jendela, lemari dan lain-lain (Kilas Condev edisi
januari 2012).
Seperti yang diungkapkan oleh Informan YP, yang mengungkapkan
bahwa :
“ Saya selaku Kepala Desa di Desa Nickel melihat dari data yang
masuk sebagai arsip pemerintah. Banyak usaha-usaha informal yang
mendapat bantuan dana dari PT. INCO. Tbk dan usaha itu berkembang
karena dijasikan sebagai icon atau symbol dari Sorowako. dan banyak
kegiatan-kegiatan masyarakat yang di bantu oleh PT. INCO. Tbk dan
anggaran untuk pembangunan fasilitas umum” (Wawancara 25 Februari
2012 ).
Bentuk bantuan terhadap pengembangan industri kecil ini yang akan
memberikan dampak positif yang sangat besar bagi kualitas sumber daya
manusia yang ada di Sorowako.
Dengan berbagai perkembangan pola hidup, pengembangan daerah
hingga pengembangan sumber daya manusia di Sorowako ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan, yaitu perubahan yang terjadi kepada penduduk asli
Sorowako pasca konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk. Dimana sebelum
hadirnya PT. INCO. Tbk di Sorowako. Ekonomi penduduk dapat
digolongkan ekonomi rendah, karena tidak adanya pencaharian dan
penghasilan tetap.
Seperti yang diutarakan oleh Informan Mh yang diwawancarai
dirumahnya mengatakan bahwa :
“ Inco membawa banyak perubahan bagi Sorowako terutama dalam
perekonomian. Kalau dulu bisa dikatakan wilayah mati. Karena tidak ada
kegiatan untuk menghasilkan uang, selain itu akses untuk keluar masuk ke
Sorowako sangat susah. Harus menempuh 5 gunung melalui darat untuk
sampai di kabupaten malili selama 2 hari 1 malam dan melalui jalur air
selama 1 hari. Jadi kita hidup dengan seadanyanya saja. Makan dari hasil
kebun di desa seberang nuha atau matano, kalau untuk belanja kita harus
pergi ke Malili dulu. Semenjak ada Inco di Sorowako meningkat
pendapatannya masyarakat selain banyak yang jadi karyawan dan banyak
juga yang berwiraswasta” (Wawancara 20 Februari 2012)
Berbagai lapangan kerja sekarang terbuka luas di Sorowako, jadi tidak
heran jika Sorowako menjadi daerah tujuan para imigran untuk mengadu
nasib mencari pekerjaan. Banyaknya tenaga kerja yang datang ke Sorowako
dengan berbagai kebutuhan hidup yang ingin dipenuhi membuat penduduk
asli Sorowako yang tidak dapat berkerja di PT. INCO. Tbk bersaing untuk
membuka usaha untuk menyiapkan berbagai kebutuhan masyarakat. Seperti
membuka usaha rumah makan dengan berbagai ciri khas, Toko Campuran,
Pasar Tradisional, Toko Internasional, Café, Hotel, Penginapan, Rumah
Karaoke, Club/pub, Studio Musik, Angkutan umum Bus, Panter, Travel, dan
sebagainya.
Seperti yang diungkapkan oleh Informan Km yang mengungkapkan
bahwa :
“ Karena banyaknya penduduk di Sorowako jadi semakin banyak juga
kebutuhannya. Sehingga masyarakat berlomba-lomba untuk mendapatkan
keuntungan dari situasi yang ada. Apalagi didukung oleh faktor desakan
ekonomi dan kondisi Sorowako sekarang. Biasanya yang berwirausaha itu
yang tidak kerja di perusahaan. contohnya saja di Sorowako makanan apa
yang tidak ada dijual semuanya lengkap dari nasi Padang, coto Makassar,
Pempek Palembang, Rujak cingur, Mie Titi, SariLaut, Terang bulan
Bangka, Roti bakar Bandung, dan masih banyak lagi” (Wawancara 20
Maret 2012).
Meningkatnya kegiatan ekonomi di Sorowako, secara tidak langsung
telah mengubah pola hidup penduduk asli. Dimana dulu penduduk asli
Sorowako hidup dengan pola sederhana kini berubah menjadi masyarakat
yang komsuntif. Terlihat dari permintaan kebutuhan yang meningkat dan
biaya hidup yang tinggi. Serta pola hidup yang terlihat sangat berbeda dengan
cerita pola hidup penduduk sebelumnya.
Seperti
halnya
yang
diungkapkan
oleh
Informan
YP
yang
mengungkapkan bahwa :
“ Sekarang pola hidupnya masyarakat berbeda dengan yang dulu,
dulunya makanan biasa saja dimakan apa di masak itu dimakan kalau
sekarang biar tidak masak banyak makanan dijual. Contohnya juga dulu
kita berpakaian bagus kalau ada acara sekarang tiap hari biar dirumah saja
bergaya semuami orang apalagi kalau ke pesta, kayak dia yang mau
pengantin. Kehidupan sederhana yang dulu tidak banyak tuntutan nah
sekarang tinggi perekonomian tambah banyak tuntutan hidup. Jadi susah
sekali kalau mau disamakan dulu dengan sekarang masing-masing punya
kelebihan dan kekurangan (Wawancara 25 Februari 2012).
Hadirnya berbagai usaha-usaha kecil, menengah hingga keatas yang
menyiapkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Sorowako
secara keseluruhan memperlihatkan sifat masyarakat Sorowako yang
komsumtif serta mulai berbaur dengan kapitalisme yang semakin berkembang
di Sorowako.
Maka hal ini menjelaskan terjadinya sebuah perubahan seperti yang
dikemukakan oleh seorang ahli sosiolog Karl Marx sebelumnya yang
berpandagan bahwa ekonomi merupakan faktor terjadinya perubahan pola
kehidupan masyrakat. Yaitu dari masyarakat yang komunal perimitif menjadi
masyarakat yang kapitalis. Seperti yang terjadi pada pola kehidupan penduduk
asli Sorowako yang awalnya memiliki pola hidup sederhana sekarang berubah
menjadi masyarakat yang komsuntif menuju kapitalisme.
Perubahan pola kehidupan yang terjadi dalam masyarakat Sorowako
merupakan dampak dari hadirnya perusahaan tambang PT. INCO.Tbk di
Sorowako. Yang pada dasarnya menerapkan kapitalisme dalam sistem kerja
dalam perusahaan tambang tersebut.
Yang kemudian mempengaruhi
masyarakat Sorowako. Terlihat dari terciptanya kaum ploretar dan kaum
borjuis serta prilaku komsuntif yang mulai menguasai masyarakat Sorowako.
Seperti yang diyakini oleh Marxisme, bahwa masalah-masalah atau
perubahan pola hidup masyarakat terjadi karena kaum borjuis. Borjuis telah
menghapus silahturahmi antar individu, dan nilai-nilai budaya dan sosial di
masyarakat dengan mengantinya dengan hubungan materi dan uang semata.
Dimana orang-orang yang berkerja untuk memenuhi kebutuhannya tidak akan
terpenuhi tanpa bantuan pemilik modal. Situasi ini akan menciptakan
penghisapan antara mereka yang diperkerjakan. Sehingga masyarakat akan
semakin tergantung dengan pola hidup komsumtif.
BAB VI
PENUTUP
A. SIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di desa Sorowako mengenai
kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli pasca konversi lahan oleh PT.
INCO. Tbk. Studi kasus Desa Sorowako Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu
Timur Provinsi Sulawesi Selatan. Maka pada bab ini penulis dapat
menyimpulkan bahwa :
1. Proses konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk di Sorowako
Awal terjadinya konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk di Sorowako
sebagai berikut :
a. Tahun 1937 berawal dari kunjungan Flat Elves seorang ahli geologi
(geologist) berkebangsaan Jerman yang ditugaskan oleh Inco Limited
yang berpusat di Canada.
b. Tahun 1968, eksplorasi dan studi kelayakan mulai dilakukan. Dan
resmi didirikan sebuah perusahaan tambang di Sorowako yang
bernama PT. INCO. Tbk sebagai anak perusahaan Vale Inco Limited
c. Tahun 1968 perusahaan menandatangani kontrak dengan pemerintah
Indonesia yang telah menyetujui hak pertambangan di Sulawesi
Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara khususnya
Sorowako selama 30 tahun. Berlaku sejak produksi komersial pertama
pada tanggal 1 April 1968 sampai dengan 31 Maret 2008. Dengan luas
aera konsesi awal perusahaan sebesar 118,387 hektar.
d. Pada tahun 1970, setelah melakukan eksplorasi pertama kalinya
sampel sebanyak 50 ton dikirim ke pusat penelitian Vale Inco Limited
di Port Colborne Ontario.
e. Pada tahun 1973 perusahaan mulai membangun sara dan prasarana
penambangan, pabrik pengelolahan, akses jalan, dan infastruktur yang
di perlukan di Sorowako. dan membuka lapangan kerja 10.000
lowogan pekerjaan untuk pekerja Indonesia dan 1.000 lowogan
pekerjaan untuk pekerja luar negeri.
f. Selanjutnya pada tanggal 15 Januari 1996, perusahaan melakukan
perpanjagan Kontrak Karya tahun 1968 hingga 2025. Penjelasan
diatas merupakan proses terjadinya konversi lahan pertama kali oleh
pihak PT. INCO. Tbk di Sorowako yang telah melalui berbagai tahap
dan proses.
2. Kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli Sorowako pasca
konversi lahan oleh PT. INCO. Tbk di Sorowako
i.
Kehidupan Sosial
Setelah konversi lahan yang dilakukan oleh PT. INCO. Tbk di
Sorowako tentunya banyak membawa pengaruh terhadap kehidupan
sosial penduduk asli Desa Sorowako. Diantaranya sebagai berikut :
1. Interaksi sosial penduduk asli Sorowako yang kini mulai kurang
karena kesibukan kerja masing-masing. Dan terlihat sangat berbeda
dengan iteraksi sosial penduduk sebelum konversi lahan
2. Stra/status sosial yang mulai tinggi pasca konversi lahan. Bersaing
untuk mendapatkan status sosial dimasyarakat, sehingga terkadang
berakhir dengan konflik sosial.
3. Eksistensi adat istiadat dan tradisi yang tetap terjaga dengan baik
pasca konversi lahan
4. Keamanan, dalam segi keamanan Sorowako merupakan daerah
yang memiliki keamanan yang tinggi karena adanya sebuah
perusahaan tambang.
ii.
Kehidupan Ekonomi
Pasca konversi lahan PT. INCO. Tbk pengaruh atau perubahan
yang dialami penduduk asli Sorowako dalam kehidupan ekonominya
ialah :
1. Pengembangan SDM dan SDA penduduk asli Sorowako
2. Pembangunan daerah yang membawa pengaruh positif untuk
penduduk asli Sorowako
3. Berbagai fasilitas yang didapatkan penduduk asli Sorowako guna
meningkatkan kesejahteraan hidup dari PT. INCO. Tbk
4. Luasnya lapangan kerja sehingga penduduk asli Sorowako memiliki
mata pencaharian yang tetap.
5. Meningkatnya taraf kehidupan penduduk asli, khususnya dalam
bidang materi seperti pemilikan harta benda
6. Meningkatnya status sosial penduduk asli Sorowako di masyarakat.
B. SARAN
Adapun saran-saran yang dapat penulis kemukakan sehubungan dengan
kehidupan sosial dan ekonomi penduduk asli pasca konversi lahan oleh PT.
INCO. Tbk di Sorowako ialah sebagai saran dan harapan penulis :
1. Kepada pemerintah Luwu Timur, PT. INCO. Tbk, dan Masyarakat
Sorowako. Penulis berharap agar semua pihak dapat memperhatiakan dan
menjaga kelestarian alam. Kita sebagai manusia telah diberikan anugrah
kelimpahan alam selain dimanfaatkan juga harus dirawat dan dipelihara
dengan baik. Karena bila alam rusak yang menerima dampaknya adalah
manusia itu sendiri.
2. Kepada PT. INCO. Tbk agar terus konsisten dengan perjanjian yang telah
disepakati bersama dengan penduduk asli Sorowako selaku pemilik atau
keturunan pemilik lahan yang dikonversi.dan terus mengembangkan
sumber daya manusia yang ada sehingga menjadi SDM yang berkualitas.
3. Terakhir, penulis berharap agar konflik dan masalah yang terjadi di
Sorowako dapat terselesaikan dengan baik. Serta masyarakatnya hidup
sejahtera.
DAFTAR PUSTAKA
Andrian, Charles F, 1992, Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial, Yogyakarta,
Tiara Wacana. Hlm. 34
Franz Magnis-Suseno. 1999, Pemikiran Karl Marx, PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta
Jones, Pip. 2003, Intoducing Social Theory, Yayasan pustaka Obor Indonesia,
Jakarta.
Johnson, Paul D. 1994. Teori Sosiologi: Klasik dan Modern, Jilid I dan II. (Terj.
Robert M.Z. Lawang), Gramedia, Jakarta.
Kilas Community Development PT. INCO. Tbk. Edisi Januari 2012.
Kilas Sorowako. Edisi January 2012.
Martua Sihaloho. 2004. Konversi Lahan pertanian dan Perubahan Struktur Agraria
(Kasus di Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor,
Jawa Barat). Tesis. .Sekolah Pasca Sarjana IPB.
PT. INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA Tbk. Anual Report 2007.
PT. INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA Tbk. Anual Report 2010.
Ritzer, George. Goodman, Douglas J, 2008, Teori Sosiologi Modern, Kencana,
Jakarta.
Satori, M.A., Prof. Dr. Djam’an, dan Komariah, M. Pd., Dr. Aan, 2010, Metode
Penelitian Kualitatif, Alfabeta, Bandung.
Sugiyono, Prof. Dr. 2007, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D,
Alfabeta, Bandung.
Sztompka Piotr.2008.Sosiologi Perubahan Sosial.Prenada, Jakarta.
Susanto, Astrid, 1985, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, Bina Cipta,
Bandung. Hlm. 28
Soekanto, Soerjono, 1987, Sosiologi Suatu Pengantar, Rajawali Press, Jakarta.
Soelaeman. Dr. M. Munandar. 2008, Ilmu Sosial Dasar, PT Refika Aditama,
Bandung.
Utomo, M., Eddy Rifai dan Abdulmutalib Thahir. 1992. Pembangunan dan Alih
Fungsi Lahan. Lampung: Universitas Lampung.
Wulansari, MM,SE.,MH.,SH.,.Prof. Dr. C Dewi.2009, Sosiologi (Konsep &
Teori), PT Refika Aditama, Bandung.
http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_ekonomi
http://www.babejoko.web.id/2011/08/09/tiga-masalah-pokok-perekonomian.php
RIWAYAT HIDUP PENULIS
Nama
: Julianti
Tempat/Tanggal Lahir
: Wawondula 10 Juli 1990
Asal Daerah
:
Sorowako Luwu Timur
Suku
:
Sumatera Barat / Soppeng
Agama
:
Islam
Hobi
:
Olahraga, nonton, wisata kuliner
Tokoh Sosiologi
:
Karl Marx
Riwayat Pendidikan
:
- Tk Al-Ikhwan Sorowako
-
SDN 329 Nickel Sorowako
-
SMP Yapman Sorowako
-
SMK Budi Utomo Sorowako
-
Universitas Hasanuddin Makassar
Riwayat organisasi selama menjadi Mahasiswa :
-
Kemasos (keluarga mahasiswa Sosiologi )
-
Unit Kegiatan Mahasiswa Volley Ball
-
Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Tari
Download