program studi ners fakultas keperawatan dan kebidanan universitas

advertisement
SKRIPSI
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT
KECEMASAN PADA PASIEN KANKER DALAM
MENJALANI KEMOTERAPI DI RSU
DR. PIRNGADI KOTA MEDAN
TAHUN 2015
Oleh
MASDIA JAPIT SYAH PUTRA
11 02 024
PROGRAM STUDI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
TAHUN 2015
SKRIPSI
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT
KECEMASAN PADA PASIEN KANKER DALAM
MENJALANI KEMOTERAPI DI RSU
DR. PIRNGADI KOTA MEDAN
TAHUN 2015
Skripsi ini diajukan sebagai syarat memperoleh gelar sarjana
Keperawatan (S.Kep) di Program Studi Ners Fakultas Keperawatan & Kebidanan
Universitas Sari Mutiara Indonesia Medan
Oleh
MASDIA JAPIT SYAH PUTRA
11 02 024
PROGRAM STUDI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
TAHUN 2015
PERNYATAAN
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT
KECEMASAN PASIEN KANKER DALAM MENJALANI
KEMOTERAPI DI RSUD DR. PIRNGADI
KOTA MEDAN TAHUN 2015
SKRIPSI
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya tulis saya sendiri dan
belum pernah di ajukan orang lain untuk memperoleh gelar kesarjanaan di
Universitas Sari Mutiara Indonesia Medan dan sepanjang pengetahuan saya juga
tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis dan diterbitkan oleh orang
lain, kecuali yang tertulis yang dicantumkan dalam naskah ini dan disebutkan
dalam daftar pustaka.
Medan, 11 Juli 2015
Peneliti,
(Masdia Japit Syah Putra)
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I.
IDENTITAS
Nama Lengkap
: MASDIA JAPIT SYAH PUTRA
Jenis Kelamin
: Laki - laki
Tempat, tanggal lahir
: Kuta cane, 06 juni 1993
Kewarganegaraan
: Indonesia
Agama
: Islam
Ayah
: Alm. JAMIDAN S.pd
Ibu
: FITRIANI
Alamat
: Jl. Ngalengko Lr. Toba No.5 Medan
No.Telp/Hp
: 082165650366
Email
: [email protected]
II. RIWAYAT PENDIDIKAN
1. Tahun 1999-2005
: SD Negeri Impres
2. Tahun 2005-2008
: SMP Negeri Percontohan.
3. Tahun 2006-2011
: SMA Negeri Perisai.
4. Tahun 2011-2015
: Sedang mengikuti pendidikan S1keperatan
di Program Studi NersFakultas Ilmu
Keperatan & Kebidanan Universitas Sari
Mutiara Indonesia medan
i
PROGRAM STUDI NERS
FAKULTAS KEPERATAN & KEBIDANAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA MEDAN
Skripsi, Juli 2015
Masdia Japit Syah Putra
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasa Pasien Kanker
Dalam Menjalani Kemoterapi di RSUD DR.Pirngadi Kota Medan.
xii + 61 hal + 5 tabel + 2 skema + 10 lampiran
ABSTRAK
Kanker merupakan pertumbuhan sel abnormal yang dwasebabkan oleh adanya mutasi gen di
dalam tubuh manusia yang dapat berubah menjadi keganasan. Salah satu terapi yang digunakan
dalam menekan pertumbuhan sel kanker adalah Kemoterapi. Kemoterapi bertujuan menghambat
pertumbuhan sel yang abnormal dan tidak jarang juga merusak sel yang normal. Salah satu
dampak kemoterapi adalah timbulnya kecemasan akibat efek samping yang ditimbulkan dari
Kemoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan
tingkat kecemasan pasien kanker dalam menjalani kemoterapi di RSUD DR.Pirngadi Kota
Medan. Jenis penelitian adalah analitik korelatif dengan rancangan cross sectional. Jumlah
populasi sebanyak 143 dan jumlah Sampel penelitian sebanyak 59 responden dengan teknik
pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Alat pengumpulan data dalam penelitian
ini menggunakan kuesioner Zung Self Rating Scale (ZSAS). Hasil penelitian mayoritas dukungan
keluarga adalah baik sebanyak 27 responden (45,8%) dengan tingkat kecemasan mayoritas ringan
sebanyak 26 responden (44,1%), hasil uji statistik menggunakan uji Spearmen, menunjukkan ada
hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien kanker yang menjalani
kemoterapi p-value 0,002 r=0,389. Sehingga diwasarankan kepada keluarga agar memberikan
dukungan kepada pasien kanker terutama saat menjalani kemoterapi sehingga dapat meningkatkan
kualitas hidup pasien kanker dan kepada petugas kesehatan agar meningkatkan pelayanan kepada
penderita kanker dengan memperhatikan kebutuhan bio-psiko-sosio dan spiritual melalui
pendidikan kesehatan dan konseling kepada penderita maupun keluarga.
Kata Kunci
: Dukungan Keluarga, Tingkat kecemasan, Kemoterapi
Daftar Fustaka : 28 (2007-2014)
ii
PROGRAM OF NURSING
FACULTY OF NURSING AND MIDWIFERY
SARI MUTIARA INDONESIA UNIVERSITY OF MEDAN
Scription, July 2015
Masdia Japit Syah Putra
The Correlation between the family support and anxiety level of The patient
with cancer who undergoing chemotherapy at General Hospital Doctor
Pirngadi Medan
x + 61 page + 5 table + 2 schema + 10 attachment
ABSTRACT
Cancer was abnormal growth of cell caused by mutation of gen in the human body to be malignant
cell. One of therapy applied in minimize the growth of cancer cell was chemotherapy.
Chemotherapy aims to minimize the abnormal growth of celland also damage the normal cell. One
of impact of chemotherapy was anxiety as aside effect of chemotherapy. This reseach aims to study
a correlation between the family support ang the anxiety level of patient with cancer who
undergoing the chemotherapy at General Hospital Doctor Pirngadi Medan. This research was a
analitic correlative with cross sectional desaign. The populations were 143 respondents. The
sample in this reseach were 59 respondents with the accidental sampling. The data was collected
by using Zung Self Rating Scale (XZAS) questionnaire. The results of research indicates that more
of family support was good for 27 respondens (45.8%), with the anxiety level was mild for 26
respondens (44.1%), the result of statistical test using spearmen test, indicates there was a
correlation of family support with the anxiety level to the patient cancer who undergoing
chemotherapy P-value 0,002 r=0,389. Therefore, it was suggested to the family to provide the
patient with cancer with support specially when take chemotherapy to up their life level quality of
patient with cancer and the health officer to increase the service to the patient with cancer to give
attention to the biological-psychologic-sosiologic and spritual need through health education and
counseling to the patient although the patient’s family.
Keywords : Family Support, level of anxiety, chemotherapy
Refference : 28 (2007-2014)
iii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan kesehatan kepada penulis, dan atas berkat rahmat dan karunianya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Hubungan
Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Kanker Dalam
Menjalani Kemoterapi di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan Tahun 2015.
Penyelesaian skripsi ini merupakan salah satu persyaratan dalam menyelesaikan
pendidikan pada Program Studi Ners Fakultas Keperawatan Dan Kebidanan
Universitas Sari Mutiara Indonesia Medan Tahun 2015. Selama proses
penyusunan skripsi penelitian ini, begitu banyak bantuan, nasehat dan bimbingan
yang penulis terima demi kelancaran penulisan skripsi ini. Dengan segala
kerendahan hati, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih
kepada:
1. Bapak Parlindungan Purba, SH, MM, selaku Ketua Yayasan Sari Mutiara
Indonesia Medan.
2. Dr. Ivan Elisabeth Purba, M.Kes, selaku Rektor Universitas Sari Mutiara
Indonesia Medan.
3. Ns. Janno Sinaga, M.Kep, Sp.KMB, selaku Dekan Fakultas Keperawatan
Dan Kebidanan.
4. Ns. Rinco Siregar, S.Kep, MNS, selaku Ketua Program Studi Ners
Fakultas Keperawatan Dan Kebidanan.
5. Ns. Marthalena Simamora, M.Kep, selaku Ketua Penguji yang telah
meluangkan waktu serta pikiran untuk memberikan bimbingan, arahan dan
saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Ns. Amila, M.Kep, Sp.KMB, selaku Penguji I yang telah meluangkan
waktu untuk menguji dan memberi saran, masukan demi kelengkapan
skripsi.
iv
7. Ns. Normi Sipayung, M.Kep, selaku Penguji II yang telah meluangkan
waktu untuk menguji dan memberi saran, masukan demi kelengkapan
skripsi.
8. Ns. Laura Mariati Siregar, M.Kep, selaku pembimbing III yang telah
meluangkan waktu serta pikiran untuk memberikan bimbingan, arahan dan
saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Dr. H. Amran Lubis, Sp. JP selaku derektur RSUD DR.Pirngadi Kota
Medan serta staf bagian penelitian dan diklat yang telah banyak
memberikan izin dalam pengambilan data.
10. Para dosen dan staf di lingkungan Program Studi Ners Fakultas
Keperawatan Dan Kebidanan Universitas Sari Mutiara Indonesia Medan.
11. Keluarga penulis terutama almarhum ayah dan ibu saya tercinta yang telah
memberikan dukungan doa, semangat, material maupun moril.
12. Teman-teman serta semua pihak yang telah banyak membantu yang tidak
dapat penulis sebutkan satu persatu.
Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak khususnya profesi
keperawatan.
Diharapkan
skripsi
ini
memberikan
kotribusi
bagi
pengembangan keperatan kritis. Akhir kata peneliti mengucapkan terimakasi.
Medan,
11 Juli 2015
Penulis
(Masdia Japit Syah putra)
v
DAFTAR ISI
Hal
DAFTAR RIWAYAT HIDUP .........................................................................
ABSTRAK .........................................................................................................
ABSTRACT ........................................................................................................
KATA PENGANTAR .......................................................................................
DAFTAR ISI ......................................................................................................
DAFTAR TABEL .............................................................................................
DAFTAR SKEMA ............................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .....................................................................................
i
ii
iii
iv
vi
ix
x
xi
BAB I
PENDAHULUAN .............................................................................
A. Latar Belakang.............................................................................
B. Perumusan Masalah .....................................................................
C. Tujuan Penelitian .........................................................................
1. Tujuan Umum .........................................................................
2. Tujuan Khusus ........................................................................
D. Manfaat Penelitian .......................................................................
1. Bagi pasien..............................................................................
2. Bagi keluarga ..........................................................................
3. Bagi perawat pelaksana ..........................................................
4. Bagi peneliti selanjutnya .........................................................
1
1
6
6
6
6
6
6
6
7
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................
A. Kanker ..........................................................................................
1. Pengertian ...............................................................................
2. Etiologi kanker .......................................................................
3. Klasifikasi Kanker ..................................................................
4. Faktor resiko / penyebab kanker .............................................
5. Patogenesis Terjadinya Penyakit Kanker ...............................
6. Gejala kanker ..........................................................................
7. Tahap dan Derajat atau Stadium Kanker ................................
B. Kemoterapi ...................................................................................
1. Pengertian ...............................................................................
2. Tujuan kemoterapi ..................................................................
3. Klasifikasi kemoterapi ............................................................
4. Persiapan dan syarat kemoterapi ............................................
5. Obat kemoterapi pada kanker .................................................
6. Fase kemoterapi ......................................................................
7. Efek samping kemoterapi .......................................................
8. Bentuk Kemoterapi .................................................................
9. Cara Pemberian Kemoterapi ...................................................
10. Siklus Kemoterapi ..................................................................
8
8
8
9
9
10
13
14
15
16
16
17
17
18
19
20
21
22
22
23
vi
C. Keluarga........................................................................................
1. Pengertian ...............................................................................
2. Struktur Keluarga ...................................................................
3. Tugas-Tugas Keluarga............................................................
4. Fungsi Pokok keluarga ...........................................................
5. Peranan Keluarga....................................................................
D. Dukungan keluarga .......................................................................
1. Pengertian ...............................................................................
2. Komponen dukungan keluarga ...............................................
3. Pengaruh Dukungan Sosial Keluarga .....................................
E. Cemas ...........................................................................................
1. Pengertian cemas ....................................................................
2. Tingkat kecemasan .................................................................
3. Penyebab dan Presipitasi Terjadinya Kecemasan ..................
4. Gejala Klinis ...........................................................................
5. Kecemasan pada pasien kanker dan kemoterapi ....................
F. Kerangka konsep ..........................................................................
G. Hipotesis .......................................................................................
24
24
25
26
26
27
27
27
28
31
32
32
33
38
41
42
42
43
BAB III METODE PENELITIAN ................................................................
A. Jenis Dan Rencangan Penelitian ...................................................
B. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian .......................................
1. Lokasi penelitian ....................................................................
2. Waktu penlitian ......................................................................
C. Populasi dan Sempel penelitian ....................................................
1. Populasi ..................................................................................
2. Sempel penelitian ...................................................................
D. Metode pengumpulan data............................................................
1. Data primer .............................................................................
2. Data sekunder .........................................................................
E. Defenisi Operasional ....................................................................
F. Aspek Pengukuran ........................................................................
1. Dukungan keluarga .................................................................
2. Tingkat Kecemasan ................................................................
G. Etika Penelitian .............................................................................
H. Tehnik Pengolahan Data ...............................................................
I. Analisa Data .................................................................................
1. Analisis Univariat ...................................................................
2. Analisi Bivariat .......................................................................
44
44
44
44
44
44
44
44
46
46
47
49
50
50
50
51
53
54
54
54
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...............................
A. Gambaran Lokasi Penelitian........................................................
B. Hasil Penelitian ............................................................................
1. Analisa Univariat ..................................................................
2. Analisa Bivariat ....................................................................
C. Pembahasan .................................................................................
55
55
56
56
58
55
vii
1.
Dukungan Keluarga Pada Pasien Kanker Yang
Menjalani Kemoterapi Di RSUD DR. Pirngadi Kota
Medan tahun 2015 ................................................................
2. Tingkat Kecemasan Pada Pasien Kanker Dalam
Menjalani Kemoterapi Di RSUD DR. Pirngadi Kota
Medan Tahun 2015 ...............................................................
3. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat
Kecemasan Pasien Kanker Dalam Menjalani Kemoterapi
di RSUD DR. Pirngadi Kota Medan Tahun 2015 ................
D. Keterbatasan Penelitian ...............................................................
BAB V
59
60
61
65
KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 66
A. Kesimpulan .................................................................................. 66
B. Saran ............................................................................................ 66
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
viii
DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 3.1 Defenisi Operasional ........................................................................ 38
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Usia, Jenis Kelamin Dan Siklus Kemoterapi Di RSUD
DR.Pirngadi Kota Medan 2015 ....................................................... 51
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Dukungan
Keluarga Dalam Menjalani Kemoterapi Di Rsud Dr Pirngadi
Kota Medan Tahun 2015 ................................................................. 52
Tabel 4.3 Distribusi
Frekuensi
Responden
BerdasarkanTingkat
Kecemasan Dalam Menjalani Kemoterapi Di Rsud Dr Pirngadi
Kota Medan Tahun 2015 .................................................................. 52
Tabel 4.4 Tabulasi Silang Dukungan Keluarga Dengan Tingkat
Kecemasan Pada Pasien Kanker Dalam Menjalani Kemoterapi
Di Rsud Dr Pirngadi Kota Medan Tahun 2015 ................................ 53
ix
DAFTAR SKEMA
Hal
Skema 2.1 Rentang Kecemasan .......................................................................... 38
Skema 2.2 Kerangka Konsep .............................................................................. 42
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 2 : Lembar Pernyataan Menjadi Responden
Lampiran 3 : Kuesioner Penelitian
Lampiran 4 : Surat Izin Memperoleh Data Dasar dari Universitas Sari Mutiara
Indonesia
Lampiran 5 : Surat Balasan Izin Memperoleh Data Dasar dari RSUD Dr.
Pirngadi Kota Medan
Lampiran 6 : Surat Izin Penelitian Dari Universitas Sari Mutiara Indonesia
Lampiran 7 : Surat Selesai Penelitian Dari RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan
Lampiran 8 : Master Data
Lampiran 9 : Lembar Output
Lampiran 10 : Lembar Kegiatan Bimbingan Skripsi
Lampiran 11 : Lembar Perbaikan Skripsi
xi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kanker merupakan pertumbuhan sel abnormal yang disebabkan oleh adanya
mutasi gen di dalam tubuh manusia, baik dengan pertumbuhan langsung di
jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ketempat yang
jauh (metastasi)
(Amila, 2009 dalam Utami dkk, 2013). Kanker terjadi
karena adanya sel yang bersifat mutagenik. Sel kanker dapat menjadi sel
mutagenik karena adanya mutasi genetik pada sel somatik dan sel germinal.
Hal tersebut terjadi karena beberapa faktor baik faktor keturunan maupun
faktor lingkungan. Sel mutagenik bersifat infiltratif (menginfiltrasi jaringan
sekitarnya) serta destruktif (merusak jaringan sekitar). Hal ini menyebabkan
sel tersebut membelah secara tidak terkendali dan akhirnya akan menyerang
sel lainnya. Selanjutnya hal ini akan menyebabkan perubahan metabolisme
yang pada akhirnya akan mengganggu fungsi-fungsi fisiologis tubuh (Price &
Wilson, 2005).
Dewasa ini, kanker menjadi salah satu penyakit pembunuh utama di dunia,
baik di negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Situasi
sekarang di negara-negara maju seperti Amerika, Canada dan Jepang dalam
tiga orang terdapat seorang meninggal karena kanker. American Cancer
Sociaty (ACS, 2010), menyebutkan terdapat 1.529.560 orang dengan
diagnosa baru yaitu kanker kulit, dan semakin hari semakin bertambah, dari
empat kematian di Amerika satu diantaranya adalah karena kanker.Di dunia,
12 persen dari seluruh kematian disebabkan oleh kanker. Badan Kesehatan
Dunia (WHO) dan Bank Dunia, memperkirakan setiap tahun, 12 juta orang
di seluruh dunia menderita kanker dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia.
Jika tidak dikendalikan, diperkirakan 26 juta orang akan menderita kanker
dan 17 juta meninggal karena kanker pada tahun 2030.
1
2
Wilayah Asia Tenggara, kanker membunuh lebih dari 1,1 juta orang setiap
tahun. WHO memperkirakan kanker akan menjadi penyebab kematian
tertinggi di Indonesia pada tahun 2030 mendatang (Depkes RI, 2013).
Berdasarkan sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2010, di Indonesia
kanker menjadi penyebab kematian nomer 3 dengan kejadian 7,7% dari
seluruh penyebab kematian karena penyakit tidak menular setelah penyakit
jantung dan stroke (Depkes RI, 2013).
Di Sumatera Utara diperoleh data dari Dinas Kesehatan Provinsi, jumlah
penderita kanker pada tahun 2010 tercatat 475 kasus, tahun 2011 sebanyak
548 kasus dan tahun 2012 sebanyak 681 kasus. Di rumah sakit pemerintah di
kota Medan khususnya di RSUD DR. Pirngadi Medan pada tahun 2011
terdapat 51 kasus dan tahun 2012 terdapat 58 kasus dan RSUP H. Adam
Malik Medan pada tahun 2011 jumlah penderita kanker sebanyak 148 orang
dan tahun 2012 jumlah penderita kanker sebanyak 300 orang sedangkan pada
tanggal 1 Januari 2013-30 November 2013 sebanyak 318 orang. Diperkirakan
jumlah pasien kanker dari data tersebut akan terus meningkat setiap tahunnya.
Kanker harus ditangani secara berkualitas karena jika tidak ditangani dengan
baik maka akan mempengaruhi kualitas hidup dan berdampak pada
peningkatan mortalitas. Penanganan kanker pada umumnya terbagi dua yaitu
secara farmakologi dan non farmakologi. Penanganan secara farmakologi
diantaranya bertujuan untuk mengendalikan jumlah dan penyebaran sel-sel
kanker (Otto, S, 2001 dalam Simamora, 2014). Menurut National Cancer
Institute (NCI) tahun 2011, penanganan kanker meliputi kemoterapi, terapi
biologi, terapi radiasi dan pembedahan. Efektifitas setiap terapi masih terus
diteliti, berdasarkan literature kemoterapi mempunyai efektifitas yang tinggi.
Kemoterapi merupakan metode terapi sistemik terhadap kanker sistemik
(misalnya; leukimia, mieloma, limfoma, dll) dan kanker dengan metastasis
3
klinis maupun subklinis (Otto, 2001). Kemoterapi bekerja pada fase-fase
pembelahan sel antara lain fase G1 (first gap phase), fase S (synthetis phase),
fase G2 (second gap phase), fase mitosis (M), dan fase G0 (rest phase). Selsel kanker mempunyai waktu siklus sel yang singkat dan tumbuh secara
cepat. Secara umum kemoterapi bekerja dengan merusak proses pembentukan
sel kanker pada fase-fase tersebut hasilnya adalah siklus sel kanker terganggu
dan pembelahannya terhambat.
Prinsip kerja kemoterapi adalah membunuh sel-sel kanker yang bekerja
dengan cepat, namun kemoterapi juga menimbulkan efek samping
yaitu
selain membunuh sel-sel kanker juga membunuh sel-sel yang sehat. Efek
samping yang sering terjadi pada pasien yang menjalani kemoterapi adalah
depresi sumsum tulang, diare, kerontokan rambut, masalah kulit, mual
muntah, serta gangguan kesehatan mulut. (Simamora, 2014). Selain efek
samping fisiologis, kemoterapi juga dapat menimbulkan dampak bagi
psikologis penderita hipertensi diantaranya adalah timbulnya kecemasan.
Kecemasan atau ansietas merupakan suatu keadaan emosional yang tidak
menyenangkan yang ditandai oleh rasa ketakutan serta gejala fisik yang
menegangkan serta tidak diinginkan (Craig, 2009). Bila kondisi ini
berlangsung lama dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan, antara
lain lemas, pingsan atau dapat memperburuk keadaan dan bisa menghambat
proses pengobatan. Kecemasan yang berlarut-larut dan tidak terkendali dapat
mendorong terjadinya respon defensive sehingga menghambat mekanisme
kerja obat dan koping yang adaptif (Stuart, 2006). Menurut Mulyadi (2008),
setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan. Penderita kanker akan
mengalami tekanan psikologis pasca terdiagnosis kanker, seperti informasi
kanker yang diterima dari masyarakat bahwa apabila seseorang terdiagnosis
mengidap kanker berarti vonis mati yang hanya tinggal menunggu waktu
(Mangan, 2003). Tekanan yang sering muncul adalah kecemasan, insomnia,
4
sulit berkonsentrasi, tidak nafsu makan, dan merasa putus asa yang
berlebihan, hingga hilangnya semangat hidup. Respon emosional yang secara
umum mungkin muncul pada saat dokter mendiagnosis seseorang menderita
penyakit berbahaya (kronis) seperti kanker, yaitu penolakan, kecemasan, dan
depresi (Lubis, 2009).
Data dari ruang kemoterapi Rumah Sakit Roemani Semarang, dalam dua
bulan terakhir, dari bulan Februari sampai Maret 2015, terdapat 53 pasien
yang mengikuti program kemoterapi, kehadiran setiap pasien bisa mencapai
3-4 kali dalam sebulan (Catatan Medis RS Roemani Semarang, 2013). Pasien
kanker yang menjalani pengobatan kemoterapi, biasanya akan mengalami
efek samping yang tidak menyenangkan seperti mual-mual, rambut rontok,
nyeri seluruh tubuh, keletihan stomatitis, demam, menopause dini, sterilitas
permanen, disfungsi seksual, penurunanm daya tubuh, dan kulit kering,
dimana efek tersebut dapat menimbulkan
kecemasan pada pasien kanker, selain cemas akan kematian (Nisman, 2011;
Smeltzer & Bare, 2002 dalam Sari 2012). Cemas yang akan ditimbulkan
mulai dari kecemasan ringan, kecemasan sedang, kecemasan berat sampai
mengalami kepanikansehingga dalam hal ini pasien kanker sangat
membutuhkan
dukungan
dari
keluarga.
Menurut
(Haryono
dalam
Rachmawati 2009 dalam Sari 2012) mengatakan peran keluarga amat penting
dalam pengambilan keputusan untuk menjalani kemoterapi dan jenis terapi
lain bagi penderita.
Dukungan keluarga terhadap pasien kanker sangat dibutuhkan untuk
meningkatkan mental dan semangat hidup pasien kanker. (Ahli onkologi Cora
Llave, MD dan Denky Dela Rosa, MD, dalam Hakim 2013), mengatakan
keluarga adalah teman terbaik bagi pasien kanker dalam menghadapi
"pertempuran" dengan penyakitnya. Setiap orang yang terkena kanker, akan
berpengaruh juga kepada seluruh keluarga baik berupa emosional, psikologis,
5
finansial, maupun fisik (Mikail 2011 dalam Hakim 2013).Dukungan yang
diterima oleh pasien kanker yang menjalani kemoterapi dari lingkungan
sosial, terutama keluarga, akan membuat pasien merasa diperhatikan dan
tidak merasa sendirian dalam menjalani kemoterapi sehingga menjadi
kekuatan bagi pasien dalam menjalani rangkaian proses kemoterapi (Hartati
2002 dalam Setyaningsih 2011). Dukungan yang diterima oleh pasien kanker
yang menjalani kemoterapi pada akhirnya akan membuat pasien tidak akan
berpikir bahwa kemoterapi yang sedang dijalani sebagai sebuah situs yang
mengacam.
Hasil penelitian yang mendukung pendapat ini adalah yang di lakukan oleh
Dewi utami, dkk, 2013) yang meneliti tentang hubungan dukungan keluarga
terhadap tingkat kecemasan Kemoterapi pada pasien kanker serviksdi peroleh
terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat
kecemasan kemoterapi pasien kanker serviks dibuktikan dengan nilai z hitung
(4,63) > z tabel (1,96) atau nilai p: 0,000 < 0,05.
Penelitian lain yang mendukung penelitian ini adalah yang di lakukan
Nurpeti.,dkk yang meneliti tentanghubungan dukungan keluarga dengan
tingkat kecemasan pada pasien kanker payudara (ca mamae) di ruang angsoka
III RSUP Sanglah Denpasar diperoleh hasi terdapat hubungan dukungan
keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien kanker payudara (ca
mammae) dengan nilai p-value 0,000 (p< 0,005).
Hasil Survei pendahuluan yang dilakukan peneliti di RSUD DR. Pirngadi
Kota Medan diperoleh data jumlah pasien kanker yang menjalani kemoterapi
tahun 2014 adalah sebanyak 1726 orang dengan rata-rata jumlah pasien per
bulan adalah 143 orang. Hasil obsevasi langsung yang dilakukan di RSUD
DR. Pirgadi Kota Medan di peroleh hasil pasien yang menjalani kemoterapai
menunjukkan respon cemas terutama pada pasien yang baru pertama kali
6
menjalani kemoterapi. Hal ini dapat dilihat dari seringnya bertanya tanya dan
pasien juga tampak sering bertanya tanya dan hasil pengukuran TTV
diperoleh TD: 130/100 mmhg, HR: 23x/menit, RR: 70x/menit terjadi
peningkatan dan menunjukan adaya respon cemas dengan terjadinya
perubahan fisikologis tubuh.Berdasarkan fenomena diataspeneliti tertarik
melakukan penelitian tentang “Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap
Tingkat Kecemasan Pasien Kanker Dalam Menjalani Kemoterapi Di Rsu Dr
Pirgadi Medan Tahun 2015”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian adalah“Bagaimana Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap
Tingkat Kecemasan Pada Pasien KankerDalam Menjalani Kemotrapi Di
RSUD DR. PirgadiKota Medan tahun 2015”
C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap tingkat kecemasan
Pasien Kanker Dalam Menjalani Kemoterapi Di RSUD DR. Pirgadi Kota
Medan tahun 2015.
2.
Tujuan Khusus
a. Mengetahui dukungan keluarga pada pasien kanker dalam menjalani
kemoterapi di RSUD DR. Pirgadi Kota Medan tahun 2015.
b. Mengetahui tingkat kecemasan pada pasien kanker dalam menjalani
kemoterapi di RSUD DR. Pirgadi Kota Medan tahun 2015.
D. Manfaat Penelitian
1.
Bagi Pasien
Dapat digunakan sebagai imformasi bagi pasien tentang pentingnya
dukungan keluarga saat pasien menjalani kemoterapi
7
2.
Bagi Keluarga
Sebagai masukan bagi keluarga agar selalu memberi dukungan kepada
pasien yang menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Dr.Pirgadi Kota
Medan untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien.
3.
Bagi Perawat Pelaksana
Sebagai masukan dalam asuhan keperawatan dalam mengurangi tingkat
kecemasan pasien dengan cara dukungan yang baik.
4.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan peneliti tentang, Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap
Tingkat Kecemasan Pada Pasien Kanker Dalam Menjalani Kemotrapi.
Sekaligus sebagai bahan masukan atau sumber data penelitian
selanjutnya
dan
mendorong
pihak
melakukan penelitian lebih lanjut.
yang
berkempentinga
untuk
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kanker
1.
Pengertian
Kanker merupakan pertumbuhan sel abnormal yang di sebabkan oleh
adanya mutasi gen di dalam tubuh manusia, baik dengan pertubuhan
langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel
ketempat yang jauh (metastasi) (Amila, 2009 dalam Utami dkk, 2013).
Kanker adalah istilah yang digunakan untuk suatu kondisi di mana sel
telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya sehingga
mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat, dan tidak terkendali
(Dinas Kesehatan Kab Bone Bolango, 2007). Terdapat lebih dari pada
100 jenis kanker dan setiapnya diklasifikasi berdasarkan jenis sel yang
terlibat. Sejalan dengan pertumbuhan dan kembang biaknya, sel-sel
kanker membentuk suatu massa dari jaringan ganas yang menyusup ke
jaringan sehat di sekitarnya yang dikenal sebagai invasif. Di samping itu,
sel kanker dapat menyebar (metastasis) ke bagian alat tubuh lainnya yang
jauh dari tempat asalnya melalui pembuluh darah dan pembuluh getah
bening sehingga tumbuh kanker baru di tempat lain dan hasilnya adalah
suatu kondisi serius yang sangat sulit untuk diobati.
Jenis kanker sering berbeda antara pria dan wanita di mana pada pria
kanker yang sering adalah kanker paru, lambung, hepar, kolorektal,
esofagus, dan prostat manakala pada wanita adalah kanker payudara,
paru, lambung, kolorektal, dan serviks (WHO, 2008). Apabila penyakit
ini dapat dideteksi pada tahap awal, maka lebih daripada separuh
penyakit kanker dapat dicegah, bahkan dapat disembuhkan dan perlu
redefinisi dalam pelayanan kesehatan dari pengobatan ke promosi dan
preventif (DETAK, 2007). Tetapi hasil diagnosis kanker menyatakan
bahwa 80% penderita kanker ditemukan pada stadium lanjut yaitu
8
9
stadium 3 dan stadium 4 (Kompas, 2002). Pada tahap ini kanke sudah
menyebar ke bagian-bagian lain didalam tubuh sehingga semakin kecil
peluang untuk sembuh dan pulih. Keadaan di atas menjadi salah satu
penyebab meningkatnya penyakit kanker di Indonesia.
2.
Etiologi Kanker
Sel kanker menyebar ke bagian tubuh lain melalui 3 cara, yaitu melalui
jaringan (sel kanker menginvasi ke jaringan normal sekitar), melalui
sistem kelenjar limfa (sel kanker menginvasi ke kelenjar limfa dan
menyebar melalui kelenjar limfa ke bagian tubuh lain) dan melalui darah
(sel kanker menginvasi ke vena dan kapiler dan menyebar melalui
pembuluh darah ke bagian tubuh lain).
Ketika sel kanker berpisah dari tumor primer dan menyebar melalui
kelenjar limfa atau pembuluh darah ke bagian tubuh lain, tumor sekunder
dapat timbul. Tumor sekunder (metastase) ini merupakan tumor yang
sama dengan tumor primer. Contohnya, jika sel kanker payudara
menyebar ke tulang, maka sel kanker pada tulang sebenarnya adalah sel
kanker payudara. Tumor pada tulang itu adalah metastasis dari kanker
payudara, bukan kanker tulang.
3.
Klasifikasi Kanker
Ada lima kelompok besar yang digunakan untuk mengklasifikasikan
kanker yaitu karsinoma, sarkoma, limfoma, adenoma dan leukemia
(National Cancer Institute, 2009).
a.
Karsinoma ialah kanker yang berasal dari kulit atau jaringan yang
menutupi organ internal.
b.
Sarkoma ialah kanker yang berasal dari tulang, tulang rawan, lemak,
otot, pembuluh darah, atau jaringan ikat.
10
c.
Limfoma ialah kanker yang berasal dari kelenjar getah bening dan
jaringan sistem kekebalan tubuh.
d.
Adenoma ialah kanker yang berasal dari tiroid, kelenjar pituitari,
kelenjar adrenal, dan jaringan kelenjar lainnya.
e.
Leukemia ialah kanker yang berasal dari jaringan pembentuk darah
seperti sumsum tulang dan sering menumpuk dalam aliran darah.
4.
Faktor Resiko / Penyebab Kanker
Terdapat empat faktor penyebab kanker seperti biologis, lingkungan,
makanan dan psikologis. Keempat-empat faktor penyebab kanker
tersebut dijelaskan seperti berikut:
a.
Biologis
1) Keturunan
Sejumlah penelitian menemukan bahwa sekitar 5% dari kasus
kanker diakibatkan oleh faktor keturunan. Faktor keturunan ini
memang susah untuk dihindari (Arief, I, 2009).
2) Hormon
Hormon
estrogen
yang
berlebihan
dalam
tubuh
dapat
meningkatkan kemungkinan terjangkitnya kanker kandungan
dan kanker payudara. Sedang hormon progesteron dapat
mencegah timbulnya kanker endometrium, tetapi meningkatkan
resiko kanker payudara. Kedua jenis hormon tersebut banyak
digunakan sebagai bahan pil KB maupun terapi hormon pada
wanita
menopause.
Penggunaan
jangka
panjang
dapat
mengurangi resiko kanker kandungan dan endometrium, tetapi
meningkatkan resiko kanker payudara dan kanker hepar
(Kusmawan, E, 2009).
3) Virus dan kuman
Virus human papilloma (HPV), merupakan penyebab utama
kanker leher rahim dan dapat meningkatkan resiko timbulnya
kanker jenis lain. Virus hepatitis B dan hepatitis C dapat
11
memicu
timbulnya
kanker
hati.
Virus
human
T-cell
leukemia/lymphoma (HTLV-1) meningkatkan resiko limfoma
dan leukemia. Virus human immunodefisiensi (HIV) yang
dikenal sebagai penyebab AIDS ini meningkatkan resiko
limfoma
dan
Kaposi’s
sarcoma.
Virus
Epstein-Barr
meningkatkan resiko terjangkitnya limfoma. Virus human
herpes 8 (HHV8) dapat menyebabkan Kaposi’s sarcoma.
Helicobacter pylori penyebab luka lambung dan usus juga dapat
menimbulkan kanker di sepanjang saluran pencernaan. Untuk
mengurangi kemungkinan tertular virus/bakteri tersebut, hindari
berganti-ganti pasangan seksual, juga jangan saling bertukar
sikat gigi, jarum, sisir, peralatan makan, dan sebagainya
(Kusmawan, E, 2009)
b.
Lingkungan (DETAK, 2007 dan Harnawatia, 2008)
1) Tembakau
Asap rokok/tembakau yang dihirup baik perokok aktif maupun
perokok pasif dapat menyebabkan kanker paru, pita suara,
mulut, tenggorokan, ginjal, kandung kencing, kerongkongan,
perut, pankreas, leukemia, dan leher rahim. Bukan hanya
asapnya, bahkan sering menghirup aroma tembakau serta
mengunyahnya juga dapat menyebabkan kanker.
2) Penyinaran yang berlebihan
Sinar matahari pagi baik untuk kesehatan. Tetapi sinar matahari
siang yang banyak mengandung ultraviolet dapat menyebabkan
kanker kulit. Sinar ultraviolet dapat menembus kaca, pakaian
yang tipis, juga dapat dipantulkan oleh pasir, air, salju, dan es.
Perlu diingat bahwa lampu-lampu ultraviolet yang banyak dijual
di toko juga dapat menyebabkan kanker.
12
3) Polusi udara
Menurut Chen Zichou, seorang ahli Institut Penelitian Kanker
mengatakan, penyebab utama meningkatnya jumlah kanker di
China disebabkan polusi udara, lingkungan, dan kondisi air yang
kian hari kian memburuk.
c.
Makanan
Banyak zat kimia yang ditambahkan dalam makanan dapat menjadi
pemicu kanker, misalnya zat pengawet, pewarna buatan, pemanis
buatan
dan
perasa
buatan.
Padahal,
hampir
semua
makanan/minuman produksi pabrik atau yang dijual di restoran
mengandung zat-zat tambahan tersebut. Selain itu, kebanyakan
sayur-sayuran dan buah-buahan ditanam dengan mengandalkan
pupuk buatan dan pestisida. Makanan yang dipanggang, dibakar,
atau digoreng dengan minyak jelantah juga berpotensi menyebabkan
kanker (Cancer Helps, 2009).
d.
Psikologis
1) Stress
Kondisi stress dapat melemahkan respon imunitas tubuh.
Menurunnya sistem imunitas ini mempermudah sel-sel kanker
menyerang tubuh karena kemampuan sel imun untuk mengenal
dan melawan musuh tidak dapat berfungsi secara baik.
e.
Lingkungan hidup
Lingkungan hidup mencakup semua keadaan didaerah tempat hidup
kita baik alamiah maupun biologi, seperti pekerjaan, tempat tinggal
dan gaya hidup.
1) Pekerjaan
Kontak dengan pekerjaan umumnya karena radiasi ionisasi atau
karena karsinogen kimia yang terdapat dalam tempat pekerjaan.
13
2) Tempat tinggal
Dalam lingkungan tempat tinggal terdapat banyak karsinogen
atau zat karsinogennya tinggi dalam tanah, air atau udara.
3) Gaya hidup
Gaya hidup mempengaruhi terjadinya kanker, karena gaya hidup
itu meliputi nutrisi (alkohol, makanan asin, diasap, dipanggang
dan pengawet makanan), minuman keras, merokok, menginang,
terik sinar matahari, kawin muda (memudahkan timbulnya
kanker servik), dan sirkumsisi mengurangi kemungkinan
mendapat kanker penis.
5.
Patogenesis Terjadinya Penyakit Kanker
Semua kanker bermula dari sel, yang merupakan unit dasar kehidupan
tubuh. Untuk memahami kanker, sangat penting untuk mengetahui apa
yang terjadi ketika sel-sel normal menjadi sel kanker. Tubuh terdiri
dari banyak jenis sel. Sel-sel tumbuh dan membelah secara terkontrol
untuk menghasilkan lebih banyak sel seperti yang dibutuhkan untuk
menjaga tubuh sehat. Ketika sel menjadi tua atau rusak, mereka mati
dan diganti dengan sel-sel baru. Kematian sel terprogram ini disebut
apoptosis, dan ketika proses ini rusak, kanker mulai terbentuk. Sel
dapat mengalami pertumbuhan yang tidak terkendali jika ada
kerusakan atau mutasi pada DNA. Empat jenis gen yang bertanggung
jawab untuk proses pembelahan sel yaitu onkogen yang mangatur
proses pembahagian sel, gen penekan tumor yang menghalang dari
pembahagian sel, suicide gene yang kontrol apoptosis dan gen DNAperbaikan menginstruksikan sel untuk memperbaiki DNA yang rusak.
Maka, kanker merupakan hasil dari mutasi DNA onkogen dan gen
penekan tumor sehingga menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak
terkendali (National Cancer Institute, 2009).
14
Sel-sel tambahan ini dapat membentuk massa jaringan yang disebut
tumor. Namun, tidak semua jenis tumor itu kanker. Tumor dapat
dibagikan sebagai tumor jinak dan ganas di mana yang jinak dapat
dihapus dan tidak menyebar ke bagian tubuh lain manakala tumor
ganas merupakan kanker yang dapat menyerang jaringan sekitar dan
menyebar ke bagian tubuh lain. Beberapa kanker tidak membentuk
tumor misalnya leukemia (National Cancer Institute, 2009).
6. Gejala Kanker
Gejala kanker cukup bervariasi dan tergantung lokasi kanker, tahap
penyebaran, dan saiz tumor. Beberapa kanker dapat dirasakan atau
dilihat melalui kulit seperti benjolan pada payudara atau testikel dan
dapat dijadikan indicator lokasi kanker tersebut. Kanker kulit sering
diidentifikasi dengan perubahan kutil atau tahi lalat pada kulit.
Beberapa kanker mulut memberikan gambaran bercak putih di dalam
mulut atau bintik putih di lidah.
Jenis kanker lain memiliki gejala yang kurang jelas secara fisik.
Beberapa tumor otak cenderung menampilkan gejala awal penyakit
karena mereka mempengaruhi fungsi kognitif penting. Kanker
pankreas biasanya terlalu kecil untuk menyebabkan gejala sehingga
rasa sakit terjadi akibat dorongan terhadap saraf terdekat. Selain
daripada itu, ia juga mengganggu fungsi hati sehingga tampilan kulit
dan mata menguning yang dikenal sebagai ikterus. Gejala juga dapat
terjadi akibat tumor yang menyebabkan penekanan terhadap organ dan
pembuluh darah. Misalnya, kanker kolon dapat menyebabkan gejala
seperti sembelit, diare, dan perubahan ukuran tinja. Kanker kandung
kemih atau prostat dapat menyebabkan perubahan dalam fungsi
kandung kemih (American Cancer Society, 2010).
15
Disebabkan sel kanker menggunakan energi tubuh dan mengganggu
fungsi
normal
hormon,
terdapat
kemungkinan
besar
untuk
memperlihatkan gejala seperti demam, lelah, keringat berlebihan,
anemia, dan penurunan berat badan tanpa sebab. Pada pasien kanker
paru-paru atau tenggorokan akan presentasi simptom seperti batuk dan
suara serak (American Cancer Society, 2010).
Ketika kanker menyebar atau bermetastasis, gejala tambahan dapat
dilihat di area baru yang terkena dampak. Bengkak atau pembesaran
kelenjar getah bening merupakan gejala awal. Jika kanker menyebar
ke otak, pasien mungkin mengalami vertigo, sakit kepala, atau kejang
manakala penyebaran ke paru-paru dapat menyebabkan batuk dan
sesak napas. Selain itu, hati dapat membesar dan menyebabkan
penyakit kuning dan tulang bisa rapuh, dan mudah patah. Gejala
metastasis akhirnya tergantung pada lokasi kanker menyebar (Fayed,
L, 2009).
7.
Tahap dan Derajat atau Stadium Kanker
Suatu evaluasi diagnostik yang lengkap termasuk mengidentifikasi tahap
dan derajat keganasan. Pilihan pengobatan dan prognosa ditentukan
dengan dasar pentahapan dan penderajatan (Smeltzer & Bare, 2002
dalam Sari, 2012). Pentahapan menentukan ukuran tumor dan
keberadaan
metastasis.
Sistem
TNM
sering
digunakan
dalam
menggambarkan keganasan kanker. Dalam sistem ini T mengacu pada
keluasan tumor primer, N mengacu pada keterlibatan nodus limfe, M
mengacu pada keluasan metastasis.
Penderajatan
mengacu
pada
klasifikasi
sel-sel
tumor.
Sistem
penderajatan digunakan untuk menentukan jenis jaringan yang menjadi
asal dari tumor dan tingkat sel-sel mempertahankan fungsi dan
16
karakteristik histologis dari jaringan asal. Penderajatan dituliskan dengan
nilai numerik dengan rentang I sampai IV. Tumor derajat I dikenal
sebagai tumor yang berdiferensia baik, struktur dan fungsinya hampir
menyerupai jaringan asal. Sedangkan tumor yang tidak menyerupai
jaringan sal dalam struktu atau fungsinya disebut tumor berdiferensiasi
buruk atau tidak bisa berdiferensiasi disebut tumor derajat IV. Sel tumor
tersebut cenderung agresif dan kurang responsif terhadap pengobatan
sehingga menambah tingkat kecemasan pada pasien.
B. Kemoterapi
1.
Pengertian
Kemoterapi adalah pengobatan kanker dengan pemakaian obat-obatan
khusus yang dapat menghambat dan mematikan pertumbuhan atau
perkembangan sel kanker.Kemoterapi merupakan pengunaan zat kimia
untuk perawatan penyakit didalamnya terkandung obat sitostatik yang
digunakan untuk merawat kanker. Sitostatika adalah kelompok obat
(bersifat sitotoksik) yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan sel
kanker. Obat sitotoksik adalah obat yang sifatnya membunuh atau
merusakkan sel-sel propaganda. Obat ini termasuk obat-obat berbahaya
(OB), yaitu obat-obat yang genotoksik, karsinogenik, dan teratogenik,
dan atau menyebabkan kerusakan fertilisasi. Kemotrapi adalah salah satu
pengobatan kanker yang memasukkan obat-obatan anti kanker ketubuh
pasien.
Kemoterapi terkadang merupakan pilihan pertama untuk menangani
kanker. Kemoterapi bersifat sistematik, berbeda dengan radiasi atau
pembedahan yang bersifat setempat, karenanya kemoterapi dapat
menjangkau sel-sel kanker yang mungkin sudah menjalar dan menyebar
ke bagian tubuh yang lain. Penggunaan kemoterapi berbeda-beda pada
setiap pasien, kadang-kadang sebagai pengobatan utama, pada kasus lain
17
dilakukan sebelum atau setelah operasi dan radiasi. Tingkat keberhasilan
kemoterapi juga berbeda-beda tergantung jenis kankernya. Kemoterapi
biasa dilakukan di rumah sakit, klinik swasta, tempat praktek dokter,
ruang operasi dan juga di rumah (Crosta, P, 2010).
2.
Tujuan Kemoterapi
Tujuan dari kemoterapi adalah penyembuhan, pengontrolan dan paliatif
sehingga realistik, karena tujuan tersebut akan menetapkan medikasi
yang digunakan dan keagresifan rencana pengobatan. Obat yang
digunakan untuk mengobati kanker menghambat mekanisme proliferasi
sel, obat ini bersifat toksik bagi sel tumor maupun sel normal yang
berproliferasi khususnya pada sumsum tulang, epitel gastrointestinal, dan
folikel rambut (Neal, 2006).
3.
Klasifikasi Kemoterapi
Menurut Sarwono (2006), Kemoterapi adalah pengobatan kanker dengan
menggunakan obat-obatan atau hormon. Dan uraian tersebut diatas maka
dapat disimpulkan bahwa kemoterapi adalah pengobatan kanker dengan
menggunakan obat-obatan atau hormon untuk membunuh sel- sel tumor.
Berdasarkan alasan utama dilakukan, kemoterapi dibedakan atas tiga
yaitu :
a.
Kemoterapi paliatif
Jenis
kemoterapi
yang
dilakukan
dengan
alasan
untuk
mengendalikan atau melenyapkan tumor untuk meringankan gejala
kanker seperti rasa sakit.
b.
Kemoterapi adjuvant
Jenis kemoterapi yang dilakukan dengan alasan untuk mencegah
kemunculan kembali sel-sel kanker setelah pembedahan atau terapi
radiasi untuk mengontrol tumor. Cara kerja kemoterapi ini adalah
18
dengan membidik dan melenyapkan sel kanker yang berkembang
dengan sangat cepat di dalam tubuh.
c.
Kemorerpai Neo-adjuvant, kemoterapi yang dilakukan dengan alasan
untuk mengurangi tumor sehingga mudah dioperasi yang diberikan
sebelum operasi.
4.
Persiapan dan Syarat Kemoterapi
Persiapan sebelum pengobatan dimulai, terlebih dahulu pemeriksaan
yang dilakukan meliputi:
a.
Pemeriksaan darah tepi (Hb, Leokosit, Trombosit)
b.
Pemeriksaan fungsi hepar (Bilirubin, SGOT, SGPT,Alkali fosfase)
c.
Pemeriksaan fungsi ginjal (ureum, kreatinin)
d.
Audiograp terutama pada pemeriksaan cis platinum
e.
EKG terutama pemberian adrymicin dan epirubisin
Sedangkan syarat pemberian kemoterapi :
a.
Keadaan umum cukup baik
b.
Penderita mengerti tujuan pengobatan dan mengetahui efek samping
yang akan terjadi
c.
Faal ginjal dan hati yang baik
d.
Diagnosa histopatik
e.
Jenis kanker yang cukup sensitif terhadap kemoterapi
f.
Riwayat pengobatan
g.
Pemeriksaan
laboratorium
menunjukkan
Hb>10%,
>5000/mm, trombosit >150000/mm (Rasijid, 2007)
leokosit
19
5.
Obat Kemoterapi Pada Kanker
a.
Alkylating agent
Alkilatyang mempengaruhi molekul DNA, yaitu mengubah struktur
atau fungsinya sehingga tidak dapat berkembang baik, contoh lain
obat golongan ini adalah Basolvon dan Cisplatin. Obat ini biasanya
digunakan dalam kasus leukemia, limfoma non-Hodgkin, mieloma
multipel dan melanoma malignan. Efek sampingnya adalah mual
muntah, rambut rontok, iritasi kandung kemih (sistitis) disertai darah
ddalam air kemih, jumlah sel darah putih, sel darah merah dan
trombosit menurun, jumlah sperma berkurang (pada peria mungkin
terjadi kemandulan yang menetap).
b.
Antimetabolit
Antimetabolit adalah sekumpulan obat yang mempengaruhi sistensis
(pembuatan) DNA atau RNA dan mencegah pekembangbiakan sel.
Efek samping sama dengan alkylating agent. Efek samping
tambahan terjadi ruam kulit, warnakulit menjadi lebih gelap
(meningkatkan pigmentasi), atau gagal ginjal. Contoh obat ini adalah
Methotrexate, Gemcitabine, yang digunakan pada kanker leukimia
serta tumor payudara, ovarium dan saluran pencernaan.
c.
Mitrosureas
Obat ini mencegah produksi enzim-enzim yang diperlukan untuk
perbaikan DNA, contoh; Carmostin dan Lomostin, digunakan dalam
kasus otak, limpoma non-hodgin (kanker sistem getah bening),
mieloma multipel, dan melanoma maligna.
d.
Antibiotik antitumor
Obat ini mempengaruhi DNA dan mencegah tumor berkembang biak
dan dengan kimiawi mencegah produksi enzim-enzim serta
20
mengubah membran sel. Contoh adalah Pleomycin dan Idarubicin
yang digunakan sebagai macam jenis kanker. Efek sampingnya sama
dengan alkylating agent, kepada penderita leukimia limpoblastik
akut dapat diberikan Asparaginanse, suatu enzim yang membuang
Asparagin asam amino dari darah, sehinga pertubuhan kanker
terhenti Asparagin diperlukan oleh leukemia untuk melangsungkan
hidupnya.
e.
Inhibitor mitotic
Cara kerjanya dengan mencegah produksi enzim-enzim yang
menggantikan sintesis protein yang diperlukan untuk produksi sel,
contohnya ; Paclitaxel Docetaxel (Rasjidi, 2007).
6. Fase Kemoterapi
Kemoterapi akan diberikan dalam suatu siklus tertentu. Menurut Bowden,
Dicky & Greenberg, (1998) siklus kemoterapi terdiri dari beberapa fase
yaitu fase induksi, fase konsolidasi, fase pemeliharaan (maintance) dan
fase observasi. Fase induksi merupakan fase awal dimana terapi diberikan
secara intensif, tujuannya untuk membunuh sel-sel kanker sehingga dapat
tercapai remisi. Remisi terjadi ketika sel memberikan respon yang baik
terhadap kemoterapi baik respon sementara maupun respon permanen.
Remisi ditandai dengan terjadinya penurunan tingkat keganasan atau
bahkan berhentinya proses keganasan.
Fase kedua adalah fase konsolidasi. Pada fase ini terapi diberikan secara
intensif untuk membunuh sisa-sisa sel kanker yang masih ada.
Selanjutnya pasien akan mendapat fase pemeliharaan (maintance) yaitu
fase lanjutan untuk membunuh sel-sel kanker yang masih ada. Fase ini
dapat berlangsung selama beberapa tahun. Fase terakhir adalah fase
observasi. Selama fase ini, terapi akan diakhiri dan pasien akan terus
21
diawasi terhadap kemungkinan kekambuhan (relaps) serta efek samping
kemoterapi.
7.
Efek Samping Kemoterapi
Efek samping fisik kemoterapi yang umum adalah pasien akan
mengalami
a.
mual dan muntah
b.
perubahan rasa kecap
c.
rambut rontok (alopesia)
d.
mukositis
e.
dermatitis
f.
keletihan
g.
kulit menjadi kering bahkan kuku dan kulit bisa sampai menghitam
h.
tidak nafsu makan
i.
dan ngilu pada tulang
j.
penurunan sel darah merah
k.
penurunan sel darah putih dan trombosit
(Nisman, 2011; Smeltzer & Bare, 2002). Efek samping yang ditimbulkan
dalam fsikologis membuat pasien:
a.
merasa tidak nyaman
b.
takut
c.
cemas
d.
malas
e.
bahkan bisa sampai frustasi atau putus asa dengan pengobatan yang
dijalani.
22
8. Bentuk Kemoterapi
Menurut Ganiswarna (2004) pemberian kemoterapi dapat diberikan dapat
diberikan dengan satu macam atau dengan kombinasi, sehingga dikenal
tiga macam bentuk kemoterapi kanker yaitu :
a. Monoterapi (Kemoterapi Tunggal).
Monoterapi yaitu kemoterapi yang dilakukan dengan satu macam
sitostatika. Sekarang banyak ditinggalkan, karena polikemoterapi
memberi hasil yang lebih memuaskan.
b. Polikemoterapi (kemoterapi Kombinasi)
Prinsip pemberian kemoterapi kombinasi adalah obat-obat yang
diberikan sudah diketahui memberikan hasil yang baik bila diberikan
secara tunggal, tetapi masing-masing obat bekerja pada fase siklus
sel yang berbeda, sehingga akan lebih banyak sel kanker yang
terbunuh. Dasar pemberian dua atau lebih antikanker adalah untuk
mendapatkan sinergisme tanpa menambah toksisitas. Kemoterapi
kombinasi juga dapat mencegah atau menunda terjadinya resistensi
terhadap obat-obat ini.
c. Kemoterapi Lokal
Kemoterpi lokal digunakan untuk: pengobatan terhadap efusi
akibat kanker, pengobatan langsung intra dan peri tumor serta
pengobatan intratekal.
9. Cara Pemberian Kemoterapi
Menurut (Rasjidi, 2007) obat kemoterapi dapat diberikan dengan cara :
a. Oral
Obat kemoterapi diberikan secara oral, yaitu dalam bentuk tablet
atau kapsul, harus mengikuti jadwal yang telah ditentukan
23
b. Intramuskuler
Caranya dengan menyuntikkan ke dalm otot, pastikan untuk pindah
tempat penyuntikan untuk setiap dosis, karena tempat yang sudah
pernah mengalami penusukan membutuhkan waktu tertentu dalam
penyembuhannya.
c. Intratekal
Caranya obat dimasukkan ke lapisan sub arakhnoid di dalam otak
atau disuntikkan ke dalam cairan tulang belakang.
d. Intrakavitas
Memasukkan obat ke dalam kandung kemih melalui kateter dan
atau melalui selang dada ke dal rongga pleura.
e. Intravena
Diberikan melalui kateter vena sentral atau akses vena perifer, cara
ini paling banyak digunakan.
10. Siklus Kemoterapi
Dalam pemberian kemoterapi ada yang disebut dengan istilah “siklus
kemoterapi”. Siklus kemoterapi adalah waktu yang diperlukan untuk
pemberian satu kemoterapi. Untuk satu siklus umumnya setiap 3 atau 4
minggu sekali, namun ada juga yang setiap minggu. Sudah ditentukan
untuk masing-masing jenis kanker berapa siklus harus diberikan dan
berapa interval waktu antar siklusnya. Sebagai contoh, kanker
payudara umumnya diberikan 6 siklus kemoterapi dengan interval
antar siklus adalah setiap 3 minggu. Ini artinya penderita kanker
payudara tersebut harus menjalani 6 kali kemoterapi sampai
kemoterapinya selesai diberikan. Misalkan kemoterapi pertama
diberikan pada tanggal 1 Okober 2011, maka penderita tersebut harus
24
dilakukan kemoterapi kedua pada tanggal 22 Oktober 2011, demikian
pula seterusnya untuk kemoterapi ke 3, 4, 5, 6, penderita harus datang
setiap 3 minggu sekali ke rumah sakit (Heriyadi, 2010).
Jumlah pemberian kemoterapi juga sudah ditetapkan untuk masingmasing kanker. Ada yang 4 kali, 6 kali, 12 kali, dsb. Jumlah pemberian
ini tidak boleh ditawar-tawar, misalkan hanya diberikan satu atau dua
kali saja lalu berhenti. Hukumnya dalam pemberian kemoterapi adalah
diberikan semuanya atau tidak sama sekali. Bila diberikan hanya satu
atau dua kali saja, tidak ada manfaatnya, karena kanker tidak akan
dapat disembuhkan bahkan menjadi lebih tahan atau resisten terhadap
pemberian kemoterapi berikunya, selain itu efek sampingnya juga
hebat namun tidak memberikan manfaat, juga secara ekonomi
memboroskan biaya yang tidak perlu dan hanya membuang-buang
waktu saja (Heriyadi, 2010)
C. Keluarga
1.
Pengertian
Keluarga adalah persekutuan orang dua orang atau lebih individu yng
terkait oleh darah, perkawinan atau adobsi yang membetuk satu rumah
tangga, saling berhubungan dalam lingkup peraturan keluarga serta saling
menciptakan dan memelihara budaya (tnkhan & voorhies, 1977).
Depenisi yang lain keluarga adalah kumpulan dua orang manusia atau
lebih, yang satu sama yang lain saling terikat secara imosional, serta
bertempat tinggal yang sama dalam satu daerah yang berdekatan
(Friedman, 2002). Dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah kumpulan
dari dua individu atau lebih yang terikat oleh darah, perkawinan, atau
adobsi yang tinggal dalam satu rumah atau jika terpisah tetap
memperhatikansatu sama yang lain (Muhlisin Abi, 2012).
25
WHO (1969) mendefinisikan keluarga adalah anggota rumah tangga
yang saling behubungan melalui pertalian darah, adopsi atau perkawinan
(Mubarak, 2006). Menurut Dep. Kes RI (1988) keluarga adalah unit
terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa
orang yang berkumpul serta tinggal disuatu tempat dibawah satu atap
dalam keadaan saling ketergantungan (Setiawati, 2008).
Adapun tipe keluarga menurut Muhlisin Abi (2012) dikelompokkan
menjadi dua yaitu:
a.
Keluarga inti (nuclear family) adalah keluarga yang hanya terdiri
ayah ibu, dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi
atau keduanya.
b.
Keluarga besar (extended family) adalah keluarga inti ditambah
anggota keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah
(kakek-nenek, paman-bibi).
2.
Struktur Keluarga
a.
Patrilinear : adalah keluarga sedarah yang terdiri dari senak saudara
sedarah dalam beberapa generasi.
b.
Matilinear : adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
sedarah dalam beberapa generasi diman hubungan itu disusun
melalui jalur garis ibu
c.
Patrilokal : adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama sedarah
suami
d.
Matrilokal : adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama
keluarga sedarah istri
e.
Keluarga kawin : adalah hubungan suami istri sebagai dasar pembina
keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga
karna adanya hubungan dengan suami atau istri. (Muhlisin Abi,
2012)
26
3.
Tugas-Tugas Keluarga
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut:
a. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya
b. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga
c. Pembagian
tugas
masing-masing
anggotanya
sesuai
dengan
kedudukannya masing-masing
d. Sosialisasi antar anggota keluarga
e. Pengaturan jumlah anggota keluarga
f.
Pemeliharan ketertiban anggota keluarga
g. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih
luas
h. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga
(Effendi, 1998).
4.
Fungsi Pokok Keluarga
Secara urmun fungsi keluarga adalah sebagai berikut:
a.
Fungsi efektif, fungsi keluargayang utara untuk mengajarkan segala
sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan
dengan orang lain.
b.
Fungsi sosialisasi, fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak
untuk kehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk
berhubungan dengan prang lain di luar rumah.
c.
Fungsi reproduksi, untuk mempertahankan generasi dan menjaga
kelangsungan keluarga.
d.
Fungsi ekonomi, keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan
keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan
kemampuan individu dalam meningkatkan penghasilan untuk
memenuhi kebutuhan keluarga.
e.
Fungsi perawatan / pemeliharaan kesehatan, untuk mempertahankan
keadaan
kesehatan
anggota
keluarga
produktivitas tinggi (Friedman, 1998).
agar
tetap
memiliki
27
5.
Peranan Keluarga
Manakala keluarga tahu bahwa salah satu anggotanya menderita kanker,
maka lazimnya pihak keluarga tidak dapat melepaskan diri dari
keterlibatan dalam menghadapi penderitaan ini. Sebahagian keluarga
menunjukkan rasa simpati dan kasihan, namun sebahagian lain bersikap
menolak akan kenyatan ini. Peranan keluarga amat penting, pihak
keluarga yang penuh pengertian dan operatif dengan pihak perawatan dan
memberikan dorongan moril penuh kepada penderita, akan banyak
membantu dalam penatalaksanaan penderita kanker. Dalam banyak hal,
temyata respon penderita terhadap pengobatan banyak sedikitnya
ditentukan oleh faktor keluarga dan lainnya dalam memberikan reaksi
terhadap penyakit yang dideritanya (Dadang, 2004).
Dalam pengalaman praktek sering di jumpai sikap negativistik
(penolakan) dari pihak keluarga. Mungkin karena ketidaktahuan
(ignorancy) ataupun kepercayaan tradisional tentang penyebab dan
pengobatan kanker, maka dokter seringkali kehilangan peluang yang baik
(momentum) untuk melakukan tindakan ini (Dadang, 2004).
D. Dukungan Keluarga
1.
Pengertian
(Friedman 1998 dalam Murniasih 2007) menyatakan Dukungan keluarga
adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap anggotanya.
Anggota keluarga dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dalam lingkungan keluarga. Anggota keluarga memandang bahwa orang
yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan
bantuan jika di perlukan.
Dukungan keluarga adalah sebagai suatu proses hubungan antara
keluarga dengan lingkungan (Setiadi, 2008). Menurut Smet (1994) dalam
28
Christine (2010) Dukungan keluarga didefinisikan sebagai informasi
verbal atau non verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkah laku yang
diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek di dalam
lingkungannya atau yang berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat
memberikan keuntungan emosional dan berpengaruh pada tingkah laku
penerimanya. Dalam hal ini orang yang merasa memperoleh dukungan
secara emosional merasa lega karena diperhatikan, mendapat saran atau
kesan yang menyenangkan pada dirinya .
Dukungan keluarga terhadap pasien kanker sangat dibutuhkan untuk
meningkatkan mental dan semangat hidup pasien kanker. (Ahli onkologi
Cora Llave, MD dan Denky Dela Rosa, MD, dalam Hakim 2013),
mengatakan keluarga adalah teman terbaik bagi pasien kanker dalam
menghadapi "pertempuran" dengan penyakitnya. Setiap orang yang
terkena kanker, akan berpengaruh juga kepada seluruh keluarga baik
berupa emosional, psikologis, finansial, maupun fisik (Mikail 2011
dalam Hakim 2013).
2.
Komponen Dukungan Keluarga
Komponen-komponen dukungan keluarga menurut (Sarafino 2010 dalam
Christine, 2008) terdiri dari :
a. Dukungan emosional
Dukungan emosional merupakan bentuk dukungan atau bantuan yang
dapat memberikan rasa aman, cinta kasih, membangkitkan semangat,
mengurangi putus asa, rendah diri, rasa keterbatasan akibat dari
ketidakmampuan fisik (penurunan kesehatan yang dialaminya).
Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan
pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Aspek-aspek
dari dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam
29
bentuk afeksi, adanya kepercayaan, perhatian, mendengarkan dan
didengarkan.
Dukungan emosional dapat berupa ungkapan empati, perhatian,
maupun kepedulian terhadap penderita kanker yang sedang menjalani
pengobatan kemoterapi. Dukungan emosi memberikan rasa nyaman,
jaminan, kepemilikan dan dicintai ketika seseorang dalam situasi
stress
saat
menjalani
pengobatannya.
Keberadaan
dukungan
emosional dari partisipasi keluarga maka pasien kanker tidak akan
merasa sendiri dan akan merasa bebannya berkurang karena dapat
mencurahkan segala yang dirasakannya (Saragih, 2010).
b. Dukungan informasi
Keluarga berfungsi sebagai sebuah pengumpul dan penyebar
informasi. Aspek-aspek dalam dukungan ini adalah nasehat, usulan,
saran, petunjuk dan pemberian informasi. Dukungan informasi
merupakan suatu dukungan atau bantuan yang diberikan oleh keluarga
dalam bentuk memberikan saran dan masukan, nasehat atau arahan
dan memberikan informasi-informasi penting yang sangat dibutuhkan
klien.
Dukungan berupa nasihat, saran, pengetahuan, informasi serta
petunjuk mengenai penyakit dan pengobatan. Menjelaskan kepada
penderita
tentang
kankernya,
kemungkinan
kedepannya
dan
memberikan kesempatan pada penderita dan keluarga untuk bertanya
tentang kanker dan pengobatan kemoterapinya. Dukungan informasi
bertujuan untuk mencegah terjadinya kecemasan pasien yang
ditimbulkan akibat proses kemoterapi (Fajriati, 2013).
30
c. Dukungan instrumental
Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit
diantaranya, kesehatan pasien dalam hal kebutuhan makan dan
minum, istirahat dan terhindarnya pasien dari kelelahan.
Dukungan instrumental keluarga merupakan suatu dukungan atau
bantuan penuh dari keluarga dalam bentuk memberikan bantuan
tenaga, dana maupun meluangkan waktu untuk membantu atau
melayani dan mendengarkan klien dalam menyampaikan perasaannya.
Pada dasarnya biaya untuk pengobatan kemoterapi tidak murah,
kadang penderita dengan finansial yang terbatas dan sudah
mendapatkan bantuan dari pemerintah pun sering tidak menuntaskan
pengobatannya karena jarak dari rumah sampai rumah sakit jauh atau
biaya selama berada di rumah sakit yang tidak sedikit.
Dukungan ini mencakup bantuan langsung misal berupa bantuan uang
bisa juga berupa bantuan dalam pekerjaan sehari-hari untuk bisa
meringankan biaya pengobatan yang sangat tinggi juga mempengaruhi
kepatuhan pasien untuk dapat terus menjalani kemoterapi (Alle,
Hardjanta & Suharsono, 2006).
d. Dukungan penghargaan
Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik,
membimbing dan menengahi pemecahan masalah. Terjadi lewat
ungkapan rasa hormat (pengharapan) serta sebagai sumber dan
validator identitas anggota keluarga. Diantaranya adalah memberikan
penghargaan dan perhatian saat klien menjalani rehabilitasi.
Dukungan berupa ungkapan hormat (penghargaan) untuk orang lain
atau individu yang bersangkutan, dorongan atau persetujuan dengan
31
gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif individu
tersebut dengan orang lain.
Memberikan support kepada penderita kanker yang sedang menjalani
pengobatan kemoterapi agar dapat menuntaskan pengobatannya.
Adanya motivasi kesembuhan pada pasien akan meningkatkan
harapan dan keinginan pasien untuk sembuh (Alle, Hardjanta &
Suharsono, 2006).
3. Pengaruh Dukungan Sosial Keluarga
Orford (1992) dan Sarafino (2002) mengatakan untuk menjelaskan
bagaimana dukungan sosial mempengaruhi kondisi fisik dan psikologis
individu, ada dua model yang digunakan :
a.
Buffering Hypothesis
Sarafini (2002) mengatakan bahwa melalui model buffering
hypothesis ini, dukungan sosial mempengaruhi kondisi fisik dan
pdikologis individu dengan melindungi efek negatif yang timbul dari
tekanan-tekanan yang dialaminya dan pada kondisi tekanannya
lemah atau kecil, dukungan sosial tidak bermanfaat.
b.
Main Effect Hipothesis / Direct Effect Hipothesis
Dukungan sosial dapat meningkatkan kesehatan fisik dan pdikologis
individu dengan adanya ataupun tampa ada tekanan, denga kata lain
seseorang yang menerima dukunga sosial atau tampa adanya tekanan
ataupun stres akan cenderung lebih sehat. Melalui model ini dukunga
sosial meberikan manfaat yang sama baiknya dalam kondisi penuh
tekanan maupun tidak ada tekanan (Sarafino, 2002).
32
E. Cemas
1.
Pengertian Cemas
Kecemasan atau ansietas merupakan suatu keadaan emosional yang tidak
menyenangkan yang ditandai oleh rasa ketakutan serta gejala fisik yang
menegangkan serta tidak diinginkan (Craig, 2009). Bila kondisi ini
berlangsung lama dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan,
antara lain lemas, pingsan atau dapat memperburuk keadaan dan bisa
menghambat proses pengobatan. Kecemasan yang berlarut-larut dan
tidak terkendali dapat mendorong terjadinya respon defensive sehingga
menghambat mekanisme kerja obat dan koping yang adaptif (Stuart,
2006).
Cemas dalam istilah medisnya sering disebut ansietas. Ansietas sangat
berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Ansietas dapat
diartikan sebagai salah satu respon perasaan yang tidak berdaya dan tidak
terkendali (Muwarni, 2008). Kecemasan adalah repon emosional
terhadap penilaian. Cemas yaitu perasaan tidak menyenangkan
disebabkan oleh sumber yang tidak jelas atau tidak spesifik (Tarwoto,
2010). Dan menurut Rasmun (2004) cemas adalah perasaan yang tidak
menyenangkan tidak menentu dari individu.
Sedangkan menurut Suliswati (2005) dan Trismiati (2004) dalam
Marlindawani, dkk (2012) menyatakan ansietas merupakan respon
individu terhadap suatu keadaan yang tidak menyenangan yang dialami
oleh setiap makhluk hidup dalam kehidupan sehari-hari. Ansietas
merupakan pengalaman subjektif dari individu dan tidak dapat
diobservasi secara langsung serta merupakan suatu keadaan emosi tanpa
objek yang spesifik. Ansietas adalah perasaan was-was, kuatir, atau tidak
nyaman seakan-akan terjadi sesuatu yang dirasakan sebagai ancaman.
Ansietas merupakan suatu perasaan yang tidak menyenangkan, yang
33
diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan
pernapasan. Ansietas melibatkan persepsi tentang perasaan yang tidak
menyenangkan dan reaksi fisiologis, dengan kata lain ansietas adalah
reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya.
Cemas merupakan suatu respon emosional dari rasa takut, tertekan, dan
khawatir yang secara subjektif dialami oleh seseorang dengan objek tidak
spesifik atau tidak jelas, terutama oleh adanya pengalaman baru termasuk
pada pasien yang akan mengalami tindakan invasif seperti pembedahan
atau operasi yang berpengaruh terhadap perannya dalam hidup, integritas
tubuh atau bahkan kehidupannya sendiri (Atree & Merchant, 1996 dalam
Christine, 2010).
2.
Tingkat Kecemasan
Menurut Peplau (dalam Videbeck, 2008) kecemasan memiliki 4
tingkatan yaitu
a. Cemas Ringan
Perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan
perhatian khusus. Stimulasi sensori meningkat dan membantu
individumemfokuskan perhatian untuk belajar, menyelesaikan
masalah, berpikir, bertindak, merasakan, dan melindungi diri sendiri.
Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas ringan adalah
sebagai berikut :
1) Respons fisik
ï‚·
Ketegangan otot ringan
ï‚·
Sadar akan lingkungan
ï‚·
Rileks atau sedikit gelisah
ï‚·
Penuh perhatian
ï‚·
Rajin
34
2) Respon kognitif
ï‚·
Lapang persepsi luas
ï‚·
Terlihat tenang, percaya diri
ï‚·
Perasaan gagal sedikit
ï‚·
Waspada dan memperhatikan banyak hal
ï‚·
Mempertimbangkan informasi
ï‚·
Tingkat pembelajaran optimal
3) Respons emosional
ï‚·
Perilaku otomatis
ï‚·
Sedikit tidak sadar
ï‚·
Aktivitas menyendiri
ï‚·
Terstimulasi
ï‚·
Tenang
b. Cemas sedang
Perasaan yang menggangu bahwa ada sesuatu yang benar-benar
berbeda; individu menjadi gugup atau agitasi. Menurut Videbeck
(2008), respons dari ansietas sedang adalah sebagai berikut :
1) Respon fisik :
ï‚·
Ketegangan otot sedang
ï‚·
Tanda-tanda vital meningkat
ï‚·
Pupil dilatasi, mulai berkeringat
ï‚·
Sering mondar-mandir, memukul tangan
ï‚·
Suara berubah : bergetar, nada suara tinggi
ï‚·
Kewaspadaan dan ketegangan menigkat
ï‚·
Sering berkemih, sakit kepala, pola tidur berubah, nyeri
punggung
35
2) Respons kognitif
ï‚·
Lapang persepsi menurun
ï‚·
Tidak perhatian secara selektif
ï‚·
Fokus terhadap stimulus meningkat
ï‚·
Rentang perhatian menurun
ï‚·
Penyelesaian masalah menurun
ï‚·
Pembelajaran terjadi dengan memfokuskan
3) Respons emosional
ï‚· Tidak nyaman
ï‚· Mudah tersinggung
ï‚· Kepercayaan diri goyah
ï‚· Tidak sabar
ï‚· Gembira
c. Cemas berat
Yakni ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman, memperlihatkan
respons takut dan distress. Menurut Videbeck (2008), respons dari
ansietas berat adalah sebagai berikut :
1) Respons fisik
ï‚· Ketegangan otot berat
ï‚· Hiperventilasi
ï‚· Kontak mata buruk
ï‚· Pengeluaran keringat meningkat
ï‚· Bicara cepat, nada suara tinggi
ï‚· Tindakan tanpa tujuan dan serampangan
ï‚· Rahang menegang, mengertakan gigi
ï‚· Mondar-mandir, berteriak
ï‚· Meremas tangan, gemetar
36
2) Respons kognitif
ï‚· Lapang persepsi terbatas
ï‚· Proses berpikir terpecah-pecah
ï‚· Sulit berpikir
ï‚· Penyelesaian masalah buruk
ï‚· Tidak mampu mempertimbangkan informasi
ï‚· Hanya memerhatikan ancaman
ï‚· Preokupasi dengan pikiran sendiri
ï‚· Egosentris
3) Respons emosional
ï‚· Sangat cemas
ï‚· Agitasi
ï‚· Takut
ï‚· Bingung
ï‚· Merasa tidak adekuat
ï‚· Menarik diri
ï‚· Penyangkalan
ï‚· Ingin bebas
d. Panik
Individu kehilangan kendali dan detail perhatian hilang, karena
hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun
dengan perintah.
Menurut Videbeck (2008), respons dari panik adalah sebagai berikut :
1) Respons fisik
ï‚· Flight, fight, atau freeze
ï‚· Ketegangan otot sangat berat
ï‚· Agitasi motorik kasar
37
ï‚· Pupil dilatasi
ï‚· Tanda-tanda vital meningkat kemudian menurun
ï‚· Tidak dapat tidur
ï‚· Hormon stress dan neurotransmiter berkurang
ï‚· Wajah menyeringai, mulut ternganga
2) Respons kognitif
ï‚· Persepsi sangat sempit
ï‚· Pikiran tidak logis, terganggu
ï‚· Kepribadian kacau
ï‚· Tidak dapat menyelesaikan masalah
ï‚· Fokus pada pikiran sendiri
ï‚· Tidak rasional
ï‚· Sulit memahami stimulus eksternal
ï‚· Halusinasi, waham, ilusi mungkin terjadi
3) Respon emosional
ï‚· Merasa terbebani
ï‚· Merasa tidak mampu, tidak berdaya
ï‚· Lepas kendali
ï‚· Mengamuk, putus asa
ï‚· Marah, sangat takut
ï‚· Mengharapkan hasil yang buruk
ï‚· Kaget, takut
ï‚· Lelah
38
Rentang respon kecemasan menurut (videbeck, 2008 didalam
Prabowo, E 2014) :
Rentang Respon Kecemasan
Skema 2.1 Rentang Respon Kecemasan
3.
Penyebab dan Presipitasi Terjadinya Kecemasan
Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan penyebab dari
gangguan kecemasan. Antara lain teori psikodinamik, faktor-faktor sosial
dan lingkungan, faktor-faktor kognitif dan emosional dan faktor biologis
(Greene 2003 ).
a.
Teori psikodinamika menjelaskan bahwa gangguan kecemasan
sebagai usaha ego untuk mengendalikan munculnya impuls-impuls
yang mengancam ke kesadaran. Perasaan kecemasan adalah tandatanda peringatan bahwa impuls-impuls yang mengancam mendekat
ke kesadaran. Ego menggerakkan mekanisme pertahanan diri untuk
mengalihkan impuls-impuls tersebut, yang kemudian mengarah
menjadi gangguan kecemasan lainnya (Greene 2003).
b.
Faktor-faktor lingkungan dan sosial yang menyebabkan terjadinya
gangguan kecemasan didapatkan dari pemaparan terhadap peristiwa
yang mengancam atau traumatis, mengamati respon takut pada orang
lain dan kurangnya mendapat dukungan sosial. Termasuk dalam
dukungan sosial adalah dukungan perawat dan dukungan keluarga
(Smeltzer & Bare, 2002).
39
c.
Faktor-faktor kognitif dan emosional menadi penyebab gangguan
kecemasan disebabkan konflik psikologis yang tidak terselesaikan,
prediksi berlebih tentang ketakutan, keyakinan-keyakinan yang tidak
rasional, sensitivitas yang berlebihan tentang ancaman, salah
mengartikan dari sinyal-sinyal tubuh (Greene 2003)..
d.
Faktor-faktor biologis menjadi penyebab gangguan kecemasan
diperoleh dari predisposisi genetik, dan ketidakseimbangan biokimia
di otak. Sebagai faktor predisposisi kondisi kesehatan umum seperti
kondisi penderita kanker sangat berhubungan dengan penyebab
kecemasan (Ibrahim, 2003 ). Kecemasan pada pasien sebagai
individu dapat dicetuskan oleh adanya ancaman. Faktor-faktor
presipitasi yang dapat menyebabkan terjadinya masalah kecemasan
dapat berupa ancaman terhadap integritas biologi dan ancaman
terhadap konsep diri dan harga diri (Hawari, 2001). Ancaman
terhadap integritas biologi dapat berupa penyakit trauma fisik.
Ancaman terhadap konsep diri dan harga diri seperti: proses
kehilangan, perubahan peran, perubahan hubungan, lingkungan dan
status sosial. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
kecemasan yaitu:
1) Faktor internal
a)
Potensi stressor
Merupakan
setiap
menyebabkan
kehidupan
keadaan
stressor
seseorang
atau
psikososial
sehingga
peristiwa
yang
perubahan
dalam
orang
itu
terpaksa
mengadakan adaptasi (Smeltzer & Bare, 2002 dalam
Nisma, 2012).
b)
Maturitas
40
Individu yang memiliki kematangan kepribadian lebih
sukar mengalami gangguan akibat kecemasan, karena
individu yang matur memiliki daya adaptasi yang lebih
besar terhadap kecemasan.
c)
Pendidikan dan status ekonomi
Pendidikan dan status ekonomi yang rendah pada seseorang
menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan.
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap
kemampuan berfikir rasional dan menangkap informasi
baru termasuk menguraikan masalah baru (Stuart, 2006).
d)
Keadaan fisik
Seseorang yang mengalami gangguan fisik, penyakit
kronis, penyakit keganasan akan mudah mengalami
kelelahan
fisik,
sehingga
akan
mudah
mengalami
kecemasan.
e)
Tipe kepribadian
Tidak semua orang mengalami stressor psikososial akan
menderita gangguan kecemasan, hal ini juga tergantung
pada struktur atau tipe kepribadian seseorang. Orang yang
berkepribadian A akan lebih mudah mengalami gangguan
akibat kecemasan daripada orang dengan kepribadian B.
Ciri-ciri orang berkepribadian A adalah : tidak sabar
ambisius menginginkan kesempurnaan, merasa teburu-buru
waktu, mudah gelisah. Sedang orang tipe B adalah orang
yang penyabar, tenang, teliti dan rutinitas. (Stuart, 2001).
41
2) Faktor eksternal
Dukungan sosial dapat mempengaruhi kemampuan koping
seseorang dalam mengatasi masalah, termasuk dalam hal
kecemasan, selain itu dukungan sosial juga membuat pasien
merasa diperhatikan dan dicintai oleh orang lain, merasa dirinya
dianggap dan dihargai, dan membuat seseorang merasa bahwa
dirinya bagian dari jaringan komunikasi oleh anggotanya.
termasuk diantara dukungan sosial meliputi dukungan keluarga
dan dukungan orang lain (termasuk perawat) yang bermakna
dalam membantu pasien mengatasi masalah (Smeltzer & Bare,
2002 dalam Nisma, 2012).
a) Dukungan keluarga
Dukungan keluarga ialah sikap, tindakan dan penerimaan
keluarga terhadap penderita yang sakit.
b) Dukungan perawat
Selain dukungan keluarga, salah satu dukungan sosial yang
penting bagi pasien adalah dukungan perawat. Peran
perawat sangat penting untuk memberikan suport atau
dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat
kecemasan pada pasien.
4.
Gejala Klinis
Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami
gangguan kecemasan antara lain sebagai berikut (Hawari Dadang, 2013):
a.
Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah
tersinggung.
b.
Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah tersingung
c.
Takut sendirian, takut keramaian dan banyak orang
d.
Ganggua pola tidur, mimpi-impi menegangkan
42
e.
Gangguan kosentrasi dan daya ingat
f.
Keluh-keluhan somati, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang
(tinitus),
berdebar-debar,
sesak
napas,gangguan
pencernaan,
gangguan perkemihan, sakit kepala dan lain-lain sebagainya.
5.
Kecemasan Pada Pasien Kanker dan Kemoterapi
Menurut Nurachmah (1999) kanker merupakan penyakit yang dapat
mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia. Setiap jenis pengobatan
pada penyakit ini dapat menimbulkan berbagai masalah baik fisiologis,
psikologis, maupun sosial pada klien. Perubahan citra tubuh yang dialami
klien merupakan pukulan terberat bagi klien itu sendiri. Kondisi ini
membuat para klien mengalami kecemasan terhadap proses pengobatan,
sehingga cenderung mempengaruhi konsep diri yang pada akhirnya akan
mempengaruhi hubungan interpersonal dengan orang lain termasuk
dengan pasangan.
F. Kerangka Konsep
Skema 2.2
Kerangka Konsep
Dependen
Independen
Dukungan keluarga
Tingkat kecemasan :
1.
2.
3.
4.
Normal
Ringan
Sedang
Berat
G. Hipotesis
Ha :
Ada hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan
pasien kanker yang menjalani kemoterapi.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rencangan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik korelatif dengan
disain cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan
keluarga terhadap tingkat kecemasan pada pasien kanker dalam menjalani
kemoterapi di RSU Dr. Pirgadi Kota Medan 2015 (Notoatmodjo, 2012).
B. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
1.
Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di RSU DR. Pirngadi Kota Medan di bagian Unit
Kemoterapi Lantai 6 (enam) dengan alasan sebegai berikut :
1. Merupakan rumah sakit rujukan negeri tipe B.
2. Prevalensi pasien kanker yang meningkat.
2.
Waktu Penlitian
Penelitian dilakukan pada bulan Februari - Juli 2015
C. Populasi dan Sempel penelitian
1.
Populasi
Seluruh pasien kanker yang menjalani kemoterapi di RSUD DR. Pirngadi
Kota Medan yang berjumlah 143 orang.
2.
Sampel penelitian
Sempel dalam penelitian ini diambil dari populasi yaitu pasien kanker
yang menjalani kemoterapi di RSUD DR. Pirngadi Kota Medan
sebanyak 143 orang. Tehnik pengambilan sampel menggunakan tehnik
Accidental Sampling, dalam menentukan sampel dapat ditentukan dengan
43
44
menggunakan rumus yang dikembangkan dari Isaac dan Michael
(Sugiyono, 2013) dengan rumus:
λ2.N.P.Q
s=
d2(N-1) + λ2.P.Q
Keterangan :
λ2= harga tabel chi-kuadrat untuk α tertentu = 1
P = Q = proporsi dalam populasi = 0,5
d = ketelitian (error) = 5% = 0,05
s = jumlah sampel
N= jumlah populasi
Berdasarkan rumus maka diketahui jumlah sampelnya adalah sebagai
berikut :
12.143.0,5.0,5
s=
0,052(143-1) + 12.0,5.0,5
35,75
s=
0,0025.142 + 0,25
35,75
s=
0,355 + 0,25
35,75
s=
0,605
s = 59 orang
Sampel dalam penelitian ini adalah 59 orang
Kriteria sampel :
1.
Pasien kanker yang menjalani kemoterapi siklus I-siklus VI
2.
Pasien bersedia menjadi responden penelitian
45
D. Alat dan Prosedur Pengumpulan Data
1. Alat Ukur
Peneliti menggunakan alat pengumpul data (instrumen penelitian) berupa
kuesioner, yang terdiri atas :
a. Data demografi kuesioner berisi data demografi responden. Data
demografi bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik responden
yang meliputi: nomor responden, usia, pendidikan, pekerjaan, dan
penghasilan keluarga.
b. Kuesioner dukungan keluarga mengadopsi dari kuesioner penelitian
sebelumnya yang diteliti oleh Kusuma (2011), yang meliputi: dukungan
emosional, dukungan informasi, dukungan instrumental dan dukungan
penghargaan menggunakan skala Likert. Kuesioner tersebut telah
dimodifikasi oleh peneliti dan melakukan uji validitas dan reliabilitas
kembali dengan uji korelasi antara skor (nilai) tiap-tiap item
(pernyataan) dengan skor total kuesioner tersebut. Teknik korelasi yang
digunakan yaitu, korelasi product moment (r) (Notoatmodjo, 2012).
Uji validitas dilakukan pada tanggal 25 April 2015 pada 20 orang
penderita kanker payudara di RSUP H. Adam Malik Medan, dengan
taraf signifikansi 5% (0,05) nilai r tabel adalah 0,444. Dari hasil uji
validitas terdapat 2 item yang tidak valid dengan nilai koefisien korelasi
validitas < 0,444 (item 4: variabel dukungan emosional dengan r hitung
0,289 dengan pernyataan keluarga memberi semangat setiap saya
menjalani kemoterapi& item 14: variabel dukungan instrumental
dengan r hitung 0,186 dengan pernyataan keluarga berusaha memenuhi
semua obat-obatan yang akan saya konsumsi) lalu kedua item tersebut
dibuang. Kemudian peneliti mengubah pernyataan untuk item nomor 4
dan 14, lalu diuji validitas kembali pada tanggal 28 April 2015 didapat
nilai koefisien korelasi validitas ≥ 0,444 dan koefisien reliabilitas alpha
cronbach 0,920 > r tabel (0,444), hasil ini menunjukkan instrumen valid
dan reliabel untuk digunakan.
46
c. Kuesioner tingkat kecemasan
Untuk mengukur tingkat kecemasan , penulis menggunakan kuisioner
yang dikembangkan oleh William W.K. Zung tahun 1971 dengan
menggunakan skala ukur ZSAS (Zung Self Rating Anxiety Scale) yang
telah diuji dengan nilai reliabilitas koefisien 0,8 dan validitas signifikan
sebesar 21-60 . Kuisioner ini terdiri atas 20 (dua puluh) pernyataan
dengan alternative jawaban jika selalu diberi skor 4, sering diberi skor
3, kadang-kadang diberi skor 2 dan sangat jarang diberi skor 1.
Selanjutnya data yang diperoleh dikategorikan menjadi: 20-44(Normal),
54-59 (Ringan), 60-74 (Sedang), 75-80 (Berat) (Aspuah, 2013).
2. Prosedur Pengumpulan Data
a.
Data Primer
Data primer diperoleh secara langsung kepada calon responden dengan
mengunakan kuesioner, yaitu dengan memberikan peryataan dan
pertanyaan secara tertulis kepada responden untuk mendapakan
tanggapan atau jawaban. Dimana terdapat beberapa tahapan prosedur
yang dilakukan :
1) Peneliti mengajukan surat izin memperoleh data dasar dari Program
Studi Ners Fakultas Keperawatan & Kebidanan Univesitas Sari
Mutiara Indonesia ke Kasi penelitian di RSUD Dr. Pirngadi Kota
Medan.
2) Peneliti mendapatkan izin memperoleh data dasar dari bagian
rekam medik RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan.
3) Peneliti mendapatkan data jumlah pasien kanker yang menjalani
proses kemoterapi di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan.
4) Peneliti pergi ke ruangan unit kemoterapi untuk menemui kepala
ruangan dan menjelaskan tujuan penelitian serta minta ijin untuk
bertemu kepada calon responden.
5) Pada saat pembagian kuosioner, peneliti akan memberi penjelasan
kepada calon responden tentang tujuan penelitian serta meminta
47
persetujuan menjadi responden. Apabila calon responden setuju
maka akan diberi informed concent untuk di tandatangani, Pada
tahap akhir lembar kuesioner yang telah terkumpul siap untuk
dilakukan perhitungan dan dianalisis.
b.
Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari pihak rekam medik RSUD DR. Pirngadi
48
E. Defenisi Operasional
No
1
2
Variabel
Dukungan keluarga
Kecemasan
Defenisi Oprasional
Pengukuran
Suatu bentuk sikap,
Kuesioner
tindakan dan penerimaan
terhadap pasien.
Ada 4 bentuk dukungan
keluarga:
1. dukungan informatif: Dukungan yang berupa bantuan
informasi agar dapat menghilangkan kecemasan karena salah
konsepsi
2. dukungan penilaian: Bentuk penghargaan yang diberikan atas
kondisi pasien
3. dukungan instrumental: Dukungan yang berupa penyediaan
perlengkapan yang memadai bagi pasien
4. dukungan emosional: Dukungan berupa simpati. rasa cinta,
kepercayaan, berempati membantu masalah yang dihadapi
Suatu keadaan dimana seseorang merasa tidak nyaman, aman, Kuesioner
ketakutan, dengan sumber yang tidak spesifik dan kurangnya
pengetahuan dalam menghadapi kemoterapi.
Hasil Ukur
a.
Baik
: 60-80
b.
Cukup
: 40-59
c.
Kurang
: 20-39
a. Normal 20-44
b. Cemas Ringan 45-59
c. Cemas Sedang 60-74
d. Cemas Berat 75-80
Skala
Ordinal
Ordinal
49
F. Aspek Pengukuran
1.
Dukungan Keluarga
Untuk mengukur dukungan keluarga diajukan pernyataan 20 dengan
alternative jawaban selalu diberi skor 4, jika jawaban sering diberi skor 3,
jika menjawab kadang-kadang diberi skor 2, jika menjawab tidak pernah
1, maka sekor tertinggi untuk dukungan keluarga adalah 80 dan skor
terendah adalah 20.
Rumus kategori pengukuran :
Skala Tertinggi – Skala Terendah
P=
Panjang Kelas
80 - 20
P=
3
P = 20
Keterangan :
P
= panjang kelas
R
= skala tertinggi- skala terendah
BK
= banyak kategori
Maka kategori dukungan keluarga :
a.
Baik
: 60-80
b.
Cukup
: 40-59
c.
Kurang : 20-39
3. Tingkat Kecemasan
Untuk mengukur tingkat kecemasan , penulis menggunakan kuisioner
yang dikembangkan oleh William W.K. Zung tahun 1971 dengan
menggunakan skala ukur ZSAS (Zung Self Rating Anxiety Scale) yang
telah diuji dengan nilai reliabilitas koefisien 0,8 dan validitas signifikan
50
sebesar 21-60 . Kuisioner ini terdiri atas 20 (dua puluh) pernyataan
dengan alternative jawaban jika selalu diberi skor 4, sering diberi skor 3,
kadang-kadang diberi skor 2 dan sangat jarang diberi skor 1 (Aspuah,
2013) dengan kategori sebagai berikut :
a.
Normal jika responden memiliki skor 20-44
b.
Cemas Ringan jika responden memiliki 45-59
c.
Cemas Sedang jika responden memiliki 60-74
d.
Cemas Berat jika responden memiliki 75-80
G. Etika Penelitian
Etika dalam penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam pelaksanaan
sebuah penelitian mengingat penelitian keperawatan akan berhubungan
langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan
karena manusia mempunyai hak asasi dalam kegiatan penelitian.
Dalam penelitian ini sebelum peneliti mendatangi calon partisipan untuk
meminta kesediaan menjadi partisipan penelitian. Peneliti harus melalui
beberapa tahap pengurusan perijinan sebagai berikut: peneliti meminta surat
ijin dari Dekan Fakultas Keperawatan dan Kebidanan untuk mengambil data
survey awal di RSUD Dr. Pirngadi Medan 2014, setelah mendapatkan ijin
dari dekan fakultas keperawatan & kebidanan, peneliti meminta ijin kepada
direktur RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan 2015 untuk melakukan penelitian.
Setelah mendapatkan ijin, peneliti meminta ijin kepada kepala bidang
keperawatan untuk melakukan penelitian di ruang unit kemoterapi, di RSUD
Dr. Pirngadi Kota Medan kemudian peneliti mendatangi calon partisipan dan
meminta persetujuan calon partisipan untuk menjadi partisipan penelitian.
Setelah mendapatkan persetujuan barulah dilaksanakan penelitian dengan
memperhatikan etika-etika dalam melakukan penelitian yaitu :
51
1. Informed Concent
Peneliti memberikan lembar persetujuan (informed concent) kepada
responden
dan
menjelaskan
kepada
responden
tujuan
dari
penelitian.Setelah peneliti menjelaskan lembar lembar persetujuan
(informed concent) kepada responden, peneliti memberikan kesempatan
kepada responden untuk membaca dan bertanya sehubungan dengan isi
lembar lembar persetujuan (informed concent). Setelah peneliti bersedia
untuk menjadi responden, peneliti baru melanjutkan penelitian.
2. Anonimity
Merupakan etika dalam penelitian keperawatan dengan cara tidak
memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur
dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil
penelitian yang disajikan.
3. Confidentiality
Setelah peneliti mendapatkan informasi dari responden, peneliti menjamin
kerahasiaan hasil penelitiannya dalam bentuk kuesioner, hanya hasil
penelitian yang sudah diolah dengan program komputer yang dilaporkan
dan memberikan nomor responden sehingga dalam penelitian tidak
mempublikasikan identitas berupa nama.
4. Justice
Yaitu peneliti memberikan perlakuan yang adil untuk semua responden
dan tidak adanya diskriminasi bagi mereka yang menjadi responden
maupun yang menolak
52
H. Tehnik Pengolahan Data
Setelah semua data terkumpul maka dilakukan analisa data melalui tahap :
1.
Editing
Editing yaitu pengecekan dan pengoreksian dat kuesioner yang telah di
iisi respon termasuk kelengkapan dan mengelompokkan kuesioner
tersebut dengan aspek pengukuran data.
2.
Koding
Koding yaitu hasil jawaban kuesioner dari setiap pertanyaan kuesioner
diberi
kode
sesuai
petunjuk.
Kegunaan
koding
adalah
untuk
mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat pada saat
entry data. Pada data demografi responden, usia diberi kode 1 apabila
<45 tahun, 2 apabila >46 tahu. Pada jenis kelamin diberi kode 1 apabila
jenis kelamin laki-laki, apabila 2 berjenis kelamin perempuan. Pada
siklus kemoterapi diberi kode 1 siklus I, apabila 2 siklus II, apabila 3
siklus III, apabila 4 siklus IV, apabila 5 siklus V dan apabila 6 berarti
siklus VI. Pada lembar kuisioner dukungan keluarga, diberi kode 4
apabila selalu, kode 3 apabila sering, kode 2 apabila kadang-kadang dan
kode 1 apabila tidak pernah. Pada kuesioner tingkat kecemasan diberi
kode 4 apabila selalu, kode 3 apabila sering, kode 2 apabila kadangkadang dan kode 1 apabila tidak pernah.
3.
Entry Data
Entry data yaitu Penyusunan data agar mudah dijumlahkan dan disusun
untuk dianalisis dan memasukkan data ke dalam tabel sesuai dengan
kriteria pada komputer. Selanjutnya dilakukan entry data dengan
menggunakan komputerisasi yakni program komputer.
53
4.
Tabulasi
Tabulasi yaitu untuk mempermudah analisa data, pengolahan data serta
mengambil kesimpulan data dimasukan kedalam bentuk tabel distribusi
frekuensi.
I.
Analisa Data
Data penelitian yang telah dikumpulkan dianalisa dengan mengunakan :
1.
Analisis Univariat
Analisa ini digunakan untuk mendeskripsikan dukungan keluarga dan
tingkat kecemasan pasien kanker dalam menjalani kemotarapi dalam
bentuk distribusi frekuensi tentang karakteristik responden (usia, jenis
kelamin dan siklus kemoterapi).
2.
Analisi Bivariat
Analisis ini digunakan untuk menganalisa hubungan dukungan keluarga
dengan tingkat kecemasanpasien kanker dalam menjalani kemoterapi di
RSUD DR. Pirngadi Kota Medan. Uji statistik yang digunakan adalah
korelasi spearman corelationdengan tingkat kepercayaan 95%yaitu untuk
mengukur hubungan berdasarkan urutan rangking dua variabel skala atau
ordinal.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi terdiri dari beberapa ruangan termasuk Unit
Kemoterapi di Lantai 6 dengan nama Tulip 601-619 yang merupakan ruang
rawat inap pasien yang akan menjalani proses kemoterapi dan ruang inap
pasien yang menjalani proses pemulihan pasca proses kemoterapi. Setiap
bulan terjadi peningkatan pasien kanker yang dirawat disana.
Ruangan ini terdiri dari satu kepala ruangan dan beberapa perat yang dibagi
menjadi dua tim. Tim pertama berperan sebagai petugas untuk menangani
pasien yaitu pada tahap persiapan seperti memberi obat anti mual muntah dan
anti alergi, memberi imformasi untuk setiap efeksamping obat kemoterapi
yang akan masuk kedalam tubuh pasien serta berperan saat pemberian obat
kemoterapi. Tim kedua bertugas menangani pasien pasca pemulihan kondisi
pasien, mengatur jadwal kemoterapi selanjutnya serta memberi pendidikan
kesehatan pada pasien rawat jalan.
Bab ini akan menguraikan hasil penelitian yang meliputi analisis univariat
dan analisis bivariat. Analisis univariat akan menguraikan gambaran
karakteristik responden, sedangkan analisis bivariat akan menguraikan
hubungan antara dukungan keluarga yang meliputi : dukungan keluarga
dengan tingkat kecemasan pasien kanker dalam menjalani kemoterapi.
Penelitian dilakukan pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi di ruang
kemoterapi RSUD Dr. Pirngadi Medan, secara umum semua responden
kooperatif, meskipun ada juga beberapa responden yang merasa kurang
nyaman akibat beberapa efek samping yang mulai muncul pada saat proses
54
55
kemoterapi berlangsung seperti mual muntah, lemas dan ketidakmampuan
untuk menjawab sendiri beberapa pernyataan sehingga peneliti ikut berperan
dalam membaca beberapa pernyataan dan responden hanya mengungkapkan
jawabannya.
B. Hasil Penelitian
1.
Analisa Univariat
a.
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin dan
Siklus Kemoterapi
Tabel 4.1
Distribusi FrekuensiKarakteristik Responden Berdasarkan Usia, Jenis
Kelamin Dan Siklus Kemoterapi Di RSUD DR.Pirngadi
Kota Medan 2015 (n 59)
Karakteristik Responden
Umur
Jenis Kelamin
Siklus Kemoterapi
n
%
< 45 Tahun
23
39%
> 46 Tahun
Laki-Laki
36
19
61%
32,2%
Perempuan
I
40
10
67,8%
16,9%
II
III
IV
V
VI
18
22
5
3
1
30,5%
37,3%
8,5%
5,1%
1,7%
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa mayoritas usia responden
dalam penelitian ini adalah usia > 46 tahun sebanyak 36 responden
(61%), berdasarkan Jenis Kelamin mayoritas adalah perempuan
sebanyak 40 responden (67,8%). Berdasarkan Siklus kemoterapi
mayoritas responden berada pada siklus kemoterapi III sebanyak 22
responden (37,3%).
56
b. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Dukungan Keluarga
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Dukungan Keluarga Dalam
Menjalani Kemoterapi Di RSUD Dr Pirngadi Kota Medan
Tahun 2015 (n 59)
Dukungan Keluarga
Kurang
Cukup
Baik
n
9
23
27
%
15,3%
39,0%
45.8%
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa dukungan keluarga pada
pasien kanker dalam menjalani kemoterapiadalah mayoritas baik yaitu
sebanyak 27 responden (45,8%) dan dukungan kurang sebanyak 9
(15,3%) responden
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Responden BerdasarkanTingkat Kecemasan Dalam
Menjalani Kemoterapi Di RSUD Dr Pirngadi Kota Medan
Tahun 2015 (n 59)
Tingkat Kecemasan
N
%
Normal
Ringan
Sedang
Berat
16
26
12
5
27,1%
44,1%
20,3%
8,5%
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa tingkat kecemasan pasien
yang menjalani kemoterapi di RSDU Dr Pirngadi Kota Medan mayoritas
ringan 26 responden (44,1%) dan terdapat 5 responden (8,5%) dengan
tingkat kecemasan berat.
57
2.
Analisa Bivariat
Tabel 4.4
Tabulasi Silang Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pada
Pasien Kanker Dalam Menjalani Kemoterapi Di RSUD Dr Pirngadi
Kota Medan Tahun 2015 (n 59)
Dukungan
Keluarga
Tingkat Kecemasan
Normal
Ringan
Sedang
PValue
0,38
9
0,002
Berat
%
Total
Jlh
%
Jlh
%
Jlh
%
Jlh
Kurang
4
6,8%
4
6,8%
1
1,7 %
0
0,0%
9(15,3%)
Cukup
9
15,3%
10
16,9%
3
5,1%
1
1,7%
23 (39,0%)
Baik
3
5,1%
12
20,3%
8
13,6%
4
6,8%
27 (45,8%)
Total
16
27,1%
26
44,1%
12
20,3%
5
8,5%
59 (100%)
Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa dari 9 responden (15,3%)
dengan dukungan keluarga kurang terdapat, 4 responden (6,8%) dengan
tingkat kecemasan normal, 4 responden (6,8%) dengan tingkat
kecemasan ringan dan 1 responden (1,7%) dengan tingkat kecemasan
sedang. Dari 23 responden (39,0%) dukungan keluarga cukup terdapat 9
responden (15,3%) tingkat kecemasan normal, 10 responden (16,9%)
dengan tingkat kecemasan ringan dan 3 resonden (5,1%) dengan tingkat
kecemasan sedang dan 1 responden (1,7%) dengan tingkat kecemasan
berat. Dari 27 responden (45,8%) dengan dukungan keluarga baik
terdapat 3 responden (5,1%) dengan tingkat kecemasan normal, 12
responden (20,3%) dengan tingkat kecemasan ringan dan 8 responden
(13,6%) dengan tingkat kecemsan sedang dan 4 responden (6,8%)
dengan tingkat kecemasan berat. Hasil uji statistik menggunakan uji
speramen diperoleh nilai p-value 0,002, r=0,389 (p<0,005) hal ini
menunjukkan terdapat hubungan yang siknipikan antara dukungan
keluarga dengan tingkat kecemasan pasien kanker dalam menjalani
kemoterapi di RSUD DR.Pirngadi Kota Medan.
R
58
C. Pembahasan
1.
Dukungan
Keluarga
Pada
Pasien
Kanker
Yang
Menjalani
Kemoterapi Di RSUD DR. Pirngadi Kota Medan tahun 2015
Berdasarkan tabel distribudi frekuensi dukungan keluarga terdapat pasien
kanker di SRUD DR. Pirngdi Kota Medan ( Tabel 4.2) diperoleh hasil
bahwa mayoritas dukungan keluarga adalah baik sebanyak 27 responden
(45,8%) dan 9 responden (15,3%) dengan dukungan kurang. Hal ini
menurut asumsi peneliti disebabkan karna mayoritas keluarga pasien
mengerti akan terapi yang harus dijalani pasien kanker di mana terapi ini
bisa mengakibatkan banyak memberikan efeksamping yang negatif maka
dari itu keluarga pasien selalu memotivasi pasien untuk menjalani terapi
atau kemoterapi sekalipun perawatan paliatif.
Defenisi perawatan paliatif menurut WHO (2002) adalah, pendekatan
yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan
keluarganya menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan
penyakit yang mengancam dan meringankan penderitaan melalui
identipikasi awal dan penilaian serta terapi rasa sakit dan masalah lain
baik fisik, psikososial maupun spiritual. Misgyanto (2014) dalam
penelitiannya menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara
dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan penderita kanker serviks
paliatif. Hal ini didukung oleh penelitian oleh Utami dkk (2013) yang
meneliti tentang dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien
kanker serviks diperoleh hasil mayoritas dukungan keluarga baik 76
responden (80%).
Dukungan keluarga adalah sebagai suatu proses hubungan antara
keluarga dengan lingkungan (Setiadi, 2008). Menurut Smet (1994) dalam
Christine (2010) Dukungan keluarga didefinisikan sebagai informasi
verbal atau non verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkah laku yang
59
diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek di dalam
lingkungannya atau yang berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat
memberikan keuntungan emosional dan berpengaruh pada tingkah laku
penerimanya.
Hal ini didukung oleh hasil obsevasi langsung yang dilakukan peneliti
terhadap kelurga saat mendampingi pasien kemoterapi. Keluarga sangat
memperhatikan keluarga yang sedang sakit dengan memberikan
sentuhan, meberikan dukungan emosional merupakan bentuk dukungan
atau bantuan yang dapat memberikan rasa aman terhadap pasien,
memberikan dukungan informasi berupakan suatu dukungan atau
bantuan yang diberikan oleh keluarga dalam bentuk memberikan saran
dan masukan terhadap pasien, dan meberikan dukungan instrumental
berupa bantuan lansung terhadap pasien dalam beraktifitas dan dukungan
penghargaan diman memberikan saran terhadap pasien agar tetap
semangat dalam menjalani pengobatan kemoterapi.
Menurut (Hartati, 2002), dukungan yang diterima oleh pasien kanker
yang menjalani kemoterapi dari lingkungan sosial, terutama keluarga,
akan membuat pasien merasa diperhatikan dan tidak sendirian dalam
menjalani kemoterapi sehingg menjadi kekuatan bagi pasien dalam
menjalani rangkaian proses kemoterapi.
2.
Tingkat Kecemasan Pada Pasien Kanker Dalam Menjalani
Kemoterapi Di RSUD DR. Pirngadi Kota Medan Tahun 2015
Berdasarkan hasil distribusi frekuensi tingkat kecemasan pada pasien
kanker dalam menjalani kemoterapi (Tabel 4.3) diperoleh mayoritas
tingkat kecemasan pasien dalam menjalani kemoterapi adalah mayoritas
ringan sebanyak 26 responden (44,1%). Menurut peneliti hal ini
disebabkan karena selain dukungan keluarga yang baik, mayoritas
60
responden yang menjalani kemoterapi adalah berada pada siklus
kemoterapi ke III sehinga tingkat kecemasan pasien sudah mulai
berkurang. Didukung penelitian yang dilakukan oleh Adipo dkk (2014),
berdasarkan siklus didapat hasil bahwa mayoritas siklus yang ke 3. Siklus
3 ini adalah lanjutan pengobatan kemoterapi yang dimulai dari
kemoterapi siklus 1, 2 dan berakhir pada siklus 6.
Menurut Utami dkk (2013) Siklus kemoterapi juga berpengaruh dalam
meningkat tingkat kecemasan pasien kemoterapi, karena semakin lama
menjalani kemoterapi semakin mengetahui efek samping kemoterapi itu
sendiri dan bisa menurunkan tingkat kecemasan pasien saat menjalani
kemoterapi. Tingkat kecemasan responden dalam kategori rendah, hal ini
dikarenakan sebagian besar responden sudah lebih dari 1x menjalani
kemoterapi, sehingga tingkat kecemasan saat pengobatan lebih rendah.
Selain faktor siklus kemoterapi, tingkat kecemasan juga dipengaruhi oleh
faktor usia. Faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pasien dalam
menjalani kemoterapi adalah usia pasien. Pengalaman pasien dalam
menjalani pengobatan juga merupakan salah satu faktor instrinsik yang
mempengaruhi tingkat kecemasan pasien.Hal ini didukung oleh hasil
penelitian Utami ddk (2013) menunjukkan
bahwa dari 95 orang
responden sebagian besar responden berada dalam kecemasan ringan
yaitu sebanyak 58 responden (61,1%), hal ini dikarenakan sebagian besar
pasien berada pada usia lebih 40 tahun dan berjenis kelamin wanita.
3.
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pasien
Kanker Dalam Menjalani Kemoterapi di RSUD DR. Pirngadi Kota
Medan Tahun 2015
Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa dari 9 responden (15,3%)
dengan dukungan keluarga kurang terdapat, 4 responden (6,8%) dengan
61
tingkat kecemasan normal, 4 responden (6,8%) dengan tingkat
kecemasan ringan dan 1 responden (1,7%) dengan tingkat kecemasan
sedang. Dari 23 responden (39,0%) dukungan keluarga cukup terdapat 9
responden (15,3%) tingkat kecemasan normal, 10 responden (16,9%)
dengan tingkat kecemasan ringan dan 3 resonden (5,1%) dengan tingkat
kecemasan sedang dan 1 responden (1,7%) dengan tingkat kecemasan
berat. Dari 27 responden (45,8%) dengan dukungan keluarga baik
terdapat 3 responden (5,1%) dengan tingkat kecemasan normal, 12
responden (20,3%) dengan tingkat kecemasan ringan dan 8 responden
(13,6%) dengan tingkat kecemsan sedang dan 4 responden (6,8%)
dengan tingkat kecemasan berat.Hasil uji statistik hubungan dukungan
keluarga dengan tingkat kecemasan pasien didapat nilai p=0,002 r=0,389
(p<0,005) hal ini menunjukan terdapat hubungan yang siknifikan antara
dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien kanker.
Berdasarkan tabulasi
silang dukungan keluarga dengan tingkat
kecemasan pada pasien kanker dalam menjalani kemoterapi diperoleh
hasil buruk yaitu sebanyak 4 responden (6,8%). Hal ini menunjukan
bahwa sekalipun dukungan keluarga baik, masih merasakan kecemasan.
Menurut asumsi peneliti hal ini disebabkan karena pasien kanker yang
menjalani kemoterapi cemas akan efek samping dari kemoterapi itu
sendiri, diantaranya adalah seperti mual-mual, rambut rontok, nyeri
seluruh tubuh, keletihan stomatitis, demam, menopause dini, sterilitas
permanen, disfungsi seksual, penurunan daya tubuh, dan kulit kering,
dimana efek tersebut dapat menimbulkan kecemasan pada pasien kanker,
selain cemas akan kematian (Nisman, 2011; Smeltzer & Bare, 2002
dalam Sari 2012).
Menurut (Greene 2003 ) Individu yang memiliki kematangan kepribadian
lebih sukar mengalami gangguan akibat kecemasan, karena individu yang
62
matur memiliki daya adaptasi yang lebih besar terhadap kecemasan. Dari
teori tersebut menunjukan usia sangat berpengaruh terhadap tingkat
kecemasan hal ini sesuai dengan distribusi frekuensi karakteristik
responden berdasarkan usia dibawah <45 tahun sebanyak 23 responden
(39%).
Hal ini didukung oleh hasil wawancara dengan pasien kanker, bahwa
pasien kanker merasa takut atau cemas akan efek samping yang
ditimbulkan kemoterapi, sekalipun sudah mendapatkan imformasi dari
petugas medis mengenai efek samping yang ditimbulkan kemoterapi.
Tetapi dengan dukungan keluarga yang baik ataupun dukungan yang
terus menerus yang dilakukan keluarga terhadap pasien kanker dapat
menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut.
Hal ini dipertegas hasil penelitian utami dkk (2013) yang meneliti
tentang hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien
kanker serviks diperoleh hasil p value (0,000) < α (0,05) terdapat
hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan
kemoterapi pada pasien kanker serviks. Dengan tingkat kecemasan
negatif menunjukkan semakin tinggi dukungan keluarga maka tingkat
kecemasannya semakin turun atau rendah.
Penelitian yang dilakukan (Hartati 2002 dalam Setyaningsih 2011),
dukungan yang diterima oleh pasien kanker yang menjalani kemoterapi
dari lingkungan sosial, terutama keluarga, akan membuat pasien merasa
diperhatikan dan tidak merasa sendirian dalam menjalani kemoterapi
sehingga menjadi kekuatan bagi pasien dalam menjalani rangkaian
proses kemoterapi.
63
Dukungan keluarga adalah sebagai suatu proses hubungan antara
keluarga dengan lingkungan (Setiadi, 2008). Menurut Smet (1994) dalam
Christine (2010) Dukungan keluarga didefinisikan sebagai informasi
verbal atau non verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkah laku yang
diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek di dalam
lingkungannya atau yang berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat
memberikan keuntungan emosional dan berpengaruh pada tingkah laku
penerimanya.
Hal ini dipertegas peneliti sebelumnya (Ahli onkologi Cora Llave, MD
dan Denky Dela Rosa, MD, dalam Hakim 2013), mengatakan keluarga
adalah
teman
terbaik
bagi
pasien
kanker
dalam
menghadapi
"pertempuran" dengan penyakitnya. Setiap orang yang terkena kanker,
akan berpengaruh juga kepada seluruh keluarga baik berupa emosional,
psikologis, finansial, maupun fisik (Mikail 2011 dalam Hakim 2013).
Penelitian yang dilakukan oleh Wulan (2008) memperlihatkan kedekatan
keluarga dengan pasien kemoterapi terdapat hubungan yang bermakna,
karena keluarga yang mendampingi pasien saat menjalani kemoterapi
meberi dampak yang positif dalam proses penyembuhan pasien,
penelitian Hasan (2005) menyatakan bahwa 4 dari 10 orang pasien yang
selalu didampingi keluarga saat melakukan keoterapi memiliki
kepercayaan diri yang positif denga tidak didampingi keluarga.
Dukungan keluarga penting bagi pasien, dalam hal ini adalah pasien
kanker yang menjalani kemoterapi. Hal ini sesuai dengan pendapat baron
dan byrne (1994) dan sheridan & Radmacher (1992) pasien yang sedang
berada pada masa penyembuhan akan lebih cepat sembuh apabila
memiliki keluarga yang bersedia menolong. Berdasarkan teori dan
penelitian sebelumnya maka keluarga sangat dibutuhkan berperan aktif
64
dalam membantu pasien menjalani kemoterapi. Dengan adanya peran
keluarga menunjukan bahwa dukungan keluarga terus-menerus terhadap
pasien kanker dalam menjalani kemoterapi secara emosional pasien
merasa lega karena diperhatikan, mendapat saran atau kesan yang
menyenangkan pada dirinya dengan ahirya tingkat kecemasan pasien
akan menurun.
D. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu:
1. Mayoritas pasien keadaan lemah dalam menjalani kemoterapi sehingga
menghambat proses penelitian dan memerlukan waktu untuk melakukan
pendekatan yang signifikan.
2. Penelitian ini hanya berfokus pada dukungan keluarga yang dirasakan
menurut pasien itu sendiri dan tidak meneliti dengan stadium kanker.
3. Jumlah sampel yang terlalu sedikit
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah di lakukan tentang
“hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien kanker
dalam menjalani kemoterapi di RSUD DR Pirngadi Kota Medan yang telah
dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Kota Medan, dapat
disimpulkan bahwa:
1. Dukungan keluarga pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi adalah
mayoritas baik 27 responden
2. Tingkat kecemasan pasien kanker dalam menjalani kemoterapi di RSUD
DR Pirngadi Kota Medan adalah mayoritas kecemasan ringan 26
responden
3. Terdapat hubungan yang signifikan dukungan keluarga dengan tingkat
kecemasan pasien kanker dalam menjalani kemoterapi di RSUD
DR.Pirngadi Kota Medan dengan nilai p-value 0,002 r=0,389 (p< 0,05)
B. Saran
1.
Bagi Pasien Kanker
Diharapkan pada penderita kanker dalam menjalani kemoterapi agar
tetap mempunyai semangat yang kuat dalam melawan penyakit yang
dideritanya dan tetap memiliki keinginan untuk sembuh serta berpikir
positif.
2.
Bagi Keluarga
Keluarga
diharapkan
perlu
meningkatkan
pengetahuan
melalui
penerimaan berbagai informasi-informasi tentang penyakit kanker
payudara agar pencegahan kanker payudara dapat dilakukan. Dan
65
66
disarankan kepada keluarga untuk lebih memperhatikan keadaan pasien
dan untuk terus memotivasi dalam menjalankan kemoterapi.
3. Bagi Perawat
Diharapkan bagi perawat agar memberikan penyuluhan atau informasi
kepada keluarga pasien kanker tentang pentingnya dukungan keluarga
terhadap pasien kanker dalam menjalani proses kemoterapi, agar pasien
dapat lebih termotivasi dalam menjalani kemoterapi.
4.
Bagi Rumah Sakit
Diharapkan kepada Manajemen Rumah Sakit agar mengembangkan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam peningkatan kualitas
pelayanan, khususnya bagi pasien kanker dalam menjalani kemoterapi
karena pasien memerlukan perhatian yang lebih dan memberikan
informasi yang terbaru tentang kemoterapi dan penyakit kanker agar bisa
menurunkan tingkat kecemasan pasien dalam menjalani proses
kemoterapi di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan.
5.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Untuk peneliti selanjutnya agar dapat meneruskan penelitian ini dimana
peneliti selanjutnya lebih menekankan saling percaya terhadap pasien
dan mengontrak waktu terhadap pasien terlebih dahulu agar penelitian
selanjutnya lebih berjalan dengan lancar. Sehingga akan mengurangi
subjektivitas dalam pengisian kuesioner dukungan keluarga dan
disarankan agar peneliti selanjutnya meneliti dengan stadium kanker dan
jumlah sampel yang semakin banyak.
DAFTAR PUSTAKA
Adipo dkk. (2014).hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan
pasien yang menjalani kemoterapi di ruang anyelir rsud arifin
achmadrovinsi riau.Di download tanggal 07 Juli 2015.
American Cancer Sosiaty. (2010). Best Practic Guid Lines For The Managemaent
Of Oral Complications From Cancer Therapy. Calipornia. American.
Cancer Sosiaty. Diakses Tanggal 16 Januari 2015. http:/www.
Cancercare.ns.Ca
Aspuah, S, (2013). Kumpulan Kuesioner dan Instrumen Penelitian Kesehatan.
Cetakan I. Nuha Medika. Yogyakarta.
Baradero, M, (2008). Seri Asuhan Keperawatan PasienKlien Kanker. Cetakan I.
EGC. Jakarta.
Christine, M. 2010. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Respon Cemas Anak
Usia Sekolah Terhadap Pemasangan Intravena di Rumah Sakit Advent
Medan.http://repository.usu.ac.id. diperoleh 1 Maret 2015.
Depkes RI. (2013). Seminar sehari dalam rangka memperingati hari kanker
sedunia(2010). Diakses 9 februari 2015. http:/www.depkes. go. id/in
dex.php/berita/press-release/2233-seminar-sehai-dalam-rangkamemperingati-hari-kanker-sedunia-2013.html.
Doni, N. (2011). Pengaruh pelayanan kebutuhan spiritual oleh Perawat terhadap
tingkat kecemasan pasien pre Operasi di ruang rawat rsu siti
rahmahhttp://repository.unand.ac.id/17404/1/SKRIPSI.pdf. Di download
tanggal 26 februari 2015.
Hakim, R, Dkk. (2013). Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup
Pasien Kanker yang Menjalani Kemoterapi di RSUD Kraton Pekalongan.
http://www.e-skripsi.stikesmuh-pkj.ac.id/e-skripsi/index.php?p=fstreampdf&fid=425&bid=480. Di download tanggal 18 februari 2015.
Hawari, D. (2013). Stress, Cemas, dan Depresi. Ed 2. Jakarta : FKUI.
Jong de Wim. (2005). Kanker Apakah Itu? Pengobatan, Harapan Hidup, dan
Dukungan Keluarga. Cetakan I. Editor Lilian Juwono. Jakarta. Arcan.
Kusuma, H. 2011. Hubungan Antara Depresi Dan Dukungan Keluarga Dengan
Kualitas Hidup Pasien HIV/AIDS Yang Menjalani Perawatan di RSUPN
Cipto Mangunkusumo Jakarta. http://lib.ui.ac.id. diperoleh 20 April 2015.
Lutpa, U, dkk, (2008). Dkk. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien
dalam tindakan kemoterapi di rumah sakit dr.moewardi surakarta.
http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/123456789/509/4g.pdf?s
equence=1. Di download tanggal 16 februari 2015.
Misgiyanto dkk. (2014).hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat
kecemasan penderita kanker serviks paliatif. Di download tanggal 07 Juli
2015.
Muhlisin, A. (2012). Keperawatan Kelurga. Cetakan pertama. Yogyakarta :
Gosyen Publishing.
Mutmainah, dkk, (2012). Hubungan antara dukungan keluarga terhadap motivasi
untuk sembuh pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi di RSUD
Kraton
Kabupaten
Pekalongan.
http://www.e-skripsi.stikesmuhpkj.ac.id/e-skripsi/index.php?p=fstream-pdf&fid=339&bid=394.
Di
download tanggal 19 februari 2015.
Nasional cancer intiture. (2011). Surveilence, epidemiology and end result
(SEER). Diakses tangga 24 februari 2015. http:// www.seer. Cancer.
gov./cangue/incidence. Html.
Notoatmojo, S. (2010). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : PT
BINEKA CIPTA.
Notoatmojo, S. (2012). Metode Penelitian Kesehatan. Ed Revisi Cetakan Pertama.
Jakarta : PT BINEKA CIPTA.
Otto, S. (2001). Oncology Nursing. Fourth Edition. Mosby.
Pandiangan, H. (2013). Pengaruh Efek Samping Kemoterapi Terhadap Tingkat
Kecemasan Penderita Kanker Payudara Di Unit Kemoterapi Lantai VI
RSUD DR. PIRNGADI Medan. SKRIPSI. Di kutip tanggal 6 April 2015.
Pradana. (2012). Hubungan Kualitas Hidup Dengan Kebutuhan Perawatan
Paliatif Pada Pasien Kanker Di Rsup Sanglah Denpasar. Di download
tanggal 26 maret 2015.
Price, S.A.& Wilson, L. M. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinik Proses-Proses
Penyakit. Jakarta: EGC.
Rasjidi, I. (2007). Kemoterai Kanker Ginekologi Dalam Praktek Sehari-Hari.
Cetakan I. Jakarta.
Salim. ( 2014) rumah perawatan paliatif pada wanita penderita kanker di surabaya.
Di download tanggal 07 Juli 2015.
Saragi, R. (2010). Peranan dukungan keluarga dan koping pasiendengan penyakit
kanker terhadap pengobatan kemoterapi di rb 1 rumah sakit umum pusat
haji adam malik medan.http://uda.ac.id/jurnal/files/Rosita%20Saragih2.
pdf. Di download tanggal 17 februari 2015.
Sugiyono. (2013). Metode penelitian pendidikan (pendekatan kuantitatif,
kualitatif, dan R&D). Cetakan 16. Bandung. Alfabeta, cv.
Surtarna, S. (2014). Hubungan Dengan Dukungan Sosial Keluarga Dengan
Depresi Lansia Di Desa Kuala II Kecamatan Bintang Kabupaten Aceh
Tengah. SKRIPSI. Di akses tanggal 4 Afril 2015.
Veny, A. (2014). Hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasa Pasien
pre operasi di ruang bedah rsud Padang panjanghttp://jurnal.umsb.ac.id/
wp-content/uploads/2014/09/JURNAL-VENNY-AYUNI-CHANDRA-S.Kep_.pdf.Di
download tanggal 27 februari 2015.
Lampiran 1
LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN PENELITIAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama/NIM
: Masdia Japit Syahputra
Tempat Institusi Pendidikan
: Fakultas Keperawatan dan Kebidanan
Universitas Sari Mutiara Indonesia
Judul Penelitian
: Hubungan Dukungan Keluarga Dengan
Tingkat Kecemasan Pasien Kanker Dalam
Menjalani Kemoterapi di RSUD Dr.
Pirngadi Kota Medan Tahun 2015.
Sehubungan dengan penyusunan laporan penelitian yang akan saya
lakukan dengan judul tersebut diatas yang merupakan syarat untuk memperoleh
gelar sarjana Keperawatan ( S.Kep) di Fakultas Keperawatan dan Kebidanan
Universitas Sari Mutiara Indonesia, untuk itu saya memohon kesediaan bapak/ibu
untuk mengisi kuesioner yang saya sediakan dengan kejujuran dan apa
adanya.Jawaban bapak/ibu dijamin kerahasiannya.
Demikian permohonan saya ini, atas kerjasamanya saya ucapkan terima kasih.
Medan, Mei 2015
Hormat Saya
(Masdia Japit Syah putra)
Sehubungan dengan penjelasan diatas , dengan ini saya menyatakan bahwa
saya bersedia untuk berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian ini dengan
sukarela.
Hormat Saya
Responden
(........................................)
Lampiran 2
PERNYATAAN PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini
Nama
:
Alamat
:
Menyatakan bahwa saya bersedia manjadi responden dalam penelitian
yang berjudul Hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien
kanker dalam menjalani kemoterapi di RSUD DR Pirngadi Kota Medan. Saya
tidak akan menuntuttrhadap segala kemungkinan yang akan terjadi dalam
penelitian ini.
Demikian surat pernyataan persetujuan ini saya sampaikan secara sadardan
tanpa ada paksa siapapun.
Responden
(
Peneliti
)
(Masdia Japit Syah Putra)
Lampiran 3
KUESIONER PENELITIAN
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT
KECEMASAN PADA PASIEN KANKER DALAM
MENJALANI KEMOTERAPI DI RSU
DR. PIRNGADI KOTA MEDAN
TAHUN 2015
A. Data Demograpi
Nama
:
Umur
:
Jenis Kelamin
:
Siklus
:
B. Petunjuk Kuesioner
1. Responden diharap mengisi pertanyaan/pernyataan sesuai petunjuk
pengisian dan keadaan yang dirasakan sebenar-benarnya
2. Beri tanda (
utuk pilihan yang sesuai dengan apa yang saudaa/i lakukan
ketika menghadapi masalah dengan ketentuan sebagai berikut
3. Bila saudara/i menjawab pertanyaan/pernyataan yang salah cukup
memberi tanda (=) kemudian tentukan lagi jawaban yang ada anginkan
dan beri tanda
pada jawaban yang anda anggap benar
4. Semua pertanyaan/pernyataan yang terdapat pada kuesioner merupakan
tindakan tau hal yang ada rasakan ketika mengalami masalah dalam
penanganan kanker dalam menjalani kemoterapi
1.
Kuesioner Dukungan Keluarga
Petunjuk pengisian : berikan tanda check list (√) pada setiap kolom jawaban
yang tersedia di bawah ini sesuai dengan kondisi dan situasi yang anda alami.
Keterangan : SL = Selalu
SR = Sering
KD = Kadang-kadang
TP = Tidak Pernah
No
Pernyataan
Dukungan Emosional
1.
Keluarga tetap mencintai dan
memperhatikan keadaan saya
selama saya sakit
2.
Keluarga memberikan perhatian
yang baik setiap saya
membutuhkan bantuan
3.
Keluarga menghibur bila saya
terlihat sedang sedih dengan
penyakit yang saya hadapi
4.
Keluarga melibatkan saya
dalam pengambilan keputusan
mengenai pengobatan
/perawatan yang akan saya
jalani
5.
Keluarga melibatkan saya
dalam pengambilan keputusan
tentang hal-hal yang
menyangkut masalah keluarga
Dukungan Informasi
Selalu
Sering
(SL)
(SR)
Kadang-
Tidak
Kadang
Pernah
(KD)
(TP)
6.
Tanpa saya minta, keluarga
saya menunjukkan
kepeduliannya dengan
mengajak saya untuk
membicarakan penyakit yang
saya hadapi
7.
Keluarga memberitahu tentang
hasil pemeriksaan dan
pengobatan dari dokter/perawat
yang merawat saya
8.
Keluarga mengingatkan saya
untuk jadwal kemoterapi
selanjutnya, istirahat, dan
makan makanan sehat
9.
Keluarga mengingatkan saya
tentang perilaku-perilaku yang
dapat memperburuk penyakit
saya
10. Keluarga menjelaskan kepada
saya setiap saya bertanya halhal yang tidak jelas tentang
penyakit dan proses kemoterapi
yang saya jalani
Dukungan Instrumental
11. Keluarga mendampingi saya
dalam menjalani pengobatan
12. Keluarga menyediakan waktu
dan fasilitas jika saya menjalani
pengobatan
13. Keluarga sangat berperan aktif
dalam setiap pengobatan dan
perawatan penyakit saya
14. Keluarga bersedia membiayai
biaya perawatan dan
pengobatan penyakit saya
15. Keluarga berusaha untuk
mencari kekurangan akan setiap
kebutuhan dalam proses
pengobatan saya
Dukungan Penghargaan
16. Keluarga mengerti bahwa sakit
yang saya alami sebagai suatu
musibah
17. Keluarga siap membantu saya
dalam melakukan aktivitas
sehari-hari bila saya masih
merasa lelah akibat proses
kemoterapi
18. Keluarga memberikan pujian
bila saya mengikuti kemoterapi
dengan teratur sesuai jadwal
19. Keluarga melibatkan saya
dalam aktivitas sosial
20. Keluarga tidak melarang saya
untuk berhubungan dengan
teman
2. KUESIONER TINGKAT KECEMASAN
Petunjuk pengisian : beri tanda check list ( pada setiap kolom jawaban yang
tersedia dibawah ini sesuai dengan kondisi dan situasi yang anda alami.
Keterangan :
1 = Sangat jarang (SJ)
2 = Kadang-kadang (KK)
3 = Sering (S)
4 = Selalu (SL)
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Pernyataan
Saya sering merasakan grogi dan cemas
setiap saat
Saya merasa kawatir jika tidak ada
alasan saat say bersalah
Saya mudah sekali bingung dan merasa
panik
Saya sering merasakan jatuh dan jauh
dari suasana damai
Saya sering merasakan segala sesuatu
tanpa masalah dan tidak terjadi apa-apa
Tangan dan kaki sering merasa gemetar
Saya merasa terganggu dengan sakit
kepala, sakit leher dan pinggang
Saya mudah lemah dan cepat lelah
Saya merasa tenang dan daat duduk
dengan mudah
Saya merasa jantungku berdenyut
kencang
Saya merasa takut dan pusing
Saya merasa pingsan dan merasa seperti
ini
Saya merasa dapat bernapas dan keluar
dengan mudah
Saya merasa mati rasa dan kesemutan
ada jari-jari dan tangan
Sangat
Jarang
(SJ)
Kadang
Kadang
(KK)
Serin
g
(S)
Selalu
(SL)
15
16
17
18
19
20
Saya sring merasa sakit perut dan
mengalami gangguan pencernaan
Saya ingin cepat mengosongkan
kandung kemih
Tanganku basa cepat kering dan hangat
Mukaku cepat panas dan kusam
Saya merasa tidak bisa tidur dengan
cepat dan istirahat dengan baik
Saya sering mengalami mimpi buruk
Lampiran 4
Lampiran 5
Lampiran 6
Lampiran 7
Lampiran 9
Lembar Output
Umur Pasien
Valid
<45
>46
Total
Frequency
23
36
59
Percent
39,0
61,0
100,0
Valid Percent
39,0
61,0
100,0
Cumulative
Percent
39,0
100,0
Jenis Kelamin Pasien
Valid
laki-laki
perempuan
Total
Frequency
19
40
59
Percent
32,2
67,8
100,0
Valid Percent
32,2
67,8
100,0
Cumulative
Percent
32,2
100,0
Siklus Kemoterapi Pasien
Valid
Siklus I
Siklus II
Siklus III
Siklus IV
Siklus V
Siklus VI
Total
Frequency
10
18
22
5
3
1
59
Percent
16,9
30,5
37,3
8,5
5,1
1,7
100,0
Valid Percent
16,9
30,5
37,3
8,5
5,1
1,7
100,0
Cumulative
Percent
16,9
47,5
84,7
93,2
98,3
100,0
Dukungan Keluarga Pasien
Frequency
Valid
kurang
cukup
baik
Total
9
23
27
59
Percent
15,3
39,0
45,8
100,0
Valid Percent
15,3
39,0
45,8
100,0
Cumulative
Percent
15,3
54,2
100,0
Tingkat Kecemasan Pasien
Valid
normal
ringan
sedang
berat
Total
Frequency
16
26
12
5
59
Percent
27,1
44,1
20,3
8,5
100,0
Valid Percent
27,1
44,1
20,3
8,5
100,0
Cumulative
Percent
27,1
71,2
91,5
100,0
Correlations Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pasien
Tingkat
Dukungan Kecema
Keluarga
san
Spearman's rho Dukungan
Correlation
1,000
,389**
Keluarga
Coefficient
Sig. (2-tailed)
.
,002
N
59
59
Tingkat
Correlation
,389**
1,000
Kecemasan
Coefficient
Sig. (2-tailed)
,002
.
N
59
59
Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Lampiran 10
Lampiran 11
Download