plagiat merupakan tindakan tidak terpuji plagiat

advertisement
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PEMERINTAHAN PRESIDEN B.J. HABIBIE (1998-1999):
KEBIJAKAN POLITIK DALAM NEGERI
MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Sejarah
Oleh:
ALBERTO FERRY FIRNANDUS
NIM: 101314023
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PEMERINTAHAN PRESIDEN B.J. HABIBIE (1998-1999):
KEBIJAKAN POLITIK DALAM NEGERI
MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Sejarah
Oleh:
ALBERTO FERRY FIRNANDUS
NIM: 101314023
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015
i
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
iii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
HALAMAN PERSEMBAHAN
Makalah ini ku persembahkan kepada:
Kedua orang tua ku yang selalu mendoakan dan mendukungku.
Teman-teman yang selalu memberikan bantuan, semangat dan doa.
Almamaterku.
iv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
HALAMAN MOTTO
Selama kita bersungguh-sungguh maka kita akan memetik buah yang manis,
segala keputusan hanya ditangan kita sendiri, kita mampu untuk itu.
(B.J. Habibie)
Dimanapun engkau berada selalulah menjadi yg terbaik dan berikan yang terbaik
dari yg bisa kita berikan.
(B.J. Habibie)
Pandanglah hari ini, kemarin sudah jadi mimpi. Dan esok hanyalah sebuah visi.
Tetapi, hari ini sesungguhnya nyata, menjadikan kemarin sebagai mimpi
kebahagiaan, dan setiap hari esok adalah visi harapan.
(Alexander Pope)
Dan bahwa setiap pengalaman mestilah dimasukkan ke dalam kehidupan, guna
memperkaya kehidupan itu sendiri. Karena tiada kata terakhir untuk belajar
seperti yang juga tiada kata akhir untuk kehidupan
(Annemarie S)
v
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
vi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
vii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ABSTRAK
PEMERINTAHAN PRESIDEN B.J. HABIBIE (1998-1999):
KEBIJAKAN POLITIK DALAM NEGERI
Oleh:
Alberto Ferry Firnandus
Universitas Sanata Dharma
2015
Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) proses peralihan kepala
pemerintahan dari Soeharto ke B.J. Habibie; (2) kebijakan dalam negeri
pemerintahan B.J. Habibie; (3) akhir dari pemerintahan B.J. Habibie.
Metode yang digunakan penulisan sejarah dengan langkah-langkah
heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Pendekatan yang dipakai
adalah pendekatan sosial-politik. Cara penulisannya bersifat deskriptif analitis.
Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa: (1) krisis ekonomi tahun 1997
dan dugaan KKN serta tuntutan reformasi membuat Presiden Soeharto lengser
dari jabatannya sebagai Presiden, dengan demikian Wakil Presiden B.J. Habibie
menjadi Presiden menggantikan Soeharto; (2) Presiden B.J. Habibie membentuk
Kabinet Reformasi Pembangunan, Kebijakan politik yang diambil yaitu,
pembebasan tahanan politik pada masa Orde Baru, kebebasan pers, pembentukan
parpol dan percepatan pemilu, penyelesaiaan masalah Timor Timur, dan
pengusutan kekayaan Soeharto dan kroni-kroninya; (3) penolakan
pertanggungjawaban Presiden B.J. Habibie serta terpilihnya Abdurrahman Wahid
dan Megawati sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode
1999-2004 menandai berakhirnya pemerintahan Presiden B.J. Habibie.
viii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ABSTRACT
GOVERNMENT PRESIDENT B.J. HABIBIE (1998-1999):
DOMESTIC POLITICAL POLICY
By:
Alberto Ferry Firnandus
Sanata Dharma University
2015
This paper aims to describe: (1) the process of transition from Head of the
Indonesian Government Soeharto to BJ Habibie; (2) The domestic policies of BJ
Habibie; (3) the end of the reign B.J. Habibie.
The method used includes heuristic measures , verification , interpretation
, and historiography . The approach used is a socio - political approach . The way
of writing is descriptive analytical method.
The results of this paper show that: (1) the economic crisis in 1997 and
allegations of corruption and demands for reform led President Soeharto to step
down from his position as President, thus the Vice President BJ Habibie
succeeded Suharto a become president; (2) President B.J. it formed the
Development Reform Cabinet, political policy are taken, namely, the release of
political prisoners during the New Order, freedom of the press, the establishment
of political parties and election acceleration, Completion East Timor, and the
prosecution of the wealth of Suharto and his cronies; (3) The rejection of the
President's accountability and Abdurrahman Wahid and Megawati's election as
President and Vice President of the Republic of Indonesia during the 1999-2004
period marked the end of President BJ Habibie.
ix
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
x
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..........................................................................................
i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..............................................
ii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................
iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................
iv
HALAMAN MOTTO ........................................................................................
v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................
vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA
ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS .........................................
vii
ABSTRAK ..........................................................................................................
viii
ABSTRACT ........................................................................................................
ix
KATA PENGANTAR ........................................................................................
x
DAFTAR ISI .......................................................................................................
xi
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .................................................................
1
B. Rumusan Masalah ...........................................................................
6
C. Tujuan Penulisan .............................................................................
6
D. Manfaat Penulisan ...........................................................................
7
E. Sistematika Penulisan .....................................................................
8
BAB II : PROSES PERALIHAN KEKUASAAN DARI SOEHARTO KE
B.J. HABIBIE
A. Krisis Ekonomi Tahun 1997 ...........................................................
9
B. Proses Lengsernya Presiden Soeharto ............................................
13
C. B.J Habibie Menjadi Presiden .........................................................
21
BAB III :HASIL KEBIJAKAN POLITIK DALAM NEGERI PRESIDEN
B.J. HABIBIE
A. Penyusunan Kabinet Reformasi Pembangunan ..............................
xi
25
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
B. Pembebasan Tahanan Politik pada Masa Orde Baru ......................
28
C. Kebebasan Pers ................................................................................
30
D. Penghapusan Istilah Pribumi dan Non Pribumi ...............................
35
E. Pembentukan Partai Politik dan Percepatan Pemilu .......................
36
F. Penyelesaian Masalah Timor Timur ................................................
39
G. Pengusutan Kekayaan Soeharto dan Kroni-kroninya ......................
41
BAB IV : AKHIR PEMERINTAHAN B.J HABIBIE
A. Penolakan Pidato Pertanggungjawaban Presiden B.J. Habibie ........
44
B. Terbentuknya Pemerintahan Baru .......................................................
48
BAB V : KESIMPULAN ...................................................................................
50
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................
52
LAMPIRAN
xii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Silabus
Lampiran 2 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Lampiran 3 : Ringkasan Materi
Xiii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Reformasi merupakan suatu gerakan yang menghendaki adanya
perubahan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ke arah yang
lebih baik secara konstitusional. Reformasi dimaknai sebagai perubahan
sosial yang diprakarsai dan dilaksanakan oleh semua pihak. Reformasi
berkenaan dengan seluruh aspek kehidupan yang berlangsung secara perlahan
atau dalam jangka panjang, dan berproses secara alami. Dalam artian tanpa
didasarkan pada suatu rencana yang dipercepat. Dalam hal reformasi politik,
pendekatan mendekati evolusioner berlangsung pada teknis pelaksanaan
kehidupan politik. Tujuannya adalah meningkatkan efektivitas dan efisiensi
proses politik, tanpa mengubah prinsip, ketentuan dan struktur dasarnya.9
Dalam kecenderungannya untuk mendekati revolusi, Reformasi
digerakkan dan diprakarsai oleh masyarakat untuk melakukan perubahan
segenap aspek kehidupan secara mendasar, berlangsung secara cepat sehingga
tidak menghiraukan jumlah dan kualitas korban, apalagi mengingat prosesnya
yang kental diwarnai oleh kekerasan.10Tujuan reformasi sendiri adalah
terciptanya kehidupan dalam bidang politik, ekonomi, hukum, dan sosial
yang lebih baik dari masa sebelumnya
9
Arbi Sanit,Reformasi Politik, Yogyakarta:Pustaka Belajar, 1998, hlm. 100
Ibid., hlm. 101
10
1
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2
Gerakan reformasi di Indonesia muncul sebagai jawaban atas krisis
yang melanda berbagai segi kehidupan pada masa pemerintahan Orde
Baru.Dampak krisis ekonomi di Asia terutama Asia Tenggara tahun 1997
menyebabkan stabilitas politik Indonesia menjadi goyah. Praktik-praktik
pemerintahan di masa Orde Baru hanya membawa kebahagiaan semu,
ekonomi Indonesia semakin terpuruk, sistem ekonomi menjadi kapitalistik.
Terlebih lagi merajalelanya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme yang
dilakukan pada hampir seluruh instansi serta lembaga pemerintahan, hal ini
membawa rakyat semakin menderita. Para wakil rakyat yang seharusnya
membawa amanat rakyat pada kenyataannya tidak berfungsi secara
demokratis.11 Krisis ekonomi tahun 1997 merupakan langkah awal
munculnya gerakan reformasi di Indonesia.
Dari segi politik, gerakan reformasi disebabkan karena pemerintahan
pada masa Orde Baru bersifat otoriter, tertutup, dan personal. Masyarakat
yang memberikan kritik mudah dituduh sebagai anti-pemerintah, menghina
kepala negara dan anti-Pancasila. Pada masa Orde Baru,Pancasila digunakan
sebagai alat legitimasi politik oleh penguasa, sehingga kedudukan Pancasila
sebagai sumber nilai dikaburkan dengan praktik kebijakan pelaksana
penguasa negara. Setiap kebijakan penguasa Orde Baru senantiasa
dilegitimasi oleh ideologi Pancasila. Konsekuensinya setiap warga negara
yang tidak mendukung kebijaksanaan tersebut dianggap bertentangan dengan
11
Warsito,Pendidikan Pancasila Era Roformasi, Yogyakarta:Penerbit Ombak, 2012, hlm. 245
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
3
Pancasila.12Akibatnya kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis
tidak pernah terwujud dan Golkar yang menjadi partai terbesar pada masa itu
diperalat oleh pemerintah Orde Baru untuk mengamankan kehendak
penguasa. Sikap pemerintah yang otoriter, tertutup, tidak demokratis, serta
merebaknya KKN menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat. Gejala ini
terlihat pada pemilu 1992 ketika suara Golkar berkurang cukup banyak. Sejak
1996, ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan Orde Baru mulai
terbuka. Keadaan ini diperparah pada tahun 1997, tingkat inflasi semakin
parah mencapai 11,5%
dan pada tahun
1998 melonjak tinggi menjadi
77,6%, Inflansi yang terjadi ini semakin memperparah keadaan Indonesia.
Para mahasiswa mulai turun ke jalan, demonstrasi menjadi lebih marak dari
hari-kehari menuntut supaya presiden mundur dengan tuduhan KKN, maka
terjadilah krisis politik yang menimpa Presiden Soeharto.13
Berbagai kebijakan politik yang dikeluarkan pemerintahan Orde Baru
selalu dengan alasan dalam kerangka pelaksanaan Demokrasi Pancasila. Akan
tetapi yang
sebenarnya terjadi adalah dalam rangka mempertahankan
kekuasaan Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto. Demokrasi yang
dilaksanakan pemerintahan Orde Baru bukan demokrasi yang semestinya,
melainkan demokrasi semu. Pada masa Orde Baru, kehidupan politik sangat
represif, yaitu adanya tekanan yang kuat dari pemerintah terhadap pihak
oposisi atau orang-orang yang berpikirkritis terhadap politik yang dijalankan
oleh Presiden Soeharto.
12
13
Ibid., hlm. 256
Tuk Setyohadi,Sejarah Perjalanan Bangsa Indonesia Dari Masa Ke Masa, Jakarta: Rajawali
Corporation,2002, hlm. 172
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4
Menyadari bahwa masalah dasar masyarakat pada masa Orde Baru
adalah mewujudkan kebebasan, persamaan, keadilan, dan tersentralisasi,
sehingga terjerumus ke dalam wataknya yang otoriterian, maka demokratisasi
segenap aspek kehidupan dipastikan menjadi tujuan atau arah bagi reformasi
politik. Selama 3 dekade pembangunan nasional yang didasarkan pada adil
dan makmur sebagai tujuannya, terbukti kesalahan ideologi itu membawa
petaka berupa krisis rupiah, moneter, ekonomi dan politik. Hal itu terjadi
karena penafsiran konsitusi seperti itu membenarkan prioritas pembangunan,
dengan stabilitas politik sebagai syaratnya. Akibatnya terjadilah kesenjangan
pembangunan ekonomi dengan sosial-budaya dan politik. Kesenjangan itu
menyebabkan perkembangan ekonomi tidak terkontrol oleh proses politik,
sehingga Indonesia terjebak oleh berbagai kelemahan sistem ekonomi secara
mendasar.14
Krisispolitik, ekonomi, hukum, dan krisis social yang terjadi pada masa
pemerintahan Orde Baru merupakan faktor yang
mendorong lahirnya
gerakan reformasi. Bahkan krisis kepercayaan telah menjadi salah satu
indikator yang menentukan. Reformasi dipandang sebagai gerakan yang tidak
boleh ditawar-tawar lagi dan karena itu, hamper seluruh rakyat Indonesia
mendukung sepenuhnya gerakan reformasi tersebut. Dengan semangat
reformasi, rakyat Indonesia menghendaki adanya pergantian kepemimpinan
nasional sebagai langkah awal menuju terwujudnya masyarakat yang adil dan
makmur. Pergantian kepemimpinan nasional diharapkan dapat memperbaiki
14
Arbi Sanit,Reformasi Politik, Yogyakarta:Pustaka Belajar, 1998, hlm. 102
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
5
kehidupan politik, ekonomi, hukum, sosial, dan budaya. Indonesia harus
dipimpin oleh orang yang memiliki kepedulian terhadap kesulitan dan
penderitaan rakyat.
Krisis moneter disusul dengan krisis ekonomi dan berlanjut ke krisis
politik, serta gerakan reformasi yang menuntut turunnya Presiden Soeharto
semakin kuat, Hal ini menyebabkan runtuhnya pemerintahan Orde Baru yang
digantikan dengan orde reformasi.15 Berakhirnya Orde Baru ditandai dengan
lengsernya Presiden Soeharto yang digantikan oleh B.J. Habibie. Masa
pemerintahannya sebagai presiden, B.J. Habibie dengan kabinet reformasi
pembangunannya dihadapkan dengan persoalan-persoalan yang belum tuntas
pada masa Orde Baru. Krisis ekonomi, kekerasan sosial, krisis politik, dan
krisis kepercayaan pada pemerintah merupakan persoalan-persoalan yang
harus dihadapi oleh pemerintahan B.J. Habibie.16
Dari latar belakang tersebut, penulistertarik untuk membahas tentang
jalannya reformasi dilihat dari kebijakan-kebijakan politik pada masa
pemerintahan Presiden B.J. Habibie, dan upaya menyelesaikan persoalanpersoalan yang terjadi masa pemerintahan Orde Baru.
15
Tuk Setyohadi,Sejarah Perjalanan Bangsa Indonesia Dari Masa Ke Masa, Jakarta: Rajawali
Corporation,2002, hlm. 221
16
Ibid., hlm. 655
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
6
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan yang menjadi objek penulisan ini. Adapun permasalahannya
sebagai berikut, yaitu:
1. Bagaimana proses peralihankekuasaan dari Soeharto ke B.J. Habibie?
2. Bagaimana kebijakan dalam negeripemerintahan B.J. Habibie?
3. Bagaimanaakhir dari pemerintahan B.J. Habibie?
C. TujuanPenulisan
Dari rumusan makalah diatas, maka tujuan yang akan dicapai dalam
makalah ini adalah:
a. Mendeskripsikan mengenai proses peralihan Kepala Pemerintahan dari
Soeharto ke B.J. Habibie.
b. Mendeskripsikan mengenai kebijakan dalam negeri pemerintahan B.J.
Habibie.
c. Mendeskripsikan mengenai akhir dari pemerintahan B.J. Habibie.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
7
D. Manfaat penulisan
a. Bagi Universitas
Penulisan ini diharapkan untuk menambah bahan bacaan yang
berguna bagi pembaca baik yang berada di lingkungan Universitas
Sanata Dharma maupun bagi pembaca yang berada di luar Universitas
Sanata Dharma khususnya mengenai kebijakan-kebijakan politik dalam
negeri pada masa pemerintahan B.J. Habibie.
b. Bagi Prodi PendidikanSejarah
Makalah ini diharapkan mampu menarik minat mahasiswa
Pendidikan
Sejarah
untuk
mempelajari
lebih
dalam
mengenai
pemerintahan Presiden B.J. Habibie (1998-1999) mengenai kebijakan
politik dalam negeri. Hal tersebut dimaksudkan untuk menambah
wawasan dan pengetahuan mahasiswa.
c. Bagi Masyarakat
Tulisan ini diharapkan bias menjadi referensi dan menambah
perbendaharaan dalam pengembangan sejarah khususnya tentang
kebijakan-kebijakan politik dalam negeri pada masa pemerintahan B.J.
Habibie.
d. Bagi Pemerintah
Tulisan ini diharapkan dapat digunakan sebagai refleksi bagi
pemerintahan saat ini dalam upaya membangun bangsa Indonesia
kedepan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
8
e. Bagi Penulis
Untuk menambah pengalaman dan pengetahuan dalam menulis
karya ilmiah khususnya tentang kebijakan-kebijakan politik dalam negeri
pada masa pemerintahan B.J. Habibie dan juga dapat mempertajam cara
berpikir penulis.
E. Sistematika Penulisan
Makalah yang berjudul Kebijakan-Kebijakan Politik Pada Masa
Pemerintahan Presiden B.J. Habibie ini memiliki sistematika sebagai berikut:
Bab I
: Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah, perumusan
masalah,tujuan dan manfaat penulisan dan
sistematika
penulisan.
Bab II
: Uraian tentang proses peralihan kekuasaan dari Soeharto ke
B.J. Habibie.
Bab III
: Uraian tentang kebijakan-kebijakan politik dalam negeri masa
pemerintahan Presiden B.J. Habibie.
Bab IV
: Uraian mengenai akhir dari pemerintahan B.J. Habibie.
Bab V
: Kesimpulan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
9
BAB II
PROSES PERALIHAN KEKUASAAN
DARI SOEHARTO KE B.J. HABIBIE
A. Krisis Ekonomi Tahun 1997
Pada tahun 1997 terjadi krisis ekonomi dunia. Penyebab utama krisis
ekonomi dunia adalah perilaku para spekulen valuta asing yang telah
memborong dollar AS, lalu menjualnya dengan harga tinggi sehingga
berimbas pada nilai mata uang negara-negara ASEAN menjadi terpuruk.
Spekulan uang terbesar pada era krisis tersebut adalah George Soros.17
George Soros dituduh oleh Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad
sebagai penyebab krisis ekonomi Asia. Negara yang paling terkena
dampaknya adalah Korea Selatan, Malaysia, Indonesia, dan Thailand, yang
menyebabkan mata uang ketiga negara tersebut menjadi rendah. Pada
perkembangannya krisis ekonomi Asia tahun 1997 berdampak sangat luas
bagi perekonomian Indonesia.
Keterpurukan ekonomi Indonesia diperburuk dengan adanya regulasi
perbankan pada bulan Oktober 1988 dengan “Pakto 1988”. Pakto 1988
merupakan kebijakan pemerintah dalam upaya membuka peluang bisnis
perbankan seluas-luasnya guna memobilisasi dana masyarakat untuk
menunjang pembangunan. Pakto 1988 berisi tentang liberalisasi perbankan
yang memungkinkan pendirian bank-bank baru selain bank-bank yang telah
17
Muksalmina, George Soros, Pria yang Menghancurkan Poundsterling, Rupiah, diakses dari
http://islamiyah.wordpress.com/2007/03/21/george-soros-pria-yang-menghancurkanpoundsterling-rupiah/, diakses pada tanggal 16 Desember 2014.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
10
ada. Dengan modal Rp 10 milyar maka seorang pengusaha bisa membuka
bank baru sehingga pada masa itu jumlah bank swasta di Indonesia menjadi
ratusan. Sejak adanya Pakto 1988 menyebabkan sistem manajemen
perbankan di Indonesia menjadi bermasalah. Jumlah bank swasta yang
berjumlah ratusan dengan berkapital rendah kurang terawasi oleh Bank
Sentral. Banyak bank-bank yang terkait dengan konlomerat bermasalah
dengan utang terhadap bank pemerintah, dan operasinya condong untuk
memberikan kredit kepada perusahaan miliknya sendiri tanpa memberikan
ketentuan lending limit. Pemberian kredit kepada nasabah yang terlalu mudah
tidak prudent , ditambah banyak pejabat bank yang berkolusi dengan nasabah
atau peminjam yang menimbulkan kemacetan dalam pengembaliannya.18
Sementara itu banyak perusahaan swasta Indonesia yang terlibat dalam
utang dollar AS dari luar negeri berjangka pendek, serta sebaliknya banyak
perusaahan asing dan para konglomerat Indonesia yang melarikan dollar ASnya keluar sebagai capital flight ditambah pula, defisit transaksi berjalan dari
neraca pembayaran semakin membesar.19
Alhasil nilai tukar rupiah tehadap US $ anjlok tanpa dapat dibendung,
Rupiah selama ini berada dalam kisaran Rp 2.500/US$, namun nilai mata
uang mulai merosot pada bulan Juli 1997. Pada bulan Agustus, nilai mata
uang rupiah sudah menurun 9%. Bank Indonesia mengakui bahwa tidak bisa
membendung rupiah terus merosot. Pada bulan Januari tahun 1998, mata
uang terpuruk hingga level sekitar Rp 10.000/US$ dan sebulan sesudahnya
18
Tuk Setyohadi, Sejarah Perjalanan Bangsa Indonesia Dari Masa Ke Masa, Jakarta: Rajawali
Corporation, 2002, hlm. 171.
19
Idem.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
11
menjadi Rp 17.000/US$ atau kehilangan 85% nilainya. Keterpurukan ini
mengakibatkan bursa saham Jakarta hancur, dan membuat perekonomian
Indonesia semakin terpuruk. Hampir semua perusahaan modern di Indonesia
bangkrut, yang diikuti PHK pekerja-pekerjanya, sehingga menyebabkan
angka pengangguran menjadi meningkat.20
Menanggapi krisis ekonomi yang terjadi, upaya pemerintah adalah
meminta bantuan kepada International Monetary Fund (IMF) pada tanggal
31 Oktober 1997. Kerjasama Indonesia dengan IMF bertujuan untuk
memperkuat sektor finansial, pengetatan kebijakan viskal dan penyesuaian
struktural perbankan. Akan tetapi pengaruh bantuan IMF sangatlah kecil
dalam membantu krisis di Indonesia. Beberapa kebijakan seperti kebijakan
fiskal
dan
kebijakan
likuidasi.
Kebijakan
fiskal
bertujuan
untuk
mempertahankan nilai tukar sedangkan kebijakan likuidasi bertujuan untuk
membantu bank-bank yang bemasalah. Kebijakan ini menerapkan standar
kecukupan modal dengan mengusahakan rekapitulasi perbankan. IMF
menyediakan standby loan sebesar US$ 38 milyar untuk menanggulangi
krisis
moneter
yang dialami
Indonesia.
Perjanjian
dengan
IMF
mengakibatkan ditutupnya 16 bank bermasalah.21
Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam upaya menangani krisis dengan
melakukan kerjasama dengan IMF tidak mampu membawa Indonesia keluar
dari krisis ekonomi. Harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi, hal ini
menyebabkan timbulnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
20
21
M.C. Riclefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, Jakarta: Serambi, 2010, hlm. 687.
Tuk Setyohadi, Op. Cit., hlm.171.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
12
Masyarakat menganggap pemerintah tidak berhasil dalam melaksanakan
kebijakan-kebijakannya.
Krisis moneter yang terjadi meningkat menjadi krisis sosial-ekonomi
yang menimpa rakyat kecil dengan meningkatnya harga sembilan bahan
pokok yang tidak terkendali. Tingkat inflasi pada tahun-tahun sebelumnya
tidak pernah melampaui dua digit. Pada tahun 1997 menjadi 11,5 % dan pada
tahun 1998 melonjak dengan sangat drastis menjadi 77,6 %. Menanggapi
krisis yang terjadi, para mahasiswa mulai melakuakan gerakan dengan cara
turun ke jalan, demontrasi menjadi lebih marak dari hari-kehari menuntut
supaya presiden mundur dengan tuduhan KKN, maka terjadilah krisis politik
yang menimpa pemerintahan Soeharto.22
Krisis ekonomi yang disusul dengan krisis sosial-ekonomi terjadi
menjelang sidang Umum MPR sebagai hasil pemilu tahun 1997 dengan
kemenangan Golkar secara mutlak sebagai single majority dengan angka
perolehan sebesar 75%. Golkar kembali mencalonkan Soeharto sebagai
kandidat Presiden masa bakti 1998-2003. Sementara itu telah beredar isu
bahwa wakil Presiden yang mendampingi Soeharto adalah B.J. Habibie.
Krisis moneter tahun 1997, diperparah dengan utang luar negeri
Indonesia sebesar US $ 137 milyar. Rinciannya US $ 53,8% milyar
merupakan utang pemerintah dan US $ 83,2% merupakan utang swasta.
Utang luar negri ini merupakan utang jangka pendek, sedangkan penggunaan
biaya tersebut lebih condong untuk membiayai sektor-sektor non produktif,
22
Ibid., hlm. 172.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
13
seperti shopping mall, apartemen, hotel, perkantoran, real state, lapangan
golf, tourist resort dan lain-lain semacamnya.23
B. Proses Lengsernya Presiden Soeharto
Banyaknya persoalan yang dihadapi Indonesia sebagai akibat dari krisis
ekonomi yang berkepanjangan, serta upaya-upaya pemerintah yang dianggap
tidak serius dalam mengatasi krisis ekonomi membuat masyarakat terutama
mahasiswa tidak mempercayai pemerintahan Presiden Soeharto. Puncak
penolakan mahasiswa terhadap Pemerintahan Soeharto terlihat pada saat
diadakannya Sidang Umum MPR yang merupakan rutinitas dari mekanisme
lima tahunan ketata negaraan Orde Baru. Mahasiswa menolak pidato
pertanggungjawaban Presiden Soeharto di depan Sidang Umum MPR.
Demonstrasi yang disuarakan mahasiswa meminta pertanggungjawaban
pemerintahan Soeharto terhadap terjadinya krisis moneter dan krisis sosialekonomi, mahasiswa juga melakukan kritik anti Soeharto yang ditunjukkan
pada korupsi di lingkungan keluarga Soeharto serta kedekatan keluarga
Cendana dengan para konglomerat.
Penolakan
mahasiswa
mengenai
pertanggungjawaban
Presiden
Soeharto berbanding terbalik dengan MPR. Pidato pertanggungjawaban
Presiden diterima secara penuh oleh MPR tanpa catatan, seperti yang semula
diusulkan oleh Fraksi PPP. Dalam sidang tersebut juga dipilih kembali
Soeharto sebagai Presiden RI masa bakti 1998-2003 dengan didampingi B.J.
Habibie sebagai wakil Presiden. MPR juga mengesahkan penetapan No.
23
Ibid., hlm. 173.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
14
V/MPR/ 1998 yang isinya memberikan kewenangan kepada presiden untuk
mengambil segala langkah yang diperjuangkan guna mengamankan
pembangunan. Keputusan MPR pada Sidang Umum MPR bulan Maret 1998
tersebut membuat ketegangan di masyarakat semakin bertambah, demontrasi
penolakan Soeharto dan tuntutan segera diadakannya reformasi semakin
meningkat.
Setelah terpilih kembali sebagai presiden, Soeharto menyatakan akan
memenuhi tuntutan rakyat untuk segera menanggulangi krisis moneter dan
ekonomi melalui suatu gerakan reformasi yang sesuai dengan konstitusi.
Soeharto segera membentuk kabinet. Akan tetapi kabinet yang dibentuk oleh
Soeharto dianggap mengandung muatan politik yang berbau nepotisme, dan
tidak profesional. Anggapan ini muncul karena kabinet Soeharto merupakan
kumpulan kroni-kroninya. Ditunjuknya B.J. Habibie sebagai Wakil Presiden,
Siti Hardiyanti atau lebih dikenal dengan Mbak Tutut yang merupakan putri
Soeharto menjadi Menteri Sosial, Bob Hasan sebagai Menteri Perdagangan,
dan hanya sedikit yang dari golongan profesional dan tokoh ICMI yang
masuk dalam kabinet. Kabinet Soeharto mendapat kecaman keras dari
berbagai pihak di masyarakat terutama dikalangan mahasiswa, mahasiswa
menginginkan reformasi politik, dengan menuntut agar Soeharto lengser
sebagai presiden.24
Pada tanggal 15 Januari 1998 ditandatangani Persetujuan kerjasama
Indonesia dengan IMF oleh Presiden Soeharto yang disaksikan Direktur
24
M.C. Riclefs, Op. Cit., hlm. 689.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
15
Pelaksana IMF Michael Camdessus dalam upaya menangulangi krisis
moneter. Pemerintah Indonesia wajib menjalani serangkaian program dari
IMF, seperti pengurangan belanja negara, menaikkan pajak, menghapus
berbagai subsidi antara lain, kenaikan harga BBM, tarif listrik, telepon, dan
sebagainya.25 Serangkaian program yang digagas IMF tersebut sebagai upaya
menekan krisis di Indonesia. Akan tetapi, kebijakan IMF tersebut
menyebabkan terganggunya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berbagai
demonstrasi dan kerusuhan di masyarakat yang diwakili mahasiswa semakin
marak terjadi sebagai imbas dari kebijakan IMF tersebut.
Sikap mahasiswa yang menuntut turunnya Presiden Soeharto tercermin
dalam pemikiran tentang perubahan politik yang berlangsung sistematik,
seperti diungkapkan melalui pernyataan keprihatinan sivitas akademik
Universitas Indonesia di Jakarta, bulan Februari 1998, maupun tuntutan
Sepultura (sepuluh tuntutan rakyat) yang dirumuskan yang dirumuskan oleh
Amien Rais. Meningkatkan tuntutan-tuntutan tentang perubahan yang
berawal dari
keprihatinan terhadap krisis moneter dan gejolak ekonomi,
sebagian besar disebabkan karena konservatif para pejabat pemerintah dan
keacuhan politik yang diperlihatkan oleh lembaga-lembaga politik terhadap
tuntutan perubahan yang bersifat reformatoris. Bahkan golkar memiliki sifat
dasar yang cenderung menolak refomasi politik.
Desakan dilakukannya refomasi politik yang dilakukan mahasiswa
akhirnya pemerintah kususnya fraksi-fraksi MPR dalam Sidang Umum
25
Tjipta Lesmana, Dari Sukarno sampai SBY. Intrik Politik dan Lobi Politik, Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama, 2009, hlm. 118.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
16
menyepakati langkah reformasi politik yang berlangsung gradual. Namun
pada penerapannya yang terlibat langsung secara intensif didalam wacana
reformasi justru lembaga-lembaga pemerintah tertentu, institusi ABRI,
Organisasi Kelompok Partisan (OKP) dan kelompok-kelompok mahasiswa
serta sivitas akademika di kampus-kampus, sedangkan pemerintah sendiri
terkesan setengah hati dalam menjalankan reformasi politik.26
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang akan diselenggarakan
tanggal 20 Mei 1998 direncanakan oleh gerakan mahasiswa sebagai hari
Reformasi Nasional. Ledakan kerusuhan terjadi lebih awal dan diluar dugaan.
Pada tanggal 12 Mei 1998 di Universitas Trisakti yang berlokasi di daerah
Grogol, Jakarta Barat terjadi peristiwa penembakan terhadap empat
mahasiswa Trisakti. Insiden Trisakti terjadi saat mahasiswa melakukan unjuk
rasa ke Gedung DPR/MPR, namun aparat keamanan memaksa mahasiswa
kembali ke kampus. Tiba-tiba situasi berubah menjadi kekacauan dan aparat
melepaskan tembakan yang mengakibatnya empat mahasiswa Trisakti tewas
tertembak peluru tajam aparat keamanan. Keempat mahasiswa Trisakti yang
tewas adalah Elang Mulya Lesmana, Hafidhin Royan, Hendriawan Sie, dan
Herry Hertanto. Keesokan harinya tanggal 13 Mei, keempat mahasiswa
Trisakti yang tewas dimakamkan dengan diantar oleh ribuan mahasiswa serta
sanak saudara dan para simpatisan lainnya, lalu peristiwa tersebut dikenal
dengan Jakarta kelabu.
26
Anggit Noegroho, M.T Arifin, Rekaman Lensa Peristiwa Mei 1998 di Solo, Solo: PT Aksara
Solopos, 1998, hlm. 2.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
17
Keesokan harinya setelah penembakan empat mahasiswa Trisakti,
suasana Indonesia semakin kacau, kerusuhan dan demontrasi terjadi di
berbagai daerah dengan Jakarta dan Surakarta sebagai yang terparah. Di
Jakarta menyerbu pertokoan dan perkantoran milik WNI keturunan Tionghoa
di kawasan Kota, kawasan Mangga Besar, kawasan Senen, Jalan Hayam
Wuruk, Jalan Gajah Mada, Jalan Daan Mogot dan lain-lain. Perusahaan para
cukong dan keluarga Soeharto merupakan sasaran utama pembakaran dan
penjarahan. Bank Central Asia (BCA) milik Liem Sioe Liong merupakan
objek serangan utama. Mereka datang dengan sangat beringas untuk
melakukan perampokan, penjarahan dan pembakaran serta mereka juga
melakukan pelecehan seksual terhadap wanita-wanita keturunan Tionghoa.
Yang paling tragis adalah pembakaran Klender Plaza yang menewaskan 200
karyawati pertokoan.27 Kepada pers, Gubernur DKI Sutiyoso mengumumkan
kerusuhan yang terjadi antara tanggal 13-15 Mei 1998 menelan sedikitnya
500 korban jiwa dan kerugian fisik bangunan mencapai Rp 2,5 triliun, belum
termasuk isinya.28
Pada tanggal 15 Mei 1998 Presiden Soeharto mendarat di Halim
Perdanakusuma, setelah menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G-15 di Kairo
yang berlangsung 13-14 Mei 1998. Akibat meletusnya kerusuhan di tanah air,
presiden mempercepat kepulangannya. Soeharto langsung mengadakan
konsultasi dengan Menteri Hankam serta dengan Wakil Presiden B.J. Habibie
27
28
Tuk Setyohadi, Op. Cit., hlm. 176.
A. Pambudi, Kontroversi “Kudeta” Prabowo,Yogyakarta: Media Pressindo, 2007, hlm. 10.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
18
bersama
keempat
Menteri
Koordinator.
Soeharto
meminta
laporan
perkembangan terakhir mengenai keadaan tanah air.
Tanggal 16 Mei 1998, Presiden menerima kunjungan dari delegasi
Universitas Indonesia guna menyampaikan aspirasinya yang menuntut agar di
gelar Sidang Istimewa MPR. Pertemuan Presiden dilanjutkan dengan
pembicaraan bersama pimpinan DPR. Dalalm pertemuannya tersebut
Presiden Soeharto meminta agar semua penyelesaian disalurkan melelui
DPR. Demikian pula Presiden Soeharto menyampaikan bahwa apabila DPR
sudah tidak percaya lagi kepada Presiden, beliau bersedia mundur. Presiden
juga menyampaikan alternatif untuk mengadakan “reshuffle” kabinet dan
bersamaan waktunya juga membentuk Komite Reformasi.29
Pada hari Senin tanggal 18 Mei 1998 diadakan rapat pimpinan DPR
dengan fraksi-fraksi, dalam suasana puluhan ribu mahasiswa dari berbagai
daerah telah memasuki halaman dan gedung MPR/DPR. Dengan suara tegas
menyatakan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, Ketua MPR/DPR H.
Harmoko membacakan keterangan pers yang berbunyi “Ketua dan WakilWakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat menyampaikan demi persatuan dan
kesatuan meminta agar Presiden Soeharto sebaiknya secara arif dan
bijaksana mengundurkan diri”. Saat itu Harmoko didampingi seluruh Wakil
Ketua DPR, yakni Ismail Hasan Metareum, Syarwan Hamid, Abdul Gafur,
dan Fatimah Achmad. Kejutan yang disambut gembira oleh ribuan
mahasiswa tidak berlangsung lama, pada pukul 23.00 WIB Menhankam/
29
Tuk Setyohadi, Op. Cit., hlm. 177.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
19
Panglima ABRI Jenderal Wiranto mengemukakan, ABRI menganggap
pernyatan pimpinan DPR agar Presiden Soeharto mengundurkan diri itu
merupakan sikap dan pendapat individual, dan tidak memiliki dasar hukum.
Menteri Dalam Negeri Hartono juga menyatakan bahwa DPR tidak bisa
menjatuhkan Presiden, sama juga Presiden tidak bisa menjatuhkan DPR.30
Pada hari yang sama, Presiden Soeharto mengeluarkan Inpres No. 16/ 1998
yang memberikan kewenangan untuk mengambil segala tindakan yang
dianggap perlu guna mengatasi kekacauan. Inpres ini diberikan kepada
Pangab Jenderal Wiranto.31
Pada tanggal 19 Mei 1998 dalam sebuah pidato nasional, presiden
Soeharto secara resmi mengumumkan pembubaran kabinet dan membentuk
kabinet baru yang dinamai Kabinet Reformasi. Di tengah-tengah rencana itu,
Amien Rais mengordinasikan protes-protes mahasiswa dan mengancam akan
menghimpun 1 juta demonstran di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1998 guna
menyuarakan pengunduran diri Presiden Soeharto. Rencana Amien Rais tidak
jadi dilaksanakan karena terdapat ancaman kekerasan terhadap demonstran,
ancaman ini dilakukan oleh militer.32
Menjelang akhir pemerintahannya, Presiden Soeharto mulai ditinggal
oleh para pengikutnya di kabinet. Para menterinya, yang dipimpin oleh
Ginandjar Kartasasmita, mengadakan rapat dan menyatakan bahwa mereka
tidak bersedia menjabat dalam kabinet reformasi serta mendesak Presiden
30
Abun Sanda, Warisan (daripada)Soeharto,Jakarta: Kompas, 2008, hlm. 301
A. Pambudi, Op .Cit., hlm. 15.
32
R.P. Soejono, R.Z. Leirissa, Sejarah Nasional Indonesia VI zaman Jepang dan Zaman Republik,
Jakarta: Balai Pustaka, 2011, hlm.672.
31
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
20
Soeharto untuk turun. Selain itu beberapa tokoh yang diminta Presiden
Soeharto untuk duduk dalam Komite Reformasi antara lain Nurcholis Madjid,
Gus Dur, Amien Rais dan Malik Fajar menolak.33
Pada pertemuan di malam yang sama, Panglima ABRI Jenderal TNI
Wiranto menyatakan bahwa demi kepentingan bangsa, solusi terbaik adalah
mengalihkan kekuasaan secara konstitusional dari Presiden kepada Wakil
Presiden. Semakin keras desakan yang menginginkan agar Soeharto mundur
sebagai Presiden, menyebabkan semakin lemahnya kekuatan Soeharto dalam
pemerintahan. Akhirnya pada tanggal 20 Mei 1998 pukul 23.00 WIB
Presiden Soeharto mengadakan pertemuan dengan Yusril Ihza Mahendra,
Mensesneg Saadillah Mursjid, dan Panglima ABRI Jenderal Wiranto. Dalam
pertemuan tersebut Presiden Soeharto memutuskan untuk turun sebagai
Presiden Republik Indonesia dan menyerahkan kekuasaannya kepada Wakil
Presiden B.J Habibie sebagai Presiden.
Pada hari Kamis tanggal 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB sesuai dengan
ketentuan dalam TAP MPR No. VII tahun 1973 di hadapan Mahkamah
Agung dilaksanakan penyerahan jabatan presiden berdasarkan pasal 8 UUD
1945. Selain penyerahan kekuasaan presiden, pada saat itu juga sekaligus
mengangkat Wakil Presiden B.J. Habibie menjadi Presiden menggantikan
Soeharto.34 Dalam pidato pengunduran dirinya, Soeharto berkata “saudarasaudara sekarang saya bukan presiden lagi kerena sesuai pasal 8 UUD 1945
dan saran dari Dewan Perwakilan Rakyat, saya telah berhenti. Saya harap
33
34
Tuk Setyohadi, Op. Cit., hlm. 178.
Op. Cit., hlm. 179.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
21
saudara-saudara menjaga keselamatan negara dan bangsa, terima kasih”.
Pidato tersebut mengakhiri jabatan Soeharto sebagai Presiden dan mengakhiri
era Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun.
C. B.J Habibie Menjadi Presiden
Hari kamis tanggal 21 Mei 1998 merupakan hari bersejarah bagi Bangsa
Indonesia. Pada tanggal tersebut Soeharto secara resmi mengundurkan diri
sebagai Presiden Republik Indonesia setelah berkuasa selama 32 tahun.
Berhentinya presiden sebelum masa jabatan berakhir, maka sesuai dengan
pasal 8 UUD 1945 yang berbunyi “bila presiden mangkat, berhenti atau tidak
dapat melakukan kewajibannya, ia diganti oleh wakil presiden sampai batas
masa waktunya”. Pada saat itu juga tanggal 21 Mei 1998 pukul 09.10, B.J.
Habibie mengucapkan sumpah sebagai Presiden Republik Indonesia yang
disaksikan oleh Mahkamah Agung, Ketua DPR, Wakil-Wakil Ketua DPR
yang juga dihadiri oleh mantan Presiden Soeharto.
Kerusuhan Mei 1998 yang berujung pada runtuhnya rezim Orde Baru
berakibat pula pada rusaknya hubungan antara Soeharto dengan B.J Habibie.
Soeharto menganggap seharusnya sebagai Wakil Presiden, B.J Habibie yang
didukung penuh ABRI seharusnya bisa mengambil langkah yang diperlukan
untuk mencegah dan mengatasi aksi-aksi anarkis yang menjurus pada upaya
menjatuhkan Soeharto sebagai Presiden. Fakta bahwa ibukota cepat sekali
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
22
memburuk begitu Soeharto meninggalkan tanah Air tentu menimbulkan
prasangka buruk dalam benak Soeharto terhadap Habibie.35
Secara
konstitusional,
Soeharto
memang
harus
menyerahkan
kekuasaannya sebagai Presiden kepada Wakil Presiden B.J Habibie setelah
mengundurkan diri. Sejak awal Soeharto ragu apakah Habibie mampu
mengatasi situasi. Saat menyampaikan pengunduran diri, wajah Soeharto
tampak dingin. Ia menyadari betul bahwa dirinya benar-benar dipermalukan
di depan seluruh masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat luar negeri.
Soeharto berusaha terlihat tegar ketika mengumumkan pengunduran dirinya
sebagai Presiden. Mulai saat itu hubungan Soeharto dengan Habibie tidak
terjalin dengan baik lagi. Jabat tangan antara Soeharto dan Habibie saat
pelantikan Habibie sebagai Presiden merupakan jabat tangan terakhir yang
diterima Habibie dari Soeharto. 36
Beberapa hari setelah B.J. Habibie menjadi presiden, B.J. Habibie
mengutus Letjen Ary Mardjono untuk menemui Pak Harto, untuk
menanyakan perihal sulitnya B.J. Habibie bertemu Pak Harto. Pertemuan
berlangsung selama 30 menit, Letjen Ary Mardjono menanyakan apakah
beliau marah kepada B.J. Habibie sehingga sulit bagi B.J. Habibie untuk
bertemu? Pak Harto menjawab, ”Saya justru menjaga nama baik Habibie.
Apa komentar orang kalau presiden baru sering bertemu dengan mantan
35
36
Tjipta Lesmana, Op. Cit., hlm. 123
Idem.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
23
presiden, sehingga presiden baru terkesan berada di bawah bayang-bayang
mantan presiden”.37
Reformasi telah membawa B.J Habibie ke kursi presiden. Akan tetapi
tuntutan reformasi oleh masyarakat Indonesia tidak berakhir setelah Soeharto
turun sebagai Presiden. Naiknya B.J Habibie sebagai presiden baru
merupakan langkah awal mewujudkan refomasi, bukan merupakan akhir dari
reformasi total yang dikehendaki oleh masyarakat melalui mahasiswa.38
Pada masa pemerintahannya sebagai Presiden, B.J Habibie dihadapkan
oleh persoalan-persoalan negara yang belum terselesaikan pada masa
pemerintahan Soeharto. Termasuk mengenai pro dan kontra tentang
keabsahan jabatan presiden yang kini dipegangnya. Persoalan ini muncul di
kalangan para ahli hukum sebagian ahli menganggap naiknya B.J Habibie
sebagai Presiden sudah sesuai dengan konstitusi, pendapat ini diperkuat
dengan Pasal 8 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Bila Presiden mangkat,
berhenti atau tidak dapat melakukan kewajibannya, ia diganti oleh Wakil
Presiden sampai habis waktunya”. Sedangkan beberapa ahli yang
berpendapat bahwa naiknya B.J Habibie yang dianggap tidak konstitusional
berpegang pada ketentuan Pasal 9 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa
“Sebelum presiden memangku jabatan maka presiden harus mengucapkan
sumpah atau janji di depan MPR atau DPR”. Melihat situasi saat itu, tidak
memungkinkan MPR/DPR untuk bersidang karena Gedung DPR/MPR
diduduki oleh puluhan ribu mahasiswa, maka sumpah dan janji yang
37
Arissetyanto Nugroho, Donna Sita. I, Pak Harto the Untold Stories, Jakarta: PT Gramedia,
2011, hlm. 184
38
Tim Redaksi LP3ES, Politik Editorial Indonesia,Jakarta: Pustaka LP3ES, 2003, hlm. 31.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
24
diucapkan B.J. Habibie di depan Mahkamah Agung dan di depan personil
MPR dan DPR dianggap sah dan sudah sesuai dengan Konstitusi.
Pemerintahan Presiden B.J. Habibie dihadapkan pada kondisi ekonomi
Indonesia yang sangat memprihatinkan. Pada pertengahan tahun 1998 tingkat
inflasi mencapai 65,0 ditambah pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan
sebesar 13,6 persen di tahun 1998. Permasalahan ini muncul sebagai imbas
krisis ekonomi yang menimpa Indonesia yang belum teratasi. Rupiah
mengalami penurunan nilai tukar hingga mencapai Rp 10.000/US$ dan
bahkan mencapai Rp 15.000 sampai Rp 17.000/US$ yang berdampak
banyaknya perusahaan-perusahaan yang mengalami kebangkrutan yang
mengakibatkan banyak pengangguran. Dampak krisis ekonomi menyebabkan
sekitar 113 juta rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, phk besarbesaran, krisis sosial dalam masyarakat.39
39
M.C. Ricklefs, Op. Cit., hlm. 695
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
25
BAB III
HASIL KEBIJAKAN POLITIK DALAM NEGERI
PRESIDEN B.J. HABIBIE
A. Penyusunan Kabinet Reformasi Pembangunan
B.J. Habibie menjabat sebagai Presiden Indonesia yang ketiga
menggantikan Presiden Soeharto yang lengser dari jabatan sebelum masa
baktinya selesai. Dalam waktu yang terbilang singkat, kurang dari 24 jam
setelah menjabat sebagai Presiden, B.J. Habibie mengumumkan kabinet yang
dipimpinnya dengan diberi nama Kabinet Reformasi Pembangunan.
Tabel 1.
Kabinet Reformasi Pembangunan
Jabatan
No
Nama
1
Menteri Dalam Negeri
Syarwan Hamid.
2
Menteri Luar Negeri
Ali Alatas
3
Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI Wiranto
4
Menteri Kehakiman
Muladi
5
Menteri Penerangan
Yunus Yosfiah
6
Menteri Keuangan
Bambang Subianto
7
Menteri Perindustrian dan Perdagangan
Rahardi Ramelan
8
Menteri Pertanian
Soleh Solahudin
9
Menteri Pertambangan dan Energi
10
Menteri Kehutanan dan Perkebunan
11
Menteri Pekerjaan Umum
Kuntoro
Mangkusubroto
Muslimin
Nasution
Rachmadi
Bambang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
26
Sumadhijo
Giri Suseno
Hadihardjono
12
Menteri Perhubungan
13
Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya
Marzuki Usman.
14
Menteri Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah
Adi Sasono
15
Menteri Tenaga Kerja
Fahmi Idris.
16
Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah
Hutan
17
Menteri Kesehatan
18
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
AM
Hendropriyono
Faried Anfasa
Moeloek
Juwono
Soedarsono
19
Menteri Agama
Malik Fajar
20
Menteri Sosial
Justika Baharsjah
21
Menteri Negara Sekretaris Negara
Akbar Tandjung.
22
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Bappenas
Boediono
23
Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala BPPT
Muhammad Zuhal
24
Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha
Milik Negara/Kepala Badan Pengelola BUMN
Tanri Abeng
25
Menteri Negara Pangan dan Holtikultura
A.M. Saefuddin
26
Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN
Ida Bagus Oka
27
Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM
Hamzah Haz
28
Menteri Negara Agraria/Kepala BPN
Hasan Basri Durin
29
Menteri Negara Perumahan Pemukiman
Theo L.
Sambuaga.
30
Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal Panangian Siregar
31
Menteri Negara Peranan Wanita
Tuti Alawiyah
32
Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga
Agung Laksono.
33
Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan
Keamanan
Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi,
Keuangan, dan Industri
Menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan
Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara
34
35
Feisal Tanjung
Ginandjar
Kartasasmita.
Hartarto
Sastrosoenarto
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
27
36
Menteri Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan
Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan
Haryono Suyono
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kabinet_Reformasi_Pembangunan.
(Diakses pada tanggal 19 Maret 2015)40
Permasalahan-permasalahan negara yang dihadapi Pemerintahan B.J.
Habibie tidak hanya mengenai krisis ekonomi yang belum terselesaikan, akan
tetapi juga mengenai permasalahan politik dalam negeri. Pemerintahan B.J.
Habibie dengan Kabinet Reformasi Pembangunan dihadapkan dengan 6
tuntutan reformasi. Keenam tuntutan reformasi antara lain (1) Penegakan
supremasi hukum, (2) Pemberantasan KKN, (3) Mengadili mantan Presiden
Soeharto dan kroni-kroninya, (4) Amandemen Konstitusi (5) Pencabutan Dwi
Fungsi Abri, (6) Pemberian otonomi daerah seluas-luasnya. Presiden Habibie
mengawali pemerintahannya dengan sebuah reputasi yang membuatnya tidak
dipercaya oleh kalangan aktivis dan mahasiswa, militer, fraksi-fraksi partai
besar, pemerintah asing, para investor luar negeri, dan berbagai badan
internasional.
Ada berbagai langkah-langkah kebijakan yang dilaksanakan pada masa
pemerintahan Presiden B.J. Habibie setelah terbentuknya Kabinet Reformasi
Pembangunan. Kebijakan politik yang diambil yaitu: dengan dibebaskannya
para tahanan politik pada masa Orde Baru, peningkatan kebebasan pers,
pembentukan parpol dan percepatan Pemilu dari tahun 2003 ke tahun 1999,
40
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabinet_Reformasi_Pembangunan, diakses pada tanggal 19 Maret
2015.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
28
penyelesaian masalah Timor Timur, pengusutan kekayaan Soeharto dan
kroni-kroninya, pemberian gelar Pahlawan Reformasi bagi korban Trisakti.
B. Pembebasan Tahanan Politik pada Masa Orde Baru
Dalam upaya menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintah dan upaya mengatasi tekanan dan tuntutan dari masyarakat,
Presiden B.J Habibie membuat kebijakan melepaskan seluruh tahanan politik
pada masa Pemerintahan Orde Baru. Tindakan yang dilakukan Presiden B.J
Habibie untuk membebaskan tahanan politik pada masa Pemerintahan Orde
Baru ini meningkatkan legitimasi Presiden B.J Habibie di dalam negeri
maupun luar negeri. Kebijakan B.J Habibie ini pula sebagai upaya Habibie
dalam menjalankan reformasi yang dikehendaki masyarakat dan sebagai
upaya menepis anggapan mengenai dirinya di kalangan aktivis reformasi dan
masyarakat sebagai anak emas Soeharto.
Legitimasi Presiden B.J Habibie terlihat pada kebijakan yang
dikeluarkannya dengan diberikannya amnesti dan abolisi yang merupakan
langkah penting menuju keterbukaan dan rekonsiliasi. Di antara yang
dibebaskan tahanan politik kaum separatis dan tokoh-tokoh tua mantan
PKI, yang telah ditahan lebih dari 30 tahun. Amnesti diberikan kepada H.
Mohammad Sanusi dan tokoh-tokoh lain yang ditahan setelah Insiden
Tanjung Priok tahun 1984. Selain tokoh-tokoh tua mantan PKI, Amnesti
diberikan pula pada tokoh-tokoh aktivis petisi 50, merupakan kelompok yang
sebagian besar terdiri dari mantan jendral salah satunya adalah kepala staf
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
29
Angkatan bersenjata Jendral Abdul Haris Nasution yang menuduh Soeharto
melanggar perinsip Pancasila dan Dwi Fungsi ABRI. Pada bulan November
1998, Presiden B.J. Habibie mengumumkan almarhum Mohammad Natsir
sebagai pemimpin bangsa, hal ini menyisaratkan bahwa pemberontakan PRRI
pun dimaafkan. ABRI membebaskan beberapa aktivis mahasiswa yang telah
menghilang sejak kampanye pemilu 1997, akan tetapi masih banyak
mahasiswa yang hilang yang telah dibunuh. Wiranto mengumumkan bahwa
militer bisa menyelidiki orang-orang termasuk Prabowo, yang diduga telah
menculik para aktivis reformasi.41
Selain membebaskan tahanan politik masa Orde Baru, Presiden B.J
Habibie juga membebaskan tahanan Mahasiswa dan aktivis reformasi. Di
antara mereka yang dibebaskan adalah Dr. Sri Bintang Pamungkas, Ketua
PUDI dan Dr. Mochtar Pakpahan, Ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia
(SBSI). Presiden juga mencabut UU Subversi dan menyatakan dukungan
budaya oposisi serta melakukan pendekatan kepada mereka yang selama ini
menentang Rezim Orde Baru, diantaranya adalah K.H. Abdurrahman Wahid
dan para tokoh-tokoh aktivis petisi 50 yaitu kelompok yang sebagian besar
terdiri dari mantan-mantan jenderal yang menuduh Soeharto melanggar
prinsip dari Pancasila dan Dwi Fungsi ABRI.42
Selain membebaskan tahanan politik masa Orde Baru, Presiden B.J.
Habibie juga memberi gelar Pahlawan Reformasi kepada 4 korban mahasiswa
Trisakti yang menuntut lengsernya Soeharto pada tanggal 12 Mei 1998.
41
42
M.C. Ricklefs, ibid, hlm. 665
Tuk Setyohadi, Op. Cit, hlm. 184
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
30
Pemberian
gelar
pahlawan
reformasi
merupakan
hal
positif
yang
dianugerahkan oleh pemerintahan Presiden B.J Habibie, penghargaan ini
mampu melegitimasi Habibie sebagai bentuk penghormatan kepada
perjuangan dan pengorbanan mahasiswa sebagai pelopor gerakan Reformasi.
Pemberian gelar pahlawan kepada korban trisakti juga sebagai upaya
pemerintah menjalankan reformasi yang dikehendaki oleh rakyat, selain itu
sebagai upaya yang dilakukan oleh Presiden B.J Habibie untuk mengambil
simpati dan kepercayaan rakyat yang kurang mempercayai dirinya dalam
menjalankan reformasi.
C. Kebebasan Pers
Dalam
permasalahan
ini,
pemerintahan
Presiden
B.J
Habibe
mengeluarkan kebijakan mengenai kebebasan pers di Indonesia. Pada masa
Pemerintahan Orde Baru pergerakan pers sangat dibatasi dan hanya
digunakan
sebagai
alat
pemerintahan
untuk
menyelenggarakan
kepentingannya. Pers pada masa Orde Baru adalah sarat dengan muatan
berbagai kepentingan. Kebebasan pers sangat dibatasi, kebebasan pers
ditekan dan dikuasai oleh negara, bahkan wartawan bisa dibeli. Pers yang bisa
dibreidel sewaktu-waktu oleh pemerintah bila berita yang ditulis tidak sesuai
dengan yang diharapkan oleh pemerintah. Pembreidelan pers pada masa Orde
Baru terjadi pada surat kabar tempo,kompas dan detik.
Pembereidelan Tempo terjadi Pada 12 April 1982, di usia yang ke-12
tahun, Tempo dibreidel oleh Departemen Penerangan melalui surat yang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
31
dikeluarkan oleh Ali Moertopo (Menteri Penerangan). Tempo dianggap telah
melanggar kode etik pers. Ide pembreidelan itu sendiri datang dari Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI) yang saat itu dipimpin oleh Harmoko, wartawan
harian Pos Kota. Diduga, pembreidelan tersebut terjadi karena Tempo meliput
kampanye partai Golkar di Lapangan Banteng, Jakarta, yang berakhir rusuh.
Presiden Soeharto, yang notabene motor partai Golkar, tidak suka dengan
berita tersebut. Pembreidelan kedua terjadi Pada 21 Juni 1994, Tempo
kembali dibredel bersama saudara tirinya yaitu Editor Detik. Kali ini
penyebabnya adalah berita Tempo terkait pembelian pesawat tempur eks
Jerman Timur oleh BJ Habibie. Berita tersebut tidak menyenangkan para
pejabat militer karena merasa otoritasnya dilangkahi. Namun, diduga,
penyebab dasarnya adalah karena Presiden Soeharto tidak suka Tempo dari
dulu; berita BJ Habibie hanyalah alasan pembenaran.43
Selain pembreidelan terhadap media masa, pembreidelan dan larangan
penerbitan buku-buku juga dilakuakan masa Orde Baru. Antara lain Di
Bawah Lentera Merah yang merupakan tesis sarjana muda Soe Hok Gie pada
Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Juga buku Tan
Malaka yang merupakan disertasi doktor ahli sejarah Harrye Poeze yang kini
menjabat sebagai Direktur KITLV di Belanda. Militer dan Politik di
Indonesia karya Harold Crouch. Kapitalisme Semu karya Yoshihara Kunio.
Sang Pemula karya Pramoedya Ananta Toer. Theologi Pembebasan, Sejarah,
Metode, Praksis dan Isinya yang merupakan skripsi Frater Wahono
43
Winarso, http://jejaksejarah.weebly.com/jejak-sejarah/jejak-sejarah-di-balik-pembredelan-perskonflik-dan-pembredelan-majalah-tempo, diakses pada 19 Maret 2015.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
32
Nitiprawiro. Amir Sjarifoeddin Pergumulan Imannya dalam Perjuangan
Kemerdekaan yang merupakan tesis Frederick Djara Wellem. Indonesia the
Rise of Capital karya Richard Robison yang masih belum diterbitkan dalam
edisi Indonesia. Alasan pelarangan itu nyaris seragam: merupakan tulisan
yang menyesatkan, memutarbalikkan sejarah, merendahkan pemerintah Orde
Baru dan pimpinan nasional. Sayangnya suatu proses peradilan yang bersifat
akademis tak pernah digelar. Demikian juga para guru besar atau dosen
pembimbing dan pejabat kampus tak ada satu pun yang memberikan reaksi.44
Kehidupan pers di Indonesia pada masa Pemerintahan Orde Baru sangat
mengkhawatirkan. Turut campurnya pemerintah dalam pers, membuat pers
dikontrol oleh pemerintah, sehingga tidak adanya kebebasan bagi pers.
Terdapatnya
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tidak membawa
perubahan yang signifikan bagi kehidupan pers. PWI yang seharusnya
memperjuangkan kehidupan pers di Indonesia justru dijadikam media bagi
Pemerintah Orde Baru. Hal ini terlihat ketika terjadi pembredelan beberapa
media nasional oleh pemerintah, PWI yang seharusnya membela pers dan
melakukan tuntutan terhadap pembreidelan tersebut justru memberikan
pernyataan dapat memahami dan menyetujui tindakan pemerintah tersebut.
Kontrol pemerintah terhadap pers tidak dapat diragukan lagi, begitu
juga dengan pengaruhnya. Kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan
pemerintah orde baru sangat tidak mendukung keberadaan pers. Salah satu
contohnya adalah kebijakan SIUPP, yakni Surat Izin untuk Penerbitan Pers,
44
Stanley, http://tempo.co.id/ang/min/01/29/kolom3.htm, diakses pada 19 Maret 2015
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
33
yang mana sangat tidak pro-pers. Pers mengalami kesulitan saat dituntut
untuk melasanakan fungsi–fungsi yang secara alamiah melekat padanya,
khususnya fungsi mereka bagi masyarakat. Fungsi pers bagi masyarakat
adalah menampilkan informasi yang berdimensi politik lebih banyak
dibandingkan dengan ekonomi, dengan didominasi subyek negara serta
kecenderungan pers untuk lebih berat ke sisi negara harus dilakukan dengan
cara lebih memilih realitas psikologis dibanding dengan realitas sosiologis.45
Setelah berakhirnya Pemerintahan Orde baru, Presiden B.J Habibie
membuat kebijakan mengenai kebebasan pers di Indonesia. Pers pada masa
pemerintahan B.J Habibie diberikan perlindungan hukum yang berkaitan
dengan
media
dan
bahan-bahan
yang
dipublikasikan
seperti
menyebarluaskan, pencetakan dan penerbitan surat kabar, majalah, buku atau
material lainnya tanpa adanya campur tangan atau perlakuan sensor dari
pemerintah. Kebebasan pers masa pemerintahan Presiden B.J Habibie diikuti
pula dengan kebebasan berasosiasi organisasi pers, sehingga banyak
bermunculan organisasi-organisasi pers alternatif.
Selama
pemerintahan
Presiden
B.J
Habibie
tidak
didapati
pembreidelan-pembreidelan media masa seperti saat masa Orde Baru. Pers
bebas memberitakan mengenai segi potif dan negatif kinerja pemerintah yang
menyangkut kebijakan-kebijakan pemerintah. Dalam rangka melaksanakan
kebebasan pers, B.J Habibie mencabut ketentuan pembatalan SIUPP (Surat
Izin Usaha Penerbitan Pers) yang selama ini menghantui wartawan terhadap
45
Putra, A, https://andhikafrancisco.wordpress.com/2013/06/21/makalah-perbandingankebebasan-pers-pada-masa-orde-baru-dan-masa-reformasi-di-indonesia/, diakses pada tanggal 27
Maret 2015
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
34
pemberedelan surat kabar dan majalah.46 Akibat kemudahan memperoleh
SIUPP tersebut, jumlah pemohon SIUPP membengkak lebih dari sepuluh kali
lipat dibandingkan dengan masa Orde Baru.
Euforia kebebasan berdampak luas bagi perkembangan di Indonesia,
dampak kebebasan pers tidak hanya berdamak positif akan tetapi juga dapat
berdampak negatif. Dampak positif kebebasan pers antara lain adalah (1)
Pemberitaan bebas mengulas suatu masalah Ilmu pengetahuan dan tehnologi
serta pengetahuan dan informasi lainnya sehingga semua orang berhak tahu
dan mengerti apa yang sedang terjadi sekarang ini dari berita ilmu
pengetahuan, politik/pemerintah dan lain-lain yang akan membuat individu
menjadi maju cara berpikirnya. (2) Tiap-tiap individu secara bebas dapat
menyampaikan pendapatnya melalui media masa sehingga membantu dan
memicu tiap individu untuk berkreasi menyampaikan pendapat dengan
adanya kolom kontak pembaca, serta setiap wartawan
mengulas suatu
masalah yang beraneka ragam. (3) Memberikan kesempatan tiap individu
untuk mencoba berani bagi yang ingin mencoba bisnis dalam mass media
terbukti munculnya produksi media baru Terbit, Adil dan lain-lain serta
membuka lapangan pekerjaan.
Dampak negatif kebebasan pers antara lain: (1) Gambar kekerasan yang
ditampilkan baik dalam media massa cetak maupun dalam audio visual dalam
menyampaikan berita dengan makin berani dan gamblang misalnya kegiatan
demonstrasi yang brutal dan lain-lain. (2) Penampilan gambar setengah porno
46
Tuk Setyohadi, Op. Cit, hlm. 184
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
35
dalam media cetak yang menampilkan foto-foto wanita yang berpakaian
amat minim
dengan
pose
yang sangat merangsang seperti pada isi
gambar Tabloid lipstik. (3) Berita yang mengulas suatu masalah yang belum
tentu benar. (4) Berita yang dapat menimbulkan pemahaman tertentu,
menghasut ataupun mengadu domba. (5) Mengkritik tanpa etika.
D. Penghapusan Istilah Pribumi dan Non Pribumi
Sejumlah amandemen UUD 1945 yang beberapa kali dilakukan oleh
MPR ternyata tidak berhasil membersihkan pasal-pasal yang berbau rasial.
Demikian pula RUU Kewarganegaraan yang telah disiapkan Departemen
Kehakiman dan HAM masih mengandung beberapa poin diskriminatif baik
terhadap perempuan (gender) maupun warga negara keturunan asing.
Contohnya, pasal 30 RRU menyebutkan bahwa kehilangan kewarganegaraan
Indonesia bagi seorang suami berlaku pula bagi istri kecuali istri menolak
atau istri mempunyai dua kewarganegaraan. Selain itu pasal 39 RRU tersebut
menyatakan setiap orang yang perlu membuktikan kewarganegaraan
Republik Indonesia dan tidak mempunyai surat bukti untuk itu dapat
mengajukan permohonan kepada menteri atau pejabat untuk memperolehnya.
Pasal ini diduga mengukuhkan kembali Surat Bukti Kewarganegaraan
Republik Indonesia atau biasa disingkat SBKRI bagi orang Indonesia
keturunan asing termasuk Tionghoa.
Permasalahan pribumi dan non pribumi, ditanggapi oleh pemerintahan
B.J. Habibie. Pada 16 September 1998, Presiden B.J. Habibie mengeluarkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
36
Inpres N0. 26/1998 yang menghapuskan istilah pribumi dan non pribumi.
Presiden B.J. Habibie juga mengeluarkan Inpres 4/1999 tentang penghapusan
Surat
Bukti
Kewarganegaraan
Republik
Indonesia
(SBKRI),
dan
diperbolehkannya pelajaran Bahasa Mandarin.47
E. Pembentukan Partai Politik dan Percepatan Pemilu
Presiden B.J Habibie membuat kebijakan untuk membuat perubahan
dalam bidang politik lainnya antara lain mengeluarkan UU No. 2 Tahun 1999
tentang Partai Politik, UU No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilu, UU No. 4
Tahun 1999 tentang MPR dan DPR.
Pemilihan umum pada masa pemerintahan yang sangat singkat dari
Presiden B.J Habibie, diselenggarakan pada tanggal 7 Juni 1999 dengan
diikuti oleh 48 partai, walapun pada saat itu terdaftar terdapat hampir 150
partai politik, akan tetapi yang memenuhi persyaratan hanya 48 partai politik.
Pemilihan umum Tahun 1998 dilaksanakan secara LUBER yaitu langsung,
umum, bebas dan rahasia dan JURDIL yaitu jujur dan adil yang diakui oleh
semua pihak termasuk oleh oleh luar negeri melalui pemantauan secara
langsung oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter.48 Selanjutnya
tanggal 7 Juni 1999 diselenggarakan Pemilihan Umum Multipartai.
Dari 48 partai yang mengikuti pemilihan umum Tahun 1998, terdapat 5
partai besar yang mendapat dukungan besar dari masyarakat. Amien Rais
mendirikan PAN (Partai Amanat Nasional) dengan dukungan dari
47
Muh Kholid, Mengakhiri Diskriminasi Tionghoa, http://lkassurabaya.blogspot.com/2007/07/
mengakhiri-diskriminasi-tionghoa.html, diakses pada tanggal 12 Juli 2015.
48
M.C. Ricklefs, Op. Cit, hlm. 685.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
37
Muhammadiyah, akan tetapi dengan ideologi sekularisme yang demokratis
dan kapitalis. Abdurahman Wahid dengan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
dengan dukungan NU, lebih mengedepankan toleransi, pluralisme, dan gaya
demokrasi non religius. Megawati dengan PDI (Partai Demokrasi Indonesia)
mendapat dukungan dari Wiranto dan ABRI. Beberapa pemimpin Islam
menanggapi popularitas Megawati yang besar menyatakan bahwa Islam tidak
memperbolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin, tetapi tidak dengan
Abdurrahman Wahid. Golkar yang masih mempunyai dukungan masyarakat
yang masih kuat mencoba untuk membersihkan diri dari warisan Soeharto
dengan cara meminta maaf untuk berbagai kesalahan masa lalunya dan
menggambarkan dirinya sebagai Golkar baru. Fraksi dominannya mendukung
Habibie hampir sampai akhir masa jabatannya. PPP juga mampu bertahan
sebagai sebuah partai politik.49
Pemilihan umum kedelapan dalam sejarah Indonesia ini dilaksanakan
pada hari Senin, 7 Juni 1999. Empat puluh delapan partai yang mengikuti
pemilu ini memperebutkan 462 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Republik Indonesia. Setelah pemilihan umum ini selesai dilaksanakan, lebih
dari 50% partai ternyata tidak mendapatkan kursi. Dengan demikian, jumlah
kursi di DPR dibagi kepada 21 partai saja.50 Pemilihan umum tahun 1999
melahirkan pemenang baru yaitu PDI Perjuangan. Meskipun hanya
menguasai 11 provinsi, sedangkan Golkar menang di 13 Provinsi, namun
suara PDI Perjuangan lebih besar yaitu sebanyak 33,7 %.
49
Op. Cit., hlm. 706.
Daniel Dhakidae, dkk, Wajah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Pemilihan Umum
1999, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2002, hlm. vii
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
38
Kemenangan PDI Perjuangan pada pemilu 1999 terjadi karena PDIP
yang diketuai oleh Megawati Soekarno Putri merupakan salah satu tokoh
yang memperjuangkan reformasi sehingga banyak masyarakat yang pro
terhadap reformasi berbalik mendukung PDI Perjuangan. Sedangkan Golkar
masih mampu menempati posisi ke dua pada pemilu 1999 setelah lengsernya
Soeharto sebagai presiden hal ini terjadi karena Partai Golkar sudah berakar
kuat di hati rakyat, hal ini dapat dilihat dari sejarah panjang kemenangan
partai Golkar dari tahun 1955 hingga pemilu tahun 1997. Untuk pemilu tahun
1999 bisa dikatakan tidak ada partai yang menang secara meyakinkan, sama
seperti pemilu tahun 1955.51
Tabel 2
Sepuluh partai pemenang pemilihan umum tahun 1999 antara lain:
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
PARTAI POLITIK
PDI Perjuangan
Partai Golkar
PPP
PKB
PAN
PBB
Partai Keadilan
Partai Demokrasi Kasih Bangsa
Partai Nahdatul Ulama
Partai Keadilan dan Persatuan
JUMLAH KURSI
153 kursi
120 kursi
58 kursi
51 kursi
34 kursi
13 kursi
7 kursi
5 kursi
5 kursi
4 kursi
Sumber : Daniel Dhakidae, Peta Politik Pemilihan Umum 1998-2004,
Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2004. 52
51
Daniel Dhakidae, Peta Politik Pemilihan Umum 1998-2004, Jakarta: PT Kompas Media
Nusantara, 2004, hlm. 3
52
Daniel Dhakidae, Op. Cit., hlm. vii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
39
F. Penyelesaian Masalah Timor Timur
Permasalahan Timor Timur yang ingin merdeka dan lepas dari
Indonesia menjadi salah satu permasalahan besar yang harus dihadapi Bangsa
Indonesia. Setelah berakhirnya masa Orde Baru, dan naiknya B.J Habibie
menjadi Presiden, Presiden B.J Habibie membuat kebijakan untuk
memberikan kemerdekaan bagi Timor Timur. Bagi Presiden B.J Habibie,
Timor Timur dianggap sebagai masalah yang merepotkan. Hal ini tertuang
pada pernyataan Presiden B.J Habibie yang mengatakan bahwa masalah
Timor Timur bagaikan kerikil dalam sepatu. Selain itu permasalahan Timor
Timur dirasa mengganggu kinerja Kabinet Reformasi Pembangunan yang
dipimpinnya dalam menghadapi berbagai macam persoalan reformasi.53
Upaya yang dilakukan Presiden B.J Habibie sebelum memutuskan
untuk memberikan kemerdekaan bagi Timor Timur salah satunya adalah
membebaskan tawanan politik asal Timor Timur dan menjanjikan suatu status
istimewa bagi Timor Timur. Akan tetapi status istimewa yang dijanjikan
Presiden B.J. Habibie tidak disetujui oleh Ramos-Horta dan para tokoh-tokoh
yang menginginkan Timor Timur merdeka. Pada bulan Juni 1998 terjadi
demonstran besar-besaran di Timor Timur yang menuntut diadakannya
referendum yang menawarkan pilihan kemerdekaan dan menolak status
istimewa dalam lingkup Negara Republik Indonesia. Untuk mendapatkan
53
Tuk Setyohadi, Op. Cit., hlm. 185
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
40
dukungan yang kuat tentang referendum, Belo meminta dukungan PBB untuk
mensponsori referendum tersebut54
Melihat situasi di Timor Timur Presiden B.J Habibie mengambil sikap
pro-aktif dengan menawarkan dua pilihan bagi penyelesaiaan Timor Timur
yaitu dengan memberikan otonomi khusus atau memisahkan diri dari
Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Ali Alatas
pada bulan Januari 1999 yang mengumumkan bahwa, jika usulan otonomi
khusus untuk Timor Timur ternyata ditolak, wilayah tersebut akan diberi
kemerdekaan. Otonomi luas berarti diberikannya wewenang atas berbagai
bidang politik, ekonomi, budaya dan lain-lain, kecuali dalam hubungan luar
negeri, pertahanan dan keamanan serta moneter dan fiksal. Sedangkan
memisahkan diri berarti secara demokratis dan konstitusional, serta secara
terhormat dan damai, lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Habibie tidak mendapatkan banyak dukunagn dari kekuatan-kekuatan
politik besar mengenai kebijakannya terhadap Timor Timur. Pada bulan
Februari 1998, Megawati Sukarnoputri mengatakan di depan pendukungnya
bahwa Timor Timur adalah bagian dari Indonesia dan bahwa ia tidak akan
menerima pemisahan diri wilayah tersebut dari Republik Indonesia.
Pandangan yang sama disampaikan oleh Abdurrahman Wahid. Meskipun
demikian, ABRI memiliki pemikiran yang berbeda. Para petinggi ABRI telah
memutuskan bahwa, jika suatu referendum menghasilkan suara untuk
54
M.C. Ricklefs, Op. Cit., hlm. 700
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
41
memisahkan diri, mereka akan menggerakkan sebuah aksi bumi hangus di
Timor Timur.55
Referendum dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 1999. Hasilnya
adalah sebanyak 446.953 suara masuk, merepresentasikan 98,6% dari seluruh
pemilih. Dari 438.968 suara sah, 78,5 % menginginkan kemerdekaan, dan
21,5% sisanya menghendaki otonomi dalam lingkup negara Republik
Indonesia.56 Dengan hasil ini menunjukkan bahwa penduduk Timor Timur
ternyata menghendaki kemerdekaan. Presiden B.J. Habibie menagaggapi
hasil referendum ini dengan menyatakan bahwa Indonesia mulai 1 Januari
2000 akan memusatkan perhatian pada 26 propinsi dan tidak diganggu lagi
dengan masalah Timor Timur.
G. Pengusutan Kekayaan Soeharto dan Kroni-kroninya
Salah satu tuntutan reformasi yang dikehendaki rakyat lewat mahasiswa
dan aktifis reformasi adalah pengusutan kekayaan Soeharto dan kronikroninya. Mengenai masalah KKN, terutama yang melibatkan Mantan
Presiden Soeharto, pemerintah B.J Habibie dinilai tidak serius menanganinya
karena proses untuk mengadili Soeharto berjalan sangat lambat. Lambatnya
pengusutan
kekayaan
Soeharto
dan
kroni-kroninya
menimbulkan
ketidakpuasan yang besar diantara pendukung gerakan reformasi. Presiden
B.J. Habibie - dengan Instruksi Presiden No. 30/1998 tanggal 2 Desember
1998 – telah mengintruksikan Jaksa Agung Baru, Andi Ghalib segera
55
56
M.C. Ricklefs, ibid, hlm. 701
ibid, hlm. 702
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
42
mengambil tindakan hukum memeriksa Mantan Presiden Soeharto yang
diduga telah melakukan praktik KKN.
Kasus dugaan KKN Soeharto menyangkut penggunaan uang negara
oleh 7 buah yayasan yang diketuainya, yaitu Yayasan Dana Sejahtera
Mandiri, Yayasan Supersemar, Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais),
Yayasan Dana Abadi Karya Bhakti (Dakab), Yayasan Amal Bhakti Muslim
Pancasila, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, Yayasan Trikora.
Pada 1995, Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 90 Tahun
1995. Keppres ini menghimbau para pengusaha untuk menyumbang 2 persen
dari keuntungannya untuk Yayasan Dana Mandiri. Hasil penyidikan kasus
tujuh yayasan Soeharto menghasilkan berkas setebal 2.000-an halaman.
Berkas ini berisi hasil pemeriksaan 134 saksi fakta dan 9 saksi ahli, berikut
ratusan dokumen otentik hasil penyitaan dua tim yang pernah dibentuk
Kejaksaan Agung, sejak tahun 1999.
Uang negara 400 miliar mengalir ke Yayasan Dana Mandiri antara
tahun 1996 dan 1998. Asalnya dari pos Dana Reboisasi Departemen
Kehutanan dan pos bantuan presiden. Dalam berkas kasus Soeharto,
terungkap bahwa Haryono Suyono, yang saat itu Menteri Negara
Kependudukan dan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional,
mengalihkan dana itu untuk yayasan. Ketika itu, dia masih menjadi wakil
ketua di Dana Mandiri. Bambang Trihatmodjo, yang menjadi bendahara
yayasan ini, bersama Haryono, ternyata mengalirkan lagi dana Rp 400 miliar
yang telah masuk ke yayasan itu ke dua bank miliknya, Bank Alfa dan Bank
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
43
Andromeda, pada 1996-1997, dalam bentuk deposito. Dari data dalam berkas
Soeharto, Bob Hasan paling besar merugikan keuangan negara, diduga
mencapai Rp 3,3 triliun. Hal ini juga terungkap dari pengakuan Ali Affandi,
Sekretaris Yayasan Supersemar, ketika diperiksa sebagai saksi kasus
Soeharto. Dia membeberkan, Yayasan Supersemar, Dakab, dan Dharmais
memiliki saham di 27 perusahaan Grup Nusamba milik Bob Hasan. Sebagian
saham itu masih atas nama Bob Hasan pribadi, bukan yayasan.57
Pemeriksaan terhadap Soeharto pernah dilakukan terkait tuduhan KKN
kepada dirinya, akan tetapi hasilnya tidak memuaskan. Pada tanggal 11
Oktober 1999, pejabat Jaksa Agung Ismudjoko mengeluarkan SP3, yang
menyatakan bahwa penyidikan terhadap Soeharto yang berkaitan dengan
masalah dana yayasan dihentikan. Alasannya, Kejagung tidak menemukan
cukup bukti untuk melanjutkan penyidikan, kecuali menemukan bukti-bukti
baru. Demikian pula dengan kasus lainnya juga tidak ada kejelasan.58
57
http://id.wikipedia.org/wiki/Kasus_dugaan_korupsi_Soeharto, diakses pada tanggal 01 April
2015
58
M.C. Ricklefs, ibid, hlm. 695
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
44
BAB IV
AKHIR PEMERINTAHAN B.J HABIBIE
A. Penolakan Pidato Pertanggungjawaban Presiden B.J. Habibie
Dengan mundurnya Presiden Soeharto dari jabatannya sebagai presiden
pada tanggal 21 Mei 1998, sesuai UU yang ada maka sebagai wakil presiden
B.J. Habibie menggantikan kedudukan Soeharto sebagai presiden hingga masa
jabatan presiden selesai. Naiknya B.J. Habibie sebagai Presiden menggantikan
Soeharto mendapatkan reaksi dari masyarakat Indonesia, yaitu memunculkan
reaksi pro dan kontra terhadap B.J. Habibie sebagai presiden. Terdapatnya pro
dan kontra terhadap B.J. Habibie ini menunjukkan legitimasi pemerintahan
B.J. Habibie lemah. Munculnya kontra terhadap pemerintahan Presiden B.J.
Habibie karena mereka menganggap bahwa Habibie masih terkait dengan
kelompok Soeharto, sehingga banyak yang beranggapan bahwa B.J. Habibie
tidak akan bisa melaksanakan reformasi secara penuh seperti yang
dikehendaki oleh rakyat Indonesia. Hal lain yang melemahkan legitimasi
Habibie dalam memimpin pemerintahan ialah ia tidak dipilih secara luber dan
jurdil sebagai presiden dan merupakan satu paket pemilihan pola musyawarah
mufakat dengan Soeharto.
Naiknya B.J. Habibie sebagai presiden mendapat tanggapan yang
beragam para tokoh-tokoh politik. beberapa tokoh memberi komentar
pemerintahan Habibie sebagai ”pemerintahan transisi” (Nurcholis Majid).
”Belum lepas dari bayang-bayang Soeharto” (Amien Rais), ”Melakukan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
45
reformasi hanya pada kulitnya saja” dan ”perpanjangan rezim mantan Presiden
Soeharto” (Megawati). Komentar-komentar tersebut makin melemahkan
legitimasi Habibie sebagai presiden.
Meskipun banyak mengalami keberhasilan dan kemajuan dalam
kebijakan-kebijakan politik yang diterapkan oleh pemerintahan Presiden B.J.
Habibei
sebagai upaya menjalankan tuntutan reformasi yang dikehendaki
oleh rakyat. Sejak Kabinet Reformasi Pembangunan dibentuk, kemajuan dan
keberhasilan telah dicapai antara lain penyelenggaraan Sidang Istimewa MPR,
kebebasan pers, penyelenggaraan pemilu dan reformasi di bidang politik,
sosial, hukum, dan ekonomi mengalami kemajuan dan keberhasilan seperti
yang rakyat kehendaki lewat reformasi. Akan tetapi di tengah-tengah upaya
pemerintahan Habibie memenuhi tuntutan reformasi, Presiden B.J. Habibie
dituduh melakukan tindakan yang bertentangan dengan kesepakatan MPR
mengenai masalah Timor Timur. Pemerintah dianggap tidak berkonsultasi
terlebih dahulu dengan DPR/MPR sebelum menawarkan opsi kedua kepada
masyarakat Timor Timur yaitu memberikan kemerdekaan bila otonomi kusus
yang diberikan pemerintah Indonesia ditolak.
Pada Januari 1999, Presiden B.J. Habibie mengumumkan keputusannya
tentang nasib Timor Timur. Timor Timur bisa melepaskan diri dari Indonesia
sekiranya mereka menolak tawaran otonomi secara luas. Padahal tawaran
otonomi secara luas kepada Timor Timur baru diumumkan pada bulan Juni
1998 dan belum mendapatkan tanggapan yang pasti dalam forum PBB tentang
pelaksanaan otonomi tersebut. Dengan diumumkannya mengenai dua opsi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
46
tersebut oleh Presiden B.J. Habibie, PBB secara sigap mempersiapkan jejak
pendapat 1999 yang ternyata mendapatkan hasil mayoritas masyarakat Timor
Timur memilih merdeka dan lepas dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia.59
Kebijakan B.J. Habibie yang memberikan opsi ke dua kepada Timor
Timur merupakan blunder besar bagi pemerintahannya. Justru opsi kedua
itulah, antara lain, yang diikuti dengan desakan PBB untuk melakukan
referendum di Timor Timur sebelum SU-MPR 1999 berlangsung, yang telah
mendorong pembumi hangusan Timor Timur dan pelanggaran HAM yang
serius di Timor Timur pasca referendum bulan Agustus 1999.60 Masalah itu
tidak berhenti dengan lepasnya Timor Timur, setelah itu muncul tuntutan dari
dunia Internasional mengenai masalah pelanggaran HAM yang meminta
pertanggungjawaban militer Indonesia sebagai penanggung jawab keamanan
pasca jajak pendapat. Hal ini mencoreng Indonesia di Dunia Internasional.
Bulan Juni 1999 diadakan pemilihan umum yang merupakan pemilu
pertama setelah masa Orde Baru dilaksanakan secara demokratis, tanpa
dipengaruhi oleh adanya tindak kekerasan yang berarti, serta tanpa adanya
penekanan dari salah satu kontestan yang dominan. Pemilu tersebut
diselenggarakan dengan prinsip luber (langsung, umum, bebas, dan rahasia)
dan jurdil (jujur dan adil). hasilnya ada lima besar partai yang berhasil meraih
suara-suara terbanyak, yaitu : PDIP, Golkar, PPP, PKB, dan PAN. Hasil
59
Sri-Bintang Pamungkas, Dari Orde Baru ke Indonesia Baru Lewat Reformasi Total, Jakarta:
Penerbit Erlangga, 2001, hlm. 195.
60
ibid, hlm. 196.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
47
perolehan suara dari masing-masing partai politik ini mencerminkan jumlah
kursi yang menjadi haknya di dalam MPR/DPR.
Setelah melaksanakan pemilu, diadakan Sidang istimewa MPR
diselenggarakan pada tanggal 1-21 Oktober 1999 dengan beberapa agenda
sebagai berikut :
1. Mengangkat Amien Rais sebagai ketua MPR dan Akbar Tanjung sebagai
ketua DPR untuk periode 1999 - 2004.
2. Pembacaan pidato pertanggungjawaban Presiden B.J. Habibie.
3. Pemilihan presiden Republik Indonesia yang baru.
4. Pada tanggal 21 Oktober 1999 dilaksanakan pemilihan wakil presiden
dengan calonnya Megawati Soekarnoputri dan Hamzah Haz.
Sebagai salah satu agenda sidang umum, pada tanggal 14 Oktober 1999
Presiden B.J. Habibie menyampaikan pidato pertanggungjawabannya di depan
sidang dan terjadi penolakan terhadap pertanggungjawaban presiden sebagai
Mandataris MPR lewat Fraksi PDI-Perjuangan, Fraksi Partai Kebangkitan
Bangsa, Fraksi Kesatuan Kebangsaan Indonesia dan Fraksi Demokrasi Kasih
Bangsa. Pada umumnya, masalah-masalah yang dipersoalkan oleh Fraksifraksi tersebut adalah masalah Timor Timur, KKN, termasuk pengusutan
kekayaan Soeharto, dan masalah HAM. Sementara itu, di luar Gedung
DPR/MPR yang sedang bersidang, mahasiswa dan rakyat yang anti Habibie
bentrok dengan aparat keamanan. Mereka menolak pertanggungjawaban B.J.
Habibie, karena B.J. Habibie dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dari Rezim Orba.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
48
Kemudian pada tanggal 20 Oktober 1999, Ketua MPR Amien Rais
menutup
Rapat
Paripurna
sambil
mengatakan,
”dengan
demikian
pertanggungjawaban Presiden B.J. Habibie ditolak”. Pada hari yang sama
Presiden habibie mengatakan bahwa dirinya mengundurkan diri dari
pencalonan
presiden.
B.J.
Habibie
juga
iklas
terhadap
penolakan
pertanggungjawabannya oleh MPR.
B. Terbentuknya Pemerintahan Baru
Dengan kemenangan PDIP pada pemilu, Megawati memperkirakan
akan memenangkan pemilihan presiden pada Sidang Umum MPR. Namun,
PDI-P tidak memiliki mayoritas penuh, sehingga membentuk aliansi dengan
PKB. Pada Juli, Amien Rais membentuk Poros Tengah, koalisi partai-partai
Muslim. Poros Tengah mulai menominasikan Gus Dur sebagai kandidat ketiga
pada pemilihan presiden lan komitmen PKB terhadap PDI-P mulai berubah.
Gus Dur terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia keempat dan dilantik
dengan Ketetapan MPR No. VII/MPR/1999 untuk masa bakti 1999-2004.
Pada 7 Oktober 1999, Amien Dan Poros Tengah secara resmi
menyatakan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden. Pada 19 Oktober
1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie Dan ia mundur dari
pemilihan presiden. Beberapa saat kemudian, Akbar Tanjung, ketua Golkar
Dan ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan Golkar akan
mendukung Gus Dur. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali berkumpul Dan
mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
49
Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313
suara.
Tidak senang karena calon mereka gagal memenangkan pemilihan,
pendukung Megawati mengamuk lan Gus Dur menyadari bahwa Megawati
harus
terpilih
sebagai
wakil
presiden.
Setelah
meyakinkan
jendral Wiranto untuk tidak ikut serta dalam pemilihan wakil presiden lan
membuat PKB mendukung Megawati, Gus Dur pun berhasil meyakinkan
Megawati untuk ikut serta. Pada 21 Oktober 1999, Megawati ikut serta dalam
pemilihan wakil presiden dan mengalahkan Hamzah Haz.
Tanggal 21 Oktober 1999 Megawati terpilih menjadi Wakil Presiden RI
dengan Ketetapan MPR No. VIII/MPR/1999 mendampingi Presiden
Abdurrahman Wahid. Terpilihnya Abdurrahman Wahid dan Megawati sebagai
Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 1999-2004 menjadi
akhir pemerintahan Presiden Habibie dengan TAP MPR No. III/MPR/1999
tentang Pertanggungjawaban Presiden B.J. Habibie.61
61
Tuk Setyohadi, Op. Cit, hlm. 187
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
50
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian dari bab-bab sebelumnya dapat disimpulkan hal-hal sebagai
berikut:
1. Proses peralihan kekuasaan dari presiden Soeharto ke B.J. Habibie diawali
dari persoalan yang dihadapi Indonesia sebagai akibat dari krisis
ekonomitahun 1997 yang berkepanjangan, serta upaya-upaya pemerintah yang
dianggap tidak serius dalam mengatasi krisis ekonomi membuat masyarakat
terutama mahasiswa tidak mempercayai pemerintahan Presiden Soeharto.
Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah terlihat pada tuntutan
masyarakat untuk mengadakan reformasi dan menuntut Presiden Soeharto
untuk lengser.Pada hari Kamis tanggal 21 Mei 1998 Pukul 09.00 WIB sesuai
dengan ketentuan dalam TAP MPR No. VII tahun 1973 di hadapan
Mahkamah Agung dilaksanakan penyerahan jabatan. Selain penyerahan
kekuasaan Presiden Soeharto, pada saat itu tanggal 21 Mei 1998 pukul 09.10,
sekaligus mengangkat Wakil Presiden B.J. Habibie menjadi Presiden
menggantikan Soeharto.
2. Terdapat berbagai kebijakan-kebijakan politik dalam negeri yang diterapkan
oleh pemerintahan Presiden B.J. Habibie setelah terbentuknya Kabinet
Reformasi Pembangunan. Kebijakan politik dalam negeri yang diambil yaitu:
(1) pembebasan tahanan politik pada masa Orde Baru, (2) kebebasan pers, (3)
penghapusanistilahpribumidan non pribumi, (4) pembentukan parpol dan
percepatan pemilu, (5) penyelesaiaan masalah Timor Timur, dan (6)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
51
pengusutan kekayaan Soeharto dan kroni-kroninya.Di tengah-tengah upaya
pemerintahan Habibie memenuhi tuntutan reformasi, pemerintah Habibie
dituduh melakukan tindakan yang bertentangan dengan kesepakatan MPR
mengenai masalah Timor Timur.
3. Berakhirnya pemerintahan B.J. Habibie ditandai dengan ditolaknya pidato
pertanggungjawaban presiden B.J. Habibie yang disampaikan pada tanggal 14
Oktober 1999 di depan Sidang Umum MPRkarena Pemerintahan B.J. Habibie
dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Rezim Orde Baru, dan
kebijkan B.J. Habibie mengenai kemerdekaa Timor Timur. Kemudian pada
tanggal 20 Oktober 1999, Ketua MPR Amien Rais menutup Rapat Paripurna
sambil mengatakan, ”dengan demikian pertanggungjawaban Presiden B.J.
Habibie ditolak”. Pada hari yang sama Presiden habibie mengatakan bahwa
dirinya
mengundurkan
diri
dari
pencalonan
presiden.
Terpilihnya
Abdurrahman Wahid dan Megawati sebagai Presiden dan Wakil Presiden
Republik Indonesia periode 1999-2004 menandai berakhirnya pemerintahan
B.J. Habibie.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
52
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku
Abun Sanda. 2008. Warisan (daripada) Soeharto. Jakarta: Kompas.
Anggit Noegroho dan MT Arifin. 1998. Rekaman Lensa Peristiwa Mei 1998 di
Solo. Solo: PT Aksara Solopos.
Arbi Sanit. 1998. Reformasi Politik. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Arissetyanto Nugroho dan Donna Sita. I. 2011. Pak Harto the Untold Stories.
Jakarta: PT Gramedia.
Daniel Dhakidae. 2002. Wajah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
Pemilihan Umum 1999. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
_______. 2004. Peta Politik Pemilihan Umum 1998-2004. Jakarta: PT Kompas
Media Nusantara.
Pambudi, A. 2007. Kontroversi “Kudeta” Prabowo. Yogyakarta: Media
Pressindo.
Riclefs, M.C 2010. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi.
Soejono, R.P. dan R.Z. Leirissa. 2011. Sejarah Nasional Indonesia VI zaman
Jepang dan Zaman Republik. Jakarta: Balai Pustaka.
Sri-Bintang Pamungkas. 2001. Dari Orde Baru ke Indonesia Baru Lewat
Reformasi Total. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Tjipta Lesmana. 2009. Dari Sukarno Sampai SBY Intrik Politik dan Lobi Politik
dari Penguasa. Jakara: PT Gramedia Pustaka Utama.
Tim Redaksi LP3E3S. 2003. Politik Editorial Indonesia. Jakarta: Pustaka LP3ES.
Tuk Setyohadi. 2002. Sejarah Perjalanan Bangsa Indonesia Dari Masa Ke Masa.
Jakarta: CV. Rajawali Corporation.
Warsito H.R. 2012. Pendidikan Pancasila Era Reformasi. Yogyakarta: Penerbit
Ombak.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
53
Sumber Internet
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabinet_Reformasi_Pembangunan.
(diakses
pada
(diakses
pada
Tionghoa.
http:
tanggal 19 Maret 2015)
http://id.wikipedia.org/wiki/Kasus_dugaan_korupsi_Soeharto.
tanggal 01 Maret 2015)
Muh
Kholid.
2007.
Mengakhiri
Diskriminasi
//lkassurabaya.blogspot.com/2007/07/mengakhiri-diskriminasitionghoa.html. (diakses pada tanggal 12 Juli 2015)
Muksalmina. 2012. George Soros, Pria yang Menghancurkan Poundsterling,
Rupiah,
http://islamiyah.wordpress.com/2007/03/21/george-soros-pria-
yang-menghancurkan-poundsterling-rupiah/. (diakses tanggal 16 Desember
2014).
Putra, A. 2008. https://andhikafrancisco.wordpress.com/2013/06/21/makalahperbandingan-kebebasan-pers-pada-masa-orde-baru-dan-masa-reformasidi-indonesia/. (diakses tanggal 27 Maret 2015).
Stanley. http://tempo.co.id/ang/min/01/29/kolom3.htm. (diakses pada 19 Maret
2015).
Winarso.
2013.
http://jejaksejarah.weebly.com/jejak-sejarah/jejak-sejarah-di-
balik-pembredelan-pers-konflik-dan-pembredelan-majalah-tempo. (diakses
pada 19 Maret 2015)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
LAMPIRAN
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 1
SILABUS
Nama Sekolah
: SMA N 1 Depok Yogyakarta
Program
: Ilmu Pengetahuan Sosial
Jenjang
: SMA
Mata Pelajaran
: Sejarah
Kelas /Semester
: XII /2
Standar Kompetensi: 2. Menganalisis Perjuangan sejak Orde Baru sampai dengan Masa Reformasi
Kompetensi Dasar
2.3. Menganalisis
Perkembangan Politik
dan Ekonomi serta
Perubahan Masyarakat
di Indonesia pada
Masa Reformasi
Materi
Pembelajaran
Pemerintahan
Presiden B.J.
Habibie (19981999): kebijakan
politik dalam
negeri.
Kegiatan
Pembelajaran
Dengan mengkaji
buku, melakukan
diskusi, presentasi,
dan tanya jawab
diharapkan siswa
dapat:
 Mendeskripsika 
n proses
peralihan Kepala
Pemerintahan
dari Soeharto ke
B.J. Habibie
 Mendeskripsika 
n mengenai
Indikator
Pencapaian
Penilaian
Jenis
Tagihan
Bentuk
Instrumen
Contoh Instrumen
Alokasi
Waktu
2 JP
Mendeskripsikan
proses peralihan
Kepala
Pemerintahan dari
Soeharto ke B.J.
Habibie
Mendeskripsikan
mengenai kebijakan
dalam negeri
 Tertulis
1. Tes essai 1. jelaskan tentang
proses peralihan
Kepala
Pemerintahan dari
Soeharto ke B.J.
Habibie?
2. jelaskan kebijakan
kebijakan dalam
negeri pada masa
Sumber/Bahan
/Alat
Sumber:
Riclefs M.C
2010. Sejarah
Indonesia Modern
1200-2008.
Jakarta: Serambi.
Tuk Setyohadi.
2002. Sejarah
Perjalanan
Bangsa Indonesia
Dari Masa Ke
Masa. Jakarta:
CV. Rajawali
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
kebijakan dalam
negeri
pemerintahan
B.J. Habibie
 Mendeskripsika 
n mengenai
akhir dari
pemerintahan
B.J. Habibie
 Menganalisis

salah satu
kebijakan dalam
negeri B.J.
Habibie dengan
membuat karya
ilmiah dalam
bentuk makalah
pemerintahan B.J.
Habibie
Mendeskripsikan
mengenai akhir dari
pemerintahan B.J.
Habibie
Robertus Suroso
3. Deskripsikan proses
lengsengnya
Presiden B.J.
Habibie?
Menganalisis salah
2. Makalah Buatlah makalah tentang
 Portofolio
satu kebijakan dalam
salah satu kebijakan
negeri B.J. Habibie
dalam negeri B.J. Habibie
dengan membuat
karya ilmiah dalam
bentuk makalah
 Menunjukkan  Menunjukkan sikap
sikap tanggung
tanggung jawab serta
jawab serta
mampu bekerja sama
mampu bekerja
dalam kelompok
sama dalam
kelompok
Mengetahui,
Kepala Sekolah21
pemerintahan B.J.
Habibie?
Corporation.
Anggit Noegroho,
MT Arifin. 1998.
Rekaman Lensa
Peristiwa Mei
1998 di Solo.
Solo: PT. Aksara
Solopos.
Alat:
LCD, Komputer,
dan papan tulis
Media:
Power Point
3. Skala nilai
Agustus 2015
Guru Mata Pelajaran Sejarah
Alberto Ferry Firnandus
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Nama Sekolah
: SMAN 1 Depok, Yogyakarta
Mata Pelajaran
: Sejarah
Kelas/Semester
: XI/2
Materi Pokok
: Pemerintahan Presiden B.J. Habibie (1998-1999):
kebijakan politik dalam negeri.
Alokasi Waktu
: 2 x 45 Menit
1. Standar Kompetensi
2. Menganalisis Perjuangan sejak Orde Baru sampai dengan Masa
Reformasi.
2. Kompetensi Dasar
2.3. Menganalisis Perkembangan Politik dan Ekonomi serta Perubahan
Masyarakat di Indonesia pada Masa Reformasi.
3. Indikator

Mendeskripsikan proses peralihan Kepala Pemerintahan dari Soeharto
ke B.J. Habibie.

Mendeskripsikan kebijakan dalam negeri pemerintahan B.J. Habibie.

Mendeskripsikan akhir dari pemerintahan B.j. Habibie.

Menganalisis salah satu kebijakan dalam negeri B.J. Habibie dengan
membuat karya ilmiah dalam bentuk makalah.

Menunjukkan sikap tanggung jawab serta mampu bekerja sama dalam
kelompok.
4. Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat mendeskripsikan proses peralihan Kepala Pemerintahan
dari Soeharto ke B.J. Habibie.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI

Siswa dapat mendeskripsikan kebijakan dalam negeri pemerintahan
B.J. Habibie.

Siswa dapat mendeskripsikan akhir dari pemerintahan B.J. Habibie.

Siswa dapat menganalisis salah satu kebijakan dalam negeri B.J.
Habibie dengan membuat karya ilmiah dalam bentuk makalah.

Siswa dapat menunjukkan sikap tanggung jawab serta mampu bekerja
sama dalam kelompok.
5. Materi Pembelajaran
a. Proses peralihan kekuasaan dari Suharto eke B.J. Habibie.
1) Krisis ekonomi tahun 1997
2) Proses lengsernya Presiden Soeharto
3) B.J Habibie Menjadi Presiden
b. Hasil kebijakan politik dalam negeri Presiden B.J. Habibie
1) Penyusunan kabinet reformasi pembangunan
2) Pembebasan tahanan politik pada masa Orde Baru
3) Kebebasan pers
4) Penghapusan istilah pribumi dan non pribumi
5) Pembentukan partai politik dan percepatan pemilu
6) Penyelesaiaan masalah Timor Timur
7) Pengusutan kekayaan soeharto dan kroni-kroninya
c. Akhir pemerintahan B.J. Habibie
1) Penolakan pidato pertanggungjawaban presiden B.J. Habibie
2) Terbentuknya pemerintahan baru
6. Model dan Metode Pembelajaran
a. Model Pembelajaran
: kooperatif tipe STAD (Student Teams
Achievement Division)
b. Metode Pembelajaran
: Ceramah, diskusi kelompok, presentasi,
tanya jawab dan penugasan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
7. Kegiatan Pembelajaran
No
1
Alokasi
Deskripsi
Waktu
Kegiatan awal
a. Apersepsi

Salam pembuka oleh guru, Doa sebelum proses
pembelajaran dimulai

Guru
menjelaskan
SK,
KD,
dan
tujuan
pembelajaran tentang materi politik dalam
15 menit
negeri masa pemerintahan B.J. Habibie.
b. Motivasi

Guru mengingatkan pelajaran minggu lalu.
c. Orientasi

2
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan Inti
a. Eksplorasi

Guru menjelaskan secara singkat tentang materi
pemerintahan Presiden B.J. Habibie (19981999): Kebijakan politik dalam negeri.

Guru menjelaskan teknik pembelajaran hari ini
yaitu
menggunakan
kooperatif
tipe
model
STAD
pembelajaran
(Student
Teams
Achievement Division) yaitu sistem belajar
kelompok yang didalamnya siswa dibentuk ke
dalam kelompok kecil secara heterogen.
b. Elaborasi

Guru membagi siswa ke dalam kelompok yang
terdiri dari 4-5 orang. Kelompok dibagi secara
heterogen yang terdiri dari siswa dengan
beragam latar belakang, misalnya dari segi:
60 menit
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
prestasi dan jenis kelamin.

Guru memberikan tugas kepada kelompok
untuk mengerjakan latihan dan membahas suatu
topik lanjutan bersama-sama. Disini anggota
kelompok harus bekerja sama.

Guru mempersilakan masing-masing kelompok
mempresentasikan
hasil
diskusinya
secara
bergantian di depan kelas.

Setelah
kelompok
mempresentasikan
hasil
diskusi mereka di depan kelas, siswa lain
diberikan kesempatan untuk bertanya mengenai
materi yang belum di mengerti yang telah
disampaikan oleh presenter.
c. Konfirmasi

Guru mengkonfirmasi jawaban siswa yang salah
dan menambahkan materi yang belum lengkap
dari proses presentasi yang dilakukan siswa
didepan kelas.

Menjelaskan
tentang
hal-hal
yang
belum
diketahui.
3
Penutup
a. Merangkum

Guru memberikan kesimpulan tentang materi
yang telah dibahas.
b. Refleksi

Guru
dan
peserta
didik
bersama-sama
melakukan refleksi tentang materi yang sudah
didapat dan nilai-nilai yang mereka dapat
setelah mempelajari materi tersebut.

15 menit
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
c. Tindak Lanjut

Guru
menyampaikan
tugas
yang
harus
dipersiapkan dipertemuan berikutnya.

Guru mengucapkan salam penutup kepada
siswa
8. Alat/Media/Sumber Belajar
a. Alat
: LCD, Komputer, dan papan tulis
b. Media
: Power Point
c. Sumber Pembelajaran
:
 Badrika, Wayan I. 2006. Sejarah untuk SMA Kelas XII. Jakarta:
Erlangga.
 Riclefs M.C 2010. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta:
Serambi.
 Tuk Setyohadi. 2002. Sejarah Perjalanan Bangsa Indonesia Dari
Masa Ke Masa. Jakarta: CV. Rajawali Corporation.
9. Penilaian
a. Penilaian Kognitif : Terlampir
 Produk:
Alat: Tes
Bentuk: Essai
 Proses:
Alat: Portofolio
Bentuk: Makalah
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
b. Penilaian Afektif : Terlampir
 Alat: Observasi
 Bentuk: Skala nilai
Mengetahui.
Yogyakarta, 21 Agustus 2015
Kepala Sekolah
Guru Mata Pelajaran
Robertus Suroso
Alberto Ferry Firnandus
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran Penilaian
Penilaian Kognitif
A. Format Penilaian Tes Essai

Soal Essai
1.
Jelaskan proses beralihnya kekuasaan dari Soeharto ke B.J. Habibie?
2. Jelaskan kebijakan Presiden B.J. Habibie tentang permasalahan pers
di Indonesia?
3. Deskripsikan kebijakan Presiden B.J. Habibie terkait permasalahan
Timor Timur?
4. Jelaskan mengenai proses berakhirnya pemerintahan B.J. Habibie?

Kunci Jawaban Soal Essai:
1. Banyaknya persoalan yang dihadapi Indonesia sebagai akibat dari
krisis ekonomi tahun 1997 yang berkepanjangan, serta upaya-upaya
pemerintah yang dianggap tidak serius dalam mengatasi krisis
ekonomi
membuat
masyarakat
terutama
mahasiswa
tidak
mempercayai pemerintahan Presiden Soeharto. Ketidakpercayaan
masyarakat terhadap pemerintah terlihat pada tuntutan masyarakat
untuk mengadakan reformasi dan menuntut Presiden Soeharto untuk
lengser.Pada hari Kamis tanggal 21 Mei 1998 Pukul 09.00 WIB
sesuai dengan ketentuan dalam TAP MPR No. VII tahun 1973 di
hadapan Mahkamah Agung dilaksanakan penyerahan jabatan. Selain
penyerahan kekuasaan Presiden Soeharto, pada saat itu tanggal 21
Mei 1998 pukul 09.10, sekaligus mengangkat Wakil Presiden B.J.
Habibie menjadi Presiden menggantikan Soeharto.
2. Sejak terjadinya insident Santa Cruz, dunia Internasional memberikan
tekanan berat kepada Indonesia dalam masalah hak asasi manusia di
Tim-Tim. Bagi Habibie Timor-Timur adalah kerikil dalam sepatu
yang merepotkan pemerintahannya, sehingga Habibie mengambil
sikap pro aktif dengan menawarkan dua pilihan bagi penyelesaian
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Timor-Timur yaitu di satu pihak memberikan setatus khusus dengan
otonomi luas dan dilain pihak memisahkan diri dari RI. Otonomi
luas berarti diberikan kewenangan atas berbagai bidang seperti :
politik ekonomi budaya dan lain-lain kecuali dalam hubungan luar
negeri, pertahanan dan keamanan serta moneter dan fiskal. Sedangkan
memisahkan diri berarti secara demokratis dan konstitusional serta
secara terhorman dan damai lepas dari NKRI.
3. Sebulan menjabat sebagai Presiden habibie telah membebaskan
tahanan politik Timor-Timur, seperti Xanana Gusmao dan Ramos
Horta.Sementara itu di Dili pada tanggal 21 April 1999, kelompok pro
kemerdekaan dan pro intergrasi menandatangani kesepakatan damai
yang disaksikan oleh Panglima TNI Wiranto, Wakil Ketua Komnas
HAM Djoko Soegianto dan Uskup Baucau Mgr. Basilio do
Nascimento. Tanggal 5 Mei 1999 di New York Menlu Ali Alatas dan
Menlu Portugal Jaime Gama disaksikan oleh Sekjen PBB Kofi Annan
menandatangani kesepakan melaksanakan penentuan pendapat di
Timor-Timur untuk mengetahui sikap rakyat Timor-Timur dalam
memilih kedua opsi di atas. Tanggal 30 Agustus 1999 pelaksanaan
penentuan pendapat di Timor-Timur berlangsung aman. Namun
keesokan harinya suasana tidak menentu, kerusuhan dimana-mana.
Suasana semakin bertambah buruk setelah hasil penentuan pendapat
diumumkan pada tanggal 4 September 1999 yang menyebutkan
bahwa sekitar 78,5 % rakyat Timor-Timur memilih merdeka. Pada
awalnya Presiden Habibie berkeyakinan bahwa rakyat Timor-Timur
lebih memilih opsi pertama, namun kenyataannya keyakinan itu salah,
dimana sejarah mencatat bahwa sebagian besar rakyat Timor-Timur
memilih lepas dari NKRI. Lepasnya Timor-Timur dari NKRI
berdampak pada daerah lain yang juga ingin melepaskan diri dari
NKRI seperti tuntutan dari GAM di Aceh dan OPM di Irian Jaya,
selain itu Pemerintah RI harus menanggung gelombang pengungsi
Timor-Timur yang pro Indonesia di daerah perbatasan yaitu di
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Atambua. Masalah Timor-Timur tidaklah sesederhana seperti yang
diperkirakan Habibie karena adanya bentrokan senjata antara
kelompok pro dan kontra kemerdekaan di mana kelompok kontra ini
masuk
ke
dalam
kelompok
militan
yang
melakukan
teror
pembunuhan dan pembakaran pada warga sipil. Tiga pastor yang
tewas adalah pastor Hilario, Fransisco, dan dewanto. Situasi yang
tidak aman di Tim-Tim memaksa ribuan penduduk mengungsi ke
Timor
Barat,
ketidak
mampuan
Indonesia
mencegah
teror,
menciptakan keamanan mendorong Indonesia harus menerima
pasukan internasional. Dalam hal ini, pemerintah memberikan
kebebasan bagi pers di dalam pemberitaannya, sehingga semasa
pemerintahan Habibie ini, banyak sekali bermunculan media massa.
Demikian pula kebebasan pers ini dilengkapi pula oleh kebebasan
berasosiasi organisasi pers sehingga organisasi alternatif seperti AJI
(Asosiasi Jurnalis Independen) dapat melakukan kegiatannya. Sejauh
ini tidak ada pembredelan-pembredelan terhadap media tidak seperti
pada masa Orde Baru. Pers Indonesia dalam era pasca-Soeharto
memang memperoleh kebebasan yang amat lebar, pemberitaan yang
menyangkut sisi positif dan negatif kebijakan pemerintah sudah tidak
lagi hal yang dianggap tabu, yang seringkali sulit ditemukan
batasannya. Bahkan seorang pengamat Indonesia dari Ohio State
University, William Liddle mengaku sempat shock menyaksikan isi
berita televisi baik swasta maupun pemerintah dan membaca isi koran
di Jakarta, yang kesemuanya seolah-olah menampilkan kebebasan
dalam penyampaian berita, dimana hal seperti ini tidak pernah
dijumpai sebelumnya pada saat kekuasaan Orde Baru. Cara Habibie
memberikan kebebasan pada Pers adalah dengan mencabut SIUPP.
4. Di tengah-tengah upaya pemerintahan Habibie memenuhi tuntutan
reformasi, pemerintah Habibie dituduh melakukan tindakan yang
bertentangan dengan kesepakatan MPR mengenai masalah Timor
Timur.
Pada
tanggal
14
Oktober
1999
Presiden
Habibie
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
menyampaikan pidato pertanggungjawabannya di depan Sidang
Umum MPR namun terjadi penolakan terhadap pertanggungjawaban.
Kemudian pada tanggal 20 Oktober 1999, Ketua MPR Amien Rais
menutup Rapat Paripurna sambil mengatakan, ”dengan demikian
pertanggungjawaban Presiden B.J. Habibie ditolak”. Pada hari yang
sama Presiden habibie mengatakan bahwa dirinya mengundurkan diri
dari pencalonan presiden. Terpilihnya Abdurrahman Wahid dan
Megawati sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia
periode 1999-2004.
Rambu-rambu Penilaian
Rambu-rambu Skor
Skor
Jawaban lengkap berikut alasan yang tepat
25
Jawaban berdasarkan buku paket dengan alas an seadanya
20
Jawaban sesuai buku paket
15
Jawaban kurang lengkap
10
Jawaban tidak sesuai dengan soal yang ditanyakan
5
Keterangan:
Soal uraian no 1 – 4 sekor maksimal 25
Nilai Akhir = Jumlah Skor Essai
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
B. Format Penilaian Portofolio

Soal
Buatlah makalah tentang salah satu kebijakan dalam negeri pemerintahan
Presiden B.J. Habibie (1998-1999):

penilaian
Indikator
Nilai
Kualitatif
Pengantar
Isi
Penutup
Struktur/lo
gika
penulisan
Orisinalita
s karangan
Penyajian,
bahasan
dan
bahasa
Jumlah
Nilai
Kuantitatif
Deskripsi
Menunjukkan dengan tepat isi
makalah/laporan penelitian,
kesimpulan maupun
rangkuman. skema, dan
mempersiapkan bahan-bahan.
Kesesuaian antara judul
dengan isi dan materi.
Menguraikan hasil makalah,
kesimpulan.
Memberikan kesimpulan
makalah/hasil tulisan
Penggambaran dengan jelas
metode yang dipakai dalam
makalah.
Karangan/penelitian,
kesimpulan, rangkuman,
merupakan hasil sendiri
Bahasa yang digunakan sesuai
EYD dan komunikatif
Kriteria Penilaian :
Kriteria Indikator
80-100
70-79
60-69
45-59
Nilai Kualitatif
Memuaskan
Baik
Cukup
Kurang cukup
Nilai Kuantitatif
4
3
2
1
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Penilaian Afektif

Petunjuk Pengisisan:
Beri tanda Chek List/ centang pada kolom yang sesuai dengan perilaku siswa
dalam proses pembelajaran berlangsung
NO
1
2
3
4
5
PERNYATAAN
Percaya diri dan bertanggung jawab
jujur dan kritis dalam menyampaikan
pendapat
menghormati pendapat teman yang
berbeda kelompok
menerima keputusan dengan lapang
dada dalam kelompok
menghargai pendapat teman
Keterangan:
SS
: Sangat setuju
S
: Setuju
R
: Ragu ragu
TS
: Tidak Setuju
STS
: Sangat tidak setuju

NA= Jumlah Perolehan x 100
Skor Maksimal
PENILAIAN SIKAP
SS
S
R
TS STS
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Nilai Akhir= 70% Kognitif + 30% Afektif
Tindak lanjut penilaian:
a. Siswa dinyatakan berhasil apabila tingkat pencapaiannya mencapai KKM
70
b. Memberikan remedi untuk siswa yang tidak mencapai KKM
c. Memberikan program pengayaan untuk siswa yang mencapai atau lebih
dari KKM
Lampiran
3
Mengetahui.
Yogyakarta, 21 Agustus 2015
Kepala Sekolah
Guru Mata Pelajaran
Robertus Suroso
Alberto Ferry Firnandus
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 3
Pemerintahan Presiden B.J. Habibie :
Kebijakan Dalam Negeri
Proses Pengalihan Kepala Pemerintahan dari Soeharto ke B.J. Habibie
Berawal dari dampak krisis ekonomi di tahun 1997 yang melanda Kawasan
Asia dan berdampak sangat luas bagi perekonomian di Indonesia. Nilai tukar
rupiah yang merosot tajam pada bulan Juli 1997, membuat rupiah semakin
terpuruk. Sebagai dampaknya hampir semua perusahaan modern di Indonesia
bangkrut, yang diikuti PHK pekerja-pekerjanya, sehingga angka pengangguran
menjadi meningkat.
Krisis ini juga berimbas langsung pada sektor moneter, terutama melalui
penutupan beberapa bank yang mengalami kredit bermasalah dan krisis likuiditas,
sehingga perbankan nasional menjadi berantakan. Hal inilah yang memunculkan
krisis kepercayaan dari investor, serta pelarian modal ke luar negeri.
Kenaikan angka kemiskinan yang melonjak pesat, merupakan dampak
krisis ekonomi di Indonesia, daya beli masyarakat desa maupun kota semakin
menurun, sehingga memicu rawan pangan dan kekurangan gizi. Di sektor
kesehatan, melemahnya nilai tukar rupiah menyebabkan kenaikan biaya medis,
baik harga obat-obatan, vaksin, fasilitas kesehatan yang berakibat keadaan
masyarakat semakin terjepit.
Didorong oleh kondisi yang makin parah, pada bulan Oktober 1997
pemerintah
meminta
bantuan IMF
(International
50
Monetary
Fund) untuk
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
memperkuat sektor finansial, pengetatan kebijakan viskal dan penyesuaian
struktural perbankan. Akan tetapi, pengaruh bantuan IMF sangatlah kecil dalam
membantu krisis di Indonesia. Beberapa kebijakan seperti kebijakan fiskal dan
kebijakan likuidasi. Dimana kebijakan fiskal bertujuan untuk mempertahankan
nilai tukar sedangkan kebijakan likuidasi bertujuan untuk membantu bank-bank
yang bemasalah. Kebijakan ini menerapkan standar kecukupan modal dengan
mengusahakan rekapitulasi perbankan. Namun pada kenyataannya kebijakankebijakan ini dilakukan tanpa hasil yang berarti, malah IMF-lah yang disalahkan
karena justru membuat pekonomian Indonesia lebih parah selama krisis.
Kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk mengatasi krisis yang dilakukan
oleh pemerintah ternyata tidak mampu memulihkan perekonomian, dimana hargaharga bahan kebutuhan pokok tetap mengalami peningkatan. Karena itulah
masyarakat menilai pemerintah tidak berhasil dalam melaksanakan kebijakankebijakan yang dibuat. Hal inilah yang membuat melemahnya kepercayaan
masyarakat terhadap pemerintah. Rasa ketidakpercayaan ini berakibat pada aksi
demo mahasiswa di awal Maret 1998 yang menuntut pemerintah menurunkan
harga-harga barang dan menindaklanjuti pelaku-pelaku yang menimbun sembako.
Banyaknya permasalahan besar yang dihadapi bangsa sebagai akibat krisis
ekonomi yang berlarut-larut, mahasiswa melihat bahwa upaya penaggulangan
tidak dilakukan dengan serius. Hal ini tampak dari penolakan mahasiswa terhadap
pidato pertanggung jawaban Presiden Soeharto di depan Sidang DPR/MPR 1998,
dimana presiden sama sekali tidak memperlihatkan rasa tanggung jawab atas
musibah yang menimpa tanah air. Kemudian mahasiswa melontarkan isu atau
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
tuntutan mengenai pembubaran Kabinet Pembangunan VII yang dinilai
pengangkatan menterinya tidak profesional dan penuh dengan muatan politik
yang berbau Nepotisme dan Koncoisme, seperti penunjukan Putri Pak Harto, Ny.
Siti Hardianto Rukmana (Tutut) sebagai Menteri Sosial, kehadiran Bob Hasan
dalam kabinet menunjukkan ketidakprofesionalan kabinet, dan penunjukan
Wiranto Arismunanjar sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sangat
mengecewakan mahasiswa serta beberapa nama menteri yang dinilai dekat dengan
Tutut.
Puncak dari tuntutan mahasiswa agar Presiden Soeharto turun dari jabatan
terjadi pada tanggal 12 Mei 1998 di Kampus Trisakti yang dikenal
dengan Insiden Trisakti. Berawal dari aksi keprihatinan atas musibah bangsa dan
mahasiswa berusaha secara damai keluar kampus menuju Gedung DPR/MPR
untuk menyampaikan aspirasinya tetapi niat itu ditolak aparat keamanan dan
memaksa mereka kembali ke kampus. Tiba-tiba situasi berubah menjadi
kekacauan dan aparat melepaskan tembakan. Akibatnya empat mahasiswa Trisakti
tewas tertembak peluru tajam aparat keamanan. Keesokan harinya, 13 Mei 1998
mahasiswa di kampus-kampus menggelar aksi keprihatinan. Pada hari yang sama,
siang harinya terjadi kerusuhan massal berupa aksi pengerusakan dan pembakaran
fasilitas umum dengan disertai aksi penjarahan, perampokan dan pelecehan
seksual terhadap wanita etnis tertentu di Jakarta dan sekitarnya. Aksi kerusuhan
berlangsung sampai tanggal 15 Mei 1998, yang memakan korban meninggal
samapi 1218 orang, itupun belum secara keseluruhan.
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Pada tanggal 18 Mei 1998 sampai 22 Mei 1998 ribuan mahasiswa
menduduki Gedung DPR/MPR dengan tuntutan mengadakan Sidang Istimewa
dengan agenda mengganti Soeharto. Upaya Presiden Soeharto untuk meredam
tuntutan mahasiswa dan masyarakat adalah dengan membentuk Komite
Reformasi. Dimana Komite ini bertugas melaksanakan dan menyerap aspirasi
masyarakat untuk melaksanakan Reformasi. Akan tetapi terjadi penolakan 14
Menteri yang tidak bersedia untuk duduk dalam susunan jabatan Komite
Reformasi hasil Reshuffle Kabinet Pembangunan VII, dengan penolakan itu,
membuat posisi presiden terpojok secara politik disamping sebelumnya ada
desakan Ketua DPR Harmoko agar Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden.
Situasi ini membuat Soeharto memutuskan untuk berhenti karena desakan
masyarakat yang menuntut beliau mundur sangatlah besar dan secara politik
dukungan sudah tidak ada.
Pada pagi harinya, tanggal 21 Mei 1998 di Istana Merdeka Jakarta,
Presiden Soeharto menyatakan dirinya berhenti dari jabatan Presiden RI, lewat
pidatonya dihadapan wartawan dalam dan luar negeri.
Usai Presiden Soeharto mengucapkan pidatonya, Wapres B.J. Habibie
langsung diangkat sumpahnya menjadi Presiden RI ketiga dihadapan Pimpinan
Mahkamah Agung, yang disaksikan oleh Ketua DPR dan Wakil-Wakil Ketua
DPR. Teriakan-teriakan kemenangan atas peristiwa bersejarah itu disambut
dengan haru-biru para mahasiswa di Gedung DPR/MPR. Suasana kemenangan itu
sempat mendinginkan suasana yang sebelumnya panas dengan hujatan dan
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
makian lengsernya Soeharto, akan tetapi tuntutan agar Soeharto mengembalikan
uang rakyat mulai berkumandang.
Naiknya B.J. Habibie menggantikan Soeharto sebagai Presiden RI ketiga
mengundang perdebatan hukum dan kontroversial, karena Mantan Presiden
Soeharto menyerahkan secara sepihak kekuasaan kepada Habibie. Dikalangan
mahasiswa sikap atas pelantikan Habibie sebagai presiden terbagi atas tiga
kelompok, yaitu: pertama, menolak Habibie karena merupakan produk Orde
Baru; kedua, bersikap netral karena pada saat itu tidak ada pemimpin negara yang
diterima semua kalangan sementara jabatan presiden tidak boleh kosong; ketiga,
mahasiswa berpendapat bahwa pengalihan kekuasaan ke Habibie adalah sah dan
konstitusional.
Pada tanggal 22 Mei 1998, Presiden B.J. Habibie mengumumkan susunan
kabinet baru, yaitu Kabinet Reformasi Pembangunan, dimana seiring dengan
diumumkannya susunan kabinet yang baru, berarti presiden harus membubarkan
Kabinet Pembangunan VII. Akhirnya gerakan Reformasi yang dipelopori
mahasiswa mampu menumbangkan kekuasaan Orde Baru dan Era Reformasi
mulai berjalan di Indonesia.
Habibie memulai jabatannya dengan kepercayaan rendah dari aktivis
mahasiswa, militer, sayap politik utama, investor luar negeri dan perusahaan
internasional. Kondisi saat Habibie memimpin perekonomian sedang dalam
keadaan terpuruk, inflansi ditargetkan 80% untuk satu tahun berjalan. Indonesia
sedang memasuki kekurangan panen akibat badai El NiH’o. Perusahaan besar
seperti Simpati Air, PT Astra Internasional tidak beroperasi lagi. Nilai tukar
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
rupiah berada di bawah Rp.10000/$ bahkan mencapai lepel Rp 15000-17000/$,
113 juta orang Indonesia ( 56% dari penduduk Indonesia berada di bawah garis
kemiskinan).
Kebijakan-Kebijakan Pada Masa Pemerintahan B.J. Habibie di Era
Reformasi
Setelah Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden
Republik Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998, maka pada pagi itu juga, Wakil
Presiden B.J. Habibie dilantik dihadapan pimpinan Mahkamah Agung menjadi
Presiden Republik Indonesia ketiga di Istana Negara. Dengan berhentinya
Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia, maka sejak saat itu Kabinet
Pembangunan VII dinyatakan demisioner (tidak aktif).
Selanjutnya tanggal 22 Mei 1998 pukul 10.30 WIB, kesempatan pertama
Habibie untuk meningkatkan legitimasinya yaitu dengan mengumumkan susunan
kabinet baru yang diberi nama Kabinet Reformasi Pembangunan (berdasarkan
Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 122 / M Tahun 1998) di Istana
Merdeka. Dengan Keputusan Presiden tersebut di atas, Presiden Habibie
memberhentikan dengan hormat para Menteri Negara pada Kabinet Pembangunan
VII. Kabinet Reformasi Pembangunan ini terdiri dari 36 Menteri yaitu 4 Menteri
Negara dengan tugas sebagai Menteri Koordinator, 20 Menteri Negara yang
memimpin Departemen, 12 Menteri Negara yang bertugas menangani bidang
tertentu. Sebanyak 20 Menteri diantaranya adalah muka lama dari Kabinet
Pembangunan VII, dan hanya 16 Menteri baru, yaitu Syarwan Hamid, Yunus
Yosfiah, Bambang Subianto, Soleh Solahuddin, Muslimin Nasution, Marzuki
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Usman, Adi Sasono, Fahmi Idris, Malik Fajar, Boediono, Zuhal, A.M.
Syaefuddin, Ida Bagus Oka, Hamzah Haz, Hasan Basri Durin, dan Panangian
Siregar.
Kabinet ini mencerminkan suatu sinergi dari semua unsur-unsur kekuatan
bangsa yang terdiri dari berbagai unsur kekuatan sosial politik dalam masyarakat.
Hal yang berbeda dari sebelumnya, jabatan Gubernur Bank Indonesia tidak lagi
dimasukkan di dalam susunan Kabinet. Karena Bank Indonesia, kata Presiden
harus mempunyai kedudukan yang khusus dalam perekonomian, bebas dari
pengaruh pemerintah dan pihak manapun berdasarkan Undang-Undang.
Pada tanggal 23 Mei 1998 pagi, Presiden Habibie melantik menteri-menteri
Kabinet Reformasi Pembangunan. Presiden Habibie mengatakan bahwa Kabinet
Reformasi Pembangunan disusun untuk melaksanakan tugas pokok reformasi total
terhadap kehidupan ekonomi, politik dan hukum. Kabinet dalam waktu yang
sesingkat-singkatnya akan mengambil kebijakan dan langkah-langkah pro aktif
untuk mengembalikan roda pembangunan yang dalam beberapa bidang telah
mengalami hambatan yang merugikan rakyat.
Kebijakan-kebijakan pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie
Pada bidang politik
Ada berbagai langkah-langkah kebijakan yang dilaksanakan pada masa
pemerintahan Presiden B.J. Habibie setelah terbentuknya Kabinet Reformasi
Pembangunan. Kebijakan politik yang diambil yaitu: dengan dibebaskannya para
tahanan politik pada masa Orde Baru, peningkatan kebebasan pers, pembentukan
parpol dan percepatan Pemilu dari tahun 2003 ke tahun 1999, penyelesaian
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
masalah Tomor-Timur, pengusutan kekayaan Soeharto dan kroni-kroninya,
pemberian gelar Pahlawan Reformasi bagi korban Trisakti.
Pembebasan Tahanan Politik
Secara umum tindakan pembebasan tahanan politik meningkatkan
legitimasi Habibie baik di dalam maupun di luar negeri. Hal ini terlihat dengan
diberikannya amnesti dan abolisi yang merupakan
langkah
penting
menuju
keterbukaan dan rekonsiliasi. Diantara yang dibebaskan tahanan politik kaum
separatis dan tokoh-tokoh tua mantan PKI, yang telah ditahan lebih dari 30
tahun. Amnesti diberikan kepada Mohammad Sanusi dan orang-orang lain yang
ditahan setelah Insiden Tanjung Priok.
Selain tokoh itu tokoh aktivis petisi 50 (kelompok yang sebagian besar
terdiri dari mantan jendral yang menuduh Soeharto melanggar perinsip Pancasila
dan Dwi Fungsi ABRI).
Dr Sri Bintang Pamungkas, ketua Partai PUDI dan Dr Mochatar Pakpahan
ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia dan K. H Abdurrahman Wahid
merupakan segelintir dari tokoh-tokoh yang dibebaskan Habibie. Selain itu
Habibie mencabut Undang-Undang Subversi dan menyatakan mendukung budaya
oposisi serta melakukan pendekatan kepada mereka yang selama ini menentang
Orde Baru.
Kebebasan Pers
Dalam hal ini, pemerintah memberikan kebebasan bagi pers di dalam
pemberitaannya, sehingga semasa pemerintahan Habibie ini, banyak sekali
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
bermunculan media massa. Demikian pula kebebasan pers ini dilengkapi pula
oleh kebebasan berasosiasi organisasi pers sehingga organisasi alternatif seperti
AJI (Asosiasi Jurnalis Independen) dapat melakukan kegiatannya. Sejauh ini tidak
ada pembredelan-pembredelan terhadap media tidak seperti pada masa Orde Baru.
Pers Indonesia dalam era pasca-Soeharto memang memperoleh kebebasan yang
amat lebar, pemberitaan yang menyangkut sisi positif dan negatif kebijakan
pemerintah sudah tidak lagi hal yang dianggap tabu, yang seringkali sulit
ditemukan batasannya. Bahkan seorang pengamat Indonesia dari Ohio State
University, William Liddle mengaku sempat shock menyaksikan isi berita televisi
baik swasta maupun pemerintah dan membaca isi koran di Jakarta, yang
kesemuanya seolah-olah menampilkan kebebasan dalam penyampaian berita,
dimana hal seperti ini tidak pernah dijumpai sebelumnya pada saat kekuasaan
Orde Baru. Cara Habibie memberikan kebebasan pada Pers adalah dengan
mencabut SIUPP.
Pembentukan Parpol dan Percepatan pemilu dari tahun 2003 ke tahun 1999
Presiden RI ketiga ini melakukan perubahan dibidang politik lainnya
diantaranya mengeluarkan UU No. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik, UU No. 3
Tahun 1999 tentang Pemilu, UU No. 4 Tahun 1999 tentang MPR dan DPR.
Itulah sebabnya setahun setelah reformasi Pemilihan Umum dilaksanakan
bahkan menjelang Pemilu 1999, Partai Politik yang terdaftar mencapai 141 dan
setelah diverifikasi oleh Tim 11 Komisi Pemilihan Umum menjadi sebanyak 98
partai, namun yang memenuhi syarat mengikuti Pemilu hanya 48 Parpol saja.
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Selanjutnya tanggal 7 Juni 1999, diselenggarakan Pemilihan Umum Multipartai.
Dalam pemilihan ini, yang hasilnya disahkan pada tanggal 3 Agustus 1999.
Penyelesaian Masalah Timor Timur
Sejak terjadinya insident Santa Cruz, dunia Internasional memberikan
tekanan berat kepada Indonesia dalam masalah hak asasi manusia di Tim-Tim.
Bagi Habibie Timor-Timur adalah kerikil dalam sepatu yang merepotkan
pemerintahannya, sehingga Habibie mengambil sikap pro aktif dengan
menawarkan dua pilihan bagi penyelesaian Timor-Timur yaitu di satu pihak
memberikan setatus khusus dengan otonomi luas dan dilain pihak memisahkan
diri dari RI. Otonomi luas berarti diberikan kewenangan atas berbagai bidang
seperti : politik ekonomi budaya dan lain-lain kecuali dalam hubungan luar negeri,
pertahanan dan keamanan serta moneter dan fiskal. Sedangkan memisahkan diri
berarti secara demokratis dan konstitusional serta secara terhorman dan damai
lepas dari NKRI.
Sebulan menjabat sebagai Presiden habibie telah membebaskan tahanan
politik Timor-Timur, seperti Xanana Gusmao dan Ramos Horta. Sementara itu di
Dili pada tanggal 21 April 1999, kelompok pro kemerdekaan dan pro intergrasi
menandatangani kesepakatan damai yang disaksikan oleh Panglima TNI Wiranto,
Wakil Ketua Komnas HAM Djoko Soegianto dan Uskup Baucau Mgr. Basilio do
Nascimento. Tanggal 5 Mei 1999 di New York Menlu Ali Alatas dan Menlu
Portugal Jaime Gama disaksikan oleh Sekjen PBB Kofi Annan menandatangani
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
kesepakan melaksanakan penentuan pendapat di Timor-Timur untuk mengetahui
sikap rakyat Timor-Timur dalam memilih kedua opsi di atas. Tanggal 30 Agustus
1999 pelaksanaan penentuan pendapat di Timor-Timur berlangsung aman. Namun
keesokan harinya suasana tidak menentu, kerusuhan dimana-mana. Suasana
semakin bertambah buruk setelah hasil penentuan pendapat diumumkan pada
tanggal 4 September 1999 yang menyebutkan bahwa sekitar 78,5 % rakyat TimorTimur memilih merdeka. Pada awalnya Presiden Habibie berkeyakinan bahwa
rakyat Timor-Timur lebih memilih opsi pertama, namun kenyataannya keyakinan
itu salah, dimana sejarah mencatat bahwa sebagian besar rakyat Timor-Timur
memilih lepas dari NKRI. Lepasnya Timor-Timur dari NKRI berdampak pada
daerah lain yang juga ingin melepaskan diri dari NKRI seperti tuntutan dari GAM
di Aceh dan OPM di Irian Jaya, selain itu Pemerintah RI harus menanggung
gelombang pengungsi Timor-Timur yang pro Indonesia di daerah perbatasan yaitu
di
Atambua. Masalah
Timor-Timur tidaklah sesederhana seperti
yang
diperkirakan Habibie karena adanya bentrokan senjata antara kelompok pro dan
kontra kemerdekaan di mana kelompok kontra ini masuk ke dalam kelompok
militan yang melakukan teror pembunuhan dan pembakaran pada warga sipil.
Tiga pastor yang tewas adalah pastor Hilario, Fransisco, dan dewanto. Situasi
yang tidak aman di Tim-Tim memaksa ribuan penduduk mengungsi ke Timor
Barat, ketidak mampuan Indonesia mencegah teror, menciptakan keamanan
mendorong Indonesia harus menerima pasukan internasional.
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Pengusutan Kekayaan Soeharto dan Kroni-kroninya
Mengenai masalah KKN, terutama yang melibatkan Mantan Presiden
Soeharto pemerintah dinilai tidak serius menanganinya dimana proses untuk
mengadili Soeharto berjalan sangat lambat. Bahkan, pemerintah dianggap gagal
dalam melaksanakan Tap MPR No. XI / MPR / 1998 tentang Penyelenggara
Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, terutama
mengenai pengusutan kekayaan Mantan Presiden Soeharto, keluarga dan kronikroninya. Padahal mengenai hal ini, Presiden Habibie - dengan Instruksi Presiden
No. 30 / 1998 tanggal 2 Desember 1998 – telah mengintruksikan Jaksa Agung
Baru, Andi Ghalib segera mengambil tindakan hukum memeriksa Mantan
Presiden Soeharto yang diduga telah melakukan praktik KKN. Namun hasilnya
tidak memuaskan karena pada tanggal 11 Oktober 1999, pejabat Jaksa Agung
Ismudjoko mengeluarkan SP3, yang menyatakan bahwa penyidikan terhadap
Soeharto yang berkaitan dengan masalah dana yayasan dihentikan. Alasannya,
Kejagung tidak menemukan cukup bukti untuk melanjutkan penyidikan, kecuali
menemukan bukti-bukti baru. Sedangkan dengan kasus lainnya tidak ada
kejelasan.
Bersumber dari masalah di atas, yaitu pemerintah dinilai gagal dalam
melaksanakan agenda Reformasi untuk memeriksa harta Soeharto dan
mengadilinya. Hal ini berdampak pada aksi demontrasi saat Sidang Istimewa
MPR tanggal 10-13 Nopember 1998, dan aksi ini mengakibatkan bentrokan antara
mahasiswa dengan aparat. Parahnya pada saat penutupan Sidang Istimewa MPR,
Jumat (13/11/1998) malam. Rangkaian penembakan membabi-buta berlangsung
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
sejak pukul 15.45 WIB sampai tengah malam. Darah berceceran di kawasan
Semanggi, yang jaraknya hanya satu kilometer dari tempat wakil rakyat
bersidang. Sampai sabtu dini hari, tercatat lima mahasiswa tewas dan 253
mahasiswa luka-luka. Karena banyaknya korban akibat bentrokan di kawasan
Semanggi maka bentrokan ini diberi nama ”Semanggi Berdarah” atau ”Tragedi
Semanggi”.
Pemberian Gelar Pahlawan Reformasi bagi Korban Trisakti
Pemberian gelar Pahlawan Reformasi pada para mahasiswa korban Trisakti
yang menuntut lengsernya Soeharto pada tanggal 12 Mei 1998 merupakan hal
positif yang dianugrahkan oleh pemerintahan Habibie, dimana penghargaan ini
mampu melegitimasi Habibie sebagai bentuk penghormatan kepada perjuangan
dan pengorbanan mahasiswa sebagai pelopor gerakan Reformasi.
50
Download