Jakarta, 11 Januari 2010

advertisement
Jakarta, 24 Agustus 2015
Tiongkok Bukan Pemicu Currency Wars
Dugaan China melancarkan currency wars merebak setelah yuan melemah sekitar 2,8% sepanjang Agustus
2015. Dampaknya terbukti meluas mengingat perlambatan ekonomi China -- yang diisukan sebagai pemicu
currency wars – bakal menurunkan impor dari banyak negara termasuk Indonesia. Akibatnya, kecemasan itu
tidak hanya terus memukul harga komoditas, energi, nilai tukar, harga obligasi negara dan saham di negara
berkembang. Bahkan indeks saham S&P500 (SPX) sepekan lalu terkoreksi -5,8%, lebih dalam dibanding indeks
saham negara berkembang di luar Jepang (MXAPJ) -5,7%.
IHSG sendiri kembali
anjlok 5,4% dengan
penutupan
4335,9
sebagai angka terendah
tahun ini. Lihat peraga.
Kurs
rupiah
terus
melemah
mendekati
14000
per
dollar.
Sementara yield SUN
bertenor
10
tahun
mendekati 9%.
Namun, berdasarkan pencermatan terhadap data moneter dan perdagangan internasional, kami menilai bukan
China melainkan Jepang yang memicu perlombaan melemahkan mata uang untuk memacu ekspor sejak tiga
tahun terakhir. Bagaimana penjelasannya?
Nilai tukar adalah harga mata uang asing didalam mata uang domestik. Negara yang ingin memperlemah mata
uangnya dapat menciptakan likuiditas yang melebihi kebutuhan di dalam negeri. Secara konvensional,
penciptaan likuiditas ini dapat dilakukan dengan menurunkan suku bunga yang jauh lebih rendah dibanding
proyeksi inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Sedangkan secara inkonvensional dilakukan melalui pembelian secara masif oleh bank sentral atas surat
berharga negara dan korporasi. Aksi ini dikenal sebagai quantitative easing yang ditunjukkan oleh peningkatan
rasio total asset bank sentral terhadap GDP.
Ekspansi moneter yang melebihi kebutuhan kemudian dapat dipantau melalui trend penurunan rasio GDP
nominal terhadap M2. GDP nominal mewakili aktivitas sektor riil yang membutuhkan likuiditas. Sedang di sisi
lain, statistik moneter M2 mencerminkan akumulasi pasokan jumlah uang beredar. Rasio GDP nominal dan M2
ini dikenal sebagai velocity of money.
Trend penurunan velocity of money ini menandakan pasokan uang melimpah melebihi kebutuhan. Akibatnya,
harga uang menurun yang dicirikan oleh pelemahan kurs mata uang disamping inflasi.
Sebetulnya Amerika Serikat sendiri menjadi biang utama currency wars sebab velocity of money sudah turun
drastis sejak tahun 2000. Secara teori sebetulnya nasib dollar cenderung melemah. Namun operasi quantitative
easing yang sangat masif dilakukan pemerintahan Sinzho Abe telah menyebabkan ratio total asset BoJ terhadap
GDP melambung hingga 65% GDP. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding 30% baik untuk the Fed dan ECB – yang
juga melakukan quantitative easing sejak akhir tahun 2014 lalu. Lihat peraga dibawah ini, total asset Bank of
Japan berwarna hijau berbintik, merah untuk ECB dan biru untuk the Fed.
Kami cermati velocity of money Jepang
menurun jauh lebih pesat ketimbang
Amerika Serikat. Sebagai akibatnya, yen
cenderung melemah. Selama tiga tahun
terakhir, kurs yen terhadap dollar telah
anjlok 35%. Ini lebih dalam dibanding
kurs rupiah terhadap dollar yang
melemah sebesar 31,8%. Lihat Tabel.
Yang menarik, berdasarkan pengalaman
20 tahun terakhir, bursa Nikkei
cenderung melesat seiring dengan
pelemahan kurs yen.
Indeks dollar DXY semakin menguat
(super dollar) sejak pertengahan tahun
2014 setelah euro juga turut melemah
menyusul aksi quantitative easing ECB
sementara prospek pemulihan ekonomi
masih terbatas.
Dapat disimpulkan Indonesia tidak terlibat dalam currency wars walaupun BI nantinya menurunkan bunga
untuk memacu pertumbuhan ekonomi. BI rate sekarang masih lebih tinggi dari proyeksi inflasi dan
pertumbuhan ekonomi. Pelemahan rupiah selama ini sendiri terjadi akibat defisit neraca berjalan menyusul
kejatuhan harga komoditas primer yang masih menjadi andalan ekspor Indonesia.
Kondisi defisit juga dialami negara seperti Russia, Brazil dan Malaysia yang lebih mengandalkan ekspor minyak
bumi sehingga mata uang mereka lebih anjlok ketimbang Indonesia. Negara-negara inipun tidak dapat
digolongkan memicu currency wars.
Upaya mempertahankan mata uang dengan melakukan intervensi ternyata cenderung sia-sia bila yang terjadi
adalah penguatan dollar. Contoh kasus nyata untuk ini adalah Malaysia. Seperti terlihat pada peraga dibawah
ini, kurs ringgit Malaysia melemah drastis sejak pertengahan tahun lalu. Bahkan pelemahan selama tahun
berjalan lebih dalam ketimbang rupiah. Upaya mempertahankan ringgit melalui intervensi pelepasan cadangan
devisa nampak tidak membuahkan hasil. Cadangan devisa Malaysia terus merosot hingga menjadi $86 milyar
atau lebih rendah dibanding Indonesia.
Belajar dari pengalaman krisis moneter 1997 yang bermula di Thailand, Bank Indonesia sangat serius
memperhatikan perkembangan ekonomi Malaysia. Apalagi Malaysia termasuk investor yang cukup besar dalam
surat utang negara Indonesia.
Yen Paling Kompetitif
Mengingat suatu negara memiliki banyak mitra dagang dengan menggunakan mata uang berbeda, real effective
exchange rate (REER) digunakan sebagai indikator daya saing. Pada dasarnya indeks ini menggabungkan
berbagai kurs bilateral (seperti rupiah terhadap dollar, terhadap euro dan terhadap yen) dan kemudian
disesuaikan dengan perbedaan inflasi domestik dan berbagai mitra dagang. Negara yang mata uangnya
melemah dan mampu mengendalikan inflasi dinilai berpeluang menikmati peningkatan daya saing ekspor.
Bank for International Settlement
(semacam bank sentral untuk bank
sentral) secara rutin mempublikasikan
REER berbagai negara. Acuannya
adalah suatu negara dinilai kompetitif
bila indeks REER dibawah 100. Peraga
Bloomberg berikut ini menggambarkan
perkembangan REER untuk China
(132,12), Indonesia (90,16), Jepang
(69,07) untuk bulan Juli 2015. Kurs
rupiah masih terbilang kompetitif yang
berada diantara Yuan (kurang kompetitif) dan yen (sangat kompetitif). Cermati divergensi antara Yen dan Yuan
terjadi sejak akhir 2012 sejalan dengan quantitative easing Bank of Japan.
Menarik untuk mencermati kinerja perdagangan internasional kedua negara tersebut terhadap Amerika Serikat
yang dianggap ekonomi yang paling kuat saat ini. Selama semester pertama tahun 2015 ini, Jepang mencatat
surplus terhadap AS senilai $34,7 milyar yang ternyata secara tahunan tidak bertumbuh. Pada periode yang
sama, surplus China mencapai $173,2 milyar dan tumbuh 15,9% YoY. Lebih lanjut, pada kelompok mesin dan
alat transportasi yang secara tradisional menjadi andalan Jepang mencatat surplus $39 milyar namun turun
3,7%. Sebaliknya China menikmati surplus $100,6 milyar dan tumbuh 12,6%.
Mencermati data itu nampaknya kurang beralasan bila devaluasi yuan menjadi tindakan untuk meningkatkan
daya saing. Malah ada risiko Jepang terus melemahkan mata uangnya sebagai upaya untuk menaikkan kinerja
ekspor. Pelemahan yuan diyakini sebagai dampak penerapan mekanisme pasar yang diminta oleh IMF. Seperti
kita ketahui, China memperjuangkan yuan dimasukkan dalam mata uang internasional IMF berupa special
drawing right (SDR).
Mengadu Jepang dan China
Prospek pemulihan dan kestabilan rupiah sendiri tetap dipengaruhi oleh keberhasilan Indonesia menurunkan
defisit neraca berjalan. Sejauh ini, surplus neraca perdagangan baru dimungkinkan oleh penurunan impor yang
lebih pesat. Pemerintah harus efektif memacu ekspor non-migas khususnya manufaktur padat karya ke negara
maju khususnya Amerika Serikat. Selain ekspor, pemerintah harus memacu pariwisata yang lebih luas, tidak
sebatas Bali dan Lombok, untuk memperkuat neraca jasa.
Selain memacu ekspor dan pariwisata, Indonesia harus memanfaatkan pertarungan geo-politik regional. Boleh
dibilang China dan Jepang adalah negara yang punya barang dan uang, tetapi kurang pasar. Sebaliknya kita
punya pasar namun kurang barang dan uang. Ada titik temu yang harus dikelola dengan seksama agar
menguntungkan Indonesia. Dapat kita saksikan pertarungan sengit antara Jepang dan China memperebutkan
banyak proyek infrastruktur di Indonesia. Indonesia harus menikmati peningkatan perbaikan infrastruktur yang
berkualitas yang dipasok dan dibiayai oleh pinjaman kedua negara tersebut dengan ongkos yang paling murah.
Selain suku bunga, pemerintah juga perlu mempertimbangkan risiko penguatan mata uang kreditur terhadap
rupiah. Peraga Bloomberg dibawah ini mengindikasikan selama 10 tahun terakhir depresiasi rupiah terhadap
yuan (warna merah) jauh lebih besar ketimbang rupiah terhadap yen (coklat), walau yen cenderung lebih
volatile. Dengan memanfaatkan konsep velocity of money Jepang yang terus turun, kami duga yen akan
cenderung melemah. Sehingga ada pertimbangan memanfaatkan dana Jepang terlebih dengan suku bunga
yang lebih rendah ketimbang penawaran China.
Salam
Budi Hikmat
Chief Economist and Director for Investor Relation
Download