File - Kimia

advertisement
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANALISIS
EKSTRAK BUAH CABE JAWA (Piper retrofractum Vahl)
KADAR
PIPERIN
Lulu Nurazizah, Tri Aminingsih, Ade Heri Mulyati
Program Studi Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pakuan
ABSTRACT
Java pepper plant (Piper retrofractum Vahl) only grows wild in the forest or
alongside the garden and the only known properties as a medicinal plant for use in the
manufacture of herbal mixture. The herbs are used as a mixture of Java pepper
manufacture has the potential as an antibacterial because contained active compound
which has antibacterial properties. One of bioactive compounds contained in Java
pepper is piperine. Piperine compound is an alkaloid compounds that is frequently used
in the treatment of lowering the fever because of its activity as the antipyretic power,
antioxidants, and inflammation reductor. The aim of this study was to determine the
antibacterial activity and piperine content of the extract in 95% ethanol, ethyl acetate
and hexane of the fruit of Java pepper and to identify the piperine compound of the
extract in 95% ethanol by LC-MS / MS.
The result shows that piperine content of the extract obtained by solvents 95%
ethanol, ethyl acetate and hexane respectively of 2.49%, 1.66% and 0.02%. Yield of
extract by fractional maceration in hexane, ethyl acetate, and 95% ethanol respectively
of 23.12%, 16.28% and 11.29%. Phytochemical Test showed that extract hexane
contains alkaloids and triterpenoids-steroids. Extract ethyl acetate contains alkaloids,
flavonoids, saponins and triterpenoids-steroids. Extract 95% Ethanol contains
alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and triterpenoids-steroids. Extracts of Java
pepper fruit obtained by using hexane, ethyl acetate, and 95% ethanol solvents have
antibacterial activity against S. aureus bacteria respectively of 10,46mm, 9,15mm and
14,51mm. Antibacterial activity against B.substillis bacteria respectively of 9.63 mm,
7.56 mm, and 12,94mm. Only extract of Java pepper fruit obtained by solvent 95%
ethanol has antibacterial activity against E. coli bacteria of 11,74mm. Identification by
LC-MS / MS shows piperine compound is present in extract of Java chili fruit obtained
by solvent 95% ethanol with a molecular weight of 285.1471.
Keywords: Java pepper, antibacterials, piperine, UV-VIS spectrophotometry, LC-MS /
MS
Indonesia. Saat ini pengobatan dengan
menggunakan antibiotik dan obat
sintetik banyak digunakan untuk
mengobati penyakit akibat infeksi
bakteri
tersebut.
Akan
tetapi
kecenderungan masyarakat mencari
pemecahan terhadap masalah kesehatan
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit infeksi yang disebabkan
oleh bakteri masih merupakan masalah
kesehatan utama penyebab tingginya
angka kesakitan dan kematian di
1
melalui pengobatan tradisional sangat
dirasakan akhir- akhir ini. Fenomena ini
terus meningkat sejak krisis ekonomi tahun
1997 yang menyebabkan harga obat
sintetik melonjak tinggi karena sebagian
bahan bakunya masih impor (BPOM,
2010). Selain itu penggunaan antibiotik
yang kurang tepat dapat menyebabkan
terjadinya resistensi bakteri terhadap zat
antibiotik. Penggunaan tanaman obat
juga lebih disukai karena memiliki efek
samping yang lebih kecil dibandingkan
dengan obat sintetik dengan harga yang
relatif lebih murah. Adanya sikap back
to
nature
karena
kekhawatiran
penggunaan zat kimia sintetik dan
dukungan dari pengembangan sumber
daya alam Indonesia telah mendorong
penggunaan sumber-sumber bahan alami
dengan berbagai kandungan zat aktif di
dalamnya untuk pengobatan (Emmyzar,
1992).
menggunakan buah cabe jawa sebagai
salah satu campuran pembuatan jamu
mempunyai tingkat kontaminasi bakteri
yang sangat rendah yang disebabkan
adanya sifat antibakteri dari buah cabe
jawa (Sumarni dkk, 2009). Akan tetapi
sejauh mana aktivitas antibakteri buah
cabe jawa belum diteliti lebih lanjut,
sehingga perlu dilakukan penelitian
untuk menentukan aktivitas antibakteri
ekstrak buah cabe jawa. Dalam
penelitian ini akan dilakukan uji aktivitas
antibakteri ekstrak buah cabe jawa
terhadap bakteri perwakilan Gram
negatif, Gram Positif, serta bakteri yang
memiliki spora, yaitu Escherichia coli,
Staphylococus aureus, dan Bacillus
substilis.
Senyawa identitas (zat aktif) yang
terdapat dalam buah cabe jawa yaitu
piperin (Farmakope Herbal, 2009).
Senyawa piperin adalah golongan
senyawa alkaloid yang sering digunakan
dalam pengobatan. Dari beberapa
penelitian telah dilaporkan bahwa
piperin mempunyai aktivitas sebagai
penurun demam dengan daya anti
piretiknya, mengurangi rasa sakit,
antioksidan dan mengurangi peradangan.
Senyawa ini mempunyai aktivitas
farmakologi yang telah teruji secraa
invivo (pada tikus) yaitu mempunyai
aktivitas terhadap penyakit tukak
lambung, antitumor, dan berfungsi
sebagai imunodulator (Joy et al., 2010;
Manoj et al., 2004). Mengingat besarnya
potensi piperin, maka perlu dilakukan
penelitian tentang kadar piperin yang
terdapat dalam buah cabe jawa
menggunakan beberapa pelarut, yaitu
etanol 95%, etil asetat, dan hexana.
Salah satu tanaman obat tersebut
adalah cabe jawa. Cabe jawa merupakan
salah satu tanaman obat yang yang sudah
dikenal sejak lama akan khasiatnya.
Menurut Taryono dan Agus (2004)
tanaman cabe jawa merupakan salah
satu tanaman obat yang berpotensial
dengan kebutuhannya sangat tinggi yaitu
sebanyak 9,5% dari total kebutuhan
tanaman obat.
Cabe jawa yang
mempunyai
nama
latin
Piper
retrofractum Vahl ini secara tradisional
digunakan sebagai obat dari berbagai
macam jenis penyakit.
Cabe jawa sebenarnya merupakan
campuran bahan jamu sehari hari dan
selalu dibawa oleh pedagang jamu
keliling. Buah, daun dan akar tanaman
cabe jawa dapat digunakan untuk
pengobatan. Menurut BPOM (2010)
buah cabe jawa mengandung beberapa
alkaloid terutama piperin yang ada
dalam minyak atsirinya.
Beberapa penelitian melaporkan
bahwa
jamu
tradisional
yang
1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang yang
dikaji, maka tujuan dalam penelitian ini
adalah:
1. Menentukan aktivitas antibakteri
ekstrak hexana, etil asetat, dan
2
2.
etanol 95%,
buah cabe jawa
terhadap bakteri Escherichia coli.
Staphylococus aureus, dan Bacillus
substilis.
Menganalisis kadar piperin ekstrak
etanol 95%, etil asetat, dan hexana
buah
cabe
jawa
dengan
Spektrofotometer UV-VIS.
bakteri
Staphylococus
aureus,
Escherichia coli, dan Bacillus substilis,
Alkohol 70%, standar piperin, etanol
p.a.
C. Metode Penelitian
1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian
dilakukan
di
Laboratorium Kimia FMIPA UNPAK
yang berlokasi di Jl. Pakuan Ciheuleut
Bogor, Laboratorium Mikrobiologi PT.
Catur Dakwah Crane Farmasi yang
berlokasi di Kawasan Industri Sentul,
Bogor dan Laboratorium PT. Sayap Mas
Utama (WINGS Food) yang berlokasi di
Jakarta Timur dari bulan Mei – Juli
2015.
BAHAN DAN METODE
A. Alat
Alat yang digunakan dalam
penelitian ini adalah oven, grinder, botol
sampel, neraca analitik, piala gelas, gelas
ukur, erlenmeyer vakum, pH meter,
magnetic stirer, corong, kertas saring,
rotary evaporator, botol timbang,
desikator, bunsen, kaki tiga, kassa asbes,
sudip, cotton bud, tabung reaksi, rak
tabung reaksi, gelas ukur, pipet tetes,
penangas air, pemusing, inkubator,
autoklaf, Laminair Air Flow (LAF),
pipet volumetrik, labu ukur 25 mL, labu
ukur 10 mL, vortex, cawan petri, tabung
reaksi, paper disc (kertas cakram),
pinset, vacuum flask, hot plate stirer,
alumunium foil, kapas, spidol permanen,
mikropipet, vial, syringe, membran filter
yang berdiameter pori 0,45 µm, kuvet,
seperangkat
alat
refluks,
Spektrofotometer UV-VIS.
2. Pengambilan Sampel dan Determinsi
Tanaman
Sampel yang digunakan adalah
buah cabe jawa yang diperoleh dari
BALITRO (Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat), Bogor, Jawa Barat.
Buah cabe jawa yang digunakan adalah
buah dari tanaman cabe jawa yang
berumur 10 tahun dan buah cabe jawa
matang yang berumur 5 bulan. Tanaman
cabe jawa diidentifikasi di Herbarium
Bogoriensis, LIPI Pusat Biologi, Bidang
Botani, Cibinong, Bogor.
3. Pembuatan Simplisia
Buah
cabe
jawa
segar
dikeringkan dengan menggunakan oven
pada suhu 55 oC selama 3 hari. Simplisia
kering buah cabe jawa yang diperoleh
kemudian digrinder sampai menjadi
serbuk dan di ayak dengan ayakan mesh
40. Serbuk simplisia yang diperoleh
kemudian dihitung kadar airnya.
B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tanaman cabe jawa,
buah cabe jawa, etanol 95%, etil asetat,
dan hexana, HCl 10%, amonia encer,
bismut nitrat, asam asetat glasial, HgCl2,
KI, serbuk Mg, HCl pekat, amil alkohol,
dietil eter, asam asetat anhidrida,
H2SO4(p), HCl 2N, FeCl3 1%, aquades,
NaOH encer, HCl encer, Nutrien Agar,
kloramfenikol, diklorometan, Trypticase
Soya Broth (TSB), Stok kultur murni
πΎπ‘Žπ‘‘π‘Žπ‘Ÿ π‘Žπ‘–π‘Ÿ (%)
π΅π‘œπ‘π‘œπ‘‘ π‘ π‘’π‘π‘’π‘™π‘’π‘š π‘π‘’π‘šπ‘Žπ‘›π‘Žπ‘ π‘Žπ‘› − π΅π‘œπ‘π‘œπ‘‘ π‘ π‘’π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘šπ‘Žπ‘›π‘Žπ‘ π‘Žπ‘›
=
π‘₯ 100%
π΅π‘œπ‘π‘œπ‘‘ π‘ π‘’π‘π‘’π‘™π‘’π‘š π‘π‘’π‘šπ‘Žπ‘›π‘Žπ‘ π‘Žπ‘›
4. Ekstraksi Buah Cabe Jawa
3
Sejumlah 100 gram simplisia
serbuk buah cabe jawa diekstraksi
dengan perbandingan pelarut 1:10 (b/v)
(100 gram simplisia dilarutkan dalam
1000 ml pelarut). Proses ektraksi
pertama
dengan
pelarut
hexana
dilakukan selama 1x24 jam secara
maserasi dengan pengadukan selama 6
jam. Hasil maserasi disaring dengan
menggunakan kertas saring Whatman 42
dan bantuan vacuum flask, filtrat di
tampung dalam erlenmeyer. Filtrat yang
diperoleh selanjutnya diuapkan atau
dikentalkan dengan rotary evaporator
pada suhu 50oC, sehingga diperoleh
ekstrak kental dengan rendemen yang
dapat ditimbang dan dicatat. Ampas lalu
dikeringkan.
Ekstraksi
dilakukan
kembali dengan pelarut yang berbeda,
yaitu etil asetat dan etanol 95%, dengan
prosedur kerja yang sama. Selanjutnya
dilakukan perhitungan kadar rendemen
dari ekstrak yang diperoleh (Farmakope
Herbal, 2009). Kadar rendemen ekstrak
dihitung untuk mengetahui seberapa
besar ekstrak yang dihasilkan dari proses
ekstraksi dari masing-masing pelarut.
Kadar rendemen ekstrak (%) =
Bobot hasil ekstrak
x 100%
Bobot Simplisia
endapan merah jingga dengan pereaksi
Dragendorf di sampel tersebut (Edeoga
et al., 2005).
b. Flavonoid
Sebanyak 100 mg ekstrak buah
cabe jawa dari pelarut hexana, etil asetat,
dan
etanol
95%
masing-masing
dilarutkan dalam 100 ml air panas,
kemudian dididihkan selama 5 menit lalu
disaring. Sebanyak 5 ml filtrate
ditambahkan 0,1 mg serbuk Mg, 1 ml
HCL pekat dan 1 ml amil alkohol lalu
dikocok kuat-kuat. Adanya flavonoid
ditunjukan dengan terbentuknya warna
merah, kuning atau jingga pada lapisan
amil alkohol (Edeoga et al., 2005).
c. Triterpenoid dan Steroid
Sebanyak 100 mg ekstrak buah
cabe jawa dari pelarut hexana, etil asetat,
dan
etanol
95%
masing-masing
ditambahkan 25 ml dietil eter lalu
dikocok. Lapisan dietil eter dipisahkan
dan ditambahkan pereaksi LiebermanBurchard
sebanyak
2-3
tetes.
Triterpenoid ada bila terbentuk larutan
berwarna biru dan steroid ada apabila
terbentuk larutan berwarna hijau.
Pereaksi Lieberman-Burchard dibuat
dengan cara mencampurkan anhidrida
asam asetat dan H2SO4 pekat (1:1)
(Edeoga et al., 2005)
d. Saponin
Sebanyak 100 mg ekstrak buah cabe
jawa dari pelarut hexana, etil asetat, dan
etanol 95% masing-masing ditambahkan
10 mL akuades panas, didinginkan, dan
dikocok kuat selama 10 menit. Saponin
ada bila terbentuk busa yang mantap dan
pada penambahan 1 tetes HCl 2 N busa
tetap stabil.
e. Tanin
Sebanyak 100 mg sampel di ekstrak
menggunakan 1 ml etanol dan 1 ml
aquadest. Filtrat yang didapat kemudian
ditambahkan beberapa tetes FeCl3 1%.
Adanya senyawa tanin ditunjukan
dengan terbentuknya warna hjau, biru
atau ungu (Edeoga et al., 2005).
5. Uji Fitokimia
a. Alkaloid
Sebanyak 100 mg ekstrak buah
cabe jawa dari pelarut hexana, etil asetat,
dan etanol 95%, masing-masing
ditambahkan 5 mL HCl 10% dan
ammonia encer hingga pH 8, kemudian
diekstrasi dengan 20 mL kloroform,
setelah itu kloroform dalam ekstrak
diuapkan. Kemudian ekstrak dilarutkan
dengan 2 mL HCl 2%. Larutan tersebut
dibagi menjadi 3 tabung. Tabung
pertama digunakan sebagai pembanding,
tabung kedua ditambahkan pereaksi
Mayer dan tabung ketiga ditambahkan
pereaksi Dragendorff. Apabila terdapat
endapan putih dengan pereaksi Mayer,
4
dari pengukuran, x= konsentrasi terbaca
sampel (ppm). Absorbansi
yang
diperoleh dari persamaan kurva baku
kemudian
dimasukkan
kedalam
persamaan garis kurva baku, maka
didapatkan masing-masing kadar piperin
dalam ekstrak etanol 95%, etil asetat,
dan hexane buah cabe jawa.
e. Perhitungan
Kadar piperin dalam ekstrak buah
cabe jawa, dihitung dengan rumus :
%Kadarpiperin=
6. Analisis Kadar Piperin Ekstrak Buah
Cabe Jawa
Pengujian kadar piperin dari
ekstrak buah cabe jawa dilakukan
dengan Spektrofotometri UV VIS
(AOAC Official Methods Of Analysis,
1995).
a. Pembuatan Larutan Standar Piperin
(Larutan Induk 100ppm)
Larutan induk : Ditimbang 0,1 g standar
piperin, masukkan ke dalam labu ukur
100 mL, larutkan dalam etanol 95%
sampai tanda tera 100 mL. Pipet 10 mL
larutan tersebut ke dalam labu ukur 100
mL, tambahkan etanol 95% sampai
tanda tera. Dari standar induk tersebut
dibuat deret standar konsentrasi 1 ppm, 5
ppm, dan 5 ppm.
b. Larutan Uji
Timbang ± 0,5 g simplisia buah
cabe jawa, masukkan ke dalam
erlenmeyer 250 mL, tambahkan 70 mL
etanol 95% dan Refluks selama 3 jam.
Dinginkan pada temperatur kamar.
Saring filtrat secara kuantitatif ke dalam
labu ukur 250 mL coklat dengan
menggunakan kertas saring, bilas kertas
saring sampai mendekati tanda batas dan
tera dengan etanol 95%. Pipet 5 mL
masukkan ke dalam labu ukur 100 mL,
tera dengan alkohol 95% dan
homogenkan. Ulangi preparasi larutan
uji dengan menggunakan pelarut yang
berbeda yaitu, etil asetat dan hexana.
c. Pengukuran
dengan
Spektrofotometer UV-VIS
Ukur larutan standar dan sampel
pada panjang gelombang maksimum 342
nm-345 nm, dengan pelarut sebagai
blanko.
d.
Analisis Hasil Spektrofotometer
UV-VIS
Data absorbansi yang didapatkan
dari baku standar piperin kemudian
dibuat
persamaan
kurva
baku.
Persamaan kurva baku yaitu y=a+bx
dengan y= absorbansi yang diperoleh
πΎπ‘œπ‘›π‘ π‘’π‘›π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘– π‘ π‘Žπ‘šπ‘π‘’π‘™ (π‘π‘π‘š) π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘π‘Ž (π‘₯) π‘₯ 𝐹𝑝 π‘₯ 100
π΅π‘œπ‘π‘œπ‘‘ π‘ π‘Žπ‘šπ‘π‘’π‘™ π‘₯ 10000
7. Uji Aktivitas Antibakteri Buah Cabe
Jawa
Uji daya hambat dilakukan
dengan metode difusi cara cakram Kirby
Bauer. Hasil uji daya hambat antibakteri
didasarkan pada pengukuran diameter
daerah hambat (DDH) pertumbuhan
bakteri yang terbentuk disekeliling
cakram. Kertas cakram yang steril
dimasukkan ke dalam masing-masing
ekstrak sampel hexana, etil asetat, dan
etanol 95%. Cakram tersebut direndam
selama 24 jam. Kemudian disimpan
terlebih dahulu di permukaan cawan
petri steril dan dimasukkan ke dalam
oven suhu 50˚C selama 30 menit, setelah
mengering dipindahkan ke permukaan
media NA yang telah dicemari oleh
bakteri. Adapun cemaran pada media
NA tersebut dilakukan dengan cara
memasukkan 1 ml suspensi bakteri yang
dituangkan ke dalam permukaan agar
dan diulas secara merata dengan
menggunakan cotton swab steril.
Masing-masing sampel uji di
inkubasi dalam inkubator suhu 30 - 35˚C
selama 24 jam. Setelah masa inkubasi
selesai, kemudian di hitung diameter
daerah hambat (DDH) yang terbentuk
pada masing - masing ekstrak, kontrol
positif yaitu kloramfenikol 1 µg/mL, dan
kontrol negatif akuades. Pengujian
dilakukan dengan 2 kali pengulangan.
5
Gambar 1. Simplisia buah cabe jawa,
simplisia segar buah cabe jawa (a),
simplisia kering buah cabe jawa (b),
serbuk simplisia buah buah cabe jawa
(c).
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Determinasi Tanaman
Hasil determinasi tanaman dapat
dilihat pada
Lampiran
1. dan
menunjukkan bahwa tanaman yang
digunakan dalam penelitian adalah cabe
jawa dengan nama latin Piper
retrofractum Vahl dari suku Piperaceae.
Hasil analisis kadar air simplisia serbuk
buah cabe jawa ( Piper retrofractum
Vahl) dapat dilihat pada Tabel 1.
3. Ekstraksi Buah Cabe Jawa
Hasil ekstraksi buah cabe jawa
secara maserasi dapat dilihat pada
Gambar 2.
Gambar 1 Ekstrak Kental Buah Cabe
Jawa, Ekstrak kental hexana (a), Ekstrak
kental etil asetat (b), ekstrak kental
etanol 95% (c). Rendemen ekstrak buah
cabe jawa dapat dilihat pada Tabel 2.
2.
Pembuatan Simplisia
Bagian tanaman yang diambil
yaitu buah cabe jawa yang telah matang
yang berumur 5 bulan. Sebanyak 4 kg
simplisia segar dikeringkan dengan
menggunakan oven pada suhu 55 oC
selama 3 hari dan menghasilkan 1 kg
simplisia kering. Simplisia kering buah
cabe jawa yang diperoleh kemudian
digrinder sampai menjadi serbuk dan di
ayak dengan ayakan mesh 40. Simplisia
buah cabe jawa dapat dilihat pada
Gambar 1.
4. Uji Fitokimia Ekstrak Buah Cabe
Jawa
Hasil uji fitokimia dapat dilihat pada
Tabel 3.
6
95% dan etil asetat yang menunjukkan
hasil positif karena busa yang terbentuk
stabil.
5. Kadar Piperin Ekstrak Buah Cabe
Jawa
Hasil kadar Piperin dapat dilihat pada
Tabel 4.
Kadar Piperin ( %)
Uji fitokimia dilakukan terhadap
masing-masing ekstrak heksana, ekstrak
etil asetat, dan ekstrak etanol 95 % dari
buah cabe jawa. Tujuan dari pengujian
fitokimia adalah untuk mengetahui
secara kualitatif adanya metabolit
sekunder
dalam
tumbuhan
yang
diharapkan berperan aktif sebagai
senyawa antibakteri. Uji fitokimia yang
dilakukan meliputi pengujian alkaloid,
flavonoid, triterpenoid-steroid, saponin,
dan tanin.
Tabel 3. Menunjukkan bahwa
ekstrak hexana, etil asetat, dan etanol
95% positif mengandung alkaloid karena
alkaloid dapat larut dalam pelarut polar
dan non polar. Begitu pula dengan
flavonoid yang menunjukkan hasil
positif pada ketiga ekstrak, karena
flavonoid pada umumnya ditemukan
sebagai zat warna merah, ungu, biru, dan
kuning pada tumbuhan. Ekstrak etanol
95%, etil asetat, dan hexana buah cabe
jawa
mengandung triterpenoid dan
steroid karena membentuk larutan hijau
dan menurut Taryono dan Agus (2004)
buah cabe jawa mengandung minyak
atsiri. Tanin hanya positif terdapat pada
ekstrak etanol buah cabe jawa karena
tanin merupakan senyawa fenolik yang
larut dalam air, sehingga pada ekstrak
etil asetat dan hexana menunjukkan hasil
negatif.
Sedangkan
saponin
menunjukkan hasil negatif pada ekstrak
hexana karena tidak terbentuk busa yang
stabil, berbeda dengan ekstrak etanol
3
2.75
2.5
2.25
2
1.75
1.5
1.25
1
0.75
0.5
0.25
0
2.49
1.66
0.02
Etanol
95%
Etil Asetat Hexana
Ekstrak Buah Cabe Jawa
Gambar 2 Kadar Piperin dalam Ekstrak
Buah Cabe Jawa
Pada pengujian kadar piperin,
ekstraksi dilakukan dengan metode
refluks selama 3 jam dengan pelarut
etanol 95%, etil asetat, dan hexana.
Ekstrak kemudian dilarutkan dengan
masing-masing pelarut dan diukur pada
panjang gelombang maksimum 325 nm345 nm. Kadar piperin dapat ditentukan
dengan alat Spektrofotometer UV-VIS
karena dari strukturnya piperin memiliki
gugus kromofor (ikatan rangkap
terkonjugasi) yang dapat dibaca oleh alat
tersebut. Ekstrak yang sudah diencerkan
diukur absorbansinya pada 342 nm - 345
nm, sebab secara kimia spektum
7
ultraviolet piperin menunjukkan adanya
kespesifikan dalam bentuk pita dan
panjang gelombangnya, yaitu panjang
gelombang maksimumnya pada 342 nm
- 345 nm.
Pembanding yang digunakan
dalam pengujian kadar piperin dalam
ekstrak buah cabe jawa adalah piperin
murni yang sudah diisolasi. Penggunaan
piperin murni tersebut selain untuk
pembanding juga untuk optimasi
panjang gelombang. Standar piperin
yang digunakan yaitu dari Merck dengan
kemurnian sebesar 98,3 %. Setelah
didapatkan absorbansi dari piperin murni
lalu dibandingkan dengan absorbansi
larutan sampel, setelah itu akan didapat
konsentrasi sampel. Pada analisis kadar
piperin dibuat deret standar piperin
konsentrasi 1, 5, dan 10 ppm. Kadar
piperin yang diperoleh dari ekstrak buah
cabe jawa dengan pelarut etanol 95%,
etil
asetat,
dan
hexana
diatas
menunjukkan bahwa kadar piperin
tertinggi diperoleh dari pelarut etanol
95%. Hal ini dikarenakan piperin lebih
larut dalam pelarut polar daripada
pelarut non polar, walaupun beberapa
alkaloid juga larut dalam pelarut non
polar. Kadar piperin cenderung menurun
seiring dengan berkurangnya kepolaran
pelarut, hal ini dikarenakan kelarutan
dari piperin yang semakin tidak larut
dalam pelarut non polar selain petroleum
eter dan kloroform. Karena menurut
Kolhe et all (2011), piperin larut dalam
pelarut nonpolar seperti petroleum eter
dan kloroform.
Kadar yang diperoleh dari
simplisia buah cabe jawa dengan pelarut
etanol 95% sebesar 2,49 % telah
memenuhi persyaratan kadar piperin
dalam simplisia buah cabe jawa menurut
Farmakope Herbal (2009), yaitu ≥ 1,10
%. Tetapi apabila dibandingkan dengan
kadar piperin yang terdapat pada lada
putih dan lada hitam (Piper Nigrum L ),
kandungan piperin lada hitam paling
tinggi dan lada putih lebih tinggi
daripada cabe jawa (Septiatin, 2008).
6.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Buah Cabe Jawa
Hasil uji aktivitas antibakteri buah cabe
jawa dapat dilihat pada Tabel 5.
Berdasarkan
Tabel
5.
kloramfenikol menunjukkan adanya
zona hambat yang besar pada ketiga
bakteri E.coli, S.aureus, dan B.substilis.
Ekstrak etanol 95% menunjukkan zona
hambat pada bakteri E.coli, S.aureus,
dan B.substilis. Hasil pengukuran DDH
pada bakteri E.coli adalah sebesar 11,74
mm, S.aureus adalah 14,51 mm, dan
bakteri B.substilis sebesar 12,94. Dari
hasil tersebut menunjukkan bahwa
bakteri gram positif bentuk bulat
S.aureus lebih sensitif dibandingkan
dengan bakteri gram negatif bentuk
batang pendek E.coli dan B. Substilis.
Bakteri gram positif cenderung lebih
sensitif terhadap komponen antibakteri
karena struktur dinding selnya lebih
sederhan
sehingga
memudahkan
senyawa antibakteri untuk masuk ke
dalam sel dan menemukan sasaran
kerjanya. Sedangkan bakteri gram
negatif memiliki struktur membran yang
8
berlapis-lapis dan lebih kompleks,
diantaranya mengandung lipoprotein,
lipopolisakarida, dan peptidoglikan
(Pelezar & Chan, 1986). Karena itu pula,
pada ekstrak etil asetat dan hexana buah
cabe jawa tidak menunjukkan adanya
zona hambat pada cemaran bakteri E.coli
pada konsentrasi 9x106 sel bakteri/mL.
Kandungan zat aktif yang berfungsi
sebagai antibakteri hanya sedikit
jumlahnya pada ekstrak hexana dan etil
asetat buah cabe jawa sehingga tidak
mampu menghambat cemaran bakteri
E.coli.
Berdasarkan hasil pengukuran
DDH, bakteri gram positif bentuk bulat
S.aureus lebih sensitif dibandingkan
dengan bakteri gram positif bentuk
batang B.substillis, Hal ini disebabkan
B.substillis dapat membentuk endospora
yang membuat bakteri lebih mampu
bertahan hidup pada berbagai jenis
larutan kimia dan lingkungan yang tidak
menguntungkan.
Lebar zona hambat
yang
terbentuk dipengaruhi oleh konsentrasi
bahan aktif yang terkandung dalam
masing-masing ekstrak buah cabe jawa,
sensitivitas bakteri yang digunakan
terhadap ekstrak, serta kecepatan difusi
bahan aktif yang terdapat dalam ekstrak
terhadap medium agar. Selain itu,
kondisi lingkungan media bakteri uji
yaitu suhu, waktu inkubasi, umur bakteri
juga mempengaruhi lebar zona hambat
yang terbentuk pada tiap perlakuan
konsentrasi ekstrak. Hal ini sesuai
dengan pendapat Rajendra (2011) bahwa
senyawa tanin yang terkandung dalam
suatu bahan dapat menyebabkan
denaturasi dan koagulasi protein sel
bakteri, sehingga akan menyebabkan
kematian sel bakteri. Hadioetomo
(1993), menyatakan bahwa waktu
inkubasi, umur dan jumlah sel bakteri
berpengaruh terhadap pengujian daya
hambat suatu bahan sebagai antibakteri.
KESIMPULAN DAN SARAN
1.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian
terhadap ekstrak buah cabe jawa, maka
dapat disimpulkan bahwa :
1. Ekstrak Hexana dan etil asetat buah
cabe jawa memiliki potensi aktivitas
antibakteri terhadap bakteri S.aureus
dan B.substilis. Diameter Daya
Hambat (DDH) ekstrak hexana
masing-masing sebesar 10,46 mm dan
sebesar 9,63 mm. Diameter Daya
Hambat (DDH) ekstrak etil asetat
masing-masing sebesar 9,15 mm dan
sebesar 7,56 mm. Ekstrak Etanol
95% memiliki potensi aktivitas
antibakteri terhadap bakteri E.coli,
S.aureus dan B.substilis dengan
Diameter Daya Hambat (DDH)
masing-masing sebesar 11,74 mm,
14,51 mm, dan 12,94 mm
2. Kadar piperin yang diperoleh dengan
pelarut etanol 95 % yaitu sebesar 2,49
%, pelarut etil asetat sebesar 1,66%,
dan pelarut hexana sebesar 0,02%.
Terdapat perbedaan kadar piperin
yang diperoleh dari ketiga pelarut
dengan kadar piperin terbesar
diperoleh dari pelarut etanol 95%.
2.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut tentang metode paling efektif
untuk menentukan aktivitas antibakteri
ekstrak buah cabe jawa untuk
memperoleh Diameter Daya Hambat
yang paling besar dan validasi metode
analisis untuk penentuan kadar piperin
dalam ekstrak buah cabe jawa.
DAFTAR PUSTAKA
9
Association of Official Analytical
Chemists (AOAC). 1995. Official
Methods on Analysis. AOAC,
Washington, DC, USA.
Hadioetomo,
Ratna
Siri.
1993.
Mikrobiologi
Dasar
Dalam
Praktek.
PT
Gramedia
PustakaUtama. Jakarta
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia.
Edisi ke-2. Kosasih Padmawinata,
penerjemah.
:
ITB-Press.
Bandung.
Heinrich, Michael., Barnes, Joanne.,
Gibson,
Simon.,
Williamso,
Elizabeth M. 2004. Fundamental
Of
Pharmacognosy
and
Phisycotherapi.
Elsevier.
Hungary
Jawetz.,J.L. Melnick, E.A. Adelberg,
G.F. Brooks, J.S. Butel, L.N.
Ornston.
1995.
Medical
Microbiology. ed 20, University
of California. San Francisco.
Joy Beena, Sandhya C P, and Ramitha K
R. 2010. Comparison and
Bioevaluation of Piper Longum
Fruit Extract. JOCPR. India.
Katzung, B.G. 1998. Basic and Clinical
Pharmacology. 7th ed. Prentice Hall
Inc, Appleton & Lange. p.743-745.
USA.
Kemenkes RI. 2012. Buletin Jendela
Data dan Informasi Kesehatan
Semester
II.
Kementrian
Kesehatan RI. Jakarta
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar
Kimia
Analitik.
Universitas
Indonesia Press. Jakarta.
Kolhe Smita R, Borole Priyanka, Patel
Urmi. 2011. Extraction and
Evaluation Of Piperine From
Piper nigrum Linn. IJABPT. India.
Kritikar, KR. And BD. Basu. 1984.
Piper longum Linn. Indian
Medicinal
Plants.
Periodical
Expert Book Agency, New Delhi.
India.
Kumoro, A.C., Singh, Harcharan.,
Hasan, Masitah. 2009. Solubility
Of Piperine In Super Critical and
Near Critical Carbon Dioxide.
BPOM. 2010. Acuan Obat Sediaan
Herbal Volume Kelima, Edisi
Pertama. Badan POM RI.
Jakarta.
Craig, W.A. 1998. Choosing An
Antibiotic On The Basis of
Pharmacodynamics.
Ear
NoseThroat J, New England.
Depkes
RI.
1995.
Pokok-Pokok
Pemantapan dan Pengembangan
Sistem Informasi Kesehatan.
Departemen
Kesehatan
RI.
Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 2000.
Inventaris
Tanaman
Obat
Indonesia Jilid 1, Departemen
Kesehatan RI. Jakarta.
Dwidjoseputro.
1990.
Dasar-Dasar
Mikrobiologi.
Universitas
Brawijaya, Djambatan. Malang
Edeoga,
H.O.,
D.E.Okwu
and
B.O.Mbaebre.
2005.
Phytochemical Constituent of
Some Nigerian Medicinal Plants.
Afr Journal of Biotechnology 4:
685-688.
Emmyzar. 1992. Pemanfaatan komoditas
cabe
jawa
dalam
usaha
meningkatkan
pendayagunaan
toga. Warta Tumbuhan Obat
Indonesia. Volume 1, Nomor 3
Juli 1992.
Farmakope Herbal Indonesia. 2009.
Farmakope Herbal Indonesia
Edisi Pertama. Kemenkes RI.
Jakarta : 21-25
Farmakope Indonesia. 2014. Farmakope
Indonesia Edisi V. Kemenkes RI.
Jakarta
Ganiswarna S.G. 1995. Farmakologi dan
Terapi. ed. 4, UI Fakultas
Kedokteran. Jakarta
10
Chinese
Journal
Chemical
Engineering, 17 (^) 1014-1020.
Lenny, S. 2006. Senyawa Flavonoida,
Fenil Propanoida, dan Alkaloida.
USU Repository. Medan.
Manoj, P., Soniya. E. V., Banerjee, N.S.,
Ravichandran, P. 2004. Recent
Studies On Well-Know Spice,
Piper Longum Linn. Natural
Product Radiance vol 3 (4). USA.
Mulja M., Suharman. 1995. Analisis
Instrumental. Airlangga University
Press. Surabaya.
Nuraini, A. 2003. Mengenal Etnobotani
Beberapa
Tanaman
yang
Berkhasiat Sebagai Afrodisiaka.
InfoPOM, Badan Pengawas Obat
dan Makanan Republik Indonesia
IV(10):1-4. Jakarta.
Noirot, P. 2007. Replication Of The
Bacillus Substillis Chromosome,
Bacillus Cellular and Molecular
Biology. Grauman P,ed, Caister
Academic Press.
Pelezar, M. J. Jr dan E. C. S. Chan.
1986. Dasar-dasar Mikrobiologi.
Diterjemahkan oleh Hadioetomo,
R. S, dkk. UI Press. Jakarta.
Pelezar, M. J. Jr dan E. C. S. Chan.
1988. Dasar-dasar Mikrobiologi 2.
Diterjemahkan oleh Hadioetomo,
R. S, dkk. UI Press. Jakarta.
Rajendra, C.E.,G.S.,Magadum, M.A.
Nadaf, S.V. Yasghoda, M.
Manjula. 2011. Phytochemical
Screening of the Rhizoma of
Kaempfiria
galanga
l.
Internasional
Journal
of
Pharmacognocy
and
Phytochemical
Research,2011:3(3):61-63
Robinson, Trevor. 1995. Kandungan
Organik
Tumbuhan
Tingkat
Tinggi. ITB. Bandung.
Sastrohamidjojo, H. 2001. Dasar-dasar
Spektroskopi. Liberty. Yogyakarta
Septiatin, Eatin. 2008. Apotek Hidup
dari Rempah-rempah, Tanaman
Hias, dan Tanaman Liar. CV.
Yrama Widya. Bandung.
Siswandono dan Soekarjo. 1995. Kimia
Medisinal. Airlangga University
Press, Surabaya.
Smith – Keary P. F. 1988. Genetic
Element in Escherichia coli.
Macmillan Moleculer Biology
Series, London: 1-9, 49 -54
Soewondo ES. 2002. Penatalaksanaan
diare
akut
akibat
infeksi
(Infectious Diarrhoea). Airlangga
University Press. Surabaya : 34 –
40.
Srinivasa,
RP.,
j.
Kaiser,
P.
Madhusudhan, G. Anjani and B.
DAS. 2001. Antibacterial Acivity
of isolates from Piper longum and
Toxus bacc baccata. Pharm. Biol.
Sumarnie,. Priyono, H,. Praptiwi. 2009.
Identifikasi Senyawa Kimia dan
Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Piper Sp.Asal Papua. LIPI. Bogor.
Taryono,. Agus R. 2004. Cabe jawa.
Penebar Swadaya, Jakarta :1-63.
Tjay, Tann Hoan., Rahardja, Kirana.
2008. Obat-Obat Penting. Penerbit
Elexmedia Komputindo. Jakarta.
Voight, 1995. Buku Pelajaran Teknologi
Farmasi. Alih Bahasa Drs.
Soendari. Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta.
Warsa, U.C. 1994. Staphylococcus
dalam Buku Ajar Mikrobiologi
Kedokteran. Edisi Revisi. Binarupa
Aksara. Jakarta . hal. 103-110.
Yuwono. 2009. MRSA : Disertasi.
Fakultas Kedokteran UNPAD.
Bandung.
11
12
Download