Penanggulangan Terorisme

advertisement
BAB 6
PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN
TERORISME
Perang Global Melawan Terorisme di satu sisi terus berhadapan
dengan peningkatan aksi-aksi terorisme internasional terutama sebagai
bentuk perlawanan terhadap negara-negara pendukungnya. Dalam
kurun waktu setengah tahun awal hingga pertengahan 2005,
sedikitnya telah terjadi dua peristiwa besar: ledakan bom yang terjadi
di London, Inggris, pada tanggal 7 Juli 2005 dengan korban tewas 52
orang dan ratusan orang luka, dan ledakan di Mesir, Sharm el- Sheik
dengan korban tewas 88 orang dan lebih dari 100 orang luka-luka.
Terjadinya aksi-aksi terorisme di negara-negara yang relatif kuat dari
segi pertahanan dan keamanan tersebut membuktikan bahwa
pencegahan dan penanggulangan secara konvensional bukanlah
jaminan untuk terciptanya rasa aman terhadap terorisme. Sikap tidak
memihak Pemerintah Indonesia adalah awal yang baik dalam upaya
mencegah berlangsungnya aksi terorisme internasional di dalam
negeri. Namun, masih perlu diantisipasi terulangnya aksi terorisme
yang ditujukan pada kepentingan negara sahabat di Indonesia, seperti
kejadian terakhir bom di depan Kedutaan Besar Australia tahun 2004.
Di samping aksi tersebut, patut juga diwaspadai adanya bentuk
aksi teror yang terjadi di daerah-daerah konflik, seperti yang terjadi di
Poso ataupun kemungkinan aksi teror sebagai bagian niat tertentu
untuk memisahkan diri dari NKRI. Semuanya ini perlu diwaspadai
dan ditindak secara tegas melalui upaya peningkatan daya cegah serta
daya tangkal terhadap terorisme.
I.
Permasalahan yang Dihadapi
Di dalam negeri telah terjadi serangkaian peristiwa ledakan bom
di daerah berkonflik yang memakan korban jiwa yang besar. Kejadian
terbesar pada tahun 2005 (hingga pertengahan tahun) adalah peristiwa
dua ledakan yang berasal dari bom rakitan di Tentena, wilayah selatan
Poso pada hari Sabtu 28 Mei 2005 dan memakan korban jiwa yang
terdiri atas 22 orang tewas dan 53 lainnya luka-luka. Selain kejadian
di wilayah berkonflik, ada pula aksi-aksi kekerasan yang menjurus ke
arah terorisme dengan serangkaian peledakan bom di rumah-rumah
ibadah, perkantoran pemerintah, rumah pejabat penegak hukum, atau
tempat-tempat umum lainnya. Diduga aksi-aksi tersebut memiliki
motif bernuansa politik, SARA atau upaya pengalihan perkara
pengadilan, yang ditujukan untuk mengadu domba antara kelompok
masyarakat.
Bertolak dari peristiwa aksi-aksi terorisme yang terjadi
belakangan ini, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian
dalam rangka menciptakan keamanan dalam negeri. Pertama,
terorisme yang tidak berhasil ditangani secara efektif akan makin
meningkatkan intensitas dan frekuensi aksi-aksi tersebut. Kedua,
penanganan terhadap masalah terorisme membutuhkan kualitas dan
kapasitas intelijen yang tinggi untuk dapat mengungkap pelaku, motif
di balik terorisme, dan akar permasalahan yang mendasarinya. Ketiga,
semakin canggih pengetahuan pelaku dan teknologi yang digunakan,
makin sulit mengungkap, apalagi mendeteksi secara dini terhadap
setiap aksi terorisme. Keempat, keterbatasan kualitas dan kapasitas
intelijen secara individu maupun instansi serta aparat terkait lainnya
yang kompeten dihadapkan dengan makin canggihnya aksi-aksi
terorisme, menempatkan aksi terorisme ke dalam skala ancaman yang
makin serius. Kelima, dampak yang ditimbulkan dari aksi-aksi
06 - 2
terorisme merusak mental, semangat, dan daya juang masyarakat dan
dalam jangka panjang akan melumpuhkan dinamika hidup
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kelima hal tersebut dalam jangka panjang, apabila tidak
dikelola secara tepat, dapat menjadi hambatan dalam melaksanakan
pembangunan di berbagai bidang. Oleh karena itu, Pemerintah harus
mampu merencanakan dan melakukan langkah-langkah kebijakan
pembangunan yang dapat mengantisipasi dan mencegah aksi-aksi
terorisme yang meliputi deteksi dini, pencegahan, penanganan, dan
rehabilitasi.
II.
Langkah-Langkah Kebijakan dan Hasil-Hasil yang Dicapai
Beberapa langkah yang telah dilakukan dalam penanganan
masalah terorisme di antaranya adalah (1) menyediakan payung
hukum penanggulangan terorisme, (2) melakukan upaya investigasi
atas peledakan bom baik motif, pelaku dan jaringan secara tuntas, (3)
melakukan pengamanan masyarakat pada umumnya baik dalam
bentuk kewaspadaan masyarakat, aktivitas keamanan swakarsa,
maupun upaya prevensi, (4) melakukan pengamanan pada pusat-pusat
kegiatan masyarakat, objek vital, proyek vital, dan transportasi massal
yang dilakukan Polri dan TNI, (5) melakukan kerja sama internasional
dalam rangka pengungkapan jaringan terorisme internasional, (6)
melakukan upaya pembentukan opini publik dan public trust, (7)
melakukan peningkatan kerja sama koordinasi dalam bidang intelijen
dan penegakan hukum melalui peningkatan kapasitas desk
antiterorisme dan revitalisasi Badan Koordinasi Intelijen Daerah
(Bakorinda), dan (8) Pembentukan Detasemen Khusus Antiteror
(Densus 88) di Polri.
Secara umum penanganan dan pencegahan aksi terorisme dapat
berjalan meskipun belum dapat memenuhi harapan. Berbagai aksi
terorisme yang berskala lokal seperti bom Tentena, dalam waktu
singkat telah dapat diidentifikasi dan ditangkap para pelakunya.
Upaya pencegahan dan penindakan tersebut yang dapat dilaksanakan
dalam waktu yang relatif singkat telah menimbulkan rasa aman di
masyarakat. Demikian juga terhadap penegakan hukum pelaku aksi
terorisme yang berskala internasional seperti bom Bali, bom JW
06 - 3
Marriott, atau bom Kuningan, telah dilakukan proses hukum dan
sebagian proses itu telah sampai pada putusan pengadilan. Pelaku
utama bom Bali seperti Imam Samudra, Amrozi, dan Muchlas telah
divonis mati, sementara yang lain, seperti Ali Imron, Mubarok,
Suranto, dan Sawad, divonis seumur hidup.
Upaya pengejaran terhadap pelaku utama aksi terorisme di
Indonesia Dr. Azahari dan Nurdin Muh Top terus dilakukan.
Penangkapan para tersangka bom Bali, bom JW Marriott, atau bom
Kuningan telah menghasilkan investigasi yang mampu mempetakan
jejak pelarian dan mempersempit ruang gerak para teroris. Namun,
karena mobilitas yang sangat tinggi dan sulitnya mengenali
penyamaran yang dilakukan, sampai saat ini aparat keamanan sering
hanya menemukan bukti-bukti.
Dalam rangka mengantisipasi aksi-aksi terorisme lebih lanjut,
baik yang berskala lokal maupun internasional, berbagai upaya
preventif terus dilakukan. Untuk menekan dampak aksi terorisme
lokal yang menyebabkan munculnya pertentangan SARA, Pemerintah
melalui Pemerintah Daerah dan aparat keamanan secara terus-menerus
melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Pembinaan kerukunan beragama dan dialog antaragama di daerahdaerah rawan konflik secara signifikan telah mampu memperkecil
dampak aksi terorisme. Sosialisasi Pemerintah tentang pencegahan
dan penanggulangan terorisme untuk meyakinkan bahwa aksi-aksi
terorisme yang selama ini terjadi bukan berasal dari aktivitas SARA,
mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat sehingga
dampak konflik SARA dapat ditekan. Di samping itu, untuk
meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap aksi-aksi terorisme
telah dilakukan berbagai penyuluhan untuk menangkal aksi terorisme
melalui media cetak dan elektronik, simulasi proses evakuasi korban
teror bom di gedung-gedung pemerintah dan gedung perkantoran
komersial, atau pemberian insentif dalam bentuk material ataupun
perlindungan keamanan bagi para saksi dan pelapor tentang
keberadaan jaringan dan pelaku terorisme. Peningkatan kewaspadaan
terhadap aksi terorisme juga dilakukan pada objek-objek vital, seperti
perkantoran pemerintah, perkantoran asing, pusat-pusat bisnis dan
perbelanjaan, hotel dan tempat wisata, bandara, pelabuhan, serta
kawasan industri. Penempatan personel dan alat deteksi teror pada
06 - 4
objek-objek vital tersebut, secara signifikan mampu menekan aksi
terorisme.
Dalam kerangka pencegahan, terus dilakukan upaya
peningkatan kemampuan profesionalisme intelijen agar intelijen itu
lebih peka, tajam, dan antisipatif dalam mendeteksi dan
mengeliminasi berbagai ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan
yang dapat ditimbulkan oleh aksi terorisme. Badan Intelijen Negara
secara rutin melakukan operasi intelijen termasuk dalam hal
pencegahan, penindakan, dan penanggulangan terorisme. Sementara
itu, upaya koordinasi seluruh badan intelijen pusat dan daerah di
seluruh wilayah NKRI dalam pelaksanaan operasi intelijen terus
ditingkatkan. Selain itu, dalam rangka meningkatkan kualitas
informasi intelijen maka dilaksanakan pengkajian atau analisis
intelijen tentang perkembangan lingkungan strategis, pengolahan dan
penyusunan produk intelijen sehingga dapat diminimalisasi tingkat
kesalahan. Untuk itu, dukungan sarana dan prasarana operasional
intelijen di pusat dan daerah terus diupayakan dalam rangka
meningkatkan kualitas kinerja intelijen.
Selain dari upaya intelijen, dilakukan juga peningkatan
kemampuan profesionalisme kontraintelijen dalam melindungi
kepentingan nasional dari berbagai ancaman, tantangan, hambatan,
dan gangguan termasuk dalam hal pencegahan dan penanggulangan
terorisme. Dalam rangka mengantisipasi perkembangan teknologi
informasi yang demikian pesatnya, khususnya di bidang kejahatan
terorisme, Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) telah melakukan upaya
peningkatan kemampuan SDM persandian melalui pendidikan dan
pelatihan yang dilakukan dalam lingkungan lembaga atau kerja sama
dengan perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri. Di samping itu,
untuk meningkatkan kualitas SDM Sandi yang ada di UTP Instansi
Pemerintah telah diselenggarakan Diklat Teknis Sandi dan Diklat
Teknis Pendukung lainnya yang diharapkan mampu mendukung
kegiatan instansinya dalam operasional Jaring Komunikasi Sandi.
Sampai dengan awal tahun 2005, Lemsaneg RI telah menghasilkan
sejumlah 7.484 orang ahli sandi yang terdiri atas Ahli Sandi Tingkat
III sejumlah 442 orang; Ahli Sandi Tingkat II sejumlah 1.522 orang;
Ahli Sandi Tingkat I sejumlah 3.156 orang; dan Pembantu Juru Sandi
(PJS) sejumlah 2364 orang.
06 - 5
Guna mendukung penyelenggaraan operasional persandian anti
terorisme, kegiatan gelar Jaring Komunikasi Sandi (JKS) meliputi
JKS VVIP, JKS Intern Instansi Pemerintah, JKS Antarinstansi
Pemerintah, dan JKS Khusus senantiasa ditingkatkan pelaksanaannya.
Sampai saat ini telah tergelar sekitar 90 persen JKS VVIP untuk
Pejabat dengan dukungan berupa pesawat telepon bersandi. JKS
Intern Instansi Pemerintah merupakan gelar jaring komunikasi untuk
pengamanan komunikasi internal sektor kegiatan pemerintah tertentu,
antara lain, Gelar JKS Depdagri (Pemprop dan Pemkab), JKS Deplu
(Perwakilan RI di luar negeri), JKS TNI meliputi TNI-AD, TNI-AL,
TNI-AU, dan BAIS TNI, JKS Polri sampai setingkat Polres, JKS
Kejaksaan Agung (Kejati) dan JKS Badan Intelijen Negara (BIN),
serta JKS BUMN strategis (Pertamina). Sampai saat ini baru
sekitar15,7 persen instansi pemerintah yang telah melaksanakan
fungsi persandian, yang ditargetkan sampai akhir tahun 2005 menjadi
50 persen. JKS antarinstansi pemerintah adalah gelar jaring
komunikasi sandi guna pengamanan informasi lintas sektoral atau
antarinstansi/antardepartemen, yang sedang dibangun infrastruktur
dan disusun mekanisme serta prosedurnya. Hingga saat ini telah
digelar Jaring Komunikasi Sandi antarinstansi pemerintah, yaitu
antara jajaran Polkam, Deplu, Depdagri, TNI, dan Polri. Kemudian,
JKS Khusus melaksanakan gelar jaring komunikasi sandi untuk
pengamanan komunikasi keperluan/kegiatan khusus, antara lain, JKS
Khusus Pengamanan Kegiatan Kunjungan Presiden RI ke luar negeri,
JKS untuk penanganan daerah bergolak meliputi Provinsi NAD di
Banda Aceh, Provinsi Maluku di Ambon, dan Provinsi Papua di
Jayapura, JKS Perbatasan antara Deplu, KBRI Port Moresby, BAIS
dan Kodam Trikora, serta Pengamanan Sistem Komunikasi Sandi
dalam Penyelenggaraan Pilkada. Di samping itu, disiapkan kegiatan
tertentu sebagai Komunikasi Sandi Bergerak (Mobile).
Untuk memenuhi kebutuhan sistem sandi dalam mendukung
operasional persandian instansi pemerintah telah dilakukan Pengkajian
dan Rancang Bangun Sistem Sandi yang spesifik untuk kepentingan
persandian nasional. Lemsaneg RI telah pula melaksanakan rancang
bangun algoritma untuk pengadaan peralatan sandi dari luar negeri.
Telah dilakukan modifikasi algoritma, yang membuat mesin sandi
menjadi spesifik/unik, untuk mewujudkan Fully National Algorithm
(FNA).
06 - 6
Dalam rangka pemantapan koordinasi pencegahan dan
penanggulangan gerakan terorisme, keberadaan petugas urusan
terorisme telah ditingkatkan perannya dalam hal penyiapan kebijakan
dan koordinasi penanggulangan terorisme di tingkat pusat untuk
disinergikan dengan pembangunan kapasitas lembaga dan institusi
keamanan masing-masing. Di tingkat daerah, telah dilakukan upaya
revitalisasi Badan Koordinasi Intelijen Daerah (Bakorinda) dengan
maksud meningkatkan kepekaan dan kewaspadaan di tingkat lokal
sehingga upaya pencegahan akan dapat efektif dilaksanakan. Upaya
tersebut didukung dengan peningkatan kemampuan komponen
kekuatan pertahanan dan keamanan bangsa dalam menangani tindak
terorisme, serta restrukturisasi operasional institusi keamanan dalam
penanganan terorisme termasuk pengembangan standar operasional
dan prosedur pelaksanaan latihan bersama.
Polri sebagai ujung tombak penanganan masalah keamanan dan
ketertiban di lapangan telah mengambil langkah-langkah nyata untuk
menanggulangi tindak terorisme di Indonesia. Upaya awal yang
dilakukan segera pada pascaterorisme adalah penyelidikan perkara
dengan pengumpulan barang bukti dan informasi dan dilanjutkan
dengan penyidikan perkara melalui pencarian, penangkapan,
pemeriksaan tersangka/saksi, dan penyerahan segera berkas perkara.
Selain itu, telah dilakukan juga penyebaran sketsa tersangka pelaku
terorisme yang disebarkan ke seluruh penjuru tanah air. Dalam rangka
mencapai kemampuan penanggulangan terorisme yang lebih baik,
Polri telah membentuk Detasemen Khusus Antiteror atau lebih dikenal
dengan nama Densus 88 di Mabes Polri dan diikuti dengan
pembentukan Densus 88 di 5 Kepolisian Daerah (Polda) dalam kurun
waktu tahun 2004 hingga pertengahan 2005. Keseluruhan personel
detasemen tersebut telah mendapat pendidikan khusus antiteror yang
sementara dilaksanakan di Pusat Pendidikan (Pusdik) Polri dan
mengenai personilnya berasal dari gabungan unsur Kepolisian
Wilayah dan Brigade Mobil (Brimob). Selanjutnya, sebagai pusat
pendidikan antiteror nasional telah dibangun secara khusus fasilitas
sekolah antiteror yang dinamai Pusat Latihan Antiteror Internasional
(Platina) yang berdiri di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang.
Selain upaya-upaya langsung, Polri juga telah memulai penerapan
prinsip-prinsip pemolisian masyarakat dalam mencegah dan
menanggulangi tindak terorisme dengan berusaha mendorong
06 - 7
keterlibatan masyarakat dalam memberikan informasi, menjaga
lingkungan masing-masing, dan melakukan sosialisasi upaya
antiterorisme.
III.
Tindak Lanjut yang Diperlukan
Potensi kejadian aksi terorisme tidak dapat diprediksikan secara
tepat di waktu-waktu mendatang, khususnya untuk aksi terorisme
yang bernuansa internasional. Hal ini disebabkan oleh adanya
keterkaitan antara jaringan terorisme dalam negeri dan jaringan
terorisme luar negeri. Langkah antisipasi di dalam negeri
kemungkinan besar hanya akan mampu mendeteksi – tetapi sering
mengalami kesulitan untuk mencegah – terjadinya aksi terorisme.
Sebaliknya, untuk aksi terorisme yang berskala lokal atau domestik,
upaya penanggulangan dapat diarahkan pada pemenuhan rasa keadilan
di segala aspek kehidupan, seperti perekonomian, hukum, atau
pemerataan kesejahteraan. Secara keseluruhan, pencegahan dan
penanggulangan terorisme dalam bidang pertahanan dan keamanan
akan dilakukan melalui beberapa upaya strategis, sebagai berikut.
A.
Membangun kemampuan Penangkalan dan Penanggulangan
Terorisme
1.
Menguatkan kapasitas kelembagaan nasional penanganan
terorisme; Penanggulangan terorisme secara komprehensif
merupakan masalah multidimensional yang memerlukan
koordinasi dan peningkatan kemampuan lembaga nasional
dalam menanganinya. Keberadaan urusan terorisme (desk
terrorisme) akan terus diefektifkan untuk masalah penyiapan
kebijakan dan koordinasi penanggulangan terorisme untuk
disinergikan dengan pembangunan kapasitas lembaga dan
institusi keamanan masing-masing. Lebih lanjut, keberadaan
Bakorinda akan terus ditingkatkan fungsinya terutama dalam
segi pencegahan potensi tindak terorisme di tingkat lokal.
06 - 8
2.
Restrukturisasi
sistem
operasional
penanggulangan terorisme
pencegahan
dan
Penanganan terorisme secara operasional membutuhkan kerja
sama antarinstansi yang kuat dan melibatkan partisipasi seluruh
komponen kekuatan bangsa yang meliputi kemampuan deteksi
dini, cegah dini, penanggulangan, pengungkapan, dan
rehabilitasi. Restrukturisasi operasional institusi keamanan
dalam penanganan terorisme, termasuk pengembangan
Standard Operating Procedure dan pelaksanaan latihan
bersama, akan dilakukan dengan meliputi kemampuan
kemampuan deteksi dini, cegah dini, penanggulangan,
pengungkapan, dan rehabilitasi.
B.
Memantapkan Operasional Penanggulangan Terorisme
1.
Mengintensifkan komunikasi (dialog) dan pemberdayaan
kelompok yang berpotensi dan atau diduga memiliki keterkaitan
dengan kelompok teroris; Terorisme memiliki keterkaitan erat
dengan motif politis dari pelaku terorisme. Penanganan
terorisme sebagai kejahatan teroganisasi sering menghadapi
lingkaran setan kegagalan apabila masih terdapat legitimasi
teror dari organisasi terorisme. Komunikasi dan dialog serta
pemberdayaan kelompok masyarakat akan diintensifkan dalam
kerangka menjembatani aspirasi, mencegah berkembangnya
potensi terorisme, serta secara tidak langsung melakukan
delegitimasi motif teror.
2.
Memfokuskan dan meningkatkan operasi intelijen
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan koordinasi jaringan
intelijen guna menganalisis kemungkinan terjadinya teror dan
mendeteksi secara dini gejala terjadinya teror yang ditunjang
oleh profesionalitas dan dasar hukum yang memadai. Kegiatan
intelijen diarahkan untuk mengungkap jaringan terorisme secara
keseluruhan beserta penyediaan bahan baku alat teror dan
dukungan finansialnya.
06 - 9
3.
Mendayagunakan seluruh satuan antiteror yang dimiliki
institusi negara termasuk TNI dan Polri;
Penanggulangan terorisme ditujukan untuk mengungkap pelaku,
motif, dan jaringan terorisme yang dilaksanakan sesuai dengan
intensitas dan dampak yang ditimbulkan. Penanggulangan aksi
terorisme yang intensitas dan dampaknya yang relatif rendah
dilakukan oleh Polri. Namun, apabila intensitas, dampak, dan
jaringannya secara konkret telah dinyatakan sebagai suatu
jaringan teror terorganisasi, penanggulangannya mengandalkan
kecepatan, ketepatan, dan keterpaduan upaya dari berbagai
kemampuan dan kekuatan antiteror yang tersebar di berbagai
institusi (TNI, Polri, departemen dan LPND terkait).
4.
Melanjutkan upaya politik bebas aktif;
Kerawanan terhadap aksi terorisme internasional sangat terkait
dengan keberpihakan dan aliansi antarnegara. Keberadaan
politik bebas aktif yang dilakukan oleh Indonesia sedikit banyak
telah memberikan sumbangan yang besar dengan masih relatif
rendahnya kejadian dan ancaman terorisme di dalam negeri.
5.
Mengupayakan penyelesaian masalah teroris regional melalui
kerja sama internasional;
Pencegahan dan penanggulangan terorisme internasional
membutuhkan kerja sama antarnegara yang erat dalam kerangka
bilateral dan multilateral. Untuk tingkat regional, akan
dilakukan pengembangan kerjasama dengan negara ASEAN.
Namun, meskipun telah ada ASEAN-US Joint Declaration for
Cooperation to Combat International Terrorism di Brunei pada
tahun 2002 dan Resolusi PBB No. 1373, kiranya perlu
dikembangkan semangat dan kerja sama sesama anggota
ASEAN dalam upaya menangkal dan menanggulangi aksi
terorisme regional dan internasional. Di tingkat internasional
akan didorong penanganan terorisme secara multilateral di
bawah PBB, termasuk penyelesaian akar motif terorisme
internasional,
dan
pengadopsian
perjanjian-perjanjian
internasional mengenai peredaran senjata konvensional dan
Weapon of Mass Destruction (WMD).
06 - 10
6.
Memantapkan pengamanan terbuka terhadap simbol-simbol
negara milik Indonesia dan negara sahabat;
Simbol-simbol kenegaraan milik Indonesia dan negara sahabat
memiliki kerawanan yang tinggi terhadap aksi terorisme.
Pengamanan terbuka dimaksud untuk meminimalkan
kemungkinan terjadinya aksi terorisme dan memberikan rasa
aman untuk tetap berlangsungnya kehidupan kenegaraan dan
berbangsa Indonesia serta kegiatan diplomatik negara sahabat.
7.
Meningkatkan pengamanan tertutup terhadap area-area publik
terutama yang berkaitan dengan potensi korban manusia dan
ekonomi serta kepentingan asing seperti area-area turisme;
Pengamanan area publik terhadap terorisme karakter memiliki
yang khusus, yaitu pengamanan yang bersifat terlalu terbuka
dapat mengganggu aktivitas masyarakat di area tersebut yang
pada akhirnya menjadi kontra produktif. Pengamanan tertutup
diupayakan untuk mengoptimalkan kemampuan deteksi dini
dan pencegahan langsung di lapangan dengan mengandalkan
kemampuan intelijen polisi dan tentara, dan petugas kejaksaan,
imigrasi, bea dan cukai, serta aparat lain yang berhubungan
dengan lalu lintas darat, laut, dan udara, di dalam dan di luar
negeri.
8.
Melanjutkan penangkapan dan pemrosesan secara hukum
tokoh-tokoh kunci operasional terorisme;
Penindakan secara tegas pelaku teror diharapkan menjadi shock
therapy yang sekaligus mempunyai efek pencegah
berkembangnya potensi terorisme yang akan tetap dilakukan
dengan memperhatikan hukum yang berlaku dan prinsip-prinsip
HAM.
9.
Mengetatkan pengawasan lalu lintas uang dan pemblokiran
aset kelompok teroris;
Pemutusan dukungan finansial terhadap kelompok terorisme
diharapkan dapat melemahkan berkembangya potensi terorisme.
Peningkatan pengawasan keimigrasian, serta upaya interdiksi
darat, laut, dan udara serta pengawasan produksi dan peredaran
serta pelucutan senjata dan bahan peledak adalah bagian global
disarment.
06 - 11
Download