PERAN KRIMINALISTIK DALAM BANTUAN PENGUNGKAPAN

advertisement
PERAN KRIMINALISTIK DALAM BANTUAN PENGUNGKAPAN
PERKARA PEMBUNUHAN DENGAN PEMBERATAN
(STUDI PUTUSAN NOMOR: 1306/Pid.B/2015/PN.Tjk).
(JURNAL SKRIPSI)
Oleh
DWI ANINDYA OVILASTISA
1312011109
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2017
ABSTRAK
PERAN KRIMINALISTIK DALAM BANTUAN PENGUNGKAPAN
PERKARA PEMBUNUHAN DENGAN PEMBERATAN
(STUDI PUTUSAN NOMOR: 1306/Pid.B/2015/PN.Tjk).
Oleh
Dwi Anindya Ovilastisa, Heni Siswanto, Gunawan Jatmiko
Email: [email protected]
Kriminalistik merupakan ilmu bantu yang digunakan penyidik untuk
menyelidiki/mengusut kejahatan dalam arti seluas-luasnya berdasarkan buktibukti dan keterangan-keterangan dengan mempergunakan hasil yang diketemukan
oleh ilmu pengetahuan lainnya. Peran kriminalistik sangat penting dalam
membantu pengungkapan suatu perkara, yaitu perkara pembunuhan dalam
kriminalistik dikenal dengan ilmu kedokteran forensik. Ilmu kedokteran forensik
inilah yang digunakan oleh penyidik untuk mengungkap suatu perkara yaitu
dengan dilakukannya visum et repertum. Keterangan visum et repertum
merupakan alat bukti yang sah yang digunakan dalam proses peradilan sebagai
dasar dalam pertimbangan putusan hakim. Permasalahan dalam tulisan ini adalah.
Bagaimana peran kriminalistik dalam membantu pengungkapan perkara
pembunuhan dengan pemberatan. Apa faktor penghambat kriminalistik dalam
membantu pengungkapan perkara pembunuhan dengan pemberatan. Tujuan dan
kegunaan penulisan skripsi ini adalah Untuk mengetahui peran kriminalistik
dalam membantu pengungkapan perkara pembunuhan dengan pemberatan dan
Untuk mengetahui faktor penghambat kriminalistik dalam membantu
pengungkapan perkara pembunuhan dengan pemberatan. Pendekatan penelitian
yaitu pendekatan Yuridis Normatif dan Yuridis Empiris. Dalam pendekatan ini
maka digunakan data primer dan data sekunder yang masing-masing bersumber
atau diperoleh dari lapangan dan kepustakaan. Untuk data primer dikumpulkan
dengan wawancara langsung dengan penyidik polda lampung, hakim pn tanjung
karang, jaksa kejari bandar lampung, dan dosen fakultas hukum universitas
lampung. sedangkan data sekunder dengan cara menelusuri literatur-literatur atau
bahan pustakaan yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder
dan bahan hukum tersier.Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tersebut
bahwa Peran kriminalistik dalam membantu pengungkapan perkara pembunuhan
dengan pemberatan adalah dilakukannya visum et repertum. visum et repertum
diajukan oleh penyidik kepada ahli kedokteran. Hasil visum et repertum sangat
berguna untuk proses peradilan karena visum et repertum merupakan alat bukti,
yang termasuk dalam alat bukti surat. Hambatan-hambatan yang dihadapi
kriminalistik diantaranya,faktor sarana dan prasarana yg belum memadai, masih
banyak masyarakat yang enggan untuk di jadikan saksi dan apabila ada salah satu
anggota keluarga mereka yang terkena musibah, pihak keluarga enggan untuk di
adakannya pemeriksaan terhadap mayat keluarga mereka.
Kata Kunci :Peran kriminalistik, Bantuan, Pengungkapan
ABSTRACT
THE ROLE OF CRIMINALISTICS IN THE DISCLOSURE OF
INCRIMINATING MURDER CASE (A STUDY ON VERDICT
NUMBER: 1306 / Pid.B / 2015 / PN.Tjk).
By
Dwi Anindya Ovilastisa, Heni Siswanto, Gunawan Jatmiko
Email: [email protected]
Criminalistics is a criminal science used to help investigators to
investigate/prosecute crimes in its broadest sense based on the evidence and
explanations by using the results found by other sciences. The role of
criminalistics is very crucial in helping the disclosure of a case, for example in
murder case, it is known as medical forensic. This medical forensic is the one
used by investigators to unravel a case by carrying out visum et repertum. The
written report of visum et repertum is a means of legal evidence used in the
judicial process as a basis for the judges' consideration in court's decision. The
problems in this research are formulated as follows: How is the role of
criminalistics in the disclosure of incriminating murder case. What are the
inhibiting factors in the disclosure of incriminating murder case. The purpose and
the use of this research are to determine the role of Criminalistics in the disclosure
of incriminating murder case as well as to determine the inhibiting factors in the
disclosure of the murder case. This research applied normative and empirical
approaches. The data sources consisted of primary data and secondary data which
were collected from the field study (observation) and literature study. The primary
data were collected by conducting a direct interview with the regional police
investigator, Judges of Tanjung Karang District Court, prosecutors of District
Prosecutor General of Bandar Lampung and a lecturer of Law Faculty of
Lampung University. While the secondary data were completed from literature or
library materials that comprised primary law, secondary law and tertiary legal
materials. According to the result and discussion of the research, the role of
Criminalistics in the disclosure of incriminating murder case has been done by
performing visum et repertum. The report of the visum were submitted by the
investigator to medical experts. The results of a visum et repertum is very useful
during the judicial process as a legal evidence, which is included in the
documentary evidence. There were several barriers encountered in the disclosure
of incriminating murder case, such as: the inadequate infrastructures, people were
still reluctant to witness and to perform a post-mortem examination when one of
their family members became the victims.
Keywords: Role of Criminalistics, Help, Disclosure
I.
PENDAHULUAN
Kejahatan
merupakan
perilaku
seseorang yang melanggar hukum
positif atau hukum yang telah
dilegitimasi berlakunya dalam suatu
NegaraDidalam
pergaulan
masyarakat, setiap hari terjadi
hubungan antara anggota - anggota
masyarakat yang satu dengan yang
lainnya.
Pergaulan
tersebut
menimbulkan berbagai peristiwa atau
kejadian yang dapat menggerakkan
peristiwa hukum. 1
Banyaknya kejahatan yang terjadi di
sekitar kita sangat mengerikan, hal
ini dapat diketahui melalui media
massa mengungkap beberapa kasus
pembunuhan yang terjadi dimana
faktor yang menyebabkannya adanya
kecemburuan social, dendam, dan
faktor
psikologi
seseorang.
Sebenarnya yang menjadi masalah
adalah faktor pendidikan di mana
kurangnya pendidikan yang dimiliki
pelaku kejahatan juga menjadi salah
satu faktor pendukung pelaku dalam
melakukan kejahatan. Kurangnya
pendidikan yang dimiliki pelaku
membuat pelaku menjadi tidak
berfikir terlebih dahulu akan akibat
dari tindakannya kemudian.
Berbagai jenis tindak pidana yang
sering terjadi di masyarakat salah
satunya adalah pembunuhan. Tindak
pidana
pembunuhan
ini
menimbulkan
keresahan
bagi
masyarakat, mengingat ini adalah
perbuatan yang keji. Terlebih jika
pembunuhan itu diikuti atau disertai
dengan tindak pidana lain seperti
pencurian (pembunuhan dengan
pemberatan).
Tindak
pidana
pembunuhan dengan pemberatan
1
Chainur Arrasjid,Dasar-Dasar Ilmu
Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika,2000) hlm.
133
merupakan salah satu penyakit
masyarakat yang menunggal dengan
kejahatan, yang dalam proses sejarah
dari generasi ke generasi ternyata
tindak pidana tersebut merupakan
perbuatan yang merugikan dan
membahayakan orang lain
Dalam proses penyidikan penyidik
biasanya menggunakan ilmu-ilmu
bantu lain guna mengungkap suatu
kasus tindak pidana salah satunya
adalah ilmu bantu kriminalistik. Ilmu
bantu
kriminalistik
ini
juga
menggunakan ilmu-ilmu alam untuk
menunjang penerapannnya.
Kriminalistik
adalah
ilmu
pengetahuan untuk menentukan
terjadinya kejahatan dengan dengan
menggunakan ilmu bantu lainnya
seperti: ilmu kedokteran kehakiman
(sekarang ilmu kedokteran forensik),
ilmu racun kehakiman (sekarang
toksikologiforensik)
dan
ilmu
penyakit jiwa kehakiman (ilmu
psikologi forensik).
Tindak pidana pembunuhan dan
pencurian
dengan
kekerasan
sebagaimana yang dimaksud dalam
Pasal 339 Subsidair Pasal 338 lebih
subsidair Pasal 365 KUHP yang
dilakukan oleh 4 orang terdakwa
(Sudirman), Syahrir Ramadon, Agus,
Tomi dengan cara pelaku mencuri
motor milik saksi korban bernama
Jepri Saputra yang merupakan
anggota brimob, saat itu saksi korban
sedang berada di Bank Mandiri
Kedaton Bandar Lampung, saat itu
terdakwa
dan
rekan-rekannya
melintas di depan Bank mandiri
kedaton Bandar Lampung lalu
terdakwa dan syahrir berhenti dan
mendekati sepeda motor milik saksi
korban. Agus dan Tomi berperan
mengawasi situasi saat terdakwa dan
syahrir romadhon mengambil sepeda
motor.
Terdakwa
kemudian
mengambil sepeda motor dengan
kunci letter T, setelah berhasil
mengambil sepeda motor tersebut,
aksi mereka diketahui oleh saksi
korban yang sedang berada di dalam
ATM Bank Mandiri. Setelah korban
mengetahui sepeda motor miliknya
diambil oleh para terdakwa, saksi
korban berusaha untuk mengejar dan
memberhentikan aksi terdakwa.
Kemudian
terdakwa
langsung
menodongkan pistol rakitan kearah
korban namun saksi korban berusaha
melawan
dan
mempertahankan
sepeda motornya, Syahrir Ramadon
kemudian merebut senjata api dari
tangan
terdakwa
kemudian
menembak saksi korban dan
mengenai dada sebelah kiri saksi
korban sehingga saksi korban
terjatuh.
Kriminalistik mempunyai peran yaitu
dengan dilakukannya Visum Et
Repertum atas perkara Pembunuhan
dengan pemberatan yang dilakukan
oleh Sudirman alias Sudir
Berdasarkan uraian di atas, maka
permasalahan penelitian ini adalah:
Bagaimanakah peran kriminalistik
dalam membantu pengungkapan
perkara
pembunuhan
dengan
pemberatan) serta Apakah faktor
yang menghambat kriminalistik
dalam membantu pengungkapan
perkara
pembunuhan
dengan
pemberatan
Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekatan
yuridis normatif dan pendekatan
yuridis empiris. Narasumber terdiri
dari Jaksa Kejaksaan Negeri Bandar
Lampung, Penyidik Polda Lampung,
Hakim PN Tanjung Karang serta
Dosen pada bagian Hukum Pidana
Unila. Pengumpulan data dilakukan
dengan studi pustaka dan studi
lapangan. Selanjutnya dianalisis
secara kualitatif.
II. Pembahasan
A. Peran Kriminalistik dalam
Bantuan Pengungkapan Perkara
Pembunuhan dengan Pemberatan
(Studi
Putusan
Nomor
1306/Pid.B/2015/PN.Tjk).
Pembunuhan dengan pemberatan
adalah pembunuhan yang diikuti,
didahului ataupun disertai dengan
tindak pidana lainnya. Untuk
mengungkap kasus pembunuhan
bukanlah hal yang mudah karena
terdapat
kendala
dalam
mengungkapnya.
Kriminalistik
sebagai ilmu bantu mempunyai peran
penting dalam mengungkap perkara
pembunuhan.
Kriminalistik merupakan ilmu bantu
yang digunakan oleh penyidik dalam
mengungkap suatu kejahatan. Dalam
“menjalankan
tugasnya”
kriminalistik menggunakan ilmu
bantu lainnya untuk mengungkap
suatu peristiwa. Ilmu-ilmu bantu
kriminalistik diantaranya adalah ilmu
kedokteran forensik, ilmu alam
forensik, ilmu balistik forensik,
garmafologi dll.
Kriminalistik merupakan sarana ilmu
yang secara praktis dan teknis, fungsi
membantu
dalam
tugas-tugas
penyidikan dan penuntutan serta
membantu
dalam
penyajian
kelengkapan pemenuhan data/bukti.2
2
Firganefi dan Ahmad Irzal Fardiansyah,
Hukum dan Kriminalistik, (Bandar
Lampung: Justice Publisher, 2014), Hlm. 9
Peran kriminalistik dalam kasus ini
adalah penggunaan ilmu kedokteran
forensik Pada ilmu kedokteran
forensik yaitu dilakukannya visum et
repertum. visum et repertum ini
berguna sebagai alat bukti yang sah
yang digunakan dalam suatu
peradilan.
Ilmu kedokteran forensik adalah ilmu
kedokteran yang diaplikasikan untuk
kepentingan peradilan ilmu ini
mepelajari
sebab
kematian,
identifikasi,
keadaan
mayat
postmortem, perlukaan, abortus, dan
pembunuhan anak, perzinahan, dan
perkosaan, serta pemeriksaan noda
darah.
visum et repertum adalah keterangan
tertulis yang dibuat oleh dokter
dalam ilmu kedokteran forensikatas
permintaan
penyidik
yang
berwenang
mengenai
hasil
pemeriksaan
medik
terhadap
manusia, baik hidup atau mati
ataupun bagian atau diduga bagian
tubuh
manusia,
berdasarkan
keilmuannya dan di bawah sumpah,
untuk kepentingan peradilan.
Kriminalistik melalui fungsinya
diharapkan mampu mengungkap
kasus pembunuhan baik penyebab
kematian ataupun dan menemukan
siapa pelaku yang melakukan tindak
pidana pembunuhan tersebut.
Mengingat bahwa perkembangan
masyarakat yang semakin maju maka
perkembangan kejahatan akan makin
bervariasi maka metode yang
digunakan dalam kriminalistik dalam
crime detection seyogyanya dapat
selalu mengatasi
teknik yang
digunakan dalam setiap pola
kejahatan.
Bertitik tolak dari tugas dan fungsi
kriminalistik dalam mengungkap
kasus pembunuhan menunjukkan
suatu “peran”, yang terdapatpada
kriminalistik sebagai suatu ilmu
untuk mengungkap kejahatan.
Peran dimaknai sebagai tugas atau
pemberian tugas kepada seseorang
atau sekumpulan orang. Peran
memiliki
aspek-aspek
sebagai
berikut:
1. Peran meliputi norma-norma yang
dihubungkan dengan posisi atau
tempat
seseorang
dalam
masyarakat. Peran dalam arti ini
merupakan rangkaian peraturan
yang membimbing seseorang
dalam kehidupan masyarakat.
2. Peran adalah sesuatu konsep
perihal apa yang dapat dilakukan
oleh individu dalam masyarakat
sebagai organisasi. Peran juga
dapat diartikan sebagai perilaku
individu yang penting bagi
struktur sosial masyarakat.3
Jenis-jenis peran adalah sebagai
berikut:
1). Peran normatif adalah peran yang
dilakukan oleh seseorang atau
lemabaga yang didasarkan pada
seperangkat norma dan hukum
yang berlaku dalam kehidupan
masyarakat.
2). Peran ideal adalah peran yang
dilakukan oleh seseorang atau
lembaga yang didasarkan pada
nilai-nilai ideal atau yang
seharusnya dilakukan sesuai
dengan kedudukan di dalam
suatu sistem.
3.) Peran faktual adalah peran yang
dilakukan oleh seseorang atau
lembaga yang didasarkan pada
kenyataan secara kongkrit di
lapangan atau kehidupan sosial
yang terjadi secara nyata.4
3
Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu
Pengantar.( Rajawali Press. Jakarta. 2002).
Hlm.243
4
Ibid Hlm 244
Mengenai visum et repertum
meskipun dalam KUHAP tidak ada
keharusan bagi penyidik untuk
mengajukan permintaan kepada
dokter Ahli Kedokteran Forensik
ataupun dokter (ahli) lainnya, akan
tetapi bagi kepentingan pemeriksaan
perkara dan agar lebih jelas duduk
perkaranya serta untuk mendukung
keyakinan hakim, maka akan lebih
baik jika visum et repertum tersebut
dimintakan kepada dokter yang
bersangkutan.
Peran kriminalistik dalam membantu
pengungkapan perkara pembunuhan
dengan
pemberatan
adalah
dilakukannya
visum
et
repertum,visum
et
repertumini
berguna
untuk
memperjelas
keterangan saksi mengenai luka
tembak, yang menjadi penyebab
kematian. Apabila antara keterangan
saksi dengan visum seudah sesuai
penyidik
dapat
menyimpulkan
penyebab kematian dan menemukan
siapa tersangkanya.
kriminalistik sangat vital untuk
mengungkap
terjadinya
tindak
pidana khususnya pembunuhan.
Terutama apabila suatu tindak pidana
tersebut minim pembuktian yang
disebabkan oleh ketiadaan saksi yang
melihat tindak pidana tersebut.
Bahwa untuk melakukan visum et
repertum harus melalui persetujuan
keluarga korban. Apabila keluarga
tidak menyetujui maka tidak dapat
dilakukannya visum et repertum.
Diperlukan
koordinasi
antara
keluarga korban dan pihak kepolisian
untuk
mengungkap
penyebab
kematian korban. visum et repertum
digunakan untuk mengetahui luka
dalam tubuh korban. Apabila terjadi
luka tembak dan mengenai bagian
tubuh dada korban harus dibuktikan
terlebih dahulu apakah mengenai
organ vital yang menyebabkan
matinya korban atau tidak.
kriminalistik sangat dibutuhkan
untuk mengumpulkan alat bukti
dalam proses penyidikan guna
membuat terang mengenai tindak
pidana
pembunuhan
dan
mengungkap penyebab kematian
serta menemukan siapa pelakunya.
Kriminalistik digunakan oleh banyak
pihak tidak hanya bagi pihak
kepolisian namun juga digunakan
oleh pihak kedokteran. selain itu
koordinasi antara pihak kepolisian
dan pihak kedoteran juga diperlukan
untuk membuat terang tindak pidana
tersebut.
B.
Faktor
Penghambat
Kriminalistik dalam Bantuan
Pengungkapan
Perkara
Pembunuhan dengan Pemberatan
(Studi
Putusan
Nomor
1306/Pid.B/2015/PN.Tjk).
Untuk
mengungkap
perkara
pembunuhan bukanlah hal yang
mudah terlebih jika ketiadaan saksi
yang melihat langsung suatu perkara,
dengan demikian maka di butuhkan
kriminalistik untuk mengungkap
perkara pembunuhan.
Masalah pokok penegakan hukum
sebenarnya terletak pada faktorfaktor
yang
mungkin
mempengaruhinya.
Faktor-faktor
tersebut mempunyai arti yang netral,
sehingga dampak positif atau
negatifnya terletak pada isi faktorfaktor tersebut.
Faktor-faktor tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Faktor hukum sendiri, yang di
dalam tulisan ini akan dibatasi
pada undnag-undang saja.
2. Faktor penegakan hukum, yaitu
pihak-pihak yang membentuk
3.
4.
5.
maupun
yang
menerapkan
hukum.
Faktor sarana atau fasilitas yang
mendukung penegakan hukum.
Faktor
masyarakat,
yaitu
lingkungan
dimana
hukum
tersebut diterapkan.
Faktor
kebudayaan,
yaitu
sebagai hasil karya cipta, dan
rasa yang didasarkan padakarsa
manusia di dalam pergaulan
hidup.5
1. Faktor Hukum sendiri
Faktor hukumnya sendiri yang harus
menjadi persyaratan utama adalah
mempunyai cukup kejelasan makna
dan arti ketentuan, tidak adanya
kekosongan karena belum ada
peraturan pelaksanaanya.
Hukum itu mempunyai unsur-unsur
antara lain hukum perundangundangan, hukum traktat, hukum
yuridis, hukum adat, dan hukum
ilmuan atau doktrin.Secara ideal
unsur-unsur itu harus harmonis,
artinya tidak saling bertantangan baik
secara vertical maupun secara
horizontal
antara
perundanganundangan yang satu dengan yang
lainnya, bahasa yang dipergunakan
harus jelas, sederhana dan tepat
karena isinya merupakan pesan
kepada warga masyarakat yang
terkena perundang-undangan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan
Ahmad Muchlis bahwa Hukum yang
berlaku
di
Indonesia
masih
mengikuti hukum negara Belanda.
Tidak sesuai dengan perkembangan
zaman. Hukum Belanda yang masih
digunakan di Indonesia sampai
sekarang, sesuai dengan pasal 2
aturan peralihan Undang Undang
5
Soejono Soekanto. Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Penegakan Hukum.(Jakarta:
RajaGrafindo Persada) 2014. hlm.8
Dasar 1945 disebutkan “segala badan
negara dan peraturan yang ada masih
langsung berlaku, selama belum
diadakan yang baru menurut Undang
Undang
Dasar
ini”.
Dengan
demikian ketentuan Pasal 2 aturan
peralihan Undang Undang Dasar
1945 dikeluarkan agar tidak terjadi
kevakuman hukum di Indonesia.
Peninggalan pemerintahan kolonial
Belanda yang masih kita pakai dan
dijadikan pedoman adalah sistem
hukumnya. Salah satu contohnya, di
Indonesia hukum pidana diatur
secara umum dalam Kitab Undang
Undang Hukum Pidana (KUHP),
yang merupakan peninggalan dari
zaman
penjajahan
Belanda.
Sebelumnya bernama wetboek van
straafrecht (WvS.).
Syamsudin
menyatakan
bahwa
secara teori hukum memang lambat
perkembangannya
daripada
kejahatan-kejahatan yang ada dalam
masyarakat. Jika suatu kejahatan
belum ada mengenai ketentuannya
maka tidak bisa diusut. Sehingga
memperhambat penegakan hukum
oleh penegak hukum
Muhammad
Iqbal
menyatakan
Hukum yang ada di Indonesia
perkembangannya
lambat
tidak
sesuai dengan perkembangan jaman.
Hukum yang ada di Indonesia harus
bergerak cepat sesuai dengan
perkembangan zaman. 6
Erna Dewi menyatakan bahwa di
dalam KUHAP (kitab undangundang hukum acara pidana) kurang
mengenai
penjelasan
tentang
kriminalistik. Penjelasan mengenai
kriminalistik harus ditambah di
dalam
KUHAP
sehingga
mempermudah
aparat
penegak
6
Wawancara dengan Muhammad Iqbal
penyidik Polda Lampung. 28 November
2016
hukum
khususnya
penyidik
mengenai
penggunaan
ilmu
kriminalistik.
2. Faktor Penegak Hukum
setiap penegak hukum mempunyai
kedudukan dan peranan.Kedudukan
merupakan posisi tertentu dalam
struktur
kemasyarakatan
yang
mungkin tinggi, sedang atau rendah.
Kedudukan tersebut merupakan
suatu wadah yang isinya adalah hak–
hak
dan
kewajiban–kewajiban
tertentu. Hak–hak dan kewajiban–
kewajiban tadi merupakan peranan.
Oleh karena itu maka seseorang
mempunyai kedudukan tertentu
lazimnya dinamakan pemegang
peranan. Suatu hak sebenarnya
merupakan wewenang untuk berbuat
atau tidak berbuat sedangkan
kewajiban adalah beban atau tugas
Ahmad Muchlis menyatakan kurang
profesionalismenya cara bekerja
aparat penegak hukum dalam
mengungkap suatu perkara. Padahal
Profesionalisme aparat penegak
hukum sangat dibutuhkan agar suatu
kasus dapat terungkap dengan cepat.
Syamsudin
menyatakan
faktor
penegak
hukum
ini
“ujung
tombaknya” ada pada aparat
kepolisian. Apabila ada kasus yang
dilaporkan oleh masyarakat, tetapi
kasus tersebut belum tentu di usut
oleh polisi
Muhammad Iqbal menyatakan faktor
penegak hukum ini tergantung
koordinasi antara penegak hukum.
Apabila masing-masing anggota
aparat penegak hukum kurang
profesional maka hal tersebut dapat
memperhambat pengungkapan suatu
perkara. Kurang tegaknya hukum
juga memperhambat penegakan
hukum terutama untuk kasus-kasus
yang ada “nama besar” . kasus hilang
begitu saja tanpa ada kejelasan
Erna Dewi menyatakan mengenai
aparat penegak hukum tidak semua
aparat penegak hukum mengerti
untuk mencari ahli yang tepat, untuk
mencari ahli yang benar-benar
mendukung untuk mengungkap suatu
perkara, sehingga hal tersebut dapat
memperhambat proses hukum
3. Faktor Sarana
Sarana
dan
prasarana
yang
mendukung mencangkup tenaga
manusia yang berpendidikan dan
terampil, organisasi yang baik,
peralatan yang memadai, keuangan
yang cukup. Tanpa sarana fasilitas
yang memadai, penegakan hukum
tidak dapat berjalan dengan lancar
dan penegak hukum tidak mungkin
menjalankan
peranannya
sebagaimana mestinya.
Ahmad Muchlis menyatakan sarana
dan prasarana belum memadai.
Teknologi yang dimiliki belum
sesuai dengan perkembangan jaman
dalam arti lain teknologi yang
dimiliki belum canggih. Contohnya
keberadaan lie detector teknologi ini
belum di POLDA Lampung.7
Syamsudin
menyatakan
sarana
belum lengkap atau belum memadai.
Terutama untuk pemeriksaan mayat
sarana yang ada di rumah sakit
Lampung belum lengkap.
Muhammad Iqbal menyatakan
a) Penyediaan Lie detector
lie detector saat ini belum dimiliki
oleh pihak kepolisian POLDA
Lampung, sehingga apabila ada
kasus
di
lampung
yang
7
Wawancara dengan Ahmad Muchlis jaksa
kejari Bandar Lampung. 21 November 2016
membutuhkan lie detector harus
ke palembang. Hal tersebut
menghambat
pengungkapan
kasus.
b) Alat lab DNA
Apabila ada suatu kasus yang
membutuhkan hasil DNA namun
alat
tersebut
rusak
dan
membutuhkan dana lagi, ini dapat
memperhambat
pengungkapan
kasus.
Selain itu untuk alat-alat sekali
pakai jika belum ada pembaruan
atau belum ada pengganti dapat
menghambat pemeriksaan.
c) TKP
Suatu kasus yang tempat kejadian
perkaranya tidak terdeteksi oleh
google
maps
susah untuk
dideteksi menyulitkan penyidik
untuk menjangkau lokasi TKP.
d) Sumber daya manusia
Kurangnya tenaga ahli untuk
memeriksa suatu kasus. Tidak
cukup banyak jumlah ahli yang
ada.8
Erna Dewi menyatakan Sarana
belum
maksimal.
Penyediaan
Fasilitas belum lengkap. Penyediaan
sarana merupakan hal yang penting
yang dapat menunjang kinerja dalam
hal pengungkapan suatu perkara.9
4. Faktor masyarakat
Masyarakat adalah suatu organisasi
manusia yang saling berhubungan
satu sama lain.
Faktor masyarakat ini memegang
peranan sangat penting, hal ini
berkaitan dengan taraf kesadaran
hukum dan kepatuhan hukum
masyarakat . Kesadaran hukum
merupakan suatu proses yang
mencakup
unsur
pengetahuan
hukum, pemahaman hukum, sikap
hukum dan perilaku hukum. Tingkat
kesadaran hukum tercapai apabila
masyarakat mematuhi hukum.
Ahmad Muchlis menyatakan faktor
masyarakat ini terlihat dari tingkat
pendidikan seseorang, makin tinggi
tingkat pendidikan seseorang maka
makin tinggi pula tingkat kesadaran
hukumnya. Hal ini terlihat dari
masyarakat desa yang pendidikannya
masih rendah, kesadaran dan
kepatuhan hukumnya masih rendah
pula. 10
Syamsudin menyatakan didalam
pengungkapan suatu tindak pidana
tingkat kesadaran masyarakat masih
rendah. Masyarakat menghindar
untuk dijadikan saksi. Masyarakat
cenderung ketakutan apabila sudah
berhubungan dengan hukum dan
aparat penegak hukum. Padahal
keterangan saksi sangat dibutuhkan
dan merupakan salah satu alat bukti
yang sah menurut Pasal 184
KUHAP. 11
Muhammad
Iqbal
menyatakan
Masyarakat sudah “membentuk”
hukum sendiri bila terjadi kasus
kriminal. Tanpa ada kepolisian bisa
secara kekeluargaan. Sehingga tidak
tegaknya
hukum
yang
ada.
Masyarakat
lebih
memilih
menerapkan hukum mereka sendiri. 12
10
8
Wawancara dengan Muhammad iqbal
penyidik Polda Lampung. 28 November
2016
9
Wawancara dengan Dr. Erna Dewi
S.H.,M.H. dosen Pidana Unila. 23 Desember
2016
Wawancara dengan Ahmad Muchlis Jaksa
Kejari Bandar Lampung. 21 November 2016
11
Wawancara dengan Syamsudin hakim PN
Tanjung Karanag. 24 November 2016
12
Wawancara dengan Muhammad Iqbal
penyidik Polda Lampung. 28 November
2016
anggota keluarga yang terkena
kasus hukum. 13
5. Faktor Kebudayaan
Kebudayaan merupakan hasil karya,
cipta rasa yang berdasarkan pada
karya manusia di dalam pergaulan
hidup.
Kebudayaan
Indonesia
merupakan dasar dari berlakunya
hukum adat, Berlakunya hukum
tertulis (Perundang-undangan) harus
mencerminkan
nilai-nilai
yang
menjadi dasar hukum adat.Dalam
penegakan hukum, semakin banyak
penyesuaian
antara
perundangundangan
dengan
kebudayaan
masyarakat, maka semakin mudah
dalam penegakannya.
Ahmad Muchlis menyatakan :
a) Budaya
Budaya yaitu karakteristik. Di
daerah
terutama
kampungkampung, masyarakat antipati
terhadap
polisi.
Mereka
cenderung ketakutan dan malas
jika sudah berhadapan dengan
pihak kepolisian, sehingga polisi
kesulitan untuk mengungkap
suatu perkara
b) Kekeluargaan
Masyarakat yang tinggal di
daerah
terutama
pedesaan
kesadaran hukumnya masih
rendah. Masyarakat di pedesaan
memiliki rasa kekeluargaan yang
tinggi namun digunakan dalam
hal yang tidak benar. Contohnya
Masyarakat
desa
menutupi
tindak pidana yang dilakukan
oleh keluarga mereka. Hal ini
didasari oleh rasa kekeluargaan
yang kuat sehingga mereka
menutup nutupi apabila ada
Syamsudin
menyatakan
dalam
pengungkapan kasus tindak pidana
budaya
tidak
begitu
mengikat/mempengaruhi
didalam
penegakan hukum, karena budaya
sekarang bergeser, masyarakat tidak
berpegang teguh pada kebudayaan.14
Erna Dewi menyatakan Masyarakat,
apabila sudah berbicara mengenai
biaya cenderung enggan untuk
mengeluarkannya. Hal tersebut sudah
“membudaya’ di masyarakat.15
III. Penutup
Berdasarkan hasil wawancara dengan
sejumlah responden dan penelitian
kepustakaan dengan sejumlah bukubuku yang relevan, terkait peran
kriminalistik
dalam
bantuan
pengungkapan perkara pembunuhan
dengan
pemberatan,
dalam
pandangan penulis adalah sebagai
berikut:
1. Peran kriminalistik sangat penting
untuk mengungkap terjadinya
tindak
pidana
khususnya
pembunuhan. Terutama apabila
suatu tindak pidana tersebut
minim
pembuktian
yang
disebabkan oleh ketiadaan saksi
yang melihat tindak pidana
tersebut
Peran
kriminalistik
sebagai
ilmu
bantu
yang
membantu pengungkapan perkara
pembunuhan dengan pemberatan
adalah dengan cara dilakukannnya
visum et repertum. Visum et
13
Wawancara dengan ahmad Muchlis jaksa
kejari Bandar Lampung 21 November 2016
14
Wawancara dengan Syamsudin Hakim PN
Tanjung Karang. 24 November 2016
15
Wawancara dengan Dr. Erna Dewi
S.H.,M.H dosen pidana Unila. 23 Desember
2016
repertum ini digunakan sebagai
alat bukti yang sah dalam proses
peradillan.
pembuktian yang
disebabkan oleh ketiadaan saksi
yang melihat tindak pidana
tersebut. visum et repertum
berguna
untuk
memperjelas
keterangan saksi mengenai luka
tembak, yang menjadi penyebab
kematian.
2. Faktor utama yang paling
menghambat kriminalistik dalam
memberi bantuan pengungkapan
perkara pembunuhan dengan
pemberatan adalah faktor sarana
dan prasarana Sarana dan
Prasarana yang di miliki rumah
sakit belum lengkap terutama
untuk pemeriksaan mayat sarana
yang ada di rumah sakit
Lampung. Sampai saat ini kondisi
sarana prasarana atau alat-alat
yang digunakan untuk membantu
kelancaran
pelaksanaan
penyidikan
belum
memadai,
sehingga dalam melaksanakan
penyidikan masih lamban. Selain
itu juga untuk di provinsi
Lampung sendiri belum tersedia
laboratorium forensik. Sehingga
apabila
di
perlukan
uji
laboratorium
forensik,
maka
penyidik harus mengirimkannya
ke laboratorium forensik POLDA
Sumatera selatan. Hal lain yang
menjadi
penghambat
adalah
bahwa belum ada penyidik khusus
forensik di POLDA Lampung,
serta sumber daya manusia dari
pihak dokter forensik yang masih
minim.
Saran dalam penelitian ini adalah:
1. Hendaknya
pada
proses
penyidikan
penyidik
menggunakan ilmu kriminalistik
Apabila dalam suatu perkara
membutuhkan
ilmu
bantu
kriminalistik mengingat modus
operandi yang digunakan penjahat
makin
canggih.
Hal
ini
memudahkan penyidik untuk
melakukan penyidikan.
2. Mengingat penyediaan alat-alat
pemeriksaan mayat yang masih
terbatas, maka hendaknya pihak
rumah sakit dan kepolisian
meyediakan alat-alat yang lebih
lengkap. Hal ini dibutuhkan agar
barang bukti cepat diperiksa dan
tidak mudah rusak.
.
Daftar Pustaka
Chainur Arrasjid. 2000 Dasar-Dasar
Ilmu Hukum., Sinar Grafika.
Jakarta
Firganefi
dan
Ahmad
Irzal
Fardiansyah. 2014. Hukum
dan Kriminalistik. Bandar
Lampung: Justice Publisher
SoekantoSoerjono . 2002. Sosiologi
Suatu
Pengantar.Rajawali
Press. Jakarta.
SoekantoSoerjono. 2014. Faktorfaktor yang Mempengaruhi
Penegakan
Hukum.RajaGrafindo
Persada. Jakarta.
Andrisman Tri. 2011. Delik tertentu
dalam KUHP. Bandar
Lampung: Universitas
Lampung
Download