kebijakan politik luar negeri amerika serikat

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hubungan antara negara merupakan hubungan yang paling tua dalam studi
hubungan internasional dimana, hubungan internasional telah memunculkan
aktor-aktor baru selain negara dalam interaksi internasional. Perkembangan ini
berakibat pada lahirnya paradigma atau paham baru oleh para penstudi HI dalam
mengkaji fenomena-fenomena internasional yang terjadi. Paham tersebut antara
lain paham realism, pluralism, strukturalisme, dan globalisme.
Dominasi aktor negara pada awal perkembangan HI menurut kaum realis di
gugat oleh kaum pluralis dan menganggap bahwa actor dalam HI tidak hanya di
dominasi oleh negara tetapi juga di lakukan oleh MNC , individu , NGO, serta
kelompok teroris. Sementara pendekatan strukturalisme lebih memandang
interaksi hubungan internasional sebagai ketergantungan negara kecil terhadap
negara besar dan dominasi negara kuat terhadap negara lemah.1Adanya faktor
tunggal dalam HI pada awal perkembangannya membuat tata hubungan
internasional pada saat itu hanya diwarnai oleh interaksi antar negara saja.
Dominasi peran antar negara tersebut kemudian menjadikannya sebagai aktor
utama dalam HI dan tatanan internasional terbentuknya sesuai dengan keinginan
negara , khususnya negara besar.
1
Suwardi Wiraatmaja, Pengantar Hubungan Internasional, 1996 , Rafika Adikarya Bandung hal
13
2
Sifat-sifat penguasa di negara-negara tertentu yang represif dan cenderung
otoriter, melahirkan rasa kekecewaan bagi rakyatnya karena keinginan untuk turut
berpartisipasi dalam bidang politik tidak dapat tersalurkan bahkan cenderung di
kekang. Ketika jalur-jalur penyampaian aspirasi politik tidak berjalan baik, maka
partisipasi tersebut kemudian diwujudkan melalui gerakan-gerakan radikal yang
pada akhirnya akan melahirkan kekerasan-kekerasan sipil.
Pasca perang dunia II, kekerasan sipil merupakan gejala yang sangat
menarik perhatian. Dibanding perang sebenarnya yaitu perang antarnegara,
kekerasan sipil jauh lebih banyak jumlahnya. Surat kabar New Yeork Times
mencatat selama kurun waktu 1946-1959 saja, telah terjadi 1.200 kekerasan sipil
yang meliputi perang saudara, aksi-aksi gerilya, huru-hara, kekacauan-kekacauan
luas, terorisme, pemberontakan dan kudeta. Peristiwa-peristiwa kekerasan itu
terutama sangat mencuat dalam dasawarsa 1960-an yang terjadi tidak saja di
negara berkembang, melainkan juga di negara-negara maju.2 Kekerasan sipil
mencakup suatu spectrum yang sangat luas, mulai dari unjuk rasa, atau protes
dengan menggunakan kekerasan, pemberontakan spontan, pemberontakan
berencana dan berlanjut, kudeta bahkan sampai ke revolusi. Perang Saudara
termasuk kekerasan politik sementara perang antar negara tidak.
Kekerasan sipil berbentuk terorisme dapat dilakukan oleh penguasa atau
negara terhadap rakyatnya sendiri atau terorisme negara, maupun oleh rakyat
terhadap penguasanya. Terorisme digunakan sebagai senjata defensive maupun
afensif untuk memelihara status quo atau untuk merusak sistem yang ada. Setelah
2
Philips Jusario Vermonte, di terjemahkan oleh Nasution, Politik dan Kekerasan, Pustaka
Gramedia Jakarta 1990 hal 34
3
berakhirnya Perang Dingin, berbagai kekerasan sipil termasuk terorisme
internasional tampak semakin menjadi-jadi. Perang Saudara, terorisme dalam
berbagai
bentuk,
pemberontakan,
pemboman,
peracunan,
pembantaian,
penyandraan, demonstrasi berdarah dan sebagainya memenuhi media cetak
maupun elektronik.
Amerika Serikat sebagai salah satu negara korban terorisme internasional,
seperti yang kita ketahui bahwa Amerika merupakan negara Adi Kuasa yang
terkadang memenuhi standar ganda dalam melihat suatu fenomena atau dalam
menjalankan kebijakan-kebijakannya bila berkaitan dengan isu Arab Israel,
menjadikannya objek kemarahan dari pihak-pihak yang dianggap dirugikan
ataupun tidak senang dengan kebijakan standar ganda tersebut. Hal tersebut
membuat Amerika Serikat menjadi sasaran terorisme internasional.
Terdapat banyak serangan terorisme yang dilakukan ke tempat-tempat
kepentingan Amerika Serikat, baik itu di dalam dan di luar negeri, mulai dari aksi
pemboman terhadap sebuah botel di Yaman yang banyak di huni oleh warga
Amerika Serikat (1992), gedung World Trade Center New York (1993). Kampung
Militer di Riyadh Arab Saudi (1993) basis militer AS di Dahran Arab Saudi
(1996). Kedutaan Besar AS di Kenya Tanzania (1998), kapal perang AS USS
Cole di Yaman (2000) dan yang terakhir dan sangat berdampak terhadap bangsa
dan negara Amerika Serikat yakni serangan terhadap World Trade Center dan
Pentagon dengan menggunakan pesawat terbang komersil yang menjadi tragedy
nasional bagi bangsa dan negara Amerika Serikat.3 Trauma yang sangat
3
Kusnanto Anggoro, Terorisme Terhadap Amerika, Jurnal CSIS Vol.36.No.1 2007
4
mendalam sebagai akibat aksi dari serangan-serangan terorisme tersebut membuat
Amerika Serikat sangat reaksioner dalam sikapnya menghadapi issu terorisme
yang berkembang saat ini. Amerika Serikat sangat cepat merespon terhadap setiap
issu terorisme. Hal ini tercermin dari kebijakan-kebijakan politik luar negerinya
yang
berusaha
mencari
simpati
dunia
internasional
dalam
kampanye
pemberantasan jaringan terorisme. Hal ini sejalan dengan pendapat William
D.Coplin bahwa : “Politik luar negeri suatu negara merupakan substansi dari
hubungan internasional terselenggara sebagai sarana interaksi antar negara demi
pencapaian tujuan nasional.”4 Sebelum mengadakan serangkaian tindakan dalam
hubungan luar negerinya, suatu negara terlebih dahulu harus menentukan pola
politik luar negerinya berdasarkan atas kebutuhan nasional sehingga kepentingan
nasional berperan sebagai kontrol dalam setiap pelaksanaan politik luar negerinya.
Di sini, tujuan nasional Amerika adalah berusaha melindungi seluruh warga dan
kepentingan di dalam dan di luar negeri sedangkan instrument yang digunakan
adalah cenderung kepada politik. Menciptakan rasa aman bagi warganya dinilai
sebagai kebutuhan yang mendesak, mengingat warga dan kepentingannya tersebar
ke seluruh belahan dunia.
Isu terrorisme, ternyata bukan hanya konsumsi wilayah regional tertentu
saja seperti Timur Tengah, namun telah menyebar ke wilayah-wilayah regional
lainnya yang memiliki potensi konflik dan instabilitas seperti halnya kawasan
regional Asia Tenggara. Konflik intern di negara kawasan tersebut, bisa saja
memancing jaringan internasional untuk melakukan aksi-aksi teror di kawasan
4
William D Coplin, Pengantar Politik Internasional , Bandung : Pustaka Bersama 1992 hal 32
5
tersebut. Sebagai contoh aksi terror yang di lakukan oleh gerilyawan Moro di
Philipina Selatan. Pada perkembangannya
dinilai dapat
membahayakan
keselamatan warga dan kepentingan AS di kawasan Asia Tenggara.
Kemudian di Singapura 25 anggota Jemaah Islamiyah, di Malaysia dan
Singapura di duga merupakan suatu jaringan terorisme internasional yang terkait
dengan jaringan Al-Qaidah pimpinan Osama Bin Laden. Bersama penangkapan
tersebut ditemukan beberapa dokumen yang berisi rencana penyerangan terhadap
kepentingan-kepentingan AS di Asia Tenggara seperti di Singapura, Malaysia,
dan Indonesia. Selanjutnya ledakan kecil di sekitar konsulat AS di Bali, kemudian
hal ini semakin membuat kawasan tersebut rawan terhadap isu serangan aksi
teroris.
Dari pemaparan tadi penulis tertarik untuk meneliti kebijakan Amerika
Serikat dalam merespon issu terorisme di kawasan Asia Tenggara dalam suatu
bentuk skripsi dengan judul “Kebijakan Politik Luar Negeri Amerika Serikat
Terhadap Terorisme Di Asia Tenggara”
B. Batasan dan Rumusan Masalah
Mengingat dalam judul yang sudah di kemukakan di atas mencakup
berbagai aspek dengan kompleksitas masalah maka dalam hal ini , penulis perlu
membatasi yaitu hanya berkisar kepada respon pemerintah AS dalam bentuk
pernyataan, aksi, dan pola kebijakan di Kawasan Asia Tenggara terutama dalam
hubungannya dengan isu terorisme internasional di kawasan tersebut.
Dari pembatasan tersebut, maka penulis merumuskannya ke dalam bentuk
pertanyaan penelitian sebagai berikut :
6
1. Bagaimana respon dan wujud kebijakan politik luar negeri Amerika
Serikat dalam merespon terorisme di kawasan Asia Tenggara ?
2. Bagaimana peluang dan tantangan Amerika Serikat dalam menghadapi
Terorisme di Asia Tenggara ?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan menjelaskan respon serta kebijakan politik
luar negeri Amerika Serikat dalam merespon terorisme di kawasan
Asia Tenggara.
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan peluang dan tantangan yang
di hadapi Amerika Serikat dalam menghadapi terorisme di Asia
Tenggara .
2.
Kegunaan Penelitian
1. Apakah tujuan tersebut dapat tercapai, maka penelitian ini Di
harapkan dapat bermanfaat bagi pemerintah Indonesia dalam
menyikapi fenomena terorisme internasional dan dapat dijadikan
referensi bagi upaya antisipasi masuk atau munculnya kelompok
terorisme internasional di Indonesia.
2. Hasil penelitian ini juga Diharapkan dapat menjadi bahan referensi
bagi para pemerhati masalah-masalah internasional, khususnya
bagi para penstudi Ilmu Hubungan Internasional dalam rangka
pengembangan Ilmu Hubungan Internasional.
7
D. Kerangka Konseptual
Dalam masalah ini, konsep yang digunakan adalah teori atau konsep
kebijakan luar negeri dan kepentingan nasional. Politik luar negeri cenderung
dimaknai sebagai sebuah identitas yang menjadi karakteristik pembeda negara
Indonesia dengan negara-negara lain di dunia. Politik luar negeri adalah sebuah
posisi pembeda. Politik luar negeri adalah paradigma besar yang dianut sebuah
negara tentang cara pandang negara tersebut terhadap dunia. Politik luar negeri
adalah wawasan internasional. Oleh karena itu politik luar negeri cenderung
bersifat tetap.
Kebijakan luar negeri adalah segala tindakan suatu pemerintah terhadap
negara lain dalam politik internasional, dengan di dasarkan pada serangkaian
asumsi dan tujuan tertentu, serta dimaksudkan untuk menjamin keamanan
nasional. Kebijakan luar negeri dapat dijalankan melalui berbagai cara, namun
tiga yang paling umum adalah perang, perdamaian, dan kerjasama ekonomi.
Banyak definisi yang dibuat oleh para ahli untuk menjelaskan arti kebijakan.
Thomas Dye menyebutkan kebijakan sebagai pilihan pemerintah untuk
melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Definisi ini dibuatnya dengan
menghubungkan beberapa definisi lain dari berbagai ahli. Hugh Heglo
menyatakan bahwa : “kebijakan sebagai “a course of action intended to
accomplish some end,” atau sebagai suatu tindakan yang bermaksud untuk
mencapai suatu tujuan tertentu”.
Definisi Heglo ini kemudian di uraikan oleh Jones dalam kaitan dengan
beberapa isi dari kebijakan. Pertama yaitu, tujuan. Disini yang dimaksud adalah
8
tujuan tertentu yang di kehendaki untuk di capai. Bukan suatu tujuan yang sekedar
di inginkan saja. Dalam kehidupan sehari-hari tujuan yang hanya diinginkan saja
bukan tujuan, tetapi sekedar keinginan. Setiap orang boleh saja berkeinginan apa
saja, tetapi dalam kehidupan bernegara tidak perlu diperhitungkan. Baru
diperhitungkan kalau ada usaha untuk mencapainya, dan ada”faktor pendukung”
yang diperlukan. Kedua, rencana atau proposal yang merupakan alat atau cara
tertentu untuk mencapainya. Ketiga, program atau cara tertentu yang telah
mendapat persetujuan dan pengesahan untuk mencapai tujuan yang dimaksud.
Keempat, keputusan, yakni tindakan tertentu yang diambil untuk menentukan
tujuan, membuat dan menyesuaikan rencana, melaksanakan dan mengevaluasi
program.
Sampai saat ini belum ada definisi yang baku mengenai terorisme.
Dikalangan pakar Sosial Politik Barat sendiri sebenarnya ada kesepakatan tentang
definisi Terorisme. Teror atau Terorisme tidak selalu identik dengan kekerasan.
Terorisme adalah puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence. Bisa
saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan.
Terorisme tidak sama dengan intimidasi atau sabotase. Sasaran intimidasi dan
sabotase umumnya langsung, sedangkan terorisme tidak. Korban tindakan
terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah.
Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas
memperhatikan apa yang mereka perjuangkan. Tindakan teror tidaklah sama
dengan vandalisme, yang motifnya merusak benda-benda fisik. Teror berbeda
pula dengan mafia. Tindakan mafia menekankan omerta, tutup mulut, sebagai
9
sumpah. Omerta merupakan bentuk ekstrem loyalitas dan solidaritas kelompok
dalam menghadapi pihak lain, terutama penguasa. Berbeda dengan Yakuza atau
mafia Cosa Nostra yang menekankan kode omerta, kaum teroris modern justru
seringkali mengeluarkan pernyataan dan tuntutan. Mereka ingin menarik perhatian
masyarakat luas dan memanfaatkan media massa untuk menyuarakan pesan
perjuangannya.5
Namun, belakangan, kaum teroris semakin membutuhkan dana besar dalam
kegiatan globalnya, sehingga mereka tidak suka mengklaim tindakannya, agar
dapat melakukan upaya mengumpulkan dana bagi kegiatannya. Menurut Black’s
Law Dictionary :
Terorisme adalah kegiatan yang melibatkan unsur kekerasan atau
yang menimbulkan efek bahaya bagi kehidupan manusia yang
melanggar hukum pidana (Amerika atau negara bagian Amerika),
yang jelas dimaksudkan untuk: mengintimidasi penduduk sipil,
mempengaruhi
kebijakan
pemerintah,
mempengaruhi
penyelenggaraan negara dengan cara penculikan atau
pembunuhan.6
Menurut Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Terorisme :
Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 ayat 1, Tindak Pidana Terorisme adalah
segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai
dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Mengenai perbuatan apa
saja yang dikategorikan ke dalam Tindak Pidana Terorisme, diatur dalam
ketentuan pada Bab III (Tindak Pidana Terorisme), Pasal 6, 7, bahwa
setiap orang dipidana karena melakukan Tindak Pidana Terorisme, jika:
1. Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan
menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara
Rikard Bagun, “Indonesia di Peta Terorisme Global”, 17 November 2002
Muladi, Hakekat Terorisme dan Beberapa Prinsip Pengaturan dalam Kriminalisasi, Jurnal
Kriminologi Indonesia FISIP UI, vol 2 no III
5
6
10
meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara
merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda
orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap
obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas
publik atau fasilitas internasional (Pasal 6)7
2. Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan
bermaksud untuk menimbulkan suasana terror atau rasa takut
terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang
bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau
menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau
mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek
vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau
fasilitas internasional (Pasal 7).8
Dari definisi-definisi di atas, yang menjadi ciri dari suatu tindakan terorisme
adalah :
1. Adanya rencana untuk melakukan tindakan tersebut
2. Dilakukan oleh suatu kelompok tertentu
3. Menggunakan kekerasan
4. Mengambil korban dari masyarakat sipil, dengan maksud
mengintimidasi pemerintah
5. Dilakukan untuk mencapai pemenuhan atas tujuan tertentu dari
pelaku, yang dapat berupa motif sosial, politik ataupun agama .
Dalam berinteraksi dengan negara/aktor hubungan internasional lain suatu
negara harus selalu berlandaskan pada pencapaian kepentingan nasionalnya.
Konsep kepentingan nasional ini merupakan buatan manusia dan dirumuskan oleh
pemimpin-pemimpin negara dan para ahli teori politik dan dipatuhi oleh
masyarakat karena disangkutkan kepada situasi social dan mencerminkan adanya
7
8
Indonesia, Undang-Undang Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, pasal 6.
Ibid., pasal 7.
11
nilai-nilai, ide-ide kepentingan golongan dan juga kepentingan para perumusnya.9
Karena itu kepentingan nasional adalah yang paling utama yang mendasari sikap
perumusan kebijaksanaan luar negeri suatu negara. Seperti yang di ungkapkan
oleh Holsti bahwa ide kepentingan nasional mungkin mengacu pada serangkaian
tujuan ideal yang sebenarnya diusahakan untuk diwujudkan oleh suatu negara
bangsa dalam tindakan luar negerinya.10
Terhadap kaitannya dengan masalah terorisme Internasional, rumusan
kebijakan politik luar negeri AS merupakan hasil dari proses politik dalam
menyikapi fenomena terorisme internasional yang aksi-aksinya dapat mengancam
kepentingan nasionalnya. Hasil dari rumusan itulah menjadi dasar dari segala
tindakan AS terhadap terorisme internasional. Sebagaimana konsep kebijakan luar
negeri yang di ungkapkan oleh Miriam Budiardjo sebagai berikut : “Kebijakan
adalah suatu kumpulan apa yang diambil oleh seorang pelaku atau kelompok
dalam usaha memiliki tujuan, kebijaksanaan itu mempunyai kekuasaan untuk
melaksanakannya.”11 Dari pendapat tersebut dapat diperoleh suatu pengertian
bahwa wujud dari kebijakan adalah sekumpulan keputusan yang kemudian
menjadi dasar serangkaian tindakan. Kebijakan dilakukan untuk mencapai tujuan
tertentu, dimana tujuan tersebut telah dipilih sebelumnya termasuk cara-cara
mencapainya. Kebijakan itu dibuat oleh pihak tertentui yg memiliki kekuasaan
untuk melaksanakannya.
9
Sufri Yusuf Hubungan Internasional dan Politik Luar Negeri Jakarta: Dunia Pustaka hal 77
K.J.Holsti Politik Internasional Kerangka Untuk Internasional Terjemahan T.Ashari Erlangga
hal 138
11
Meriam Budiardjo Dasar-Dasar Ilmu Politik Jakarta: Gramedia Pustaka Utama hal 12
10
12
Aktualisasi dari kebijakan merupakan sekumpulan keputusan-keputusan
yang dituangkan dalam bentuk undang undang. Dimana kemudian UndangUndang itu menjadi dasar tindakan atas suatu negara untuk mencapai kepentingan
nasionalnya. Adapun pihak yang berperan dalam pembuat suatu kebijakan yaitu
pemerintah
karena
pemerintah
yang
memiliki
kemampuan
untuk
melaksanakannya, kebijakan luar negeri suatu negara menunjukkan dasar-dasar
umum yang dipakai pemerintah untuk bereaksi terhadap lingkungan internasional.
Karena kebijakan luar negeri dapat juga di artikan sebagai strategi atau rencana
tindakan yang dibentuk oleh para pembuat keputusan suatu negara dalam
menghadapi negara lain atau hubungan internasioanl lainnya.
13
E. Metode Penelitian
1.
Tipe Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dimana penulis mencoba
menggambarkan dan menjelaskan tentang Kebijakan Politik Luar Negeri Amerika
Serikat terhadap terorisme di Asia Tenggara.
2
Sumber dan Jenis Data
Dalam penelitian ini, jenis data yang digunakan adalah data sekunder. Data
yang digunakan dalam penelitian ini berupa buku, jurnal, dokumen, dan bahan
dari internet. Data tentang kebijakan politik luar negeri dan tentang terorisme pada
penelitian ini didapatkan dari beberapa buku, jurnal, dan internet.
3
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
telaah pustaka (library research) yaitu dengan mengumpulkan data dan informasi
dari literatur yang berkaitan dengan masalah yang di bahas. Selain itu juga
mengunjungi beberapa situs di internet untuk melengkapi data yang penulis
kumpulkan.
4
Teknik Analisa Data
Teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
kualitatif. Dimana, data yang dikumpulkan melalui penelitian lapang dilakukan
dengan metode kualitatif, karena sifat data penelitian ini merupakan informasi
kualitatif. Metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskrpitif berupa kata-kata tertulis maupun yang terucapkan dari para pelaku yang
diamati.
14
5.
Definisi Operasional
Untuk menghindari salah penafsiran terhadap berbagai istilah atau konsep
yang digunakan dalam penelitian ini, maka beberapa istilah atau konsep diberi
batasan pengertian dalam bentuk definisi operasional :
1.
Pertama, politik luar negeri merupakan pencerminan dari kepentingan
nasional yang tidak dapat dipisahkan dari kondisi-kondisi nyata dalam negeri.
Politik luar negeri cenderung dimaknai sebagai sebuah identitas yang menjadi
karakteristik pembeda suatu negara dengan negara-negara lain yang ada di
dunia. Politik luar negeri adalah paradigma besar yang dianut sebuah negara
tentang cara pandang negara tersebut terhadap dunia.
2.
Kedua, Amerika Serikat merupakan sebuah negara yang saat ini menjadi
salah satu aktor utama dalam perang global melawan terorisme berdasarkan
atas resolusi DK-PBB 1373 tentang : setiap negara harus ikut berperan serta
dalam perang gobal melawan aksi teroris.
3.
Ketiga, Terorisme secara akademik merupakan segala bentuk tindak
kejahatan berbagai bentuk, seperti pemberontakan, pemboman, peracunan,
pembantaian,
penyandraan,
demonstrasi
berdarah.
Secara
birokrasi
merupakan tindakan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud
menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang
atau masyarakat luas. Terorisme Internasional adalah terorisme yang
dilakukan dengan dukungan pemerintah atau organisasi asing dan atau
diarahkan untuk melawan negara, lembaga, atau pemerintah asing.
15
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Politik Luar Negeri
Interaksi antarnegara dalam paradigma hubungan internasional banyak
ditentukan oleh politik luar negeri negara tersebut. Politik luar negeri tersebut
merupakan kebijaksanaan suatu negara untuk mengatur hubungan luar negerinya.
Politik luar negeri ini merupakan bagian dari kebijaksanaan nasional negara
tersebut dan semata-mata dimaksudkan untuk mengabdi kepada tujuan-tujuan
yang telah ditetapkan untuk kurun waktu yang sedang dihadapi, dan hal tersebut
lazimnya disebut kepentingan nasional. Tujuan politik luar negeri merupakan
mewujudkan kepentingan nasional negaranya. Tujuan tersebut memuat gambaran
atas keadaan negara di masa mendatang dan kondisi masa depan yang diinginkan.
Dalam membahas politik luar negeri, pengertian dasar yang harus diketahui
yaitu politik luar negeri itu pada dasarnya merupakan “action theory”, atau
kebijaksanaan suatu negara yang ditujukan ke negara lain untuk mencapai suatu
kepntingan tertentu. Secara umum, politik luar negeri (foreign policy) merupakan
suatu perangkat formula nilai, sikap, arah serta sasaran untuk mempertahankan,
mengamankan, dan memajukan kepentingan nasional di dalam percaturan dunia
internasional.12
Politik luar negeri pada dasarnya merupakan kebijakan suatu negara yang
ditujukan kepada negara lain untuk mencapai suatu kepentingan tertentu. Secara
umum, politik luar negeri (foreign policy) merupakan suatu perangkat formula,
12
DR. Anak Agung Banyu Perwira & DR. Yanyan Mochamad Yani, Pengantar Ilmu Hubungan
Internasional. Remaja Rosdakary, Bandung 2005 hal 35.
16
nilai, sikap dan arah serta sasaran untuk mempertahankan, mengamankan, dan
memajukan kepentingan nasional didalam percaturan dunia internasional.13
Dalam pelaksanaan tentang politik luar negeri terdapat tiga determinan yang
harus di perhatikan. Pertama adalah kepentingan nasional, dimana politik luar
negeri adalah pencerminan dari kepentingan nasional suatu negara terhadap
lingkungan luarnya. Politik luar negeri sebagai pencerminan dari kepentingan
nasional dikemukakan oleh J. Frankel :
Politik luar negeri merupakan pencerminan dari kepentingan
nasional yang ditujukan ke luar negeri, yang tidak terpisah dari
keseluruhan tujuan nasional, dan tetap merupakan komponen atau
unsur dari kondisi dalam negeri.14
Yang perlu diperhatikan dalam keterkaitan kepentingan nasional dan politik
luar negeri adalah bahwa pelaksanaan politik luar negeri tersebut semaksimal
mungkin dapat menguntungkan bagi kepentingan nasional, baik di ukur dari
kepentingan keselamatan dan keamanan nasional, maupun diukur dari
peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan nasional.
Determinan kedua yang berhubungan dengan politik luar negeri adalah
kemampuan nasional. Kemampuan nasional adalah kemampuan yang dimiliki
suatu
bangsa,
baik
secara
actual
maupun
bersifat
potensial.
Dengan
kemampuannya, segenap daya bangsa baik yang manifest maupun latent yang
meliputi segala sumber daya yang melekat pada bangsa yang bersangkutan.
Strategi politik luar negeri adalah output. Sedangkan input berasal
dari kondisi-kondisi lingkungan ekstern dan intern yang dikonversi
menjadi input, melalui proses pemahaman situasi yang dikaitkan
dengan penentuan tujuan yang akan dicapai, mobilisasi untuk
13
Perwita dan Yani, Pengantar Hubungan Internasional, PT Remaja Rosdakarya, Bandung 2005
hal 47
14
J. Frankel, Hubungan Internasional, ANS Sungguh Barsaudara, Jakarta, 1990, hal 55.
17
mencapai tujuan tersebut dan upaya-upaya
merealisasikan tujuan yang sudah ditetapkan.15
nyata
dalam
Politik luar negeri sebagai rangkaian atau sekumpulan komitmen, mengacu
kepada strategi, kepentingan dan tujuan-tujuan khusus (spesificgoals) serta saranasarana (means) untuk pencapaiannya. Komitmen dan rencana tindakan ini dapat
ditelaah dari kondisi riil dan situasi nyata yang sedang berlangsung, sehingga
dapat lebih mudah diamati dan dianalisa.
Determinan ketiga adalah kondisi internasional dengan sifatnya yang
dinamis. Setiap negara merumuskan kebijakan politik luar negeri, tetapi tidak
akan mungkin mengatur dan menetapkan proses dinamika internasional sebagai
akibat dari interaksi yang terus menerus antara bangsa-bangsa di dunia.
Politik luar negeri berhubungan dengan semua usaha dari sistem
politik nasioanl untuk beradaptasi dengan lingkungan geopolitiknya
dan untuk menetapkan tindakan pengendalian terhadap
lingkungannya agar dapat memenuhi nilai-nilai yang terdapat
dalam sistemnya.16
Sufri Yusuf memberikan sebuah definisi standar menyatakan bahwa politik
luar negeri itu adalah politik untuk mencapai tujuan nasional dengan
menggunakan segala kekuasaan dan kemampuan yang ada.17 Karena situasi dan
kondisi dunia yang tidak statis, tetapi mengalami dinamika yang terus
berkembang, maka kebijaksanaan politik suatu negara selalu mengalami
penyusunan atau peyesuaian dengan kondisi politik luar negeri, karena politik luar
negeri merupakan perpanjangan tangan dari politik dalam negeri. Oleh sebab itu
kebijaksanaan politik luar negeri sangat ditentukan oleh kondisi obyektif politik
15
K.J. Holtsi, Politik Internasional : Kerangka Analisis Pedoman Ilmu, Jakarta, 1987, hal 88.
Ibid, Hal. 133
17
Sufri Yusuf, Hubungan Internasional dan Politik Luar Negeri, Sebuah Analisis Teoritis dan
Uraian Pelaksanaanya, Pustaka Sinar, Jakarta, 1989, hal 110.
16
18
dalam negeri. Apa yang dirumuskan pada politik dalam negeri, akan menjadi
acuan untuk perumusan politik luar negeri yang di tujukan pada dunia
internasional.
Amerika Serikat sendiri dalam pelaksanaan politik luar negeri tentunya juga
berorientasi pada kepentingan nasional yang di dasarkan pada kondisi obyektif
baik di dalam negeri maupun kondisi politik internasional yang berkembang saat
ini. Bila ditinjau dari segi filsafat politik, politik luar negeri AS tampak unik
dalam menggabungkan kepraktisan yang selalu hati-hati dengan idealisme yang
utopis. Di satu sisi politik luar negeri Amerika Serikat dapat berperan untuk
melindungi negara lain dengan cara memperluas kepentingan AS di seluruh dunia,
disisi lain AS mempunyai tugas mengubah system internasional sedapat mungkin
seperti keinginannya yang di dasarkan atas kemauan dan citranya sendiri dan AS
menginginkan kedua cara itu dalam politik luar negerinya. Sifat yang dapat
dikatakan tidak taat azas itu menyebabkan politik luar negeri AS menunjukkan
ciri khas yang bertentangan.
Seperti yang kita ketahui, kepentingan nasional suatu negara bersumber dari
budaya bangsanya, yaitu hidup bangsa, pola pikir dan sikap yang terbentuk
melalui proses pengalaman sejarah yang diwariskan dari bangsa itu sendiri.
Karena politik luar negeri suatu negara merupakan kelanjutan atau perjuangan
dari kepentingan nasionalnya, maka AS sebagai negara besar dan satu-satunya
negara adi kuasa sejak berakhirnya Perang Dingin memfokuskan politik luar
negerinya terhadap penciptaan tata politik internasional yang sesuai dengan
kepentingan nasionalnya.
19
B. Konsep Kepentingan Nasional
Dalam sistem internasional, pola interaksi yang terjadi antara negara-negara
pada umumnya di landasi oleh adanya kepentingan-kepentingan tertentu yang
ingin dicapai oleh setiap negara. Masing-masing negara dalam sistem
internasional
berkewjiban
memberikan
tanggapan-tanggapan
atas
situasi
internasional dalam berbagai tujuan nasional yang diinginkan sesuai dengan
kepentingan nasionalnya masing-masing. Kebutuhan dan tujuan dari berbagai
aspek kehidupan yang saling berkaitan satu sama lain dari setiap negara
dirumuskan dalam bentuk kepentingan nasional.
Kepentingan nasional merupakan konsep yang paling populer dalam analisa
hubungan internasional, baik untuk mendeskripsikan, menjelaskan, meramalkan,
maupun menganjurkan perilaku internasional. Konsep kepentingan nasional
merupakan dasar untuk menjelaskan perilaku suatu negara.18 Kepentingan
nasional merupakan konsepsi yang sangat umum tetapi merupakan unsur yang
menjadi kebutuhan sangat vital bagi negara. Unsur tersebut mencakup
kelangsungan hidup bangsa dan negara, kemerdekaan, keutuhan wilayah,
keamanan militer dan kesejahteraan ekonomi sehingga pperlu suatu usaha
untukmemperoleh kepentingan tersebut. Kepentingan nasional memberikan
ukuran konsistensi yang diperlukan dalam kebijakan nasional. Suatu negara
sangat memperhatikan kepentingan nasionalnya dalam situasi yang sangat cepat
berubah, akan lebih cenderung untuk mempertahankan keseimbangannya dan
18
Mochtar Masoed, Ilmu Hubungan Internasional : Disiplin dan Metodologi, PT. Pustaka Sinar
Harapan, Jakarta, 1994, hal 139
20
selalu melanjutkan usaha ke arah tujuannya dari pada mengubah kepentingannya
dalam menyesuaikan diri dengan situasi baru di lingkungan sekitarnya.19
Kepentingan nasional bukanlah suatu teori yang terinci akan tetapi lebih
banyak digunakan pada waktu-waktu pemilihan apa saja dalam bentuk simbol
atau slogan. Kepentingan nasional dibentangkan kepada rakyat sebagai doktrindoktrin, dan dalam suatu negara, kepentingan nasional itu dapat berubah-ubah
sesuai waktu, situasi, dan kondisi.20
Berkembangnya persaingan antar negara dalam konteks internasional
menekankan arti penting untuk menggunakan formula kepentingan nasional
sebagai kerangka untuk mencapai tujuan-tujuan kebijaksanaan politik luar negeri.
Dengan mengesampingkan kenyataan bahwa kita sekarang berada dalam sistem
internasional yang ketergantungan, negara, bangsa tetap mendasarkan keputusan
kebijaksanaan luar negerinya pada kepentingan nasional mereka. Maka James
Rosenan menandaskan bahwa :
Sebagai alat analitik, kepentingan nasional dipergunakan untuk
menggambarkan, menjelaskan, atau mengevaluasi sumber-sumber atau
kelayakan kebijaksanaan politik luar negeri suatu negara sebagai instrument
dari tindakan politik, konsep tersebut berfungsi sebagai alat untuk
membenarkan,
mengabaikan
atau
mengusulkan
kebijaksanaankebijaksanaan.21
Morgenthau telah mendefinisikan kepentingan nasional sebagai power
(kekuatan). Dalam konteks ini, konsep kepentingan nasioanl disamakan dengan
konsep kelangsunagn hidup (National Survival). Jadi, kepentingan nasional,
merupakan esensi dari politik. Defenisinya mengenai kepentingan nasional ini
19
Jack C Plano & Roy Olton, Kamus Hubungan Internasional, Edisi Ketiga, Putra A Bardir,
Jakarta, 1999, hal 7.
20
Sufri Yusuf, Op Cit., hal 47
21
Dahlan Nasution Politik Internasional Konsep dan Teori Erlangga Jakarta 1989 hal 26
21
konsisten dengan teori kekuatan politik, dimana sasaran dari negara-negara adalah
mempengaruhi actor lain dalam rangka mencapai kepentingan-kepentingan
negaranya.22
Kemampuan untuk mencapai kepentingan nasional sangat bergantung pada
kekuatan nasional yang dimiliki. Secara konvensional, kekuatan nasional terbagi
kedalam tiga kategori yaitu : instrument ekonomi, politik, dan militer.23 Beberapa
analisis politik internasional seperti Robert Gilpin dan Hendry Kissinger
menambahkan onstrmen-instrumen lain, seperti geografis, demografi, dan
kehendak nasional pada sumber-sumber kekuatan nasional. Tiga komponen diatas
bermanfaat bagi tujuan analitik, sedangkan pada prakteknya ketiga bentuk
kekuatan itu saling berhubungan satu sama lain.
Instrumen kekuatan ekonomi atan ekonomi berkenaan dengan digunakannya
bantuan ekonomi atau ancaman ekonomi untuk membuat seseorang atau satu
negara menuruti kebijaksanaan negara yang pertama. Misalnya Amerika Serikat
dapat menawarkan untuk menaikkan tingkat bantuan ekonominya atau sebaliknya
mengancam untuk menarik bantuannya terhadap suatu bangsa, sehubungan
dengan mau atau tidaknya negara tersebut menuruti garis kebijaksanaan Amerika
Serikat.
Instrumen kekuatan politik atau diplomatik meliputi segala aktivitas yang
terukur dan terampil dari pada diplomat suatu negara yang berusaha meyakinkan
pihak lain akan garis kebijaksanaan negaranya. Keberhasilan AS dalam
menggalang kerjasama global dalam memberantas terorisme internasional, sangat
22
23
Ibid, hal 27.
Ibid, hal 29.
22
bergantung pada kekuatan politik atau diplomasinya. Keberhasilan instrument ini
secara murni relative sulit dicapai apabila tidak didukung oleh kekuatan ekonomi
atau militer. Kekuatan militer, baik itu ancaman maupun penggunaan
sesungguhnya, merupakan instrument yang ketiga dan terakhir. Dalam budaya
Amerika, penggunaan kekuatan militer adalah pilihan yang terakhir, suatu jalan
yang di ambil apabila jalan lainnya telah gagal.
Penggunaan ketiga instrument di atas tergantung sepenuhnya pada situasi
dan kondisi. Ketiga instrument inilah yang kemudian dijadikan senjata bagi AS
untuk memberantas terorisme internasioanl. Seperti embargo ekonomi kepada
negara-negara yang menjadi sponsor terorime, tekanan maupun lobi diplomatik,
dan penggunaan kekuatan militer dalam memberantas terorisme internasional.
C. Konsep Terorisme sebagai Kejahatan Transnasional
1. Sejarah dan Perkembangan Terorisme
Wacana tentang terorisme aksi terror, sejauh yang dapat direkam sejarah,
sudah berlangsung sejak era Yunani Kuno. Sejarahwan Yunani, Xenophon (430349 SM) pernah mengulas tentang manfaat dan efektifitas perang urat syaraf
untuk menakut-nakuti musuh.24 Tetapi sulit diketahui, kapan aksi terror mulai
dilakukan. Ada yang berpendapat, aksi terror seusia dengan sejarah peradaban
manusia sendiri. Bahaya terorisme pun berkembang semakin kompleks seiring
dengan kemajuan peradaban dan teknologi.
Serangan terorisme 11 September 2001 di New York dan Washington
mempelihatkan penggunaan teknologi tinggi oleh kaum teroris. Aksi terorisme di
24
Rene L Pattiradjawane Terorisme : Mekanisme Melawan Ketidakadilan, Pustaka Kompas
Jakarta 2001
23
AS itu menjadi sebuah tragedy yang dipertontonkan di depan publik dunia. Efek
publikasi oleh media massa sangatlah tinggi.
Sampai abad ke 18, tindakan teror masih berkisar pada tindakan
penyiksaan. Pembuangan, penculikan, pembunuhan, dan penyitaan harta benda.
Ironisnya, penguasa sering menggunakan terror untuk mematahkan kekuatan
masyarakat yang dinilai membangkang. Bahkan istilah teror dan terorisme
digunakan sebagai suatu yang positif dalam pemerintahan Perancis tahun 17931794.25 Meski istilah teror atau terorisme baru mulai populer pada abad ke-18,
namun fenomena yang di tunjukkannya bukanlah baru. Menurut Grand Wardlaw
dalam buku Political Terorism, manifestasi terorisme sistematis muncul sebelum
Revolusi Perancis, tetapi baru mencolok sejak paruh kedua abad ke-19. Dalam
suplemen kamus yang dikeluarkan Akademi Perancis tahun 1798, terorisme lebih
diartikan sebagai sistem rezim teror.26
Terorisme muncul pada akhir abad 19 dan menjelang terjadinya Perang
Dunia I, terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Pada pertengahan abad ke-19,
terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia, dan Amerika. Mereka
percaya bahwa cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun
sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh.27 Sementara itu,
organisasi terorisme telah bermunculan dimana-mana di dunia dengan berbagai
alasan. Terorisme benar-benar menjadi gejala global. Gerakan kelompok
terdahulu seringkali memberi inspirasi bagi pembentukan dan kegiatan kelompok
25
Ibid, hal 8.
Rikard Bagun, “Indonesia di Peta Terorisme Global”,17 November 2010
27
History of Terrorism, http://www.terrorismfiles.org/encyclopaedia/history_of_terrorism.html
26
24
yang lebih kemudian. Bahkan, dikalangan kelompok terorisme itu terdapat jalinan
kerjasama. Sindikat itu dimungkinkan oleh sistem komunikasi internasional yang
lancar, cepat, dan massal.
Terorisme secara potensial terdapat di berbagai masyarakat dunia. Hanya
aktualisasinya sangat tergantung pada kerawanan kondisi, ekonomi, politik, dan
psikologis. Kehidupan sosial politik yang timpang menimbulkan frustasi dan
keputusasaan yang mendorong orang menjadi agresif dan melakukan terror.
Sementara itu, tidak sedikit yang menggunakan teror sebagai senjata perjuangan
untuk mengejar tujuan politik. Tidak jarang, aksi terorisme juga dilakukan oleh
fanatik atau militant yang bersifat religius. Sikap militansi ini bias timbul dalam
setiap agama, tanpa terkecuali. Kelompok militan, fanatic dan radikal bias timbul
di lingkunagn agama Hindu, Budha, Sikh, Yahudi, Katolik, Kristen, Islam, dan
sebagainya. Golongan fanatic ini cenderung menegasikan yang lain.28
2. Pengertian Terorisme
Istilah teror atau dalam bahasa Perancis, terreur adalah istilah yang
digunakan para pejuang revolusi perancis atas tindakan anarkis, kebuasan atau
pembunuhan yang dilakukan secara sewenang-wenang ketika berlangsungnya
revolusi perancis dari tahun 1793-1794. Sedangkan terorisme adalah usaha-usaha
atau aktivitas untuk menciptakan rasa takut yang mendalam melalui upaya-upaya
pembunuhan, penculikan, pemboman dan tindak kekerasan yang lainnya.
Sedangkan PBB mengkategorikan terorisme kedalam bentuk kejahatan terhadap
kemanusiaan (Crime against Humanity) karena setiap aksi terorisme dinilai
28
Hinayahtullah Hasin Gerakan Terorisme di Timur Tengah Penerbit Mizan Bandung 1999 hal
27.
25
melanggar hak-hak asasi (Human Right) seperti hak hidup, hak bebas dari
penyiksaan, hak bebas dari rasa takut dan keamanan.
Mendefinisikan terorisme merupakan perkara yang rumit, sebab ia merupakan
persoalan moral, dan penilaiannya sangat beragam bagi tiap orang. Upaya pendefinisian
terorisme telah diupayakan oleh berbagai pihak, terutama Amerika Serikat yang sangat
berkepentingan dalam upayanya dengan apa yang dinamakan “Perang Global Melawan
Terorisme”.29
Defenisi yang umum digunakan yaitu penggunaan kekerasan oleh
individu/kelompok demi suatu kepentingan yang lebih besar, biasanya
kepentingan politik. Defenisi ini digunakan untuk menggambarkan aksi-aksi teror
dilakukan oleh sekelompok minoritas yang merasa telah diabaikan hak atau
mendapat perlakuan diskriminatif dari kelompok mayoritas. Ketidakmampuan
untuk melawan secara langsung membuat mereka melakukan aksi-aksi teror agar
keinginan mereka dapat dipenuhi.
Terorisme menurut Konvensi PBB tahun 1937 merupakan segala bentuk
tindakan kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud dan
tujuan menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok
orang atau masyarakat luas.30
Adapun beberapa defenisi tentang terorisme dari berbagai lembaga maupun
para ahli antara lain sebagai berikut :
a. Terrorism Act 2000, UK
29
Manajemen Krisis Dalam Menanggulangi Terorisme, Drs. Sudarto
http://www.dephan.go.id/modules. php?name=Sections&op=viewarticle&artid=56.
30
Loudewijk F. Paulus, 2006. Terorisme http://buletinlitbang.dephan.go.id
26
Terorisme mengandung arti sebagai penggunaan atau ancaman tindakan
dengan ciri-ciri :
a. aksi yang melibatkan kekerasan serius terhadap seseorang,
kerugian berat terhadap harta benda, membahayakan kehidupan
seseorang, bukan kehidupan orang yang melakukan tindakan,
menciptakan resiko serius bagi kesehatan atau keselamatan publik
atau bagi tertentu yang didesain secara serius untuk campur tangan
atau mengganggu sistem elektronik.
b. penggunaan atau ancaman dibuat dengan tujuan politik, agama atau
ideologi.
c. penggunaan atau ancaman yang masuk dalam subseksi yang
melibatkan senjata api dan bahan peledak.
b. Menurut The U.S. by the Code of Federal Regulations.31
Terorisme adalah The unlawful use of force and violence against
persons or property to intimidate or coerce a government, the civilian
population, or any segment thereof, in furtherance of political or social
objectives. (28 C.F.R. Section 0.85)
c. Menurut Konvensi PBB tahun 1937.32
Terorisme adalah segala bentuk tindak kejahatan yang ditujukan
langsung kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk teror
terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas.
31
32
Definition of Terrorism, http://www.terrorismfiles.org diakses 20 Januari 2011
Loudewijk F. Paulus, 2006. Terorisme http://buletinlitbang.dephan.go.id diakses 20 Februari
2011
27
d. Menurut
sekjen
PBB
Koffi
Annan,
dalam
Undang-Undang
pemberantasan tindak pidana terorisme(UU Anti Terorisme), buku putih
Dephan.33
Terorisme merupakan suatu ancaman dan negara-negara harus melindungi
warga negaranya dari ancaman itu. Negara tidak hanya mempunyai hak tetapi
juga harus sangat berhati-hati untuk memastikan bahwa tindakan-tindakan
melawan terorisme tidak berubah menjadi tindakan-tindakan untuk menutupi, atau
membenarkan pelanggaran HAM.
Pakar terorisme internasional Steven Den Besk mendefinisikan terorisme
sebagai suatu tindakan yang menimbulkan ketakutan (rasa takut) kepada suatu
kelompok orang melalui tindakan kekerasan untuk mencapai tujuan tertentu.34.
Sedangkan Erich Fromm berpendapat bahwa terorisme merupakan cara-cara
memperjuangkan kepentingan melalui aktivitas yang militant tanpa mengabaikan
nilai-nilai kemanusiaan.35 Disisi lain aktivitas terorisme sering menyita perhatian
khalayak baik itu secara local maupun internasional. Hal ini sesuai dengan
pendapat Ali Khan seorang pakar terorisme internasional dari Westborn
University School of Law Amerika Serikat bahwa para pelaku terorisme sengaja
menciptakan suasana takut dan mencekam atau teror untuk menarik perhatian
masyarakat mengenai apa-apa yang mereka inginkan atau perjuangan mereka.36
33
Petrus R. Golose, 2009. Deradikalisasi Terorisme : Humanis, Soul Approach, dan Menyentuh
Akar Rumput. Hal : 5
34
Maryani Katoppo, Terorisme dan Sejarah Kekerasan Manusia Disertasi Program Master Ilmu
Sejarah Program Magister Ilmu Sejarah FISIP UI, 2000 hal 32.
35
Ibid.
36
Ibid,. Hal 33
28
Teroris merupakan pelaku aksi-aksi terror yang biasanya gerakannya
berbasis pada ideologi anarkisme, revolusioner, dan nihilisme. Hal ini sesuai
dengan pendapat Seven Den Besk bahwa para teroris biasa memperjuangkan
kepentingannya melalui cara-cara anarki dan revolusioner.37 Menurut analisis
Anthony Storr, pelaku teror umumnya penderita psikopat agresif. Gangguan
psikologis yang parah membuat pelaku aksi terror menjadi manusia yang
kehilangan nurani, bersikap kejam, agresif, sadistis, dan tanpa ampun. Seluruh
perasaan takut seolah dibunuh habis, termasuk perasaan takut terhadap kematian
atas dirinya sendiri, apalagi kematian orang lain.38 Aksi terorisme itu merupakan
kombinasi antara kecerdasan, keberanian, kenekatan, dan pilihan mati secara
tragis. Kombinasi yang sangat aneh bagi penentang terorisme tapi bukan bagi
kaum teroris.39
Spekturm terror bisa mulai dari non-violence sampai violence, tetapi
tujuannya sama, yakni menciptakan pengaruh tidak melalui ketakutan. Buku
pegangan atau handbook yang digunakan oleh para teroris terbentang mulai dari
penyebaran sianida, virus, sampai pengeboman. Teknologi teror mengalami
pencanggihan bersamaan dengan perkembangan teknologi persenjataan. Bahkan,
banyak senjata kini diproduksi tanpa mengacu pada humanitarian principle.
Artinya, senjata-senjata itu sebenarnya di peruntukkan bagi para teroris untuk
melakukan terrorizing, misalnya bom surat atau racun yang berpengaruh langsung
pada kerja jantung. Teroris memang lebih rileks disbanding para intel karena
tinggal mencuri teori-teori yang dikembangkan operasi intelejen yang tidak kalah
37
Loc cit
Loc cit
39
Ibid,. Hal 34
38
29
biadab. Itulah mengapa saat ini ada gerakan untuk mengatur operasi intelegen
pada batas-batas humanitarian yang diperkenalkan melalui undang-undang dan
peraturan pemerintah.
Berdasarkan literature ilmu politik, politik teror meiliki empat komponen
yaitu : Pertama, kekerasan adalah bagian yang dibutuhkan dalam membuat aksi
politik. Kekerasan, apalagi yang dramatis, menjadi strategi yang dianggap paling
efektif untuk merebut perhatian dunia. Semakin dunia memberi perhatian,
semakin sukses aksi politik terror. Pesan politik yang hendak mereka sampaikan
jauh lebih bergema setelah perhatian public dapat diraih.
Kedua, tujuan menghalalkan cara. Seringkali dibalik terror aneka aksi
terror ada tujuan mulia. Tujuan itu dapat berupa misi ideology, bahkan
keagamaan. Mungkin pula tujuannnya adalah bagian dari perjuangan politik
sebuah kelompok yang tertindas untuk dapat meraih apa yang menjadi haknya.
Namun politik terror menghalalkan segala cara sejauh itu efektif untuk mencapai
tujuan. Bahkan jika untuk mencapai tujuan itu diperlukan korban manusia,
termasuk korban dari rakyat tidak berdosa, itupun dapat di tempuh.
Komponen yang ketiga adalah gerakan terselubung. Aksi terror dilakukan
dalam sebuah jaringan kerja yang secara sengaja disembunyikan dibawah
permukaan. Mereka tidak mempercayai mekanisme politik konvensional dapat
memenuhi tercapainya aspirasi polotik yang mereka perjuangkan. Politik non
konvensional dipilih karena dianggap satu-satunya mekanisme yang tersedia
untuk turut bicara dan didengar.
30
Keempat, militansi dan fanatisme pelaku. Berbeda dengan politik
konvensional, politik terror di dukung personel yang tingkat militansinya amat
tinggi. Apalagi jika misi utama kelompok itu berwarna keagamaan atau
kemnerdekaan sebuah bangsa. Aksi nekat yang berakhir dengan kematian pelaku
seperti bunuh diri adalah hal yang biasa.40
Bagi politisi biasa, nyawanya adalah harga tertinggi. Mereka tak mau
menukar nyawa mereka baik dengan jabatan ataupun harta. Namun bagi pelaku
aksi terror, ada cita-cita tinggi yang membuat mereka bersedia mengorbankan
nyawa.
3. Terorisme Internasional
Jangkauan gerakan terorisme terus meluas, melampaui batas-batas wilayah
negara. Mobilitas kaum teroris meningkat tajam akibat kemajuan transportasi dan
komunikasi. Kerjasama di antara gerakan terorisme membentuk jaringan
terorisme regional dan international. Hampir setiap kawasan memiliki organisasi
terorisme. Organisasi terorisme yang pernah terkenal di Amerika Latin misalnya
FARC (Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia) di Kolombia, CAL
(Comandos Armados de Liberacion) di Puerto Rico Sendero Luminoso (Jalan
Terang) di Peru, dan lain-lain. Di Kanada pernah terkenal FLQ (Front de
Liberacion du Quebec).41
Secara kualitatif, kiprah kaum teroris sudah banyak berubah di bandingkan
dengan masa lalu, terutama karena kemajuan teknologi. Perkembangan dramatis
40
Meriam Budiardjo, Teror dalam Tatanan Struktur Politik PT. Gramedia Jakarta 2001 hal 52.
41
Maryani Katoppo, Op Cit. Hal 40
31
mulai terjadi pada abad ke-20 dan sekitaran tahun 1960-an dan 1970-an, ketika
kaum teroris meningkatkan pembajakan pesawat sebagai salah satu bentuk
aktifitasnya. Imbasnya kemudian terasa di Indonesia tahun 1981 ketika pesawat
DC-9 Woyla Garuda Indonesia dibajak dan dipaksa mendarat di Penang
(Malaysia) dan kemudian Don Muang, Bangkok (Thailand).42
Fenomena terorisme betambah menarik karena semula muncul dari
kondisi social cultural tertentu, tetapi berkembang pula dimensi internasionalnya.
Grant Wardlaw bahkan menyatakan terorisme merupakan sesuatu yang bisa
diekspor. Terrorism is now an export industry.43 Bahkan, Collin Wilson menyebut
terorisme sebagai The Worlds Most Sinister Growth Industry. Dalam praktiknya,
internasionalisasi terorisme tidak hanya berarti bahwa organisasi terorisme yang
satu menjadi inspitrasi bagi idea tau kegiatan untuk kelompok lain, tetapi juga ada
hubungan timbal balik dalam bidang latihan, dukungan logistik, personal, dan
bahkan orientasi ideologis yang sama.
Pada perkembangannya istilah terorisme di pakai dalam space yang lebih
luas. Karena aksi yang dilakukan oleh para teroris semakin meluas melewati
batas-batas satu wilayah negara, akibatnya ancaman kekerasan yang menyertai
aksinya dirasakan lebih mengglobal, artinya wilayah-wilayah ikut merasa
terancam. Terorisme Internasional juga merupakan ekses dari berakhirnya Perang
Dunia II, dimana keamanan negara tidak lagi diukur secara konvensional.
Keamanan negara juga sangat memperhitungkan isu-isu lain diluar perang
42
43
Ibid hal 41
Ibid hal 42
32
antarnegara, seperti konflik internal, globalisasi, pasar bebas, termasuk ancaman
terorisme.
Terorisme Internasional adalah bentuk kekerasan politik yang melibatkan
warga negara atau wilayah lebih dari satu negara. Ia juga dapat diartikan sebagai
tindakan kekerasan yang dilakukan diluar ketentuan, diplomasi internasional dan
perang. Terminologi terorisme internasional seringkali digunakan dengan tidak
hati-hati dalam arti bahwa terorisme tidak hanya masalah-masalah melibatkan
antar-wilayah saja, tetapi setiap terorisme mempunyai pengaruh dalam persoalan
internasional, tidak peduli apakah ia hanya kelompok marginal atau kelompok
teroris secara tidak langsung.
Persoalan terminologi ini juga mengalami perdebatan dimana ada penulis
yang menyatakan bahwa penggunaan istilah tersebut tidak perlu, karena kata
“internasional” tidak pernah secara eksklusif di artikan sebagai hubunganhubungan antar-pemerintah, sebagai contoh internasional secara umum juga
dipergunakan untuk budaya, ekonomi, dan aktivitas-aktivitas lain serta transaksitransaksi lain yang melibatkan warga dari negara yang berlainan. Sehingga
beberapa penulis lebih suka memakai kata “transnational” bagi kelompok teroris
yang secara internasional beroperasi dengan tujuan jangka panjang revolusi global
atau menciptakan revolusi dunia.
Contoh-contoh gerakan transional terorisme atau terorisme internasional
antara lain I.R.A yang menyerang London, Bakkunist Anarchist International
yang katif di Eropa pada 1870-an, gerakan Japanese United Army (JPR) yang
33
mempunyai tujuan menciptakan “world revolution”, juga yang terjadi di Taliban
dengan Al-Qaidah nya yang menyerang gedung WTC dan Pentagon di AS.
Tindakan terorisme juga dapat dikatakan internasional jika ia secara diamdiam berkolaborasi atau beraliansi sesama teroris dan pemerintah, serta dengan
gerakan terorime di negara lain. Singkatnya, terorisme menjadi internasional
dengan beberapa tindakan atau yang mendukungnya, antara lain:
1.
Secara
langsung di
luar
negeri
atau
dengan
target
luar
negeri;
2. Diselenggarakan oleh pemerintah atau faksi lebih dari satu negara;
3. Juga mempunyai tujuan untuk mempengaruhi kebijakan negara-negara lain.44
44
http://dewitri.wordpress.com/2008/02/01/teroris-sebagai-non-state-actor-baru-dalam-hubunganinternasional/ Diakses tanggal 10 Juni 2011
34
BAB III
GAMBARAN UMUM KEBIJAKAN POLITIK LUAR NEGERI
AMERIKA SERIKAT TERHADAP TERORISME DI ASIA TENGGARA
A. Kebijakan Polugri Amerika Serikat Terhadap Terorisme Asia Tenggara
Dalam kajian politik luar negeri, perkembangan dan bahkan perubahan
baik yang terjadi di lingkungan internasional (eksternal) dan internal suatu negara
merupakan faktor-faktor signifikan yang perlu di perhatikan oleh para pengambil
keputusan. Perubahan-perubahan fundamental yang terjadi dalam hubungan
internasional beberapa waktu terakhir ini, seperti berakhirnya Perang Dingin,
bubarnya Uni Soviet, secara faktual telah memaksa aktor negara-bangsa untuk
mengubah agenda politik luar negerinya. Secara teoritis, perubahan mendasar
yang terjadi dalam sistem internasional terjadi ketika aktor negara-negara besar
melalui politik luar negeri yang di jalankannya, mengubah aturan dan normanorma dalam interaksi internasional mereka. Pola hubungan diplomatik antar
negara dengan demikian, tidak saja mempengaruhi hierarki dan stuktur aktor
tetapi akan memunculkan pula tingkat yang berbeda dalam tindakan (outcomes)
politik luar negerinya.
Kendati Amerika Serikat kini muncul sebagai satu-satunya negara
adikuasa, namun para pengambil keputusan politik luar negeri Amerika Serikat
merasa perlu untuk terus menerus menyesuaikan agenda politik luar negerinya
sesuai dengan perubahan sistemik dan situasional yang terjadi di lingkungan
eksternal dan internalnya. Dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat
mencerminkan pandangan Amerika Serikat sebagai negara adikuasa tunggal di
35
dunia yang saling membutuhkan dan bergantung dengan negara-negara lain. Hal
ini dapat dilihat dalam berbagai hubungan kerjasama Amerika Serikat dengan
berbagai negara di dunia dalam rangka mencapai berbagai tujuan dan kepentingan
Amerika Serikat. Pelaksanaan strategi tersebut terutama untuk mengamankan
kepentingan-kepentingannya, Amerika Serikat dapat memanfaatkan sumber daya,
seperti perekonomiannya, sekutu-sekutu di bawah kepemimpinan yang tegas
dapat menunjang politik luar negerinya. Kekuatan militer yang besar dan
diplomasi.
Pada kawasan Asia Tenggara, Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
tampaknya tidak berbeda dengan dekade sebelumnya, yaitu kebijakan luar negeri
yang ditujukan untuk menghadapi ancaman musuh Amerika Serikat. Dengan kata
lain, kebijakan luar negeri Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara merupakan
usaha Amerika Serikat untuk mempertahankan kepentingan dunia bebas dan
ancaman ideologi komunis pada saat menghangatnya Perang Dingin.
Di tinjau dari sudut kepentingan nasionalnya, Amerika Serikat tentu tidak
dapat membiarkan kekuatan lain ingin menguasai kawasan Asia Tenggara karena
tertanamnya modal Amerika Serikat yang tidak sedikit di negara Asia Tenggara
yang kaya akan bahan baku dan letaknya yang sangat strategis antara dua benua
dan dua samudera. Oleh karena itu maka Asia Tenggara merupakan wilayah yang
terus diperhitungkan oleh Amerika Serikat, termasuk juga Indonesia.
Terdapat 3 (tiga) kemungkinan bagi Amerika Serikat untuk memainkan
peranannya di Asia Tenggara. Pertama, menciptakan stabilitas sambil menguasai
dan membawa Asia Tenggara dalam pengaruh Amerika Serikat. Yang kedua, ikut
36
menstabilkan wilayah tersebut secara bersama-sama dengan bangsa-bangsa Asia
Tenggara sambil mengimbangi pengaruh-pengaruh komunis
yang ingin
mempengaruhi kawasan tersebut. Dan yang ketiga seperti yang diinginkan oleh
bangsa-bangsa ASEAN agar Asia Tenggara menjadi negara yang aman, damai,
bebas, dan netral.45
Secara umum, kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat dalam
menghadapi terorisme di kawasan Asia Tenggara adalah sebagai berikut :
1. Mengeluarkan kebijakan Travel Advisory dan Travel Warning terhadap
negara-negara di Kawasan Asia Tenggara yang memiliki potensi menjadi
target serangan teroris seperti Filiphina, Malaysia, Singapura, dan
Indonesia bagi warga Negara Amerika Serikat yang akan bepergian ke luar
negeri terutama lagi pasca serangan bom Bali di Indonesia.
2. Meningkatkan kuantitas jumlah personil Amerika Serikat di kawasan Asia
Tenggara. Dari jumlah 82.000 personil militer ditingkatkan menjadi
100.000 personil militer Amerika Serikat yang bertugas di seluruh
kawasan Asia karena pemerintah Amerika Serikat menilai bahwa di
kawasan Asia Tenggara terdapat negara-negara sponsor terorisme dan
negara-negara yang dinilai mempunyai gerakan fundamental/militan yang
agresif terhadap kemungkinan serangan aksi terorisme. Pemerintah
Amerika Serikat juga memprakarsai pertemuan 22 Komandan Militer se
Asia Pasifik di Singapura.
45
Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Diplomatic Year Book,1994, Washington
DC. Hal 14-15.
37
3. Menggiatkan kampanye Anti Terorisme melalui forum-forum kerjasama
regional/internasional seperti APEC (dimana sebagian besar negara-negara
kawasan Asia Tenggara menjadi anggotanya) yang melahirkan pernyataan
bersama pemimpin Negara anggota APEC yakni tertuang dalam
Statementon Recent Acts of Terorism in APEC Member Economics dan
APEC leader Statement on Fighting Terorism and Promoting Growth.
4. Selanjutnya, dengan ASEAN, pemerintah AS membuat kesepakatan anti
terorisme, dalam ASEAN-US Join Declaration for Corporation to Combat
International Terorism yang akan merupakan kerjasama antara Amerika
Serikat dengan 10 negara anggota ASEAN mengenai pertukaran informasi
intelejen, kerjasama teknis dan upaya bersama menghentikan sumber
keuangan jaringan terorisme internasional.
Secara khusus, pemerintah Amerika Serikat juga mengeluarkan kebijakan
yang bersifat bilateral di kawasan Asia Tenggara, yakni :
1. Dengan Malaysia yaitu, pemerintah Amerika Serikat akan membentuk
pusat koordinasi anti terorisme regional Asia Tenggara di Malaysia. Dimana
Malaysia bersama-sama dengan Amerika Serikat akan menjadi kordinator
untuk semua aktifitas untuk mencegah aksi terorisme di kawasan tersebut.
Hal itu merupakan rangkaian penghargaan pemerintah Amerika Serikat
terhadap Malaysia atas kerjasama kedua negara memerangi terorisme.
Kemudian secara bilateral, kedua negara juga menandatangani kesepakatan
anti terorisme ketika kedua pemimpin negara tersebut bertemu di Amerika
Serikat pada tanggal 22 Mei 2002.
38
2. Dengan Filiphina. Sebagai salah satu negara sekutu terdekat Amerika
Serikat di kawasan Asia Tenggara yang akan menjadi negara penyangga
keamanan aset-aset property Amerika Serikat di Kawasan Asia Tenggara
maka Amerika Serikat secara bilateral mempunyai kebijakan khusus dengan
pemerintah Filiphina yakni : kerjasama militer dalam hal ini latihan bersama
yang terintegrasi dengan operasi penyelamatan dua sandera warga negara
Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya yang ditawan oleh kelompok
terorisme MILF (Kelompok Abu Sayaf di Filiphina Selatan).
Kelompok tersebut ditenggarai mempunyai hubungan dengan jaringan
terorisme internasional Al-Qaedah dan Operasi Balikatan (Bahu membahu)
merupakan wujud dari operasi pelatihan angkatan bersenjata AS-Filiphina
dengan 166 personil khusus angkatan bersenjata. Kerjasama militer tersebut
tergolong besar untuk sebuah latihan militer bersama yang melibatkan kurang
lebih 10.000 personil militer yang diantaranya 4568 serdadu Amerika Serikat,
6 kapal perang yang dimiliki kedua negara dan pesawat pengintai maritim.
Kerjasama militer ini berlangsung dari bulan Mei hingga Juli 2002. Di
samping itu Filiphina dan Amerika Serikat saling mendukung kebijakan
politik luar negeri masing-masing yang berkaitan dengan upaya kedua negara
dalam memerangi terorisme.
3. Selanjutnya dengan Indonesia. Pemerintah Amerika Serikat berusaha
dengan hati-hati mewujudkan kebijakan-kebijakan dengan hati-hati untuk
memerangi jaringan terorisme di wilayahnya. Dimana Indonesia di mata
pemerintah Amerika Serikat merupakan mata rantai yang lemah dalam
39
rangkaian kampanye. Washington memerangi terorisme di Kawasan Asia
Tenggara. Hal ini di sebabkan pemerintah Indonesia harus menghadapi
resistendi/penolakan dari masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim
terhadap kebijakan-kebijakan Amerika Serikat yang dinilai mendiskreditkan
umat dan kelompok-kelompok fundamental/militan islam di Indonesia yang
diduga terkait dengan jaringan terorisme internasional, sehingga pemerintah
Amerika Serikat melalui perwakilan resminya terlebih dahulu harus
mendekati simpul-simpul kekuatan muslim di Indonesia seperti Ormas
Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama.
Kemudian, pemerintah Amerika Serikat juga menitikberatkan kerjasama
bilateral di sector militer yang mana di khususkan kepada upaya-upaya
perang melawan terorisme internasional yang diduga telah masuk di wilayah
Indonesia. Dalam kerjasama tersebut termasuk pemberian dana hibah sebesar
50 juta USD yang akan dialokasikan untuk sector tersebut. Dari 31 juta USD
dana tersebut akan dipergunakan untuk pelatihan polisi dan program-program
pendukung lainnya (persenjataan dan termasuk teknologi pendukung), 19 juta
lainnya untuk pembentukan unit-unit satuan anti terror baru yang lebih
professional. Hal ini kembali mencairkan hubungan Amerika Serikat dan
Indonesia yang telah beku pasca pelanggaran HAM Timor Timor. Selain itu
paska peledakan bom Bali yang juga konsulat Amerika Serikat juga menjadi
sasaran semakin mengintensifkan kedua negara menjalankan kerjasama
bilateral dalam usaha memerangi terorisme internasional seperti kerjasama
antara kepolisian dan intelejen.
40
Dalam masa sebelum terjadinya tragedi 11 September, Indonesia bisa
dikatakan tidak menjadi bagian penting dalam Politik Luar Negeri Amerika
Serikat. Ada dua alasan utama mengapa hal ini terjadi. Pertama, karena faktor
historis. Dalam kadar tertentu, perhatian yang kecil dari pembuat kebijakan
Amerika Serikat terhadap Indonesia sebenarnya merefleksikan sikap public
Amerika Serikat pada umumnya. Jika dibandingkan dengan Filiphina dan
Vietnam, publik Amerika memang tidak memiliki sentiment historis yang kuat
dengan
Indonesia.
Indonesia
tidak
mempunyai
pengalaman
di
bawah
pemerintahan Amerika Serikat seperti yang pernah dialami Filiphina. Publik
Amerika juga tidak memiliki pengalaman historis yang getir dengan Indonesia
seperti dialami tentara Amerika Serikat pada perang Vietnam di awal 1970-an
Kedua, karena faktor struktural. Harus diakui, kapabilitas power yang
dimiliki Indonesia baik dari dimensi ekonomi, militer, dan politik amat tidak
signifikan di tingkat internasional. Untuk kawasan Asia, Amerika Serikat
sebenarnya jauh lebih member perhatian kepada China, Jepang, dan India. Secara
ekonomi, misalnya, Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan Jepang.46
Akan tetapi, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, tragedi 11
September telah mengubah pola Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat termasuk
terhadap Indonesia. Secara keseluruhan ada beberapa potensi yang dimiliki
Indonesia sehingga menimbulkan ketertarikan Amerika Serikat sehubungan
keterlibatan Indonesia dalam kampanye anti terorisme Amerika Serikat. Potensipotensi tersebut adalah :
Makmur Keliat, “Hubungan Indonesia-Amerika Serikat”. http://www.kompas.com/Diakses 20
Februari 2011
46
41
a. Penduduk muslim Indonesia adalah yang terbesar di dunia.
Sebagaimana yang diketahui kampanye global anti terorisme
Indonesia secara mayoritas ditujukan pada kelompok-kelompok
islam radikal seperti Al Qaeda dan Jamaah Islamiyah. Potensi yang
dimiliki Indonesia ini sangat penting bagi pelaksanaan kampanye
anti terorisme Amerika Serikat karena pabila mendapat dukungan
dari Indonesia, Amerika Serikat dapat memperbaiki sentiment yang
ditujukan pada negara tersebut sebagai negara anti muslim oleh
kebanyakan kelompok-kelompok pro Islam di dunia. Sebaliknya,
jika Indonesia berada dalam sikap konfrontasi akan meyulitkan
posisi Amerika Serikat.
b. Indonesia adalah negara penganut sistem demokrasi terbesar ketiga.
Bahkan jika melihat berdasarkan jumlah hasil pemilihan umum
tahun 1999, Indonesia menjadi negara dengan tingkat partisipasi
terbesar kedua setelah India dengan jumlah pemilih 90%.47 Hal ini
bisa dijadikan sarana untuk membangun kesamaan antara Indonesia
dengan Amerika Serikat sehingga dalam rangka mengimbangi
kebertolakbelakangan tentang gerakan radikal islam.
c. Frekuensi serangan teroris di Indonesia cukup besar mulai dari dua
kali pengeboman di Bali, JW Marriot, Kedutaan Besar Australia, dan
beberapa tempat lainnya. Beberapa kejadian itu menjadi indikasi
47
www.kpu.go.id
42
kuat bahwa ada kelompok teroris yang sedang beroperasi di
Indonesia.
d. Peran strategis Indonesia di Asia Tenggara cukup besar. Kestabilan
politik dan keamanan di Indonesia akan mempengaruhi negaranegara Asia Tenggara sehingga juga berpengaruh pada kepentingan
Amerika Serikat di wilayah tersebut.48
e. Kondisi dunia Internasional saat ini meningkatkan arti penting
Indonesia. Saat ini, mayoritas negara-negara Islam termasuk
Indonesia yang seharusnya dekat dengan Amerika Serikat justru
tidak digarap dengan baik oleh Amerika Serikat sehingga mulai
merapat ke Rival Amerika Serkat yaitu Cina dan Rusia. Kunjungan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke cina yang disusul dengan
kunjungannnya ke Rusia membuat Amerika Serikat terusik. Hal ini
disebabkan setelah kunjungan ke Cina dan Rusia, Indonesia dapat
menjajaki kemungkinan paket non ekonomi seperti pembelian
senjata dan peralatan militer yang tentunya akan membuat Amerika
Serikat semakin risau.49
Faktor-faktor tersebut kemudian dijakdikan sebagai bagian dari kepentingan
politis Amerika Serikat yang harus ditangani secara tepat dalam kebijan politik
luar negerinya. Oleh karena itu, pemerintah Amerika Serikat merasa perlu terlibat
dalam penanganan terorisme di Asia tenggara.
Wiryono Sastrohandoyo. “US-Indonesia Relations Post 11 September”.
http://www.eias.org/publications/briefing/2001/usindonesia911.pdf. Diakses 31 Maret 2011
49
“Isu Terorisme Cermin Kepentingan AS” http://www.beritasore.com/.. Diakses 2 Februari 2011
48
43
B. Bentuk-Bentuk Terorisme di Asia Tenggara
Asia Tenggara semakin mendapat sorotan dunia internasional lantaran
sejumlah peristiwa teror yang terjadi secara bertubi-tubi. Korban dalam jumlah
besar dan target serangan yang merupakan simbol-simbol Barat merupakan
persamaan dari serentetan teror yang terjadi di Indonesia, negara yang terletak di
kawasan Asia Tenggara. Pelaku teror ditengarai suatu kelompok yang memiliki
hubungan dengan Al Qaeda (AQ) di Afghanistan, bernama Jemaah Islamiyah.
Padahal AQ diindikasikan sebagai kelompok yang bertanggungjawab atas teror 11
November 2001 di AS.
Teror memang bukan hal baru di Asia Tenggara, sebab ada beberapa
kelompok
pemberontak
yang
kerap
menggunakan
kekerasan
sehingga
menyebarkan ketakutan di masyarakat. Berikut ini adalah beberapa kelompok
pemberontak dan teroris yang ada di Asia Tenggara.
44
Tabel 1
Kelompok Terorisme di Thailand
No
Kelompok
Terorisme
Negara
1
Pattani United
Liberation
Organisation
(PULO)
2
Guragan
Mujahiden Islam
Pattani
Tujuan
Pemisahan
diri,
membentuk
Negara islam
Thailand
Thailand
Keterangan
Status
Motivasi
keagamaan,
diduga
memiliki
hubungan
dengan ASG.
Pemisahan
diri,
membentuk
Negara Islam
Motivasi
keagamaan,
diduga
memiliki
hubungan
dengan AQ and
JI
Pemisahan
diri,
Thailand
membentuk
Negara Islam
Motivasi
keagamaan,
diduga
memiliki
hubungan
dengan AQ and
JI
3
Wae Ka Raeh
Sumber : Rohan Gunaratna, 2006. Terroris in Southeast Asia : Threat and Response.
http://counterterrorismblog.org/site-resources/image/Gunaratna-Terrorism_in_Southeast/Asia-Threat_and_Response.pdf
45
No.
Tabel 2
Kelompok Terorisme di Kamboja
Kelompok Teroris
Negara
Tujuan
1
Kamboja
Politik lokal
Kamboja
Politik lokal
Kegiatan
Status
Cambodian
Freedom Fighters
(CFF)
2.
Khmer Rouge
Sumber: Rohan Gunaratna, 2006. Terroris in Southeast Asia : Threat and
Response. http://counterterrorismblog.org/siteresources/image/Gunaratna-Terrorism_in_Southeast/AsiaThreat_and_Response.pdf
Tabel 3
Kelompok Terorisme di Filiphina
No. Kelompok
Negara
Tujuan
Kegiatan
Teroris
1.
Abu Sayyaf Filipina
Pemisahan
Motivasi
Group
Selatan
diri,
keagamaan,
(ASG)
membentuk
terkait dengan
Negara Islam AQ
2.
3.
Moro
Islamic
Liberation
Front
(MILF)
Moro
National
Liberation
Front
(MNLF)
Filipina
Selatan
Filipina
Selatan
Tuntutan
Otonomi,
pemisahan
diri, dan
pembentukan
negara Islam
Tuntutan
Otonomi,
pemisahan
diri
Filipina
Politik lokal
Dimasukkan
dalam daftar
organisasi
teroris oleh
AS
Motivasi
keagamaan,
terkait dengan
JI
Ethnonationalis
4.
New
People’s
Army
Status
Komunis
Dimasukkan
dalam daftar
organisasi
teroris oleh
AS
46
Tabel 4
Kelompok Terorisme di Myanmar
No
Kelompok
Negara
Tujuan
Kegiatan
Status
Teroris
1. Karen National
Tuntutan
Union
otonomi/
Myanmar
Ethnonationalis
pemisahan
diri
2. Kachin Defense
Tuntutan
Army
otonomi/
Myanmar
Ethnonationalis
pemisahan
diri
3.
Tuntutan
Eastern Shan
otonomi/
Myanmar
Ethnonationalis
State Army
pemisahan
diri
4.
Tuntutan
Ommat
otonomi/
Myanmar
Ethnonationalis
Liberation Front
pemisahan
diri
5.
Tuntutan
Kawthoolei
otonomi/
Muslim
Myanmar
Ethnonationalis
pemisahan
Liberation Front
diri
6. Muslim
Tuntutan
Liberation
otonomi/
Myanmar
Ethnonationalis
Organization of
pemisahan
Burma
diri
Sumber : Rohan Gunaratna, 2006. Terroris in Southeast Asia : Threat and
Response. http://counterterrorismblog.org/siteresources/image/Gunaratna-Terrorism_in_Southeast/AsiaThreat_and_Response.pdf
Selain negara-negara di atas, masih ada beberapa negara lagi yang didiami
oleh kelompok jaringan terorisme seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Di
negara ini terdapat kelompok atau jaringan terorisme yaitu Jamaah Islamiah.
Di kawasan Asia Tenggara peristiwa teror banyak terjadi di Indonesia,
Filipina dan Thailand. JI diduga berada di balik teror yang melanda Indonesia,
47
sedangkan Abu Sayyaf bertanggunggawab atas teror yang terjadi di Filipina, dan
kelompok pemberontak adalah pihak yang kerap menebar ketakutan lewat
sejumlah aksi kekerasan di Thailand. Tidak mengherankan jika 3 kelompok
tersebut, utamanya JI, paling sering disebut-sebut sebagai pihak yang
bertanggungjawab apabila terjadi insiden teror.
a.
Jamaah Islamiyah
Kelompok ini berakar dari Darul Islam, yakni sebuah gerakan yang
menginginkan diterapkannya hukum Islam di Indonesia. Darul Islam berkembang
di akhir tahun 1940an dan terus berupaya melawan pemerintahan RI. Pada 1969,
Abu Bakar Ba’asyir bersama dengan Abdullah Sungkar diduga melakukan operasi
untuk mengembangkan Darul Islam.
Menurut PG Rajamohan dalam tulisannya tentang JI, di era pemerintahan
Soeharto, Ba’asyir pernah dijebloskan ke penjara tanpa peradilan lantaran dinilai
membahayakan. Karenanya usai keluar dari penjara, Ba’asyir memilih pergi ke
Malaysia pada 1985 dan menjadi guru mengaji. Saat itulah dia dianggap sebagai
pendiri JI, di mana pengikutnya tersebar hingga di luar Malaysia. Ba’asyir bahkan
merekrut sukarelawan untuk berjuang melawan Brigade anti-Muslim Soviet di
Afghanistan.
Pada 1990, Ba’asyir bertemu Hambali, seorang pria yang menginginkan
berdirinya kekhalifahan Islam di Asia Tenggara yang meliputi Indonesia,
Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunai dan Kamboja. Kemudian Ba’asyir
48
menjadi pemimpin politik organisasi tersebut, sedangkan Hambali menjadi
pemimpin militer. Bahkan Hambali mendirikan perusahaan Konsojaya untuk
memfasilitasi pencucian uang sebagai bentuk dukungan pada keuangan dan
logistic JI. Meski demikian Ba’asyir menyatakan dirinya tidak terkait dan tidak
tahu menahu tentang JI.
Rajamohan berpendapat, JI mendukung gerakan Islam di seluruh dunia.
Berdasarkan laporan AS, banyak pemimpin JI yang mendapat pelatihan di camp
teroris Pakistan dan Afghanistan. Karena itulah mereka memiliki hubungan dekat
dengan Al Qaeda dan Taliban. Lebih dari itu, AQ juga diyakini sebagai sumber
pendana utama bagi JI dan menyediakan logistik untuk mendukung kegiatan
teroris.
Peneliti terorisme Sydney Jones memaparkan, JI dibagi dalam 4 wilayah
operasi di Asia Tenggara, yakni:
Mantiqi 1: Malaysia, Singapura dan Thailand Selatan. Menitikberatkan pada
pendanaan.
Mantiqi 2: Indonesia (Jawa dan Sumatera). Dititikberatkan sebagai wilayah jihad.
Mantiqi 3: Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia Timur, Indonesia (Kalimantan
dan Sulawesi). Dititikberatkan sebagai daerah pelatihan.
Mantiqi 4: Australia. Menitikberatkan pada aspek ekonomi dan pendanaan.50
Tujuan utama dari JI adalah membentuk Negara Islam yang meliputi
Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia dan Filipina. Aksi teror yang dilakukan
50
http://www.nctc.gov/site/groups/asg.html Diakses 10 Juni2011
49
JI seperti terlihat dalam pengeboman di Bali dan di Jakarta adalah tipikal AQ, di
mana yang menjadi target serangan adalah kepentingan AS dan sekutunya. Sejak
tahun 2000, JI aktif melakukan teror yang antara lain dengan melakukan
pengeboman di Bali pada 2002 dan 2005, pengeboman Kedubes AS di Jakarta,
pengeboman Hotel JW Marriott Jakarta pada 2004, dan yang terbaru adalah
pengeboman Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott Jakarta pada pertengahan 2009.
Deplu AS menyatakan, pada 2001 diperkirakan ada 200 kegiatan yang dilakukan
anggota JI di Malaysia. Di saat yang sama, pemerintah Singapura memperkirakan
total anggota JI hampir 5.000 orang.
b.
Abu Sayyaf Group (ASG)
Kelompok Abu Sayyaf terbentuk pada 1991 dan berlokasi di Filipina
selatan. Pendirinya adalah Abduragak Abubakar Janjalani yang tewas tertembak
oleh polisi pada 1998. Pemimpin selanjutnya yakni Khaddafi Janjalani pernah
masuk dalam daftar teroris paling dicari oleh FBI sebelum tewas pada 2006.
Jumlah anggotanya kadang menurun dan di waktu lain meningkat tajam, bahkan
pernah tercatat ada 4.000 orang yang menjadi anggota aktif.
Tujuan kelompok ini adalah mendirikan negara Islam di Mindanao Barat
dan di Kepulauan Sulu untuk selanjutnya mendirikan pan negara Islam di Asia
Tenggara. ASG dikenal sebagai kelompok separatis paling keras. Mereka
menggunakan teror untuk mendapatkan keuntungan finansial ataupun dalam
menyerukan jihad. Kelompok ini tidak segan-segan menculik, mengebom,
membunuh, dan juga pemerasan. ASG ditengarai memiliki keterkaitan dengan JI
50
karena mereka pernah memberikan tempat perlindungan bagi anggota JI dari
Indonesia yang menjadi buron.
Aksi kekerasan di Filipina juga dilakukan kelompok separatis Moro
Islamic Liberation Front (MILF) yang beroperasi di Mindanao, Kepulauan Sulu,
Basilan dan Jolo. Sejak 1978 kelompok ini telah melakukan pemberontakan
bersifat militer terhadap pemerintahan Filipina. Anggota organisasi ini
sebelumnya tergabung Moro National Liberation Front (MNLF). Pemisahan
dilakukan karena MNLF bersedia berdamai dengan pemerintah. Seperti halnya
dengan ASG, MILF juga memiliki hubungan istimewa dengan JI. MILF telah
memberikan izin untuk dilakukannya latihan militer bagi anggota JI di kampkamp yang dimilikinya. Kelompok ini juga kerap memberikan bantuan kepada
ASG yang beroperasi di Basilan dan Jolo.
51
Tabel 5
Keterkaitan Kelompok Pengguna Teror di Asia Tenggara
Kelompok
ASG
MILF
Pemberontak di
Thailand
MILF telah memberikan
izin untuk dilakukannya
latihan militer bagi
anggota JI di kamp-kamp
Bersama dengan JI,
yang dimilikinya.
ASG pernah
kelompok
memberikan tempat
pemberontak WKR
perlindungan bagi
Mantiqi 3 yang juga
bergabung dan
JI
anggota JI dari
meliputi Filipina Selatan
berjuang bersama
Indonesia yang
memiliki hubungan dekat
kaum Mujahidin di
menjadi buron.
dengan MILF dalam
Afghanistan.
mendapatkan senjata dan
bahan peledak untuk
mendukung pelatihan dan
operasi.
MILF pernah
mengirimkan sekitar 700
anggotanya untuk
mengikuti pelatihan
Pendiri ASG adalah
militer dan bergabung
teman dari petinggi
dengan mujahidin di
AQ, Osama bin Laden
Afghanistan.
dna telah mengikuti
pelatihan pada akhir
MILF mendapatkan
1980 di dekat Khost,
pbantuan pelatihan dari
WKR membantu
Afghanistan.
AQ yang dilakukan di
mujahidin berjuang
AQ
Mindanao dan
Afghanistan.
Pada Desember 1991
Afghanistan.
hingga Mei 1992,
seorang anggota Al
Salah satu anggota AQ
Qaeda mendapat tugas
membuat organisasi amal
melatih anggota ASG
di Filipina untuk
untuk membuat bom.
menyediakan bantuan
melalui pendanaan
pembangunan di bawah
kontrol MILF.
Sumber : Rohan Gunaratna, 2006. Terroris in Southeast Asia : Threat and Response.
http://counterterrorismblog.org/site-resources/image/Gunaratna-Terrorism_in_Southeast/Asia-Threat_and_Response.pdf
52
Peristiwa kelam 11 September 2001, menjadi amanat bahwa tidak satu
negara pun yang luput dari ancaman terorisme jika meninggalkan kewaspadaan
sekalipun negara sekaliber Amerika Serikat. Peristiwa 11 September, juga
mengungkap sisi internasional dari sebuah aksi terorisme, yaitu para pelakunya
yang tidak hanya terdiri dari satu kewarganegaraan saja, melainkan sebuah
jaringan hydranik yang terpencar ke berbagai pelosok dunia. Peristiwa itu juga
menyadarkan dunia bahwa kelompok islam radikal atau militant dapat menjadi
ancaman potensial bagi stabilitas keamanan global. Serangan teroris atas sasaran
sipil dan militer di Amerika Serikat tersebut telah meningkatkan kekhawatiran
terhadap keberadaan perkembangan kelompok-kelompok islam militant di seluruh
penjuru dunia, termasuk Asia Tenggara.
Hampir seluruh negara di ASEAN merasakan adanya pengaruh negative
dari keberadaan kelompok-kelompok militant di wilayahnya. Indonesia sebagai
negara ASEAN dengan jumlah umat islam terbesar memang selama ini
menjalankan syariah islam dengan moderat. Namun, tentu diantara moderatnya
200-an juta penduduk muslim Indonesia, keberadaan minoritas tetap di rasakan
mengganjal dan siap menjadi titik api konflik di kemudia hari. Terbukti kemudian
dalam peristiwa rentetan terror bom dari bom Bali, bom hotel, dan baru-baru ini
bom buku yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia yang menelan korban yang
tidak sedikit. Demikian pula dengan Filiphina. Negara tetangga Indonesia ini
sudah kurang lebih 35 tahun berperang dengan Gerilyawan muslim Moro. Bahkan
kebijakan keras Manila terhadap islam ekstrimis pimpinan Nur Misuari tersebut
berkali-kali menganggu hubungan diplomatiknya dengan Negara-negara lainnya.
53
Thailand dan Malaysia juga sempat berselisih paham mengenai keberadaan
kelompok radikal islam yang kerap melakukan aksi terror di kedua negara
tersebut. Kelompok militant Radiatul Amien tersebut terkonsentrasi di wilayah
selatan Thailand, akan tetapi di motori oleh tokoh-tokoh berkewarganegaraan
Malaysia.
Namun berbeda dengan kawasan Timur Tengah dan Amerika Serikat, aksi
terorisme di wilayah Asia Tenggara tergolong minim. Hal ini di duga erat
kaitannya dengan genesis terorisme yang pada hakikatnya adalah semangat
pembebasan dan imprealisme, sedang Negara-negara Asia Tenggara sendiri
identik sebagai korban kolonialisasi dan imprealisme di masa lalu. Sejauh ini
memang jika di tinjau dari segi kuantitas, Asia Tenggara tidak separah kawasann
lain. Dalam sebuah survey di sebutkan bahwa dalam dua dasawarsa terakhir, Asia
Tenggara hanya mengalami 186 kali aksi terorisme. Angka tersebut jauh lebih
rendah bila dibandingkan dengan 2.073 kejadian di Negara Eropa, 1.621 kejadia
di Amerika Latin, 1292 kejadian di Asia Barat , atau 1.362 kejadian di Afrika. Itu
pun dari segi kualitas aksi terorisme di kawasan Asia Tenggara kurang mendapat
ekspos ketimbang aksi terror di kawasan-kawasan lainnya.
Kalaupun sempat terjadi aksi terorisme mengejutkan seperti pembajakan
pesawat di kawasan Asia Tenggara, maka satu-satunya peristiwa adalah
pembajakan pesawat milik Garuda Indonesia di Don Muang, Thailand 28 Maret
1981. Aksi tersebut dilakukan oleh lima orang yang menklaim diri sebagai bagian
dari kelompok islam garis keras Indonesia “Komando Jihad”, yang sudah
54
melakukan berbagai aksi sabotase terhadap fasilitas-fasilitas milik pemerintah
Indonesia semenjak pertengahan 1970-an. Semula Thailand menolak dengan halus
penggunaan militer asing di wilayah teritorialnya. Akan tetapi setelah melalui
tekanan Amerika Serikat dan berkat pengertian semangat kebersamaan ASEAN,
Thailand
memperbolehkan
Indonesia
melakukan
operasi
komando
di
teriotorialnya guna membebaskan para penumpang dan awak pesawat tersebut.
Operasi militer yang di eksekusi oleh 35 pasukan khusus Indonesia itu berhasil
membebaskan semua sandera kendati menewaskan pilot pesawat dan melukai
seorang anggota regu penyelamat. Sejak peristiwa pembajakan tersebut, praktis
tidak ada tindak terorisme yang mengejutkan di wilayah Asia Tenggara hingga
dekade 2000-an.
Pasca perubahan struktural di Indonesia, pertengahan 1998 barulah
terdengar kembali tindak kekerasan bernuansa terorisme yang menelan korban
jiwa. Bulan Agustus 2000 sebuah bom plastic C4 menghancurkan kedutaan besar
Filiphina, beberapa hari sebelum sebuah bom berkekuatan besar sedang meledak
di gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) menewaskan 10 orang. Tiga bulan kemudian
serangkaian ledakan bom di berbagai kota terjadi pada malam 24 Desember 2000.
Beberapa waktu kemudian giliran Graha Cijantung di ledakkan tak lama berselang
dengan serankaian ledakan bom serupa di Makati, Filiphina, Juni 2000.
Atas maraknya aksi terror di wilayah Asia Tenggara, mantan Perdana
Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, pada surat kabar The Strait Times
mengungkapkan keprihatinannya atas sikap lamban pemerintah Indonesia yang
55
belum juga menangkap tokoh-tokoh teroris yang berada di Indonesia. Lee juga
menyebut bahwa aksi pengeboman di sebuah pusat perbelanjaan Singapura pada
awal Juli 2002 akibat tidak adanya kerjasama antar Negara sekawasan untuk
mengantisipa aksi terorisme. Salah satu indikasi pelaku peledakan adalah warga
Negara Malaysia dengan bahan peledak yang sejenis dengan bom Atrium Senen
dan Balaikota Makati. Pernyataan pejabat senior Singapura tersebut ditanggapai
keras oleh Indonesia hingga hubungan bilateral keduanya sempat mendingin.
Hanya berselang beberapa waktu setelah peristiwa gedung kembar World
Trade Center di Amerika Serikat, Asia Tenggara kembali di kejutkan oleh aksi
terorisme spektakuler. Ledakan bom di Kuta, Bali yang menelan korban jiwa
ratusan orang adalah tindak terorisme terbesar dalam sejarah Asia Tenggara.
Peristiwa tersebut seolah menyadarkan semua pihak bahwa tindak terorisme bisa
terjadi kapan dan dimana saja. Tindak terorisme tidak memilih-milih tempat,
apakah ia dilakukan di Negara yang sedang bermusuhan dengan Negara asal
pelaku terorisme ataukah di Negara yang selama ini sudah di pusingkan dengan
urusan dalam negeri, seperti Indonesia.
Peristiwa bom Bali 12 Oktober 2001, telah meninggalkan pesan bahwa
tidak ada satu pun kawasan di dunia ini yang aman dari serangan teroris. Itu
berarti Asia Tenggara termasuk salah satu kawasan yang rawan akan serangan
maupun tindak pidana terorisme lainnya. Pada peristiwa bom Bali, yang
mengejutkan masyarakat internasional sebenarnya merupakan suatu peristiwa
yang dapat di perkirakan sebelumnya andaikata negara-negara ASEAN telah
56
menerapkan kerjasama intelejen untuk mengantisipasi aksi terorisme yang
dimaksud resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1373. Indikasi-indikasi ke arah
tersebut sebenarnya sudah nampak. Beberapa hari sebelum peristiwa ledakan,
Pemerintah Amerika Serikat sudah mengingatkan akan ada serangan teroris
kepada kedutaan-kedutaan besarnya di negara-negara Asia Tenggara. Dua hari
sebelum kejadian, Amerika Serikat mengancam akan menarik seluruh korps
diplomatiknya di Indonesia jika Indonesia tidak serius menanggapi peringatannya.
Duta Besar Amerika Serikat, yang di dampangi Direktur CIA untuk kawasan Asia
Tenggara menyampaikannya secara langsung kepada Panglima TNI. Sayangnya,
reaksi para elit pemerintahan Indonesia cenderung negatif. Permintaan bantuan
keamanan ekstra dari sejumlah kilang minyak milik Amerika Serikat di tanggapi
dingin.
Selang beberapa hari setelah ledakan bom Bali Otoritas keamanan
Singapura menahan para Tokoh Rabiatul Mujahedeen, yang di golongkan sebagai
sel jaringan Al-Qaeda. Menurut pemerintah Singapura dari pengakuan tersangka
tersebut di sebutkan aksi-aksi terrorisme di Asia Tenggara erat kaitannya dengan
upaya penciptaan Pan Islam yang meliputi Singapura, Malaysia, Filipjina, dan
Indonesia. Untuk melancarkan rencana tersebut mereka akan mengadakan terror
terhadap kepentingan-kepentingan Amerika Serikat di wilayah Asia Tenggara dan
mengobarkan isu-isu rasialis, etnisitas, agama, dsb, karena cara-cara itulah yang
dipandang efektif untuk menghancurkan wibawa status quo.
57
Malaysia tidak ketinggalan dengan negara tetangganya. Selang beberapa
hari setelah tragedy bom Bali Dr. Mahatir Mohammad memerintahkan
penangkapan terhadap tokoh-tokoh Jamaah Islamiyah (JI) di negara itu. Malaysia,
Singapura, dan Filiphina menyebut Jamaah Islamiyah sebagai sel jaringan Al
Qaedah di Asia Tenggara. Di kawasan Asia Tenggara ini, Jamaah Islamiyah
menghimpun sembilan organisasi radikal islam dari tiga Negara yakni Indonesia,
Malaysia, dan Singapura, termasuk Rabiatul Mujahideen. Menurut Deputi
Perdana Menteri Malaysi pada waktu itu, Tengku Abdullah Ahmad Badawi,
Jamaah Islamiyah di duga kuat berupaya mendirikan kekhalifaan islam raya di
Asia Tenggara yang nantinya merupakan gabungan wilayah Indonesia, Malaysia,
dan Filiphina. Untuk itu, pemerintahan sekuler harus di gulingkan. Lebih lanjut,
Ahmad Badawi juga mengingatkan Bahwa Malaysia cukup potensial menjadi
pusat konsentrasi baru kegiatan terorisme mengingat semakin meningkatnya
kegiatan kaum militan (islam) di negara tersebut. Pernyataan ini disampaikan
Deputi Perdana Menteri tidak lama setelah pihak kepolisian Malaysia menyergap
13 orang penyelundup senjata di lepas Pantai Tawau, Sabah, pada tanggal 6 Juli
2002. Dari penyergapan tersebut ditemukan senapan serbu buatan Amerika
Serikat jenis M16 sebanyak 15 pucuk, 2 pistol jenis Glock dan ribuan butir
amunisi 7.62mm. Dua diantara penyelundup itu belakangan diketahui warga
Negara Indonesia anggota Majelis Mujahidin dan sisanya adalah warga Negara
Malaysia anggota Rabiatul Mujahideen.
Selang beberapa hari kemudian pemerintah Malaysia menangkap 10 orang
anggota Majelis Mujahideen yang menurut pemerintah setempat ingin membentuk
58
sebuah negara islam yang mirip dengan pemerintahn Taliban di Afghanistan. Dari
kesepuluh orang tersebut sasaran utama Malaysia adalah tokoh muda Majelis
Mujahidin bernama Adli Nik Abdul Aziz yang diduga kuat merencanakan
pembunuhan terhadap Perdana Menteri Mahatir, dan terlibat dalam pengiriman
Laskar Jihad Malaysia ke Maluku, Indonesia, yang tengah di landa konflik SARA.
Bersama Sembilan orang rekannya, Abdul Aziz dikenakan hukuman dua tahun
penjara berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional yang memang
mengijinkan pemerintah melakukan penahanan terhadap setiap pelaku ancaman
tanpa perlu proses hukum.
Tragedi Bali pada akhirnya menjadi semacam lonceng yang dengan suara
lantang menegaskan bahwa memang terorisme ada di kawasan Asia Tenggara, di
negara ASEAN. Tidak ada satupun pemimpin negara ASEAN, bisa dikatakan
demikian, yang berani menyatakan bahwa tidak ada aksi terorisme di negaranya.
Filiphina dicengkam ketakutan setelah terjadi ledakan lima bom hampir
bersamaan di Metropolitan Manila yang menewaskan 22 orang dan melukai lebih
dari 200 orang lainnya. Itulah sebabnya, Pemerintah Filiphina secara tegas juga
menyatakan perang terhadap terorisme. Aaparat keamanan sendiri kemudian
membekuk Dompol Ijajil Faisal yang dituduh sebagai pelaku pengeboman
tersebut. Dari hasil pemeriksaan di ketahui bahwa tersangka Faisal adalah salah
seorang anggota Abu Sayyaf . Tidak berapa lama kemudian, aparat keamanan
Filiphina kembali melakukan penangkapan. Kali ini giliran warga Negara
Indonesia bernama Fathur Rahman Al-Ghozi yang diciduk di perkampungan
muslim Manila. Al Ghozi ditahan, meski berhasil melarikan diri atas
59
keanggotannya di Jamaah Islamiyah disamping tuduhan menyelundupkan bahan
peledak dan senjata api ke Filiphina.
Indonesia justru melakukan hal yang sebaliknya. Yang terjadi Indonesia
malah melakukan kampanye anti barat termasuk aksi sweeping terhadap warga
Negara asing di berbagai kota. Setelah ledakan terjadi, tudingan segera diarahkan
pada badan intelejen America Serikat atau CIA atau Mossadnya Israel sebagai
pelaku bom Bali. Lebih tepatnya opini yang berkembang dari elit politik hingga
masyarakat umumnya mengarah pada kerjasama elemen-elemen tertentu yang
tidak puas di tubuh militer (TNI) dengan CIA atau Mossad. Tujuannya yaitu
mempermalukan pemerintah saat ini. Maka iniloah jalan bagi kalangan militer pro
Amerika Serikat dan Yahudi untuk kembali ke tahta kekuasaan.Opini umum
lainnya yang tak kalah simplitis menyebut elemen-elemen garis keras di tubuh
militer (TNI) yang justru bekerjasama dengan jaringan Al-Qaedah di Asia
Tenggara (Jamaah Islamiyah) untuk mendongkel kalangan pro Amerika Serikat
dan Israel. Kerjasama ini telah terbina sejak konflik kemanusiaan di Maluku dan
Poso dengan metode yang sama untuk menurunkan pemerintah yang di anggap
korup dan tak berwibawa. Tidak heran jika insiden pecah di Ambon dan Poso
sesaat ledakan bom di Kuta.
Proses disinformasi ini berkembang demikian cepat sehingga tersebar
sebagai persepsi umum dan membentuk opini publik di Indonesia. Amerika pun
menjadi berang dan sebagai tanda kemarahannya Amerika Serikat memanggil
pulang sebagian besar staf kedutaan, menghentikan segala bentuk kerjasama
kemitraan yang mengakibatkan dipulangkannya empat instruktur tamu asal
60
Amerika Serikat di kepolisian Sumatra Selatan, dan menghimbau seluruh warga
negaranya untuk meninggalkan Indonesia. Belum cukup, Amerika juga
memindahkan impor produk tekstilnya ke RRC, sehingga membuat dunia tekstil
Indonesia tenggelam dalam krisis.
Dampak terburuk yang diterima Indonesia bukan hanya sektor tekstil,
melainkan kehancuran industry pariwisata. Para wisatawan mancanegara yang
mengunjungi Bali dalm kondisi normal mencapai 5000 orang, kini hanya sekitar
1500 orang. Jika dikalkulasi selama ini seorang wisatawan membelanjakan ratarata 400 USD, maka Indonesia kehilangan pendapatan pariwisata sebesar 600.000
USD atau sekitar 5,4 miliar rupiah setiap harinya. Angka yang tidak kecil. Angka
tersebut belum termasuk kerugiaan gulung tikarnya industry pariwisata seperti
berbagai home industry cindera mata, perusahaan-perusahaan penyewaan, dan
menurunnya tingkat hunian hotel yang berujung pada pemutusan hubungan kerja.
Reaksi positif Indonesia terhadap pemberantasan terorisme walau dinilai
lamban akhirnya muncul. Menanggapi tuntutan internasional akan perlunya
sebuah perangkat hukum untuk menjerat para pelaku terorisme pemerintah Negara
itu pun mengesahkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.2/2002
tentang pemberantasan tindak terorisme . Salah satu tindakan nyata yang diambil
adalah penangkapan terhadap pimpinan pusat Majelis Mujahidin Abdullah Abu
Bakar Ba’asyir. Menurut kepolisian, Ba’asyir di tangkap atas tuduhan melakukan
perintah aksi-aksi terorisme dan rencana pembunuhan terhadap Mantan Presiden
Megawati. Sedangkan oleh Malaysia dan Singapura Ba’asyir dituduh sebagai
dalang berbagai peristiwa terror
yang dilancarkan oleh kelompok Jamaah
61
Islamiyah dan sel Al-Qaeda lainnya bersama pucuk pimpinan lainnya bernama
Ridwan Isamuddin alias Hambali yang diringkus oleh Badan Intelejen Amerika
Serikat (CIA) di New York. Menurut CIA, Hambali diduga kuat adalah komandan
operasi Al-Qaeda untuk kawasan Asia Tenggara.
62
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Respon Amerika Serikat Terhadap Terorisme di Asia Tenggara
Dalam merespon serangan terorisme tanggal 11 September, kalkulasi
kebijakan keamanan, pertahanan, dan luar negeri AS dapat dikatakan berubah
secara signifikan. Hal ini pada gilirannya telah mempebgaruhi konstelasi politik
internasional. Respon AS memang cukup keras, Presiden George Walker
Bushmenegaskan hal tersebut dengan pernyataannya bahwa AS tidak akan
membedakan antara teroris yang melakukan aksi-aksi ini dan pihak yang
melindungi mereka.51
Dengan sikapnya yang keras ini, Amerika Serikat tampaknya ingin
melahirkan semacam struktur bipolar baru yang memperumit pola-pola hubungan
antar negara. Pernyataan Presiden George W. Bush, “either you are with us or you
are wit the terrorist”, secara hitam putih menggambarkan dunia yang terpilah
dalam sebuah pertarungan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat.52
Tragedi 11 September, juga telah membuka kemungkinan berubahnya
parameter yang digunakan Amerika Serikat dalam menentukan penilaiannya
terhadap negara lain. Sekarang ini, Amerika Serikat memiliki kecenderungan
untuk lebih menghoraukan masalah terorisme ketimbang isu demokrasi dan hak
asasi manusia. Kenyataan bahwa Presiden Perves Musharraf di Pakistan naik ke
panggung kekuasaan melalui kudeta militer, misalnya, tidak lagi menjadi
Rensselaer Lee and Raphael Perl. “Terorism, the Future, and US Foreign Policy”. CRS Issue
Brief for Congress, 2002 hal 1.
52
Rizal Sukma. “Keamanan Internasional Pasca 11 September : Terorisme, Hegemoni AS dan
Implikasi Regional” hal 4.
51
63
penghalang bagi Amerika Serikat untuk menjalin aliansi anti-terorisme dengan
negara itu.53
Dengan kata lain, Amerika Serikat tampaknya cenderung menjadikan
“komitmen” melawan terorisme-dibandingkan dengan komitmen terhadap
demokrasi dan HAM-sebagai alat menilai siapa lawan dan kawan. Akibatnya,
telah terjadi pergeseran agenda global dari demokrasi dan HAM menjadi perang
melawan terorisme yang dianggap mengancam kepentingan dan keamanan
Amerika Serikat secara langsung.
Akumulasi dari pandangan-pandangan inilah yang digunakan Amerika
Serikat sebagai landasan paradigm anti-terorismenya yang kemudian menjadi
awal “kebangkitan” negara tersebut. Meskipun sebelum tanggal tragedi 11
September, telah ada indikator menuju hal tersebut, akan tetatpi pada akhirnya
tragedi 11 September, inilah yang telah memberikan sebuah titik balik kepada
pemerintah Amerika Serikat melalui pelaksanaan kampanye anti-terorisme secara
luas.
Pemerintah Amerika Serikat sendiri menganggap terorisme sebagai
kejahatan politik. Definisi itu diberikan pemerintah Amerika Serikat mengenai
terorisme adalah “the unlawful use or threat of violence against persons or
property to futher political or social objectives”. Untuk itu sejak awal pemerintah
Amerika Serikat bersikap tegas, tidak melakukan kompromi, dan menolak
melakukan negosiasi dengan kelompok terorisme karena menganggap negosiasi
hanya akan memperkuat posisi kelompok terorisme tersebut. Pemerintah Amerika
53
ibid
64
Serikat menolak setiap upaya negosiasi dengan kelompok teroris, baik itu berupa
upaya pembayaran tebusan, perubahan kebijakan, penukaran atau pembebasan
tawanan. Sikap Amerika Serikat ini kemudian diikuti oleh negara barat sekutunya.
Sikap tegas pemerintah Amerika Serikat terhadap masalah terorisme ini juga
di pengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, terorisme dianggap sangat
membahayakan kepentingan nasional Amerika Serikat. Terutama karena
seringnya warga negara, gedung kedutaan maupun perusahaan milik Amerika
Serikat menjadi sasaran tindakan terorisme. Antara tahun 1995-2000, 109 warga
negara Amerika Serikat terluka setiap tahunnya akibat terorisme. Kedua, tindakan
terorisme juga seringkali dianggap mengganggu proses perdamaian yang telah
diupayakan Amerika Serikat selama lebih dari dua puluh tahun di Timur Tengah
dalam masalah konflik Arab-Israel. Ketiga, terorisme juga mengancam stabilitas
keamanan di negara-negara yang menjadi aliansi Amerika Serikat. Keempat,
terorisme selalu terkait dengan tindakan kekerasan sehingga dianggap
bertentangan dengan prinsip demokrasi dan HAM. Dengan keempat faKtor di atas
yang dianggap sangat merugikan kepentingan Amerika Serikat, maka negara ini
merasa berhak berada di posisi paling depan dalam upaya melawan terorisme
internasional.
Sejak 25 Desember 2001, Amerika Serikat memberlakukan UU baru yang
di sebut Patriot Act 2001. Undang-undang ini dengan keras menyatakan
menentang terorisme dan berbagai kegiatan yang mendukungnya atau bersentuhan
dengan aksi terorisme dinyatakan dilarang. Terutama, larangan pemberian
bantuan dana pada jaringan terorisme harus diberlakukan. Dalam upaya melawan
65
terorisme ini, Amerika Serikat juga menggunakan kekuatan ekonominya sebagai
senjata, selain dengan cara embargo ekonominya sebagai senjata yang sudah
lazim dipergunakan di dalam hubungan internasional, Amerika Serikat juga
berusaha mematikan seluruh jaringan bisnis dari kelompok yang di curigainya
sebagai kelompok teroris dan pendukungnya di seluruh dunia. Meskipun diyakini
Undang-Undang ini belum sempurna, karena dapat menimbulkan penyalahgunaan
kekuasaan dan bertentangan dengan hak kebebasan sipil warga negara sebab
memberikan kekuasaan kepada polisi dan pihak intelejen untuk melakukan semua
tindakan yang dianggap perlu demi memberantas terorisme dan pihak yang diduga
melindungi dan memberikan bantuan keuangan terhadap gerakan ini. Kongres
bersedia mengesahkan dalam waktu singkat.
Terorisme merupakan kejahatan terhadap sipil, karena pada akhir rakyat
yang tidak berdosa yang menjadi korban paling banyak dalam setiap kejahatan
teroris, untuk itu perang terhadap terorisme tidak dapat di tangguhkan lagi dan
tragedy Black Tuesday tidak boleh terulang kembali.54 Hal ini menjadi factor.
Kongres Amerika Serikat menyetujui anggaran sebesar 14 milyar dollar untuk
program pemberantasan terorisme, termasuk dalam usaha ini adalah bantuan
pembaruan hukum kepada negara lain sehingga setiap negara yang mendukung
pemberantasan terorisme memiliki landasan dalam tindakannya. Pembaharuan
bidang hukum itu lebih diutamakan, sebab Amerika Serikat ingin pemberantasan
terorisme di seluruh dunia harus tetap mengacu pada hukum. Terorisme dianggap
bukan sekedar ancaman fisik atau keamanan, melainkan tindakan multi sektor,
54
Collin Powel, A Strategy of Patnership, Foreign Affairs, 2004, hal.22
66
sehingga harus dihadapi dari berbagai bidang secara bersama-sama. Pembaharuan
hukum itu, terutama diarahkan untuk menghadapi dan membekukan financing
terrorism. Setiap negara diharapkan mempercepat pembuatan peraturan yang
melarang perijinan money loundering , dan menghalangi masuknya uang teroris
ke dalam industri legal di Amerika Serikat dengan pasal hukum yang disebut
Willfull Blindes.
Amerika Serikat juga menggunakan beberapa strategi containment policy
yang pernah digunakan dalam era Perang Dingin, yaitu pemberian bantuan social
dan ekonomi dengan tujuan pembangunan semacam Marshal Plan di Eropa
setelah Perang Dunia II berakhir. Penyebarluasan nilai-nilai demokrasi yang
dianut Amerika Serikat melalui berbagai kerjasama antara LSM dan organisasiorganisasi pemerintahan Amerika Serikat, maupun pembentukan pemerintahan
baru yang pro demokrasi. Kemiskinan dianggap merupakan salah satu factor yang
menyebabkan kelompok-kelompok teroris di negara berkembang. Dengan
menguatnya ekonomi dan menyebarluaskan kemakmuran di wilayah-wilayah
yang rentan terhadap terorisme dianggap dapat membantu menciptakan stabilitas
dan perdamaian dunia. Meskipun dianggap kurang efektif dibandingkan
penggunaan kekuatan militer, strategi semacam ini tetap perlu dilakukan demi
kepentingan jangka panjang. Sebagian pihak bahkan menyanggah kemiskinan
sebagai factor yang melahirkan terorisme juga lahir di negara-negara maju dan
relative makmur.
67
Osama Bin Laden sendiri lahir dari keluarga kaya dan berpengaruh di Arab
Saudi. Sehingga, upaya perlawanan terhadap terorisme melalui upaya pengentasan
kemiskinan oleh Marshal Plan dianggap kurang efektif.
Kebijakan Amerika Serikat yang cukup kontroversial lainnya adalah UU
The Anti-Terorism dan Efektive Death Penalty Act tahun 1996, yang secara umum
melegitimasi setiap kebijakan pemerintah memerangi terorisme di dalam dan di
luar negeri. Termasuk dalam kewenangan pemerintah Amerika Serikat.
Berdasarkan UU ini adalah melakukan ekstradisi bagi para teroris yang
melakukan penyerangan terhadap warga negara dan property Amerika Serikat
untuk diadili di Amerika Serikat, dan pemerintah Amerika Serikat juga berhak
membekukan aset keuangan pihak-pihak yang dicurigai melakukan kegiatan
terorisme di Amerika Serikat. Hal itu tentu saja menimbulkan polemik dalam
hubungan bilateral Amerika Serikat dengan negara lain yang tidak mudah
diselesaikan karena tidak semua negara mau menyerahkan warga negaranya untuk
di adili di Amerika Serikat, terlebih lagi karena berdasarkan UU yang terbukti
bersalah melakukan terorisme dapat dijatuhi hukuman mati.
Amerika Serikat bergabung dengan banyak negara untuk melawan teroris.
Kerjasama atau koalisi pemberantasan teroris ini berlandaskan empat prinsip.
Pertama, tidak ada konsesi terhadap terorisme dan akan menolak untuk tawarmenawar dengan mereka. Kedua, bertujuan unuk membawa teroris guna diadili
terhadap kejahatan yang telah dilakukannya. Ketiga, akan mengisolasi terorisme
agar mau mengubah sifatnya. Keempat, akan memperkuat kemampuan antiterorisme diantara negara yang mau bekerjasama dan yang membutuhkan
68
bantuan. Amerika Serikat mempunyai program pelatihan anti-terorisme yang di
tawarkan kepada sejumlah negara sahabat. Hingga tahun 2001 telah lebih dari
15.000 personel dari 80 negara pernah ikut serta dalam pelatihan ini. Berbagai
upaya melawan terorisme internasional ini terus diambangkan Amerika Serikat.
Hal ini disebabkan karena organisasi teroris juga semakin beragam dalam
memotivasi kegiatannya juga semakin canggih baik dalam persenjataan dan
pengorganisasiannya.
Secara sepihak, upaya yang telah dilakukan oleh Amerika Serikat dalam
melawan terorisme adalah pertama, mengisolasi negara memberikan dukungan
terhadap kelompok teroris agar negara tersebut menghentikan bantuannya. Kedua,
memperkuat peraturan dan hukum yang pada intinya melawan tindakan terorisme
melalui berbagai kerjasama internasional. Ketiga, bersikap tegas dan menolak
upaya tawar menawar maupun negosiasi yang diminta kelompok teroris.
Kebanyakan tindakan terorisme terhadap Amerika Serikat ditujukan kepada
Amerika Serikat dilakukan diluar negeri, sehingga upaya melawan terorisme
internasional ini Amerika Serikat jelas memerlukan dukungan negara-negara lain
karena masalah terorisme internasional ini sangat kompleks dan harus
ditanggulangi dengan kerjasama.
Amerika Serikat menekan negara yang dianggap sebagai sponsor atau
melindungi kelompok terorisme. Hal ini penting dilakukan karena selama masih
ada dukungan dana dan moral, menyediakan tempat persembunyian, memasok
persenjataan, maupun memberikan bantuan logistic maka upaya pemberantasan
terorisme akan sulit dilaksanakan.
69
Setiap tahun Amerika Serikat melakukan pemetaan dan menganalisa
kebijakan setiap negara terhadap terorisme dalam tiga kelompok, yaitu negara
sponsor terorisme dan negara-negara tidak sungguh-sungguh menanggulangi
kegiatan terorisme. Kebijakan yang diterapkan apakah itu tekanan ekonomi,
diplomatic, maupun militer akan dilakukan sebagai tindak lanjut dari hasil
pemetaan dan pengelompokan tersebut terhadap negara-negara terkait. Contoh
upaya Amerika Serikat agar negara tersebut mau bekerjasama dengan Amerika
Serikat dalam melawan terorisme dalam melalui tekanan ekonomi. Amerika
Serikat akan memveto pinjaman yang akan diberikan lembaga-lembaga donor
internasional kepada negara pendukung terorisme. Sehingga, negara-negara
tersebut
mengalami
kesulitan
ekonomi
untuk
melakukan
pembangunan
nasionalnya.
B. Strategi Kebijakan Amerika Serikat Dalam Menghadapi Terorisme Di
Asia Tenggara
Peristiwa peledakan bom di Legian, Bali (2002), telah membawa makna
tersendiri bagi masyarakat akan bahaya perkembangan teror-teror dalam entitas
masyarakat sipil di Indonesia. Tragedi yang memiliki dampak sangat besar serta
membawa trauma yang mendalam bagi pemerintah (khususnya pada saat itu
Pemerintahan Megawati) dan masyarakat dalam melihat perkembanganperkembangan tindakan terorisme.
Dalam
menangani
aksi
teroris
itu,
Indonesia
perlu
meyakinkan
masyarakatnya bahwa ancaman teroris sudah mencapai tahap yang sangat
membahayakan. Oleh karena itu Indonesia melakukan langkah pro aktif untuk
70
memerangi aksi teror tersebut. Sedangkan dalam kebijakan politik luar negeri
Indonesia harus menunjukkan keseriusan dan konsistensinya dalam melakukan
kerjasama bilateral, regional maupun multilateral untuk memerangi bahaya atau
ancaman terorisme global.
Sejak insiden di Bali, Indonesia cenderung dituding sebagai wilayah bagi
kegiatan Al-Qaeda dengan jaringannya Jamaah Islamiyah. Para ahli mengatakan
bahwa serangan-serangan teroris di Indonesia, termasuk pengeboman gereja dan
pusat pembelanjaan (masing-masing terjadi pada tahun 2000 dan 2001) berkaitan
dengan kegiatan terorisme internasional. Mengenai tuduhan bahwa Indonesia
menjadi tempat bagi kegiatan Al-Qaeda, Menteri Pertahanan Indonesia pernah
menggarisbawahi bahwa kegiatan Al-Qaeda memang eksis di Indonesia.
Sebelumnya, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Hendropriyono juga pernah
menyebutkan bahwa teroris asing pernah berlatih di Sulawesi. Meskipun
demikian, Indonesia harus lebih berhati-hati dalam menanggapi pernyataan
beberapa negara Barat itu. Pada intinya Indonesia dan Amerika Serikat sepakat
dengan tegas untuk memerangi aksi terorisme internasional. Dalam kerangka
kerjasama anti terorisme, pihak Administrasi Amerika Serikat merencanakan akan
mengajukan anggaran sebesar US$ 14 juta untuk Indonesia tahun 2005.
Kerjasama ini lebih diarahkan kepada pihak Kepolisian Indonesia (Polri).
Kerjasama yang dilakukan Indonesia dengan masyarakat internasional
dalam menangani masalah pasca bom di Bali pada Oktober 2002, dinilai berhasil
dan merupakan contoh bagi upaya membangun kekuatan melawan terorisme.
Dalam pernyataannya yang dikeluarkan Deplu AS di Washington, Rabu, Realuyo
71
mengatakan, setelah peristiwa di Bali tersebut komunitas internasional bersamasama membantu Indonesia untuk menghadapi masalah terorisme. “Setelah bom
yang mengejutkan itu, Indonesia tanpa kenal lelah bekerja dengan pihak
internasional untuk memperkuat pertahanan melawan ancaman terorisme,
termasuk upaya untuk menghentikan aliran dana teroris,” katanya.
Dalam menjalankan kebijakan anti terorismenya, Amerika Serikat
menggunakan platform kebijakan preemptive dan preventive.55. Kebijakan
preemptive adalah kebijakan jangka pendek yang ditujukan untuk mengantisipasi
secara cepat potensi serangan terorisme. Sedangkan kebijakan preventive adalah
kebijakan jangka menegah dan jangka panjang yang sifatnya tidak terlalu agresif.
Inti dari kebijakan preemptive
adalah penerapan strategi menyerang
sebelum diserang. Melalui doktrin ini, Amerika Serikat secara sepihak
memberikan hak kepada dirinya sendiri untuk mengambil tindakan terlebih
dahulu, khususnya melalui tindakan militer unilateral, untuk menghancurkan apa
yang di persepsikannya sebagai kemungkinan ancaman terror terhadap
kepentingan Amerika Serikat kapanpun dan dimanapun.
Di sisi lain, kebijakan preventive merupakan strategi untuk menghilangkan
kondisi-kondisi yang dapat mendukung kemunculan, perkembangan dan
pertumbuhan organisasi terorisme. Kebijakan ini mencakup antara lain
peningkatan pertahanan keamanan, penegakan hukum dan demokrasi, mengurangi
tingkat kemiskinan dan lain-lain.
Scott Moore “The Preemptive and Preventive Use of Force in the Age ogf Global Terror”.
http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-transitional.dtd. Diakses 22 Mei 2011
55
72
Selanjutnya, sejalan dengan doktrin preemptive dan preventive, Amerika
Serikat kini tampil sebagai negara adidaya tunggal yang meyakini bahwa
pendekatan militer merupakan pendekatan terbaik yang dapat dilakukan dalam
usaha memenuhi dan melindungi kepentingan-kepentingan keamanannya.56
Penekanan kepada pendekatan militer itu terlihat juga melalui peningkatan
anggaran pertahanan yang signifikan dalam pemerintah Amerika Serikat sejak
tragedy 11 September, peran Pentagon yang dominan dalam menjalankan
kebijakan luar negeri, dan peningkatan bantuan militer kepada pemerintah di
negara-negara yang di harapkan Amerika Serikat dapat menjadi mitra dalam
perang melawan terorisme, seperti Pakistan, Filiphina, Indonesia, dan negaranegara lain di Asia Tenggara dan Timur Tengah.
Diselaraskan dengan dua platform kebijakan tersebut, kebijakan anti
terorisme Amerika Serikat secara konseptual meliputi empat pilar utama, yaitu
defeating, denying, diminishing, dan defending. Empat pilar tersebut dijabarkan
sebagai berikut :
a. Defeating: bersama dengan sekutu-sekutunya, Amerika Serikat
mengalahkan teroris dengan cara menyerang markas, pemimpin, dan
seluruh infrastruktur gerakan mereka.
b. Denying :
menentang dan menolak segala bentuk bantuan,
dukungan serta perlindungan terhadap teroris. Tujuan utama strategi
ini adalah untuk menjaga agar negara lain menghalanhi segala
usaha-usaha tersebut dalam wilayah kekuasaan mereka.
Rizal Sukma . “Keamanan Internasional Pasca 11 September: Terorisme, Hegemoni AS dan
Implikasi Regional” Hal5
56
73
c. Diminishing : memperbaiki kondisi yang mendukung munculnya
terorisme dengan mendukung pertumbuhan ekonomi, perkembangan
politik, penciptaan erkonomi berbasis pasar, dan penegakan hukum.
d. Defending : melindungi warga negara dan kepentingan-kepentingan
Amerika Serikat di dalam dan di luar negeri termasuk perlindungan
infrastruktur dan cyber.57
Empat pilar tersebut dikombinasikan dengan penggunaan sarana-sarana
startegis Amerika Serikat berupa :
a. Pendekatan Diplomasi : Penggunaan diplomasi untuk membantu
menciptakan koalisi global anti-terorisme merupakan komponen
utama dalam kebijakan anti-terorisme Pemerintah Amerika Serikat.
Dalam hal ini, media massa juga menjadi sarana diplomasi yang kuat
dalam menghadapi teroris dengan cara membangun ketertarikan dan
mempengaruhi cara berfirik masyarakat.
b. Sanksi Ekonomi : Jika sebelumnya saksi ekonomi hanya diberikan
kepada negara yang aktif mendukung atau mensponsori terorisme
internasional, maka pada saat sekarang, sanksi dapat juga dikenakan
pada asset-aset yang dikelola langsung kelompok terorisme, seperti
pembekuan asset pribadi para tersangka terorisme.
c. Bantuan Ekonomi : Tindakan ini merupakan bentuk usaha mengubah
kondisi social ekonomi yang mendukung berkembangnya terorisme.
Raphael Perl. “US Anti-Terror Strategy and the 9/11 Commission Report”. CRS Report for
Congres 2004 hal 3
57
74
Dengan pengurangan angka kemiskinan diyakini akan dapat
mengubah pola hidup dan menekan potensi-potensi terorisme.
d. Aksi Tertutup : Tindakan ini meliputi pengumpulan data intelejen,
penyergapan kelompok teroris, dan operasi militer bersifat rahasia.
Sebagian besar tindakan ini ditujukan untuk mengawasi dan mencari
tahu tujuan, kemampuan atau bahkan rencana strategis organisasi
teroris
e. Penawaran hadiah untuk informasi yang berguna : Model ini
dipakai karena terbukti berhasil dalam menangani penyelundupan
obat-obatan terlarang dan pemberontakan di beberapa negara.
f. Kerjasama dalam penegakan hukum dan ekstradisi : Kerjasama
internasional di bidang penegakan hukum, pengawasan, dan kegiatan
intelejen termasuk dalam bagian esensial dari kebijakan antiterorisme pemerintah Amerika Serikat. Kebijakan ekstradisi dalam
hal ini termasuk yang krusial mengingat banyak negara yang
membatasi perjanjian ekstradisi khususnya yang sifatnya politis.
g. Kekuatan militer : Penggunaan kekuatan militer bukanlah hal yang
menjadi kendala bagi negara dengan kekuatan militer seperti
Amerika Serikat. Untuk penanganan terorisme di tingkatan domestic
maupun internasional, Amerika Serikat di dukung oleh kepemilikan
senjata canggih dan mutakhir.
h. Konversi Internasional : Amerika Serikat bersama dengan
komunitas
internasional
telah
dan
sedang
mengembangkan
75
konvensi-konvensi internasional dalam penanganan terorisme.
Konvensi-konvensi tersebut mengajak keterlibatan dalam sebuah
misi menghukukm para pelaku terror atau mengekstradisi mereka ke
negara tempat aksi berlangsung.58
Sarana yang dimiliki Amerika Serikat dalam kampanye anti terorismenya
kemudian diimasukkan dalam kebijakan anti terorisme Amerika Serikat untuk
skala internasional dan menghasilkan strategi-strategi pengamanan bagi
kepentingan Amerika Serikat di luar negeri.
Dari strategi-strategi tersebut, beberapa diantaranya memiliki dampak luas
dalam konstalasi politik internasional. Strategi yang diamksud adalah penolakan
terhadap segala bentuk bantuan kepada terorisme. Dalam hal ini targetnya adalah
menjaga agar negara lain mengambil langkah yang sama dengan Amerika Serikat
dalam wilayah kekuasaan mereka. Implementasi dari strategi ini meliputi :
a. Merumuskan kebijakan yang dapat membuat negara sponsor teroris
mengubah kebijakan mereka.
b. Membentuk dan mengkampanyekan standarisasi internasional dalam
mengangani terorisme.
c. Memusnahkan tempat perlindungan teroris
d. Menghalangi lalu lintas darat, air, udara, dan cyber dalam rangka
memutuskan akses teroris terhadap senjata, pendanaan.59
CRS Issue Brief for Conggress : Terrorism, the future, and U.S. Foreign Policy.”
http://www.iwar.orang.uk/news-archive/crs/9040.pdf Diakses tanggal 22 Mei 2011
59
Raphael Perl. “U.S. Anti-Teror Stategy and the 9/11 Commission Report
http://www.fpc.state.gov/documents/organizations/44943.pdf. Diakses 22 Mei 2011
58
76
Peran Amerika Serikat Dalam Mengatasi Munculnya Terorisme
Dalam hal ini Amerika Serikat bukan sedang mengincar umat Islam,
melainkan terorisme. Hanya, kebetulan teroris itu beragama Islam. Pemerintah
Amerika Serikat memang tidak bermaksud untuk memproduksi makna Islam
dengan terorisme. Juga tidak berniat untuk menciptakan benturan antar peradaban,
sebagaimana diteorikan Samuel P. Huntington “Dunia sekarang semakin
menyempit. Interaksi antara orang yang berbeda peradaban semakin meningkat.
Peningkatan interaksi ini, selain mempertajam kesadaran dan rasa perbedaan
peradaban antara orang-orang atau masyarakat yang berbeda, juga mempertajam
kesadaran akan kesamaan-kesamaan yang terdapat dalam peradaban-peradaban
itu.
Terorisme, menurut Martha Crenshaw, pada dasarnya merupakan tindakan
yang dilakukan guna mengekspresikan strategi politik. Tindakan tersebut
memiliki motif-motif politik. Teroris dan Islam adalah dua term yang seringkali
secara tidak disadari dipadukan sehingga menimbulkan kesan bahwa Al-Qaeda
dan Osama adalah representasi kekuatan Islam yang sedang menggeliat dan
memberontak dengan menggunakan aksi teror atau kekerasan. Pemaduan ini
menjadi berbahaya dan tidak kondusif bagi perkembangan keduanya, Barat dan
Islam. Sebab, masing-masing akan terjebak pada stereotipe yang tidak
menguntungkan bagi masa depan peradaban global.
Perang melawan terorisme adalah perang yang tidak bisa hanya dilakukan di
medan perang, melainkan di berbagai bidang. Selain melalui diplomasi, perang
bisa dilakukan dengan menggalang kerja sama intelijen, pembekuan aset financial,
77
hingga pencegahan imigrasi illegal. Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia,
Ralph L Boyce, dalam kuliah umum berjudul “US-Indonesian Relations in the
Post-September 11 World” di Universitas Paramadina, Jakarta, menjelaskan
bahwa terorisme itu harus diperangi melalui bidang diplomatik, melalui kerja
sama intelijen dan saling berbagi informasi serta membangun koalisi. Di bidang
finansial, harus ada kerja sama untuk membekukan asaet-aset teroris serta kerja
sama domestik dan internasional untuk mencegah praktik pencucian uang dan
imigrasi illegal.
Strategi Amerika Serikat bukan sekedar menangani ancaman nyata. Yang
lebih tandas dari itu adalah mengalahkan sumber ancaman itu. Namun, sayangnya,
fokus yang amat terarah ke garis depan dalam memerangi terorisme membuat
orang sulit memahami strategi Amerika Serikat. Walau Pemerintah Amerika
Serikat tampaknya berhasil mengembangkan strategi kebijakan luar negeri yang
masuk akal, tak mudah membuat orang mengerti kebijakan tersebut. Kemudian
dalam visi pemerintahan Bush-Powell kembali menjelaskan persoalan itu secara
lebih luas. Presiden Bush mempunyai banyak strategi yang pertama kali
dijabarkan secara tebuka pada September 2002 dalam Strategi Keamanan
Nasional AS (National Security Strategy of the United State/NSS). Dalam
dokumen setebal hampir 40 halaman itu, NSS menjabarkan prioritas kebijakan AS
menjadi delapan bab sebagai sebuah strategi yang terintegrasi secara luas dan
dalam, sesuai kesempatan maupun tantangan yang dihadapi AS. Tentu saja sebuah
dokumen strategi yang ditujukan bagi publik tak akan bisa sepenuhnya terbuka
supaya tidak diketahui musuh-musuh kami. Meskipun demikian, dokumen ini
78
dengan jujur merefleksikan kepribadian presiden, yang dengan konsistensinya
mengatakan apa yang dia maksudkan dan meyakini apa yang dia katakanya.
Peristiwa WTC bagi Amerika Serikat sendiri merupakan pukulan telak bagi
supremasi adidaya, yang menuntut respon dalam bentuk “perang” terhadap
terorisme. Hal ini tentunya juga membuka mata bagi negara lainnya, ini
menyadarkan mereka bahwa ancaman serius terhadap kemanusiaan dapat
mengambil bentuk yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, tragedy WTC
dan respon AS terhadap terorisme merupakan awal dari terbangunnya sebuah
tatanan politik dunia yang ditandai oleh meningkatnya ancaman non-tradisional
(khususnya dalam bentuk terorisme) dan hegemoni AS sebagai adidaya tunggal.
Serangan menara kembar dimanfaatkan oleh Amerika Serikat untuk
merubah kebijakan keamanan, pertahanan, dan luar negeri AS, dan akan
mempengaruhi politik dunia internasional.
Pertama, dengan sikap kerasnya, AS tampak ingin melahirkan semacam
struktur bipolar baru. Pernyataan Presiden George W. Bush, “either you are with
us or you with terrorist”, secara jelas menggambarkan dunia yang terpilah dalam
sebuah pertarungan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat.
Kedua, tragedy 11 September, juga telah membuka kemungkinan
berubahnya parameter yang digunakan AS dalam menilai seuah negara. Sekarang
ini, AS cenderung lebih mengkhawatirkan masalah terorisme daripada isu
demokrasi dan hak asasi manusia.
79
Ketiga, ditambah dengan adanya kecenderungan yang mengaitkan islam
dengan terorisme di kalangan para pengambil kebijakan di AS, tatanan politik
global semakin diperumit oleh ketegangan antara AS dengan negara-negara Islam
ataupun negara dengan penduduk mayoritas islam.
Keempat, untuk mengantisipasi kemungkinan serangan-serangan teroris di
masa depan, AS membentuk sebuah doktrin baru,yakni doktrin preemption.
Melalui doktrin ini, AS secara sepihak memberikan hak kepada dirinya sendiri
untuk mengambil tindakan terlebih dahulu, khususnya melalui tindakan militer,
untuk menghancurkan apa yang dianggapnya berpotensi sebagai ancaman terror
terhadap kepentingan AS dimana saja, termasuk Asia Tenggara. Doktrin
Preemption tersebut jelas meresahkan banyak negara, dan dapat mengubah
tatanan, nilai dan norma-norma hubungan antarnegara. Dalam konteks doktrim
preemption, prinsip kedaulatan negara, arti penting dan peran institusi-institusi
multilateral seperti PBB dan organisasi regional, serta ketentuan-ketentuan hukum
internasional dapat saja diabaikan.
Kelima, AS kini tampil sebagai negara adidaya tunggal yang sangat yakin
bahwa pendekatan militer merupakan pendekatan terbaik dalam memenuhi dan
melindungi kepentingan-kepentingan kepentingannya. Aksi serangan militer ke
Afghnaistan dan invasi ke Irak merupakan contoh nyata dari pendekatan ini.60
Dari strategi yang di terapkan AS di atas, tersirat bahwa AS berusaha untuk
menunjukkan hegemoninya kepada dunia dan adanya keinginan untuk memerangi
Rizal Sukma . “Keamanan Internasional Pasca 11 September: Terorisme, Hegemoni AS dan
Implikasi Regional” Hal 6-7
60
80
teroris yang sampai dengan saat ini identik dengan dunia islam. Penggiringan
opini bahwa pelaku adalah umat islam, terlepas dari tanpa bukti dan fakta,
menyebabkan antipati publik terhadap islam. Terlebih lagi beberapa kelompok
islam yang dituding sebagai pelaku tindak terorisme menunjukkan indikasi
membenarkan aktivitas-aktivitas tersebut.
Asia Tenggara dengan jumlah muslim terbanyak tentunya menjadi sorotan
bagi Amerika Serikat dalam penerapan kebijakannya. Malaysia memberlakukan
Undang-Undang yang akan memungkinkan negosiasi perjanjian bantuan hukum
timabal balik dengan negara lain. Malaysia telah menandatangani deklarasi anti
terorisme dari kerjasama dengan Amerika Serikat, dan menyetujui pembentukan
pusat pelatihan anti-terorisme regional di Kuala Lumpur.
Indonesia, pada tahun 2005 Bush menyetujui partisipasi Indonesia Military
Education and Training (IMET). Dan diteruskan dengan keputusannya Bush pada
Mei 2005 untuk mengaktifkan kembali non-lethal Foreign Military Sales (FMS)
di Indonesia dan November 2005 diputuskan juga untuk membatasi Foreign
Military Financing (FMF) karena kekhawatiran keamanan nasional AS.
Filiphina, Pemerintahan Bush mendukung kebijakan pemerintah Filiphina
menerapkan militer untuk menekan Abu Sayyaf dan mencari penyelesaian yang di
negosiasikan dengan MILF. Pada tahun 2002, Amerika memasukkan 1.300
pasukan ke Filiphina Selatan untuk membantu Filiphina dalam Operasi melawan
Abu Sayyaf di Pulau Brasilian daya Mindanao. Thailand, Pembentukan Counter
Terrorism Intellegence Center (CTIC) tahun 2001 yang merupakan kerjasama
Thailan dengan dinas Intilejen AS, CIA.
81
Tekad AS memerangi terorisme bukanlah sebuah ungkapan kemarahan
semata. Kesungguhan AS dalam hal ini terlihat jelas ketika AS menjadikan “war
against terrorism” sebagai salah satu bagian dari Strategi Keamanan Nasional AS
2002 (National Security Strategy/NSS). Dan upaya AS memberantas terorisme ini
tidak terbatas pada wilayah teritorial AS saja, tetapi juga diseluruh penjuru dunia,
dimana kelompok-kelompok militan dan teroris bersembunyi. Afganistan
bukanlah
satu-satunya
wilayah
dimana
AS
berusaha
menangkap
dan
menghancurkan kelompok taliban dan Al-Qaeda. Tetapi ribuan kelompok teroris
yang terlatih secara militer dan sebagian besar diantaranya merupakan jaringan
Al-Qaeda, telah tersebar di berbagai kawasan seperti belahan benua Amerika utara
dan selatan, Eropa, Afrika, Timur Tengah, serta Asia.61
Hal tersulit yang ditemukan dalam perang melawan terorisme adalah untuk
menemukan musuh. Karena musuh disini bukan lagi negara, tetapi kelompokkelompok orang yang membentuk jaringan-jaringan teroris. Untuk itu AS
menegaskan bahwa dibutuhkan kerjasama yang baik antar negara dan kawasan
agar kampanye ini menjadi efektif.62
Akan tetapi, meyakinkan dunia bahwa war against terorrism juga
merupakan upaya AS untuk menciptakan keamanan dan perdamaian masyarakat
internasional yang lebih baik, bukanlah hal yang mudah. Penyebab utamanya
adalah karena terjadi perdebatan diantara negara-negara mengenai terminologi
terorisme itu sendiri, termasuk pro dan kontra mengenai kategori kelompokkelompok yang ditetapkan sebagai teroris internasional.
61
62
The National Security Strategy of The United States of America.2002 hal 5
Ibid. hal 6
82
Oleh karena itu AS memandang perlu mengadakan perang terhadap
pemikiran-pemikiran untuk memenangkan pertempuran melawan terorisme
internasional. Cara-cara yang akan dilakukan AS meliputi:

Dengan mempergunakan pengaruh besar AS dan bekerjasama dengan
negara-negara sahabat dan sekutu, Menegaskan bahwa seluruh tindakan
terorisme adalah “haram” sehingga terorisme akan dipandang setara
dengan perbudakan, pembajakan, serta pembunuhan masal. Dengan
demikian tidak ada negara yang dapat menghargai atau mendukung prilaku
teroris, sebaliknya harus ditentang.

Mendukungi pemerintahan moderat dan modern khususnya dikawasan
dengan penganut mayoritas muslim, untuk menjamin bahwa tidak ada
tempat dimana kondisi dan ideologi yang membantu kemajuan
perkembangan terorisme

Mengurangi kondisi-kondisi yang menimbulkan terorisme dengan cara
membuat masyarakat internasional untuk fokus terhadap sumber-sumber
yang menimbulkan kondisi tersebut

Mempergunakan diplomasi publik yang efektif untuk memajukan aliran
informasi yang bebas untuk membangkitkan harapan-harapan dan aspirasi
kebebasan dalam lingkungan yang ruled by the sponsors of global
terorism.63
63
Ibid. hal 6
83
C. Peluang dan Tantangan Amerika Serikat dalam Menghadapi Terorisme
di Asia Tenggara
Peristiwa ledakan bom di Gedung WTC 11 September 2001 yang lalu cukup
memberikan pengaruh pada situasi politik internasional belakangan ini. Menyusul
ledakan WTC ini. Presiden AS, George W. Bush berpidato, “Amerika beikut
sahabat dan aliansi kami akan bergabung dengan semua pihak yang menginginkan
perdamaian dan keamanan di dunia ini. Kita akan bersama-sama berdiri melawan
dan memenangkan peperangan terhadap terorisme”.
Masalah memberantas ini kemudian menjadi urusan bersama dunia. Tak
pelak lagi, hampir seluruh kepala negara-negara di dunia, termasuk penguasa di
negeri-negeri Islam, tunduk pada tuntutan AS. Perang melawan ‘terorisme‘, kini
telah menjadi kebijakan politik luar negeri AS yang dominan.
Pada masa kepemimpinan yang baru, Obama menggunakan pendekatan
baru dalam mengelola perang terhadap terorisme. Strategi baru ini menurutnya
adalah pendekatan realis yang di rancang untuk memperbaiki reputasi moral
Amerika Sekaligus memperkuat keamanan nasionalnya, tidak seperti kebijakan
Bush yang divergen sebelumnya.
Obama berusaha memisahkan dua tantangan yang diidentifikasinya saling
terkait tetapi keduanya sangat berbeda. Tantangan pertama adalah apa yang
disebutnya immediate-near term challenge yakni persistent-evolving Al-Qaedah
and its affliation. Terhadap tantangan ini, Obama menegaskan sikapnya pada
inagurasi “our nation is at war against a far-reaching network of violence and
hatred. And to win this war against Al-Qaedah, the administration continues to be
84
unrelenting, using every tool in its toolbox and every arrow its quiver”. Untuk
menghadapinya, Presiden Amerika Serikat ini mengoptimalkan kekuatan militer
termasuk meningkatkan kapabilitas terutama angkatan darat dan angkatan laut,
memimpin rezim global nonproliferasi, adaptasi, dan penguatan komunitas
intelijen termasuk peningkatan kemampuan linguistic-kultural, kolaborasi dan
koordinasi dengan partner intelijen luar negeri.
Adapun tantangan kedua adalah apa yang disebutnya sebagai long term
challenge-the threat of violent extremism generally, termasuk factor-faktor politik,
ekonomi dan sosial yang dinilai menjadikan banyak individu berada dalam jalur
kekerasan, maka pendekatan militer, operasi intelijen dan penegakan hukum saja
menurutnya tidak akan mampu mengatasi masalah ini.
Ada lima elemen pendekatan Obama untuk mengatasi masalah ini, yaitu :
1. Perlawanan terhadap teroris, khususnya di kawasan Asia Tenggara
diletakkan pada posisi yang tidak lagi mendistorsi keamanan nasional dan
kebijakan luar negeri AS tetapi menjadi bagian penting dari kebijakankebijakannya yang lebih luas tersebut.
2. Obama tidak lagi menggunakan War On Terrorism untuk mendefinisikan
tantangan AS karena menurutnya terorisme tidak lain adalah taktik atau
alat untuk mencapai tujuan.
3. Obama menolak istilah “jihadist” pada teroris muslim, khususnya di
kawasan Asia Tenggara karena akan memberikan legitimasi relijius dan
pada saat yang sama memneri kesan AS sedang berperang dengan islam.
Definisi tantangan yang dikembangkan pemerintah Obama adalah AS
85
sedang berperang dengan “Violent extremism” dan “Ideologies of
Violences”.
4. Mengatasi faktor-faktor hulu pemicu “violent extremism” dengan
menjawab kebutuhan dasar masyarakat seperti keamanan, pendidikan,
lapangan pekerjaan untuk mengisolasi ekstrimis dari masyarakat luas yang
hendak mereka layani. Para ekstrimis dininilai memanfaatkan kemiskinan
masyarakat untuk merekrut mereka melalui jaminan sosial yang mereka
tawarkan lalu mengindoktrinisasi masyarakat untuk melakukan tindakan
terror. Dengan mengatasi faktor-faktor hulu ini di harapkan opini yang
salah-yang dikembangkan para ekstrimis-bahwa AS sebenarnya ingin
menjadikan masyarakat tetap melarat dan lemah akan bisa dihapuskan.
Selanjutnya, masyarakatlah yang kemudian akan mengisolasi para
ekstrimis dan bukan AS yang harus melakukannya.
5. Menggunakan semua elemen kekuatan nasional untuk mengatasi penyebab
dan kondisi pemicu berbagai ancaman termasuk violent extremism.64
Sejumlah rekomendasi kebijakan asistensi keamanan Amerika Serikat di
Asia Tenggara dalam rangka menjaga kepentingannya dilakukan melalui langkahlangkah :
1. Mengintegrasikan secara lebih baik strategi Counerterorisme, hukum dan
peraturan serta kebijakan-kebijakan pembangunan untuk mengatasi isu-isu
korupsi di wilayah ini. Hal ini dinilai krusial agar para pejabat terpilih dan
64
http://dreamlandaulah.wordpress.com/2010/05/26/obama-dan-narasi-baru-terorisme/ Diakses
tanggal 5 Juni 2011
86
birokrat mampu memenangkan kepercayaan komunitas mereka sendiri dan
dengan cara demikian mengabaikan teroris dan pengaruh politik mereka.
2. Melanjutkan reformasi polisi di Filiphina dan Thailand.
3. Membantu menciptakan wilayah yang tidak terlalu ramah bagi para
terorisme di Asia Tenggara melalui peningkatan dukungan terhadap
institusi-institusi regional seperti ASEAN, ASEAN Regional Forum,
APEC, dan EAS (East Asia Summit). Penyaluran bantuan keamanan, dan
pendampingan counterterorisme melalui kerangka kolaboratif semacam ini
diharapkan akan mengurangi persepsi bahwa terorisme adalah kepentingan
khusus Amerika Serikat.
4. Menekan
kesepuluh
negara
ASEAN
untuk menandatangani
dan
meratifikasi seluruh (16) konvensi PBB terkait counterterorisme.65
Kebijakan AS untuk memimpin perang melawan terorisme sepertinya
semakin berhasil dengan dikeluarkannya resolusi DK PBB No.1373 Tahun 2001.
Resolusi tersebut memuat langkah-langkah dalam menanggulangi terorisme dan
mendukung tindakan pencegahan dan pemberantasan terorisme. Dengan
demikian, AS semakin memiliki kemudahan dalam mendapatkan akses untuk
menghadirkan militernya di luar negeri dengan dalih terorisme.
Hal inilah yang kemudian menjadi kekhawatiran banyak negara, terutama
mereka yang tidak cukup kuat untuk menolak penetrasi militer AS kedalam
wilayahnya. Seperti yang selalu ditekan pemerintah AS bahwa perang ini tidak
65
http://dreamlandaulah.wordpress.com/2010/05/26/obama-dan-narasi-baru-terorisme/ Diakses
tanggal 5 Juni 2011
87
berhenti sampai disini (afghanistan), maka kecenderungan pasca perang di
Afghanistan dan Iraq adalah melanjutkan dengan memberikan perhatian terhadap
aktivitas terorisme di belahan lain dunia, dalam hal ini berdasarkan dokumen dan
rekaman kaset video yang ditemukan dalam markas Al-Qaeda di Afghanistan.66
Asia Tenggara merupakan kawasan yang sangat merasakan dampak
langsung dari langkah-langkah AS tersebut. Karena tidak lama setelah AS
menyerang Afghanistan, pejabat pemerintahan Bush mengumumkan: adanya
upaya Osama Bin Laden dan pengikutnya untuk memperluas kegiatan-kegiatan
mereka di Asia Tenggara, tidak hanya di filipina, tetapi juga di Singapura dan
Indonesia.67Berbagai media cetak AS juga banyak mengeluarkan artikel mengenai
potensi teror dari gerakan-gerakan kelompok Islam radikal yang berkembang
dengan subur di Asia Tenggara.
Implikasi lebih jauh yang dirasakan Asia Tenggara adalah ketika PBB resmi
menyatakan bahwa kelompok “Jamaah Islamiah” digolongkan sebagai organisasi
teroris internasional. Keputusan PBB ini tentu saja sangat mempengaruhi Asia
Tenggara, dimana selama ini AS selalu menekankan bahwa Jamaah Islamiah
merupakan perpanjangan tangan Al-Qaeda, dan jaringannya menyebar di
Malaysia, Singapura, serta Indonesia. Sehingga AS mempunyai kekuatan untuk
menekan pemerintahan negara-negara Asia Tenggara agar lebih aktif bekerjasama
dalam memberantas terorisme seperti yang diinginkan AS.
66
67
http://www.nbr.org/publications/analysis Diakses 10 Juni 2011
http://www.afsc.org/pwork/0112/011214.htm. Diakses 10 Juni 2011
88
Pada akhirnya “War on Terrorism”, menjadi instrumen AS untuk dapat
menghadirkan kekuatan militernya diluar teritorialnya. Khususnya bagi Asia
Tenggara, indikasi menjadi “second front” dari perang melawan terorisme
semakin terlihat jelas. AS telah menempatkan Asia Tenggara menjadi salah satu
prioritas dalam kebijakan luar negeri-nya setelah sekian lama kawasan ini
menghilang dari layar radar AS. Sebagai kawasan dengan tingkat prioritas
kepentingan yang tinggi, maka AS perlu memastikan kehadiran kekuatan
militernya di Asia Tenggara untuk menjaga kepentingan-kepentingan tersebut.
Dibawah spanduk “global war on terrorism”, pemerintahan presiden
Amerika Serikat (AS) pada waktu itu, George W. Bush mulai mendorong kepala
pemerintahan negara-negara Asia Tenggara untuk bekerjasama dengan AS. Ada
pendapat yang berkembang, bahwa kemunduran pengaruh AS di kawasan Asia
Tenggara selama beberapa dekade sebelumnya melatarbelakangi pemikiran untuk
menghadirkan kembali militernya di kawasan ini. Namun yang pasti, setelah
serangan militer pertama dimulai dengan menyerang Al-Qaeda dan rezim Taliban
di Afghanistan pada 7 Oktober 2001, dan spekulasipun dengan cepat
menggunung, bahwa operasi-operasi selanjutnya akan segera dilakukan di tempat
lain. Hal ini muncul tidak lama setelah Asia Tenggara disebut-sebut sebagai
“Second Front in the war on terrorism”.68
Ada beberapa alasan yang tidak mungkin dilepaskan mengapa Asia
Tenggara menjadi fokus AS dalam memberantas terorisme, antara lain:
68
Mathew. “US may turn attention to far east terror groups”, The Guardian, 11 Oktober 2001
89
1. Seperti yang diberitakan, ada koneksitas antara Asia Tenggara dengan
serangan 11 September. Beberapa pembajak, termasuk petinggipetingginya yaitu Mohhammad Atta dan Zacarias Moussaoui yang sejauh
ini diklaim AS memiliki keterlibatan dengan serangan 11 september,
dimana mreka diketahui telah mengadakan pertemuan di kuala Lumpur
untuk membicarakan rencana-rencana mereka.
2. Sebelum serangan 11 September terjadi, AS telah memperingatkan
mengenai operasi kelompok-kelompok militan Islam radikal di kawasan
Asia Tenggara, termasuk beberapa diantaranya berhubungan langsung
dengan jaringan Al-Qaedah. Antara lain Al-Ma’unah (Malaysia), Laskar
Jihad (Indonesia), beberapa cabang Moro (Filipina).
3. Asia Tenggara adalah rumah dari umat Muslim, dimana Indonesia dan
Malaysia mayoritas penduduknya adalah Muslim. Dengan Jumlah
penduduk yang besar, batas-batas wilayah yang rawan serta lemahnya
institusi negara, membuat AS telah lama mengindentifikasi Kawasan ini
potensial menjadi surganya teroris.69
Dengan ketiga faktor diatas, kemudian dengan peristiwa Bom BaliIndonesia, 12 Oktober 2002, memperkuat kesan bahwa Asia Tenggara akan
menjadi kawasan penting dalam perjuangan melawan para militan Islamis.70 Rizal
Sukma mengemukan beberapa faktor mengapa diskursus mengenai kemungkinan
Asia Tenggara menjadi “the second front” dari perang melawan terorisme muncul
kepermukaan:
69
70
http://www.ceri-sciences-po.org Diakses tanggal 10 Juni 2011
Ibid
90
1. Adanya fakta bahwa Asia Tenggara merupakan kawasan dengan jumlah
penduduk muslim yang sangat signifikan. Bahkan Indonesia merupakan
sebuah negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Fakta ini
kemudian dikaitkan dengan adanya pandangan bahwa kebanyakan dari
teroris dan kelompok-kelompok militan identik dengan ideologi islam
radikal. Sehingga ketika kemunduran kondisi ekonomi dan sosial yang
dialami Asia Tenggara pasca krisis ekonomi serta kerusuhan politik yang
terjadi di indonesia, menciptakan lingkungan yang sangat ideal bagi
pertumbuhan dan perkembangan aktivitas teroris, kelompok radikal, serta
kelompok-kelompok separatisme.
2. Eksistensi pergerakan kelompok separatis di Asia Tenggara ini mendorong
kemungkinan hadirnya terorisme dan jaringan teroris di sekitar daerah
pusat gerakan tersebut terjadi.
3. Meningkatnya peran serta pengaruh kelompok-kelompok islam militan di
Indonesia {Laskar Jihad, Fron Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin
Indonesia (MMI)}, Malaysia {Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM)},
dan Singapura {Jemaah Islamiah (JI)}.
4. Berkenaan dengan 3 faktor diatas, diperkuat dengan ditangkapnya orangorang dari kelompok-kelompok tersebut yang disinyalir memiliki
keterlibatan dengan aktivitas terorisme, semakin meyakinkan bahwa
adanya jaringan terorisme di Asia Tenggara.
5. Ancaman-ancaman teroris di kawasan Asia Tenggara yang terus
meningkat acapkali memperlihatkan sentimen anti-amerika dikalangan
91
komunitas muslim setelah peristiwa 11 September dan serangan militer
AS ke Afghanistan.71
Rizal Sukma, “The Second Front Discourse: Southeast Asia & The Problem of Terrorism”,
dalam Asia Pacific Security: Uncertainty in a Changing World Order” (Kuala Lumpur, 2002), hal.
78-80
71
92
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan hasil penelitian, maka penulis menarik beberapa
kesimpulan yang dianggap merupakan sebagai hasil elaborasi dari penelitian ini
yaitu sebagai berikut :
1. Dalam menghadapi terorisme, khususnya di Asia Tenggara, Pemerintah
Amerika Serikat memilih untuk bersikap tegas, tidak melakukan
kompromi, dan menolak secara tegas untuk melakukan negosiasi dengan
kelompok terorisme, baik itu berupa tebusan, perubahan kebijakaan,
penukaran atau pembebasan tawanan. Pemerintah Amerika Serikat
memberlakukan Undang-Undang baru yaitu Patriot Act 2001 yang berisi
menentang terorisme dan berbagai kegiatan yang mendukungnya atau
bersentuhan dengan aksi terorisme yang dilarang, seperti larangan
pemberian bantuan dana pada jaringan terorisme.
2. Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan politik luar negeri
secara umum dalam menghadapi terorisme internasional di kawasan Asia
Tenggara yakni, mengeluarkan Kebijakan travel advisory
dan travel
warning terhadap Negara-negara yang potensial mendapat serangan
terorisme di Kawasan Asia Tenggara. Meningkatkan kuantitas personil
militer di kawasan Asia untuk melindungi kepentingan dan warga
negaranya. Menggiatkan kampanye anti terorisme internasional melalui
forum kerjasama regional seperti APEC dan ASEAN.
93
3. Kebijakan luar negeri secara khusus yang bersifat bilateral antara
pemerintah Amerika Serikat dan beberapa negara di kawasan Asia
Tenggara. Dengan Malaysia berupa kerjasama pembentukan pusat
koordinasi anti terorisme regional Asia Tenggara di Malaysia. Bersama
Filiphina melakukan kerjasama latihan militer. Dengan Indonesia,
pemerintah Amerika Serikat memberikan bantuan dana sebesar 50 juta
USD untuk membiayai pelatihan dan pembentukan satuan anti terror yang
profesional.
B. Saran
1. Perlunya dibuat suatu kerangka kerjasama yang progresif dan terintegrasi
dengan
system
hokum
internasional
mengenai
penanganan
dan
pemberantasan terorisme antara PemerintaH Amerika Serikat dan Negaranegara Asia Tenggara.
2. Diharapkan kepada negara-negara di Kawasan Asia Tenggara untuk
meningkatkan pengawasannya terhadap jaringan-jaringan terorisme yang
ada di kawasan tersebut.
3. Perlunya koordinasi antara aparat terkait dalam hal ini pihak keamanan
dan intelejen antara pemerintah Amerika Serikat dan Negara Asia
Tenggara sehingga dapat dilakukan tindakan-tindakan pencegahan
terhadap aksi-aksi terror yang terjadi di kawasan tersebut.
Download