Kehidupan Seksual di Dunia Arab

advertisement
Kehidupan Seksual di Dunia Arab
Ditulis oleh Chaerul Arif
Kamis, 23 Januari 2014 07:52
Kehidupan Seksual di Dunia Arab
rimanews.com | Selasa, 21 Januari 2014 | Fatmawati Ningsih
Shereen El Feki penulis buku ini mengajak kita membaca ulang data statistik penderita AIDS.
Lewat penelitiannya yang mendalam, perempuan keturunan Mesir-Inggris dan aktivis AIDS,
membeberkan realitas yang cukup mengejutkan dalam masyarakat Arab. Kondisi yang terjadi
belakangan ini, menurut dia, mirip dengan peradaban Barat ketika berada di ambang revolusi
seksual, yang tidak lagi mengurung wacana seksualitas dalam ruang Privasi. Tembok-tembok
pembatas ranah privat-publik itu perlahan mulai keropos.
Fenomena seks komersial di kawasan al-Batniyya, Kairo, merupakan contoh dimana para shar
amiit
-bahasa slang Arab Mesir untuk menyebut pelacur-banyak bertebaran untuk melayani
kebutuhan pelanggan, termasuk para mahasiswa Universitas al-Azhar.
Yang cukup mengejutkan adalah soal seksualitas di kalangan remaja. Sejumlah penelitian di
beberapa negara Arab, seperti Tunisia, Maroko, Aljazair, Libanon, dan Yordania, menyatakan
sepertiga kaum lelaki pernah melakukan hubungan pranikah. Sedangkan perempuan yang
pernah melakukannya terdata sebanyak 80 persen. Sekalipun banyak yang menyangsikan data
tersebut.
Semua pergeseran nilai itu selalu berada dalam sebuah tegangan yang beririsan dengan norma
agama, tradisi, kebudayaan, politik, dan ekonomi. Struktur itu berkelindan dalam relasi
kekuasaan lelaki-perempuan, yang muda-tua, serta pemerintah dan warga. Dalam tegangan
itulah muncul kebutuhan untuk mendefinisikan ulang identitas dan orientasi seksual, peran
gender, keintiman, dan persoalan reproduksi. Seks menjadi cerminan dari berbagai kondisi
yang menyebabkan adanya peneguhan atau perlawanan atas sistem nilai tertentu.
1/3
Kehidupan Seksual di Dunia Arab
Ditulis oleh Chaerul Arif
Kamis, 23 Januari 2014 07:52
Sheeran El Feki, yang mengajukan buku Seks dan Hijab: Gairah dan Intimitas di Dunia Arab
yang Berubah
, mengajak pembaca melihat dunia
Arab melalui perubahan-perubahan pandangan dan tindakan merujuk ke seks, asmara,
pernikahan, agama, identitas, politik. Peristiwa akbar di Lapangan Tahrir (Mesir) menjadi
perhatian dunia. Ratusan ribu orang, selama sekian hari, berkumpul untuk melantunkan
suara-suara kebebasan, keadilan, demokrasi. Lapangan itu mirip papan iklan untuk berbagai
misi. Apakah seks turut disuarakan di Lapangan Tahrir ada bersama revolusi?
Kita bakal menemukan persoalan-persosalan seks dengan berbagai argumentasi di buku
Shereen. Pembacaan buku-buku dan pengakuan orang-orang di dunia Arab menjadi kumpulan
informasi mengejutkan. Petuah-petuah ulama mengajak umat untuk melindungi diri dari ajaran
seks Barat. Shereen mengutip pandangan Sayyid Qutb sebagai representasi pandangan
konservatif tentang seks. Qutb menganggap Barat adalah “jamban kekacauan seksual” dan
“kebusukan moral”. Pandangan ini mulai mendapat tantangan dari generasi mutakhir,
berbarengan dengan revolusi politik dan dominasi teknologi Internet. Seks perlahan menjadi
tema cair, mengubah selera dan pemaknaan. Seks telah meresap ke dunia Arab dengan aroma
Barat, bercampur adat dan agama.
Di Mesir, seks adalah persoalan pelik, mulai urusan pernikahan sampai perzinaan. Selama
gerakan revolusi di Lapangan Tahrir, ada Poster ganjil berisi seruan kaum muda: ‘Aku ingin
menikah!’. Seruan ini disuarakan kaum revolusioner. Mengapa? Pernikahan di Mesir selalu
memunculkan gelisah dan kehormatan, merujuk ke pelaksanaan ajaran agama, Adat, anutan
modernitas.
Keputusan menikah mesti dibarengi dengan berbagai modal, dari iman sampai uang.
Pernikahan memang menjalankan ajaran agama Islam, tetapi mengikutkan beban berat. Beban
itu bernalar konsumerisme. Hasrat menikah memerlukan uang, berdalih demi pemenuhan
kebutuhan-kebutuhan berlatar adat. Kaum revolsuioner pun berseru agar ada revolusi seks dan
pernikahan. Urusan seks di dunia Arab dijalankan institusi keluarga, negara, perusahaan,
media massa. Bisnis seks dan pernikahan mulai menjalar di dunia Arab. Shereen El Faki
melaporkan ada bisnis perjodohan, pelacuran, pernikahan kontrak, konsultasi seks, program
seks di televisi, perbukuan seks, situs seks. Semua memberi aroma dalam lakon seks dan
pernikahan.
Buku Seks dan Hijab sudah mengajukan berbagai kisah dan penjelasan, meski tak pernah
tuntas. Lakon seks terus bergerak dan berubah. Shereen El Faki mengakui buku Seks dan
Hijab bukan bahasan terakhir mengenai seks di dunia Arab. Buku ini menjadi langkah awal
pada sebuah titik balik dalam sejarah dunia Arab. Kisah-kisah revolusi masih berlangsung di
2/3
Kehidupan Seksual di Dunia Arab
Ditulis oleh Chaerul Arif
Kamis, 23 Januari 2014 07:52
dunia Arab. Kita pun menginsafi dunia Arab mutakhir tak cuma revolusi politik. Lakon revolusi
seks juga terjadi, mulai dari ranjang sampai peristiwa-peristiwa di ruang publik.
Buku ini bukan untuk menambah buku lain yang mengkritik soal betapa maskulinnya seks dan
politik di Arab, buku ini hanya menyajikan fakta yang terjadi. Penelitian kualitatif selama lima
tahun ini patut diapresiasi karena secara utuh bisa menghadirkan referensi untuk menggali
pembentukan kehidupan seksual di Mesir dan transformasinya. Meskipun begitu detail, faktuai,
dan informatif,Shereen menolak buku ini sebagai sebuah ensikiopedia.
3/3
Download