bab ii tinjauan pustaka - Perpustakaan Universitas Mercu Buana

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Ideologi Sebagai Pesan Dalam Komunikasi Massa
2.1.1
Pengertian Komunikasi Massa
Komunikasi massa, seperti bentuk komunikasi lainnya seperti komunikasi
interpersonal, komunikasi kelompok, dan komunikasi organisasi memiliki
sedikitnya enam unsur komunikasi, yakni komunikator, pesan, media, komunikan,
efek dan umpan balik.
Komunikasi
massa
diadopsi
dari
istilah
bahasa
inggris,
mass
communication, sebagai kependekan dari mass media communication. Artinya
Komunikasi yang menggunakan media massa. Media massa yang dimaksud
menurut Nurudin dalam bukunya yang berjudul Pengantar Komunikasi Massa,
adalah media yang dihasilkan oleh teknologi modern bukan media massa
tradisional seperti kentongan, angklung, gamelan, dan lain- lain. Jadi, di sini media
massa menunjuk pada hasil produk teknologi modern sebagai saluran dalam
komunikasi massa 2 .
Secara sederhana komunikasi massa didefinisikan sebagai komunikasi
melalui media massa yakni surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film. Salah
satu definisi yang paling sederhana tentang komunikasi massa dirumuskan oleh
Bitener yang menyebutkan: “Mass communication is message communicated
2
Nurudin. Pengantar Komunikasi Massa, RajaGrafindo Perkasa: Jakarta, 2009, Hal. 3-4
6
http://digilib.mercubuana.ac.id/
7
through a mass medium to a large number of people)” (Komunikasi massa adalah
pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang) 3 .
Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese (1996), dalam Mediating The
Message: Theories of Influences on Mass Media Content, menyusun berbagai
faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam ruang pemberitaan.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kebijakan redaksi dalam menentukan isi
media adalah Ideologi.
Ideologi diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi
tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka
menghadapinya. Berbeda dengan elemen sebelumnya yang tampak konkret, level
ideologi ini abstrak. Ia berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam
menafsirkan realitas.
Raymond William (dalam eriyanto, 2001) mengklasifikasikan penggunaan
ideologi tersebut dalam tiga ranah.
1. Sebuah sistem kepercayaan yang dimiliki oleh kelompok atau kelas
tertentu. Definisi ini terutama dipakai oleh kalangan psikologi yang melihat
ideologi sebagai seperangkat sikap yang dibentuk dan diorganisasikan dalam
bentuk yang koheren. Sebagai misal, seseorang mungkin mempunyai seperangkat
sikap tertentu mengenai demontrasi buruh. Ia percaya
bahwa buruh yang
berdemontrasi mengganggu kelangsungan produksi. Oleh karenanya, demontrasi
tidak boleh ada, karena hanya akan menyusahkan orang lain, membuat keresa han,
3
Morissan. Manajemen Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio & Televisi (Edisi Revisi),
Prenada Media Group: Jakarta, 2009, Hal. 20-21
http://digilib.mercubuana.ac.id/
8
menggangu kemacetan lalulintas, dan membuat persahaan mengalami kerugian
besar.
Jika bisa memprediksikan sikap seseorang semacam itu, kita dapat
mengatakan bahwa orang itu mempunyai ideologi kapitalis atau borjuis.
Meskipun ideologi disini terlihat sebagai sikap seseorang, tetapi ideologi di sini
tidak dipahami sebagai sesuatu yang ada dalam diri individu sendiri, melainkan
diterima dari masyarakat.
2. Sebuah sistem kepercayaan yang dibuat –ide palsu atau kesadaran
palsu- yang biasa dilawankan dengan pengetahuan ilmiah. Ideologi dalam
pengertian ini adalah seperangkat kategori yang dibuat dan kesadaran palsu
dimana kelompok yang berkuasa atau dominan menggunakannya untuk
mendominasi kelompok lain. Karena kelompok yang dominan mengontrol
kelompok lain dengan menggunakan perangkat ideologi yang disebarkan ke
dalam masyarakat, akan membuat kelompok yang didominasi melihat hubungan
itu nampak natural, dan diterima sebagai kebenaran. Di sini, ideologi disebarkan
lewat berbagai instrumen dari pendidikan, politik sampai media massa.
3. Proses umum produksi makna dan ide. Ideologi disini adalah istilah
yang digunakan untuk menggambarkan produksi makna.
2.1.2
Representasi
Representasi berasal dari kata “Represent” yang bermakna stand for
artinya “berarti” atau juga “act as delegate for” yang bertindak sebagai
http://digilib.mercubuana.ac.id/
9
perlambang atas sesuatu4 . “Representasi juga dapat berarti sebagai suatu tindakan
yang menghadirkan atau mempresentasikan sesuatu lewat sesuatu yang di luar
dirinya, biasanya berupa tanda atau simbol” 5 .
Representasi adalah sesuatu yang merujuk pada proses yang dengannya
realitas disampaikan dalam komunikasi, via kata-kata, bunyi, citra, atau
kombinasinya. Secara ringkas, representasi adalah produksi makna melalui
bahasa. Lewat bahasa (simbol-simbol dan tanda tertulis, lisan, atau gambar)
tersebut itulah seseorang yang dapat mengungkapkan pikiran, konsep, dan ide-ide
tentang sesuatu.
Konsep representasi bisa berubah-ubah, selalu ada pemaknaan baru dan
pandangan baru dalam konsep representasi yang sudah pernah ada. Karena makna
sendiri juga tidak pernah tetap, Ia selalu berada dalam proses negosiasi dan
disesuaikan dengan situasi yang baru, intinya adalah makna tidak inheren dalam
sesuatu di dunia ini, ia selalu dikonstruksikan, diproduks i, lewat proses
representasi. Ia adalah hasil dari praktek penandaan, praktek yang membuat
sesuatu hal bermakna sesuatu.
Merunjuk pada tulisan Stuart Hall, Juliastuti tahun 2000 menyebutkan tiga
jenis pendekatan dalam representasi antara lain (Juliastuti, Representasi, Kunci):
1. Pendekatan
Reflektif:
bahasa
berfungsi
sebagai
cermin,
yang
merefleksikan makna yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada di
dunia. Dalam pendekatan reflektif, sebuah makna bergantung kepada
4
Krebs, C. J. Ecology: The Experimental Analysis of Distribution and Abundance.5th Edition,
Benyamin Cu ming‟s an inprint of Addision,Wesley: Longman Inc. 2001, Hal. 456
5
Amir Piliang,Yasraf. (2003). Hipersemiotika Tafsir Cultural Studie Atas Matinya Makna.
Yogyakarta : Jalasutra, Hal 21
http://digilib.mercubuana.ac.id/
10
sebuah objek, orang, ide, atau peristiwa di dalam dunia nyata, dan bahasa
berfungsi seperti cermin, untuk memantulkan arti sebenarnya seperti yang
telah ada di dunia.
2. Pendekatan
Intensional:
kita
menggunakan
bahasa
untuk
mengkomunikasikan sesuatu sesuai dengan cara pandang kita terhadap
sesuatu.Pendekatan makna yang kedua dalam representasi mendebat kasus
sebaliknya.Pendekatan ini mengatakan bahwa sang pembicara, penulis
siapapun yang mengungkapkan pengertiannya yang unik ke dalam dunia
melalui bahasa.Sekali lagi, ada beberapa poin untuk argumentasi ini
semenjak kita semua sebagai individu, juga menggunakan bahasa untuk
mengkomunikasikan hal- hal yang special atau unik bagi kita, dengan cara
pandang kita terhadap dunia.
3. Pendekatan Konstruktivis: kita percaya bahwa kita mengkonstruksi makna
lewat bahasa yang kita pakai.Ini adalah pendekatan ketiga untuk
mengenali public, karakter social dari bahasa.Hal ini membenarkan bahwa
tidak ada sesuatu yang didalam diri mereka sendiri termasuk pengguna
bahasa secara individu dapat memastikan makna dalam bahasa.Sesuatu ini
tidak
berarti: kita
mengkonstruksi makna,
menggunakan system
representasional-konsep dan tanda.
2.1.3
Definisi Ideologi
Ideologi berasal dari kata Yunani idein yang berarti melihat, atau idea atau
yang berarti raut muka, perawakan, gagasan, buah pikiran, dan kata logia yang
berarti ajaran. Dengan demikian ideologi adalah ajaran atau ilmu tentang gagasan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
11
dan buah pikiran atau science des ideas 6 . Puspowardoyo (1992) menyebutkan
bahwa ideologi dapat dirumuskan sebagai kompleks pengetahuan dan nilai yang
secara keseluruhan menjadi landasan bagi seseorang atau masyarakat untuk
memahami jagat raya bumi seisinya serta menentukan sikap dasar untuk
mengolahnya. Berdasarkan pemahaman yang dihayatinya, seseorang menangkap
apa yang dilihat benar dan tidak benar, serta apa yang dinilai baik dan tidak baik.
Pengertian ideologi secara umum adalah suatu kumpulan gagasan, ide,
keyakinan, serta kepercayaan yang bersifat sistematis yang mengarahkan tingkah
laku seseorang dalam berbagai bidang kehidupan.
2.1.4
Ideologi Menurut Para Ahli
Pengertian Ideologi Menurut Para Ahli untuk lebih memahami tentang
pengertian ideologi itu,berikut ini dikemukakan beberapa pengertian ideologi
menurut para ahli :
a) Traccy, “Ideologi adalah suatu sistem penilaian mengenai teori politik,
sosial budaya dan ekonomi”.
b) Karl Marx, Ideologi adalah ajaran yang menjelaskan suatu keadaan,
terutama
struktur
kekuasaan,
sedemikian
rupa
sehingga
orang
menganggapnya sah, padahal jelas tidak sah.
6
Subandi, Al Marsudi. (2001). Pancasila dan UUD'45 dalam paradigma reformasi. Jakarta: Raja
Grafindo Persada, Hal 57.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
12
c) Ensiklopedia Populer Politik Pembangunan Pancasila, ideologi merupakan
cabang filksafat yang mendasari ilmu- ilmu seperti sosiologi dan politik.
d) Menurut Frans Magnis Suseno, ideologi itu bukan cita-cita yang sudah
hidup dalam masyarakat, melainkan berupa cita-cita sebuah kelompok
yang mendasari suatu program untuk mengubah dan memperbaharui
masyarakat. Ideologi tertutup adalah musuh tradisi 7 . Kalau kelompok itu
berhasil merebut kekuasaan politik, ideologinya itu akan dipaksakan pada
masyarakat. Pola dan irama kehidupan norma- norma kelakuan dan nilainilai masyarakat akan diubah sesuai dengan ideologi itu. Ideologi tertutup
biasanya bersifat totaliter, jadi menyangkut seluruh bidang kehidupannya.
“Dengan ideologi disini dimaksud segala macam ajaran tentang mak na
kehidupan, tentang nilai- nilai dasar dan tentang bagaimana manusia harus
hidup dan bertindak.
e) Kenet R Hoover menyatakan bahwa ideologi merupakan bagian yang
sangat mendasar dari kehidupan politik. Menurut beliau : Generally, an
ideologi consist of idea about how power in society ought to be organized.
These ideas are derived from a view of the problems and possibilities
inhernt in human nature in its individual and social aspects….ideologi is a
crucial part of political life8 .
7
Suseno, Franz Magnis. (1989). Etika Politik Prinsip-prinsip Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta:
Gramed ia Pustaka Utama, Hal 50-51.
8
Hoover, Kenneth R. (1994). Ideologi and Political Life. USA : Wadsworth Publishing Co mpany,
Hal 4-5.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
13
Dalam pandangan Apter, sebuah ideologi biasanya terdiri dari pemikiranpemikiran tentang bagaimana untuk mengatur kekuasaan yang ada didalam
masyarakat. Beliau lebih memandang identitas dan karakteristik dari kondisi
manusia, sekalipun hal ini merupakan suatu penyangkalan bahwa se mua orang
berbagi sifat yang biasa. Karakterisasi kehidupan tersebut menggunakan
gambaran tentang hubungan kekuasaan antara individu dan masyarakat. Namun
Frans Magnis Suseno lebih memandang secara filsafat, dalam pandangannya
meskipun ideologi tidak lepas dari masyarakat, namun harus dibedakan
daripadanya karena juga bekerja dalam bentuk abstrak, sebagai keyakinan atau
kepercayaan seseorang yang dipegangnya dengan teguh, kekuatan ideologi
terletak dalam pegangannya terhadap hati dan akal kita. Merangkul ideologi
berarti meyakini apa saja yang termuat di dalamnya dan kesediaan untuk
melaksanakannya. Ideologi memuat agar orang mengesampingkan penilainnya
sendiri dan bertindak sesuai dengan ajarannya. Di sini dimaksudkan bukan hanya
ideologi dalam arti keras dan tertutup, melainkan setiap ajaran dan kepercayaan
yang memenuhi definisi di atas. Agama pun dapat dikelompkkan di s ini.”
Kenneth R. Hoover lebih melihat bahwa tentang spektrum ideologis itu,
sisi yang terletak disebelah kiri dihubungkan dengan keyakinan bahwa persamaan
antara orang-orang lebih penting daripada perbedaannya 9 . Dan sisi yang terletak
disebelah kanan dihubungkan dengan keyakinan bahwa perbedaan lebih penting
daripada persamaan. Kemudian mengenai kajiannya secara sistemik, elemenelemen dari setiap ideologi digambarkan diantara warga negara dan masyarakat.
9
Ibid Hal 8 .
http://digilib.mercubuana.ac.id/
14
Ideologi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan politis.
Masyarakat modern membangun struktur otoritas yang sangat besar pada konsep
kekuasaan yang berasal dari ideologi. Dalam cakupan sistem, ideologi mencakup
pemikiran-pemikiran dari ilmu ekonomi, sosiologi, politik dan filosofi yang
menyediakan tema-tema intelektual yang bergabung dari suatu kultur. Kita tidak
bisa menentukan secara meyakinkan mengenai apakah pemikiran-pemikiran ini
memang benar-benar menentukan tindakan kita, tetapi tidak ada keraguan bahwa
setiap tindakan itu selalu terhubung dengan pemikiran.
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan di atas, pokok persoalan
ideologi- ideologi dapat ditemukan dalam koridor pertanyaan simpel menyangkut
kebebasan dan otoritas (freedom and authority). Karena pada dasarnya manusia
memiliki hak kebebasan yang menyatu dengan kewajibannya, apa yang
menapikan kebebasannya itulah batasan kebebasan apa yang dilakukannya.
Beberapa ideologi diorientasikan untuk kekuasaan negara. Namun, berkaitan
dengan perilaku politik, ideologi berjalan secara bebas pada pertimbangan atas
golongan, kepentingan pribadi dan dinamika politik-birokrasi. Kemudian dalam
kaitannya dengan suatu keputusan, ideologi dapat memaksa pandangan dan
kehendak banyak orang kepada pokok persoalan tertentu, dan ideologi juga
mampu mempengaruhi keputusan-keputusan dalam pemungutan suara. Dengan
demikian secara lebih luas ideologi tidak hanya mampu merasuk dalam pemikiran
orang banyak, tetapi meresap terhadap aspek jiwanya yang akan tampak dalam
tidakan dalam kesehariannya.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
15
2.1.5
Macam-macam Ideologi di Dunia
1. Komunis me
Komunisme adalah paham yang mendahulukan kepentingan umum diatas
kepentingan pribadi dan golongan, paham komunis juga menyatakan semua hal
dan sesuatu yang ada di suatu negara dikuasai secara mutlak oleh negara tersebut.
Penganut faham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh
Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifes politik yang pertama kali
diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analis is
pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi
kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling
berpengaruh dalam dunia politik. Negara yang masih menganut komunisme
adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos.
2. Liberalis me
Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan
tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai
politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat
yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Liberalisme
menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang
mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem
pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap
pemilikan individu. Negara penganut Liberalisme yaitu: Amerika Serikat,
Argentina, Yunani, Rusia, Zimbawe, Australia, Jerman, Spanyol, Swedia dll.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
16
3. Kapitalis me
Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa
pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesarbesarnya. Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya
sistem perniagaan yang dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal
dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Adam Smith adalah tokoh
ekonomi kapitalis klasik yang menyerang merkantilisme yang dianggapnya
kurang mendukung ekonomi masyarakat. Ia menyerang para psiokrat yang
menganggap tanah adalah sesuatu yang paling penting dalam pola produksi.
Gerakan produksi haruslah bergerak sesuai konsep MCM (Modal-ComodityMoney, modal-komoditas-uang), yang menjadi suatu hal yang tidak akan berhenti
karena uang akan beralih menjadi modal lagi dan akan berputar lagi bila
diinvestasikan. Adam Smith memandang bahwa ada sebuah kekuatan tersembunyi
yang akan mengatur pasar (invisible hand), maka pasar harus memiliki laissezfaire atau kebebasan dari intervensi pemerintah. Pemerintah hanya bertugas
sebagai pengawas dari semua pekerjaan yang dilakukan oleh rakyatnya. Negara
yang menganut paham kapitalisme adalah Inggris, Belada, Spanyol, Australia,
Portugis, dan Perancis.
4. Fasisme
Fasisme
merupakan sebuah paham politik
yang mengangungkan
kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Dalam paham ini, nasionalisme yang sangat
fanatik dan juga otoriter sangat kentara. Kata fasisme diambil dari bahasa Italia,
http://digilib.mercubuana.ac.id/
17
fascio, sendirinya dari bahasa Latin, fascis, yang berarti seikat tangkai- tangkai
kayu. Ikatan kayu ini lalu tengahnya ada kapaknya dan pada zaman Kekaisaran
Romawi dibawa di depan pejabat tinggi. Fascis ini merupakan simbol daripada
kekuasaan pejabat pemerintah. Negara yang menganut paham faiisme ada lah
Italia, Jerman, dan Jepang.
5. Sosialisme
Sosialisme atau sosialis adalah paham yang bertujuan membentuk negara
kemakmuran dengan usaha kolektif yang produktif dan membatasi milik
perseorangan. Sosialisme dapat mengacu ke beberapa hal yang berhubungan
dengan ideologi atau kelompok ideologi, sistem ekonomi, dan negara. Istilah ini
mulai digunakan sejak awal abad ke-19. Dalam bahasa Inggris, istilah ini
digunakan pertama kali untuk menyebut pengikut Robert Owen pada tahun 1827.
Di Perancis, istilah ini mengacu pada para pengikut doktrin Saint-Simon pada
tahun 1832 yang dipopulerkan oleh Pierre Leroux dan J. Regnaud dalam
l'Encyclopédie Nouvelle[1]. Penggunaan istilah sosialisme sering digunakan
dalam berbagai konteks yang berbeda-beda oleh berbagai kelompok, tetapi hampir
semua sepakat bahwa istilah ini berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan
buruh tani pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 berdasarkan prinsip
solidaritas dan memperjuangkan masyarakat egalitarian yang dengan sistem
ekonomi menurut mereka dapat melayani masyarakat banyak daripada hanya
segelintir elite. Negara yang menganut paham sosialisme adalah Kuba dan
Venezuela.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
18
6. Demokrasi
Demokrasi artinya hukum untuk rakyat oleh rakyat. kata ini merupakan
himpunan dari dua kata : demos yang berarti rakyat, dan kratos berarti kekuasaan.
Jadi artinya kekuasaan ditangan rakyat.Sebenarnya pemikiran untuk melibatkan
rakyat dalam kekuasaan sudah muncul sejak zaman dahulu. Di beberapa kota
Yunani didapatkan bukti nyata yang menguatkan hal ini, seperti di Athena dan
Sparta. Hal ini pernah diungkapkan Plato, bahwa sumber kepemimpinan ialah
kehendak yang bersatu milik rakyat. dalam suatu kesempatan Aristoteles
menjelaskan macam- macam pemerintahan, dengan berkata, “ada tiga macam
pemerintahan: kerajaan, aristokrasi, republik, atau rakyat memagang sendiri
kendali urusannya”. Negara Penganutnya adalah Inggris, Norwegia, Denmark,
Swedia, Belanda, Belgia, Australia, Selandia Baru, Israel, dan Venezuela.
2.1.6
Ideologi Fasisme
Pengertian fasisme berasal dari bahasa Italia “Fascio” yang diambil dari
bahasa latin “fasces” yang artinya seikat batang kayu. Dalam budaya Romawi
kuno, fasces ini diberikan kapak di bagian tengahnya, lalu dipergunakan sebagai
simbol kekuatan dari bermacam- macam unsur yang menyatu. Fasces sering
dibawa ke depan pejabat tinggi, dan diartikan sebagai simbol kekuasaan pejabat
pemerintah. Mereka dibawa oleh para liktor dan dapat digunakan untuk hukuman
fisik dan modal berdasarkan perintahnya. Kata fascismo juga terkait dengan
organisasi politik di Italia dikenal sebagai “fasci”, kelompok mirip dengan serikat
kerja atau sindikat. George Mosse menilai kemunculan fasisme sebagai reaksi
http://digilib.mercubuana.ac.id/
19
terhadap liberalisme dan positivisme yang terlihat dari kecenderungannya yang
anti intelektualisme dan dogmatisme 10 .
Ernst Nolte mengusulkan fasisme didefinisikan sebagai trend politik yang
berakar pada abad 19 atau pada hakekatnya adalah fenomena abad ke-20. Jika
komunisme merupakan pemberontakan pertama yang bersifat revolusioner dan
totaliter terhadap cara hidup barat yang liberal, maka fasisme dianggap merupakan
pemberontakan
kedua.
Inti sari dari
fasisme
adalah
pengorganisasian
pemerintahan (sistem pengaturan pemerintahan) dan masyarakat secara totaliter
oleh kediktatoran partai tunggal yang sangat nasionalis, militeristis, rasialis, dan
imperialis. Fasisme menolak ideologi netral yang berdasar paham laissez faire
(ajaran aliran ekonomi liberal klasik) serta sosialisme, tidak mau mengakui
kegiatan politik dan ekonomi yang mandiri dari kelompok tertentu dari
masyarakat. Fasisme lebih mementingkan tata masyarakat organis, sangat
mengagungkan semangat elitis, kepemimpinan, otoriterisme dan disiplin yang
diwujudkan dalam satu wadah partai politik serta menitik beratkan pada persatuan
nasional.
Fasisme merombak dasar-dasar konstitusional, melakukan teror terhadap
kelompok lawan, sehingga terciptalah rasa perbedaan secara fundamental antar
manusia sehingga mengobarkan sentiment superioritas nasional dan kelompok.
Atas dasar itulah akhirnya menimbulkan kecenderungan untuk melakukan
tindakan imperealisme dan melakukan tindakan-tindakan yang berbau anti-semit,
10
Suhelmi, Ah mad . (2004). Pemikiran Politik Barat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal 333.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
20
seperti anti -Yahudi, anti- Tionghoa dan lainnya. Hal inilah yang kemudian
menjadi issu utama ketika paham fasisme ini diterapkan di negara-negara Eropa.
Fasisme adalah gerakan radikal ideologi nasionalis otoriter politik. Fasis
berusaha untuk mengatur bangsa menurut perspektif korporatis, nilai, dan sistem,
termasuk sistem politik dan ekonomi. Berdasarkan dasar teori sebelumnya telah
diketahui arti dari Ideologi dan Fasisme. Sehingga dari kedua kata tersebut dapat
disimpulkan bahwa Ideologi Fasisme merupakan sebuah paham politik yang
menjunjung kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Ada pula yang mengartikan
bahwa ideologi Fasisme adalah suatu paham yang mengedepankan bangsa sendiri
dan memandang rendah bangsa lain. Dalam paham ini, nasionalisme yang sangat
fanatik dan juga otoriter sangat terlihat.
Fasisme
(fascism)
merupakan
pengorganisasian
pemerintah
dan
masyarakat secara totaliter, oleh kediktatoran partai tunggal yang sangat
nasionalis rasialis, militeristis, dan imperialis. Italia merupakan negara pertama
yang menjadi Fasis (1922) menyusul jerman tahun 1933 dan kemudian Spanyol
melalui perang saudara yang pecah tahun 1936. Di Asia Jepang berubah menjadi
fasis dalam tahun 1930-an melalui perubahan secara perlahan ke arah lembagalembaga yang totaliter setelah menyimpang dari budaya aslinya.
Fasis muncul dan berkembang di negara-negara yang relatif lebih makmur
dan secara teknologi lebih maju. Fasis merupakan produk dari masyarakatmasyarakat prademokrasi dan pasca industri. Kaum fasis tidak mungkin merebut
kekuasaan dinegara-negara yang tidak memiliki pengalaman demokrasi sama
http://digilib.mercubuana.ac.id/
21
sekali. Pengalaman negara demokrasi yang dirasakan semu oleh masyarakat
bahkan mengalami kegagalan dengan indikator adanya proses sentralisasi
kekuasaan pada segelintir elit penguasa, terbentunya monopoli dan oligopoli
dibidang ekonomi, besarnya tingkat pengangguran baik dikalangan kelas bawah
seperti buruh, petani atau kelas menengah atas seperti kaum cendikiawan, kaum
industrialis, maupun pemilik modal, ini adalah lahan yang subur bagi gerakan
fasis untuk melancarkan propagandanya.
Lahirnya fasisme sebagai ideologi pengaruhi oleh berbagai macam faktor,
mulai dari faktor politik sampai ekonomi. Faktor politik misalnya tergambar dari
kegagalan negara-negara yang dulu menganut sistem demokrasi. Banyak faktor
yang melatarbelakangi negara gagal dalam menerapkan sis tem demokrasi
sehingga menyuburkan tumbuhnya paham fasisme,diantaranya karena faktor
domestic dan internasional. Selain itu, dalam hal kekuasaan (politik) sistem
demokrasi memberikan peluang kepada segelintir elit penguasa. Faktor ekonomi
misalnya terbentuk sistem monopoli dan oligopoli yang mayoritas dikuasai oleh
segelintir elit pengusaha yang mempunyai kepentingan terhadap penguasa,
pengangguran yang terjadi dikalangan kelas bawah seperti buruh, petani atau
kelas menengah atas seperti kaum cendekiawan, kaum industrialis (yang tidak
mempunyai kepentingan kepada penguasa) maupun pemilik modal (kapitalis) 11 .
Dari beberapa faktor itulah kemudian masyarakat mulai kecewa terhadap
demokrasi yang dianggap hanya sebuah ilusi keadilan politik dan tidak dapat
dijadikan standar nilai bagi pembentukan sistem politik-ekonomi yang lebih baik.
11
Ibid. Hal 335.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
22
Dilihat dari perkembangan kemunculannya dari segi state (negara) fasisme
muncul dari negara yang sudah mengalami kemajuan dibidang industri. Kemajuan
industri serta kemakmuran masyarakatnya menjadikan modal yang besar bagi
negara fasis untuk melakukan serangkaian aksi penting, seperti teror dan sejumlah
aksi propaganda. Selain itu, untuk melancarkan aksi yang menggunakan kekuatan
militer, negara fasis membutuhkan dukungan industri. Seperti kemajuan industri
pesawat tempur dan senjata militer bisa dimanfaatkan untuk memperkuat militer
negara fasis.
2.1.7 Negara Penganut Fasisme
1. Fasisme Jerman
Paham Fasisme di Jerman disebut Nazi (Nazisme). Nazi adalah suatu
partai di bawah pimpinan Adolf Hitler. Seusai Perang Dunia I, Jerman berubah
menjadi Republik yang semula adalah kerajaan. Pemimpin pertama adalah Ebert,
Berkuasa antara tahun 1919 – 1925, pemimpin selanjutnya adalah Presiden
Hindenburg (1925 – 1934). Dalam pemerintahan republic ini, Jerman mengalami
berbagai macam kesulitan, Baik dalam keuangan (Inflasi) maupun kekacauan
ekonomi (Malaise). Dalam keadaan Negara yang kacau tersebut rakyat Jerman
mengharapkan orang yang kuat untuk memperbaiki keadaan. Dalam suasana yang
kacau ini munculah Adolf Hitler dengan partai Extrim yaitu NAZI.
Nazisme adalah:
1). Paham yang mengutamakan kepentingan Negara diatas segala – galanya,
karena itu terbentuk negara totaliter.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
23
2). Paham kemasyarakatan yang nasional sosialistis (satu buat semua, semua buat
satu, tetapi hanya untuk Jerman).
3). Untuk membentuk Negara totaliter pemerintahan harus dipimpin o leh satu
pemimpin yang bertanggung jawab atas segala – galanya artinya pemerintahan
harus disusun secara Diktaktor.
Adolf Hitler selalu menekankan kepada pemuda Jerman bahwa bangsa
Jerman adalah bangsa yang besar yang ditakdirkan untuk memerintah dunia
(Deucland Uber Aless) karena bangsa Jerman adalah bangsa berdarah Arya, yang
merupakan pangkal kekuatan jerman. Namun kekuatan itu sedang terbelenggu
oleh kekuatan asing, yaitu bangsa Yahudi dan Komunis. Orang Yahudi sebagai
penyebab semua itu harus dimusnahkan. Selanjutnya, kata Adolf Hitler untuk
melepaskian diri dari penderitaan dan meluaskan ruang hidup, Jerman harus
membentuk angkatan perang yang sangat kuat yang dipimpin oleh seorang Fuhrer
(pemimpin besar).
Setelah Perang Dunia I Negara Jerman yang semula berbentuk Kerajaan
berubah menjadi Republik. Akan tetapi, masa pemerintahan republic ini tidak
berhasil mengatasi kekacauan ekonomi sebagai akibat Perang Dunia I, Lebih lagi
Jerman berada di pihak yang kalah. Dengan adanya hal tersebut, Timbullah
ketidakpuasan
rakyat
yang
menimbulkan
kekacauan-kekacauan,
bahkan
pemberontakan- pemberontakan. Sementara itu Partai Nasionalis Jerma n atau
National Sozialistische Deutsche Arbeiter. (NSDAP) yang disingkat dengan Nazi
berkembang menjadi partai yang kuat dipimpin oleh Adolf Hitler. Nazi berusaha
merebut kekuasaan tetapi gagal. Hitler dipenjarakan. Dipenjara itulah Hitler
http://digilib.mercubuana.ac.id/
24
menulis buku Mein Kamf (Perjuanganku) isinya mengenai paham – paham Nazi.
Dalam waktu singkat Partai Nazi yang dipimpin Hitler maju dengan pesat. Pada
tahun 1933 Adolf Hitler diangkat menjadi Perdana Menteri (Kanselor) oleh
Presiden Hindenburg.
Kebijaksanaan Hitler sebagai perdana menteri yaitu:
a). Jerman keluar dari LBB karena usahanya mengenai penambahan jumlah
militer Jerman ditolak;
b). Membatalkan semua perjanjian internasionalnya, termasuk Perjanjian
Versailles yang dianggapnya sangat merugikan pihak Jerman;
c). Memperkuat armada militernya untuk merebut kembali sungai Rijn;
d). Membangun industrinya termasuk industri perang.
2. Fasisme Italia
Fasisme di Italia Setelah Perang Dunia Ke I, pemerintahan di Italia
dipegang oleh Kaisar Victor Emmanuel III yang lemah, tidak tegas dan tidak
disukai rakyatnya. Dalam keadaan sperti itu muncul golongan Ultra Nasionalis
yang mendapat dukungan besar dari rakyat. Pada tahun 1919 golongan Ultra
Nasionalis berhasil mendirikan Partai Fasis dibawah pimpinan Benito Mussolini.
Tahun 1922 Mussolini berhasil merebut pemerintahan setelah berkuasa, Benito
Mussolini menjalankan tugas panggilan suci yaitu mengembalikan masa kejayaan
Romawi Kuno yang diberi nama Italia La Prima.
Kebaktian yang mutlak kepada bangsa dan Negara menjadi prinsip dasar
bagi pendidikan fasisme di Italia. Pada tahun 1922 itu Partai Fasis yang dipimpin
http://digilib.mercubuana.ac.id/
25
oleh Benito Mussolini dan beranggotakan 50 ribu orang mengadakan long march
ke Roma dengan tujuan menuntut Perdana Menteri Italia untuk mengundurkan
diri. Raja Italia menunjuk Mussolini sebagai perdana menteri, mulailah
pemerintahan diktator Mussolini (1922 - 1944).
Dengan paham fasisnya, Mussolini melaksanakan tindakan - tindakannya
sebagai berikut:
a). Diadakannya perjanjian Lateran (1929) dengan Sri Paus di Roma, yang
menghasilkan terbentuknya Negara Vatikan seluas 44 ha. Selesailah soal Roma,
yaitu pertentangan antara Paus dan pemerintahan Italia.
b). Untuk melaksanakan Italia Irredenta- nya, pada tahun 1934, Italia bersahabat
dengan Perancis karena khawatir terhadap kekuasaan Jerman.
c). Pada tahun 1936, Italia dapat menduduki Ethiopia sehingga Kaisar Ethiopia
mengajukan protes ke LBB, akhirnya Italia keluar dari LBB.
d). Membantu Jendral Franco dalam perang saudara di Spanyol (1936-1939).
e). Italia menjalin kerjasama dengan Jerman untuk tidak saling mengganggu
dalam mencapai cita – citanya masing – masing.
Dalam waktu singtkat Italia dibawah Mussolini berkembang menjadi
Negara kuat berpahamkan Fasisme. Mussolini yang berkuasa kemudian bertindak
secara diktator seperti :
1). Mengangkat dirinya menjadi perdana menteri merangkap menjdi panglima
angkatan perang;
2). Menempatkan anggota partai fasis dalam jabatan penting di pemerintahan
3). Menyingkirkan kaum oposisi dengan kekerasan senjata
http://digilib.mercubuana.ac.id/
26
4). Menghapuskan dewan perwakilan rakyat gaya lama
5). Mmebuat undang - undang berdasarkan dekrit dari pusat
6). Menghapuskan hak - hak asasi manusia
7). Melarang emigrasi, perceraian, dan pembatasan kelahiran agar jumlah
penduduk bertambah cepat.
8). Membatasi wewenang badan legislatif
9). Sri Paus diakui kekuasaannya sebagai kepala gereja yang berkedudukan di
Vatikan
Setelah merasa kuat Mussolini segera melancarkan politik ekspansionisme
dengan menyerang dan menduduki Abessinia dan Ethiopia pada tahun 1935.
Untuk memperkuat kedudukannya Italia menjalin kerjasama yang erat dengan
Jerman dibawah Hitler. Fasisme di Italia mempunyai kesamaan dengan Naziisme
di Jerman, yaitu bersifat Ultra Nasionalisme, militerisme, antiliberalisme,
diktatorisme, antiindividualisme, dan antikomunisme, bagi Fasisme berlaku
semboyan semua untuk Negara. Dalam perkembangannya Fasisme kemudian
menjadi penyebab meletusnya Perang Dunia ke II.
3. Fasisme Jepang
Fasisme di Jepang menurut catatan Marcopolo nama Jepang disebut
Zipango yang berasal dari kata Kajipon artinya Matahari terbit. Sejak abad 6 nama
itu diubah menjadi Nipong (Nipon, Dai Nihon). Menurut sejarah kekaisaran
Jepang telah didrikan pada tahun 660 SM oleh Kaisar Tenno Jimmu. Tahun 660
ini dijadikan sebagai permulaan tarikh Jepang. Agama atau kepercayaan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
27
kepercayaan nenek moyang bangsa Jepang disebut Shinto, artinya jalan Dewadewa (shinto - dewa to - jalan). Selain agama shinto sejak abad 6 di Jepang telah
pula menyebar agama Budha.
Di Jepang ada dua golongan bangsawan yang berpengaruh yaitu Dalmyo
artinya golongan bangsawan tinggi dan Samurai artinya golongan bangsawan
rendahan. Kaum Samurai ini merupakan tentara pengawal keamanan kerajaan
yang berdisiplin tinggi dan setia disebut Bushido. Jika seorang samuarai
melanggar Bushido Ia akan menghukum dirinya dengan menikam perutnya
menggunakan pedang samurai disebut hara-kiri. Pemerintahan di Jepang bersifat
turun temurun secara bergantian. Kaisar Matsuhito sebagai Kaisar Meiji dikenal
memiliki jiwa Nasionalisme yang tinggi yang ingin menjadikan Jepang sebagai
negara yang bersatu dan maju seperti negara-negara di Eropa. Politik isolasi
Jepang menurutnya sangat merugikan Jepang dan merupakan penyebab
keterbelakangan Jepang. Ia kemudian menerapkan system pemerintahan yang
berparlemen seperti yang diterapkan di Negara-negara Eropa.
Untuk mempersatukan seluruh negeri Jepang. Kaisar Meiji melakukan
tindakan-tindakan sebagai berikut:
1) Membentuk Dewan Perwakilan Rakyat (Sementara) Yang bertugas menyusun
Undang Undang Dasar Jepang (Diet/Gikay).
2) Memindahkan ibukota Jepang dari Kyoto ke Tokyo
3) Menetapkan Hinomaru (Matahari Terbit) sebagai bendera kebangsaan Jepang
4) Menetapkan Shintoisme sebagai agama negara Jepang
http://digilib.mercubuana.ac.id/
28
5) Menetapkan lagu kebangsaan Jepang Kimigayo
6) Membangun angkatan laut Jepang seperti Inggris dan Jerman. Disamping itu,
Kaisar Meiji juga mengeluarkan pernyataan kemerdekaan tanggal 8 April 1868
yang berisikan:
a. Semua jabatan di pemerintahan terbuka untuk umum
b. Akan dibentuk DPR sebagai lembaga perwakilan untuk umum
c. Segala adapt istiadat kolot yang menghambat kemajuan Jepang
dihapuskan
d. Akan dibentuk Tentara Nasional Jepang
e. Segenap rakyat Jepang wajib bersatu memajukan negara.
f.
Setiap warga negara Jepang mempunyai hak dan kewajiban yang sama
dalam pemerintahan
g. Setiap warga negara Jepang diwajibkan menambah ilmu pengetahuan
sebanyak-banyaknya untuk memajukan negara.
Restorasi dalam segala bidang telah mengangkat bangsa dan negara
Jepang pada puncak keunggulannya. Jepang telah menjelma menjadi Negara yang
kuat dan modern. Kedudukannya sejajar dengan Negara-negara besar di Eropa.
Oleh sebab itu Jepang mulai melibatkan diri dalam dunia Internasional. Beberapa
faktor yang mendorong Jepang menjadi Negara Imperialis baru adalah sebagai
berikut:
1. Pendidikan Jepang dalam segala bidang seperti industri, perdagangan, angkatan
perang, pendidikandan semangat patriotik. Perkembangan industri yang pesat
membutuhkan daerah pemasaran dan sekaligus bahan baku demi kelangsungan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
29
industrinya.
2. Pertambahan penduduk yang sangat pesat karena kemakmuran yang meningkat.
Tahun 1872penduduk Jepang berjumlah 35 juta sedang tahun 1930 telah menjadi
72 juta.
3. Ristriksi ( pembatasan ) Imigrasi bangsa Jepang oleh bangsa-bangsa Eropa
4. Pengaruh ajaran agama Shyinto tentang Hokko Ichin U (Dunia sebagai satu
keluarga) menyatakanbahwa Jepang harus menyusun dunia sebagai keluarga
besar.
2.1.8
Ideologi dalam Film
Sebagai sebuah media, film tentunya mewakili pandangan-pandangan
yang dimiliki oleh kelompok tertentu, termasuk ideologi serta gagasan yang
dibawa oleh kelompok tersebut. Hal ini menjadi sangat esensial, karena dalam
penyampaiannya, film menyampaikan ideologi dengan lebih halus serta memiliki
unsur paksaan. Hal itu dikarenakan ketika kita menonton film komunikasi yang
terjadi lebih bersifat satu arah. Dimana kita sebagai penonton akan disuguhi
berbagai macam informasi yang ada dan ditampilkan dalam film, dan kita secara
tidak sadar diharuskan untuk „menelan‟ segala macam informasi yang disajikan
dalam film tersebut. Lebih tepatnya pesan-pesan bermuatan ideologis yang berasal
dari pembuatnya. Memang film sudah terbukti bisa mempengaruhi ideologi
penontonnya.
Film sebagai media pada dasarnya merupakan hiburan tersendiri bagi
penonton. Selain sebagai hiburan tersendiri, ketika film yang sebenarnya memiliki
http://digilib.mercubuana.ac.id/
30
ideologi bisa menyampaikan pesan dan penontonnya bisa terpengaruh maka film
itu berhasil dalam menyampaikannya. Ketika calon penonton pada umumnya
menikmati film sebagai sajian audio-visual ini memilihnya sebagai hiburan,
mereka mencoba menyelam bersama dalam film itu. Mencoba menikmati saat
bersama, tertawa, menangis dan merasa ikut ambil bagian di dalam film tersebut.
Selain itu ketika menonton film ada semacam upaya untuk katarsis, melarikan diri
sesaat dari hiruk pikuk persoalan sehari-hari. Kemudian film juga dimanfaatkan
sebagai alat untuk mendukung propaganda ideologi, pendidikan politik dan halhal lainnya. Pada kondisi ini penonton digiring untuk menonton, memahami dan
menjadi bagian dari propaganda politik dalam pembuatan film.
2.2
FILM
2.2.1
Definisi Film
Film adalah media komunikasi yang bersifat audio visual untuk
menyampaikan suatu pesan kepada sekelompok orang yang berkumpul di suatu
tempat tertentu12 . Pesan film pada komunikasi massa dapat berbentuk apa saja
tergantung dari misi film tersebut. Akan tetapi, umumnya sebuah film dapat
mencakup berbagai pesan, baik itu pesan pendidikan, hiburan dan informasi.
Pesan dalam film adalah menggunakan mekanisme lambang- lambang yang ada
pada pikiran manusia berupa isi pesan, suara, perkataan, percakapan dan
sebagainya.
12
Effendy, Onong Uchjana. (1986). Dinamika Komunikasi. Bandung: Remadja Karya CV Hal
134.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
31
Film juga dianggap sebagai media komunikasi yang ampuh terhadap
massa yang menjadi sasarannya, karena sifatnya yang audio visual, yaitu gambar
dan suara yang hidup. Dengan gambar dan suara, film mampu bercerita banyak
dalam waktu singkat. Ketika menonton film penonton seakan-akan dapat
menembus ruang dan waktu yang dapat menceritakan kehidupan dan bahkan
dapat mempengaruhi audiens.
Dewasa ini terdapat berbagai ragam film, meskipun cara pendekatannya
berbeda-beda, semua film dapat dikatakan mempunyai satu sasaran, yaitu menarik
perhatian orang terhadap muatan- muatan masalah yang dikandung. Selain itu,
film dapat dirancang untuk melayani keperluan publik terbatas maupun publik
yang seluas- luasnya.
Pada dasarnya film dapat dikelompokan ke dalam dua pembagian dasar,
yaitu kategori film cerita dan non cerita. Pendapat lain menggolongkan menjadi
film fiksi dan non fiksi. Film cerita adalah film yang diproduksi berdasarkan
cerita yang dikarang, dan dimainkan oleh aktor dan aktris. Pada umumnya film
cerita bersifat komersial, artinya dipertunjukan di bioskop dengan harga karcis
tertentu atau diputar di televisi dengan dukungan sponsor iklan tertentu. Film non
cerita adalah film yang mengambil kenyataan sebagai subyeknya, yaitu merekam
kenyataan dari pada fiksi tentang kenyataan13 .
Film merupakan salah satu alat komunikasi massa, tidak dapat dipungkiri
bahwa antara film dan masyarakat memiliki sejarah yang panjang dalam kajian
13
Su marno, Marselli . (1996). Dasar-dasar Apresiasi Film. Jakarta: Grasindo, Hal 10.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
32
para ahli komunikasi. Sebuah film adalah tampilan gambar-gambar dan adegan
bergerak yang disusun untuk menyajikan sebuah cerita pada penonton.
Film memberikan pengalaman yang amat mengasyikan. Film membuat
orang tertahan, setidaknya, saat mereka menontonnya lebih intens ketimbang
medium lainnya. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 8 tahun 1992
disebutkan bahwa, film merupakan karya cipta seni dan budaya yang merupakan
media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas
sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video,
dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan
ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan
atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem
proyeksi mekanik, elektronik, dan atau lainnya.
Sebagai salah satu media komunikasi massa, menurut M. Alwi Dahlan,
film memiliki keunggulan di antaranya 14 :
1. Sifat informasi
Film memberikan keunggulan dalam menyajikan informasi yang lebih matang
secara utuh. Pesan-pesan didalamnya tidak terputus-putus, namun memberikan
pemecahan suatu permasalah dengan tuntas.
2. Kemampuan distorsi
14
Dahlan, M Alwi. (1981). Film Dalam Spektrum Tanggunga Jawab Komunikasi Massa, Seminar
Kode Etik Produksi Film Nasional. Jakarta, Hal 142.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
33
Sebagai media informasi, film dibatasi oleh ruang dan waktu tertentu. Untuk
mengatasinya media ini menggunakan “distorsi” dalam proses konstruksinya, baik
di tingkat
fotografi ataupun perpaduan
gambar dengan tujuan
untuk
memungkinkan seseorang untuk menciptakan atau mengubah informasi yang
ditangkap.
3. Situasi komunikasi
Film membawakan situasi komunikasi yang khas yang menambah intensitas
khalayak. Film dapat menimbulkan keterlibatan yang seolah-olah sangat intim
dengan memberikan gambar wajah atau bagian badan yang sangat dekat.
4. Kredibilitas
situasi komunikasi film dan keterlibatan emosional penonton dapat menambah
kredibilitas pada suatu produk film. Karena penyajian disertai oleh perangkat
kehidupan (pranata sosial), manusia dan perbuatannya, hubungan antar tokoh dan
sebagainya yang mendukung narasi, umumnya penonton dengan mudah
mempercayai keadaan yang digambarkan walaupun terkadang tidak logis atau
tidak berdasar kenyataan.
Film sangat berbeda dengan seni sastra, seni rupa, seni suara, seni musik,
dan arsitektur yang muncul sebelumnya. Seni film mengandalkan teknologi, baik
sebagai bahan baku produksi maupun dalam hal penyampaian terhadap
penontonya. Film merupakan penjelmaan terpadu antara berbagai unsur yakni
sastra, teater, seni rupa, dengan teknologi canggih dan modern serta sarana
http://digilib.mercubuana.ac.id/
34
publikasi 15 . Menurut Baksin, pesan-pesan komunikasi film juga dikelompokkan
dalam proses pembuatan dan penyampainnya, yang biasa disebut dengan genre.
Dalam sebuah genre film terdapat suatu unsur- unsur yang disebut repertoire of
elements16 , unsur-unsur tersebut meliputi:
1. Themes, yakni ide pokok atau gagasan yang menjiwai seluruh cerita.
2. Style, adalah cara penyajian seperti camera angles, editing, lighting, warna
dan elemen-elemen teknikal lainnya
3. Setting, seperti lokasi, periode waktu dll
4. Narrative atau alur cerita-bagaimana cerita disajikan
5. Iconography, berupa representasi simbolis
6. Characters, para aktor atau artis yang terlibat
7. Props, yakni properti yang digunakan dalam film
2.2.2
Genre Film
Genre film adalah bentuk, kategori atau klasifikasi tertentu dari beberapa
film yang memiliki kesamaan bentuk, latar, tema, suasana dan lainnya. Beberapa
genre film utama: Aksi, Petualangan, Komedi, Kriminal, Drama, Epik, Musikal,
Sains fiksi, Perang. Dari genre utama tersebut, genre film dapat dibagi lagi ke
dalam beberapa sub bagian, seperti: olahraga, komedi aksi, remaja, Film noir dll.
Genre film lain yang sering dibuat oleh para pembuat film, yaitu: Seru, Cerita,
Fantasi, Jagal, Horor.
15
Baksin, Askurifai. (2003). Membuat Film Indie Itu Gampang. Bandung : Katarsis, Hal 3.
Branston, Gill, and Roy Stafford. (2003). The Media Student’s Book . London: Routledge Tailor
& Francis Group.
16
http://digilib.mercubuana.ac.id/
35
2.3
Semiotika
2.3.1
Definisi Semiotika
Secara etimologis istilah semiotika berasal dari bahasa Yunani “semeion”
yang berarti ‟tanda‟17 atau seme,yang berarti ”penafsir tanda” 18 . Semiotika
kemudian didefinisikan sebagai studi tentang tanda dan cara tanda-tanda itu
bekerja 19 .
Adapun nama lain dari semiotika adalah semiologi. Jadi sesunguhnya
kedua istilah ini mengandung pengertian yang persis sama, walaupun penggunaan
salah satu dari kedua istilah tersebut biasanya menunjukkan pemikiran
pemakainya; mereka yang bergabung dengan Peirce menggunakan kata
semiotika,dan mereka yang bergabung dengan Saussure menggunakan kata
semiologi. Namun yang terakhir, jika dibandingkan dengan yang pertama, kian
jarang dipakai 20 . Ada kecenderungan, istilah semiotika lebih populer daripada
istilah semiologi sehingga para penganut Saussure pun sering menggunakannya.
Pokok perhatian semiotika adalah tanda. Tanda itu sendiri adalah sebagai
sesuatu yang memiliki ciri khusus yang penting. Pertama, tanda harus dapat
diamati, dalam arti tanda itu dapat ditangkap. Kedua, tanda harus menunjuk pada
sesuatu yang lain. Artinya bisa menggantikan, mewakili dan menyajikan.
17
Zoest, Aart Van. (1996). “ Interpretasi dan Semiotika”, dalam Sudjiman, P dan Aart Van Zoest
(E.d). Serba-Serbi Semiotika. Jakarta: Gramed ia Pustaka Utama, Hal v ii.
18
Cobley, Paul & Lit za, Jansz. (1999). Introducing Semiotics. New Yo rk : Icon bBo ks, Hal 4.
19
Sobur, Alex. (2003). Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, Hal 16.
20
Ibid, Hal 2
http://digilib.mercubuana.ac.id/
36
Preminger 21 berpendapat semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu
ini menganggap bahwa fenomena sosial/ masyarakat dan kebudayaan itu
merupakan tanda-tanda, semiotik itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan,
dan konvensi-konvensi yang memungkikan tanda-tanda tersebut mempunyai arti.
Sementara Pierce 22 mengatakan pengertian semiotik adalah cabang ilmu yang
berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan
tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi pengunaan tanda.
Dari Pengertian Semiotik di atas dapat disimpulkan bahwa semiotik adalah
ilmu untuk mengetahui tentang sistem tanda, kovensi-konvensi yang ada dalam
sastra dan makna yang tekandung di dalamnya.
2.3.2
Tokoh-Tokoh Se miotika
a)
Ferdinand de Saussure (1857-1913)
Ferdinand de Saussure dilahirkan di Jenewa tanggal 26 November 1857
dari keluarga pemeluk taat Protestan Perancis yang bermigrasi dari wilayah
Lorraine ketika terjadi perang agama pada akhir abad ke-16. Dalam usia 15 tahun
ia telah menulis sebuah karangan mengenai bahasa yang berjudul “Essai sur les
Languages”. Pada tahun 1874 Ia mempelajari bahasa Sangsakerta. Awalnya Ia
mempelajari ilmu kimia dan fisika di Universitas Jenewa, kemudian belajar ilmu
bahasa di Leipzig pada tahun 1876-1878 dan di Berlin tahun 1878-1979. Pada
21
Pradopo, Rach mat Djoko. (2003). Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Hal 119.
22
Zoest, Aart Van. (1978). Semiotika Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan
Dengannya. Soekowati, Ani. 1993. Jakarta: Yayasan Sumber Agung, Hal 1 .
http://digilib.mercubuana.ac.id/
37
tahun 1880 Ia meraih gelar doktor dari Universitas Leipzig dengan disertasinya
De l’emploi du genitif absolu en sanscrift 23 .
Saussure juga dikenal sebagai tokoh besar strukturalis berkat buku
“Course de Linguistiqe General” atau linguistik umum. Buku itu merupakan
kumpulan bahan kuliah yang dikumpulkan oleh mahasiswanya dan diterbitkan
menjadi sebuah buku. Dalam buku itu, ia mengajukan dua dikotomi, yaitu langue
dan parole dan tautan simtagmatik dan tautan paradigmatik 24 .
Sedikitnya, ada lima pandangan Saussure yang kemudian menjadi peletak
dasar strukturalisme, yaitu:
1.)
signifier (penanda) dan signified (petanda);
2.)
form (bentuk) dan content (isi);
3.)
langue (bahasa) dan parole (tuturan, ujaran);
4.)
synchronic (sinkronik) dan diachronic (diakronik);
5.)
syntagmatic (sintagmatik) dan associative (paradigmatik) 25 .
Menurut Saussure, bahasa itu merupakan suatu sistem tanda (sign). Tanda
adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau
petanda (signified). Penanda adalah aspek material dari bahasa dan petanda adalah
gambaran mental, pikiran atau konsep atau aspek mental dari bahasa. Istilah form
23
Hidayat, Asep Ahmad Hidayat. (2006). Filsafat Bahasa: Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna,
dan Tanda. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Hal 105.
24
Alwasilah, A. Chaedar. (2008). Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, Hal 77.
25
Sobur, Alex. (2003). Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya Hal 46.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
38
(bentuk) dan content (materi, isi) diistilahkan juga dengan expression dan content,
yang satu berwujud bunyi dan yang lain berwujud ide.
b)
Charles Sanders Pierce (1839-1914)
Charles Sanders Pierce adalah filsuf Amerika yang paling orisinil dan
multidimensional. Bagi teman-teman sejamannya ia terlalu orisinil. Dalam
kehidupan bermasyarakat, teman-temannya membiarkannya dalam kesusahan dan
meninggal dalam kemiskinan. Perhatian pada karya-karyanya tidak banyak
diberikan oleh teman-temannya. Pierce banyak menulis tetapi kebanyakan
tulisannya bersifat pendahuluan, sketsa dan sebagian besar tidak diterbitkan
sampai ajalnya. Baru pada tahun 1931-1935 Charles Hartshorne dan Paul Weiss
menerbitkan enam jilid pertama karyanya yang berjudul Collected Papers of
Charles Sanders Pierce. Pada tahun 1957 terbit jilid ketujuh dan kedelapan yang
dikerjakan oleh Arthur W Burks dan jilid terakhir berisi biografi dan tulisan
Pierce.
Menurut Pierce, manusia dapat berfikir dengan sarana tanda, manusia
hanya dapat berkomunikasi dengan sarana tanda. Semiotika merupakan
persamaan dari kata logika, dan logika harus mempelajari bagaimana orang
bernalar. Tanda-tanda memungkinkan manusia berfikir, berhubungan dengan
orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta.
Bagi Pierce, semiotika adalah suatu tindakan (action), pengaruh (influence) atau
kerja sama tiga subjek, yaitu tanda (sign), objek (object), dan interpretan
(interpretant). Pierce membedakan tiga konsep dasar semiotik, yaitu: 1) semiotik
http://digilib.mercubuana.ac.id/
39
sintaksis yang mempelajari hubungan antar tanda. Hubungan ini tidak terbatas
pada sistem yang sama; 2) semiotik semantik yang mempelajari hubungan antara
tanda, objek, dan interpretannya. Ketiganya membentuk hubungan dalam
melakukan proses semiotis; 3) semiotik pragmatik yang mempelajari hubungan
antara tanda, pemakai tanda, dan pemakaian tanda. Pendekatan yang dilakukan
oleh Pierce adalah pendekatan triadic, karena mencakup tiga hal yakni tanda, hal
yang diwakilinya serta kognisi yang terjadi pada pikiran seseorang pada waktu
menangkap tanda tersebut.
Peirce mengungkapkan bahwa pemaknaan suatu tanda bertahap-tahap.
Ada tahap kepertamaan (firstness), yaitu saat tanda itu dikenali pada tahap awal
secara prinsip saja, apa adanya tanpa merujuk ke sesuatu yang lain, keberadaan
dari kemungkinan yang potensial. Kemudian tahap kekeduaan (secondness), yaitu
saat tanda dimaknai secara individual. Kemudian keketigaan (thirdness), yaitu
saat tanda dimaknai secara tetap sebagai konvensi. Dalam analisis semiotiknya,
Peirce membagi tanda berdasarkan sifat dasar (ground) atau sesuatu yang
digunakan agar tanda dapat berfungsi. Ia membagi tanda tersebut menjadi tiga
kelompok, yakni qualisign, sinsign, dan legisign. Qualisign adalah kualitas yang
ada pada tanda. Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada
pada tanda. Sedangkan legisign adalah norma yang dikandung oleh petanda.
Peirce mengemukakan teori segitiga makna atau triangle meaning yang terdiri dari
tiga elemen utama yakni tanda (sign), object, dan interpretant.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
40
c)
Roland Barthes (1915-1980)
Roland Barthes yang dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis
yang getol mempraktekkan model linguistik dan semiologi Saussure. Barthes lahir
tahun 1915 dari keluarga kelas menengah Protestan di Cherbourg dan dibesarkan
di Bayonne, kota kecil dekat pantai atlantik di sebelah barat daya Prancis 26 .
Karena
Barthes
adalah tokoh
semiotika
yang
meneruskan dan
mengembangkan pemikiran de Saussure maka metode pemaknaan tanda-tanda
Barthes disebut semiologi Barthes. Istilah semiologi makin lama makin
ditinggalkan. Ada kecenderungan orang-orang lebih memilih kata semiotika
daripada semiologi, sehingga kata semiotika lebih populer daripada semiologi.
Pemikiran Barthes tentang semiotika dipengaruhi Saussure. Kalau
Saussure mengintrodusir istilah signifier dan signified berkenaan dengan
lambang- lambang atau teks dalam suatu paket pesan maka Barthes menggunakan
istilah denotasi dan konotasi untuk menunjuk tingkatan-tingkatan makna. Maka
denotasi adalah makna tingkat pertama yang bersifat objektif (first order) yang
dapat diberikan terhadap lambang- lambang, yakni dengan mengaitkan secara
langsung antara lambang dengan realitas atau gejala yang ditunjuk. Kemudian
makna konotasi adalah makna-makna yang dapat diberikan pada lambanglambang dengan mengacu pada nilai-nilai budaya yang karenanaya berada pada
tingkatan kedua (second order).
26
Parwito. (2007). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta:LKiS, Hal 163.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
41
Yang menarik berkenaan dengan semiotika Roland Barthes adalah
digunakannya istilah mitos (myth), yakni rujukan bersifat kultural (bersumber dari
budaya yang ada) yang digunakan untuk menjelaskan gejala atau realitas yang
ditunjuk dengan lambang- lambang penjelasan mana yang notabene adalah makna
konotatif dari lambang- lambang yang ada dengan mengacu sejarah (di samping
budaya). Dengan kata lain, mitos berfungsi sebagai deformasi dari lambanglambang yang kemudian menghadirkan makna- makna tertentu dengan berpijak
pada nilai- nilai sejarah dan budaya masyarakat.
Bagi Barthes, teks merupakan konstruksi lambang- lambang atau pesan
yang pemaknaannya tidak cukup hanya dengan mengaitkan signifier dengan
signified semata sebagaimana disarankan oleh Saussure, namun juga harus
dilakukan dengan memerhatikan susunan (construction) dan isi (content) dari
lambang. Karena hal ini maka pemaknaan terhadap lambang-lambang, bagi
Barthes,
selayaknya
dilakukan dengan
merekonstruksi
lambang- lambang
bersangkuan. Dalam upaya rekonstruksi ini, deformasi rupanya tak terelakkan:
banyak hal di luar (atau tepatnya di balik) lambang (atau mungkin bahasa) harus
dicari untuk dapat memberikan makna- makna terhadap lambang- lambang, dan
inilah yang disebut mitos.
Barthes menekankan bahwa semiologi hendaknya mempelajari bagaimana
kemanusiaan (humanity) memaknai hal- hal dalam kehidupan sosial manusia.
Memaknai (to signify) dalam hal ini tidak dapat dicampur adukan dengan
mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek
http://digilib.mercubuana.ac.id/
42
tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak
berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda 27 . Barthes
menciptakan sebuah peta tentang bagaimana tanda bekerja.
Gambar 2.1
Peta tanda Roland Barthes
1. Signifier
2. Signified
(penanda)
(petanda)
3. Denotative sign (tanda denotatif)
4. Connotative signifier
5. Connotative signified
(penanada konotatif)
(Petanda konotatif)
6. Connotative sign (tanda konotatif)
Sumber : Alex Sobur. Semiotika Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya: Bandung, 2009, hal. 69
Dari peta Barthes terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1)
dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif da lah juga
penanda konotatif (4).
27
Sobur, Alex. (2003). Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, Hal 15.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
43
Untuk menganalisis film dapat menggunakan model Roland Barthes, yaitu
dilakukan dengan mengkaji pesan yang dikandungnya. Metode ini dapat
diterapkan dalam film dengan menganalisa pesan yang terkandung dalam:
1.
Pesan linguistik (semua kata dan kalimat dalam film)
2.
Pesan ikonik yang terkodekan (konotasi yang muncul dalam foto filmyang hanyak berfungsi jika dikaitkan dengan sistem tanda yang lebih luas
dalam masyarakat)
3.
Pesan ikonik tak terkodekan (denotasi dalam foto iklan)
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang
disebutnya sebagai mitos dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan
pembenaran bagi nilai- nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.
Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda dan
tanda, namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai
pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau, dengan kata lain, mitos adalah juga
suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua.
Mitos menurut Barthes terletak pada tingkatan kedua penandaan. Setelah
terbentuk sistem sign-signifier-signifid, tanda tersebut akan menjadi penanda baru.
Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang
menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos.
Gambar 2.2
http://digilib.mercubuana.ac.id/
44
Signifikansi dua tahap Roland Barthes
Sumber: John Fiske. Cultural and Communication Studies: Sebuah pengantar Paling
Komperhensif, Jalasutra: Yogyakarta, 2004, hal. 122
Model barthes ini adalah model matematis yang sering disebut sebagai
signifikansi dua tahap Barthes. Tahapan pertama adalah pemaknaan tanda yang
berdasarkan atas realita dari tanda dan tahapan kedua adalah tahapan penandaan
yang didasarkan atas kultur atau budaya yang ada di dalam masyarakat. Dari
kedua tahapan penandaan ini kemudian muncullah istilah denotasi, konotasi, dan
mitos. Keterangan lebih detail tentang signifikansi penandaan. Barthes adalah
sebagai berikut:
1.
Denotasi
Tatanan pertandaan pertama adalah landasan kerja Saussure. Tatanan ini
menggambarkan relasi antara penanda dan petanda di dalam tanda, dan antara
http://digilib.mercubuana.ac.id/
45
tanda dengan referennya dalam realitas eksternal. Barthes menyebut tatanan ini
sebagai denotasi.
2.
Konotasi
Dalam
istilah
yang digunakan
Barthes,
konotasi dipakai untuk
menjelaskan salah satu dari tiga cara kerja tanda dalam tatanan pertandaan kedua.
Konotasi menggambarkan interaksi yang berlangsung tatkala tanda bertemu
dengan perasaan atau emosi penggunanya dan nilai- nilai kulturalnya. Bagi
Barthes, faktor penting dalam konotasi adalah penanda dalam tatanan pertama.
Penanda tantan pertama merupakan tanda konotasi.
3.
Mitos
Cara kedua dari tiga cara Barthes mengenai cara bekerjanya tanda dalam
tatanan kedua adalah melalui mitos. Bagi Barthes, mitos merupakan cara berpikir
dari suatu kebudayaan tentang sesuatu, cara untuk mengkonseptualisasikan atau
memahami sesuatu. Bila konotasi merupakan pemaknaan tatanan kedua dari
penanda, mitos merupakan tatanan kedua dari petanda.
Aspek lain dari mitos yang ditekankan Barthes adalah dinamismenya.
Mitos berubah dan beberapa diantaranya dapat berubah dengan cepat guna
memenuhi kebutuhan perubahan dan nilai- nilai cultural dimana mitos itu sendiri
menjadi bagian dari kebudayaan tersebut.
Signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan
signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya
http://digilib.mercubuana.ac.id/
46
sebagai denotasi yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang
digunakan Barthes untuk menunjukan signifikasi tahap ke dua. Hal ini
menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau
emosi dari pembaca serta nilai- nilai dari kebudayaannya. Konotasi mempunyai
makna yang subjektif atau paling tidak intersubjektif. Pemilihan kata-kata kadang
merupakan pilihan terhadap konotasi, misalnya kata “penyuapan” dengan
“memberi uang pelicin”. Dengan kata lain, denotasi adalah apa yang digambarkan
tanda
terhadap
sebuah
objek,
sedangkan
konotasi
adalah
bagaimana
menggambarkannya.
Pada signifikasi tahap ke dua yang berhubungan dengan isi, tanda bekerja
melalui mitos (myth). Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau
memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam. Mitos merupakan
produk kelas sosial yang sudah memiliki suatu dominasi. Mitos primitif misalnya,
mengenai hidup dan mati, manusia dan dewa dan sebagainya. Sedangkan mitos
masa kini misalnya mengenai feminitas, maskulinitas, ilmu pengetahuan, dan
kesuksesan.
Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda.
Petanda lebih miskin dari penanda, sehingga dalam praktiknya terjadilah
pemunculan konsep secara berulang-ulang dalam bentuk-bentuk yang berbeda.
Mitologi mempelajari bentuk-bentuk tersebut karena pengulangan konsep terjadi
dalam wujud pelbagai bentuk tersebut.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
47
Barthes mengartikan mitos sebagai cara berpikir kebudayaan tentang
sesuatu, sebuah cara mengkonseptualisasi atau memahami sesuatu hal. Barthes
menyebut mitos sebagai rangkaian konsep yang saling berkaitan. Mitos adalah
sistem komunikasi, sebab Ia membawakan pesan. Maka itu, mitos bukanlah objek.
Mitos bukan pula konsep ataupun suatu gagasan, melainkan suatu cara
signifikansi, suatu bentuk. Lebih jauh lagi, mitos tidak ditentukan oleh objek
ataupun materi (bahan) pesan yang disampaikan, melainkan oleh cara mitos
disampaikan. Mitos tidak hanya berupa pesan yang disampaikan dalam bentuk
verbal (kata-kata lisan ataupun tulisan), namun juga dalam berbagai bentuk lain
atau campuran antara bentuk verbal dan nonverbal. Misalnya dalam bentuk film,
lukisan, fotografi, iklan, dan komik. Semuanya dapat digunakan untuk
menyampaikan pesan.
Jadi disini mitos menurut Barthes mempunyai makna yang berbeda
dengan konsep mitos dalam artian umum. Yaitu mitos yang dimengerti sebagai
percobaan manusia untuk mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan
tentang alam semesta, termasuk dirinya sendiri seperti tertulis dalam mitologi
yunani.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Download