1 LATAR BELAKANG KERJASAMA MILITER LIBYA DAN RUSIA

advertisement
LATAR BELAKANG KERJASAMA MILITER LIBYA
DAN RUSIA TAHUN 2008
Hubungan antara Libya dan Rusia dapat terlacak sejak tiga
dasawarsa yang lalu. Secara resmi, hubungan diplomatik antara kedua
negara terbentuk pada tahun 4 September 1955. Waktu itu, Libya
masih merupakan sebuah kerajaan yang berdiri pada 24 Desember
1951. Raja Idris І bertindak sebagai pemimpin pemerintahan pertama,
ia merupakan seorang tokoh yang dikenal pro-Barat
. Rusia juga
masih merupakan negara bagian Uni Soviet, yang merupakan negara
bagian terbesar dalam Uni Soviet-negara adikuasa yang berideologi
komunis, yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer kedua terbesar
di dunia. Namun hubungan antara kedua negara ini tidak terlalu erat.
Sebab, sejak kemerdekaannya pada tahun 1951 Libya cenderung
menjalin aliansi yang kuat dengan Negara Blok Barat, yaitu Amerika
Serikat dan Inggris. Kedua negara ini juga mendirikan pangkalan
militernya di Libya.
Pada tanggal 1 September 1969 terjadi kudeta militer yang
dipimpin oleh Kapten Muammar Qaddafi. Gerakan ini dikenal dengan
1
nama “Revolusi Al-Fatah”. Setelah sukses melakukan kudeta Qaddafi
mendeklarasikan kemerdekaan Libya untuk yang kedua kalinya. Inilah
kemerdekaan Libya sepenuhnya, yang bebas dari pengaruh negaranegara Barat. Libya pun memproklamasikan berdirinya ”Great
Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya”, Qaddafi tampil sebagai
pemimpin tertinggi di negara itu. Dalam kepemimpinannya, Qaddafi
melakukan revolusi budaya yang berisikan penyingkiran semua
ideologi yang berbau asing dan menyerukan semboyan sosialisme,
persatuan serta kebebasan.
Pada masa Muammar Qaddafi berkuasa di Libya pada 1969,
hubungan bilateral antara Libya dan Rusia (Uni Soviet) terus terjalin .
Pada tahun-tahun 1976, 1981 and 1985, Muammar Qaddafi melakukan
beberapa kunjungan resmi ke Moskow. Kontrak kerjasama militer
terjalin di periode ini, seperti pembelian alutsista dengan estimasi
biaya US$ 20 milyar, pelatihan tentara dan peneliti (scientist)
sebanyak 7600 orang. Serta rencana deklarasi pertemanan yang
berisikan pembelaan Rusia terhadap Libya apabila Libya di invasi oleh
negara lain . Namun deklarasi ini gagal ditandatangani karena Rusia
kecewa dengan Qaddafi dalam penanganan beberapa konflik yang
terjadi di Chad, Mesir dan Teluk Sidra.
2
Libya dalam melakukan hubungan luar negeri, justru lebih
condong ke Rusia. Hal ini banyak dibuktikan dengan beberapa
kerjasama militer, serta pertemuan-pertemuan politik antara kedua
kepala negara. Walaupun secara geografis Libya dan Rusia terpisah
jauh. Kerjasama militer antara Libya dan Rusia dapat dikatakan usaha
Libya menjadikan Rusia sebagai mitra utama dalam membangun
armada militernya dilatarbelakangi oleh banyaknya kesamaan yang
dimiliki oleh kedua negara dalam hal atau isu keamanan yang
dihadapi.
Tekanan yang dihadapi Libya dari AS (Amerika Serikat)-yang
merupakan implikasi dari gesekan ideologi pada Era Perang Dinginmemaksa Libya untuk menjalin hubungan dengan Uni Soviet, yang
dianggap sebagai negara ‘musuh’ AS. Hal tersebut yang dapat dilihat
dari beberapa kejadian, seperti pembakaran kedubes AS di Tripoli,
pesawat AS menembak jatuh pesawat Libya di Teluk Sidra, penutupan
kedubes di negara masing-masing, penghentian hubungan dagang serta
embargo terhadap perlengkapan penambangan minyak secara selektif
oleh AS, sebelum akhirnya pesawat AS membombardir Tripoli,
Benghazi dan kediaman Qaddafi. Tekanan dunia internasional,
khususnya AS semakin keras ketika Libya dituding terlibat dalam
3
peledakan pesawat PAN AM dan pengeboman diskotik di Berlin Barat
yang menewaskan banyak warga AS.
Hubungan antara Libya dan Uni Soviet berlanjut ke dalam
bentuk kerjasama militer yang ditandai dengan pembelian persenjataan
besar-besaran oleh Libya dari Uni Soviet. Namun, karena penggunaan
persenjataan yang disuplai Uni Soviet dalam konflik Libya-Chad,
hubungan Libya dan Uni Soviet merenggang. Hasilnya, relasi SovietLibya mengalami titik nadir pada pertengahan 1987 1.
Pada Desember 1991 Uni Soviet dinyatakan bubar, sebagai
akibat dari krisis ekonomi yang berujung pada krisis politik. Pemimpin
Uni Soviet pada waktu itu, Mikhail Gorbachev mengeluarkan
kebijakan glasnost (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi)
sebagai upaya untuk memodernisasi negara menjadi lebih demokratis.
Akan tetapi upaya ini justru berujung pada bubarnya Uni Soviet.
Hubungan diplomatik antara Rusia dengan Libya kembali
terjalin setelah secara resmi Libya mengakui terbentuknya negara
Federasi Rusia. Kedua negara terus-menerus melakukan dialog politik
secara intensif. Dilanjutkan dengan kunjungan kerja Menteri Luar
Negeri Rusia ke Tripoli pada Mei 2001. Selama periode 1997-2001,
4
secara bergantian kedua negara melakukan lima sesi kerjasama teknis
dan ekonomi perdagangan dalam Intergovernmental Russo-Libyan
Commission 2. Pada Desember 2005, delegasi Rusia yang dikepalai
oleh Ketua Komite Urusan Luar Negeri MV Margelov berkunjung ke
Libya untuk melakukan dialog antara parlemen.
Pada 20 April 2008, Presiden Vladimir Putin melakukan
kunjungan ke Tripoli. Dalam pertemuan ini ditandatangani deklarasi
persahabatan yang merupakan babak baru hubungan Libya dan Rusia,
setelah terhenti selama 23 tahun. Dalam kunjungan ini disepakati
berbagai dokumen kerjasama, khususnya mengenai deklarasi untuk
mempererat persahabatan dan kerjasama multidisiplin, maupun
memorandum dan kontrak antara para pelaku ekonomi dari kedua
negara. Dalam deklarasi tersebut terdapat 4 poin penting kerjasama,
yaitu:
1.
Konsolidasi hubungan persahabatan dan kerjasama
sesuai dengan tujuan luar negeri masing-masing.
2.
Peran dan tanggung jawab aktif dalam menjaga
stabilitas keamanan internasional.
5
3.
Mewujudkan sistem multipolar internasional yang
berbasis pada hubungan saling menghormati demi
keamanan internasional.
4.
Komitmen dan partisipasi aktif untuk memperkuat
peran
sentral
PBB
serta
aturan-aturan
hukum
internasional.
Sebagai balasan atas kunjungan Putin ke Tripoli, pada
November 2008, setelah lebih dari dua dekade pemimpin Libya
Muammar Qaddafi melakukan kunjungan resmi ke Moskow. Pada
pembicaraan ini disepakati Persetujuan Kerjasama Pemerintah dalam
bidang riset energi atom untuk kepentingan damai, kesepakatan untuk
bersama-sama mendirikan bank dan beberapa kesepakatan lain yang
mempererat momentum kerjasama.
Di samping itu, Libya dan Rusia juga menandatangani
perjanjian kerjasama militer senilai US$ 4,6 Milyar untuk pembelian
senjata dan pembangunan infrastruktur di Libya. Dilanjutkan dengan
kunjungan balasan oleh Qaddafi pada bulan November 2008 ke
Moskow, dalam kunjungan ini Qaddafi menandatangani kerjasama
pembangunan nuklir sipil serta menawarkan diri pada Rusia untuk
6
membuka pangkalan angkatan laut di Libya. Kerjasama dilanjutkan
dengan pada 1 Maret 2009, ketika Libya membeli 3 kapal cepat
berudal kelas Molniya Project 1241.8, pesawat SU-30 MKI, tank T-90
dan sistem pertahanan udara Tor-M2E senilai 200 juta USD dari
Rusia.
Sebagai ahli waris utama negara adikuasa Uni Soviet, Rusia
mewarisi kurang lebih 50% aset-aset ekonomi dan persenjataannya.
Kekuatan militer yang dimiliki Rusia sebagian besar merupakan
peninggalan masa Uni Soviet. Rusia juga masih memiliki persenjataan
nuklir warisan Uni Soviet Saat ini, Rusia berusaha keras untuk meraih
kembali statusnya sebagai negara adidaya. Hubungan kerjasama
militer yang dilakukan Rusia denga Libya ini merupakan usaha Rusia
untuk meraih kembali statusnya sebagai negara adidaya di bidang
militer. Dominasi Amerika Serikat dan sekutunya dalam politik
ekonomi dan militer dunia internasional secara tidak langsung
mempengaruhi kebijakan luar negeri Rusia. Dalam lingkup kawasan
Afrika Utara, Rusia berusaha menjadi kekuatan penyimbang bagi
hegemoni Amerika Serikat.
Amerika Serikat adalah satu-satunya negara adikuasa yang ada
di dunia setelah runtuhnya Uni Soviet. Amerika dengan sejarahnya
7
yang begitu panjang, memiliki hereditas tersendiri bagi kehidupan
politik dunia, ditambah dengan dominasi dan hegemoninya terbukti
dapat memaksimalkan daya tawarnya yang begitu tinggi dalam
mengatur kebijakan-kebijakan luar negerinya bagi negara lain demi
kepentingannya,
bahkan
Amerika
tidak
segan-segan
untuk
menerapkan standar ganda demi memenuhi kepentingan nasionalnya .
Standar ganda dalam konteks ini adalah pengaplikasian
kebijakan yang ketat terhadap suatu negara namun memberikan
kebebasan sepenuhnya terhadap negara lain dalam situasi yang sama .
Sebagai contoh Amerika menghalang-halangi kemajuan teknologi
nuklir Iran namun secara terang-terangan menbantu instalasi nuklir
India yang jelas tidak menandatangani perjanjian non-proliferasi
nuklir.
Di awal abad 21 partisipasi Amerika dalam isu internasional
terlihat dari keterlibatan negara adidaya itu dalam organisasiorganisasi internasional seperti Persekutan Bangsa-bangsa (PBB),
NATO dan World Trade Organization (WTO). Pada akhir abad 20 ini
muncul sebuah statement dari presiden Clinton pada saat terjadi protes
terhadap pertemuan WTO di Seattle, Washington di akhir 1999.
8
“We cannot grow the American economy in the 21st century
unless we continue to sell more to a world that is prospering and that
is more connected with everything else in the world.”
Memasuki abad ke 21, Amerika memiliki tantangan besar.
Terlebih pasca serangan teroris pada tanggal 11 September 2002 atau
yang lebih dikenal dengan peristiwa 9/11 yang membawa dampak
yang begitu besar terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Dalam merespon kejadian ini Presiden Amerika terpilih George
Walker Bush mengeluarkan kebijakan luar negeri Amerika yang
berjudul The National Security Strategy of the United States dan lebih
dikenal dengan Bush Doctrine atau doktrin Bush.
Isi dari doktrin tersebut antara lain:
1. We will defend the peace by fighting terrorist and tyrants
2. We will preserve the peace by building good relations
among great powers
3. We will extend the peace by encouraging free and open
societies on every continent
9
Doktrin Bush telah digunakan untuk pertama kalinya saat
Amerika menyerang Irak pada tahun 2003 dimana Amerika tetap
yakin bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. Amerika
bergerak dengan dukungan dari sekutunya yaitu Inggris walaupun
sebenarnya penyerangan Amerika terhadap Irak tidak memiliki izin
dari Dewan Keamaan PBB. Dua pilar utama doktrin Bush ini (yaitu
pencegahan atau prevention dan unilateralisme) telah menjadi alasan
utama penyerangan Amerika terhadap Irak walaupun kepemilikian
senjata massal oleh Irak tidak terbukti, Amerika tetap berargumentasi
bahwa mereka telah menjatuhkan rezim dictator yang berbahaya dan
membuat
dunia
dan
memperbaiki
keamanan
kawasan
serta
memperluas demokratisasi.
Dalam pidato State of the Union, Presiden George W Bush
menegaskan kembali freedom sebagai nilai dari bangsa Amerika
dalam mewujudkan perdamaian dunia dan mendasari tiap langkah
politik luar negeri Amerika Serikat . Menurut Bush,
the only force powerful enough to stop the rise of tyranny and
terror, and replace hatred with hope, is the force of human freedom.
10
Dengan demikian, kebijakan politik luar negeri AS ke depan
tidak terlepas dari tujuan untuk mengakhiri tirani di seluruh dunia.
Amerika dalam persepsi Rusia masih merupakan ancaman
terbesar saat ini sampai tahun 2020. Hal ini dituangkan dalam Buku
Putih Pertahanan Rusia yang menyebutkan Amerika dan NATO
adalah ancaman yang nyata. Isi dari buku putih tersebut adalah
Point 8 : The inadequacy of the current global and
regional architecture, oriented (particularly in the EuroAtlantic region) towards NATO, and likewise the imperfect
nature of legal instruments and mechanisms, create an everincreasing threat to international security
Point 17 : A determining aspect of relations with NATO
remains the fact that plans to extend the alliance's military
infrastructure to Russia's borders, and attempts to endow
NATO with global functions that go counter to norms of
international law, are unacceptable to Russia.
Point 96 : In the interests of strategic stability and
equitable multilateral interaction on the international stage,
during the period of realisation of this Strategy Russia will
undertake all necessary efforts, with minimum expenditure, to
maintain parity with the United States of America in the area
of strategic offensive arms, given a situation in which the USA
is unfolding a global missile defense system and implementing
a global "lightning strike" concept using nuclear- and nonnuclear-equipped strategic bombers.
Melihat sejarah perang dingin, AS merupakan ancaman yang
nyata sampai saat ini. Hegemoni AS dalam dinamika politik
internasional dianggap dapat membahayakan pertahanan Rusia dimana
11
perselisihan idiologi antara kedua negara ini masih berlangsung
sampai saat ini. Politik luar Negri Rusia saat ini terkonsentrasi pada
pemulihan ekonomi melalui arm sales dan sumber daya alam untuk
industri-industrinya. Maka dari itu negara-negara kawasan Timur
tengah dan Afrika Utara menjadi fokus perhatian Rusia.
Amerika dalam persepsi Libya adalah, meskipun normalisasi
hubungan Libya dan Amerika telah berhasil pada tahun 2006. Hal ini
tidak semerta-merta megubah persepsi Libya akan Amerika sebagai
musuh. Normalisasi yang dilakukan oleh Libya dan Amerika sematamata hanya untuk kepentingan pemulihan ekonomi paska embargo
PBB tahun 1999. Dengan masuknya Amerika dalam bursa
perdagangan Libya diharapkan Amerika dapat memberikan tawaran
yang lebih mengingat Rusia sudah lama menjadi partner perdagangan
Libya.
Hubungan normalisasi merupakan langkah Libya untuk lepas
dari sangsi embargo oleh AS serta pencairan asset-aset Libya di AS.
Libya sendiri masih menganggap AS adalah ancaman terbesar untuk
dalam politik luar negri mereka.
12
Dalam kunjungan Qaddafi ke Venezuela pada 29 Oktober
2009, Qaddafi menyatakan “AS adalah ancaman paling besar, kita
harus bersatu membentuk formasi pertahanan, mereka ( AS ) tidak
memberikan kontribusi apapun pada Majelis Umum PBB, mereka
pikir mereka adalah Negara paling berkuasa di dunia”. Dari
pernyataan ini jelas Qaddafi masih menghawatirkan kembali hadirnya
AS di Libya dan mengajak Negara-negara sosialis untuk bersatu
membentuk kekuatan. Invasi AS ke Irak dan Afganistan merupakan
contoh nyata bagi Qaddafi untuk meningkatkan hubungan dengan
Negara-negara
sosialis
termasuk
menghadirkan
Rusia
dengan
membuka pangkalan angkatan laut Rusia di Benghazi.
Dicanangkannya deklarasi persahabatan pada Pada 20 April
2008 merupakan fenomena titik awal dimulainya kembali kerjasama
militer antara Libya dan Rusia. Tidak hanya di bidang militer Libya
juga menjanjikan kontrak-kontrak besar untuk perusahaan Rusia.
Terdapat pembelian beberapa alutsista dalam deklarasi tersebut serta
pemberian hak eksplorasi minyak untuk Rusia.
Kerjasama militer yang dijalin Rusia dan Libya berupa Arm
sales,alih teknologi serta latihan perang dari 1969 sampai 1985 telah
menyumbang 10% dari GDP Rusia (Uni Soviet) pada masa itu
13
Kebutuhan Rusia akan sumber daya alam sebagai negara industri
dalam hal ini untuk keperluan domestik serta komitmen expor, dapat
dipenuhi dengan menjalin kerjasama dengan Libya. Gazproom, adalah
perusahaan minyak Rusia yang mendominasi pasar minyak kawasan
eropa merupakan pemegang hak explorasi minyak di Libya dengan
nilai lebih dari US$ 20 milyar. Hak eksplorasi ini diberikan karena
Rusia bersedia menghapuskan hutang Libya pada masa Uni Soviet
sebesar US$ 4.5 milyar.
Sedangkan untuk Libya sendiri kerjasama militer dengan
menjadikan Rusia sebagai partner utama adalah sebagai sarana
memperkuat armada militernya dimana Libya adalah negara yang sarat
konflik baik dalam maupun luar negeri serta menjadikan Rusia sebagai
buffer bagi Amerika Serikat untuk tidak mengaggresi Libya.
14
Download