BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori

advertisement
BAB II
URAIAN TEORITIS
2.1 Kerangka Teori
Teori merupakan faktor yang sangat penting dalam proses penelitian.
Seorang peneliti harus memilih dan menentukan teori apa yang digunakannya
dalam penelitian. Sebagaimana yang di defenisikan oleh Nawawi dalam bukunya
Metode Penelitian Sosial, mengemukakan bahwa penelitian memerlukan
kejelasan titik tolak atau landasan berpikir dalam memecahkan atau menyoroti
masalah. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang memuatkan pokok-pokok
pikiran yang menggambarkan dari sudut mana masalah peneliti akan disoroti.
Menurut Kerlinger, teori adalah himpunan konstruksi (konsep), definisi
proporsi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala yang
menjabarkan relasi diantara variabel untuk menjelaskan dan meramalkan gejala
tersebut (Rakhmad, 2004 : 6). Dalam penelitian ini, teori-teori yang dianggap
relevan adalah :
2.1.1 Komunikasi Massa
Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris communication, berasal dari
bahasa latin communis, yang berarti “sama”. Sama dalam artian ini adalah makna,
maka komunikasi dapat terjadi apabila adanya kesamaan makna mengenai suatu
pesan yang akan disampaikan oleh sumber kepada khalayak yang tujuannya untuk
mengubah atau membentuk perilaku orang lain (Effendy, 2007: 3). Komunikasi
tidak akan berjalan dengan sukses tanpa adanya media sebagai jembatan antara
sumber dengan khalayak. Istilah ini disebut dengan komunikasi massa.
Universitas Sumatera Utara
Komunikasi massa pertama kali muncul pada akhir tahun 1930-an. Dalam
arti komunikasi massa lebih menunjuk kepada penerima pesan yang berkaitan
dengan media massa. Ada beberapa bentuk media massa antara lain media
elektronik, media cetak, buku serta film. Oleh karena itu, komunikasi massa dapat
didefenisikan sebagai proses penggunaan sebuah medium massa untuk mengirim
pesan kepada audiens yang luas dengan tujuan untuk memberikan informasi,
menghibur atau membujuk (Vivian, 2008: 450).
Komunikasi massa merupakan suatu proses yang begitu kompleks karena
didalamnya meliputi hubungan antara publik dan sarana saluran, termasuk
diantaranya beberapa aspek dalam komunikasi antarpribadi, komunikasi
kelompok, komunikasi organisasi yang secara keseluruhan masuk dalam
komunikasi organisasi massa.
Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh
Bittner dalam Rakhmat, (2009 : 188) adalah pesan yang dikomunikasikan melalui
media massa pada sejumlah besar orang. Definisi komunikasi massa yang lebih
rinci dikemukakan oleh ahli komunikasi lain, yaitu Gerbner. Menurut Gerbner
dalam Rakhmat, (2009 : 188) komunikasi massa adalah produksi dan distribusi
yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta
paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri. Sedangkan menurut
Rakhmat ( 2009 : 189) komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan
kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media
cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak
dan sesaat.
Universitas Sumatera Utara
Komunikasi massa memiliki beberapa karakteristik yang dikemukakan
oleh para ahli seperti menurut Wright dalam Ardianto, (2007: 4) komunikasi dapat
dibedakan dari corak-corak yang lama karena memiliki karakteristik utama yaitu:
1. Diarahkan kepada khalayak yang relatif besar, heterogen dan anonim
2. Pesan disampaikan secara terbuka
3. Pesan diterima secara serentak pada waktu yang sama dan bersifat
sekilas (khusus untuk media elektronik)
4. Komunikator cenderung berada atau bergerak dalam organisasi yang
kompleks yang melibatkan biaya besar.
Dari defenisi komunikasi massa yang dipaparkan diatas, dapat diketahui
bahwa komunikasi massa yaitu bahwa komunikasi massa harus menggunakan
media massa sebagai penghubung untuk disampaikan kepada khalayak. Kelebihan
dari komunikasi massa ini yaitu komunikan atau penerima informasi sangatlah
banyak dan jumlahnya tidak terbatas.
Pendapat lain dikemukakan oleh Dominick dalam Ardianto, (2007:14 - 17)
yaitu fungsi komunikasi terdiri dari :
1. Surveillance (Pengawasan)
Fungsi ini menunjuk pada pengumpulan dan penyebaran informasi
mengenai kejadian-kejadian dalam lingkungan maupun yang dapat
membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari.
2. Interpretation (Penasiran)
Fungsi ini mengajak para pembaca atau pemirsa untuk memperluas
wawasan
dan
membahasnya
lebih
lanjut
dalam
komunikasi
antarpesona atau komunikasi kelompok.
Universitas Sumatera Utara
3. Linkage (Pertalian)
Fungsi ini bertujuan dimana media massa dapat menyatukan anggota
masyarakat yang beragam, sehingga membentuk linkage (pertalian)
berdasarkan kepentingan dan minat yang sama tentang sesuatu.
4. Transmission of values (Penyebaran nilai-nilai)
Fungsi ini artinya bahwa media massa yang mewakili gambaran
masyarakat itu ditonton, didengar, dan dibaca. Media massa
memperlihatkan kepada kita bagaimana mereka bertindak dan apa
yang mereka harapkan.
5. Entertainment (Hiburan)
Fungsi ini bertujuan untuk mengurangi ketegangan pikiran halayak,
karena dengan membaca berita-berita ringan atau melihat tayangan
hiburan di televisi dapat membuat pikiran khalayak segar kembali.
Komunikasi menggunakan media massa pada masa ini banyak mendapat
penelitian dari para ahli disebabkan semakin majunya teknologi di bidang media
massa. Kemajuan teknologi di dunia pertelevisian berhasil membuat khalayak
menjadi ketergantungan pada televisi tersebut bahkan menjadi kebutuhan primer
di tengah-tengah masyarakat. Kemajuan teknologi di bidang televisi yang dengan
satelitnya mampu menghubungkan dengan seluruh dunia secara visual auditif, dan
pada saat suatu tempat mengalami kejadian atau peristiwa; itu semua berpengaruh
besar pada kehidupan politik, sosial, ekonomi dan budaya (Effendy, 2007: 83).
Komunikasi
pada
komunikasi
massa
melibatkan
lembaga
dan
komunikatornya bergerak dalam organisasi yang kompleks karena media massa
sebagai saluran komunikasi. Peranannya dalam proses komunikasi ditunjang oleh
Universitas Sumatera Utara
orang lain, bukan individual. misalnya, sebuah sinetron yang ditayangkan di
televisi tentunya didukung atau disponsori oleh iklan. Maka dari itu komunikator
pada komunikasi massa disebut juga komunikator kolektif karena tersebarnya
pesan yang berupa informasi merupakan hasil kerja sama sejumlah kerabat kerja.
Menurut Effendy, terdapat 5 ciri dari komunikasi massa diantaranya
adalah :
a. Komunikasi massa berlangsung satu arah
b. Komunikator pada komunikasi massa melembaga
c. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum
d. Media massa menimbulkan keserempakan
e. Komunikan komunikasi bersifat heterogen (Fajar, 2009: 226).
2.1.1.1 Televisi
Sejak teknologi televisi hadir, televisi mulai diperkenalkan di berbagai
negara di dunia sebagai sarana yang dapat memberikan informasi kepada
masyarakat umum. Sering perkembangannya dalam kehidupan sehari-hari, kita
selalu tidak bisa lepas dari yang namanya televisi, bahkan televisi sudah menjadi
kebutuhan primer dan kebiasaan bagi manusia. Program-program acaranya yang
mampu menghipnotis khalayak dan rela menghabiskan waktu menonton televisi.
Televisi berasal dari dua suku kata yaitu dalam bahasa Yunani yaitu tele
berarti “jarak” dan dalam bahasa latin visi yang berarti “citra atau gambar”. Jadi
kata televisi berarti suatu sistem penyajian gambar dan suara dari suatu tempat
yang berjarak jauh (Effendy, 2007: 174). Apa yang dilihat penonton merupakan
siaran gambar-gambar dan juga suara yang dipancarkan oleh pemancar televisi.
Begitu juga dengan sifatnya yang langsung tidak mengenal jarak serta memiliki
Universitas Sumatera Utara
daya tarik yang kuat sehingga membuat para penonton merasa sumber sedang
berbicara langsung kepada kita sebagai penonton.
Menurut Skornis dalam bukunya “Television and Society: an Incuest and
Agenda” (1965), dibandingkan dengan media massa lainnya televisi tampaknya
mempunyai keistimewaan. Menurut hasil survei, dari semua media komunikasi,
televisilah yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia (Ardianto &
Erdinaya, 2004: 125). Jika televisi tidak muncul kemungkinan khalayak akan
sedikit mendapatkan informasi-informasi teraktual sehingga minimnya wawasan
yang didapat.
Televisi sendiri merupakan gabungan dari media dengar dan
gambar yang bisa bersifat politis, informatif, hiburan dan pendidikan. Televisi
menciptakan suasana tertentu, yaitu para pemirsanya dapat melihat sambil duduk
santai tanpa kesengajaan untuk menyaksikannya. Penyampaian isi pesan seolaholah langsung antara komunikator dan komunikan. Informasi yang disampaikan
oleh televisi akan mudah dimengerti karena jelas terdengar secara audio dan jelas
terlihat secara visual.
Televisi melakukan berpikir dalam gambar, yakni mengenai visualisasi
dan penggambaran. Maksudnya adalah televisi menghadirkan program acara yang
disiarkan agar khalayak bisa mendengarkan kata-kata yang disampaikan oleh
sumber baik itu berupa hiburan ataupun informatif, selain mendengarkan khalayak
dapat melihat gambar yang disajikan didalamnya sehingga kita sebagai penonton
dapat melihat penampilan, suasana, tempat dan lain-lain.
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan pesan
melalui televisi (dalam Ardianto dan Erdinaya, 2004: 130) diantaranya adalah :
a. Pemirsa
Universitas Sumatera Utara
Dalam setiap bentuk komunikasi dengan menggunakan media apapun,
seorang komunikator akan menyesuaikan pesan dengan latar belakang
komunikannya. Tetapi dalam komunikasi melalui televisi, faktor pemirsa
menjadi perhatian lebih, disebabkan komunikator harus mengalami
kebiasaan dan minat pemirsa baik dalam kategori anak-anak, remaja
ataupun dewasa. Misalnya dengan aktivitas anak-anak, di pagi hari
pastinya kegiatan mereka adalah sekolah dan belajar, disiang harinya
mereka beristirahat atau mengerjakan tugas pekerjaan rumah, di waktu
sore hari mereka akan bermain-main atau bersantai-santai sambil
menonton televisi.
b. Waktu
Faktor waktu menjadi bahan pertimbangan agar setiap acara yang
ditayangkan dapat secara proporsional dan dapat diterima oleh sasaran
khalayak. Pada umumnya manusia membutuhkan informasi secepatnya
atau sepagi mungkin untuk mendapatkan berita yang teraktual. Misalnya
Mnctv pada pukul 04.30 WIB menyiarkan berita “Lintas pagi“, SCTV
pada pukul 05.30 WIB dalam “Liputan 6 Pagi”, TV One dalam “Kabar
Pagi” dan sebagainya.
Sementara untuk acara anak-anak biasanya disiarkan pagi dan sore hari
sampai menjelang pukul 19.00 WIB, dikarenakan anak-anak bersekolah
ada yang pagi hingga siang hari bahkan ada dari yang siang sampai sore
hari. Sehingga biasanya diasumsikan dari pukul 07.00 – 11.20 WIB dan
12.00 WIB – 14.30 WIB untuk belajar. Sedangkan bagi semua stasiun
televisi antara pukul 19.30 WIB – 21.00 WIB dianggap sebagai waktu
Universitas Sumatera Utara
utama, yakni waktu yang dianggap paling baik untuk menayangkan acara
pilihan, karena pada saat itulah seluruh anggota keluarga berkumpul dan
memiliki waktu untuk menonton televisi. Hal-hal itu merupakan sedikit
gambaran mengenai kesesuaian faktor waktu dengan kebiasaan pemirsa
dan kategori khalayaknya.
2. Durasi
Durasi berkaitan dengan waktu, yakni jumlah menit dalam setiap
penayangan acara. Misalnya acara Tayangan Acara Hitam Putih di Tran
TV berdurasi 60 menit, Sedangkan acara-acara film bioskop yang diputar
televisi biasanya berdurasi 120 menit. Durasi dari masing-masing acara
disesuaikan dengan jenis acara dan tuntutan skrip atau naskah.
3. Metode Penyajian
Fungsi utama televisi pada umumnya menurut khalayak adalah untuk
menghibur, dan mendapatkan informasi. Bukan berarti fungsi mendidik
dan membujuk diabaikan, fungsi nonhiburan dan noninformasi harus tetap
ada karena sama pentingnya bagi komunikator dan komunikan. Agar
fungsi mendidik dan membujuk tetap ada dan tetap diminati pemirsa,
maka hal yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode penyajian
tertentu dimana pesan nonhiburan dapat mengandung unsur hiburan.
Seperti misalnya dalam suatu acara dakwah agama oleh seorang ustadz
yang ingin menyampaikan informasi mengenai puasa, maka informasi itu
akan lebih baik jika dikemas mengandung unsur candaan. Atau pesan
nonhiburan ditempelkan pada acara hiburan. Misalnya dalam sinetron atau
wayang kulit, disisipkan pesan-pesan yang mengandung unsur pendidikan
Universitas Sumatera Utara
dan informasi yang terselubung sehingga pemirsa tidak merasa terganggu
dengan adanya sisipan tersebut.
2.1.2 Teori S-O-R
Teori S-O-R singkatan dari stimulus-organism-response. Menurut stimuus
respon efek yang ditimbulkan adalah reaksi stimulus khusus, sehingga seseorang
dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi
komunikan (Effendy, 2007: 254). Prinsip teori ini pada dasarnya merupakan suatu
prinsip belajar yang sederhana, dimana efek merupakan reaksi terhadap stimuli
tertentu. Dengan demikian seseorang dapat mengharapkan atau memperkirakan
suatu ikatan yang erat antar pesan-pesan media dan reaksi audiens.
Menurut pendapat Hovland, Janis dan Kelley yang menyatakan bahwa
dalam menelaah sikap yang baru ada 3 (tiga) variabel penting (Effendy, 2007:
255). Adalah sebagai berikut:
1. Perhatian
2. Pengertian mencakup pengetahuan dan pemahaman
3. Penerimaan yaitu :
a. Opini Positif
b. Opini negatif
c. Opini Netral atau Pasif
Universitas Sumatera Utara
Gambar 1
Teori S-O-R
Stimulus
Organism
 Perhatian
 Pengertian
 Penerimaan
Respon
Sumber: (Effendy, 2007 : 255)
Teori ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan
perilaku tergantung kepada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi
dengan organism. Artinya kualitas dari sumber komunikasi (sources) misalnya
kredibilitas, kepemimpinan, gaya berbicara sangat menentukan keberhasilan
perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat.
Persepsi
Siswa SMA Kemala
Bhayangkari 1 Medan.
Tayangan Acara Hitam
Putih di Trans TV
Universitas Sumatera Utara
Perubahan yang terjadi pada individu sangat bergantung pada proses yang
terjadi pada individu itu sendiri. Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada
komunikan bisa jadi diterima atau ditolak. Setelah terjadi proses-proses yang ada
dalam diri komunikan, maka perubahan yang terjadi adalah :
1. Perubahan kognitif,
Pada perubahan ini pesan ditujukan kepada komunikan, bertujuan
hanya untuk mengubah pikiran dari komunikan yang nantinya akan
menghasilkan perilaku. Perilaku seseorang didasarkan pada kognisi yaitu
tindakkan dan memikirkan sesuatu dalam situasi atau keadaan dimana
tingkah laku itu terjadi.
2. Perubahan afektif,
Dalam hal ini adapun tujuan komunikator bukan hanya untuk
diketahui oleh komunikan, melainkan diharapkan adanya timbul suatu
bentuk perasaan tertentu seperti keterbukaan, adanya tujuan masingmasing individu dalam meningkatkan kinerja serta memiliki kredibilitas
dalam membuat keputusan.
3. Perubahan behavioral,
Dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku,
tindakan atau aktivitas. Dimana behaviorisme ini biasanya mengutamakan
unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan
lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan
pentingnya
latihan,
mementingkan
mekanisme
hasil
belajar,
mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh
dengan munculnya perilaku yang diinginkan (Rakhmat, 2005 : 20-24).
Universitas Sumatera Utara
2.1.3 Persepsi
Persepsi merupakan proses psikologis yang diasosiasikan dengan
interpretasi dalam pemberian makna terhadap orang atau objek tertentu (Fajar,
2009 : 149). Adanya pesan yang ingin dikirimkan dapat diperoleh melalui sensasi
atau indera yang kita punya. Representasi dari penginderaan itu maksudnya kita
masih belum bisa mengartikan makna suatu objek secara langsung, karena kita
hanya bisa mengartikan makna dari informasi yang kita anggap mewakili objek
tersebut.
Sugihartono,
adalahkemampuan
dkk
otak
(2007:
dalam
8)
mengemukakan
menerjemahkan
bahwa
stimulus
atau
persepsi
proses
untukmenerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia.
Persepsimanusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam penginderaan. Ada
yangmempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun
persepsinegatif yang akan mempengaruhi tindakan manusia yang tampak atau
nyata.Bimo Walgito (2004: 70) mengungkapkan bahwa persepsi merupakansuatu
proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yangditerima oleh
organisme atau individu sehingga menjadi sesuatu yang berarti,dan merupakan
aktivitas yang integrated dalam diri individu. Respon sebagaiakibat dari persepsi
dapat diambil oleh individu dengan berbagai macam bentuk. Stimulus mana yang
akan mendapatkan respon dari individu tergantung pada perhatian individu yang
bersangkutan.
Berdasarkan hal
tersebut,
perasaan, kemampuan berfikir,
pengalaman-pengalaman yang dimiliki individu tidak sama, maka dalam
mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antar
individu satu dengan individu lain
Universitas Sumatera Utara
Jalaludin Rakhmat (2007: 51) menyatakan persepsi adalah pengamatan
tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan
menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Sedangkan, Suharman (2005:
23) menyatakan: “persepsi merupakan suatu proses menginterpretasikan atau
menafsir informasi yang diperoleh melalui sistem alat indera manusia”.
Menurutnya ada tiga aspek di dalam persepsi yang dianggap relevan dengan
kognisi manusia, yaitu pencatatan indera, pengenalan pola, dan perhatian
Persepsi merupakan proses internal yang memungkinkan kita memilih,
mengorganisasikan dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan sehingga proses
tersebut mempengaruhi kita. Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa
persepsi merupakan inti dari komunikasi kita, dimana persepsi kita yang
menentukan apakah kita menerima pesan atau menolak pesan tersebut. (Mulyana,
2009 : 27)
Atensi merupakan faktor utama dalam suatu rangsangan yang menentukan
selektifitas, sehingga mempengaruhi faktor biologis (rasa lapar, haus dan
sebagainya) faktor fisiologis (tinggi, pendek, sakit, cacat tubuh dan sebagainya),
faktor sosial (gender,agama, pekerjaan dan sebagainya), faktor psikologis
(keinginan, motivasi, pengharapan dan sebagainya) serta atribut-atribut objek
yang dipersepsikan seperti gerakan, intensitas, stimuli sehingga lebih menarik
perhatian. Interpretasi didefenisikan sebagai pemaknaan dalam meletakkan suatu
rangsangan bersama rangsangan lainnya sehingga menjadi sebuah keseluruhan.
Manusia cenderung berpersepsi dalam bias-bias tertentu ketika hendak
membentuk kesan terhadap orang lain. sebagai contoh, kita selalu berpersepsi
bahwa orang yang berpakaian rapi sebagai orang yang pintar dan mempunyai
Universitas Sumatera Utara
pendidikan tinggi. Berikut ini merupakan tiga (3) komponen utama dalam proses
terjadinya persepsi (Sobur, 2010 : 447) :
1) Seleksi, yaitu proses penyaringan oleh indra terhadap rangsangan dari luar
yang intensitas maupun jenisnya terdapat banyak atau sedikit.
2) Interpretasi, yaitu proses pengorganisasian informasi yang menimbulkan
makna pesan bagi seseorang.
3) Reaksi, yaitu persepsi yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah
laku.
Menurut Toha (2003: 154), faktor-faktor yang mempengaruhipersepsi
seseorang adalah sebagai berikut :
1) Faktor internal: perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka,
keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik,
gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat, dan motivasi.
2) Faktor eksternal: latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh,
pengetahuan dan kebutuhan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanan,
pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar atau ketidak asingan suatu
objek.
Menurut Bimo Walgito (2004: 70) faktor-faktor yang berperan dalam
persepsi dapat dikemukakan beberapa faktor, yaitu:
a. Objek yang dipersepsi
Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor.
Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi juga
dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung
mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor.
Universitas Sumatera Utara
b. Alat indera, syaraf dan susunan syaraf
Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus
disamping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk
meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu
otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon
diperlukan motoris yang dapat membentuk persepsi seseorang.
c. Perhatian
Untuk menyadari atau dalam mengadakan persepsi diperlukan adanya
perhatian, yaitu merupakan langkah utama sebagai suatu persiapan dalam
rangka mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau
konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu
sekumpulan objek
Faktor-faktor tersebut menjadikan persepsi individu berbeda satu sama
lain dan akan berpengaruh pada individu dalam mempersepsi suatu objek,
stimulus, meskipun objek tersebut benar-benar sama. Persepsi seseorang atau
kelompok dapat jauh berbeda dengan persepsi orang atau kelompok lain sekalipun
situasinya sama. Perbedaan persepsi dapat ditelusuri pada adanya perbedaanperbedaan individu, perbedaan- perbedaan dalam kepribadian, perbedaan dalam
sikap atau perbedaan dalam motivasi. Pada dasarnya proses terbentuknya persepsi
ini terjadi dalam diri seseorang, namun persepsi juga dipengaruhi oleh
pengalaman, proses belajar, dan pengetahuannya
Universitas Sumatera Utara
2.2 Kerangka Konsep
Kerangka sebagai hasil pemikiran yang rasional merupakan uraian yang
bersifat kritis dan memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang dicapai.
Dapat mengantarkan pada perumusan hipotesa (Nawai, 1995 : 40) koonsep
menggambarkan suatu fenomena suatu abstrak yang dibentuk dengan jalan
membuat generalisasi terhadap suatu yang khas(nazir, 1988 : 148) jika kerangka
konsep adalah hasil pemikiran yang rasional dalam menguraikan rumusan
hipotesis yang sederhana merupakan jawaban sementara dari masalah yang diuji
kebenarannya. Agar konsep konsep dapat d teliti secara epiri, maka harus d
oprasionalkan dengan mengubahnya menjadi variabel. Adapun komponen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah : Persepsi Siswa SMA Kemala
Bhayangkari 1 Medan
terhadap Tayangan Acara Hitam Putih. Berdasarkan
komponen tersebut, maka terbentuklah suatu skema model teoritis penelitian
sebagai berikut:
Gambar 2
Model Teoritis Penelitian
Persepsi Siswa SMA
Kemala Bhayangkari 1
Medan
Tayangan Acara
Hitam Putih
Universitas Sumatera Utara
2.3 Operasional Variabel
Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep yang telah diuraikan,
maka untuk mempermudah penelitian, perlu dibuat operasional variabel-variabel
sebagai berikut :
Tabel 1. Operasional Variabel
Konsep Operasional
1. Tayangan Acara Hitam Putih
Operasional Variabel
a. Kredibilitas (credibility)
b. Konteks (context)
c. Isi (content)
d. Kejelasan (clarity)
e. Capability
2. Persepsi Siswa SMA Kemala
Bhayangkari 1 Medan
a. Seleksi
b. Interpretasi
c. Reaksi
3. Karakteristik Responden
a. Jenis Kelamin
b. Kelas (Tingkatan)
c. Frekuensi Menonton
2.3.1 Defenisi Operasional
Defenisi operasional merupakan suatu petunjuk pelaksanaan mengenai
cara-cara untuk mengukur konsep-konsep yang akan diteliti menjadi bersifat
operasional (Sarwono, 2006: 27). Adapun yang menjadi defenisi operasional
dalam penelitian ini adalah :
1. Tayangan Acara Hitam Putih di Trans TV
Universitas Sumatera Utara
a. Tingkat kepercayaan tingkat kepercayaan yaitu siswa Siswa SMA
Kemala Bhayangkari 1 Medan terhadap Tayangan Acara Hitam Putih
di Trans TV.
b. Konteks (context) adalah penayangan yang disajikan berisi hubunganhubungan yang menggambarkan kehidupan nyata.
c. Kejelasan makna dari penayangan Tayangan Acara Hitam Putih di
Trans TV.
d. Kejelasan bahasa yang digunakan dalam penayangan Tayangan Acara
Hitam Putih di Trans TV memiliki bahasa yang jelas dan mudah
dimengerti oleh khalayak.
e. Capability adalah kemampuan Siswa SMA Kemala Bhayangkari 1
Medan menerima pesan yang disampaikan dalam penayangan Acara
Hitam Putih di Trans TV.
2. Persepsi Siswa SMA Kemala Bhayangkari 1 Medan
a. Seleksi adalah proses penyaringan informasi oleh Siswa SMA Kemala
Bhayangkari 1 Medan mengenai Tayangan Acara Hitam Putih di Trans
TV, serta rangsangan yang menimbulkan perhatian siswa.
b. Interpretasi adalah proses dimana siswa Siswa SMA Kemala
Bhayangkari 1 Medan memahami dan menerima informasi dari
tayangan pemberitaan tersebut sehingga memiliki makna bagi siswa.
c. Reaksi adalah respon yang diterima berdasarkan stimulus atau
rangsangan yang diterima oleh alat indera. Respon dalam hal ini
berkaitan dengan reaksi atau emosi terhadap tayangan Tayangan Acara
Hitam Putih di Trans TV.
Universitas Sumatera Utara
3. Karakteristik responden
a. Jenis kelamin dari Siswa SMA Kemala Bhayangkari 1 Medanyaitu
laki-laki atau perempuan
b. Kelas (tingkatan) dari siswa Siswa SMA Kemala Bhayangkari 1
Medankelas 5 dan 6.
c. Frekuensi menonton yaitu frekuensi menonton Siswa SMA Kemala
Bhayangkari 1 Medan yang pernah menonton Tayangan Acara Hitam
Putih di Trans TV.
Universitas Sumatera Utara
Download