Infografis RDG SEPTEMBER R1

advertisement
SEPTEMBER 2016
KEBIJAKAN MONETER BULANAN
BI Kembali Melonggarkan Kebijakan Moneter
BI 7-Day Repo Rate Turun dari 5,25% Menjadi 5,00%
Pelonggaran Kebijakan Moneter melalui penurunan suku bunga kebijakan BI 7-day (Reverse) Repo Rate diharapkan dapat lebih memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi dengan tetap
menjaga stabilitas makroekonomi. Pelonggaran ini juga akan memperkuat kebijakan pemerintah melalui percepatan reformasi struktural.
PERKEMBANGAN TERKINI
Ekonomi Global
Potensi pelemahan ekonomi juga dialami
Tiongkok, akibat melambatnya investasi,
pengeluaran pemerintah, dan masih
lemahnya konsumsi.
Ekonomi global pada 2016 berpotensi tumbuh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya
disertai dengan penurunan volume perdagangan dunia yang cukup signifikan.
Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan lebih rendah dari perkiraan semula, seiring masih
lemahnya investasi dan masih tingginya ketidakpastian sehingga Bank Sentral AS
mempertahankan suku bunga kebijakan Fed Fund Rate (FFR) dan diperkirakan hanya
akan menaikkannya satu kali pada tahun 2016.
Di pasar komoditas, harga minyak dunia
menurun, akibat terus meningkatnya
produksi minyak OPEC. Sementara itu,
harga beberapa komoditas ekspor
Indonesia membaik, terutama minyak
sawit (CPO).
Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III 2016 masih terjaga dengan baik,
meskipun tidak sekuat perkiraan sebelumnya.
G
C Konsumsi rumah tangga diperkirakan masih cukup kuat.
I
3
Neraca
perdagangan
Indonesia kembali
surplus pada
Agustus 2016,
terutama didukung
oleh surplus neraca
perdagangan
nonmigas.
4
USD 0,29
miliar
Surplus
Agustus 2016
CADANGAN DEVISA
8,7
USD 11,1
miliar
BULAN
IMPOR
Aliran Masuk
Modal Asing hingga
Agustus 2016
,3
8
BULAN
ATAU
IMPOR
PEMBAYARAN
UTANG LUAR
NEGERI
PEMERINTAH
SISI EKSTERNAL
Rp
SISI DOMESTIK
Persepsi positif investor terhadap
prospek perekonomian domestik
sejalan dengan terjaganya stabilitas
makroekonomi disamping implementasi
UU Pengampunan Pajak.
Meningkatnya aliran masuk modal
asing, akibat meredanya sentimen
negatif terkait timing kenaikan FFR
pada September 2016 dan berlanjutnya
implementasi UU Pengampunan Pajak.
$
Rp 13.163/USD
-0,02%
(mtm)
Inflasi berada
pada level yang
rendah dan
diperkirakan akan
berada pada
batas bawah
kisaran sasaran
inflasi 2016.
Inflasi IHK
(Indeks Harga
Konsumen)
Agustus 2016
Rp
2,79%
(ytd)
0,36%
(mtm)
Likuiditas masih
memadai.
22,9%
*) Data Juli 2016
3,32%
(yoy)
-0,80%
(mtm)
Inflasi Harga Barang yang Diatur Pemerintah
(Administered Price) seperti tarif angkutan
udara, tarif angkutan antar kota
dan tarif kereta api.
-0,52%
(mtm)
5,28%
(yoy)
0,91%
(yoy)
Namun, kondisi sistem keuangan masih menghadapi tantangan berupa:
Intermediasi masih lambat.
Sistem keuangan tetap stabil dengan ketahanan sistem perbankan
yang terjaga.
Rasio Kecukupan
Modal
(CAR)
Inflasi Bahan
Makanan Bergejolak
(Volatile Foods)
Inflasi Inti
(Core)
1,74%
(yoy)
Sistem Keuangan
Rp
USD 113,5 miliar
Penguatan Rupiah pada pertengahan September 2016 dipengaruhi oleh:
Inflasi
Ketahanan permodalan
masih berada pada level
yang cukup tinggi.
2016
Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional
sekitar 3 bulan impor.
Nilai Tukar
Nilai tukar Rupiah pada Agustus 2016, secara rata-rata,
terdepresiasi sebesar 0,39% dan mencapai level Rp 13.163
per dolar AS. Namun, pada pertengahan September 2016 nilai
tukar rupiah kembali menguat sebesar 0,8%.
6
TW II
2016
PDB (Produk Domestik Bruto)
Cadangan devisa akhir Agustus 2016
tercatat sebesar:
Rupiah melemah terbatas pada Agustus 2016, namun
kembali menguat di September 2016.
5
dunia mengakibatkan perbaikan ekspor yang
masih tertahan, meski beberapa harga komoditas
ekspor mulai menunjukkan perbaikan.
ALIRAN MASUK MODAL ASING
Aliran masuk modal
asing ke pasar
keuangan Indonesia
hingga Agustus 2016
telah mencapai USD
11,1 miliar, lebih
tinggi dari aliran
masuk modal asing
untuk keseluruhan
tahun 2015.
TW I
2015
X Masih lemahnya ekonomi dan perdagangan
Investasi non-bangunan terindikasi belum menunjukkan perbaikan yang
signifikan. Minat investasi swasta diperkirakan masih belum kuat, sejalan
dengan konsolidasi yang dilakukan oleh sektor korporasi sebagai respons
pemintaan yang belum sepenuhnya pulih.
Neraca Perdagangan
TW IV
Stimulus fiskal diperkirakan masih terbatas,
sejalan dengan penyesuaian belanja pemerintah
pada semester II 2016.
5,18% (yoy)
2
4,91% (yoy)
Pertumbuhan ekonomi Eropa melambat, disebabkan masih lemahnya aktivitas investasi
dan konsumsi.
5,04% (yoy)
1
Pertumbuhan
Kredit
Rasio kredit meningkat
namun masih terjaga.
Rasio Alat Likuid/
Dana Pihak
Ketiga (DPK)
20,8%
Rasio Non
Performing Loan
(NPL)
7,7% (yoy)
Kinerja korporasi non-keuangan masih melambat*).
Pertumbuhan Dana
Pihak Ketiga (DPK)
5,9% (yoy)
Efisiensi sedikit membaik.
3,2% (gross) atau
1,5% (net)
Rp
82,1%
4,9-5,3% (yoy)
72,9%
*) Laporan 387 Korporasi Go Public pada Triwulan IV 2015
Pertumbuhan DPK Individual (RT)
7,8% (yoy)
RISIKO
PROSPEK KE DEPAN
PERTUMBUHAN
EKONOMI 2016
3,9%
Debt Service Ratio
(DSR) korporasi
Kinerja rumah tangga (RT) masih lemah.
Biaya Operasional terhadap
Pendapatan Operasional (BOPO)
BOPO
Return On Asset
(ROA) korporasi
Bank Indonesia masih mewaspadai berbagai risiko, antara lain:
• Pertumbuhan ekonomi global masih belum kuat.
• Harga komoditas global masih rendah.
• Penyesuaian belanja pemerintah pada semester II 2016 berpotensi
memengaruhi pertumbuhan ekonomi tahun ini.
• Inflasi harga makanan bergejolak akibat dampak fenomena La Nina.
INFLASI 2016
4+
_1% (yoy)
BI 7-Day Reverse Repo Rate Turun (25 bps)
Agustus 2016
BAURAN KEBIJAKAN (POLICY MIX)
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia
pada 21-22 September 2016 memutuskan:
5,25 %
Suku Bunga Deposit Facility (DF)
September 2016
5,00 %
Suku Bunga Lending Facility (LF)
TURUN (25 bps)
TURUN (25 bps)
DF
4,25%
LF
5,75%
Berlaku Efektif 23 September 2016
FOKUS KEBIJAKAN BI
Bank Indonesia meyakini bahwa pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan akan memperkuat kebijakan yang ditempuh Pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan melalui percepatan implementasi reformasi struktural.
Bank Indonesia akan mencermati kondisi ekonomi domestik dalam jangka pendek ke depan serta perkembangan perekonomian global, terutama kemungkinan kenaikan suku
bunga kebijakan bank sentral AS atau Fed Fund Rate (FFR).
Bank Indonesia terus berkoordinasi bersama Pemerintah menyiapkan langkah kebijakan yang antisipatif agar implementasi UU Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) dapat berdampak
optimal bagi perekonomian nasional. Selain itu, koordinasi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus dilakukan, khususnya mewaspadai
tekanan inflasi volatile food akibat dampak fenomena La Nina.
Selengkapnya dapat dilihat di
website Bank Indonesia
Bank Indonesia
Call Center BI : 131
Download