Membahas Islam sebagai agama berintikan kemanusiaan yang

advertisement
Islam, Keindonesiaan dan
Kemanusiaan
oleh: Prof.Dr.Hamka Haq, MA
I.
Pendahuluan
Membahas Islam sebagai agama berintikan kemanusiaan yang akan
dikaitkan dengan kondisi keindonesiaan, hendaknya dimulai dari ajaran
universalitas Islam itu sendiri. Masalahnya, sebagai agama universal, dengan
seperangkat ajaran teologi, ritual dan sistem kehidupan sosial, dapatkah
Islam berintegrasi dengan kondisi-kondisi lokal pada setiap bangsa dan
negara?, apakah hal seperti itu tidak mengebiri universalitas Islam itu
sendiri? Sebaliknya, dalam dunia yang semakin mengglobal ini, nilai-nilai
kemanusiaan pun semakin menjadi arus utama dari setiap ideologi dan
gerakan yang muncul dari berbagai pemikiran sebagai cerminan dinamika
peradaban manusia. Apakah Islam sebagai agama yang punya ajaran teologi,
ritual dan sistem sosial tertentu, dapat secara terbuka menerima gagasangagasan kemanusiaan yang menjadi filosofi peradaban dan kebudayaan
moderen umat manusia dewasa ini. Hal-hal tersebut itulah yang akan dicoba
diurakan dalam makalah ini
II.
Keindonesiaan
Istilah keindonesiaan dipakai sebagai ungkapan menyangkut predikat
yang menjadi ciri khas Indonesia. Antara lain ialah, Indonesia adalah negeri
multi etnis, budaya, bahasa dan agama. Atau bisa ditambahkan, Indonesia
adalah negeri kepulauan, diapit dua benua dan dua samudera, yang pernah
dijajah oleh bangsa Eropa (Portugis, Inggeris dan Belanda), kemudian
terakhir oleh Jepang, Negeri yang kehidupan sosialnya sangat komunal,
faternalistik, dengan kesetiakawanan yang tinggi. Masih banyak lagi
predikat lainnya, sesuai dengan budaya bangsa Indonesia sendiri yang telah
dirumus ringkas menjadi Pancasila.
1
Untuk menguraikan secara sederhana, maka predikat keindonesiaan
dapat disimpul menjadi dua ciri khasnya, yakni peluralitas dan kebangsaan.
Dalam konteks itulah Islam akan berhadapan dengan kanyataan keragaman
agama, etnis dan budaya di Indonesia. Bagaimana Islam dapat menyapa
kondisi-kondisi lokal Idnonesia seperti itu. Sementara di satu sisi, ajaran
Islam yang dipahami bersifat universal itu harus pula beradaptasi dengan
paham kebangsaan Indonesia, padahal selama ini Islam dipandang sebagai
agama yang tidak membenarkan mitos kebangsaan. Maka secara ideologis
dapat pula dipertanyakan, apakah Islam dapat menerima paham kebangsaan
Indonesia dan ideologi Pancasila? Uraian berikut akan berbicara seputar dua
masalah tersebut.
Pluralitas di Indonesia
Bahwa nenek moyang bangsa ini sejak dahulu kala telah berada dan
hidup di nusantara ini sebagai negeri mereka sendiri. Mereka mulanya
memiliki beragam keyakinan politeisme dan animisme sebelum agamaagama monoteisme datang ke negeri ini. Mulanya datanglah penganjur
agama Hindu dan Budha, yang berhasil membangun kerajaan Sriwijaya dan
Majapahit. Kemudian datang pula penganjur Islam, dengan cara damai
berdagang dan berdakwah, sehingga sebahagian generasi bangsa ini pun
menganut Islam. Sebahagian lagi kemudian menganut Kristen setelah misi
dagang Portugis dan Belanda (VOC) beroperasi; yang lainnya tetap
menganut Hindu dan Budha, walaupun Sriwijaya dan Majapahit telah
runtuh. Selebihnya masih tetap pada kepercayaan lama yang politeis.
Semua agama dan kepercayaan itu hidup berdampingan sebagai pewaris
yang sah dan mempunyai hak yang sama di negeri yang bernama Indonesia
Raya ini.
Maka di nusantara inilah, Islam berkenalan dengan produk budaya
asli Indonesia. Para pedagang Arab yang datang ke bagian utara Sumatera,
kemudian merambah ke Jawa dan pulau-pulau lainnya, menemukan tradisi
lokal yang berbeda dengan tradisi Arab. Pedagang Arab dan penganjur
Islam itu akhirnya berbaur dengan masyarakat lewat lembaga perkawinan.
Asimilasi mereka dengan masyarakat asli, tidak hanya sebatas
perkawinan, tetapi juga melibatkan agama dan tradisi lokal. Hal ini dimulai
dari persoalan ibadah dan kelengkapannya, misalnya menyangkut pakaian,
tempat ibadah, cara menyeru orang untuk datang beribadah dan sebagainya.
Pakaian sehari-hari masyarakat ialah sarung dan kemeja tutup, dilengkapi
dengan penutup kepala yang khas pada masing-masing daerah. Para
penganjur Islam dari Arab tidak memaksakan tradisi jubah dan serban Arab,
2
justru mereka menerima tradisi sarungan khas Indonesia. Jubah di kala itu,
oleh masyarakat asli Indonesa dipandang sebagai pakaian kebesaran di
kalangan ningrat. Maka jubah pun kemudian menjadi pakaian istana,
terutama oleh pangeran-pengeran yang menekuni pengajian keislaman.1
Rumah-rumah ibadah, masjid dan mushalla, pun dibangun tidak
seperti bangunan Timur Tengah yang pada umumnya berkubah. Bangunan
khas masjid Indonesia justru tiruan model pendopo, tempat berkumpulnya
rakyat dan prajurit di samping rumah raja-raja yang menganut Islam.
Bahkan terkadang sisa-sisa bangunan lama yang bernuansa Hindu dan
Budha tetap dilestarikan, menjadi bahagian rumah ibadah Islam.2 Sebelum
beribadah (shalat), dari masjid dikumandangkan adzan. Karena kondisi
perkampungan masih terpisah-pisah, dibatasi oleh hutan dan gununggunung, tak jarang pula sungai, maka adzan saja tidak cukup efektif untuk
menyeru mereka datang beribadah. Media kentongan yang sudah ada di
masyarakat, itu pun dimodifikasi secara inovatif menjadi beduk, yang
dipukul untuk menandai masuknya waktu shalat dan panggilan berjamaah..
Berbagai bentuk upacara pun kemudian dikonversi menjadi tradisi
Islam di Indonesia. Pesta panen sebelum datangnya Islam dikemas sebagai
tanda terima kasih para petani kepada dewa-dewa penguasa air, tanah dan
angin. Kedatangan Islam tidak serta merta menghilangkan tradisi seperti itu,
tetapi di kemas dalam keyakinan baru, menjadi upacara syukuran kepada
Allah SWT. Hasil panen yang dahulu dipersembahkan kepada tanah dan air,
disimpan di puncak gunung, atau dibuang ke laut, oleh Islam diubah
menjadi sebuah kenduri untuk makan bersama didahului dengan doa
kepada Allah SWT. Inilah awal acara-acara selamatan yang mentradisi
hampir di segenap komunitas Muslim di nusantara. Tradisi-tradisi lainnya,
menyangkut kelahiran, perkawinan dan kematian dikemas secara Islam,
tanpa membuang seluruh bentuk perlakuan tradisi sebelumnya. Hal-hal
seperti ini menjadi penjelas bahwa Islam datang ke Indonesia dengan sangat
ramah, menyapa dan menyerap kebudayaan lokal, kemudian diberi baju
keislaman; itulah Islam Keindonesiaan.
Di Jawa, adalah terutama paling menonjol upaya penyatuan ajaran
Islam dengan budaya lokal. Acara pewayangan kemudian menjadi media
paling efektif dalam mengislamkan tak kurang dari 90% masyarakat Jawa.
Dan sebagai simbol pengislaman itu, diadakan acara khusus perayaan
“syahadatain”, yang hingga kini selalu dilakukan di lingkungan istana
1
Ingat misalnya Pangeran Diponegoro memakai jubah khas Arab, sementara para prajuritnya
tetap berpakaian khas Jawa.
2
Contoh konkret ialah menara Masjid di Kudus, merupakan pelestarian arsitektur Hindu.
3
Kesultanan Yogya, lazimnya disebut acara Sekaten (dari kata syahadatain).
Acara Sekaten kemudian menjadi acara peringatan maulid Nabi Muhammad
SAW khas Indonesia.
Dalam bentuk yang lebih moderen lagi, perayaan Idil Fitri, yang
biasanya disemarakan dengan ziarah ke rumah-rumah tetangga dan sahabat,
lambat laun melahirkan tradisi baru yang disebut Hala bi Halal. Tradisi
salam-salaman secara masal ini dilakukan di tempat tertentu, masjid atau
lainnya, yang sekaligus bermakna sebagai kesetiakawanan dan kegotong
royongan, serta kehidupan komunal yang dikemas secara Islam. Acara ini
tidak pernah ditemukan di negeri Muslim di luar Indonesia, di Tmur Tengah
sekalipun.
Apa yang disinggung di atas adalah sebahagian dari bentuk
inklusfistik ajaran Islam dalam penyiarannya di tengah keragaman budaya
lokal nusantara. Berikut kita akan melihat wajah inklusifistik itu dalam
pergaulan antar warga masyarakat, yang juga beragam etnis, agama dan
keyakinannya. Secara sepintas, menyangkut hal ini kita bisa membedakan
dua cara akomodatid integratif yang menandai sikap inklusif Islam. Pertama,
ialah pembauran antar warga itu sendiri, seperti yang terjadi misalnya di
Maluku, Irian Jaya, di Toraja Sulawesi Selatan dan di Sumatera. Kedua ialah
pembauran keyakinan dengan sisa-sisa kepercayaan lama, seperti yang
terjadi di kalangan masyarakat Jawa, yang kemudian melahirkan tradisi
kejawen, yang mengandung unsur mistik Islam, Hindu dan Budha.
Pembauran antarumat beragama di Indonesia terjadi berkat adanya
tradisi lokal yang menjadi perekatnya. Misalnya di Maluku, dikenal tradisi
Pela Gandong, yang intinya ialah rasa persaudaraan kekerabatan, walaupun
berbeda agama. Pela artinya habis (final, ultimately) sedangkan gandong
artinya Persaudaraan; maka Pela Gandong bermakna wujud persaudaraan
yang final, tak akan ada lagi rasa persauadaraan yang lebih tinggi dan lebih
luhur dari Pela Gandong. Maka dengan Pela Gandong, anggota-anggota
keluarga yang beda agama dapat saja hidup dengan rukunnya. Juga dalam
masyarakat, kerukunan dalam bentuk gotong royong dan saling
melindungi.3 Demikian pula di kalangan masyarakat Toraja Sulawesi Selatan,
Bermula dari dua negeri adat Maluku, yaitu Louhata dan Leawaka. Louhata adalah
nama lain dari Negeri Siri-Sori Islam dan Leawaka adalah nama lain dari Negeri Haria.
Menurut riwayat, warga dua negeri ini berasal dari dua datuk yang memiliki hubungan
persaudaraan (gandong). Hubungan ini kemudian diperkuat para datuk dengan ikatan Pela,
minum darah. Suatu ketika mereka bersatu untuk melawan Belanda, dan untuk itu mereka
mengadakan ritual “Saimbara”, untuk memilih pemimpin di antara para kapitang (orang
kuat) mereka. “Saimbara” itu dilakukan dengan menanam sebuah tombak yang ujungnya
terhunus mengarah keatas. Siapa yang mampu berdiri di ujung tombak akan ditunjuk
3
4
dalam satu keluarga dapat saja ditemukan penganut agama yang berbeda,
namun mereka tetap rukun-damai berkat adat Tongkonan4. Tradisi Tongkonan
berintikan rasa persaudaraan yang penuh kasih sayang tetap dijalin,
walaupun agamanya berbeda. Tradisi “tongkon” (duduk bersama) adalah
musyawarah untuk membahas dan menyelesaikan persoalan bersama
merupakan sisi persaudaraan yang tertinggi dalam kekerabatan Toraja.
Tardisi ini telah ada sejak dahulu kala, seumur dengan masyarakat Toraja
sendiri, dilestarikan hingga sekarang ketika mereka menganut agama yang
berbeda-beda.
Sementara itu, di kalangan masyarakat Jawa dikenal budaya gotongroyong, yang berarti bekerja sama. Istilah ini sudah meng-indonesia, telah
dimengerti dan dipakai sebagai bahasa sehari-hari oleh seluruh masyarakat
Indonesia. Tapi falsafah masyarakat Jawa yang lebih spesifik lagi, ialah
berbunyi mangan ora mangan asal ngumpul (makan atau tidak makan asalkan
berkumpul), mengandung makna kehidupan keluarga atau kehidupan sosial
yang amat dalam. Falsafah tersebut menjadikan “makan” sebagai alat
perekat rasa persaudaraan, karena pikiran dan kata hati bisa berbeda dan
bertentangan, tapi menyangkut soal makan, semua orang bisa bersama, bisa
terhimpun dalam suatu pesta kenduri, selamatan, atau pesta perkawinan.
Maka dalam setiap acara keagamaan pun, falsafah ngumpul menjadi tradisi
masyarakat Jawa, baik acara lebaran maupun natalan, semua kerabat
keluarga harus ngumpul di kediaman orang tua, nenek atau sesepuh. Yang
tampak, bahwa tradisi itu mampu merekat persaudaraan kekerabatn
masyarakat Jawa walaupun mungkin mereka berbeda agama.
Atau
tegasnya, ngumpul menjadi sebuah sarana pembuktian eksistensi komunitas
Jawa, juga sekaligus sebagai media silaturahim antar sesama anggota kerabat,
keluaraga.
Sehingga tidaklah mengherankan, di dalam masyarakat
menjadi pemimpin pasukan. Ternyata kapitang yang mampu melakukannya ialah kapitang
dari Leawaka. Saat berdiri di ujung tombak yang terhunus, kaki sang kapitang berdarah.
Setelah itu sang kapitang turun dari tombak, disambut kapitang Said Perintah dari Louhata.
Said Perintah kemudian mengusap darah segar di kaki Kapitang asal Leawaka itu dan
menjilat darah yang tersisa ditangannya, sambil mengucapkan kata “Pela” yang artinya
habis. Maksudnya tak akan ada darah permusuhan di antara mereka, mereka menjalin
persaudaraan dengan kasih sayang menghadapi musuh bersama yakni kolonial. Lihat
selengkapnya dalam Syarifuddin Pattisahusiwa, Sekilas Sejarah Pela-Gandong Louleha Potret
Rekonsiliasi Anak Negeri Adat di Maluku (http://ippmassi.4umer.com/t321-sekilas-sejarahpela-gandong-louleha-potret-rekonsiliasi-anak-negeri, akses 14 Mei 2008).
4
Mengenai jenis-jenis Tongkonan dan pemanfaatannya dapat dilihat dalam Tongkonan,
(http://id.wikipedia.org/wiki/Tongkonan , update tgl. 7 Juli 2010).
5
tradisionil Jawa terdapat begitu banyak acara seremonial dan simbolis yang
berfungsi sebagai sarana berkumpulnya para anggota komunitas tersebut. 5
Dalam pada itu, masyarakat Batak di Sumatera Utara, keharmonisan
hubungan keluarga diikat oleh adanya sistem kekerabatan marga-marga.
Seperti komuitas Jawa, perekat hubungan antarmarga bagi komunitas Batak
juga berhubungan dengan soal dapur (makan) yakni falsafah Dalihan Natolu
(Tungku Bertiga)6 Falsafah ini diambil dari tradisi masyarakat Batak
memasak di atas tiga tungku batu yang disebut dalihan, yang mengandung
makna kebersamaan dalam kehidupan yang adil. Bagi masyarakat Batak,
tradisi Dalihan Natolu menjadi referensi bagi semua sistem pergaulan yang
berlaku di kalangan mereka.
Dengan demikian, sistem kekerabatan
berdasarkan adat tidak boleh terganggu akibat perbedaan agama yang
datang kemudian. Ketika mereka menganut Islam atau Kristen, maka
hubungan antaragama yang ada harus disesuaikan dengan falsafah Dalihan
Natolu. Maka kenyataannya, seorang Muslim sangat akrab dengan Kristen
sesama marganya, atau karena diharuskan oleh falsafah Dalihan Natolu.
Wujud pergaulan seperti ini merupakan khas Islam Indonesia, yang di negeri
Arab dipandang sebagai sesuatu yang aneh.
Sama khasnya pula dalam masyarakat Minang di Sumatera Barat,
dikenal permusyawaratan warga dalam suatu lembaga yang bernama
“Kerapatan Anak Nagari”. Bagi mereka, hukum dan pimpinan yang tertinggi
ada pada lembaga Kerapatan Anak Nagari (KAN), yang di dalamnya
berhimpun para pengulu.7 Namun yang menjadi ciri khas utama bagi warga
5
Lihat uraian singkat mengenai hal ini dalam Mangan Ora Mangan Ngumpul, posted by
Bazmovic,(http://bastianmandala.wordpress.com/2010/02/07/mangan-ora-mangan-ngumpul-xjossnet-copy-right-zenki)
6
Dalihan adalah tungku yang dibuat dari batu, sedangkan natolu ialah tiga batu. Artinya ketiga
tungku ditanam berdekatan sebagai tungku tempat memasak. Dalihan Natolu, harus dibuat sama
besar, sama tinggi dengan jarak yang simetris satu sama lain. Tungku sebagai simbol kebersamaan
dan keharmonisan, karena merupakan bagian peralatan rumah yang sangat vital, yakni untuk “makan
bersama” yang menyangkut kebutuhan hidup anggota keluarga.
Artinya Dalihan Natolu,
melambangkan kebersamaan dan kehidupan sejahtera dan adil untuk semua. Untuk lengkapnya lihat
dalam Jontri Pakpakahn, Apa Pengertian Dalihan Natolu?, (From http://tarombo.net Februari 16,
2008). Lihat pula dalam Elkana, Dalihan Natolu Sistem Demokrasi Versi Batak
(http://tgs.lumbantoruan.net, July 10th, 2006)
Menurut Hasan Basri Durin: Pimpinan tertinggi dalam Nagari adalah mufakat para Penghulu.
Dalam perkembangannya kemudian dalam musyawarah itu diikutsertakan unsur-unsur Ulama dan
Cerdik Pandai. Sebagai pimpinan musyawarah biasanya ialah Penghulu Pucuk yang lebih
ditinggikan dari Penghulu-penghulu pucuk lainnya (biasanya karena asal-usulnya dari kaum yang
paling dahulu menghuni Nagari tersebut) untuk yang Nagari yang menganut Koto Piliang. Di
nagari-nagari yang menganut aliran Bodi Caniago biasanya dipilih di antara penghulu-penghulu
Pimpinan musyawarah inilah yang kemudian menjadi penghulu Kepala, yang kemudian lagi
menjadi Kepala Nagari di zaman penjajahan Belanda Lhat dalam Munir Taher Kerapatan Adat
Nagari, (http://munirtaher. wordpress.com/2007/05/18/kerapatan-adat-nagari)
7
6
Minang ialah sistem kekerabatan matrilineal, menurut garis keturunan ibu.
Apapun corak kepemimpinan dan hasil musyawrah yang dilahirkan oleh
KAN, tidak keluar dari koridor matrilineal itu. Hal ini pun menjadi ciri khas
Islam di Indonesia, sementara hampir semua komunitas Islam se dunia lebih
menganut fatrilineal.
Sistem matrilineal ini tetap dipertahankan masyarakat Islam
Minangkabau bahkan selalu disempurnakan sampai sekarang, sejalan
dengan penyempurnaan sistem adatnya. Peranan seorang penghulu ataupun
ninik mamak sangatlah penting sebagai indikator apakah sistem matrilineal
itu berjalan dengan baik. Sistem matrilineal dijalankan sesuai dengan
kemampuan dan penafsiran oleh pelakunya; ninikmamak, kaum perempuan
dan anak kemenakan. Namun, aturan baku tentang peranan seorang
perempuan dan sanksi hukum atas orang yang melanggarnya, sampai
sekarang belum ada. Sistem itu pun hanya dilestarikan secara turun temurun
kemudian disepakati dan dipatuhi atas kesadaran warga, tanpa referensi
aturan tertulis. Namun, penafsiran apapun dilakukan, pada dasarnya tidak
lepas dari fungsi perempuan itu sendiri, sebagai bukti betapa kuatnya sistem
tersebut. Bahkan dengan datangnya Islam, dan diterapkannya hukum
faraidh Islam dalam soal kewarisan, harta pusaka tetap dilindungi
berdasarkan sistem matrilineal.8
Meskipun orang Minang, hingga sekarang ini belum ada yang berani
terang-terangan menganut agama selain Islam, patut diyakini bahwa sistem
kekerabatan matrilineal di bawah ayoman KAN tersebut, jika diterapkan
dengan baik, akan tetap memelihara keharmonisan pergaulan antara mereka,
termasuk dalam keadaan terdapat warga yang beragama selain Islam.
Nasionalisme Indonesia
Nasionalisme Indonesia bukanlah sebuah chauvinisme ataupun
rasialisme yang memitoskan Indonesia mengatasi segala bangsa yang ada di
dunia. Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, nasionalisme diartikan sebagai
berikut:
“Nasionalisme adalah paham kebangsaan yang tumbuh karena adanya persamaan
nasib dan sejarah serta kepentingan untuk hidup bersama-sama sebagai suatu
bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, demokratis dan maju di dalam suatu
kesatuan bangsa dan negara serta cita-cita bersama guna mencapai, memelihara
8Selengkapnya
dapat
dilihat
dalam
H.Masoed,
Sistim
Kekeluargaan
Matrilineal(http://hmasoed. wordpress.com , updated Wednesday, 09 July 2008).
7
dan mengabadikan identitas, persatuan, kemakmuran, dan kekuatan atau
kekuasaan negara bangsa yang bersangkutan”9
Atau Nasionalisme Indonesia, sebagaimana Bung Karno mengutip
Gandhi yang katanya: “My nationalism is humanitiy”.Selanjutnya Bung Karno
menegaskan dalam pidatonya di depan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai pada
tanggal 1 Juni 1945 sebagai berikut:
“Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan
chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropa, yang mengatakan
“Deutschland uber Alles”. Tidak ada yang setinggi Jermania, yang katanya
bangsanya minulyo, berambut jagung dan bermata biru—bangsa Aria—yang
dianggapnya tertinggi di dunia, sedang bangsa lain tidak ada harganya. Jangan
kita berdiri di atas asas demikian, Tuan-tuan. Jangan berkata, bahwa bangsa
Indonesia-lah yang terbagus dan termuliya, serta meremehkan bangsa lain. Kita
harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia.”10
Sangat jelas, bahwa nasionalisme Indonesia tidak mengabaikan
persaudaraan keislaman yang lebih luas, atau persaudaraan umat manusia
yang berangkat dari spirit persamaan derajat kemanusiaan (al-musawah alinsaniyah). Di sisi lain, nasionalisme Indonesia bertumpu pada semangat
persatuan yang menyimpul semua elemen internal Indonesia tanpa melihat
latar belakang etnis, agama, budaya dan bahasanya, untuk hidup sebagai
satu bangsa dalam rumah bersama Indonesia. Jadi, nasionalisme Indonesia
lebih bermakna sebagai wihdah wathaniyah (persatuan bangsa dalam satu
tanah air) yang memberi ruang bagi pluralitas, dan sejalan dengan hubbu alwathan minal iman (cinta tanah air adalah bahagian dari iman).
Maka
tegasnya, nasionalisme Indonesia sama sekali bukanlah fanatisme
kebangsaan (`ashabiyyah), seperti dalam bentuk ashabiyyah Yahudi, rasialisme
Jerman dan politik apartheid di Afrika Selatan dahulu, yang adalah sangat
bertolak belakang dengan ajaran kemanusiaan universalitas Islam
Dari sudut pandang Islam, nasionalisme Indonesia dapat dilihat dari
dua sisi. Pertama, ialah terwujudnya kesadaran sebagai satu bangsa dari
kalangan etnis, agama dan budaya yang beragam dalam satu tanah air
Indonesia. Sangat jelas adalah manifestasi ajaran Islam tentang persatuan,
sehingga tidaklah mungkin Islam akan menolaknya. Sementara sisi kedua
9
Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta: Delta Pamungkas, 1997), Jilid XI, h. 31 dibawah kata
“Nasionalisme”.
10
Soewarno, dkk.,op.c it., h. 17.
8
ialah semangat untuk menjadi suatu bangsa yang hadir di tengah pergaulan
antarbangsa di dunia. Dua sisi tersebut terangkum dalam ayat berikut:
‫َّاس إِ ََّّن اخلا ْقناا ُك ْم ِم ْن ذااك ٍر اوأُنْ ثاى او اج اعلْنا ا ُك ْم ُُ عُاو اوَا ااالِ ال لِعا اع ااوُاا إِ ََّ أا ْك ارام ُ ْم‬
ُ ‫اَيأايُّ اها الن‬
ِ َّ ََّ ِ‫اَّلل أاتْ اقا ُكم إ‬
َِّ ‫ِع ْن اد‬
ٌ‫يم اخاِي‬
ْ
ٌ ‫اَّللا اعل‬
Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari jenis laki-laki
dan perempuan, dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar
kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang termulia di antara kamu ialah yang
paling bertaqwa, sesungguhnya Allah Maha Mengetahu dan Memahami. (Q.S.alHujurat [49]: 13).
Untuk tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),
meniscayakan semangat persatuan di kalangan bangsa sendiri. Kehadiran
Islam di Indonesia turut mempercapat rasa persatuan itu, sejak dari upaya
merintis kemerdekaan hingga mempertahankan bahkan mengisi
kemerdekaan. Dalam pada itulah, Islam menyapa beragaman etnis, agama
dan budaya yang memang sejak semula dari sananya sudah demikian. Maka
sisi lain dari nasionalisme Indonesia ialah pluralitas (kebhinnekaan), yang
disimpul menjadi satu kalimat: “Bhinneka Tunggal Ika”.
Risalah Islam terbukti telah mampu merangkul keragaman yang telah
mengindonesia sejak dahulu kala jauh sebelum datangnya Islam ke
nusantara. Keindonesiaan seperti itu tersirat dalam Q.S.al-Hujurat (49): 13
yang dikutip di atas. Titik temu antara realitas kebhinnekaan dan pesanpesan Al-Qur’an tentang kemanusiaan mengilhami ideologi nasionalisme,
dan terbentuknya negara kebangsaan Indonesia.
Kesadaran inilah yang
menyemangati para ulama angkatan 45, sehingga rela menerima negara
Pancasila, dan memandangnya sebagai pengamalan ajaran Islam universal
dalam konteks kehidupan bangsa yang plural. Inilah salah satu sisi dari
Islam Keindonesiaan.
Islam memang menolak paham kebangsaan yang sangat radikal, yaitu
nasionalisme yang bercorak chauvinisme, yang dalam bahasa Arab disebut
`ashabiyyah, . Chauvinsme atau `ashabiyyah adalah paham kebangsaan yang
kebablasan yang mengagung-agungkan kesatuan atau kelompoknya sendiri, sering
disertai dengan sebuah sikap agresif yang bringas. … … … Chauvinisme pada
9
umumnya dipandang sebagai sebuah fenomena sosial moderen, yang telah banyak
dikaitkan dengan imperialisme dan militerisme ekstrim11
Bangsa Arab yang sebahagian besarnya menganut Islam telah sekian
lama mengubur fanatisme kebangsaan chauvinist, berdasarkan ajaran Islam
bahwa semua umat manusia memiliki status derajat yang sama di hadapan
Tuhan. Maka selama berabad-abad teologi ashabiyah kaum Yahudi yang
meyakini bangsanya sebagai pilihan Tuhan, tidak pernah akur dengan ajaran
persamaan derajat (al-musawah) dalam Islam.
Sementara itu, paham `ashabiyyah kaum Yahudi berbenturan dahsyat
pula dengan chauvinisme bangsa Jerman yang masing-masing mengaku
sebagai manusia pilihan di muka bumi. Kaum Yahudi, mengaku bangsa
pilihan Tuhan dengan referensi teologi, sementara Jerman memanipulasi
teori sains dan teknologi bahwa mereka-lah satu-satunya bangsa yang secara
genetik memiliki fisik dan kecerdasan yang luar biasa hebatnya di antara
semua bangsa di dunia. Persaingan antara kedua bentuk `ashabiyyah ini
berakhir dengan peristiwa kontroversial holocaust12, yang merupakan upaya
sistematis pembasmian etnis Yahudi di Eropa oleh Jerman dalam Perang
Dunia II.
Melihat betapa bahayanya paham nasionalisme dalam arti `ashabiyyah
itu, maka pemikir dan tokoh pergerakan Islam semakin keras menolak
paham nasionalisme, tanpa membedakan antara nasionalisme chauvinistik
dan nasionalsme ala Indonesia. Penolakan terhadap nasionalisme semakin
kuat lagi setelah khilafah Turki Usmaniyah, imperium terakhir dunia Islam
menjadi runtuh akibat bangkitnya “nasionalisme” Arab. Realitas tersebut
menjadi bukti bagi pengingkar nasionalisme bahwa dunia Islam akan
terkoyak-koyak menjadi negara-negara kecil dan menjadi semakin lemah tak
berdaya menghadapi kolonialisme Barat, apabila gagasan nasionalisme
menjadi ideologi masing-masing etnis dan ras dalam dunia Islam.
Sasaran penolakan tersebut sebenarnya adalah paham nasionalisme
Arab yang ketika itu menekankan wathan (tanah air), bahasa dan
keistimewaan bangsanya sebagai asasnya.
Mereka mengusulkan
dikembalikannya kejayaan Islam, ke tangan bangsa Arab. Konferensi
11Istilah ini diambil dari nama seoang serdadu Perancis, Nicolas Chauvin, yang dikait-kaitkan dengan kisah
kesuksesan Napoleon I, bahkan sesudah kekalahan Napoleon di Waterloo pada tahun 1815. Kekaguman ini
justru membuat Chauvin sebagai obyek penistaan. Lihat dalam "Chauvinism," Microsoft Encarta 96
Encyclopedia.© 1993-1995 Microsoft Corporation. All rights reserved.
12
"Holocaust," MicrosoftEncarta96 Encyclopedia.© 1993-1995 Microsoft Corporation. All rights reserved.
10
Nasionalis Arab pertama diadakan pada tahun 1913 di Paris. Penguasa lokal
Arab pun terlibat dalam Perang Dunia I guna semakin meneguhkan gerakan
kebangsaan mereka. Syarif Husen bekerjasama dengan Perancis dan
Inggeris, menggerakkan pemberontakan terhadap Kesultanan Utsmaniyah
dan membentuk kerajaan nasionalis Arab yang lepas dari khilafah Turki
Utsmaniyah.13
Dampak negatif dari nasionalisme Arab inilah yang
menimbulkan penolakan tanpa syarat terhadap paham nasionalisme.
Penolakan terhadap nasionalisme semakin mengkristal dengan
bangkitnya gerakan Pan Islamisme di bawah kepeloporan Sayid Jamaluddin
Afghani dan Syekh Mohammad Abduh, yang membangun solidaritas Islam
sedunia menghadapi kepentingan kolonialis Barat. Pan Islamisme tersebut
sejatinya bukanlah gerakan untuk sebuah imperium Islam, melainkan tidak
lebih dari sebuah gerakan solidaritas untuk melepaskan negeri-negeri Islam
dari jajahan Barat. Gagasan ini pada mulanya juga disambut baik oleh
khilafah Turki Utsmani, dengan harapan umat Islam sedunia dapat
merapatkan barisan di bawah kekuasaannya sendiri. Di sisi lain, karena
gagasan tersebut bergulir untuk pertama kalinya di kalangan Islam Sunni,
maka dengan sendirinya tidak disambut baik oleh kaum Syiah.
Sebenarnya, penolakan paham nasionalisme demi memperjuangkan
tegaknya khilafah Islam, untuk zaman sekarang tidaklah realistis. Unsurunsur dan faktor yang memungkinkan tegaknya sebuah khilafah mencakup
seluruh negeri Muslim, dewasa ini semakin tidak terpenuhi dan tidak relevan
lagi. Khalifah-khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, faktor utama
khilafah mereka ialah otoritas pribadi sang Khalifah itu sendiri, sebagai
sahabat terdekat Rasulullah SAW dan kemudian terpilih melalui proses
demokrasi (musyawarah) menurut konteks zamannya. Legalitas mereka
sebagai Khalifah ditentukan oleh musyawarah dan posisinya sebagai sahabat
Nabi SAW serta kecerdasan dan keilmuannya begitu tinggi. Apalagi pada
masa itu masih diberlakukan pula hadits: “Pemimpin itu harus dari kalangan
Arab Quraisy”.14
Sesudah itu lahirlah Khilafah Dinasti Umayah, di luar musyawarah,
yang legalitasnya tidak lagi berdasar pada persahabatan dengan Nabi SAW,
dan tidak pula dengan keilmuannya. Mereka tampil sebagai Khalifah, karena
kekuasaan dan keberanian menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Musuh
utama mereka ialah ahlu bait (keluarga Nabi SAW) dari garis keturunan
13
Jihn L. Esposito, Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Moderen, versi Indonesia dari The Encyclopedia of the
Modern Islamic World, (Bandung: Mizan, 2002) Jilid I, h. 150.
14
Hadits tersebut dikutip oleh Abu abdillah Al-Qurthubiy dalam Tafsir al-Qurthubiy, (al-Qahirah:
Dar al-Sya`b, 1372 H), Juz I,. H. 270.
11
Hasan dan Husain yang mereka bunuh sebagai awal konflik tiada habisnya
antara Sunni dan Syiah hingga sekarang. Begitupun, Dinasti Abasiyah yang
dibangun kemudian oleh keturunan Abbas (paman Nabi SAW), yang
legalitasnya ditentukan oleh dua hal, yakni klaim sebagai keluarga dekat
Rasulullah SAW, ditambah kekuasaan dan keberaniannya menghabisi lawan
politiknya.
Khalifah pertama, Abu Abbas, bergelar Al-Saffah karena
ketegasannya dalam menyingkirkan (membunuh) segenap lawan politiknya.
Sisa-sisa lawan politiknya yang masih hidup melarikan diri ke Afrka Utara
dan menyeberang ke Eropa kemudian membangun dinasti Umayah baru di
Spanyol. Terakhir, khilafah Turki Utsmani, yang legalitas kekuasaannya juga
tidak ditentukan oleh musyawarah, tidak pula dengan jalur kekerabatan
Rasulullah SAW, tetapi dengan keperkasaan berekspansi sampai menguasai
secara defakto hampir sepenuhnya wilayah Muslim Sunni, termasuk Jazirah
Arab dan Mesir.
Untuk zaman sekarang: siapakah gerangan yang bisa menjadi Khalifah
sejagad itu? Apakah masih ada sisa-sisa kerabat Rasulullah SAW dari suku
Quraisy? Apakah masih relevan mengandalkan keberanian, kekuatan militer
dan politik ekspansi? Bangsa Arab pasti berkelahi tiada habisnya soal klaim
sebagai turunan Quraisy. Sementara Islam telah tersebar pula ke Eropa,
Amerika, Jepang, India, Cina yang lebih kuat dari segi keilmuan, ekonomi
dan militer. Jika term “Quraisy” diartikan sebagai suku bangsa yang kuat
maka mereka pun semuanya berhak mengklaim posisi Khalifah. Belum lagi
Indonesia sebagai negara terbesar jumlah umat Islam di dunia, tentu jauh
lebih berhak. Alih-alih mempersoalkan hal yang sifatnya tidak relevan,
absurd, kontroversi dan utopis itu, lebih baik kita membiarkan masingmasing bangsa menjadi “Khalifah”, membangun negara moderen yang
demokratis di negerinya sendiri. Untuk itulah, ulama dan tokoh Islam
menerima negara nasional Indonesia dibangun di atas landasan Pancasila.
III.
Universalitas Islam dan Kemanusiaan
Islam adalah agama untuk seluruh manusia yang memembus batasbatas zaman dan ruang, atau seperti yang biasa diistilahkan: shalih li kulli
zaman wa makan. Islam adalah untuk persaudaraan universal bagi umat
manusia, membangun peradaban dunia yang mengglobal tanpa sekat-sekat
etnis, ras, agama dan budaya. Maka, dalam Al-Qur’an pun ditegaskan
bahwa Nabi Muhammad SAW diutus untuk seluruh manusia: wa ma
arsalnaka illa kafatan li al-nas, yang artinya: “Aku tidak mengutus kamu hai
Muhammad keculai untuk seluruh manusia” (Q.S.Saba’[34]:28).
Bertolak dari perinsip di atas, setidaknya lahir dua pengertian: pertama,
bahwa Islam, sebagai agama dapat diterima oleh komunitas manusia di
seluruh dunia, dan yang kedua, bahwa sebagai ajaran moral, Islam dapat
12
menginspirasi umat manusia untuk membangun peradaban universal untuk
kemaslahatan bersama bagi umat manusia. Terjadinya hijrah (perpindahan
besar-besaran) dari Mekah ke Yatsrib, pada dasarnya bukan karena
keterpaksaan kaum Muslimin waktu itu, melainkan atas dasar prinsp bahwa
agama Islam yang mereka anut dapat diterima atau berlaku untuk
masyarakat manusia, kapan dan di mana pun. Jika masyarakat Mekah masih
enggan menerimanya, akibat masih kuatnya pengaruh kepercayaan lama,
maka diharapkan Islam dapat diterima di Yatsrib.
Demikian pula, adanya “ekspansi” bagi kaum Muslimin di kemudian
hari untuk membantu masyarakat Arab di sekitarnya, seperti Siria dan Mesir
untuk lepas dari penjajahan Romawi, adalah karena terinspirasi oleh ajaran
kemanusiaan untuk saling menolong dalam mewujudkan kemaslahatan
bersama, dengan mencegah kezaliman antar manusia. Jadi sejak awal, agama
Islam telah mendorong kaum Muslimin untuk menyadari adanya sebuah
tatanan global, yang di dalamnya umat Islam harus berperan, dan agama
Islam dapat menjiwai kemaslahatan dalam peradaban manusia. Karakteristik
seperti ini menunjukkan bahwa Islam akan selalu sejalan menyertai naluri
kemanusiaan, kesejahteraan dan kedamaian dalam kehidupan maanusia.
Perhatikan doktrin Al-Qur’an tentang hal tersebut:
Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari jenis
laki-laki dan perempuan, dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersukusuku, agar kamu saling mengenal” (Q.S.al-Hujurat [49]: 13).
Kata kunci dalam ayat di atas ialah “lita’arafu”, yang selama ini diartikan:
“saling mengenal”. Semangat saling mengenal yang menjadi inti doktrin
tersebut ialah “kearifan” yang berasal dari akar kata yang sama dengan
“lita`arafu”. Islam menghendaki terwujudnya kearifan global dengan filosofi
lita`arafu bagi kehidupan manusia, yang tercermin dalam peradaban yang
dibangun yang berintikan mashlahat (ma’ruf), dalam tatanan masyarakat
plural yang disebut masyasrakat madani.15
Masyarakat madani atau yang dikenal di Barat sebagai civil society atau
civilized society, ialah suatu tanatan masyarakat demokratis, yang menghargai
perbedaan etnis, bahasa dan agama. Model masyarakat seperti itulah yang
dibangun Nabi Muhammad SAW di Yatsrib, kemudian negeri itu berubah
Istilah “madani” untuk pertama kalinya dipopulerkan dalam bahasa Melayu (Indonesia) oleh
Anwar Ibrahim, dalam pidatonya pada Festival Istiqlal Jakarta 1995, dengan judul Islam dan
Pembentukan Masyarakat Madani.
15
13
nama menjadi “Madinah”, setelah menjadi pusat peradaban, yang
menunjukkan betapa persaudaraan antar orang Arab dan non Arab, antara
Muslim dan non Muslim (Yahudi, Kristen dan kaum Musyrikin) dapat
dibangun atas nilai kemanusiaan universal.
Menyangkut kehidupan bernegara, nilai kemanusiaan secara jelas
dapat dilihat dari tidak adanya term “negara Islam” dalam Al-Qur'an dan
hadits bahkan tidak juga dalam naskah Piagam Madinah yang dibuat oleh
Rasulullah SAW bersama umat agama-agama lain di Yatsrib (Madinah). AlQur'an hanya mengungkapkan pesan-pesan universal tentang negara yang
indah, misalnya dalam Q.S.Saba'(34): 15, disebutkan baldah thayyibah wa Rabb
Ghafur (negara yang indah dibawah ampunan Tuhan). Sungguh bijaksana
ajaran demikian, sebab dalam kehidupan bernegara, gagasan-gagasan
kemanusiaan lebih utama ketimbang kepentingan primordial suku dan
agama tertentu. Terminologi baldah thayyibah sangat pas dengan negara yang
berideologi nasionalis di atas landasan humanis seperti di Indonesia.
Negara baldah thayyibah itulah yang pernah dipraktikkan Nabi
Muhammad SAWdi Yatsrib, yaitu sebuah negara persaudaraan, antaragama
dan antaretnis. Di atas persaudaraan kemanusiaan itu, beliau terbukti
berhasil membawa masyarakat Yatsrib menjadi berperadaban, yang dalam
bahasa Arab disebut tamaddun. Piagam Madinah sebagai konstitusi baldah
thayyibah, memakai terminologi ummah yang mengacu kepada segenap
elemen masyarakat mencakup Muslim, Yahudi dan umat agama-agama lain
adalah jelas berasas kemanusiaan. Untuk ini Nurcholis Madjid menyatakan
bahwa: “Bunyi naskah konstitusi itu sangat menarik. Ia memuat pokokpokok pikiran yang dari sudut tinjauan moderen pun mengagumkan. Dalam
konstitusi itulah untuk pertamakalinya dirumuskan ide-ide yang kini
menjadi pandangan hidup moderen di dunia, seperti kebebasan beragama,
hak setiap kelompok untuk mengatur hidup sesuai dengan keyakinannya,
kemerdekaan hubungan ekonomi antar golongan, dan lain-lain.Tetapi juga
ditegaskan adanya suatu kewajiban umum, yaitu partisipasi dalam usaha
pertahanan bersama menghadapi musuh dari luar.”16
Untuk kasus Indonesia, perjuangan kebangsaan (nation building and
development), harus merefleksikan nuansa kemanusiaan dari risalah Islam
yang bersifat rahmatan lil`alamin, atau bersifat kaffatan li al-nas. Artinya,
16
Nurcholish Madjid, “Cita-cita Politik Kita” dalam Basco Carvallo dan Dasrizal, Ed., Aspirasi Umat Islam
Indonesia, (Jakarta:LAPPENAS, 1983), h. 11
14
sebuah perjuangan untuk lita`arafu, agar saling berbuat kebajikan bagi sesama
manusia di negeri ini. Dengan nasinalisme yang bersifat humanitiy, kita
merangkul semua warga bangsa untuk masuk dalam iklim bernegara yang
rahmatan lil`alamin, yang melayani kepentingan warga sebagai manusia,
bukan karena etnis, ras atau agama tertentu.
Atas prinsip universalitas dan inklusifistik, maka ajaran Islam
mendorong pergaulan peradaban secara luas. Terbukti, pada era khilafah
Umayyah dan Abbasiyah kemudian hari, Islam terbuka menerima
peninggalan kebudayaan sebelumnya, seperti pemikiran Helenistik Yunani
yang dibawa oleh Alexander Yang Agung ke Mesir, Siria dan Mesopotamia.
Keterbukaan itu semakin menjadi-jadi lewat penerjemahan yang digalakkan
sejak pemerintahan Al-Makmun dari dinasti Abasiyah. Beliau mengangkat
Hunain Ibn Ishaq seorang Kristen yang profesional ahli bahasa untuk
mengepalai lembaga penerjemahan itu. Hunain pernah menyatakan bahwa:
"Bagiku ada dua hal, yakni agama dan profesi. Agama mengajarkan untuk harus
berbuat baik kepada musuh-musuh, apatahlagi terhadap sahabat-sahabat kami. Dan
profesi saya adalah untuk kepentingan umat manusia".17
Dengan semangat kemanusiaan universal dari Al-Qur’an, umat Islam
di zaman klasik terbuka untuk menyerap ilmu pengetahuan dari luar.
Mereka berani untuk lepas dari penjara eksklusifitas Islam, lalu menerima
produk "asing" berupa ilmu dan teknologi, sampai mereka menembus pula
batas-batas etnis, gegografi, budaya dan agama. Hal itu mereka lakukan
sebagaimana sabda Nabi: uthlub al-`ilma walaw bi al-Shin18 (carilah ilmu walau
ke negeri Cina).
Terbukti, ajaran teologis eksklusif Islam berjalan beriringan dengan
semangat kemanusiaan dan keterbukaan. Sebab, takkan ada peradaban
kemanusiaan yang dapat tegak, tanpa pergaulan lintas etnis, budaya dan
agama. Hanya dengan pergaulan global, tanpa sekat primordialisme seperti
itu, alih teknologi dapat terwujud untuk kesejahteraan manusia pada
umumnya. Untuk itu umat Islam seharusnya melakukan kontak peradaban
dengan dunia luar, tidak canggung mengejar sains dan teknologi, belajar soal
kemakmuran ke negara-negara Kristen di Barat, tanpa melupakan negaranegara Asia, misalnya Jepang dan teristimewa Cina sesuai dengan anjuran
Rasulullah SAW. Umat Islam harus bangkit lagi menyapa semua umat
17Dikutip
dari Ibn al-Ibri oleh Philip K Hitti, History of the Arabs (London: The Macmillan Press Ltd, 1973),
h. 313.
18
Al-Rubay` bin Habib al-Bashriy, Musnad al-Rubay`, (Beyrut: Dar al-Hkmah, 1415 H.), Juz I, h. 29.
15
manusia, menyerap semua peradaban masa lalu. Kiranya Islam benar-benar
tampil sebagai rahmat untuk alam semesta ini, wa ma arsalnaka illa rahmatan
lil-alamin, demikian firman Tuhan: “dan tidaklah Kami mengutus engkau
Muhammad, kecuali rahmat untuk alam semesta” (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 107)
Dengan prinsip kemanusiaan seperti di atas, maka tidak heran jika
terdapat sekolah Islam Indonesia, misalnya di Nusa Tenggara Timur, Maluku
dan Papua dibangun untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang
sebahagian siswanya adalah non Muslim. Mereka diasuh dengan semangat
kemanusiaan, tanpa harus menukar agamanya menjadi Muslim. Dari
kalangan Muhammadiyah, adalah Abdul Mu’ti dan Fajar Riza Ul Haq
menawarkan varian baru yaitu Krismuha (Kristen – Muhammadiyah) dalam
memahamai hubungan Islam dan Kristen di Indonesia melalui pendidikan.
Dalam
buku
Kristen-Muhammadiyah19,
mereka
menggambarkan
perkembangan sekolah Muhammadiyah di daerah mayoritas non-Muslim,
yaitu Ende, Flores (NTT), Serui (Papua), dan Putussibau (Kalimantan
Barat).SMA Muhammadiyah,sebagai sekolah Islam yang pertama di
wailayah tersebut, mendapat respon positif dari Uskup Agung (emeritus)
Ende, Mgr Donatus Djagom, bahkan memberikan sumbangan untuk
pembangunan sekolah Islam tersebut.
Menerima siswa non-Muslim adalah sesuai dengan pandangan
keislaman yang dibangun atas dasar falsafah toleransi, keterbukaan, dan
pluralitas kemanusiaan. Saat ini jumlah siswa non- Muslim dalam setiap
kelas mencapai 2/3. Sementara itu, alasan utama mengapa para siswa
Kristen tertarik pada SMA Muhammadiyah, ialah pertama, karena mutu
sekolah yang baik; kedua, biaya pendidikan relatif terjangkau dan bisa
dicicil.Ketiga, dan ini yang terpenting, bahwa SMA Muhammadiyah
memberikan Pendidikan Agama Kristen (PAK) dengan guru-guru dari
Kristen sendiri.20 Bagi siswa Kristen, dengan belajar di sekolah tersebut,
wawasan mereka tentang Islam menjadi luas, dan hal ini penting untuk bisa
menjadi pastor atau pendeta. Sungguh luar biasa, sebuah sekolah Islam di
Indonesia dapat mendidik calon-calon petinggi Kristen (Katolik).
Bahkan,menurut pengakuan Theophilus Bela,Sekretaris Jenderal Committee
of Religion for Peace dan Ketua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta,
ada lulusan SMA Muhammadiyah yang kemudian melanjutkan pendidikan
di Seminari Tinggi dan menjadi Pastor Katolik, dan tidak sedikit pula yang
19
Lihat dalam Abdul Mu`ti dan Fajar Riza ul Haq, Kristen-Muhammadiyah, Konvergensi Muslim
dan Kristen dalam Pendidikan, (Jakarta: Al-Wasat, 2009), h.39 s.d. 194.
20
Ibid., h. 66 dan 73.
16
menjadi biarawati21.Ini suatu bukti bahwa nilai Islam tentang kemanusiaan
memberi kontribusi bagi pembangunan peradaban bersama.
Lebih dari itu, di sejumlah Perguruan Tinggi Islam, juga telah dijalin
kerjasama dengan Perguruan Tinggi non Muslim luar negeri Eropa dan
Amerika, terutama dalam program studi kedokteran, yang semuanya untuk
kepentingan kemanusiaan. Bahkan untuk sekadar diketahui, ketika penuls
menjabat Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN (kini UIN) alauddin Makassar,
1999-2001, pernah menerima mahasiswa non Muslim, bekerjasa sama dengan
Sekolah Tinggi Teologia Makassar. Di antara mereka ada yang berhasil
menjadi pendeta di Gereja binaannya.
Masih banyak aspek lain yang mencermnkan nilai kemanusiaan dalam
Islam, misalnya menyangkut soal kesejahteraan ekonomi, baik dalam hal
kerjasama jaringan ekonomi mapun dalam soal menyantuni sesama manusia,
Islam memberi tempat bagi umat agama lain. Seperti halnya, Nabi
Muhammad SAW sering membeli barang dagangan orang Yahudi,
khususnya makanan dan pakaian22 Salah satu hadits menyebut hal ini
sebagai berikut:
Telah memberitakan padaku Al-Aswad, dari Aisyah RA, bahwasanya Nabi
SAW membeli makanan dari seorang Yahudi secara bertangguh sampai
waktu tertentu, dan menggadaikan dari padanya sebuah baju besi.
Demikian juga syirkah (perkongsian) dengan umat agama lain dan
mengupah mereka dalam suatu pekerjaan profesional, semua diajarkan
Islam. Rasulullah SAW, dalam perjalanan hijrah, mengupah seorang
musyrik dari kalangan Bani al-Dayl sebagai penunjuk jalan.23 Selain itu,
syariah juga membolehkan mudharabah (memberi atau menerima modal)
umat agama lain dalam suatu usaha bersama.24
Atas dasar kemanusiaan, umat agama lain juga berhak dan
dibolehkan untuk meneruskan usaha ekonominya, termasuk memelihara
babi dan menjual khamar untuk kalangan mereka; dan jangan heran,
harganya pun boleh diterima dan digunakan oleh umat Islam. Hal ini
diterapkan oleh Umar bin Abdul Aziz, dengan berdasar pada praktik Umar
http://forumbebas.com/printthread.php?tid=74005Dialog
Muhammadiyah 16 Aug 2009.
21
Pendidikan
Kristen
Abi Bakr Ayyub al-Zar`iy Abu Abdillah, tahqiq Yusuf Ahmad al-Bakriy dan Syakir
Tawfiq al-`Aruriy, Ahkam Ahl al-Dzimmah, (Beyrut: Dar Ibn Hazm, 1997/1418) Juz, I, h.55122
552
23Kisah ini dapat dilihat dalam Al-Bukhariy. Shahih al-Bukhariy, op. cit., Juz II, h. 790 (Bab Isti’jar alMusyrikin fi al-Dharurah).
24Lihat dalam Muhammad bin Abi Bakr Ahkam Ahl al-Dzimmah, op. cit., Juz I, h. 552-555.
17
bin al-Khaththab, asal saja penjualannya ditangani oleh mereka sendiri,
kemudian kaum Muslimin menerima harganya sebagai jizya ataupun
sebagai `usyur (pajak persepuluhan) mereka.25
Dalam hal penguasaan
tanah untuk pertanian, juga kedudukan umat agama lain sama dengan
Muslim, masing-masing berhak menjadi pemilik dan penggarap. Mereka
juga sama-sama berhak mengolah tanah yang tak bertuan, kemudian
memiliki tanah yang digarapnya itu. Demikian pendapat Imam Ahmad ,
kaum Hanafiyah dan Malikiyah26.
Bahkan lebih dari itu, menyangkut soal zakat, Al-Zuhriy, Abu
Hanifah, Muhammad dan Abu Syabramah membolehkan zakat (termasuk
zakat fitri) dibagikan kepada umat agama lain berdasarkan pengertian
umum dari ayat
ِ ِ
ِ
ِ َّ
َّ ‫اَل يا ْن اها ُك ْم‬
‫وه ْم اوتُ ْق ِسطُاا‬
ُ ‫ين اَلْ يُ اقاتِلُاُك ْم ِِف الدي ِن اواَلْ ُُيْ ِر ُجاُك ْم م ْن د اَي ِوُك ْم أا َْ تااا ُّر‬
‫اَّللُ اع ْن الذ ا‬
ِِ
27‫طي‬
َّ ََّ ِ‫إِلاْي ِه ْم إ‬
ُّ ‫اَّللا ُُِي‬
‫ب ال ُْم ْقس ا‬
Allah tidak melarang kamu terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam agama
dan tidak mengusir kamu dari negerimu, untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka.
Sesungguhnya Allah menyenangi orang-orang yang berlaku adil (Q.S.al-Mumtahanah [60]:
8)
Syaikh `Ali Ahmad Al-Jarjawiy, dalam bukunya Hikmat al-Tasyri' wa
Falsafatuh, membolehkan zakat fitri diberikan kepada umat agama lain
berdasarkan ayat di atas, namun tetap memprioritaskan kepada orang-orang
Muslim, berdasarkan hadits Rasulullah SAW: “tu’khadz min aghniya’ihim wa
turaddu `ala fuqara’ihim” (zakat dipungut dari orang-orang kaya mereka, dan
dkembalikan pula kepada orang-orang miskin mereka. 28 Pendapat yang
membolehkan umat agama lain menerima zakat, berdasarkan Q.S.alMumtahanah [60]: 8 di atas, juga berdasar pada makna mu’allafatu qulubuhum
(kaum mualaf) dalam Q.S.al-Tawbah [9]: 60. Pengertian kata muallaf,
diperluas sampai mencakup pula umat agama lain yang tak kalah
pentingnya untuk dirangkul untuk hidup dalam kedamaian bersama kaum
Muslimin.29
Untuk itu, Rasulullah SAW pernah menghadiahkan sejumlah unta
kepada seorang musyrik, bernama Shafwan bin Umayah; Beliau bersabda:
"Ini bahagian untuk orang yang tak terancam ke fakiran". Shafwan yang
menerima bahagian zakat itu pun berkata: Demi Tuhan, Muhammad telah
25Ibid.,
Juz I, h. 356-357
Juz III, h. 1224-1225.
27Lihat pula dalam `Abd al-Rahman Al-Jazairiy, Al-Fiqh `ala al-Madzahib al-`Arba`ah, (Beyrut: Dar al-Kutub
al-`Ilmiyah, 1406 H.). Juz I, h. 627-628.
28Al-Syaikh `Ali Ahmad al-Jarjawiy, Hikmat al-Tasyri` wa Falsafatuh, (Mishr: Jami`at al-Az-har al-`Ilmiyah,
1358 H), Juz I, h. 237. Hadits yang dikutip oleh Syekh tersebut terdapat dalam Al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy,
Kitab al-Zakat, Bab Wujub al-Zakat, op. cit, Juz II, h. 505 .
29Bandingkan dalam Syah Waliyullah al-Dahlawiy, Hujjatullah al-Balighah, (Beyrut: Dar al-Ma`rifah, t.t.), Juz
II, h. 45.
26Ibid.,
18
memberikan sesuatu untukku, padahal ia adalah orang yang paling kubenci; ia selalu
memberi kepadaku sampai menjadi orang yang paling kucintai".30 Dalam hal non
Muslim tidak masuk dalam kategori mu’allaf, mereka tetap dibolehkan
menerima hadiah selain zakat. Rasulullah sendiri pernah memberikan
hadiah kepada orang-orang musyrik di perang Hunain, yang bersumber dari
fay' (pampasan perang) dan dari harta milik Nabi sendiri selain zakat.31
Bahkan masalah kewarisan antar umat beragama yang cukup
kontroversial karena sebahagian ulama melarangnya, ternyata sebahagian
ulama justru membolehkannya. Mereka yang tidak membolehkan berdasar
pada hadits Rasulullah SAW dari Usamah bin Zaid yang berbunyi:
32
‫َل يرث املسلم ال ا ر وَل يرث ال ا ر املسلم‬
Orang Muslim tidak mewarisi orang kafir, dan orang yang Kafir tidak mewarisi orang Muslim.
Berdasarkan ashbab al-wurud hadits tersebut, sebenarnya orang kafir
yang dimaksud di sini ialah orang musyrik jahiliyah, bukan kaum Ahlu
Kitab.
Tapi, sebahagian ulama, entah apa alasan sampai mereka
mengembangkan pengertiannya mencakup Ahli Kitab (khususnya Yahudi
dan Kristen). Meskipun demikian, mereka tetap memberikan jalan keluar,
yakni umat agama lain dapat memperoleh washiah (wasiat) atau hibah yang
nilainya sama dengan warisan. Wasiyat pernah dilakukan oleh isteri
Rasulullah SAW, Shafiyah binti Hayyi, berdasarkan riwayat Said bin
Manshur dari Sofyan bahwa Shafiyah menjual rumahnya ke Muawiyah
sebanyak 100 ribu (entah dinar atau dirham?), kemudian menawarkan
kepada saudaranya yang beragama Yahudi disertai ajakan masuk Islam,
tetapi saudaranya menolak. Maka Shafiyah pun mencari jalan keluar, agar
saudaranya memperoleh harta warisan itu; dia kemudian mewasiatkan
sepertiga dari harga rumah kepada saudaranya yang bukan Muslim itu.33
Menurut Sayid Sabiq, Shafiyah justru mewakafkan rumah kepada
saudaranya tersebut.34 Tidak masalah, apakah warisan, wasiat atau wakaf,
sebab yang penting ialah muamalah ekonomi antara Muslim dan bukan
Muslim telah berlangsung secara harmonis alamiah sebagaimana
dicontohkan oleh sahabat dan isteri Rasulullah SAW tadi.
Riwayat dari Imam Malik dan Al-Bukhariy menyebut bahwa Umar
bin Khaththab pernah menerima jubah kebesaran dari Rasululah SAW.
Maka Umar pun bertanya keheranan, apakah engkau ya Rasulallah
menyuruh aku memakai pakaian seperti ini padahal engkau telah melarang?
30
Lihat teks hadits dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fadhail, Bab Ma Su’ila Rasulullah, op. cit., Juz IV, h.
1806.
31Al-Syafi`iy,
Al-Umm, (Beyrut: Dar al-Fikr, 1403 H) Juz II, h. 45.
Shahih al-Bukhariy, Bab la yarits al-Muslim, op.cit., Juz VI, h. 2484,
Muslim, Kitab al-Faraidh, (Beyrut: Dar Ihya al-Turats al-`Arabiy), Juz III, h. 1233.
32Al-Bukhari,
33
34
dan Muslim, Shahih
Muhammad bin Abi Bakr Ahkam Ahl al-Dzimmah, Juz I, h. 608
Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, op.cit., Juz’ III, h. 381.
19
Rasul menjawab: Aku tidak menyuruh kamu memakainya, tetapi juallah
atau berikanlah orang lain memakainya. Maka Umar mengirim jubah
kebesaran itu ke salah seorang saudaranya yang non Muslim di Mekah.35
Sejumlah hal di atas menunjukkan betapa sejarah sosial politik dan
ekonomi Islam brkontribusi menyejahterakan masyarakat luas tanpa
membedakan agama dan keyakinannya. Hal ini tidak lain dari makna
syariah yang bernilai kemanausiaan.
IV.
Penutup
Adalah jelas bahwa Al-Qur'an sendiri telah mengajarkan cara berpikir
kemanusiaan universal, yakni cara berpikir merangkul semua pihak dan
golongan dalam suatu tatanan kehidupan yang dikemas dalam bentuk
ideologi yang berperikemanusiaan. Ajaran kemanusiaan mendorong umat
Islam untuk menyapa beragam budaya lokal dari bangsa-bangsa yang ada di
Dunia, dan mengemasnya sebagai budaya Islam baru yang khas,. Sehingga
lahirlah Islam Keindonesiaan.
Mengenai aspek kehidupan sosial secara umum, Islam menekankan
secara substansial, tanpa menekankan simbol-simbol rasialis.
Sebab,
betapapun universalnya suatu ajaran, jika dikemas secara primordial agama
misalnya: “Islam”, atau “Kristen”, niscaya akan berubah menjadi eksklusif
yang mengaburkan nilai kemanusiaannya. Sebut saja rumah sakit, sebagai
contoh, jika diberi simbol agama, dengan nama: "Rumah Sakit Islam", atau
“Rumah Sakit Kristen”, maka seolah dokter dan sistem yang berlaku di sana
hanya melayani orang-orang seagamanya, padahal misi suci mengobati
pasien, tanpa membedakan agamanya merupakan ajaran luhur semua
agama. Karena itu, aktifitas sosial dan politik, tidak harus diberi simbol
agama, sebab hal sepeeti itu belum tentu menyentuh inti ajaran agama
tentang manusia dan kemanusiaan.36 Walahu A`lam bi ‘l-Shawab
35 Imam Malik, Al-Muwaththa’, Kitab al-Libas, Bab Ma Ja’a fi Lubs al-Tsiyab (Mishr: Dar Ihya’ al-Turats al`Arabiy, t.t.), Juz II, h. 917. Juga Al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, Kitab al-Hibah, Bab Hadyah ma Yukrah
Labsuh, op. cit., Juz II, h. 921.
36
Di Makassar, terdapat Rumah Sakit, yang pada mulanya bernama Rumah Sakit Islam Faishal,
sekarang berubah nama menjadi Rumah Sakit Umum Islam Faishal, yang tentunya lebih bernilai
kemanusiaan dibanding nama sdebelumnya.
20
Download