BMBC: Efek Terapi Sel Punca Selama dua hari berturut

advertisement
BMBC: Efek Terapi Sel Punca
Selama dua hari berturut-turut, Sabtu dan Minggu (14-15/5) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas
Brawijaya (UB) bekerjasama dengan Asosiasi Sel Punca Indonesia, Perhimpunan Patobiologi
Indonesia (PPI) cabang Malang, dan IDI cabang Malang menyelenggarakan Seminar dan Workshop
Internasional: 9th Basic Molecular Biology Course (BMBC) on Stem Cell Treatment dan Dinner
Symposium Cardiology. Acara yang mengambil tema Recent Advance and Challenge of Stem Cell
Treatment ini bertempat di Lantai 6 FK-UB dan dihadiri oleh 179 orang dari para dokter, klinisi,
mahasiswa S2, S3, maupun peneliti dari seluruh Indonesia.
Para pakar sel punca didatangkan dari dalam dan luar negeri, diantaranya yang hadir yaitu:
Prof.dr.Sofia Mubarika, M.Sc.,Ph.D (UGM), Prof.Dr.Suhartono Taat Putra, dr.MS (Unair), Drs. Andi
Wijaya. Ph.D (Prodia), Yuyus Kusnadi, Ph.D (Institusi Stem Cell dan Kanker), Dr. Yefta Moenajat, SpBP
(UI), Prof.Dr.Joseph DENS (AZ Sint-Jan, Genk, Belgium), Prof. Paul Lijnen, MD, PhD (katholieke
Universiteit Leuven, Belgium), Prof. Dr. Djanggan Sargowo, SpPD.,SpJP(K).FACC.FIHA (UB),
Prof.DR.dr.A. Rudijanto, SpPD, KEMD (UB), Prof. Drg. Ferry Sandra PhD (Universitas Trisakti), DR.dr.
Yoga Yuniadi, SpJP (K) (UI), DR.dr Ismail, SpOT (UI), DR.drg. Nur Permatasari., MS. (UB), Rudy Susilo,
PhD (PT Premera Nano Pharma), Prof.DR.dr. David S. Perdanakusuma, SpBP (K) (Unair), dan
Satuman, Ssi.,M.Kes (UB).
Acara ini secara resmi dibuka oleh Dekan FK-UB Karyono Mintaroem, MD, PhD. Karyono mengatakan
bahwa sel punca merupakan salah satu dari area penting dalam penelitian medis dan terapi di
seluruh dunia saat ini. Berbagi ilmu pengetahuan, keahlian, dan bekerja bersama dengan banyak
institusi berbeda seperti universitas, institusi perawatan kesehatan, perusahaan biotek dan farmasi
sangat penting untuk mempercepat terserapnya pengetahuan untuk menjawab masalah-masalah
dalam masyarakat.
Secara garis besar dari berbagai penelitian terkini mengenai “terapi sel punca” telah diketahui ada
tiga kemungkinan (1) efek parakrin, (2) chimera dan (3) transdiferensiasi. “Pada ketiga peristiwa ini
maka terbuka peluang berbagai fenomena yang dapat digunakan untuk mengembangkan
Patobiologi Sel Punca dan bahkan Psikoneuroimunologi Sel Punca,” ungkap Prof. Suhartono Taat
dalam kesempatan tersebut.
Pembicara dari Belgia yaitu Prof. Dr. Joseph Dens dan Prof. dr. P Lijnen, FAHA menyampaikan materi
secara berturut-turut tentang pengobatan sel punca dalam gagal jantung ischemic kronis: hasil dari
C-Cure dan Stress Oksidatif, Angiotensin II dan Cardiac Fibrosis, kemudian Modulation of Reactive
Oxygen Species and Collagen Synthesis by Angiotensin II in Cardiac Fibroblast dan Sindrom Koroner
Akut.
Lebih dari beberapa tahun terapi sel punca sudah dilakukan untuk bermacam-macam penyakit di
Indonesia. Pada saat ini kita dapat menemukan banyak laporan yang menunjukkan dampak dari
terapi sel punca. Sebagian besar aplikasi sel punca dikategorikan sebagai sel punca dewasa. “Potensi
penggunaan sel punca untuk memperbaiki dan mengganti jaringan yang rusak memegang janji yang
tinggi untuk pengobatan regenerative,” ujar Prof Ferry Sandra saat menyampaikan materinya.
Riset dan potensial aplikasi sel punca mesenkimal di bidang orthopaedi disampaikan oleh Dr. dr.
Ismail HD, SpOT dari divisi Orthopaedi dan Traumatologi, FKUI-RSCM yang mengemukakan beberapa
masalah pada tulang yang berpotensi untuk rekayasa jaringan yaitu trauma (fraktur) dan non
trauma. Komponen sel memerlukan sel yang dapat membentuk jaringan untuk regenerasi, dalam hal
ini progenitor osteogenik. Masalah utama yang belum terselesaikan berada pada pengembangan
matriks yang paling tepat yang bersifat biodegradable namun resisten; merangsang infiltrasi dan
survival, proliferasi, dan diferensiasi sel; dan menunjang intergrasi dengan jaringan tulang yang telah
ada sebelumnya. “Dengan dukungan fasilitas yang ada di RSCM-FKUI dan kolaborasi yang baik antara
ahli bedah, teknisi laboratorium, dan laboratorium sel punca, diharapkan kesuksesan pelayanan dan
terapi sel punca akan dapat terwujud,” ujar Ismail.
Pertemuan yang secara rutin diselenggarakan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan
mengenai sel punca hingga kemajuan riset dan aplikasi klinisnya, khususnya yang telah dicapai di
Indonesia maupun di mancanegara dan juga segala aspek berkaitan dengan perkembangan ilmu dan
aplikasi klinis sel punca di bidang kardiovaskular, ortopedi, kanker, hematologi, sel lemak, dan sel
syaraf. Demikian papar Ketua komite penyelenggara Dr.dr.Olly Indrajani, SpPD.[mit]
Download