PENTINGNYA PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNACE

advertisement
PENTINGNYA PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNACE DALAM
PENGELOLAAN PERUSAHAAN DAERAH
Oleh : Maria Fransiska Owa da Santo, SH., M.Hum.
ABSTRAK
Dalam upaya penguatan penerimaan daerah yang bersumber dari kekayaan daerah
yang dipisahkan, maka peranan investasi Pemerintah melalui Badan Usaha Milik
Daerah yang diwujudkan dalam bentuk Perusahaan Daerah sangat diharapkan,
selain sebagai sumber PAD, BUMD diharapkan juga sebagai pemacu utama
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi daerah. Perusahaan daerah memiliki
peranan yang penting dalam menghasilkan pendapatan bagi daerah. Dalam Perda
Nomor 13 Tahun 2009 sebagai peraturan yang mengatur peralihan status badan
usaha PD Flobamor menjadi PT dalam Pasal 6 telah mengatur bahwa dalam
penyelenggaran perusahaan PT Flobamor adalah mendukung pelaksanaan prinsip
good corporate governance yaitu, kewajaran (fairness), keterbukaan informasi
(tranparency), dapat dipertanggungjawabkan (accuntability), pertanggungjawaban
(responsibility) sebagaimana yang diatur dalam UU Nomor 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas. Lahirnya artikel ini bertolak dari adanya keraguan
bahwa Perusahaan Daerah (PD) milik pemerintah Provinsi NTT telah dapat
menjalankan usahanya dengan baik sesuai yang diamanatkan oleh peraturan
perudang-undangan dan dapat meningkatkan pendapatan asi daerah. Hal ini dapat
dilihat dari terus meruginya PT Flobamor dalam menjalankan usahanya bahkan
banyak terjadi kasus korupsi terhadap dana-dana subsidi dari pemerintah.
Kata Kunci : Prinsip Good Corporate Goverance yaitu Kewajaran (fairness),
Keterbukaan Informasi (tranparency), Dapat Dipertanggungjawabkan (accuntability),
Pertanggungjawaban (responsibility); Pengelolaan Perusahaan; Perusahaan Daerah.

Tulisan ini merupakan sebagaian temuan dari Penelitian Hibah Bersaing Tahun I (2014) berjudul
“Menuju Model Perusahaan Daerah Berbasis Prinsip Good Corporate Governance (GCG) Pada Badan
Usaha Milik Daerah Provinsi NTT, yang dibiayai oleh Kopertis Wilayah VIII Bali-Nusra Kerjasama
Dengan Dirjen Dikti Kementrian Pendidikan NAsional RI 2014. Penelitian ini merupakan pengembangan
lebih lanjut dari Tesis berjudul : “Akibat Hukum Perubahan Status Badan Usaha Perusahaan Daerah
Flobamor – Provinsi NTT Menjadi Perusahaan Perseroan Terbatas Dalam Mendukung Penyelenggaraan
Prinsip Good Corporate Governance” di Program Pasca Sarjana Undana Tahun 2010, dibawah bimbingan
Dr. Kotan Y. Stefanus, SH.MHum dan Dr. Yustinus Pedo, SH.MHum.

Maria Fransiska Owa da Santo, SH.Mhum; Dosen Tetap Pada Fakultas Hukum Unwira-Kupang; Dosen
pada bagian Hukum Perdata dan Bisnis; Mendapatkan Gelar Sarjana Hukum (S1) pada FH Unika Widya
Mandira-Kupang, Tahun 2001 dan Gelar Magister Hukum (S2) pada Program Studi Ilmu Hukum pada
Program Pasca Sarjana Undana-Kupang, Tahun 2010. Selain mengajar di FH Unwira juga bertugas
sebagai Kepala Bagian Divisi Monitoring dan Evaluasi pada Lembaga Penjaminan Mutu (LP3M) –
Unwira-Kupang.
30
IMPORTANCE OF COOPERATIVE PRINCIPLES OF GOOD GOVERNANCE
IN LOCAL MANAGEMENT COMPANY
Oleh : Maria Fransiska Owa da Santo, SH., MHum.
ABSTRACT
In efforts to strengthening of reception area which sourced from excluded areas,
the role of government investment through state-owned enterprises embodied in
the highly anticipated, as a source of pad, bumd, public enterprises as a driver also
expected major regional economic growth and development. The company has
important role in revenue for local produce. Perda in number 13 of 2009 as a
transitional rules governing agency status PT flobamor being pt of article 6
arrange that has been in the operation of the company is PT Flobamor principles
of good support cooperate cogernance, fairness, transparency, accuntability,
responsibility, as provided in the law number 40 of this article on the company.
This artikel depart from doubt that company of regional (PD) of NTT government
have operated their business well according to mandated by laws invitation and
can increase local revenue. This can be seen from continuing damage PT
Flobamor in running the business happen even many cases of corruption in funds
subtitusion of government.
Keywords: Principles Of Good Cooperate Governance Namely Fairness, Transparency,
Acceptability, Accountability, Responsibility, Organizer Of Company; Regional
Companies.
A. PENDAHULUAN
Isu corporate governance muncul sejak diperkenalkannya pemisahan
antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. Namun istilah corporate
governance itu sendiri secara eksplisit muncul pertama kali pada tahun 1984
dalam tulisan Robert I. Tricker1.
Dua teori utama yang terkait dengan corporate governance adalah
stewardship theory dan agency theory. Stewardship theory dibangun di atas
1
(Tricker, Robert I; 1984; Corporate Governance – Practices, Procedures, and Power in British
Companies and Their Board of Directors, UK, Gower); dalam G. Suprayitno, et all. 2004. Komitmen
Menegakkan Good Corporate Governance: Praktik Terbaik Penerapan GCG Perusahaan di
Indonesia. Jakarta: The Institute for Corporate Governance (IICG).
31
asumsi filosofis mengenai sifat manusia yakni bahwa manusia pada hakekatnya
dapat dipercaya, mampu bertindak dengan penuh tanggung jawab memiliki,
integritas, dan kejujuran terhadap pihak lain. Inilah yang tersirat dalam hubungan
yang dikehendaki para pemegang saham. Dengan kata lain, stewardship theory
memandang manajemen sebagai dapat dipercaya untuk bertindak dengan sebaikbaiknya bagi kepentingan publik pada umumnya maupun shareholders pada
khususnya.
Sementara itu, agency theory yang dikembangkan oleh Michael Johnson,
seorang professor dari Harvard, memandang bahwa manajemen perusahaan
sebagai ‘agents’ bagi para pemegang saham, akan bertindak dengan penuh
kesadaran bagi kepentingannya sendiri, bukan sebagai pihak yang arif dan
bijaksana serta adil terhadap pemegang saham sebagaimana diasumsikan dalam
stewardship model. Bertentangan dengan stewardship theory, agency theory
memandang bahwa manajemen tidak dapat dipercaya untuk bertindak dengan
sebaik-baiknya bagi kepentingan publik pada umumnya maupun shareholders
pada khususnya2.
Agency theory mendapat respons lebih luas karena dipandang lebih
mencerminkan kenyataan yang ada.
Berbagai pemikiran mengenai corporate
governance berkembang dengan bertumpu pada agency theory di mana
pengelolaan perusahaan harus diawasi dan dikendalikan untuk memastikan bahwa
pengelolaan dilakukan dengan penuh kepatuhan kepada berbagai peraturan dan
ketentuan yang berlaku. Upaya ini menimbulkan apa yang disebut sebagai agency
costs, yang menurut teori ini harus dikeluarkan sedemikian rupa sehingga biaya
untuk mengurangi kerugian yang timbul karena ketidakpatuhan setara dengan
peningkatan biaya enforcement-nya.
Meskipun demikian, potensi untuk munculnya agency problem tetap ada
karena adanya pemisahan antara kepengurusan dengan kepemilikan perusahaan,
khususnya di perusahaan-perusahaan publik. Bagaimana perbandingan kegiatan
antara corporate governance dan corporate management memperlihatkan bahwa
corporate governance sangat terkait dengan aspek pengawasan dan akuntabilitas,
2
Ibid.
32
sementara corporate management terkait dengan keputusan-keputusan dan
pengendalian eksekutif serta manajemen operasional.
Istilah Good Corporate Governance (selanjutnya disingkat GCG)
pertama kali diperkenalkan oleh Cadbury Committee tahun 1992 dalam
laporannya yang dikenal sebagai Cadbury Report3. Terdapat banyak definisi
tentang GCG yang pendefinisiannya dipengaruhi oleh teori yang melandasinya.
Berkaitan dengan perusahaan/korporasi defenisi GCG dapat dipandang dari dua
teori, yaitu (a) teori pemegang saham (shareholding theory), dan (b) teori
stakeholder (stakeholding theory).
Shareholding theory mangatakan bahwa perusahaan didirikan dan
dijalankan untuk tujuan memaksimumkan kesejahteraan pemilik/pemegang saham
sebagai akibat dari investasi yang dilakukannya. Shareholding theory ini sering
disebut sebagai teori korporasi klasik yang sudah diperkenalkan oleh Adam Smith
pada tahun 1776. Definisi GCG yang berdasar pada shareholding theory diberikan
oleh
Monks
dan
Minow
(1995)
yaitu
hubungan
berbagai
partisipan
(pemilik/investor dan manajemen) dalam menentukan arah dan kinerja korporasi.
Definisi lain diajukan oleh Shleifer dan Vishny (1997) yang menyebutkan bahwa
GCG sebagai cara atau mekanisme untuk meyakinkan para pemilik modal dalam
memperoleh hasil (return) yang sesuai dengan investasi yang ditanamkan.
Stakeholding theory, diperkenalkan oleh Freeman (1984), menyatakan
bahwa perusahaan adalah organ yang berhubungan dengan pihak lain yang
berkepentingan, baik yang ada di dalam maupun di luar perusahaan. Definisi
stakeholder ini termasuk karyawan, pelanggan, kreditur, suplier, dan masyarakat
sekitar dimana perusahaan tersebut beroperasi.
Sebagai sebuah konsep, GCG ternyata tak memiliki definisi tunggal.
Center for European Policy Studies (CEPS), punya formula lain. GCG, menurut
pusat studi ini, merupakan seluruh sistem yang dibentuk mulai dari hak (right),
proses, serta pengendalian, baik yang ada di dalam maupun di luar manajemen
perusahaan. Sebagai catatan, hak di sini adalah hak seluruh stakeholders, bukan
terbatas kepada shareholders saja. Hak adalah berbagai kekuatan yang dimiliki
3
Sri Sulistyanto dan Haris Wibisono; 2003; Good Corporate Governance: Berhasilkah Diterapkan di
Indonesia?; (Online) (http://re-searchengines.com/hsulistyanto3.html
33
stakeholders secara individual untuk mempengaruhi manajemen. Proses,
maksudnya adalah mekanisme dari hak-hak tersebut. Adapun pengendalian
merupakan mekanisme yang memungkinkan stakeholders menerima informasi
yang diperlukan seputar aneka kegiatan perusahaan4.
Sejumlah negara juga mempunyai definisi tersendiri tentang GCG.
Beberapa negara mendefinisikannya dengan pengertian yang agak mirip walaupun
ada sedikit perbedaan istilah. Kelompok negara maju (OECD)5, mendefinisikan
GCG sebagai cara-cara manajemen perusahaan bertanggung jawab pada
shareholder-nya. Para pengambil keputusan di perusahaan haruslah dapat
dipertanggungjawabkan, dan keputusan tersebut mampu memberikan nilai tambah
bagi shareholders lainnya. Karena itu fokus utama di sini terkait dengan proses
pengambilan
keputusan
dari
perusahaan
yang
mengandung
nilai-nilai
transparency, responsibility, accountability, dan tentu saja fairness.
Sementara itu, ADB (Asian Development Bank) menjelaskan bahwa
GCG mengandung empat nilai utama yaitu: Accountability, Transparency,
Predictability dan Participation. Pengertian lain datang dari Finance Committee
on Corporate Governance Malaysia. Menurut lembaga tersebut GCG merupakan
suatu proses serta struktur yang digunakan untuk mengarahkan sekaligus
mengelola bisnis dan urusan perusahaan ke arah peningkatan pertumbuhan bisnis
dan akuntabilitas perusahaan. Adapun tujuan akhirnya adalah menaikkan nilai
saham dalam jangka panjang tetapi tetap memperhatikan berbagai kepentingan
para stakeholder lainnya6.
Corporate governance juga dapat juga diartikan sebagai suatu konsep
yang menyangkut struktur perseroan, pembagian tugas, pembagian kewenangan
dan pembagian beban tanggung jawab dari masing-masing unsur yang
membentuk struktur perseroan, dan mekanisme yang harus ditempuh oleh masingmasing unsur dari perseroan tersebut, serta hubungan-hubungan antara unsurunsur dari struktur perseroan itu mulai dari RUPS, direksi, komisaris, juga
mengatur hubungan-hubungan antara unsur-unsur dari struktur perseroan dengan
unsur-unsur di luar perseroan yang pada hakekatnya merupakan stakeholders dari
4
Ibid.
Ibid.
6
Ibid.
5
34
perseroan, yaitu negara yang sangat berkepentingan akan perolehan pajak dari
perseroan yang bersangkutan, dan masyarakat luas yang meliputi para investor
publik dari perseroan itu (dalam hal perseroan merupakan perusahaan publik),
calon investor, kreditor dan calon kreditor perseroan. Corporate governance
adalah suatu konsep yang luas7.
Berdasarkan uraian mengenai corporate governance tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa Good Corporate Governance adalah suatu sistem pengelolaan
perusahaan yang dirancang untuk meningkatkan kinerja perusahaan, melindungi
kepentingan stakeholders dan meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan serta nilai-nilai etika yang berlaku secara umum. Selain itu
berdasarkan definisi-definisi tersebut,
nampak dengan jelas bahwa GCG
merupakan upaya yang dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan dengan
perusahaan untuk menjalankan usahanya secara baik sesuai dengan hak dan
kewajibannya masing-masing.
Bagaimana dengan definisi GCG di Indonesia? Di tanah air, secara
harfiah, governance kerap diterjemahkan sebagai “pengaturan.” Adapun dalam
konteks GCG, governance sering juga disebut “tata pamong”. Selanjutnya GCG
ini didefinisikan sebagai suatu pola hubungan, sistem, dan proses yang digunakan
oleh organ perusahaan guna memberikan nilai tambah kepada pemegang saham
secara berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan
kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan norma
yang berlaku8.
Beberapa institusi Indonesia mengajukan definisi GCG, antara lain oleh
FCGI (Forum for Corporate Governance in Indonesia) tahun 2000 yang
mendefinisikan GCG sama seperti Cadbury Committee, sedangkan The
Indonesian Institute for Corporate Governance atau IICG (2000) mendefinisikan
7
Sutan Remy Sjahdeini; Pengembangan Fungsi Pengawasan Menuju Good Corporate Governance
pada Milenium baru; Makalah disajikan pada Seminar yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan
Internal Auditor (YPAI), Graha Sucofindo, Jakarta pada Tanggal 29 September 1999, tidak diterbitkan.
8
Ahmad Rivai. 2006; Analisis Pengaruh Implementasi Good Corporate Governance Terhadap Kinerja
PT Kalbe Farma, Tbk. (Online)
(http://library.gunadarma.ac.id/index.php?appid=penulisan&sub=detail&np&npm=20202080
&jenis=s1fe.
35
CG sebagai proses dan struktur yang diterapkan dalam menjalankan perusahaan,
dengan tujuan utama meningkatkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang,
dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder yang lain.
Pengertian lain GCG menurut Surat Keputusan Menteri Negara/Kepala
Badan Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN No. 23/M PM/BUMN/2000
tentang Pengembangan Praktik GCG dalam Perusahaan Perseroan (PERSERO),
Good Corporate Governance adalah prinsip korporasi yang sehat yang perlu
diterapkan dalam pengelolaan perusahaan yang dilaksanakan semata-mata demi
menjaga kepentingan perusahaan dalam rangka mencapai maksud dan tujuan
perusahaan. Sedangkan dalam UU Nomor 1 Tahun 1995 maupun UU Nomor 40
Tahun 2007, pengaturan tentang GCG tidak disebutkan secara limitatif dalam satu
pasalpun, pengaturan tentang GCG hanya terdapat dalam penjelasan Pasal 4 UU
Nomor 40 Tahun 20007, yaitu : berlakunya UU ini, anggaran dasar perseroan
dan ketentuan peraturan perundang-undangan lain, tidak mengurangi
kewajiban setiap perseroan untuk menaati asas itikd baik, asas kepantasan,
asas kepatutan, dan prinsip tata kelola perseroan yang baik (good corporate
governance) dalam menjalankan perseroan.
Defenisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Good Corporate
Governance merupakan :
1. Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran dewan
komisaris, Direksi, Pemegang Saham dan Para Stakeholder lainnya.
2. Suatu sistem pengecekan dan perimbangan kewenangan atas pengendalian
perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang: pengelolaan yang
salah dan penyalahgunaan aset perusahaan.
3. Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian,
berikut pengukuran kinerjanya.
B. ARTI PENTING PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA
PENGELOLAAN PERUSAHAAN
Istilah GCG semakin populer dan mendapatkan tempat di bidang hukum
korporasi karena terwujud dalam dua keyakinan, yaitu : Pertama, GCG
merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan
36
dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan persaingan bisnis global, terutama
bagi perusahaan yang telah mampu berkembang sekaligus menjadi terbuka.
Kedua, krisis ekonomi dunia, di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini
muncul karena kegagalan penerapan GCG9.
The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)
10
pada tahun 1998 yang lalu telah mengeluarkan seperangkat prinsip-prinsip
GCG yang dikembangkan secara umum. Prinsip-prinsip GCG ini disusun untuk
digunakan sebagai referensi di berbagai negara yang mempunyai karakteristik
sistem hukum, budaya, serta lingkungan yang berbeda. Dengan prinsip yang
universal ini dapat dijadikan pedoman oleh semua negara dalam menyelaraskan
undang-undang atau peraturan-peraturan maupun nilai-nilai yang berlaku di
negara
masing-masing bilamana
diperlukan.
Prinsip-prinsip
GCG
yang
dikembangkan OECD adalah sebagai berikut:
1. Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham. Kerangka yang dibangun
dalam corporate governance harus mampu melindungi hak-hak para pemegang
saham. Hak-hak tersebut meliputi hak-hak dasar pemegang saham, yaitu hak
untuk;
a. menjamin keamanan metode pendaftaran kepemilikan ;
b. mengalihkan atau memindahkan saham yang dimilikinya ;
c. memperoleh informasi yang relevan mengenai perusahaan secara berkala dan
teratur ;
d. dapat ikut berperan dan memberikan suara dalam Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS) ;
e. memilih anggota dewan komisaris dan direksi, dan selanjutnya ;
f. memperoleh pembagian keuntungan perusahaan/ deviden.
2. Persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham Kerangka corporate
governance harus dapat menjamin adanya perlakuan sama terhadap seluruh
pemegang saham, termasuk para pemegang saham minoritas dan asing. Seluruh
pemegang saham harus memiliki, kesempatan untuk mendapatkan penggantian
atau perbaikan atas pelanggaran dari hak-hak mereka. Prinsip ini juga
mensyaratkan adanya perlakuan yang sama atas saham-saham yang berada
dalam satu kelas, melarang praktek-praktek insider trading dan self dealing serta
mengharuskan anggota dewan komisaris untuk melakukan keterbukaan jika
menemukan transaksi-transaksi yang mengandung benturan kepentingan
(conflict of interest).
9
Dyah Permata Budi Asri; Pelaksanaan Good Corporate Governance Dalam UU Nomor 40 Tahun
2007 Tentang PT; (http://janabadra.cic.id/ujb/00-2411-7401-pdf).
10
Herwidayatmo; 2000; Implementasi Good Corporate Governance Untuk Perusahaan Publik
Indonesia. (Online), (http://www.imfeui.com/uploads/ file110-XXIX-Oktober-2000.PDF; hlm.
115.
37
3. Peranan stakeholders yang terkait dengan perusahaan. Kerangka corporate
governance harus memberikan pengakuan terhadap hak-hak stakeholders, seperti
yang telah ditentukan dalam undang-undang, dan mendorong kerjasama yang
aktif antara perusahaan dengan para stakeholders tersebut dalam rangka
menciptakan lapangan kerja, kesejahteraan masyarakat dan kesinambungan
usaha.
4. Keterbukaan dan Transparansi. Kerangka corporate governance harus dapat
memberikan jaminan adanya pengungkapan yang tepat waktu akurat untuk
setiap permasalahan yang berkaitan dengan prusahaan. Pengungkapan ini
meliputi informasi tentang keadaan keuangan, kinerja perusahaan, kepemilikan,
dan pengelolaan perusahaan. Selain itu informasi yang diungkapkan harus
disusun, diaudit, dan disajikan sesuai dengan standar yang berkualitas tinggi.
Manajemen juga diharuskan meminta auditor eksternal melakukan audit yang
bersifat independen atas laporan keuangan perusahaan.
5. Akuntabilitas Dewan Komisaris (Board of Directors). Kerangka corporate
governance harus dapat menjamin adanya pedoman strategis perusahaan,
pemantauan yang efektif terhadap manajemen yang dilakukan oleh dewan
komisaris serta akuntabilitas dewan komisaris terhadap perusahaan dan para
pemegang saham. Prinsip ini juga memuat kewenangankewenangan yang harus
dimiliki oleh dewan komisaris beserta kewajiban-kewajiban profesionalnya
kepada para pemegang saham dan stakeholders lainnya.
Selain prinsip-prinsip corporate governance dari The Organization for
Economic Cooperation and Development (OECD), terdapat juga prinsip-prinsip
corporate governance lain yang juga mengatur tentang penerapan GCG pada
perusahaan public untuk memperkuat daya tahan perusahaanperusahaan yaitu dari
The Australia Stock Exchange (ASX). The ASX Corporate Governance Council
didirikan pada tanggal 15 Agustus 2002, sedangkan anggota-anggota The ASX
Corporate Governance Council terdiri dari perusahaan-perusahaan dan organisasi
lain dari berbagai sektor bisnis di Australia. Organisasi ini membawa misi yaitu
menciptakan kerangka dasar GCG yang dapat dipergunakan sebagai bahan
rujukan bagi perusahaan publik, para investor, maupun yang bergerak dalam
bidang pasar uang dan pasar modal serta masyarakat bisnis Australia pada
umumnya.
Prinsip-prinsip GCG ciptaan The ASX Corporate Governance yang juga
biasa disebut The Principles of Good Corporate Governance and Best Practice
Recommendation adalah sebagai berikut11 :
11
Lestariningsih; Peranan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Pengembangan
Perusahaan Publik dalam Jurnal Spirit Publik Volume 4 Nomor 2; 2008;
(http://fisip.uns.ac.id/publikasi/sp4-2-lestariningsih.pdf); hlm. 117
38
1. Membangun landasan kerja yang kuat bagi manajemen perusahaan dan Board of
Directors (Establish solid foundation for management and over Sight by the
Board) untuk dapat mencapai tujuan bisnis mereka secara berhasil, perusahaan
wajib membangun kesadaran para anggota manajemen atas hak dan
tanggungjawab mereka. Board of Directors wajib menghayati dan melaksanakan
hak mereka serta mengendalikan dan mengawasi kegiatan bisnis perusahaan.
2. Menyusun struktur organisasi the Board of Directors yang dapat menjamin
efektivitas kerja dan meningkatkan nilai perusahaan (Structure the Board to add
value).
3. Mengembangkan kebiasaan mengambil keputusan yang etis dan dapat
dipertanggung jawabkan (Promote ethical and responsibly decision making).
Kebiasaan tersebut harus dimulai dari tingkat atas dalam organisasi perusahaan.
4. Menjaga integritas laporan keuangan (Safeguard integrity in financial reporting)
The ASX Corporate Governance Council menganjurkan manajemen perusahaan
public menyusun laporan keuangan tengah tahunan dan menyampaikannya
kepada Board of Directors dan selanjutnya the Board akan meneruskannya
kepada para pemegang saham.
5. Mengungkapkan semua informasi tentang kondisi dan perkembangan
perusahaan kepada para pemegang saham secara tepat waktu dan seimbang
(Make timely and balanced disclosure).
6. Menghormati hak dan kepentingan para pemegang saham (Respect the right of
shareholders).
7. Mendasari adanya resiko bisnis dan mengelolanya secara profesional (Recognize
and manage risk). Perusahaan yang ditata kelola secara sehat tentu menyusun
prosedur serta mengevaluasi resiko bisnis dan investasi yang mungkin akan
mereka hadapi, oleh sebab itu mereka harus mengelola resiko bisnis secara
profesional.
8. Mendorong peningkatan kinerja Board of Directors dan manajemen perusahaan
(Encourage enhanced performance).
9. Menjamin pemberian balas jasa pimpinan dan karyawan perusahaan secara adil
dan dapat dipertanggung jawabkan (Remunerate fairly and responsibly).
10. Memahami hak dan kepentingan para pemegang saham atau stakeholders yang
sah.
Penerapan prinsip-prinsip GCG dapat menciptakan suasana kondusif
bagi kelancaran pengelolaan bisnis perusahaan, termasuk meningkatkan daya
saing. GCG menjadi salah satu daya tarik investor dan para kreditor untuk mau
meminjamkan dananya kepada perusahaan. Walaupun demikian tidak ada jaminan
bahwa setiap perusahaan yang menerapkan prinsip-prinsip GCG akan terhindar
dari kesalahan dan kegagalan, karena perbedaan faktor-faktor intern dan ekstern
perusahaan, yakni prinsip-prinsip GCG dapat diterapkan secara berhasil di suatu
perusahaan belum tentu dapat berhasil jika diterapkan di perusahaan lain.
Penerapan prinsip-prinsip GCG pada tiap negara dipengaruhi dua faktor
utama, yaitu : faktor intern dan ekstern perusahaan. Faktor intern meliputi struktur
39
kepemilikan perusahaan, sedangkan faktor ekstern antara lain adalah budaya
lokal, peranan serta kebijakan pemerintah dalam kehidupan ekonomi dan bisnis
serta perkembangan pasar modal pada masing-masing negara.
Good corporate governance memiliki nilai-nilai positif untuk menjaga
konsistensi serta profesionalisme perusahaan dalam melakukan berbagai macam
tindakan menuju kearah kinerja yang lebih baik. Hal ini didasarkan bahwa dalam
GCG terdapat empat prinsip, yaitu pinsip kewajaran, keterbukaan informasi, dapat
dipertanggungjawabkan dan pertanggungjawaban, yang jika diterapkan secara
baik dan benar oleh suatu perusahaan maka akan membawa perusahaan tersebut
kearah kemajuan dan apabila perusahaan tidak mau bekerja dengan menerapkan
prinsip GCG maka berbagai potensi negatif akan berkembang dan selanjutnya
dapat mempengaruhi etika kerja dari sumber daya perusahaan.
Sejak Indonesia berada dalam krisis ekonomi beberapa tahun silam,
maka good corporate governance menjadi bagian yang sangat penting dalam
melakukan pembenahan dan pengembangan pengelolaan perusahaan. Setiap organ
perusahaan harus berusaha mencerminkan prinsip-prinsip GCG tersebut.
Sebagian besar perusahaan yang tidak stabil, disebabkan oleh sikap dan
cara pengelolaan yang tidak menerapkan nilai-nilai GCG secara tepat sehingga
untuk menjaga agar perusahaan tetap stabil, maka semua kekuatan sumber daya
perusahaan secara keseluruhan dan utuh harus mampu menjaga efektivitas,
efisiensi dan produktivitas dari asset–liability–equity perusahaan, termasuk cash
flow dan profit perusahaan dalam keseimbangan yang tepat dengan cara-cara
pengelolaan yang patuh pada penerapan prinsip-prinsip GCG.
Ketika perusahaan mengalami kegagalan dalam bekerja dengan
menerapkan prinsip GCG, maka sistem pengendalian perusahaan sulit mengukur
semua resiko secara baik, sistem keuangan perusahaan akan menjadi tidak
konsisten, para pelanggan beserta stakeholders lainnya akan mempertanyakan
etika dan moral pelayanan, serta ada beberapa hal lain yang dapat menyebabkan
perusahaan berada dalam pengaruh potensi negatif dan semuanya akan
mempengaruhi daya saing, cash flow, sumber daya manusia, produksi serta jasa
perusahaan, sehingga tidak dapat berjalan dengan baik atau diambang kehancuran.
40
Peranan penerapan GCG sangat penting untuk meningkatkan daya saing
perusahaan dalam kompetisi pasar global yang semakin kuat pengaruhnya.
Melalui penerapan GCG perusahaan akan mempunyai kemampuan dan kekuatan
dalam menciptakan pertumbuhan maupun perkembangan bisnis sesuai target yang
telah direncanakan.
Peranan GCG selain dapat membuat perusahaan menjadi kuat dan kokoh
juga dapat melakukan semua kewajiban-kewajibannya kepada para pemegang
saham maupun stake holders seperti gaji karyawan, biaya-biaya opersional rutin,
biaya bunga pinjaman, baik biaya- biaya tetap maupun biaya-biaya tidak tetap
lainnya, dengan melalui sistem dan kultur atau budaya korporasi yang terkait
dengan etika dan moral serta nilai-nilai penerapan prinsip-prinsip GCG.
Di samping hal-hal tersebut di atas, manfaat praktis penerapan GCG juga dapat12:
1. Mengurangi agency cost, yaitu suatu biaya yang harus ditanggung pemegang
saham sebagai akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen.
Biaya-biaya ini dapat berupa kerugian yang diderita perusahaan sebagai
akibat penyalahgunaan wewenang (wrong-doing), ataupun berupa biaya
pengawasan yang timbul untuk mencegah terjadinya hal tersebut.
2. Mengurangi biaya modal (cost of capital), yaitu sebagai dampak dari
pengelolaan perusahaan yang baik tadi menyebabkan tingkat bunga atas
dana atau sumber daya yang dipinjam oleh perusahaan semakin kecil seiring
dengan turunnya tingkat resiko perusahaan.
3. Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan citra
perusahaan tersebut kepada publik luas dalam jangka panjang.
4. Menciptakan dukungan para stakeholder (para pihak yang berkepentingan)
dalam lingkungan perusahaan tersebut terhadap keberadaan dan berbagai
strategi dan kebijakan yang ditempuh perusahaan, karena umumnya mereka
mendapat jaminan bahwa mereka juga mendapat manfaat maksimal dari
segala tindakan dan operasi perusahaan dalam menciptakan kemakmuran
dan kesejahteraan.
Manfaat GCG ini bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga dalam jangka
panjang dapat menjadi pilar utama pendukung tumbuh kembangnya perusahaan
sekaligus pilar pemenang era persaingan global.
Aspek penting dari GCG yang perlu dipahami beragam kalangan di
dunia bisnis13, yakni;
12
13
Herwidayatmo; Loc.Cit.
Sri Sulistyanto dan Haris Wibisono. Loc.Cit.
41
a. Adanya keseimbangan hubungan antara organ-organ perusahaan di
antaranya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Komisaris, dan direksi.
Keseimbangan ini mencakup hal-hal yang berkaitan dengan struktur
kelembagaan dan mekanisme operasional ketiga organ perusahaan tersebut
(keseimbangan internal)
b. Adanya pemenuhan tanggung jawab perusahaan sebagai entitas bisnis
dalam masyarakat kepada seluruh stakeholder. Tanggung jawab ini meliputi
hal-hal yang terkait dengan pengaturan hubungan antara perusahaan dengan
stakeholders (keseimbangan eksternal). Di antaranya, tanggung jawab
pengelola/pengurus
perusahaan,
manajemen,
pengawasan,
serta
pertanggungjawaban kepada para pemegang saham dan stakeholders
lainnya.
c. Adanya hak-hak pemegang saham untuk mendapat informasi yang tepat dan
benar pada waktu yang diperlukan mengenai perusahaan. Kemudian hak
berperan serta dalam pengambilan keputusan mengenai perkembangan
strategis dan perubahan mendasar atas perusahaan serta ikut menikmati
keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam pertumbuhannya.
d. Adanya perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham, terutama
pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing melalui keterbukaan
informasi yang material dan relevan serta melarang penyampaian informasi
untuk pihak sendiri yang bisa menguntungkan orang dalam (insider
information for insider trading).
C. PELAKSANAAN PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA
PERUSAHAAN DAERAH PT FLOBAMOR NTT
Perusahaan Daerah sebagai badan hukum merupakan subyek hukum
yaitu pendukung hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum yang bersifat
memberikan jasa, menyelenggarakan kemanfaatan umum, serta memupuk
pendapatan, yang tidak mengutamakan mencari keuntungan semata, melainkan
ditujukan kepada terwujudnya fungsi pelayanan umum.
Kebijakan pemberian otonomi daerah dan desentralisasi yang luas, nyata,
dan bertanggung jawab kepada daerah merupakan langkah strategis karena secara
khusus otonomi daerah menginginkan daerah memiliki kemampuan dalam
menggali dan mengembangkan sumber daya yang dimiliki sehingga derajat
kapasitas fiskalnya mampu memenuhi tuntutan pembiayaan pembangunan di
daerahnya.
Dalam upaya penguatan penerimaan daerah yang bersumber dari
kekayaan daerah yang dipisahkan, maka peranan investasi Pemerintah melalui
Badan Usaha Milik Daerah (selanjutnya disingkat BUMD) sangat diharapkan,
selain sebagai sumber PAD, BUMN diharapkan juga sebagai pemacu utama
42
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi daerah (engine of growth), sehingga
mampu menimbulkan efek multiplier yang besar.
Perusahaan daerah sebagaimana layaknya perusahaan pada umumnya
ditujukan untuk mendapatkan keuntungan (profit oriented). Keuntungan yang
diperoleh tersebut merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah yang
ditujukan untuk membiayai pembangunan di daerah. Dengan cara ini perusahaan
daerah mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat di daerah. Oleh karena itulah banyak daerah yang
mengharapkan perusahaan daerah sebagai salah satu sumber pemasukan
daerahnya.
Menurut Westra14, Perusahaan Daerah dewasa ini memiliki kedudukan,
peran dan fungsi strategis sebagai sumber keuangan daerah namun belum mampu
memberikan kontribusi yang optimal dalam meningkatkan pendapatan asli daerah.
Perusahaan Daerah dalam kedudukannya sebagai sumber keuangan daerah belum
dapat menjalankan fungsi ekonominya secara optimal, dikarenakan perusahaan
daerah masih bersifat dwi fungsi (public service dan profit oriented), belum
dikelola secara profesional dan bentuk usaha perusahaan daerah tidak sesuai
dengan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah.
Mengingat Perusahaan Daerah berada pada dua ranah hukum yaitu
hukum publik dan hukum privat, maka kewenangan dan tanggung jawab berkaitan
dengan perusahaan daerah meliputi: Ranah hukum publik pemerintah daerah
memiliki kewenangan dan tanggung jawab terhadap segala kegiatan, penguasaan
dan pengurusan perusahaan daerah, sepanjang berkaitan dengan pembentukan,
kepemilikan modal, dan pengawasan perusahaan daerah. Sedangkan Ranah hukum
privat direksi selaku organ perusahaan memiliki kewenangan dan tanggung jawab
penuh dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan daerah dalam hal
berinteraksi dengan pihak ketiga seperti mengadakan perjanjian, mewakili
perusahaan baik di dalam maupun di luar pengadilan15.
Secara konseptual, BUMD didirikan atas dasar dualisme fungsi dan
peranan, yang keduanya sangat sulit, jika tidak dapat dikatakan mustahil, untuk
14
I Ketut Westra; 2012; disertasi yang berjudul "Kedudukan Hukum Perusahaan Daerah Sebagai
Badan Usaha Milik Daerah untuk Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah".
15
Ibid.
43
dipadukan. Seperti BUMN, ia punya tugas dalam mengembangkan perekonomian
daerah melalui peranannya sebagai institusi public service. Namun pada saat yang
sama, BUMD juga diharapkan mampu menghasilkan laba dari usahanya selaku
pelayan masyarakat. Secara implisit, BUMD dijadikan sumber dana APBD.
Dalam ketentuan, BUMD diwajibkan menyetorkan bagian labanya sebagai dana
pembangunan daerah sebesar 55% dari laba bersih tahunan. Dalam tataran
operasionalnya, peran dan fungsi ini dilaksanakan secara distortif. Fungsi service
lama-kelamaan bergeser sebagai fungsi ekploitatif16.
Undang-Undang Perseroan Terbatas mewajibkan setiap perusahaan yang
berbentuk PT melakukan kegiatan usahanya dengan mengikuti prinsip tata kelola
perusahaan yang baik sehingga perusahaan tersebut dapat dikategorikan sebagai
perusahaan yang sehat (sebagaimana yang diatur dalam penjelasan Pasal 4 UU
PT) . Badan Usaha Milik Daerah dalam hal ini Perusahaan Dearah Flobamor yang
telah berubah bentuk menjadi PT Flobamor (berdasarkan Perda Nomor 13 tahun
2009 tentang Perubahan Bentuk Badan Hukum Perusahaan Daerah (PD)
Flobamor menjadi Perseroan Terbatas (PT)), dalam pelaksanaan kegiatan
korporasinya belum menggunakan prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik, hal
ini ditandai dengan terus meruginya PT Flobamor, pertanggungjawaban keuangan
yang tidak akurat, kurang berfungsinya komisaris sebagai pengawas perusahaan.
Hal ini disebabkan juga oleh karena modal yang diperoleh PT Floamor berasal
dari dana kekayaan daerah yang dipisahkan dari APBD yang diberikan oleh
Pemerintah Daerah, sehingga walaupun perusahaan mengalami kerugian namun
tetap mendapat penyertaan modal dari pemerintah, disamping itu masalah yang
ada dalam PT Flobamor adalah penyertaan modal yang diberikan oleh pemerintah
daerah tidak diberikan secara langsung sesuai dengan jumlah yang telah
ditetapkan dalam perda, namun diberikan secara bertahap kepada manajemen
bergantung kepada kehendak pemerintah sehingga perusahaan tidak dapat bekerja
secara maksimal, selain itu keberadaan PT Flobamor pada awal dibentuknya
adalah dalam rangka penyertaan modal pemerintah dalam pembangunan PT
Semen Kupang, sehingga pemerintah tidak memberikan perhatian yang cukup
dalam pengawasan dan evaluasi perusahaan. Selain persoalan-persoalan diatas PT
Flobamor juga menghadapi sejumlah masalah korupsi yang dilakukan oleh
16
Turiman Fachturahman Nur; 2009; Terobosan Hukum Memajukan Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD) Dala Era Otonomi Daerah; Rajawali Garuda Pancasila.
44
manajemen perusahaan yang untuk sementara ini kasus-kasus korupsi tersebut
sementara disidangkan di Pengadilan Negeri Klas I A Kupang khususnya dalam
Peradilan Tipikor.
Undang-undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan menegaskan
tentang
prinsip-prinsip Good Corporate Governance atau prinsip tata kelola
perusahaan yang baik dalam pengelolaan perusahaan, korporasi yang baik harus
mencerminkan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Fairness (kewajaran)
Prinsip keadilan menjamin bahwa setiap keputusan dan kebijakan yang
diambil adalah demi kepentingan seluruh pihak yang berkepetingan baik itu
pelanggan, shareholders ataupun masyarakat luas.
Prinsip keadilan ini tercermin dalam Pasal 53 ayat 2 bahwa : “ Setiap
saham dalam klasifikasi yang sama memberikan kepada pemegangnya hak
yang sama.” Pasal ini menunjukkan unsur fairness (non diskriminatif) antar
pemegang saham dalam klasifikasi yang sama untuk memperoleh hak-haknya,
seperti
hak untuk mengusulkan dilaksanakannya RUPS, hak untuk
mengusulkan agenda tertentu dalam RUPS dan lain-lain. Dalam menjalankan
usahanya PT Flobamor berusaha untuk memberikan perlakuan yang adil dan
setara dalam pemenuhan hak-hak shareholders maupun stakeholders dengan
memperhatikan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga perusahaan,
sedangkan dalam memberikan perlindungan kepada pemegang saham
minoritas manajemen PT Flobamor harus berpedoman pada penjelasan tentang
perlindungan terhadap pemegang saham minoritas pada perusahaan perseroan
terbatas sebagaimana yang telah dijelaskan.
2. Transparansi (keterbukaan informasi)
Yaitu keterbukaan, yang diwajibkan oleh Undang-undang seperti
misalnya mengumukan pendirin PT dalam Tambahan Berita Negara Republik
Indonesia ataupun Surat Kabar. Serta keterbukaan yang dilakukan oleh
perusahaan menyangkut masalah keterbukaan informasi ataupun dalam hal
proses pengambilan keputusan maupun dalam mengungkapkan informasi
mengenai perusahaan yang akurat, jelas dan tepat waktu
baik kepada
shareholders maupun stakeholder. Hakikat dari pengumuman itu sendiri
sebenarnya dalam rangka sarana publikasi dan pemenuhan aspek transparansi
PT kepada pihak ketiga, bahwasanya telah didirikan PT yang bersangkutan
45
dengan status sebagai suatu badan hukum. Dengan pengumuman ini
diharapkan pihak ketiga mengetahui eksistensi PT beserta status hukumnya.
Oleh karena itu, pengumuman PT pada dasarnya dimaksudkan untuk menjaga
agar khalayak tidak dirugikan.
Hal ini berkaitan juga dengan wajib daftar perusahaan yang ditentukan
oleh perturan perundang-undangan, yaitu bahwa sebuah perusahaan setelah
mendapat ijin usaha wajib mendaftarkan perusahaannya sesuai dengan UU
Wajib Daftar Perusahaan pada instansi terkait sehingga keberadaan perusahaan
tersebut diketahui oleh pemerintah dan pihak ketiga, dan juga termasuk
didalamnya adalah tentang pembinaan dan pengawasan oleh Pemerintah.
Kewajiban pendaftaran PT ini merupakan amanat dari UU WDP yang
mengatur kewajiban pendaftaran perusahaan di Indonesia. Di dalam Pasal 5
UU WDP ditentukan bahwa:
(1) Setiap perusahaan wajib didaftarkan dalam Daftar Perusahaan.
(2) Pendaftaran wajib dilakukan oleh pemilik atau pengurus perusahaan
yang bersangkutan atau dapat diwakilkan kepada orang lain dengan
memberikan surat kuasa yang sah.
(3) Apabila perusahaan dimilki oleh beberapa orang,
pemilik
berkewajiban untuk melakukan pendaftaran. Apabila salah seorang
daripada mereka telah memenuhi kewajibannya, yang lain dibebaskan
dari kewajiban tersebut.
Dengan memperhatikan ketentuan di atas, direksi PT tidak boleh
bertindak semaunya, bahwasanya dengan pengesahan akta pendirian perseroan
oleh Menteri maka bagi pemegang saham pertanggungjawabannya sudah
menjadi terbatas dan tanggung jawab direksi masih mensyaratkan adanya
pendaftaran perseroan ke dalam Daftar Perusahaan dalam jangka waktu 30
hari. Namun, pendaftaran dan pengumuman perseroan ini tentu tidak
mempengaruhi keabsahan dari kelahiran perseroan sebagai badan hukum.
Status Badan hukum itu secara konstitutif timbul setelah akta pendirian
perseroan disahkan Menteri, sementara pendaftaran dan pengumuman
perseroan itu hanya sebagai wadah publikasi supaya dapat dilihat oleh
46
masyarakat umum, bukan sebagai syarat tambahan untuk kelahiran status
badan hukum perseroan.
3. Akuntabilitas (dapat dipertanggungjawabkan)
Adanya keterbukaan informasi dalam bidang finansial, dalam hal ini ada
dua pengendalian yang dilakukan oleh direksi dan komisaris. Direksi
menjalankan operasional perusahaan, sedangkan komisaris melakukan
pengawasan terhadap jalannya perusahaan oleh Direksi, termasuk pengawasan
keuangan. Sehingga sudah sepatutnya dalam suatu perseroan, Komisaris
Independent
mutlak diperlukan kehadirannya. Sehingga adanya jaminan
tersedianya mekanisme, peran dan tanggung jawab jajaran manajemen yang
professional atas semua keputusan dan kebijakan yang diambil sehubungan
dengan aktivitas operasional perseroan. PT Flobamor telah memilih direkur
melalui mekanisme uji kelayakan dan kepatutan dan terhadap dewan komisaris
dipilih dari orang-orang yang indepent dalam melakukan pengawasan terhadap
perusahaan, namun keberadaan kedua organ (orang-orang yang telah dipilih
untuk menjabat direktur dan komisaris) setelah berubah bentuk menjadi PT
Flobamor harus diuji dengan melihat kinerja manajemen dalam RUPS.
4. Responsibility (pertanggungjawaban)
Pertanggungjawaban perseroan dilakukan dengan tidak merugikan
kepentingan para stakeholder dan shareholders maupun anggota masyarakat
secara luas. Undang-Undang mewajibkan perseroan haruslah berpegang pada
hukum yang berlaku. Berpegang pada hukum yang berlaku adalah yang
berkaitan dengan masalah pajak, hubungan industrial, perlidungan lingkungan
hidup, kesehatan dan keselamatan kerja, standar penggajian dan persaingan
yang sehat. Sebelum berubah bentuk menjadi PT, salah satu contoh : jumlah
karyawan pada perusahaan PD Flobamor adalah 33 orang dan dalam sistem
penggajian karyawan (karyawan PD Flobamor bukan PNS) bergantung kepada
profit atau keuntungan dari perusahaan walaupun memang diatas UMR
Provinsi. Setalah berubah status badan usaha PT Flobamor akan memperbaiki
sistem pertanggungjawabannya yaitu tentang sistem perpajakkan perusahaan,
hubungan industrial antara direksi dan karyawan, perlidungan lingkungan
hidup tempat perusahaan melakuan investasi, kesehatan dan keselamatan kerja
karyawan, standar penggajian yang lebih baik dan persaingan yang sehat antara
47
PT Flobamor dengan perusahaan lain sehingga dapat menjadi perusahaan yang
sehat.
Dalam hal penerapan prinsip GCG harus disadari bahwa penerapan Tata
Kelola Perusahaan yang baik hanya akan efektif dengan adanya asas kepatuhan
dalam kegiatan bisnis sehari-hari, terlebih dahulu diterapkan oleh jajaran
manajemen dan kemudian diikuti oleh segenap karyawan. Melalui penerapan
yang konsisten, tegas dan berkesinambungan dari seluruh pelaku bisnis.
Dengan beralihnya status badan hukum PD menjadi PT Flobamor,
implementasi GCG diharapkan akan terwujud dan hal ini bergantung pada
penerapan dan kesadaran dari perseroan akan pentingnya prinsip GCG dalam
dunia usaha, sehingga pada akhirnya PT Flobamor mampu meningkatan kinerja
perusahaan melalui pemantauan kinerja manajemen dengan adanya kewajaran,
keterbukaan informasi, akuntabilitas dan pertanggungjawaban manajemen
terhadap pemegang saham dan stakeholders, selain itu, Prinsip Tata Kelola
Perusahaan yang Baik memungkinkan pengawasan berjalan efektif sehingga
tercipta mekanisme cecks and balances di perusahaan PT Flobamor NTT.
Secara umum17, ada sejumlah alasan PT Flobamor menderita kerugian
akibat rendahnya kinerja, antara lain disebabkan oleh :
a. Faktor Internal
1. SDM karyawan yang kurang produktif, mengakibatkan lemahnya
manajemen perusahaan;
2. Struktur permodalan yang belum memadai, dan masih mengandalkan
penyertaan modal yang bersumber dari APBD;
3. Struktur Perusahaan yang statis dan tidak berorientasi pasar;
4. Perusahaan tidak memiliki asset tetap;
5. Tingginya beban biaya operasional (gaji), karena besarnya jumlah pegawai
dengan kualitas yang rendah (inefisiensi);
6. Tidak memiliki core bussines yang terfokus;
7. Visi perusahaan masih dualisme orientasi (profit dan pelayanan publik).
b. Faktor eksternal
17
Penjelasan Umum dari Perda Provinsi NTT Nomor 13 Tahun 2009 tentang Perubahan Bentuk Badan
Hukum PD Flobamor Menjadi PT Flobamor.
48
1. Kurangnya kemandirian BUMD dalam mengambil kebijakan-kebijakan
strategis perusahaan;
2. Dominasi kepentingan sosial lebih besar dari pada orientasi profit
perusahaan;
3. Penempatan
karyawan
kurang
didasarkan
atas
pertimbangan
profesionalisme.
Dari penjelasan di atas, jika dilihat secara umum maka penilaian terhadap
PTFlobamor saat ini, adalah18 :
1. Ketertutupan dari pengusaha, baik pemilik maupun manager;
2. Tidak mempergunakan kaedah-kaedah usaha dengan baik dalam
mengerjakan usaha melainkan lebih menyenangi lobi;
3. Kurangnya kesiapan menjadi enterpreneur yang mampu membawanya ke
dunia usaha murni.
Hal-hal tersebut di atas membawa organ perusahaan jauh dari prinsip
GCG sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas,
sehingga tingkat kepercayaan dan kekuatan yang diterima dari relasi usaha
rendah, oleh sebab itu mudah di pengaruhi oleh perekonomian global, di saat
situasi usaha bekerja dalam kondisi perekonomian baik memang pengaruh ini
tidak tampak namun apabila kondisi perekonomian kurang baik maka yang terjadi
adalah kehancuran perusahaan.
D. PENUTUP
Penerapan prinsip-prinsip GCG dapat menciptakan suasana kondusif
bagi kelancaran pengelolaan bisnis perusahaan, termasuk meningkatkan daya
saing. GCG menjadi salah satu daya tarik investor dan para kreditor untuk mau
meminjamkan dananya kepada perusahaan.
Good corporate governance memiliki nilai-nilai positif untuk menjaga
konsistensi serta profesionalisme perusahaan dalam melakukan berbagai macam
tindakan menuju kearah kinerja yang lebih baik. Hal ini didasarkan bahwa dalam
GCG terdapat empat prinsip, yaitu pinsip kewajaran, keterbukaan informasi,
18
Banjarmasin Post; http://202.146.4.120/18365/Hidup Enggan, Mati pun Tak Mau; © 2008 – 2010;
Perusahaan Daerah Flobamor Tidak Sehat.
49
dapat dipertanggungjawabkan dan pertanggungjawaban, yang jika diterapkan
secara baik dan benar oleh suatu perusahaan maka akan membawa perusahaan
tersebut kearah kemajuan dan apabila perusahaan tidak mau bekerja dengan
menerapkan prinsip GCG maka berbagai potensi negatif akan berkembang dan
selanjutnya dapat mempengaruhi etika kerja dari sumber daya perusahaan.
Badan Usaha Milik Daerah dalam hal ini Perusahaan Dearah Flobamor
yang telah berubah bentuk menjadi PT Flobamor dalam pelaksanaan kegiatan
korporasinya belum menggunakan prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik, hal
ini ditandai dengan terus meruginya PT Flobamor, pertanggungjawaban keuangan
yang tidak akurat, kurang berfungsinya komisaris sebagai pengawas perusahaan.
Hal ini disebabkan juga oleh karena modal yang diperoleh PT Floamor berasal
dari dana kekayaan daerah yang dipisahkan dari APBD yang diberikan oleh
Pemerintah Daerah, sehingga walaupun perusahaan mengalami kerugian namun
tetap mendapat penyertaan modal dari pemerintah, disamping itu masalah yang
ada dalam PT Flobamor adalah penyertaan modal yang diberikan oleh pemerintah
daerah tidak diberikan secara langsung sesuai dengan jumlah yang telah
ditetapkan dalam perda, namun diberikan secara bertahap kepada manajemen
bergantung kepada kehendak pemerintah sehingga perusahaan tidak dapat bekerja
secara maksimal. Selain persoalan-persoalan diatas PT Flobamor juga
menghadapi sejumlah masalah korupsi yang dilakukan oleh manajemen
perusahaan yang untuk sementara ini kasus-kasus korupsi tersebut sementara
disidangkan di Pengadilan Negeri Klas I A Kupang khususnya dalam Peradilan
Tipikor.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Rivai; 2006; Analisis Pengaruh Implementasi Good Corporate Governance
Terhadap Kinerja PT Kalbe Farma, Tbk. (Online)
(http://library.gunadarma.ac.id/index.php?appid=penulisan&s
ub=detail&np&npm=20202080&jenis=s1fe)
50
Dyah Permata Budi Asri; Pelaksanaan Good Corporate Governance Dalam UU
Nomor
40
Tahun
2007
Tentang
PT;
(http://janabadra.cic.id/ujb/00-2411-7401-pdf;)
Herwidayatmo; 2000; Implementasi Good Corporate Governance Untuk Perusahaan
Publik Indonesia. (Online), (http://www.imfeui.com/uploads/
file110-XXIX-Oktober-2000.PDF
I Ketut Westra;
Lestariningsih;
2012; disertasi yang berjudul "Kedudukan Hukum Perusahaan
Daerah Sebagai Badan Usaha Milik Daerah untuk
Meningkatkan
Pendapatan
Asli
Daerah";
(Http://prasetya.ub.ac.id/berita/11109-id.html)
Peranan Penerapan Good Corporate Governance Dalam
Pengembangan Perusahaan Publik dalam Jurnal Spirit
Publik Volume 4 Nomor 2; 2008
Sri Sulistyanto dan Haris Wibisono; 2003; Good Corporate Governance: Berhasilkah
Diterapkan
di
Indonesia?
(Online)
(http://researchengines.com/hsulistyanto3.html
Sutan Remy Sjahdeini; Pengembangan Fungsi Pengawasan Menuju Good Corporate
Governance pada Milenium baru; Makalah disajikan pada
Seminar yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Internal
Auditor (YPAI), Graha Sucofindo, Jakarta pada Tanggal 29
September 1999, tidak diterbitkan
Tricker, Robert I; 1984; Corporate Governance – Practices, Procedures, and Power
in British Companies and Their Board of Directors, UK,
Gower; dalam G. Suprayitno, et all. 2004. Komitmen
Menegakkan Good Corporate Governance: Praktik Terbaik
Penerapan GCG Perusahaan di Indonesia. Jakarta: The
Institute for Corporate Governance (IICG)
Turiman Fachturahman Nur; 2009; Terobosan Hukum Memajukan Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD) Dala Era Otonomi Daerah; Rajawali
Garuda
Pancasila;
(Http://Rahawaligarudapancasila.blogspot.com/2011/04/html
)
Pustaka Tambahan :
51
Banjarmasin Post; http://202.146.4.120/18365/Hidup Enggan, Mati pun Tak Mau; ©
2008 – 2010; Perusahaan Daerah Flobamor Tidak Sehat.
Penjelasan Umum dari Perda Provinsi NTT Nomor 13 Tahun 2009 tentang Perubahan
Bentuk Badan Hukum PD Flobamor Menjadi PT Flobamor.
52
Download