evaluasi kerasionalan iklan obat tanpa resep

advertisement
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
EVALUASI KERASIONALAN IKLAN OBAT TANPA RESEP PADA
TAYANGAN ACARA UNTUK ANAK-ANAK DI EMPAT STASIUN
TELEVISI SWASTA NASIONAL
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Program Studi Ilmu Farmasi
Oleh :
Wahyu Esa Purwanto
NIM : 998114018
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2007
i
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
iii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
HIDUP ITU AKAN MUDAH
JIKA KITA SENDIRI YANG
MEMBUATNYA MENJADI MUDAH
Kupersembahkan buat:
Ibu-Bapakku,
ungkapan rasa hormat dan baktiku
Adik-adikku dan Almamaterku
iv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
v
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
INTISARI
Penelitian jenis non eksperimental (observasional) dengan rancangan
penelitian deskriptif non analitik ini, bertujuan mengevaluasi kerasionalan iklan
obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di empat stasiun televisi
swasta nasional.
Pengambilan data dilakukan dengan pengamatan langsung iklan selama
dua minggu, yang meliputi jenis acara, waktu tayang, jenis produk, jenis iklan,
dan frekuensi, serta untuk iklan obat tanpa resep diamati kelengkapan informasi
berdasarkan kriteria iklan WHO (1988) dan Keputusan Menteri Kesehatan No.
386 tahun 1994 serta kerasionalan klaim indikasinya berdasarkan mekanisme
kerja zat aktif dan menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994.
Analisis data menggunakan metode statistik deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat iklan obat tanpa resep (2,1%) dan
paling banyak ditayangkan pada acara sinetron anak (64,0%). Dari iklan tersebut
yang paling banyak adalah dari kelas terapi obat analgesik (sakit kepala, demam)
(40,5%), golongan obat bebas terbatas (56,8), jenis obat Biogesic Anak (26,2%),
obat untuk konsumen dewasa (64,0%), dan obat produksi Medifarma (26,2).
Kelengkapan informasi iklan obat tanpa resep tidak ada yang rasional (0,0%)
berdasarkan kriteria iklan WHO (1988), 7,1% dinyatakan rasional menurut
Keputusan Menteri Kesehatan No.386 tahun 1994, serta yang mencantumkan zat
aktif (42,9%), kontraindikasi (0,0%), alamat industri (0,0%), peringatan-perhatian
(100,0%), nama industri farmasi (85,7%), efek samping obat (7,1%), nama
dagang (100,0%), dan indikasi (100,0%). Iklan obat tanpa resep yang dinilai
rasional klaim indikasinya sebanyak 57,1%.
Kata kunci : kerasionalan, iklan, obat tanpa resep, televisi
vi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ABSTRACT
Research of type non eksperimental (observasional) with descriptive
research device non analytic, aim to evaluate is rational of nonprescription drug
advertisements at displaying event for children in national four private sector
television station.
Intake of data done with observation of advertisement direct during two
week, what covering event type, time displayed, product type, advertisement type,
and advertisement frequency, and also information completeness for nonprescription drug advertisement is observed equipment of information based on
The WHO Ethical Criteria for Medicinal Drug Promotion (1988) and the Decree
of Health Minister No. 386/1994 serta rationality claim the indication based on .
active matter job mechanism and according to the Decree of Health Minister No.
386/1994. Data analysis apply descriptive statistical methods.
Research result show there are nonprescription drug advertisements (2.1%)
and most displayed at event of electronic cinema of children (64.0%). From that
advertisement more consisted of the therapeutic class of analgesic drugs
(headache, fever) 40.5%, limited over-the-counter drugs (56.8), drug of Biogesic
Anak (26.2%), drug to adult consumers (64.0%), and drug produced by
medifarma (26.2%) Equipment of Nonprescription drug advertisement nothing
that rational (0.0%) based on The WHO Ethical Criteria for Medicinal Drug
Promotion (1988), 7.1% expressed is rational according to and the Decree of
Health Minister No. 386/1994, and also mentioning active substance (42.9%),
contraindication (0.0%), industrial address (0.0%), precaution-warning (100.0%),
the name of pharmaceutical industy (85.7%), side effects ( 7.1%), trade name
(100.0%), and indication (100.0%). Nonprescription drug advertisements whose
indication claims rational are 57.1%.
keyword : Rational, advertisement, nonprescription drug, television
vii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, oleh karena
kasih dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat meyelesaikan skripsi yang
berjudul “Evaluasi Kerasionalan Iklan Obat Tanpa Resep Pada Tayangan
Acara Untuk Anak-anak di Empat Stasiun Televisi Swasta Nasional”. Skripsi
ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada
Fakultas Farmasi Universitas Sanatha Dharma Yogyakarta.
Tersusunnya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari
berbagai pihak. Pada kesempatan ini tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih
yang dalam kepada :
1. Ibu Rita Suhadi,M.Si, Apt selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanatha
Dharma, sekaligus sebagai Dosen Pembimbing yang telah banyak
memberikan bimbingan dan pengarahan hingga skripsi ini dapat tersusun.
2. Ibu Yustina Sri Hartini,M.Si, Apt selaku Dosen Pembimbing yang telah
banyak memberikan bimbingan dan pengarahan hingga skripsi ini dapat
tersusun.
3. Bapak Drs. Sulasmono, Apt. selaku dosen penguji yang telah memberikan
masukan, saran, dan kritik yang membangun untuk skripsi ini.
4. Ibu Aris Widayati, M.Si., Apt. selaku dosen penguji yang telah memberikan
masukan, saran, dan kritik yang membangun untuk skripsi ini.
5. Seluruh Dosen atas bimbingannya selama kuliah dan Staff Fakultas Farmasi
USD atas pelayanannya selama ini.
viii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………...........
i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................
ii
HALAMAN PENGESAHAN.........................................……………………
iii
HALAMAN PERSEMBAHAN…………………..........................................
iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA……………………………………..
v
INTISARI …..……………………………………………………………….
vi
ABSTRACT ….……………………………………………………………...
vii
PRAKATA………………………………………………………………….
viii
DAFTAR ISI………………………………………………………..............
x
DAFTAR TABEL…...………………………………………………………
xiii
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………..
xvi
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………..
xvii
BAB I. PENDAHULUAN……………………………………………......
1
A.
LatarBelakang………………………………………………….
1
B.
Permasalahan………………………………...….......................
5
C
Keaslian Penelitian…………………...………..….....................
6
D Manfaat penelitian…...…………….…………………………...
7
E Tujuan…..………………………………………........................
7
BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA………………………………….......
9
A. Pengobatan Sendiri……..……....................................................
9
B. Anak dan televisi……………………………….………...……..
12
C. Obat Tanpa Resep (OTR)……..…………………………………
14
D. Tinjauan Iklan dan Promosi……...……..……………................
16
1. Perbedaan Iklan dan Promosi…….………………..……….
16
2. Definisi promosi.....…………………………………………
17
3. Definisi Iklan...................................................…………….
17
4. Media Iklan...........................................................................
17
x
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
5. Tujuan Iklan..........................................................................
18
6. Fungsi Iklan...........................................................................
18
7. Peraturan Periklanan Bidang Obat........................................
18
E. Televisi Sebagai Salah Satu Media Iklan …………....................
23
F. Keterangan Empiris…………………………………………….
25
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN...………………………………..
26
A. Jenis dan Rancangan Penelitian ……………………………….
26
B. Definisi Operasional…………………………………………….
26
C. Subjek Penelitian………………………………………………
29
D. Tata Cara Penelitian……………..………………………………
31
E. Tata Cara Analisis Hasil…………………………………………
32
F. Kesulitan Penelitian……………….…………………………….
33
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN……………………...……………
34
A. Profil Jenis Iklan……………………………………………….
34
1. Distribusi frekuensi jenis iklan pada masing-masing
televisi………………………….......................................
34
2. Distribusi frekuensi jenis iklan pada keempat stasiun
televisi………...................................................................
B. Profil Iklan Obat Tanpa Resep ……………………………..
35
37
1. Jenis acara………………………………………........ ..... .
37
2. Kelas terapi………………………………………………. .
39
3. Golongan Obat....................................................................
41
4. Jenis Obat…………………………………………………
42
5. Sasaran Konsumen…………………………….................
44
6. Produsen……………………………...............................
46
C. Evaluasi Kerasionalan Kelengkapan Informasi Iklan Obat Tanpa
Resep………………........................................................
48
D. Evaluasi Kerasionalan Klaim Indikasi Iklan Obat Tanpa
Resep…........................................................................................
59
E. Rangkuman Pembahasan..............................................................
69
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN……………………………….…..
xi
75
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
A Kesimpulan…………………………………………………......
75
B. Saran………………………………………………………….....
76
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………..
77
LAMPIRAN....................................................................................................
82
BIOGRAFI PENULIS……………………………………………….……..
96
xii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR TABEL
Tabel I.
Distribusi frekuensi jenis iklan pada tayangan acara untuk anakanak pada masing-masing stasiun televisi A, B, C, D selama dua
minggu (periode Juli 2006) ...................................................
Tabel II.
35
Distribusi frekuensi jenis iklan pada tayangan acara untuk anakanak pada keempat stasiun televisi A, B, C, D selama dua
minggu (periode Juli 2006).....................................................
Tabel III.
36
Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
untuk anak-anak pada masing-masing stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006) berdasarkan jenis
acara........................................................................................
Tabel IV.
37
Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
untuk anak-anak pada masing-masing stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006) berdasarkan kelas
terapi.......................................................................................
Tabel V.
39
Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
untuk anak-anak pada keempat stasiun televisi A, B, C, D selama
dua minggu (periode Juli 2006) berdasarkan golongan obat ... 42
Tabel VI.
Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
untuk anak-anak pada masing-masing stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006) berdasarkan jenis
obat..........................................................................................
Tabel VII.
43
Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
untuk
anak-anak pada keempat stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli2006) berdasarkan jenis
obat............................................................................................ 44
xiii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tabel VIII.
Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
untuk anak-anak pada keempat stasiun televisi A, B, C, D selama
dua minggu (periode Juli 2006) berdasarkan Produsen obat.... 47
Tabel IX.
Evaluasi kerasionalan kelengkapan informasi iklan obat tanpa
resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A,
B, C, D selama dua minggu (periode Juli 2006 .................... .. 50
Tabel X.
Persentase kelengkapan informasi iklan obat tanpa resep pada
tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006).................................... 56
Tabel XI.
Persentase kerasionalan kelengkapan iklan obat tanpa resep pada
tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006).................................... 57
Tabel XII.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat analgesik (sakit
kepala,demam) tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak
di stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006) ..................................................................................... .. 60
Tabel XIII.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat gizi dan darah
tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun
televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli 2006)...... 61
Tabel XIV.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran cerna
(diare) tanpa
resep pada tayangan acara untuk anak-anak di
stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006) ..................................................................................... ... 62
Tabel XV.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran cerna
(maag) tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di
stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006) ..................................................................................... ... 62
Tabel XVI.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran nafas
(asma) tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di
stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2007)........................................................................................ 63
xiv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tabel XVII.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran nafas
(batuk) tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di
stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006)......................................................................................... 64
Tabel XVIII.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran nafas
(batuk, pilek) tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak
di stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006) ..................................................................................... ... 65
Tabel XIX.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran nafas
(flu) tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun
televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006)......................................................................................... 66
Tabel XX.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran nafas
(flu, batuk) tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di
stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006)........................................................................................ 66
Tabel XXI.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat topikal kulit
(infeksi jamur) tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak
di stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006)......................................................................................... 67
Tabel XXII.
Persentase kerasionalan klaim indikasi iklan obat tanpa resep
pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C,
D selama dua minggu (periode Juli 2006)................................ 68
Tabel XXIII.
Kerasionalan iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk
anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu
(periode Juli 2006.................................................................. .. 74
xv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.
Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
untuk anak-anak pada keempat stasiun televisi A, B, C, D selama
dua minggu (periode Juli 2006) berdasarkan jenis acara............. 38
Gambar 2.
Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
untuk anak-anak pada keempat stasiun televisi A, B, C, D selama
dua minggu (periode Juli 2006 berdasarkan kelas terapi.............. 40
Gambar 3.
Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
untuk anak-anak pada masing-masing stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006) berdasarkan golongan
obat............................................................................................... 41
Gambar 4.
Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
untuk anak- anak pada masing-masing stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periodeJuli 2006) berdasarkan sasaran
konsumen..................................................................................... 45
Gambar 5.
Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
untuk anak-anak pada keempat stasiun televisi A, B, C, D selama
dua
minggu
(periode
Juli
2006)
berdasarkan
sasaran
konsumen...................................................................................... 46
xvi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.
Jadwal tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A
selama dua minggu (periode Juli 2006) ................................
Lampiran 2.
Jadwal tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi B
selama dua minggu (periode Juli 2006).................................
Lampiran 3.
89
Data distribusi frekuensi iklan pada tayangan acara untuk anakanak di stasiun televisi D selama dua minggu.......................
Lampiran 9.
88
Data distribusi frekuensi iklan pada tayangan acara untuk anakanak di stasiun televisi C selama dua minggu.......................
Lampiran 8.
86
Data distribusi frekuensi iklan pada tayangan acara untuk anakanak di stasiun televisi B selama dua minggu.......................
Lampiran 7.
85
Data distribusi frekuensi iklan pada tayangan acara untuk anakanak di stasiun televisi A selama dua minggu.......................
Lampiran 6.
84
Jadwal tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi D
selama dua minggu (periode Juli 2006).................................
Lampiran 5.
83
Jadwal tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi C
selama dua minggu (periode Juli 2006).................................
Lampiran 4.
82
90
Data distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan
acara untuk anak-anak di stasiun televisi D selama dua
minggu...................................................................................
Lampiran 10.
91
Data distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan
acara untuk anak-anak di stasiun televisi D selama dua
minggu...................................................................................
Lampiran 11.
92
Data distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan
acara untuk anak-anak di stasiun televisi D selama dua
minggu...................................................................................
Lampiran 12.
93
Data distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan
acara untuk anak-anak di stasiun televisi D selama dua
minggu...................................................................................
xvii
94
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran 13.
Data kelengkapan informasi dan klaim indikasi iklan obat tanpa
resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A,
B, C, D selama dua minggu (periode Juli 2006)....................
xviii
95
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sakit seringkali terjadi pada seseorang, dan tidak bisa dihindarkan.
Ketika menderita sakit maka orang tersebut akan berupaya untuk mendapatkan
penyembuhan atas penyakitnya itu. Sakit adalah penilaian seseorang terhadap
penyakit sehubungan dengan pengalaman yang langsung dialaminya (Sarwono,
2003). Hal ini bersifat subyektif dan sangat tergantung dengan perasaan orang
tersebut, bila dia merasa badannya tidak enak dia akan mendefinisikan bahwa
dirinya menderita sakit. Perasaan sakit itu akan menyebabkan orang tersebut
merasa terganggu aktivitasnya, karena itu dia akan mengupayakan penyembuhan
terhadap keadaan sakit tersebut. Upaya pengobatan itu dapat berupa pengobatan
sendiri atau dilakukan oleh tenaga medis.
Pengobatan sendiri lebih diartikan sebagai upaya untuk memberikan
pengobatan atas penyakitnya secara mandiri. Sukasediati (1996) mendefinisikan
bahwa pengobatan sendiri merupakan bagian dari upaya masyarakat untuk
menjaga kesehatannya sendiri, dan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan, adat,
tradisi, dan kepercayaan yang mempengaruhi seseorang; dipengaruhi tingkat
pendidikan seseorang; dilakukan sewaktu-waktu manakala dibutuhkan; berada di
luar kerangka kerja medik profesional; modelnya bervariasi; dan dilakukan oleh
semua kelompok masyarakat.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
2
Faktor yang mendorong masyarakat melakukan pengobatan sendiri
adalah kenyataan semakin mahalnya biaya berobat dengan pergi ke dokter. Hal
tersebut menyebabkan masyarakat yang menderita penyakit yang dianggap ringan,
misalnya: flu, pilek, dan batuk, merasa tidak perlu pergi ke dokter, tetapi cukup
pergi ke apotik atau toko obat berijin yang menjual obat bebas dan obat bebas
terbatas atau yang sering disebut obat tanpa resep.
Obat tanpa resep terdiri dari obat bebas, obat bebas terbatas, serta obat
wajib apotik, yaitu obat keras yang dapat diperoleh tanpa resep dokter dan
diserahkan oleh apoteker di apotek (Anonim, 2005). Obat wajib apotik memang
dapat diberikan tanpa resep dokter, tetapi obat tersebut tidak termasuk dalam
penelitian ini, karena obat wajib apotik termasuk dalam obat keras atau obat daftar
G (gevaarlijk). Obat tradisional yaitu bahan atau ramuan bahan yang berupa
bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau
campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk
pengobatan berdasarkan pengalaman (Anonim, 1992). Oleh WHO, obat
tradisional juga dimasukkan dalam pelayanan kesehatan umum. Obat tradisional
diserahkan tanpa resep karena sulit diresepkan oleh dokter, akibat selalu bersandar
pada kaidah alamiah. Keberadaan obat tradisional masih diperdebatkan akibat
tidak sedikit yang keamanan dan khasiatnya hanya berdasarkan pengalaman turun
temurun tanpa dibuktikan secara ilmiah (Marlinda, 2003). Obat tradisional tidak
termasuk dalam penelitian obat tanpa resep ini. Iklan obat tradisional mempunyai
bagian tersendiri dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3
terpisah dari pedoman periklanan obat bebas yang mengatur iklan obat bebas dan
obat bebas terbatas.
Obat tanpa resep yang termasuk dalam penelitian ini adalah obat bebas
dan obat bebas terbatas. Kriteria obat bebas dan bebas terbatas antara lain adalah
telah terbukti secara ilmiah menunjukkan manfaat klinis, sangat diperlukan untuk
menanggulangi kesakitan yang banyak dijumpai di masyarakat, dan relatif aman.
Obat tanpa resep memang mudah didapatkan, akan tetapi obat tanpa resep juga
mempunyai efek merugikan baik secara langsung, juga berefek jangka sedang dan
panjang bila tidak digunakan secara benar (Luize, 2003).
Dalam menentukan obat yang tepat dalam upaya pengobatan sendiri
tersebut masyarakat memerlukan sumber informasi yang benar mengenai obat
yang dipilihnya tersebut. Salah satu informasi yang dipilih masyarakat untuk
menentukan obat yang akan dipakainya adalah iklan yang ada di media massa,
maupun media elektronik. Iklan diharapkan akan memberikan informasi yang
cukup dan tidak menyesatkan dari pembaca, pendengar, atau pemirsanya. Dari
hasil survei kecil yang dilakukan oleh YLKI dengan target konsumen umum di
wilayah Jakarta ternyata 81% responden menganggap iklan obat yang ada dewasa
ini bermanfaat bagi konsumen, dan hanya 44,3% yang menilai iklan obat
menampilkan indikasi yang berlebihan. Dengan melihat betapa tergantungnya
konsumen terhadap iklan obat, maka rasanya tidak berlebihan apabila kemudian
perusahaan farmasi dituntut untuk menciptakan iklan obat yang baik sehingga
dapat memberikan informasi yang tidak merugikan konsumen (Zahir, 1996).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
4
Tidak dipungkiri iklan merupakan media untuk menyampaikan
kehebatan produk dengan tujuan untuk menarik konsumen sebanyak-banyaknya
dan mendapatkan penjualan setinggi-tingginya. Hal ini terjadi karena setiap hari
masyarakat banyak menghabiskan waktu untuk menonton televisi, yaitu 60%
responden sebuah penelitian menonton televisi dalam sehari antara 1-5 jam
bahkan hingga lebih dari 5 jam pada 30% responden (Widanenci, 2007). Waktu
yang singkat dan biaya yang sangat tinggi tidak memberikan kesempatan pada
sebuah iklan untuk menampilkan informasi mengenai efek samping dari produk
obat tersebut. Peringatan dan kontra indikasi, sebaiknya juga disampaikan dalam
iklan, agar konsumen dapat memilih obat tanpa resep yang paling sesuai untuk
kondisi tubuhnya sendiri (Zahir, 1996).
Televisi swasta nasional merupakan salah satu sarana yang digunakan
produsen obat untuk mengiklankan produknya, karena memiliki jaringan pemirsa
yang sangat luas (Yulia, 1993). Berdasarkan survei Persatuan Perusahaan
Periklanan Indonesia (PPPI) tahun 2002, pendapatan iklan televisi terbanyak
masih dipegang oleh RCTI, INDOSIAR, SCTV, dan TPI. Menyusul kemudian
Trans, Metro, Global, TV7, ANteve, dan Lativi (Anonim, 2002b). Empat stasiun
televisi swasta nasional dalam penelitian ini (stasiun televisi A, B, C, D) memiliki
pendapatan iklan yang tinggi, program acaranya sudah sangat dikenal oleh
pemirsa karena lebih awal berdiri, dan banyak menayangkan acara untuk anakanak. Data terbaru dari Nielsen Media Research, setelah penelitian ini dilakukan,
menunjukkan bahwa selama tahun 2006 telah terjadi perubahan besar urutan
belanja iklan di televisi, dari yang paling tinggi adalah kelompok RCTI, TPI,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
5
Global TV, kelompok Trans TV dan TV 7, kelompok ANTV dan Lativi, diikuti
stasiun-stasiun televisi yang masih berdiri sendiri yaitu SCTV, Indosiar, serta
Metro TV (Harto, Ratnasari, Saragih, dan Mudjiono, 2006).
Berdasarkan pemantauan dan evaluasi Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM) tahun 2003, iklan obat di televisi dinilai banyak yang tidak
layak tayang, karena seringkali memberikan informasi yang irrasional dan
cenderung menyesatkan (Danto, 2004). Hal ini amatlah disayangkan karena iklan
obat di televisi merupakan sumber informasi yang penting bagi seseorang dalam
memilih obat tanpa resep untuk dirinya sendiri ataupun orang lain, terutama bila
obat tanpa resep itu ditujukan untuk anak-anak. Iklan obat tidak boleh
menggambarkan bahwa keputusan penggunaan obat diambil oleh anak-anak
(Anonim, 1994). Berkaitan dengan hal-hal tersebut, perlu dilakukan suatu
penelitian tentang evaluasi kerasionalan iklan obat tanpa resep pada tayangan
acara untuk anak-anak di empat stasiun televisi swasta nasional.
B. Permasalahan
Permasalahan dalam penelitian yang dilakukan pada tayangan acara
untuk anak-anak di empat stasiun televisi swasta nasional (stasiun televisi A, B,
C, D) meliputi:
1. seperti apa profil iklan pada tayangan acara untuk anak-anak di empat stasiun
televisi swasta nasional yang meliputi jenis iklan dan frekuensi iklan?
2. seperti apa profil frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk
anak-anak di empat stasiun televisi swasta nasional berdasarkan klafisikasi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
6
jenis acara, kelas terapi, golongan obat, jenis obat, sasaran konsumen, dan
produsen?
3. bagaimana kerasionalan iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk
anak-anak di empat stasiun televisi swasta nasional yang meliputi kerasionalan
kelengkapan informasi iklan berdasarkan kriteria iklan WHO (1988) dan
Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994, serta kerasionalan klaim
indikasi iklan berdasarkan mekanisme kerja zat aktif dan Keputusan Menteri
Kesehatan No. 386 tahun 1994?
C. Keaslian Penelitian
Sejauh informasi yang diterima penulis, penelitian ini belum pernah
dilakukan dan berbeda dengan beberapa penelitian lain tentang iklan obat di
televisi seperti penelitian oleh Saragih (2000), Papilaya (2003), dan Christina
(2004), penelitian-penelitian tersebut menggunakan responden sebagai subyek
penelitian dan metode kuisioner untuk pengambilan data, sedangkan pada
penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah iklan obat di televisi,
pengambilan data dengan observasi langsung dan titik berat permasalahan
mengenai evaluasi kerasionalan iklan obat di televisi. Selain itu pengamatan iklan
obat dilakukan pada semua kelas terapi, tidak hanya satu kelas terapi saja.
Penelitian lain yang memiliki kesamaan adalah penelitian berjudul ”evaluasi
kerasionalan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk ibu-ibu di empat stasiun
televisi swasta nasional” yang dilakukan oleh Kartikaningtyas Yunari (2007).
Penelitian ini juga mengamati mengenai evaluasi kerasionalan iklan obat di
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
7
televisi . Tetapi yang membedakannya adalah jenis acara yang diambil dalam
penelitian ini.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Menambah informasi dan pengetahuan bagi perkembangan ilmu farmasi,
khususnya mengenai evaluasi kerasionalan iklan obat tanpa resep di televisi.
2. Manfaat praktis
a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman bagi apoteker dalam
memberikan pelayanan informasi kepada orang tua tentang pemilihan obat
tanpa resep berdasarkan evaluasi kerasionalan iklannya di televisi.
b. Data dari penelitian ini dapat digunakan oleh pihak-pihak yang terkait
untuk lebih meningkatkan kerasionalan iklan obat tanpa resep di televisi.
E. Tujuan
Tujuan dalam penelitian yang dilakukan pada tayangan acara untuk anakanak di empat stasiun televisi swasta nasional, meliputi :
1. mengetahui profil iklan pada tayangan acara untuk anak-anak di empat stasiun
televisi swasta nasional yang meliputi jenis iklan dan frekuensi iklan.
2. mengetahui profil frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk
anak-anak di empat stasiun televisi swasta nasional berdasarkan klafisikasi
jenis acara, kelas terapi, golongan obat, jenis obat, sasaran konsumen, dan
produsen.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
8
3. mengetahui kerasionalan iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk
anak-anak di empat stasiun televisi swasta nasional yang meliputi kerasionalan
kelengkapan informasi iklan berdasarkan kriteria iklan WHO (1988) dan
Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994, serta kerasionalan klaim
indikasi iklan berdasarkan mekanisme kerja zat aktif dan Keputusan Menteri
Kesehatan No. 386 tahun 1994.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
9
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Pengobatan Sendiri
Pengobatan sendiri adalah suatu tindakan mengobati diri sendiri dengan
obat tanpa resep yang dilakukan secara tepat dan bertanggung jawab. Hal tersebut
merupakan salah satu upaya seseorang untuk mencapai kesehatan yang optimal.
Pengobatan sendiri merupakan upaya pertama yang dilakukan masyarakat untuk
menjaga kesehatannya sendiri. (Sukasediati, 1996).
Pengobatan
sendiri
sangat
dipengaruhi
oleh
kebiasaan,
tradisi,
kepercayaan seseorang, dan juga yang paling menentukan adalah tingkat
pendidikan seseorang. Tingkat pendidikan seseorang akan berperan penting dalam
menentukan pengobatan yang terbaik untuk dirinya sendiri (Sukasediati, 1996).
Dari survei kesehatan rumah tangga yang dilakukan oleh departemen kesehatan
RI, didapatkan data kuantitatif, yaitu sebanyak 63% masyarakat menggunakan
obat bebas, 18% pergi ke dokter atau puskesmas, 9% masyarakat akan
mengkonsumsi jamu untuk menanggulangi penyakitnya, 5% diobati dengan cara
sendiri dan sisanya sebanyak 5% tidak melakukan apapun (Sartono, 1993). Data
tersebut tidak jauh berbeda dengan data yang ada di negara maju seperti Amerika
Serikat. Di Amerika Serikat, setiap tahun ada 75% dari jumlah penduduknya
mengeluh atau menderita sakit. Dari jumlah tersebut diketahui 65% masyarakat
mengobati sendiri penyakitnya, 25% masyarakat akan pergi ke dokter untuk
mengobati penyakitnya sedangkan 10% masyarakat tidak melakukan tindakan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
10
apapun untuk menanggulangi penyakitnya. Dari data di atas, ternyata persentase
masyarakat yang melakukan pengobatan sendiri cukup besar, sehingga kenyataan
tersebut dijadikan salah satu dasar kebijakan dalam membina kesehatan
masyarakat pada umumnya (Sartono, 1993).
Pengobatan sendiri dengan obat tanpa resep hendaknya dilakukan secara
tepat dan bertanggung jawab, biasanya untuk kasus-kasus:
1. perawatan simtomatik minor, misalnya: rasa tidak enak badan, cidera ringan
2. penyakit self-limiting atau paliatif: flu, sakit kepala
3. pencegahan dan penyembuhan penyakit ringan: mabuk perjalanan, kutu air
4. penyakit kronis, yang sebelumnya sudah pernah didiagnosis dokter atau
tenaga medis profesional lainnya: arthritis, asma
5. keadaan yang mengancam jiwa dan memerlukan penanganan dengan segera
(Holt dan Hall, 1990).
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan kebiasaan
pengobatan sendiri. Pertama, setiap obat selain memiliki khasiat menyembuhkan
atau meningkatkan taraf sehat, juga memberikan risiko efek samping. Efek
samping obat bisa saja ringan dan akan hilang jika obat dihentikan, tetapi bisa
juga berat sehingga memerlukan pertolongan dokter atau petugas kesehatan
lainnya. Kedua, setiap obat pasti memiliki efek farmakologi spesifik, yaitu untuk
mengatasi suatu gejala atau penyakit tertentu. Ketiga, setiap obat memiliki aturan
pemakaian yang khusus, antara lain dosis, frekuensi pemberian, apakah harus
diminum sesudah makan, pada saat makan, atau sebelum makan dan lama
pemakaian.. Pengobatan sendiri umumnya dilakukan untuk (1) penyakit saluran
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
11
pernafasan; (2) demam; (3) sakit kepala/nyeri; (4) diare; (5) gangguan pada
lambung; dan (6) penyakit kulit (Dwiprahasto, 1999).
Saat ini penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas masih sering
menimbulkan masalah bagi kesehatan. Hal ini disebabkan tingkat pendidikan
masyarakat tentang obat dan permasalahannya masih rendah. Pada umumnya
dasar penggunaan obat bebas untuk pengobatan sendiri bersumber pada
pengalaman menggunakan obat bebas tertentu pada waktu yang lampau atau
karena diberitahu oleh orang lain, baik keluarga, tetangga, maupun teman. Atau
bisa juga bersumber dari iklan obat melalui media cetak seperti surat kabar dan
majalah, atau dapat juga melalui media elektronik seperti radio dan televisi. Iklan
obat sebagai sumber informasi utama bagi masyarakat cenderung menyesatkan.
Hampir semua iklan obat yang beredar di media televisi tidak pernah
menampilkan isi bahan berkhasiatnya maupun efek samping dan kontra indikasi
dari obat tersebut, sehingga masyarakat kehilangan informasi penting mengenai
jenis obat yang diperlukan untuk mengobati penyakitnya dan efek samping dari
obat yang dikonsumsinya tersebut, padahal tidak ada obat yang benar-benar aman
untuk dikonsumsi (Sudarwanto, 1996).
Obat tanpa resep mempunyai batas keamanan yang cukup baik, tetapi
pemakaiannya tanpa pengawasan ketat sangat memungkinkan terjadinya
kesalahan dalam penggunaan (Sudarwanto, 1996). Berkaitan dengan hal tersebut,
pengobatan sendiri dengan obat tanpa resep harus tetap memperhatikan prinsipprinsip penggunaan obat yang rasional (Anonim, 2002a). Prinsip pengobatan
rasional meliputi: indikasi tepat, penilaian kondisi pasien tepat, pemilihan obat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
12
tepat dan sesuai dengan kondisi pasien, dosis dan cara pemberian obat secara
tepat, informasi untuk pasien secara tepat, serta evaluasi dan tindak lanjut
dilakukan secara tepat (Anonim, 2000).
Penilaian kerasionalan pengobatan sendiri dengan obat tanpa resep, dapat
ditinjau dari komponen rasional dan tidak rasional. Pengobatan yang rasional
menganut 4 asas tepat ditambah 1 asas waspada, yaitu: tepat indikasi, tepat
penderita, tepat obat, tepat dosis, dan waspada efek samping obat. Tepat indikasi,
obat yang digunakan didasarkan pada diagnosis penyakit yang akurat. Tepat
penderita yaitu tidak ada kontraindikasi. Tepat obat, pemilihan obat didasarkan
pada pertimbangan rasio keamanan-kemanjuran yang terbaik. Tepat dosis, yaitu
takaran, jalur, saat dan lama pemberian sesuai dengan kondisi penderita (Donatus,
1997).
Upaya penggunaan obat tanpa resep secara rasional tentunya harus
melibatkan peran aktif tenaga farmasi, yang terutama berfungsi untuk
memberikan informasi serinci mungkin mengenai obat-obat yang dibutuhkan oleh
masyarakat (Anonim, 2002a).
B. Anak dan Televisi
Anak dapat begitu terikat dengan televisi, bahkan seperti bisa
menyebabkan ketergantungan. Efek ketergantungan TV ini, hanyalah satu dari
begitu banyak efek yang diberikan oleh kemajuan teknologi TV. Kita semua tahu,
betapa besar kemajuan dan perubahan yang terjadi semenjak TV ditemukan. Kita
dapat menyaksikan liputan berita tentang berbagai peristiwa dari seluruh dunia,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
13
kita dapat menyaksikan berbagai jenis film, dari film kartun, drama, biografi, aksi,
edukasi, musik dan lain sebagainya, dari dalam dan luar negeri (Martin, 2000).
Menurut data AC Nielsen, rata-rata anak-anak menonton televisi selama
dua puluh satu sampai dua puluh tiga jam setiap pekan atau kurang lebih tiga
sampai tiga setengah jam per hari (Marfu’ah 2006)
Solusinya adalah orangtua harus bersedia duduk bersama mereka
sekalipun program yang tengah ditontonnya adalah acara anak-anak. Orangtua
harus turut menjelaskan setiap gambar yang muncul, apalagi jika gambar itu
mengandung sesuatu yang tidak logis atau tidak bisa diterima oleh akal sehat
anak-anak. Bukan tidak mungkin dalam program tayangan anak sekalipun,
ketidaklogisan bisa saja muncul baik dalam bentuk gambar-gambar, maupun
dalam bentuk tema cerita yang ditampilkan. Posisi anak-anak atas tayangan
televisi memang sangat lemah. Hal ini berkaitan dengan sifat anak yang di
antaranya pertama, anak- anak sulit membedakan mana tayangan yang baik atau
buruk, mana yang pantas ditiru atau diabaikan. Kedua, anak-anak belum memiliki
self- censorship dan belum memiliki batasan nilai. Ketiga, anak-anak bersifat
pasif dan tidak kritis terhadap tayangan televisi. Akibatnya, semua yang
ditayangkan televisi akan dianggap sebagai sebuah kewajaran. Lebih-lebih
kualitas tayangan yang ditayangkan televisi umumnya tidak berpihak kepada
anak-anak (Mulkan, 2006).
Hal lain lagi, adalah masalah pengaruh iklan di TV yang semakin hari
semakin berlebihan. Ada begitu banyak iklan yang menawarkan berbagai barang,
dari mainan anak, makanan, minuman, dan lain sebagainya. Iklan-iklan begitu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
14
gencarnya memberikan janji-janji kesenangan dan kebahagiaan keluarga yang
akan diperoleh bila membeli produk tersebut. Secara tidak sadar hal tersebut dapat
menanamkan
kepada
anak
nilai-nilai
konsumerisme
dan
bahwa
kebahagiaan/kesuksesan sebuah keluarga diukur dari kemampuan memiliki
produk terbaru yang ditawarkan. Sekali lagi kita bandingkan dengan diri kita
sendiri. Orang dewasa saja banyak yang terpengaruh oleh iklan-iklan yang ada di
TV (Martin, 2000).
C. Obat Tanpa Resep (OTR)
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 72 tahun 1998
tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan, pasal 1 ayat 1,
disebutkan bahwa obat adalah bahan atau paduan bahan yang digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam
rangka penetapan diagnosa, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit,
pemulihan, dan peningkatan kesehatan termasuk kontrasepsi dan sediaan biologis.
Obat bebas dan obat bebas terbatas merupakan golongan obat tanpa
resep, yang dapat dibeli secara bebas (tanpa resep) di apotek dan toko obat berijin.
Obat bebas yaitu golongan obat yang dalam penggunannya tidak membahayakan
dan dapat digunakan tanpa pengawasan dokter (Tjay dan Raharja, 1996). Menurut
Surat keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 2380/A/SK/IX/1980 tentang tanda
khusus untuk obat bebas pada etiket wadah dan bungkus luar atau kemasan
terkecil obat jadi yang tergolong obat bebas harus mencantumkan tanda khusus
berupa lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam (Anonim. 1996b).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
15
Yang dimaksud obat bebas terbatas, yaitu golongan obat yang dalam
penggunaannya cukup aman, tetapi apabila digunakan berlebihan dapat
mengakibatkan efek samping yang kurang menyenangkan. Pemakaian obat ini
tidak memerlukan pengawasan dokter, namun penggunaannya terbatas sesuai
dengan aturan yang tercantum pada kemasannya (Tjay dan Raharja, 1986). Obat
bebas terbatas berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
6355/Dir.Jen/SK/1969 , harus dicantumkan tanda peringatan pada wadah atau
kemasannya. Tanda peringatan berwarna hitam dengan ukuran panjang 5 cm dan
lebar 2 cm atau disesuaikan kemasannya, dan memuat pemberitahuan dengan
huruf berwarna putih. Sesuai obatnya, pemberitahuan tersebut adalah :
P. no. 1. Awas! Obat keras. Bacalah aturan pemakaiannya di dalam.
Contoh: Decolgen tablet, Inza® tablet
P. no. 2. Awas! Obat keras. Hanya untuk kumur, jangan ditelan.
Contoh: Betadine® kumur
P. no. 3. Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar badan.
Contoh: Betadidine® untuk antiseptik lokal
P. no. 4. Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar.
Contoh: rokok anti asma
P. no. 5. Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan.
Contoh: Dulcolax® supositoria
P. no. 6. Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan.
Contoh: Anusol® supositoria
(Sartono, 1993)
Selain tanda peringatan tersebut, berdasarkan Surat Keputusan Menteri
Kesehatan RI No. 6335/Dir. Jend/SK/1969 pada kemasan obat bebas terbatas juga
wajib dicantumkan tanda khusus. Tanda khusus untuk Obat Bebas Terbatas
berupa lingkaran biru dengan garis tepi hitam.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
16
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 919/MENKES/PER/X/1993
tentang Kriteria Obat yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep, pasal 2, obat yang
dapat diserahkan tanpa resep harus memenuhi kriteria:
a. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di
bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
b. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada
kelanjutan penyakit.
c. Penggunaanya tidak memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus
dilakukan oleh tenaga kesehatan.
d. Penggunaanya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di
Indonesia.
e. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat
dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.
(Anonim, 1996c)
D. Tinjauan Iklan dan Promosi
1. Perbedaan iklan dengan promosi
Periklanan (advertisement) merupakan bagian dari kegiatan bauran
promosi (promotion mix), sementara itu bauran promosi merupakan bagian dari
kegiatan bauran pemasaran (marketing mix). Iklan tidak boleh disamakan dengan
promosi, keduanya berasal dari kata dalam bahasa Latin yang berbeda, yaitu
advere untuk iklan (advertising) yang artinya mengoperkan pikiran dan gagasan
kepada pihak lain, dan promovere untuk promosi (promotion) yang berarti
meningkatkan atau menaikkan sesuatu. Perbedaan lain adalah bentuk sasarannya,
yaitu iklan “mengubah jalan pikiran” (state of mind) calon konsumennya untuk
membeli, sedangkan promosi “merangsang kegiatan pembelian di tempat”
(immediately stimulating purchase) (Widyatama, 2005).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
17
2. Definisi Promosi
Menurut WHO, promosi obat adalah semua kegiatan informasi dan
persuasi oleh produsen dan distributor untuk tujuan menaikkan jumlah resep,
suplai, pembelian, dan atau pemakaian obat. Pernyataan yang digunakan dalam
promosi harus dapat diandalkan, akurat, benar (jujur), informatif, seimbang, up to
date, dapat dibuktikan klaimnya, serta mempunyai warna dan selera yang baik.
Pernyataan yang tidak diperbolehkan dalam promosi adalah pernyataan
menyesatkan, tidak dapat dibuktikan kebenaran klaim, atau menghilangkan fakta
untuk meningkatkan penggunaan obat. Ruang lingkup promosi meliputi iklan,
medical representatives, free sample obat resep untuk promosi, free sample obat
tanpa resep untuk umum, simposium dan temu ilmiah, studi purna jual dan
kontrol, kemasan dan label, informasi untuk pasien (leaflets, booklets), serta
promosi produk ekspor (Anonim, 1988).
3. Definisi iklan
Iklan menurut Komisi Periklanan Indonesia (1996) diartikan sebagai
segala bentuk pesan tentang suatu produk yang disampaikan melalui suatu media,
dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal, serta ditujukan kepada sebagian atau
seluruh masyarakat. Sedangkan iklan obat adalah pesan yang disampaikan melalui
komunikasi media massa oleh perusahaan farmasi tertentu untuk meningkatkan
pemasaran (Anief, 1985).
4. Media iklan
Media yang digunakan iklan berdasarkan tipenya diklasifikasikan oleh
Gilson dan Berkman (1993) menjadi: media cetak (surat kabar dan majalah),
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
18
media siaran (radio dan televisi), media yang langsung dan khusus (katalog dan
pemberian nama barang pada amplop dan kertas surat), serta media yang
ditempatkan di tempat umum (plakat dan poster).
5. Tujuan Iklan
WHO menyatakan bahwa tujuan iklan untuk masyarakat umum yaitu
membantu pemakai dalam membuat keputusan rasional pada penggunaan obat
yang telah ditetapkan sebagai obat tanpa resep (Anonim, 1988). Berdasarkan
sasarannya, Kotler (2003b) menggolongkan tujuan iklan menjadi empat. Iklan
informatif untuk menciptakan kesadaran dan pengetahuan tentang produk baru;
iklan persuasif untuk menciptakan kesukaan, preferensi, keyakinan, dan
pembelian suatu produk atau jasa; iklan pengingat untuk merangsang pembelian
produk dan jasa kembali; serta iklan penguatan yang dimaksudkan untuk
meyakinkan pembeli sekarang bahwa mereka telah melakukan pilihan yang tepat.
6. Fungsi iklan
Fungsi iklan meliputi: fungsi pemasaran (menjual produk), fungsi
komunikasi (menyampaikan pesan), fungsi pendidikan (mendidik mengenai
sesuatu), fungsi ekonomi (menjadi penggerak ekonomi) dan fungsi sosial
(menimbulkan dampak sosial psikologis) (Bovee dan Arens, 1986).
7. Peraturan Periklanan Bidang Obat
Informasi mengenai produk obat dalam suatu iklan harus sesuai dengan
ketentuan dalam pasal 41 ayat (2) UU No. 23 tahun 1992, yaitu :
“Penandan dan Informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus
memenuhi persyaratan objektivitas dan kelengkapan serta tidak menyesatkan”
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
19
Penjabaran pasal 41 ayat (2) UU no. 23 tahun 1992 tentang informasi sediaan
farmasi
tercantum
dalam
Keputusan
menteri
kesehatan
RI
No.
386/MENKES/SK/IV/1994, yaitu :
a. obyektif : harus memberikan informasi sesuai dengan kenyataan yang ada dan
tidak boleh menyimpang dari sifat kemanfaatan dan keamanan obat yang telah
disetujui.
b. lengkap : harus mencantumkan tidak hanya informasi tentang khasiat obat
tetapi juga memberikan informasi tentang hal-hal yang harus diperhatikan,
misalnya adanya kontra indikasi dan efek samping.
c. tidak menyesatkan : informasi obat harus jujur, akurat, bertanggungjawab,
serta tidak boleh memanfaatkan kekuatiran masyarakat akan suatu masalah
kesehatan (Anonim, 1997b).
Yang perlu diperhatikan adalah iklan yang memuat produk anak-anak
dan iklan yang ditayangkan pada tayangan untuk anak-anak. Menurut Keputusan
Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994 yang memuat pengaturan iklan tentang
obat bebas, obat tradisional, alat kesehatan, kosmetika, perbekalan kesehatan
rumah tangga, dan makanan minuman menyatakan bahwa: iklan obat tidak boleh
ditujukan untuk khalayak anak-anak atau menampilkan anak-anak tanpa adanya
supervisor orang dewasa atau memakai narasi suara anak-anak yang
menganjurkan penggunaan obat. Iklan obat tidak boleh menggambarkan bahwa
keputusan penggunaan obat diambil oleh anak-anak.
Iklan obat harus mencantumkan spot peringatan sebagai berikut : Baca
Aturan Pakai, Jika Sakit Berlanjut Hubungi Dokter. Untuk media televisi, spot
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
20
peringatan harus dicantumkan dengan tulisan yang jelas terbaca pada satu
screen/gambar terakhir dengan ukuran minimal 30% dari gambar dan ditayangkan
minimal selama 3 detik (Anonim, 1997b).
Upaya
pengendalian
informasi
komersial
untuk
meningkatkan
kerasionalan pengobatan sendiri juga dilakukan Organisasi Kesehatan Sedunia
(WHO) dengan mengeluarkan kriteria etik promosi obat (Ethical Criteria for
Medicinal Drug Promotion) sejak tahun 1988.
Berdasarkan Ethical Criteria for Medical Drug Promotion-WHO,
informasi dalam suatu iklan obat yang ditujukan kepada konsumen meliputi:
a. komposisi zat aktif dengan nama INN (Internasional Nonpropriety
Names);
b. nama merek dagang;
c. indikasi utama;
d. perhatian, kontra indikasi, dan peringatan;
e. nama dan alamat industri farmasi atau distributor (Geneva, 1988).
Dengan mengacu pada Ethical Criteria for Medicinal Drug Promotion –
WHO, pemerintah Republik Indonesia juga mengeluarkan Keputusan Menteri
Kesehatan No. 386/MEN.KES/SK/IV/1994, khususnya tentang Pedoman
Periklanan Obat Bebas. Salah satu latar belakang dikeluarkannya pedoman ini
adalah untuk melindungi masyarakat dari kemungkinan penggunaan obat yang
salah, tidak tepat dan tidak rasional akibat pengaruh promosi melalui iklan.
Berdasarkan Pedoman Periklanan Obat Bebas, iklan obat harus mencantumkan
informasi mengenai :
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
21
a. Komposisi zat aktif obat dengan nama INN (khusus untuk media cetak) ;
untuk media lain, apabila ingin menyebutkan komposisi zat aktif, harus
dengan nama INN.
b. Indikasi utama obat dan informasi mengenai keamanan obat.
c. Nama dagang obat.
d. Nama industri farmasi.
e. Nomor pendaftaran (khusus untuk media cetak).
(Anonim, 1997b)
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan
Makanan No. HK.00.05.3.02706 tahun 2002 tentang Promosi Obat, pasal 5,
dinyatakan bahwa promosi obat melalui media audio visual dan elektronik hanya
diperbolehkan untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (Anonim, 2002c). Dalam
Keputusan Menteri Kesehatan No. 386/MEN.KES/SK/IV/1994, tentang Pedoman
Periklanan Obat Bebas, juga dinyatakan bahwa obat yang dapat diiklankan kepada
masyarakat adalah obat yang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku
tergolong dalam obat bebas atau obat bebas terbatas, kecuali dinyatakan lain.
Peraturan Pemerintah RI No. 72 tahun 1998 pasal 32 menyatakan bahwa sediaan
farmasi yang berupa obat untuk pelayanan kesehatan yang penyerahannya
dilakukan berdasarkan resep dokter hanya dapat diiklankan pada media cetak
ilmiah kedokteran atau media cetak ilmiah farmasi. Dalam Undang-Undang RI
No. 5 tahun 1997 pasal 31 (1) disebutkan psikotropika hanya dapat diiklankan
pada media cetak ilmiah kedokteran dan/atau media cetak ilmiah farmasi.
Undang-Undang RI No. 22 tahun 1997 pasal 42 menyatakan narkotika hanya
dapat dipublikasikan pada media cetak ilmiah kedokteran atau media cetak ilmiah
farmasi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
22
Beberapa hal yang juga diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.
386/MEN.KES/SK/IV/1994 tentang Pedoman Periklanan Obat Bebas, adalah :
1. Iklan obat dapat dimuat di media periklanan setelah rancangan iklan tersebut
disetujui oleh Departemen Kesehatan RI.
2. Iklan obat tidak boleh memberikan pernyataan superlatif, komparatif tentang
indikasi, kegunaan/manfaat obat.
3. Iklan obat harus mencantumkan spot peringatan perhatian (BACA ATURAN
PAKAI. JIKA SAKIT BERLANJUT, HUBUNGI DOKTER), dan untuk
media televisi spot iklan harus dicantumkan dengan tulisan yang jelas terbaca
pada satu screen/ gambar terakhir dengan ukuran minimal 30% dari screen
dan ditayangkan minimal selama 3 detik.
4. Iklan suatu obat hanya boleh diindikasikan untuk kondisi-kondisi tertentu
dengan batasan-batasan khusus, antara lain meliputi :
a. Vitamin
Iklan multivitamin dan mineral
Untuk pencegahan dan mengatasi kekurangan vitamin dan mineral,
misalnya sesudah operasi, sakit, wanita hamil dan menyusui, anak dalam
masa pertumbuhan, serta lansia.
b. Obat Pereda Sakit dan Penurun Panas
Untuk meringankan rasa sakit misalnya : sakit kepala, sakit gigi, nyeri
otot, dan atau menurunkan panas.
c. Obat Flu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
23
Untuk meredakan gejala flu seperti demam, sakit kepala, hidung
tersumbat, dan pilek.
d. Obat Asma
Untuk meringankan gejala sesak napas karena asma.
e. Obat Batuk
1) Antitusif
Untuk meredakan batuk yang tidak berdahak.
2) Ekspektoran
Untuk meredakan batuk yang berdahak.
3) Antitusif + Ekspektoran + Antihistamin
Untuk meredakan batuk berdahak yang disertai pilek.
f. Antasida
Untuk mengatasi gejala sakit maag seperti : perih, kembung, mual.
g. Obat Kulit (Topikal)
Untuk mengatasi infeksi karena jamur
(Anonim, 1997b)
E. Televisi Sebagai Salah Satu Media Iklan
Televisi sudah lama dikenal di Indonesia, bahkan sekarang ini hampir
semua penduduk memiliki televisi di rumah. Pemerintah adalah pihak pertama
yang memanfaatkan media ini. Banyak pesan pembangunan yang dapat dengan
efektif disampaikan melalui media ini. Karakter budaya kita yang lebih suka
mendengar dan melihat daripada membaca menyebabkan berkembang pesatnya
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
24
industri televisi. Kemudian, seperti biasa, kalangan bisnispun tanggap dengan
potensi tersebut. Jaringan dan kelompok sasaran yang luas adalah poin terbesar
yang dilirik kalangan tersebut. Hasilnya iklan banyak bermunculan di televisi.
(Puspadewi, 1993).
Konsumen akan lebih asyik menonton televisi, yang memang lebih
atraktif dan dinamis daripada membaca koran/majalah. Di Indonesia saja terdapat
sepuluh
televisi swasta nasional (RCTI, SCTV, AN TV, TPI, INDOSIAR,
TRANS TV, TV 7, METRO TV, GLOBAL TV, dan LATIVI). Hal inilah yang
semakin memacu semakin tingginya belanja iklan di televisi (Abadi, 2003).
Belanja iklan di televisi dari tahun ke tahun cenderung meningkat.
Menurut data Advertising Information Services dari Nielsen Media Research,
belanja iklan di media televisi, koran, majalah, dan tabloid pada tahun 2006
mencapai Rp 30,036 triliun. Televisi masih mendominasi perolehan dari
keseluruhan belanja itu dengan nilai belanja iklan lebih dari Rp 20 triliun atau
sekitar 69%, koran 27%, majalah dan tabloid 4% (Anonim 2007). RCTI, TPI, dan
Global TV memperoleh 32,9% dari total belanja iklan tahun 2006, Trans TV dan
TV 7 (23,2%), ANTV dan Lativi (15,7%), sisanya adalah SCTV, Indosiar, serta
Metro TV (Harto, Ratnasari, Saragih, dan Mudjiono, 2006).
Sangat jelas sekali terlihat bahwa kehadiran iklan di media massa secara
umum dalam membentuk karakter konsumen, tidak bisa dianggap enteng. Media
massa, dengan “pasukan” iklan komersialnya, ditambah berbagai iklan
terselubung lainnya; efektif mengubah perilaku masyarakat konsumen dalam
menggunakan berbagai produk barang atau jasa. Selain dampak terhadap perilaku
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
25
konsumen, menjamurnya iklan di media televisi juga membuka seluas-luasnya
adanya pelanggaran yang dilakukan oleh iklan, baik itu sifatnya etik maupun
pelanggaran terhadap produk hukum (Abadi, 2003).
Itulah faktanya, kehadiran media massa kadang tidak bisa dilawan oleh
siapapun juga. Media tersebut, terutama televisi memiliki kekuasaan yang sangat
besar dalam membentuk suatu agenda publik yang tidak bisa dihalangi oleh
hukum apapun. Media televisi sebagai media massa dapat menentukan apa yang
akan dibicarakan dan dipikirkan oleh masyarakat (White cit Abadi, 2003).
F. Keterangan Empiris
Penelitian
ini
dikerjakan
untuk
memperoleh
gambaran
mengenai
kerasionalan iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di empat
stasiun televisi swasta nasional (A, B, C, D).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
26
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian non eksperimental
(observasional). Menurut Praktiknya (2003), penelitian observasional adalah
penelitian yang observasinya dilakukan terhadap sejumlah ciri (variabel) subjek
menurut keadaan apa adanya (in nature), tanpa adanya manipulasi peneliti. Pada
penelitian ini dilakukan evaluasi, tetapi bukan mengenai bagaimana dan mengapa
fenomena tersebut terjadi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif
non analitik. Penelitian deskriptif non analitik dimaksudkan untuk pengukuran
yang
cermat
terhadap
fenomena
masyarakat
(sosial)
tertentu,
peneliti
mengembangkan konsep dan menghimpun fakta tetapi tidak melakukan pengujian
hipotesis (Hasan, 2002). Menurut Pratiknya (2001) disebut rancangan penelitian
deskriptif non analitik karena hanya melakukan eksplorasi deskriptif terhadap
fenomena yang terjadi.
B. Definisi Operasional
1. Iklan di televisi adalah informasi yang diberikan produsen kepada konsumen
melalui media elektronik televisi, dengan maksud memperkenalkan produknya
sekaligus memikat konsumen untuk memakai produk yang diiklankan
2. Obat tanpa resep adalah obat yang diperjualbelikan dengan bebas, tanpa resep
dokter, terdiri dari obat bebas dengan tanda lingkaran hijau dengan garis tepi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
27
hitam dan obat bebas terbatas dengan tanda lingkaran biru dengan garis tepi
berwarna hitam
3. Evaluasi kerasionalan iklan obat tanpa resep adalah penilaian kerasionalan
iklan obat tanpa resep berdasarkan kriteria iklan WHO (1988) dan Keputusan
Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994. Iklan obat tanpa resep itu dinilai
rasional bila memenuhi semua persyaratan dari kriteria iklan WHO (1988) dan
Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994, dan tidak rasional bila
tidak semua kriterianya terpenuhi dilihat dari kelengkapan dan klaim indikasi
iklan obat tanpa resep. Persyaratan dalam kriteria iklan tersebut adalah:
a. kerasionalan kelengkapan informasi iklan berdasarkan kriteria iklan WHO
(1988), yang meliputi nama zat aktif, nama dagang, indikasi, peringatanperhatian, kontraindikasi, nama dan alamat industri farmasi
b. kerasionalan kelengkapan informasi iklan berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan No. 386 tahun 1994, yang meliputi indikasi, informasi keamanan
obat (diasumsikan meliputi peringatan-perhatian dan efek samping), nama
dagang, dan nama industri farmasi
c. kerasionalan klaim indikasi iklan berdasarkan mekanisme kerja zat aktif dan
Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994
4. Zat aktif: komponen obat yang mempunyai efek farmakologis, nama dagang:
nama obat yang diberikan oleh pemilik produk untuk identitas produknya,
indikasi: petunjuk kegunaan obat dalam pengobatan penyakit, kontraindikasi:
petunjuk penggunaan obat yang tidak diperbolehkan karena berlawanan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
28
dengan kondisi tubuh pemakai, dan efek samping: efek yang timbul tetapi
tidak diinginkan yang dapat merugikan atau berbahaya
5. Tayangan acara untuk anak-anak adalah tayangan acara di televisi yang
ditujukan untuk konsumsi anak-anak berumur 2-12 tahun, meliputi film
kartun, sinetron anak, film anak, reality show, dan serial anak
6. Stasiun televisi swasta nasional adalah stasiun televisi dalam negeri yang
dikelola oleh pihak swasta
7. Waktu tayang adalah kurun waktu tayang acara untuk anak-anak yang dipakai
dalam penelitian
8. Frekuensi tayang adalah jumlah tayang (kemunculan) iklan selama kurun
waktu tayang acara untuk anak-anak yang dipakai dalam penelitian
9. Jenis iklan adalah macam-macam iklan berdasarkan jenis produk yang
diiklankan, yang meliputi obat tanpa resep (obat bebas dan obat bebas
terbatas); obat tradisional (jamu) contoh: Tolak Angin, obat herbal berstandar
contoh: ProLipid, fitofarmaka contoh: Stimuno dan obat quasi contoh:
Salonpas; vitamin, suplemen, dan perbekalan kesehatan rumah tangga;
makanan dan minuman; kosmetika; serta lain-lain. Obat dengan kandungan
vitamin dan mineral yang terdapat tanda lingkaran hijau/biru bergaris tepi
hitam pada kemasannya termasuk jenis iklan obat tanpa resep, sedangkan yang
tidak terdapat tanda tersebut termasuk jenis iklan vitamin, suplemen, obat
wajib apotek, dan perbekalan kesehatan rumah tangga.
10. Jenis produk yang diiklankan adalah nama dagang produk yang diiklankan
11. Kriteria iklan adalah dasar penilaian iklan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
29
12. Unsur-unsur kerasionalan iklan obat tanpa resep adalah unsur-unsur yang
ditampilkan dalam iklan obat di televisi
13. Klasifikasi golongan obat adalah penggolongan obat tanpa resep yang
diiklankan di televisi berdasarkan golongan obat bebas dan obat bebas
terbatas, jenis obat berdasarkan nama dagang obat, kelas terapi berdasarkan
IONI (Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000) dan indikasi secara
umum dengan memperhatikan mekanisme kerja obat, sasaran konsumen
(dewasa dan anak-anak), serta produsen yaitu berdasarkan nama produsen
obat.
C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah semua iklan yang ditayangkan di empat
stasiun televisi swasta nasional (A, B, C, D) pada acara untuk anak-anak. Subjek
penelitian diobservasi selama dua minggu, pada tanggal 12–19 Juli dan 26 Juli-1
Agustus 2006. Adanya selang waktu dalam pengambilan data dilakukan untuk
memperoleh data yang lebih representatif. Waktu pengamatan setiap hari : acara
pertama diambil mulai pukul 07.00 dan acara terakhir diambil mulai pukul 20.00.
Menurut Gay (cit., Hasan, 2002) menyatakan bahwa ukuran sampel
minimum yang dapat diterima untuk metode penelitian deskriptif minimal 10%
dari populasi, dan untuk populasi yang relatif kecil minimal 20% dari populasi
(Hasan, 2002). Iklan yang ada di televisi sangat besar jumlahnya dan sulit
diketahui dengan pasti berapa jumlahnya, oleh sebab itu pengambilan sampel
ditentukan melalui jumlah stasiun televisi. Jumlah stasiun televisi swasta nasional
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
30
yang ada sekarang ini adalah 10 buah, sehingga yang diperlukan adalah dua
stasiun televisi. Penelitian ini menggunakan empat stasiun televisi untuk
pengambilan data, dengan harapan data yang diperoleh sudah bisa mewakili iklan
obat tanpa resep di stasiun swasta nasional. Dalam penelitian ini dipilih empat
stasiun televisi dengan pertimbangan keempat stasiun televisi ini, menurut data
tahun 2002 memiliki pendapatan iklan yang tinggi dan cukup banyak
menayangkan acara untuk anak-anak.
Subyek penelitian diambil dengan metode purposif. Purposif sampling
adalah pemilihan sekelompok subyek didasarkan atas sifat-sifat tertentu yang
mempunyai sangkut paut erat dengan sifat-sifat populasi yang sudah diketahui
sebelumnya. Dalam teknik ini sampel ditetapkan secara sengaja oleh peneliti
didasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu (Faisal, 1989). Menurut Nawawi
(1998), dalam teknik ini pengambilan sampel disesuaikan dengan kriteria-kriteria
tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Kriteria subyek penelitian
adalah iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di empat
stasiun televisi swasta nasional Indonesia (A, B, C, D) pada periode Juli 2006
yang ditayangkan dengan waktu pengamatan setiap hari dari pukul 07.00 WIB
sampai pukul 20.00 WIB. Berdasarkan data tahun 2002 yang didapatkan pada
awal penelitian menyatakan bahwa empat stasiun televisi (A, B, C, D) merupakan
empat stasiun televisi dengan pendapatan belanja iklan paling tinggi dibandingkan
stasiun televisi lainnya, dan juga cukup banyak menayangkan acara untuk anakanak. Pemilihan waktu pengamatan tersebut, karena pada rentang waktu yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
31
ditetapkan untuk pengambilan data ini terdapat tayangan acara untuk anak-anak
ditelevisi, sedangkan diluar waktu tersebut adalah tayangan untuk orang dewasa.
D. Tata Cara Penelitian
1. Prosedur pelaksanaan penelitian
a. Analisis situasi dan penentuan masalah
Dilakukan pengamatan awal terhadap keseluruhan tayangan iklan di
stasiun televisi swasta nasional, untuk menentukan stasiun televisi dan
jam tayang yang digunakan dalam penelitian.
b. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan pencatatan data hasil observasi
langsung tayangan iklan di stasiun televisi swasta nasional.
c. Pengolahan, analisis, dan interprestasi data
Data yang terkumpul mengalami proses pengolahan yaitu dengan
mengedit dan mengkodekan data. Kemudian dilakukan analisis data
dengan membuat tabulasi data sesuai dengan susunan sajian data yang
dibutuhkan dalam penelitian, dan melakukan penghitungan-penghitungan
tertentu sesuai dengan metode statistik yang digunakan. Selanjutnya data
diinterpretasikan dan ditarik kesimpulannya.
2. Tata cara pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi langsung terhadap
tayangan iklan di empat stasiun televisi swasta nasional A, B, C, D) selama
dua minggu, pada tanggal 12–19 Juli dan 26 Juli-1 Agustus 2006 pada
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
32
acara untuk anak-anak dengan batas waktu pengamatan setiap hari dari
pukul 07.00-20.00. Data yang dikumpulkan meliputi waktu tayang iklan,
jenis iklan, jenis produk yang diiklankan, frekuensi tayang iklan,
kelengkapan informasi iklan, dan klaim iklan obat tanpa resep.
E. Tata Cara Analisis Hasil
Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan metode statistik
deskriptif. Metode statistik ini menggunakan teknik persentase, dan ditampilkan
dalam bentuk tabel atau gambar. Data frekuensi dapat langsung dianalisis,
sedangkan data kelengkapan informasi dan klaim indikasi iklan obat tanpa resep,
dinyatakan dulu dalam bentuk rasional dan tidak rasional.
Tabel atau gambar yang dibuat dari data iklan pada tayangan acara untuk
anak-anak selama dua minggu, meliputi:
1.
persentase frekuensi jenis iklan pada masing-masing stasiun televisi (A, B,
C, D) dan pada keempat stasiun televisi sekaligus
2.
persentase frekuensi iklan obat tanpa resep pada masing-masing stasiun
televisi (A, B, C, D) dan pada keempat stasiun televisi sekaligus, yang
meliputi klasifikasi : jenis acara, kelas terapi, golongan obat, jenis obat,
sasaran konsumen, dan produsen
3.
persentase kelengkapan informasi iklan obat tanpa resep (nama zat aktif,
nama dagang, indikasi, peringatan-perhatian, kontraindikasi, efek samping,
serta nama industri farmasi dan alamatnya)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
33
4.
evaluasi kerasionalan kelengkapan informasi iklan obat tanpa resep
berdasarkan kriteria iklan WHO (1988), dan persentasenya
5.
evaluasi kerasionalan kelengkapan informasi iklan obat tanpa resep
berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994, dan
persentasenya
6.
evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat tanpa resep berdasarkan
mekanisme kerja zat aktif dan Keputusan Menteri Kesehatan No. 386
tahun 1994, dan persentasenya.
F. Kesulitan Penelitian
Kendala yang dihadapi penulis dalam melakukan penelitian ini adalah
sulitnya melakukan pengambilan data kelengkapan informasi iklan dan klaim
indikasi untuk iklan obat tanpa resep. Hal ini terjadi karena cepatnya durasi tayang
iklan yang diamati, sedangkan pada waktu yang bersamaan penulis harus
melakukan pengamatan sekaligus pencatatan data. Masalah ini diatasi dengan
pengamatan berulang-ulang terhadap setiap penayangan kembali iklan obat tanpa
resep. Namun, terdapat kendala lain lagi karena untuk beberapa iklan obat tanpa
resep yang sudah tercatat, ada yang tidak ditayangkan lagi ataupun baru
ditayangkan kembali setelah periode waktu tertentu. Dengan demikian, penelitian
ini membutuhkan tambahan waktu khusus, demi mendapatkan hasil yang terbaik
sesuai dengan keterbatasan kemampuan penulis dalam melakukan pengamatan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
34
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Profil Jenis Iklan
Tingkat pengenalan konsumen terhadap sebuah produk ditentukan oleh
produk itu sendiri. Nama atau merek sebuah produk akan diingat orang karena
tingginya frekuensi tayang iklan tersebut (Suryolaksono, 2002). Semakin tinggi
frekuensi penayangan sebuah iklan, semakin besar pula perhatian konsumen
terhadap produk yang diiklankan. Profil iklan yang disajikan merupakan
gambaran distribusi frekuensi iklan pada tayangan acara untuk anak-anak di
stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu, berdasarkan jenis iklan. Tujuannya
adalah untuk mengetahui persentase jenis iklan obat tanpa resep dari keseluruhan
iklan yang ditayangkan. Obat tanpa resep dalam penelitian ini meliputi obat bebas
yang pada kemasannya terdapat tanda lingkaran hijau bergaris tepi hitam, dan
obat bebas terbatas dengan tanda lingkaran biru bergaris tepi hitam.
1. Distribusi frekuensi jenis iklan pada masing-masing stasiun televisi
Persentase frekuensi jenis iklan di setiap stasiun televisi A, B, C, D dapat
dilihat dari grafik pada Tabel I. Frekuensi jenis iklan obat tanpa resep di stasiun
televisi A ada 9 (1,1%), stasiun televisi B ada 6 (1,5%), stasiun televisi C ada 21
(7,50%), dan stasiun televisi D ada 6 (1,2%). Iklan obat tanpa resep bisa
ditemukan di semua stasiun televisi, tetapi frekuensi yang paling tinggi terdapat
pada stasiun televisi C. Frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, dan D sangat sedikit, yaitu di bawah 2%.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
35
Stasiun televisi C mempunyai frekuensi iklan obat tanpa resep lebih tinggi karena
tayangan acara yang diambil adalah sinetron anak pada jam tayang utama yang
umumnya tidak hanya ditonton oleh anak-anak saja tetapi juga bersama orang
tuanya, sehingga produsen meningkatkan frekuensi iklan pada tayangan acara
tersebut karena yang mengambil keputusan dalam membeli suatu kebutuhan di
dalam keluarga adalah orang tua.
Tabel I. Distribusi frekuensi jenis iklan pada tayangan acara untuk anak-anak pada
masing-masing stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli 2006)
No.
Jenis Iklan
A
B
C
D
1
Obat tanpa resep (obat bebas dan obat bebas terbatas)
1.1
1.5
7.5
1.2
2
Obat tradisional (jamu) dan fitofarmaka
0.6
0.0
2.1
1.0
3
Vitamin, suplemen, dan perbekalan kesehatan rumah tangga
4
Makanan dan minuman
5
Kosmetika
6
Lain-lain
Total
1.8
0.0
6.1
0.6
59.0
71.7
28.2
51.7
7.5
7.0
8.9
9.1
30.0
19.8
47.1
36.5
100.0
100.0
100.0
100.0
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994 yang
memuat pengaturan iklan tentang obat bebas, obat tradisional, alat kesehatan,
kosmetika, perbekalan kesehatan rumah tangga, dan makanan minuman
dinyatakan bahwa iklan obat tidak boleh ditujukan untuk khalayak anak-anak atau
menampilkan anak-anak tanpa adanya supervisor orang dewasa atau memakai
narasi suara anak-anak yang menganjurkan penggunaan obat. Iklan obat tidak
boleh menggambarkan bahwa keputusan penggunaan obat diambil oleh anak-anak
(Anonim, 1994).
2. Distribusi frekuensi jenis iklan pada keempat stasiun televisi
Jumlah total frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk
anak-anak pada keempat stasiun televisi adalah 42 dengan persentase 2,1% (lihat
Tabel II). Memang bukan yang paling tinggi jika dibandingkan jenis iklan yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
36
lain. Hal ini disebabkan dalam perundang-undangan, penayangan iklan obat untuk
anak-anak diatur lebih detail, termasuk bahwa iklan obat untuk anak-anak tidak
boleh ditujukan langsung kepada anak-anak. Pemilihan obat untuk anak-anak
yang menjadi wewenang orang tua terutama kaum ibu, juga menyebabkan para
produsen tidak memasang iklan obat tanpa resep terlalu banyak pada tayangan
acara anak-anak. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh K. Yunari menyatakan
bahwa iklan obat tanpa resep lebih banyak pada acara untuk ibu-ibu yaitu sebesar
6,4% dan jenis obat untuk anak-anaknya juga lebih banyak (K. Yunari, 2007).
Meskipun demikian, televisi diakui merupakan media paling sering ditemukannya
iklan obat, terpaut cukup banyak dengan media iklan lainnya (Zahir, 1996).
Tabel II.
No.
1
2
3
4
5
6
Distribusi frekuensi jenis iklan pada tayangan acara untuk anak-anak pada
keempat stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli 2006)
Jenis Iklan
Obat tanpa resep (obat bebas dan obat bebas terbatas)
Obat tradisional (jamu) dan fitofarmaka
Vitamin, suplemen, dan perbekalan kesehatan rumah tangga
Makanan dan minuman
Kosmetika
Lain-lain
Total
Σ Frekuensi
42
16
35
1130
163
651
2037
Persentase (%)
2.1
0.8
1.7
55.5
8.0
32.0
100.0
Frekuensi iklan makanan dan minuman (55,5%), jauh lebih tinggi
dibandingkan iklan obat tanpa resep. Kondisi ini terjadi karena makanan dan
minuman relatif lebih aman dikonsumsi oleh anak-anak dibandingkan obat tanpa
resep, karena biarpun obat tersebut diperuntukkan bagi anak-anak, tetapi bila
dikonsumsi tidak sesuai aturan maka obat tersebut bisa membahayakan. Obat
tanpa resep memang sebaiknya hanya digunakan pada saat tubuh benar-benar
membutuhkan, karena penggunaan obat tanpa resep dalam jangka panjang dapat
menimbulkan efek samping yang berbahaya, misalnya parasetamol dapat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
37
menyebabkan kerusakan sel darah, kerusakan hati, dan ginjal bila digunakan
dalam jangka waktu yang lama.
B.
Profil Iklan Obat Tanpa Resep
Pengambilan keputusan untuk memakai suatu produk obat seringkali
dilakukan berdasarkan iklan (Zahir, 1996). Obat dengan frekuensi iklan yang
tinggi menunjukkan tingkat konsumsi obat yang lebih tinggi dibandingkan obat
dengan frekuensi iklan yang lebih rendah. Gambaran distribusi frekuensi iklan
obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C,
D ditampilkan berdasarkan jenis acara, golongan obat, jenis obat, kelas terapi,
sasaran konsumen, dan produsen. Penyajian dilakukan untuk masing-masing
stasiun televisi maupun gabungan dari keempat stasiun televisi.
1. Jenis Acara
Jenis acara televisi yang dipilih dalam penelitian ini adalah tayangan
acara untuk anak-anak, yang meliputi sinetron anak, reality show, serial anak, film
anak, dan film kartun. Tayangan acara untuk anak-anak dipilih karena anak-anak
lebih mudah dipengaruhi oleh tayangan di televisi, padahal anak-anak belum
mempunyai daya pikir yang cukup untuk menyaring informasi yang didapatnya.
Tabel III. Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak
pada masing-masing stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006) berdasarkan jenis acara
S. Televisi A
S. Televisi B
S. Televisi C
S. Televisi D
No.
Jenis Acara
ΣF
%
ΣF
%
ΣF
%
ΣF
%
1
Film Anak
5
55.6
2
Kartun
4
44.4
4
66.7
3
Reality show
4
Serial Anak
2
33.3
5
Sinetron
21
100.0
6
100.0
Total
9
100.0
6
100.0
21
100.0
6
100.0
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
38
Dari tabel di atas diketahui bahwa frekuensi iklan obat tanpa resep yang
paling banyak terdapat pada acara sinetron di stasiun televisi C dan D (masingmasing 100%). Pada keempat stasiun televisi (lihat Gambar 1), iklan obat tanpa
resep juga tertinggi frekuensi iklannya pada acara sinetron (27,64%), sedangkan
yang terendah adalah program reality show (0%).Hal ini menunjukkan acara
sinetron anak dinilai para produsen lebih efektif untuk menarik para konsumen
karena ditayangkan pada jam tayang utama yang pada umumnya anak-anak
menonton televisi bersama seluruh anggota keluarga. Pada acara yang lain
frekuensi iklannya relatif lebih sedikit karena penayangannya pada pagi atau sore
hari,
yang
sangat
memungkinkan
anak-anak
menonton
televisi
tanpa
pendampingan, sehingga produsen beranggapan kurang efektif untuk berpromosi
pada tayangan acara anak-anak yang lain karena bagaimanapun juga pengambilan
keputusan penggunaan obat pada anak-anak tetap menjadi wewenang orang tua
ataupun orang dewasa dalam sebuah keluarga.
PERSENTASE IKLAN OTR PADA KEEMPAT
STASIUN TELEVISI BERDASARKAN JENIS
ACARA
5, 12%
8, 19%
0, 0%
2, 5%
27, 64%
Film Anak
Kartun
Reality show
Serial Anak
Sinetron
Gambar 1. Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anakanak pada keempat stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006) berdasarkan jenis acara
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
39
2. Kelas Terapi
Obat-obat tanpa resep yang diiklankan di stasiun televisi A, B, C, D
dapat dikelompokkan dalam beberapa kelas terapi. Persentase frekuensi iklan obat
tanpa resep berdasarkan kelas terapi pada masing-masing stasiun televisi,
disajikan dalam tabel berikut ini.
Tabel IV.
No.
Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
anak pada masing-masing stasiun televisi A, B, C, D selama
(periode Juli 2006) berdasarkan kelas terapi
S. Televisi
A
S. Televisi B S. Televisi C
Kelas Terapi
ΣF
%
ΣF
%
ΣF
%
1
2
Obat analgesik (sakit
kepala, demam)
Obat gizi dan darah
3
7
1
33.3
4.8
Obat saluran cerna
(diare)
1
4.8
4
Obat saluran cerna
(maag)
1
4.8
5
Obat saluran nafas
(asma)
3
14.3
6
Obat saluran nafas
(batuk)
6
28.6
7
8
Obat saluran nafas
(batuk, pilek)
Obat saluran nafas (flu)
1
4.8
9
Obat saluran nafas (flu,
batuk)
10
Obat topikal kulit (infeksi
jamur)
Total
4
4
1
9
44.4
6
100.0
untuk anakdua minggu
S. Televisi
D
ΣF
%
44.4
11.1
100.0
6
100.0
1
21
4.8
100.0
6
100.0
6
100.0
Obat tanpa resep yang paling banyak diiklankan di stasiun televisi A, B,
dan C adalah kelas terapi obat analgesik (sakit kepala, demam), sedangkan di
stasiun televisi D adalah obat saluran nafas (flu, batuk). Obat-obat tersebut
mempunyai frekuensi iklan yang paling tinggi, karena sakit kepala, demam, batuk,
dan flu merupakan penyakit-penyakit ringan yang sering diderita oleh masyarakat,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
40
sangat membutuhkan pengobatan dengan segera karena mengganggu aktivitas
kerja sehari-hari, sehingga obat analgesik dan obat saluran nafas untuk penyakitpenyakit inilah yang paling banyak diiklankan oleh para produsen.
Pembagian kelas terapi seluruh obat tanpa resep di keempat stasiun
televisi A, B, C, D disajikan dalam grafik berikut ini:
PERSENTASE KELAS TERAPI PADA KEEMPAT
STASIUN TELEVISI
Obat analgesik (sakit kepalademam)
45.0
40.5
Obat gizi dan darah
40.0
Obat saluran cerna (diare)
35.0
Obat saluran cerna (maag)
25.0
20.0
14.6
14.6
15.0
9.8
10.0
7.3
4.9
2.4
2.4 2.4 2.4
Kelas Terapi
Persentase (%)
30.0
Obat saluran nafas (asma)
Obat saluran nafas (batuk pilek)
Obat saluran nafas (batuk)
Obat saluran nafas (flu)
5.0
Obat saluran nafas (flubatuk)
0.0
Obat topikal kulit (infeksi
jamur)
Gambar 2. Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anakanak pada keempat stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006 berdasarkan kelas terapi
Dari grafik diketahui seluruh obat tanpa resep yang diiklankan di keempat
stasiun televisi terbagi menjadi 10 macam kelas terapi. Obat analgesik (sakit
kepala, demam), frekuensi iklannya paling tinggi. Hal ini menunjukkan obat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
41
analgesik dengan indikasi sakit kepala, demam adalah obat-obat yang paling
banyak dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat.
3. Golongan Obat
Obat tanpa resep terdiri dari golongan obat bebas dan obat bebas terbatas.
Berdasarkan grafik (Gambar 3), frekuensi iklan obat bebas di stasiun televisi B
(100,0%).Hal ini menunjukkan stasiun televisi B paling banyak menayangkan
iklan obat bebas. Sebaliknya stasiun televisi D paling banyak menayangkan iklan
obat bebas terbatas (100,0%).
PERSENTASE GOLONGAN OBAT PADA MASINGMASING STASIUN TELEVISI
100.00
100.00
100.00
80.00
60.00
57.14
42.86
55.56
44.44
40.00
Obat bebas
Obat bebas terbatas
20.00
0.00
0.00
A
B
0.00
C
D
Stasiun Televisi
Gambar 3. Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anakanak pada masing-masing stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu
(periode Juli 2006) berdasarkan golongan obat
Persentase frekuensi total pada keempat stasiun televisi A, B, C, D
disajikan dalam Tabel V. Obat tanpa resep golongan obat bebas terbatas lebih
banyak diiklankan daripada obat bebas. Frekuensi iklan obat bebas terbatas lebih
tinggi daripada obat bebas, karena jenis obat bebas kebanyakan namanya sudah
sangat terkenal di masyarakat sehingga beberapa di antaranya sudah tidak
diiklankan lagi oleh produsennya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
42
Tabel V.
No.
1.
2.
Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anakanak pada keempat stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006) berdasarkan golongan obat
Golongan
Persentase
Jenis Obat
Σ Frek.
Obat
(%)
Biogesic Anak, Laserin, Neo Entrostop, Neo
Obat bebas
19
45,2
Ultracap, Panadol Extra.
Anakonidin, Bodrex Migra, Canesten, Mixagrip
Obat bebas
Flu & Batuk, Neo Napacin, Neo Ultrasiline,
23
56,8
terbatas
Neosanmag Fast, Ultraflu, Vicks Formula 44,
Total
42
100,0
Berdasarkan tingkat keamanan obat, obat bebas lebih aman daripada obat
bebas terbatas. Pemakaian obat bebas terbatas memang tidak memerlukan
pengawasan dokter, tetapi penggunaanya harus sesuai dengan aturan yang
tercantum pada kemasannya. Kenyataan bahwa lebih banyak ragam obat bebas
terbatas yang beredar di masyarakat menuntut kecermatan lebih tinggi dari
konsumen, penggunaannya harus lebih berhati-hati agar tidak terjadi kesalahan.
4. Jenis Obat
Frekuensi iklan obat tanpa resep berdasarkan jenis obat ditampilkan
dalam Tabel VI. Jenis obat di stasiun televisi C paling banyak, sedangkan di stasiun
televisi B dan D paling sedikit. Faktor-faktor yang mungkin menyebabkan kondisi
ini adalah pada stasiun televisi B acara anak-anak yang ditayangkan memang
khusus untuk anak (film kartun, dan serial anak), sehingga bila produsen
mengiklankan produknya pada acara tersebut akan kurang efektif karena yang
memutuskan membeli atau tidak suatu produk adalah orang dewasa dalam
keluarga, terutama ibu-ibu. Pada stasiun D, biarpun acara yang ditayangkan juga
sinetron, tetapi karena penayangannya hanya satu minggu sekali maka jenis obat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
43
tanpa resep yang diiklankan di stasiun televisi ini relatif lebih sedikit
dibandingkan acara sinetron di stasiun televisi C yang ditayangkan setiap hari.
Tabel VI. Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak
pada masing-masing stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006) berdasarkan jenis obat
A
No.
Jenis Obat
∑F
B
%
C
D
∑F
%
∑F
%
6
100.0
3
14.3
4
19.0
4
19.0
1
Anakonidin
4
44.4
2
Biogesic Anak
2
22.2
3
Bodrex Migra
4
Canesten
5
Laserin
6
Mixagrip Flu & Batuk
7
Neo Entrostop
1
4.8
8
Neo Napacin
3
14.3
9
Neo Ultracap
1
4.8
10
Neo Ultrasiline
1
4.8
11
Neosanmag Fast
1
4.8
12
Panadol Extra
13
Ultraflu
1
4.8
14
Vicks Formula 44
2
9.5
21
100.0
Total
1
2
9
∑F
%
11.1
6
100.0
6
100.0
22.2
100.0
6
100.0
Berdasarkan jenis obatnya, obat yang paling sering diiklankan di stasiun
televisi A, B, C, dan D secara berurutan adalah Anakonidin, Biogesic Anak®,
Bodrex Migra dan Laserin, serta Mixagrip Flu & Batuk. Adapun pada keempat
stasiun televisi, jenis obat yang tertinggi frekuensi iklannya adalah Biogesic
Anak®. Berdasarkan pengamatan penulis, pada saat penelitian ini dilakukan obat
ini merupakan produk baru dari produsen untuk mengatasi demam pada anak,
sehingga wajar jika produsen berusaha semaksimal mungkin untuk menarik
perhatian konsumen terutama orang tua agar menggunakannya bila anaknya
menderita demam.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
44
Tabel VII. Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anakanak pada keempat stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006) berdasarkan jenis obat
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Jenis Obat
Anakonidin
Biogesic Anak
Bodrex Migra
Canesten
Laserin
Mixagrip Flu & Batuk
Neo Entrostop
Neo Napacin
Neo Ultracap
Neo Ultrasiline
Neosanmag Fast
Panadol Extra
Ultraflu
Vicks Formula 44
Total
Σ Frekuensi
4
11
4
1
4
6
1
3
1
1
1
2
1
2
Persentase (%)
9.5
26.2
9.5
2.4
9.5
14.3
2.4
7.1
2.4
2.4
2.4
4.8
2.4
4.8
42
100.0
5. Sasaran Konsumen
Sasaran konsumen obat tanpa resep meliputi konsumen dewasa dan anakanak. Anak-anak memerlukan dosis obat yang lebih rendah dibandingkan orang
dewasa. Pemberian obat dengan dosis untuk dewasa pada anak-anak dapat
berbahaya bagi tubuh, sedangkan pemberian dosis anak-anak untuk orang dewasa
akan menyebabkan terjadinya dosis too low atau substandard.
Obat pada dasarnya merupakan bahan yang hanya dengan takaran
tertentu dan dengan penggunaan yang tepat dapat dimanfaatkan untuk
mendiagnosa, mencegah penyakit, menyembuhkan atau memelihara kesehatan
(Anonim, 1997b).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
45
PERSENTASE SASARAN KONSUMEN PADA
MASING-MASING STASIUN TELEVISI
Persentase(%)
120.00
80.00
100.00
100.00
85.71
100.00
66.67
60.00
Anak-anak
33.33
40.00
0.00
20.00
Dewasa
14.29
0.00
0.00
A
B
C
D
Stasiun Televisi
Gambar 4. Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anakanak pada masing-masing stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu
(periodeJuli 2006) berdasarkan sasaran konsumen
Obat tanpa resep di stasiun televisi A dan B lebih banyak ditujukan untuk
konsumen anak-anak, bahkan pada stasiun televisi B tidak terdapat iklan obat
tanpa resep untuk konsumen dewasa. Pada stasiun televisi C dan D, iklan obat
tanpa resep justru lebih banyak ditujukan untuk konsumen dewasa, bahkan di
stasiun televisi D tidak ditemukan iklan obat tanpa resep untuk anak-anak. Hasil
total dari keempat stasiun televisi menunjukkan frekuensi iklan obat tanpa resep
untuk konsumen dewasa jauh lebih besar daripada anak-anak (lihat Gambar 5).
Kondisi ini terjadi karena sebenarnya obat untuk konsumen dewasa juga dapat
diberikan untuk anak-anak asal diberikan dalam dosis yang sesuai. Aturan dosis
pemakaian untuk anak-anak biasanya dicantumkan juga dalam kemasan obat-obat
tanpa resep untuk dewasa yang beredar di pasaran.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
46
PERSENTASE SASARAN KONSUMEN PADA
KEEMPAT STASIUN TELEVISI
36%
Anak-anak
Dewasa
64%
Gambar 5. Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anakanak pada keempat stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode
Juli 2006) berdasarkan sasaran konsumen
6. Produsen
Produsen-produsen obat tanpa resep yang diiklankan di stasiun televisi
A, B, C, D dapat dilihat persentase frekuensinya pada Tabel VIII. Hasil penelitian
menunjukkan tidak semua produsen mengiklankan produknya di semua stasiun
televisi. Seperti terlihat pada tabel, terdapat 4 produsen yang mengiklankan
produknya di stasiun televisi A, 1 produsen di stasiun televisi B, 8 produsen di
stasiun televisi C, dan 1 produsen di stasiun televisi D.
Produsen yang paling banyak iklan obat tanpa resepnya di stasiun televisi
A adalah Konimex, Medifarma di stasiun televisi B, Mecosin dan Tempo Scan
Pasific di stasiun C, dan Dankos di stasiun televisi D. Produsen obat mempunyai
penilaian dan alasan tersendiri mengapa lebih memilih stasiun televisi tertentu
untuk mengiklankan produknya, dan yang paling banyak mengiklankan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
47
produknya tentu yang dinilai paling tepat untuk menjadi media iklan produk
mereka.
Hasil keseluruhan pada keempat stasiun televisi memperlihatkan
produsen-produsen obat tanpa resep yang frekuensi penayangan iklannya di atas
10% meliputi Medifarma, Konimex, dan Dankos, sedangkan yang lainnya di
bawah 10% Hal ini menunjukkan bahwa Medifarma, Konimex, dan Dankos
adalah produsen-produsen obat tanpa resep dalam negeri yang paling banyak
mengiklankan produknya di televisi. Dan hal tersebut terjadi, karena pangsa pasar
untuk produk obat tanpa resep dikuasai oleh produsen pabrik dalam negeri
terutama untuk pasar yang hak patennya tidak ada lagi (Herdiawan, Wicaksono,
Ratnasari, Febryanto, dan Darmawan, 2005). Semakin sering iklan ditayangkan
semakin sering pula seseorang melihat iklan tersebut dan dampak dari iklan
tersebut juga semakin kuat, dengan demikian
tingkat konsumsi masyarakat
terhadap obat-obat produksi Medifarma tentunya diharapkan lebih tinggi
dibandingkan obat tanpa resep lain dalam penelitian ini.
Tabel VIII. Distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anakanak pada keempat stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006) berdasarkan Produsen obat
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Produsen
Bayer Indonesia Tbk, PT
Dankos Laboratories Tbk, PT
Darya Varia Laboratoria Tbk, PT
Henson Farma, PT
Kalbe Farma, PT
Konimex Pharm. Laboratories, PT
Mecosin Indonesia, PT
Medifarma Laboratories, PT
Sanbe Farma, PT
Sterling Products Indonesia, PT
Tempo Scan Pacific Tbk, PT (Bode)
Total
Σ Frekuensi
Persentase (%)
1
6
2
3
1
7
4
11
1
2
4
42
2.4
14.3
4.8
7.1
2.4
16.7
9.5
26.2
2.4
4.8
9.5
100.0
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
48
C. Evaluasi Kerasionalan Kelengkapan Informasi Iklan Obat Tanpa Resep
Salah satu komponen kebutuhan utama dalam memilih obat adalah
informasi. Informasi tersebut biasanya berasal dari industri farmasi, yang bersifat
komersiil dalam bentuk iklan (Suryawati, 2003). Waktu yang singkat dan biaya
yang tinggi
tidak memberikan kesempatan pada sebuah iklan untuk dapat
menampilkan informasi yang cukup mengenai obat tersebut (Zahir, 1996).
Pendeknya durasi tayang dari iklan tersebut membuat informasi yang diperlukan
dalam pemilihan obat tanpa resep seringkali sulit ditangkap oleh konsumen
pengguna obat. Untuk itu perlu ketrampilan dan pengetahuan dari konsumen
dalam memilih obat dan menganalisis secara kritis informasi obat yang
ditayangkan, sehingga tidak terjadi penggunaan obat secara keliru.
Evaluasi kerasionalan kelengkapan informasi iklan obat tanpa resep
dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan
kriteria iklan WHO (1988) dan
Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994. Iklan obat tanpa resep dinilai
rasional bila terdapat semua informasi yang harus dicantumkan, dan tidak rasional
bila ada salah satu informasi yang tidak dicantumkan.
Menurut kriteria etik promosi obat – WHO (1988), iklan obat yang
ditujukan kepada masyarakat awam harus mencantumkan informasi zat aktif,
nama dagang, indikasi, peringatan-perhatian, kontraindikasi, serta nama dan
alamat industri farmasi. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.386 tahun
1994, iklan obat di media televisi harus mencantumkan informasi indikasi,
informasi keamanan obat, nama dagang, dan nama industri farmasi. Dijabarkan
lebih lanjut bahwa informasi obat harus lengkap, yaitu harus mencantumkan tidak
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
49
hanya informasi tentang khasiat obat, tetapi juga memberikan informasi tentang
hal-hal yang harus diperhatikan, misalnya adanya kontraindikasi dan efek
samping. Iklan obat juga harus mencantumkan spot peringatan perhatian (BACA
ATURAN PAKAI. JIKA SAKIT BERLANJUT, HUBUNGI DOKTER).
Dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.386 tahun 1994, salah satunya
hanya disebutkan bahwa iklan obat harus mencantumkan informasi keamanan
obat. Tidak terdapat definisi yang jelas mengenai klasifikasi informasi yang harus
dicantumkan sebagai informasi keamanan obat. Pada umumnya, informasi
keamanan obat meliputi peringatan-perhatian, kontraindikasi, dan efek samping.
Dalam penelitian ini, informasi keamanan obat diasumsikan hanya meliputi
peringatan-perhatian dan efek samping. Iklan obat tanpa resep dalam penelitian ini
sudah dinilai rasional meskipun tidak mencantumkan kontraindikasi, dengan
pertimbangan biaya iklan yang tinggi sehingga membuat durasi tayang iklan obat
di televisi menjadi relatif singkat sehingga kurang memungkinkan untuk dapat
mencantumkan semua informasi. Selain itu informasi yang penting mengenai
keamanan obat sudah diwakili dengan spot peringatan perhatian (BACA
ATURAN PAKAI. JIKA SAKIT BERLANJUT, HUBUNGI DOKTER). Dengan
demikian, iklan obat tanpa resep dinilai rasional menurut Keputusan Menteri
Kesehatan No.386 tahun 1994 bila mencantumkan indikasi, peringatan-perhatian,
efek samping, nama dagang, dan nama industri farmasi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
50
Tabel IX. Evaluasi kerasionalan kelengkapan informasi iklan obat tanpa resep pada
tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu
(periode Juli 2006
Kerasionalan
Kep.Men.Kes
No.
Jenis Obat
Kelengkapan Informasi Iklan
WHO (1988)
No.386
(1994)
nama dagang, indikasi, peringatan1. Anakonidin
rasional
perhatian, nama industri farmasi, tidak rasional
efek samping
nama dagang, indikasi, peringatan2. Biogesic Anak
tidak rasional
tidak rasional
perhatian, nama industri farmasi
zat aktif, nama dagang, indikasi,
3. Bodrex Migra
tidak rasional
peringatan-perhatian, nama industri tidak rasional
farmasi
zat aktif, nama dagang, indikasi,
4. Canesten
tidak rasional
peringatan-perhatian, nama industri tidak rasional
farmasi
zat aktif, nama dagang, indikasi,
5. Laserin
peringatan-perhatian, nama industri tidak rasional
tidak rasional
farmasi
zat aktif, nama dagang, indikasi,
Mixagrip Flu &
6.
tidak rasional
peringatan-perhatian, nama industri tidak rasional
Batuk
farmasi
nama dagang, indikasi, peringatan7. Neo Entrostop
tidak rasional
tidak rasional
perhatian, nama industri farmasi
nama dagang, indikasi, peringatan8. Neo Napacin
tidak rasional
tidak rasional
perhatian, nama industri farmasi
zat aktif, nama dagang, indikasi,
9. Neosanmag Fast peringatan-perhatian, nama industri tidak rasional
tidak rasional
farmasi
zat aktif, nama dagang, indikasi,
10. Neo Ultracap
peringatan-perhatian, nama industri tidak rasional
tidak rasional
farmasi
nama dagang, indikasi, peringatan11. Neo Ultrasiline
tidak rasional
tidak rasional
perhatian
nama dagang, indikasi, peringatan12. Panadol Extra
tidak rasional
tidak rasional
perhatian
nama dagang, indikasi, peringatan13. Ultraflu
tidak rasional
tidak rasional
perhatian, nama industri farmasi
Vicks Formula
nama dagang, indikasi, peringatan14
tidak rasional
tidak rasional
44
perhatian, nama industri farmasi
Secara keseluruhan, informasi-informasi yang harus dicantumkan dalam
iklan obat tanpa resep berdasarkan kriteria iklan WHO (1988) dan Keputusan
Menteri Kesehatan No.386 tahun 1994 terdiri dari komposisi zat aktif, nama
dagang, indikasi, kontraindikasi, peringatan-perhatian, nama industri farmasi dan
alamatnya, serta efek samping obat. Semua informasi-informasi tersebut sangat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
51
dibutuhkan masyarakat pengguna obat tanpa resep, agar dapat melakukan
pengobatan sendiri yang aman dan efektif atau pengobatan yang rasional.
Zat aktif adalah komponen obat yang mempunyai efek farmakologis atau
mempunyai khasiat pengobatan. Sebuah obat tanpa resep dapat memiliki satu atau
lebih zat aktif. Informasi komposisi zat aktif perlu dicantumkan dalam iklan obat
tanpa resep agar masyarakat bisa membandingkan antara klaim indikasi yang
disampaikan oleh iklan dengan indikasi yang sebenarnya dari zat aktif yang
terkandung dalam obat tersebut. Hampir semua iklan yang ada di televisi, tidak
pernah menampilkan isi bahan berkhasiatnya, sehingga masyarakat kehilangan
informasi penting, yaitu mengenai jenis obat yang diperlukan untuk mengobati
penyakitnya (Sudarwanto, 1996). Padahal, apa yang disampaikan dalam iklan
sangat berperan dalam pemilihan penggunaan obat tanpa resep di kalangan
masyarakat (Zahir, 1996). Menyadari begitu pentingnya informasi zat aktif bagi
konsumen, sangat disayangkan apabila Keputusan Menteri Kesehatan No.386
tahun 1994 hanya mewajibkan pencantuman informasi zat aktif obat pada iklan di
media cetak saja. Dari 14 jenis obat tanpa resep yang dievaluasi kerasionalan
kelengkapan iklannya, Bodrex Migra®, Neo Ultracap®, Neosanmag Fast®,
Laserin®, Mixagrip Flu & Batuk®, dan Canesten®, sudah mencantumkan
informasi zat aktif dalam iklannya di media televisi .
Nama dagang perlu dicantumkan dalam iklan obat tanpa resep, agar
konsumen dapat mengingat dengan baik produk obat tanpa resep yang diiklankan.
Beberapa jenis obat dapat mempunyai komposisi zat aktif yang sama, karena itu
lebih mudah bagi masyarakat untuk mengingat nama dagang daripada mengingat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
52
nama obat yang dikandungnya apalagi bila dalam sebuah obat tanpa resep
terkandung beberapa macam obat sekaligus. Nama dagang sebuah obat tanpa
resep biasanya langsung dapat mengingatkan konsumen tentang indikasi atau
khasiat obat, oleh sebab itu banyak masyarakat yang membeli obat tanpa resep
hanya berdasarkan nama dagang (merek) obatnya saja. Semua iklan obat tanpa
resep dalam penelitian ini mencantumkan informasi nama dagang.
Indikasi atau petunjuk kegunaan obat secara spesifik dalam pengobatan
penyakit merupakan informasi yang selalu dicantumkan dalam iklan obat tanpa
resep. Indikasi obat perlu dicantumkan dalam iklan karena agar konsumen dapat
memilih obat yang tepat untuk mengobati penyakitnya. Pemilihan obat yang tepat
sangat penting, karena obat sebenarnya adalah racun, sehingga penggunaan obat
yang tidak sesuai dengan indikasinya, akan membuat penyakitnya tidak sembuh
dan malah bisa menimbulkan keracunan bagi pengguna obat tersebut. Seringkali
kita temui dimasyarakat adanya penggunaan obat di luar indikasinya seperti
penggunaan yang salah maupun penyalahgunaan obat. Padahal perilaku seperti itu
dapat membahayakan kesehatan mereka sendiri. Sebagai contoh adalah
menggunakan obat antihistamin yang efek sampingnya dapat meningkatkan nafsu
makan untuk menambah berat badannya.
Kontraindikasi merupakan peringatan pada orang tertentu yang tidak
bolah menggunakan obat tersebut (Sudarwanto, 1996). Kontraindikasi juga
penting disampaikan dalam iklan obat tanpa resep, karena kondisi tiap orang
berbeda-beda. Pengobatan dengan obat tertentu yang cocok untuk seseorang
belum tentu cocok juga untuk orang lain dan bila hal tersebut dilanggar maka akan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
53
bisa memperparah kondisi penyakitnya atau timbul komplikasi dengan penyakit
lain yang dideritanya. Sebagai contoh adalah penggunaan obat tanpa resep yang
mengandung asetosal pada seseorang yang memiliki gangguan maag maka akan
memperparah kondisi kondisi penyakitnya. Dalam penelitian ini, tidak terdapat
iklan obat tanpa resep yang mencantumkan informasi kontraindikasi. Durasi
tayang iklan obat tanpa resep di televisi yang begitu singkat menjadi faktor
penyebab sulitnya menginformasikan kontraindikasi. Faktor lain yang mungkin
menyebabkan tidak dicantumkannya kontraindikasi adalah adanya kekhawatiran
produsen akan munculnya ketakutan masyarakat secara berlebihan untuk
mengkonsumsi suatu obat tanpa resep bila mengetahui kontraindikasinya lebih
dulu. Selain itu juga karena sebenarnya informasi kontra indikasi yang merupakan
informasi keamanan obat sudah diwakili dengan adanya tulisan ( BACA
ATURAN PAKAI ) yang menginformasikan agar konsumen membaca terlebih
dahulu aturan pakai di kemasan obat sekaligus mengetahui kontra indikasi dari
obat tersebut. Bagaimanapun juga kontraindikasi perlu disampaikan dalam iklan,
dan informasi sebaiknya diberikan dalam bentuk yang ringkas dan dengan istilah
bahasa yang sederhana sehingga dapat dimengerti oleh masyarakat awam.
Iklan obat harus mencantumkan spot peringatan perhatian (BACA
ATURAN PAKAI. JIKA SAKIT BERLANJUT, HUBUNGI DOKTER), dan
ditayangkan minimal tiga detik untuk iklan media televisi. Semua iklan obat tanpa
resep dalam penelitian ini sudah mencantumkan spot peringatan perhatian pada
akhir penayangan iklan. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa berdasarkan
pengamatan penulis penayangan spot peringatan perhatian iklan obat tanpa resep
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
54
di media televisi rata-rata kurang dari tiga detik, sehingga hampir tidak dapat
teramati oleh pemirsa. Peringatan- perhatian perlu disampaikan dalam sebuah
iklan obat tanpa resep untuk memberi petunjuk kepada konsumen agar sebelum
mengkonsumsi obat mereka harus membaca dulu aturan pakai yang tertera pada
kemasan obatnya. Peringatan-perhatian juga mengingatkan konsumen bahwa
apabila setelah pemakaian obat tanpa resep dalam kurun waktu tertentu tidak
terjadi perubahan kondisi tubuh (penurunan gejala-gejala sakit) seperti yang
diharapkan, maka konsumen pemakai obat harus segera pergi ke dokter untuk
mendapatkan diagnosa dan peresepan yang tepat sesuai penyakit yang dideritanya.
Pencantuman peringatan-perhatian berkaitan erat dengan perilaku
membaca aturan pakai pada kemasan obat, sebuah perilaku yang sangat
menentukan keberhasilan terapi. Aturan pakai memberikan informasi mengenai
dosis dan cara pemakaian. Setiap obat mempunyai dosis dan cara pemakaian yang
berbeda untuk mencapai efek terapi. Suatu obat yang digunakan pada dosis yang
lebih besar dari seharusnya (berlebihan) dapat mengakibatkan keracunan bagi
penggunanya, sedangkan obat yang digunakan pada dosis lebih kecil dari yang
diperlukan menyebabkan penyakit yang diderita menjadi tidak sembuh dan dapat
menimbulkan resistensi terhadap obat yang digunakan, Hal seperti ini harus
mendapatkan perhatian penting dari konsumen, terutama bila pemakaiannya untuk
anak-anak, maka tata cara aturan pakainya harus benar-benar diperhatikan. Cara
pemakaian obat juga berbeda-beda, misalnya ada obat-obat yang harus ditelan
(tablet, kapsul) dan ada pula obat tetes yang pemakaiannya diteteskan pada mata,
hidung, atau telinga.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
55
Nama industri farmasi (produsen atau distributor) dan alamatnya juga
informasi yang penting untuk dicantumkan dalam iklan obat tanpa resep karena
industri farmasi adalah pihak yang bertanggung jawab atas kualitas kerja sebuah
obat. Dalam penelitian ini, semua iklan obat tanpa resep tidak mencantumkan
alamat industri farmasi, tetapi sebagian besar mencantumkan nama industri
farmasi kecuali iklan Panadol Extra®, dan Neo Ultrasiline®.
Informasi lain yang penting untuk dicantumkan dalam iklan obat tanpa
resep adalah efek samping yaitu efek-efek yang tidak diinginkan yang dapat
muncul seiring dengan penggunaan obat. Efek samping obat merupakan salah satu
faktor yang harus diperhatikan dalam upaya mewujudkan pengobatan yang
rasional. Hampir semua obat memiliki efek samping seperti mual, muntah, diare,
mengantuk, dan sebagainya. Obat-obat tanpa resep dengan zat aktif para amino
fenol misalnya mempunyai efek samping antara lain menyebabkan kerusakan sel
darah, kerusakan hati dan ginjal. Pengguna dalam memilih obat tanpa resep
seharusnya mencermati efek samping yang dapat muncul sehingga dapat memilih
obat yang mempunyai rasio manfaat lebih besar daripada efek sampingnya. Iklan
obat tanpa resep dalam penelitian ini yang sudah menginformasikan efek samping
hanya iklan Anakonidin®. Iklan tersebut hanya memberikan informasi efek
samping tentang menyebabkan atau tidak menyebabkan kantuk. Obat-obat tanpa
resep yang mengandung antihistamin memang dapat menyebabkan mengantuk,
tetapi ada juga beberapa antihistamin yang tidak menimbulkan efek samping
mengantuk. Informasi tentang menyebabkan atau tidak menyebabkan kantuk perlu
disampaikan dalam iklan obat yang mengandung antihistamin, karena berbahaya
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
56
jika seseorang yang meminum obat dengan kandungan antihistamin yang dapat
menyebabkan kantuk melakukan aktivitas yang berisiko tinggi seperti
mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin produksi. Tetapi pada
beberapa obat, efek samping ada yang memang disengaja, misalnya pada obat flu
untuk anak biasanya disertakan antihistamin, yang selain untuk pengobatan juga
dimanfaatkan efek sampingnya untuk membuat anak-anak istirahat dengan
tenang.
Tabel X. Persentase kelengkapan informasi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara
untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli
2006)
Ada
Tidak ada
Total
No.
Informasi Iklan
ΣF
%
ΣF
%
ΣF
%
1
Zat aktif
6
42.9
8
57.1
14
100.0
2
Nama dagang
14
100.0
0
0.0
14
100.0
3
Indikasi
14
100.0
0
0.0
14
100.0
4
Kontraindikasi
0
0.0
14
100.0
14
100.0
5
Peringatan-perhatian
14
100.0
0
0.0
14
100.0
6
Nama industri farmasi
12
85.7
2
14.3
14
100.0
7
Alamat industri farmasi
0
0.0
14
100.0
14
100.0
8
Efek samping
1
7.1
13
92.9
14
100.0
Berdasarkan tabel tersebut, dari 14 jenis obat tanpa resep yang diiklankan,
hanya 6 jenis obat menayangkan informasi zat aktif, tidak satu jenis obat pun yang
menginformasikan kontraindikasi dan alamat industri farmasi, 14 jenis obat
menampilkan informasi peringatan-perhatian, 12 jenis obat menginformasikan
nama industri farmasi, dan 1 jenis obat menayangkan informasi efek samping
obat. Informasi nama dagang dan indikasi juga tercantum pada 14 jenis obat.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa informasi zat aktif, kontraindikasi, alamat
industri farmasi, dan efek samping obat, perlu ditingkatkan lagi penayangannya
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
57
Kriteria penilaian iklan obat tanpa resep idealnya mengacu pada aturan
WHO karena sudah ada pembagian kriteria berdasarkan target iklan, dan
klasifikasi informasi yang harus dicantumkan dalam iklan juga jelas. Hasil
evaluasi kerasionalan kelengkapan iklan dari Tabel XI menunjukkan bahwa iklan
obat tanpa resep di televisi yang beredar saat ini, semuanya tidak rasional
berdasarkan kriteria iklan WHO (1988), tetapi 1 jenis obat dari 14 jenis obat tanpa
resep yang dievaluasi rasional menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.386
tahun 1994
Tabel XI. Persentase kerasionalan kelengkapan iklan obat tanpa resep pada tayangan
acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu
(periode Juli 2006)
Rasional
Tidak Rasional
Total
No. Kriteria Iklan
Persentase
Persentase
Persentase
Jumlah
Jumlah
Jumlah
(%)
(%)
(%)
1. WHO (1988)
0
0,0
14
100,0
14
100,0
Keputusan
Menteri
2. Kesehatan
1
7,1
13
92,9
14
100,0
No.386 tahun
1994
Pada
umumnya
iklan-iklan
obat
tanpa
resep
yang
ada
hanya
mencantumkan nama dagang, indikasi, peringatan-perhatian, dan nama industri
farmasi (produsen atau distributor). Hal ini menunjukkan iklan-iklan obat tanpa
resep yang ditayangkan di televisi semata, tidaklah cukup untuk dijadikan acuan
informasi agar dapat melakukan pengobatan sendiri dengan obat tanpa resep
secara aman dan efektif. Informasi iklan harus disertai dengan penelusuran ke
kemasan obat, karena informasi yang terdapat pada kemasan obat tidak semuanya
ditampilkan dalam iklan, seperti halnya informasi tentang kontraindikasi yang
tidak dicantumkan dalam semua iklan obat tanpa resep pada penelitian ini.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
58
Membaca informasi yang terdapat pada label kemasan obat sebelum
menggunakan obat sangat diperlukan supaya tidak terjadi kesalahan dalam
penggunaan obat. Kenyataan yang sering terjadi, beberapa masyarakat membeli
obat tanpa resep tanpa disertai kemasannya karena berdasarkan pengalamannya
cukup satu kali saja mengkonsumsi obat sudah merasa sembuh. Budaya membaca
masyarakat kita juga masih sangat kurang, sehingga kadang mereka tidak
membaca informasi penting yang tercantum dalam kemasan obat yang dibelinya
Secara keseluruhan dapat dikatakan iklan-iklan obat tanpa resep yang
ditayangkan di media televisi sekarang ini belum memberikan informasi yang
memadai untuk masyarakat pengguna obat. Berkaitan dengan kondisi tersebut,
perlu dilakukan tindakan tertentu terhadap ketidaklengkapan informasi yang
seharusnya dicantumkan dalam iklan obat di media televisi. Tindakan ini dapat
berupa campur tangan dari pihak pemerintah untuk selalu meninjau secara berkala
iklan yang dibuat, sehingga iklan obat tanpa resep yang ditayangkan di televisi
diharapkan sungguh-sungguh berisi informasi yang ideal. Hal ini dilakukan agar
masyarakat luas dapat menggunakan iklan sebagai sarana bantuan dalam
pemilihan obat tanpa merasa khawatir tersesatkan oleh iklan, juga supaya tidak
terjadi kesalahan dalam penggunaan obat tanpa resep di kalangan masyarakat
karena tidak semua konsumen memiliki pengetahuan yang cukup tentang obatobatan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
59
D. Evaluasi Kerasionalan Klaim Indikasi Iklan Obat Tanpa Resep
Informasi mengenai indikasi suatu obat tanpa resep harus sesuai dengan
indikasi zat aktif yang terkandung dalam obat tersebut. Hal tersebut biasanya
disampaikan oleh iklan obat tanpa resep di televisi dalam lisan atau tulisan,
bahkan ada yang menyampaikan dengan menjabarkan gejala penyakit yang bisa
diobati dengan obat tersebut. Informasi indikasi berpengaruh besar bagi pemilihan
suatu obat bagi masyarakat pengguna obat. Hal ini membuat produsen-produsen
dan pembuat iklan berusaha menyampaikan informasi mengenai indikasi suatu
obat dengan cara semenarik mungkin, bahkan kadang tidak sesuai dengan indikasi
yang sebenarnya dari zat aktif yang terkandung dalam obat tersebut. Pada
penelitian ini, klaim indikasi iklan obat tanpa resep yang diperoleh dievaluasi
kerasionalannya berdasarkan mekanisme kerja zat aktif dan berdasarkan
Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994.
Indikasi iklan obat pereda sakit dan penurun panas menurut Keputusan
Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994 hanya boleh menyatakan “untuk
meringankan rasa sakit misalnya : sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot, dan atau
menurunkan panas “Sesuai aturan tersebut juga berdasarkan mekanisme kerja zat
aktifnya, iklan obat analgesik (sakit kepala, demam) tanpa resep yang meliputi
Biogesic Anak®, Panadol Extra®, dan Bodrex Migra®dinilai rasional (Tabel XII).
Beberapa obat analgesik (sakit kepala, demam) tanpa resep mengandung
kofein meskipun bukan merupakan obat pereda nyeri, biasanya digunakan dalam
campuran obat analgesik untuk sakit kepala seperti migrain. Pada perbadingan
yang tepat dengan parasetamol, kofein dapat memperkuat daya kerja parasetamol
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
60
dalam meredakan rasa sakit. Hasil evaluasi menunjukkan hampir semua klaim
indikasi iklan obat analgesik tanpa resep di televisi sudah menyampaikan indikasi
secara tidak berlebihan dan tidak menyesatkan, sehingga konsumen dapat memilih
dan menggunakan obat tanpa resep kelompok ini dengan aman dan efektif.
Tabel XII.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat analgesik (sakit kepala,demam)
tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006)
Klaim Indikasi dan
No.
Jenis Obat dan Mekanisme Kerja Zat Aktif
Kerasionalan
1. Biogesic Anak, tiap 5 ml:
efektif
meredakan
parasetamol (160 mg) sebagai analgesik-antipiretik mampu demam anak (9)
menurunkan demam melalui kerjanya pada pusat pengatur suhu
di hipotalamus
2.
Panadol Extra:
Panadol Extra:
parasetamol (sama 500 mg) bekerja sebagai analgesik yaitu efektif untuk sakit kepala
meredakan nyeri ringan sampai sedang (seperti sakit kepala) tak tertahankan (9)
dengan menghambat produksi senyawa penyebab nyeri dan
meningkatkan ambang rasa nyeri, kofein (50 mg, 35 mg, 65
mg) sebagai stimulan susunan saraf pusat mampu
meningkatkan kemampuan psikis dan dapat memperkuat
keefektifan absorpsi dan daya analgesik parasetamol
3. Bodrex Migra:
Bodrex Migra:
parasetamol (350 mg, 250 mg) dan propifenazon (sama 150 untuk
sakit
kepala
mg) bekerjasama menguatkan efek analgesik yaitu meredakan sebelah (9)
nyeri dengan menghambat produksi senyawa penyebab nyeri
dan meningkatkan ambang rasa nyeri, kofein (sama 50 mg)
sebagai stimulan susunan saraf pusat mampu meningkatkan
kemampuan psikis dan dapat memperkuat keefektifan absorpsi
dan daya analgesik parasetamol
Keterangan: 9= rasional, x= tidak rasional
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994, indikasi
iklan multivitamin dan mineral hanya dibolehkan “untuk pencegahan dan
mengatasi kekurangan vitamin dan mineral, misalnya sesudah operasi, sakit,
wanita hamil dan menyusui, anak dalam masa pertumbuhan, serta lansia”. Aturan
indikasi iklan vitamin C adalah “untuk mengatasi kekurangan vitamin C seperti
pada sariawan dan perdarahan gusi ; dan untuk keadaan saat kebutuhan akan
vitamin C meningkat seperti pada keadaan sesudah operasi, sakit, hamil dan
menyusui, anak dalam masa pertumbuhan, serta lansia “. Vitamin dan mineral
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
61
yang diperlukan untuk mempertahankan fungsi metabolisme tubuh yang normal
sebenarnya tersedia cukup banyak dalam makanan sehari-hari yang komposisinya
baik, tidak dapat digunakan sebagai pengganti makanan, dan bukan merupakan
sumber energi atau pemelihara kebugaran.
Tabel XIII.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat gizi dan darah tanpa resep
pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D selama
dua minggu (periode Juli 2006)
Klaim Indikasi
No.
Jenis Obat dan Mekanisme Kerja Zat Aktif
dan Kerasionalan
1. Neo Ultracap:
mengatasi
letih,
vitamin B1(100 mg), vitamin B6 (100 mg), vitamin B12 (200 mcg) lesu, capek, pegalmempertahankan kesehatan sistem susunan saraf dengan kerja khusus pegal (x)
lain vitamin B1 membantu melepaskan energi dari makanan, vitamin
B6 membantu melepaskan energi dari makanan dan membantu
pembentukan sel darah merah, vitamin B12 membantu pembentukan
sel darah merah; kofein (50 mg) bekerja meningkatkan kemampuan
psikis dengan merangsang kerja susunan saraf pusat
Keterangan: 9= rasional, x= tidak rasional
Neo Ultracap® yang terdiri dari multivitamin dan mineral tidak rasional
klaim indikasi iklannya, (lihat Tabel XIII). Klaim indikasi iklan obat gizi dan darah
tanpa resep dalam penelitian ini dinilai tidak rasional karena tidak menyatakan
bahwa vitamin dan mineral tambahan (selain dari makanan yang dikonsumsi
sehari-hari) hanya digunakan pada saat kebutuhan vitamin dan mineral tubuh
meningkat
(kondisi
defisiensi
spesifik),
dan
hanya
bersifat
membantu
mempertahankan fungsi metabolisme tubuh yang normal saja. Apabila kebutuhan
vitamin dan mineral tubuh sudah terpenuhi dengan makan makanan bergizi
seimbang, maka tambahan vitamin dan mineral yang bukan berasal dari makanan
sudah tidak diperlukan lagi. Bagaimanapun juga konsumsi berlebihan vitamin dan
mineral dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi tubuh pemakai,
terutama yang sulit dikeluarkan dari dalam tubuh.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
62
Hasil evaluasi ini menunjukkan iklan obat gizi dan darah tanpa resep
dalam penelitian ini masih memberikan indikasi berlebihan yang dapat
menyesatkan, sehingga seharusnya tidak dipercaya begitu saja oleh masyarakat
pengguna obat.
Tabel XIV. Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran cerna (diare) tanpa
resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006)
Klaim Indikasi dan
No.
Jenis Obat dan Mekanisme Kerja Zat Aktif
Kerasionalan
1. Neo Entrostop:
untuk diare yang tak bisa
atapulgit (650 mg) dan pektin (50 mg) mengatasi diare melalui berhenti (9)
kerja atapulgit sebagai adsorben yaitu menyerap bakteri, toksin,
dan gas; juga kerja pektin mengeliminasi bakteri toksin
Keterangan: 9= rasional, x= tidak rasional
Dari Tabel XIV diketahui klaim indikasi iklan Neo Entrostop® dinilai
rasional karena indikasi yang disebutkan sesuai dan tidak berlebihan dengan
mekanisme kerja zat aktif. Tidak terdapat batasan indikasi untuk obat diare dalam
Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994.
Tabel XV. Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran cerna (maag) tanpa
resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006)
Klaim Indikasi dan
No.
Jenis Obat dan Mekanisme Kerja Zat Aktif
Kerasionalan
1. Neosanmag Fast:
obat maag: menetralkan
famotidin (10 mg) sebagai antitukak mengatasi tukak lambung asam
lambung
dan
dengan mengurangi sekresi asam lambung melalui kerja mengurangi
asam
sebagai antagonis reseptor H2, kalsium karbonat (800 mg) dan lambung (9)
magnesium hidroksida (165 mg) sebagai antasida bekerjasama
menetralkan asam lambung berlebih dengan melapisi selaput
lendir lambung
Keterangan: 9= rasional, x= tidak rasional
Antasida dalam iklan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 386
tahun 1994 hanya diindikasikan “untuk mengatasi gejala sakit maag seperti :
perih, kembung, mual”. Klaim indikasi iklan Neosanmag Fast® sebagai obat
mempunyai kandungan antasida dinilai rasional ditinjau dari kedua kriteria yang
digunakan (lihat Tabel XV). Klaim indikasi iklan obat saluran cerna (diare maupun
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
63
maag) yang didapatkan dalam penelitian ini sudah dapat dipercaya dan dijadikan
acuan untuk pertimbangan pemilihan obat di kalangan masyarakat.
Tabel XVI.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran nafas (asma) tanpa
resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiuntelevisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006)
Klaim Indikasi dan
No.
Jenis Obat dan Mekanisme Kerja Zat Aktif
Kerasionalan
1. Neo Napacin:
Neo Napacin:
efedrin hidroklorida (12,5 mg, 25 mg) dan teofilin (125 mg, 130 untuk sesak nafas akibat
mg) sebagai antiasma bekerjasama meringankan dan mengatasi asma (9)
serangan asma bronkhial dengan merelaksasi otot polos pada
bronkhus (bekerja sebagai bronkhodilator)
Keterangan: 9= rasional, x= tidak rasional
Iklan Neo Napacin® dinyatakan rasional klaim indikasinya berdasarkan
mekanisme kerja zat aktif serta batasan indikasi obat asma dalam Keputusan
Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994 yang dinyatakan “untuk meringankan
gejala sesak nafas karena asma” (lihat Tabel XVI). Dengan demikian klaim indikasi
iklan obat saluran nafas (asma) tanpa resep di televisi dapat dipercaya oleh
konsumen pengguna obat karena tidak berlebihan dan tidak menyesatkan.
Iklan obat saluran nafas (batuk) tanpa resep dalam penelitian ini meliputi
iklan Laserin®, dan Vicks Formula 44®. Batasan indikasi yang boleh disampaikan
dalam iklan menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994 untuk
obat batuk antitusif yaitu “untuk meredakan batuk yang tidak berdahak”, obat
batuk ekspektoran “untuk meredakan batuk yang berdahak”, dan obat batuk
kombinasi antitusif-ekspektoran-antihistamin “untuk meredakan batuk berdahak
yang disertai pilek”. Ditinjau dari aturan tersebut juga sesuai dengan mekanisme
kerja zat aktif, iklan Laserin®, Vicks Formula 44® dinilai tidak rasional karena
klaim indikasi yang disajikan kurang lengkap dan tidak spesifik (lihat Tabel XVII).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
64
Tabel XVII. Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran nafas (batuk) tanpa
resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006)
Klaim Indikasi
No.
Jenis Obat dan Mekanisme Kerja Zat Aktif
dan Kerasionalan
1. Laserin, tiap 5 ml:
untuk batuk (x)
obat dari bahan alam yang meliputi herba Euphorbia hirta (0,15 g),
rhizoma Zingiber officinale (6 g), fruktus cardamom (0,15 g),
caryophyllum (0,6 g), folium Piper betle (1,8 g), folium Abrus
precatorius (0,3 g), folium Mentha arvensis (0,15 g), folium Hibiscus
rosa-sinensis (0,15 g), oleum Mentha piperita (0,015 ml), dan succus
liquiritiae (0,015 g); secara keseluruhan bekerja dengan efek
ekspektoran (efek yang paling dominan), antitusif, karminatif, dan
dekongestan yang bekerja mengatasi batuk berdahak dengan
merangsang pengeluaran dahak dari saluran nafas juga mengatasi
batuk tidak berdahak (kering) dengan menekan pusat batuk dan
menaikkan ambang rangsang batuk, sesuai juga untuk batuk yang
disertai masuk angin karena mempunyai efek karminatif, serta bekerja
melegakan obstruksi (penyumbatan) jalan nafas
2. Vicks Formula 44:
meredakan batuk
dekstrometorfan hidrobromida (5 mg) sebagai antitusif meredakan dan
membantu
batuk tidak berdahak (kering) dengan bekerja sentral pada susunan istirahat (x)
saraf pusat menekan pusat batuk dan menaikkan ambang rangsang
batuk, doksilamin suksinat (3 mg) sebagai antihistamin mengatasi
batuk karena alergi dengan meniadakan secara kompetitif kerja
histamin pada reseptornya disertai efek samping sedasi-hipnotik
ringan seperti menenangkan, menyebabkan dan mempermudah tidur
Keterangan: 9= rasional, x= tidak rasional
Indikasi obat batuk tanpa resep hendaknya disampaikan cukup spesifik
sehingga memudahkan konsumen dalam mengaitkannya dengan gejala sakit yang
dirasakan. Karena obat batuk yang berkhasiat ekspektoran sama sekali berbeda
mekanisme kerjanya dengan obat batuk yang berkhasiat antitusif untuk
menyembuhkan batuk. Merupakan tindakan yang tidak rasional jika misalnya
seseorang menderita batuk berdahak dan diberi obat batuk yang mengandung zat
antitusif yang berkhasiat menekan batuk karena hal itu justru bisa menghambat
pengeluaran dahak.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
65
Tabel XVIII. Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran nafas (batuk, pilek)
tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006)
Klaim Indikasi
No.
Jenis Obat dan Mekanisme Kerja Zat Aktif
dan Kerasionalan
1. Anakonidin:
meredakan batuk,
dekstrometorfan hidrobromida (5 mg) sebagai antitusif meredakan tenggorokan gatal,
batuk kering dengan bekerja sentral pada susunan saraf pusat menekan dan
hidung
pusat batuk dan menaikkan ambang rangsang batuk, gliseril guaiakolat tersumbat
pada
(25 mg) sebagai ekspektoran meredakan batuk berdahak dengan anak (x)
mengencerkan dahak sehingga mempermudah pengeluaran dahak dari
saluran nafas, pseudoefedrin hidroklorida (7,5 mg) sebagai
dekongestan hidung mengurangi hidung tersumbat dengan
menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah hidung, klorfeniramin
maleat (0,5 mg) sebagai antihistamin meredakan gejala-gejala alergi
(antara lain pada hidung, tenggorokan) seperti gatal tenggorokan
dengan menghambat interaksi histamin dan reseptor H1
Keterangan: 9= rasional, x= tidak rasional
Dari Tabel XVIII, untuk iklan obat-obat saluran nafas (batuk, pilek) tanpa
resep Iklan Anakonidin® dinilai tidak rasional karena kurang jelas indikasinya,
seharusnya menyatakan “untuk meredakan batuk berdahak yang disertai pilek”.
Sebaiknya Iklan Anakonidin® yang digunakan untuk anak-anak harus lebih jelas
lagi mengenai klaim indikasinya, karena obat untuk anak harus cukup
memberikan informasi mengenai obat tersebut, agar masyarakat tidak salah pilih
dalam memberikan obat untuk anaknya.
Keputusan Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994 mengatur indikasi
obat flu yaitu “untuk meredakan gejala flu seperti demam, sakit kepala, hidung
tersumbat, dan pilek”. Dari Tabel XIX klaim indikasi iklan obat saluran nafas (flu)
Ultraflu® dinilai rasional karena pernyataannya tidak berlebihan, dan tetap dinilai
rasional meskipun gejala-gejala flu yang dapat diredakan tidak disebutkan semua
(hanya sebagian) .
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
66
Tabel XIX. Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran nafas (flu) tanpa
resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006)
Klaim Indikasi dan
No.
Jenis Obat dan Mekanisme Kerja Zat Aktif
Kerasionalan
1. Ultraflu:
Ultraflu:
parasetamol (400 mg, 600 mg) sebagai analgesik-antipiretik meredakan flu (9)
meredakan nyeri ringan sampai sedang (misalnya sakit kepala)
dengan menghambat produksi senyawa penyebab nyeri dan
meningkatkan ambang rasa nyeri juga menurunkan demam
melalui kerjanya pada pusat pengatur suhu di hipotalamus,
fenilpropanolamin hidroklorida (12,5 mg, 15 mg) sebagai
dekongestan hidung mengurangi hidung tersumbat melalui
vasokonstriksi (penyempitan) pembuluh darah hidung,
klorfeniramin maleat (1mg, 2 mg) sebagai antihistamin
meredakan gejala-gejala alergi (misalnya pada hidung,
tenggorokan) seperti bersin dengan menghambat interaksi
histamin dan reseptor H1
Keterangan: 9= rasional, x= tidak rasiona
Tabel XX. Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran nafas (flu, batuk)
tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D
selama dua minggu (periode Juli 2006)
Klaim Indikasi
No.
Jenis Obat dan Mekanisme Kerja Zat Aktif
dan Kerasionalan
1. Mixagrip Flu & Batuk:
efektif redakan flu
parasetamol (500 mg) sebagai analgesik-antipiretik meredakan nyeri danbatuk sekaligus
ringan sampai sedang (misalnya sakit kepala) dengan menghambat (x)
produksi senyawa penyebab nyeri dan meningkatkan ambang rasa
nyeri juga menurunkan demam melalui kerjanya pada pusat pengatur
suhu di hipotalamus, dekstrometorfan hidrobromida (10 mg) sebagai
antitusif meredakan batuk dengan menekan pusat batuk dan
menaikkan ambang rangsang batuk, pseudoefedrin hidroklorida
sebagai dekongestan hidung (30 mg) mengurangi hidung tersumbat
dengan menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah hidung
Keterangan: 9= rasional, x= tidak rasional
Iklan-iklan obat saluran nafas (flu, batuk) tanpa resep yaitu Mixagrip Flu
& Batuk® dinilai tidak rasional klaim indikasinya (lihat Tabel XX). Hal ini
disebabkan klaim indikasi iklan tidak menyebutkan dengan jelas jenis batuk yang
bisa diredakan dengan obat yang diiklankan, padahal obat-obat tanpa resep
kelompok ini mengandung obat batuk yang berbeda yaitu ada yang ekspektoran
(pengencer dahak), dan ada yang antitusif (penekan batuk). Tidak jelasnya klaim
indikasi iklan tentang jenis batuk sangat merugikan pemirsa pengguna obat,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
67
karena dapat terjadi kesalahan dalam penggunaan yang mengakibatkan kegagalan
pengobatan, padahal sudah mengeluarkan biaya.
Indikasi obat kulit (topikal) menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.
386 tahun 1994 adalah “untuk mengatasi infeksi karena jamur “.
Tabel XXI. Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat topikal kulit (infeksi jamur)
tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C,
D selama dua minggu (periode Juli 2006)
No.
Jenis Obat dan Mekanisme Kerja Zat Aktif
Klaim Indikasi dan Kerasionalan
1. Canesten, Neo Ultrasiline:
Canesten:
klotrimazol 1% b/b sebagai obat antijamur dengan atasi gatal jamur, cabut jamur
efek fungisida (membunuh jamur) bekerja mengatasi sampai ke akar (x)
infeksi jamur pada kulit (misalnya panu, kadas, Neo Ultrasiline:
kurap, jamur pada sela-sela jari kaki) dengan efektif untuk panu dan kutu air (9)
menghambat sintesis ergosterol (yang menyebabkan
permeabilitas sel jamur meningkat), atau dengan
menghancurkan dinding sel jamur tersebut
Keterangan: 9= rasional, x= tidak rasional
Dari Tabel XXI dapat dilihat Neo Ultrasiline® merupakan iklan obat-obat
topikal kulit (infeksi jamur) tanpa resep yang dinilai rasional klaim indikasinya.
Iklan Canesten® dinilai tidak rasional klaim indikasinya karena menyatakan
“cabut jamur sampai ke akar” yang tidak sesuai dengan mekanisme kerja
klotrimazol yaitu menghancurkan kulit sel jamur. Klaim indikasi Canesten® yang
berlebihan dan cenderung mengelabui pemirsa tentunya sangat merugikan
masyarakat .
Pernyataan sebuah obat tanpa resep ditujukan untuk anak-anak dalam
klaim indikasi iklan pada umumnya memang benar sesuai diindikasikan untuk
anak-anak. Hal ini terjadi karena sebelum dipasarkan obat-obat tanpa resep
tentunya sudah mengalami evaluasi dan pengujian oleh badan yang berwenang
termasuk tentang kesesuaian dosisnya. Iklan obat tanpa resep untuk anak pada
penelitian ini seperti Biogesic Anak® mengandung parasetamol 160 mg telah
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
68
cukup memenuhi dosis untuk anak-anak yaitu
200 mg, sedangkan untuk
Anakonidin® yang klaim indikasi adalah untuk batuk pilek ternyata dari
kandungannya kurang sesuai dengan indikasinya, dikarenakan biasanya batuk
disertai pilek lebih cocok menggunakan ekspektoran, tetapi didalam Anakonidin®
juga terkandung obat yang berkhasiat antitusif yang menekan reflek batuk yang
kerjanya berlawanan dengan ekspektoran yang gunanya untuk mengeluarkan
dahak.
Penyampaian indikasi secara umum (tidak spesifik) atau secara
berlebihan (tidak sesuai dengan indikasi obat yang sebenarnya berdasarkan
mekanisme kerja obat), semuanya itu dapat menyebabkan kegagalan terapi. Iklan
obat tanpa resep di televisi yang klaim indikasinya dinilai rasional sudah mampu
membantu masyarakat dalam proses pemilihan obat, sedangkan yang tidak
rasional harus diperbaiki klaim indikasi iklannya agar tidak merugikan
masyarakat.
Persentase kerasionalan klaim indikasi iklan obat tanpa resep
berdasarkan mekanisme kerja zat aktif dan batasan indikasi dalam Keputusan
Menteri Kesehatan No. 386 tahun 1994 dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel XXII. Persentase kerasionalan klaim indikasi iklan obat tanpa resep pada tayangan
acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D selama dua
minggu(periode Juli 2006)
No.
Kerasionalan klaim indikasi
Jumlah
Persentase (%)
1. Rasional
8
57,1%
2. Tidak rasional
6
42,9%
Total
14
100,0%
Data pada tabel menunjukkan bahwa secara keseluruhan lebih banyak
iklan yang klaim indikasinya rasional daripada yang tidak rasional, meskipun
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
69
persentase yang tidak rasional memang masih cukup banyak. Kondisi ini jelas
sangat merugikan masyarakat sebagai pemirsa iklan apalagi mereka yang
menjadikan indikasi dalam iklan sebagai dasar pemilihan obat tanpa resep, karena
klaim indikasi yang tidak rasional menimbulkan banyak terjadinya kesalahan
dalam penggunaan obat yang dapat membahayakan kondisi tubuh pemakai.
Pemerintah diharapkan dapat lebih ketat dalam mengawasi klaim indikasi yang
akan ditampilkan dalam iklan obat tanpa resep khususnya di media televisi, agar
pengobatan rasional yang salah satu komponennya adalah ketepatan indikasi,
dapat tercapai di kalangan masyarakat kita.
E. Rangkuman Pembahasan
Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kerasionalan sekaligus
mendapatkan gambaran distribusi frekuensi dari iklan obat tanpa resep pada
tayangan acara untuk anak-anak di empat stasiun televisi swasta nasional (A, B,
C, D) selama dua minggu (periode Juli 2006). Pada penelitian ini diketahui
frekuensi iklan obat tanpa resep dari seluruh jenis iklan yang ditampilkan, yaitu
paling tinggi stasiun televisi C (7,50%), paling rendah stasiun televisi A (1,1%),
stasiun televisi B (1,5%), stasiun televisi D (1,2%), dan total pada keempat stasiun
televisi (2,1%).
Sinetron pada jam tayang utama khususnya yang ratingnya tinggi
terdapat paling banyak iklan obat tanpa resep, oleh karena itu sinetron anak
merupakan jenis acara televisi untuk anak-anak yang frekuensi iklan obat tanpa
resepnya tertinggi pada masing-masing stasiun televisi dengan frekuensi tertinggi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
70
di stasiun televisi C (100, 0%). Sinetron (64,0%) dan film kartun (8,2%) yang
paling sering ditonton oleh anak-anak merupakan jenis acara dengan frekuensi
iklan obat tanpa resep tertinggi pada keempat stasiun televisi, sedangkan yang
terendah adalah program acara reality show (0,0%).
Setiap stasiun televisi memiliki jumlah dan macam kelas terapi yang
berbeda. Terdapat 3 kelas terapi obat tanpa resep di stasiun televisi A, 1 di stasiun
televisi B, 8 di stasiun televisi C dan 1 di tasiun televisi D. Obat tanpa resep yang
paling banyak diiklankan di stasiun televisi A, B, dan C adalah kelas terapi obat
analgesik (sakit kepala, demam) dan stasiun televisi D obat saluran nafas (flu,
batuk). Hal ini dimungkinkan karena sakit kepala, demam, batuk, dan flu
merupakan penyakit-penyakit ringan yang sering diderita oleh masyarakat, sangat
membutuhkan pengobatan dengan segera karena mengganggu aktivitas kerja
sehari-hari, sehingga obat analgesik dan obat saluran nafas untuk penyakitpenyakit inilah yang paling banyak diiklankan oleh para produsen.
Frekuensi iklan obat bebas tertinggi adalah di stasiun televisi B
(100,0%), sedangkan stasiun televisi D paling banyak menayangkan iklan obat
bebas terbatas (100,0%). Frekuensi total dari keempat stasiun televisi
menunjukkan obat tanpa resep yang diiklankan jauh lebih banyak dari golongan
obat bebas terbatas (56,8%) daripada obat bebas (43,2%), hal ini menuntut
konsumen obat untuk lebih berhati-hati dalam penggunaan obat agar tidak terjadi
kesalahan.
Jenis obat tanpa resep dan frekuensi iklan berbeda antara stasiun televisi,
tergantung tingkat kepercayaan produsen.
Pada di stasiun televisi A ada 9
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
71
meliputi 4 jenis obat, stasiun televisi B ada 6 meliputi 1 jenis obat, stasiun televisi
C ada 21 meliputi 10 jenis obat, stasiun televisi D ada 6 meliputi 1 jenis obat,
Jenis obat di stasiun televisi C paling banyak.
Hal ini disebabkan, pertama; acara anak-anak yang ditayangkan di
stasiun televisi C adalah acara, yang biarpun ditujukan untuk anak-anak tetapi
banyak juga orang dewasa yang suka terutama kaum ibu. Karena itu pemunculan
iklan di acara tersebut dianggap efektif oleh produsen untuk mempromosikan
produknya. Kedua; acara sinetron itu ditayangkan pada jam tayang utama. Pada
saat itu semua anggota keluarga ada di rumah untuk menonton televisi, sehingga
anak-anak menonton acara tersebut dengan pengawasan orang tua.
Total terdapat 14 jenis obat pada kempat stasiun televisi. Berdasarkan
jenis obatnya, dari keempat stasiun tersebut jenis obat yang frekuensi iklannya
paling tinggi adalah Biogesic Anak® (26,2%). Selain itu, persentase iklan
Mixagrip Flu & Batuk® (14,3%) juga cukup tinggi biarpun jenis obat tersebut
konsumsinya adalah untuk orang dewasa.
Obat tanpa resep di stasiun televisi A, dan B lebih banyak ditujukan
untuk konsumen anak-anak, dan bahkan pada stasiun televisi B tidak terdapat
iklan obat tanpa resep yang ditujukan pada konsumen dewasa. Sedangkan di
stasiun televisi C, dan D lebih banyak ditujukan untuk konsumen dewasa. Hasil
total dari keempat stasiun televisi menunjukkan frekuensi iklan obat tanpa resep
untuk dewasa (64,0%) jauh lebih besar daripada anak-anak (36,0%). Kondisi ini
terjadi karena sebenarnya obat untuk konsumen dewasa juga dapat diberikan
untuk anak-anak asal diberikan dalam dosis yang sesuai. Aturan dosis pemakaian
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
72
untuk anak-anak biasanya dicantumkan juga dalam kemasan obat-obat tanpa resep
untuk dewasa yang beredar di pasaran.
Tidak semua produsen mengiklankan produknya di semua stasiun
televisi, terdapat 4 produsen yang mengiklankan produknya di stasiun televisi A,
1 produsen di stasiun televisi B, 8 produsen di stasiun televisi C, dan 1 produsen
di stasiun televisi D.
Produsen yang paling banyak iklan obat tanpa resepnya di stasiun televisi
A adalah Konimex, Medifarma di stasiun televisi B, Mecosin dan Tempo Scan
Pasific di stasiun televisi C, dan Dankos di stasiun televisi D. Medifarma (26,2%),
Konimex (16,7%) , dan Dankos (14,3%) adalah produsen obat dalam negeri
dengan persentase iklannya cukup tinggi (diatas 10%) pada keempat stasiun
televisi, dengan tujuan produknya mendapatkan perhatian lebih tinggi dari
pemirsa pengguna obat.
Evaluasi kerasionalan kelengkapan informasi iklan obat tanpa resep
berdasarkan kriteria iklan WHO (1988) dinyatakan rasional bila mencantumkam
zat aktif, nama dagang, indikasi, peringatan-perhatian, kontraindikasi, nama juga
alamat industri farmasi, dan semua iklan dalam penelitian ini dinilai tidak rasional
(00,00%). Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.386 tahun 1994,
evaluasi kerasionalan kelengkapan informasi iklan obat tanpa resep dinyatakan
rasional bila mencantumkan indikasi, peringatan-perhatian, efek samping, nama
dagang, juga nama industri farmasi, dan hanya 7,1% yang dinilai rasional
sedangkan 92,9% masih tidak rasional.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
73
Dari 14 jenis obat tanpa resep yang dievalusi iklannya, sebanyak 42,9%
mencantumkan zat aktif agar konsumen dapat memilih obat yang tepat
indikasinya sesuai mekanisme kerja zat aktif. Tidak satu jenis obat pun (0,0%)
mencantumkan kontraindikasi dan alamat industri farmasi, padahal kontraindikasi
dapat menghindarkan konsumen dari resiko pemakaian obat yang berlawanan
dengan kondisi tubuhnya dan alamat industri farmasi diperlukan karena
berhubungan dengan kualitas suatu produk. Sebesar 100,0% mencantumkan
peringatan-perhatian agar konsumen membaca aturan pakai sebelum pemakaian
obat dan pergi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat bila setelah
pemakaian dalam kurun waktu tertentu tidak menunjukkan peningkatan kondisi
tubuh. Sejumlah 85,7% sudah menginformasikan nama industri farmasi sebagai
pihak yang bertanggung jawab atas kualitas suatu obat, dan baru 7,1%
mencantumkan efek samping obat mengenai dapat atau tidaknya menyebabkan
kantuk yang perlu disampaikan karena obat-obat yang dapat menyebabkan kantuk
tidak boleh dikonsumsi oleh mereka yang sedang menjalankan aktivitas dengan
resiko tinggi. Semuanya (100,0%) sudah mencantumkan informasi nama dagang
yang memudahkan konsumen untuk mengingat suatu produk, dan indikasi yang
diperlukan konsumen agar dapat memilih obat yang tepat untuk mengatasi
gangguan kesehatannya.
Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat tanpa resep dinyatakan
rasional bila sudah sesuai dengan mekanisme kerja zat aktif dan tidak
menyimpang dari batasan indikasi dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.386
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
74
tahun 1994. Sebanyak 57,1% iklan obat tanpa resep dinilai rasional klaim
indikasinya, tetapi 42,9% masih dinilai tidak rasional sehingga harus diperbaiki.
Berikut ini disajikan ringkasan hasil evaluasi kerasionalan iklan obat
tanpa resep untuk setiap jenis obat :
Tabel XXIII. Kerasionalan iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak
di stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli 2006 )
Kerasionalan Kelengkapan
Kerasionalan Klaim
Informasi
Indikasi (Mekanisme
No.
Jenis Obat
Kerja Zat Aktif - Kep.
Kep.Men.Kes
WHO (1988)
Men.Kes No. 386 (1994)
No. 386 (1994)
1
tidak rasional
rasional
tidak rasional
Anakonidin
2
tidak rasional
tidak rasional
rasional
Biogesic Anak
3
tidak rasional
tidak rasional
rasional
Bodrex Migra
4
tidak rasional
tidak rasional
tidak rasional
Canesten
5
tidak rasional
tidak rasional
tidak rasional
Laserin
6
tidak rasional
tidak rasional
tidak rasional
Mixagrip Flu & Batuk
7
tidak rasional
tidak rasional
rasional
Neo Entrostop
8
tidak rasional
tidak rasional
rasional
Neo Napacin
9
tidak rasional
tidak rasional
tidak rasional
Neo Ultracap
10 Neo Ultrasiline
tidak rasional
tidak rasional
rasional
11 Neosanmag Fast
tidak rasional
tidak rasional
rasional
12 Panadol Extra
tidak rasional
tidak rasional
rasional
13 Ultraflu
tidak rasional
tidak rasional
rasional
14 Vicks Formula 44
tidak rasional
tidak rasional
tidak rasional
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
75
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Frekuensi iklan makanan dan minuman (55,5%) merupakan yang tertinggi
dari total keseluruhan iklan, dan frekuensi iklan obat tanpa resep dalam
penelitian ini adalah sebesar (2,1%).
2. a. Frekuensi iklan OTR pada acara sinetron anak adalah yang tertinggi, yaitu
64,0%
b. Kelas terapi obat analgesik (sakit kepala, demam) yaitu sebesar 40,5%
adalah yang tertinggi frekuansi iklannya
c. Frekuensi iklan OTR tertinggi adalah golongan obat bebas terbatas
(56,8%)
d. Jenis OTR yang paling banyak diiklankan adalah Biogesic anak® (26,2%)
e. Frekuensi iklan OTR konsumen dewasa (64,0%) lebih tinggi
f. Produsen OTR yang paling banyak iklannya adalah Medifarma (26,2%)
3. a. Kelengkapan informasi iklan OTR yang dievaluasi tidak ada yang rasional
berdasarkan kriteria iklan WHO (1988), tetapi ada 1 (7,1%) dinyatakan
rasional menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.386 tahun 1994.
b. Berdasarkan mekanisme kerja zat aktif sekaligus menurut Keputusan
Menteri Kesehatan No.386 tahun 1994, klaim indikasi iklan OTR dari 14
jenis obat yang di evaluasi ada 8 (57,1%) iklan obat dinyatakan rasional
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
76
B. Saran
1. Perlu adanya upaya dari pihak pemerintah sebagai pembuat peraturan untuk
ikut mengawasi mengenai pelaksanaan peraturan yang sudah dibuat, karena
dari penelitian ini didapatkan bahwa hampir semua iklan obat tanpa resep
dalam penelitian ini belum memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh
WHO ataupun pemerintah RI.
2. Perlu adanya peningkatan peran serta dari Apoteker untuk memberikan
informasi dan masukan yang benar kepada masyarakat mengenai iklan obat
tanpa resep di televisi, sehingga masyarakat bisa memilih obat tanpa resep
yang tepat untuk penyakit yang dideritanya.
3. Bagi peneliti lain, dapat dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui
hubungan frekuensi dan kerasionalan iklan obat tanpa resep di televisi
terhadap pemilihan obat di masyarakat.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
77
DAFTAR PUSTAKA
Abadi, T., 2003, Media Massa, Iklan dan Konsumtivisme, Warta Konsumen, Th.
XXIX, No. 11, 12.
Anief, M., 1985, Iklan dan Pengobatan Sendiri, Medika, Th. XI, No. 6, 523, 525.
Anief, M., 1995, Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi, 137, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Anonim,
1988, Ethical Criteria for Medicinal
http://www.who.int/medicinedocs/library.
Drug
Promotion,
Anonim, 1992, Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan,
6,17, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Anonim, 1996a, Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia yang
Disempurnakan, 30, Komisi Periklanan Indonesia, Jakarta.
Anonim, 1996b, Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
2380/A/SK/VI/83 tentang Tanda Khusus untuk Obat Bebas dan Obat
Bebas Terbatas, dalam Kumpulan Peraturan Perundang-Undangan
Bidang Obat, 18, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Anonim, 1996c, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 919/Men.Kes/Per/X/1993
tentang Kriteria Obat yang Dapat diserahkan Tanpa Resep, dalam
Kumpulan Peraturan Perundang-Undangan Bidang Obat, 204,
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Anonim,
1997a,
Iklan
Obat
Cenderung
Menyesatkan,
http://www.kompas.com/berita-terbaru/0203/06/headline/014.htm.
Anonim, 1997b, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 386/Men.Kes/SK/IV/1994
tentang Pedoman Periklanan Obat Bebas, Obat Tradisional, Alat
Kesehatan, Kosmetika, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dan
Makanan-Minuman, dalam Kumpulan Peraturan Perundang-Undangan
Bidang Kosmetika, Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah
Tangga, 60-66, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Anonim, 1997c, Kompendia Obat bebas, Ed. II, Direktorat Jenderal Pengawasan
Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
78
Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Anonim,
2002a, Kian Banyak Masyarakat Lakukan
http://www.swara.tv/id/view_headline.php?ID=489.
Swamedikasi,
Anonim, 2002b, Televisi Tempat Favorit untuk Belanja Iklan, Kompas, Ed. 15
Desember,19.
Anonim, 2002c, Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
No.HK.00.05.3.02706
tahun
2002
tentang
Promosi
Obat,
http://www.pom.go.id/public/hukum_perundangan/pdf.
Anonim,
2005, Pengobatan Sendiri Bagian I, http://www.anugrahargon.com/news-detail.asp?nix=348&cix=1. Diakses pada 10 Juni 2006.
Anonim, 2006, Informasi Spesialite Obat Indonesia, Vol. 41, Ikatan Sarjana
Farmasi Indonesia, Jakarta.
Anonim,
2007,
2006,
Belanja
Iklan
Meningkat
17%,
http://www.suarapembaruan.com/news/2007/01/19/index.html-10k.
Diakses pada 8 Februari 2007.
Bovee, C.L., dan Arens, W.F., 1986, Contemporary Advertising, 2nd Ed., 9, Irwin
Homework, Illinois.
BPOM,
2005,
Pengobatan
Sendiri
Bagian
I,
http://www.anugrah-
argon.com/news-detail.asp?nix=348&cix=1.
Christina, S., 2004, Hubungan Antara Penilaian Iklan Obat Selesma di Televisi
Dengan Pemilihan Obat Selesma di Kalangan Pengunjung 11 Apotek di
Ibukota Yogyakarta Periode Maret-April Tahun 2004, Skripsi, 43,
Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Danto, 2004, Sebagian Besar Iklan Obat dan Makanan Menyesatkan,
http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2004/01/08/brk,2004010828,id.html.
Donatus, I.A., 1997, Kajian terhadap Kerasionalan Produk Obat Selesma yang
Beredar di Pasaran, dalam Simposium Nasional Obat Bebas dan Obat
Bebas Terbatas, 1-3, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta.
Dwiprihasto, I., 1999, Pengobatan sendiri, Seminar Nasional Self Medication,
Yogyakarta.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
79
Faisal, S., 1989, Format-format Penelitian Sosial Dasar-dasar dan Aplikasinya,
67, CV. Rajawali, Jakarta.
J. H. Marfuah, 2006, Awas Smack Down Masuk Kelas, http://www.Jawa
Post.com/index.php
Ganiswara, S.G., 1995, Farmakologi dan Terapi, Ed. V, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta.
Gilson, C., dan Berkman, H.W., 1993, Advertising Concepts and Strategies, 1nd
Ed., 267, 336, 337, University of Miami, New York.
Harto, P.P., Ratnasari, E., Saragih, H.P., dan Mudjiono, 2006, Raja-Raja TV: Raja
TV…..Raja Akuisisi, http://www.scylics.multiply.com/journal/item/18619k. Diakses pada 20 Februari 2007
Hasan, M.I., 2002, Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, 60, Ghalia Indonesia,
Jakarta.
Herdiawan, P., Wicaksono, D., Ratnasari, E., Febryanto, H., dan Darmawan, H.,
2005, Bisnis Farmasi: Ini Dia Para Penguasanya, Warta Ekonomi, Th.
XVII, No. 08, 25.
Holt, G.A., dan Hall, E.L., 1990, The Self-Care Movement, dalam Handbook of
Nonprescription Drugs, 9th Ed., 2, 3, 6, American Pharmaceutical
Association, Washington DC.
Kartika, Y., 2007, Evaluasi Kerasionalan Iklan Obat Tanpa Resep Pada Tayangan
Acara untuk Ibu-Ibu di Empat Stasiun Televisi swasta Nasional, Skripsi,
Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Kotler, P., 2003, Marketing Management, diterjemahkan oleh Benyamin Molan,
Ed. XI, Jilid 2, 278, 287, 289, 290, Prenhallindo, Jakarta.
Luize, A., 2003, Hati-Hati Mengobati Diri Sendiri, Intisari, Th.XL, No. 475.
Marlinda, I., 1995, Memilih Obat untuk Keluarga Tanggung Wanita, Benarkah?,
Warta Konsumen, No. 7, 16.
Marlinda, I., 2003, Mengembangkan Pengobatan Mandiri Melalui “ CBIA”,
Warta Konsumen, Th. XXIX, No. 10, 13-14.
Martin, L, 2000, Televisi dan Anak-Anak, http://www.leman.or.id/anakku
Mulkan, D, 2006, Bagaimana menjelaskan Televisi Kepada Anak-Anak,
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0611/24/Jabar/7925.htm
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
80
Nawawi, H., 1998, Metode Penelitian Bidang Sosial, 157, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Papilaya, Y., 2003, Penilaian Iklan Obat Selesma di Televisi dan Peranannya
dalam Pemilihan Obat Selesma di Kalangan Pengunjung Apotek di Pusat
Kota Magelang, Skripsi, 43, Fakultas Farmasi Universitas Sanata
Dharma, Yogyakarta.
Pratiknya, A.W., 2001, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan
Kesehatan, 10-11, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Puspadewi, I., 1993, Televisi dan Kita, Warta Konsumen, Th. XIX, No. 227, 5.
Saragih, R. M., 2000, Penilaian Iklan Obat Flu di Televisi dan Pengaruhnya
terhadap pemilihan obat di Kalangan Siswa SMF dan SMU di
Kotamadya Surakarta, Skripsi, 43, Fakultas Farmasi Universitas Sanata
Dharma, Yogyakarta.
Sartono, 1993, Apa yang Sebaiknya Anda Ketahui tentang Obat-Obat Bebas dan
Bebas Terbatas, Ed. I, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sarwono, S., 2003, Sosiologi Kesehatan Beberapa Konsep Beserta aplikasinya,
31-32, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Sudarwanto, B., 1996, Hati-hati Memilih Obat Bebas,
Th.XXII, No. 1, 30, 31.
Warta Konsumen,
Suryolaksono, M., 2002, Membuat iklan Hasilnya Pujian dan Kecaman, Intisari,
Th.XXXVIII, No. 464, 174-175.
Sukasediati, N., 1996, Peningkatan Mutu Pengobatan Sendiri Menuju Kesehatan
Untuk Semua, Buletin Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan
Makanan, Vol.18, 21, 23.
Suryawati, S., 1997, Etika Promosi Obat Bebas dan Bebas Terbatas, dalam
Simposium Nasional Obat Bebas dan Bebas Terbatas, 1, Fakultas
Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Tjay, T. H, dan Rahardja, K., 2002, Obat-Obat Penting, Ed. IV, PT. Kimia Farma,
Jakarta.
Widanenci, M. I., 2007, Persepsi Konsumen tentang Iklan Jamu Pelangsing di
Televisi dan Pengaruhnya terhadap Motivasi Pemilihan Jamu Pelangsing
di Kalangan Pengunjung Tetap 5 Pusat Kebugaran di Kota Yogyakarta
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
81
Periode Maret-Juni 2005, Skripsi, 40, 41, Fakultas Farmasi Universitas
Sanata Dharma, Yogyakarta.
Widyatama, R., 2005, Pengantar Periklanan, 13, 16, 25, 29-30, Buana Pustaka
Indonesia, Jakarta.
Yulia, S. M., 1993, Berpacu di Layar Kaca, Warta Konsumen, Th. XIX, No. 227,
7.
Zahir, H. G., 1996, Survei YLKI : Iklan Obat Sesatkan Konsumen?, Warta
Konsumen, Th. XXII, No. 7, 18, 19, 20.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
82
Lampiran 1. Jadwal tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A
selama dua minggu (periode Juli 2006)
Hari 1
07.30-08.00
Hari 8
Kartun Captain Tsubasa
Hari 2
07.30-08.00
08.00-08.30
Reality Show Kau Sahabatku
Hari 9
KartunTom&Jerry
07.00-07.30
Kartun Ninja Hattori
07.30-08.00
Kartun Arashin Chi
08.00-08.30
Kartun Doraemon
07.30-08.00 Film Anak Treehouse Hostage
08.30-09.00
Kartun Crayon Sinchan
Hari 4
09.00-09.30
Kartun P - Man
Hari 3
07.00-07.30
Kartun Captain Tsubasa
08.00-08.30
Reality Show Kau Sahabatku
09.30-10.00
Kartun Looney Tunes
08.30-09.00
Kartun Captain tsubasa
10.00-10.30
Kartun Tom & Jerry Kids
10.30-11.30
Reality Show Masquarade
Hari 5
07.00-07.30
Kartun Ninja Hattori
Hari 10
07.30-08.00
Kartun Arashin Chi
07.30-08.00
08.00-08.30
Kartun Doraemon
Hari 11
08.30-09.00
Kartun Crayon Sinchan
07.30-08.00
09.00-09.30
Kartun P - Man
Hari 12
09.30-10.00
Kartun Looney Tunes
07.30-08.00
10.00-10.30
Kartun Tom & Jerry Kids
Hari 13
10.30-11.30
Reality Show Masquarad
07.30-08.00
Hari 6
07.30-08.00
Kartun Captain Tsubasa
Kartun Captain Tsubasa
Kartun Captain Tsubasa
Hari 14
Kartun Captain Tsubasa
Hari 7
07.30-08.00
Kartun Captain Tsubasa
Kartun Captain Tsubasa
07.30-08.00
Kartun Captain Tsubasa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
83
Lampiran 2. Jadwal tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi B
selama dua minggu (periode Juli 2006)
Hari 1
Hari 8
Tidak ada
Tidak ada
Hari 2
Hari 9
Tidak ada
07.00-07.30
Kartun Boyblade
Hari 3
07.30-08.00
Kartun Pokemon
Tidak ada
08.00-08.30
Kartun Beetle B Daman
Hari 4
08.30-09.00
Kartun Detective Conan
Tidak ada
09.00-09.30
Kartun Dan detective School
Hari 5
09.30-10.00
Kartun Dragon ball
07.00-07.30
Kartun Boyblade
10.00-10.30
Film Anak Power Rangers
07.30-08.00
Kartun Pokemon
10.30-11.00
Kartun Duel Master
08.00-08.30
Kartun Beetle B Daman
Hari 10
08.30-09.00
Kartun Detective Conan
Tidak ada
09.00-09.30
Kartun Dan detective School
Hari 11
09.30-10.00
Kartun Dragon ball
Tidak ada
10.00-10.30
Film Anak Power Rangers
Hari 12
10.30-11.00
Kartun Duel Master
Tidak ada
17.00-18.00
Kartun Detective Conan
Hari 13
Hari 6
Tidak ada
Tidak ada
Hari 14
Hari 7
Tidak ada
Tidak ada
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
84
Lampiran 3. Jadwal tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi C
selama dua minggu (periode Juli 2006)
Hari 1
18.00-19.00
Hari 8
Sinetron Mutiara Hati 2
Hari 2
18.00-19.00
Hari 9
Sinetron Mutiara Hati 2
Hari 3
18.00-19.00
Tidak ada
18.00-19.00
Hari 10
Sinetron Mutiara Hati 2
18.00-19.00
Hari 4
Hari 11
Tidak ada
18.00-19.00
Hari 5
Hari 12
18.00-19.00
Sinetron Lorong waktu 2
Hari 6
18.00-19.00
18.00-19.00
Sinetron Mutiara Hati 2
Sinetron Mutiara Hati 2
Sinetron Mutiara Hati 2
Hari 13
Sinetron Mutiara Hati 2
Hari 7
18.00-19.00
Sinetron Lorong waktu 2
18.00-19.00
Sinetron Mutiara Hati 2
Hari 14
Sinetron Mutiara Hati 2
18.00-19.00
Sinetron Mutiara Hati 2
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
85
Lampiran 4. Jadwal tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi D
selama dua minggu (periode Juli 2006)
Hari 1
Hari 8
08.00-09.00
Sinetron Si Entong
08.00-08.30
Kartun
16.00-16.30
Kartun
16.00-16.30
Kartun
Hari 2
Hari 9
08.00-09.00
Sinetron Si Entong
15.00-16.00
16.00-16.30
Kartun
Hari 10
Hari 3
16.00-16.30
Kartun
Sinetron Si entong
07.00-07.30
Kartun
19.00-20.00
16.00-16.30
Kartun
Hari 11
16.00-17.00
Hari 4
Kartun
08.00-08.30
Kartun
Hari 12
16.00-16.30
Kartun
16.00-17.00
Hari 5
Hari 13
Tidak ada
16.00-17.00
Hari 6
Hari 14
Kartun
Kartun
Kartun
16.00-16.30
Kartun
07.00-07.30
Kartun
19.00-20.00
Sinetron Si entong
16.00-16.30
Kartun
Hari 7
16.00-16.30
Kartun
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
86
Lampiran 5. Data distribusi frekuensi iklan pada tayangan acara untuk anak-anak
di stasiun televisi A selama dua minggu
Hari ke1
2
3
4
JA & WT
Kartun
07.30-08.00
Film
07.30-09.00
Film
07.30-09.00
Reality show
08.00-08.30
Kartun
08.30-09.00
5
Kartun
07.00-07.30
Kartun
07.30-08.00
Kartun
08.00-08.30
JI
∑F
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
0
0
0
18
1
5
2
0
1
26
17
26
3
0
2
28
23
37
0
0
0
15
0
5
0
1
1
17
0
4
0
0
1
3
0
13
0
0
1
0
0
10
0
0
Kartun
08.30-09.00
Kartun
09.00-09.30
Kartun
09.30-10.00
Kartun
10.00-10.30
Reality show
10.30-11.30
6
7
Kartun
07.30-08.00
Kartun
07.30-08.00
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
0
14
0
2
0
0
0
6
2
6
0
0
1
8
0
5
0
1
0
21
0
10
0
1
0
29
0
3
0
0
0
43
4
15
2
0
0
16
0
4
2
0
1
11
0
8
Reality show
08.00-08.30
9
Kartun
07.00-07.30
Kartun
07.30-08.00
Kartun
08.00-08.30
Kartun
08.30-09.00
Kartun
09.00-09.30
Kartun
09.30-10.00
Kartun
10.00-10.30
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
4
0
0
0
22
0
4
0
0
1
7
0
8
0
0
1
3
0
4
0
0
1
23
0
4
0
0
0
19
2
6
0
0
1
9
0
2
0
1
0
22
0
7
0
1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
87
Reality show
10.30-11.30
10
Kartun
07.30-08.00
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
0
26
2
5
0
0
3
39
6
18
0
0
0
18
11
12
Kartun
07.30-08.00
Kartun
07.30-08.00
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
5
0
0
0
0
0
19
0
0
0
3
0
6
13
Kartun
07.30-08.00
14
Kartun
07.30-08.00
Keterangan :
JA
: Jenis Acara
WT
: Waktu Tayang
JI
: Jenis Iklan, yang meliputi ;
1
= Obat tanpa resep (obat bebas dan obat bebas terbatas)
2
= Obat tradisional (jamu), obat herbal berstandar, fitofarmaka, dan obat quasi
3
= Vitamin, suplemen, dan perbekalan kesehatan rumah tangga
4
= Makanan dan minuman
5
= Kosmetika
6
= Lain-lain
ΣF
: Jumlah Frekuensi
Total
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
0
0
0
18
1
6
0
0
0
23
3
5
826
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
88
Lampiran 6. Data distribusi frekuensi iklan pada tayangan acara untuk anak-anak
di stasiun televisi B selama dua minggu
Hari ke5
JA & WT
Kartun
07.00-07.30
Kartun
07.30-08.00
Kartun
08.00-08.30
Kartun
08.30-09.00
Kartun
09.00-09.30
Kartun
09.30-10.00
JI
∑F
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
0
0
0
19
0
5
1
0
0
24
0
4
0
0
0
11
5
2
0
0
0
9
5
3
0
0
0
10
3
6
0
0
0
19
Serial Anak
10.00-10.30
Kartun
10.30-11.00
Kartun
17.00-18.00
9
Kartun
07.00-07.30
Kartun
07.30-08.00
Kartun
08.00-08.30
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
0
3
1
0
0
24
2
9
1
0
0
16
4
2
0
0
0
38
1
2
0
0
0
14
0
1
1
0
0
20
0
6
0
0
0
Keterangan :
JA
: Jenis Acara
WT
: Waktu Tayang
JI
: Jenis Iklan, yang meliputi ;
1
= Obat tanpa resep (obat bebas dan obat bebas terbatas)
2
= Obat tradisional (jamu) dan fitofarmaka
3
= Vitamin, suplemen, dan perbekalan kesehatan rumah tangga
4
= Makanan dan minuman
5
= Kosmetika
6
= Lain-lain
ΣF
: Jumlah Frekuensi
Kartun
08.30-09.00
Kartun
09.00-09.30
Kartun
09.30-10.00
Serial Anak
10.00-10.30
Kartun
10.30-11.00
Total
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
7
2
2
0
0
0
15
2
10
0
0
0
10
3
4
0
0
0
19
0
7
1
0
0
27
0
11
1
0
0
14
2
5
412
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
89
Lampiran 7. Data distribusi frekuensi iklan pada tayangan acara untuk anak-anak
di stasiun televisi C selama dua minggu
Hari ke1
2
3
5
JA & WT
Sinetron
18.00-19.00
Sinetron
18.00-19.00
Sinetron
18.00-19.00
Sinetron
18.00-19.00
JI
∑F
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
0
0
6
0
17
3
2
0
4
0
1
1
0
0
9
1
9
2
0
1
6
0
12
6
Sinetron
18.00-19.00
7
Sinetron
18.00-19.00
9
10
11
Sinetron
18.00-19.00
Sinetron
18.00-19.00
Sinetron
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
1
0
1
6
2
13
1
0
1
9
4
11
2
1
2
3
0
15
0
0
4
6
7
14
3
Keterangan :
JA
: Jenis Acara
WT
: Waktu Tayang
JI
: Jenis Iklan, yang meliputi ;
1
= Obat tanpa resep (obat bebas dan obat bebas terbatas)
2
= Obat tradisional (jamu) dan fitofarmaka
3
= Vitamin, suplemen, dan perbekalan kesehatan rumah tangga
4
= Makanan dan minuman
5
= Kosmetika
6
= Lain-lain
ΣF
: Jumlah Frekuensi
18.00-19.00
12
Sinetron
18.00-19.00
13
Sinetron
18.00-19.00
14
Sinetron
18.00-19.00
Total
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
2
3
8
6
13
1
0
1
8
1
6
3
1
3
6
2
11
3
0
1
8
2
10
280
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
90
Lampiran 8. Data distribusi frekuensi iklan pada tayangan acara untuk anak-anak
di stasiun televisi D selama dua minggu
Hari ke1
JA & WT
Sinetron
08.00-09.00
Kartun
16.00-16.30
2
Sinetron
08.00-09.00
Kartun
16.00-16.30
3
Kartun
07.00-07.30
Kartun
16.00-16.30
4
Kartun
08.00-08.30
JI
∑F
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
1
2
0
15
11
18
0
0
0
13
0
6
2
1
0
9
10
14
0
0
0
16
0
4
0
0
0
7
0
15
0
0
0
13
0
7
0
0
0
12
3
Kartun
16.00-16.30
6
Kartun
16.00-16.30
7
Kartun
16.00-16.30
8
Kartun
08.00-08.30
Kartun
16.00-16.30
9
Kartun
15.00-16.00
10
Kartun
16.00-17.00
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
4
0
0
0
21
0
2
0
0
0
16
0
1
0
0
0
20
1
4
0
0
0
3
9
5
0
0
0
19
0
4
0
0
0
13
0
24
0
1
0
15
0
Sinetron
19.00-20.00
11
Kartun
16.00-17.00
12
Kartun
16.00-17.00
13
Kartun
16.00-17.00
14
Kartun
07.00-07.30
Kartun
16.00-17.00
Total
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
13
3
1
3
18
12
19
0
0
0
15
0
5
0
0
0
9
0
19
0
0
0
14
0
5
0
0
0
1
0
17
0
0
0
19
1
3
518
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran 9. Data distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan
acara untuk anak-anak di stasiun televisi A selama dua minggu
Hari ke1
JA & WT
Kartun
07.30-08.00
JI
2
Film
07.30-09.00
3
Film
07.30-09.00
Canesten
Panadol Extra
Biogesic Anak
Panadol Extra
4
Reality show
08.00-08.30
5
Reality show
08.00-08.30
0
Kartun
07.00-07.30
0
Kartun
07.30-08.00
0
0
Kartun
08.00-08.30
0
Kartun
08.30-09.00
0
Kartun
08.30-09.00
0
Kartun
07.00-07.30
0
Kartun
09.00-09.30
0
Kartun
07.30-08.00
0
Kartun
09.30-10.00
0
Kartun
08.00-08.30
0
Kartun
10.00-10.30
0
Kartun
08.30-09.00
0
Reality show
10.30-11.30
Kartun
09.00-09.30
0
1
1
2
1
0
Kartun
10.00-10.30
0
Reality show
10.30-11.30
7
8
0
Kartun
09.30-10.00
6
∑F
0
Kartun
07.30-08.00
Anakonidin
2
Kartun
07.30-08.00
Anakonidin
2
9
10
11
12
13
14
0
Kartun
07.30-08.00
0
Kartun
07.30-08.00
0
Kartun
07.30-08.00
0
Kartun
07.30-08.00
0
Kartun
07.30-08.00
0
Total
9
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
92
Lampiran 10. Data distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan
acara untuk anak-anak di stasiun televisi B selama dua minggu
Hari ke5
JA & WT
Kartun
07.00-07.30
Kartun
07.30-08.00
JI
0
Biogesic Anak
Kartun
08.00-08.30
0
Kartun
09.00-09.30
0
Kartun
09.30-10.00
Kartun
10.30-11.00
1
0
Kartun
08.30-09.00
Serial Anak
10.00-10.30
∑F
0
Biogesic Anak
9
Kartun
07.00-07.30
Kartun
07.30-08.00
Keterangan :
JA
: Jenis Acara
WT
: Waktu Tayang
JI
: Jenis Iklan
ΣF
: Jumlah Frekuensi
1
0
Kartun
08.30-09.00
0
Kartun
09.00-09.30
0
Kartun
09.30-10.00
0
Serial Anak
10.00-10.30
Biogesic Anak
1
Biogesic Anak
1
1
1
Total
Kartun
17.00-18.00
Biogesic Anak
Kartun
08.00-08.30
Kartun
10.30-11.00
Biogesic Anak
0
0
5
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
93
Lampiran 11. Data distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan
acara untuk anak-anak di stasiun televisi C selama dua minggu
Hari ke1
2
JA & WT
Sinetron
18.00-19.00
Sinetron
18.00-19.00
JI
∑F
Laserin
1
Laserin
Vicks Formula 44
Biogesic anak
1
1
1
3
Sinetron
18.00-19.00
Biogesic anak
1
5
Sinetron
18.00-19.00
Neo Napacin
2
6
Sinetron
18.00-19.00
Neosanmaag Fast
1
7
Sinetron
18.00-19.00
Biogesic anak
1
Keterangan :
JA
: Jenis Acara
WT
: Waktu Tayang
JI
: Jenis Iklan
ΣF
: Jumlah Frekuensi
9
Sinetron
18.00-19.00
10
Sinetron
18.00-19.00
11
Sinetron
18.00-19.00
12
Sinetron
18.00-19.00
13
Sinetron
18.00-19.00
14
Sinetron
18.00-19.00
Total
Neo Entrostop
Neo Napacin
1
1
0
Ultraflu
Neo Ultracap
Neo Ultrasillin
1
1
1
Laserin
1
Vicks Formula 44
Bodrex Migra
Bodrex Migra
Laserin
1
2
2
1
21
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
94
Lampiran 12. Data distribusi frekuensi iklan obat tanpa resep pada tayangan
acara untuk anak-anak di stasiun televisi D selama dua minggu
Hari ke1
JA & WT
Sinetron
08.00-09.00
JI
∑F
Mixagrip Flu dan batuk
1
Kartun
16.00-16.30
2
Sinetron
08.00-09.00
0
Mixagrip Flu dan batuk
0
Kartun
07.00-07.30
0
Kartun
16.00-16.30
0
Kartun
08.00-08.30
0
Kartun
16.00-16.30
0
6
Kartun
16.00-16.30
0
7
Kartun
16.00-16.30
0
8
Kartun
08.00-08.30
0
4
Keterangan :
JA
: Jenis Acara
WT
: Waktu Tayang
JI
: Jenis Iklan
ΣF
: Jumlah Frekuensi
0
9
Kartun
15.00-16.00
0
10
Kartun
16.00-17.00
0
2
Kartun
16.00-16.30
3
Kartun
16.00-16.30
Sinetron
19.00-20.00
Mixagrip Flu dan batuk
3
11
Kartun
16.00-17.00
0
12
Kartun
16.00-17.00
0
13
Kartun
16.00-17.00
0
Kartun
16.00-16.30
0
Kartun
07.00-07.30
0
Kartun
16.00-17.00
0
14
Total
6
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran 13. Data kelengkapan informasi dan klaim indikasi iklan obat tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun
televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli 2006)
Kelengkapan Informasi Iklan
No
Jenis Obat
ZA
ND
Indikasi
KI
PP
Industri Farmasi
Klaim Indikasi
ESO
Nama
Alamat
2.
Anakonidin
─
+
+
─
+
+
─
+
4.
Biogesic Anak
─
+
+
─
+
+
─
─
efektif meredakan demam anak
7.
Bodrex Migra
+
+
+
─
+
+
─
─
untuk sakit kepala sebelah
meredakan batuk, tenggorokan gatal, dan hidung tersumbat pada anak
10.
Canesten
+
+
+
─
+
+
─
─
atasi gatal jamur, cabut jamur sampai ke akar
20.
Laserin
+
+
+
─
+
+
─
─
untuk batuk
21.
Mixagrip Flu & Batuk
+
+
+
─
+
+
─
─
efektif redakan flu dan batuk sekaligus
23.
Neo Entrostop
─
+
+
─
+
+
─
─
untuk diare yang tak bisa berhenti
24.
Neo Napacin
─
+
+
─
+
+
─
─
untuk sesak nafas akibat asma
27.
Neo Ultracap
+
+
+
─
+
+
─
─
mengatasi letih, lesu, capek, pegal-pegal
28.
Neo Ultrasiline
─
+
+
─
+
─
─
─
efektif untuk panu dan kutu air
29.
Neosanmag Fast
+
+
+
─
+
+
─
─
obat maag : menetralkan asam lambung dan mengurangi asam lambung
36.
Panadol Extra
─
+
+
─
+
─
─
─
efektif untuk sakit kepala tak tertahankan
44.
Ultraflu
─
+
+
─
+
+
─
─
meredakan flu
45.
Vicks Formula 44
─
+
+
─
+
+
─
─
meredakan batuk dan membantu istirahat
Ket : ZA = Zat Aktif, ND = Nama Dagang, KI = Kontraindikasi, PP = Peringatan-Perhatian, ESO = Efek Samping Obat, (+) = ada, (─) = tidak ada
95
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BIOGRAFI PENULIS
Penulis skripsi yang berjudul “Evaluasi Kerasionalan Iklan
Obat Tanpa Resep pada Tayangan Acara untuk Anak-anak
di Empat Stasiun Televisi Swasta Nasional Indonesia” ini
bernama Wahyu Esa Purwanto. Lahir di Palembang pada
tanggal 14 April 1979 sebagai putra pertama dari empat
bersaudara, dari pasangan Bapak Wasito dan Ibu Suwartini.
Penulis menyelesaikan pendidikan Taman Kanak-kanak di
TK Barunawati Palembang pada tahun 1985, pendidikan
Sekolah Dasar di SD Negeri 68 Palembang pada tahun
1991, pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 8 Palembang pada
tahun 1994, dan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan di SMF DepKes RI
Palembang pada tahun 1997. Sempat bekerja sebagai Karyawan Apotik “TORA”
sampai tahun 1998, kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas MIPA Universitas
Sanata Dharma
sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan di Fakultas Farmasi
Universitas Sanata Dharma pada tahun 1999.
Download