Makalah - Perilaku Konsumen - 305 Akuntansi Universitas Pamulang

advertisement
TEORI KONSUMSI DAN PERILAKU KONSUMEN DALAM
EKONOMI ISLAM
Tugas Mandiri
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Syariah
Nama Dosen : Rahmatullah Rusli
Disusun oleh :
Nama
: Fathan Fisabilillah
Nim
: 2014121926
Kelas
: 04 SAKEH
FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI EKONOMI AKUNTANSI S1
UNIVERSITAS PAMULANG
2016
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji syukur
kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat, Hidayah, dan InayahNya sehingga kami dapat merampungkan penyusunan makalah ekonomi syariah dengan judul
"Teori Konsumsi dan Perilaku Konsumen dalam Ekonomi Islam " tepat pada waktunya.
Penyusunan makalah semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung bantuan
berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar dalam penyusunannya. Untuk itu tidak lupa kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
merampungkan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat
kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang
dada kami membuka selebar-lebarnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberi saran
maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana ini dapat
diambil manfaatnya dan besar keinginan kami dapat menginspirasi para pembaca untuk
mengangkat permasalahan lain yang relevan pada makalah-makalah selanjutnya.
Jakarta, 3 Juni 20156
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
1.1.
Latar Belakang ................................................................................................................. 1
1.2.
Perumusan Masalah.......................................................................................................... 2
1.3.
Tujuan............................................................................................................................... 2
1.4.
Manfaat............................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................ 3
2.1.
Konsep Penting Dalam Konsumsi ................................................................................... 3
2.2.
Perilaku Atau Karakteristik Konsumen Dalam Ekonomi Islam ...................................... 5
2.3.
Perbedaan Perilaku Konsumen Muslim Dengan Perilaku Konsumen Konvensional .... 12
2.4.
Konsep Maslahah Dalam Prilaku Konsumen Islami...................................................... 12
BAB III PENUTUP ..................................................................................................................... 15
3.1.
Kesimpulan..................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 16
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Sebagaimana kita pahami dalam pengertian ilmu ekonomi konvensional, bahwa ilmu
ekonomi pada dasarnya mempelajari upaya manusia baik sebagai individu maupun masyarakat
dalam rangka melakukan pilihan penggunaan sumber daya yang terbatas guna memenuhi
kebutuhan (yang pada dasarnya tidak terbatas) akan barang dan jasa. Kelangkaan akan barang
dan jasa timbul bila kebutuhan (keinginan) seseorang atau masyarakat ternyata lebih besar
daripada tersedianya barang dan jasa tersebut. Jadi kelangkaan ini muncul apabila tidak cukup
barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut.
Ilmu ekonomi konvensional tampaknya tidak membedakan antara kebutuhan dan
keinginan. Karena keduanya memberikan efek yang sama bila tidak terpenuhi, yakni kelangkaan.
Dalam kaitan ini, Imam al-Ghazali tampaknya telah membedakan dengan jelas antara keinginan
(ragh bah dan syahwat) dan kebutuhan (hajat), sesuatu yang tampaknya agak sepele tetapi
memiliki konsekuensi yang amat besar dalam ilmu ekonomi. Dari pemilahan antara keinginan
(wants) dan kebutuhan (needs), akan sangat terlihat betapa bedanya ilmu ekonomi Islam dengan
ilmu ekonomi konvensional.
Menurut Imam al-Ghazali kebutuhan (hajat) adalah keinginan manusia untuk
mendapatkan sesuatu yang diperlukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya
dan menjalankan fungsinya. Kita melihat misalnya dalam hal kebutuhan akan makanan dan
pakaian. Kebutuhan makanan adalah untuk menolak kelaparan dan melangsungkan kehidupan,
kebutuhan pakaian untuk menolak panas dan dingin.
Pada tahapan ini mungkin tidak bisa dibedakan antara keinginan (syahwat) dan
kebutuhan (hajat) dan terjadi persamaan umum antara homo economicus dan homo Islamicus.
Namun manusia harus mengetahui bahwa tujuan utama diciptakannya nafsu ingin makan adalah
untuk menggerakkannya mencari makanan dalam rangka menutup kelaparan, sehingga fisik
manusia tetap sehat dan mampu menjalankan fungsinya secara optimal sebagai hamba Allah
yang beribadah kepadaNya. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara filosofi yang melandasi
teori permintaan Islami dan konvensional.
Islam selalu mengaitkan kegiatan memenuhi kebutuhan dengan tujuan utama manusia
diciptakan. Manakala manusia lupa pada tujuan penciptaannya, maka esensinya pada saat itu
tidak berbeda dengan binatang ternak yang makan karena lapar saja.
1.2.
Perumusan Masalah
Dalam tugas terstruktur kelompok ini, penyusun yang membahas mengenai masalah
konsumsi dan perilaku konsumen dalam ekonomi islam, didapatkan rumusan masalah yang akan
di bahas dalam analisis permasalahan. Rumusan masalah tersebut, adalah sebagai berikut:
1. Apa sebenarnya konsep penting dalam konsumsi?
2. Apa yang dimaksud dengan perilaku konsumen dalam ekonomi islam?
3. Apa perbedaan perilaku konsumen muslim dengan perilaku konsumen konvensional?
4. Apa yang dimaksud konsep maslahah dalam prilaku konsumen islami?
1.3.
Tujuan
Adapun tujuan dibuat makalah yang membahas tentang teori konsumsi dan perilaku
konsumen dalam ekonomi islam ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan konsep penting dalam teori konsumsi dan perilaku konsumen sesuai syariah.
2. Menjelaskan perbedaan antara perilaku konsumen muslim dengan perilaku konsumen
konvensional.
3. Menumbukan sikap berhati-hati dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup sesuai aturan
islam, serta meningkatkan iman dan taqwa dengan disajikan beberapa dalil baik dari AlQur’an maupun Sunnah Al-Hadits menganai teori konsumsi dan perilaku konsumen
dalam ekonomi islam.
1.4.
Manfaat
Makalah ini diharapakan dapat menambah referensi pustaka yang berhubungan dengan
sifat konsumtif manusia dan perilaku konsumen dalam ekonomi islam.
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Konsep Penting Dalam Konsumsi
Pada dasarnya konsumsi dibangun atas dua hal, yaitu, kebutuhan (hajat) dan kegunaan
atau kepuasan (manfaat). Secara rasional, seseorang tidak akan pernah mengkonsumsi suatu
barang manakala dia tidak membutuhkannya sekaligus mendapatkan manfaat darinya. Dalam
prespektif ekonomi Islam, dua unsur ini mempunyai kaitan yang sangat erat (interdependensi)
dengan konsumsi itu sendiri. Mengapa demikian? Ketika konsumsi dalam Islam diartikan
sebagai penggunaan terhadap komoditas yang baik dan jauh dari sesuatu yang diharamkan,
maka, sudah barang tentu motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan aktifitas
konsumsi juga harus sesuai dengan prinsip konsumsi itu sendiri. Artinya, karakteristik dari
kebutuhan dan manfaat secara tegas juga diatur dalam ekonomi Islam.1
a) Kebutuhan (Hajat)
"manusia adalah makhluk yang tersusun dari berbagai unsur, baik ruh, akal, badan
maupun hati. Unsur-unsur ini mempunyai keterkaitan antar satu dengan yang lain. Misalnya,
kebutuhan manusia untuk makan, pada dasarnya bukanlah kebutuhan perut atau jasmani saja,
namun, selain akan memberikan pengaruh terhadap kuatnya jasmani, makan juga berdampak
pada unsur tubuh yang lain, misalnya, ruh, akal dan hati. Karena itu, Islam mensyaratkan setiap
makanan yang kita makan hendaknya mempunyai manfaat bagi seluruh unsur tubuh".2
Ungkapan di atas hendaknya menjadi perhatian kita, bahwa tidak selamanya sesuatu yang
kita konsumsi dapat memenuhi kebutuhan hakiki dari seluruh unsur tubuh. Maksud hakiki di sini
adalah keterkaitan yang positif antara aktifitas konsumsi dengan aktifitas terstruktur dari unsur
tubuh itu sendiri. Apabila konsumsi mengakibatkan terjadinya disfungsi bahkan kerusakan pada
salah satu atau beberapa unsur tubuh, tentu itu bukanlah kebutuhan hakiki manusia. Karena itu,
Islam secara tegas mengharamkan minum-minuman keras, memakan anjing, dan sebagainya dan
seterusnya.
1
2
Situs resmi ponpes darussalam banyuwangi www.blokagung.net
Prof. Dr. Syauqi Muhammad Dunya (Guru Besar Jurusan Ekonomi Islam Universitas King Abdul Aziz Jeddah)
3
Selain itu, dalam kapasitasnya sebagai khalifah di muka bumi, manusia juga dibebani
kewajiban membangun dan menjaganya, yaitu, sebuah aktifitas berkelanjutan dan terus
berkembang yang menuntut pengembangan seluruh potensinya disertai keseimbangan
penggunaan sumber daya yang ada. Artinya, Islam memandang penting pengembangan potensi
manusia selama berada dalam batas penggunaan sumber daya secara wajar. Sehingga, kebutuhan
dalam prespektif Islam adalah, keinginan manusia menggunakan sumber daya yang tersedia,
guna mendorong pengembangan potensinya dengan tujuan membangun dan menjaga bumi dan
isinya.
b) Kegunaan atau Kepuasan (manfaat)
Sebagaimana kebutuhan di atas, konsep manfaat ini juga tercetak bahkan menyatu dalam
konsumsi itu sendiri. Para ekonom menyebutnya sebagai perasaan rela yang diterima oleh
konsumen ketika mengkonsumsi suatu barang. Rela yang dimaksud di sini adalah kemampuan
seorang konsumen untuk membelanjakan pendapatannya pada berbagai jenis barang dengan
tingkat harga yang berbeda.
Ada dua konsep penting yang perlu digaris bawahi dari pengertian rela di atas, yaitu
pendapatan dan harga. Kedua konsep ini saling mempunyai interdependensi antar satu dengan
yang lain, mengingat kemampuan seseorang untuk membeli suatu barang sangat tergantung pada
pemasukan yang dimilikinya. Kesesuaian di antara keduanya akan menciptakan kerelaan dan
berpengaruh terhadap penciptaan prilaku konsumsi itu sendiri. Konsumen yang rasional selalu
membelanjakan pendapatannya pada berbagai jenis barang dengan tingkat harga tertentu demi
mencapai batas kerelaan tertinggi.
Sekarang bagaimanakah Islam memandang manfaat, apakah sama dengan terminologi
yang dikemukakan oleh para ekonom pada umumnya ataukah berbeda? Beberapa ayat alQur’an3 mengisyaratkan bahwa manfaat adalah antonim dari bahaya dan terwujudnya
kemaslahatan. Sedangkan dalam pengertian ekonominya, manfaat adalah nilai guna tertinggi
pada sebuah barang yang dikonsumsi oleh seorang konsumen pada suatu waktu. Bahkan lebih
dari itu, barang tersebut mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.
3
Al-A’raf:188, Hud:34, Ghofir:80 dan Al-Mu’minun:21
4
Jelas bahwa manfaat adalah terminologi Islam yang mencakup kemaslahatan, faidah dan
tercegahnya bahaya. Manfaat bukan sekedar kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh anggota
tubuh semata, namun lebih dari itu, manfaat merupakan cermin dari terwujudnya kemaslahatan
hakiki dan nilai guna maksimal yang tidak berpotensi mendatangkan dampak negatif di
kemudian hari.
2.2.
Perilaku Atau Karakteristik Konsumen Dalam Ekonomi Islam
Selain berfungsi sebagai penopang kehidupan, konsumsi juga berfungsi sebagai salah
satu instrumen untuk mengukur tingkat pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. Amerika yang
selama ini dianggap sebagai kiblat perekonomian Negara-negara di dunia, ternyata salah satu
penopangnya adalah tingkat konsumsi masyarakatnya yang sangat tinggi jauh melebihi
tabungannya: rata-rata jumlah tabungan mereka hanya 2 persen dari total pendapatan, (presentase
ini adalah terendah di dunia), dan inilah yang dianggap membuat perekonomian Amerika
bergairah.
Namun, apakah dengan cara menggenjot pengeluaran saja Islam memaknai konsumsi? "
Kemaslahatan hakiki yang tercermin dalam sebuah aktifitas manusia, pada dasarnya hanya bisa
diketahui oleh Sang Pencipta-Nya saja. Manusia hanya mengetahui sebagian kecil tanpa bisa
memaknai keseluruhannya, apa yang tidak terlihat olehnya jauh lebih banyak dari yang bisa
dilihatnya, mereka juga lebih sering terburu-buru dalam mewujudkan kemaslahatan dirinya.
Sehingga, yang terjadi adalah kemafsadahan pada kemasalahatan semu yang membungkusnya.
Karena itu, Allah SWT menurunkan para Rasul guna memberikan peringatan kepada seluruh
umat manusia, agar senantiasa kembali kepada kemaslahatan secara sempurna (agama)". 4
Dengan demikian, rasionalisasi konsumsi tidak cukup dimaknai dengan hukum maupun
teori saja, namun juga harus bersandar pada aturan-aturan mendasar yang terdapat dalam ajaran
Islam itu sendiri.
4
As-Syatibi
5
Di bawah ini adalah beberapa karakteristik konsumsi dalam prespektif ekonomi Islam, di
antaranya adalah:
1) Konsumsi bukanlah aktifitas tanpa batas, melainkan juga terbatasi oleh sifat kehalalan dan
keharaman yang telah digariskan oleh syara'. Sebagaimana firman Allah SWT
َ ‫َيا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َ َمنُوا ََل ت ُ َح ِر ُموا‬
َّ ‫اَّللُ لَ ُك ْم َو ََل ت َ ْعتَدُوا ِإ َّن‬
َّ ‫ت َما أ َ َح َّل‬
َ‫اَّللَ ََل ي ُِحبُّ ْال ُم ْعتَدِين‬
ِ ‫ط ِي َبا‬
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah
Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas".5
2) Konsumen yang rasional (mustahlik al-aqlani) senantiasa membelanjakan pendapatan pada
berbagai jenis barang yang sesuai dengan kebutuhan jasmani maupun ruhaninya. Cara seperti
ini dapat mengantarkannya pada keseimbangan hidup yang memang menuntut keseimbangan
kerja dari seluruh potensi yang ada, mengingat, terdapat sisi lain di luar sisi ekonomi yang
juga butuh untuk berkembang.
3) Menjaga keseimbangan konsumsi dengan bergerak antara ambang batas bawah dan ambang
batas atas dari ruang gerak konsumsi yang diperbolehkan dalam ekonomi Islam (mustawa alkifayah). Mustawa kifayah adalah ukuran, batas maupun ruang gerak yang tersedia bagi
konsumen muslim untuk menjalankan aktifitas konsumsi. Di bawah mustawa kifayah,
seseorang akan terjerembab pada kebakhilan, kekikiran, kelaparan hingga berujung pada
kematian. Sedangkan di atas mustawa al-kifayah seseorang akan terjerumus pada tingkat
yang berlebih-lebihan (mustawa israf, tabdzir dan taraf). Kedua tingkatan ini dilarang di
dalam Islam, sebagaimana nash al-Qur'an
‫َوالَّذِينَ إِذَا أ َ ْنفَقُوا لَ ْم يُس ِْرفُوا َولَ ْم يَ ْقت ُ ُروا َو َكانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَ َوا ًما‬
"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan
tidak kikir, dan hendaklah (cara berbelanja seperti itu) ada di tengah-tengah kalian".6
َ ‫د‬
‫ي لَْ جْ تَ َاَل‬
‫َس لال لغ لَُ ل ََ طلسلبل ل ََلوجََللقُ ََُللَ ج‬
َ ‫كلد‬
‫ِ جةَلل لل لغ ل َك ج‬
‫َُ حلم ل َة جسل ل وجَ ُ َ ل فَ ج‬
ُ ‫د‬
5
6
QS Al-Maidah:87
QS al-furqan:67 dan al-Isra':29
6
"Dan jangan kau jadikan tanganmu terbelenggu ke lehermu (kikir) dan janganlah kamu
terlalu mengulurkannya (terlalu pemurah). Karena itu mengakibatkan kamu tercela dan
menyesal".
4) Memperhatikan prioritas konsumsi antara dlaruriyat, hajiyat dan takmiliyat. "Dlaruriyat
adalah komiditas yang mampu memenuhi kebutuhan paling mendasar konsumen muslim,
yaitu, menjaga keberlangsungan agama (hifdz ad-din), jiwa (hifdz an-nafs), keturunan (hifdz
an-nasl), hak kepemilikan dan kekayaan (hifdz al-mal), serta akal pikiran (hifdz al-aql).
Sedangkan hajiyat adalah komoditas yang dapat menghilangkan kesulitan dan juga relatif
berbeda antar satu orang dengan lainnya, seperti luasnya tempat tinggal, baiknya kendaraan
dan
sebagainya.
Sedangkan
takmiliyat
adalah
komoditi
pelengkap
yang
dalam
penggunaannya tidak boleh melebihi dua prioritas konsumsi di atas.7
Penjelasan lain mengenai Dharuriyah, Hajiyah dan Tahsiniyah. Para pakar maqasid telah
memetakan maqasid syariah menjadi beberapa bagian:
1) Kebutuhan Dharuriyat (Primer)
Ialah kemaslahatan yang menjadi dasar tegaknya kehidupan asasi manusia baik yang
berkaitan dengan agama maupun dunia. Jika dia luput dari kehidupan manusia maka
mengakibatkan rusaknya tatanan kehidupan manusia tersebut. Maslahat dharuriyat ini
merupakan dasar asasi untuk terjaminnya kelangsungan hidup manusia. Jika ia rusak,
maka akan muncul fitnah dan bencana yang besar.8
Yang termasuk dalam lingkup marsalah dharuriyat ini ada lima macam, yaitu hal-hal
yang berkaitan dengan pemeliharaan agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Umumnya
ulama ushul fiqh sependapat tentang lima hal tersebut sebagai maslahat yang paling asasi.
”Memelihara kelima hal tersebut termasuk kedalam tingkatan dharuriyat. Ia
merupakan tingkatan maslahat yang paling kuat. Diantara contoh-contoh nya, syara’
menetapkan hukuman mati atas orang kafir yang berbuat menyesatkan orang lain dan
7
8
Dr. Muhammad Abdul Mun'im Afar
Zakaria al-Biri
7
menghukum penganut bid’ah yang mengajak orang lain kepada bid’ahnya, karena hal
demikian mengganggu kehidupan masyarakat dalam mengikuti kebenaran agamanya;
memasyarakatkan hukuman qishas,. karena dengan adanya ancaman hukuman ini dapat
terpelihara jiwa manusia; mewajibkan hukuman had atas peminum khamar, karena
dengan demikian dapat memelihara akal yang menjadi sendi taklif; mewajibkan had
zina, karena dengan hal itu dapat memelihara nasab (keturunan); mewajibkan mendera
pembongkar kuburan dan pencuri, karena dengan demikian dapat memelihara harta
yang menjadi sumber kehidupan dimana mereka sangat memerlukannya.” 9
Secara
umum,
menghindari
setiap
perbuatan
yang
menggakibatkan
tidak
terpeliharanya salah satu dari kelima hal pokok (maslahat) tersebut, tergolong dharury
(prinsip). Syariat Islam sangat menekankan pemeliharaan hal tersebut, sehingga demi
mempertahankan nyawa (kehidupan) dibolehkan makan barang terlarang (haram),
bahkan diwajibkan sepanjang tidak merugikan orang lain. Karena itu bagi orang dalam
keadaan darurat yang khawatir akan mati kelaparan, diwajibkan memakan bangkai,
daging babi dan minum arak.
2) Kebutuhan hajjiyat (Sekunder)
Ialah segala sesuatu yang oleh hukum syara’ tidak dimaksudkan untuk
memelihara lima hal pokok tadi, akan tetapi dimaksudkan untuk menghilangkan
kesulitan, kesusahan, kesempitan dan ihtiyath (berhati-hati) terhadap lima hal pokok
tersebut.
Dalam lapangan ibadah Islam, mensyariatkan beberapa hukum rukhshah
(keringganan) bilamana kenyataan mendapatkan kesulitan dalam menjalankan perintahperintah taklif. Misalnya, Islam memperbolehkan tidak berpuasa dalam perjalankan
dalam jarak tertentu dengan syarat diganti pada hari lain begitu pula untuk orang yang
sedang sakit. Kebolehan meng-qasar shalat adalah juga dalam rangka memenuhi
kebutuhan hajiyat ini.
9
Imam al-Ghazali
8
Didalam lapangan muamalat, ialah diperbolehkannya banyak bentuk transaksi
yang dibutuhkan manusia, seperti akad muzara’ah, salam, murabahab, dan mudharabah.
Dilapangan ’uqubah (sanksi hukum), islam mensyariatkan hukuman diyat (denda)
bagi pembunuhan tidak disengaja.
Perlu ditegaskan bahwa termasuk dalam katagori hajjiyat adalah memelihara
kebebasan individu dan kebebasan beragama. sebab manusia membutuhkan kedua
kebebasan ini. Akan tetapi terkadang manusia menghadapi kesulitan. Termasuk hajjiyah
dalam keturunan, ialah diharamkan berpelukan. Sedang hajjiyat dalam hal harta, seperti
diharamkan ghasab dan merampas, keduanya tidak menyebabkan lenyapnya harta,
karena masih mungkin untuk diambil kembali, sebab keduanya dilakukan secara terangterangan. Sedangkan hajjiyat yang berkaitan dengan akal seperti diharamkannya
meminum khamar walau hanya sedikit.
3) Kebutuhan Tahsiniyat (Tersier) atau Kamaliyat (Pelengkap)
Ialah tingkat kebutuhan yang apabila tidak terpenuhi tidak mengancam eksistensi
salah satu dari kelima pokok diatas serta tidak pula menimbulkan kesulitan.
Yang dimaksud dengan maslahat jenis ini ialah sifatnya untuk memelihara
kebagusan dan kebaikan budi pekerti serta keindahan saja. Sekiranya kemaslahatan tidak
dapat diwujudkan dalam kehidupan tidaklah menimbulkan kesulitan dan kegoncangan
serta rusaknya tatanan kehidupan manusia. Dengan kata lain kemaslahatan ini hanya
mengacu pada keindahan saja. Sungguhpun demikian kemaslahatan seperti ini
dibutuhkan oleh manusia.
Dalam lapangan ibadah disyariatkan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan
tahsiniyat seperti islam menganjurkan berhias ketika hendak kemesjid, dan menganjurkan
banyak ibadah sunnah.
Dalam lapangan muamalat Islam melarang boros, kikir, menaikan harga,
monopoli dan lain-lain.
9
Dalam lapangan ’uqubah islam memgharamkan membunuh anak-anak dan wanita
dalam peperangan, serta melarang melakukan muslah (menyiksa mayit dalam
peperangan)
Diantara contoh tahsinat yang berkaitan dengan memelihara harta adalah
diharamkan menipu atau memalsukan barang. Perbuatan ini tidak menyentuh secara
langsung harta itu sendiri (eksistensinya), tetapi menyangkut kesempurnaannya. Sebab
hal ini berlawanan kepentingan dengan keingginan membelanjakan harta secara terang
dan jelas, serta keinginan memperoleh gambaran yang tepat tentang untung rugi. Jelaslah
kiranya hal ini tidak membuat cacat terhadap harta pokok (ashul mal), akan tetapi
berbenturan dengan kepentingan orang lain yang membelanjakan hartanya.
Contoh tahsinat yang berkenaan denagan memelihara keturunan adalah
diharamkan seorang wanita keluar rumah dengan menggenakan perhiasan. Dalam firman
Allah:
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya,
dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung
kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka,
atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera
suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki
mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau
budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai
keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.
dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka
sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang
beriman supaya kamu beruntung. 10
Larangan wanita memakai perhiasan diluar rumah ini termasuk kategori tahsinat,
karena memelihara kesempurnaan ashl nasl (pokok keturunan). Selain itu larangan
10
QS An-Nur:31
10
tersebut sebagai wujud dari kehormatan, kemuliaan, dan dapat menggangkat harkat
wanita yang pada dewasa ini diletakkan pada tempat yang rendah.
Tahsinat dalam kaitan dengan memelihara agama diantaranya adalah larangan
terhadap dakwah yang menyimpang, yang tidak menyentuh pokok keimanan (ashlul
itiqad), dimana semakin genjarnya gerakan dakwah semacam ini malah menimbulkan
keraguan terhadap ajaran islam. Demikian pula larangan mempelajari kitab-kitab yang
sumber-sumber ajaran agama lain bagi orang yang tidak mampu melakukan studi
perbandingan secara rasional dan mendalam diantara kebenaran-kebenaran agama.
Sedangkan tahsinat yang berkaitan dengan memelihara akal, contohnya seperti
melarang kafir dzimmy meminum dan menjual khamar ditengah masyarakat muslim,
walaupun minuman keras tersbut dijual khusus untuk kalangan kafir dzimmi sendiri.
Empat Pedoman Syariah dalam Berkonsumsi
1) azas maslahat dan manfaat membawa maslahat dan manfaat bagi jasmani dan rohani dan
sejalan dengan nilai maqasid syariah. Termasuk dalam hal ini kaitan konsumsi dengan
halal dan thoyyib.
2) azas kemandirian : ada perencanaan, ada tabungan, mengutang adalah kehinaan. Nabi
SAW menyimpan sebagian pangan untuk kebutuhan keluarganya selama setahun. 11 “ Ya
Allah jauhkanlah hamba dari kegundahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan,
kebodohan dan kebakhilan, beratnya utang, serta tekanan orang lain.12
3) azas kesederhanaan : bersifat qanaah, tidak mubazir. “ Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang Telah Allah halalkan bagi kamu, dan
janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas.”13
11
12
13
H.R Muslim
H.R Bukhari–Muslim.
QS Al-Maidah:87
11
4) azas Sosial : anjuran berinfaq . “ dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka
nafkahkan. Katakanlah, ‘ apa yang lebih dari keperluan (al-afwu). Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu berpikir.14
2.3.
Perbedaan Perilaku Konsumen Muslim Dengan Perilaku Konsumen Konvensional
Konsumen Muslim memiliki keunggulan bahwa mereka dalam memenuhi kebutuhannya
tidak sekadar memenuhi kebutuhan individual (materi), tetapi juga memenuhi kebutuhan sosial
(spiritual). Konsumen Muslim ketika mendapatkan penghasilan rutinnya, baik mingguan,
bulanan, atau tahunan, ia tidak berpikir pendapatan yang sudah diraihnya itu harus dihabiskan
untuk dirinya sendiri, tetapi karena kesadarannya bahwa ia hidup untuk mencari ridha Allah,
sebagian pendapatannya dibelanjakan di jalan Allah (fi sabilillah). Dalam Islam, perilaku
seorang konsumen Muslim harus mencerminkan hubungan dirinya dengan Allah (hablu mina
Allah) dan manusia (hablu mina an-nas).
Konsep inilah yang tidak kita dapati dalam ilmu perilaku konsumen konvensional. Selain
itu, yang tidak kita dapati pada kajian perilaku konsumsi dalam perspektif ilmu ekonomi
konvensional adalah adanya saluran penyeimbang dari saluran kebutuhan individual yang
disebut dengan saluran konsumsi sosial. Alquran mengajarkan umat Islam agar menyalurkan
sebagian hartanya dalam bentuk zakat, sedekah, dan infaq. Hal ini menegaskan bahwa umat
Islam merupakan mata rantai yang kokoh yang saling menguatkan bagi umat Islam lainnya 15.
2.4.
Konsep Maslahah Dalam Prilaku Konsumen Islami
Imam Shatibi menggunakan istilah 'maslahah', yang maknanya lebih luas dari sekadar
utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. Maslahah merupakan tujuan
hukum syara' yang paling utama.
Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang
14
15
QS Al-Baqarah:219
Muhammad Muflih, M.A
12
mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini (Khan
dan Ghifari, 1992). Ada lima elemen dasar menurut beliau, yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs),
properti atau harta benda (al mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau
keturunan (al-nasl). Semua barang dan jasa yang mendukung tercapainya dan terpeliharanya
kelima elemen tersebut di atas pada setiap individu, itulah yang disebut maslahah.
Adapun sifat-sifat maslahah sebagai berikut:

Maslahah bersifat subyektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi masing
masing dalam menentukan apakah suatu perbuatan merupakan suatu maslahah atau
bukan bagi dirinya. Namun, berbeda dengan konsep utility, kriteria maslahah telah
ditetapkan oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu. Misalnya, bila
seseorang mempertimbangkan bunga bank memberi maslahah bagi diri dan usahanya,
namun syariah telah menetapkan keharaman bunga bank, maka penilaian individu
tersebut menjadi gugur.

Maslahah orang per seorang akan konsisten dengan maslahah orang banyak. Konsep ini
sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum, yaitu keadaan optimal di mana
seseorang tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau kesejahteraannya tanpa
menyebabkan penurunan kepuasan atau kesejahteraan orang lain.

Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat, baik itu
produksi, konsumsi, maupun dalam pertukaran dan distribusi. Dengan demikian seorang
individu Islam akan memiliki dua jenis pilihan:
-
Berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk maslahah jenis pertama
dan berapa untuk maslahah jenis kedua.
13
-
Bagaimana memilih di dalam maslahah jenis pertama: berapa bagian pendapatannya
yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan dunia (dalam rangka
mencapai 'kepuasan' di akhirat) dan berapa bagian untuk kebutuhan akhirat.
Pada tingkat pendapatan tertentu, konsumen Islam, karena memiliki alokasi untuk hal-hal
yang menyangkut akhirat, akan mengkonsumsi barang lebih sedikit daripada non-muslim. Hal
yang membatasinya adalah konsep maslahah tersebut di atas. Tidak semua barang/jasa yang
memberikan kepuasan/utility mengandung maslahah di dalamnya, sehingga tidak semua
barang/jasa dapat dan layak dikonsumsi oleh umat Islam. Dalam membandingkan konsep
'kepuasan' dengan 'pemenuhan kebutuhan' (yang terkandung di dalamnya maslahah), kita perlu
membandingkan tingkatan-tingkatan tujuan hukum syara' yakni antara daruriyyah, tahsiniyyah
dan hajiyyah.
14
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Teori perilaku konsumen yang dibangun berdasarkan syariah Islam, memiliki perbedaan
yang mendasar dengan teori konvensional. Perbedaan ini menyangkut nilai dasar yang menjadi
fondasi teori, motif dan tujuan konsumsi, hingga teknik pilihan dan alokasi anggaran untuk
berkonsumsi.
Ada tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi masyarakat muslim:
1. Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat, prinsip ini mengarahkan
seorang konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk akhirat daripada dunia.
Mengutamakan konsumsi untuk ibadah daripada konsumsi duniawi. Konsumsi untuk
ibadah merupakan future consumption (karena terdapat balasan surga di akherat),
sedangkan konsumsi duniawi adalah present consumption.
2. Konsep sukses dalam kehidupan seorang muslim diukur dengan moral agama Islam, dan
bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi moralitas semakin tinggi
pula kesuksesan yang dicapai. Kebajikan, kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah
merupakan kunci moralitas Islam. Kebajikan dan kebenaran dapat dicapai dengan prilaku
yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan.
3. Kedudukan harta merupakan anugrah Allah dan bukan sesuatu yang dengan sendirinya
bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara berlebihan). Harta merupakan alat untuk
mencapai tujuan hidup, jika diusahakan dan dimanfaatkan dengan benar. (QS.2.265)
15
DAFTAR PUSTAKA
Muflih, Muhammad.
Perilaku Konsumen Dalam Perspektif Ekonomi Islam. Jakarta: PT.
Rajagrafindo Persada, 2006.
Setiadi, Nugroho. J. Perilaku Konsumen.Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010.
http://fe.umj.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=157:workshop&catid=42:f
e-articles&Itemid=94
Efendi, Satria M. Zein, Ushul Fiqh, Jakarta: Kencana
Khalab, Abdul Wahab. Ushul fiqh. Jakarta: pustaka Amani, 2003
Romli SA, Muqaramah Mazahib fi Ushul. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999
Tim Penyusun, Ensiklopedia Hukum Islam. Jakarta : PT. Pustaka Van Hoeve
Zahrah, Muhammad Abu, Ushul Fiqh. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003
16
Download