Pelapor Khusus PBB tentang perumahan yang layak

advertisement
Pelapor Khusus PBB tentang perumahan yang layak sebagai suatu komponen hak
atas standar hidup yang layak, dan hak atas non-diskriminasi dalam konteks
perumahan yang layak, Ms Raquel Rolnik
Misi Resmi ke Republik Indonesia
Temuan-Temuan Awal
Pernyataan Pers
Yang terhormat:
Bapak Ibu sekalian yang mewakili Media Masa;
Para Kolega/Rekan-rekan sekalian
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada anda sekalian yang telah meluangkan
waktu untuk berpartisipasi dalam konferensi pers ini, yang bertujuan menyajikan temuantemuan awal dari kunjungan resmi yang telah saya lakukan di Indonesia, dari 30 Mei
sampai 11 Juni 2013, atas undangan Pemerintah.
Saya ingin memulai pernyataan ini dengan menghaturkan terima kasih kepada
Pemerintah Republik Indonesia yang sudah memberi dukungan yang besar, yang dapat
dijadikan teladan bagi kunjungan saya. Saya sangat menghargai pertukaran pendapat
yang substantif dan penting dengan para pejabat pemerintah dan para pimpinan lembagalembaga tertentu. Semangat keterbukaan dan kerjasama yang ditunjukkan selama saya
berada di negeri ini telah memungkinkan saya melakukan kunjungan yang bermanfaat
dan independen serta melakukan analisis tentang situasi perumahan di negara ini.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada kantor Resident Coordinator PBB dan
CountryTeam PBB yang telah menyediakan dukungan logistik yang substantif untuk
kunjungan ini.
Selama berada di sini, saya bertemu dengan berbagai pejabat pemerintah, termasuk:
Ketua Mahkamah Konstitusi, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Pekerjaan Umum,
Menteri Sosial, Wakil Menteri Luar Negeri, perwakilan dari Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional
(Bappenas), Kementrian Hukum dan HAM, Kepala Badan Pertanahan Nasional,
perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Komisi Nasional Hak Asasi
Manusia, Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (KomnasPerempuan)
dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia, kantor Ombudsman, dan Perum Perumnas.
saya bertemu dengan Gubernur D.I. Yogyakarta dan dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Saya juga bertemu dengan Walikota Makassar dan Surabaya. Ijinkan saya menyampaikan
penghargaan saya yang mendalam kepada semuanya, juga timnya yang telah meluangkan
waktu untuk bertemu saya bahkan terlibat dalam dialog-dialog yang bermanfaat.
Saya juga bertemu dengan Komnas HAM,Komnas Perempuan dan Komisi Indonesia
untuk perlindungan Anak, perwakilan organisasi-organisasi internasional, lembaga donor,
perusahaan pengembang real estat, perwakilan Bank BTN, dan berbagai organisasi
masyarakat sipil dalam dan luar negeri serta organisasi-organisasi akar rumput. Saya
ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada setiap orang
yang telah bertukar pendapat secara terbuka.
Selama berada di sini, saya mengunjungi masyarakat di Jakarta, Makassar, Surabaya dan
Yogyakarta. Saya berterima kasih secara khusus kepada semua yang berbagi pengalaman
pribadi yang kadang-kadang tragis, saya juga berterimakasih atas keterlibatan mereka
yang aktif dan bersemangat berkaitan dengan isu-isu perumahan.
Pada hari ini saya akan membatasi diri dan hanya memberikan beberapa pernyataan
profesional awal berkaitan dengan beberapa isu dan bersama yang lainnya, akan dibahas
secara lebih rinci dalam laporan akhir saya, yang akan disampaikan kepada Dewan Hak
Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa pada bulan Maret 2014.
Seperti yang Anda ketahui, saya ditunjuk sebagai Ahli Independen oleh Dewan Hak
Asasi Manusia PBB untuk memantau dan mempromosikan realisasi progresif hak atas
perumahan yang layak di seluruh dunia. Karena itu saya independen dari PBB dan dari
Negara lain, dari pemerintah atau lembaga manapun. Karena itu, pandangan yang akan
saya bagikan dengan Anda semata-mata didasarkan pada penilaian ahli dan pada hasil
pengamatan serta analisis yang sudah saya lakukan berkaitan dengan situasi perumahan
di Indonesia melalui lensa atau kacamata hak atas perumahan yang layak, seperti yang
didefinisikan oleh hukum atau undang-undang hak asasi manusia internasional.
Dalam dekade terakhir ini, Indonesia telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang stabil
dan menunjukkan keuntungan substansial dalam indikator-indikator sosial dengan
penurunan angka kemiskinan secara bertahap, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan
dan sekarang Indonesia telah masuk dalam klasifikasi negara berpenghasilan menengah
rendah. Meskipun ada prestasi mengesankan seperti itu, ada sekitar 28,6 juta orang
(11,6%) dari seluruh rumah tangga yang masih hidup di bawah garis kemiskinan nasional
yang telah ditetapkan yaitu yang berpenghasilan 1,25 USD per hari (BPS 2012) Selain itu,
sebagian besar penduduk (38%) hidup di bawah 1,5 kali garis kemiskinan itu dan sangat
rentan untuk jatuh miskin akibat guncangan/shock. Dalam tiga tahun terakhir, seperempat
dari seluruh penduduk Indonesia telah berada dalam siatuasi kemiskinan, setidaknya
sekali.
Pada tahun 2025, menurut proyeksi, penduduk perkotaan di Indonesia akan mencapai
220 juta orang. Jumlah kaum miskin diperkirakan akan meningkat akibat berpindahnya
negara ini dari tingkat urbanisasi yang 50% pada saat ini menjadi 70% yang
diproyeksikan pada tahun 2030.
Kaum miskin kota terkonsentrasi di Jawa yang sangat terurbanisasi dan padat, yang
jumlahnya lebih dari dua pertiga (67,6%) dari seluruh penduduk miskin di Indonesia.
Migrasi internal dari pedesaan ke perkotaan disebabkan oleh adanya konsentrasi kegiatan
ekonomi di pusat-pusat perkotaan, khususnya di Jakarta serta dengan pembangunan di
daerah pedesaan yang bersaing untuk mendapatkan tanah dan sumber daya alam dengan
kegiatan ekonomi tradisional. Meskipun desentralisasi ekonomi merupakan bagian dari
agenda pembangunan ekonomi umum Indonesia, kelemahan dari konsentrasi historis dari
peluang-peluang ekonomi di Jawa, dan khususnya di Jakarta masih memberikan
tantangan pada dua tataran utama kebijakan perumahan - perbaikan dan peningkatan
kondisi perumahan yang ada pada saat ini yaitu mayoritas rumah tangga di daerah
perkotaan dan pedesaan, dan penyediaan peluang mendapatkan perumahan yang layak
bagi pertumbuhan di masa depan. Kombinasi dari urbanisasi yang cepat, kepadatan
penduduk dan tingkat kemiskinan yang tinggi memberikan tantangan serius bagi
terealisasinya hak atas perumahan yang layak bagi seluruh rakyat Indonesia. Tantangantantangan ini diperparah oleh kenyataan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia sangat
rentan terhadap perubahan iklim dan bencana alam, khususnya banjir, letusan gunung
berapi dan gempa bumi.
Sebagai pihak/anggota dari Konvensi Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan
Budaya, Indonesia memiliki kewajiban untuk memastikan adanya realisasi progresif hak
atas perumahan yang layak, sambil memastikan tidak adanyadiskriminasi dengan alasan
apapun. Hak atas perumahan yang layak tidak boleh ditafsirkan dalam arti sempit atau
terbatas misalnya hanya memiliki atap di atas kepala seseorang, tetapi hak atas
perumahan yang layak itu mencakup penjaminan akan: (a) keamanan hukum atau hak
milik (b) tersedianya layanan, bahan, sarana dan prasarana; (c) keterjangkauan, (d)
kelayakhunian, (e) aksesibilitas; (f) lokasi, dan (g) kesesuaian budaya.
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia dan Perundang-undangan Indonesia
menjamin hak atas perumahan yang layak dan Pemerintah Indonesia telah menyatakan
komitmennya untuk merealisasikan hak itu secara progresif dalam Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional. Ini adalah komitmen terpuji dari Pemerintah
Republik Indonesia menuju realisasi progresif hak atas perumahan yang layak di negeri
ini.
Kondisi perumahan saat ini
Pada tahun 2010 diperkirakan bahwa ada 7,9 juta rumah berada dalam kondisi di bawah
standar (Kementrian Kesehatan). Menurut data dari Kemenkes hanya 36% dari total
populasi urban Indonesia pada saat ini memiliki akses pada air leding, dan hanya tujuh
kota memiliki sistem pembuangan kotoran. Selain itu, kurang dari 10% dari keseluruhan
penduduk tujuh kota ini terhubung dengan fasilitas pembuangan kotoran. Adapun
mengenai limbah padat, hanya sekitar 50% -60% dari jumlah total yang dihasilkan,
dikumpulkan oleh jasa pengumpulan sampah kota.
Di balik angka-angka tersebut, ada sebuah realitas yang kompleks, yang mencakup
berbagai kategori kekurangan atau ketidaklayakan dalam hal perumahan, dari desa-desa
di daerah pedesaan sampai kampung-kampung perkotaan- adanya pemukiman legal dan
ilegal yang dibangun secara swadaya. Namun demikian, tidak ada data atau tidak
tersedianya penilaian resmi yang mencerminkan kompleksitas kondisi perumahan, yang
meliputi: keamanan kepemilikan, kelayakan, akses pada layanan dan infrastruktur dan
keterjangkauan.
Perumahan swadaya dan kampung
Menurut perkiraan resmi, 80% dari pembangunan perumahan di Indonesia telah dibangun
melalui sistem berbasis rumah tangga informal, termasuk perumahan swadaya dan hanya
kurang dari 20% dibangun melalui sistem formal. Perumahan informal ‘yang diatur
sendiri” telah membantu negara dalam mengeksternalisasi biaya penyediaan rumah
murah.
Suatu bagian penting dari permukiman informal ini adalah kampung di perkotaan, sebuah
pemukiman perkotaan pribumi yang sebagian besar dihuni oleh kelas menengah bawah
dan orang-orang miskin, penggunaan campuran daerah yang sangat padat penduduk,
untuk bekerja dan tinggal. Kondisi perumahan di kampung bervariasi, karena dari waktu
ke waktu beberapa kampung terhubung ke fasilitas kota seperti air ledeng, jalan dan
sistem drainase. Secara umum kampung ditandai dengan perumahan berkualitas rendah,
kurangnya jaminan kepemilikan lahan, dan kurangnya akses terhadap air bersih, sanitasi,
drainase, dan fasilitas-fasilitas pengendalian banjir, serta dengan adanya penetapan status
hukum yang dwimakna atau ambigu.
Selama misi saya, saya mengunjungi beberapa kampung di Jakarta, Makassar, Surabaya
dan Yogyakarta dan sangat terkesan dengan kekuatan kehidupan masyarakat dalam
"kelurahan-kelurahan" atau kampung di daerah perkotaan ini. Kampung dalam kota
merupakan bagian yang hakiki dari sejarah perkotaan Indonesia dan merupakan hal yang
penting dalam penyediaan perumahan bagi masyarakat berpendapatan rendah, dan
berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi kota dan pasar tenaga kerja. Kampung
merupakan hal yang sentral dalam struktur budaya dan sosial masyarakat Indonesia.
Meskipun penyisipan/insersi administratif dan hukum dari permukiman-pemukiman ini
bervariasi dari kota ke kota, ada beberapa yang diakui dalam rencana kota dan yang lain
tidak, satu bagian dari pemukiman ini digambarkan secara ‘consensual’ sebagai ilegal.
Saya mengacu pada permukiman di sepanjang pinggiran sungai, kanal, atau jalur kereta
api, sering di daerah rawan banjir, tidak sama dengan rencana tata ruang lokal dan
nasional, membuat mereka benar-benar "tak terlihat" dalam rencana kota, "ilegal" dan
rentan terhadap penggusuran serta berbahaya. Semua tingkat pemerintahan menahan diri
dan tidak menerapkan kebijakan dan program perumahan di pemukiman seperti ini dan
jarang melakukan nvestasi untuk membangun sarana dan prasarana. Akibatnya, kondisi
kehidupan di pemukiman ini jelas lebih buruk dibandingkan dengan jenis-jenis lain yang
ada di kampung. Pemukiman ini jelas merupakan rumah yang paling miskin di antara
orang miskin perkotaan, termasuk para migran internal yang tidak memiliki KTP.
Kebijakan umum terhadap pemukiman seperti ini di seluruh negeri adalah pembersihan,
dan dalam beberapa kasus diikuti dengan relokasi ke rumah susun sewa (Rusunuwa).
Namun demikian ada beberapa ambiguitas dan toleransi dalam praktek, mengingat
terbatasnya kapasitas pemerintah daerah untuk memberikan alternatif. Akibatnya,
pemukiman ini cenderung digusur ketika proyek pembangunan membutuhkan lahan dan
pemerintah daerah diminta untuk memfasilitasi proyek itu. Saya akan merujuk lagi pada
masalah ini nanti.
Saya khawatir bahwa pada saat lahan perkotaan mulai langka dan harga tanah perkotaan
meroket (khususnya di Jabodetabek), kampung-kampung dalam kota menghadapi
ancaman kekuatan ekonomi yang besar. Bangunan ritel dan komersial mengelilingi
kampung tapi pemerintah kotamadya jarang menyertakan atau memprioritaskan kampung
dalam rencana pembangunan mereka. Pelabelan kampung sebagai "" kumuh "dapat
menyebabkan miskonsepsi dan mencerminkan kesalahpahaman atasnya dalam struktur
kota Indonesia. Terminologi ini meningkatkan ketidakamanan dan ambiguitas dalam
pemukiman-pemukiman tersebut, yang membuka tanah tidak hanya untuk penggusuran
berbasis pembangunan tetapi juga meningkatkan keterpaparan mereka pada tekanan pasar.
Saya menghimbau pemerintah pusat dan daerah untuk memastikan agar kampungkampung tidak hanya ditingkatkan dan dilayani tapi juga diintgegrasikan ke dalam
rencana kota dan dilindungi dari pemindahan-pemindahan akibat tekanan pasar.
Selama misi saya, saya telah mendengar beberapa kali bahwa tidak ada ruang bagi
masyarakat miskin di kota karena tingginya harga lahan dan perumahan. Hak atas
perumahan yang layak merupakan suatu hak universal dan bukan hanya hak orang kaya.
Sebaliknya, negara wajib memprioritaskan kelompok rentan dan terpinggirkan. Ketika
saya membaca sejarah Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, dan ketika saya bertemu
dengan orang-orang di jalan, jelas bahwa kampung-kampung dan para buruh
berpenghasilan rendah, para Pedagang Kaki Lima (PKL) dan pekerja pasar ikan sudah
berada di sana selama beberapa dasawarsa bahkan abad, sebelum ada gedung-gedung
pencakar langit dan pusat perbelanjaan. Jadi ketika saya mendengar bahwa "orang miskin
harus tahu tempat mereka" - saya katakan, ya, mereka harus - dan tempat mereka adalah
di pusat kota! Tanah negara harus dialokasikan sebagai suatu prioritas bagi perumahan
orang-orang berpenghasilan rendah, termasuk di pusat-pusat kota.
Pemerintah harus juga menyediakan pelayanan bagi kampung-kampung ini dengan
infrastruktur yang memadai dan layanan publik, termasuk pembangunan kembali bila
diperlukan. Di kota-kota seperti Surabaya dan dalam proyek-proyek berbasis masyarakat
di seluruh negeri (Tanah Tinggi di Jakarta dan Strenkali Serta Boezem Morokrembagan
di Surabaya) Saya mengunjungi pelaksanaan alternatif-alternatif ke arah ini, yang
membuktikan bahwa hal ini bukan hanya diinginkan tetapi juga layak.
Sebuah aspek penting dalam mengamankan keberadaan kampung adalah memastikan
keamanan kepemilikan dengan suatu tingkatan yang kuat. Saya telah bertemu dengan
masyarakat yang telah menginvestasikan usaha dan sumber daya dalam meningkatkan
kampung mereka tetapi masih belum memiliki sertifikat tanah atau bentuk kepemilian
lainnya.
Kebijakan perumahan saat ini
Perbaikan permukiman kumuh
Indonesia memiliki sejarah panjang program perbaikan kawasan kumuh, yang dimulai
pada tahun 1960-an. Program Perbaikan Kampung yang dimulai pada tahun 1969 di
Jakarta dianggap sebagai salah satu yang paling penting dan paling sukses berkaitan
dengan proyek perbaikan permukiman kumuh di dunia.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir ini secara relatif, hanya ada sedikit program dan
sumber daya telah diarahkan pada perbaikan kawasan kumuh, dan jika demikian,
program tersebut dari skala yang lebih terbatas. Ada beberapa program upgrading,
beberapa di antaranya fokus pada rehabilitasi rumah (seperti BSPS - Bantuan Stimulan
Perumahan Swadaya, Dukungan untuk Stimulus Perumahan Swadaya, dioperasikan oleh
Depkes), yang lainnya fokus pada infrastruktur dan perumahan (seperti Proyek Sektor
Perbaikan Perumahan dan Lingkunga (NUSSP), yang dilaksanakan pada tahun 20052010 di 32 kota oleh Kementerian Perumahan Rakyat dan Program PNPM-Perkotaan,
yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum). Semua program ini melibatkan
kerja sama pemerintah pusat dan daerah, masyarakat itu sendiri dan dalam beberapa
kasus - kemitraan swasta-publik.
Meskipun program-program tersebut relatif memiliki hasil yang positif dan outcome yang
sukses, saya khawatir dengan adanya fragmentasi program-program yang berbeda antara
berbagai lembaga dan dengan tidak efisiennya mekanisme koordinasi yang ada. Saya
usulkan agar Pemerintah melakukan lagi program perbaikan kawasan kumuh secara
komprehensif dan holistik, yang dikoordinasikan secara memadai, didanai dan dipantau.
Program-program lain - perumahan sewa terjangkau dan pembiayaan perumahan
Salah satu program utama yang dilaksanakan pemerintah pada saat ini bagi keluarga
berpenghasilan rendahh adalah Rumah Susun Sewa terjangkau yang memasok rumah
susun sewa (rusunawa) yang disubsidi. Program ini dilaksanakan oleh beberapa instansi
pemerintah (termasuk pemerintah daerah, Kementerian Perumahan Rakyat dan
Perumnas) yang memiliki dua kelompok sasaran - permukiman informal yang direlokasi
dan pegawai negeri atau mahasiswa.
Konsep yang menggunakan strategi-strategi perumahan yang berbeda- perbaikan
permukiman kumuh, program-program pembiayaan untuk kepemilikan dan sewa - sangat
positif, yang mencerminkan kebutuhan yang berbeda dan kemungkinan keuangan dari
berbagai segmen masyarakat. Saya menyambut baik pendekatan ini. Namun demikian,
sampai saat ini program ini baru diimplementasikan pada skala yang tidak memadai
(antara tahun 2010 dan 2013-3800 unit (380 bangunan) dibangun oleh Kementerian
Perumahan Rakyat, dan yang dibangun oleh badan nasional atau provinsi lainnya yang
juga sangat sederhana). Hal ini terutama kalau kita menganggap bahwa hanya di Jakarta,
salah satu dari kelompok sasaran untuk rumah susun ini (keluarga yang akan direlokasi
dari tepi sungai) berjumlah puluhan ribu orang (menurut informasi yang diberikan kepada
saya selama misi ini, sepanjang sungai Ciliwung terdapat 40.000 orang), semntra hanya
ada 5,600 unit rusunawa (sebagiannya sudah dihuni).
Beberapa tantangan berkaitan dengan Rusunawa layak mendapat perhatian kita. Salah
satunya berkaitan dengan kesulitan menyediakan perawatan untuk blok-blok rusunawa
tersebut. Skema sewa Bersubsidi hanya bisa berhasil dalam jangka panjang ketika
anggaran pemerintah tersedia untuk juga mensubsidi agen-agen pengelola. Walalupun
ada beberapa Pemda (Surabaya) memberi subsidi untuk pemeliharaan, ini bukannya
kebijakan nasional. Kekhawatiran kedua mengacu pada kasus-kasus pemilihan penerima
manfaat yang tidak transparan yang dilaporkan. Suatu isu penting lain berkaitan dengan
program Rusunawa) adalah lokasinya. Keberlanjutan dari proyek-proyek tersebut tergantung
pada lokasinya – dekat dengan peluang kerja dan pelayanan publik, dan dalam hal masyarakat
yang direlokasi – dekat dengan tapak habitat asli mereka. Sesuai dengan informasi yang saya
terima dan kesan saya sendiri selama kunjungan saya, saat ini ada suatu daftar tunggu yang
panjang untuk menara apartemen yang terletak di lokasi yang baik (dekat kesempatan
memperoleh pekerjaan dan layanan publik dan dalamkasus komunitas yang dipindahkan,
dekatdengan tapakhabitatnya) bersama dengan tingkat hunian yang rendah untuk gedunggedung yang terletak di daerah terpencil.
Namundemikian, keprihatin saya ialah bahwa peningkatan daerah kumuh dan skema perumahan
yang terjangkau seperti Rusunawa saat ini berada di “kursi belakang” dalam hal alokasi anggaran
yang bertujuan untuk meningkatkan akses pada keuangan bagi kelas pemilik rumah
berpenghasilan menengah. Menurut Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional,
investasi terbesar saat ini untuk perumahan adalah subsidi pajak bagi para pengembang serta
subsidi uang muka dan bunga bagi para pembeli (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan –
FLPP tahun 2010). Namun, FLPP hanya mentargetkan mereka dengan penghasilan yang relatif
stabil, bekerja di pasar formal dan tidak memasukkan para wiraswasta di sector informal (yang
mewakili 60% dari angkatan kerja) dan para pekerja dengan penghasilan tidak stabil yang tidak
dapat merupakan jaminan yang didukung hipotek yang dapat dipasarkan. Walaupun rumah
tangga dengan penghasilan rendah dan para pekerja informal tidak termasuk dalam FLPP,
mereka tidak bisa terhindar dari pengaruhnya – peningkatan permintaan tanah dan rumah serta
harga tanah dan rumah yang meningkat.
Keprihatinan yang lain adalah bahwa fungsi perumahan Pemerintah tersebar di berbagai
kementerian, instansi dan BUMN, dan hal ini mengganggu adanya rancangan dan implementasi
kebijakan yang koheren. Disamping itu, proses desentralisasi telah mentransfer sebagian
tanggung jawab penyediaan perumahan kepada pemerintah daerah. Namun, hal ini tidak
didukung oleh suatu peningkatan kapasitas kelembagaan dan finansial di propinsi dan
kabupaten. Saya telah diperingatkan tentang banyak masalah pada koordinasi antar-lembaga di
tingkat pusat dan daerah.
Land
Ketersediaan tanah perkotaan yang terbatas merupakan salah satu dari hambatan utama pada
sektor perumahan di Indonesia, yang mempengaruhi ketersediaan dan keterjangkauan dari
segmen masyarakat yang paling miskin. Situasi ini telah menjadi semakin parah dalam 15 tahun
terakhir karena para pengembang swasta mendominasi pembangunan perkotaan di Indonesia.
Baru-baru ini real estate menjadi salah satu komoditas paling penting yang diperdagangkan di
bursa saham (informasi diberikan oleh Bank BTN). Komersialisasi tanah perkotaan tersebar luas
diikuti oleh spekulasi tanah dan monopoli tanah yang tidak terkontrol yang memberikan kontribusi
kepada harga-harga yang meroket tinggi, khususnya di pusat perkotaan utama, sehingga
mengurangi keterjangkauan tanah bagi rumah tangga dengan penghasilan rendah. Hanya
kurang dari 7% produk perumahan untuk pasar perumahan adalah kurang dari 700 juta Rupiah
(US$ 70.000). Dengan rata-rata penghasilan per kapita sebesar sekitar US$ 4.000-6.000 per
tahun, mayoritas dari populasi perkotaan tidak dapat membeli rumah dari pasar properti.
Sebagian besar rumah yang dibangun oleh perusahaan real estate ditargetkan untuk investasi
spekulatif oleh lebih dari 10% populasi perkotaan. Suatu studi yang dilakukan oleh Pusat
Metropolitan Universitas Tarumanagra melaporkan bahwa di Jabodetabek pada dekade terakhir
lebih dari 30 proyek real estate berskala besar, yang menempati lebih dari 30.000 hektar tanah
telah mengakomodasikan hanya 7% dari total pertumbuhan penduduk selama periode tersebut
(10 juta).
Pemerintah telah membuat beberapa peraturan pembangunan untuk mempromosikan distribusi
pembangunan tanah yang cukup kepada kelompok-kelompok berpenghasilan rendah, seperti
kebijakan 1:2:3 (memandatkan bahwa setiap proyek pembangunan harus menjaga suatu
proporsi dari: 1 unit berpenghasilan tinggi, 2 unit berpenghasilan menengah dan 3 unit
berpenghasilan rendah). Suatu kebijakan yang sama memandatkan bahwa 20% dari tanah di
setiap proyek pembangunan perumahan horisontal harus dialokasikan untuk unit berpenghasilan
rendah. Namun, saya telah diberitahu oleh para pejabat Pemerintah maupun masyarakat sipil
bahwa peraturan-peraturan tersebut tidak dilaksanakan oleh para pengembang dan tidak ada
monitoring dan penegakan yang efektif. Sayasenang mendengar bahwa KemetrianPerumahan
Rakyatdan Gubernur DKI Jakarta sedang mempetimnagkan usaha-usaha baru untuk
menguatkan penegakan regulasi-regulasi tersebut
Walaupun terdapat hambatan ini, suatu porsi tanah Negara yang sangat terbatas, yang masih
tersedia di kota-kota di Indonesia, dialokasikan untuk perumahan berpenghasilan rendah, baik
untuk mendukung alternatif perumahan yang baru bagi kaum miskin atau untuk mengetahui dan
atau mengakui pemukiman yang ada dan dengan demikian memberikan kepada mereka jaminan
kepemilikan dan meningkatkan kondisi hidup.
Di Indonesia terdapat suatu sistem kepemilikan tanah yang kompleks, tidak terselesaikan dan
eksklusioner. Menurut BPN (Badan Pertanahan Nasional), tanah non hutan terdiri atas sekitar 89
juta bidang tanah dan hanya 30% tanah tersebut memiliki hak tanah secara formal. UndangUndang Agraria Dasar tahun 1960 merupakan perundang-undangan utama yang mengatur
pengelolaan dan registrasi tanah. Walaupun Pasal 56 dari Undang-Undang Agraria Dasar
mengakui keberlanjutan keabsahan hak yang berasal dari adat1, atau hukum adat, pemegang
hak tidak dapat mendaftarkan haknya atau membuatnya sepenuhnya diakui oleh Negara sampai
yang bersangkutan membeli suatu sertifikat dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), yang
mengkonfirmasikan bahwa tanah tersebut bukan tanah Negara. Perangkat parallel dari hukum
adat dan hukum Negara di Indonesia telah menyebabkan kebingungan, konflik tanah, masalah
bagi masyarakat adat, penggusuran dan kerusakan hutan. Tambahan lagi, hak ulayat (yang
dapat diterjemahkan sebagai suatu “alokasi hak komunal”) tidak dapat diregistrasi. Hal ini
menghalangi masyarakat untuk secara kolektif memohon sertifikat tanah. Biaya registrasi tanah
yang sangat tinggi juga menghindarkan bagian terbesar dari populasi Indonesia dari sistem
registrasi resmi.
Disebabkan oleh proses desentralisasi, maka saat ini pemerintah kabupaten dan kotamadya
diberi kuasa untuk mengelola tanah dan menentukan penggunaan sumberdaya dan perencanaan
tataruang maupun untuk mengelola penerimaan dan anggaran. Saya telah diberitahu bahwa
dalam banyak hal para pengembang memperoleh izin untuk perkebunan, pertambangan atau
kegiatan pembangunan dari Pemerintah Daerah, tanpa diketahui oleh mereka yang sebenarnya
bertempat tinggal di atas tanah tersebut dan kadang-kadang bertentangan dengan rencana
tataruang atau peraturan zona. Bentrokan antara masyarakat di satu sisi serta pemerintah
daerah, Kementerian Kehutanan Kementerian Pertambangan dan perusahaan perkebunan
swasta di sisi lain, merupakan suatu fenomena yang umum dan bermasalah. Dalam konteks ini,
saya menyambut keputusan-keputusan akhir-akhir ini dari Mahkamah Konstitusi yang
1
Adat merupakan suatu pendekatan komunal dalam mengatur hak tanah, termasuk hak tanah yang
digunakan oleh perorangan dengan persetujuan masyarakat.
memberikan pengakuan terhadap hak adat atas tanah hutan dan daerah pesisir kepada
masyarakat yang secara tradisional hidup disana.
Konflik atas tanah tersebar luas di Indonesia dan mencegah jaminan registrasi dan kepemilikan.
Menurut suatu studi, 65 persen dari kasus pengadilan tata usaha negara melibatkan perselisihan
tanah. Kementerian Undang-Undang dan Hak Asasi Manusia (2/3 komplain) dan Ombudsman
(satu dari 5 teratas) juga menginformasikan kepada saya bahwa komplain tentang isu yang
terkait tanah ada di urutan teratas dari daftar mereka.
Tidak ada suatu otoritas tunggal yang berwenang untuk menyelesaikan perselisihan tanah serta
pengaturan formal dan informal untuk mengatasi konflik terkait tanah. Empat lembaga yang
berbeda memiliki kompetensi yang parallel dan bertumpang tindih: pengadilan sipil; pengadilan
pidana, pengadilan tata usaha negara; dan suatu forum perselisihan yag dibentuk oleh BPN
untuk menangani perselisihan yang berkaitan dengan kesalahan administrasi tanah dan
kesalahan dalam registrasi dan pemberian hak tanah. Proses litigasi untuk perselisihan tanah
menghabiskan waktu dan kadang-kadang sangat mahal bagi golongan miskin, terutama
bilamana tidak ada bantuan hukum cuma-cuma yang berkualitas bagi rumah tangga
berpenghasilan rendah dan tidak adanya suatu sistem informasi tanah yang transparan dan
dapat diakses.
Penggusuran
Kombinasi dari pembangunan yang cepat, system kepemilikan yang kompleks dan eksklusioner
serta kehadiran yang ambigius dari pemukiman informal di pusat-pusat perkotaan, telah
mencetuskan praktek-praktek penggusuran paksa dan pemukiman kembali secara paksa yang
tersebar luas di seluruh negara, sebagai kontradiksi terhadap kewajiban dan standar hak asasi
manusia internasional. Selama kunjungan ini, saya telah mendengar banyak kesaksian dari
masyarakat yang telah digusur secara paksa dari daerah-daerah pedesaan dan perkotaan oleh
para pelaku swasta dan berbagai otoritas pemerintah. Ini merupakan salah satu isu kekuatiran
utama yang telah saya temui selama misi saya. Biarlah saya jelas secara mutlak – penggusuran
paksa merupakan suatu pelanggaran besar terhadap suatu lingkup luas hak asasi manusia yang
diakui secara internasional. Istilah penggusuran paksa mengacu kepada suatu penggusuran
yang tidak dilakukan sesuai dengan undang-undang dan standard internasional, terlepas dari
apakah mereka yang digusur memegang hak yang sah atas tanah dan terlepas dari apakah
penggusuran
terjadi
dengan
menggunakan
kekerasan.
Ini
terjadi
sekalipun
penggusurandilakukan untuk melayani sebuah kepentingan umum yang syah, misalnya dengan
alasan menghindari/menjauhkanorang dari suatu risiko tertentu
Penggusuran paksa secara masal hanya boleh dilakukan di bawah keadaan eksepsional dan
sepenuhnya sesuai dengan undang-undang hak asasi manusia internasional, yang termasuk
kewajiban untuk memberikan informasi sepenuhnya atas tujuan penggusuran tersebut;
pemulihan hukum dan bantuan hukum kepada orang-orang yang memerlukannya untuk mencari
ganti rugi melalui pengadilan. Penggusuran tidak boleh melibatkan penggunaan kekerasan dan
tidak boleh mengakibatkan orang menjadi kehilangan rumah. Pihak Negara harus mengambil
semua langkah yang layak untuk memastikan kompensasi yang cukup dan/atau perumahan atau
pemukiman alternatif yang cukup. Solusinya harus dicapai dengan konsultasi yang berarti
dengan masyarakat yang terkena pengaruh untuk memastikan bahwa relokasi menghasilkan
perbaikan terhadap standar hidup mereka atau minimum tidak mengakibatkan kemundurannya.
Banyak sekali undang-undang dan peraturan nasional, propinsi dan kotamadya memberikan
wewenang kepada pemerintah daerah untuk melakukan penggusuran terhadap pemukiman dari
tanah yang dimiliki secara pribadi atau dari daerah-daerah yang tidak ditujukan untuk tempat
tinggal sesuai dengan rencana induk regional. Mayoritas dari masyarakat yang saya temui telah
bertempat tinggal di atas tanah yang telah ditunjuk untuk penggunaan public (ruang hijau, pinggir
sungai, sepanjang rel kereta api) dan telah menempati tanah tersebut selama bertahun-tahun
(dalam beberapa hal lebih dari 30 tahun). Dalam banyak hal (seperti kasus pemukiman di waduk
Pluit di Jakarta), masyarakat telah tinggal disana dengan persetujuan secara diam-diam dari
kotamadya atau otorisasi dari BUMN (seperti halnya kasus masyarakat Duri Tambora dan
perusahaan kereta api PT. KAI). Saya telah diperingatkan tentang rencana yang ada untuk dalam
waktu 5 tahun mendatang merelokasi 200.000 penduduk yang bertempat tinggal di pinggir sungai
dan daerah kumuh di Jakarta, terutama karena saat ini tidak tersedia solusi relokasi atau
kompensasi alternatif yang cukup dan tahan lama.
Walaupun pemukiman-pemukiman tersebut saat ini dicap sebagai “tempat pendudukan illegal”,
istilah ini menyesatkan, karena istilah yang merugikan ini mengaburkan fakta bahwa penempatan
terjadi dengan izin dan/atau toleransi dari negara. Sebagian besar korban penggusuran yang
saya temui dan berbicara menganggap bahwa mereka telah mendapatkan semacam bentuk
kepemilikan atas tanah dari mana mereka digusur, setelah menempatinya selama beberapa
dekade tanpa adanya bantahan (atau dorongan) dari entitas swasta atau publik dan pada
akhirnya menerima berbagai pelayanan pemerintah yang disediakan, dengan membayar pajak
tanah pemerintah.
Selama kunjungan saya, saya telah mendengar kesaksian bahwa dalam beberapa kejadian
mereka yang digusur sama sekali tidak menerima kompensasi. Hal ini terutama bagi warga tanpa
KTP atau orang yang tinggal di tanah yang tidak ditujukan untuk tempat tinggal – yang dianggap
ilegal. Pada kejadian lain, warga mengeluh bahwa kompensasi yang ditawarkan kepada mereka
tidak cukup untuk memperoleh perumahan alternatif yang mencukupi atau sebanding dan untuk
memperbaiki mata pencaharian mereka.
Sebagai suatu alternatif dari kompensasi keuangan, maka Negara dapat menyediakan
akomodasi atau tanah yang layak dan cukup, sesuai dengan keinginan dan kebutuhan dari
masyarakat yang terkena dampak.
Sementara kebijakan Pemerintah sehubungan dengan pemukiman yang telah “diregularisasi”
dan mempunyai sertifikat tanah, adalah untuk menawarkan alternatif kompensasi, alternatif tanah
atau perumahan atau in-situ perbaikan, dalam hal daerah kumuh “ilegal”, pemerintah menolak
untuk mempertimbangkan kompensasi atau in-situ perbaikan dan hanya memberikan opsi
relokasi kepada apartemen dengan sewa rendah di gedung-gedung bertingkat tinggi
(Rusunawa). Kesan saya adalah bahwa solusi ini tidak berkelanjutan karena beberapa alasan.
Pertama, sebagaimana telah saya sebutkan, pasokan dari apartemen dengan sewa rendah
sangat terbatas. Disamping itu, dalam banyak kejadian yang telah saya lihat, gedung-gedung
dengan sewa rendah terletak jauh dari lokasi asli masyarakat yang tergusur dan peluang kerja.
Diskriminasi
Kewajiban dari non-diskriminasi adalah suatu prinsip mendasar dari undang-undang hak asasi
manusia internasional. Kewajiban Negara untuk menjamin realisasi hak atas perumahan yang
cukup dilanjutkan dengan kewajiban untuk melindungi individu dan masyarakat dari tindakan atau
kelalaian pihak ketiga. Selama kunjungan saya, saya telah mendengar kesaksian bahwa
beberapa kelompok (seperti LGBT) menghadapi diskriminasi dalam mengakses perumahan yang
cukup dari para pelaku negara maupun non-negara.
Migran internal
Walaupun ada fakta bahwa hampir satu dari setiap empat orang warga perkotaan telah
bermigrasi dari daerah pedesaan selama hidupnya, banyak di antara mereka masih belum
mempunyai KTP untuk lokasi tempat tinggal mereka saat ini dan tidak menerima pelayanan
publik (seperti pendidikan dan kesehatan). Para migran terutama rentan terhadap konsekuensi
dari penggusuran paksa. Karena tidak memiliki KTP, maka mereka ditolak kompensasi atau
relokasi dan dalam banyak hal saya telah mendengar kesaksian bahwa satu-satunya solusi yang
ditawarkan kepada mereka adalah relokasi mereka kembali ke tempat asalnya. Namun solusi ini
tidak berkesinambungan disebabkan oleh konsentrasi peluang ekonomi dan kesempatan kerja
berada di pusat-pusat perkotaan, terutama di pulau Jawa.
Walaupun adalah layak untuk mengadakan persyaratan tempat tinggal minimum untuk bentuk
bantuan tertentu, hal tersebut harus secara eksklusif dilakukan dengan cara memperlihatkan
suatu KTP berbasis lokasi tetapi warga harus diizinkan untuk membuat tempat tinggal melalui
bentuk bukti yang lain, dan diizinkan untuk mengakses kompensasi dan bantuan dimana mereka
telah menderita kerugian atau kehilangan melalui penggusuran.
Minoritas agama
Saya juga prihatin dengan adanya beberapa laporan yang diterima selama kunjungan saya
tentang relokasi paksa dari minoritas agama (masyarakat Shi’a dan Ahmadiya) yang telah
dihasut oleh masa, kadang-kadang disertai atau dihasut oleh kelompok Islam radikal. Rumah,
sekolah dan tempat ibadah telah dibakar atau dihancurkan dalam penyerangan tersebut yang
memaksa ratusan keluarga di berbagai masyarakat keluar dari rumah mereka ke tempat
perlindungan dan akomodasi sementara tanpa akses ke fasilitas dasar, pelayanan dan
keamanan. Saya prihatin bahwa pihak berwenang telah gagal unutk secara cukup melindungi
masyarakat tersebut dari pengusiran paksa serta tindakan kekerasan.
Saya menghimbau Pemerintah untuk memastikan agar masyarakat yang mengungsi mempunyai
akses segera ke pelayanan esensial seperti makanan, air minum bersih dan pelayanan
kesehatan dan untuk menjamin mereka kembali dengan aman ke rumah mereka, serta
memberikan kepada mereka bantuan yang diperlukan untuk membangun kembali rumah mereka
yang telah dirusak atau dihancurkan.
Perempuan
Walaupun Undang-Undang Perkawinan 1974 menetapkan bahwa barang hak milik yang dibeli
selama perkawinan dimiliki bersama oleh pasangan hidup, perempuan di Indonesia masih
menghadapi praktek-praktek diskriminasi sehubungan dengan hak properti dan warisan
berdasarkan praktek-praktek adat dan kebiasaan di berbagai wilayah. Sementara perempuan di
pulau Jawa kadang-kadang tercatat sebagai pemilik bersama, di wilayah-wilayah lain, seperti
Sulawesi Tenggara dan pulau-pulau Nusa Tenggara Timur, pada umumnya perempuan tidak
memiliki hak individu ataupun hak bersama atas tanah, yang berasal dari hak mereka melalui
seorang keluarga suami atau laki-laki. Selama kunjungan saya, saya bertemu dengan beberapa
perempuan dari wilayah Sumba yang membagi kepada saya kesulitan mereka dalam
memperoleh sertifikat tanah, walaupun adanya fakta bahwa mereka telah menempati tanah
tersebut selama bertahun-tahun dan secara teratur telah membayar pajak tanah kepada otoritas
setempat.
saya juga ingin menggarisbawahi adanya keprihatinan lain yang disuarakan kepada saya
berkaitan dengan tidak memadainya solusi pemondokan bagi korban KDRT. Isu ini akan saya
angkat dengan lenih detil dalam laporan saya.
Rekonstruksi Pasca Bencana
Dalam dekade terakhir ini, Indonesia telah mengalami beberapa bencana alam yang
menyebabkan hilangnya banyak nyawa, tetapi juga kerusakan perumahan dan
infrastruktur yang parah dari seluruh komunitas di berbagai daerah di seluruh nusantara.
Dari tahun 2001 sampai 2010 ada 9.473 bencana alam, termasuk gempa bumi, tsunami,
dan letusan gunung api, dan bencana non-alam yang disebabkan oleh aktivitas manusia
seperti banjir, tanah longsor dan kebakaran di kota dan hutan, beberapa daerah yang
terkena dua atau lebih bencana alam dalam kurang dari 5 tahun.
Tak perlu dikatakan lagi bahwa dalam konteks ini, rekonstruksi dan rehabilitasi
masyarakat yang terkena dampak bencana memberikan tantangan maha besar bagi
Pemerintah Indonesia, baik dari segi teknis maupun anggaran. Selama berada di negara
ini, saya mengunjungi masyarakat di Bantul dan Sleman di provinsi Yogyakarta, yang
telah terkena dampak gempa bumi dan letusan gunung berapi, saya daapt melakukan
assessment pada Proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pemukikan Berbasis Komunitas
yang sedang dilaksanakan di daerah-daerah tersbut (REKOMPAK).
Walaupun saya akan lebih lanjut berbicara tentang kebijakan rekonstruksi pasca bencana
dalam laporan akhir saya, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk
mengungkapkan kesan saya yang sangat positif pada desain dan pelaksanaan program
REKOMPAK. Model ini adalah model terbaik untuk program rekonstruksi dan
rehabilitasi pasca bencana, yang harus saya nilai lagi di seluruh dunia. Dari perspektif
hak asasi manusia, program ini responsif, efektif dari segi biaya, diprakarsai masyarakat,
dan menyediakan solusi tahan lama dan berkelanjutan. Alternatif-alternatif rehabilitasi
disesuaikan dengan partisipasi penuh dari masyarakat yang terkena dampak, sesuai
dengan karakteristik daerah dan sosial budaya. Tentu saja kesulitan dalam pelaksanaan
dan keberlanjutan program masih tetap ada, misalnya hak masyarakat untuk menerima
dukungan negara (baik dari segi manajemen risiko maupun rehabilitasi in situ) bahkan
dalam kasus-kasus di mana mereka menolak untuk pindah ke sebuah tempat yang
berbeda atau penyewa yang terkena bencana. Fleksibilitas program ini dapat digunakan
untuk mengatasi kompleksitas ini.
Yang saya temukan sangat mencolok dan memberi inspirasi adalah bahwa kebijakan ini
memanfaatkan salah satu aset utama negara ini - kekuatan masyarakat dan tradisi kohesi
sosial dan pengorganisasian sendiri oleh masyarakat. Aset ini bisa dan harus dimobilisasi
dalam kebijakan Perumahan Nasional lainnya dan dalam proses perencanaan di semua
tingkat.
Rekomendasi:
Walalupun laporan akhir saya (yang akan disampaikan kepada Dewan Hak Asasi
Manusia pada bulan Maret 2014) akan mencakup rekomendasi terperinci tentang
masalah-masalah tersebut di atas, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk
memberikan beberapa rekomendasi awal untuk secara langsung dipertimbangkan oleh
Pemerintah Indonesia dan pemangku kepentingan terkait lainnya.
Tahun-tahun mendatang menyajikan jendela kesempatan bagi Pemerintah Indonesia
untuk secara proaktif mengelola proses urbanisasi dan proses-proses pembangunan untuk
memastikan pertumbuhan yang inklusif dan pengurangan kemiskinan. Kebijakan dan
program harus mendorong adanya struktur tata ruang kota UNTUK SEMUA,
perencanaan penggunaan lahan berkelanjutan, investasi dalam infrastruktur kritis, dan
penyediaan layanan dasar termasuk bagi mereka yang ada di permukiman informal.
Untuk tujuan tersebut, saya sarankan agar Pemerintah mengadopsi Strategi Pembangunan
Perumahan Nasional yang akan dirancang dengan partisipasi publik yang efektif dan
yang didasarkan pada data yang crosscutting/saling silang, terpilah dan terkini tentang
situasi dan kebutuhan perumahan. Salah satu tugas utama dalam Strategi tersebut adalah
lebih lanjut mengklarifikasi dan memfasilitasi tanggung jawab dan koordinasi antara
berbagai Kementrian, pemerintah provinsi dan daerah dan para pemangku kepentingan
lain yang terlibat dalam sektor perumahan dan lahan sambil menyelesaikan pelaksanaan
proses desentralisasi, dan menyediakan sumber daya yang diperlukan kepada pemerintah
daerah untuk melaksanakan tanggung jawab mereka.
Warisan Indonesia yang kuat menyangkut organisasi dan partisipasi masyarakat tidak
harus dibatasi pada tingkat Tetangga atau Warga. Pemerintah harus memastikan adanya
partisipasi penting dan terus-menerus dari masyarakat dalam merancang,
mengimplementasi dan memantau kebijakan perumahan dan lahan dan program-program,
baik di tingkat nasional maupun lokal, termasuk alokasi anggaran dan perencanaan tata
ruang ..
Tidak mungkin untuk memiliki kebijakan perumahan tanpa kebijakan pertanahan dan
kebijakan pertanahan harus melindungi kepentingan masyarakat miskin yang tidak
memiliki daya beli di pasar. Rencana tata ruang perkotaan dan peraturan penggunaan
lahan harus dirancang untuk menjamin adanya sebuah lingkungan perkotaan yang
inklusif dan beragam. Kebijakan pengelolaan lahan harus mengatur pasar untuk menahan
adanya spekulasi dan monopoli.
Tanah negara dan tanah perusahaan milik negara tanah mempunyai peran penting dalam
menjamin fungsi sosial kota dan desa. Oleh karena itu saya sarankan agar Pemerintah
mereview kepemilikan tanah Negara pada saat ini dan membandingkannya dengan
kebutuhan yang ada dan proyeksi kebutuhan akan tanah. Negara harus
mempertimbangkan untuk mengalokasikan lahan untuk perumahan untuk masyarakat
berpenghasilan rendah serta mengakui hak pemilikan permukiman yang ada.
Pemerintah Indonesia harus membawa undang-undang nasional dan kotanya serta
peraturan mengenai penggusuran dan pembebasan lahan sejalan dengan Hukum dan
Standar Hak Asasi Manusia Internasional.
Pertimbangkan untuk mereformasi peraturan yang ada tentang hak atas tanah dan
pendaftaran untuk: menyederhanakan proses, mengurangi biaya bagi perorangan, ijin
kolektif dan hak-hak ulayat, berikan persyaratan yang fleksibel untuk bentuk-bentuk
bukti kepemilikan yang diperlukan, tingkatkan efisiensi, dan kurangi penundaan.
Ijinkan saya mengakhiri pernytaan ini dengan menekankan kesan saya bahwa Pemerintah
Republik Indonesia sudah mempunyai komitmen untuk mempromosikan akses atas
perumahan yang layak dan saya berharap bahwa kunjungan saya dan laporan berikutnya
akan dapat membantu Pemerintah dalam mengarahkan upaya ini kepada segmen
masyarakat yang miskin dan rentan lainnya. Dengan penuh antisipasi Saya inginkan
adanya dialog konstruktif terus menerus yangsudah mulai terbangun selama kunjungan
saya.
Terimakasih banyak atas perhatiannya dan saya berharap untuk mendengarkan
pertanyaan Anda.
Jakarta, 11 Juni 2013
Download