bab 2 konsep pendidikan karakter ok

advertisement
BAB 2
KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER
A. Konsep Pendidikan karakter
1. Hakekat Karakter
Istilah karakter diambil dari bahasa Yunani, yaitu ‘to mark’ yang artinya
menandai. Istilah ini lebih fokus pada tindakan atau tingkah laku. Ada dua
pengertian tentang karakter. Pertama, karakter menunjukkan bagaimana
seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam,
ataupun rakus, tentulah orang tersebut dianggap memiliki perilaku buruk.
Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah
orang tersebut dianggap memiliki karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat
kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang
berkarakter’, apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral. Imam Ghozali
menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlaq, yaitu spontanitas
manusia dalam bersikap atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam
dirinya.
Menurut Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Karakter adalah
“bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat,
tabiat, temperamen, watak.” Sementara berkarakter adalah berkepribadian,
berperilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak.” Bagi Tadkiroatun Musfiroh
(UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap, perilaku, motivasi,
dan keterampilan.
Dengan demikian, karakter mulia, berarti individu itu memiliki
pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti
reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif,
mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela
berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati,
malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun,
ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif,
visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu,
1
pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan
(estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk
berbuat yang terbaik ataupun unggul. Selain itu, individu itu juga mampu
bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah
realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial,
etika, dan perilaku).
Individu yang berkarakter baik ataupun unggul adalah seseorang yang
berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
dirinya, sesamanya, lingkungannya, bangsa dan negaranya, serta dunia
internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan)
dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).
Dalam merumuskan
hakikat karakter, Simon Philips (2008:235)
berpendapat bahwa karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada
suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan.
Sedangkan Doni Koesoema A (2007:80) memahami bahwa karakter sama
dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ”ciri, atau karakteristik,
atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukanbentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya lingkungan keluarga pada
masa kecil dan juga bawaan seseorang sejak lahir.” Hal yang selaras
disampaikan dalam Buku Refleksi Karakter Bangsa (2008:233) yang
mengartikan karakter bangsa sebagai kondisi watak yang merupakan identitas
bangsa.
Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa karakter itu berkaitan dengan
kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi, ‘”orang berkarakter”
adalah orang yang mempunyai kualitas moral (tertentu) positif. Dengan
demikian, pendidikan membangun karakter, secara implisit mengandung arti
membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan
dimensi moral yang positif, bukan yang negatif. Gagasan ini didukung oleh
Peterson dan Seligman (Gedhe Raka, 2007:5) yang mengaitkan secara
langsung “character strength” dengan kebajikan. ‘Character strength’
dipandang sebagai unsur-unsur psikologis yang membangun kebajikan. Salah
satu kriteria utama dari ‘character strength’ adalah bahwa karakter tersebut
2
berkontribusi besar dalam mewujudkan sepenuhnya potensi dan cita-cita
seseorang dalam membangun kehidupan yang baik dan bermanfaat bagi
dirinya, orang lain dan bangsanya.
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang
terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan
digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan
bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral dan norma. Wujudnya
berupa sikap jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada
orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter
masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter
bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu
seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan
budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat
dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan. Artinya,
pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam
suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan
sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa.
2. Pendidikan Karakter
Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan
masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab. Pendidikan
bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi,
pendidikan
merupakan
sarana
pembudayaan
dan
penyaluran
nilai
(enkulturisasi dan sosialisasi). Anak harus mendapatkan pendidikan yang
menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itu mencakup
sekurang-kurangnya tiga hal paling mendasar, yaitu:
(1)
afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak
mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul dan
kompetensi estetis;
(2)
kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya
intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
3
(3)
psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan
keterampilan
teknis,
kecakapan
praktis,
dan
kompetensi
kinestetis.
Ki Hadjar Dewantara, pendiri Taman Siswa di Yogyakarta, pada Oktober
1949 pernah berkata bahwa "Hidup haruslah diarahkan pada kemajuan,
keberadaban, budaya dan persatuan.” Sedangkan menurut Prof. Wuryadi,
manusia pada dasarnya baik secara individu dan kelompok, memiliki apa yang
jadi penentu watak dan karakternya yaitu dasar dan ajar. Dasar dapat dilihat
sebagai apa yang disebut modal biologis (genetik) atau hasil pengalaman yang
sudah dimiliki (teori konstruktivisme), sedangkan ajar adalah kondisi yang
sifatnya diperoleh dari rangkaian pendidikan atau perubahan
yang
direncanakan atau diprogram.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan
pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya
pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa;
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.”
Tujuan pendidikan nasional itu
merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus
dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan
pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan karakter bangsa.
Atas dasar pemikiran itu, pengembangan pendidikan karakter sangat
strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang.
Pengembangan itu harus dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar serta pembelajaran yang efektif. Sesuai
dengan sifat suatu nilai, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha
bersama sekolah; oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua
4
guru dan pemimpin sekolah, melalui semua mata pelajaran, dan menjadi
bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah.
Di sinilah, pendidikan karakter menjadi suatu sistem penanaman nilai-nilai
karakter warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan
karakter juga dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of
school life to foster optimal character development”. Dalam pendidikan karakter
di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk
komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses
pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran,
pengelolaan
sekolah,
pelaksanaan
aktivitas
atau
kegiatan
ko-kurikuler,
pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga
sekolah. Di samping itu, pendidikan karakter juga dapat dimaknai sebagai suatu
perilaku yang harus dilakukan warga sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkarakter.
Menurut David Elkind & Freddy Sweet (2004), pendidikan karakter dimaknai
sebagai berikut: “character education is the deliberate effort to help people
understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about
the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be
able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they
believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from
within”.Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu
yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru
membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan
bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi,
bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.
Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna
yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah
membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat,
dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga
masyarakat yang baik dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat dan
bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi
5
oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan
karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni
pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri,
dalam rangka membina kepribadian generasi muda.
Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari
nilai moral universal (bersifat absolut) sebagai pengejawantahan nilai-nilai agama
yang biasa disebut the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan
yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para
ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah
dan ciptaan-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun,
kasih sayang, peduli, kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, pantang
menyerah, keadilan kepemimpinan, baik, rendah hati, toleransi, cinta damai dan
cinta persatuan.
Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat
dipercaya, rasa hormat, perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab, tulus, berani,
tekun, disiplin, visioner, adil, dan integritas. Atas dasar itulah, penyelenggaraan
pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar
yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih
tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan,
kondisi dan lingkungan sekolah itu sendiri.
Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas
pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan
tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya
kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai
kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan, di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut
telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga
pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan
dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik
melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.
Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya
peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian,
ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan
6
modus pendidikannya. Berhubungan dengan pendekatan, sebagian pakar
menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang
dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral
kognitif, pendekatan analisis nilai dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian yang
lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman
nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik.
Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara
psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu
merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif,
dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga,
sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter
dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat
dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah
Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and
kinestetic development) dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity
development) yang secara diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut.
(GAMBARNYA MANA????)
Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral.
Menurut Hersh dkk (1980), diantara berbagai teori yang berkembang, ada lima
teori yang banyak digunakan; yaitu: 1) pendekatan pengembangan rasional, 2)
pendekatan pertimbangan, 3) pendekatan klarifikasi nilai, 4) pendekatan
pengembangan moral kognitif, dan 5) pendekatan perilaku sosial. Berbeda dengan
klasifikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang
berkembang menjadi tiga, yakni: 1) pendekatan kognitif, 2) pendekatan afektif,
dan 3) pendekatan perilaku. Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang
biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan afeksi.
Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter
merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk
membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan,
kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.
7
B. Urgensi Pendidikan Karakter
1. Pemasalahan
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
pada Pasal 3, menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa
pendidikan di setiap jenjang, harus diselenggarakan secara sistematis guna
mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter
peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan
berinteraksi dengan masyarakat.
Pendidikan karakter merupakan perpaduan yang seimbang diantara empat
hal yaitu, olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga. Olah hati bermakna
berkata, bersikap, dan berperilaku jujur. Olah pikir, cerdas yang selalu merasa
membutuhkan pengetahuan. Olah rasa artinya memiliki cita-cita luhur, dan olah
raga maknanya menjaga kesehatan seraya menggapai cita-cita tersebut. Dengan
memadukan secara seimbang keempat anasir kepribadian itu, peserta didik akan
mampu menghayati dan membatinkan nilai-nilai luhur pendidikan karakter.
Banyak yang beranggapan kesuksesan seseorang banyak ditentukan oleh
pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja. Sesungguhnya tidaklah
benar bila ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis semata, tetapi
lebih dominan ditentukan oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft
skill). Kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya
80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil
dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal
ini
mengisyaratkan
bahwa
pendidikan
dikembangkan.
8
karakter
sangat
penting
untuk
Berbicara masalah pendidikan karakter, tentu tidak terlepas dari pengertian
karakter itu sendiri. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang
berhubungan dengan Sang Penciptaa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan,
dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan
perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat
istiadat. Dengan demikian, pendidikan karakter dapat pula dimaknai sebagai suatu
sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai
tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan,
maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Dalam konteks keindonesiaan, penerapan pendidikan karakter merupakan
kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Para putra putri bangsa telah
banyak pemborong medali dalam setiap kompetisi olimpiade sains internasional.
Mereka mereka membutuhkan penghargaan sebagai bagian implementasi
pendidikan karakter. Namun di sisi lain, kasus siswa-siswi cacat moral seperti
siswi married by accident, aksi pornografi, kasus narkoba, plagiatisme dalam
ujian, dan sejenisnya, senantiasa marak menghiasi sejumlah media. Bukan hanya
terbatas pada peserta didik, lembaga-lembaga pendidikan maupun instansi
pemerintahan yang notabene diduduki oleh orang-orang penyandang gelar
akademis, pun tak luput terjangkiti virus dekadensi moral.
Realitas mencengangkan tersebut dapat dianalogikan sebagai sebuah
tamparan keras bagi bangsa. Para stakeholders dan pendidik yang tadinya
diharapkan menjadi ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, dan tut
wuri handayani, malah lebih menyuburkan slogan sarkastik: guru kencing berdiri,
murid kencing berlari.
"Ketidaksehatan" lingkungan pendidikan inilah yang akhirnya mendorong
munculnya tren homeschooling dan pendidikan virtual. Model pendidikan baru ini
kian membuat sistem pendidikan formal tersisih. Tak sedikit keluarga peserta
didik yang lantas mengalihkan anaknya untuk mengikuti program homeschooling
karena khawatir akan pengaruh lingkungan sekolah yang tak lagi ‘steril’.
Penyebab lain, tak jarang peserta didik mengalami tekanan psikologis di sekolah
non-virtual disebabkan interaksi dengan guru yang terlalu kaku dan otoriter, plus
9
tekanan pergaulan antarsiswa. Naasnya, pendidikan virtual bukannya memberikan
solusi, malah membuat peserta didik semakin tercabut dari persinggungan realitas
sosialnya.
Berbagai fenomena di atas menuntut agar sistem pendidikan dikaji ulang.
Dalam hal ini, kurikulum sebagai standar pedoman pembelajaran belum
sepenuhnya mengejawantahkan tujuan utama pendidikan itu sendiri, yaitu
membentuk generasi cerdas komprehensif. Oleh karena itu, diperlukan reformasi
pendidikan, demi memulihkan kesenjangan antara kualitas intelektual dengan
nilai-nilai moral etika, budaya dan karakter.
Proses pendidikan di samping sebagai transfer pengetahuan—seharusnya
menjadi alat transformasi nilai-nilai moral dan character building.. Semakin
terdidik seseorang, secara logis, seharusnya semakin tahu mana jalan yang benar
dan mana jalan yang menyimpang, sehingga ilmu dan kualitas akademis yang
didapatkan tidak disalahgunakan.
Pendidikan karakter berupaya menjawab berbagai problema pendidikan
dewasa ini. Pendidikan tersebut adalah sebuah konsep pendidikan integratif yang
tidak hanya bertumpu pada pengembangan kompetisi kognitif peserta didik
semata, tetapi juga pada penanaman nilai etika, moral, dan spritual.
Untuk mewujudkan pendidikan karakter, tidaklah perlu dibuat mata
pelajaran baru, tetapi cukup diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata
pelajaran. Salah satu cara yang efektif dengan mengubah atau menyusun silabus
dan RPP dengan menyelipkan norma atau nilai-nilai dalam konteks kehidupan
sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada
tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam
kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. Salah satunya dengan
mengambangkan pembelajaran kontekstual.
2. Landasan Pedagogis Pendidikan Karakter
Pendidikan adalah suatu upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta
didik secara optimal. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan
peserta didik berada, terutama dari lingkungan budayanya, karena peserta didik
hidup tak terpisahkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-
10
kaidah budayanya. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip itu akan
menyebabkan peserta didik tercerabut dari akar budayanya. Ketika hal ini terjadi,
maka mereka tidak akan mengenal budayanya dengan baik sehingga ia menjadi
orang “asing” dalam lingkungan budayanya. Selain menjadi orang asing, yang
lebih mengkhawatirkan adalah dia menjadi orang yang tidak menyukai
budayanya.
Budaya yang menyebabkan peserta didik tumbuh dan berkembang, dimulai
dari budaya di lingkungan terdekat (kampung, RT, RW, desa) berkembang ke
lingkungan yang lebih luas yaitu budaya nasional bangsa dan budaya universal
yang dianut oleh umat manusia. Apabila peserta didik menjadi asing dari budaya
terdekat, maka dia tidak mengenal dengan baik budaya bangsa dan dia tidak
mengenal dirinya sebagai anggota budaya bangsa. Dalam situasi demikian, dia
sangat rentan terhadap pengaruh budaya luar dan bahkan cenderung untuk
menerima budaya luar tanpa proses pertimbangan. Kecenderungan itu terjadi
karena dia tidak memiliki norma dan nilai budaya nasionalnya yang dapat
digunakan sebagai dasar untuk melakukan pertimbangan.
Semakin kuat seseorang memiliki dasar pertimbangan, semakin kuat pula
kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang baik.
Pada titik kulminasinya, norma dan nilai budaya secara kolektif pada tingkat
makro akan menjadi norma dan nilai budaya bangsa. Dengan demikian, peserta
didik akan menjadi warga negara Indonesia yang memiliki wawasan, cara
berpikir, cara bertindak, dan cara menyelesaikan masalah sesuai dengan norma
dan nilai ciri ke-Indonesiaannya. Hal ini sesuai dengan fungsi utama pendidikan
yang diamanatkan dalam UU Sisdiknas, “Mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa”. Oleh karena itu, aturan dasar yang mengatur
pendidikan nasional (UUD 1945 dan UU Sisdiknas) sudah memberikan landasan
yang kokoh untuk mengembangkan keseluruhan potensi diri seseorang sebagai
anggota masyarakat dan bangsa.
Pendidikan adalah suatu proses enkulturasi, yang berfungsi mewariskan nilainilai dan prestasi masa lalu ke generasi mendatang. Nilai-nilai dan prestasi itu
merupakan kebanggaan bangsa dan menjadikan bangsa itu dikenal oleh bangsa-
11
bangsa lain. Selain mewariskan, pendidikan juga memiliki fungsi untuk
mengembangkan nilai-nilai budaya dan prestasi masa lalu menjadi nilai-nilai
budaya bangsa yang sesuai dengan kehidupan masa kini dan masa yang akan
datang, serta mengembangkan prestasi baru yang menjadi karakter bangsa. Oleh
karena itu, pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan inti dari suatu
proses pendidikan.
Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari karakter itu
menghendaki suatu proses yang berkelanjutan, dilakukan melalui berbagai mata
pelajaran yang ada dalam kurikulum (kewarganegaraan, sejarah, geografi,
ekonomi, sosiologi, antropologi, bahasa Indonesia, IPS, IPA, matematika, agama,
pendidikan
jasmani
dan
olahraga,
seni,
serta
keterampilan).
Dalam
mengembangkan pendidikan karakter bangsa, kesadaran akan siapa dirinya dan
bangsanya adalah bagian yang teramat penting. Kesadaran tersebut hanya dapat
terbangun dengan baik melalui sejarah yang memberikan pencerahan dan
penjelasan mengenai siapa diri bangsanya di masa lalu yang menghasilkan dirinya
dan bangsanya di masa kini. Selain itu, pendidikan harus membangun pula
kesadaran, pengetahuan, wawasan dan nilai berkenaan dengan lingkungan tempat
diri dan bangsanya hidup (geografi), nilai yang hidup di masyarakat (antropologi),
sistem sosial yang berlaku dan sedang berkembang (sosiologi), sistem
ketatanegaraan, pemerintahan dan politik (ketatanegaraan/politik/ kewarganegaraan), bahasa Indonesia dengan cara berpikirnya, kehidupan perekonomian,
ilmu, teknologi dan seni. Artinya, perlu ada upaya terobosan kurikulum berupa
pengembangan nilai-nilai yang menjadi dasar bagi pendidikan karakter bangsa.
Dengan terobosan kurikulum yang demikian, nilai dan karakter yang
dikembangkan pada diri peserta didik akan sangat kokoh dan memiliki dampak
nyata dalam kehidupan diri, masyarakat, bangsa, dan bahkan umat manusia.
Pendidikan karakter bangsa dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau
kebajikan yang menjadi nilai dasar budaya dan karakter bangsa. Kebajikan yang
menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu,
pendidikan budaya dan karakter bangsa pada dasarnya adalah pengembangan
nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia,
12
agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan
nasional.
3. Tujuan, Fungsi, dan Media Pendidikan karakter
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang
tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong,
berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan
teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa berdasarkan Pancasila.
Pendidikan karakter berfungsi (1) mengembangkan potensi dasar agar
berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) memperkuat
membangun perilaku bangsa yang multikultur;
dan
(3) meningkatkan peradaban
bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia. Pendidikan karakter dilakukan
melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat
sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
4. Nilai-nilai Pembentuk Karakter
Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah
teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya dan tujuan
pendidikan nasional, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5)
Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10)
Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13)
Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli
Lingkungan, (17) Peduli Sosial, & (18) Tanggung Jawab (Puskur. Pengembangan
dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009:9-10).
Nilai dan deskripsinya terdapat dalam Lampiran 1.
Secara operasional, nilai-nilai tersebut bisa diidentifikasi sebagai berikut :
a.
Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan
Religius. pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan
selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran
agamanya.
b.
Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri
1) Jujur
13
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai
orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan
pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain
2) Bertanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap
diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya),
negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
3) Bergaya hidup sehat
Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam
menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk
yang dapat mengganggu kesehatan.
4) Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada
berbagai ketentuan dan peraturan.
5) Kerja keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam
mengatasi
berbagai
hambatan
guna
menyelesaikan
tugas
(belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.
6) Percaya diri
Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan
tercapainya setiap keinginan dan harapannya.
7) Berjiwa wirausaha
Sikap dan perilaku yang mandiri dan pandai ataupun berbakat
mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun
operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta
mengatur permodalan operasinya.
8) Berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif
Berpikir dan melakukan sesuatu secara realistis dan kritis untuk
menghasilkan hasil baru dari apa yang telah dimiliki.
9) Mandiri
14
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain
dalam menyelesaikan tugas-tugas.
10) Ingin tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih
mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat dan
didengar.
11) Cinta ilmu
Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan,
kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan.
c.
Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama
1) Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi
milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri
sendiri serta orang lain.
2) Patuh pada aturan-aturan sosial
Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan
masyarakat dan kepentingan umum.
3) Menghargai karya dan prestasi orang lain
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan
sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mempunyai sikap
mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.
4) Santun
Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun
tata perilakunya ke semua orang.
5) Demokratis
Cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan
kewajiban dirinya dan orang lain.
d.
Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan
1) Peduli sosial dan lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan
pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upayaupaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan
15
selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang
membutuhkan.
2) Nilai kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan
kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan
kelompoknya.
3) Nasionalis
Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan,
kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa,
lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.
4) Menghargai keberagaman
Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal
baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama.
Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun
satuan pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangannya dengan cara
melanjutkan nilai prakondisi, seperti taqwa, bersih, rapi, nyaman, dan sopan, yang
diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18 nilai di atas. Dalam
implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih tentu akan dapat berbeda
antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung
pada kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing. Di antara
berbagai nilai yang dikembangkan, dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari nilai
yang esensial, sederhana, dan mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi masingmasing sekolah/wilayah, yakni bersih, rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.
5. Proses Pendidikan Karakter
Proses pendidikan karakter didasarkan pada totalitas psikologis yang
mencakup seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, psikomotorik) dan
fungsi totalitas sosiokultural dalam konteks interaksi dalam keluarga, satuan
pendidikan, dan masyarakat. Totalitas psikologis dan sosiokultural dapat
dikelompokkan sebagaimana yang digambarkan dalam bagan berikut:
16
RUANG LINGKUP PENDIDIKAN KARAKTER
cerdas, kritis,
kreatif, inovatif,
ingin tahu, berpikir
terbuka, produktif,
berorientasi Ipteks,
dan reflektif
bersih dan sehat,
disiplin, sportif,
tangguh, andal,
berdaya tahan,
bersahabat,
kooperatif,
determinatif,
kompetitif, ceria,
dan gigih
OLAH
PIKIR
OLAH
HATI
OLAH
RAGA
OLAH
RASA/
KARSA
beriman dan bertakwa,
jujur, amanah, adil,
bertanggung jawab,
berempati, berani
mengambil resiko,
pantang menyerah, rela
berkorban, dan berjiwa
patriotik
ramah, saling
menghargai, toleran,
peduli, suka menolong,
gotong royong,
nasionalis, kosmopolit ,
mengutamakan
kepentingan umum,
bangga menggunakan
bahasa dan produk
Indonesia, dinamis,
kerja keras, dan beretos
kerja
Bagan 2: Ruang Lingkup Pendidikan Karakter
Berdasarkan gambar tersebut di atas, pengkategorian nilai didasarkan pada
pertimbangan bahwa pada hakikatnya perilaku seseorang yang berkarakter
merupakan perwujudan fungsi totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi
individu manusia (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dan fungsi totalitas sosialkultural dalam konteks interaksi (dalam keluarga, satuan pendidikan, dan
masyrakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks
totalitas proses psikologis dan sosial-kultural dapat dikelompokkan dalam:
(1) olah hati (spiritual & emotional development);
(2) olah pikir (intellectual development);
(3) olah raga dan kinestetik (physical & kinesthetic development); dan
(4) olah rasa dan karsa (affective and creativity development).
Proses tersebut secara holistik dan koheren memiliki saling keterkaitan dan
saling melengkapi, serta masing-masingnya secara konseptual merupakan gugus
17
nilai luhur yang di dalamnya terkandung sejumlah nilai sebagaimana dapat di lihat
pada gambar di atas (Desain Induk Pendidikan Karakter, 2010: 8-9).
C. Strategi Pendidikan Karakter pada Tingkat Satuan Pendidikan
1. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dalam kerangka pengembangan karakter peserta
didik dapat menggunakan pendekatan kontekstual sebagai konsep belajar dan
mengajar yang membantu guru dan peserta didik mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata, sehingga peserta didik mampu untuk
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka. Dengan begitu, melalui pembelajaran kontekstual
peserta didik lebih memiliki hasil yang komprehensif tidak hanya pada tataran
kognitif (olah pikir), tetapi pada tataran afektif (olah hati, rasa, dan karsa), serta
psikomotor (olah raga).
Pembelajaran kontekstual mencakup beberapa strategi,
yaitu: (a)
pembelajaran berbasis masalah, (b) pembelajaran kooperatif, (c) pembelajaran
berbasis proyek, (d) pembelajaran pelayanan, dan (e) pembelajaran berbasis kerja.
Kelima strategi tersebut dapat memberikan nurturant effect pengembangan
karakter peserta didik, seperti: karakter cerdas, berpikir terbuka, tanggung jawab,
rasa ingin tahu.
2. Pengembangan Budaya Sekolah dan Pusat Kegiatan Belajar
Pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar dilakukan
melalui kegiatan pengembangan diri, yaitu:
a.
Kegiatan rutin
Kegiatan rutin yaitu kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terusmenerus dan konsisten setiap saat. Misalnya kegiatan upacara hari Senin,
upacara besar kenegaraan, pemeriksanaan kebersihan badan, piket kelas,
shalat berjamaah, berbaris ketika masuk kelas, berdo’a sebelum pelajaran
dimulai dan diakhiri, dan mengucapkan salam apabila bertemu guru, tenaga
administratif, dan teman.
b.
Kegiatan spontan
18
Kegiatan yang dilakukan peserta didik secara spontan pada saat itu juga,
misalnya, mengumpulkan sumbangan ketika ada teman yang terkena musibah
atau sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi bencana.
c.
Keteladanan
Merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan dan peserta
didik dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik
sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lain. Misalnya nilai
disiplin, kebersihan dan kerapihan, kasih sayang, kesopanan, perhatian, jujur,
dan kerja keras.
d.
Pengkondisian
Pengkondisian yaitu penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan
pendidikan karakter, misalnya kondisi toilet yang bersih, tempat sampah,
halaman yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak yang dipajang
di lorong sekolah dan di dalam kelas.
3. Kegiatan ko-kurikuler dan atau kegiatan ekstrakurikuler
Demi terlaksananya kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler yang
mendukung pendidikan karakter, perlu didukung dengan perangkat pedoman
pelaksanaan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, dan revitalisasi
kegiatan ko dan ekstrakurikuler yang sudah ada ke arah pengembangan karakter.
4. Kegiatan keseharian di rumah dan di masyarakat
Dalam kegiatan ini sekolah dapat mengupayakan terciptanya keselarasan
antara karakter yang dikembangkan di sekolah dengan pembiasaan di rumah dan
masyarakat. Agar pendidikan karakter dapat dilaksanakan secara optimal,
pendidikan karakter dapat diimplementasikan sebagaimana yang terdapat dalam
tabel di bawah ini.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KTSP
1. Integrasi dalam
mata pelajaran
yang ada
Mengembangkan silabus dan RPP pada kompetensi
yang telah ada sesuai dengan nilai yang akan
diterapkan
2. Mata pelajaran
dalam Mulok
Ditetapkan oleh sekolah/daerah
Kompetensi dikembangkan oleh sekolah/daerah
3. Kegiatan
Pengembangan
Diri
Pembudayaan & Pembiasaan
Pengkondisian
Kegiatan rutin
Kegiatan spontanitas
Keteladanan
Kegiatan terprogram
Ekstrakurikuler
Pramuka; PMR; Kantin kejujuran
UKS; KIR;
19 Olah raga, Seni; OSIS
Bimbingan Konseling
Pemberian layanan bagi anak yang mengalami
masalah
Tabel 1 : Implementasi Pendidikan Karakter dalam KTSP
5. Penambahan Alokasi Waktu Pembelajaran
Apabila pendidikan karakter diintegrasikan dalam ko-kurikuler dan
ekstrakurikuler akan memerlukan waktu sesuai dengan kebutuhan dan
karakteristiknya. Untuk itu, penambahan alokasi pembelajaran dapat dilakukan,
sebagai berikut:
 Sebelum pembelajaran di mulai atau setiap hari seluruh siswa diminta
membaca surat-surat pendek, melakukan refleksi (masa hening) selama 15 s.d.
20 menit.
 Di hari-hari tertentu sebelum pembelajaran dimulai dilakukan kegiatan
muhadarah (berkumpul di halaman sekolah) selama 35 menit. Kegiatannya
berupa baca al Quran dan terjemahan, siswa berceramah dengan tema
keagamaan maupun yang lain dalam tiga bahasa (bahasa Indonesia, Inggris,
dan bahasa Minang), ajang kreatifitas seperti menari, musik dan baca puisi.
Selain itu juga dilakukan kegiatan membersihkan lingkungan di hari jumat
atau sabtu (jumat/sabtu bersih)
 Pelaksanaan ibadah bersama-sama di siang hari selama antara 30 s.d. 60
menit.
 Kegiatan-kegiatan lain diluar pengembangan diri, yang dilakukan setelah jam
pelajaran selesai
 Kegiatan untuk membersihkan lingkungan sekolah sesudah jam pelajaran
berahir berlangsung selama antara 10 s.d. 15 menit.
6. Penilaian Keberhasilan
Untuk mengukur tingkat keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter di
satuan pendidikan dilakukan melalui berbagai program penilaian dengan
membandingkan kondisi awal dengan pencapaian dalam waktu tertentu. Penilaian
keberhasilan tersebut dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
1. Menetapkan indikator dari nilai-nilai yang ditetapkan
2. Menyusun berbagai instrumen penilaian
3. Melakukan pencacatan terhadap pencapaian indikator
20
4. Melakukan analisis
5. Melakukan tindak lanjut
21
Download