(gynura procumbens (lour.) merr.) pada sel kanker

advertisement
ISSN : 1693-9883
Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. VI, No. 3, Desember 2009, 132 - 141
APLIKASI KO-KEMOTERAPI FRAKSI
ETIL ASETAT EKSTRAK ETANOLIK
DAUN SAMBUNG NYAWA
(GYNURA PROCUMBENS (LOUR.) MERR.)
PADA SEL KANKER PAYUDARA MCF-7
Riris Istighfari Jenie dan Edy Meiyanto
Fakultas Farmasi, UGM, Sekip Utara Yogyakarta 55281
ABSTRACT
Combination chemotherapy has been an interesting attention in recent years to cure
cancer e.g. non-toxic or less toxic phytochemicals are being combined with chemotherapeutic agents to sensitize cancer cell and to enhance the efficacy of chemotherapeutic agents as well as to reduce its toxicity to normal tissues. The aim of this
research is to examine whether ethyl acetate fraction of Gynura procumbens ethanolic
extract (SEF) synergizes the therapeutic potential of doxorubicin (Dox) on breast
cancer cell line MCF-7. MTT assay were used to measure the growth inhibitory effect
of the combination therapy on MCF-7 cells. SEF (5-250 µg/ml) treatment of cell
resulted in 15-76% growth inhibition in a dose dependent manner (IC50 85 µg/ml),
while Dox (10-100 nM) treatment did not show any inhibitory effect. The combinations of SEF (5-40µg/ml) with Dox (10-75 nM) seemed to not have any synergistic
efficacy towards cell growth inhibition. Nevertheless, this result need further observation regarding the IC50 of Dox on MCF-7 has not been determined yet. The cell
characterization may influence the result. Doxorubicin could induce Akt survival
apoptosis pathway in MCF-7 resulting resistancy of the cell towards doxorubicin.
Key words: MCF-7 human mammary cancer cell, Doxorubicin, Sambung Nyawa
leaves ethanolic extract, co-chemotherapy.
ABSTRAK
Penggunaan kombinasi kemoterapi, yaitu senyawa kemoprevensi yang bersifat nontoksik atau lebih tidak toksik dikombinasikan dengan agen kemoterapi, diketahui mampu
meningkatkan sensitifitas sel kanker serta efikasi kemoterapi dengan penurunan
toksisitas terhadap jaringan normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek
sinergisme aplikasi ko-kemoterapi fraksi etil asetat ekstrak etanolik daun Sambung
Nyawa (FES) atau Gynura procumbens (Lour.) Merr. terhadap sel kanker payudara
MCF-7. Uji MTT digunakan untuk mengukur besarnya efek penghambatan
Corresponding author : E-mail : [email protected]
132
pertumbuhan sel MCF-7 oleh adanya perlakuan kombinasi FES-Dox, kemudian
ditentukan index kombinasinya (IK) untuk menetapkan apakah efeknya sinergis, aditif
atau antagonis. Perlakuan dengan FES (5-250 µg/ml) selama 48 jam menghasilkan
penghambatan pertumbuhan sel sebesar 15-76%, dengan IC50 85 µg/ml sedangkan
perlakuan dengan Dox (10-100 nM) belum menghasilkan efek penghambatan. Aplikasi
kombinasi FES (5-40 µg/ml)-Dox (10-75 nM) nampaknya tidak menunjukkan efek
yang sinergis, namun demikian hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut mengingat
IC50 Dox terhadap sel MCF-7 belum dapat ditentukan. Hasil penelitian kemungkinan
dipengaruhi oleh karakteristik sel uji yang digunakan. Doxorubicin diketahui mampu
menginduksi jalur survival apoptosis Akt pada sel MCF-7, sehingga sel tersebut menjadi
resisten terhadap doxorubicin.
Kata kunci: Sel kanker payudara MCF-7, Doxorubicin, ekstrak etanolik daun
Sambung Nyawa, ko-kemoterapi.
PENDAHULUAN
Strategi terapi yang tersedia
untuk mengobati kanker payudara,
termasuk agen sitotoksik (kemoterapi), telah cukup banyak, namun
sampai saat ini belum ada pengobatan yang tepat untuk kanker payudara
yang telah metastasis. Doxorubicin
(Dox) merupakan salah satu agen
kemoterapi yang banyak digunakan
dalam terapi kanker. Meskipun
demikian ternyata penggunaan agen
kemoterapi sistemik bukan saja tidak
begitu efektif namun juga tidak
selektif dan sangat toksik bagi
jaringan lain yang normal (1).
Pengurangan dosis akan mengurangi
efek samping Dox oleh karenanya
menjadi suatu tantangan untuk dapat
memperbaiki aplikasi klinik agen
kemoterapi supaya lebih efektif.
Salah satu pendekatan yang sedang
mendapat perhatian baru-baru ini
adalah penggunaan kombinasi kemoterapi (ko-kemoterapi), dimana
senyawa kemoprevensi yang bersifat
nontoksik atau lebih tidak toksik
dikombinasikan dengan agen kemoterapi untuk meningkatkan
efikasinya dengan menurunkan
toksisitasnya terhadap jaringan yang
normal. Dengan perspektif ini
dilakukan penelitian terhadap agenagen kemoprevensi untuk mencari
kandidat yang memiliki efek sinergis
dalam kombinasi dengan obat
antikanker.
Salah satu agen kemoprevensi
yang dapat digunakan adalah daun
Gynura procumbens (Lour.) Merr. atau
yang lebih dikenal dengan daun
Sambung Nyawa. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman Indonesia yang digunakan secara empiris
oleh masyarakat untuk mengobati
kanker. Daun Sambung Nyawa juga
telah banyak diteliti aktivitas biologinya sebagai tanaman yang
memiliki efek kemopreventif. Sugiyanto, et al. melaporkan adanya efek
penghambatan
karsinogenitas
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
Vol. VI, No.3, Desember 2009
133
benzo(a)piren oleh ekstrak etanolik
daun Sambung Nyawa (ESN) pada
pertumbuhan tumor paru mencit (2).
Penelitian terakhir mengenai ESN
menyatakan bahwa fraksi XIX-XX
ESN memiliki efek sitotoksik terhadap sel kanker serviks, HeLa,
dengan IC50 119 µg/ml (3). Fraksi
tersebut juga menghambat proliferasi
sel HeLa dan dapat menginduksi
terjadinya apoptosis. Berdasarkan
hasil-hasil penelitian tersebut tampaknya tanaman G. procumbens
mempunyai potensi yang besar untuk
dikembangkan sebagai ko-kemoterapi bersama agen kemoterapi yang
telah luas digunakan dalam terapi
kanker.
Beberapa agen kemoterapi dilaporkan efektif baik sebagai agen
tunggal maupun kombinasi untuk
pengobatan berbagai jenis kanker.
Kombinasi kemoterapi memberikan
hasil yang lebih efektif dibandingkan
ketika diberikan dalam bentuk agen
tunggal dan bahwa kombinasi yang
mengandung Dox lebih efektif
dibandingkan dengan regimen lain
(4). Penelitian ini akan menguji
apakah G. procumbens mempunyai
efikasi yang sinergis dengan agen
kemoterapi Dox sehingga dapat
menurunkan dosis efektifnya yang
berarti pula mengurangi toksisitas
agen kemoterapi tersebut?
METODOLOGI
Bahan
Doxorubicin dipeoleh dari
Ebewe, PT. Ferron Par Pharmaceuti-
cal. Ekstrak etanolik daun G. procumbens diperoleh dengan mengekstraksi serbuk kering daun yang
didapatkan dari Balai Penelitian
Tanaman Obat (BPTO), Karanganyar, Surakarta, dengan etanol 96%.
Ekstrak etanol ini dilarutkan dengan
Dimethyl Sulfoxide (DMSO) (Sigma).
Sel kanker payudara MCF-7 diperoleh dari Prof. Tatsuo Takeya (Nara
Institute of Science and Technology,
Jepang). Kultur sel ditumbuhkan
dalam media penumbuh Dulbecco’s
modified Eagle’s medium (DMEM) yang
mengandung Foetal Bovine Serum
(FBS) 10% (v/v) (Gibco), penisillinstreptomisin 1% (v/v) (Gibco). Selain
bahan-bahan di atas juga digunakan
0,05% trypsin-EDTA (Gibco) dalam
HBSS tanpa Ca2+/Mg2+untuk melepas
sel yang melekat pada flask maupun
plate, PBS tanpa Ca2+/Mg2+. Uji
MTT. MTT [3-(4, 5-dimetiltiazol-2-il)2, 5-difeniltetrazolium bromida]
(Sigma), dengan konsentrasi 5 mg/
ml. Stopper yang digunakan adalah
isopropanol asam yaitu HCl 4N
dalam isopropanol dengan perbandingan 1:100. Bahan-bahan yang
digunakan selama penelitian apabila
tidak dikatakan lain berarti berderajat pro analisis.
Uji ko-kemoterapi menggunakan
metode MTT
Sel MCF-7 dengan konsentrasi
5 x 103 sel/sumuran didistribusikan
ke dalam plate 96 sumuran dan diinkubasi selama 24 jam untuk beradaptasi dan menempel di sumuran.
Keesokannya media diambil, dicuci
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
134
MAJALAH ILMU KEFARMASIAN
PBS, kemudian ditambahkan 100 µl
media kultur yang mengandung
DMSO 0,5% v/v saja (kontrol) atau
sampel baik dalam bentuk tunggal
yaitu ekstrak atau dox saja maupun
gabungan keduanya (kombinasi),
inkubasi selama 48 jam. Pada akhir
inkubasi, media kultur yang
mengandung sampel dibuang, dicuci
dengan 100 µl PBS. Kemudian ke
dalam masing-masing sumuran
ditambahkan 100 µl media kultur
yang mengandung MTT 5 mg/ml,
inkubasi lagi selama 4 jam pada suhu
370C. Sel yang hidup akan bereaksi
dengan MTT membentuk kristal
formazan berwarna ungu. Setelah 4
jam, media yang mengandung MTT
dibuang, dicuci dengan PBS, kemudian ditambahkan larutan asam isopropanol untuk melarutkan kristal
formazan. Digoyang di atas shaker
selama 10 menit kemudian dibaca
dengan dengan ELISA reader pada
panjang gelombang 550 nm.
Analisis hasil
Data yang diperoleh berupa
absorbansi masing-masing sumuran
dikonversi ke dalam persen sel hidup
dan dianalisis untuk mengetahui
signifikansi perbedaan antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan. Persen sel hidup dihitung
menggunakan rumus:
% Hidup =
Kemudian dihitung konsentrasi
IC50 yaitu konsentrasi yang menyebabkan kematian 50% populasi sel
sehingga dapat diketahui potensi
sitotoksisitasnya. Selanjutnya dianalisis dengan tes Anova, dilanjutkan
dengan tes Tukey dan student ttest
menggunakan SPSS 11.0, untuk
mengetahui signifikansinya dengan
kontrol. Sitotoksisitas sinergistik
ditetapkan dengan menghitung
indeks kombinasi (IK atau Combination Index, CI) antara agen kemoterapi dengan ekstrak Sambung
Nyawa, menggunakan persamaan:
CI= (D)1/(Dx)1 + (D)2/(Dx)2
Dimana Dx adalah konsentrasi
dari satu senyawa tunggal yang
dibutuhkan untuk memberikan efek
(dalam hal ini adalah IC50 terhadap
pertumbuhan sel kanker payudara)
dan (D) 1, (D) 2 adalah besarnya
konsentrasi kedua senyawa untuk
memberikan efek yang sama (5).
Angka CI atau indeks kombinasi yang
diperoleh diinterpretasikan sebagai
berikut:
< 0.1 sinergis sangat kuat
0.1–0.3 sinergis kuat
0.3–0.7 sinergis
0.7–0.9 sinergis ringan-sedang
0.9–1.1 mendekati additif
1.1–1.45 antagonis ringan-sedang
1.45–3.3 antagonis
> 3.3 antagonis kuat-sangat kuat
Absorbansi Sel Dengan Perlakuan - Absorbansi Kontrol Media
Absorbansi Kontrol Sel - Absorbansi Kontrol Media x 100 %
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
Vol. VI, No.3, Desember 2009
135
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Ko-kemoterapi Ekstrak Etanolik
Daun G. procumbens (ESN) dan
Doxorubicin (dox) Terhadap Sel
MCF-7
Sel MCF-7 merupakan sel kanker
payudara yang mengekspresikan
reseptor estrogen (ER +) dengan wild
type p53 sehingga sensitif terhadap
agen kemoterapi (6), oleh karenanya
ingin diketahui terlebih dahulu bagaimana respon sel MCF-7 terhadap
perlakuan ko-kemoterapi ekstrak
etanolik daun G. procumbens (ESN)
dan doxorubicin (dox). Pada aplikasi
tunggal nampak perlakuan ESN (10300 µg/ml) belum mampu menghambat pertumbuhan sel MCF-7,
demikian pula pada aplikasi tunggal
dox (1,8-90 nM) (Gambar 1).
Selanjutnya dilakukan uji kokemoterapi untuk melihat efikasi
kombinasi keduanya terhadap penghambatan pertumbuhan sel MCF-7,
yaitu apakah sinergis, aditif atau
antagonis. Hasilnya menunjukkan
bahwa kombinasi ESN (75, 150, dan
250 µg/ml) dan dox (1,8, 9, dan 18
nM) belum mampu menghambat
pertumbuhan sel MCF-7.
Uji Ko-kemoterapi Fraksi Etil Asetat
Ekstrak Etanolik Daun G. procumbens (FES) dan Doxorubicin (dox)
Terhadap Sel MCF-7
Ekstrak kemudian difraksinasi
dengan etil asetat untuk medapatkan
golongan flavonoid yang terkandung
di dalamnya. Fraksi etil asetat
diharapkan mampu meningkatkan
efikasi dox karena diketahui bahwa
Gambar 1. Aplikasi tunggal ESN dan dox pada sel MCF-7. Untuk melihat efikasi
ESN dan Dox sebagai agen tunggal pada sel MCF-7, sel ditanam sebanyak 5000
sel/sumuran dalam plate 96 sumuran, kemudian diberi perlakuan baik dengan ESN
(10-300 µg/ml) maupun Dox (1,8-90 nM) (dalam bentuk tunggal) sebagaimana
dijelaskan dalam metodologi. Baik ESN maupun Dox belum mampu menghambat
pertumbuhan sel MCF-7, tidak ada perbedaan yang signifikan (P>0,05) antara
perlakuan dengan kontrol (DMSO 0.3% v/v). Grafik merupakan nilai rata-rata + SD
dari 3 percobaan.
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
136
MAJALAH ILMU KEFARMASIAN
Gambar 2. Efek aplikasi ko-kemoterapi ESN-Dox pada sel kanker payudara
MCF-7. Pengamatan efek kombinasi ESN (75-250 µg/ml)-Dox (1,8-18 nM) terhadap
sel MCF-7 dilakukan sebagaimana yang dijelaskan pada metodologi. Kombinasi
keduanya belum mampu menghambat pertumbuhan sel MCF-7. Ini menunjukkan
bahwa ESN tidak meningkatkan efikasi Dox pada sel kanker payudara MCF-7.
flavonoid mampu mensensitisasi sel
kanker melalui penghambatan
Pgp.(7). Sebelum diaplikasikan untuk
uji kokemoterapi, masing-masing
fraksi yang diperoleh (yaitu fraksi
heksan, etil asetat dan air) diuji
sitotoksisitas terlebih dahulu untuk
membandingkan potensinya pada sel
MCF-7. Berdasarkan nilai IC50 yang
diperoleh tampak bahwa fraksi etil
asetat (FES) merupakan fraksi yang
paling poten di antara ketiganya
(Tabel 1). Oleh karena itu fraksi etil
asetat yang diteruskan untuk diuji
aplikasi kokemoterapinya.
Aplikasi tunggal FES (5-250 µg/
ml) mampu menghambat pertum-
Tabel 1. Potensi fraksi heksan, etil
asetat, dan air terhadap penghambatan
pertumbuhan sel MCF-7
No
Fraksi
Nilai IC50 (mg/ml)
1.
Heksan
94
2.
Etil asetat
85
3.
Air
> 300
buhan sel MCF-7 sebesar 15-76%
namun aplikasi dox (10-100 nM)
belum menunjukkan efek penghambatan (Gambar 3). Lebih lanjut,
hasil uji aplikasi ko-kemoterapi
keduanya ternyata tidak menunjukkan efikasi yang sinergis (Gambar
4).
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
Vol. VI, No.3, Desember 2009
137
Gambar 3. Aplikasi tunggal FES dan dox pada sel MCF-7. Untuk melihat efikasi
FES dan Dox sebagai agen tunggal pada sel MCF-7, sel ditanam sebanyak 5000
sel/sumuran dalam plate 96 sumuran, kemudian diberi perlakuan baik dengan FES
(5-250 µg/ml) maupun Dox (10-100 nM) (dalam bentuk tunggal) sebagaimana
dijelaskan dalam metodologi. FES mampu menghambat pertumbuhan sel MCF-7
dengan IC50 sebesar 85 µg/ml, sedangkan aplikasi Dox belum menunjukkan efek
penghambatan. Tanda bintang (*) menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap
kontrol (DMSO 0,25% v/v) dengan taraf kepercayaan 95% (P<0,05). Grafik merupakan
nilai rata-rata + SD dari 3 percobaan.
Baik ekstrak maupun fraksi etil
asetat daun G. procumbens ternyata
belum mampu meningkatkan efikasi
dox terhadap sel MCF-7, bahkan
pada penelitian ini aplikasi tunggal
dox yang diujikan belum mampu
menghambat pertumbuhan sel
MCF-7, sehingga belum dapat ditentukan IC50-nya. Meskipun demikian
penelitian ini akan menjadi menarik
untuk diujikan pada sel kanker
payudara yang lain karena masingmasing sel memiliki karakteristik
molekuler yang berbeda sehingga
akan dapat dibandingkan responnya
terhadap aplikasi kokemoterapi.
Aplikasi tunggal dox dengan
konsentrasi 10-100 nM pada MCF-7
belum menimbulkan respon penghambatan pertumbuhan sel sehingga
diperkirakan IC 50 dox pada sel
MCF-7 lebih dari 100 nM. Selain itu
tidak terjadi efek sinergisme pada
aplikasi ko-kemoterapi dox dan
ekstrak etanolik maupun fraksi etil
asetat G. procumbens pada sel MCF-7.
Level basal mRNA Bcl-x (faktor survival sel) sel kanker diketahui berkorelasi negatif dengan sensitivitas
sel kanker tersebut terhadap agen
kemoterapi. Pada sel MCF-7 0,26 (8),
nilai tersebut relatif rendah sehingga
semestinya sel MCF-7 sensitif
terhadap perlakuan agen kemoterapi.
Dari hasil penelitian diketahui sel
tersebut kurang begitu responsif
terhadap dox, oleh karena itu kemungkinan ada faktor lain yang
mempengaruhi resistensi pada
MCF-7. MCF-7 merupakan sel kanker
payudara yang mengekspresikan
reseptor estrogen (ER +), sehingga
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
138
MAJALAH ILMU KEFARMASIAN
Gambar 4. Efek aplikasi ko-kemoterapi FES-Dox pada sel kanker payudara MCF7. Pengamatan efek kombinasi FES (5-40 µg/ml)-Dox (10-75 nM) terhadap sel MCF7 dilakukan sebagaimana yang dijelaskan pada metodologi. Kombinasi keduanya
belum mampu menghambat pertumbuhan sel MCF-7. Ini menunjukkan bahwa FES
tidak meningkatkan efikasi Dox pada sel kanker payudara MCF-7.
responsif terhadap stimulasi estrogen. Penelitian Welshons et al. menyebutkan bahwa phenol red suatu
indikator pH yang terdapat media
penumbuh kultur sel bersifat estrogenik dan terhadap stimulasi estrogen dari phenol red ini
MCF-7 lebih responsif daripada
T47D (sel kanker payudara lain yang
juga ER +)(9).
Di samping itu stimulasi estrogen
ternyata meningkatkan konsentrasi
P-gp pada MCF-7 namun tidak demikian pada sel T47D (10). Hal tersebut
diduga berkaitan dengan subtipe dari
reseptor estrogen yang diekspresikan
oleh kedua sel. MCF-7 mengekspresikan reseptor estrogen subtipe alpha
(ERα), sedangkan T47D subtipe ER
beta (ERβ). Perbedaan karakteristik
molekuler di tingkat subtipe reseptor
estrogen ternyata mampu menimbulkan respon yang berbeda. Level
P-gp mempengaruhi sensitifitas sel
kanker terhadap kemoterapi karena
P-gp akan memompa keluar obat/
kemoterapi dari sel. Berdasarkan
temuan-temuan hasil penelitian
tersebut diduga resistensi MCF-7
terhadap dox disebabkan oleh
adanya peningkatan konsentrasi Pgp
pada sitoplasma sel MCF-7 yang
timbul karena adanya stimulasi estrogen dari phenol red yang terdapat
dalam media penumbuh kultur sel.
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
Vol. VI, No.3, Desember 2009
139
KESIMPULAN
Fraksi etil asetat ekstrak etanolik
daun G. procumbens belum mampu
meningkatkan efikasi dox terhadap
sel kanker payudara MCF-7. Bahkan
efikasi dox tunggal terhadap sel
MCF-7 belum dapat ditentukan (nilai
IC50-nya lebih besar dari konsentrasi
yang dicobakan pada penelitian). Hal
ini terutama dipengaruhi oleh karakteristik sel MCF-7, yang pada akhirnya mengurangi sensitivitas sel
tersebut terhadap agen kemoterapi.
Aplikasi kokemoterapi G. procumbens
perlu diteliti lebih lanjut terhadap sel
kanker payudara yang lain sehingga
dapat dibandingkan hasilnya dan
dipelajari mekanisme aksinya.
Masing-masing sel kanker memiliki
karakteristik molekuler yang berbeda, oleh karena itu sangat mungkin
respon yang timbul akibat aplikasi
ko-kemoterapi juga berbeda.
UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih disampaikan kepada seluruh anggota Cancer Chemoprevention Research Center (CCRC)
Fakultas Farmasi Universitas Gadjah
Mada yang telah mendukung dan
membantu kelancaran penelitian ini.
2.
3.
4.
5.
6.
DAFTAR ACUAN
1.
Wattanapitayakul SK, L Chularojmontri, A Herunsalee, S
Charuchongkolwongse, S Niumsakul, JA Bauer. 2005. Screening
of Antioxidants from Medicinal
7.
Plants for Cardioprotective Effect against Doxorubicin Toxicity, Basic & Clinical Pharmacology
& Toxicology, vol. 96, 80.
Sugiyanto, B Sudarto, E Meiyanto, AE Nugroho, UA Jenie.
2003. Aktivitas Antikarsinogenik
Senyawa yang Berasal dari
Tumbuhan, Majalah Farmasi Indonesia, 14 (4):216-225.
Meiyanto E and EP Septisetyani.
2005. Efek Antiproliferatif dan
Apoptosis Fraksi Fenolik Ekstrak
Etanolik Daun Gynura procumbens
(Lour.) Merr. terhadap Sel HeLa,
Artocarpus, Vol. 5, No.2, Hal. 74
- 80.
Sharma G, AK Tyagi, RP Singh,
DCF Chan, R Agarwal. 2004.
Synergistic Anti-Cancer Effect of
Grape Seed Extract and Conventional Cytotoxic Agent Doxorubicin Against Human Breast Carcinoma Cells, Breast Cancer Research and Treatment, 85:1-12.
Reynolds CP, BJ Maurer. 2005.
Evaluating Response to Antineoplastic Drug Combinations in
Tissue Culture Models, Methods
Mol. Med., 110: 173-183.
Crawford KW and WD Bowen.
2002. Sigma-2 Receptor Agonists
Activate a Novel Apoptotic Pathway and Potentiate Antineoplastic Drugs in Breast Tumor Cell
Lines, Cancer Research, 62, 313322.
Kitagawa S. 2006. Inhibitory Effect of Polyphenols on P-Glycoprotein-Mediated Transport,
Biol. Pharm. Bull., 29(1), 1-6.
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
140
MAJALAH ILMU KEFARMASIAN
8.
9.
Amundson SA, TG Myers, D
Scudiero, S Kitada, JC Reed, AJ
Fornace Jr. 2000. An Informatics
Approach Identifying Markers of
Chemosensitivity in Human Cancer Cell Lines, Canc. Res., 60,
6101-6110.
Welshons WV, MF Wolf, CS
Murphy, VC Jordan. 1988. Estrogenic activity of phenol red, Mol
Cell Endocrinol, 57(3):169-78.
10. Zampieri L, P Bianchi, P Ruff, P
Arbuthnot. 2002. Differential
modulation by estradiol of P-glycoprotein drug resistance protein
expression in cultured MCF7 and
T47D breast cancer cells, Anticancer Res., 22(4): 2253-9.
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
Vol. VI, No.3, Desember 2009
141
Download