analisis jati diri klenteng pasca kebangkitan

advertisement
ANALISIS JATI DIRI KLENTENG PASCA
KEBANGKITAN KONFUSIANISME
SEBAGAI SEBUAH AGAMA
Junianti, Theresia Liawanta, Sugiato Lim
Binus University, Jl Kemanggisan Ilir III/45, Palmerah, Jakarta Barat, 021-53276730
[email protected]; [email protected]; [email protected]
ABSTRACT
Since long ago, it has been known that the temple is the place to worship Confucianism. But
along the way and due to the government sector, the temple changed its name to a
monastery and a new place to worship Confucianism is emerged, called Li Tang. The
research is aimed to determine the identity of a temple now after the legitimation of Li Tang
as the place to worship Confucianism. The method used is the qualitative research methods
with the help of literature studies and interviews . Analysis is performed by studying the
books that is related to Confucianism , temples and Li Tang, also interviewing experts and
people from the temples and the Li Tang. The achieved results will be summarized and
combined to answer the identification problem. It can be concluded that the temple has
changed its name to the monastery which is under the juridiction of the Tridharma
Foundation and is wide open for the general public who wishes to pray there without any
attachments.
Keywords: Confucianism, Identity, Temple, Li Tang
ABSTRAK
Sejak dahulu kala sudah diketahui bahwa klenteng merupakan tempat ibadah agama
Khonghucu. Tetapi seiring berjalannya waktu dan dikarenakan sektor pemerintahan, maka
klenteng berubah nama menjadi vihara dan muncul tempat ibadah agama Khonghucu yang
baru yang disebut Li Tang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jati diri klenteng
sekarang setelah disahkannya Li Tang sebagai tempat ibadah sah agama Khonghucu.
Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan bantuan studi pustaka dan
wawancara. Analisis dilakukan dengan mempelajari buku – buku yang berhubungan dengan
agama Khonghucu, klenteng dan Li Tang serta mewawancarai para pakar dan umat dari
pihak klenteng dan Li Tang. Hasil yang dicapai akan dirangkum dan digabungkan untuk
menjawab identifikasi masalah. Dapat disimpulkan bahwa klenteng saat ini sudah berubah
nama menjadi vihara yang berada di bawah naungan Yayasan Tridharma dan terbuka luas
bagi masyarakat umum yang ingin bersembahyang disana tanpa adanya keterikatan.
Kata kunci: Konfusianisme, Jati diri, Klenteng, Li Tang
1
2
Pendahuluan
“Khonghucu” berasal dari kosa kata mandarin “孔夫子” (Kong Fu Zi ), berarti “guru Kong”.
Lazimnya hanya disebut Fu Zi ( 夫 子 ) atau guru. Istilah tersebut kemudian dibawa oleh orang
Tionghoa yang merantau ke Indonesia, dan kebetulan yang merantau saat itu banyak datang dari
provinsi Fu Jian (hokkian) Tiongkok. Maka dengan dialeg hokkian itulah sebagai awal mula
munculnya sebutan “Khonghucu”.
Agama Khonghucu adalah agama yang dalam istilah aslinya disebut Ru Jiao, yang artinya agama
bagi orang – orang yang lembut hati, yang terpelajar, dan terbimbing dalam pengetahuan suci. Oleh
karena peranan besar Nabi Kong Zi dalam menyempurnakan ajaran agama ini, maka kemudian orang
lebih mengenalnya dengan sebutan agama Khonghucu.
Agama Khonghucu pada kenyataannya bukan hanya dianut oleh orang – orang dari daratan
Tiongkok saja, melainkan dianut juga oleh bangsa – bangsa seperti Jepang, Vietnam, Korea,
Singapura, Malaysia termasuk Indonesia. Secara universal budaya Khonghucu sudah merupakan milik
dunia.
Keberadaan umat beragama Khonghucu di nusantara ini sudah ada sejak berabad – abad yang lalu,
bersamaan dengan kedatangan para pedagang Tionghoa dan imigran. Diperkirakan sejak saat itu juga
kebiasaan bersembahyang di klenteng atau kelenteng pun sudah dibawa oleh para perantau Tionghoa
yang menyebut diri mereka sebagai pemeluk agama Khonghucu.
Keberadaan agama Khonghucu diperkirakan dimulai pada pertengahan abad ke 17. Pada masa
orde lama, keberadaan agama Khonghucu diakui sebagai salah satu agama di Indonesia, seperti Islam,
Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Memasuki masa orde baru, agama Khonghucu dilarang oleh
pemerintah, sehingga aktivitas keagamaan umat Khonghucu menjadi terhambat. Sebagai akibat
dilarangnya agama Khonghucu, banyak penganut agama Khonghucu yang berpindah agama.
Mayoritas menjadi pemeluk agama Kristen atau Buddha. Demikian juga dengan tempat ibadahnya
yaitu klenteng yang merupakan tempat ibadah agama Khonghucu juga terpaksa mengubah nama dan
menaungkan diri menjadi Vihara Tridharma (Khonghucu, Taoisme, Buddhisme) yang merupakan
tempat ibadah penganut Tridharma.
Seiring dengan bergulirnya arus reformasi pada tahun 1998, pengakuan terhadap hak asasi
manusia di Indonesia dan pandangan serta perlakuan terhadap agama Khonghucu mulai berubah.
Umat agama Khonghucu kembali mendapatkan hak kebebasan beragamanya. Sejak saat itu agama
Khonghucu bebas untuk dianut oleh Warga Negara Indonesia. Dari sinilah Li Tang (dibawah naungan
MATAKIN) kembali muncul sebagai tempat ibadah agama Khonghucu.
Sebagaimana yang telah kita ketahui, dulu klenteng merupakan tempat ibadah agama Khonghucu,
tetapi setelah disahkannya Li Tang sebagai tempat ibadah agama Khonghucu, maka tempat ibadahnya
terbagi menjadi 2 sistem manajemen peribadatan yang berdiri sendiri yaitu Li Tang (dibawah naungan
MATAKIN) dan klenteng (dibawah naungan Tridharma). Bagaimanakah jati diri klenteng itu
sekarang. ?
Dari fenomena yang telah penulis jabarkan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Analisis Jati Diri Klenteng Pasca Kebangkitan Konfusianisme Sebagai
Sebuah Agama”.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Untuk mendapatkan hasil penelitian
yang bermutu dan akurat, maka penulis melakukan wawancara kepada (Alm.) Bapak Tjandra, Bapak
Vekky Mongkareng dan Ibu Liliany Lontoh dari pihak MATAKIN, Pengurus Klenteng Toa Se Bio
Bapak Hartanto Widjaja serta pengurus klenteng dan umat yang tidak ingin disebutkan namanya.
Kemudian hasil wawancara dan studi pustaka digabung guna mendapatkan hasil penelitian. Studi
pustaka yang akan penulis lakukan adalah dengan mempelajari buku, artikel, jurnal dan hasil-hasil
penelitian yang berhubungan dengan topik penelitian penulis.
Untuk mendapatkan data pertama kali, penulis telah melakukan wawancara dengan (Alm.) Bapak
Tjandra dari MATAKIN yang kemudian hasilnya direkam. Penulis akan menganalisa hasil
wawancara yang telah direkam dan melakukan penggabungan data. Setelah penggabungan data
selesai dilakukan, penulis akan menjawab identifikasi masalah.
3
Hasil dan Bahasan
Pada masa orde lama (1945 – 1966), keberadaan agama Khonghucu berkembang dengan baik.
Tetapi memasuki masa orde baru (1966 – 1998), lebih tepatnya pada saat pemerintahan Soeharto,
dikarenakan alasan politik, maka semua yang berkaitan dengan Tionghoa dilarang berkembang di
Indonesia. Sejak saat ini agama Khonghucu dilarang dianut oleh masyarakat sehingga umat
Khonghucu harus memeluk salah satu dari lima agama lain yang diakui pemerintah (Islam, Kristen,
Katolik, Hindu dan Buddha). Memasuki masa reformasi, budaya Tionghoa diperbolehkan lagi
berkembang termasuk agama Khonghucu kembali mendapatkan hak kebebasan beragamanya.
Agama Khonghucu di Indonesia tidak hanya mengajarkan kepada penganutnya untuk berbakti
kepada Tian, orang tua, orang yang lebih tua, para pemimpin, tapi juga mengajarkan tata cara
melakukan ibadah kepada Tian, Nabi, orang-orang suci, leluhur dan lain-lain.
Di Indonesia umat Khonghucu tersebar menjadi dua kelompok yaitu (1) umat yang melaksanakan
ibadah di klenteng (Khonghucu tradisional) dan (2) umat Khonghucu yang melaksanakan ibadah di Li
Tang (dibawah naungan MATAKIN atau Khonghucu Tulen). Kelompok pertama adalah umat
tradisional yang melaksanakan tradisi sesuai dengan yang diwariskan oleh nenek moyangnya.
Kelompok kedua adalah umat beragama Khonghucu yang bersembayang menggunakan tata cara
beribadah agama Khonghucu yang telah dibuat oleh MATAKIN.
Junaidy Sugianto dalam bukunya yang berjudul “Nabi Khung Ce” lebih spesifik mengatakan
bahwa, “Di Indonesia, mereka yang disebut umat Khonghucu tradisioanl adalah mereka yang tidak
mau bergabung dibawah MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu). Mereka tidak peduli
dengan MATAKIN yang membawahi MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) kota atau
kabupaten di seluruh Indonesia.” (Sugianto, J.,2014 : 53 – 54)
Bisa dikatakan sejarahlah yang menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadi perpecahan di
dalam agama Khonghucu. Apabila di Indonesia, lebih tepatnya di dalam KTP tidak ada kolom agama
mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi. Karena kolom agama itulah yang menjadi salah satu alasan
mengapa di Indonesia timbul banyak sekali agama – agama dan kita harus memilih salah satu agama
tersebut. Agama – agama yang ingin diakui sah atau tidaknya di Indonesia harus memiliki organisasi
keagamaannya dan tempat ibadahnya. Seperti salah satunya Khonghucu, di negara – negara lain
Khonghucu hanya merupakan ajaran atau filsafat dan kita bisa menyebutnya sebagai “way of life”.
Tetapi di Indonesia hal tersebut tidak bisa dilakukan dikarenakan kita harus mengisi kolom agama di
KTP sehingga harus memilih salah satu agama yang diakui di Indonesia.
Menurut pandangan dari Ketua MAKIN Jakarta Barat Bapak Peter Lesmana, beliau mengatakan
bahwa, “Pada hakikatnya klenteng dan Li Tang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,
dimana klenteng merupakan tempat untuk beribadah dan Li Tang adalah tempat untuk pendalaman
iman.”
Namun secara teknis di lapangan kenyataannya tidak seperti itu.klenteng dan Li Tang itu sekarang
berbeda. Klenteng berada dibawah naungan Tridharma dan Li Tang berada dibawah naungan
MATAKIN. Hal inilah yang membuat rancu sehingga terjadilah perpecahan antar umat Khonghucu
yang membuat mereka bingung harus sembahyang kemana.
1. Faktor yang membuat umat menganut teguh agama Khonghucu tetap
bersembayang di klenteng dan yang beralih dari klenteng ke Li Tang
Budaya Tionghoa merupakan budaya yang paling tua dan kompleks di dunia. Di Indonesia, warga
negara keturunan Tionghoa, dapat ditemui hampir di semua kota di Indonesia. Karena orang Tionghoa
sudah banyak tersebar di Indonesia, maka tidak heran kebudayaan Tionghoa banyak dikenal luas.
Terlebih lagi, banyak klenteng yang dibangun di berbagai kota yang membuat semua lapisan
masyarakat lama kelamaan mulai mengerti ritual dan budaya Tionghoa. Hal ini sesuai dengan teori
yaitu teori stabilitas adat istiadat yang berbunyi kestabilan budaya terbentuk dari faktor pemeritahan,
faktor ekonomi, faktor sosial dan budaya. Asalkan faktor ekonomi dan sosial tidak mengalami
perubahan yang besar maka kestabilitasan budaya pun tetap bisa di pertahankan.
Khonghucu di Indonesia pada awal perkembangannya, ajaran-ajarannya dipraktekkan terbatas
seperti dalam lingkungan keluarga - keluarga keturunan Tionghoa. Ajaran Khonghucu ini diterapkan
secara lisan turun - temurun dan akhirnya menjadi tradisi yang melekat pada masyarakat Tionghoa.
Oleh karena itu dimungkinkan penerapan ajaran Khonghucu antara yang satu dengan lainnya belum
mencerminkan adanya keseragaman dalam melakukan berbagai tata cara keagamaan dan
ritual. Ketidakseragaman disebabkan karena orang Tionghoa memiliki berbagai sub suku yang
memiliki berbagai tata cara upacara dan berbagai macam adat tradisi.
4
Mereka melakukan berbagai tata cara keagamaan dengan ritual menurut apa yang telah dilakukan
secara turun – temurun oleh para nenek moyang mereka. Perkembangan selanjutnya, ajaran
Khonghucu didukung oleh kehidupan berorganisasi kemasyarakatan dan keagamaan dengan maksud
agar teratur dan lebih baik sesuai dengan tuntutan zaman tanpa mengurangi inti dan nilai penghayatan
spiritual atau justru dalam rangka untuk meningkatkannya dalam berbagai aspek kehidupan umat
manusia.
Dari penelitian ini, penulis menemukan 2 kelompok yang walaupun sama – sama menganut agama
Khonghucu, tetapi berbeda tempat ibadahnya. Yang pertama adalah umat yang menganut teguh
agama Khonghucu dan tetap bersembahyang di klenteng, yang kedua umat agama Khonghucu yang
beralih dari klenteng ke Li Tang.
Hal ini tidak terjadi begitu saja melainkan dilandasi atau dipelopori oleh beberapa faktor. Bagi
umat yang menganut teguh agama Khonghucu dan tetap bersembahyang di klenteng, mereka
melakukan hal ini dikarenakan tradisi yang telah diajarkan secara turun - temurun, merasa lebih
spiritual jika bersembahyang menggunakan dupa (hio), lebih menghormati leluhur, lebih fleksibel,
lebih nyaman dan lebih mengikuti kemauan hati masing – masing. Bagi umat yang menganut agama
Khonghucu dan telah beralih dari klenteng ke Li Tang, mereka yakin dengan bersembahyang di Li
Tang lebih menemukan inti ajaran dari agama Khonghucu yang tidak dapat ditemukan di klenteng,
lebih bisa mendalami iman, dan ajakan teman atau keluarga yang mendominasi perpindahan ini.
2. Yang mempelopori peralihan umat agama Khonghucu dari klenteng ke Li Tang
Agama Khonghucu sudah dikenal di Indonesia sebelum abad ke-19, tetapi belum berupa agama
yang terorganisasi. Pada tahun 1918 didirikanlah Khong Kauw Hwee di Solo. Lalu pada tahun 1923
berbagai organisasi dengan ciri Konfusian berkumpul di Yogyakarta untuk mengadakan kongres yang
mengeluarkan hasil berdirinya Organisasi Umum Khong Kauw Hwee dengan markas besar di
Bandung. Peristiwa ini dapat dianggap sebagai asal muasal agama Khonghucu di Indonesia, dan di
masa itu juga konsep “Tian” (langit) sebagai Allah dari agama Tionghoa dan Khonghucu (Konfusius)
sebagai nabi ditetapkan untuk pertama kali.
Pada bulan Agustus 1967 Khong Kauw Hwee mengadakan kongres keenam di Solo. Kongres ini
dihadiri oleh pejabat – pejabat pemerintah dan banyak pejabat negara, termasuk militer yang
menghadiri kongres dan mendukung agama Khonghucu. Kongres yang keenam ini mempunyai makna
penting karena pada saat itulah nama dari perkumpulan Khong Kauw Hwee diubah menjadi Majelis
Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN). Dan pada saat itu juga kongres menyusun
peraturan rinci mengenai agama Khonghucu termasuk upacara dan struktur organisasinya.Sejak saat
inilah agama Khonghucu menjadi agama Indonesia yang sejati.
MATAKIN tetap menggunakan konsep Tian dan Nabi Kong zi. Empat Kitab dan Lima Klasika
( 四书五经 ) juga tetap menjadi Kitab Suci agama Khonghucu. Meskipun demikian setelah 1967
ajarannya menjadi semakin sistematis dan begitu pula dengan penyebarannya yang semakin intensif.
Sejak kongres tahun1967, agama Khonghucu juga semakin terinstitusionalkan. Organisasinya
disusun mirip agama Kristen dan Islam. Ada rumah ibadat yang disebut Li Tang bukan klenteng.
Sering juga disebut Kong Miao atau Bun Bio yang berarti Kuil Konfusius. Didalamnya dipajang
patung atau gambar dari Kong zi, tidak jarang keduanya dapat ditemukan disana. Kuil itu
diselenggarakan oleh imam – imam Konfusian yang terdiri dari tiga tingkatan : Haksu, Bunsu, dan
Kauwseng. Rumah Ibadat agama Khonghucu beroperasi seperti gereja Kristen.
Pembinaan umat agama Khonghucu dilaksanakan oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu
Indonesia (MATAKIN) di tingkat pusat, Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) di tingkat
kabupaten dan kotamadya, dan Kebaktian Khonghucu Indonesia (KAKIN).
Menurut pandangan dari Ketua MATAKIN Provinsi DKI Ibu Liem Liliany Lontoh, beliau
mengatakan bahwa, “Khonghucu tradisional itu pergi sembahyang ke klenteng hanya tahu sembayang
penyembahan dupa (hio) saja lalu pulang, tidak ada pembinaan iman, tidak ada panutan dan tidak ada
ajaran. Berbeda dengan Khonghucu tulen atau yang berada dibawah naungan MATAKIN itu ada
bimbingan, ada kitabnya yaitu Empat Kitab dan Lima Klasika ( 四书五经) dan ada panutannya yaitu
Nabi Kong zi.”
Seperti yang telah diketahui, MATAKIN lah yang menyusun peraturan tata cara upacara
peribadatan, struktur organisasi agama Khonghucu di Indonesia, dan mendirikan tempat peribadatan
sendiri yang diberi nama Li Tang. Sejak berdirinya Li Tang, pengurus – pengurus atau MAKIN –
MAKIN mulai gencar menyebarluaskan ajaran agama Khonghucu dengan cara mengunjungi sekolah
– sekolah dan menawarkan untuk memberikan pendalaman iman serta mengajak mereka untuk datang
bersembahyang di Li Tang. Selain itu MAKIN – MAKIN juga memberikan buku saku yang berisi
tentang ajaran Khonghucu dan secara tidak langsung mengenalkan Li Tang kepada masyarakat luas
5
agar tertarik dan mau untuk bersembahyang disana. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa
MATAKIN lah yang mempelopori peralihan umat agama Khonghucu dari klenteng ke Li Tang.
3. Jati diri klenteng saat ini
Banyak orang Tionghoa yang memeluk agama Khonghucu sebenarnya tidaklah murni pengikut
Khonghucu. Mereka adalah pengikut Tridharma, perpaduan agama Khonghucu, Tao dan Buddha.
Tempat ibadah orang – orang Tionghoa ini memiliki semua karakteristik yang dimiliki oleh tiga
agama ini. Di Indonesia tempat ibadat itu disebut kelenteng.
Menurut Sabar Sukarno dalam hasil penelitian yang berjudul “Dampak Perkembangan Agama
Khonghucu Pasca Reformasi : Studi kasus pindah agama umat Buddha di Tangerang” lebih spesifik
mengatakan bahwa, “Miao adalah tempat penghormatan pada leluhur (rumah abu). Dulu masingmasing marga membuat Ci untuk menghormati para leluhur mereka sebagai rumah abu. Dari
perjalanan waktu maka timbullah penghormatan pada para dewa/dewi yang kemudian dibuatkan
ruangan khusus untuk para dewa/dewi yang sekarang ini dikenal sebagai Miao yang dapat dihormati
oleh berbagai macam marga dan suku. Saat ini di dalam Miao masih juga bisa ditemukan ruang yang
dikhususkan untuk abu leluhur yang masih tetap dihormati oleh para sanak keluarga/marga/klan
masing-masing. Ada pula di dalam Miao disediakan tempat untuk mempelajari ajaran-ajaran atau
agama leluhur seperti ajaran-ajaran Khonghucu, Lao Tze dan bahkan ada pula yang mempelajari
ajaran Buddha.” (Sukarno, S.,2014 :22)
Di zaman orde baru, pemerintahan Soeharto melarang segala bentuk aktivitas berbau kebudayaan
dan tradisi Tionghoa di Indonesia. Hal ini menyebabkan banyak pemeluk kepercayaan tradisional
Tionghoa menjadi tidak berstatus sebagai pemeluk salah satu dari 6 agama yang diakui pada masa
pemerintahan orde lama seperti yang telah diatur dalam Penetapan Presiden Nomor 1.Pn. Ps. Tahun
1965 yang mengakui enam agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu).
Diskriminasi umat Khonghucu mulai dirasakan dengan diterbitkannya Instruksi Presiden Nomor 14
Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tionghoa. Hal ini menyebabkan banyak
pemeluk agama Khonghucu menjadi tidak berstatus sebagai pemeluk salah satu dari 6 agama yang
diakui. Untuk menghindari permasalahan politis (dituduh sebagai atheis dan komunis), pemeluk
kepercayaan tradisional Tionghoa kemudia di haruskan untuk memeluk salah satu agama dari 5 agama
yang diakui (Islam, Buddha, Katolik, Kristen, dan Hindu) mayoritas menjadi pemeluk agama Kristen
atau Buddha.
Saat rezim Presiden Soeharto berkuasa, G30S/PKI dijadikan alasan untuk menutup dan
mengekang semua kegiatan yang berbau “China” (Tionghoa). Alhasil, semua Klenteng yang ada pada
masa itu terancam ditutup secara paksa. Banyak Klenteng yang kemudian dipaksa untuk merubah
namanya menjadi Vihara, hal ini sesuai dengan teori variabilitas adat istiadat yang berbunyi budaya
tidak henti – hentinya melakukan penyesuaian dengan lingkungan dan melakukan perubahan.
Pada waktu itu, munculah sosok Kwee Tek Hoay yang mendirikan Sam Kauw Hwee (Tridharma)
yang terdiri dari Taoisme, Khonghucu dan Buddha dan Ong Kie Tjay membentuk tempat ibadah
Tridharma yang membantu mempertahankan aset - aset budaya Tionghoa (klenteng) tidak ditutup
oleh pemerintah. Otomatis klenteng harus menyelamatkan diri dengan bernaung dibawah majelis
Buddha. Banyak klenteng yang kemudian mengadopsi nama Sansekerta atau Pali dan mencatatkan
surat izin dalam naungan agama Buddha demi kelangsungan peribadatan dan kepemilikan karena
kalau tidak akibatnya fatal, yaitu klenteng yang menolak akan dibongkar secara paksa oleh
pemerintah. Sebagai wujud bahwa sebuah klenteng telah “berubah” menjadi vihara, maka
dimasukkanlah ornamen - ornamen agama Buddha ke dalam klenteng. Meski begitu peran Tridharma
tidak dapat dianggap sebelah mata, karena paling tidak dapat menyelamatkan ribuan aset Klenteng
yang ada di tanah air ini. Sejak saat itu umat awam sulit membedakan klenteng dengan vihara. Dari
fenomena diatas, kita sudah mulai bisa melihat adanya perubahan yang terjadi. Walaupun tradisi
penggunaan hio dalam pemujaan dewa – dewi / leluhur tetap dilestarikan, namun tata cara dan tempat
ibadahnya mengalami perubahan. Hal ini dikarenakan adanya perubahan ideologi pemerintahan dan
ekonomi sosial yang berdampak pada pergeseran budaya di masyarakat.
Sabar Sukarno dalam hasil penelitian yang berjudul “Dampak Perkembangan Agama Khonghucu
Pasca Reformasi : Studi kasus pindah agama umat Buddha di Tangerang” lebih spesifik mengatakan
bahwa, “Bahkan salah satu pembina umat Khonghucu dalam forum FKUB (Forum Komunikasi Umat
Beragama) pernah menyatakan bahwa semua warga keturunan Tionghoa seharusnya beragama
Khonghucu. Kemudian ia mempertanyakan fungsi kelenteng, seharusnya klenteng adalah tempat
ibadah umat Khonghucu.” (Sukarno, S.,2014 : 2)
Setelah rezim orde baru berakhir, akhirnya pada masa reformasi Presiden K.H. Abdurrahman
Wahid mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Instruksi
6
Presiden Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tionghoa. Dengan
adanya Keppres ini, umat Khonghucu dapat menjalankan segala sesuatu yang berkaitan dengan
agamanya tanpa rasa takut lagi. Keputusan ini berlaku sejak 17 Januari Tahun 2000. Penganut agama
Khonghucu mulai mendapatkan kembali pengakuan atas identitas mereka. Sejak saat inilah banyak
vihara yang kemudian mengganti nama kembali ke nama semula yang berbau Tionghoa dan lebih
berani menyatakan diri sebagai klenteng daripada vihara atau menamakan diri sebagai Tempat Ibadah
Tridharma (TITD).
Sabar Sukarno dalam hasil penelitian yang berjudul “Dampak Perkembangan Agama Khonghucu
Pasca Reformasi : Studi kasus pindah agama umat Buddha di Tangerang” lebih spesifik mengatakan
bahwa, “Permasalahan sengketa tempat ibadah juga terjadi di beberapa tempat. Kelenteng adalah
tempat ibadah warga Tionghoa dengan dasar tiga ajaran yaitu Buddhisme, Khonghucu dan Taoisme.
Kelenteng diinginkan oleh pembina agama Khonghucu untuk masuk ke dalam binaannya. Hal ini
belum tentu disetujui oleh pemilik kelenteng karena pemilik kelenteng tidak selalu menganut agama
Khonghucu. Permasalahan penggunaan kelenteng juga terjadi di Pekalongan dimana terjadi sengketa
antara umat Khonghucu dengan pengguna kelenteng yang masih dalam binaan Tempat Ibadah
Tridharma (TITD).” (Sukarno, S., 2014 : 3)
Klenteng adalah tempat ibadah umat beragama Buddha, Khonghucu, dan Taoisme. Klenteng
sekarang berada dibawah naungan Yayasan Tridharma, oleh sebab itu secara tidak langsung bisa
dikatakan bahwa klenteng adalah milik Yayasan Tridharma. Pihak Khonghucu (MATAKIN)
mengklaim bahwa seharusnya klenteng adalah milik agama Khonghucu. Hal ini dikarenakan di dalam
klenteng terdapat ruangan yang disebut Li Tang, dan umat Khonghucu mengadakan peribadahannya
di ruangan itu. Oleh sebab itu pihak Khonghucu sangat berharap agar klenteng dapat dikembalikan
kepada pihak Khonghucu.
Sabar Sukarno dalam hasil penelitian yang berjudul “Dampak Perkembangan Agama Khonghucu
Pasca Reformasi : Studi kasus pindah agama umat Buddha di Tangerang” lebih spesifik mengatakan
bahwa, “Dari kepentingan yang berbeda tersebut maka terjadi sengketa dalam kepemilikan kelenteng.
Hal ini disebabkan karena umat yang beribadah di kelenteng di antaranya adalah penganut
Khonghucu, tetapi pemilik kelenteng belum tentu penganut Khonghucu. Ketika kelenteng akan
dijadikan sebagai tempat ibadah Khonghucu maka ditolak oleh pemilik kelenteng. Sehingga yang
terjadi adalah perebutan aset kelenteng bukan perebutan umat.” (Sukarno. S., 2014 : 36)
Dengan demikian dapat diketahui bahwa sekarang klenteng sudah menjadi vihara yang berada
dibawah naungan Tridharma dan menjadi satu wadah tempat peribadatan 3 agama yaitu Khonghucu,
Buddha dan Taoisme. Klenteng tetap menjadi tempat ibadah agama Khonghucu dan kepercayaan
tradisional Tionghoa tanpa ada ikatan apapun. Selain itu klenteng sudah membuka diri untuk kalangan
lain dan terbuka luas untuk masyarakat umum yang ingin bersembahyang disana terlepas dari agama,
ras, suku dan budaya.
Simpulan dan Saran
Tradisi lah yang menjadi faktor utama alasan umat yang menganut teguh agama Khonghucu tetap
bersembahyang di klenteng. Pendalaman iman dan mengerti inti ajaran Khonghucu lah yang menjadi
faktor utama alasan umat yang menganut agama Khonghucu berpindah dari klenteng ke Li Tang,
MATAKIN lah yang menjadi pelopor peralihan umat klenteng ke Li Tang, dan MATAKIN juga yang
menyusun peraturan rinci mengenai agama Khonghucu termasuk upacara dan struktur organisasinya
dan Jati diri klenteng itu sendiri sekarang telah menjadi Vihara Tridharma (Khonghucu, Taoisme,
Buddhisme) di bawah naungan Yayasan Tridharma. Klenteng tetap menjadi tempat ibadah agama
Khonghucu dan kepercayaan tradisional Tionghoa tanpa ada ikatan apapun. Selain itu klenteng sudah
membuka diri untuk kalangan lain dan terbuka luas untuk masyarakat umum yang ingin
bersembahyang disana terlepas dari agama, ras, suku dan budaya.
Meskipun klenteng dan Li Tang merupakan tempat ibadah agama Khonghucu, namun dalam
sistem manajemen keduanya terdapat perbedaan yang jelas. Dalam tata ritualnya juga berlainan sama
sekali. Meskipun demikian, kita seharusnya mencari persamaan dan membiarkan perbedaan,
menempatkan inti ajaran Khonghucu (cinta kasih) dan idealisme Khonghucu yaitu masyarakat yang
ideal dan sempurna ke posisi yang tidak tergoyahkan. Jangan biarkan paham keagamaan yang sempit
menghancurkan keseimbangan yang ada di masyarakat dan kerukunan antar umat beragama.
7
Referensi
[1] Babari, J. dan Sugeng, A. (1999). Diskriminasi Rasial Ethnis Tionghoa di Indonesia. Jakarta
: Fatma Press
[2] Buanadjaja, B.S. (2004). Klenteng, Perlunya Lebih Mengenalnya Sebagai Rumah Ibadah
Masyarakat Beragama Konghucu. Diakses 22 juni 2013 dari http://matakin.or.id
[3] Cahyadi, D. (2014). Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti. Jakarta : Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan.
[4] Erniwati. (2007). Asap Hio di Ranah Minang Komunitas Tionghoa di Sumatera Barat.
Yogyakarta : Ombak.
[5] Heriyanti, U.D. (1995). Kepercayaan Orang Cina di Indonesia. Disertasi tidak diterbitkan.
Jakarta : Fakultas Sastra Universitas Indonesia
[6] Jalaluddin. (2012). Psikologi Agama. Jakarta : Rajawali Pers
[7] Junaidy, S. (2014). Nabi Khung Ce (中庸). Malang : Madani.
[8] Kelsay, H. dan Twiss, S. (2007). Agama dan Hak – hak Asasi Manusia. Yogyakarta :
Interfidei
[9] Kuntowijoyo. (1992). Metodologi Sejarah. Yogyakarta : PT. Tiara Wacana
[10] Lombard, D. (2005). Nusa Jawa : Silang Budaya, Jaringan Asia, Edisi 2. Jakarta : Gramedia
Pustaka Umum
[11] Matakin. (2000). Kitab “Su Si:”. Solo : Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia
[12] Matakin. (2009). Anggaran Dasar Dan Anggaran Rumah Tangga MATAKIN Dan Kumpulan
Peraturan Perundangan Tentang Pelayanan Untuk Umat Dan Kelembagaan Agama Khonghucu
Indonesia. Jakarta : MATAKIN.
[13] Mathar, Q. (2005). Sejarah, Teologi, dan Etika Agama – agama. Yogyakarta : Interfidei
[14] Moerthiko. (1980). Riwayat Klenteng, Vihara, Lithang, Tempat Ibadat Tridharma Se-Jawa.
Semarang : Sekretariat Empeh Wong Kam Fu
[15] Onghokham. (2008). Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina. Jakarta : Komunitas
Bambu
[16] Priastana, J. (2004). Permata Tridharma. Jakarta : Yasadara Puteri.
[17] Saidi, G. (2009). Perkembangan Agama Konghucu di Indonesia. Disertasi tidak diterbitkan.
Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah
[18] Salmon, C.L. dan Lombard, D. (2003). Klenteng – Klenteng dan Masyarakat Tionghoa di
Jakarta. Jakarta : Yayasan Cipta Loka Caraka
[19] Sapardi, dkk. (2012). Respon Umat Buddha terhadap Aliran Buddha Maitreya di Indonesia.
Disertasi tidak diterbitkan. Tangerang : STABN Sriwijaya
[20] Singgih, M. (2008). Tridharma. Jakarta : Yayasan Bakti.
[21] Smith, H. (2001). Agama – agama Manusia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
[22] Sukarno, S. (2014). Dampak Perkembangan Agama Khonghucu Pasca Reformasi :Studi
kasus pindah agama umat Buddha di Tangerang. Disertasi tidak diterbitkan. Tangerang : Sekolah
Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya
[23] Suryadinata, L. (1986). Dilema Minoritas Tionghoa. Jakarta : Pustaka Grafiti.
[24] Tanggok, I. (2005). Mengenal Lebih Dekat Agama Konghucu di Indonesia. Jakarta : Pelita
Kebajikan.
[25] Wibowo, I. dan Thung, J.L. (2010). Setelah Air Mata Kering – Masyarakat Tionghoa Pasca
Peristiwa Mei 1998. Jakarta : Kompas.
[26] Yi, S.L. (2000). Prasangka terhadap etnis china, sebuah intisari. Jakarta : Djambatan.
[27] Zainal, M.M. (1977). Masyarakat dan Kebudayaan Cina di Indonesia. Bandung : Tarsito.
[28] 鲍鹏山.孔子是如何炼成的[M].台北市:本事文化出版,2010.
[29] 陈立夫.四书道贯 [M].北京:中国友谊出版公司,1998.
[30] 陈立夫.四书中的常理及故事 [M].北京:中国友谊出版社,2011.
[31] 劳思光.大学中庸译注新编 [M].香港:中文大学出版社,2001.
[32] 罗哲文.中国著名佛教寺庙[M].中国城市:中国城市出版社,1996.
[33] 亦歌.孔子[M].杭州:浙江少年儿童出版社,2006.
[34] 余桂元.中国的寺庙[M].中国: 商务印书馆,2005.
[35] 曾家麒.阅读经典中的孔子[M].台北市:商周、城邦文化出版,2010.
[36] 钟敬文.民俗学概论[M].上海:上海文艺出版社,2009
8
Riwayat Penulis
Junianti lahir di Lahat pada tanggal 11 Juni 1987. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas
Bina Nusantara dalam bidang Sastra China pada tahun 2015. Saat ini bekerja sebagai Guru Private
Mandarin SD.
Theresia Liawanta lahir di Jakarta pada tanggal 12 November 1993. Penulis menamatkan pendidikan
S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang Sastra China pada tahun 2015. Saat ini bekerja
sebagai Guru Mandarin SMA di Sekolah Kristoforus II.
Sugiato Lim lahir di Bangka pada tanggal 20 Juli 1988. Menamatkan pendidikan S1 dalam bidang
Chinese Language and Culture pada tahun 2010 dan menamatkan pendidikan S2 dalam bidang
Teaching Chinese to Speakers of Other Languages pada tahun 2012 di Beijing Language and Culture
University. Saat ini bekerja sebagai FM SCC di Universitas Bina Nusantara.
Download