Studi atas Pemikiran Fazlur Rahman

advertisement
PROBLEMA AKTIFITAS PEMBELAJARAN
Oleh : Ali Ahmad Yenuri
Abstrak : Problema Aktifitas Pembelajaran Dalam Pendidikan Modern,
Makalah ini menggunakan dua perspektif yaitu perpektif psikologis dan
Filosofis. Kedua perspektif tersebut digunakan untuk menganalisa problemaproblema yang terjadi seputar permasalahan dominasi teori pembelajaran
barat dalam pendidikan modern, kelebihan dan kekurangan teori
pembelajaran barat, penerapan teori pembelajaran barat dalam pendidikan
keagamaan, dan analisa problema beserta alternatif jalan keluarnya.
Keywords : Teori Behavioristik, Teori Humanistik, Teori Kognitif, Teori
Psikologi Gestalt, positivis-empirik dan Teoantroposentris – Integralistik.
PENDAHULUAN
Manusia modern adalah sebuah masyarakat yang berdimensi satu (one dimensional man);
artinya seluruh sisi kehidupannya hanya diarahkan pada satu tujuan, yakni keberlangsungan dan
peningkatan sistem yang telah ada, sistem itu tidak lain adalah kapitalisme.
Pengerahan pada satu tujuan ini berarti menyingkirkan dan menindas dimensi-dimensi lain
yang tidak menyetujui dan tidak sesuai dengan sistem tersebut. Masyarakat modern tersebut
bersifat represif dan totaliter (menindas dan bersifat menyeluruh), kondisi demikian merasuki
segenap wilayah kehidupan manusia, baik pada wilayah sosial-ekonomi, sosial-politik maupun
sosial-budaya dan pendidikan.1
Kenyataannya, negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, secara latah dan tanpa
merasa segan justru mengimpor dan mengadopsi konsep dan sistem pendidikan yang
dikembangkan di Barat, sistem pendidikan yang hanya memikirkan kebebasan tanpa
mementingkan tanggung jawab dan mengabaikan usaha memperkokoh kehidupan akhlak dan
agama.2
Oleh karena itu tulisan ini berusaha mencoba mengurai kembali problematika aktifitas
pembelajaran dalam pendidikan modern dalam dua perspektif, yaitu perspektif psikologis dan
perspektif filosofis.
DOMINASI TEORI PEMBELAJARAN BARAT DALAM PENDIDIKAN MODERN
Teori pembelajaran barat sudah mendominasi dan besar pengaruhnya dalam ranah politik
sosial budaya maupun dalam pendidikan. Dalam mempengaruhi atau mendominasi pendidikan
1
M. Sastrapratedja (ed.), Manusia Multi Dimensional: Sebuah Renungan Filsafat (Jakarta: Gramedia,
1983), hlm. 123-124.
2
Fadhil al-Jamil, Menerobos Krisis Pendidikan Dunia Islam, terj. HM. Arifin (Jakarta: Golden Trayon
Press, 1992), hlm. 39.
89
MIYAH VOL.X NO. 01 JANUARI TAHUN 2015
dipandang dari psikologis, setidak-tidaknya ada 4 pandangan mengenai teori pembelajaran, Teori
pembelajaran tersebut antara lain:
1. Teori Behavioristik
Behavioristik adalah suatu studi tentang kelakuan manusia. 3 Menurut pandangan aliran ini
bahwa pembelajaran dilaksanakan dengan kontrol instrumental dari lingkungan. Guru
mengkondisikan sedemikian sehingga siswa pembelajar atau siswa mau belajar. Dengan
demikian dilaksanakan dengan kondisioning, pembiasaan, peniruan. Hadiah dan hukuman
sering ditawarkan dalam pembelajaran. Kedaulatan guru dalam pembelajaran demikian relatif
tinggi, sementara kedaulatan siswa sebaliknya, sangat rendah. 4
Sebagaimana telah diketahui bahwa pembelajaran menurut faham di atas adalah suatu
kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidaknya seseorang bergantung
kepada faktor-faktor kondisional yang diberikan oleh lingkungan. Oleh karena itu, teori ini
juga dikenal dengan teori conditioning.5
Teori pembelajaran ini dikemukakan oleh ahli psikologi behavioristik, mereka
berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau
penguatan dari lingkungan. Dengan demikian tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat
antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulusnya.6
Teori ini merupakan teori yang menekankan pada kegiatan organisme yang diamati
sebagaimana terwujud pada gerakan bagian-bagian tubuh atau pada tingkah laku. Teori
prilaku ini menegaskan bahwa dalam mempelajari individu yang seharusnya dilakukan adalah
menguji dan mengamati perilakunya dan bukan mengamati kegiatan bagian dalam tubuhnya. 7
Teori tingkah laku mula-mula dikembangkan Pavlov, Watson, Gutri dan Skinner. Di
dalam tradisi behavioristik berkembang keyakinan bahwa perkembangan ialah perilaku yang
dapat diamati yang dipelajari melalui pengalaman dan lingkungan.8
2. Teori Humanistik
Pandangan yang berasal dari psikologi humanistik ini merupakan antitesa pandangan
behavioristik. Dalam pandangan teori ini, pembelajaran dapat dilakukan sendiri oleh siswa.
Dengan demikian pembelajaran dengan teori ini menjadikan siswa senantiasa menemukan
3
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hlm. 38.
Ali Imran, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: Dunia Pustaka jaya, 1996), hlm. 2.
5
Ibid., Ali Imran, Belajar dan Pembelajaran… hlm. 5.
6
Tajdab, Ilmu Jiwa Pendidikan (Surabaya: Karya Abdi Tama, 1994) hlm. 60.
7
Soyomuhti Nurani, Teori-Teori Pendidikan (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2001), hlm. 40.
8
Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), hlm 54.
4
90
MIYAH VOL.X NO. 01 JANUARI TAHUN 2015
sendiri mengenai sesuatu tanpa banyak campur tangan dari guru. Peranan guru dalam
pembelajaran yakni mengajar dan belajar demikian relatif rendah. Kedaulatan siswa dalam
pembelajaran relatif tinggi, sehingga menjadikan kedaulatan guru relatif rendah.9
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa teori pembelajaran ini merupakan
antitesa dari teori pembelajaran behavioristik. Jika dalam pembelajaran behavioristik belajar
merupakan kontrol instrumental yang dilakukan oleh lingkungan maka dalam pandangan
psikologi humanistik justru sebaliknya. Bahwa pembelajaran dilakukan dengan cara
memberikan kebebasan yang sebesar-besarnya kepada individu.1
Psikologi humanistik berkeyakinan bahwa anak termasuk makhluk yang unik, beragam,
berbeda satu sama lain. Keberagaman yang ada pada diri anak, hendaknya dikukuhkan.
Dengan demikian seorang pendidik atau guru bukanlah bertugas untuk membentuk anak
menjadi manusia sesuai yang dikehendaki, melainkan memantapkan visi yang telah ada pada
anak itu sendiri. Untuk itu seorang pendidik pertama kali membantu anak untuk memahami
diri sendiri dan tidak memaksakan pemahamannya sendiri mengenai siswa.
Dalam proses pembelajaran psikologi humanistis mengatakan bahwa jika peserta didik
memperoleh informasi baru, informasi baru itu dipersonalisasikan ke dalam dirinya. Sangatlah
keliru jika pendidik beranggapan bahwa peserta didik akan mudah belajar kalau bahan ajar
disusun rapi dan disampaikan dengan baik, karena peserta didik sendirilah yang menyerap dan
mencerna pelajaran itu. Yang menjadi masalah dalam pembelajaran bukanlah bagaimana
bahan ajar itu disampaikan tetapi bagaimana membantu peserta didik memetik arti dan
makna yang terkandung dalam bahan ajar itu. Apabila peserta didik dapat mengaitkan bahan
ajar dengan kehidupannya, pendidik boleh berbesar hati karena misinya telah berhasil.1
Pandangan teori ini mengungkapkan bahwa belajar bukan sekedar membangun kualitas
kognitif saja, melainkan sebuah proses yang terjadi dalam individu yang melibatkan seluruh
aspek domain yang ada baik kognitif, afektif maupun psikomotorik. Pendekatan humanistik
dalam pembelajaran merupakan titik tekan pada pentingnya emosi, komunikasi terbuka, dan
nilai-nilai yang dimiliki tiap siswa untuk berfikir induktif. Teori ini juga mementingkan faktor
pengalaman dan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.
Teori ini melahirkan berbagai teori yang tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap
individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan
dengan pengalaman mereka sendiri. Menurut teori ini pendidik diharapkan dapat membantu
9
Ibid., Ali Imran, Belajar dan Pembelajaran… hlm. 4.
0
Ibid., Ali Imran, Belajar dan Pembelajaran… hlm.
11.
1
1
Wiji suwarna, Dasar-dasar ilmu pendidikan, (Yogyakarta:
Ar-Ruzz, 2006), hlm72.
1
91
MIYAH VOL.X NO. 01 JANUARI TAHUN 2015
dalam mengembangkan diri siswa untuk mengenal diri sendiri sebagai manusia yang unik
sekaligus membantu siswa dalam mewujudkan potensi-potensi dalam diri mereka.
3. Teori Kognitif
Pandangan
dari psikologi kognitif
ini merupakan konvergensi dari pandangan
behavioristik dan humanistik. Dengan demikian dalam pandangan teori kognitif pembelajaran
merupakan perpaduan dari usaha pribadi dengan kontrol instrumental yang berasal dari
lingkungan. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang cocok dalam pandangan ini adalah
eksperimentasi. Yang mana dihasilkan bahwa dalam pandangan psikologi behavioristik
tanggung jawab siswa dalam belajar rendah sedangkan tanggung jawab guru tinggi. Sebaliknya
dalam pandangan humanistik tanggung jawab guru rendah sedangkan tanggung jawab siswa
tinggi. Sementara dalam pandangan kognitif tanggung jawab guru dan siswa sama-sama
sedang.1
2
Menurut psikologi kognitif memandang bahwa pembelajaran sebagai usaha untuk
mengerti tentang sesuatu. Usaha untuk mengerti tentang sesuatu tersebut dilakukan secara
aktif oleh pembelajar. Keaktifan tersebut dapat berupa mencari pengalaman, mencari
informasi, memecahkan maslah, mencermati lingkungan, mempraktekkan, mengabaikan dan
respon-respon lainnya guna mencapai tujuan. Para psikolog kognitif berkeyakinan bahwa
pengetahuan yang dipunyai sebelumnya sangat menentukan terhadap perolehan belajar: yang
harus dipelajari yang berhasil di ingat dan yang mudah dilupakan.1
Salah satu teori pembelajaran yang berasal dari psikologi kognitif ini teori pemrosesan
informasi. Menurut teori ini belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi dalam
otak manusia. Sedangkan pengolahan oleh otak manusia sendiri dimulai pengamatan
(pengindraan) atas informasi yang berada dalam lingkungan manusia, penyimpanan,
penyimbolan/ pengkodean/ penyandian terhadap informasi-informasi yang tersimpan, dan
setelah membentuk pengertian kemudian dikeluarkan lagi oleh pembelajar.
4. Teori Psikologi Gestalt
1
1
Ibid., Wiji suwarna, Dasar-dasar ilmu pendidikan2 ..hlm.5.
Ibid., Wiji suwarna, Dasar-dasar ilmu pendidikan3 ..hlm. 11.
92
MIYAH VOL.X NO. 01 JANUARI TAHUN 2015
Selain ketiga pandangan di atas ada pandangan dari teori gestalt bahwa pembelajaran
adalan usaha yang bersifat totalitas dari individu, oleh karena totalitas lebih bermakna
dibandingkan dengan sebagian-sebagian.
Menurut teori gestalt pembelajaran terdiri atas stimulus respon yang sederhana tanpa
adanya pengulangan ide atau proses berfikir. Sehingga setiap pengalaman itu senantiasa
berstruktur. Setiap respon yang diberikan seseorang terhadap suatu simultan sebenarnya tidak
tertuju kepada suatu bagian melainkan tertuju kepada sesuatu yang bersifat kompleks.1
Aliran ini berpendirian bahwa keseluruhan lebih dan lain dari pada bagian-bagiannya,
bahwa manusia adalah organisme yang aktif berusaha mencapai tujuan, bahwa individu
bertindak atas pengaruh di dalam dan di luar individu. Jika seseorang belajar ia mendapatkan
5
insight.1 Insight itu diperoleh bila ia melihat hubungan
tertentu antara berbagai unsur dalam
situasi itu sehingga hubungan menjadi jelas baginya dan dengan demikian memecahkan
masalah itu.1
6
Ditinjau dari perspektif filosofis ada 4 hal yang menjadi latar belakang, kenapa teori
pembelajaran dalam pendidikan modern lebih didominasi barat?
Pertama, Jika kita belajar tentang sejarah perkembangan ilmu, mau tidak mau kita kembali
menengok perkembangan ilmu di dunia barat, karena mereka memang memiliki landasan
pengembangan ilmu yang lebih sistematik dan terdokumentasi secara cermat daripada dunia
timur. Perkembangan ilmu di dunia barat berakar pada tradisi Yunani yang berlandaskan
Logos, Ethos, dan Pathos.1
7
Kedua, Belum pernah terjadi suatu zaman seperti sekarang, ketika manusia sangat sadar
akan kekuasaannya atas realitas. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang semakin cepat,
sains yang bersifat positivis-empirik telah membuktikan kehebatannya sehingga memaksa
Negara-negara berkembang dalam hal ini negara islam membawanya sebagai paradigma baru.
Thomas Kuhn menjelaskan konsep paradigma yaitu : bahwa dalam masa tertentu, ilmu sosial
dikuasai oleh suatu paradigma, kemudian paradigma
itu merosot, dan digantikan oleh
paradigma baru. Itulah sebabnya perkembangan ilmu sosial, terjadi secara revolusi.1
1
Ibid., Wiji suwarna, Dasar-dasar ilmu pendidikan4 ..hlm. 15.
5
Muhammad Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar,
(Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996), hlm.18.
1
6
Nasution, Didaktik metodik, (Jakarta: Bumi Aksara,
1995), hlm. 42.
1
Logos membimbing ilmuwan untuk mengambil 7keputusan yang lebih mendasarkan diri pada pemikiran yang
bersifat rasional, dapat dinalar (rasionable). Ethos mengajarkan para ilmuwan tentang pentingnya rambu-rambu
normatif dalam pengembangan ilmu. Dan pathos menyangkut komponen atau unsur rasa dalam diri manusia
sebagai makhluk yang mencintai aspek keindahan sehingga hidup ini tidak monoton dan kaku, selalu terbuka
peluang untuk mengadakan improvisasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, lihat lebih jauh..Rizal Mustansir
dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007) hlm. 7.
1
8
Anwar Arifin, Memahami Paradigma Baru Pendidikan
Nasional dalam Undang-Undang Sisdiknas (Jakarta :
Departemen Agama RI, 2003) hlm. 1
1
93
MIYAH VOL.X NO. 01 JANUARI TAHUN 2015
Ketiga, Menurut Whitehead atas sejarah, agama pada zaman modern telah kehilangan
genggaman pengaruhnya atas dunia. Menurut Whitehead ada alasan pokok yang
menyebabkan kemerosotan tersebut. Alasannya adalah stagnasi yang menimpa kehidupan
beragama. Stagnasi ini terungkap dari sikap konservatisme dan sikap defensif kaum agamawan
dalam menghadapi perubahan masyarakat yang diakibatkan oleh perkembangan sains dan
teknologi.1
9
Keempat, Pengaruh Aufklarung (pencerahan) yang menghendaki agar manusia dibebaskan
dari absolutisme negara/agama dan mengharapkan kebebasan, terutama kebebasan ekonomi,
dapat menghasilkan kebahagian yang sebesar-besarnya. (Kapitalisme-Liberalisme).2
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TEORI PEMBELAJARAN BARAT
Teori behavioristik mempunyai kelebihan dan kelemahan, dari segi kelebihannya
teori ini
sangat cocok dan tepat bila diterapkan ketika para peserta didik tidak aktif atau kurang memiliki
bahan materi karena kekurangan bacaan. Di samping itu dengan teori ini mampu memotivasi
siswa dengan adanya pemberian reward dan punishment sehingga pembelajaran menjadi aktif.
Apabila prilaku baik siswa diberi reward maka prilaku tersebut cenderung dipertahankan bahkan
ditingkatkan sedang siswa yang melakukan kesalahan akan mendapatkan hukuman dari guru.
supaya siswa tidak mengulangi perbuatan tercelanya. Sedangkan kelemahan Teori behavioristik
cenderung menjadi siswa untuk tidak kreatif dan tidak produktif. Sebab yang paling aktif adalah
guru dengan demikian kreatifitas dan keaktifan murid menjadi rendah.
Teori humanistik dalam pembelajaran kelebihannya adalah mampu menjadikan siswa aktif,
kreatif, dan produktif sehingga di setiap pembelajaran guru berfungsi sebagai fasilitator dan
mengarahkan kepada peserta didik sehingga peserta didik tidak larut dalam keasyikan ketika
mereka salah ada sang guru dalam memberikan pengarahan. Sedangkan kelemahannya teori
pembelajaran humanistik menjadikan guru hanya sebagai orang yang kesekian karena guru tidak
lagi menjadi sumber pembelajaran satu-satunya dan akhirnya guru tidak mendapatkan perannya
sebagai pendidik.
Teori kognitif dalam pembelajaran yang merupakan perpaduan dari teori behavioristik
dan humanistik ini kelebihannya mampu menciptakan pembelajaran yang seimbang dan keaktifan
dalam proses pembelajarannya yang akhirnya kelas menjadi aktif kedua-duanya antara guru dan
murid sehingga pembelajaran lancar dan tertib. Namun kelemahan dari teori ini adalah dalam
mendapatkan hasil dari proses pembelajaran kalau dari teori behavioristik guru yang aktif dan
1
9
J. Sudarminta, Filsafat Proses : Sebuah Pengantar
Sistematik Filsafat Alfred North Whitehead (Yogyakarta :
Kanisius, 1994) hlm. 87
2
0
Djumhur dan Danasuparta, Sejarah Pendidikan (Bandung
: CV. Ilmu, 1974) hlm. 118.
94
MIYAH VOL.X NO. 01 JANUARI TAHUN 2015
menjadikan murid kurang maksimal sedangkan teori humanistik menjadikan murid lebih aktif dari
pada guru yang akhirnya guru dikesampingkan namun dari teori ini menjadikan keduanya sedangsedang yaitu antara keaktifan guru dan murid tidak ada yang dominan dan akhirnya hasil
pembelajaran juga agak maksimal yaitu sedang-sedang.
Teori gestalt dalam pembelajaran kelebihannya adalah mampu menjadikan hasil
pembelajaran lebih sempurna dan menyeluruh sedangkan kekurangannya dari teori pembelajaran
ini adalah tingkat pemahaman hasil yang sampai rumit dan terperinci kurang dihasilkan dalam
pembelajaran.
Ditinjau dari Perspektif filosofis teori pembelajaran barat modern mempunyai beberapa
kelebihan, yaitu :
1. Mempunyai landasan epistemologi positivis logis yang kuat, ilmu pengetahuan didasarkan atas
kepercayaan dan kepastian intelektual (sikap ilmiah) yang kebenarannya dapat dibuktikan
berdasarkan metode, perkiraan dan pemikiran yang dapat diuji. Kebenaran merupakan a
never ending process, bukan sesuatu yang mandeg dalam kebekuan normatif dan dogmatis. 2
2. Pengaruh dari epistemologi dan pandangan terhadap realitas (metafisik) tersebut telah
menyebabkan peradaban dan kebudayaan barat modern berkembang pesat. Sehingga
dalam hal ini Roger Bacon mengungkapkan, “Knowledge is power”.2
Walaupun teori pembelajaran barat telah mampu memproduksi teknologi dan sains begitu
pesat, namun Implikasi atas cara pandang, kultur dan pola berpikir yang hanya membenarkan
kenyataan empiris tersebut sangat mempengaruhi dan menentukan sistem pendidikan yang
mereka kembangkan, sebuah sistem pendidikan yang mengacu pada paradigma liberalisme.
Dengan begitu, maka lahirlah sebuah generasi yang mengagungkan kebebasan, lepas dari dataran
etis, norma dan agama. Ini artinya, pengembangan sains dan teknologi melalui sistem pendidikan
yang begitu pesat di Barat, juga diiringi dengan munculnya generasi yang justru merendahkan
martabat kemanusiannya sendiri (dehumanisasi).
PENERAPAN TEORI PEMBELAJARAN BARAT DALAM PENDIDIKAN
KEAGAMAAN
2
2
Ibid., Rizal Mustansir, Filsafat Ilmu ..hlm. 72
Ibid., Rizal Mustansir, Filsafat Ilmu ..hlm. 71
1
2
95
MIYAH VOL.X NO. 01 JANUARI TAHUN 2015
Ada baiknya kita bersifat sintesis kritis, mengambil yang baik secara kritis di antara
metodologi-metodologi yang ditawarkan barat, tetapi membuang berbagai pemikiran yang
menyimpang dari pemikiran keagamaan. Kenapa demikian?
Ilmu pendidikan berbeda dengan Sains dan teknologi yang bersifat eksak dan pasti, ilmu
pendidikan hasil temuan manusia bersifat relatif, karena pendidikan manusia itu tergantung
kepada sistemnya. Produk karakter manusia seperti apa yang akan dihasilkan tergantung kepada
sistem dan lingkungan yang membentuknya. Jadi ilmu pendidikan dan psikologi yang dihasilkan
tentu akan tergantung bagaimana sistem dan nilai-nilai yang dianut oleh sistem tersebut. Dengan
kata lain kita tidak bisa mengadopsi begitu saja teori pendidikan dan psikologi dari barat.
Hingga kini, masih kuat anggapan dalam masyarakat luas yang mengatakan bahwa “agama”
dan “ilmu” adalah dua entitas yang tidak bisa dipertemukan. 2 Dengan lain ungkapan, ilmu tidak
memperdulikan agama dan agama tidak memperdulikan ilmu. Begitulah sebuah gambaran praktek
kependidikan dan aktivitas keilmuan di tanah air sekarang ini dengan berbagai dampak negatif
yang ditimbulkan dan dirasakan oleh masyarakat luas. Oleh karenanya, anggapan yang tidak tepat
perlu dikoreksi dan diluruskan.2
4
Agama dalam arti luas merupakan wahyu Tuhan, yang mengatur hubungan manusia dengan
Tuhan, diri sendiri, dan lingkungan hidup baik fisik, sosial maupun budaya secara global.
Seperangkat aturan-aturan, nilai-nilai umum dan prinsip-prinsip dasar inilah yang sebenarnya di
sebut “Syariat”. Kitab suci Al-Quran yang diturunkan merupakan petunjuk etika, moral, akhlak,
kebijaksanaan dan dapat menjadi teologi ilmu serta Grand Theory ilmu. Wahyu tidak pernah
mengklaim sebagai ilmu qua ilmu seperti yang seringkali diklaim oleh ilmu-ilmu sekular.
Analisa Problema dan Alternatif Jalan Keluarnya
Ditinjau dari perspektif filosofis, ada tiga problema yang mendasar dari teori barat
modern, yaitu dari aspek metafisik, epistemologi dan etik. Pondasi metafisik sangat penting bagi
sebuah bangunan epistemologi. Karena pondasi ini sangat berpengaruh bagi bangunan
epistemologi, sistem klasifikasi, maupun metodologi yang digunakannya. Keraguan atau
penolakan dari banyak ilmuwan Barat terhadap dunia metafisik telah menyebabkan pembatasan
lingkup sains pada objek-objek inderawi atau substansi-substansi meterial belaka (materialism –
sekularisme). Sains kemudian hanya berkutat dengan entitas-entitas yang bisa diobservasi
2
3
Konotasi penyebutan “agama” dapat berarti macam-macam.
Bisa berupa kelembagaan agama, ritus-ritus
agama, dogma agama, tradisi agama dan begitu seterusnya. Namun yang penulis maksud dalam tulisan ini
adalah nilai-nilai spiritualitas, intelektualitas, moralitas, dan etika yang dibangun oleh agama-agama dunia,
khususnya Islam
2
4
Ian G. Barbour, Issues in Science and Religion, New
York : Harper Tourchbooks, 1996, 1-2
96
3
MIYAH VOL.X NO. 01 JANUARI TAHUN 2015
(observable entities). Sains yang bersifat positivis-empirik akhirnya menghasilkan pandangan etika
yang bebas dari nilai (free of value).
Bagaimanakah solusi yang terbaik dalam hal ini perspektif filsafat Pendidikan Islam?
Solusi terbaik dalam hal ini menurut Amin Abdullah adalah menggunakan pendekatan
Teoantroposentris – Integralistik.
2
Teoantroposentris adalah pandangan yang 5 mengakui perpaduan
antara dua macam sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan yang berasal dari Tuhan dan
pengetahuan yang berasal dari manusia.
Integralistik adalah Perubahan gerakan resakralisasi, deprivatisasi agama dan ujungnya
adalah dediferensiasi (penyatuan dan rujuk kembali). Kalau diferensiasi menghendaki pemisahan
antara agama dan sektor-sektor kehidupan lain, maka dediferensiasi menghendaki penyatuan
kembali agama dengan sektor-sektor kehidupan lain, termasuk agama dan ilmu.
Agama menyediakan tolok ukur kebenaran ilmu (dharûriyyah; benar, salah), bagaimana
ilmu diproduksi (hâjiyyah; baik, buruk), tujuan-tujuan ilmu (tahsiniyyah; manfaat, merugikan).
Dimensi aksiologi dalam teologi ilmu ini penting untuk digaris bawahi, sebelum manusia keluar
mengembangkan ilmu. Selebihnya adalah hak manusia untuk memikirkan dinamika internal ilmu.
Selain ontologi (whatness) keilmuan, epistemologi keilmuan (howness), agama sangat menekankan
dimensi aksiologi keilmuan (whyness).
Beberapa contoh dibawah ini akan memberi gambaran mengenai ilmu yang bercorak
integralistik bersama prototip sosok ilmuan integratif yang dihasilkannya. Contoh dapat diambil
dari ilmu Ekonomi Syariah, yang sudah nyata ada praktik penyatuan antara wahyu Tuhan dan
temuan pikiran manusia. Ada BMI (Bank Muamalat), Bank BNI Syariah, usaha-usaha argrobisnis,
transportasi, kelautan, dan sebagainya. Agama menyediakan etika dalam perilaku ekonomi
diantaranya adalah bagi hasil (al-mudhârabah), dan kerjasama (al-musyârakah). Disitu terjadi proses
objektifikasi dari etika agama menjadi ilmu agama yang dapat bermanfaat bagi orang dari semua
penganut agama, non agama, atau bahkan anti-agama.
PENUTUP
2
5
Amin Abdullah, Makalah “Etika Tauhidik Sebagai
Dasar Kesatuan Epistemologi Keilmuan Umum Dan
Agama (Dari Paradigma Positivistik-Sekularistik Ke arah Teoantroposentrik-Integralistik) dalam Seminar :
Reintegrasi Epistemologi Pengembangan Keilmuan di IAIN Sunan Kalijaga, 12 September 2002.
97
MIYAH VOL.X NO. 01 JANUARI TAHUN 2015
Pembelajaran barat yang telah berhasil mengembangkan sains dan teknologi ternyata
menyisakan lubang yang menggangga, lubang yang melupakan eksistensi manusia akan
kemanusiaannya (dehumanisasi). Kesuksesan manusia dalam menciptakan teknologi-teknologi
raksasa ternyata telah menjadi boomerang bagi kehidupan manusia sendiri. Raksasa-raksasa
teknologi yang diciptakan manusia seakan-akan berbalik untuk menghantam penciptanya sendiri,
yaitu manusia.
Oleh karena itu, diperlukan usaha mensinergikan ilmu dan agama, karena agama mencoba
mengembalikan nilai luhur dari ilmu, agar ilmu tidak menjadi boomerang bagi kehidupan
manusia. Agama akan mempertegas bahwa ilmu dan teknologi adalah instrument dalam mencapai
kesejahteraan bukan tujuan.
Dengan berbagai problematika manusia modern yang disebabkan kegagalan teori barat,
kini sudah saatnya memunculkan landasan epistemologi integral yang tidak mendikotomikan
antara ilmu dan agama dengan epistemologi teoantrophosentris-integralistik.
DAFTAR PUSTAKA
98
MIYAH VOL.X NO. 01 JANUARI TAHUN 2015
Abdullah, Amin . Makalah “Etika Tauhidik Sebagai Dasar Kesatuan Epistemologi Keilmuan
Umum Dan Agama (Dari Paradigma Positivistik-Sekularistik Ke arah TeoantroposentrikIntegralistik) dalam Seminar : Reintegrasi Epistemologi Pengembangan Keilmuan di IAIN
Sunan Kalijaga, 12 September 2002.
Ali, Muhammad. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo. 1996.
Arifin, Anwar. Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang Sisdiknas.
Jakarta : Departemen Agama RI. 2003.
Desmita, Wiji. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosda Karya. 2005.
Djumhur dan Danasuparta, Sejarah Pendidikan . Bandung : CV. Ilmu, 1974.
Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar . Jakarta: Bumi Aksara. 2001.
Imran, Ali. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dunia Pustaka jaya. 1996.
Ian G. Barbour, Issues in Science and Religion, New York : Harper Tourchbooks, 1996.
Sudarminta, J. Filsafat Proses : Sebuah Pengantar
Yogyakarta : Kanisius, 1994.
Sistematik Filsafat Alfred North Whitehead.
al-Jamil, Fadhil. Menerobos Krisis Pendidikan Dunia Islam, terj. HM. Arifin Jakarta: Golden Trayon
Press.1992.
Sastrapratedja, M. Manusia Multi Dimensional: Sebuah Renungan Filsafat Jakarta: Gramedia, 1983.
Mustansir, Rizal dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007.
Nasution, Didaktik metodik. Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
Nurani, Soyomuhti. Teori-Teori Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2001.
Suwarna, Dasar-dasar ilmu pendidikan.Yogyakarta: Ar-Ruzz. 2006.
Tajdab, Ilmu Jiwa Pendidikan. Surabaya: Karya Abdi Tama. 1994.
99
Download