fisika bangunan

advertisement
RANCANGAN
KEGIATAN PEMBELAJARAN
MATA KULIAH
FISIKA BANGUNAN
DOSEN PENGAMPU :
IR. H. SIDIK HANANTO US, MT
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2010
SILABUS MATA KULIAH
1.
Identitas Perguruan Tinggi
a. Pergruan Tinggi
b. Fakultas
c. Jurusan
d. Program Studi
:
:
:
:
Universitas Pendidikan Indonesia
FPTK
JPTA
Pendidikan Teknik Arsitektur
Identitas Mata Kuliah
a. Nama Mata Kuliah
b. Kode MK
c. Dosen Pengampu
d. Semester
e. Bobot SKS
:
:
:
:
:
Fisika Bangunan
TA 306
Ir. H.Sidik Hananto Us, MT
4
2
3.
Mata Kuliah Prasyarat
:
---
4.
a. Status Mata Kuliah
b. Sifat Mata Kuliah
:
:
Wajib
Teori
5.
Kompetensi yang dicapai
a. Kompetensi
:
. Mengenal komponen bahan bangunan yang sangat dipengaruhi faktor iklim.
. Mengenal dan memprediksi kebutuhan/ kondisi ruang yang dipengaruhi oleh
faktor cuaca, akustik, optik dan bionomik manusia.
2.
b. Indikator
:
. Kemampuan meprediksi fenomena perubahan fisik bahan.
. Kemampuan mempredikisi kebutuhan keamanan (safety factor) bangunan terkait
korelasi penggunaan bahan.
- Mempredikisi perhitungan kebutuhan kenyaman secara umu pada bangunan.
6.
Deskripsi Mata Kuliah
Pemahaman dan pengenalan prinsip dasar klimatologi (iklim tropis) da karakteristik
penerangan siang hari, ventilasi serta akustik, yang terjadi pada ruang dalam banguan. Dengan
pemahaman ini dapat diperkirakan nilai kenyamanan thermal ideal pasa internal bangunan.
7.
Pendekatan Pembelajaran :
Penyelesaian soal/ masalah yang merupakan temuan kelompok secara klasikal;
diselesaikan secara kelompok besar. Dan untuk masalah yang bersifat prinsipal/
kasusistik diselesaikan secara individual.
8.
Media Pembelajaran :
Ceramah, diskusi kasus dengan paparan digital, media realitas pada ruang yang sedang
digunakan.
9.
Asesmen :
- Kehadiran
- UTS dan UAS
- Tugas terstruktur (bulanan/ semesteran) baik secara individual ataupun kelompok.
- Kemampuan studi kasus (temuan masalah); dalam acara diskusi (pendalaman)
10.
Tugas-tugas Mahasiswa
Diantaranya membuat makalah yang membahas masalah bangunan pada substansial
kemampuan fisik dengan pokok bahasan sebagai berikut : (Ilustrasi)
1. Uraikan komponen bangunan yang berkaitan dengan pembebanan struktur,
konstruksi dan fungsi lainnya (pondasi, kolom, lantai, core, dinding). Berikan sketsa
grafis sebagai petunjuk pembahasannya.
2. Beban iklim sangat mempengaruhi proses desain bangunan; Jelaskan masalah yang
berkaitan dengan matahari, hujan, udara/ angin, dan uraikan pula cara rekayasa
teknologinya.
3. Berikan ulasan tentang penerangan siang hari yang juga disebut dengan cahaya
terang langit. Bahas pula kendala dan syarat-syarat cahaya ini sampai di meja/ bidang
kerja.
11.
Sumber Pustaka
1. Leslie L Doelle, 1972, Environmental Accoustics, McGraw-Hill.
2. Phillips, 1965, Lighting and Architectural Accoustics, McGraw-Hill.
3. Koenigsberger, 1973, Manual of Tropical Housing and Building Climatic Design,
Longman.
4. Egan, M.David, 1975, Concepts in Thermal Comfort, Prentice-Hall, Inc.
5. Lippsmeier, Georg., 1980, Tropenbau Building in the Tropics, Verlag Georg D.W.
Callwey.
6. Adhiwijogo, Markus, 1970, Penerangan Alami Siang Hari Dari Bangunan, Lembaga
Penyelidikan Masalah Bangunan.
.---- o ----.
SATUAN ACARA PERKULIAHAN
1.
2.
3.
4.
5.
5.1.
NAMA MATA KULIAH
KODE MK / SKS
MK PRASYARAT
SEMESTER
POKOK BAHASAN
Pokok Bahasan 1
:
:
:
:
Fisika Bangunan
TA 306 / 2
--4
:
Pada permulaan kuliah diberikan penjelasan mengenai
dasar-dasar fisika bangunan secara umum.
Pertemuan Ke
:
Pertama
Dosen/ Asisten
:
Ir. H. Sidik Hananto Us, MT
Kompetensi Dan Model Pembelajaran
a. Kompetensi
: Memahami masalah pada umumnya pada bahasan
fisika material dan komponen bangunan.
b. Indikator
: Menulis dafar pertanyaan.
c. Model Pembelajaran
: Ceramah, tanja jawab, tampilan grafik ilustrasi
d. Skenario Kegiatan Pembelajaran : Klasikal
TAHAP KEGIATAN
KEGIATAN DOSEN
KEGIATAN MHS
WAKTU
PERSIAPAN
Memberi ulasan dan
fenomena proses
material bangunan
dan pengaruhnya
Responsif dan
mencatat.
30 Menit
PELAKSANAAN
Paparan sketsa grafis
dasar filosofi
keilmuan Fisika
Bangunan
Responsif dan
mencatat.
50 Menit
AKHIR PERTEMUAN
Pendalaman, tanjajawab
Responsif dan
mencatat.
20 menit
5.2. Pokok Bahasan 2
:
Pengaruh kesehatan dan kenyamanan ideal di dalam
bangunan secara umum, dengan standar daerah tropis
basah.
Pertemuan Ke
:
Kedua dan ketiga
Dosen/ Asisten
:
Ir. H. Sidik Hananto Us, MT
Kompetensi Dan Model Pembelajaran
a. Kompetensi
: Memahami masalah kesehatan dan kenyamanan ruang pada
umumnya yang dipengaruhi oleh iklim, terutama pada
bahasan fisika material dan komponen bangunan.
b. Indikator
: Perilaku, kesegaran, kesehatan bionomik.
c. Model Pembelajaran : Ceramah, tanja jawab, tampilan grafik ilustrasi
d. Skenario Kegiatan Pembelajaran : Klasikal
TAHAP KEGIATAN
KEGIATAN DOSEN
KEGIATAN MHS
WAKTU
PERSIAPAN
Memberi standarisasi Responsif dan
kenyamanan yang
mencatat.
ideal dan karakteristik
penghuni serta
pengaruh dari
penggunaan material
bangunan.
2 x 30 Menit
PELAKSANAAN
Membuat analisa dan
perhitungan skala
kenyamanan ruang,
serta mengamati
perubahan kondisi
udara terkait dengan
penggunaan material
bangunan.
Responsif, studi kasus
dan mencatat.
2 x 50 Menit
AKHIR PERTEMUAN
Pendalaman, tanjajawab
Responsif, ungkapan
masalah kekinian dan
mencatat.
2 x 20 menit
5.3. Pokok Bahasan 3
:
Pengaruh iklim pada bahan bangunan yang paling sering
diperguinakan.
Pertemuan Ke
:
Keempat dan kelima
Dosen/ Asisten
:
Ir. H. Sidik Hananto Us, MT
Kompetensi Dan Model Pembelajaran
a. Kompetensi
: Memahami dan menganalisa masalah karakteristik bahan
bangunan yang dipengaruhi oleh radiasi matahari, kelembaban
udara, panas udara dan hujan.
b. Indikator
: Kekuatan bahan dalam pembebanan faktor iklim; terhadap
muai susut, kelapukan bahan dan lain sebagainya.
c. Model Pembelajaran : Ceramah, tanja jawab, tampilan grafik ilustrasi
d. Skenario Kegiatan Pembelajaran : Klasikal
TAHAP KEGIATAN
KEGIATAN DOSEN
KEGIATAN MHS
WAKTU
PERSIAPAN
Memberi ulasan dan
fenomena proses
material bangunan
dan pengaruhnya
Responsif dan
mencatat.
2x15 Menit
PELAKSANAAN
Menganalisa dan
Responsif dan
melakukan studi
mencatat.
komparasi
penggunaan material
bangunan dengan
pengaruh faktor iklim.
2x50 Menit
AKHIR PERTEMUAN
Pendalaman, tanjajawab
2x20 menit
5.4. Pokok Bahasan 4
Responsif dan
mencatat.
:
Pemahaman masalah pencahayaan alami (penerangan
alami siang hari) dan buatan (rekayasa mekamisasi).
Pertemuan Ke
:
Keenam dan ketujuh
Dosen/ Asisten
:
Ir. H. Sidik Hananto Us, MT
Kompetensi Dan Model Pembelajaran
a. Kompetensi
: Memahami dan menganalisa masalah karakteristik bahan
bangunan yang dipengaruhi oleh radiasi matahari, kelembaban
udara, panas udara dan hujan.
b. Indikator
: Kekuatan bahan dalam pembebanan faktor iklim; terhadap
muai susut, kelapukan bahan dan lain sebagainya.
c. Model Pembelajaran : Ceramah, tanja jawab, tampilan grafik ilustrasi
d. Skenario Kegiatan Pembelajaran : Klasikal
TAHAP KEGIATAN
KEGIATAN DOSEN
KEGIATAN MHS
WAKTU
PERSIAPAN
Memberi ulasan dan
Responsif dan
fenomena proses
mencatat.
penerangan siang hari
dan pengaruhnya
terhadap
kenyamanan dan
kesehatan kerja
2x15 Menit
PELAKSANAAN
Menganalisa dan
melakukan studi kuat
cahaya terang langit
di bidang kerja dan
pengaruh sudut
datang radiasi
terhadap bukaan
bangunan.
Responsif dan
mencatat.
2x60 Menit
AKHIR PERTEMUAN
Pendalaman, tanjajawab dan melakukan
evaluasi kecerdasan
analisis mahasiswa.
Responsif dan
mencatat.
2x20 menit
5.5. Pokok Bahasan 5
:
Ujian Tengah Semester.
Pertemuan Ke
:
Kedelapan
Dosen/ Asisten
:
Ir. H. Sidik Hananto Us, MT
Kompetensi Dan Model Pembelajaran
a. Kompetensi
: Mampu memahami dan menganalisa bahasan pada pertemuan
kedua sampai dengan ketujuh.
b. Indikator
: Tampilan prestasi.
c. Model Pembelajaran : Jawaban ilustrasi narasi dan grafis.
d. Skenario Kegiatan Pembelajaran : Individual.
TAHAP KEGIATAN
KEGIATAN DOSEN
KEGIATAN MHS
WAKTU
PERSIAPAN
Distribusi, dan
pemeriksaan
persiapan UTS.
Melakukan
kelengkapan
administratif.
5 Menit
PELAKSANAAN
Supervisi .
Mengerjaan soal-soal
UTS.
100 Menit
AKHIR PERTEMUAN
Pengumpulan hasil.
Penyerahan lembar
UTS.
5 menit
5.6. Pokok Bahasan 6
:
Pemahaman masalah radiasi matahari (orientasi/ posisi
bangunan terhadap arah radiasi).
Pertemuan Ke
:
Kesembilan
Dosen/ Asisten
:
Ir. H. Sidik Hananto Us, MT
Kompetensi Dan Model Pembelajaran
a. Kompetensi
: Mengetahui dan dapat menganalisa masalah karakteristik
ruangan yang dipengaruhi oleh penyinarang langsung
matahari, serta mengukur kenyaman termal.
b. Indikator
: Kuat cahaya dan faktor tingkat suhu udara; terhadap
kenyaman ruangan.
c. Model Pembelajaran : Ceramah, tanja jawab, tampilan grafik ilustrasi
d. Skenario Kegiatan Pembelajaran : Klasikal
TAHAP KEGIATAN
KEGIATAN DOSEN
KEGIATAN MHS
WAKTU
PERSIAPAN
Memberi ulasan dan
fenomena proses
material bangunan
dan pengaruhnya
Responsif dan
mencatat.
30 Menit
PELAKSANAAN
Menganalisa dan
Responsif dan
melakukan studi
mencatat.
komparasi
penggunaan material
bangunan dengan
pengaruh faktor iklim.
50 Menit
AKHIR PERTEMUAN
Pendalaman, tanjajawab
20 menit
Responsif dan
mencatat.
5.7. Pokok Bahasan 7
:
Pemahaman masalah pembaharuan udara secara alami
(ventilasi ruang ) dan buatan (rekayasa mekamisasi).
Pertemuan Ke
:
Kesepuluh
Dosen/ Asisten
:
Ir. H. Sidik Hananto Us, MT
Kompetensi Dan Model Pembelajaran
a. Kompetensi
: Mampu melihat masalah penghawaan baik secara alami
(kekuatan angin) maupun buatan (mekanis).
b. Indikator
: Kekuatan / kecepatan udara di luar ruangan dan pengkodisian
ruang pada aspek kenyamanan pada umumnya.
c. Model Pembelajaran : Ceramah, tanja jawab, tampilan grafik ilustrasi
d. Skenario Kegiatan Pembelajaran : Klasikal
TAHAP KEGIATAN
KEGIATAN DOSEN
KEGIATAN MHS
WAKTU
PERSIAPAN
Memberi ulasan dan
fenomena proses
pembaharuan udara
secara alami.
Responsif dan
mencatat.
30 Menit
PELAKSANAAN
Menganalisa dan
melakukan studi
komparasi kebutuhan
pembaharuan udara
di dalam ruang.
Responsif dan
mencatat.
50 Menit
AKHIR PERTEMUAN
Pendalaman, tanjajawab
Responsif dan
mencatat.
20 menit
5.8. Pokok Bahasan 8
:
Kebutuhan pembaharuan udara akibat dari polusi udara
(bahteri, debu, CO2 dlsb.), dan kebutuhan ventilasi untuk
mendapatkan kelembaban dan temperatur yang ideal.
Pertemuan Ke
:
Kesebelas dan keduabelas
Dosen/ Asisten
:
Ir. H. Sidik Hananto Us, MT
Kompetensi Dan Model Pembelajaran
a. Kompetensi
: Memahami dan menganalisa masalah kebutuhan ventilasi
sesuai karakteristik penggunaan ruangan.
b. Indikator
: Kadar CO2 di udara sebagai indikator gangguan kesehatan dan
faktor lain (kandungan polusi udara).
c. Model Pembelajaran : Ceramah, tanja jawab, tampilan grafik ilustrasi
d. Skenario Kegiatan Pembelajaran : Klasikal
TAHAP KEGIATAN
KEGIATAN DOSEN
KEGIATAN MHS
WAKTU
PERSIAPAN
Memberi dasar-dasar
pembaharuan udara;
dan kebutuhan udara
bersih/ segar.
Responsif dan
mencatat.
2x15 Menit
PELAKSANAAN
Menganalisa dan
melakukan analisa/
pehitungan produksi
polusi udara (CO2)
dan pengkuran
komparatif terhadap
kesehatan ruangan.
Responsif dan
mencatat.
2x65 Menit
AKHIR PERTEMUAN
Pendalaman, tanjajawab
Responsif dan
mencatat.
2x20 menit
5.9. Pokok Bahasan 9
:
Akustik lingkungan (kebisingan di luar bangunan) yang
harus diantisipasi untuk ditanggulangi.
Pertemuan Ke
:
Ketigabelas
Dosen/ Asisten
:
Ir. H. Sidik Hananto Us, MT
Kompetensi Dan Model Pembelajaran
a. Kompetensi
: Memahami dan menganalisa masalah daya serap akustik dari
lansekap , serta mampu memprediksi sudut datang dan pantul
bunyi.
b. Indikator
: Elemen lansekap sebagai pengendali sistem akustik; kekuatan
sumber bunyi primer.
c. Model Pembelajaran : Ceramah, tanja jawab, tampilan grafik ilustrasi
d. Skenario Kegiatan Pembelajaran : Klasikal
TAHAP KEGIATAN
KEGIATAN DOSEN
KEGIATAN MHS
WAKTU
PERSIAPAN
Memberi dasar
elemen lansekap
sebagai pengendali
arah bunyi.
Responsif dan
mencatat.
30 Menit
PELAKSANAAN
Menganalisa dan
melakukan studi
karakteristik media
bunyi di luar bangunan.
Responsif dan
mencatat.
50 Menit
AKHIR PERTEMUAN
Pendalaman, tanjajawab
Responsif dan
mencatat.
20 Menit
5.10. Pokok Bahasan 10
:
Akustik ruangan, sifat/ perilaku bunyi pada bentuk ruang
dalam (interior). Rambatan bunyi pada konstruksi
bangunan.
Pertemuan Ke
:
Keempatbelas dan kelimabelas
Dosen/ Asisten
:
Ir. H. Sidik Hananto Us, MT
Kompetensi Dan Model Pembelajaran
a. Kompetensi
: Memahami dan menganalisa masalah karakteristik bunyi dan
menguji gangguan bunyibahan bangunan yang dipengaruhi
oleh radiasi matahari, kelembaban udara, panas udara dan
hujan.
b. Indikator
: Kekuatan dan frequensi bunyi, daya akustik bahan terhadap
bunyi serta gangguan bunyi.
c. Model Pembelajaran : Ceramah, tanja jawab, tampilan grafik ilustrasi
d. Skenario Kegiatan Pembelajaran : Klasikal
TAHAP KEGIATAN
KEGIATAN DOSEN
KEGIATAN MHS
WAKTU
PERSIAPAN
Memberi ulasan
filosofi dan fenomena
kelakuan bunyi.
Responsif dan
mencatat.
2x15 Menit
PELAKSANAAN
Menganalisa dan
melakukan studi
kekuatan dan
frequensi bunyi, serta
melakukan uji coba
material akustik.
Responsif dan
mencatat.
2x65 Menit
AKHIR PERTEMUAN
Pendalaman, tanjajawab
Responsif dan
mencatat.
2x20 menit
5.11. Pokok Bahasan 11
:
Ujian Akhir Semester.
Pertemuan Ke
:
Keenambelas
Dosen/ Asisten
:
Ir. H. Sidik Hananto Us, MT
Kompetensi Dan Model Pembelajaran
a. Kompetensi
: Menyelesaikan dan menganalisa masalah secara komprehensif
serta membuat keputusan pilihan desain yang ideal.
b. Indikator
: Kecepatan dan keakuratan pemilihan metode.
c. Model Pembelajaran : Jawaban ilustrasi narasi dan grafis.
d. Skenario Kegiatan Pembelajaran : Individual
TAHAP KEGIATAN
KEGIATAN DOSEN
KEGIATAN MHS
WAKTU
PERSIAPAN
Distribusi, dan
pemeriksaan
persiapan UAS.
Melakukan
kelengkapan
administratif.
5 Menit
PELAKSANAAN
Supervisi .
Mengerjaan soal-soal
UAS.
100 Menit
AKHIR PERTEMUAN
Pengumpulan hasil.
Penyerahan lembar
UAS.
5 menit
6.
MEDIA, ALAT DAN BAHAN PEMBELAJARAN
a. Set digital presentasi
b. Set papan tulis
c. Set model untk uji coba materi (metode kalibrasi)
7.
EVALUASI
a. Penyelesaian Tugas Kecil/ Besar
b. Pelaksanaan kelompok uji coba materi
c. Jawaban narasi/ grafis UTS dan UAS
d. Penilaian komprehensif komponen evaluasi (kehadiran, tugas-tugas, tanyajawab,UTS/UAS)
8.
SUMBER PUSTAKA/ PEMBELAJARAN
Adhiwijogo, Markus, 1970, Penerangan Alami Siang Hari Dari Bangunan, Lembaga
Penyelidikan Masalah Bangunan.
Dawson, Barry & Gillow, John, 1994, The Traditional Architecture of Indonesia, London:
Thames & Hudson.
Egan, M.David, 1975, Concepts in Thermal Comfort, Prentice-Hall, Inc.
Koenigsberger, 1973, Manual of Tropical Housing and Building Climatic Design, Longman.
Leslie L Doelle, 1972, Environmental Accoustics, McGraw-Hill.
Lippsmeier, Georg., 1980, Tropenbau Building in the Tropics, Verlag Georg D.W. Callwey.
Phillips, 1965, Lighting and Architectural Accoustics, McGraw-Hill.
.---- o ----.
LAMPIRAN
MATERI PERKULIAHAN
IKLIM
1. Bahwasanya, perencanaan serta tata letak suatu bangunan harus disesuaikan dengan
keadaan iklim setempat adalah suatu hal yang sejak lama sudah dikenal manusia secara
universal.
Berabad-abad lamanya hingga kini dalam sejarah manusia, mereka belajar, meneliti dan
berusaha melindungi rumah-rumah ataupun bangunan-bangunannya terhadap pengaruhpengaruh yang tidak menguntungkan dari iklim sesuai dengan keadaan serta kondisi
daerahnya masing-masing.
2. Di negara kita Indonesia, umpamanya di daerah pulau Jawa; nenek moyang kita sejak jaman
purba kala selalu menghadapkan pintu-utama rumahnya kearah selatan atau utara. Hal ini
antara lain disebabkan karena dengan cara demikian ruangan-ruangan dengan mudah
dapat menerima aliran udara melalui bukaan (pintu dan jendela) rumahnya termasuk sinar
matahari pagi, namun pada siang hari sinar (radiasi) matahari yang lebih condong ke utara
tetap dihalangi oleh teritisan atap rumah.
Masyarakat di daerah Minangkabau memilih bentuk atap rumahnya yang tinggi-tinggi serta
curam, antara lain berguna untuk mengisolasi teriknya matahari yang berllebihan dan
memudahkan pengaliran air hujan yang seringkali jatuhnya dengan jumlah besar.
Demikian pula untuk bentuk rumah panggung yang banyak terdapat di negara kita, hal ini
dimaksudkan untuk aliran udara (proses ventilasi) dibawah lantai papan (panggung) agar
dapat mengurangi kelembaban udara yang berlebihan di dalam ruangan.
3. Dalam perencanaan pengaruh iklim, pada dasarnya ada tiga faktor terpenting yang
menyangkut pemahaman/ pemikiran dalam proses perancangan bangunan.
Faktor-faktor tersebut ialah :  Manusia dengan kebutuhannya.
 Pengaruh iklim, dan
 Bahan bangunan.
3.1. Manusia dengan kebutuhannya.
Pada hakekatnya perencanaan bangunan sangat erat hubungannya dengan persoalan
sosio-ekonomi dari orang-orang yang akan memakai/ menempati bangunan.
Perencanaan tersebut, baik ditinjau dari bangunannya itu sendiri maupun dilihat dari
segi lingkungannya mewajibkan adanya tanggung jawab yang besar dari perencananya
dengan mensyaratkan pertimbangan-pertimbangan yang selaras dengan dasar-dasar
perilaku kehidupan dan budaya masyarakat di lingkungan tersebut.
3.2. Pengaruh Iklim
Iklim sangat dipengaruhi oleh perputaran bumi pada sumbunya yang selalu berubahubah dalam perjalannya mengelilingi matahari, maka masing-masing lintang pada bumi
menerima panas matahari yang banyaknya berbeda-beda. Permukaan bumi mengalami
pemanasan dan pendinginan yang diakibatkan adanya enerji matahari, dan kita
maklumi bahwa enerji ini adalah konstan.
Mengamati tentang pemanasan dan pendinginan sebaiknya kita kaji terlebih dahulu
bagaimana sesungguhnya terjadinya proses ini.
Panas, dihantar dari matahari ke bumi melalui satu proses saja, ialah proses radiasi.
Radiasi ini akan mengalir dari ruang yang lebih panas menuju ke ruang yang lebih
dingin (proses menjalarnya kalor). Matahari memancarkan suatu enerji berupa
spektrum yang besar dan luas dan dari padanya hanya sebagian kecil saja yang dapat
kita lihat dengan mata. Sebahagian besar daripada panas yang diterima oleh bumi
berbentuk gelombang panjang, ialah berkas-berkas infra merah.
Jumlah panas yang diabsorbsi oleh bumi dalam setiap tahunnya seimbang dengan
kehilangan panasnya atau pendinginannya.
Bumi kehilangan panasnya melalui tiga proses :
a. Karena re-radiasi gelombang-panjang menuju tempat-tempat sekitarnya yang lebih
dingin.
b. Karena konveksi; udara yang menjadi panas, oleh sebab bertemunya dengan
permukaan bumi yang panas, naik menuju atmosfeer atas, dimana dari sana di reradiasikan lagi ke ruang angkasa.
c. Karena evaporasi; permukaan bumi menjadi dingin seperti berubahnya cairan air
menjadi uap air.
Jumlah panas yang diterima oleh suatu tempat/ daerah di permukaan bumi ini
bergantung
dari :
a. Lamanya tempat/ daerah tersebut terkena sinar matahari.
b. Sudut datang dari sinar matahari yang mengenai bumi.
Panas diterima dengan jumlah yang maksimum bila matahari terletak diatas kepala kita
(sudut datang 90o), dan jumlah panas minimum diterima bila letak matahari adalah
rendah (pagi/ sorte hari), karena sejumlah tertentu dari enerjinya hilang dalam
perjalanannya ke bumi melalui jarak atmosfeer yang lebih panjang.
Iklim, yang sifatnya sesuai dengan daerahnya, memaksa kita untuk selalu berusaha
menghindari pengaruhnya yang tidak menguntungkan terhadap fisik dan psikis kita.
Indonesia berada dalam daerah yang mempunyai iklim tropis dan tergolong panaslembab yang ciri-cirinya antara lain dapat disebutkan di bawah ini :
a. Kelembaban udaranya mempunyai angka tinggi, baik dalam musim hujan maupun
dalam musim panas (rata-rata per tahun = 80%).
b. Angka jatuhnya hujan sangat tinggi (rata-rata per tahun 1809 mm)
c. Perbedaan suhu udara pada siang hari dan malam hari relatif tidak besar, berkisar
antara 20 ~ 50 C.
Dengan memperhatikan sifat-sifat iklim Indonesia seperti tersebut di atas, suatu
perencanaan bangunan dalam dasar-dasar pemecahan dan pemikirannya perlu
diselaraskan dengan hal-hal tersebut diatas untuk tercapainya kenikmatan.
3.2.1. Penghawaan udara dan kenikmatan (comfort) :
Beberapa faktor iklim yang sangat mempengaruhi kenikmatan (comfort) kita,
ialah :
 Pergerakan udara.
 Suhu udara.
 Kelembaban udara, dan
 Radiasi.
Suhu dan kelembaban udara adalah faktor-faktor yang menyebabkan perasaan
tidak enak pada tubuh kita. Tetapi selain itu pula kurangnya pergerakan udara di
dalam suatu ruangan dimana kita tinggal pun menjadi penyebab ketidak
nyamanan tersebut.
Di lain pihak, radiasi, apakah itu solar radiation ataupun thermal radiation
banyak pengaruhnya terhadap kenikmatan.
Atap dan dinding pada bangunan kita adalah bahagian-bahagian yang paling
banyak menerima radiasi matahari secara langsung. Radiasi tersebut melalui
proses refleksi dan transmisi dihantarkan masuk ke dalam ruangan-ruangan.
Beberapa cara antara lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi besarnya
pengaruh adanya radiasi terhadap bangunan kita ialah :
 Pembayangan atap, dan
 Pembayangan dinding.
Sesungguhnya sangat sukar sekali menetukan ukuran-ukuran kenikmatan secara
tepat, oleh karena kombinasi dari pergerakan udara dengan kecepatan 4,57 m ~
7,62 m per menit, suhu udara pada 20,40 Celcius dan kelembaban udara 70 %,
adalah sama nikmatnya dengan kombinasi dari suhu udara 23,20 C, kelembaban
udara 20% dabn kecepatan pergerakan udara yang sama seperti disebutkan di
atas.
Lagi pula ukuran rasa nikmat ini adalah sangat subyektif. Seseorang pada
keadaan dan suasana (environment) tertentu sudah mencapai rasa nikmat,
sedangkan bagi orang lain pada keadaan dan suasana yang sama juga sama
sekali belum merasa betah ataupun nikmat.
C.C. Webb telah menyelidiki dan menyusun suatu indeks kenikmatan bagi
penduduk Singapura dan terkenal dengan nama Singapore Comfort Index, dia
menarik kesimpulan bahwa angka indeks 260 Celcius adalah ukuran yang
dirasakan cukup nikmat oleh 69 % dari penduduk Singapura yang diselidiki.
Dengan demikian Singapore Comfort Index ini dapat diusulkan untuk
dipergunakan dan berlaku pula untuk negara-negara di Asia Tenggara, termasuk
Indonesia, mengingat banyaknya persamaan kondisi di antara negara-negara
tersebut baik iklim maupun penduduknya, selama penelitian dan penyelidikan
setempat belum dilakukan.
Sejalan dengan bahasan tersebut diatas, Bedford dengan penelitian lanjutan dari
Webb berhasil menemukan satu formula kenikmatan yang mendasarkan pada
unsur-unsur :




Suhu udara/ pancaran sinar,
Kelembaban,
Pergerakan udara, dan
Sebuah angka konstan.
Adapun formulanya adala sebagai berikut :
S = p + 0,25 (t1 + ts) + 0,1x – 0,1 (37,8 – t1)  v
Dimana : S = angka kenikmatan
t1 = suhu udara dalam Celcius
ts = suhu pancaran sinar (starlings temperatuur)
x = kelembaban absolute (g/kg)
v = kecepatan angin (m/sek), pengukuran 0,50 m diatas lantai.
p = angka konstan : 10,6 untuk musim panas.
Berdasarkan formula tersebut diatas, maka dibuat tabel kenikmatan seperti di
bawah ini :
S
Ukuran Perasaan
+3
Terlalu sangat panas
+2
Terlalu panas
+1
Panas nikmat
0
Nikmat
-1
Dingin nikmat
-2
Terlalu dingin
-3
Terlalu sangat dingin
Sumber : Boukunde VII, Jellema.
3.2.2. Kelembaban Udara :
Kadar kelembaban udara, berbeda dengan unsur-unsur yang lain, dapat
mengalami fluktuasi yang tinggi dan tergantung terutama pada perubahan
temperatur udara. Semakin tinggi temperatur, semakin tinggi pula kemampuan
udara menyerap air.
Kelembaban absolut adalah kadar air dari udara, dinyatakan dalam gram per
kilogram udara kering. Cara yang lebih banyak digunakan adalah dengan
mengukur tekanan yang ada pada udara dalam Kilo-Pascal (Kpa). Ini umumnya
disebut sebagai “Tekanan uap air”.
Kelembaban relatif menunjukan perbandingan antara tekanan uap air yang ada
terhadap tekanan uap air maksimum yang mungkin (derajat kejenuhan) dalam
kondisi temperatur udara tertentu, dinyatakan dalam persen.
Udara yang telah jenuh, artinya tidak dapat menyerap air lagi jika dalam
temperatur tertentu tekanan uap air maksimum telah tercapai. Misalnya udara
dengan 380 C dapat menyerap uap air sepuluh kali lebih banyak dibandingkan
udara dengan 00 C. Jadi titik jenuh akan naik dengan meningkatnya temperatur.
“Temperatur lembab” menunjukkan kombinasi antara temperatur kering yang
diukur secara normal dengan kadar kelembaban udara. Ini diukur dengan sebuah
thermometer yang dilembabkan. Tabung air raksa pada thermometer ini dibalut
longgar dengan kain kasa yang ujungnya selalu berada dalam air. Karena efek
kapiler, thermometer ini selalu dalam keadaan lembab. Kemudian dengan
menggunakan peralatan sederhana thermometer ini diputar cepat untuk
mensimulasi gerakan udara sehingga terjadi penguapan dan derajat kejenuhan
tercapai langsung di dekat cairan pengukur. Nilai yang didapatkan adalah
temperatur lembab.
Contoh : pada temperatur kering 300 C dan kelembaban relatif 60% temperatur
lembab adalah 23,70 C, tekanan uap air 2,55 Kpa, kadar air 16 g/kg
udara kering.
(Lihat diagram psikometrik)
Untuk menilai kecocokan suatu iklim, informasi mengenai kadar kelembaban
uadar sangatlah penting. Semakin tinggi kadarnya, semakin sukar iklim tersebut
ditoleransi. Peningkatan ini terjadi oleh kombinasi antara temperatur tinggi.
Manusia merasakan kondisi iklim dengan tekanan uap air di atas sekitar 2 Kpa
mulai tidak menyenangkan. Penguapan pada kulit yang mengakibatkan
pendinginan, mulai sukar terjadi dan udara itu sendiri tidak dapat lagi menyerap
cukup kelembaban.
3.2.3. Gerakan Udara :
Gerakan udara terjadi disebabkan oleh pemanasan lapisan-lapisan udara yang
berbeda-beda. Skalanya berkisar mulai dari pergerakan angin yang sangat halus
sampai angin yang sangat kencang (topan), yakni kekuatan angin 0 sampai 12
(skala Beaufort).
Angin yang diinginkan, lokal, sepoi-sepoi yang memperbaiki iklim mikro
mempunyai efek khusus dalam perencanaan Gerakan udara di dekat permukaan
tanah dapat bersifat sangat berbeda dengan gerakan di tempat yang tinggi.
Semakin kasar permukaan yang dilalui, semakin tebal lapisan udara yang
tertinggal diam di dasar dan menghasilkan perubahan pada arah serta kecepatan
gerakan udara. Dengan demikian bentuk topografi yang berbukit, vegetasi dan
tentunya bangunan dapat menghambat atau membelokkan gerakan udara.
Misalnya sebuah hutan lebat di daerah tropika basah dan di daerah dengan
angin musim, angin darat menyebabkan kekuatan berkurang setelah 30 m
menjadi 60 ~ 80 %, setelah 60 m akan berkisar 50 %, dan setelah 120 m hanya
tinggal 7 % dari kekuatan angin semula. Pada pepohonan yang jarang, misalnya
pada hutan palem di daerah tepi pantai dan di daerah sabana, terjadi
pengurangan kekuatan angin tetapi arah angin tetap. Sebaliknya penebangan di
tengah hutan yang lebat akan mengakibatkan perputaran gerakan udara .
Pada sebuah lansekap bebas yang datar yang tidak terlalu berpengaruh pada
angin, angin berhembus dengan arah berunah-ubah. Pegunungan, kota, lembah
dapat mengubah arah angin sampai 180 derajat dan mengurangi kecepatannya.
Penelitian di kota-kota besar menunjukkan bahwa kecepatan angin di
permukaan jalan rata-rata hanya sepertiga dari kecepatan
3.2.4. Ventilasi dan Pergantian Udara :
Di Jakarta umpamanya, banyak orang berkeluh kesah dan merasa lesu pada harihari dengan udara yang panas. Hal demikian menyebabkan keluarnya keringat
yang berlebihan. Kejadian ini banyak pula diderita oleh orang-orang yang
berdiam di daerah yang beriklim panas lembab, lebih-lebih pada keadaan cuaca
banyak berawan.
Pada hakekatnya rasa nyaman atau nikmat yang dirasa oleh badan kita tiada lain
karena disebabkan oleh adanya pendinginan secara merata pada kulit dan
permukaannya serta terdapatnya gerakan udara yang melaluinya dengan
lambat-lambat (sepoi-sepoi basa).
Jadi adanya pergerakan dan pergantian udara sangat mutlak diingini di dalam
suatu ruangan yang memenuhi syarat kesehatan. Sementara itu pula para ahli
mengatakan, bahwa rasa panas dan tidaknya di suatu ruangan sama sekali tidak
selalu tergantung pada tinggi rendahnya langit-langitnya, tetapi hal itu
tergantung pada cukup tidaknya pergerakan dan pergantian udara di dalam
ruangan tersebut. Dalam hubungan ini adanya ventilasi silang (cross ventilation)
di dalam suatu ruangan sangat diinginkan.
Gerakan Udara
Gerakan udara merupakan faktor perencanaan yang penting karena sangat
mempengaruhi kondisi iklim, baik untuk setiap rumah/ bangunan maupun
seluruh kota. Gerakan udara menimbulkan pelepasan panas dari permukaan
kulit oleh penguapan. Semakin besar kecepatan udara, semakin besar panas
panas/ kalor yang hilang, tetapi ini hanya terjadi selama temperatur udara lebih
rendah daripada temperatur kulit. Jika tidak begitu maka akan terjadi
kebalikannya, yaitu pemanasan tubuh karena efek pendinginan tidak mencukupi.
Dengan demikian arah angin sangat menentukan orientasi bangunan. Jika di
daerah lembab diperlukan sirkulasi udara yang terus menerus sedangkan di
daerah kering orang cenderung membiarkan sirkulasi udara hanya pada waktu
dingin atau malam hari.
Oleh karena itu di daerah tropika basah, dinding dinding luar sebuah bangunan
terbuka untuk sirkulasi udara lebih besar daripada yang dibutuhkan untuk
pencahayaan. Sedangkan di daerah kering, lobang cahaya biasanya dibuat lebih
kecil daripada yang diperlukan.
Data pengukuran lokasi bangunan yang direncanakan harus diikutsertakan dalam
studi sebagai kontrol terhadap data meteorologi umum. Karena dengan
mengamati arah dan kecepatan angin serta faktor-faktor yang dapat
mengubahnya, maka kondisi iklim interior dapat diperbaiki.
4. Sistem Pencahayaan yang Baik
Pemerintah memiliki aturan melalui UU No.28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
bagian persyaratan sistem pencahayaan, antara lain:
(a) Pencahayaan alami meliputi perencanaan pencahayaan alami dan penentuan besarnya
iluminasi;
(b) Bangunan gedung hunian rumah tinggal, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan
bangunan pelayanan umum harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan alami;
(c) Pencahayaan buatan, meliputi tingkat iluminasi, konsumsi energi, perencanaan sistem
pencahayaan, penggunaan lampu, daya maksimum yang diizinkan, dan daya
pencahayaan buatan di luar bangunan gedung; dan
(d) Pencahayaan buatan untuk pencahayaan darurat harus dapat bekerja secara
otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang
aman.
Sementara menurut Standar Nasional Indonesia Tata cara perancangan penerangan alami
siang hari untuk rumah dan gedung (Sni 03-2396-1991) adalah sebagai berikut.
1.
Ruang lingkup
Tata cara ini digunakan untuk memperoleh sistem penerangan alami sesuai syarat
kesehatan, kenyamanan untuk rumah dan gedung, meliputi persyaratan-persyaratan
pokok sistem penerangan alami siang hari dalam ruangan.
2.
Ringkasan
Penerangan alami siang hari yang baik adalah sekitar jam 8.00 sampai 16.00, dimana
banyak cahaya yang masuk dalam ruang dan tingkat penerangannya ditentukan oleh
hubungan geometris antara titik ukur dan lubang cahaya.
3.
Penggolongan kualitas penerangan
 Kualitas A : kerja halus sekali, pekerjaan cermat terus (seperti menggambar
detail, menjahit kain warna gelap, dsb)
 Kualitas B : kerja halus , cermat tidak intensif (seperti : menulis, membaca,
merakit komponen kecil, dsb)
 Kualitas C : kerja sedang, pekerjaan tanpa konsentrasi yang besar seperti:
pekerjaan kayu, merakit suku cadang yang agak besar dsb.
 Kualitas D : kerja kasar, pekerjaan hanya detail-detail yang besar seperti : pada
gudang, lorong lalu lintas orang dsb. Persyaratan teknis :
d = jarak lubang cahaya ke dinding ( M), fl min. TUS = 40 % dari fl min TUU dan
tidak boleh kurang 0,10 d. TUU = titik ukur utama dan TUS = titik ukur samping.
 Penetapan faktor langit didasarkan atas keadaan langit yang terangnya merata
dan kekuatan terangnya di lapangan terbuka sebesar 10.000 lux.
 Faktor yang mempengaruhi kualitas penerangan : perbandingan las lubang
cahaya dan luas lantai, bentuk dan letak lubang cahaya, refleksi cahaya di dalam
ruangan.
 Untuk meningkatkan kualitas penerangan alami siang hari di dalam ruangan,
hendaknya ruangan menerima cahaya lebih dari satu arah. Kasa nyamuk dapat
mengurangi cahaya masuk 15 %.
5. Pencahayaan pada Hunian di Daerah Tropis
Pertama, untuk mengatasi masalah pencahayaan sinar matahari pada siang hari,
khususnya pada hunian di daerah tropis adalah dengan dibuat skylight atau lubang bukaan
cahaya pada bagian atap maupun dinding bagian atas. Bisa juga dibuat berbagai bukaan jendela
maupun pintu kaca yang cukup besar, membuat ruang-ruang terbuka di dalam rumah, baik
berupa taman di tengah ruangan maupun di belakang rumah. Alternatif lainnya bisa dilakukan
pemakaian glassblock dan kaca patri serta membuat area void dari lantai 2 dan lantai 1 dengan
bukaan jendela yang cukup besar. Dengan begitu, lantai dasar dapat lebih terang. Langkah lain
yang bisa dilakukan ialah mengatur dan mencoba mengarahkan arah jatuhnya sinar matahari
pada bangunan. Caranya dengan membuat efek bayangan dalam ruangan dengan cara
mencoba mengendalikan arah jatuhnya sinar melalui jendela atau skylight ke dalam bangunan.
Kemudian mengatur maju-mundur bangunan sehingga didapat efek teranggelap dan
kedalaman fasad bangunan. Hal lain yang bisa dilakukan ialah membuat bukaan pada bangunan
dan efeknya terhadap bangunan seperti pintu, jendela, skylight, balkon maupun pergola kayu
berikut kisi-kisi dan kanopinya.
Cara lainnya bisa menggunakan material dengan efek berat-ringannya terhadap cahaya
seperti batu alam, beton, kayu, dan kaca atau besi. Bisa juga melakukan trik efek terang gelap
bangunan melalui maju-mundur maupun kedalaman bangunan. Walaupun sinar matahari
bagus untuk kesehatan, bukan berarti sinar matahari berlebih tak berbahaya. Karena itu perlu
dibuat kanopi untuk mencegah silau dan mengurangi tempias. Kalau perlu, buatlah kisi-kisi kayu
atau besi sebagai secondary skin atau sunshading untuk mengurangi sinar matahari yang
berlebih. Atau dicoba membuat tirai atau horizontal maupun vertical blind untuk mengatur
sinar matahari yang masuk. Bisa pula membuat arah hadap bangunan tidak frontal ke arah
barat tapi agak sedikit miring.
Selain beberapa strategi di atas, terdapat penelitian yang dilakukan oleh para ahli di
bidang ini mengenai bukaan yang efektif pada rumah tropis. Penelitian ini dilakukan dengan
cara simulasi memakai program Superlite 2.0 yang dikembangkan oleh the University of
California Lawrence Berkeley, USA. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan bukaan yang
efektif untuk rumah tipe sederhana, menengah dan semi mewah. Penelitian menggunakan
metoda simulasi terhadap luas, pengaruh overhang dan jenis kaca pada bukaan. Variabel bebas
yaitu luas bukaan, pengaruh overhang, dan pengaruh jenis kaca yang dipakai pada bukaan.
Variabel terikat adalah distribusi cahaya alami.
Penelitian ini dilakukan dalam tahap kondisi awal dan kondisi setelah dimodifikasi.
Lokasi obyek penelitian adalah perumahan di kecamatan Kebomas dekat perbatasan SurabayaGresik. Bukaan yang diteliti adalah bukaan pada ruang keluarga pada tipe rumah sederhana,
menengah dan semi mewah. Hasil penelitian adalah bukaan terbaik yang memenuhi kebutuhan
pendistribusian cahaya alami dari pengaruh luas bukaan, overhang dan jenis kaca yang dipakai
pada rumah tinggal. Hasil dari semua ketiga tipe rumah pada umumnya cukup baik. Rumah tipe
sederhana dengan ukuran dan overhang yang tidak besar, dan memakai kaca dengan nilai
transmittance=0,9 mendapatkan penerangan alami yang diperlukan paling banyak. Pada rumah
tipe menengah dengan ukuran jendela dan overhang lebih besar dimensinya dan memakai kaca
dengan nilai transmittance=0,32 mendapatkan penerangan alami yang diperlukan cukup
banyak. Pada rumah tipe semi mewah dengan ukuran dan overhang yang paling besar dan
memakai kaca dengan nilai transmittance=0,9, mendapatkan penerangan alami yang
diperlukan cukup banyak, tetapi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan pada tipe
sederhana dan menengah.
Ilustrasi gambar membangun rumah yang sehat untuk menciptakan rasa nyaman
bagi penghuni pada rumah sederhana.
Ada banyak cara dalam menciptakan pencahayaan yang baik untuk rumah tropis. Saat
membangun rumah atau pemukiman, pertimbangkan posisi matahari pada waktu-waktu yang berbeda
sepanjang tahun untuk memanfaatkan panas matahari semaksimal mungkin. Pada bulan-bulan panas,
matahari terik di atas kepala pada siang hari dan memberikan panas langsung hampir sepanjang hari. Di
bulan-bulan dingin, matahari berada lebih rendah di langit, hanya memberi sedikit panas, dan berlalu
dengan pola yang berbeda. Di negara-negara bagian selatan, rumah-rumah akan lebih nyaman bila
sebagian besar jendela dan dinding-dinding terpapar menghadap ke utara, ke arah matahari. Di negaranegara bagian utara, sebagian besar jendela dan dinding-dinding terpapar sebaiknya menghadap ke
selatan. Aturan umum ini akan membantu semua rumah menangkap dan memanfaatkan panas
matahari.
Pada musim panas, pohon-pohon ditanam di samping rumah matahari
siang bersinar membuat dingin.
Pada musim dingin, matahari yang rendah menyinari dinding-dinding
yang tidak terlindungi dan jendela
Download