Salah satu dampak dari globalization of politics ini

advertisement
Review Buku Tourism and Sustainability: Development
and New Tourism in the Third World
Disusun untuk memenuhi tugas Kelas Pariwisata dalam Hubungan Internasional
Dosen Pengampu:
Drs. Usmar Salam, M. Int. Stu.
Oleh:
Andi Dinda Rahayu Mulya Ir
Auzan Ramadhan
Azza Bimantara
Catur Dewi Praptiningsih
Fifi Fitriana
Indah Kumalasari
(14/364358/SP/26092)
(14/367543/SP/26422)
(13/349376/SP/25800)
(13/345259/SP/25529)
(13/353955/SP/26022)
(13/345297/SP/25552)
DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016
1
Rangkuman
‘Sustainability’ merupakan istilah yang ideologis. Hal tersebut dapat digunakandan
digunakan oleh banyak kalangan mulai
dari
pebisnis,
seluruh partai
politik
mainstream,danmereka yang berada di luar mainstream tersebut, untuk menggambarkan dan
mendeskripsikan suatu kebijakan, Implikasidimana dapat ditampilkan dalam bentuk apapun
yang sustainabledalam berbagai cara. Sustainabilityditerima dan dijelaskan sebagai bagian
penting dari ideology New World Orderdan segala kecenderungan dikaitkan dengan ideology
tersebut. Kecenderungan tersebut,termasuk kedalamannya‘new’ consumerism, diman
berkaitan dengansustainability. Dalam ranah Pariwisata, istilah ‘sustainability’ dapat dan
telahdisalah artikan olehberbagai kalangan utnuk memberikan moral kebaikan serta mandate
‘green’ untuk kegiaatan pariwisata. Dan hal tersebut sama sekali bukan hanyaOperator wisata
dan perusahanaan pencari keuntungan lainnyayang berdiri untuk memperoleh keuntungan
dari aktivitas pariwisata tersebut yang menggunakan istilah tersebut untuk kepentingan
mereka sendiri. Golongan Konservatif, pegawai pemerintahan, Politisi, organisasi komunitas
lokal dan wisatawan itu sendiri semuanya memanipulasi istilah Sustainabilitytersebut sesuai
dengan definisi mereka masing-masing. Praktik dari pariwisata sendiri juga memodifikasi
dirinya sendiri untuk dapat memperhitungkan bentuk baru dari pariwisata;dan kesempatan
untuk memuaskan diri dengan ‘sustainable tourism’telah muncul di seluruh penjuru dunia.
Namun, untuk dapat memahami ‘sustainable tourism,’ kita harus mengerti terlebih dahulu
bagaimana perkembangan pariwisata bisa sampai pada kondisi seperti sekarang. Oleh karena
itu, pemahaman terhadap perkembangan pariwisata perlu ditelaah dari perkembangan
pariwisata modern.
Kebangkitan pariwisata dan kebangkitannya dalam bagian penting dari kehidupan
manusia dalam berlibur secara kolektif telah di dokumentasikan kedalam berbagai catatan
dengan sangat baik.. Rangsangan terhadap industri liburan oleh perkembangan teknologi di
dalam ranah transportasi secara jelas terlihat mulai dari sejarah perkeretaapian (Inggris Raya
pada abad ke 19), kendaraan bermesin (yang menyebar secara luas di dalam negara dunia
pertama setelah tahun 1950an) serta pesawat terbang berbadan besar (setelah tahun 1960-an.
Penjelasan berikut akan terbagi menjadi tiga bagian, yakni pemaparan perkembangan model
pembangunan pariwisata, etika atau ideologi yang memengaruhi model, dan pertumbuhan
dari industri pariwisata itu sendiri.
Pertama, model penjelasan secara luas dapat di kelompokan kedalam bagian yang
dimana menjelaskan motivasi dari wisatawan, yang menjelaskan tentang peran dari industri
2
pariwisata, dan yang menjelaskan pengembangan dari komunitas yang berada pada lokasi
tujuan pariwisata.Namun, kategorisasi seperti itu dinilai terlalu sederhana. Beberapa model,
sebagai contoh, Butler’s Product Life Cycle Modelberusaha untuk menjelaskan perilaku baik
perilaku dari industri pariwisata tersebut maupun komunisat nyang berada di destinasi
pariwisata. Lebih lanjutnya, kategori tersebut dan model-model lain yang mengikutinya gagal
untuk menjelaskan hubungan antara elemen-elemen yang berbeda di dalam industry
pariwisata (wisatawan, penyedia jasa, dan penduduk lokal dengan cara sesederhana
mungkin).
Krippendorf (1987) juga menyebutkan semangat pentingnya waktu luang dalam
kehidupan masyarakat barat di era modern:
‘Most people in the industrialised countries have been seized by a feverish desire to
move. Every opportunity is used to get away from the workday routine as often as possible’.1
Model kehidupan yang ia gunakan untuk mengambarkan masyarakat indusri (Kerja–Rumah–
Waktu Luang–Berwisata) merefleksikan sejarah dari perubahan keseimbangan antara bekerja
dan bersantai di dalam kehidupan industry serta kehidupan masyarakat perkotaan. Sekali lagi,
sejarah mendasari bentuk dari sebuah model ketimbang yang dilakukan melalui perspektif
politik.
Kedua, etika atau ideologi pembangunan pariwisata secara pokok berkaitan dengan cara
pandang bagaimana pariwisata seharusnya dibangun dan dalam konteks maupun tujuan
tertentu. Hal ini juga berkaitan dengan bagaimana industri pariwisata menggunakan cara
pandang tertentu untuk menangkap motivasi atau tujuan masyarakat dalam berwisata.
Memudarnya kekuatan dari etika kerja (Work Ethic) sebagai variable yang menjelaskan
bagaimana perkembangan dari perlikau tren kapitalisme barat telah dibayang-bayangi oleh
kehadiran dari gagasan etika waktu luang (Leisure Ethic). Etika waktu luang berkembang
sebagai sesuatu yang penting ketika etika kerjan semakin menurun pada saat dimana
pencarian
akan
hedonisme
menggantikan
pencarian
dari
moral
ketulusan
dan
keberlangsungan ekonomi yang terasosiasi dengan etika kerja. Hal tersebut juga
penting,namun, untuk menunjukkan bahwa etika waktu luang muncul dengan 2 wujud yang
secara jelas berbeda pada era sekarang – wujud dari masyarakat barat bekerja di perkotaan
dengan wujud dari penduduk lokal yang harus melayani etika waktu luang tersebut.Sejak
awal 1980an, etika waktu luang sebagai penjelasan dari perilaku wisatawan yang berasal dari
negara dunia pertama telah menyatu dengan gagasan tentang etika konservatif yang telah
1
Krippendorf, J. (1987) The Holidaymakers: Understanding the Impact of Leisure and Travel, London:
Heinemann
3
mulai masuk kedalam lingkaran pola dari perjalanan pariwisata, terutama di negara dunia
ketiga. Kedua etika tersebut, terasosiasi secara dekat.
Ketiga, dilihat dari aspek pertumbuhan, tidak dapat dipungkiri bahwa fasilitas-fasilitas
pariwisata telah semakin bertebaran, terutama sejak tahun 1960an. Penghubungan antara
paket liburan dengan bertambahnya kesempatan masyarakat dalam jumlah yang besar untuk
melakukan perjalanan lintas negara telah memiliki efek yang sangat dalam di dalam berbagai
kawasan di dunia yang sekarang bekerja sebagai penerima wisatawan.
The WTTC (World Travel and Tourism Council) mengklaim bahwa perjalanan
pariwisata telah menjadi industri terbesar di dunia, menghasilkan 10% dari GDP dunia dan
lebih dari 10% lapangan kerja dunia dan diperkirakan akan menciptakan 130 juta lapangan
kerja baru antara tahun 1996 sampai 2006.Perkembangan ini dalam konteks pentingnya
pariwisata, tidak dirasakan oleh negara-negara dunia ketiga.Pariwisata massal telah benarbenar berkembang dalam beberapa tahun terakhir dan meskipun adanya resesi, penurunan m
serta serangan teroris, sebagian besar memproyeksikan keberlanjutan tari tren tersebut.
Kemampuan untuk berlibur kemanapun di dunia telah menjadi bagian penting dalam
kehidupan profesional modern di dalam dunia yang kaya.
Fenomena dan pertumbuhan dari pariwisata massal telah mendorong kepada
terjadinya berbagai macam persoalan, dimana telah semakin bertambah dalam beberapa
tahun terakhir. Permasalahan tersebut menyangkut masalah lingkungan, sosial dam degradasi
budaya, distribusi keuntungan finansial yang tidak setara, mempromosikan sikap
paternalistik , dan bahkan penyebaran penyakit.Beberapa masalahan tersebut telah menjadi
perhatian dunia, di dalam beberapa kasus, sebagai contoh, pada negara-negara yang terletak
di laut Mediterania, deforestasi dan erosi tanah di beragam wilayah di pegunungan Himalaya,
tumpukan sampah di jalur pendakian gunung di Nepal, dan gangguan kepada hewan liar yang
dilakukan oleh tur safari di Kenya.Hal tersebut secara umum dikaitkan dengan pariwisata
massal. Hal tersebut juga sering diklaim bahwaperkembangan dari bentuk alternatif dari
pariwisata merupakan hasil dari keinginan untuk membahas permasalahan tersebut.
Fernandes mengatakan :
‘much of what are now seen as new forms of tourism have arisen because ‘the
mainstream tourism industry has in fact merely tried to invent a new legitimation for itself –
the “sustainable” and “rational” use of the environment, including the preservation of
nature as an amenity for the already advantaged’.2
2
Fernandes, D. (1994) ‘The shaky ground of sustainable tourism’, TEI Quarterly Environment Journal 2, 4: 4–35.
4
Di dalam industri pariwisata, aktivitas pariwisata ke wilayah yang di lindungi dan alam
liar yang benar-benar murni, adalah salah satu yang berkembangnya paling cepat. Bagi Kosta
Rika sebagai contoh, negara tersebut terkenal oleh karena taman nasionalnya dan promosi
dari ecotourism. Survei pengunjung tahunan yang dilakukan oleh institut pariwisata Kosta
Rika menemukan bahwa secara tetap, 70% wisatawan yang datang (baik dari nasional
maupun internasional) mengunjungi area-area yang dilindungi. Kosta Rika mungkin memang
bukan merupakan representasi dari negara-negara dunia ketiga didalam konteks ini, namun
kadang dijadikan sebagai model bagi negara-negara lain untuk dicontoh.
Implikasi dari perkembangan pariwisata dunia hingga sekarang menunjukkan bahwa
upaya para akademisi untuk mengembangkan konsep baru tentang “Pariwisata Baru” masih
cukup sulit karena konteks sustainability masih terlalu luas dan tergolong sangat kontemporer
dalam studi pariwisata. Kurangnya konsensus adalah hal yang paling mencolok antara
mereka yang mempelajari bentuk-bentuk baru dari pariwisata dan mereka yang
mengoperasikan tur. Perbedaan pendapat juga terlihat antara lain di lapangan, konservasionis,
pejabat pemerintah, dan penyedia layanan. Tampaknya, daftar Pariwisata Baru tidak
berujung, karena adanya pertempuran definisi dari berbagai bentuk pariwisata, pendukung
pariwisata, dan protagonis dalam mendefinisikan cara yang paling etis untuk mengambil
liburan. Berikut tinjauan secara singkat pelari depan yang berusaha untuk mendefinisikan diri
mereka dalam hubungan dengan pengembangan dan keberlanjutan.
 Ecotourism (Ekowisata); pariwisata yang dikembangkan untuk tujuan kelestarian
lingkungan dengan dampak terhadap masyarakat lokal
 Sustainable Tourism (Pariwisata berkelanjutan); pariwisata yang tidak hanya peduli
terhadap isu lingkungan tetapi juga isu pengurangan kemiskinan
 Community-based Tourism (Pariwisata berbasis Komunitas); pariwisata yang menekankan
pada orientasi dan partisipasi masyarakat lokal
 Fair trade and ethical tourism (Perdagangan yang adil dan Pariwisata etis); pariwisata
yang berrtujuan untuk memberikan keuntungan sosial ekonomi pada masyarakat lokal
serta mengubah pola konsumsi pariwisata masyarakat negara Dunia Perta,a
 Pro-poor tourism (Pariwisata Pro-miskin); pariwisata yang memberdayakan masyarakat
miskin
Mengingat bahwa tidak ada definisi yang dikutip di bagian sebelumnya adalah komprehensif
dan mencakup semua, pendekatan lebih sering dilakukan adalah untuk memeriksa dan
menilai kegiatan wisata menurut apakah mereka memenuhi sejumlah kriteria “Sustainable.”
5
Setidaknya terdapat empat kriteria yang kadang digunakan untuk menjabarkan konsep
sustainability dalam pariwisata, yakni aspek ekologis, sosial, kultural, dan ekonomis. Kondisi
keberlanjutan ekologis perlu dirasakan oleh publik. Kebutuhan untuk menghindari atau
meminimalkan dampak lingkungan dari kegiatan wisata telah selesai. Maldonado (1992)
menunjukkan bahwa perhitungan daya dukung merupakan metode penting untuk menilai
dampak lingkungan dan keberlanjutan. Daya dukung yang rendah kemungkinan akan
dipublikasikan
dan
organisasi
konservasi
yang
terlibat
dalam
promosi
bentuk-bentuk baru dari pariwisata lebih mungkin daripada kebanyakan lainnya untuk
mendorong kapasitas maksimum imajiner dalam mengejar konservasi dan keuntungan
ekonomi.
Keberlanjutan sosial dan kultural mengacu pada kemampuan dari masyarakat, baik
lokal maupun nasional, untuk menyerap masukan, seperti orang-orang tambahan, untuk
jangka pendek atau waktu dalam waktu yang lama, dan untuk melanjutkan fungsi baik itu
tanpa penciptaan disharmoni sosial sebagai hasil dari masukan ini atau dengan
mengadaptasikan fungsi dan hubungan sehingga ketidakharmonisan dibuat dapat diringankan
atau dikurangi. Beberapa efek negatif dari pariwisata di masa lalu telah menunjukkan tidak
ada perpecahan sosial. Selain itu, masyarakat mungkin dapat terus berfungsi dalam harmoni
sosial meskipun ada efek perubahan yang dibawa oleh input baru seperti wisatawan. Tapi
hubungan dalam yang masyarakat, adat istiadat interaksi, gaya hidup, kebiasaan dan semua
tradisi untuk mengubah melalui pengenalan pengunjung dengan kebiasaan yang berbeda,
gaya subjek, adat dan alat tukar. Bahkan jika masyarakat bertahan, budaya mungkin
ireversibel untuk diubah. Budaya tentu saja adalah fitur dinamis kehidupan manusia sebagai
masyarakat atau ekonomi; sehingga proses adaptasi budaya dan perubahan tidak dianggap di
semua kasus menjadi efek negatif. Tapi keberlanjutan budaya mengacu pada kemampuan
orang untuk mempertahankan atau menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan mereka yang
membedakan mereka dari orang lain. Pengaruh budaya dari bahkan masuknya wisatawan
kecil yang tak terelakkan dan mungkin berbahaya; tapi kontrol dari efek yang paling
berbahaya, penekanan pada perilaku yang bertanggung jawab dari pengunjung, dan
pencegahan distorsi budaya lokal dapat diasumsikan menjadi elemen penting dari pariwisata
berkelanjutan.
Kondisi keberlanjutan ekonomi tidak kalah penting daripada yang lain di setiap
pengembangan wisata. Keberlanjutan dalam hal ini mengacu pada tingkat keuntungan
ekonomi dari aktivitas yang cukup baik untuk menutupi biaya langkah-langkah khusus yang
diambil untuk memenuhi turis dan untuk mengurangi dampak dari kehadiran turis atau untuk
6
menawarkan sesuai pendapatan untuk ketidaknyamanan yang disebabkan untuk masyarakat
setempat yang dikunjungu - tanpa melanggar salah satu kondisi lain - atau keduanya. Dengan
demikian, mungkin muncul sebagai jika aspek atau kondisi keberlanjutan lainnya sedang
'dibeli'. Dengan kata lain, terlepas dari berapa banyak kerusakan dapat dilakukan secara
budaya, sosial dan lingkungan, itu bisa diterima jika profitabilitas ekonomi dalam skema ini
cukup besar untuk menutupi kerusakan, mengurangi ketidakpuasan atau menekan protes.
Selain keempat aspek di atas, unsur pendidikan, partisipasi lokal, dan unsur
konservasi tidak lepas dari pengembangan Pariwisata. Perbedaan penting antara bentukbentuk baru dari pariwisata dan pariwisata konvensional ditemukan dalam unsur pendidikan
dalam aktivitas tersebut. Ini tidak berarti bahwa perlu untuk mencapai tingkat akademik yang
tinggi untuk menjadi sustainable tourist; namun pemahaman yang lebih besar tentang
bagaimana lingkungan alam dan manusia tidak selalu selaras. Partisipasi masyarakat lokal
pun penting dalam sustainable tourism. Pada asumsi bahwa penggunaan teknik pengukuran
dan deskripsi akan membantu bergerak menuju yang arah yang lebih jelas, analisis yang bisa
diterapkan dan bermakna sustainable, kesadaran akan keterbatasan dan ketidakmatangan
teknik juga diperlukan. Ini berarti bahwa mereka rentan terhadap manipulasi untuk tujuan
partisan. Pada gilirannya, hal ini menimbulkan kebutuhan untuk mempolitisasi industri
pariwisata dalam rangka untuk mempromosikan gerakan ke arah sustainability dan jauh dari
kecenderungan untuk mendominasi, korupsi, dan merusak alam, budaya dan masyarakat.
Politisasi industri pariwisata akan membutuhkan klarifikasi dan penekanan dari asosiasi
antara struktur kekuasaan yang berlaku dan kontrol perkembangan pariwisata, dan
menghubungkan dengan jelas tujuan mengurangi dan pembangunan yang tidak merata
dengan kebijakan yang ditempuh oleh industri pariwisata dan pemerintah dan lembagalembaga internasional yang mempromosikannya. Tanpa politisasi ini, sustainability akan
terus dibajak oleh model pembangunan, kapitalisme, dan akan semakin jatuh ke dalam
pelayanan pengendali modal, dewan direksi perusahaan transnasional besar dan organisasi
yang mengelola industri lainnya.
Singkatnya, rangkuman di atas ingin mengatakan bahwa kemunculan pariwisata
berkelanjutan (sustainable tourism) merupakan kritik terhadap perkembangan pariwisata
modern yang mainstream. Pariwisata modern yang hanya berangkat dari work ethic dan
leisure ethic hanya mementingkan pariwisata sebagai motor pertumbuhan dan pembangunan
ekonomi serta hanya mementingkan aspek pemenuhan kebutuhan hasrat akan kenikmatan
jasmani maupun rohani individu dalam berwisata. Dampaknya mulai bermunculan persoalan
terhadap lingkungan, pemerataan pembangunan, dan keberadaan masyarakat lokal yang
7
termarjinalkan. Berangkat dari hal tersebut, conservative ethic menjadi unsur komplementer
baru terhadap model pembangunan “pariwisata baru” yang berkelanjutan. Pariwisata tersebut
tidak hanya mampu memberikan perasaan bahagia dan kenikmatan bagi para wisatawan
tetapi juga turut mengajak mereka untuk berkontribusi terhadap keberlangsungan lingkungan,
sosial kultural, dan ekonomi dari masyarakat lokal.
Namun, tulisan ini ingin melihat perkembangan konsep keberlanjtuandalam pariwisata
lebih dalam lagi. Tulisan ini ingin melihat bagaimana konsekuensi dari pariwisata
berkelanjutan terhadap berbagai aspek sosial politik, khususnya dalam studi ilmu Hubungan
Internasional, baik kelebihan maupun kekurangannya. Selain itu juga, argumen-argumen
kritis dalam tulisan ini juga akan berusaha untuk mengaitkan isu pariwisata berkelanjutan ini
dengan berbagai konsep dan teori dalam ilmu Hubungan Internasional. Dengan demikian
konseptualisasi pariwisata berkelanjutan di satu sisitidak hanya terbatas pada kelimuan
pariwisata saja tetapi juga dapat dikaitkan dengan disiplin ilmu lain sehingga studi pariwisata
(khususnya dalam ilmu Hubungan Internasional) tetap berkembang. Perkembangan studi
Hubungan Internasional di sisi lain juga turut berkembang.
Isu Gender dalam Sustainable Tourism
Dalam buku karya Martin Mowforth dan Ian Munt, dinyatakan bahwa pariwisata hendaknya
bersifat berkelanjutan secara kultural. Akan tetapi, berangkat dari pernyataan tersebut,
muncul dilema mengenai sisi gender dalam pariwisata yang berkelanjutan. Tak dapat
dipungkiri, merekomendasikan pariwisata agar berjalan secara berkelanjutan secara kultural
adalah hal yang positif. Namun, jarang disadari bahwa dalam kultur yang dijalankan justru
secara tidak langsung mempromosikan ketimpangan gender, misalnya saja wisata prostitusi,
atau penempatan wanita pada profesi pendukung dan penghibur. Hal ini menjadi salah satu
koreksi pada buku ini dimana sudah selayaknya dalam pengembangan ilmu pariwisata dalam
hubugan internasional disisipkan perspektif gender.
Jarang terlintas dalam pemikiran jika sebenarnya pariwisata dan gender memiliki
relasi yang erat. Karena itu, tak banyak yang memperhatikan aspek gender dalam pariwisata.
Dalam tujuan untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan, sudah sepantasnya kita lebih
peka untuk melihat dan memperbaiki bagaimana kesenjangan gender yang selama ini sudah
membudaya dan tak banyak mendapat kritisi. Padahal, pariwisata yang berkelanjutan tidak
seharusnya mempromosikan ketimpangan gender dalam kultur meskipun sebenarnya
8
fenomena ini banyak yang tidak disengaja. Cynthia Enloe melalui bukunya Bananas,
Beaches, and Bases menyatakan bahwa
“Tourism as a concept is gendered. Tourists as people are gendered.
Tourism-promoting policies are gendered. Profit-seeking tourism companies
and the ever-increasing numbers of people who work for them are gendered.
And all five are political. All five involve the workings of power. That is, the
industry, the people in it, and the people it is supposed to serve shape—and are
shaped by—ideas about and practices of diverse masculinities and
femininities.”3
Pernyataan tersebut sangat mendeskripsikan bagaimana konsep pariwisata dan seluruh
aspek di dalamnya sangat berbasis pada gender. Menurut Enloe, pariwisata dipraktikkan
sesuai ragam maskulinitas dan feminisme. Hingga kini, terdapat pemisahan yang cenderung
memarginalisasikan peran wanita dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
Padahal, keterlibatan wanita dalam pariwisata dapat mengurangi ketimpangan gender dalam
pembangunan.
Adapun beberapa fakta umum tentang perempuan dalam pariwisata diuraikan oleh
UNWTO 20114, sebagai berikut: a) Wanita memenuhi sebagian besar proporsi tenaga kerja
pariwisata yang formal. b) Perempuan terwakili dalam pekerjaan pelayanan dan tingkat
administrasi, tetapi kurang terwakili pada tingkat profesional. c) Perempuan di bidang
pariwisata biasanya mendapatkan 10% sampai 15% lebih sedikit dari pada tenaga kerja lakilaki. d) Sektor pariwisata menjadikan perempuan sebagai pemilik usaha/majikan yaitu hampir
dua kali lipat jika dibandingkan dengan sektor lainnya. e) Satu dari lima menteri pariwisata di
seluruh dunia adalah perempuan. f) Perempuan yang bekerja di sektor pariwisata menjadi
pekerja sendiri/mandiri dengan proporsi yang jauh lebih tinggi dari pada sektor lain. Dari
beberapa fakta umum tersebut, dapat dipahami bahwa ketimpangan yang dirasakan kaum
wanita cukup ekstrim. Maka, berdasarkan data di atas, dapat diasumsikan bahwa sebenarnya
pariwisata berbasis komunitas belum dapat diaplikasikan secara merata.5
Martin dan Ian Munt dalam buku Tourism and Sustainability mampu mengidentifikasi
beragam persoalan yang muncul seiring dengan pertumbuhan pariwisata masal. Melalui
tulisannya, Martin dan Ian Munt mengidentifikasi bahwa masalah yang muncul seiring
3
C. Enloe, Bananas, Beaches, Bases; Making Feminist Sense of International Politics, 2nd Edition,
University of California Press, London, 2014, p.X
4
UNWTO, Global Report on Women in Tourism 2010, UNWTO, Madrid dan New York, 2010.
5
Unknown, ‘Peran Perempuan Merupakan Kunci Sukses dalam Memajukan Industri Pariwisata,’
Nurposma (daring), <http://www.nurposma.com/2015/09/nuriaty-damanik-peran-perempuan-merupakan-kuncisukses-dalam-memajukan-industri-pariwasata.html>, 10 September 2015, diakses pada 09 Maret 2016.
9
dengan pertumbuhan pariwisata masal hanya berada dalam cakupan aspek lingkungan, sosialbudaya, ekonomi dan kesehatan. Dalam hal ini penulis pun luput untuk menyertakan
penjelasan secara detail terutama mengenai aspek budaya. Padahal, budaya dalam pariwisata
dewasa ini semakin menunjukkan ketimpangan gender yang ekstrim. Serta, wanita dalam hal
ini selalu menjadi pihak yang menerima dampaknya baik itu dampak positif maupun negatif.
Menelisik pada sejarah pariwisata terdahulu, wanita bahkan tidak diizinkan untuk
pergi melakukan perjalanan keluar rumah karena dianggap tidak terhormat. Negara-negara di
Eropa menjadi negara di dunia pertama yang memperbolehkan wanita melakukan perjalanan
namun dengan tujuan untuk melayani para prajurit di pangkalan militer atau menjadi guru
yang bertugas di misi penjajahan.6 Hal ini sengaja dilakukan agar tetap dapat menjaga sisi
maskulinitas prajurit sekalipun mereka sedang berada di medang tempur. Kebanyakan,
wanita hanya dijadikan sebagai budakWalaupun kini wanita sudah lebih bebas untuk
melakukan perjalanan, namun hal tersebut tidak menunjukan bahwa ketimpangan gender
dalam
pariwisata
telah
usai.
Sebaliknya,
ketimpangan
tersebut
justru
semakin
mengkristalisasi menjadi sebuah budaya yang umum bagi kebanyakan masyarakat.
Salah satu perkembangan pariwisata yang semakin menampakkan adanya
ketimpangan gender dapat dilihat dari fenomena pertumbuhan objek wisata prostitusi.
Adapun wisata prostitusi ini baru mulai berkembang pada awal abad kedua puluh satu.
Merujuk pada fenomena ini, keberadaan wisata prostitusi sebenarnya bukanlah sebuah
anomali. Wisata prostitusi adalah sebuah contoh fenomena pertumbuhan pariwisata yang
sangat berbasis pada gender. Enloe menyatakan bahwa “Sex tourism is the process of
encouraging overwhelmingly male tourists—from North America, western Europe, the
Middle East, Russia, and East and Southeast Asia—to travel from one country to another to
gain access to women’s sexual services.7” Dari pengertian tersebut, tentu wisata prostitusi
dimaksudkan untuk mendulang rupiah lebih pada negara sebagai alternatif sumber
pendapatan di saat sektor lain sedang anjlok. Wisata prostitusi merupakan sebuah umpan
untuk menarik wisatawan khususnya laki-laki datang dan menabungkan rupiahnya pada
negara yang ia kunjungi.
Selain wisata prostitusi, contoh lain yang menggambarkan fenomena marjinalisasi
gender dalam pariwisata dapat diamati dari kebiasan-kebiasaan dimana wanita ditempatkan
sebagai pramugari, pelayan hotel untuk membersihkan kamar, pembantu, serta budak seks.
Tak jarang wanita sulit mendapatkan kebebasan dan kenyamanan saat berwisata. Karena itu,
6
C. Enloe, Bananas, Beaches, Bases; Making Feminist Sense of International Politics, p.40.
C. Enloe, Bananas, Beaches, Bases; Making Feminist Sense of International Politics, p.74.
7
10
di lain sisi, wanita kerap mendapatkan spesialisasi atas kodratnya. Misalnya saja, dalam
fasilitas hotel sengaja dibuat pemisahan kamar dan kamar mandi untuk wanita dan laki-laki
dengan melabeli “women only” atau “men only”. Hal tersebut dilaksanakan semata-mata
untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung. Tidak hanya itu, dalam berwisata misalnya
seorang laki-laki cenderung untuk lebih memperhatikan fluktuasi mata uang asing.
Sedangkan wanita lebih memperhatikan dan menyesuaikan pakaian dan gaya rambut dengan
cuaca setempat selama berwisata. Maka, kedua informasi tersebut jelas perlu dicantumkan
secara berbeda dalam website para penyedia jasa wisata.8 Dari contoh-contoh itulah, dapat
disimpulkan bahwa pariwisata dan gender memiliki keterkaitan satu sama lain. Tanpa ide-ide
maskulinitas dan feminitas yang terus ditegakkan, maka akan susah untuk mewujudkan
pariwisata yang berkelanjutan. Karena itu, struktur pariwisata internasional jelas
membutuhkan patriarki untuk terus bertahan dan berkembang.9
Peran Aktor Non-Negara dalam Pengembangan Sustainable Tourism
Pengembangan pariwisata selama ini lebih didominasi oleh aktor negara. Pemerintah
memiliki wewenang dalam pembuatan kebijakan pengembangan pariwisata. Namun, caracara yang biasa digunakan pemerintah untuk mengejar kepentingan ekonomi sehubungan
dengan pengembangan pariwisata seringkali melalui eksploitasi lingkungan. Padahal,
mungkin pemeliharaan lingkungan justru lebih murah daripada merusak lingkungan baru
kemudian memperbaikinya. Aktor negara dalam pengembangan pariwisata kurang
melibatkan aktor-aktor non-negara yang tentunya mempunyai peranan penting dalam
pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di era kontemporer menjadi salah satu penyebab
perubahan pemikiran terkait pariwisata. Adanya krisis global tahun 2008, perubahan iklim,
konflik atas sumber daya, penyebaran penyakit pandemik ikut berdampak pada dunia
pariwisata, Terdapat pemikiran bahwa manusia mempunyai pengaruh pada perubahan iklim
yang selanjutnya berimbas terhadap industri pariwisata. Perubahan ikim misalnya bisa
berdampak kepada pilihan masyarakat dalam berlibur, permintaan pariwisata berdasarkan
pola geografis, kompetisi dan keberlangsungan destinasi wisata serta implikasi pariwisata
pada pembangunan internasional. Tujuan untuk membentuk Sustainable Tourism-Eliminating
Poverty (ST-EP) telah disepakati dalam UNWTO tahun 2000. Selain itu, terjadi pula
perubahan pendekatan dalam kebijakan pariwisata yang dibicarakan pada Johannesburg
8
C. Enloe, Bananas, Beaches, Bases; Making Feminist Sense of International Politics, p.55.
C. Enloe, Bananas, Beaches, Bases; Making Feminist Sense of International Politics, p.82.
9
11
Summit yang membahas mengenai Type II Partnership. Pendekatan yang dipakai untuk
membuat kebijakan pariwisata lebih mengarah pada multi-stakeholder approach tidak lagi
top-down approach. Dalam praktiknya, kebijakan pariwisata cukup sering meninggalkan
prinsip-prinsip yang ada. Lingkungan dan sustainability (keberlanjutan) hanya mendapatkan
sedikit perhatian. Untuk itu, perumusan kebijakan pariwisata dan usaha membentuk
sustainable tourism membutuhkan dan perlu melibatkan aksi kerjasama antara pemerintah
dan aktor-aktor lainnya di luar negara.10 Perubahan pendekatan ini sepertinya berusaha untuk
menyesuaikan dengan perkembangan isu-isu yang semakin kompleks seperti permasalahan
lingkungan, kemiskinan, kesehatan yang tentu akan sulit ditangani menggunakan pendekatan
top-down.
Konsep yang menekan pada kerjasama antara pemerintah dan aktor non-negara dalam
pembangunan berkelanjutan termasuk pariwisata di dalamnya yaitu Multi-Stakeholder
Partnerships (MSP). Aliansi strategis antara kelompok bisnis/perusahaan, pemerintah,
masyarakat sipil menjadi ciri menonjol pada negara maju maupun negara berkembang dalam
beberapa dekade terakhir. Kerjasama yang terjalin merupakan sesuatu yang penting karena
tidak ada 1 sektor di masyarakat yang mampu menangani kompleksitas pembangunan
berkelanjutan secara mandiri. MSP memiliki karakter dan substansi yang unik karena strategi
kerjasama yang ada umumnya secara langsung ditujukan untuk mengatasi tantangan dan
masalah yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan seperti manajemen dan
perlindungan lingkungan, infusi sosial. Hal yang lebih diutamakan dalam MSP adalah
sharing bukan shifting risk, bagaimana menemukan cara-cara inovatif untuk mengarahkan
sumber daya yang ada sesuai kekuatan masing-masing pihak, menjaga kerjasama yang dapat
membawa keuntungan bersama bagi semua pihak yang terlibat. MSP juga mengejar visi
bersama, sistem penyelesaian masalah yang melibatkan berbagai pihak dan mendukung
tercapainya mutual benefit. Ada 3 perspektif yang digunakan untuk melihat MSP tersebut
yaitu dari sisi pebisnis/perusahaan, sektor publik dan masyarakat sipil, Pebisnis atau
perusahaan juga membutuhkan reputasi baik, dimana reputasi tersebut diukur dari
kemampuan perusahaan dalam mengatasi resiko/masalah non-komersial, bagaimana
perusahaan dapat mempertemukan persyaratan internal dan eksternal untuk Corporate Social
Responsibility (CSR) misalnya. Sektor publik pun mempunyai perspektif lain yaitu berusaha
menyeimbangkan antara hak dan kewajiban masyarakat, bagian seperti sektor publik
biasanya dipegang oleh pemerintah pusat dan daerah. Sementara itu, sektor masyarakat sipil
10
D. J. Telfer, ‘The Evolution of Development Theory and Tourism’, dalam R. Sharpley & D. J. Telfer (eds.),
Tourism and Development: Concept and Issues, Channel View Publication, Bristol, 2015, pp. 70-73
12
lebih beragam yang terdiri dari non-governmental organization (NGO), kelompok agama,
yayasan pendanaan, akademisi/peneliti, kelompok kepentingan. Peran dan perkembangan
NGO dewasa ini semakin vokal dalam memperjuangkan tujuan-tujuannya. Kontribusi yang
dapat dilakukan oleh NGO dan aktor negara lainnya misalnya melakukan kampanye, menjadi
bagian dari solusi, menyampaikan gagasan/pengetahuan, membuat inovasi-inovasi di bidang
pariwisata berkelanjutan. Selain itu, NGO seperti sedang menjadi kekuatan politik baru yang
lebih mendapatkan kepercayaan masyarakat. Hal tersebut dikarenakan sektor publik dinilai
kurang cepat dan responsif dalam menangani isu lingkungan, perusahaan dianggap
menekankan efisiensi tinggi dan mengejar kepentingan komersil. Sektor masyarakat sipil
dalam hal ini berperan untuk mentransformasi kemampuan perusahaan dan sektor publik
sehubungan dengan permbangunan pariwisata berkelanjutan.11 NGO sebagai bagian dari
sektor masyarakat sipil mulai diperhitungkan pengaruhnya dalam dunia pariwisata.
Peran NGO dalam dunia modern dapat ditemui di hampir semua lini/bidang
kehidupan salah satunya pariwisata. Organisasi non-pemerintah merupakan organisasi
sukarela yang didanai oleh negara, yayasan, perusahaan maupun individu. NGO berperan
sebagai watch-dog dalam kehidupan masyarakat, organisasi ini juga menjadi agen yang
menyampaikan kritik dan meningkatkan kesadaran pemerintah, organisasi lain dan
masyarakat luas. Aktivitas yang dilakukan NGO pun ada yang dimulai dari tingkat lokal,
nasional dan internasional. Peran konstruktif yang dapat dimainkan oleh NGO yaitu sebagai
fasilitator ataupun mediator untuk memastikan adanya partisipasi berbagai pihak dalam
proses pengembangan pariwisata berkelanjutan. Kebijakan pariwisata yang dibuat pemerintah
cenderung bersifat unilateral, tidak diketahui oleh masyarakat serta merusak objek/destinasi
wisata. Dalam hal tersebut NGO memiliki peranan krusial, tidak hanya meningkatkan
kesadaran masyarakat terhadap dampak buruk dari kebijakan pariwisata, namun juga
mengambil tindakan legal yang dibutuhkan. Dapat dikatakan NGO mempunyai peranan vital
dalam tourism awareness. Ada 3 peranan berbeda yang dijalankan oleh NGO dalam
menyadarkan masyarakat terkait pariwisata. Pertama, NGO memberikan kritik terkait
kebijakan pariwisata yang membahayakan lingkungan. Kedua, NGO bekerja di di tempattempat wisata dan ikut membantu permasalahan yang ada disana. Ketiga, NGO terlibat dalam
proses perumusan kebijakan pariwisata dengan pemerintah atau otoritas lain. Tujuan utama
dari NGO adalah membuat masyarakat menyadari bahwa mereka sebenarnya memiliki power
untuk mengintervensi pembuatan kebijakan pariwisata yang biasanya dilakukan pemerintah.
11
Overseas Development Institute & Foundation for Development Cooperation, Multi-Stakeholder
Partnerships, Global Knowledge Partnership, Kuala Lumpur, 2003, pp. 7-9
13
NGO yang berada di level lokal umumnya menangani day to day issues yang ada di lokasi
wisata.12Terlihat bagaimana NGO memainkan banyak peranan dalam mendukung pariwisata
yang berkelanjutan.
Aktor lain di luar negara yang juga ikut berkontribusi pada pariwisata yang
berkelanjutan yaitu pebisnis di bidang pariwisata. Pebisnis selama ini berada lingkungan
penuh kompetisi yang berfokus pada bagaimana bisnis pariwisata yang mereka jalankan tetap
menguntungkan mereka. Selain itu, pebisnis juga menghadapi tekanan yang semakin
meningkat untuk memenihi kepuasan konsumen. Perkembangan bisnis pariwisata
mempengaruhi tren permintaan konsumen, kemajuan teknologi, kompetisi, perubahan sosial
dan ekonomi serta lingkungan. Pariwisata merupakan suatu sektor yang kompleks dan cukup
mudah terkena resiko, sehingga pihak yang mengoperasikan pariwisata seperti pebisnis harus
secara proaktif memastikan keberlangsungan bisnisnya dalam jangka panjang. Namun, tidak
hanya keuntungan ekonomi jangka panjang yang dicari tetapi perlu juga keberlangsungan
lingkungan dan sosial. Praktik-praktik yang dapat dilakukan oleh pebisnis pariwisata di
bidang lokal dan nasional (small and medium tourism enterprises) untuk mendukung
sustainable tourism misalnya membuat perencanaan strategis yang memuat tujuan jelas dan
pengawasan kinerja, manajemen keuangan yang meliputi penyimpanan data dan penilaian
hasil/pendapatan, aktivitas dan pengetahuan pemasaran termasuk di dalamnya riset dan
analisis pasar. Pengusaha di bidang pariwisata juga dapat melakukan manajemen sumber
daya manusia melalui pelatihan, dan membuat jaringan dengan pihak lain dalam hal bantuan
eksternal, kerjasama antara asosiasi pebisnis pariwisata dan pemerintah. 13 Intinya yaitu setiap
komponen/pihak yang memiliki kepentingan terhadap dunia pariwisata perlu dilibatkan
dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Aktor negara dan aktor non-negara samasama memiliki tanggung jawab yang sudah seharusnya saling berkooperasi untuk
membangun sustainable tourism.
Penjelasan di atas masih merupakan penjabaran bagaimana hubungan antar aktor dalam
mengelola pariwisata yang berkelanjutan pada tingkat analisa nasional maupun lokal. Pada
tingkat analisa (sistem) internasional, pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan memiliki
cakupan aktor dan proses pembuatan kebijakan yang lebih luas lagi. Ini berawal dari adanya
pengaruh dari globalisasi. Globalisasi sebagai proses perluasan, pendalaman, dan perlajuan
12
M. A. Khan, ‘Role of NGO’s in Tourism’, Indian Journal of Applied Research, vol. 5, no. 3, 2015, pp. 530-531
Sustainable Tourism Online, Sustainable Tourism – Business Operations, Sustainable Tourism Cooperative
Research Centre, pp. 25-28
13
14
keterhubungan yang mendunia dalam semua aspek kehidupan sosial yang kontemporer14
membuat ruang dan aktivitas politik tidak lagi terbatas pada ruang lingkup dan cara pandang
politik domestik. Penciptaan apa yang disebut sebagai dengan “ruang politik” tersebut
kemudian menumbuhkan dua poin penting, yakni tata kelola global dan isu-isu global. Inti
dari kedua poin tersebut adalah bahwa proses pembuatan keputusan di level global harus
mampu mengatasi berbagai isu yang mengglobal dengan kondisi sistem internasional yang
anarkis (ketiadaan pusat otoritas).
Terdapat setidaknya dua implikasi penting dari proses yang disebut sebagai
globalization of politics barusan.Pertama, “ruang politik” internasional menjadi lebih inklusif
terhadap berbagai aktor. Negara tidak lagi memonopoli proses pengambilan keputusan
terhadap isu-isu global. Keberadaan aktor-aktor non-negara seperti organisasi internasional,
multinational corporation (MNC), dan international non-governmental organization (INGO)
juga turut memengaruhi hasil dari kontestasi politik internasional. Ini juga berkat
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang membuat jangkauan kerja dan
cakupan bidang mereka bersifat transnasional sehingga membuka peluang bagi mereka untuk
dapat memengaruhi proses politik global.15 Kedua, inklusifitas tersebut berpengaruh terhadap
pembentukan rezim yang berdasarkan kerja sama internasional. Ketiadaan otoritas pusat
sebagai konsekuensi dari sistem internasional yang bersifat anarkis membuat proses
penyelesaian isu-isu yang mengglobal bergantung pada proses diplomasi dan negosiasi dari
berbagai aktor yang terlibat. Kesepakatan yang dicapai dari proses yang seringkali “tarik
ulur” tersebut menghasilkan seperangkat norma dan aturan yang spesifik terhadap isu-isu
tertentu. Inilah yang dinamakan sebagai rezim internasional. Kerangka berpikir tersebut
memang tidak bisa dilepaskan dari cara pandang liberalisme dalam Hubungan Internasional.
Salah satu dampak dari globalization of politics ini adalah kemunculan dari isu
pariwisata, khususnya pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism), sebagai isu
global. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, isu ini merupakan perpaduan dari berbagai
isu kontemporer seperti kesehatan, lingkungan, dan konflik sosial yang memiliki pengaruh
terhadap perkembangan pariwisata dunia.16 Permasalahan yang muncul kemudian berubah
menjadi lebih kompleks sehingga negara seringkali kesulitan dalam menangani kompleksitas
14
D. Held, A. McGrew, D. Goldblatt, dan J. Perraton, Global Transformations: Politics, Economics, and Culture,
Stanford University Press, Palo Alto, 1999, p. 34
15
P. Willetts, “Transnational Actors and International Organization,” dalam J. Baylis dan S. Smith, The
Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations, Oxford University Press, Oxford,
2001, p. 373-375
16
M. Mowforth dan I. Munt, Tourism and Sustainability: Development and New Tourism in the Third World,
Routledge, New York, 1998, p. 90
15
tersebut. Kelemahan inilah yang kemudian diisi oleh aktor-aktor non-negara yang jauh lebih
“kompeten” dalam menangani isu tersebut. Akibatnya, hubungan antara aktor negara yang
membawa kepentingan publik dengan aktor non-negara yang memawa perspektif masyarakat
dan bisnis terbentuk dalam kondisi yang saling bergantung satu sama lain. Interdependensi
tersebut membuat tata kelola pariwisata yang berkelanjutan yang melibatkan ketiga perspektif
tersebut sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, konsep MSP dalam tata kelola pariwisata yang
berkelanjutan juga perlu diangkat ke tingkat internasional.
Ketika aktualisasi MSP diletakkan pada tingkat internasional, ia tidak berbeda jauh
dengan penerapannya di tingkat nasional maupun lokal. Perbedaannya terletak pada dua hal.
Pertama, yakni adanya peran organisasi internasional (intergovernmental) dalam proses
negosiasi untuk membuat kebijakan terkait pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.
Salah satu contoh organisasi intergovernmental tersebut adalah United Nations World
Tourism Organization, sebuah lembaga agensi di bawah PBB, yang bertujuan untuk
mempromosikan sustainable tourism yang tak hanya berdampak pada pembangunan ekonomi
tetapi juga kehidupan sosial dan kelestarian lingkungan.17 Adanya aktor non-negara yang
bertanggung jawab terhadap proses pembuatan keputusan di tingkat global juga akan
memengaruhi struktur hubungan tata kelola pariwisata yang berkelanjutan. Jika pada tingkat
nasional sebelumnya hubungan yang bersifat kerekanan terjadi hanya pada negara
(pemerintah), kelompok bisnis, dan masyarakat sipil, maka pada tingkat kali ini ada peran
organisasi internasional (intergovernmental) di mana negara-negara anggota di dalamnya
saling bernegosiasi untuk menghasilkan bentuk konkret dari kesepakatan. Penambahan
tersebut disebabkan karena adanya efek rezim internasional di mana hasil kesepakatan antar
negara anggota dalam organisasi akan memengaruhi tindakan negara (pemerintah) dalam
menentukan kebijakan nasional terkait pariwisata berkelanjutan. Hal tersebut dapat dilihat
dari bagaimana proses penerimaan hasil kesepakatan/perjanjian internasional ke dalam
kebijakan nasional lewat proses ratifikasi di lembaga legislatif nasional.
Kedua, aktivitas-aktivitas para aktor non-negara, baik dari perspektif bisnis maupun
perspektif masyarakat sipil, yang telah dijelaskan sebelumnya dapat bersifat transnasional.
Karena peran globalisasi membuat “ruang politik” menjadi inklusif, para aktor non-negara
dapat membentuk jaringan kerjanya secara luas dan mampu menembus batas negara. Mereka
dapat menggunakan berbagai jalur diplomasi maupun negosiasi untuk dapat memberikan
pengaruh politik mereka terhadap proses pembuatan keputusan baik di tingkat nasional
17
UNWTO, “Definition,” Sustainable Development of Tourism (daring), <http://sdt.unwto.org/content/aboutus-5>, diakses 10 Maret 2016
16
maupun global. Dalam konteks isu pariwisata yang berkelanjutan, gerakan aktor
transnasional biasanya ditekankan pada isu-isu yang membentuk esensi sustainability seperti
isu lingkungan dan kemiskinan dan pembangunan. Salah satu NGO yang bergerak di bidang
ini Green Africa Direct di Etiopia. Tekanan politik tersebut semakin terasa ketika jaringan
transnasional ini dapat berperan sebagai watch-dog terhadap kinerja pemerintah dalam
membuat kebijakan terkait pariwisata yang berkelanjutan. Lebih lanjut, jika sebuah NGO
atau MNC tidak mampu memengaruhi proses pembuatan keputusan, ia dapat memanfaatkan
jaringan transnasional yang dimilikinya untuk dapat memberikan tekanan politik kepada
pemerintah negara bersangkutan. The Boomerang Pattern tersebut bisa dijadikan senjata oleh
berbagai gerakan transnasional untuk membentuk activism beyond border yang efektif.18
Kesimpulan dari pembahasan pada bagian ini adalah bahwa isu sustainable tourism
merupakan isu kontemporer hasil dari kompleksitas isu pembangunan ekonomi, lingkungan,
dan pariwisata. Kompleksitas yang penyelesaiannya tidak bisa lagi diserahkan secara penuh
terhadap negara (pemerintah) membuka peluang bagi para aktor non- negara untuk dapat
muncul dan memberi pengaruhnya. Tidak hanya isu-isunya saja yang saling bergantung satu
sama lain, hubungan antar aktor, baik negara maupun non-negara, juga menunjukkan
interdependensi yang demikian. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada tingkat lokal dan
nasional tetapi juga pada tingkat global. Oleh karena itu, tulisan ini juga beranggapan bahwa
tata kelola pariwisata berkelanjutan global harus bersifat inklusif terhadap segala aktor dan
proses. Setidaknya itulah esensi dari MSP pada tataran tata kelola global.
“Environment vs People”
Pariwisata telah terbukti dapat mendorong pertumbuhan perekonomian melalui peluang
investasi, peluang kerja, peluang berusaha dan pada akhirnya dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Peluang berusaha bukan hanya dalam bentuk pembangunan sarana
dan prasarana pariwisata tetapi juga peluang dalam bidang kerajinan kecil seperti
handycrafts. Namun akhir-akhir ini terjadi paradigma baru dalam bidang kepariwisataan yang
kita agung-agungkan karena dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peluang
kerja di semua lini ternyata terbukti dapat menyebabkan malapetaka terhadap kehidupan
sosial, budaya dan lingkungan. Kesejahteraan yang kita nikmati secara ekonomi ternyata
tidak diikuti oleh peningkatan kehidupan sosial, budaya, dan pelestarian lingkungan.
18
M. E. Keck dan K. Sikkink, Activists Beyond Borders: Advocacy Network in International Politics, Cornell
University Press, Ithaca, 1998, p. 78
17
Masalah-masalah sosial banyak kita temui di masyarakat setelah kita mengembangkan
kepariwisataan. Demikian juga mengenai masalah budaya dan lingkungan. Tragedi budaya
dan lingkungan sering kita lihat melalui berita-berita di Koran-koran dan televisi
lokal.Pembangunan sektor pariwisata diberbagai belahan dunia ini telah berdampak pada
berbagai dimensi kehidupan manusia, tidak hanya berdampak pada dimensi sosial ekonomi
semata, tetapi juga menyetuh dimensi sosial budaya bahkan lingkungan fisik. Dampak
terhadap berbagai dimensi tersebut bukan hanya bersifat positif tetapi juga berdampak
negatif.19
Perlu juga mendapat perhatian bahwa dalam upaya pengembangan pariwisata di
samping dampak positif bagi masyarakat sekitar objek juga menimbulkan dampak negatif
bagi masyarakat sekitar. Sehubungan dengan hal tersebut dalam upaya pengembangan objek
wisataperlu diperhitungkan dampak negatif yang ditimbulkan demi kelestarian objek wisata
tersebut maupun kelestarian fungsi lingkungan sekitar kawasan wisata. Pelaksanaan
pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat ternyata
mempunyai dampak terhadap lingkungan sekitar baik langsung maupun tidak langsung, baik
dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Hal yang sama juga terjadi dalam
pengembangan pariwisata, dimana disamping pengembangan pariwisata itu sendiri
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar objek wisata, pengelolaan
lingkungan dan pengelolaan objek wisata itu sangat mempengaruhi kelestarian fungsi
lingkungan dan objek wisata itu sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut permasalahan yang
utama yang perlu mendapatkan jawaban tuntas adalah bagaimana pengembangan pariwisata
dan pelestarian fungsi lingkungan sekitar kawasan wisata ini dapat dilaksanakan dengan baik
dalam arti berorientasi pada upaya pelestarian objek wisata dan pelestarian fungsilingkungan
sekitar.
Industri pariwisata memiliki hubungan erat dan kuat dengan lingkungan fisik.
Lingkungan alam merupakan aset pariwisata dan mendapatkan dampak karena sifat
lingkungan fisik tersebut yang rapuh (fragile), dan tak terpisahkan (Inseparability). Bersifat
rapuh karena lingkungan alam merupakan ciptaan Tuhan yang jika dirusak belum tentu akan
tumbuh atau kembali seperti sediakala. Bersifat tidak terpisahkan karena manusia harus
mendatangi lingkungan alam untuk dapat menikmatinya.Lingkungan fisik adalah daya tarik
utama kegiatan wisata. Lingkungan fisik meliputi lingkungan alam (flora dan fauna,
bentangan alam, dan gejala alam) dan lingkungan buatan (situs kebudayaan, wilayah
19
A. Pizam dan A. Milman,The Social Impacts of Tourism, Industry and Environment, 1984, p. 187
18
perkotaan, wilayah pedesaan, dan peninggalan sejarah). Secara teori, hubungan lingkungan
alam dengan pariwisata harus mutual dan bermanfaat. Wisatawan menikmati keindahan alam
dan pendapatan yang dibayarkan wisatawan digunakan untuk melindungi dan memelihara
alam guna keberlangsungan pariwisata. Hubungan lingkungan dan pariwisata tidak
selamanya simbiosa yang mendukung dan menguntungkan sehingga upaya konservasi,
apresiasi, dan pendidikan dilakukan agar hubungan keduanya berkelanjutan, tetapi kenyataan
yang ada hubungan keduanya justru memunculkan konflik.
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekagaraman hayati yang
sangat tinggi yang berupa sumber daya alam yang berlimpah, baik di daratan, udara maupun
di perairan. Semua potensi tersebut mempunyai peranan yang sangat penting bagi
pengembangan kepariwisataan, khususnya wisata alam. Sasaran tersebut di atas dapat
tercapai melalui pengelolaan dan pengusahaan yang benar dan terkoordinasi, baik lintas
sektoral maupun swasta yang berkaitan dengan pengembangan kegiatan pariwisata
berkelanjutan, misalnya kepariwisataan, pemerintah daerah, lingkungan hidup, dan lembaga
swadaya masyarakat. Dalam pengembangan kegiatan pariwisata berkelanjutan terdapat
dampak positif dan dampak negatif, baik dalam masalah ekonomi, sosial, dan lingkungan
alami. Oleh karena itu dalam pembangunan sektor kepariwisataan harus memperhatian
kaidah-kaidah pengelolaan lingkungan hidup mengingat salah satu unsur wisata adalah
sumber daya alam yang merupakan bagian dari lingkungan hidup. Pengembangan sektor
pariwisata yang tidak memperhatikan aspek lingkungan hidup dapat berdampak negatif pada
perkembangan pariwisata itu sendiri pada masa yang akan datang.
Dalam dampak mengenai keruskan lingkungan yang diakibatkan dari banyaknya
pembangunan pariwisata diperkotaan, banyak dari pemerintah membangun lahan hijau di
perkotaan sebagai penyeimbang agar tidak terjadi ketimpangan yang sangat berlebih. Namun
dalam hal tersebut memiliki dampak yang lebih besar lagi. Dampak yang ada yaitu pada
masyarakat. Atau yang biasa kita sebut dengan “environment vs people”. Seperti roda yang
berputar lingkungan dan manusia sangatlah berpengaruh, seperti dalam konteks pariwisata
ini. Pembangunan yang ada berdampak pada lingkungan, lingkungan yang rusak dapat
mengancam kehidupan manusia, perbaikan lingkunganpun juga memiliki dampak bagi
manusia. Manusia harus mencari tempat tinggal lain hal tersebut dapat di contohkan dalam
permasalahan relokasi di kali Jodo.
Relokasi ini didasari karena Kalijodo berdiri diatas lahan negara yang akan dialih
fungsikan menjadi ruang terbuka hijau. Disamping itu, perelokasian ini juga untuk
memberantas budaya prostitusi dan memperbaiki pergaulan masyarakat khususnya anak19
anak. Rusun Marunda menjadi tujuan relokasi warga Kalijodo. Sebanyak 300 KK akan
terkena dampak relokasi ini dan sudah 175 KK yang mendaftar untuk ditempatkan di Rusun
Marunda. Pada relokasi yang satu ini tidak ada perlawanan yang berarti dari warga Kalijodo.
Relokasi ini berjalan mulus dan damai tidak seperti proses relokasi yang sudah-sudah.
Banyaknya industri yang ada di Jakarta serta lingkungan yang kotor maka sering sekali
terjadi banjir. Dari bencana alam akibat kerusakan lingkungan tersebut. Pemerintah provinsi
DKI Jakarta merelkoasi warga kalijodo untuk dijadikan sebagai lahan hijau. Warga akan
dirolokasikan di rumah susun yang telah disediakan oleh pemerintah di kawasan Jatinegara.
Akan tetapi hal yang paling miris dari klesediaan fasilitas yang ada masyarakat setelah tiga
bulan sekali harus membayar sewa. Solusi yang diberikan oleh pemerintah justru menambah
permasalahan baru terkait hak dari masyarakat yang seharusnya dapat tinggal dengan nyaman
dan dami. Lalu, bagaimana para warga tersebut bertahan hidup setelah pindah hunian?
Dengan cara apa mereka membayar sewa hunian?
Adanya contoh permasalahan yang ada dapat membuktikan bahwa pariwisata yang
berkembang pesat dalam era globalisasi ini memberikan dampak yang sangat luas dan
dampak tersebut dapat diselesaikan satu persatu. Akan tetapi dalam penyelesaiaannya
menemukan dampak negatif yang baru sehingga dampak yang ada berkepanjangan. Dalam
hal ini memiliki dilema tersendiri bagi pemerintah dalam mengelola pariwisata yang dimiliki
oleh negaranya masing-masing.
20
Referensi
Enloe, Catheryn. 2014. Banana, Beaches, and Bases: Making Feminist Sense of International
Politics. 2nd. London: University of California Press.
Fernandes, D. 1994. “The Shaky of Sustainable Tourism.” TEI Quarterly Environment
Journal, 4-35.
Held, David, Anthony McGrew, David Goldblatt, dan J. Perraton. 1999. Global
Transformations: Politics, Economics, and Culture. Palo Alto: Stanford University
Press.
Keck, M. E., dan K. Sikkink. 1998. Activists Beyond Borders: Advocacy Network in
International Politics. Itacha: Cornell University Press.
Khan, M. A. 2015. “Role of NGO's in Tourism.” Indian Journal of Apllied Science 530-531.
Krippendorf, J. 1987. The Holidaymakers: Understanding the Impact of Leisure and Travel.
London: Heinemann.
Mowforth, Martin, dan Ian Munt. 1998. Tourism and Sustainability: Development and New
Tourism in the Third World. New York: Routledge.
Nurposma. 2015. Peran Perempuan Merupakan Kunci Sukses dalam Memajukan Industri
Pariwisata. 10 September. Diakses Maret 9, 2016.
http://www.nurposma.com/2015/09/nuriaty-damanik-peran-perempuan-merupakankunci-sukses-dalam-memajukan-industri-pariwasata.html.
Overseas Development Institute & Foundation for Development Cooperation. 2003. Multistake Holder Partnerships. Research Report, Kuala Lumpur: Global Knowledge
Partnership.
Sustaniable Tourism Cooperative Research Centre. t.thn. Sustainable Tourism-Business
Opreations. Research Report, Sustaniable Tourism Cooperative Research Centre, 2528.
Telfer, D. J. 2015. “The Evolution of Development Theory and Tourism.” Dalam Tourism
and Development: Concept and Issues, oleh R. Sharpley dan D. J. Telfer, 70-73.
Bristol: Channel View Publication.
UNWTO. t.thn. Definition. Diakses Maret 10, 2016. http://sdt.unwto.org/content/about-us-5.
UNWTO. 2010. Global Reporton Women in Tourism. Annual Report, Madrid: UNWTO.
Willetts, Peter. 2001. “P. Willetts, “Transnational Actors and International Organization,”
dalam J. Baylis dan S. Smith, , Oxford University Press, Oxford, 2001.” Dalam The
Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations, oleh John
Baylis dan Steve Smith, 373-375. Oxford: Oxford University Press.
21
Download