BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perkembangan media

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perkembangan media sosial yang semakin hari semakin pesat
terjadi, telah membawa manusia pada titik dimana tidak bisa lepas dari
penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi pun saat
ini telah memberikan kemudahan bagi setiap manusia untuk tetap selalu
terhubung kepada setiap orang diberbagai belahan dunia. Kemudahan
dalam berkomunikasi saat ini semakin terasa kental di kalangan remaja.
Facebook, twitter, BBM, dan lain sebagainya seperti sudah menjadi trend
tersendiri dikalangan para remaja. Berbagai macam media sosial tersebut
seolah tidak lagi bisa dipisahkan dari diri remaja itu sendiri.
Dalam menggunakan media sosial, seseorang dapat terpengaruh
oleh berbagai kalangan seperti keluarga, lingkungan, dan karakteristik
individu mereka sendiri. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan
utama yang memberikan banyak pengaruh terhadap perkembangan
seseorang didalam berbagai hal. Seseorang yang memiliki latar belakang
ekonomi menengah ke atas dapat dengan mudah mengakses media sosial
dengan menggunakan smartphone ataupun menggunakan fasilitas internet
dirumah maupun warung internet yang saat ini banyak berdiri diberbagai
daerah, bahkan di pedesaan. Saat ini setiap orang dapat dengan mudah
0
menggunakan internet karena ketersediaan fasilitas yang semakin
mendukung seseorang untuk menggunakan media sosial.
Menurut Baran dalam Tamburaka (2013: 14) bahwa teori
masyarakat massa pertama kali muncul pada abad ke-19 ketika berbagai
elit sosial tradisional berjuang memahami makna dari konsekuensi yang
bersifat merusak dari modernisasi. Sebagian (yaitu para aristokrat tanah,
penjaga toko di kota-kota kecil, guru sekolah pemuka agama, politisi kelas
dua) kehilangan kekuasaan mereka atau sangat lelah dalam usaha mereka
menghadapi masalah sosial. Bagi mereka media massa yaitu yellow
journalism adalah simbol dari semua kesalahan yang terjadi dalam
masyarakat modern.
Penggunaan media sosial dalam hubungan antar manusia memang
memiliki berbagai manfaat serta kemudahan yang ditawarkan bagi
manusia. Dengan menggunakan media sosial, kita tak perlu bertatap muka
langsung dengan teman kita untuk sekedar bersapa. Dengan menggunakan
media sosial pula kita dapat membangun hubungan dengan orang yang
tinggal
di
daerah
terpisah.
Maka
tidak
mengherankan
apabila
perkembangan media sosial saat ini terjadi sangat cepat. Begitu banyak
aplikasi yang tersedia guna melakukan interaksi dengan orang lain melalui
media sosial. Facebook, Twitter, Instagram, Path, BBM, Skype adalah
contoh dari aplikasi media sosial yang saat ini sedang gemar dilakukan
oleh masyarakat, terutama kaum remaja.
1
Pesatnya perkembangan media sosial karena semua orang dari
berbagai kalangan mampu memiliki media untuk tersambung ke media
sosial. Bahkan seseorang dapat yang tidak memiliki media berupa
smartphone dan fasilitas internet dirumahnya dapat terhubung di warnet.
Hal ini berbeda dengan media tradisional seperti televise maupun radio
yang membutuhkan biaya yang cukup besar Pengguna media sosial
dengan bebas melalui media dapat mengedit, menambahkan berbagai
gambar, foto, suara dan berbagai efek grafis lainnya melalui media sosial
yang mereka miliki.
Dalam penggunaan media sosial, tentu seseorang memiliki
berbagai motivasi. Untuk sekedar berkomunikasi dengan orang lain, untuk
mencari tahu perkembangan sesuatu, untuk berbagi informasi maupun
salah satu yang menjadi trend saat ini adalah penggunaan media sebagai
bentuk eksistensi diri. Bagi orang-orang yang hanya ingin menggunakan
media sosial sebagai sarana menjaga silaturhami biasanya akan memilih
media social yang bersifat privat saja semisal Line, Blackberry Messenger,
WhatsUp, Path atau yang lainnya. Kalaupun dia masuk ke media yang
terbuka seperti facebook dan twitter maka mereka hanya akan menjadi
penonton dan pembaca yang baik dan melihat perkembangan terbaru yang
ada di media sosial.
Sedangkan
orang-orang
yang
ingin
eksistensinya
diakui
masyarakat luas melalui media sosial biasanya akan banyak menggunakan
media sosial yang sifatnya lebih terbuka seperti facebook atau twitter.
2
Karena disinilah tempat kita bisa bersinteraksi secara bebas dan terbuka.
Sehingga banyaknya update status serta tweet yang kita miliki adalah salah
satu bentuk jika kita ingin dikenal secara luas. Kita dikenal sebagai apa
dan siapa itu kita yang memutuskan. Karena apa yang kita tuliskan melalui
media sosial akan menjadi gambaran diri kita bagaimana kita
memposisikan diri dimata masyarakat luas. Maka, saat ini banyak
himbauan dan peringatan bagi para pengguna media sosial untuk berhatihati dalam membuat status maupun tweet melalui media sosial. Karena
setiap orang dapat melihat apa yang kita tulis tersebut.
Banyak orang yang saat ini memanfaatkan media sosial sebagai
ajang untuk menunjukkan keberadaan dirinya kepada dunia luar. Setiap
orang berlomba-lomba untuk menampilkan dan membuat branding tentang
dirinya kepada dunia luar. Melalui berbagai foto, video, pernyataan yang
ada di media sosial, seseorang ingin mengungkapkan kepada orang lain
bahwa inilah dirinya. Tidak jarang pula bahkan seseorang bisa bertindak
berlebihan untuk sekedar menunjukan eksistensi dirinya kepada orang lain.
Seperti yang disebutkan dalam konsep Dramaturgi karya Erving
Goffman bahwa Individu akan berlomba-lomba menampilkan dirinya
sebaik mungkin. Goffman mengasumsikan bahwa ketika orang-orang
berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan
diterima orang lain. Upaya ini disebut sebagai pengelolaan kesan
(impression management), yaitu teknik yang digunakan aktor untuk
memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai
3
tujuan tertentu (Mulyana, 2006:112). Dalam konsep dramaturgi,
kehidupan sosial manusia dimaknai sama seperti pertunjukkan drama
dimana terdapat aktor yang memainkan perannya.
Melihat teori dramaturgi diatas maka kita dapat menyimpulkan
bahwa setiap orang memiliki hasrat untuk menjadi titik perhatian pusat
bagi orang lain. Setiap orang memiliki keinginan untuk menunjukkan yang
terbaik dari yang mereka miliki untuk sekedar mendapakan pengakuan
dari orang lain. Kemampuan media sosial menyediakan fasilitas untuk
menjawab kebutuhan manusia akan aktualisasi diri menjadikan jejaring
sosial ini tidak hanya sebagai media berbagi informasi, tetapi juga sebagai
media yang tepat untuk menunjukkan eksistensi penggunanya. Karena
media sosial membantu seseorang untuk mampu terhubung dengan
lingkungan dunia maya yang lebih luas dibanding lingkungan asli. Media
sosial menjadi salah satu cara dalam membentuk suatu identitas seseorang.
Kemudahan yang didapat dan juga kenyataan sesungguhnya yang
mungkin saja dapat ditutupi melalui media sosial membuat orang selalu
ingin mengekspresikan dirinya sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Bahkan mungkin sampai sosok dirinya yang sebenarnya tidak dapat
diketahui.
Setidaknya hal tersebut dapat dilihat dari kegiatan serta berbagai
barang yang dibagikan pengguna melalui media sosial yang mereka miliki.
Pengguna tidak membagikan semua kegiatan serta semua barang atau
tempat yang telah dikunjunginya kedalam media sosial. Hanya tempat
4
tertentu yang memang sudah memiliki nilai prestise maupun nilai tertentu
bagi para pengguna media sosial, misalnya restoranl, cafe yang sedang
hits, barang-barang yang sedang menjadi tren di kalangan masyarakatdan
berbagai kegiatan lain yang seakan ingin menampilkan kelas-kelas sosial
tertentu. Media sosial digunakan oleh seseorang untuk menggambarkan
kepada orang lain bahwa beginilah kehidupan yang mereka miliki atau
sekedar beginilah kehidupan yang ingin mereka miliki.
Berdasarkan hasil riset Yahoo di Indonesia yang bekerja sama
dengan Taylor Nelson Sofres (Nurfian, 2013) pada tahun 2009, pengguna
terbesar internet adalah usia 15-19 tahun, sebesar 64 persen. Riset itu
dilakukan melalui survey terhadap 2000 informan. Sebanyak 53 persen
dari kalangan remaja itu mengakses internet melalui warung internet
(warnet), sementara sebanyak 19 persen mengakses viatelepon seluler.
Sebagai gambaran, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia pada
2009 menyebutkan, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai
25 juta. Pertumbuhannya setiap tahun rata-rata 25 persen. Riset Nielsen
juga mengungkapkan. Pengguna Facebook pada 2009 di Indonesia
meningkat 700 persen dibanding pada tahun 2008. Sementara pada periode
tahun yang sama pengguna twitter tahun 2009 meningkat 37 persen.
Sebagian pengguna berusia 15-39 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa
memang benar adanya pengguna situs jejaring sosial adalah dari kalangan
remaja usia sekolah.
5
Dari data diatas dapat kita lihat bagaimana perkembangan media
sosial terjadi sangat pesat, bahkan Facebook mengalami peningkatan
pengguna
pada
tahun
2009
sebanyak
700
%.
Hal
ini
dapat
menggambarkan bagaimana masyarakat memiliki minat yang amat besar
terhadap media sosial. Selain itu, data yang dapat kita lihat adalah
pengguna media sosial yang sebagian besar adalah usia remaja. Pengguna
dari kelompok usia ini mendominasi penggunaan media sosial begitu
besar. Sehingga dapat kita lihat bahwa sebagai pengguna terbesar.
Berkaitan dengan permasalahan yang dijabarkan sebelumnya
tentang media sosial dan juga penggunaannya bagi masyarakat. Terutama
penggunaan media sosial dalam membentuk eksistensi diri bagi seseorang.
Maka disini penulis ingin melakukan penelitian yang mengangkat
permasalahan tentang penggunaan media sosial sebagai eksistensi diri.
Dalam penelitian ini peneliti memilih subjek penelitian yakni mahasiswa
FISIP UNS angkatan 2015/2016.
2. Rumusan Masalah
Peneliti telah merumuskan masalah yang akan dijawab melalui penelitian
ini, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, Bagaimanakah motif
penggunaan media sosial oleh mahasiswa FISIP UNS angkatan 2015/2016
dalam hal eksistensi diri?
6
3. Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian yang ingin peneliti capai dalam penelitian ini adalah
untuk mengetahui motif penggunaan media sosial oleh mahasiswa FISIP
UNS angkatan 2015/2016 dalam hal eksistensi diri.
4. Landasan Teori
a. Komunikasi
Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari apa yang dinamakan
dengan komunikasi. Setiap saat dan dimanapun berada, manusia selalu
melakukan komunikasi dengan individu lainnya. Komunikasis sekedar untuk
berbasa-basi dan berbincang dengan orang lain merupakan salah satu jalan
dalam mempererat hubungan sosial. Melalui komunikasi, manusia bisa saling
bertukar informasi atau ide serta pengalaman yang pernah dialaminya selama
hidup. Adanya komunikasi yang baik diantara setiap individu dalam suatu
kelompok akan membawa pada suatu hubungan yang lebih baik. Komunikasi
merupakan sebuah kebutuhan bagi manusia, karena tanpa komunikasi maka
manusia akan mengalami masalah psikis. Karena pada dasarnya manusia
adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Komunikasi juga
merupakan bentuk usaha manusia dalam menjalin hubungan dengan orang
lain.
Komunikasi merupakan suatu proses sosial yang sangat mendasar
dan vital dalam kehidupan manusia. Dikatakan mendasar karena setiap
7
masyarakat manusia, baik yang primitif maupun yang modern,
berkeinginan mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai
aturan sosial melalui komunikasi. Dikatakan vital karena setiap individu
memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan individu – individu
lainnya sehingga meningkatkan kesempatan individu itu untuk tetap hidup
(Rakhmat, 2005:1).
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasl
dari bahasa
Latin
communis
yang berarti
“sama”,
communico,
communicatio, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make
common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering
sebagai asal usul komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin
lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu
makna, atau suatu pesan dianut secara sama (Mulyana, 2006 : 4).
Begitu banyak pengertian komunikasi yang coba ditawarkan oleh
beberapa ahli. beberapa diantaranya adalah Para ahli di Amerika Serikat yang
menaruh minat kepada perkembangan komunikasi, adalah Carl I. Hovlan,
yang pertama kali dalam karyanya Social Communication mengetengahkan
definisi mengenai ilmu komunikasi. Menurut Carl I. Hovland, “science of
communication” adalah :“a systematic attempt to formulate in rigorous
fashion the principles by which informationis transmitted and opinion and
attitude are formed” (upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar
asas-asas penyampaian Informasi serta pembentukan opini dan sikap)
(Effendi, 2003: 2).
8
Komunikasi dalam bahasa Inggris dikenal dengan Communication,
berasal dari kata latinCommunicatio, dan bersumber dari kata Communis
yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna (Effendi,
2003: 11). Jadi titik utama dalam komunikasi adalah untuk menciptakan
kesamaan pengertian atau persepsi mengenai suatu hal. Tanpa terjadinya
kesamaan pengertian atau persepsi antara komunikator dengan komunikan,
maka komunikasi tersebut dapat dianggap gagal. Karena komunikasi
merupakan kesamaan pengertian, maka terdapat hal-hal penting yang
harus diperhatikan dalam melakukan komunikasi. Salah satu hal yang
harus diperhatikan adalah tentang proses komunikasi itu sendiri, unsurunsur apa sajakah yang terdapat dalam komunikasi. Unsur-unsur yang
terdapat
dalam
proses
komunikasi
antara
lain
adalah,
sumber
(komunikator), pesan (message), saluran (channel) dan penerima
(komunikan) serta efek (effect) yang ditimbulkannya.
Berbagai unsur yang ada didalam komunikasi memiliki perannya
masing-masing dalam membangun komunikasi yang baik. Tanpa salah
satu unsure yang ada dalam komunikasi tersebut, tentunya komunikasi
akan mengalami permasalahan. Jika salah satu komponen tidak dapat
menjalankan
fungsinya
dengan
baik
maka
komunikasi
juga
akanmengalami permasalahan. Salah satu contoh apabila seorang
komunikator tidak dapat menyampaikan informasi dengan benar, maka
informasi yang akan diterima oleh komunikan akan berbeda dengan apa
yang diharapkan oleh komunikator.
9
Komunikasi pada hakikatnya adalah sebuah proses penyampaian
pesan oleh komunikator kepada komunikan. Menurut Onong Uchjana
Effendi (2003), pesan komunikasi terdiri dari dua aspek, pertama isi pesan
(the content of the message) lalu kedua, lambang (symbol). Tujuan dari
komunikasi itu sendiri yaitu, mengubah sikap, mengubah opini, mengubah
perilaku,
dan
mengubah
masyarakat.
Dalam
perkembangannya,
komunikasi juga memiliki fungsi tersendiri yaitu to inform, to educate, to
entertain, dan to influence.
Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of
Communication in Society dalam Effendy (2005: 10), mengatakan bahwa
cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah menjawab pertanyaan
sebagai berikut: Who Says What in Which Channel To Whom With What
Effect? Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi
meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu,
yakni:
- Komunikator ( communicator, source, sender )
- Pesan ( message )
- Media ( channel, media )
- Komunikan ( communicant, communicatee, receiver, recipient )
- Efek (effect, impact, influence)
Jadi berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah
proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui
media yang menimbulkan efek tertentu.
10
Apabila proses komunikasi dipandang dari arti yang lebih luas,
tidak hanya sebagai pertukaran berita atau pesan, tetapi sebagai kegiatan
individu dan kelompok. Maka komunikasi memiliki berbagai fungsi dalam
sistem sosial, seperti yang dikemukakan Widjaja dalam Komunikasi dan
Hubungan Masyarakat (2008: 9-10), sebagai berikut:
1. Informasi:
pengumpulan,
penyimpanan,
pemorsesan,
penyebaran berita, data, gambar, fakta, pesan, opini, dan
komentar yang dibutuhkan agar dapat dimengerti dan beraksi
secara jelas terhadap kondisi lingkungan dan orang lain agar
dapat mengambil keputusan yang tepat.
2. Sosialisasi: menunjuk pada upaya pendidikan, dimana adanya
penyediaan sumber ilmu pengetahuan yang memungkinkan
orang
bersikap
dan
bertindak
sebagaimana
anggota
masyarakat yang efektif sehingga ia sadar akan fungsi
sosialnya dan dapat aktif didalam masyarakat.
3.
Motivasi: menjelaskan tujuan setiap masyarakat jangka pendek
maupun jangka panjang, mendorong orang untuk menentukan
pilihan dan keinginannya, mendorong kegiatan individu dan
kelompok berdasarkan tujuan, mendorong kegiatan individu
dan kelompok berdasarkan tujuan bersama yang akan dikejar.
4.
Perdebatan dan diskusi: menyediakan dan saling menukar fakta
yang diperlukan untuk memungkinkan persetujuan atau
menyelesaikan perbedaan pendapat mengenai masalah publik,
11
menyediakan bukti-bukti relavan yang diperlukan utuk
kepentingan umum agar masyarakat lebih melibatkan diri
dengan masalah yang menyangkut kepentingan bersama.
5.
Pendidikan: pengalihan ilmu pengetahuan dapat mendorong
perkembangan
intelektual,
pembentukan
watak,
serta
membentuk keterampilan dan kemahiran yang diperlukan pada
semua bidang kehidupan.
6.
Memajukan kebudayaan: menyebarkan hasil kebudayaan dan
seni dengan maksud melestarikan warisan masa lalu,
mengembangkan kebudayaan dengan memperluas horison
seseorang
serta
membangun
imajinasi
dan
mendorong
kreatifitas dan kebutuhan estetikanya.
7.
Hiburan: memberikan hiburan kepada masyarakat, lewat
penyebarluasan signal, simbol, suara dan imajinasi dari drama,
tari, kesenian, kesusatraan, music, olahraga, kesenangan,
kelompok dan individu, melalui media masa, eltronik dsb,
sehingga masyarakat dapat menikmati hiburan, dan melarikan
diri dri kesulitan hidup sehari-hari, dan lain-lain.
8.
Integrasi: menyediakan bagi bangsa, kelompok, dan individu
kesempatan untuk memperoleh berbagai pesan yang mereka
perlukan agar mereka dapat saling kenal dan mengerti serta
menghargai kondisi pandangan dan keinginan orang lain.
12
Berbagai fungsi yang dimiliki komunikasi dalam proses sosial
manusia memiliki peran penting didalam masyarakat. Komunikasi tidak
hanya
dianggap
sebagai
sebuah
kegiatan
yang
sekedar
untuk
bersilaturahmi dan membangun hubungan saja. Namun komunikasi
memiliki fungsi yang lebih luas sebagai sebuah proses sosial diantara
setiap individu. Hiburan, pendidikan, integrasi, penyatuan, sosialisasi,
musyawarah atau diskusi merupakan bentuk-bentuk fungsi komunikasi.
b. Komunikasi Massa
Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dirumuskan oleh
Bitner sebagai berikut “mass communication is message communicated
through mass medium to a large number of people. Dapat diartikan disini
bahwa komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui
media massa pada sejumlah besar orang. (Rakhmat, 2005: 188)
Defenisi komunikasi massa yang dikemukakan oleh Bittner yakni
“komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media
massa pada sejumlah orang besar”. Sedangkan defenisi komunikasi massa
yang lebih rinci dikemukakan oleh ahli komunikasi yakni Gerbner
“kommunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan
teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontiniu serta paling luas
dimiliki orang dalam masyarakat industri (Ardianto, 2004:4).
13
Komunikasi massa merupakan salah satu bentuk komunikasi yang
membutuhkan media sebagai alat untuk menyampaikan informasi dari
komunikator kepada komunikan. Media dalam komunikasi massa adalah
media massa seperti radio, televisi, majalah, koran, film, maupun melalui
media
internet.
Komunikasi
massa
memiliki
kelebihan
dalam
menyampaikan pesan atau informasi kepada khalayak luas. Salah satu
kelebihan komunikasi massa apabila dibandingkan dengan bentuk
komunikasi lainnya adalah kemampuan komunikasi massa dalam
menyampaikan informasi kepada khalayak yang luas. Maksudnya adalah
melalui media massa yang dapat menjangkau khalayak yang luas.
Sementara itu, menurut Jay Black dan Frederick C (Nurudin, 2008 :
12) disebutkan bahwa komunikasi massa adalah sebuah proses dimana pesanpesan yang diproduksi secara massal/tidak sedikit itu disebarkan kepada
massa penerima pesan yang luas, anonim, dan heterogen.
Berdasarkan pengertian tentang komunikasi massa yang sudah
dikemukakan oleh para ahli komunikasi di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media
massa seperti radio, televise, koran, majalah maupun media internet.
Penggunaan media tersebut adalah bertujuan untuk informasi yang ditujukan
kepada sejumlah khalayak (komunikan). Komunikan dalam komunikasi
massa adalah heterogen yakni berbeda-beda secara golongan, kelompok
maupun sosial dan khalayak anonim sehingga pesan yang sama dapat diterima
secara serentak. Dengan menggunakan media massa yang mampu
14
menjangkau khalayak luas maka keserentakan pesan dapat diterima, terlebih
apabila menggunakan media internet.
Dalam komunikasi massa, menurut Winarni dapat dipusatkan pada
komponen-komponen komunikasi massa, yaitu variabel yang dikandung
dalam setiap tindak komunikasi dan bagaimana variabel ini bekerja pada
media massa, kelima komponen yang terkandung didalam komunikasi
massa adalah:
1. Sumber. Komunikasi massa adalah suatu organisasi kompleks
yang
mengeluarkan
biaya
besar
untuk
menyusun
dan
mengirimkan pesan.
2. Khalayak. Komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan
kepada massa, yaitu khalayak yang jumlahnya besar yang bersifat
heterogen dan anonim.
3. Pesan. Pesan dalam komunikasi massa bersifat umum, maksudnya
adalah setiap orang bisa mengetahui pesan-pesan komunikasi dari
media massa.
4. Proses. Ada dua proses dalam komunikasi massa yaitu:
 Komunikasi
massa
merupakan
proses
satu
arah.
Komunikasi ini berjalan dari sumber ke penrima dan tidak
secara langsung dikembalikan kecuali dalam bentuk umpan
balik tertunda.
15
 Komunikasi massa merupakan proses dua arah (Proses
seleksi). Baik media ataupun khalayak melakukan seleksi.
Media
menyeleksi
khalayak
sasaran
atau
penerima
menyeleksi dari semua media yang ada, pesan manakah
yang mereka ikuti.
5. Konteks komunikasi massa berlangsung dalam suatu konteks
sosial. Media mempengaruhi konteks sosial masyarakat, dan
konteks sosial masyarakat mempengaruhi media massa. (Winarni,
2003 : 4-5)
Komunikasi massa, seperti bentuk komunikasi lainnya, memiliki ciriciri tersendiri. Menurut Nurudin dalam bukunya yang berjudul Pengantar
Komunikasi Massa (2008 : 19), menjelaskan ciri komunikasi massa sebagai
berikut:
1. Komunikator dalam Komunikasi Massa Melembaga
Komunikator dalam komunikasi massa bukan satu orang, tetapi
kumpulan orang. Artinya, gabungan antarberbagai macam unsur
dan bekerja sama satu sama lain dalam sebuah lembaga.
2. Komunikasi dalam Komunikasi Massa Bersifat Heterogen
Komunikan
dalam
komunikasi
massa
sifatnya
heterogen/beragam. Artinya, komunikan terdiri dari beragam
pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi, jabatan
yang beragam, dan memiliki agama atau kepercayaan ynag
berbeda pula.
16
3. Pesannya Bersifat Umum.
Pesan-pesan dalam komunikasi massa tidak ditujukan kepada
satu orang atau kelompok masyarakat tertentu. Dengan kata lain,
pesan-pesannya ditujukan kepada khalayak yang plural.
4. Komunikasinya Berlangsung Satu Arah
Pada media massa, komunikasi hanya berjalan satu arah. Kita
tidak bias langsung memberikan respon kepada komunikatornya
(media massa yang bersangkutan).
5. Komunikasi Massa Menimbulkan Keserempakan
Salah satu ciri komunikasi massa selanjutnya adalah adanya
keserempakan dalam proses penyebaran pesannya. Serempak
berarti khalayak bisa menikmati media massa tersebut hampir
bersamaan.
6. Komunikasi Massa Mengandalkan Peralatan Teknis
Media massa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan
kepada khalayaknya sangat membutuhkan bantuan peralatan
teknis. Peralatan teknis yang dimaksud misalnya pemancar untuk
media elektronik (mekanik atau elektronik).
Sebagai suatu proses komunikasi, komunikasi massa juga memiliki
efek yang diterima oleh khalayaknya. Menurut Liliweri, (2004:39), secara
umum terdapat tiga efek komunikasi massa, yaitu:
17
1. Efek kognitif, dimana pesan komunikasi massa mengakibatkan
khalayak berubah dalam hal pengetahuan, pandangan, dan
pendapat terhadap sesuatu yang diperolehnya.
2. Efek afektif, dimana pesan komunikasi massa mengakibatkan
berubahnya perasaan tertentu dari khalayak. Orang dapat
menjadi lebih marah dan berkurang rasa tidak senangnya
terhadap suatu akibat membaca surat kabar, mendengarkan
radio atau menonton televisi.
3. Efek konatif, dimana pesan komunikasi massa mengakibatkan
orang mengambil keputusan untuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu. Efek ini merujuk pada prilaku nyata yang
dapat diminati, yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau
kebiasaan berprilaku.
c. Media Sosial
Internet menjadi salah satu bentuk komunikasi massa yang saat ini
berkembang dengan cepat. Media massa dengan menggunakan internet
adalah bentuk media baru yang tercipta karena ditemukannya jaringan
internet. Manusia saat ini dapat terhubung dengan orang lain yang
berlainan tempat tinggal bahkan terpisah jauh. Melalui internet seseorang
juga dapat melakukan interaksi dengan orang lain melalui sebuah media
yang terhubung dengan internet. Masalah komunikasi yang dulunya
seputar keterbatasan ruang dan waktu saat ini dapat teratasi karena adanya
18
internet. Sebagai contoh dengan menggunakan aplikasi media sosial kita
dapat berhubungan dan berinteraksi secara tatap muka dengan perantara
internet. Skype merupakan contoh aplikasi yang dapat digunakan.
Internet yang selain memungkinkan untuk transformasi elektronik,
yang disebut dengan new media, juga dapat menghubungkan manusia
diseluruh dunia, yaitu dalam proses interaksi. Itu sebabnya, proses
interaksi melalui teknologi dengan media internet disebut dengan
intetactive media. Hal tersebut juga menjadikan perkembangan bagi proses
komunikasi yang memungkinkan proses tersebut tidak selalu melalui tatap
muka. Kegunaan utama internet seperti halnya ARPANET, yaitu
mengirim pesan email dalam bahasa „sesungguhnya‟ antara seseorang
dengan lainnya (Burke, 2000: 380).
Internet
(interconnection
networking)
merupakan
jaringan
komputer yang dapat menghubungkan suatu komputer atau jaringan
komputer dengan jaringan komputer lain, sehingga dapat berkomunikasi
atau berbagi data tanpa melihat jenis komputer itu sendiri. Seperti yang
diketahui internet merupakan bentuk konvergensi dari beberapa teknologi
penting terdahulu, seperti komputer, televisi, radio, dan telepon (Bungin,
2006 : 135).
Media sosial merupakan salah satu bentuk perkembangan dari
adanya internet. Melalui media sosial, seseorang dapat saling terhubung
dengan setiap orang yang tergabung dalam media sosial yang sama untuk
19
berbagi informasi dan berkomunikasi. Media sosial memiliki sifat yang
lebih interaktif apabila dibandingkan dengan bentuk media tradisional
seperti radio maupun televise. Melalui media sosial, kita dapat secara
langsung berinteraksi dengan orang lain, baik melalui komentar dalam
media sosial maupun dengan sekedar memberikan tanda like pada setiap
postingan seseorang.
Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan
media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang
dibangun di atas dasar ideology dan teknologi web 2.0 dan memungkinkan
penciptaan dan pertukaran user-generated content. Web 2.0 menjadi
platform dasar media sosial. Media sosial ada dalam berbagai bentuk yang
berbeda, termasuk social network, forum internet, weblogs, social blogs,
micro blogging, wikis, podcasts, gambar, video, ratting, dan bookmark
sosial (Weber dalam Lesmana, 2012:10)
Sebuah studi University of Georgia menunjukkan bahwa situs
jaringan sosial online seperti Facebook mungkin menjadi alat yang
berguna untuk mendeteksi apakah seseorang adalah seorang narsisis.
"Penemuan bahwa orang yang narsis menggunakan Facebook dalam
mempromosikan diri dengan cara yang dapat diidentifikasi oleh orang
lain," kata penulis utama Laura Buffardi, mahasiswa program doktor
dalam bidang psikologi yang turut menulis penelitian dengan associate
20
professor
W.
Keith
Campbell.
(selengkapnya:
esciencenews.com/
articles/2008 /09/22/study.facebook.profiles.can.be)
Komunikasi menggunakan media sosial berarti seseorang telah
terhubung dengan jaringan besar yang terhubung satu sama lainnya
melalui jaringan internet. Media sosial memiliki kemampuan untuk
menghapus batasan-batasan dalam bersosialisasi yang selama ini menjadi
permasalahan dalam berkomunikasi. Dalam media sosial tidak ada batasan
ruang dan waktu, mereka dapat berkomunikasi kapanpun dan dimanapun
mereka berada. Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial mempunyai
pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang. Dengan menggunakan
media sosial, seseorang dapat menjalin hubungan dengan orang lain yang
bahkan mungkin belum pernah bertemu sebelumnya.
Saat ini perkembangan media sosial dapat terlihat dari banyaknya
bentuk aplikasi media sosial yang digunakan masyarakat. Semakin
banyaknya pengguna media sosial juga dikarenakan setiap orang bisa
memiliki media sosial mereka sendiri sendiri. Jika media tradisional
seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan biaya dan tenaga yang
banyak, maka lain halnya dengan media sosial. Media sosial dapat diakses
dengan biaya yang murah dan juga tidak membutuhkan tenaga yang
banyak untuk mengaksesnya. Sangat mudah dan tidak membutuhkan
waktu yang lama bagi seseorang dalam membuat akun di media sosial.
21
Bagi masyarakat Indonesia khususnya kalangan remaja, media
sosial telah menjadi hal yang tidak dapat terpisahkan dalam sehari-hari.
Media sosial terbesar yang paling sering digunakan oleh kalangan remaja
antara lain; Facebook, Twitter, Path, Youtube, Instagram, Kaskus, LINE,
Whatsapp, Blackberry Messenger. Masing-masing media sosial tersebut
mempunyai keunggulan khusus dalam menarik banyak pengguna media
sosial yang mereka miliki. Berbagai bentuk media sosial yang ada saat ini
juga menjadi sarana bagi remaja dalam mengekspresikan diri mereka.
Maksudnya adalah, melalui media sosial, para remaja dapat membagikan
apa yang mereka fikirkan, kerjakan ataupun dimana mereka berada kepada
orang lain melalui media sosial. Sehingga dengan hal begitu remaja ingin
untuk mendapatkan pengakuan serta bukti keberadaannya di media sosial
kepada orang lain.
d. Eksistensi Diri
Salah satu fungsi komunikasi adalah untuk sarana dalam
aktualisasi diri seseorang. Dari proses komunikasi, seseorang ingin
mendapatkan pengakuan dari orang lain bahwa dia ada dan menjadi
seseorang yang harus dianggap. Maksudnya adalah dengan menggunakan
komunikasi, saat kita berinteraksi dengan orang lain, maka kita ingin apa
yang kita sampaikan diperhatikan oleh orang lain. Selain itu dengan
komunikasi, kita juga dapat menyampaikan apa yang menjadi pemikiran
kita. Dengan begitu orang lain akan memperhatikan dan menghargai kita.
22
Kata eksistensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
diartikan sebagai hal berada; keberadaan. Jika diaplikasikan dalam
eksistensi diri yang digunakan dalam diri remaja untuk menggunakan
media sosial sebagai cara untuk menunjukkan eksistensi diri. Eksistensi
diri diartikan sebagai usaha individu dalam mendapatkan pengakuan oleh
orang lain tentang keberadaan dirinya. Dengan menggunakan media sosial,
setiap individu berusaha untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain
tentang eksistensi dirinya. Banyak cara yang dilakukan oleh individu
untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Secara etimologi, eksistensialisme berasal dari kata eksistensi,
eksistens berasal dari bahasa Inggris yaitu excitence; dari bahasa
latinexistere yang berarti muncul, ada, timbul, memilih keberadaan aktual.
Dari kata ex berarti keluar dan sistere yang berarti muncul atau timbul.
Beberapa pengertian secara terminologi, yaitu pertama, apa yang ada,
kedua, apa yang memiliki aktualitas (ada), dan ketiga adalah segala
sesuatu (apa saja) yang di dalam menekankan bahwa sesuatu itu ada.
Berbeda dengan esensi yang menekankan kealpaan sesuatu (apa
sebenarnya sesuatu itu seseuatu dengan kodrat inherennya) (Lorens, 2005:
183).
Salah satu cara untuk memenuhi keinginan kita agar dapat
diperhitungkan atau dianggap oleh orang lain adalah dengan menggunakan
media sosial. Melalui media sosial kita dapat menyampaikan apa yang kita
fikirkan, apa yang kita lakukan dan orang lain dapat membaca maupun
23
melihat aktifitas kita melalui media sosial. Media sosial yang menjadi
jaringan luas dengan orang lain dapat kita jadikan sarana dalam berbagi
hal-hal tertentu. Pemenuhan keinginan kita sebagai manusia adalah untuk
selalu menjadi yang terbaik, dan menampilkan apa yang terbaik dari diri
kita. Hal tersebut menjadi latar belakang penggunaan media sosial yang
semakin gencar dilakukan. Disinilah konsep eksistensi diri seringkali
terbentuk dalam penggunaan media social. Dimana saat ini, semakin
banyaknya ragam media social.
Sementara itu dalam menggunakan media social, seseorang
memiliki motif atau latar belakang yang menyebabkan dia menggunakan
media social. Teori komunikasi yang membahas mengenai motif seseorang
dalam menggunakan media adalah teori uses and gratification. Teori Uses
and Gratifications dikenalkan tahun 1974 dalam bukuThe Uses on Mass
Communications : Current Perspective on Gratification Research. Teori
Uses and Gratifications milik Blumer dan Katz yang mengatakan bahwa
pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan
media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif
dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha untuk mencari
sumber media yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya.
Artinya, Teori Uses and Gratifications mengasumsikan bahwa pengguna
mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya. (Nurudin,
2008: 192)
24
Teori uses and gratification dapat kita gunakan dalam mempelajari
penggunaan media untuk tujuan tertentu. Dalam hal ini, peneliti
memusatkan permasalahan tentang penggunaan media sosial dalam
memenuhi keinginan eksistensi dari pengguna media sosial. Karena tidak
dapat dipungkiri, media sosial saat ini banyak digunakan untuk tampil
eksis di media sosial. Saat ini semua orang berlomba-lomba agar dapat
menampilkan yang terbaik dari dirinya. Eksistensi pada dasaraya
adalahkeinginan seseorang untuk dapat diakui atau ingin dianggap ada
oleh lingkungan sekitar, atau paling tidak oleh pengguna media sosial
yang lain. Bahkan tidak jarang seseorang melakukan pemalsuan jati diri
agar dapat dianggap eksis oleh orang lain.
Seperti yang disebutkan dalam konsep Dramaturgi karya Erving
Goffman bahwa Individu akan berlomba-lomba menampilkan dirinya
sebaik mungkin. Goffman mengasumsikan bahwa ketika orang-orang
berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan
diterima orang lain. Upaya ini disebut sebagai pengelolaan kesan
(impression management), yaitu teknik yang digunakan aktor untuk
memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai
tujuan tertentu (Mulyana, 2006:112). Dalam konsep dramaturgi,
kehidupan sosial manusia dimaknai sama seperti pertunjukkan drama
dimana terdapat aktor yang memainkan perannya.
Berdasarkan konsep tentang eksistensi serta konsep dramaturgi
serta dengan berlandaskan pada teori uses and gratification tersebut,
25
peneliti ingin melihat penggunaan media sosial dalam melakukan
eksistensi diri. Hubungan dari konsep tentang eksistensi dengan teori uses
an yakni adalah pengguna media social memiliki motif yang mendasari dia
menggunakan media social adalah untuk menunjukkan eksistensinya.
Sedangkan teori dramaturgi menjadi acuan untuk mengamati seseorang
dalam perilakunya untuk menunjukkan keberadaannya dilingkungan
sosialnya. Sementara itu, dikalangan remaja, eksistensi diri seakan menjadi
hal yang paling penting dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Peneliti akan melakukan penelitian ini terhadap mahasiswa FISIP UNS
yakni pada angkatan 2015/2016. Kenapa peneliti menjadikan mahasiswa
sebagai sample adalah karena mahasiswa merupakan umur remaja dewasa.
Tentu umur ini berbeda dengan remaja yang masih duduk di bangku SMP
maupun SMA.
5. Metode Penelitian
a. Tipe Penelitian
Dalam skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan penelitian
kualitatif-deskriptif, yang mana penelitian dilakukan dengan cara
pengamatan langsung terhadap objek penelitian dan kemudian dilanjutkan
dengan melakukan wawancara mendalam dengan informan menggunakan
pedoman wawancara yang telah disesuaikan dengan fokuspenelitian.
Dalam cakupan definisi, menurut Bungin (2006:68) bahwa penelitian
kualitatif adalah penelitian yang bersifat studi kasus yang bertujuan untuk
26
menggambarkan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi atau
berbagai fenomena realitas sosial yang ada dalam masyarakat yang
menjadi objek penelitian yang berupaya menarik realitas itu kepermukaan
sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang
kondisi, situasi, ataupun fenomena tertentu. Sedangkan metode penelitian
kualitatif menurut Lexy J. Moleong (Sudarto, 1995: 63-64) berdasarkan
pada pondasi penelitian, paradigma penelitian, perumusan masalah, tahaptahap penelitian, teknik penelitian, kriteria dan teknik pemeriksaan data
dan analisis dan penafsiran data.
Sedangkan pengertian deskriptif-kualitatif adalah peneltian yang
mempelajari masalah-masalah yang ada serta tata cara kerja yangberlaku.
Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan apaapa yang saat ini berlaku. Di dalamnya terdapat upaya mendeskripsikan,
mencatat, analisis dan menginterpretasikan kondisi yang sekarang ini
terjadi atau ada. Dengan kata lain penelitian deskriptif kualitatif ini
bertujuan untuk memperoleh informasi-informasi mengenai keadaan yang
ada. (Mardalis, 1999:26)
b. Desain Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode wawancara
untuk menjalankan penelitian. Dalam wawancara, informasi disampaikan
dari informan dengan menggunakan wawancara secara langsung.
Wawancara dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan metode
27
wawancara mendalam (in depth interview) yakni proses memperoleh
keterangan atau informasi untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab
sambil bertatap muka langsung dengan informan atau informan. Dalam
penelitian ini digunakan sebuah interview guide yakni daftar pertanyaan
yang dijadikan pedoman peneliti dalam memperoleh data dari informan
terkait dengan tujuan penelitian.
Dalam melakukan
wawancara, peneliti
tidak hanya
akan
memperhatikan jawaban-jawaban dari informan terkait jawaban yang
diajukan oleh peneliti. Peneliti juga akan memperhatikan intonasi suara,
gerakan tubuh serta mimik muka dari informan yang digunakan sebagai
pelengkap dalam mengolah hasil wawancara. Peneliti akan menjabarkan
setiap jawaban dari informan guna memperoleh hasil wawancara yang
baik.
c. Objek Penelitian dan Unit Analisis
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah pola penggunaan
media sosial untuk keperluan eksistensi pada mahasiswa. Objek penelitian
menjadi hal yang akan diperhatikan atau indikator yang akan dicari dalam
penelitian ini. Sementara itu unit analisis adalah unit-unit yang akan
menjadi subjek penelitian. Dalam penelitian ini, yang menjadi subjek
penelitian adalah mahasiswa FISIP UNS angkatan 2015.
28
d. Definisi Operasional
Untuk membatasi penjabaran penelitian, maka peneliti memberikan
definisi operasional.
1. Komunikasi
komunikator
adalah
proses
penyampaian
kepada
komunikan
melalui
pesan
oleh
media
yang
menimbulkan efek tertentu.
2. Media sosial Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein
mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi
berbasis internet yang dibangun di atas dasar ideology dan
teknologi web 2.0 dan memungkinkan penciptaan dan
pertukaran user-generated content. Web 2.0 menjadi platform
dasar media sosial. Media sosial ada dalam berbagai bentuk
yang berbeda, termasuk social network, forum internet, weblogs,
social blogs, micro blogging, wikis, podcasts, gambar, video,
ratting, dan bookmark sosial (Weber dalam Lesmana, 2012:10)
3. Eksistensi Diri. Kata eksistensi dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) diartikan sebagai hal berada; keberadaan. Jika
diaplikasikan dalam eksistensi diri yang digunakan dalam diri
remaja untuk menggunakan media sosial sebagai cara untuk
menunjukkan eksistensi diri.
4. Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui
media massa pada sejumlah orang besar
29
5. Penelitian kualitatif menurut Bungin (2006:68) bahwa penelitian
kualitatif adalah penelitian yang bersifat studi kasus yang
bertujuan untuk menggambarkan, meringkas berbagai kondisi,
berbagai situasi atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada
dalam masyarakat yang menjadi objek penelitian yang berupaya
menarik realitas itu ke permukaan sebagai suatu ciri, karakter,
sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi,
ataupun fenomena tertentu.
6. Wawancara merupakan metode penelitian kualitatif dengan cara
melakukan tanya jawab antara peneliti dengan informan
penelitian secara bertatap muka langsung. Dalam metode
wawancara digunakan suatu interview guide sebagai pedoman
peneliti.
7. Interview guide merupakan suatu daftar pertanyaan yang
digunakan
peneliti
untuk
dijadikan
pedoman
dalam
mendapatkan informasi dari informan. Interview guide biasanya
dimulai dengan pertanyaan ringan dan berkembang menjadi
pertanyaan mendalam.
8. Mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang
memperoleh statusnya karena ikatan dengan perguruan tinggi.
Mahasiswa juga merupakan calon intelektual atau cendekiawan
muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat
dengan berbagai predikat.
30
9. Universitas
Sebelas
Maret
Surakarta,
biasa
disingkat
sebagai UNS, atau Universitas Sebelas Maret adalah salah
satu universitas negeri di Indonesia yang berada di Kota
Surakarta. Universitas yang giat membangun ini, menyediakan
berbagai paket pendidikan diploma, sarjana, pasca sarjana dan
doktoral.
e. Subjek Penelitian
Riset kualitatif tidak bertujuan untuk membuat generalisasi hasil riset.
Hasil riset lebih bersifat kontekstual dan kausistik, yang berlaku pada
waktu dan tempat tertentu sewaktu riset dilakukan, karena itu pada riset
kualitatif tidak dikenal istilah sampel. Sampel pada riset kualitatif disebut
informan atau subjek riset, yaitu orang-orang dipilih untuk diwawancarai
atau diobservasi sesuai tujuan riset. Disebut subjek riset, bukan objek,
karena informan dianggap aktif mengkonstruksi realitas, bukan sekedar
objek yang hanya mengisi kuesioner (Kriyantono, 2009: 163).
Sedangkan yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah
mahasiswa FISIP UNS angkatan 2015 dari seluruh jurusan. Pengambilan
subjek penelitian atau informan ini dilakukan dengan menggunakan teknik
penarikan sampel bola salju (snowball sampling). Teknik snowball
sampling banyak ditemui dalam riset kualitatif. Sesuai namanya, teknik ini
bagaikan bola salju yang turun menggelinding dari puncak gunung ke
lembah, semakin lama semakin membesar ukurannya. Jadi, teknik ini
31
merupakan teknik penentuan subjek penelitian yang awalnya berjumlah
kecil, kemudian berkembang semakin banyak. Orang yang dijadikan
informan pertama diminta memilih atau menunjuk orang lain untuk
dijadikan informan lagi, begitu seterusnya sampai jumlahnya lebih banyak.
Sehingga beberapa orang pertama tersebut menjadi titik awal pemilihan
informan. Proses ini baru berakhir bila periset merasa data telah jenuh,
artinya periset merasa tidak lagi menemukan sesuatu yang baru dari
wawancara (Kriyantono, 2009:158-159).
f. Sumber Data
Terdapat dua macam sumber data dalam penelitian ini. Kedua sumber
data tersebut adalah sebagai berikut:
1. Data Primer: adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh
peneliti secara langsung dari sumber datanya. Jadi data primer adalah
data baru yang ditemukan setelah melakukan pengumpulan data dalam
penelitian. Sehingga dengan begitu data primer hanya dapat didapatkan
setelah peneliti melakukan analisis data. Sedangkan yang menjadi data
primer dalam penelitian ini adalah berbentuk hasil wawancara yang
dilakukan selama penelitian.
2. Data Sekunder: merupakan data yang sudah tersedia sehingga kita
tinggal mencari dan mengumpulkan. Data sekunder dapat dicari
melalui berbagai sumber seperti buku, jurnal maupun bentuk sumber
32
data kedua yang dapat digunakan sebagai tambahan data. Kita juga
dapat menggunakan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang
memiliki keterkaitan dengan penelitian yang kita lakukan. Sedangkan
data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbagai
buku, jurnal serta penelitian yang dilakukan sebelumnya.
g. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara yang dilakukan seorang
peneliti dalam mengumpulkan data penelitian yang diperlukan selama
penelitian. Dengan menggungakan metode pengumpulan data yang tepat
degan memperhatikan objek penelitian, maka akan memungkinkan
tercapainya pencapaian data yang valid serta terpercaya. Terdapat
beberapa bentuk teknik pengumpulan data yang dapat digunakan dalam
penelitian. Wawancara, observasi, maupun survey merupakan beberapa
bentuk pengumpulan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan
peneliti ini adalah dengan menggunakan metode wawancara. Wawancara
adalah metode penelitian yang menggunakan metode tanya jawab secara
tatap muka antara peneliti dengan informan yang digunakan dalam
penelitian. Dalam metode wawancara, pemilihan sampel harus dilakukan
dengan cara yang tepat. Sementara itu dalam metode wawancara
digunakan suatu interview guide yang menjadi pedoman wawancara.
Interview guide merupakan daftar pertanyaan yang akan digunakan
peneliti untuk mendapatkan informasi dari informan penelitian.
33
h. Teknik Analisis Data
Mengingat penelitian ini adalah penelitian kualitatif, maka
dalamproses analisisnya penelitian ini akan sangat relevan jika
menggunakan
model
analisis
deskriptif,
untuk
itu
kemudian
dikonstruksikan tahapan analisis dengan diawali pengumpulan informasi,
Pengumpulan informasi yang dilakukan dengan teknik wawancara akan
didapatkan bentuk informasi yang dapat direkam. Informasi yang telah
didapatkan selama wawancara kemudian akan diolah oleh peneliti.
Kemudian selanjutnya peneliti akan mendeskripsikan hasil wawancara
yakni informasi yang telah didapatkan. Artinya peneliti berusaha
menggambarkan serta menjelaskan tentang penggunaan media sosial
dalam tujuannya untuk melakukan eksistensi diri oleh para mahasiswa
FISIP UNS tahun angkatan 2015/2016.
Lebih ringkasnya dapat penulis jelaskan tahapan analisis data yang
penulis lakukan dalam mengetahui penggunaan media sosial dalam
melakukan eksistensi diri oleh mahasiswa FISIP UNS 2015/2016 adalah
sebagai berikut :
1. Peneliti akan menentukan sampel dalam populasi penelitian ini,
yakni populasi dari mahasiswa FISIP UNS angkatan tahun
2015/2016.
2. Setelah sampel ditentukan, peneliti akan melakukan wawancara
mendalam (in depth interview) terhadap sampel. Dalam
34
wawancara ini akan digunakan interview guide sebagai
pedoman wawancara.
3. Selesai wawancara, peneliti akan mengolah informasi yang
telah didapatkan dari sampel.
4. Kemudian peneliti akan menyimpulkan hasil penelitian setelah
mendeskripsikan informasi dari sampel.
35
Download