makalah-reksadana-syariah

advertisement
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Kata Pengantar
Banyak literatur dan tokoh yang membahas tentang ekonomi syariah atau
ekonomi Islam, tetapi pada dasarnya mereka berpijak pada landasan yang yang sama
yaitu bahwa ekonomi syariah adalah ekonomi yang berkeadilan, mendorong kegiatan
investasi atau produksi daripada konsumsi, dan dilaksanakan oleh orang-orang yang
amanah/jujur dengan berpegang teguh pada nilai-nilai moral. Ciri-ciri ekonomi
syariah tersebut sebenarnya bersifat universal yang berlaku untuk dan diterima oleh
siapa saja serta di mana saja karena Islam merupakan sistem nilai yang ditujukan bagi
tercapainya kesejahteraan seluruh alam.
Realitasnya, kita sebagai bangsa yang mayoritas beragama Islam tidak meyakini
kebenaran nilai-nilai tersebut sehingga kita kurang melihat aplikasinya di dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk di dalam kehidupan ekonomi dan
sosial. Menggunakan produk keuangan, di jaman seperti ini rasanya sudah tidak
mungkin dihindari. Adanya lembaga keuangan perbankan, selain sebagai digunakan
untuk mempermudah transaksi juga dapat digunakan sebagai sarana investasi.
Asuransi juga sekarang memiliki peran sebagai alat investasi berbarengan dengan
fungsi utamanya untuk memberikan proteksi. Tidak puas dengan hanya investasi di
perbankan dan asuransi, masyarakat juga mulai banyak melirik reksa dana sebagai
alternatif yang memberikan hasil lebih baik.
Secara singkat, produk keuangan sekarang bukan lagi suatu hal yang baru. Malah
sudah menjadi suatu kebutuhan untuk hampir semua orang. Beberapa tahun ini istilah
bank syariah sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia yang sebagian
besar memeluk agama Islam. Kelahiran bank itu berawal dari keinginan
melaksanakan transaksi perbankan yang sejalan dengan prinsip syariah, terutama
bebas riba atau bunga. Adalah sebuah kenyataan bahwa perbankan syariah semakin
unjuk gigi dan meneguhkan eksistensinya dalam percaturan ekonomi dewasa ini.
1
Bahkan
perbankan
syariah
semakin
menunjukkan
performansi
yang
menggembirakan.
Hal ini bisa dilihat dari beberapa indikator, yaitu antara lain meningkatnya jumlah
nasabah yang menitipkan dananya pada bank syariah, bertambahnya jumlah kantor
cabang bank syariah yang berdampak pada peningkatan daya serap tenaga kerja yang
dibutuhkan. Investasi di luar sektor perbankan seperti investasi di pasar modal,
investasi yang aman secara duniawi belum tentu aman dari sisi akhiratnya.
Maksudnya, investasi yang sangat menguntungkan sekalipun belum tentu aman kalau
dilihat dari sisi syariah Islam. Investasi hanya dapat dilakukan pada instrumen
keuangan yang sesuai dengan syariah Islam dan tidak mengandung unsur riba. Untuk
sistem perekonomian di Indonesia pada saat ini, berdasarkan UU Pasar Modal hanya
meliputi beberapa hal, yaitu instrumen saham yang sudah melalui penawaran umum
dan pembagian dividen didasarkan pada tingkat laba usaha, penempatan dalam
deposito pada Bank Umum Syariah, surat utang jangka panjang, baik berupa obligasi
maupun surat utang jangka pendek yang tidak lazim diperdagangkan di antara
lembaga keuangan syariah, yaitu termaasuk jual beli utang (ba’i ad-dayn) dengan
segala kontroversinya.
Dan berbicara masalah investasi, ada satu lagi produk investasi yang sudah
menyesuaikan diri dengan aturan-aturan syariah yaitu Reksa Dana. Produk investasi
ini bisa menjadi alternatif yang baik untuk menggantikan produk perbankan yang
pada saat ini dirasakan memberikan hasil yang relatif kecil.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana tinjauan umum Reksadana Syariah?
C. Tujuan Penulisan
Memberikan pengetahuan secara komprehensif mengenai Reksadana Syariah
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Reksadana Syariah
Ditinjau dari asal kata, reksa dana berasal dari kosa kata “reksa´yang artinya
“mengelola” atau “ memelihara” dan “dana “ yang berati “uang”. Namun reksa dana
tidak bisa di artikan “mengelola uang” menurut Undang-Un dang Nomor 8 tahun
1998 tentang pasar modal, reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk
menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya di investasikan dalam
fortofolio efek oleh menejer investasi.1
Portofolio merupakan serangakaian kombinasi beberapa aktiva yang di
investasikan dan di pegang oleh pemodal baik perorangan maupun lembaga.
Kombinasi aktiva tersebut bisa berupa aktiva rill maupun finansial, ataupun
keduannya. Seorang yang menginvestasikan dananya dipasar modal biasanya tidak
hanya memilih satu saham saja alasannya dengan melakukan kombinasi saham,
pemodal bisa meraih return yang optimal sekaligus akan memperkecil resiko melalui
diservikasi tersebut Sunariyah (2009 : 94).
Sedangkan reksa dana syariah adalah reksa dana yang beroperasi menurut
ketentuan dan prinsip syariah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai
pemilik harta (sahib al-mal) dengan manajer investasi sebagai wakil shahib al-mal,
maupun antara menejer investasi sebagai wakil shahib al-mal dengan pengguna
investasi.
Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Nomor 20/DSN-MUI/IX/2000,
reksadana syariah adalah reksadana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip
syariah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta (Sahib
1
Taufik hidayat. Buku pintar investasi syariah. (jakarta: mediakita, 2011). Hlm. 92
3
al-mal/ rabb al-mal) dengan manajer investasi sebagai wakil sahib al-mal, maupun
antara manajer investasi sebagai wakil dengan pengguna investasi. Reksadana syariah
tidak akan menginvestasikan dananya pada obligasi dari perusahaan yang
pengelolaaanya atau produknya bertentangan dengan syariat Islam misalnya: pabrik
minuman keras, industri pertenakan babi, jasa keuangan yang melibatkan riba dalam
operasionalnya dan bisnis yang mengandung maksiat.
Reksadana syariah ada karena dalam reksa dana konvensional di anggap masih
banyak terdapat unsur-unsur yang bertentangan dengan syariah Islam, baik dari segi
akad, pelaksanaan investasi, maupun dari pembagian keuntungan.
Pada dasarnya reksa dana syariah sama dengan reksa dana konvensional yang lain
yang bertujuan mengumpulkan dana dari masyarakat yang selanjutnya di kelola oleh
menejer investasi untuk kemudian di investasikan pada instrumen-instrumen di pasar
modal dan pasar uang2. Perbedaan mendasarnya yaitu hanya terletak pada
pengelolaan dan prinsip kebijkan investasi yang di terapkan, yaitu kebijakan reksa
dana yang di tterapkan reksa dana syariah adalah berbasis instrumen investasi dengan
cara-cara pengelolaan ynag halal.
Halal di sini bahwa yang mengeluarkan instrumen investasi tersebut tidak boleh
melakukan usaha-usaha yang bertentangan dengan prinsip Islam. Misalnya tidak
melakukan perbuatan riba, tidak berhubungan dengan miuman keras, produk ang
mengandung babi, bisnis hiburan yang berbau maksiat, perjudian, pornografi, dan
sebagainya.
Reksa dana merupakan salah satu bentuk muamalah atau aktifitas ekonomi masa
kini. Melalui investasi reksadana, investor dapat diharapka dapat berinvestasi tenang
dan mendapatkan hasil investasi yang halal sesuai prinsip syariah.
2
Ibid. Hlm. 100
4
B. Sifat Dan Bentuk Reksa Dana
Bentuk hukum reksa dana menentukan sifat suatu reksa dana yang dapat
dilakukan. Berdasarkan sifat operasionalnya, reksa dana dapat dibedakan dalam
dua jenis yaitu :
1. Reksa dana tertutup
Karakteristik dari reksa dana tertutup ini adalah menjual saham reksa dana
kepada investor sampai batas jumlah modal dasar yang telah ditetapkan dalam
anggaran dasar perseroan. Apabila akan menjual saham melebihi modal dasar,
maka harus terlebih dahulu mengubah atau meningkatkan jumlah modal dasar
yang ditetapkan dalam anggran dasarnya. Disebut reksa dana tertutup karena
reksa dana ini tertutup dalam hal jumlah saham yang dapat diterbitkan atau
dalam hal menerima masuknya pemodal baru. Atatu dengan kata lain karena
pemodal tidak dapat menjual kembali saham-saham yang telah dibeli kepada
reksa dana yang bersangkutan tetapi melalui bursa efek dengan harga
berdasrakan mekanisme pasar. NAB dalam reksa dana tertutup dicatat pada
bursa efek, sehingga jual beli reksa dana dilakukan di bursa efek. NAB per
saham dumumkan setiap sekali seminggu.
2. Reksa dana terbuka
Reksa dana ini dapat menjual unit penyertaan secara terus menerus sepanjang
ada investor yang berminat membeli. Sebaliknya investor dapat menjual
kembali unit penyertaannya kepada manajer investasi. Reksa dana terbuka ini
bersedia membeli kembali unit penyertaan bila ada investor yang menjual unit
penyertaannya sesuai dengan nilai aktiva bersih (NAB) pada saat itu. Oleh
karena itu, disebut terbuka karena reksa dana ini memungkinkan dan membuka
kesempatan bagi investor baru yang akan melakukan investasi setiap saat
dengan membeli unit-unit penyertaan reksa dana. Demikian pula dalam hal
investor yang ingin menarik kembali invetasinya, manajer investasi bersedia
5
membeli kembali unit penyertaan tersebut sesuai dengan NAB yang ditetapkan
pada hari itu. NAB dalam reksa dana terbuka tidak dicatat pada bursa efek
karena prinsipnya investor dapat menjual atau memlai langsung unit
penyertaan pada reksa dana berdasarkan NAB. Sedangkan NAB per saham
diumumkan setiap hari oleh bank kustodian. Sedangkan bentuk reksa dana ini
dibagi :
a. Reksa Dana Perseroan
Reksa dana perseroan merupakan badan hukum tersendiri yang didirikan
untuk melakukan kegiatan reksa dana. Reksa dana ini memiliki suatu
anggaran dasar, pemegang saham, pengurus atau direksi, kekayaan sendiri
dan kewajiban-kewajiban. Reksa dana ini bersifat tertutup. Pendirian reksa
dana perseroan dilakukan dengan terlebih dahulu pendiri reksa dana
mendirikan badan hukum perseroan (PT) yang didirikan khusus untuk
melakukan usaha reksa dana. Reksa dana perseroan tersebut selanjutnya
dapat melakukan penawaran umum kepada masyarakat setelah terlebih
dahulu mendapatkan izin usaha dari Bapepam dan menyampaikan
pernytaan pendaftaran kepada Bapepam setelah memperoleh izin tersebut.
Efek yang dikeluarkan oleh reksa dana perseroan disebut saham.
b. Reksa Dana KIK
Reksa dana Kontrak Investasi Kolektif (KIK) ini pada prinsipnya bukanlah
badan hukum tersendiri. Reksa dana melakukan kegiatannya berdasrakan
kontrak yang dibuat oleh manajer investasi dan bank kustodian. Investor
secara kolektif mempercayakan dananya kepada manajer investasi untuk
dikelola. Dana yang terhimpun tersebut disimpan dan diadministrasikan
pada bank kustodian. Selanjutnya kekayaan yang dikelola oleh manajer
investasi dalam bentuk portofolio adalah milik invstor secara bersamasama dan proporsional. Sebenarnya reksa dana KIK merupakan produk
dari manajer investasi. Efek yang dikeluarkan reksa dana KIK disebut unit
penyertaan (trust unit). Bentuk reksa dana KIK ini lebih sederhana.
6
Adapun berdasarkan konsentrasi portofolio reksa dana yang dikelola oleh
manajer investasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis reksa dana, yaitu :
a. Reksa dana pasar uang adalah reksa dana yang hanya melakukan investasi pada
efek bersifat utang dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun.
b. Reksa dana pendapatan tetap adalah reksa dana yang melakukan investasi
sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk efek bersifat uang.
c. Reksa dana saham adalah reksa dana yang melakukan investasi sekurangkurangnya 80% dalam efek bersifat ekuitas.
d. Reksa dana campuran adalah reksa dana yang melakukan investasi dalam efek
bersifat ekuitas dan efek bersifat hutang yang perbandingannya tidak termasuk
dalam kategori yang disebut pada butir b dan c di atas.
C. Perbedaan Reksadana Syariah dan Reksadana Konvensional
Kegiatan berinvestasi salah satunya dengan reksadana yang ada saat ini masih
banyak mengandung unsur-unsur yang tidak sesuai dengan syariah Islam.
Reksadana konvensional masih dijumpai unsur-unsur yang dilarang dalam Islam
dan tidak sesuai dengan syariat Islam, khususnya dalam ketidakjelasan
mengenenai jenis kegiatan dan transaksi usaha apa yang akan didanai dan
dikeluarkan oleh reksadana tersebut.
Reksadana konvensional adalah reksa dana yang dapat dibeli atau dijual
kembali oleh investor setiap saat tergantung tujuan investasi, jangka waktu dan
profil risiko investor. Dalam pasar modal konvensional investor dapat membeli
atau menjual saham secara langsung dengan menggunakan jasa broker atau
pialang. Keadaan ini memungkinkan bagi para spekulan untuk mempermainkan
harga, akibatnya perubahan harga saham ditentukan oleh kekuatan pasar bukan
karena nilai intrinsik saham itu sendiri.
7
Reksadana konvensional menggunakan metode perhitungan keuntungan
antara pihak investor dengan manejer investasi adalah sah dan sesuai dengan
ketentuan hukum Islam, karena dilaksanakan berdasarkan metode bagi hasil
berupa bagi untung (profit sharing) ataupun bagi pendapatan (reveneue sharing).
Namun yang masih menimbulkan keragu-raguan (gharar) adalah dalam hal
penyalurannya kepada pengguna investasi digunakan untuk kegiatan usaha
pengguna investasi yang bersifat halal maupun tidak halal, karena dalam syariah
tidak menggunakan sistem yang tidak jelas (Ghofur, 2008).
Reksadana syariah merupakan wadah yang digunakan oleh masyarakat untuk
berinvestasi dengan mengacu pada syariat Islam, selain itu ciri tersendiri pada
produk reksadana syariah, yakni adanya proses cleasing atau membersihkan
pendapatan yang diperoleh dengan cara membayar zakat, bukan merupakan
instrumen yang menghasilkan riba. Selain itu jika instrumen yang dibeli tersebut
berupa saham, maka perusahaan yang akan dibeli adalah perusahaan yang tidak
terkait dengan hal-hal seperti, alkohol, rokok, perjudian, pornografi dan hal-hal
lainnya yang diharamkan dalam syariat Islam. Mekanisme operasional reksa dana
syariah antara pemodal dan Manajer investasi adalah dengan Wakalah, yaitu akad
pelimpahan perjanjian dimana pihak yang menyediakan dana memberikan kuasa
kepada kepada pihak lain. sedangkan antara Manajer Investasi dengan pengguna
investasi dengan sistem Mudharabah, yaitu perjanjian dimana pihak yang
menyediakan dana berjanji kepada pengelola untuk menyerahkan modalnya dan
pengelola berjanji mengelola modal tersebut. Perbedaan lainnya adalah
keseluruhan proses manajemen portofolio, screening (penyaringan), dan cleansing
(pembersihan). Sementara reksadana konvensional tidak mementingkan hal-hal
yang menjadi perhatian kalangan pelaku pasar reksadana syariah.
8
Secara teori reksadana syariah dan konvensional tidak ada perbedaan dalam
kinerja nya, baik dalam return yang dihasilkan dan lain-lain, tetapi secara data
berdasarkan krisis ekonomi terdapat perbedaan antaran reksadana syariah dan
konvensional. Kinerja investasi pengelolaan portofolio Reksadana tercermin dari
nilai aktiva bersih atau net asset value atau disingkat NAB. Baik tidaknya kinerja
investasi portofolio yang dikelola oleh manajer investasi dipengaruhi oleh
kebijakan dan strategi investasi yang dijalankan oleh manajer investasi yang
bersangkutan. Oleh karena itu, untuk mengetahui perkembangan nilai investasi
suatu reksadana dapat dilihat dari peningkatan nilai aktiva bersihnya yang
sekaligus merupakan nilai investasi yang dimiliki investor. Untuk mengetahui
return dan risiko mana yang paling baik yaitu dengan cara mengevaluasi kinerja
reksadana. Evaluasi kinerja reksadana pada umumnya terdiri dari 2 metode yaitu
metode perbandingan langsung dan metode perbandingan tidak langsung.
Perbedaan pokok tentang reksadana konvensional dengan reksadana syariah
terdapat pada screening process sebagai bagian dari proses alokasi aset.
Reksadana syariah hanya diperbolehkan melakukan penempatan pada sahamsaham dan instrumen lain sesuai dengan syariat Islam. Perbedaan reksadana
syariah ini berdampak pada alokasi dan komposisi asset dalam portofolionya.
Reksadana syariah melakukan cleansing process yang bermaksud membersihkan
dari pendapatan yang tidak halal dan tidak sesuai syariat Islam (Huda dan
Nasution, 2008:117-127).
Reksadana syariah disebut juga dengan Syariah Mutual Fund yang
merupakan suatu lembaga intermediasi yang membantu surplus unit (investor)
dalam melakukan penempatan dana yang selanjutnya di investasikan kembali
(reinvestment) kepada pihak-pihak yang membutuhkan dana (deficit unit) sebagai
tambahan modal kerja. Pembentukan reksadana syariah memenuhi kebutuhan
kelompok investor yang menginginkan keuntungan dari sumber, mekanisme
investasi yang bersih , dan dapat dipertanggungjawabkan secara religus serta tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah (Anshori, 2008:06).
9
Faktor-faktor yang mempengaruhi
Reksadana adalah; Sertifikat bank
Indonesia (SBI), Return Reksadana
dan Risiko Reksadana, dan Nilai
Aktiva Bersih (NAB) Reksadana.
Ada beberapa hal yang membedakan antara reksadana konvensional dan
reksadana syariah antara lain :
a. Kelembagaan
Lembaga keputusan tertinggi di syariah dalam hal keabsahan produk adalah
Dewan Pengawas syariah (DPS) yang beranggotakan beberapa alim ulama dan
ahli ekonomi syariah yang direkomendasikan oleh Dewan Pengawas Syariah
Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Proses kinerja dan transaksinya
akan terus diikuti perkembangannya agar tidak keluar dari jalur syariah yang
menjadi prinsip investasinya.
10
b. Hubungan investor dengan perusahaan
Sistem bagi hasil mengenai keuntungan dan kerugian hubungan investor dengan
perusahaan yang dimaksudkan disini adalah adanya kesepakatan antara kedua
belah pihak dengan sistem mudharabah. Secara teknis, al-mudharabah adalah
akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama menyediakan
seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Seandainya
kerugian tersebut karena kecurangan atau kelalaian pengelola maka pengelola
harus bertanggungjawab atas kerugian tersebut. Dalam hal ini transaksi jual beli,
saham-saham dalam reksadana syariah dapat diperjualbelikan. Saham-saham
dalam reksadana syariah merupakan yang harta (mal) yang dibolehkan untuk
diperjualbelikan dalam syariah, karena nilai saham tersebut jelas tidak adanya
unsur penipuan (gharar) dalam transaksi.
c. Kegiatan investasi reksadana syariah
Berinvestasi dengan reksadana syariah dapat melakukan apa saja sepanjang tidak
bertentangan dengan prinsip syariah, yang ditentukan oleh Dewan Pengawas
Syariah. Dalam kaitannya dengan saham-saham yang diperjual belikan dibursa
saham, BEJ sudah mengeluarkan daftar perusahaan yang tercantum dalam bursa
yang sesuai dengan syariah Islam atau saham-saham yang tercatat di Jakarta
Islamic Index (JII). Bertransaksi dengan reksadana syariah tidak diperbolehkan
melakukan tindakan spekulasi, yang didalamnya mengandung gharar seperti
penawaran palsu dan tindakan spekulasi lainnya.
.
11
D. Keuntungan Dan Resiko Investasi Melalui Reksadana
Keuntungan dari investasi di reksa dana diantaranya adalah sebagai berikut
a. Jumlah dana tidak perlu besar
Dalam reksa dana memungkinkan investor yang bermodal kecil untuk ikut
berinvestasi dalam portfolio yang dikelola secara professional.
b. Akses untuk beragam investasi
Melalui dana kolektif di reksa dana, investasi pada saham berkapitalisasi besar
dan blue chip tetap dapat dilakukan. Juga sekuritas luar negeri dimungkinkan
untuk dibeli melalui reksa dana ini.
c. Diversifikasi Investasi
Difersifikasi dalam bentuk portofolio akan menurunkan resiko.
d. Kemudahan investasi
Dalam reksa dana ini memiliki kemudahan investasi yang tercermin dari
kemudahan pelayanan administrasi dalam pembelian maupun penjualan
kembali unit penyertaan.
e. Dikelola oleh Manajer Profesional
Manajer investasi di sini adalah seorang yang sangat ahli dalam hal
pengelolaan dana. Peran fund manajer sangat penting, mengingat pemodal
individual pada umumnya mempunyai keterbatasan waktu sehingga sulit untuk
dapat melakukan riset mendalam secara langsung dalam menganalisis harga
efek serta mengakses informasi ke pasar modal
f. Transparansi Informasi
Dalam reksa dana diwajibkan memberikan informasi atas perkembangan
portofolio dan biayanya, secara berkala dan kontinyu, sehingga pemegang unit
penyertaan dapat memantau keuntungan, biaya dan risikonya. Tujuan
transparansi ini adalah supaya investor dapat memonitor perkembangan
investasinya secara rutin.
12
g. Likuiditas
Pemodal dapat mencairkan kembali saham/unit penyertaan setiap saat sesuai
ketetapan yang dibuat masing-masing reksa dana, sehingga memudahkan
investor untuk mengelola kasnya. Reksa dana wajib membeli kembali unit
penyertaannya, sehingga sifatnya menjadi likuid.
h. Biaya Rendah
Karena reksa dana merupakan kumpulan dana dari banyak investor, maka
sejalan dengan besarnya kemampuan melakukan investasi tersebut akan
dihasilkan pula efisiensi biaya transaksi. Biaya transaksinya lebih murah
dibandingkan dengan apabila investor melakukan transaksi secara individual di
bursa.
i. Return yang kompetitif
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rata-rata reksa dana secara histories
mempunyai kinerja yang lebih baik disbanding deposito.
Disamping beberapa keuntungan yang diperoleh, investasi reksa dana juga
mempunyai beberapa risikonya yang mungkin terjadi diantaranya :
a. Risiko politik dan ekonomi
Perubahan kebijakan ekonomi dan politik dapat dan sangat mempengaruhi
kinerja bursa dan perusahaan sekaligus.
b. Risiko Pasar
Hal ini terjadi karena nilai sekoritas di pasar efek memang berfluktuasi sesuai
dengan kondisi ekonomi secara umum.
c. Risiko Inflasi
Pendapatan yang diterima dari investasi dalam reksa dana bisa jadi tidak dapat
menutup kehilangan karena menurunnya daya beli.
13
d. Risiko nilai tukar
Risiko ini dapat terjadi jika terdapat sekuritas luar negeri dalam portofolio
yang dimilki. Pergerakan nilai tukar akan mempengaruhi nilai sekuritas yang
termasuk foreigh investment setelah dilakukan konversi dalam mata uang
domestik.
e. Risiko spesifik
Risiko ini adalah risiko dari setiap sekuritas yang dimiliki. Di samping
dipengaruhi pasar secara keseluruhan, setiap sekuritas mempunyai risiko
sendiri-sendiri.
f. Risiko menurunnya nilai unit penyertaan
Risiko ini diakibatkan karena kinerja yang buruk.
g. Risiko likuiditas
Penjualan kembali sebagian besar unit penyertaan oleh pemilik kepada
manajer investasi secara bersamaan dapat menyulitkan management company
dalam menyediakan kas untuk pembayaran tersebut secara cepat.
14
E. Proses Pengelolahaan Reksadana Syariah
Sumber : Soremitra (2010)
Gambar di atas menjelaskan proses pengelolahan reksadana syariah,
pengawas syariah merupakan lembaga yang berwenang untuk mengkaji, menggali
dan merumuskan nilai dan prinsip-prinsip hukum syariah dalam bentuk fatwa untuk
dijadikan pedoman dalam kegiatan transaksi yang terjadi di lembaga keuangan
syariah dan menyetujui efek-efek yang sesuai dengan prinsip syariah. Pedoman
tersebut digunakan komite investasi untuk menyusun tujuan, kebijakan dan strategi
investasi yang kemudian dilaksanakan oleh tim investasi dalam bentuk portofolio
efek yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
15
F. Kinerja Reksadana Syariah
Ada dua hal penting yang harus di pertimbangkan dalam mengukur kinerja
reksa dana syariah , yaitu:
1.
Tingkat hasil (rate of return) yang diperoleh sama atau lebih besar dari tingkat
hasil portofolio (return portofolio) tertentu dengan resiko yang sama atau
lebih kecil dari tingkat resiko pasar (market risk).
2.
Melakukan diversifikasi sehingga dapat meminimalisirkan risiko yang tidak
sistematis yang diukur dengan menghitung korelasi antara tingkat hasil reksa
dana syariah dengan tingkat hasil portofolio pasar modal.
3.
Kinerja reksadana syariah tidak selalu menjamin kinerja yang baik, tetapi
reksadana syariah menjamin kinerja sesuai dengan prinsip syariah dan halal.
Kinerja reksadana syariah tergantung pada bagaimana peranan manajer
investasi untuk mengoperasikan sistem kinerjanya dan menjaga kreditbilitas.
Baik dan buruk kinerja reksadana tersebut dapat berpengaruh terhadap
pertumbuhan nilai aktiva bersih (NAB), apabila kinerjanya baik maka nilai
aktiva bersih akan naik sehingga meningkatkan nilai investasi terhadap
pemegang unit penyertaan.
Sedangkan kinerja investasi tersebut buruk maka nilai aktiva bersih akan turun
sehingga menurunkan nilai investasi yang dimiliki oleh investor. Secara karakter
instrumen investasi reksadana syariah tidak jauh berbeda dengan reksadana
konvensional.
16
G. Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Nomor: 20/Dsn-Mui/Iv/2001
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1. Reksa Dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari
masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan kembali dalam
portofolio efek oleh Manajer Investasi.
2. Portofolio Efek adalah kumpulan efek yang dimiliki secara bersama (kolektif)
oleh para pemodal dalam Reksa Dana.
3. Manajer Investasi adalah pihak yang kegiatan usahanya mengelola Portofolio
Efek untuk para nasabah atau mengelola portofolio investasi kolektif untuk
sekelompok nasabah.
4. Emiten adalah perusahaan yang menerbitkan Efek untuk ditawarkan kepada
publik.
5. Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga
komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak
investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.
6. Reksa Dana Syari'ah adalah Reksa Dana yang beroperasi menurut ketentuan
dan prinsip Syari'ah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai
pemilik harta (sahib almal/ Rabb al Mal) dengan Manajer Investasi sebagai
wakil shahib al-mal, maupun antara Manajer Investasi sebagai wakil shahib
al-mal dengan pengguna investasi.
7. Mudharabah/qirad adalah suatu akad atau sistem di mana seseorang
memberikan hartanya kepada orang lain untuk dikelola dengan ketentuan
bahwa keuntungan yang diperoleh (dari hasil pengelolaan tersebut) dibagi
antara kedua pihak, sesuai dengan syarat-syarat yang disepakati oleh kedua
belah pihak, sedangkan kerugian ditanggung oleh shahib al-mal sepanjang
tidak ada kelalaian dari mudharib.
17
8. Prospektus adalah setiap informasi tertulis sehubungan dengan Penawaran
Umum dengan tujuan agar pihak lain membeli Efek.
9. Bank Kustodian adalah pihak yang kegiatan usahanya adalah memberikan
jasa penitipan Efek dan harta lain yang berkaitan dengan Efek serta jasa lain,
termasuk menerima deviden, dan hak-hak lain, menyelesaikan transaksi Efek,
dan mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya.
BAB II
MEKANISME KEGIATAN REKSA DANA SYARI'AH
Pasal 2
1. Mekanisme operasional dalam Reksa Dana Syari'ah terdiri atas:
a. antara pemodal dengan Manajer Investasi dilakukan dengan sistem
wakalah, dan
b. antara Manajer Investasi dan pengguna investasi dilakukan dengan sistem
mudharabah.
2. Karakteristik sistem mudarabah adalah:
a. Pembagian keuntungan antara pemodal (sahib al-mal) yang diwakili oleh
Manajer Investasi dan pengguna investasi berdasarkan pada proporsi yang
telah disepakati kedua belah pihak melalui Manajer Investasi sebagai
wakil dan tidak ada jaminan atas hasil investasi tertentu kepada pemodal.
b. Pemodal hanya menanggung resiko sebesar dana yang telah diberikan.
c. Manajer Investasi sebagai wakil tidak menanggung resiko kerugian atas
investasi yang dilakukannya sepanjang bukan karena kelalaiannya (gross
negligence/tafrith).
18
BAB III
HUBUNGAN, HAK, DAN KEWAJIBAN
Pasal 3
Hubungan dan Hak Pemodal
1. Akad antara Pemodal dengan Manajer Investasi dilakukan secara wakalah.
2. Dengan akad wakalah sebagaimana dimaksud ayat 1, pemodal memberikan
mandat kepada Manajer Investasi untuk melaksanakan investasi bagi
kepentingan Pemodal, sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam
Prospektus.
3. Para pemodal secara kolektif mempunyai hak atas hasil investasi dalam Reksa
Dana Syari'ah.
4. Pemodal menanggung risiko yang berkaitan dalam Reksa Dana Syari'ah.
5. Pemodal berhak untuk sewaktu-waktu menambah atau menarik kembali
penyertaannya dalam Reksa Dana Syari'ah melalui Manajer Investasi.
6. Pemodal berhak atas bagi hasil investasi sampai saat ditariknya kembali
penyertaan tersebut.
7. Pemodal yang telah memberikan dananya akan mendapatkan jaminan bahwa
seluruh dananya akan disimpan, dijaga, dan diawasi oleh Bank Kustodian.
8. Pemodal akan mendapatkan bukti kepemilikan yang berupa Unit Penyertaan
Reksa Dana Syariah.
19
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Produk-produk keuangan baru dikembangkan untuk menarik dana dari
masyarakat. Salah satu produk yang tengah berkembang saat ini di Indonesia
adalah reksadana. Reksadana adalah sebuah wadah dimana masyarakat dapat
menginvestasikan dananya dan oleh pengelolanya (manajer investasi) dana itu
diinvestasikan ke portfolio efek. Reksadana merupakan jalan keluar bagi para
pemodal kecil yang ingin ikut serta dalam pasar modal. Pemodal akan mendapati
‘telor’ investasinya tersebar dalam beberapa ‘keranjang’ yang berbeda, sehingga
resikonya tersebar.
Reksadana Syari’ah (Islamic Investment Fund) pada dasarnya adalah
Islamisasi reksadana konvensional. Reksadana Syariah adalah wadah yang
dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal sebagai pemilik
dana (shahibul mal) untuk selanjutnya diinvestasikan dalam Portofolio Efek oleh
Manajer Investasi sebagai wakil shahibul mal menurut ketentuan dan prinsip
syariah Islam. Sebenarnya panduan bagi masyarkat muslim untuk berinvestasi
pada produk ini sudah diberikan melalui fatwa DSN-MUI No.20 tahun 2000
tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah. Sayangnya
produk investasi syariah yang lebih menguntungkan dari produk tabungan atau
deposito perbankan syariah ini kurang tersosialisasi.
Pemilik
dana (investor)
yang menginginkan investasi
halal
akan
mengamanahkan dananya dengan akad wakalah kepada Manajer Investasi.
Reksadana Syariah akan bertindak dalam aqad mudharabah sebagai Mudharib
yang mengelola dana milik bersama dari para investor. Sebagai bukti penyertaan
investor akan mendapat Unit Penyertaan dari Reksadana Syariah. Dana
kumpulan Reksadana Syariah akan ditempatkan kembali ke dalam kegiatan
Emiten (perusahaan lain) melalui pembelian Efek Syariah. Dalam hal ini
20
Reksadana Syariah berperan sebagai Mudharib dan Emiten berperan sebagai
Mudharib.
Oleh karena itu hubungan seperti ini bisa disebut sebagai ikatan
Mudharabah
Bertingkat.
Pembeda
reksadana
syariah
dan
reksadana
konvensional adalah reksadana syariah memiliki kebijaksanaan investasi yang
berbasis instrumen investasi pada portfolio yang dikategorikan halal. Dikatakan
halal, jika perusahaan yang menerbitkan instrumen investasi tersebut tidak
melakukan usaha yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Tidak
melakukan riba atau membungakan uang. Saham, obligasi dan sekuritas lainnya
yang dikeluarkan bukan perusahaan yang usahanya berhubungan dengan
produksi atau penjualan minuman keras, produk mengandung babi, bisnis
hiburan berbau maksiat, perjudian, pornografi, dan sebagainya.
Disamping itu, dalam pengelolaan dana reksadana ini tidak mengizinkan
penggunaan strategi investasi yang menjurus ke arah spekulasi. Selanjutnya, hasil
keuntungan investasi tersebut dibagihasilkan diantara para investor dan manajer
investasi sesuai dengan proporsi modal yang dimiliki. Produk investasi ini bisa
menjadi alternatif yang baik untuk menggantikan produk perbankan yang pada
saat ini dirasakan memberikan hasil yang relatif kecil.
21
DAFTAR PUSTAKA
Samsul, Muhammad. 2010. Pasar Modal dan Manajemen portofolio.Jakarta.
Erlangga
Sugiyono. 2011. Statistika untuk Penelitian. Bandung. Alfabeta.
Sunariyah. 2009. Portofolio dan Pasar Modal. Jakarta. Erlangga.
Tandelilin, Eduardus. 2010. Portofolio dan Investasi teori dan Aplikasi. Edisi
Pertama. Kanisius. Yogyakarta.
Utomo
Ponco.
2010.
Manajemen
Portofolio
dan
Pasar
Modal.
Jakarta.Erlangga.
Pramono, Eko Priyo. 2002. Reksa Dana. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Hidayat, Taufik. 2011. Investasi Syariah. Media Kita. Jakarta.
22
Download