Jejak Konstruksi Perahu pada Arsitektur Mamasa

advertisement
TEMU ILMIAH IPLBI 2013
Jejak Konstruksi Perahu pada Arsitektur Mamasa
Wasilah(1), Josef Prijotomo(2), Murni Rachmawati(3)
(1)
(2)
(3)
Teknik Arsitektur/Mahasiswa Program Doktor, Fakultas Teknik Sipil&Perancangan/ITS/Dosen Arsitektur, UIN Alauddin Makassar
Teknik Arsitektur/Professor/Fakultas Teknik Sipil dan Perancangan/ITS
Teknik Arsitektur/Ketua Program Pascasarjana Arsitektur/Fakultas Teknik Sipil dan Perancangan ITS Surabaya
Abstrak
“Tidak ada arsitektur yang tidak berada di suatu tempat di muka bumi ini, tidak hanya daratan
namun juga lautan” demikian penggalan kalimat pada catatan kuliah “Pengantar Arsitektur
Nusantara” yang dibawakan oleh Prijotomo (Senin, 04 Maret 2013). Perahu pernah menjadi ‟rumah‟
di masa lampau, tapi mungkinkah kita menjadikan „rumah‟ sebagai perahu di masa kini?. Pernyataan
tersebut mengawali dasar pemikiran penulis untuk melakukan penelitian secara mendalam. Khususnya tentang bagaimana konstruksi perahu pada abad ke-7, yang tampak jelas gambaran model
konstruksi perahu bercadik terpahat rapih pada relief dinding Candi Borobudur.
Demikian juga tentang legenda yang mengisahkan tentang keperkasaan pelaut Bugis, Makassar dan
Mandar hingga ke seluruh pelosok negeri. Kisah tentang keindahan dan kekokohan perahunya yang
mengarungi samudera, menghadapi keganasan ombak dan lautan hingga menjadi cerita kepahlawanan yang mengagumkan. Dalam De Architectura (Vitruvius, 2008:3) dijelaskan bahwa bangunan
yang baik adalah yang memiliki keindahan (Venustas), kekokohan (Firmitas) dan Utilitas.
Dalam karya manusia dipertanyakan perihal identitas (data diri seseorang). Dengan menunjukkan
identitas tersebut, maka dapat segera diketahui tentang nama, asal-usul (keturunan), kebangsaan
dan ciri khas yang dimiliki. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam karya budaya manusia,
selalu berkaitan dengan “Bentuk dan Karya Cipta atau Seni”, yang disebut sebagai Arsitektur. Salah
satu dari karya cipta arsitektur Nusantara adalah Rumah Mamasa.
Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan konstruksi rumah Mamasa dengan konstruksi pada
perahu. Metode yang digunakan adalah deskrptif kualitatif khususnya dalam mempelajari masalahmasalah dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu termasuk tentang hubungan, kegiatan sikapsikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung serta pengaruh dari suatu fenomena yang
dilakukan secara holistik.
Kata-kunci: struktur, sandek, budaya, sambungan ikat, banua
Pendahuluan
Arsitektur tradisional merupakan hasil dari
lingkungannya sehingga tiap daerah memiliki
berbagai varian yang dibangun sebagai respon
dari kondisi alam, ketersediaan material, iklim
dan vegetasinya (Dawson dan Gillow, 1994).
Selain itu, pembangunan Rumah Tradisional
selalu melibatkan tidak hanya pemilik rumah
namun juga seluruh masyarakat setempat atau
komunitas. Tahapan pembangunan rumah, dari
pemilihan tapak dan bahan, mempertimbangkan adat dan kondisi lingkungan. Teknik pem-
bangunan diturunkan dari generasi ke generasi
baik melalui legenda, pantun, cerita ataupun
melalui proses magang. Pemilihan material
bangunan menggunakan material lokal yang
ditemui di sekitar pemukiman. Sistem struktur
dan konstruksi disusun bukan dari hasil perhitungan mekanika namun berdasarkan uji coba
(trial and error) yang berlangsung selama
bertahun-tahun.
Rumah Tradisional Mamasa, konon memiliki
kesamaan dalam hal bentuk atap dan konstruksi perahu. Namun beberapa penelitian terdaProsiding Temu Ilmiah IPLBI 2013 | D - 43
Jejak Konstruksi Perahu pada Arsitektur Mamasa
hulu oleh para antropolog (Waterson 1980;
Dawson&Gillow, 1994) menyebutkan adanya
kesamaan dengan bentuk atap suku-suku lain
di penjuru nusantara yang menyerupai bentkan
perahu. Bentuk geometri Rumah Tradisional
Mamasa menggambarkan keindahan arsitektur
kayu nusantara, dan telah terbukti mampu
bertahan melewati waktu yang panjang, meskipun unsur-unsur lokalnya dianggap telah kuno
dan tidak menarik.
Menurut Budihardjo, (1996:108) bahwa
“Arsitektur adalah pengejawantahan (manifestasi) dari kebudayaan manusia. Atau dengan
kata lain, arsitektur selalu dipengaruhi oleh
kebudayaan masyarakatnya.” Pernyataan ini
didukung oleh Adhi Moersid (Budihardjo,
1996:31) yang secara rinci menyebutkan bahwa “Arsitektur yang kita huni merupakan manifestasi dari hidup kita sehari-hari, cermin
kebudayaan kita, petunjuk dari tingkat perasaan artistik yang kita miliki, menggambarkan
tingkat teknologi kita, kemakmuran kita, struktur sosial masyarakat kita.”
Dengan demikian dapat dimaknai bahwa,
bangunan tradisional merupakan suatu bangunan yang terbentuk karena latar belakang
budaya masyarakat. Oleh sebab itu, bangunan
tradisional merupakan ungkapan budaya dan
jalan hidup masyarakat, serta merupakan cerminan langsung dari masyarakat dalam mencoba mengekspresikan sesuatu.
Oleh karena itu, kajian ini sangat penting untuk
diteliti khususnya tentang penelusuran sistem
konstruksi dari bangunan tradisional Mamasa
yang dikaji bukan karena latar belakang budaya,
namun dari segi arsitektur serta penelusuran
struktur dan konstruksi bangunan tradisional
untuk melihat kemiripan sekaligus juga perbedaan cara penyusunan atau sistem konstruksi
secara lebih mendetail.
Penelitian dan publikasi terdahulu yang sedemikian kaya dan beragam, dapat menjadi
sumber literatur yang baik bagi peneliti untuk
melakukan analisa terhadap sistem struktur dan
konstruksi rumah dapat memberikan landasan
pijak yang baik bagi arsitek-arsitek muda bagi
D - 44 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013
perkembangan arsitektur di Indonesia masa kini.
Pustaka
Suku Mandar adalah satu-satunya suku bahari di
Nusantara yang secara geografis berhadapan
langsung dengan laut dalam. Lautan dalam
meru-pakan halaman rumah bagi mereka.
Begitu mereka bangun tidur, akan disapa oleh
gemuruh air laut dan dibelai oleh angin laut.
Kondisi alam mengajarkan kepada masyarakat
Mandar bagaimana beradaptasi untuk mempertahankan hidup (meminjam bahasa Durkheim,
struggle for survival), dan membangun
kebudayaannya.
Para pelaut Mandar ini menjadikan perahu
sebagai tempat untuk melakukan segala aktivitas kehidupan. Perahu tak ubahnya sebagai
tempat berlindung bersama keluarga dan
sebagai alat transportasi untuk berdagang dan
memenuhi kebutuhan keluarga.
Melaut bagi suku Mandar merupakan penyatuan
diri dengan laut. Falsafah kehidupan mereka,
bahwa laut menjadi tempat mereka untuk
memenuhi kebutuhan hidup dan membangun
identitasnya. Mencari penghidupan di laut (sebagai nelayan) bukanlah pekerjaan sembarangan
bagi orang Mandar. Mereka tahu betul bagaimana beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi dilaut. Oleh karenanya, benar
apa yang dikatakan Christian Pelras dalam bukunya yang berjudul “Manusia Bugis” (2006), bahwa masyarakat Mandar merupakan pelaut ulung.
Mereka tidak akan bisa hilang ataupun tersesat
di lautan.
Interaksi masyarakat Mandar dengan lautan
menghasilkan pola pengetahuan yang berhubungan dengan laut, yaitu: berlayar (paissang
asumombalang), kelautan (paissang aposasiang),
keperahuan (paissang paalopiang), dan kegaiban (paissangang). Pengejawantahan dari pengetahuan tersebut diantaranya adalah rumpon
atau roppong dan perahu sandeq. Rumpon
merupakan teknologi menangkap ikan ramah
lingkungan yang diciptakan oleh para pelaut
Mandar. Perangkap ini terbuat dari rangkaian
daun kelapa dan rumput laut. Sedangkan pera-
Wasilah
hu sandeq merupakan perahu layar bercadik,
khas Mandar, ramah lingkungan, dan tercepat di
kawasan Austronesia.
Kabupaten Mamasa merupakan salah satu
daerah tujuan wisata di Mandar, Sulawesi Barat
ternyata juga menyimpan beragam keunikan.
Wilayah ini tak hanya kaya dengan panorama
alamnya yang indah dan asri, tapi juga memiliki
banua atau rumah adat tradisional khas masyarakat Mamasa yang kaya dengan pesan-pesan
dan filosofi hidup orang Mamasa.
Sayangnya rumah khas Mamasa yang memiliki
bentuk atap bak perahu sandeq, kini semakin
langka. Beberapa rumah adat kini hanya dapat
dijumpai di pedalaman Kabupaten Mamasa yang
tetap mempertahankan ciri dan bentuk rumah
Mamasa yang asli.
Desa Tawalian, Kecamatan Tawalian, Kabupaten
Mamasa, merupakan salah satu daerah yang
mayoritas penduduknya masih menjaga kelestarian rumah tradisional khas Mamasa. Beberapa
rumah tradsional di wilayah ini tampak masih
berdiri kokoh meski telah mengalami pemugaran
hingga beberapa ornamennya sudah berubah
bentuk. Tidak semua rumah adat Mamasa memiliki ornamen ukiran. Rumah adat yang diberi
ukiran pun motif ukirannya berbeda.
Dengan melihat jenis dan motif ukiran yang
terpasang di setiap sisi rumah adat Mamasa,
Anda bisa membedakan tingkat kemampuan
ekonomi dan strata sosial dari pemilik rumah
bersangkutan. Dalam sejarahnya, rumah tradisional Mamasa terbagi atas lima jenis tingkatan
sesuai dengan strata sosial masyarakatnya.
1. Banua layuk atau rumah tinggi yang biasanya dimiliki oleh ketua adat.
2. Banua sura atau rumah ukir untuk para
bangsawan.
3. Banua bolong atau rumah hitam untuk para
kesatria.
4. Banua rapa yang biasanya dimiliki masyarakat biasa.
5. Banua longkarrin, rumah bagi kalangan Tana
Koa-Koa.
Pengertian Arsitektur dalam kajian ini merupakan pengertian yang terdapat dalam buku Hy-
brid Space adalah: “The art or science of
building; specify: the art or practice of designing
structures and esp. inhabitable ones” (Zellner,
1999:9). Pengertian ini lebih menyempitkan
pengertian arsitektur sebagai suatu seni, yaitu
seni yang ditujukan untuk dapat menghasilkan
suatu yang memiliki nilai keindahan. Ungkapan
yang sama diungkapkan oleh Kimberly Elam
mengemukakan bahwa “Architecture has some
of the strongest educational ties to geometric
organization because of the necessity for order
and efficiency in construction, and the desire to
create aesthetically pleasing structures” (Elam,
2001:101). Ia menjelaskan bahwa arsitektur
memiliki hubungan yang kuat dengan geometri.
Salah satu yang menghubungkan antara kedua
hal ini adalah nilai estetis.
Antoniades
(1990), mengatakan bahwa
geometri dapat memberikan kepada kita
kemampuan untuk mengenali dengan baik
bentuk-bentuk yang mengandung unsur-unsur
geometris, menyelesaikan masalah yang
muncul dalam penelitian dangan bentuk-bentuk geometris, sehingga memberikan serangkaian bentuk-bentuk yang siap pakai dan dapat
disesuaikan dalam berbagai macam variasi.
Pendapat tentang geometri ini dapat dimaknai
bahwa geometri dapat menjadi salah satu
elemen yang dapat menjadikan suatu karya
arsitektur memiliki nilai estetis. Dapat juga
dimaknai, bahwa geometri memiliki fungsi yang
relevan dalam memperlihatkan hubungan
visual suatu objek dari segi proporsi, dan juga
pola perkembangan objek tersebut. Berdasarkan pengertian geometri menurut Antoniades,
dapat dimaknai bahwa jejak konstruksi perahu
pada arsitektur Mamasa dapat dikenali melalui
bentuk-bentuk yang mengandung unsur-unsur
yang bersifat geometris. Sebagai ilustrasi,
dapat dilihat pada gambar 1.
Dari semua ilustrasi berikut (Gambar 1, 2, 3,
dan 4), kita dapat menelusuri jejak konstruksi
perahu pada Arsitektur Mamasa dengan
menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013 | D - 45
Jejak Konstruksi Perahu pada Arsitektur Mamasa
akan diamati yaitu rumah dan perahu serta
segala kegiatan yang berlangsung di dalamnya.
Lombon
Tambin
Ta‟do
Sali-sali
Ba‟baaa
Gambar 1. Denah Perahu
(Muhammad Aimuddin, 2001)
Sandeq
Mandar
Gambar 4. Konstruksi Rumah Tradisional Mamasa
(Sumber: Hasil Analisis Peneliti, 2013)
Gambar 2. Denah Rumah Tradisional Mamasa
(Sumber: Hasil Analisis Peneliti, 2013)
Penelitian ini dapat digolongkan sebagai penelitian eksplorasi. Metode pencarian data dilakukan melalui studi literatur. Metoda studi literatur
digunakan untuk mengumpulkan data tipologi
dan sistem struktur konstruksi rumah tradisional
yang diteliti. Data tersebut akan digunakan
untuk merekonstruksi sistem struktur dan konstruksi rumah tradisional yang diteliti. Dari hasil
rekonstruksi diharapkan dapat diketahui bagaimana sistem struktur dan konstruksi dan detail
konstruksi pembentuk lengkungan atap dan
bentuk bangunan rumah tradisional secara
keseluruhan.
Analisis dan Interpretasi
Gambar 3. Konstruksi Perahu Sandeq
(Sumber: Muhammad Alimuddin, 2001)
Metode
Metode dalam kajian ini adalah metode
deskriptif kualitatif. Dalam penelitian kualitatif
sampel penelitian mencakup dua aspek (Sanapiah, 1990:56-61) yaitu informan dan situasi
sosial. Informan merupakan subyek yang
benar-benar mengetahui informasi yang dibutuhkan. Situasi sosial merupakan subyek yang
D - 46 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013
Analisa penelitian ini membagi pemetaan sistem
struktur & konstruksi dalam 3 kelompok bagian
berdasarkan pembagian rumah secara vertikal,
yaitu bagian bawah, tengah & atas. Bagian
bawah rumah meliputi pondasi, susunan tiang
penyangga & lantai. Bagian tengah rumah
meliputi elemen dinding. Bagian atas rumah
meliputi atap. Untuk mempermudah pemetaan
sistem struktur & konstruksi maka analisa hanya
dibatasi pada aspek bentuk, sistem struktur &
material.
Wasilah
Ukiran/ornamen yang ada pada Banua Layuk
memiliki syarat/aturan tertentu baik motif
maupun perletakannya. Ukiran-ukiran tersebut
memiliki arti & makna tertentu, yang menggunakan 4 macam warna, yaitu; merah. Putih,
kuning & hitam.
Bentuk struktur & konstruksi rumah tradisional
Mamasa memberi makna
1. Bentuk atap yang memuncak mencerminkan
makin ke atas semakin besar & semakin
agung. Struktur dan konstruksi atap ini
merupakan pencerminan Kagungan Yang
Maha Kuasa.
2. Sifat kejujuran & kerja sama antar komponen bangunan yang menggabungan 3 bagian bangunan yang terpisah mencerminkan kegotong-royongan & kesatuan, “Mesa
kada dipatuo patan kada dipomate,….kada
masa umpiak batu tuo” artinya bersatu kita
teguh bercerai kita runtuh…persatuan itu
dapat merupakan kekuatan yang dapat
memecahkan
3. Masuk & keluar ba‟ba (pintu) mengharuskan
kita membungkukkan badan adalah cerminan sebuah penghargaan, penghormatan,
dan melepaskan kesombongan diri.
4. Antara banua dalam satu perkampungan
tercermin pada bentuk banua yang dibedakan atas dasar pemilik banua merupakan
pencerminan keberagaman bentuk arsitektur
5. Keagungan Yang Maha Kuasa yaitu atap
yang memuncak dan mencerminkan makin
ke atas semakin besar & semakin agung.
6. Kejujuran dan Kesatuan yaitu pencerminan
dari struktur konstruksi yang jujur & benar
mewakili sifat kejujuran dan kerja sama
antar komponen bangunan menggabungan 3
bagian bangunan yang sebenarnya terpisah
mencerminkan
kegotong-royongan
dan
kesatuan, “Mesa kada dipatuo patan kada
dipomate,….kada masa umpiak batu tuo”
artinya persatuan itu dapat merupakan
kekuatan
yang
dapat
memecahkan
persoalan apapun.
7. Penghargaan merupakan pencerminan dari
masuk & keluar ba‟ba (pintu) mengharuskan
kita membungkukkan badan adalah sebuah
penghargaan dan penghormatan, melepaskan kesombongan diri.
8. Keberagaman merupakan pencerminan dari
antara banua dalam satu perkampungan
tercermin pada bentuk banua yang dibedakan atas dasar pemilik banua.
Memori yang merupakan pencerminan bahwa
masyarakat Mamasa tidak akan melupakan kenangan yang lalu dan senantiasa meyakini bahwa “Leluhurku adalah seseorang yang datang
dengan perahu, meskipun kini aku telah
menetap didaratan tapi aku tidak melupakan
bahwa leluhurku pernah tinggal di atas perahu”.
Secara vertikal Banua Mamasa terbagi atas:
a. Illi‟ banua (kolong rumah)
b. Kale banua (badan rumah)
c. Papa‟ banua ( atap/kepala rumah)
Sedangkan secara horisontal, di kenal empat
ruang utama, yaitu:
a. Ta‟do, yaitu ruang terdepan (Utara) sebagai
tempat menerima tamu.
b. Ba‟ba, yaitu ruang setelah ta‟do yang
difungsikan sebagai ruang tidur tamu. Jika
ada yang meninggal jenazahnya disemayamkan di sisi Barat ba‟ba dengan kepala di
sebelah Selatan sebelum dikuburkan.
c. Tambing, yaitu ruang setelah ba‟ba yang
berfungsi sebagai ruang tidur, pada banua
layuk dibagi dua menjadi Pollo‟ Tambing (sisi
Barat) & Tambing (sisi Timur). Tambing
diperuntukkan bagi pemilik rumah, sedangkan Pollo‟ Tambing peruntukkan bagi anak
gadis & tempat penyimpanan harta pusaka.
d. Lombon, yaitu ruang terletak paling belakang (Selatan) difungsikan sebagi dapur &
tempat menerima kerabat dekat yang datang serta sebagai tempat musyawarah
keluarga
Ketinggian lantai Ta‟do dan Ba‟ba sama,
sedangkan Tambing dan Lombon lebih tinggi ±
50 cm. Untuk banua yang haya terdiri dari 3
ruang (tanpa Ta‟do), yang ditinggikan adalah
Lombon. Sedangkan yang terdiri dari 2 ruang
Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013 | D - 47
Jejak Konstruksi Perahu pada Arsitektur Mamasa
(hanya Tambing dan Lombon) tidak terdapat
perbedaan ketinggian lantai.
2. Alang Bolong (alang yang di cat hitam)
3. Alang Biasa (alang yang tidak diukir maupun
Bahan-bahan yang digunakan untuk membadi cat)
ngun Banua Mamasa diperoleh dari alam sekitar,
4. Alang dapat didirikan di samping kiri dan kanan
yaitu:
banua (menghadap ke Utara) serta melintang
1. Pondasi dasar yang diletakkan bebas dari
didepan banua (menghadap ke Barat-Timur).
batu andesit hitam
Pada acara/upacara adat bagian bawah alang
2. Kolom/tiang dari kayu uru
menjadi tempat duduk tamu kehormatan.
3. Ring pengikat kolom dari kayu uru
Bagian-bagian Banua Mamasa dapat dilihat pada
4. Balok, lantai & rangka dinding dari kayu uru
Gambar 5.
5. Struktur/konstruksi atap dari uru & bambu
6.
7.
8.
9.
Penutup atap dari kayu uru /alang-alang
Bahan pengikat rotan
Bahan cat dari tanah dan daun-daunanan
Sebagian besar bahan adalah dari kayu
uru/ kayu semacamnya yang baik dan kuat
Ada arah tertentu yang
pendirian banua yaitu:
menjadi
patokan
1. Arah melawan arus sungai, dengan kepercayaan bahwa datangnya berkah searah
dengan datangnya arus sungai. Jadi arah
rumah yang melawan arus sungai, ibarat
menadah rejeki & mengharapkan agar selalu
memperoleh rejeki yang baik.
2. Arah menghadap matahari, dengan kepercayaan bahwa manusia hidup di dunia ini
dimulai dari bawah yang diibaratkan seperti
terbitnya matahari. Arah ruang sangat
pantang menghadap ke matahari terbenam,
demikian juga pintu masuknya.
3. Ada keharusan bagi rumah adat untuk
menghadap ke Utara, ke arah buntu karua
(tanete karua). Tanete karua adalah arah
datangnya nenek moyang, dengan harapan
memperoleh keselamatan & rejeki dari
Tuhan.
Keberadaan banua tidak dapat dilepaskan dari
alang (lumbung) yang menjadi tempat
penyimpanan hasil pertanian. Ukuran dan jumlah Alang yang dibuat sesuai dengan kebutuhan.
Disesuaikan dengan tipe banua yang memiliki,
maka alang yang ada terdiri tiga tipe, yaitu:
1. Alang Sura‟ (alang yang diukir)
D - 48 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013
Bahan utama untuk membuat perahu sandeq
adalah dengan menggunakan pohon Kanduruang Mamea yang telah cukup tua, sehingga
selain kuat juga mempunyai diameter yang
cukup lebar. Adapun peralatan yang digunakan
untuk membuat perahu sandeq terbagi menjadi
dua, yaitu peralatan saat pencarian bahan dan
saat pembuatan perahu.
Pada saat pencarian bahan, peralatan yang
dibutuhkan dala pencarian bahan perahu sandeq
di antaranya adalah; kampak besar, cangkul
kayu, dan parang. Seiring perkembangan zaman,
peralatan untuk menyiapkan bahan juga
semakin modern, yaitu menggunakan passenso
(mesin pemotng kayu).
Pada saat pembuatan perahu, dala proses
pembuatannya, peralatan yang dibutuhkan
diantaranya, adalah; ketam kayu, gergaji, bor.
Dengan memperhatikan kedua proporsi di atas,
dapat diketahui bahwa pembuatan perahu
dikerjakan oleh dua ahli, yaitu ahli kayu yang
bekerja di tengah hutan dan ahli perahu (panrita
lopi) yang bekerja di pesisir. Bagian-bagian
Perahu Sandeq terlihat pada Gambar 6.
Wasilah
Kesimpulan
1. Terdapat persamaan material yang digunakan
pada elemen pembentuk ruang pada rumah
tradisional Mamasa dengan Perahu Sandeq,
seperti kayu, bambu, dan alang-alang.
Tampak Depan
2. Persamaam bentuk struktur dihubungkan dengan personivikasi, yaitu hubungan manusia dengan alam, yang terdiri dari atas kepala, badan
dan kaki.
3. Persamaan kosmologi dunia atas, dunia tengah
dan dunia bawah, yang tercermin dari atap,
badan rumah dan tiang.
4. Masing-masing memiliki “andiri posi” yaitu tiang
utama yang merupakan titik awal pendirian
rumah dan tempat seluruh material struktur berpusat.
Daftar Pustaka
Gambar 5. Bagian-bagian Banua Mamasa
Konstruksi Perahu Sandeq
(Sumber: Seminar Arsitektur, Unhas, 1994)
Budihardjo, Eko, (1997) Arsitektur sebagai Warisan
Budaya, Djambatan, Jakarta
Dawson, B., & Gillow, J. (1994). The Traditional
Architecture of Indonesia. New York: Thames and
Hudson.
Muhammad Ridwan Alimuddin, 2009, Sandeq, Perahu
Tercepat Nusantara, Ombak, Yogkayarta
Pelras, Christian (2006), Manusia Bugis. Makassar:
Ininnawa
Sanapiah, Faisal (1990), Penelitian Kualitatif: DasarDasar dan Aplikasi. Yayasan Asih, Asah, Asuh,
malang.
Waterson, R. (1990). The Living House: An
Anthropology of Architecture in South-East Asia.
Singapore/Oxford/New York: Oxford University Press.
http://melayuonline.com/ind/culture/........... Di akses
tanggal 29 Agustus 2013
http://melayuonline.com/ind/culture/........... Di akses
tanggal 29 Agustus 2013
Gambar 6. Bagian-bagian Perahu Sandeq
(Sumber: Muhammad Alimuddin, 2001)
Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013 | D - 49
Download