Vol 13 no.2 rev - Journal | Unair

advertisement
Pengaruh antara Kematangan Emosi dan Self-eficacy
terhadap Craving pada Mantan Pengguna Narkoba
Nurul Fitrianti
EM. Agus Subekti
Puri Aquarisnawati
Fakultas Psikologi Universitas Hang Tuah Surabaya
Abstract.
The purpose of this study was to determine whether there is influence between emotional
maturity (as variable X1) and self-efficacy (as variable X2) on craving (as variable Y) in ex-drug
users. The population of this study was former drug users who have became a member of the
Surabaya Orbit Foundation. Sampling technique used was simple random sampling. The
characteristics of the research subjects were former drug users. Population n = 90 and
significance level of 5%. The sampling number according to the table is 70. Data analysis used
two predictors of regression analysis using SPSS 17 for windows. The results is rxy = 0.582 > 0.235
rtable with n = 70 at á = 5%. It means that there are significant effects between emotional maturity
and self-efficacy on craving in former drug users. The results of this study have shown significant
effect, in which the emotional maturity and self-efficacy affects craving in former drug users, but
the impact is very small because the coefficient of determination (R2) indicates that the relative
contribution given by emotional maturity and self-efficacy on craving are only 34%. Therefore
there are 66% of other factors that may determine the emergence of craving in former drug users.
Keywords: emotional maturity, self-efficacy, craving, former drug users
Abstrak.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara kematangan emosi
(sebagai variabel X1) dan self-efficacy (sebagai variabel X2) terhadap craving (sebagai variabel Y)
pada mantan pengguna narkoba. Populasi penelitian ini adalah mantan pengguna narkoba yang
menjadi anggota di Yayasan Orbit Surabaya. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik
simple random sampling. Karakteristik subyek penelitian adalah mantan pengguna narkoba.
Populasi n = 90 dan taraf signifikansi 5%. Jumlah sampel yang diambil berdasarkan tabel
sebanyak 70. Analisis data menggunakan analisis regresi dua prediktor dengan menggunakan
program SPSS 17 for windows. Hasil analisis didapatkan nilai rxy= 0,582 > rtabel 0,235 dengan n = 70
pada a =5%. Artinya ada pengaruh yang signifikan antara kematangan emosi dan self-efficacy
terhadap craving pada mantan pengguna narkoba. Hasil penelitian ini menunjukkan ada
pengaruh yang signifikan dimana kematangan emosi dan self-efficacy mempengaruhi craving
pada mantan pengguna narkoba, walaupun pengaruhnya sangat kecil karena dari hasil
koefisien determinasi (R2) menunjukkan bahwa sumbangan relative yang diberikan oleh variable
kematangan emosi dan self-efficacy terhadap craving hanya sebesar 34%. Oleh karena itu
terdapat 66% faktor lain yang kemungkinan menentukan munculnya craving pada mantan
pengguna narkoba.
Kata kunci: kematangan emosi, self-efficacy, craving, mantan pengguna narkoba.
Korespondensi: Puri Aquarisnawati. Fakultas Psikologi Universitas Hang-Tuah, Jalan Arief Rahman Hakim 150 Surabaya
Telp: (031) 5945894, (031)5946261. Email: [email protected]
INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
106
Pengaruh antara Kematangan Emosi dan Self-eficacy terhadap Craving pada Mantan Pengguna Narkoba
Salah satu faktor kendala pengguna narkoba
untuk berhenti tidak mengkonsumsi narkoba
kembali adalah adanya craving, yaitu perasaan
ingin kembali menggunakan narkoba. Keinginan
untuk sembuh 100%, tetapi perasaan ingin
kembali menggunakan narkoba 95%, sehingga
kemungkinan untuk sembuh hanya 5%
(Kedaulatan Rakyat, 14 Desember 2003).
Kecanduan narkoba akan menyebabkan
pecandu mengalami ketergantungan, sehingga
pada saat pecandu berhenti menggunakan
narkoba akan muncul keinginan untuk
menggunakan narkoba lagi (craving). Jellinek, dkk
(dalam Anton R.F, 1999) memperkenalkan craving
sebagai komponen pusat yang berhubungan
dengan ketergantungan. Hingga tahun 1990-an
belum ada yang melakukan penelitian tentang
craving secara tepat. Clark (2007), memandang
Craving sebagai sugesti yang masih ada untuk
kembali menggunakan narkoba. Istilah craving
sudah populer di kalangan orang yang
menyalahgunakan narkoba. Craving terjadi pada
orang yang menggunakan narkoba dan dianggap
sebagai motivasi subjektif dalam pengalaman
individu berupa hasrat atau keinginan untuk
kembali menggunakan narkoba, oleh karena itu
perlu adanya perhatian lebih bagi pecandu yang
telah berhenti menggunakan narkoba (mantan
pengguna narkoba), karena craving dapat muncul
dan akan mengakibatkan relaps atau kambuh.
Menurut Volkow & Schelbert Craving
tersebut dapat muncul pada mantan pengguna
narkoba karena adanya perbedaan sistem saraf
otak yang ada pada diri pengguna narkoba yang
berbeda dengan seseorang pada umumnya yang
tidak menggunakan narkoba. Pada dasarnya obatobatan berbahaya (narkoba) dapat merubah otak
serta merubah struktur dan cara kerjanya.
Perubahan otak ini dapat terjadi lama (permanen)
atau menetap dan dapat menyebabkan perilaku
yang membahayakan selama orang tersebut
mengkonsumsi narkoba (dalam Darummond,
2001)
Craving menjadi suatu faktor penting yang
harus diketahui oleh seorang pengguna narkoba
atau individu yang menganggap kecanduan
sebagai sesuatu yang mudah untuk dihilangkan
atau disembuhkan. Seorang pecandu yang
berupaya untuk sembuh harus berusaha untuk
memperbaiki komponen-komponen yang telah
107
rusak dalam kehidupannya, tidak hanya fisik,
namun juga mental, sosial, dan spiritual. Craving
muncul pada mantan pengguna narkoba juga
dapat dikarenakan aspek psikologis pada
pengguna narkoba. Pengguna narkoba harus terus
berjuang melawan faktor craving dengan memiliki
keyakinan diri akan kemampuan dalam
mengatasinya yang biasa disebut self-efficacy dan
mantan pengguna narkoba akan dapat beradaptasi
dengan lingkungannya dan selalu dapat berpikir
positif terhadap masalah yang dihadapinya.
Melander (2002) mengatakan bahwa selfefficacy adalah keyakinan akan kemampuan diri
sendiri mengorganisasi sumber-sumber yang
dimiliki untuk menghadapi situasi-situasi dalam
hidup. Jinks, Iorsbach dan Morey (dalam
Setyawati, 2003) mengatakan bahwa yang
terpenting dalam self-eff icacy bukanlah
kemampuan yang secara nyata dimiliki oleh
seseorang, melainkan kemampuan yang
dipersepsi oleh individu akan dapat mencapai
suatu hasil tertentu hanya dengan membayangkan
dirinya mengusasai kemampuan yang diperlukan,
karena self-efficacy berhubungan secara langsung
dengan hasil yang akan dicapai oleh individu itu.
Self-efficacy lebih tepat dikatakan sebagai
fasilitator yang akan mengaktifkan faktor-faktor
yang menentukan tercapainya hasil tertentu
(Pintrich & De Groot, dalam Setyawati, 2003).
Young (dalam Cyrillia, 2006) menjelaskan
bahwa kematangan emosi ditunjukkan melalui
kemampuan mekanisme pertahanan diri ketika
konflik-konflik yang muncul mulai dirasakan
menggagu perilaku. Individu yang matang secara
emosional akan melihat suatu akar permasalahan
berdasarkan fakta dan kenyataan di lapangan,
tidak menyalahkan orang lain atau hal-hal yang
bersangkutan sebagai salah satu faktor
penghambat. Kematangan emosi tergantung pada
aktivitas dari otak bagian bawah. Gejolak emosi
menyiapkan seseorang untuk mengatasi keadaan
yang genting, individu yang primitif membuat
respons semacam itu bisa bertahan dalam
hidupnya (Sobur, 2003). Sehingga individu
tersebut bertanggung jawab akan pola emosi yang
dimiliki. Seseorang yang telah mampu
mencapai tujuannya maka akan berpengaruh
kepada tingkat emosi dan akan mempertahankan
gaya hidup yang dipilih karena sadar bahwa
individu tersebut hidup dalam jaman dan konteks
INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
Nurul Fitrianti, EM. Agus Subekti, Puri Aquarisnawati
sosial tertentu yang ditandai oleh gaya integritas
sendiri. Individu yang mengalami hal tersebut
akan bersifat bijaksana dalam bertingkah lakunya
sehingga kematangan emosi juga akan terbentuk.
Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami
bahwa kematangan emosi dan self-efficacy
memiliki faktor yang mempengaruhi craving pada
mantan pengguna narkoba, oleh karena itu
dibutuhkan penelitian tentang pengaruh
kematangan emosi dan self-efficacy terhadap
craving pada mantan pengguna narkoba untuk
membuktikan hal tersebut. Subyek dalam
penelitian ini adalah mantan pengguna narkoba
yang berjenis kelamin pria. Penelitian ini
dilakukan di Yayasan Bina Hati Surabaya, karena
melihat banyaknya mantan pengguna narkoba
yang masih aktif.
Craving
Menurut (McKim, 2003) craving diartikan
sebagai hasrat yang kuat (strong desire). Secara
umum craving dipahami juga sebagai pengalaman
sadar akan suatu hasrat untuk menggunakan
narkoba (drug). Menurut WHO dan UNDCP
(McKim, 2003) craving merupakan keinginan
untuk mengalami kembali pengalaman
menggunakan zat psikoaktif. Keinginan ini
menjadi semakin besar pada seseorang yang
memiliki kemungkinan besar menjadi pecandu.
Selaras dengan pendapat diatas, menurut
Robbinson (McKim, 2003) craving merupakan
perwujudan pemikiran di mana akan menjadi
semakin kuat dengan adanya pengulangan
pemakaian suatu obat-obatan karena
berhubungan dengan sensitivitas pada bagian
otak tertentu. Memahami definisi craving terkait
dengan model teoritis yang digunakan.
Faktor-Faktor Yang Menyebabkan
Timbulnya Craving
Berdasarkan pada berbagai definisi craving
di atas, dapat dipahami bahwa terdapat berbagai
faktor yang menyebabkan craving. Menurut
model fenomenologi, craving dapat disebabkan
oleh pengalaman positif ketika menggunakan
narkoba, sedangkan menurut teori pengkondisian
craving disebabkan oleh hasil proses belajar.
Sebagai proses belajar, craving merupakan bentuk
respon terkondisikan (conditioned respon) yang
INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
disebabkan oleh adanya stimulasi terkondisikan
(conditioned stimulus).
Karakteristik Craving
Salah satu manfaat memahami model
craving adalah sebagai dasar proses perlakuan
(treatment). Sebagai dasar treatment, maka
craving harus mampu dijelaskan dalam
pemahaman operasional perlakuan. Penjelasan
tentang craving yang banyak dijadikan acuan bagi
proses perlakuan adalah cue-reactivity model.
Model ini menjelaskan craving dengan
menggunakan logika conditioning dan kognitif
(Drummond dkk, 2001). Berdasarkan pemahaman
tersebut dan sebagai acuan indikator dalam
penelitian ini, maka craving dipahami sebagai
respon-respon terkondisikan terhadap isyaratisyarat terkait dengan penggunaan narkoba.
Adapun isyarat-isyarat yang dimaksud adalah
konfigurasi stimulus yang berupa stimulus bagi
indera penglihatan, pendengaran, pengecap,
penciuman, peraba.
Mengacu pada penjelasan diatas dapat
ditegaskan bahwa karakteristik kondisi craving
menurut Drummond (2001) adalah sebagai
berikut:
1. Memiliki stimulus penglihatan yang
terkondisikan terkait dengan penggunaan
kembali narkoba.
2. Memiliki stimulus pendengaran yang
terkondisikan terkait dengan penggunaan
kembali narkoba.
3. M e m i l i k i s t i m u l u s p e n g e c a p y a n g
terkondisikan terkait dengan penggunaan
kembali narkoba.
4. Me m i l i k i s t i m u l u s p e n c i u m a n ya n g
terkondisikan terkait dengan penggunaan
kembali narkoba.
5. Memiliki stimulus peraba yang terkondisikan
terkait dengan penggunaan kembali narkoba.
Karakteristik di atas akan dijadikan dasar
untuk menentukan indikator tentang craving.
Karena isyarat-isyarat dan stimulus yang kuat
mengacu pada kelima indera pada diri manusia.
Craving akan muncul apabila melihat, mendengar,
merasa, menghirup sesuatu yang berhubungan
kuat dengan pengalaman-pengalaman saat
menggunakan narkoba.
108
Pengaruh antara Kematangan Emosi dan Self-eficacy terhadap Craving pada Mantan Pengguna Narkoba
Kematangan Emosi
Kematangan emosi adalah suatu
kemampuan seseorang untuk mengarahkan
emosi dasar yang kuat ke penyaluran yang
mencapai tujuan, sedangkan tujuan itu
memuaskan diri sendiri dan dapat diterima oleh
lingkungannya (Hergenhahn, 2001).
Monks (1999) menyebutkan bahwa
kematangan emosi sebagai suatu kemampuan
fungsi-fungsi psikis pada tingkat tinggi sebagai
hasil dari pertumbuhan fisik. Pengalaman sebagai
potensi psikologis individu yang dapat digunakan
secara optimal. Medikus dan Johnson, (dalam
Monks, 1999) menyatakan bahwa dalam proses
kehidupan individu yang matang akan
mempunyai tugas mengambangkan tingkat
kehidupannya dan meningkatkan kemampuan
menghadapi masa sekarang dan masa yang akan
datang.
Kematangan emosi (dalam Puspitasari,
2002) dapat didefinisikan sebagai kondisi yang
ditandai oleh perkembangan emosi dan
pemunculan perilaku yang tepat sesuai dengan
usia dewasa dari pada bertingkahlaku seperti
anak-anak. Semakin bertambah usia individu
diharapkan dapat melihat segala sesuatunya
secara obyektif, mampu membedakan perasaan
dan kenyataan, serta bertindak atas dasar fakta
dari pada perasaan.
Senada dengan pendapat di atas Covey
(dalam Puspitasari, 2002) mengemukakan bahwa
kematangan emosi adalah kemampuan untuk
mengekspresikan perasaan yang ada dalam diri
secara yakin dan berani, seimbang dengan
pertimbangan-pertimbangan akan perasaan dan
keyakinan individu lain.
Chaplin (dalam Walgito, 2002) mengartikan
kematangan emosi sebagai suatu keadaan
seseorang yang telah mencapai tingkat
kedewasaan dan perkembangan emosional, oleh
karena itu individu tersebut tidak akan
menampilkan pola emosi seperti anak-anak.
Walgito (2002) menyatakan bahwa seseorang
dapat dikatakan memiliki kematangan emosi
apabila dapat mengendalikan emosinya, seperti :
dapat berpikir secara matang, berpikir secara baik,
dan obyektif.
Kematangan emosi juga dapat dikatakan
sebagai proses belajar untuk mengembangkan
cinta secara sempurna dan luas dimana hal itu
109
menjadikan reaksi pilihan individu sehingga
secara otomatis dapat mengubah emosi-emosi
yang ada dalam diri manusia (Hwarmstrong,
2005).
Young (dalam Cyrillia, 2006) dijelaskan
bahwa kematangan emosi ditunjukkan melalui
kemampuan mekanisme pertahanan diri ketika
konflik-konflik yang muncul mulai dirasakan
mengganggu perilaku. Orang yang matang secara
emosional akan melihat suatu akar permasalahan
berdasarkan fakta dan kenyataan dilapangan,
tidak menyalahkan orang lain atau hal-hal yang
bersangkutan sebagai salah faktor penghambat.
Kesimpulan dari uraian di atas adalah bahwa
seseorang yang mempunyai kematangan emosi
adalah orang yang telah mencapai tingkat
kedewasaan dari perkembangan emosionalnya,
memiliki emosi yang stabil tidak meledak-ledak,
mampu mengendalikan atau mengontrol emosi
dan mewujudkannya melalui respon emosional
yang baik dengan tanggung jawab yang baik pula.
Semakin berkembang tingkat kedewasaan
seseorang, maka semakin mampu pula individu
tersebut untuk memberikan respon emosi yang
baik sehingga dapat mengatasi tekanan kehidupan
yang dihadapi.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Kematangan Emosi
Schneider (dalam Kenenbudi, 2007)
menekankan bahwa kualitas kematangan emosi
setidak-tidaknya melibatkan tiga dimensi, yaitu :
1. Adequacy of Emotional Response, artinya
bahwa respon-respon emosional individu
harus sesuai dengan tingkat perkembangan
individu dan adanya arah yang tepat bagi
respon emosional tersebut.
2. Emotional Range & depth, kualitas ini
menunjukkan pada tingkat kedalaman respon
emosional pada tiap individu. Bagaimana cara
setiap individu tersebut merespon setiap
konflik-konflik yang terjadi dalam dirinya.
Sejauh mana respon tersebut mampu
ditangkap oleh individu tersebut dengan
sebaik dan sedalam mungkin.
3. Emotional Control, berarti mengatur respon
emosional sesuai dengan tuntutan dari
lingkungan dengan standar yang berasal dari
lingkungan dan dengan standar yang berasal
INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
Nurul Fitrianti, EM. Agus Subekti, Puri Aquarisnawati
dari dalam diri individu. Standar-standar
tersebut berkaitan dengan nilai-nilai, idealideal, dan prinsip-prinsip, sehingga dapat
menimbulkan kepuasan maksimum dan
gangguan keseimbangan yang minimum pada
individu.
Ciri-Ciri Kematangan Emosi
Menurut Hollingworth & Morgan (dalam
Cyrillia, 2006) dalam memahami kematangan
emosi dapat dilakukan dengan cara memahami
perubahan perilaku emosional dan respon-respon
emosional yang berlawanan dari anak-anak dan
orang dewasa. Ciri-ciri orang dengan emosi yang
matang menurut Hollingworth dan Morgan
adalah sebagai berikut :
1. Gradasi atau derajat toleransi terhadap
frustasi, yakni individu yang emosinya matang
mampu memberikan gradasi respon
emosional atau mempunyai derajat toleransi
terhadap rasa frustasi.
2. Pengurungan frekuensi dan derajat kekacauan
emosional, yakni individu yang emosinya
matang tidak mudah meledakkan emosinya
sesering yang ditunjukkan oleh anak-anak.
Bahwa seseorang yang mempunyai energy dan
kepercayaan akan memandang masa yang
akan datang dengan baik, seseorang yang
mengontrol dirinya dengan mengurangi
frekuensi emosi yang meledak-ledak.
3. Perilaku yang tidak impulsiv dan eksplosif,
yakni individu yang emosinya matang mampu
menunda responnya dan respon yang
diberikannya tidak impulsive seperti respon
emosi pada anak-anak. Anak-anak tidak dapat
menunda dalam mengekspresikan emosi,
seperti marah, senang atau takut. Seperti bila
sedang senang, maka anak akan melompatlompat.
4. Sikap menghargai diri sendiri, yakni individu
yang emosinya matang dapat menghargai diri
sendiri (attitude of self regard) dan mampu
mengendalikan diri untuk mengasihi diri (self
pity) tidak menunjuk rasa kasihan terhadap
diri sendiri secara berlebihan, melainkan
sesuai dengan rasa.
5. Manifestasi emosional, yakni individu yang
emosinya matang mampu menghambat
manifestasi emosinya, atau kemampuan
untuk mengarahkan dan meregulasi impuls,
INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
p e m i k i r a n , ke b i a s a a n , e m o s i , a t a u
kemampuan untuk mengarahkan dan
meregulasi impuls, pemikiran, kebiasaan,
emosi, sikap dan tingkah laku untuk
mengatasi ketegangan dan masalah yang
dihadapinya serta pengembangan
kepribadiannya pada tujuan yang matang.
Berdasarkan uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa kematangan emosi pada
mantan pengguna narkoba dalam mengatasi
craving dapat di ukur melalui kemampuan
memberikan gradasi respon emosional, mampu
mengurangi frekuensi emosional, mampu
menunda responnya (tidak impulsive dan
eksplosif) menghargai diri sendiri, dan mampu
menghambat manifestasi emosinya. Dengan
demikian ciri-ciri di atas akan dijadikan dasar
untuk menentukan indikator tentang
kematangan emosi.
Self-efficacy
Konsep mengenai self-efficacy ini pada
dasarnya melibatkan banyak kemampuan yang
terdiri dari aspek kegiatan sosial dan kemampuan
untuk bertingkah laku. Self-efficacy adalah
keyakinan diri seseorang akan kemampuankemampuannya untuk mengatur dan
melaksanakan serangkaian tindakan yang
diperlukan untuk menghasilkan suatu hal. Selfeff icac y merupakan penilaian terhadap
kemampuan diri seseorang.
Bandura (dalam Panjares & Schunk, 2001)
juga menyatakan bahwa self-efficacy merupakan
perasaan, penilaian seseorang mengenai
kemampuan dan kompetensi yang dimiliki untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya.
Self-efficacy adalah evaluasi seseorang terhadap
kemampuan atau kompetensinya untuk
melakukan sebuah tugas, mencapai tujuan, atau
mengatasi hambatan (dalam Panjares, F &
Schunk, 2001).
Brehm dan Kassin (1999) disebutkan bahwa
self-efficacy sebagai keyakinan individu bahwa diri
sesrorang mampu melakukan tindakan spesifik
yang diperlukan untuk menghasilkan out come
yang diinginkan dalam suatu situasi. Baron dan
Byrne (2004) mendefinisikan self-efficacy sebagai
evaluasi seseorang mengenai kemampuan atau
kompetensi diri dalam melakukan suatu tugas,
mencapai tujuan, atau mengatasi suatu masalah.
110
Pengaruh antara Kematangan Emosi dan Self-eficacy terhadap Craving pada Mantan Pengguna Narkoba
Schunk menyebutkan bahwa self-eff icacy
mengacu pada harapan yang dipelajari seseorang
bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu
perilaku atau menghasilkan sesuatu yang
diharapkan dalam suatu situasi tertentu (Schunk,
dalam Feldman 2003).
Menurut Pajares (Woolfolk, 2004), selfefficacy adalah penilaian terhadap kompetensi diri
dalam melakukan suatu tugas khusus dalam
konteks yang spesifik. Selanjutnya self-efficacy
diartikan dengan fokus pada kemampuan
seseorang untuk dapat menyelesaikan sejumlah
tugas dengan sukses. Myers (2005)
mengungkapkan bahwa self-efficacy adalah
perasaan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya
kompeten dan efektif dalam melakukan suatu
tugas.
Self-efficacy merupakan salah satu faktor
personal yang menjadi perantara atau mediator
dalam interaksi antara faktor perilaku dan faktor
lingkungan. Self-efficacy dapat menjadi penentu
keberhasilan performansi dan pelaksanaan
pekerjaan. Self-eff icacy juga sangat
mempengaruhi pola pikir, reaksi emosional,
dalam membuat keputusan (Mujiadi, 2003).
Meskipun demikian self-eff icacy diyakini
merupakan aspek prediktor dari kecakapan untuk
sukses pada berbagai bentuk prestasi (Okech dan
Harrington, 2002).
B e rd a s a r k a n u ra i a n d i a t a s d a p a t
disimpulkan bahwa self-efficacy merupakan
keyakinan akan seluruh kemampuan meliputi
kepercayaan diri, kemampuan menyesuaikan diri,
evaluasi terhadap kompetensi untuk melakukan
tugas, mencapai tujuan dan mengatasi hambatan
atau masalah. Serta keyakinan individu untuk
mampu melakukan tugas khusus dalam konteks
spesifik yang akan mempengaruhi pola pikir dan
reaksi emosional dalam membuat keputusan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Selfefficacy
Self-eff icacy dapat dipelajari dan
ditumbuhkan melalui 4 faktor seperti yang
diungkapkan oleh Bandura (Panjares, 2001) :
a. Hasil yang telah dicapai (Performance
attainment)
Hasil yang telah dicapai oleh individu dalam
memperkerjakan suatu tugas tertentu adalah
sumber informasi yang penting karena
111
didasarkan atas pengalaman pribadi individu.
Prestasi adalah pengalaman-pengalaman
yang dialami secara langsung oleh individu.
Pengalaman keberhasilan atau kesuksesan
dalam mengerjakan suatu tugas akan
meningkatkan self-efficacy terutama pada
awal kejadian dan kegagalan ini disebabkan
oleh karena kurangnya usaha individu atau
karena lingkungan di luar dirinya yang
menghambat.
b. Pengalaman melalui model sosial (Vicarious
experience)
Self-efficacy dapat muncul ketika seseorang
mengamati keberhasilan orang lain dalam
melakukan aktivitas-aktivitas yang sama atau
mirip dengan tugas yang dilakukan oleh
individu yang bersangkutan. Seseorang akan
meningkatkan self-efficacy jika memiliki
kemampuan yang sebanding dengan orang
yang diamati, melakukan usaha yang lebih
giat, ulet dan tekun.
c. Keadaan fisiologis (Pshysioligycalstates)
Individu akan lebih mungkin mencapai
ke b e r h a s i l a n j i k a t i d a k m e n g a l a m i
pengalaman-pengalaman yang menekan
secara fisik dan emosional, karena hal tersebut
dapat menurunkan prestasi, gejolak emosi dan
keadaan fisiologik memberikan suatu isyarat
akan terjadinya sesuatu yang sangat tidak
diinginkan, sehingga situasi-situasi yang
menekankan itu cenderung dihindari.
d. Persuasi verbal (Persuasive verbal)
Persuasi verbal digunakan secara luas untuk
berbicara kepada orang untuk meningkatkan
kepercayaan bahwa seseorang mampu
mencapai apa yang dilihat. Persuasi verbal
sendiri terbatas dalam kekuatan individu
untuk menghasilkan kekuatan self-efficacy,
tetapi memberikan sumbangan terhadap
keberhasilan kinerja jika penilaian diterapkan
dalam batas-batas yang realistik, namun jika
dalam diri seseorang tumbuh keyakinan yang
tidak realistik tentang kecakapan personal
maka yang terjadi adalah kegagalan yang akan
merusak pandangan orang lain terhadap diri
seseorang.
Ciri-Ciri Orang yang Memiliki Selfefficacy Tinggi dan Rendah
Orang yang memiliki Self-efficacy yang
INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
Nurul Fitrianti, EM. Agus Subekti, Puri Aquarisnawati
tinggi mempunyai ciri-ciri tertentu yang
membedakan dari orang-orang yang memiliki
Self-efficacy rendah. Ciri-ciri individu dengan selfefficacy tinggi dari (dalam Zarina. A, 2001) :
1. Individu merasa yakin akan berhasil
(mampu).
2. Kinerja tinggi dalam mengerjakan tugas (hasil
cepat didapat).
3. Gigih sampai tujuan tercapai.
4. Memikul tanggung jawab secara pribadi dan
menginginkan hasil dari kemampuan yang
optimal (mandiri).
5. Mampu mengontrol stres dan kecemasan
(tidak tertekan).
6. Menganggap tugas sebagai pekerjaan yang
menarik.
7. Kreatif dan inovatif (bertindak aktif).
Sebaliknya, individu yang memiliki selfefficacy yang rendah memiliki ciri-ciri yang
berlawanan dengan individu yang memiliki selfefficacy tinggi. Ciri-ciri individu yang memiliki
self-efficacy rendah yaitu:
1. Individu merasa tidak yakin akan berhasil
(tidak mampu).
2. Kinerja lemah dalam mengerjakan tugas (hasil
lama didapat).
3. Tidak mempunyai kegigihan dalam mencapai
tujuan.
4. bKurang memiliki tanggung jawab secara
pribadi dan kurang menginginkan hasil dari
kemampuan optimalnya (tergantung pada
orang lain).
5. Kurang mampu mengontrol stres dan
kecemasan (mudah tertekan).
6. Menganggap tugas sebagai pekerjaan yang
tidak menarik (beban).
7. Kurang kreatif dan inovatif (pasif).
METODE PENELITIAN
tipe korelasional dalam penelitian ini
menggunakan korelasional ganda dengan dua
variabel independen dan satu variabel dependen
(Sugiyono, 2008).
Identifikasi Variabel Penelitian
Berdasarkan jenis penelitian yaitu penelitian
korelasional ganda, maka dalam penelitian ini
terdapat dua variabel bebas (X1 dan X2) dan satu
variabel tergantung (Y). Adapun identifikasi
variabel-variabel dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Variabel bebas 1 (X1) yaitu kematangan emosi
2. Variabel bebas 2 (X2) yaitu self-efficacy
3. Variabel tergantung (Y) yaitu craving
Populasi
Menurut Sugiyono (2007) populasi adalah
wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
ditarik kesimpulannya. Mengacu pada pendapat
tersebut, maka dalam populasi penelitian ini
memiliki karakteristik atau ciri-ciri, mantan
pengguna narkoba, telah berhenti menggunakan
narkoba minimal 1 tahun, berjenis kelamin lakilaki, berusia minimal 25 tahun, pendidikan
minimal SMA atau sederajat, berdomisili di
wilayah Surabaya, menjadi anggota dalam LSM
yayasan orbit, bersedia menjadi subyek penelitian.
Secara khusus, populasi penelitian diambil
dari mantan pecandu narkoba yang aktif di
Yayasan Orbit. Berdasar data dari Yayasan Orbit,
jumlah populasi yang sesuai dengan ciri-ciri di atas
sebanyak 70 orang, karena dalam penelitian ini
jumlah populasi kurang dari 100 orang maka
peneliti menggunakan seluruh populasi sebagai
subjek penelitian.
Teknik Pengumpulan Data
Jenis Penelitian
Penelitian ini didasarkan pada paradigma
positivistik dengan pendekatan kuantitatif karena
data untuk menjawab permasalahan penelitian
berupa data angka (numerik) dengan
menggunakan uji (Sugiyono, 2008). Disebut
sebagai penelitian korelasional ganda karena
penelitian ini bertujuan menguji pengaruh antar
variabel yaitu variabel X dan variabel Y. Adapun
INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
Teknik pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode kuesioner atau
angket. Metode kuisioner dengan menggunakan
skala Likert yang sudah dimodifikasi disini adalah
menghilangkan pernyataan tengah dengan tujuan
untuk menghindari kecenderungan sampel
memilih pernyataan yang netral.
112
Pengaruh antara Kematangan Emosi dan Self-eficacy terhadap Craving pada Mantan Pengguna Narkoba
Skala pengukuran untuk data Self-efficacy
digunakan skala Self-efficacy yang terdiri dari 28
aitem dengan indikator seperti yang tercantum
pada tabel 3.2, yaitu blue print Self-efficacy sebagai
berikut :
Skala pengukuran untuk data craving
digunakan skala craving yang terdiri dari 20 aitem
dengan indikator seperti yang tercantum pada
tabel 3.3, yaitu blue print craving sebagai berikut :
113
INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
Nurul Fitrianti, EM. Agus Subekti, Puri Aquarisnawati
HASIL DAN BAHASAN
Hasil Uji Instrumen
Skala kematangan emosi yang terdiri dari 20
item, setelah dianalisis menggunakan rumus
korelasi product moment melalui program SPSS 17
for windows diperoleh 2 item yang tidak valid, yaitu
item nomor 8 dan 10. Ke-2 item tersebut
mempunyai koefisien korelasi dengan skor
totalnya lebih kecil dari rtabel = 0,235untuk á = 5%
dengan n = 70.
Berdasarkan skala self-efficacy semula 28
item, ternyata diperoleh 4 item yang tidak valid
yaitu nomor 5,6,10 dan 14 karena mempunyai
koefisien korelasi dengan skor totalnya lebih kecil
dari rtabel = 0,235 untuk á = 5% dengan n = 70.
Sedangkan berdasarkan skala craving semula
20 item, ternyata diperoleh 2 item yang tidak valid
yaitu nomor 11 dan 13 karena mempunyai koefisien
korelasi dengan skor totalnya lebih kecil dari rtabel =
0,235 untuk á = 5% dengan n = 70.
Berdasarkan hasil uji reliabilitas
menggunakan rumus alpha, pada skala
kematangan emosi diperoleh koefisien reliabilitas
sebesar 0,829; sedangkan pada skala self-efficacy
diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,718 dan
pada skala craving diperoleh koefisien reliabilitas
sebesar 0,789. á =5% dengan n = 70 diperoleh rtabel =
0,235. Hasil pengujian reliabilitas tersebut di atas,
lebih besar daripada rtabel, maka dari itu, dapat
disimpulkan bahwa kedua instrument tersebut
diatas, reliabel.
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk melihat
normal tidaknya sebaran data variabel data
penelitian dalam populasi. Hasil uji normalitas
pada skala craving diperoleh Sig KolmogorovSmirnov sebesar 0,2 p > 0,05. Berdasarkan data
tersebut, dapat disimpulkan bahwa variabel
tersebut sebarannya normal.
Uji Linieritas
Uji Linieritas pengaruh kematangan emosi
dan self-efficacy terhadap craving pada table
ANOVA menunjukkan kelinieran. Pada tabel
tersebut didapatkan F hitung (17,199) > F table
(0,95;2;67) 3,13, atau p (0,000) <0,05. Sehingga dari
hasil ini ada hubungan linier antara variabel
INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
kematangan emosi, self-efficacy dan craving.
Uji Hipotesis
Setelah semua asumsi untuk analisis regresi
terpenuhi, maka dilakukan perhitungan analisis
regresi umum. Hasil uji asumsi menunjukkan
bahwa data yang terkumpul memenuhi syarat
untuk dilakukan analisis berikutnya, yaitu uji
hipotesis. Hipotesis pada penelitian ini adalah ada
pengaruh antara kematangan emosi dan selfefficacy terhadap craving.
Berdasarkan analisis regresi diperoleh hasil
koefisien korelasi p (0,006) < 0,01; (tabel 4.2).
Artinya ada pengaruh yang signifikan, ini
menunjukkan bahwa hipotesis kerja (Hk) minor
nol ditolak yang artinya ada pengaruh antara
kematangan emosi dengan craving. Berdasarkan
analisis regresi diperoleh hasil koefisien korelasi p
(0,001) < 0,01; (tabel 4.2). Artinya ada hubungan
yang signifikan, ini menunjukkan bahwa hipotesis
kerja (Hk) minor nol ditolak yang artinya ada
pengaruh antara self-efficacy dengan craving.
Pada tabel model summary, kolom R adalah
koefisien korelasi Pearson (0,582) yang
menunjukkan hubungan antara kedua variable,
karena rxy = 0,582 > rtabel = 0,235; (tabel 4.3) dengan n
= 70 pada á =5%. Sehingga dalam penelitian
hipotesis kerja (Hk) mayor nol ditolak, yang
artinya ada pengaruh antara kematangan emosi
dan self-efficacy terhadap craving. Sumbangan
relatif dapat dilihat pada R square, didapatkan
nilai 0,339 x 100% = 33,9% atau 34%.
Bahasan
Hasil penelitian menunjukkan ada
pengaruh yang signifikan antara kematangan
emosi dan self-efficacy terhadap craving pada
mantan pengguna narkoba. Hal ini ditunjukkan
dengan nilai rxy = 0,582 > rtabel = 0,235 dengan n = 70
pada á =5%. Kolerasi yang ditunjukkan adalah
positif, artinya semakin tinggi kematangan emosi
dan semakin baik self-efficacy yang dimiliki
individu maka semakin tinggi pula craving.
Penelitian ini menunjukkan ada pengaruh
yang signifikan antara kematangan emosi dan selfefficacy terhadap craving pada mantan pengguna
narkoba yang relative kecil karena dapat dilihat
dari sumbangan relative dalam penelitian ini
sebesar 34% yang terdiri dari, kematangan emosi
terhadap craving sebesar 15%; sedangkan
114
Pengaruh antara Kematangan Emosi dan Self-eficacy terhadap Craving pada Mantan Pengguna Narkoba
sumbangan efektif self-efficacy terhadap craving
sebesar 19%, dalam hal ini berarti masih ada 66%
faktor-faktor lain yang lebih mempengaruhi
craving dibandingkan kematangan emosi dan selfefficacy. Melihat masih ada faktor-faktor lain yang
lebih mempengaruhi craving dari pada
kematangan emosi dan self-efficacy maka hal
tersebut dapat diperhitungkan. Faktor-faktor
tersebut antara lain kemampuan untuk mengatasi
stress (stress management) dan coping skills, dari
ke d u a f a k to r te r s e b u t t i d a k m e n u t u p
kemungkinan dapat menjadi pendorong maupun
penghambat dalam mengatasi craving. Dimana
mantan pengguna narkoba yang memiliki
pemikiran yang tidak realistis terhadap suatu
permasalahan akan cenderung mengalami
craving.
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa
pengaruh self-efficacy lebih besar dari pada
kematangan emosi terhadap craving. Hal tersebut
senada dengan pendapat Covey (dalam
Puspitasari, 2002) mengemukakan bahwa
kematangan emosi tergantung pada kemampuan
mengekspresikan perasaan dalam diri secara yakin
dan berani, seperti pertimbangan-pertimbangan
akan perasaan serta self-efficacy (keyakinan) yang
dimiliki individu untuk melakukan sesuatu.
Sehingga individu yang memiliki self-efficacy
(keyakinan) akan menunjukkan sikap mampu
mengendalikan atau mengontrol emosi dan
mewujudkannya melalui respon emosional yang
baik dengan tanggung jawab yang baik pula.
Semakin berkembang tingkat keyakinan dan
kedewasaan seseorang, maka semakin mampu
pula individu tersebut untuk memberikan respon
emosi yang baik sehingga dapat mengatasi hasrat
yang kuat untuk kembali menggunakan narkoba
atau disebut dengan craving.
Selaras dengan pengalaman yang dialami
oleh S, seorang mantan pengguna narkoba yang
juga aktif di Yayasan Orbit Surabaya, sebagai
berikut:
“…saya sudah berhenti selama 2 tahun
mbak, saya gak pake lagi…bener-bener stop gak
pake lagi. Temen-temen pada gak percaya. Kata
mereka, kok bisa?gak sakit apa?gimana
caranya?...ya saya bilang aja kalo yakin dan ada
niat dari dalam pasti bisa…tergantung sungguhsungguh gak-nya kalian mau lepas…Sering temente m e n g o d a i n s a ya , n g a j a k i n ny i m e n g
115
lagi…awalnya saya hampir goyah, tapi sekali lagi
saya ingat tujuan utama hidup…2 tahun berhenti,
berusaha mati-matian, gak gampang lho
mbak…sakit kalo sakaw…terus masa saya gampang
mau diajak nyimeng lagi…gak! saya udah yakin
100%...Saya pasti bisa hidup normal gak ikutan
temen-temen lagi…”
(Hasil wawancara dengan subyek S, hari Senin
tanggal 27 Oktober 2010)
Dari hasil wawancara di atas menunjukkan
bahwa kualitas kematangan emosi setidaktidaknya melibatkan dimensi Emotional Range &
depth, menunjukkan tingkat kedalaman respon
emosional tiap individu untuk mengatasi
perasaan atau hasrat ingin menggunakan narkoba
kembali atau craving (dalam Kenenbudi, 2007).
Bagaimana cara setiap individu tersebut merespon
setiap konflik-konflik yang terjadi dalam diri,
karena menurut Drummond D.C, 2001 craving
khususnya dipahami sebagai respon-respon
terkondisikan terhadap isyarat-isyarat terkait
dengan penggunaan narkoba. Adapun isyaratisyarat yang dimaksud adalah konfigurasi stimulus
yang berupa stimulus bagi indera penglihatan,
pendengaran, pengecap, pencium, peraba. Sejauh
mana respon-respon tersebut mampu ditangkap
oleh individu tersebut dengan sebaik dan sedalam
mungkin.
Pengalaman yang dialami oleh D, seorang
mantan pengguna narkoba berusia 35 tahun yang
saat ini bekerja disebuah perusahaan ternama di
Gresik. sebagai berikut:
“…saya kerjanya di lapangan jadi bertemu
dengan berbagai macam orang, waktu itu saya
ikutan teman-teman untuk mengkonsumsi obat.
Saya rasakan kok enak, rasanya itu tidak bisa
diungkapkan dengan kata-kata…Selama hampir 10
tahun saya aktif dan ketergantungan, uang gaji,
uang bonus dari kantor saya habiskan untuk
itu…istri saya tahu, makanya selalu marah-marah
kalau melihat saya bergaul dengan teman-teman
yang mengajak saya untuk mengkonsumsi…istri
saya selalu menangis tiap malam, memohon saya
untuk berhenti karena melihat kondisi badan saya
yang semakin hari semakin kurus kering, seperti
orang tidak mempunyai semangat hidup…nah,
sejak itu saya memutuskan untuk berhenti karena
saya berf ikir memiliki tanggung jawab
besar…membahagiakan istri dan anak-anak
INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
Nurul Fitrianti, EM. Agus Subekti, Puri Aquarisnawati
saya…mau sampai kapan saya begini terus…mau
sampai mati..terus istri dan anak saya siapa yang
mengurus…”
(Hasil wawancara dengan subyek D, hari Senin
tanggal 27 Oktober 2010)
kontrol diri yang tinggi untuk tidak menggunakan
narkoba kembali meskipun mendapatkan
stimulasi pada hal-hal yang terkait dengan
pengalaman menggunakan narkoba, sehingga
dalam kondisi clean & sober.
Dari hasil wawancara di atas menunjukkan
bahwa individu yang matang emosinya memiliki
rasa tanggung jawab dan yakin untuk mengambil
keputusan atau melakukan suatu tindakan dan
berani untuk menanggung resikonya. Menurut
Overstreet (dalam Puspitasari, 2002) Individu
yang matang tidak menggantungkan hidup
sepenuhnya kepada individu lain karena individu
yang matang tahu bahwa setiap orang
bertanggung jawab atas kehidupan masingmasing. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
individu itu matang maka keyakinan untuk
bertanggung jawab terhadap diri sendiri semakin
besar, sehingga individu tetap yakin akan
pendiriannya dan tidak mudah dipengaruhi
teman-temannya untuk kembali menggunakan
narkoba.
Dinyatakan pula oleh Brehm dan Kassin
(1999) self-efficacy yang tinggi pada individu
untuk mampu melakukan tindakan yang
diperlukan dalam menghasilkan out come yang
diinginkan dalam suatu situasi atau proses
pemulihan untuk tidak menggunakan narkoba
kembali sangatlah mempengaruhi. Kematangan
emosi dan self-efficacy pada mantan pengguna
narkoba merupakan dua hal yang dapat
menghambat atau mendorong munculnya
craving. Dikatakan sebagai faktor penghambat
apabila kematangan emosi dan self-efficacy pada
mantan pengguna narkoba dapat dikategorikan
tinggi, sebaliknya dapat dikatakan sebagai
p e n d o ro n g m u n c u l nya c ra v i n g a p a b i l a
kematangan emosi dan self-efficacy pada mantan
pengguna narkoba dikategorikan rendah.
Kematangan emosi dan self-efficacy yang rendah
dapat mendorong munculnya craving karena
ketika mantan pengguna narkoba mendapatkan
stimulasi yang mengenai panca indera, khususnya
stimulasi yang memiliki pengalaman pada mantan
pengguna narkoba maka memungkinkan
munculnya craving akan tinggi karena kurangnya
kontrol dari diri individu. Sebaliknya kematangan
emosi dan self-efficacy yang tinggi dapat
menghambat craving karena individu memiliki
SIMPULAN DAN SARAN
INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
Simpulan
Hasil penelitian ini menunjukkan ada
pengaruh yang signifikan, dimana Hipotesis kerja
(Hk) penelitian yang menyatakan bahwa
kematangan emosi dan self-eff icacy
mempengaruhi craving pada mantan pengguna
narkoba, namun pengaruhnya relative kecil karena
d a r i h a s i l ko e f i s i e n d e te r m i n a s i ( R 2 )
menunjukkan bahwa sumbangan relative yang
diberikan oleh variabel kematangan emosi dan
self-efficacy terhadap craving sebesar 34%, oleh
karena itu ada 66% faktor lain yang menentukan
munculnya craving pada mantan pengguna
narkoba. Faktor-faktor tersebut antara lain
kemampuan untuk mengatasi stress (stress
management) dan coping skills, dimana mantan
pengguna narkoba yang memiliki pemikiran yang
tidak realistis terhadap suatu permasalahan akan
cenderung mengalami craving.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan,
ada beberapa saran yang dapat diberikan peneliti,
antara lain:
1. Bagi subyek yaitu mantan pengguna narkoba.
a. Apabila bersungguh-sungguh untuk
sembuh dan tidak menggunakan narkoba
kembali, hendaknya mendatangi tempat
rehabilitasi untuk proses penyembuhan,
karena dikhawatirkan banyak pengaruh
eksternal yang mempengaruhi
menggunakan kembali seperti teman dekat
atau pun komunitas.
b. Apabila dorongan menggunakan narkoba
kembali itu muncul, hendaknya
meningkatkan keyakinan dalam diri dan
benar-benar melihat tujuan hidup untuk
mencapai masa depan.
c. Apabila dorongan menggunakan narkoba
kembali itu muncul, hendaknya
mengalihkan perasaan pada aktivitasaktivitas yang lebih bermanfaat seperti
116
Pengaruh antara Kematangan Emosi dan Self-eficacy terhadap Craving pada Mantan Pengguna Narkoba
mengikuti suatu lembaga pendidikan dan
keterampilan atau dengan melakukan
kegiatan yang sesuai dengan hobi.
2. Bagi keluarga subyek.
a. Agar dapat memberikan perhatian lebih
pada keluarga yang sedang dalam proses
penyembuhan dari narkoba dan selalu
memberikan motivasi serta dukungan baik
secara moral.
b. Memberikan fasilitas pada mantan
pengguna narkoba dengan kegiatankegiatan positif yang mendukung proses
penyembuhan seperti mengikuti kegiatan
kursus, memberikan modal untuk
membuka usaha mandiri dan sebagainya.
3.
Bagi peneliti selanjutnya.
a. Mempertimbangkan populasi dengan
karakteristik yang berbeda dari penelitian
ini, misalnya mantan pengguna narkoba
yang mengalami relaps, mantan narkoba
yang mengalami withdrawal, atau mantan
pengguna narkoba yang sedang melakukan
proses clean & sober.
b. Apabila menggunakan kuisioner sebagai
alat ukur, perlu memperhatikan aspek
indikator aitem yang diukur dalam. Setiap
pembuatan aitem-aitem untuk kuesioner
hendaknya lebih diperhatikan secara
spesifik yang mencakup keadaan pada
indikatornya.
c. Agar lebih memperhatikan faktor-faktor
selain kondisi kematangan emosi dan selfefficacy yang kemungkinan mempengaruhi
craving pada mantan pengguna narkoba,
misalnya: seperti kemampuan untuk
mengatasi stress (stress management) dan
coping skills.
4. Bagi pihak Yayasan Orbit.
a. Agar dapat memberikan perhatian berupa
motivasi dan dukungan, tidak hanya
kepada pengguna narkoba tetapi juga pada
mantan pengguna narkoba.
b. Disarankan untuk membuat suatu lembaga
pendidikan dan keterampilan bagi mantan
pengguna narkoba yang telah sembuh dan
kembali ke masyarakat.
c. Perlu mengadakan suatu kegiatan yang
terprogram untuk mengembangkan
kepribadian bagi para mantan pengguna
narkoba melalui kegiatan-kegiatan seperti
out bound, konseling, dan sejenisnya.
PUSTAKA ACUAN
Badan Narkotika Nasional (2003). Bahan Pendidikan Pencegahan dan Kampanye Penyadaran akan Bahaya
Penyalahgunaan Narkoba bagi Remaja. Jakarta: Badan Narkotika Nasional.
Baron, R.A & Byrne, R. (2004). Psikologi Sosial Jilid 1 (alih bahasa oleh Ratna Djuwita, Melania Meitty Parman, Dyah
Yasmina & Lita P Lunanta). Jakarta. Penerbit Erlangga.
Bhrem, S & Kassim, S.M (1999). Social Psychology. New Jersey: Hougtc Mifflin Company.
Clark. (2007). Menanggulangi NAPZA. Bogor: Dana Bhakti Prima yasa.
Courtney . (2003). Self-efficacy Beliefs of Adolescent. Grenwich: information age publishing.
Cyrillia, J.S. (2006). Perbedaan kematangan Emosi dan Kemandirian anak tunggal dan anak bersaudara. Skripsi,
Fakultas Psikologi Universitas Ubaya. tidak diterbitkan,
Drummond, D.C. (2001). Conceptualizing Addiction: Theories of drug craving, ancient and modern. London, UK:
Department of Addictive Behavior and Psychologycal Medecine, St George's Hospital medical School.
Feldmans, R.S. (2003). Social Psychology. New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Hergenhahn. (2001). An Introduction to theories of learning. Massachusetts: Allyn & Bacon.
Hwamstrong. (2005). Emotional Quality Management. Refleksi, Revisi dan Revitalisasi Hidup Melalui Kedaulatan
Emosi. Jakarta: Penerbit Arga.
Jellinekk, dkk. (1999). The Disease Concept of Alcoholism. New Haven: Hill House.
Kenenbudi, C.M. (2007). Penyesuaian Akademik, Kematangan Emosi Dan Dukungan Teman Pada Mahasiswa Urban
Di Tahun Pertama. Skripsi, S-1. Surabaya, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya: tidak diterbitkan.
Mc.Kim, W-A. (2003). Drugs and Behavior: An Introduction to Behavior Pharmacology. Fith Edition. New Jersey:
person Education, Inc.
Melander. (2002). Health Psychology: Integrating Mind And Body. Singapore: Allyn And Balcon.
Monks, F.J. (1999). Psikologi perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Mujiadi. (2003). Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Okech & Harrington. (2002). The Developing Child.
117
INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
Download