anggaran pendapatan dan belanja negara tahun

advertisement
SALINAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2013
TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA
TAHUN ANGGARAN 2014
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang
: a.
bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagai
wujud dari pengelolaan keuangan negara dilaksanakan
secara terbuka dan bertanggungjawab untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat;
b.
bahwa Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Tahun Anggaran 2014 termuat dalam Rancangan
Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Tahun Anggaran 2014 yang disusun
sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan
negara dan kemampuan dalam menghimpun pendapatan
negara
dalam
rangka
mendukung
terwujudnya
perekonomian nasional berdasarkan atas demokrasi
ekonomi
dengan
prinsip
kebersamaan,
efisiensi,
berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan
kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional;
c.
bahwa dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun
Anggaran 2014 antara Dewan Perwakilan Rakyat bersama
Pemerintah telah memperhatikan pertimbangan Dewan
Perwakilan Daerah yang termuat dalam Surat Keputusan
DPD
Nomor
15/DPD
RI/I/2013-2014
tanggal
1 Oktober 2013;
d.
bahwa
berdasarkan
pertimbangan
sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, serta
melaksanakan
ketentuan
Pasal
23
ayat
(1)
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, perlu membentuk Undang-Undang tentang
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun
Anggaran 2014;
Mengingat . . .
-2-
Mengingat
: 1.
Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (2) dan ayat (4), Pasal 23
ayat (1) dan ayat (2), Pasal 31 ayat (4), dan Pasal 33 ayat
(1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4286);
3.
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis
Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat,
Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5043);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:
Menetapkan
: UNDANG-UNDANG TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN
BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2014.
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini, yang dimaksud dengan:
1.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, yang
selanjutnya disingkat APBN, adalah rencana keuangan
tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan
Perwakilan Rakyat.
2. Pendapatan . . .
-3-
2.
Pendapatan Negara adalah hak Pemerintah Pusat yang
diakui sebagai penambah kekayaan bersih yang terdiri atas
Penerimaan Perpajakan, Penerimaan Negara Bukan Pajak,
dan Penerimaan Hibah.
3.
Penerimaan Perpajakan adalah semua penerimaan negara
yang terdiri atas Pendapatan Pajak Dalam Negeri dan
Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional.
4.
Pendapatan Pajak Dalam Negeri adalah semua penerimaan
negara yang berasal dari pendapatan pajak penghasilan,
pendapatan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan
pendapatan pajak penjualan atas barang mewah,
pendapatan pajak bumi dan bangunan, pendapatan cukai,
dan pendapatan pajak lainnya.
5.
Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional adalah
semua penerimaan negara yang berasal dari pendapatan
bea masuk dan pendapatan bea keluar.
6.
Penerimaan Negara Bukan Pajak, yang selanjutnya
disingkat PNBP, adalah semua penerimaan Pemerintah
Pusat yang diterima dalam bentuk penerimaan dari sumber
daya alam, pendapatan bagian laba Badan Usaha Milik
Negara (BUMN), PNBP lainnya, serta pendapatan Badan
Layanan Umum (BLU).
7.
Penerimaan Hibah adalah semua penerimaan negara baik
dalam bentuk devisa dan/atau devisa yang dirupiahkan,
rupiah, jasa, dan/atau surat berharga yang diperoleh dari
pemberi hibah yang tidak perlu dibayar kembali dan yang
tidak mengikat, baik yang berasal dari dalam negeri
maupun dari luar negeri.
8.
Belanja Negara adalah kewajiban Pemerintah Pusat yang
diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih yang
terdiri atas belanja Pemerintah Pusat dan Transfer ke
Daerah.
9.
Belanja Pemerintah Pusat Menurut Organisasi adalah
belanja Pemerintah Pusat yang dialokasikan kepada
Kementerian Negara/Lembaga dan Bagian Anggaran
Bendahara Umum Negara.
10. Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara, yang
selanjutnya disingkat BA-BUN, adalah bagian anggaran
yang dikelola oleh Menteri Keuangan selaku pengelola
fiskal.
11. Belanja . . .
-4-
11. Belanja Pemerintah Pusat Menurut Fungsi adalah belanja
Pemerintah Pusat yang digunakan untuk menjalankan
fungsi pelayanan umum, fungsi pertahanan, fungsi
ketertiban dan keamanan, fungsi ekonomi, fungsi
lingkungan hidup, fungsi perumahan dan fasilitas umum,
fungsi kesehatan, fungsi pariwisata, fungsi agama, fungsi
pendidikan, dan fungsi perlindungan sosial.
12. Belanja Pemerintah Pusat Menurut Jenis adalah belanja
Pemerintah Pusat yang digunakan untuk membiayai
belanja pegawai, belanja barang, belanja modal,
pembayaran bunga utang, subsidi, belanja hibah, bantuan
sosial, dan belanja lain-lain.
13. Transfer ke Daerah adalah bagian dari belanja negara
dalam rangka mendanai pelaksanaan desentralisasi fiskal
berupa dana perimbangan, dana otonomi khusus, dan
dana penyesuaian.
14. Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk
mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi, yang terdiri atas dana bagi hasil, dana
alokasi umum, dan dana alokasi khusus.
15. Dana Bagi Hasil, yang selanjutnya disingkat DBH, adalah
dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase
tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi.
16. Dana Alokasi Umum, yang selanjutnya disingkat DAU,
adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan
kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai
kebutuhan
daerah
dalam
rangka
pelaksanaan
desentralisasi.
17. Dana Alokasi Khusus, yang selanjutnya disingkat DAK,
adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk
membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan
urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.
18. Dana . . .
-5-
18. Dana Otonomi Khusus adalah dana yang dialokasikan
untuk membiayai pelaksanaan otonomi khusus suatu
daerah, sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang
Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21
Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua
menjadi Undang-Undang, dan Undang-Undang Nomor 11
Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
19. Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah
dana yang dialokasikan untuk penyelenggaraan urusan
keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagaimana
ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012
tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
20. Dana Penyesuaian adalah dana yang dialokasikan untuk
membantu daerah dalam rangka melaksanakan kebijakan
tertentu sesuai dengan Ketentuan Peraturan Perundangundangan.
21. Pembiayaan Anggaran adalah setiap penerimaan yang
perlu dibayar kembali, penerimaan kembali atas
pengeluaran
tahun-tahun
anggaran
sebelumnya,
pengeluaran kembali atas penerimaan tahun-tahun
anggaran sebelumnya, penggunaan saldo anggaran lebih,
dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik
pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahuntahun anggaran berikutnya.
22. Pembiayaan Dalam Negeri adalah semua penerimaan
pembiayaan
yang
berasal
dari
perbankan
dan
nonperbankan dalam negeri, yang terdiri atas penerimaan
cicilan pengembalian penerusan pinjaman, saldo anggaran
lebih, hasil pengelolaan aset, penerbitan surat berharga
negara neto, pinjaman dalam negeri, dikurangi dengan
pengeluaran pembiayaan, yang meliputi alokasi untuk
Pusat Investasi Pemerintah, penyertaan modal negara,
dana bergulir, dana pengembangan pendidikan nasional,
dan kewajiban yang timbul akibat penjaminan Pemerintah.
23. Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran, yang selanjutnya disebut
SiLPA, adalah selisih lebih realisasi pembiayaan anggaran
atas realisasi defisit anggaran yang terjadi dalam satu
periode pelaporan.
24. Saldo . . .
-6-
24. Saldo Anggaran Lebih, yang selanjutnya disingkat SAL,
adalah akumulasi neto dari SiLPA dan Sisa Kurang
Pembiayaan Anggaran (SiKPA) tahun anggaran yang lalu
dan tahun anggaran yang bersangkutan setelah ditutup,
ditambah/dikurangi dengan koreksi pembukuan.
25. Surat Berharga Negara, yang selanjutnya disingkat SBN,
meliputi surat utang negara dan surat berharga syariah
negara.
26. Surat Utang Negara, yang selanjutnya disingkat SUN,
adalah surat berharga berupa surat pengakuan utang
dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang
dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara
Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya.
27. Surat Berharga Syariah Negara, yang selanjutnya disingkat
SBSN, atau dapat disebut sukuk negara, adalah SBN yang
diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas
bagian penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata
uang rupiah maupun valuta asing.
28. Surat Berharga Syariah Negara Berbasis Proyek (Project
Based Sukuk/PBS) yang selanjutnya disingkat SBSN PBS
adalah sumber pendanaan melalui penerbitan SBSN untuk
membiayai kegiatan tertentu yang dilaksanakan oleh
Kementerian Negara/Lembaga.
29. Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya,
yang selanjutnya disingkat BPYBDS, adalah bantuan
Pemerintah berupa Barang Milik Negara yang berasal dari
APBN, yang telah dioperasikan dan/atau digunakan oleh
BUMN berdasarkan Berita Acara Serah Terima dan sampai
saat ini tercatat pada laporan keuangan Kementerian
Negara/Lembaga atau pada BUMN.
30. Dana Investasi Pemerintah adalah alokasi dana investasi
Pemerintah untuk Pusat Investasi Pemerintah, penyertaan
modal negara, dan/atau dana bantuan perkuatan
permodalan usaha yang sifat penyalurannya bergulir, yang
dilakukan untuk mendapat manfaat ekonomi, sosial,
dan/atau manfaat lainnya.
31. Penyertaan . . .
-7-
31. Penyertaan Modal Negara, yang selanjutnya disingkat PMN,
adalah dana APBN yang dialokasikan menjadi kekayaan
negara yang dipisahkan atau penetapan cadangan
perusahaan atau sumber lain untuk dijadikan sebagai
modal BUMN dan/atau perseroan terbatas lainnya dan
dikelola secara korporasi, termasuk penyertaan modal
kepada organisasi/lembaga keuangan internasional dan
penyertaan modal negara lainnya.
32. Dana Bergulir adalah dana yang dikelola oleh BLU untuk
dipinjamkan dan digulirkan kepada masyarakat/lembaga
dengan tujuan untuk meningkatkan ekonomi rakyat dan
tujuan lainnya.
33. Pinjaman Dalam Negeri adalah setiap pinjaman oleh
Pemerintah yang diperoleh dari pemberi pinjaman dalam
negeri yang harus dibayar kembali dengan persyaratan
tertentu, sesuai dengan masa berlakunya.
34. Kewajiban Penjaminan adalah kewajiban yang secara
potensial menjadi beban Pemerintah akibat pemberian
jaminan kepada BUMN dan/atau Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD) dalam hal BUMN dan/atau BUMD
dimaksud tidak dapat membayar kewajibannya kepada
kreditur sesuai perjanjian pinjaman.
35. Pembiayaan Luar Negeri Neto adalah semua pembiayaan
yang berasal dari penarikan pinjaman luar negeri yang
terdiri atas pinjaman program dan pinjaman proyek
dikurangi dengan penerusan pinjaman dan pembayaran
cicilan pokok utang luar negeri.
36. Pinjaman Program adalah pinjaman yang diterima dalam
bentuk tunai
dimana
pencairannya mensyaratkan
dipenuhinya kondisi tertentu yang disepakati kedua belah
pihak seperti matrik kebijakan atau dilaksanakannya
kegiatan tertentu.
37. Pinjaman Proyek adalah pinjaman luar negeri yang
digunakan
untuk
membiayai
kegiatan
tertentu
Kementerian Negara/Lembaga, termasuk pinjaman yang
diteruspinjamkan dan/atau diterushibahkan kepada
pemerintah daerah dan/atau BUMN.
38. Penerusan . . .
-8-
38. Penerusan Pinjaman adalah pinjaman luar negeri atau
pinjaman dalam negeri yang diterima oleh Pemerintah
Pusat yang diteruspinjamkan kepada pemerintah daerah
dan/atau BUMN yang harus dibayar kembali dengan
ketentuan dan persyaratan tertentu.
39. Anggaran Pendidikan adalah alokasi anggaran pada fungsi
pendidikan yang dianggarkan melalui Kementerian
Negara/Lembaga, alokasi anggaran pendidikan melalui
transfer ke daerah, dan alokasi anggaran pendidikan
melalui pengeluaran pembiayaan, termasuk gaji pendidik,
tetapi tidak termasuk anggaran pendidikan kedinasan,
untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang
menjadi tanggung jawab Pemerintah.
40. Persentase Anggaran Pendidikan adalah perbandingan
alokasi anggaran pendidikan terhadap total anggaran
belanja negara.
41. Tahun Anggaran 2014 adalah masa 1 (satu) tahun
terhitung mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan
tanggal 31 Desember 2014.
Pasal 2
APBN terdiri atas anggaran Pendapatan Negara,
Belanja Negara, dan Pembiayaan Anggaran.
anggaran
Pasal 3
Anggaran Pendapatan Negara Tahun Anggaran 2014
direncanakan sebesar Rp1.667.140.799.639.000,00
(satu
kuadriliun enam ratus enam puluh tujuh triliun seratus empat
puluh miliar tujuh ratus sembilan puluh sembilan juta enam
ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah), yang diperoleh dari
sumber:
a. Penerimaan Perpajakan;
b. PNBP; dan
c. Penerimaan Hibah.
Pasal 4 . . .
-9-
Pasal 4
(1)
Penerimaan
Perpajakan
sebagaimana
dimaksud
dalam
Pasal
3
huruf
a
direncanakan
sebesar
Rp1.280.388.970.684.000,00 (satu kuadriliun dua ratus
delapan puluh triliun tiga ratus delapan puluh delapan
miliar sembilan ratus tujuh puluh juta enam ratus delapan
puluh empat ribu rupiah), yang terdiri atas:
a. Pendapatan Pajak Dalam Negeri; dan
b. Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional.
(2)
Pendapatan Pajak Dalam Negeri sebagaimana dimaksud
pada
ayat
(1)
huruf
a
direncanakan
sebesar
Rp1.226.474.170.684.000,00 (satu kuadriliun dua ratus
dua puluh enam triliun empat ratus tujuh puluh empat
miliar seratus tujuh puluh juta enam ratus delapan puluh
empat ribu rupiah), yang terdiri atas:
a. pendapatan pajak penghasilan;
b. pendapatan pajak pertambahan nilai barang dan jasa
dan pajak penjualan atas barang mewah;
c. pendapatan pajak bumi dan bangunan;
d. pendapatan cukai; dan
e. pendapatan pajak lainnya.
(3)
Pendapatan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a termasuk pajak penghasilan
ditanggung Pemerintah (PPh DTP) atas:
a. komoditas panas bumi sebesar Rp1.000.000.000.000,00
(satu triliun rupiah); dan
b. bunga, imbal hasil, dan penghasilan pihak ketiga atas
jasa yang diberikan kepada Pemerintah dalam
penerbitan dan/atau pembelian kembali/penukaran
SBN di pasar internasional, namun tidak termasuk jasa
konsultan
hukum
lokal,
sebesar
Rp2.713.230.000.000,00 (dua triliun tujuh ratus tiga
belas miliar dua ratus tiga puluh juta rupiah).
(4)
Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar
Rp53.914.800.000.000,00 (lima puluh tiga triliun sembilan
ratus empat belas miliar delapan ratus juta rupiah), yang
terdiri atas:
a. pendapatan . . .
- 10 -
a. pendapatan bea masuk; dan
b. pendapatan bea keluar.
(5)
Pendapatan bea masuk sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) huruf a termasuk fasilitas bea masuk ditanggung
Pemerintah (BM DTP) sebesar Rp1.000.000.000.000,00
(satu triliun rupiah).
(6)
Rincian Penerimaan Perpajakan Tahun Anggaran 2014
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4)
tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Undang-Undang ini.
Pasal 5
(1)
PNBP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b
direncanakan sebesar Rp385.391.728.955.000,00 (tiga
ratus delapan puluh lima triliun tiga ratus sembilan puluh
satu miliar tujuh ratus dua puluh delapan juta sembilan
ratus lima puluh lima ribu rupiah), yang terdiri atas:
a. penerimaan sumber daya alam;
b. pendapatan bagian laba BUMN;
c. PNBP lainnya; dan
d. pendapatan BLU.
(2)
Penerimaan sumber daya alam sebagaimana dimaksud
pada
ayat
(1)
huruf
a
direncanakan
sebesar
Rp225.954.696.223.000,00 (dua ratus dua puluh lima
triliun sembilan ratus lima puluh empat miliar enam ratus
sembilan puluh enam juta dua ratus dua puluh tiga ribu
rupiah), yang terdiri atas:
a. penerimaan sumber daya alam minyak bumi dan gas
bumi (SDA migas); dan
b. penerimaan sumber daya alam non-minyak bumi dan
gas bumi (SDA nonmigas).
(3)
Pendapatan bagian laba BUMN sebagaimana dimaksud
pada
ayat
(1)
huruf
b
direncanakan
sebesar
Rp40.000.000.000.000,00 (empat puluh triliun rupiah).
(4) Dalam . . .
- 11 -
(4)
Dalam rangka mengoptimalkan penerimaan bagian
Pemerintah atas laba BUMN di bidang usaha perbankan,
penyelesaian piutang bermasalah pada BUMN di bidang
usaha perbankan dilakukan:
a. sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang Perseroan Terbatas (PT), BUMN,
dan Perbankan;
b. memperhatikan prinsip tata kelola perusahaan yang
baik; dan
c. Pemerintah melakukan pengawasan penyelesaian
piutang bermasalah pada BUMN di bidang usaha
perbankan tersebut.
(5)
PNBP lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
direncanakan sebesar Rp94.087.605.717.000,00 (sembilan
puluh empat triliun delapan puluh tujuh miliar enam ratus
lima juta tujuh ratus tujuh belas ribu rupiah).
(6)
Pendapatan BLU sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf d direncanakan sebesar Rp25.349.427.015.000,00
(dua puluh lima triliun tiga ratus empat puluh sembilan
miliar empat ratus dua puluh tujuh juta lima belas ribu
rupiah).
(7)
Rincian PNBP Tahun Anggaran 2014 sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (5), dan ayat (6)
tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Undang-Undang ini.
Pasal 6
Penerimaan Hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
huruf c direncanakan sebesar Rp1.360.100.000.000,00 (satu
triliun tiga ratus enam puluh miliar seratus juta rupiah).
Pasal 7
Anggaran Belanja Negara Tahun Anggaran 2014 direncanakan
sebesar Rp1.842.495.299.913.000,00 (satu kuadriliun delapan
ratus empat puluh dua triliun empat ratus sembilan puluh
lima miliar dua ratus sembilan puluh sembilan juta sembilan
ratus tiga belas ribu rupiah), yang terdiri atas:
a. anggaran . . .
- 12 -
a. anggaran Belanja Pemerintah Pusat; dan
b. anggaran Transfer ke Daerah.
Pasal 8
(1)
Anggaran
Belanja
Pemerintah
Pusat
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal (7) huruf a direncanakan sebesar
Rp1.249.943.002.116.000,00 (satu kuadriliun dua ratus
empat puluh sembilan triliun sembilan ratus empat puluh
tiga miliar dua juta seratus enam belas ribu rupiah).
(2)
Anggaran
Belanja
Pemerintah
Pusat
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) termasuk pinjaman dan/atau
hibah luar negeri yang diterushibahkan ke daerah, untuk
kegiatan:
a. Mass
Rapid
Transit
(MRT)
Project
sebesar
Rp2.879.398.286.000,00 (dua triliun delapan ratus
tujuh puluh sembilan miliar tiga ratus sembilan puluh
delapan juta dua ratus delapan puluh enam ribu
rupiah) yang dananya bersumber dari pinjaman luar
negeri;
b. Water Resources and Irrigation Sector Management
Project
Phase
II
(WISMP-2)
sebesar
Rp146.344.480.000,00 (seratus empat puluh enam
miliar tiga ratus empat puluh empat juta empat ratus
delapan puluh ribu rupiah) yang dananya bersumber
dari pinjaman luar negeri;
c. Development of Seulawah Agam Geothermal in NAD
Province sebesar Rp54.570.963.000,00 (lima puluh
empat miliar lima ratus tujuh puluh juta sembilan ratus
enam puluh tiga ribu rupiah) yang dananya bersumber
dari hibah luar negeri;
d. Infrastructure Enhancement Grant (IEG)-Sanitasi sebesar
Rp7.800.000.000,00 (tujuh miliar delapan ratus juta
rupiah) yang dananya bersumber dari hibah luar negeri;
e. hibah air minum sebesar Rp205.986.000.000,00 (dua
ratus lima miliar sembilan ratus delapan puluh enam
juta rupiah) yang dananya bersumber dari hibah luar
negeri;
f. hibah . . .
- 13 -
f. hibah air limbah sebesar Rp29.800.000.000,00 (dua
puluh sembilan miliar delapan ratus juta rupiah) yang
dananya bersumber dari hibah luar negeri;
g. Hibah Australia-Indonesia untuk pembangunan sanitasi
sebesar Rp93.360.000.000,00 (sembilan puluh tiga
miliar tiga ratus enam puluh juta rupiah) yang dananya
bersumber dari hibah luar negeri;
h. Provincial Road Improvement and Maintenance (PRIM)
sebesar Rp122.000.000.000,00 (seratus dua puluh dua
miliar rupiah) yang dananya bersumber dari hibah luar
negeri; dan
i. hibah air minum tahap I sebesar Rp3.450.000.000,00
(tiga miliar empat ratus lima puluh juta rupiah) yang
dananya bersumber dari hibah luar negeri.
(3)
Anggaran
Belanja
Pemerintah
Pusat
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan atas:
a. Belanja Pemerintah Pusat Menurut Organisasi;
b. Belanja Pemerintah Pusat Menurut Fungsi; dan
c. Belanja Pemerintah Pusat Menurut Jenis Belanja.
(4)
Rincian anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun
Anggaran
2014
Menurut
Organisasi
sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) huruf a, Menurut Fungsi
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, dan Menurut
Jenis Belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf
c, diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden yang
ditetapkan paling lambat tanggal 30 November 2013.
Pasal 9
Anggaran Transfer ke Daerah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal
7
huruf
b
direncanakan
sebesar
Rp592.552.297.797.000,00 (lima ratus sembilan puluh dua
triliun lima ratus lima puluh dua miliar dua ratus sembilan
puluh tujuh juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu
rupiah), yang terdiri atas:
a. Dana Perimbangan; dan
b. Dana Otonomi Khusus dan Dana Penyesuaian.
Pasal 10 . . .
- 14 -
Pasal 10
(1)
Dana Perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
huruf a direncanakan sebesar Rp487.931.001.869.000,00
(empat ratus delapan puluh tujuh triliun sembilan ratus
tiga puluh satu miliar satu juta delapan ratus enam puluh
sembilan ribu rupiah), yang terdiri atas:
a. DBH;
b. DAU; dan
c. DAK.
(2)
DBH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
direncanakan sebesar Rp113.711.676.218.000,00 (seratus
tiga belas triliun tujuh ratus sebelas miliar enam ratus
tujuh puluh enam juta dua ratus delapan belas ribu
rupiah).
(3)
DAU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
dialokasikan sebesar 26% (dua puluh enam persen) dari
Pendapatan Dalam Negeri (PDN) neto atau direncanakan
sebesar Rp341.219.325.651.000,00 (tiga ratus empat
puluh satu triliun dua ratus sembilan belas miliar tiga
ratus dua puluh lima juta enam ratus lima puluh satu ribu
rupiah).
(4)
PDN neto sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dihitung
berdasarkan penjumlahan antara Penerimaan Perpajakan
dan PNBP, dikurangi dengan:
a. DBH;
b. anggaran belanja yang sifatnya diarahkan berupa
belanja PNBP Kementerian Negara/Lembaga;
c. subsidi pajak DTP; dan
d. subsidi lainnya yang terdiri atas subsidi BBM jenis
tertentu dan LPG tabung 3 (tiga) kilogram, subsidi
listrik, subsidi pangan, subsidi pupuk, dan subsidi
benih yang dihitung berdasarkan bobot/persentase
tertentu.
(5)
Dalam hal terjadi perubahan APBN yang menyebabkan
PDN neto bertambah atau berkurang, besaran DAU tidak
mengalami perubahan.
(6) DAK . . .
- 15 -
(6)
DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
direncanakan sebesar Rp33.000.000.000.000,00 (tiga
puluh tiga triliun rupiah), yang terdiri atas:
a. DAK sebesar Rp30.200.000.000.000,00 (tiga puluh
triliun dua ratus miliar rupiah); dan
b. DAK tambahan sebesar Rp2.800.000.000.000,00 (dua
triliun delapan ratus miliar rupiah).
(7)
DAK tambahan sebesar Rp2.800.000.000.000,00 (dua
triliun delapan ratus miliar rupiah) sebagaimana dimaksud
pada ayat (6) huruf b dialokasikan kepada kabupaten
daerah tertinggal dan digunakan untuk mendanai kegiatan:
a. infrastruktur jalan sebesar Rp1.691.130.000.000,00
(satu triliun enam ratus sembilan puluh satu miliar
seratus tiga puluh juta rupiah);
b. infrastruktur irigasi sebesar Rp633.980.000.000,00
(enam ratus tiga puluh tiga miliar sembilan ratus
delapan puluh juta rupiah);
c. infrastruktur sanitasi sebesar Rp229.680.000.000,00
(dua ratus dua puluh sembilan miliar enam ratus
delapan puluh juta rupiah); dan
d. infrastruktur air minum sebesar Rp245.210.000.000,00
(dua ratus empat puluh lima miliar dua ratus sepuluh
juta rupiah).
(8)
Dana pendamping untuk DAK tambahan sebagaimana
dimaksud pada ayat (7) ditetapkan berdasarkan
kemampuan keuangan daerah pada daerah tertinggal,
dengan ketentuan sebagai berikut:
a. kemampuan
keuangan
diwajibkan menyediakan
sedikit 0% (nol persen);
daerah
rendah
sekali,
dana pendamping paling
b. kemampuan keuangan daerah rendah, diwajibkan
menyediakan dana pendamping paling sedikit 1% (satu
persen);
c. kemampuan keuangan daerah sedang, diwajibkan
menyediakan dana pendamping paling sedikit 2% (dua
persen); dan
d. kemampuan . . .
- 16 d. kemampuan keuangan daerah tinggi, diwajibkan
menyediakan dana pendamping paling sedikit 3% (tiga
persen).
(9)
Rincian Dana Perimbangan Tahun Anggaran 2014
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (6)
tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Undang-Undang ini.
Pasal 11
(1)
Dana
Otonomi
Khusus
dan
Dana
Penyesuaian
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 huruf b
direncanakan sebesar Rp104.621.295.928.000,00 (seratus
empat triliun enam ratus dua puluh satu miliar dua ratus
sembilan puluh lima juta sembilan ratus dua puluh
delapan ribu rupiah), yang terdiri atas:
a. Dana Otonomi Khusus;
b. Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta; dan
c. Dana Penyesuaian.
(2)
Dana
Otonomi
Khusus
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1)
huruf
a
direncanakan
sebesar
Rp16.148.773.028.000,00 (enam belas triliun seratus
empat puluh delapan miliar tujuh ratus tujuh puluh tiga
juta dua puluh delapan ribu rupiah), yang terdiri atas:
a. Alokasi Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua dan
Provinsi Papua Barat sebesar Rp6.824.386.514.000,00
(enam triliun delapan ratus dua puluh empat miliar tiga
ratus delapan puluh enam juta lima ratus empat belas
ribu rupiah) yang disepakati untuk dibagi masingmasing dengan proporsi 70% (tujuh puluh persen)
untuk Provinsi Papua dan 30% (tiga puluh persen)
untuk Provinsi Papua Barat dengan rincian sebagai
berikut:
1. Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua sebesar
Rp4.777.070.560.000,00 (empat triliun tujuh ratus
tujuh puluh tujuh miliar tujuh puluh juta lima ratus
enam puluh ribu rupiah).
2. Dana . . .
- 17 -
2. Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua Barat sebesar
Rp2.047.315.954.000,00 (dua triliun empat puluh
tujuh miliar tiga ratus lima belas juta sembilan ratus
lima puluh empat ribu rupiah).
b. Alokasi Dana Otonomi Khusus Provinsi Aceh sebesar
Rp6.824.386.514.000,00 (enam triliun delapan ratus
dua puluh empat miliar tiga ratus delapan puluh enam
juta lima ratus empat belas ribu rupiah); dan
c. Dana tambahan infrastruktur dalam rangka otonomi
khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat
sebesar Rp2.500.000.000.000,00 (dua triliun lima ratus
miliar rupiah) dengan rincian sebagai berikut:
1. Dana tambahan infrastruktur bagi Provinsi Papua
sebesar
Rp2.000.000.000.000,00
(dua
triliun
rupiah); dan
2. Dana tambahan infrastruktur bagi Provinsi Papua
Barat sebesar Rp500.000.000.000,00 (lima ratus
miliar rupiah).
(3)
Alokasi Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b sebesar
Rp523.875.000.000,00 (lima ratus dua puluh tiga miliar
delapan ratus tujuh puluh lima juta rupiah).
(4)
Dana Penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c direncanakan sebesar Rp87.948.647.900.000,00
(delapan puluh tujuh triliun sembilan ratus empat puluh
delapan miliar enam ratus empat puluh tujuh juta
sembilan ratus ribu rupiah), yang terdiri atas:
a. Tunjangan Profesi Guru (TPG) PNS Daerah;
b. Dana Tambahan Penghasilan Guru (DTPG) PNS Daerah;
c. Dana Insentif Daerah (DID);
d. Dana Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi
(P2D2); dan
e. Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
(5)
Rincian Dana Otonomi Khusus dan Dana Penyesuaian
Tahun Anggaran 2014 sebagaimana dimaksud pada ayat
(2), ayat (3), dan ayat (4) tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Undang-Undang
ini.
(6) Ketentuan . . .
- 18 -
(6)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman umum dan
alokasi Dana Otonomi Khusus dan Dana Penyesuaian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 12
(1)
Dalam hal pagu atas perkiraan alokasi DBH yang
ditetapkan dalam Tahun Anggaran 2014 tidak mencukupi
kebutuhan penyaluran atau realisasi melebihi pagu dalam
Tahun Anggaran 2014, Pemerintah menyalurkan alokasi
DBH berdasarkan realisasi penerimaan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Dalam hal terdapat DBH yang belum ditransfer kepada
daerah sebagai akibat belum teridentifikasinya daerah
penghasil, Menteri Keuangan menempatkan
DBH
dimaksud sebagai dana cadangan dalam rekening
Pemerintah.
(3)
Dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dialokasikan berdasarkan selisih pagu dalam 1 (satu)
tahun anggaran dengan penyaluran DBH triwulan I sampai
dengan triwulan IV Tahun Anggaran 2014.
(4)
Tata cara pengelolaan dana cadangan dalam rekening
Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 13
(1)
Dana Insentif Daerah (DID) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 11 ayat (4) huruf c digunakan dalam rangka
pelaksanaan fungsi pendidikan yang dialokasikan kepada
daerah dengan mempertimbangkan kriteria kinerja
tertentu.
(2)
Dana Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi (P2D2)
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) huruf d
digunakan dalam rangka memperkuat transparansi dan
akuntabilitas pelaksanaan kegiatan yang didanai DAK
khususnya bidang infrastruktur dengan hasil/output yang
sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Pasal 14 . . .
- 19 -
Pasal 14
(1) Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis tertentu dan
bahan bakar gas cair (Liquefied Petroleum Gas/LPG tabung
3 (tiga) kilogram dan Liquefied Gas For Vehicle/LGV) dalam
Tahun
Anggaran
2014
direncanakan
sebesar
Rp210.735.506.000.000,00 (dua ratus sepuluh triliun
tujuh ratus tiga puluh lima miliar lima ratus enam juta
rupiah).
(2)
Alokasi subsidi BBM jenis tertentu, LPG tabung 3 (tiga)
kilogram dan LGV sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sudah termasuk pembayaran perkiraan kekurangan
subsidi
BBM
jenis
tertentu
dan
LPG
tabung
3 (tiga) kilogram Tahun Anggaran 2013
sebesar
Rp20.000.000.000.000,00 (dua puluh triliun rupiah).
(3)
Subsidi listrik dalam Tahun Anggaran 2014 direncanakan
sebesar Rp71.364.809.000.000,00 (tujuh puluh satu
triliun tiga ratus enam puluh empat miliar delapan ratus
sembilan juta rupiah).
(4)
Alokasi subsidi listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
sudah termasuk pembayaran perkiraan kekurangan
subsidi listrik tahun 2013 sebesar Rp3.500.000.000.000,00
(tiga triliun lima ratus miliar rupiah).
(5)
Subsidi pangan dalam Tahun Anggaran 2014 direncanakan
sebesar Rp18.822.515.311.000,00 (delapan belas triliun
delapan ratus dua puluh dua miliar lima ratus lima belas
juta tiga ratus sebelas ribu rupiah).
(6)
Subsidi pupuk dalam Tahun Anggaran 2014 direncanakan
sebesar Rp21.048.845.142.000,00 (dua puluh satu triliun
empat puluh delapan miliar delapan ratus empat puluh
lima juta seratus empat puluh dua ribu rupiah).
(7)
Alokasi subsidi pupuk sebagaimana dimaksud pada
ayat (6) sudah termasuk pembayaran kekurangan
subsidi
pupuk
tahun
2012
(audited)
sebesar
Rp3.000.000.000.000,00 (tiga triliun rupiah).
(8)
Subsidi benih dalam Tahun Anggaran 2014 direncanakan
sebesar Rp1.564.800.000.000,00 (satu triliun lima ratus
enam puluh empat miliar delapan ratus juta rupiah).
(9) Subsidi . . .
- 20 -
(9)
Subsidi dalam rangka kewajiban pelayanan umum/Public
Service Obligation (PSO) dalam Tahun Anggaran 2014
direncanakan sebesar Rp2.197.096.000.000,00 (dua triliun
seratus sembilan puluh tujuh miliar sembilan puluh enam
juta rupiah), yang terdiri atas:
a. PSO untuk penumpang angkutan kereta api sebesar
Rp1.224.306.800.000,00 (satu triliun dua ratus dua
puluh empat miliar tiga ratus enam juta delapan ratus
ribu rupiah);
b. PSO untuk penumpang angkutan kapal laut kelas
ekonomi sebesar Rp872.789.200.000,00 (delapan ratus
tujuh puluh dua miliar tujuh ratus delapan puluh
sembilan juta dua ratus ribu rupiah); dan
c. PSO
untuk
informasi
publik
Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).
sebesar
(10) Subsidi bunga kredit program dalam Tahun Anggaran 2014
direncanakan sebesar Rp3.235.806.000.000,00 (tiga triliun
dua ratus tiga puluh lima miliar delapan ratus enam juta
rupiah).
(11) Subsidi pajak ditanggung Pemerintah (DTP) dalam Tahun
Anggaran
2014
direncanakan
sebesar
Rp4.713.230.000.000,00 (empat triliun tujuh ratus tiga
belas miliar dua ratus tiga puluh juta rupiah), yang terdiri
atas:
a. subsidi pajak penghasilan ditanggung Pemerintah (PPhDTP) sebesar Rp3.713.230.000.000,00 (tiga triliun tujuh
ratus tiga belas miliar dua ratus tiga puluh juta rupiah);
dan
b. fasilitas bea masuk sebesar Rp1.000.000.000.000,00
(satu triliun rupiah).
(12) Ketentuan lebih lanjut mengenai subsidi pajak DTP
sebagaimana dimaksud pada ayat (11) diatur dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
(13) Belanja Subsidi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (3) dapat disesuaikan dengan kebutuhan realisasi dan
proyeksi pada tahun anggaran berjalan berdasarkan
realisasi dan proyeksi asumsi dasar ekonomi makro,
dan/atau
parameter
subsidi
energi,
dengan
mempertimbangkan kemampuan keuangan negara.
(14) Penetapan . . .
- 21 -
(14) Penetapan perubahan realisasi dan proyeksi parameter
subsidi energi sebagaimana dimaksud pada ayat (13)
dilaksanakan setelah mendapat persetujuan komisi terkait
di DPR RI.
Pasal 15
(1)
Untuk membantu masyarakat korban di luar peta area
terdampak lumpur Sidoarjo dialokasikan dana pada Badan
Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Tahun Anggaran
2014.
(2)
Alokasi dana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat
digunakan untuk:
(3)
a.
pelunasan
pembayaran
pembelian
tanah
dan
bangunan di luar peta area terdampak pada 3 (tiga)
desa (Desa Besuki, Desa Kedungcangkring, dan Desa
Pejarakan); dan 9 (sembilan) rukun tetangga di 3 (tiga)
kelurahan (Kelurahan Siring, Kelurahan Jatirejo, dan
Kelurahan Mindi);
b.
bantuan kontrak rumah dan pembayaran pembelian
tanah dan bangunan di luar peta area terdampak
lainnya pada 66 (enam puluh enam) rukun tetangga
(Kelurahan Mindi, Kelurahan Gedang, Desa Pamotan,
Desa Kalitengah, Desa Gempolsari, Desa Glagaharum,
Desa Besuki, Desa Wunut, Desa Ketapang, dan
Kelurahan Porong).
Dalam rangka penyelamatan perekonomian dan kehidupan
sosial kemasyarakatan di sekitar tanggul lumpur Sidoarjo,
anggaran belanja yang dialokasikan pada Badan
Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Tahun Anggaran
2014 dapat digunakan untuk kegiatan mitigasi dan
penanggulangan semburan lumpur, termasuk di dalamnya
penanganan tanggul utama sampai ke Kali Porong
(mengalirkan lumpur dari tanggul utama ke Kali Porong)
dengan pagu paling tinggi sebesar Rp155.000.000.000,00
(seratus lima puluh lima miliar rupiah).
Pasal 16 . . .
- 22 -
Pasal 16
(1)
Dalam rangka efisiensi dan efektivitas pelaksanaan
anggaran belanja Kementerian Negara/Lembaga tahun
2013, Pemerintah perlu menerapkan sistem pemberian
penghargaan dan pengenaan sanksi atas pelaksanaan
anggaran belanja Kementerian Negara/Lembaga sesuai
dengan Ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
(2)
Hasil penerapan sistem penghargaan dan sanksi
atas
pelaksanaan
anggaran
belanja
Kementerian
Negara/Lembaga tahun 2013 sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diperhitungkan dalam penetapan alokasi anggaran
belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran
2015.
Pasal 17
(1)
Perubahan rincian lebih lanjut dari anggaran Belanja
Pemerintah Pusat berupa:
a. pergeseran anggaran belanja:
1. dari Bagian Anggaran 999.08 (Bendahara Umum
Negara Pengelola Belanja Lainnya) ke
Anggaran Kementerian Negara/Lembaga;
Bagian
2. antarkegiatan dalam 1 (satu) program sepanjang
pergeseran tersebut tidak mengurangi volume
keluaran (output) yang telah direncanakan untuk
hal-hal
yang
bersifat
prioritas,
mendesak,
kedaruratan atau yang tidak dapat ditunda, yang
penetapannya dilakukan oleh Pemerintah;
3. antarjenis belanja dan/atau antarjenis kegiatan
dalam 1 (satu) program dan/atau antarprogram
dalam 1 (satu) Kementerian Negara/Lembaga
untuk memenuhi kewajiban pengeluaran yang
timbul sehubungan dengan putusan pengadilan
yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
(inkracht);
4. antarjenis
belanja
dalam
1
(satu)
kegiatan;
dan/atau
5. antar subbagian anggaran dalam Bagian Anggaran
999 (BA BUN);
b. perubahan . . .
- 23 -
b. perubahan anggaran belanja yang bersumber dari
PNBP;
c. perubahan pagu pinjaman proyek dan hibah luar
negeri dan pinjaman dan hibah dalam negeri (PHDN)
sebagai akibat dari lanjutan dan percepatan penarikan
pinjaman proyek dan hibah luar negeri dan PHDN,
termasuk hibah luar negeri/hibah dalam negeri setelah
Undang-Undang mengenai APBN ditetapkan;
d. perubahan pagu pinjaman proyek luar negeri sebagai
akibat pengurangan alokasi pinjaman luar negeri;
e. perubahan
anggaran
belanja
bersumber
dari
penerimaan hibah langsung dalam bentuk uang; dan
f.
perubahan pagu proyek yang dibiayai melalui
penerbitan SBSN PBS sebagai akibat percepatan
realisasi pelaksanaan proyek yang dananya bersumber
dari SBSN PBS setelah undang-undang mengenai
APBN ditetapkan,
ditetapkan oleh Pemerintah.
(2)
Penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari PNBP
di atas pagu APBN untuk BLU ditetapkan oleh Pemerintah.
(3)
Perubahan rincian Belanja Pemerintah Pusat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang masih
dalam 1 (satu) provinsi/kabupaten/kota untuk kegiatan
yang dilaksanakan dalam rangka tugas pembantuan dan
Urusan Bersama (UB) atau dalam 1 (satu) provinsi untuk
kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka dekonsentrasi.
(4)
Perubahan rincian Belanja Pemerintah Pusat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan antarprovinsi/
kabupaten/kota untuk kegiatan yang dilaksanakan oleh
unit organisasi di tingkat pusat dan oleh instansi
vertikalnya di daerah.
(5)
Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2),
ayat (3), dan ayat (4) dilaporkan Pemerintah kepada Dewan
Perwakilan Rakyat dalam APBN Perubahan Tahun
Anggaran 2014 dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah
Pusat (LKPP) Tahun 2014.
(6) Ketentuan . . .
- 24 -
(6)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perubahan
rincian anggaran Belanja Pemerintah Pusat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri
Keuangan.
Pasal 18
Pemerintah diberi kewenangan untuk memberikan hibah
kepada
Pemerintah/Lembaga
asing
dan
menetapkan
Pemerintah/Lembaga
asing
penerima
untuk
tujuan
kemanusiaan.
Pasal 19
(1)
Anggaran
Pendidikan
direncanakan
sebesar
Rp368.899.059.983.000,00 (tiga ratus enam puluh delapan
triliun delapan ratus sembilan puluh sembilan miliar lima
puluh sembilan juta sembilan ratus delapan puluh tiga
ribu rupiah).
(2)
Persentase Anggaran Pendidikan adalah sebesar 20,0%
(dua puluh koma nol persen), yang merupakan
perbandingan alokasi Anggaran Pendidikan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terhadap total anggaran Belanja
Negara
sebesar
Rp1.842.495.299.913.000,00
(satu
kuadriliun delapan ratus empat puluh dua triliun empat
ratus sembilan puluh lima miliar dua ratus sembilan puluh
sembilan juta sembilan ratus tiga belas ribu rupiah).
Pasal 20
(1)
Jumlah anggaran Pendapatan Negara Tahun Anggaran
2014, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, lebih kecil
daripada jumlah anggaran Belanja Negara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 sehingga dalam Tahun Anggaran
2014
terdapat
defisit
anggaran
sebesar
Rp175.354.500.274.000,00 (seratus tujuh puluh lima
triliun tiga ratus lima puluh empat miliar lima ratus juta
dua ratus tujuh puluh empat ribu rupiah) yang akan
dibiayai dari Pembiayaan Anggaran.
(2)
Pembiayaan Anggaran Tahun Anggaran 2014 sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diperoleh dari sumber-sumber:
a. Pembiayaan . . .
- 25 -
a.
Pembiayaan
Dalam
Negeri
sebesar
Rp196.258.036.783.000,00 (seratus sembilan puluh
enam triliun dua ratus lima puluh delapan miliar tiga
puluh enam juta tujuh ratus delapan puluh tiga ribu
rupiah); dan
b.
Pembiayaan Luar Negeri Neto sebesar negatif
Rp20.903.536.509.000,00 (dua puluh triliun sembilan
ratus tiga miliar lima ratus tiga puluh enam juta lima
ratus sembilan ribu rupiah).
(3)
Pembiayaan Luar Negeri Neto sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf b mencakup pembiayaan utang luar negeri,
namun tidak termasuk penerbitan SBN di pasar
internasional.
(4)
Rincian Pembiayaan Anggaran Tahun Anggaran 2014
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), tercantum dalam
Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Undang-Undang ini.
Pasal 21
(1)
Pemerintah dapat menggunakan kegiatan-kegiatan dari
Kementerian Negara/Lembaga yang bersumber dari Rupiah
Murni dalam alokasi anggaran Belanja Pemerintah Pusat
untuk dapat digunakan sebagai dasar penerbitan SBSN.
(2)
Rincian kegiatan dari Kementerian Negara/Lembaga yang
dapat digunakan sebagai dasar penerbitan SBSN
ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah pengesahan
Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2014 dan
penetapan Keputusan Presiden mengenai Rincian Anggaran
Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2014.
(3)
Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan kegiatan dari
Kementerian Negara/Lembaga sebagai dasar penerbitan
SBSN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 22 . . .
- 26 -
Pasal 22
(1)
Dalam hal terjadi krisis pasar SBN domestik, Pemerintah
dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat diberikan
kewenangan menggunakan SAL untuk melakukan
stabilisasi pasar SBN domestik setelah memperhitungkan
kebutuhan anggaran sampai dengan akhir tahun anggaran
berjalan dan awal tahun anggaran berikutnya.
(2)
Persetujuan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah keputusan yang tertuang di dalam kesimpulan
Rapat Kerja Badan Anggaran DPR RI dengan Pemerintah,
yang diberikan dalam waktu tidak lebih dari satu kali dua
puluh empat jam setelah usulan disampaikan Pemerintah
kepada DPR.
(3)
Jumlah penggunaan SAL dalam rangka stabilisasi pasar
SBN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan
Pemerintah dalam APBN Perubahan Tahun Anggaran 2014
dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP)
Tahun 2014.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan SAL dalam
rangka stabilisasi pasar SBN domestik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri
Keuangan.
Pasal 23
(1)
Dalam hal realisasi penerimaan negara tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan pengeluaran negara pada saat
tertentu, kekurangannya dapat dipenuhi dari dana SAL,
penerbitan SBN, atau penyesuaian Belanja Negara.
(2)
Pemerintah dapat menerbitkan SBN untuk membiayai
kebutuhan pengelolaan kas bagi pelaksanaan APBN,
apabila dana tunai pengelolaan kas tidak cukup tersedia
untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran negara di awal
tahun.
(3)
Pemerintah dapat melakukan pembelian SBN untuk
kepentingan stabilisasi pasar dan pengelolaan kas dengan
tetap memperhatikan jumlah kebutuhan penerbitan SBN
neto untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan yang
ditetapkan.
(4) Pemerintah . . .
- 27 -
(4)
Pemerintah dapat melakukan percepatan pembayaran
cicilan pokok utang dalam rangka pengelolaan portofolio
utang melalui penerbitan SBN.
(5)
Dalam hal terdapat instrumen pembiayaan dari utang yang
lebih menguntungkan, dan/atau ketidaktersediaan salah
satu instrumen pembiayaan dari utang, Pemerintah dapat
melakukan perubahan komposisi instrumen pembiayaan
utang dalam rangka menjaga ketahanan ekonomi dan
fiskal.
(6)
Perubahan komposisi instrumen pembiayaan utang
sebagaimana dimaksud pada ayat (5) atau diperlukannya
realokasi anggaran bunga utang, Pemerintah dapat
melakukan
perubahan
komposisi
(realokasi)
dari
pembayaran bunga utang luar negeri ke pembayaran
bunga utang dalam negeri atau sebaliknya tanpa
menyebabkan perubahan pada total pembayaran bunga
utang.
(7)
Untuk menurunkan biaya penerbitan SBN dan memastikan
ketersediaan pembiayaan melalui utang, Pemerintah dapat
menerima jaminan penerbitan utang dari lembaga yang
dapat
menjalankan
fungsi
penjaminan,
dan/atau
menerima fasilitas dalam bentuk dukungan pembiayaan.
(8)
Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) sampai dengan ayat (6) ditetapkan oleh Pemerintah dan
dilaporkan dalam APBN Perubahan Tahun Anggaran 2014
dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP)
Tahun 2014.
Pasal 24
(1)
PMN pada organisasi/lembaga keuangan internasional dan
PMN lainnya yang akan dilakukan dan/atau telah tercatat
pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) sebagai
Investasi Permanen PMN, ditetapkan untuk dijadikan PMN
pada organisasi/lembaga keuangan internasional dan PMN
lainnya tersebut.
(2)
Pemerintah dapat melakukan pembayaran PMN melebihi
pagu yang ditetapkan dalam Tahun Anggaran 2014 yang
diakibatkan oleh selisih kurs, yang selanjutnya dilaporkan
dalam APBN Perubahan Tahun Anggaran 2014 dan/atau
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2014.
(3) Pelaksanaan . . .
- 28 -
(3)
Pelaksanaan PMN pada organisasi/lembaga keuangan
internasional dan PMN lainnya sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 25
(1)
Barang Milik Negara (BMN) yang berasal dari Daftar Isian
Kegiatan (DIK)/Daftar Isian Proyek (DIP)/Daftar Isian
Pelaksanaan
Anggaran
(DIPA)
Kementerian
Negara/Lembaga
yang
dipergunakan
dan/atau
dioperasikan oleh BUMN dan telah tercatat pada laporan
posisi keuangan BUMN sebagai BPYBDS atau akun yang
sejenis, ditetapkan untuk dijadikan PMN pada BUMN
tersebut.
(2)
BMN yang dihasilkan dari belanja modal pada DIPA
Kementerian Negara/Lembaga yang akan dipergunakan
oleh BUMN sejak pengadaan BMN dimaksud, ditetapkan
menjadi PMN pada BUMN yang menggunakan BMN
tersebut.
(3)
Pelaksanaan PMN pada BUMN sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah.
Pasal 26
(1)
Menteri Keuangan diberikan kewenangan untuk mengelola
anggaran Kewajiban Penjaminan Pemerintah untuk:
a. percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik
yang menggunakan batubara;
b. pemberian jaminan dan subsidi bunga oleh Pemerintah
Pusat untuk percepatan penyediaan air minum; dan
c. penjaminan infrastruktur dalam proyek kerjasama
Pemerintah dengan badan usaha yang dilakukan
melalui badan usaha penjaminan infrastruktur,
yang merupakan bagian dari Pembiayaan Dalam Negeri
sebagaimana telah dialokasikan dalam Pasal 20 ayat (2)
huruf a.
(2) Dalam . . .
- 29 -
(2)
Dalam hal anggaran Kewajiban Penjaminan Pemerintah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah dicairkan,
diperhitungkan sebagai piutang/tagihan kepada entitas
terjamin atau belanja Kementerian Negara/Lembaga.
(3)
Dalam hal terdapat anggaran Kewajiban Penjaminan
Pemerintah
yang
telah
dialokasikan
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak habis digunakan dalam
tahun
berjalan,
anggaran
Kewajiban
Penjaminan
Pemerintah dimaksud dapat diakumulasikan dengan
mekanisme pemindahbukuan ke dalam rekening dana
cadangan penjaminan Pemerintah yang dibuka di Bank
Indonesia untuk pembayaran Kewajiban Penjaminan
Pemerintah pada tahun anggaran yang akan datang.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan anggaran
Kewajiban Penjaminan Pemerintah sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 27
Perubahan lebih lanjut dari Pembiayaan Anggaran berupa
perubahan pagu Penerusan Pinjaman luar negeri akibat dari
lanjutan dan percepatan penarikan Penerusan Pinjaman luar
negeri, ditetapkan oleh Pemerintah dan dilaporkan dalam APBN
Perubahan Tahun Anggaran 2014 dan/atau Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2014.
Pasal 28
(1)
Pemerintah dapat melakukan pembayaran bunga utang
dan pengeluaran cicilan pokok utang melebihi pagu yang
ditetapkan dalam Tahun Anggaran 2014, yang selanjutnya
dilaporkan Pemerintah dalam APBN Perubahan Tahun
Anggaran 2014 dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah
Pusat (LKPP) Tahun 2014.
(2)
Pemerintah dapat melakukan transaksi Lindung Nilai
dalam rangka pengendalian risiko pembayaran bunga
utang dan pengeluaran cicilan pokok utang.
(3)
Pemenuhan kewajiban yang timbul dari transaksi Lindung
Nilai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibebankan
pada anggaran pembayaran bunga utang dan/atau
pengeluaran cicilan pokok utang.
(4) Kewajiban . . .
- 30 -
(4)
Kewajiban yang timbul sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) bukan merupakan kerugian keuangan negara.
(5)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan transaksi
Lindung Nilai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 29
(1)
Menteri
Keuangan
diberikan
wewenang
untuk
menyelesaikan
piutang
instansi
Pemerintah
yang
diurus/dikelola
oleh
Panitia
Urusan
Piutang
Negara/Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, khususnya
piutang terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah
(UMKM), dan piutang berupa Kredit Pemilikan Rumah
Sederhana/Rumah Sangat Sederhana (KPR RS/RSS),
meliputi dan tidak terbatas pada restrukturisasi dan
pemberian keringanan utang pokok sampai dengan 100%
(seratus persen).
(2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tatacara penyelesaian
piutang instansi Pemerintah sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 30
(1)
Dalam rangka menjaga kesinambungan pelaksanaan
kegiatan-kegiatan untuk Program/Kegiatan Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) yang terdiri atas:
a. PNPM Mandiri Perdesaan;
b. PNPM Mandiri Perkotaan;
c. Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP);
dan
d. Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah
(PISEW);
dalam DIPA Tahun Anggaran 2013, dapat dilanjutkan
sampai dengan akhir April 2014.
(2)
Pengajuan usulan lanjutan program/kegiatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri
Keuangan dalam bentuk revisi anggaran paling lambat
pada tanggal 31 Januari 2014.
(3) Ketentuan . . .
- 31 -
(3)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan revisi
anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diatur
dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 31
(1)
Kegiatan dalam rangka pembangunan infrastruktur serta
rehabilitasi dan rekonstruksi bencana alam yang dilakukan
dalam tahun 2013, tetapi belum dapat diselesaikan sampai
dengan akhir Desember 2013, dapat dilanjutkan
penyelesaiannya ke tahun 2014.
(2)
Pendanaan untuk kegiatan sebagaimana dimaksud pada
ayat
(1)
bersumber
dari
pagu
Kementerian
Negara/Lembaga masing-masing dalam Tahun Anggaran
2014.
(3)
Pengajuan usulan lanjutan program/kegiatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri
Keuangan dalam bentuk konsep revisi anggaran paling
lambat pada tanggal 31 Januari 2014.
(4)
Ketentuan lebih lanjut terhadap pelaksanaan kegiatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
mengikuti ketentuan revisi anggaran yang diatur dalam
Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 32
(1)
Sisa anggaran yang tidak terserap untuk pelaksanaan
kegiatan-kegiatan yang dananya bersumber dari penerusan
pinjaman luar negeri dan telah dialokasikan dalam DIPA
sampai dengan akhir Tahun Anggaran 2013 dapat
dilanjutkan pada Tahun Anggaran 2014.
(2)
Pengajuan usulan lanjutan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) disampaikan kepada Menteri Keuangan dalam
bentuk revisi anggaran paling lambat tanggal 31 Januari
2014.
(3)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan revisi
anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diatur
dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 33 . . .
- 32 -
Pasal 33
(1)
Pada pertengahan Tahun Anggaran 2014, Pemerintah
menyusun laporan realisasi pelaksanaan APBN Semester
Pertama Tahun Anggaran 2014 mengenai:
a. realisasi Pendapatan Negara;
b. realisasi Belanja Negara; dan
c.
realisasi Pembiayaan Anggaran.
(2)
Dalam laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Pemerintah menyertakan prognosis untuk 6 (enam) bulan
berikutnya.
(3)
Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat paling
lambat pada akhir bulan Juli 2014, untuk dibahas
bersama
antara
Dewan
Perwakilan
Rakyat
dan
Pemerintah.
Pasal 34
(1)
Penyesuaian APBN Tahun Anggaran 2014 dengan
perkembangan dan/atau perubahan keadaan dibahas
bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah
dalam rangka penyusunan perkiraan perubahan atas
APBN Tahun Anggaran 2014, apabila terjadi:
a. perkembangan ekonomi makro yang tidak sesuai
dengan asumsi yang digunakan dalam APBN Tahun
Anggaran 2014;
b. perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal;
c. keadaan
yang
menyebabkan
harus
dilakukan
pergeseran
anggaran
antarunit
organisasi,
antarprogram, dan/atau antarjenis belanja; dan/atau
d. keadaan yang menyebabkan SAL tahun sebelumnya
harus digunakan untuk pembiayaan anggaran tahun
berjalan.
(2)
SAL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d adalah
SAL yang ada di rekening Bank Indonesia yang
penggunaannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku dan dilaporkan dalam
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN.
(3) Pemerintah . . .
- 33 -
(3)
Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang
tentang Perubahan atas Undang-Undang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2014
berdasarkan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan
Rakyat sebelum Tahun Anggaran 2014 berakhir.
Pasal 35
(1)
Dalam keadaan darurat, apabila terjadi hal-hal sebagai
berikut:
a. proyeksi pertumbuhan ekonomi di bawah asumsi
dan deviasi asumsi ekonomi makro lainnya yang
menyebabkan turunnya pendapatan negara, dan/atau
meningkatnya belanja negara secara signifikan;
b. krisis sistemik dalam sistem keuangan dan perbankan
nasional, termasuk pasar SBN domestik, yang
membutuhkan tambahan dana penjaminan perbankan
dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) untuk
penanganannya; dan/atau
c. kenaikan biaya utang, khususnya imbal hasil SBN
secara signifikan,
Pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
dapat melakukan langkah-langkah:
1. pengeluaran yang belum tersedia anggarannya
dan/atau pengeluaran melebihi pagu yang ditetapkan
dalam APBN Tahun Anggaran 2014;
2. pergeseran
anggaran
belanja
antarprogram,
antarkegiatan, dan/atau antarjenis belanja dalam satu
bagian anggaran dan/atau antarbagian anggaran;
3. pengurangan pagu Belanja Negara dalam rangka
peningkatan efisiensi, dengan tetap menjaga sasaran
program/kegiatan prioritas yang tetap harus tercapai;
4. Penggunaan . . .
- 34 -
4. penggunaan SAL
untuk menutup kekurangan
pembiayaan
APBN,
dengan
terlebih
dahulu
memperhitungkan
kebutuhan
anggaran
sampai
dengan akhir tahun anggaran berjalan dan awal tahun
anggaran berikutnya;
5. penambahan utang yang berasal dari pinjaman siaga
dari kreditur bilateral dan multilateral dan/atau
penerbitan SBN; dan
6. pemberian pinjaman kepada Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS), dalam hal LPS mengalami kesulitan
likuiditas.
(2)
Dalam keadaan darurat, Pemerintah dapat melakukan
penarikan pinjaman siaga yang berasal dari kreditur
bilateral dan multilateral sebagai alternatif sumber
pembiayaan dalam hal kondisi pasar tidak mendukung
penerbitan SBN.
(3)
Biaya-biaya yang timbul akibat pengadaan pinjaman siaga
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) angka 5 dan ayat (2)
merupakan bagian pembayaran bunga utang.
(4)
Langkah-langkah untuk mengatasi keadaan krisis
sistemik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
yang
berdampak
pada
APBN
dilakukan
setelah
berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa
Keuangan (OJK), dan/atau Lembaga Penjamin Simpanan
(LPS).
(5)
Persetujuan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah keputusan yang tertuang di dalam kesimpulan
Rapat Kerja Badan Anggaran DPR RI dengan Pemerintah,
yang diberikan dalam waktu tidak lebih dari satu kali dua
puluh empat jam setelah usulan disampaikan Pemerintah
kepada DPR.
(6)
Apabila persetujuan DPR sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) karena suatu dan lain hal belum dapat dilakukan,
maka Pemerintah dapat mengambil langkah-langkah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(7) Pemerintah . . .
- 35 -
(7)
Pemerintah menyampaikan pelaksanaan langkah-langkah
kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) dalam APBN Perubahan Tahun Anggaran 2014
dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP)
Tahun 2014.
Pasal 36
(1)
Setelah Tahun Anggaran 2014 berakhir, Pemerintah
menyusun pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN
Tahun Anggaran 2014 berupa Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP).
(2)
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi laporan realisasi
anggaran, neraca, laporan arus kas, dan catatan atas
laporan keuangan.
(3)
Laporan realisasi anggaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dilengkapi dengan informasi pendapatan dan
belanja berbasis akrual.
(4)
Neraca sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyajikan
aset dan kewajiban berdasarkan basis akrual.
(5)
Penerapan pendapatan dan belanja negara secara akrual
dalam laporan keuangan tahun 2014 dilaksanakan secara
bertahap pada BLU.
(6)
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP) berbasis kas menuju
akrual.
(7)
Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang
tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2014,
setelah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP)
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperiksa oleh
Badan Pemeriksa Keuangan, paling lambat 6 (enam) bulan
setelah
Tahun
Anggaran
2014
berakhir
untuk
mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
Pasal 37 . . .
- 36 -
Pasal 37
Dalam hal terdapat sisa anggaran yang tidak terserap sampai
dengan akhir Tahun Anggaran 2014 untuk:
a. kegiatan yang dananya bersumber dari SBSN PBS;
b. kegiatan yang dananya bersumber dari Penerusan Pinjaman
luar negeri; dan
c. kegiatan dalam rangka
kemiskinan melalui PNPM,
mempercepat
penanggulangan
dapat dilanjutkan pada Tahun Anggaran 2015.
Pasal 38
Pemerintah dalam melaksanakan APBN Tahun Anggaran 2014
harus mengupayakan pemenuhan sasaran pertumbuhan
ekonomi yang berkualitas, yang tercermin dalam:
a.
penurunan kemiskinan menjadi sebesar 9,0% (sembilan
koma nol persen) sampai dengan 10,5% (sepuluh koma
lima persen);
b. pertumbuhan ekonomi setiap 1% (satu persen) dapat
menyerap sekitar 200.000 (dua ratus ribu) tenaga kerja;
c.
tingkat pengangguran terbuka menjadi sebesar 5,7% (lima
koma tujuh persen) sampai dengan 5,9% (lima koma
sembilan persen); dan
d. penurunan Gini Ratio, peningkatan Nilai Tukar Petani dan
Nilai Tukar Nelayan, dengan tetap mempertimbangkan
faktor yang mempengaruhi, baik eksternal maupun
internal.
Pasal 39
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari
2014.
Agar . . .
- 37 -
Agar
setiap
orang
mengetahuinya,
memerintahkan
pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya
dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 14 November 2013
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 14 November 2013
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
AMIR SYAMSUDIN
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOMOR 182
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2013
TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA
TAHUN ANGGARAN 2014
I.
UMUM
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2014
disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun
2014, serta Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal
Tahun 2014 sebagaimana telah dibahas dan disepakati bersama, baik
dalam Pembicaraan Pendahuluan maupun Pembicaraan Tingkat I
Pembahasan Rancangan APBN Tahun Anggaran 2014 antara Pemerintah
dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Hal tersebut sesuai
dengan ketentuan dalam Pasal 12 dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 17
Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Selain itu, APBN Tahun Anggaran
2014 juga mempertimbangkan kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang
berkembang dalam beberapa bulan terakhir, serta berbagai langkah
kebijakan yang diperkirakan akan ditempuh dalam tahun 2014.
Dengan memperhatikan perkembangan faktor eksternal dan stabilitas
ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tahun 2014
diperkirakan mencapai sekitar 6,0% (enam koma nol persen). Seiring
dengan membaiknya kondisi perekonomian global, Pemerintah optimis
target pertumbuhan ekonomi
tersebut dapat tercapai, melalui
pertumbuhan konsumsi masyarakat yang diperkirakan masih cukup tinggi,
iklim investasi yang semakin kondusif, dan membaiknya kinerja ekspor.
Sementara itu, impor Indonesia akan lebih difokuskan pada barang modal
sehingga dapat memicu perkembangan industri pengolahan dalam negeri.
Selain itu, kondisi ekonomi makro juga diperkirakan membaik dan stabil.
Melalui kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil yang terkoordinasi, nilai
tukar . . .
-2tukar rupiah diperkirakan akan berada pada kisaran Rp10.500,00 (sepuluh
ribu lima ratus rupiah) per satu dolar Amerika Serikat. Stabilitas nilai tukar
rupiah tersebut mempunyai peranan penting terhadap pencapaian sasaran
inflasi tahun 2014 dan perkembangan suku bunga perbankan. Dalam
tahun 2014, dengan terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah dan
terjaminnya pasokan serta lancarnya arus distribusi kebutuhan bahan
pokok, laju inflasi diperkirakan dapat dikendalikan pada tingkat 5,5% (lima
koma lima persen). Sejalan dengan itu, rata-rata suku bunga Surat
Perbendaharaan Negara (SPN) 3 (tiga) bulan diperkirakan akan mencapai
5,5% (lima koma lima persen). Di lain pihak, dengan mempertimbangkan
pertumbuhan permintaan minyak dunia yang mulai meningkat seiring
dengan pemulihan perekonomian dunia, rata-rata harga minyak mentah
Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) di pasar internasional dalam tahun
2014 diperkirakan akan berada pada kisaran US$105,0 (seratus lima dolar
Amerika Serikat) per barel. Sementara itu, tingkat lifting minyak mentah
diperkirakan mencapai sekitar 870 (delapan ratus tujuh puluh) ribu barel
per hari, sedangkan lifting gas diperkirakan mencapai 1.240 (seribu dua
ratus empat puluh) ribu barel setara minyak per hari.
Strategi pelaksanaan pembangunan Indonesia didasarkan pada Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005–2025. Pelaksanaan
strategi RPJPN dibagi ke dalam empat tahap Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang tiap-tiap tahap memuat rencana
dan strategi pembangunan untuk lima tahun yang akan dilaksanakan oleh
Pemerintah. Selanjutnya, Presiden terpilih beserta anggota kabinet yang
membantunya akan menuangkan visi, misi, dan rencana kerja
pemerintahan untuk menjawab tantangan dan permasalahan aktual,
sekaligus untuk mencapai sasaran-sasaran rencana pembangunan jangka
menengah dan jangka panjang yang telah disusun.
RPJMN tahap pertama telah selesai dengan berakhirnya masa kerja Kabinet
Indonesia Bersatu, dan tahun 2014 merupakan tahun kelima dalam
agenda RPJMN tahap kedua. Berdasarkan pelaksanaan, pencapaian, dan
sebagai kelanjutan dari RPJMN ke-1 (2005–2009), RPJMN ke-2
(2010–2014) ditujukan untuk lebih memantapkan penataan kembali
Indonesia di segala bidang dengan menekankan upaya peningkatan
kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan ilmu
dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian. Sementara itu,
dalam RPJMN tahap kedua (2010–2014), kegiatan pembangunan akan
diarahkan . . .
-3diarahkan untuk beberapa tujuan, yaitu: (a) memantapkan penataan
kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia, (b) meningkatkan kualitas
sumber daya manusia, (c) membangun kemampuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, dan (d) memperkuat daya saing perekonomian. Upaya
pencapaian tujuan-tujuan tersebut akan diimplementasikan melalui
pencapaian sasaran pembangunan di tiap tahun dengan fokus yang
berbeda, sesuai dengan tantangan dan kondisi yang ada. Fokus kegiatan
tersebut diterjemahkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) di tiap-tiap
tahun.
Rencana Kerja Pemerintah tahun 2014 disusun berdasarkan tema
“Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan
Rakyat Yang Berkeadilan” dan diterjemahkan ke dalam 11 (sebelas)
prioritas nasional dan 3 (tiga) prioritas nasional lainnya. 11 (sebelas)
prioritas pembangunan nasional tersebut, yaitu: (a) reformasi birokrasi dan
tata kelola; (b) pendidikan; (c) kesehatan; (d) penanggulangan kemiskinan;
(e) ketahanan pangan; (f) infrastruktur; (g) iklim investasi dan iklim usaha;
(h) energi; (i) lingkungan hidup dan pengelolaan bencana; (j) daerah
tertinggal, terdepan, terluar, dan pascakonflik; serta (k) kebudayaan,
kreativitas, dan inovasi teknologi. Sedangkan 3 (tiga) prioritas nasional
lainnya meliputi (a) bidang politik, hukum, dan keamanan; (b) bidang
perekonomian; dan (c) bidang kesejahteraan rakyat. Pencapaian prioritas
sasaran pembangunan nasional dan prioritas nasional lainnya tersebut
akan diterjemahkan melalui program-program kegiatan pembangunan yang
akan dilaksanakan Pemerintah di tahun 2014.
Agar prioritas sasaran pembangunan nasional dan prioritas nasional
lainnya tersebut dapat tercapai, salah satu hal yang perlu dilakukan
Pemerintah adalah mengoptimalkan Penerimaan Negara Bukan Pajak
(PNBP) dari sumber daya alam. Guna mewujudkan hal dimaksud,
Pemerintah meningkatkan langkah-langkah koordinasi antar instansi di
Pemerintah, termasuk penegak hukum dalam rangka menindak tegas
kegiatan illegal mining di bidang pertambangan mineral dan batubara, serta
pelabuhan-pelabuhan yang tidak memiliki ijin resmi. Selain itu, dalam
rangka menanggulangi kendala yang timbul dalam penyerapan penerusan
pinjaman, seperti masalah perijinan dan pembebasan lahan, selain
meningkatkan koordinasi antar instansi Pemerintah, Pemerintah
berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2 . . .
-4-
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang
dimaksud
dengan
”pihak
ketiga
yang
pajak
penghasilannya ditanggung Pemerintah” adalah pihak ketiga
yang memberikan jasa kepada Pemerintah dalam rangka
penerbitan dan/atau pembelian kembali/penukaran SBN di
pasar internasional, yang antara lain jasa agen penjual dan jasa
konsultan
hukum
internasional
dan
jasa
agen
penukar/pembeli.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 5
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b . . .
-5-
Huruf b
Penerimaan SDA non migas yang bersumber dari sektor
kehutanan tidak ditujukan sebagai target penerimaan negara
melainkan lebih ditujukan untuk pengamanan kelestarian
hutan. Adapun penerimaan SDA non migas yang bersumber
dari sektor perikanan diharapkan menjadi sumber utama
penerimaan negara pada APBN tahun-tahun berikutnya. Untuk
itu, Pemerintah melakukan diversifikasi dan optimalisasi
penerimaan SDA non migas sektor perikanan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Sambil menunggu dilakukannya perubahan atas Undang-Undang
Nomor 49 Prp. Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang
Negara, dan dalam rangka mempercepat penyelesaian piutang
bermasalah pada BUMN di bidang usaha perbankan, dapat
dilakukan
pengurusan
piutangnya
melalui
mekanisme
pengelolaan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang perseroan terbatas dan di bidang perbankan.
Sedangkan terkait dengan pemberian kewenangan kepada RUPS
dan pengawasan Pemerintah dalam penyelesaian piutang
bermasalah pada BUMN di bidang usaha perbankan didasarkan
pada ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang BUMN.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9 . . .
-6-
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
DBH ini termasuk PPh Pasal 25/29 Wajib Pajak Orang Pribadi
Dalam Negeri (WPOPDN) yang pemungutannya bersifat final
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013
tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran
Bruto tertentu.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
PDN neto sebesar Rp1.312.382.021.731.200,00 (satu kuadriliun
tiga ratus dua belas triliun tiga ratus delapan puluh dua miliar
dua puluh satu juta tujuh ratus tiga puluh satu ribu dua ratus
rupiah) dihitung berdasarkan penjumlahan antara Penerimaan
Perpajakan
sebesar
Rp1.280.388.970.684.000,00
(satu
kuadriliun dua ratus delapan puluh triliun tiga ratus delapan
puluh delapan miliar sembilan ratus tujuh puluh juta enam ratus
delapan puluh empat ribu rupiah) dan PNBP sebesar
Rp385.391.728.955.000,00 (tiga ratus delapan puluh lima triliun
tiga ratus sembilan puluh satu miliar tujuh ratus dua puluh
delapan juta sembilan ratus lima puluh lima ribu rupiah),
dikurangi dengan:
a. penerimaan negara yang dibagihasilkan kepada daerah dalam
bentuk DBH sebesar Rp113.711.676.218.000,00 (seratus tiga
belas triliun tujuh ratus sebelas miliar enam ratus tujuh puluh
enam juta dua ratus delapan belas ribu rupiah);
b. anggaran
belanja
yang
sifatnya
diarahkan
berupa
belanja
PNBP
Kementerian
Negara/Lembaga
sebesar
Rp40.851.886.418.000,00 (empat puluh triliun delapan ratus
lima puluh satu miliar delapan ratus delapan puluh enam juta
empat ratus delapan belas ribu rupiah);
c. subsidi . . .
-7-
c. subsidi pajak DTP sebesar Rp4.713.230.000.000,00 (empat
triliun tujuh ratus tiga belas miliar dua ratus tiga puluh juta
rupiah); dan
d. bagian 60% (enam puluh persen) dari subsidi-subsidi lainnya,
yaitu subsidi BBM jenis tertentu dan LPG tabung 3 (tiga)
kilogram sebesar Rp210.735.506.000.000,00 (dua ratus
sepuluh triliun tujuh ratus tiga puluh lima miliar lima ratus
enam
juta
rupiah),
subsidi
listrik
sebesar
Rp71.364.809.000.000,00 (tujuh puluh satu triliun tiga ratus
enam puluh empat miliar delapan ratus sembilan juta rupiah),
subsidi pupuk sebesar Rp21.048.845.142.000,00 (dua puluh
satu triliun empat puluh delapan miliar delapan ratus empat
puluh lima juta seratus empat puluh dua ribu rupiah), subsidi
pangan sebesar Rp18.822.515.311.000,00 (delapan belas
triliun delapan ratus dua puluh dua miliar lima ratus lima
belas juta tiga ratus sebelas ribu rupiah), dan subsidi benih
sebesar Rp1.564.800.000.000,00 (satu triliun lima ratus enam
puluh empat miliar delapan ratus juta rupiah), sehingga
subsidi-subsidi lainnya yang diperhitungkan dalam penetapan
PDN neto adalah sebesar Rp194.121.885.271.800,00 (seratus
sembilan puluh empat triliun seratus dua puluh satu miliar
delapan ratus delapan puluh lima juta dua ratus tujuh puluh
satu ribu delapan ratus rupiah).
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Kabupaten daerah tertinggal ditetapkan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Pasal 11 . . .
-8-
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “kriteria kinerja tertentu” adalah daerah
yang berprestasi, yaitu antara lain:
a. daerah yang telah melaksanakan fungsi pelayanan kepada
masyarakat mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)
atau Wajar Dengan Pengecualian (WDP) dari Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) atas laporan keuangan pemerintah daerahnya;
dan
b. daerah yang menetapkan Peraturan Daerah (Perda) mengenai
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara tepat
waktu.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 14
Ayat (1)
Subsidi BBM jenis tertentu dan LPG tabung 3 (tiga) kilogram
sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas penyerahan
BBM jenis tertentu dan LPG tabung 3 (tiga) kilogram sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam pelaksanaan subsidi BBM jenis tertentu, Pemerintah
secara bertahap mulai Tahun Anggaran 2014 menerapkan pola
subsidi tertutup dalam penyaluran BBM bersubsidi sebagai upaya
pembatasan volume BBM bersubsidi.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Subsidi listrik tahun 2014 didasarkan dengan pemberian margin
usaha sebesar 7% (tujuh persen) kepada PT PLN (Persero) dalam
rangka pemenuhan persyaratan pembiayaan investasi.
Dalam . . .
-9-
Dalam anggaran belanja lain-lain APBN 2014 dicadangkan
anggaran subsidi listrik sebesar Rp10.407.547.000.000,00
(sepuluh triliun empat ratus tujuh miliar lima ratus empat puluh
tujuh juta rupiah) yang merupakan bagian 5% (lima persen) dari
margin sebesar 7% (tujuh persen) yang diberikan kepada PT PLN
(Persero). Penggunaan dana cadangan subsidi listrik tersebut
melalui persetujuan Badan Anggaran DPR RI.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Dalam rangka untuk mengurangi beban subsidi pertanian
terutama pupuk pada masa yang akan datang, Pemerintah
menjamin
harga
gas
untuk
memenuhi
kebutuhan
perusahaan produsen pupuk dalam negeri dengan harga
domestik. Di samping itu, Pemerintah juga mengutamakan
kecukupan pasokan gas yang dibutuhkan perusahaan produsen
pupuk dalam negeri dalam rangka menjaga ketahanan pangan,
dengan tetap mengoptimalkan penerimaan negara dari penjualan
gas.
Dalam rangka pelaksanaan subsidi pupuk, Pemerintah daerah
diberi kewenangan mengawasi penyaluran pupuk bersubsidi
melalui mekanisme Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok
(RDKK).
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Ayat (10)
Cukup jelas.
Ayat (11)
Cukup jelas.
Ayat (12) . . .
- 10 -
Ayat (12)
Cukup jelas.
Ayat (13)
Yang dimaksud dengan “asumsi dasar ekonomi makro” adalah
harga minyak mentah (ICP) dan/atau nilai tukar rupiah.
Sedangkan yang dimaksud dengan “parameter subsidi energi”
adalah volume konsumsi BBM bersubsidi.
Pembayaran subsidi berdasarkan realisasinya pada tahun
berjalan dilaporkan pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
(LKPP) tahun 2014.
Ayat (14)
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Dasar perhitungan yang digunakan dalam rangka penerapan
penghargaan dan sanksi atas pelaksanaan anggaran belanja
Kementerian Negara/Lembaga tahun 2013 adalah Laporan
Keuangan Kementerian Negara/Lembaga tahun 2013 yang telah
diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Pasal 17
Ayat (1)
Huruf a
Angka 1
Yang termasuk dalam “dari Bagian Anggaran 999.08
(Bendahara Umum Negara Pengelola Belanja Lainnya) ke
Bagian Anggaran Kementerian Negara/Lembaga” di
antaranya:
1. pemenuhan . . .
- 11 -
1. pemenuhan kekurangan Belanja Pegawai Kementerian
Negara/Lembaga.
2. keperluan untuk hal-hal yang bersifat prioritas,
mendesak, kedaruratan atau yang tidak dapat ditunda.
Angka 2
Cukup jelas.
Angka 3
Cukup jelas.
Angka 4
Cukup jelas.
Angka 5
Yang dimaksud subbagian anggaran adalah kode BA
999.01 sampai dengan BA 999.99.
Huruf b
Perubahan anggaran belanja yang bersumber dari PNBP,
sebagai akibat:
1. kelebihan realisasi atas target yang direncanakan dalam
APBN atau APBN Perubahan;
2. adanya PNBP yang berasal dari kontrak/kerjasama/nota
kesepahaman atau dokumen yang dipersamakan;
3. adanya satuan kerja PNBP baru;
4. diterbitkannya Keputusan Menteri Keuangan tentang
persetujuan penggunaan sebagian dana PNBP; dan
5. adanya pencabutan status pengelolaan keuangan BLU pada
suatu satuan kerja.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “perubahan pagu Pinjaman Proyek dan
hibah luar negeri, dan pinjaman dan hibah dalam negeri”
adalah peningkatan pagu sebagai akibat adanya lanjutan
Pinjaman Proyek dan hibah luar negeri atau Pinjaman Proyek
dan hibah dalam negeri yang bersifat tahun jamak dan/atau
percepatan penarikan Pinjaman Proyek dan hibah luar negeri,
serta pinjaman dan hibah dalam negeri yang sudah disetujui
dalam . . .
- 12 dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan Pinjaman Proyek
dan hibah luar negeri, dan pinjaman dan hibah dalam negeri.
Perubahan pagu Pinjaman Proyek dan hibah luar negeri dan
pinjaman dan hibah dalam negeri tersebut termasuk (a) hibah
luar negeri/hibah dalam negeri yang diterima setelah APBN
Tahun Anggaran 2014 ditetapkan, (b) hibah luar negeri/hibah
dalam negeri yang diterushibahkan yang diterima setelah APBN
Tahun Anggaran 2014 ditetapkan, dan (c) pinjaman yang
diterushibahkan.
Perubahan pagu Pinjaman Proyek dan hibah luar negeri dan
pinjaman dan hibah dalam negeri tersebut tidak termasuk
Pinjaman Proyek baru yang belum dialokasikan dalam APBN
2014 serta pinjaman luar negeri/pinjaman dalam negeri yang
bukan merupakan kelanjutan dari proyek tahun jamak.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan “dilaporkan pelaksanaannya dalam APBN
Perubahan Tahun Anggaran 2014” adalah melaporkan
perubahan rincian/pergeseran anggaran Belanja Pemerintah
Pusat yang dilakukan sebelum APBN Perubahan Tahun Anggaran
2014 kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Sedangkan yang
dimaksud dengan “dilaporkan pelaksanaannya dalam Laporan
Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2014” adalah melaporkan
perubahan rincian/pergeseran anggaran Belanja Pemerintah
Pusat yang dilakukan sepanjang tahun 2014 setelah APBN
Perubahan . . .
- 13 Perubahan Tahun Anggaran 2014 kepada Dewan Perwakilan
Rakyat.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Ayat (1)
Selain alokasi Anggaran Pendidikan, Pemerintah mengelola Dana
Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN), yang merupakan
bagian alokasi anggaran pendidikan tahun-tahun sebelumnya
yang sudah terakumulasi sebagai dana abadi pendidikan
(endowment fund) yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana
Pendidikan.
Hasil pengelolaan dana abadi pendidikan dimaksud digunakan
untuk menjamin keberlangsungan program pendidikan bagi
generasi berikutnya sebagai bentuk pertanggungjawaban
antargenerasi, antara lain dalam bentuk pemberian beasiswa dan
dana cadangan pendidikan guna mengantisipasi keperluan
rehabilitasi fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana alam.
Anggaran Pendidikan sebesar Rp368.899.059.983.000,00 (tiga
ratus enam puluh delapan triliun delapan ratus sembilan puluh
sembilan miliar lima puluh sembilan juta sembilan ratus delapan
puluh tiga ribu rupiah), terdiri atas:
1. Anggaran Pendidikan melalui Belanja
Pemerintah Pusat
130.279.572.499.000,00
Anggaran Pendidikan pada
Kementerian Negara/Lembaga
130.279.572.499.000,00
1.1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
80.661.026.761.000,00
1.2 Kementerian Agama
42.566.934.663.000,00
1.3 Kementerian Negara/Lembaga lainnya
7.051.611.075.000,00
1.3.1 Kementerian Keuangan
678.219.290.000,00
1.3.2 Kementerian Pertanian
55.610.000.000,00
1.3.3 Kementerian Perindustrian
421.438.189.000,00
1.3.4 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
78.500.000.000,00
1.3.5 Kementerian Perhubungan
1.700.000.000.000,00
1.3.6 Kementerian Kesehatan
1.320.890.800.000,00
1.3.7 Kementerian Kehutanan
57.537.000.000,00
1.3.8 Kementerian Kelautan dan Perikanan
252.485.000.000,00
1.3.9 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
250.000.000.000,00
1.3.10 Badan Tenaga Nuklir Nasional
17.000.000.000,00
1.3.11 Kementerian Pemuda dan Olahraga
1.103.549.000.000,00
1.3.12 Kementerian Pertahanan
...
- 14 1.3.12 Kementerian Pertahanan
1.3.13 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
1.3.14 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
1.3.15 Kementerian Koperasi dan UKM
1.3.16 Kementerian Komunikasi dan Informatika
2. Anggaran Pendidikan melalui Transfer
ke Daerah
2.1 Bagian Anggaran Pendidikan yang
diperkirakan dalam DBH
2.2 DAK Pendidikan
2.3 Bagian Anggaran Pendidikan yang
diperkirakan dalam DAU
2.4 Dana Tambahan Penghasilan Guru (DTPG) PNSD
2.5 Tunjangan Profesi Guru (TPG)
2.6 Bagian Anggaran Pendidikan yang diperkirakan
dalam Otsus
2.7 Dana Insentif Daerah (DID)
2.8 Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
131.016.596.000,00
428.500.000.000,00
310.000.000.000,00
215.000.000.000,00
31.865.200.000,00
238.619.487.484.000,00
982.482.550.000,00
10.041.300.000.000,00
135.644.273.026.000,00
1.853.600.000.000,00
60.540.700.000.000,00
4.094.631.908.000,00
1.387.800.000.000,00
24.074.700.000.000,00
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 20
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Beberapa komponen Pembiayaan Dalam Negeri, dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a. SBN neto merupakan selisih antara jumlah penerbitan
dengan pembayaran pokok jatuh tempo dan pembelian
kembali. Penerbitan SBN tidak hanya dalam mata uang
rupiah di pasar domestik, tetapi juga mencakup penerbitan
SBN dalam valuta asing di pasar internasional, baik SBN
konvensional maupun SBSN (Sukuk).
b. Komposisi jumlah dan jenis instrumen SBN yang akan
diterbitkan, pembayaran pokok, dan pembelian kembali SBN,
akan diatur lebih lanjut oleh Pemerintah dengan
mempertimbangkan situasi yang berkembang di pasar,
sampai dengan target neto pembiayaan SBN tercapai.
c. Pemerintah menerbitkan SBN dengan kombinasi tenor yang
baik serta melakukan reprofiling utang jika diperlukan agar
profil jatuh tempo (maturity profile) SBN tetap mendukung
keberlanjutan fiskal.
d. Pinjaman . . .
- 15 d. Pinjaman Dalam Negeri merupakan utang yang bersumber
dari BUMN, pemerintah daerah, dan perusahaan daerah.
Pinjaman dalam negeri digunakan untuk pembiayaan
kegiatan. Pinjaman dalam negeri (neto) merupakan selisih
antara jumlah penarikan pinjaman dengan pembayaran
cicilan pokok jatuh tempo.
e. PMN untuk PT Askrindo dan Perum Jamkrindo akan
digunakan untuk meningkatkan kapasitas usaha dan
memperkuat struktur permodalan PT Askrindo dan Perum
Jamkrindo dalam rangka pelaksanaan penjaminan Kredit
Usaha Rakyat (KUR) bagi kelangsungan dan perkembangan
kegiatan sektor riil oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
(UMKM).
f.
PMN kepada PT Sarana Multigriya Finansial digunakan
untuk meningkatkan kapasitas usaha dan memperkuat
struktur permodalan dalam rangka membangun dan
mengembangkan pasar pembiayaan sekunder perumahan
yang dapat meningkatkan tersedianya sumber dana jangka
menengah atau panjang sektor perumahan.
g. PMN kepada organisasi/lembaga keuangan internasional
ditujukan untuk memenuhi kewajiban Indonesia sebagai
anggota dan mempertahankan persentase kepemilikan
modal.
h. PMN kepada ASEAN Infrastructure Fund (AIF) digunakan
untuk kontribusi modal awal dalam rangka pendirian AIF
guna mendukung pengembangan infrastruktur di kawasan
negara-negara ASEAN.
i.
PMN kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia
digunakan untuk meningkatkan kapasitas modal guna
mendukung program ekspor nasional.
j.
Dana Bergulir Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi,
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB KUMKM) akan
digunakan untuk memberikan stimulus bagi KUMKM berupa
penguatan modal.
k. Dana . . .
- 16 -
k. Dana Bergulir Pusat Pembiayaan Perumahan akan
digunakan dalam rangka pelaksanaan program Fasilitas
Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk pemenuhan
kebutuhan perumahan layak huni bagi Masyarakat
Berpenghasilan Rendah (MBR).
l.
Pengelolaan dan pencairan dana penjaminan Pemerintah
untuk percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik
yang menggunakan batubara dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
m. Pengelolaan dan pencairan dana pemberian jaminan oleh
Pemerintah Pusat dalam rangka percepatan penyediaan air
minum dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan.
n. Pengelolaan dan pencairan dana penjaminan infrastruktur
dalam proyek kerjasama Pemerintah dengan badan usaha
yang
dilakukan
melalui
badan
usaha
penjaminan
infrastruktur dilaksanakan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “krisis pasar SBN domestik” adalah kondisi
krisis pasar SBN berdasarkan indikator Protokol Manajemen Krisis
(Crisis Management Protocol (CMP)) pasar SBN yang ditetapkan oleh
Menteri Keuangan.
Penggunaan dana SAL untuk melakukan stabilisasi pasar SBN
dapat dilakukan apabila kondisi pasar SBN telah ditetapkan oleh
Menteri Keuangan pada level krisis.
Krisis . . .
- 17 -
Krisis di pasar SBN tersebut dapat memicu krisis di pasar
keuangan secara keseluruhan, mengingat sebagian besar lembaga
keuangan memiliki SBN. Situasi tersebut juga dapat memicu krisis
fiskal, apabila Pemerintah harus melakukan upaya penyelamatan
lembaga keuangan nasional.
Stabilisasi pasar SBN domestik dilakukan melalui pembelian SBN
di pasar sekunder oleh Menteri Keuangan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 23
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup Jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Perubahan komposisi instrumen pembiayaan utang meliputi
perubahan SBN neto, penarikan Pinjaman Dalam Negeri,
dan/atau penarikan Pinjaman Luar Negeri. Penarikan Pinjaman
Luar Negeri meliputi penarikan Pinjaman Program dan Pinjaman
Proyek.
Dalam hal Pinjaman Luar Negeri dan/atau Pinjaman Dalam Negeri
tidak tersedia dapat digantikan dengan penerbitan SBN atau
sebaliknya dalam rangka menjaga ketahanan ekonomi dan fiskal.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7) . . .
- 18 -
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “Barang Milik Negara” yaitu berupa tanah
dan/atau bangunan serta selain tanah dan/atau bangunan.
Penetapan BPYBDS sebagai PMN pada BUMN meliputi antara lain
BPYBDS sebagaimana tercatat dalam laporan keuangan PT PLN
(Persero) yang telah diserahterimakan oleh Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menjadi tambahan PMN bagi
PT PLN (Persero).
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 26
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “entitas terjamin” adalah pihak yang
memperoleh jaminan Pemerintah.
Ayat (3)
Pembentukan rekening dana cadangan penjaminan Pemerintah
ditujukan terutama untuk menghindari pengalokasian anggaran
penjaminan Pemerintah dalam jumlah besar dalam satu tahun
anggaran di masa yang akan datang, menjamin ketersediaan dana
yang jumlahnya sesuai kebutuhan, menjamin pembayaran klaim
secara tepat waktu, dan memberikan kepastian kepada pemangku
kepentingan (termasuk Kreditur/Investor).
Dana . . .
- 19 -
Dana yang telah diakumulasikan dalam rekening cadangan
penjaminan Pemerintah tersebut dapat digunakan untuk
membayar Kewajiban Penjaminan antar program penjaminan.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 27
Yang dimaksud dengan “perubahan pagu penerusan pinjaman luar
negeri” adalah peningkatan pagu penerusan pinjaman luar negeri
akibat adanya lanjutan penerusan pinjaman luar negeri yang bersifat
tahun jamak dan/atau percepatan penarikan penerusan pinjaman
yang sudah disetujui dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan
penerusan pinjaman luar negeri. Perubahan pagu penerusan
pinjaman luar negeri tersebut tidak termasuk penerusan pinjaman
baru yang belum dialokasikan dalam APBN Tahun Anggaran 2014.
Pasal 28
Ayat (1)
Pengeluaran melebihi pagu anggaran antara lain dapat disebabkan
oleh:
1. Kondisi ekonomi makro yang tidak sesuai dengan kondisi yang
diperkirakan pada saat penyusunan APBN Perubahan
dan/atau laporan realisasi pelaksanaan APBN Semester
Pertama Tahun Anggaran 2014;
2. Dampak dari restrukturisasi utang dalam rangka pengelolaan
portofolio utang;
3. Dampak dari percepatan penarikan pinjaman; dan
4. Dampak dari transaksi lindung nilai atas pembayaran bunga
utang dan pengeluaran cicilan pokok utang.
Ayat (2)
Pelaksanaan transaksi lindung nilai dilaporkan Pemerintah dalam
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2014.
Ayat (3)
Pelaksanaan transaksi lindung nilai dapat menimbulkan biaya
maupun penerimaan bagi Pemerintah.
Biaya maupun penerimaan bagi Pemerintah dari transaksi lindung
nilai atas pembayaran bunga utang dibebankan/menjadi bagian
dari anggaran pembayaran bunga utang.
Biaya . . .
- 20 -
Biaya maupun penerimaan bagi Pemerintah dari transaksi lindung
nilai atas pengeluaran cicilan pokok utang dibebankan/menjadi
bagian dari anggaran pengeluaran cicilan pokok utang.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan “bukan merupakan kerugian keuangan
negara” karena transaksi Lindung Nilai ini ditujukan untuk
melindungi pembayaran bunga utang dan pengeluaran cicilan
pokok utang dari risiko fluktuasi mata uang dan tingkat bunga,
dan transaksi lindung nilai tidak ditujukan untuk spekulasi
mendapatkan keuntungan.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 29
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Tatacara penyelesaian Piutang Instansi Pemerintah yang diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan, termasuk mengenai tata cara
dan kriteria penyelesaian piutang eks-BPPN (Badan Penyehatan
Perbankan Nasional).
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Ayat (1)
Alokasi anggaran untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang
dananya bersumber dari penerusan pinjaman luar negeri
digunakan dalam rangka kesinambungan pelaksanaan atas
kegiatan-kegiatan tersebut.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3) . . .
- 21 -
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan proyeksi dalam ketentuan ini adalah
proyeksi pertumbuhan ekonomi paling rendah 1% (satu persen)
di bawah asumsi dan/atau proyeksi asumsi ekonomi makro
lainnya mengalami deviasi paling rendah sebesar 10% (sepuluh
persen) dari asumsi yang telah ditetapkan, kecuali prognosis
lifting dengan deviasi paling rendah 5% (lima persen).
Huruf b
Yang dimaksud dengan krisis sistemik dalam ketentuan ini
adalah kondisi sistem keuangan, yang terdiri dari lembaga
keuangan dan pasar keuangan, termasuk pasar SBN domestik,
yang sudah gagal menjalankan fungsi dan perannya secara
efektif dalam perekonomian nasional yang ditunjukkan dengan
memburuknya berbagai indikator ekonomi dan keuangan, yang
dapat berupa kesulitan likuiditas, masalah solvabilitas
dan/atau penurunan kepercayaan publik terhadap sistem
keuangan.
Huruf c
Kenaikan biaya utang yang bersumber dari kenaikan imbal
hasil (yield) SBN adalah terjadinya peningkatan imbal hasil
secara signifikan yang menyebabkan krisis di pasar SBN, yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan parameter
dalam Protokol Manajemen Krisis (Crisis Management Protocol
(CMP)) pasar SBN.
Keadaan . . .
- 22 -
Keadaan darurat tersebut menyebabkan prognosis penurunan
pendapatan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan dan
PNBP, dan adanya perkiraan tambahan beban kewajiban negara
yang berasal dari pembayaran pokok dan bunga utang, subsidi
BBM dan listrik, serta belanja lainnya.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Yang dimaksud “karena suatu dan lain hal belum dapat
dilakukan” adalah apabila Badan Anggaran belum dapat
melakukan rapat kerja dan/atau mengambil kesimpulan di dalam
rapat kerja, dalam waktu satu kali dua puluh empat jam setelah
usulan disampaikan Pemerintah kepada DPR.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 36
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dilampiri dengan
ikhtisar laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya.
Ayat (3)
Informasi pendapatan dan belanja berbasis akrual dimaksudkan
sebagai tahap menuju penerapan akuntansi berbasis akrual, yang
memuat informasi mengenai hak dan kewajiban yang diakui
sebagai penambah atau pengurang nilai kekayaan bersih.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5) . . .
- 23 -
Ayat (5)
Penerapan pendapatan dan belanja negara secara akrual telah
dilaksanakan sejak Tahun Anggaran 2009 pada satuan kerja
berstatus
BLU
yang
secara
sistem
telah
mampu
melaksanakannya.
Ayat (6)
Yang dimaksud dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
berbasis kas menuju akrual adalah SAP yang mengakui
pendapatan, belanja, dan pembiayaan berbasis kas, serta
mengakui aset, utang, dan ekuitas dana berbasis akrual.
Ayat (7)
Laporan keuangan yang diajukan dalam rancangan undangundang sebagaimana yang dimaksud pada ayat ini adalah
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang telah diperiksa
oleh BPK dan telah memuat koreksi/penyesuaian sebagaimana
diuraikan dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
Jawab Keuangan Negara.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Penetapan
tingkat
kemiskinan
sesuai
dengan
metodologi
penghitungan Garis Kemiskinan Nasional (GKN) yang dilakukan oleh
Badan Pusat Statistik (BPS).
Pasal 39
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5462
LAMPIRAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2013
TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA
TAHUN ANGGARAN 2014
RINCIAN PENERIMAAN PERPAJAKAN, PNBP, ANGGARAN TRANSFER KE
DAERAH, DAN PEMBIAYAAN ANGGARAN
I. RINCIAN PENERIMAAN PERPAJAKAN DAN PNBP
1. RINCIAN PENERIMAAN PERPAJAKAN
1. Pendapatan pajak dalam negeri
1.1 Pendapatan pajak penghasilan (PPh)
1.1.1 Pendapatan PPh migas
1.1.1.1 Pendapatan PPh minyak bumi
1.1.1.2 Pendapatan PPh gas bumi
1.1.2 Pendapatan PPh nonmigas
1.1.2.1 Pendapatan PPh Pasal 21
1.1.2.2 Pendapatan PPh Pasal 22
1.1.2.3 Pendapatan PPh Pasal 22 impor
1.1.2.4 Pendapatan PPh Pasal 23
1.1.2.5 Pendapatan PPh Pasal 25/29
orang pribadi
1.1.2.6 Pendapatan PPh Pasal 25/29 badan
1.1.2.7 Pendapatan PPh Pasal 26
1.1.2.8 Pendapatan PPh final
1.1.2.9 Pendapatan PPh nonmigas lainnya
1.2 Pendapatan pajak pertambahan nilai dan
pajak penjualan atas barang mewah
1.3 Pendapatan pajak bumi dan bangunan
1.4 Pendapatan cukai
1.4.1 Pendapatan cukai
1.4.1.1 Pendapatan cukai hasil tembakau
1.4.1.2 Pendapatan cukai ethyl alkohol
1.4.1.3 Pendapatan cukai minuman
mengandung ethyl alkohol
1.5 Pendapatan pajak lainnya
2. Pendapatan pajak perdagangan internasional
2.1 Pendapatan bea masuk
2.2 Pendapatan bea keluar
1.226.474.170.684.000,00
586.306.470.234.000,00
76.073.625.000.000,00
30.311.276.000.000,00
45.762.349.000.000,00
510.232.845.234.000,00
116.824.900.384.000,00
10.370.314.557.000,00
50.014.271.180.000,00
37.309.965.250.000,00
7.355.441.000.000,00
174.763.737.200.000,00
39.022.027.000.000,00
74.515.960.373.000,00
56.228.290.000,00
492.950.875.000.000,00
25.441.872.000.000,00
116.284.000.000.000,00
116.284.000.000.000,00
110.700.000.000.000,00
200.000.000.000,00
5.384.000.000.000,00
5.490.953.450.000,00
53.914.800.000.000,00
33.936.600.000.000,00
19.978.200.000.000,00
2. RINCIAN PNBP
1. Penerimaan sumber daya alam
1.1 Penerimaan sumber daya alam migas
1.1.1 Pendapatan minyak bumi
1.1.2 Pendapatan gas alam
1.2 Penerimaan sumber daya alam nonmigas
1.2.1 Pendapatan pertambangan mineral dan batubara
1.2.1.1 Pendapatan iuran tetap
1.2.1.2 Pendapatan royalti
225.954.696.223.000,00
196.508.274.000.000,00
142.943.079.000.000,00
53.565.195.000.000,00
29.446.422.223.000,00
23.599.745.000.000,00
1.071.826.000.000,00
22.527.919.000.000,00
1.2.2 Pendapatan . . .
-21.2.2 Pendapatan kehutanan
1.2.2.1 Pendapatan dana reboisasi
1.2.2.2 Pendapatan provisi sumber daya hutan
1.2.2.3 Pendapatan IIUPH (IHPH)
1.2.2.3.1 Pendapatan IIUPH (IHPH)
tanaman industri
1.2.2.3.2 Pendapatan IIUPH (IHPH)
hutan alam
1.2.2.4 Pendapatan penggunaan kawasan hutan
1.2.3 Pendapatan perikanan
1.2.4 Pendapatan panas bumi
1.2.4.1 Pendapatan pertambangan
panas bumi
1.2.4.2 Pendapatan iuran tetap
pertambangan panas bumi
5.017.016.000.000,00
2.440.000.000.000,00
1.790.444.000.000,00
146.250.000.000,00
11.250.000.000,00
135.000.000.000,00
640.322.000.000,00
250.000.001.000,00
579.661.222.000,00
564.850.000.000,00
14.811.222.000,00
2. Pendapatan bagian laba BUMN
2.1 Pendapatan laba BUMN perbankan
2.2 Pendapatan laba BUMN non perbankan
40.000.000.000.000,00
10.300.000.000.000,00
29.700.000.000.000,00
3. PNBP lainnya
3.1 Pendapatan dari pengelolaan BMN
(pemanfaatan dan pemindahtanganan)
serta pendapatan dari penjualan
3.1.1 Pendapatan penjualan hasil produksi/sitaan
3.1.1.1 Pendapatan penjualan hasil pertanian,
kehutanan, dan perkebunan
3.1.1.2 Pendapatan penjualan hasil
peternakan dan perikanan
3.1.1.3 Pendapatan penjualan hasil tambang
3.1.1.4 Pendapatan penjualan hasil
sitaan/rampasan dan harta peninggalan
3.1.1.5 Pendapatan penjualan obat-obatan
dan hasil farmasi Lainnya
3.1.1.6 Pendapatan penjualan informasi,
penerbitan, film, survey, pemetaan,
dan hasil cetakan lainnya
3.1.1.7 Pendapatan penjualan
dokumen-dokumen pelelangan
3.1.1.8 Pendapatan penjualan cadangan
beras Pemerintah dalam rangka
operasi pasar murni
3.1.1.9 Pendapatan penjualan lainnya
3.1.2 Pendapatan dari pemindahtanganan BMN
3.1.2.1 Pendapatan penjualan rumah, gedung,
bangunan, dan tanah
3.1.2.2 Pendapatan dan penjualan peralatan
dan mesin
3.1.2.3 Pendapatan penjualan sewa beli
3.1.2.4 Pendapatan dari pemindahtanganan
BMN lainnya
3.1.3 Pendapatan penjualan dari kegiatan hulu migas
3.1.3.1 Pendapatan minyak mentah (DMO)
3.1.3.2 Pendapatan lainnya dari kegiatan
hulu migas
3.1.4 Pendapatan dari pemanfaatan BMN
3.1.4.1 Pendapatan sewa tanah, gedung,
dan bangunan
3.1.4.2 Pendapatan sewa peralatan dan mesin
3.1.4.3 Pendapatan sewa jalan, irigasi,
dan jaringan
3.1.4.4 Pendapatan dari KSP tanah, gedung,
94.087.605.717.000,00
31.538.985.208.000,00
17.367.147.273.000,00
6.848.075.000,00
22.102.468.000,00
16.066.526.027.000,00
50.000.000.000,00
195.000.000,00
16.231.482.000,00
65.792.000,00
1.200.000.000.000,00
5.178.429.000,00
129.436.240.000,00
50.549.430.000,00
33.848.578.000,00
20.000.000.000,00
25.038.232.000,00
13.733.362.500.000,00
13.446.700.000.000,00
286.662.500.000,00
309.039.195.000,00
213.557.306.000,00
69.780.517.000,00
235.820.000,00
dan bangunan . . .
-3dan bangunan
3.1.4.5 Pendapatan sewa dari pemanfaatan
BMN lainnya
3.2 Pendapatan jasa
3.2.1 Pendapatan jasa I
3.2.2
3.2.3
3.2.4
3.2.5
500.000.000,00
24.965.552.000,00
30.978.493.357.000,00
16.909.228.739.000,00
3.2.1.1 Pendapatan rumah sakit
dan instansi kesehatan lainnya
44.372.778.000,00
3.2.1.2 Pendapatan tempat hiburan/taman/
museum dan pungutan
usaha pariwisata alam (PUPA)
23.109.033.000,00
3.2.1.3 Pendapatan surat keterangan, visa,
dan paspor
2.203.341.600.000,00
3.2.1.4 Pendapatan hak dan perijinan
10.928.806.714.000,00
3.2.1.5 Pendapatan sensor/karantina,
pengawasan/pemeriksaan
218.028.367.000,00
3.2.1.6 Pendapatan jasa, pekerjaan,
informasi, pelatihan, teknologi,
sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing
kementerian dan pendapatan DJBC
656.731.300.000,00
3.2.1.7 Pendapatan jasa kantor urusan agama
82.250.670.000,00
3.2.1.8 Pendapatan jasa bandar udara,
kepelabuhan, dan kenavigasian
993.151.358.000,00
3.2.1.9 Pendapatan pelayanan pertanahan
1.759.436.919.000,00
Pendapatan jasa II
984.151.709.000,00
3.2.2.1 Pendapatan jasa lembaga keuangan
(jasa giro)
58.669.655.000,00
3.2.2.2 Pendapatan jasa penyelenggaraan
telekomunikasi
745.032.938.000,00
3.2.2.3 Pendapatan biaya penagihan pajak
negara dengan surat paksa
4.026.275.000,00
3.2.2.4 Pendapatan Uang Pewarganegaraan
624.000.000,00
3.2.2.5 Pendapatan bea lelang
129.438.841.000,00
3.2.2.6 Pendapatan biaya administrasi pengurusan
piutang negara
40.290.000.000,00
3.2.2.7 Pendapatan registrasi dokter
dan dokter gigi
6.070.000.000,00
Pendapatan jasa luar negeri
517.382.070.000,00
3.2.3.1 Pendapatan dari pemberian
surat perjalanan Republik Indonesia
404.123.083.000,00
3.2.3.2 Pendapatan dari jasa pengurusan
dokumen konsuler
103.158.086.000,00
3.2.3.3 Pendapatan rutin lainnya dari luar negeri
10.100.901.000,00
Pendapatan atas pengelolaan rekening tunggal
perbendaharaan (treasury single account) dan/
atau jasa penempatan uang negara
6.200.000.000.000,00
3.2.4.1 Pendapatan dari pelaksanaan
treasury national pooling
195.000.000.000,00
3.2.4.2 Pendapatan dari penempatan
uang negara di Bank Indonesia
6.005.000.000.000,00
Pendapatan jasa kepolisian I
4.329.332.750.000,00
3.2.5.1 Pendapatan surat izin
mengemudi (SIM)
1.007.057.710.000,00
3.2.5.2 Pendapatan surat tanda
nomor kendaraan (STNK)
1.202.885.925.000,00
3.2.5.3 Pendapatan surat tanda
coba kendaraan (STCK)
64.701.800.000,00
3.2.5.4 Pendapatan buku pemilik
kendaraan bermotor (BPKB)
1.171.452.260.000,00
3.2.5.5 Pendapatan tanda nomor
kendaraan bermotor (TNKB)
848.808.480.000,00
3.2.5.6 Pendapatan ujian keterampilan
mengemudi . . .
-4mengemudi melalui simulator
3.2.5.7 Pendapatan penerbitan surat izin
senjata api dan bahan peledak
3.2.6 Pendapatan jasa kepolisian II
3.2.6.1 Pendapatan penerbitan surat mutasi
kendaraan ke luar daerah
3.2.6.2 Pendapatan penerbitan surat
keterangan catatan kepolisian (SKCK)
3.2.6.3 Pendapatan penerbitan surat
keterangan lapor diri
3.2.6.4 Pendapatan denda pelanggaran
lalu lintas
32.172.700.000,00
2.253.875.000,00
403.262.253.000,00
63.907.725.000,00
59.241.510.000,00
11.831.200.000,00
268.281.818.000,00
3.2.7 Pendapatan jasa lainnya
3.2.7.1 Pendapatan jasa lainnya
3.2.7.2 Pendapatan bea lelang oleh Balai
Lelang/Pejabat Lelang Kelas II
3.2.7.3 Pendapatan bea lelang pegadaian
1.635.135.836.000,00
1.615.773.252.000,00
3.3 Pendapatan bunga
3.3.1 Pendapatan bunga
3.3.1.1 Pendapatan bunga dari piutang
dan penerusan pinjaman
3.3.1.2 Pendapatan bunga lainnya
3.3.2 Pendapatan premium atas obligasi negara
3.4 Pendapatan kejaksaan dan peradilan
dan hasil tindak pidana korupsi
3.4.1 Pendapatan legalisasi tanda tangan
3.4.2 Pendapatan pengesahan surat
di bawah tangan
3.4.3 Pendapatan uang meja (leges) dan upah
pada panitera badan pengadilan (peradilan)
3.4.4 Pendapatan hasil denda dan sebagainya
3.4.5 Pendapatan ongkos perkara
3.4.6 Pendapatan penjualan hasil lelang
tindak pidana korupsi
3.4.7 Pendapatan kejaksaan dan
peradilan lainnya
3.5 Pendapatan pendidikan
3.5.1 Pendapatan uang pendidikan
3.5.2 Pendapatan uang ujian masuk,
kenaikan tingkat, dan akhir pendidikan
3.5.3 Pendapatan uang ujian untuk
menjalankan praktik
3.5.4 Pendapatan pendidikan lainnya
3.6 Pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi
3.6.1 Pendapatan uang sitaan hasil korupsi
yang telah ditetapkan pengadilan
3.6.2 Pendapatan gratifikasi yang ditetapkan
KPK menjadi milik negara
3.6.3 Pendapatan uang pengganti tindak
pidana korupsi yang ditetapkan
di pengadilan
3.7 Pendapatan iuran dan denda
3.7.1 Pendapatan iuran badan usaha
3.7.1.1 Pendapatan iuran badan usaha dari
kegiatan penyediaan
dan pendistribusian BBM
3.7.1.2 Pendapatan iuran badan usaha dari
kegiatan usaha pengangkutan
gas bumi melalui pipa
3.7.2 Pendapatan dari perlindungan hutan
9.089.773.181.000,00
1.106.494.192.000,00
2.593.266.000,00
16.769.318.000,00
1.106.310.000.000,00
184.192.000,00
7.983.278.989.000,00
137.743.590.000,00
3.593.255.000,00
661.385.000,00
6.319.345.000,00
104.310.770.000,00
732.000,00
2.000.000.000,00
20.858.103.000,00
2.775.932.606.000,00
1.762.088.665.000,00
126.719.701.000,00
80.443.041.000,00
806.681.199.000,00
71.343.500.000,00
38.961.500.000,00
3.100.000.000,00
29.282.000.000,00
672.269.692.000,00
600.000.000.000,00
480.000.000.000,00
120.000.000.000,00
dan konservasi . . .
-5dan konservasi alam
57.964.210.000,00
3.7.2.1 Pendapatan iuran menangkap/
mengambil/mengangkut satwa liar/
mengambil/mengangkut tumbuhan alam hidup
9.533.537.000,00
3.7.2.2 Pungutan izin pengusahaan pariwisata
alam (PIPPA)
1.761.734.000,00
3.7.2.3 Pungutan masuk obyek wisata alam
46.395.582.000,00
3.7.2.4 Iuran hasil usaha pengusahaan
pariwisata alam (IHUPA)
273.357.000,00
3.7.3 Pendapatan denda I
14.283.932.000,00
3.7.3.1 Pendapatan denda keterlambatan
penyelesaian pekerjaan Pemerintah
10.838.932.000,00
3.7.3.2 Pendapatan denda pelanggaran
di bidang persaingan usaha
105.000.000,00
3.7.3.3 Pendapatan denda pelaksanaan
rekening pengeluaran bersaldo
nihil dalam rangka TSA
460.000.000,00
3.7.3.4 Pendapatan denda atas kekurangan/
keterlambatan pelimpahan
penerimaan negara oleh bank/
pos persepsi
2.880.000.000,00
3.7.4 Pendapatan denda II
21.550.000,00
3.7.4.1 Pendapatan denda atas kekurangan/
keterlambatan pelimpahan saldo
BO II ke BO I
550.000,00
3.7.4.2 Pendapatan denda atas kekurangan/
keterlambatan pembagian
PBB oleh BO III PBB
21.000.000,00
3.8 Pendapatan lain-lain
18.823.064.583.000,00
3.8.1 Pendapatan dari penerimaan kembali belanja
tahun anggaran yang lalu
12.911.146.156.000,00
3.8.1.1 Penerimaan kembali belanja
pegawai pusat TAYL
2.269.992.898.000,00
3.8.1.2 Penerimaan kembali
belanja pensiun TAYL
20.487.000,00
3.8.1.3 Penerimaan kembali belanja
lainnya Hibah TAYL
3.300.000,00
3.8.1.4 Penerimaan kembali belanja
lainnya TAYL
10.641.129.471.000,00
3.8.2 Pendapatan pelunasan piutang
12.446.423.000,00
3.8.2.1 Pendapatan pelunasan piutang
non-bendahara
269.434.000,00
3.8.2.2 Pendapatan pelunasan ganti rugi atas
kerugian yang diderita oleh negara
(masuk TP/TGR)
12.176.989.000,00
3.8.3 Pendapatan dari selisih kurs
2.090.547.029.000,00
3.8.4 Pendapatan lain-lain
3.8.4.1 Penerimaan kembali persekot/
uang muka gaji
3.8.4.2 Pendapatan dari biaya pengawasan
HET minyak tanah
3.8.4.3 Pendapatan penyetoran kelebihan
hasil bersih lelang yan tidak
diambil oleh yang berhak
3.8.4.4 Pendapatan anggaran lain-lain
4. Pendapatan badan layanan umum
4.1 Pendapatan jasa layanan umum
4.1.1 Pendapatan penyediaan barang
dan jasa kepada masyarakat
4.1.1.1 Pendapatan jasa pelayanan
rumah sakit
3.808.924.975.000,00
30.245.985.000,00
18.597.000,00
107.500.000,00
3.778.552.893.000,00
25.349.427.015.000,00
22.033.715.541.000,00
18.721.167.371.000,00
6.686.892.322.000,00
4.1.1.2 Pendapatan . . .
-64.1.1.2 Pendapatan jasa pelayanan
pendidikan
4.1.1.3 Pendapatan jasa pelayanan
tenaga, pekerjaan, informasi,
pelatihan, dan teknologi
4.1.1.4 Pendapatan jasa pencetakan
4.1.1.5 Pendapatan jasa penyelenggaraan
telekomunikasi
4.1.1.6 Pendapatan jasa layanan pemasaran
4.1.1.7 Pendapatan jasa penyediaan barang
dan jasa lainnya
4.1.2 Pendapatan dan pengelolaan
wilayah/kawasan tertentu
4.1.2.1 Pendapatan pengelolaan
kawasan otorita
4.1.2.2 Pendapatan dan pengelolaan
kawasan lainnya
4.1.3 Pengelolaan dana khusus untuk masyarakat
4.1.3.1 pendapatan program modal ventura
4.1.3.2 Pendapatan program dana
bergulir sektoral
4.1.3.3 Pendapatan program
dana bergulir syariah
4.1.3.4 Pendapatan investasi
4.1.3.5 Pendapatan pengelolaan
dana khusus lainnya
4.2 Pendapatan hibah badan layanan umum
4.2.1 Pendapatan hibah terikat
4.2.1.1 Pendapatan hibah terikat dalam
negeri - lembaga/badan usaha
4.2.1.2 Pendapatan hibah terikat dalam
negeri – pemda
4.2.2 Pendapatan hibah tidak terikat
4.2.2.1 Pendapatan hibah tidak terikat
dalam negeri - lembaga/badan usaha
4.2.2.2 Pendapatan hibah tidak terikat lainnya
4.3 Pendapatan hasil kerja sama BLU
4.3.1 Pendapatan hasil kerja sama perorangan
4.3.2 Pendapatan hasil kerja sama
lembaga/badan usaha
4.3.3 Pendapatan hasil kerja sama
pemerintah daerah
4.4 Pendapatan BLU lainnya
8.615.403.419.000,00
223.191.345.000,00
2.389.175.000,00
2.189.409.337.000,00
1.410.000.000,00
1.002.471.773.000,00
846.538.123.000,00
697.807.496.000,00
148.730.627.000,00
2.466.010.047.000,00
2.137.813.000,00
587.568.130.000,00
21.801.775.000,00
692.502.329.000,00
1.162.000.000.000,00
128.264.881.000,00
125.168.573.000,00
94.053.761.000,00
31.114.812.000,00
3.096.308.000,00
2.096.308.000,00
1.000.000.000,00
2.001.812.105.000,00
16.476.598.000,00
1.882.753.577.000,00
102.581.930.000,00
1.185.634.488.000,00
II. RINCIAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH
1. RINCIAN DANA PERIMBANGAN
1. Dana Bagi Hasil (DBH)
113.711.676.218.000,00
1.1DBH Pajak
51.787.157.746.000,00
1.1.1 DBH Pajak Penghasilan
25.713.964.277.000,00
1.1.1.1 Pajak penghasilan Pasal 21
24.225.165.077.000,00
1.1.1.1.1 DBH Pasal 21
23.364.980.077.000,00
1.1.1.1.2 Kurang Bayar Pasal 21
860.185.000.000,00
1.1.1.2 Pajak Penghasilan Pasal 25/29 Orang Pribadi
1.488.799.200.000,00
1.1.1.2.1 DBH Pasal 25/29 Orang Pribadi
1.471.088.200.000,00
1.1.1.2.2 Kurang . . .
-71.1.1.2.2 Kurang Bayar Pasal 25/29
Orang Pribadi
1.1.2 DBH Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
1.1.2.1 DBH PBB Murni
1.1.2.2 Kurang Bayar DBH PBB
1.1.3 DBH Cukai Hasil Tembakau (CHT)
1.2 DBH Sumber Daya Alam (SDA)
1.2.1 DBH SDA Minyak dan Gas Bumi
1.2.1.1 Minyak Bumi
1.2.1.1.1 DBH Minyak Bumi
17.711.000.000,00
23.859.193.469.000,00
23.852.984.469.000,00
6.209.000.000,00
2.214.000.000.000,00
61.924.518.472.000,00
38.849.199.293.000,00
22.511.814.920.000,00
22.154.353.920.000,00
1.2.1.1.2 Kurang Bayar Minyak Bumi
357.461.000.000,00
1.2.1.2 Gas Bumi
16.337.384.373.000,00
1.2.2 DBH SDA Pertambangan Umum
19.835.876.000.000,00
1.2.2.1 Iuran Tetap
890.273.800.000,00
1.2.2.1.1 DBH Iuran Tetap Murni
857.460.800.000,00
1.2.2.1.2 Kurang Bayar Iuran Tetap
32.813.000.000,00
1.2.2.2 Royalti
18.945.602.200.000,00
1.2.2.2.1 DBH Royalti Murni
18.022.335.200.000,00
1.2.2.2.2 Kurang Bayar Royalti
923.267.000.000,00
1.2.3 DBH SDA Kehutanan
2.572.331.200.000,00
1.2.3.1 Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH)
1.446.894.200.000,00
1.2.3.1.1 DBH PSDH Murni
1.432.355.200.000,00
1.2.3.1.2 Kurang Bayar PSDH
14.539.000.000,00
1.2.3.2 Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH)
136.883.000.000,00
1.2.3.2.1 DBH IIUPH Murni
117.000.000.000,00
1.2.3.2.2 Kurang Bayar IIUPH
19.883.000.000,00
1.2.3.3 Dana Reboisasi
988.554.000.000,00
1.2.3.3.1 DBH Dana Reboisasi Murni
976.000.000.000,00
1.2.3.3.2 Kurang Bayar Dana Reboisasi
12.554.000.000,00
1.2.4 DBH SDA Perikanan
200.000.001.000,00
1.2.5 DBH SDA Pertambangan Panas Bumi (PPB)
467.111.978.000,00
1.2.5.1 DBH PPB Murni
463.728.978.000,00
1.2.5.2 Kurang Bayar DBH PPB
3.383.000.000,00
2. Dana Alokasi Umum (DAU)
341.219.325.651.000,00
3. Dana Alokasi Khusus (DAK)
33.000.000.000.000,00
3.1 Dana Alokasi Khusus
30.200.000.000.000,00
3.1.1 Pendidikan
10.041.300.000.000,00
3.1.2 Kesehatan
3.129.900.000.000,00
3.1.3 Infrastruktur Jalan
6.105.760.000.000,00
3.1.4 Infrastruktur Irigasi
2.288.960.000.000,00
3.1.5 Infrastruktur Air Minum
885.320.000.000,00
3.1.6 Infrastruktur Sanitasi
829.260.000.000,00
3.1.7 Prasarana Pemerintahan Daerah
499.740.000.000,00
3.1.8 Kelautan dan Perikanan
1.851.910.000.000,00
3.1.9 Pertanian . . .
-83.1.9 Pertanian
2.579.560.000.000,00
3.1.10 Lingkungan Hidup
548.100.000.000,00
3.1.11 Keluarga Berencana
462.910.000.000,00
3.1.12 Kehutanan
558.460.000.000,00
3.1.13 Sarana Perdagangan
730.990.000.000,00
3.1.14 Sarana dan Prasarana Daerah Tertinggal
754.740.000.000,00
3.1.15 Energi Perdesaan
467.940.000.000,00
3.1.16 Perumahan dan Permukiman
234.800.000.000,00
3.1.17 Keselamatan Transportasi Darat
235.940.000.000,00
3.1.18 Transportasi Perdesaan
301.340.000.000,00
3.1.19 Sarana dan Prasarana Kawasan Perbatasan
3.2 Dana Alokasi Khusus Tambahan
3.2.1 Infrastruktur Jalan
493.070.000.000,00
2.800.000.000.000,00
1.691.130.000.000,00
3.2.2 Infrastruktur Irigasi
633.980.000.000,00
3.2.3 Infrastruktur Air Minum
245.210.000.000,00
3.2.4 Infrastruktur Sanitasi
229.680.000.000,00
2. RINCIAN DANA OTONOMI KHUSUS DAN PENYESUAIAN
1. Dana Otonomi Khusus
2. Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta
3. Dana Penyesuaian
3.1 Tunjangan Profesi Guru (TPG) PNS Daerah
16.148.773.028.000,00
523.875.000.000,00
87.948.647.900.000,00
60.540.700.000.000,00
3.2 Dana Tambahan Penghasilan Guru (DTPG) PNS Daerah
1.853.600.000.000,00
3.3 Dana Insentif Daerah (DID)
1.387.800.000.000,00
3.4 Dana Proyek Pemerintah Daerah Dan Desentralisasi (P2D2)
3.5 Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
91.847.900.000,00
24.074.700.000.000,00
III. RINCIAN PEMBIAYAAN ANGGARAN
1. RINCIAN PEMBIAYAAN DALAM NEGERI
1. Perbankan dalam negeri
1.1 Penerimaan cicilan pengembalian penerusan pinjaman
2. Nonperbankan dalam negeri
2.1 Hasil pengelolaan aset
2.2 Surat berharga negara neto
2.3 Pinjaman dalam negeri neto
2.3.1 Penarikan pinjaman dalam negeri bruto
2.3.2 Pembayaran cicilan pokok pinjaman dalam negeri
2.4 Dana investasi Pemerintah
4.398.460.306.000,00
4.398.460.306.000,00
191.859.576.477.000,00
1.000.000.000.000,00
205.068.831.000.000,00
963.045.000.000,00
1.250.000.000.000,00
-286.955.000.000,00
-14.105.617.523.000,00
2.4.1 Penyertaan modal negara (PMN)
-5.005.617.523.000,00
2.4.1.1 PMN kepada BUMN
-3.000.000.000.000,00
2.4.1.1.1 PT Askrindo dan Perum Jamkrindo
-2.000.000.000.000,00
2.4.1.1.2 PT Sarana . . .
-92.4.1.1.2 PT Sarana Multigriya Finansial
2.4.1.2 PMN kepada organisasi/lembaga
keuangan internasional
2.4.1.2.1 Asian Development Bank (ADB)
2.4.1.2.2 International Bank for
Reconstruction
And Development (IBRD)
2.4.1.2.3 International Finance
Corporation (IFC)
2.4.1.2.4 International Fund
for Agricultural Development (IFAD)
2.4.1.3 PMN Lainnya
2.4.1.3.1 ASEAN Infrastructure Fund (AIF)
2.4.1.3.2 Lembaga Pembiayaan Ekspor
Indonesia
2.4.2 Dana bergulir
2.4.2.1 Lembaga Pengelola
Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah (LPDB KUMKM)
2.4.2.2 Pusat Pembiayaan Perumahan
2.4.3 Cadangan Pembiayaan
2.5 Kewajiban penjaminan
2.5.1 Percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik
yang menggunakan batubara
2.5.2 Percepatan penyediaan air minum
2.5.3 Proyek kerjasama Pemerintah dengan badan usaha
melalui Badan Usaha Penjaminan Infrastruktur
-1.000.000.000.000,00
-585.617.523.000,00
-390.538.924.000,00
-149.435.099.000,00
-14.143.500.000,00
-31.500.000.000,00
-1.420.000.000.000,00
-420.000.000.000,00
-1.000.000.000.000,00
-4.000.000.000.000,00
-1.000.000.000.000,00
-3.000.000.000.000,00
-5.100.000.000.000,00
-1.066.682.000.000,00
-1.017.886.000.000,00
-2.113.000.000,00
-46.683.000.000,00
2. RINCIAN PEMBIAYAAN LUAR NEGERI NETO
1. Penarikan pinjaman luar negeri bruto
1.1 Pinjaman program
1.2 Pinjaman proyek
1.2.1 Pinjaman Proyek Pemerintah Pusat
1.2.1.1 Pinjaman Proyek Kementerian
Negara/Lembaga
1.2.1.2 Pinjaman Proyek Diterushibahkan
1.2.2 Penerimaan Penerusan Pinjaman
2. Penerusan pinjaman
2.1 PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)
2.2 PT Sarana Multi Infrastruktur
2.3 PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia
2.4 PT Pertamina (Persero)
2.5 Pemerintah Kota Bogor
2.6 Pemerintah Kabupaten Muara Enim
2.7 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
3. Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri
39.132.741.421.000,00
3.900.000.000.000,00
35.232.741.421.000,00
34.006.463.491.000,00
30.980.720.725.000,00
3.025.742.766.000,00
1.226.277.930.000,00
-1.226.277.930.000,00
-529.854.070.000,00
-210.000.000.000,00
-24.150.000.000,00
-252.404.919.000,00
-12.498.941.000,00
-30.000.000.000,00
-167.370.000.000,00
-58.810.000.000.000,00
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Download