transpersonal experience in order pengamal qadiriyya wa

advertisement
TRANSPERSONAL EXPERIENCE IN ORDER PENGAMAL
QADIRIYYA WA NAQSYABANDIYYAH
Muhammad Arief, Praesti Sedjo, SPsi., MPsi.
Undergraduate Program, Faculty of Psychology, 2009
Gunadarma University
http://www.gunadarma.ac.id
Key Word : Transpersonal Experiences, Mysticism, Sufi, Congregation Qadariyyah Wa
Naqsyabandiyyah
ABSTRACT :
Spiritual development, including transpersonal experience, enabling individuals to
achieve the highest level of awareness, health and human potential represents the excess of
self-actualization. Sufi orders, especially Qadariyyah wa Naqsyabandiyyah as grand
tradition of Eastern spirituality is one aspect of religion that tries to dig more deeply about
the spiritual experiences compared to only support religious dogma or doctrine.
From the presentation above, then the question arises as to why the subject into the
Order pengamal Qadiriyya wa Naqsyabandiyyah, shape the types of transpersonal
experiences pengamal Order Qadiriyya wa Naqsyabandiyyah, and how the impact of
transpersonal experiences in congregations pengamal Qadiriyya wa Naqsyabandiyyah and
why the subject of the Order pengamal Qadiriyya wa Naqsyabandiyyah can experience
transpersonal experiences.
The purpose of this study was to find out why some people become pengamal
Order Qadiriyya wa Naqsyabandiyyah, to know the types of transpersonal experiences in
the Order pengamal Qadiriyya wa Naqsyabandiyyah, to determine the impact of
transpersonal experiences in the Order pengamal Qadiriyya wa Naqsyabandiyyah and to
find out why the subject can experience transpersonal experiences .
In this study, researchers used a qualitative approach to phenomenological
psychology in the form of case studies because the appropriate approaches are used in the
problems that aims to explore the transpersonal awareness of someone in their everyday
lives.
The subjects used in this study is a single subject, with the characteristics of the
Order Pengamal Qadiriyya wa Naqsyabandiyyah who has run a practice-practice orders,
muraqabah (meditation) and science lessons for 8 - 16 years.
Data collection techniques in this research using semi-structured interview method,
phenomenological observation, observation and significant others. In this interview
process, to assist the process of collecting data the researcher is equipped with a guidance
interview, observation guidelines, tape recorder and stationery.
After doing the research is that subjects follow orders because he wanted to be
close to God, also by a great father, and the subject have transpersonal experiences such as
feeling the presence of God, psychokinesis, supernatural power and its impact in the
experience of transpersonal subjects felt happy, calm, more be patient, more selective,
more feel psychologically and physically healthy and experience positive change for
themselves, especially in worship and social relations and subject to experience
transpersonal experiences has been the rise due to the flow of energy seven lathifah in him
(subtle organs of the body) so as to experience transpersonal experiences .
PENGALAMAN TRANSPERSONAL PADA PENGAMAL
TAREKAT QADIRIYYAH WA NAQSYABANDIYYAH
NPM
: 10503114
Nama
: Muhammad Arief
Pembimbing : Praesti Sedjo, SPsi., MPsi.
Tahun Sidang : 2009
Subjek
: Psikologi Agama,
Judul
PENGALAMAN TRANSPERSONAL PADA PENGAMAL TAREKAT
QADIRIYYAH WA NAQSYABANDIYYAH
Abstraksi
Perkembangan spiritual, termasuk di dalamnya pengalaman transpersonal,
memungkinkan individu-individu untuk mencapai tingkat tertinggi kesadaran, kesehatan
dan merepresentasikan potensi manusia yang melebihi aktualisasi diri. Tarekat sufi
khususnya Qadariyyah wa Naqsyabandiyyah sebagai tradisi agung spiritualitas timur
merupakan salah satu aspek dari agama yang berusaha menggali lebih dalam mengenai
pengalaman-pengalaman spiritual dibandingkan hanya mendukung dogma atau doktrin
agama.
Dari pemaparan diatas, maka timbul pertanyaan mengenai mengapa subjek menjadi
pengamal Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, bentuk tipe-tipe pengalaman
transpersonal pengamal Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, serta bagaimana
dampak pengalaman transpersonal pada pengamal tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah dan mengapa subjek pengamal Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah dapat mengalami pengalaman-pengalaman transpersonal.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mengapa seseorang menjadi
pengamal Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, untuk mengetahui tipe-tipe
pengalaman transpersonal pada pengamal Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, untuk
mengetahui dampak pengalaman transpersonal pada pengamal Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah dan untuk mengetahui mengapa subjek dapat mengalami pengalaman
transpersonal.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif psikologi
fenomenologi dalam bentuk studi kasus karena pendekatan tersebut sesuai digunakan pada
masalah-masalah yang bertujuan untuk mengeksplorasi kesadaran transpersonal seseorang
dalam kehidupannya sehari-hari.
Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu subjek, dengan
karakteristik Pengamal Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah yang telah menjalankan
amalan-amalan tarekat, muraqabah (meditasi) dan ilmu hikmah selama 8-16 tahun.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan metode
wawancara semi-struktur, observasi fenomenologis, observasi dansignificant others.
Dalam proses wawancara ini, untuk membantu proses pengumpulan data maka peneliti
dilengkapi dengan pedoman wawancara, pedoman observasi, alat perekam dan alat tulis.
Setelah dilakukan penelitian dapat diketahui bahwa subjek mengikuti tarekat
karena ingin mendekatkan diri pada Tuhan, juga karena dorongan ayah, dan subjek
memiliki pengalaman transpersonal seperti merasakan kehadiran Tuhan, psikokinesis,
memiliki kekuatan supernaturalserta dampak yang ditimbulkan dalam pengalaman
transpersonal subjek merasa bahagia, tenang, lebih bersabar, lebih selektif, lebih merasa
sehat secara psikologis dan fisik dan mengalami perubahan yang positif bagi dirinya
terutama dalam beribadah dan hubungan sosial dan subjek dapat mengalami pengalaman
transpersonal dikarenakan telah bangkitnya aliran tujuh energi lathifah dalam dirinya
(organ halus tubuh) sehingga dapat mengalami pengalaman transpersonal.
Judul : Pengalaman Transpersonal Pada Pengamal Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah
Nama/NPM : Muhammad Arief / 10503114
Pembimbing : Praesti Sedjo, S.Psi., M.Si.
Abstraksi
Perkembangan spiritual, termasuk di dalamnya pengalaman transpersonal,
memungkinkan individu-individu untuk mencapai tingkat tertinggi kesadaran, kesehatan
dan merepresentasikan potensi manusia yang melebihi aktualisasi diri. Tarekat sufi
khususnya Qadariyyah wa Naqsyabandiyyah sebagai tradisi agung spiritualitas timur
merupakan salah satu aspek dari agama yang berusaha menggali lebih dalam mengenai
pengalaman-pengalaman spiritual dibandingkan hanya mendukung dogma atau doktrin
agama.
Dari pemaparan diatas, maka timbul pertanyaan mengenai mengapa subjek
menjadi pengamal Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, bentuk tipe-tipe
pengalaman transpersonal pengamal Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, serta
bagaimana dampak pengalaman transpersonal pada pengamal tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah dan mengapa subjek pengamal Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah dapat mengalami pengalaman-pengalaman transpersonal.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mengapa seseorang menjadi
pengamal Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, untuk mengetahui tipe-tipe
pengalaman transpersonal pada pengamal Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah,
untuk mengetahui dampak pengalaman transpersonal pada pengamal Tarekat
Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah dan untuk mengetahui mengapa subjek dapat
mengalami pengalaman transpersonal.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif psikologi
fenomenologi dalam bentuk studi kasus karena pendekatan tersebut sesuai digunakan
pada masalah-masalah yang bertujuan untuk mengeksplorasi kesadaran transpersonal
seseorang dalam kehidupannya sehari-hari.
Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu subjek, dengan
karakteristik Pengamal Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah yang telah
menjalankan amalan-amalan tarekat, muraqabah (meditasi) dan ilmu hikmah selama 816 tahun.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan metode
wawancara semi-struktur, observasi fenomenologis, observasi dan significant others.
Dalam proses wawancara ini, untuk membantu proses pengumpulan data maka peneliti
dilengkapi dengan pedoman wawancara, pedoman observasi, alat perekam dan alat
tulis.
Setelah dilakukan penelitian dapat diketahui bahwa subjek mengikuti tarekat
karena ingin mendekatkan diri pada Tuhan, juga karena dorongan ayah, dan subjek
memiliki pengalaman transpersonal seperti merasakan kehadiran Tuhan, psikokinesis,
memiliki kekuatan supernatural serta dampak yang ditimbulkan dalam pengalaman
transpersonal subjek merasa bahagia, tenang, lebih bersabar, lebih selektif, lebih merasa
sehat secara psikologis dan fisik dan mengalami perubahan yang positif bagi dirinya
terutama dalam beribadah dan hubungan sosial dan subjek dapat mengalami
pengalaman transpersonal dikarenakan telah bangkitnya aliran tujuh energi lathifah
dalam dirinya (organ halus tubuh) sehingga dapat mengalami pengalaman transpersonal.
Kata Kunci : Pengalaman Transpersonal, Tasawuf, Sufi, Tarekat Qadariyyah Wa
Naqsyabandiyyah
A. Latar Belakang Masalah
Spiritualitas semakin mendapat
tempat tersendiri dalam masyarakat
modern dewasa ini (Munawwar, 2003).
Aktivitas latihan-latihan spiritual telah
diberi label sebagai spiritual atau
religius. Meskipun demikian, gagasan
religius memiliki jangkauan yang lebih
luas terutama valensi negatif yang telah
memiliki makna dengan membatasi
ketaatan individu pada doktrin-doktrin
yang dibentuk oleh institusional religius
sehingga acapkali menghambat ekspresidiri seseorang. Di sisi lain, spiritualitas
telah memiliki valensi positif sebagai
pencarian kebermaknaan untuk kesatuan,
transendensi dan potensi tertinggi
manusia (Pargament dalam Baruss,
2003) dengan tidak mengimplikasikan
ketaatan buta terhadap doktrin tertentu
dalam bentuk apapun (Remen dalam
Baruss, 2003).
Dalam
tradisi
intelektual
rasionalis
transendental
barat,
spiritualitas telah diakui sebagai
pencarian kebenaran universal (Taylor
dalam Baruss, 2003), cakupan yang
menyeluruh dan berdasarkan
pengalaman langsung daripada sekedar
dogma atau doktrin agama (Grof, 1996).
Jadi aktivitas spiritualitas dapat berasal
dari corak hidup spiritual dalam konteks
aliran tradisional religius (Wallace
dalam Baruss, 2003). Tarekat sufi
sebagai tradisi agung spiritualitas timur
merupakan salah satu aspek dari agama
yang berusaha menggali lebih dalam
mengenai
pengalaman-pengalaman
spiritual dibandingkan hanya
mendukung dogma atau doktrin agama
(Grof, 1996).
Tarekat secara harfiah berarti
“jalan” mengacu kepada suatu sistem
latihan meditasi maupun amalan-amalan
yang dihubungkan dengan sederet guru
sufi. Tarekat juga berarti organisasi yang
tumbuh seputar metode sufi yang khas.
Pada masa permulaan, setiap guru sufi
dikelilingi oleh lingkaran murid mereka
dan beberapa murid ini kelak akan
menjadi guru pula. Boleh dikatakan
bahwa tarekat itu mensistematiskan
ajaran-ajaran dan metode tasawuf. Guru
tarekat yang sama mengajarkan metode
yang sama, zikir yang sama, muraqabah
(meditasi) yang sama. Seorang pengikut
tarekat akan memperoleh kemajuan
m e la lui s e de re t am a la n - a ma la n
berdasarkan tingkat yang dilalui oleh
semua pengikut tarekat yang sama. Dari
pengikut biasa (mansub) menjadi murid
(tamid) selanjutnya pembantu Syekh
atau wakil guru (khalifah-nya) dan
akhirnya menjadi guru yang mandiri
(mursyid) (Bruinessen dalam Mulyati,
2006a).
Seorang pengikut tarekat ketika
melakukan amalan-amalan tarekat
berusaha mengangkat dirinya melampaui
batas-batas kediriannya sebagai manusia
dan mendekatkan diri ke sisi Allah.
Dalam pengertian ini sering kali
perkataan tarekat dianggap sinonim
dengan istilah tasawuf, yaitu dimensi
esoteris dan aspek yang mendalam dari
agama Islam (Dhofier dalam Mulyati,
2006a). Di kalangan barat, istilah
tasawuf lebih dikenal dengan sebutan
sufisme (Mustofa, 2005). Sebagai istilah
khusus, perkataan tarekat lebih sering
dikaitkan dengan “suatu organisasi
ta re ka t” , ya itu s ua tu ke lom po k
organisasi yang melakukan amalanamalan tertentu dan menyampaikan
suatu sumpah yang formulanya telah
ditentukan oleh pimpinan organisasi
tarekat tersebut. Dalam tradisi pesantren
di Jawa, istilah tasawuf semata-mata
dalam kaitan aspek intelektual dari
“jalan-tarekat” itu. Sedangkan aspeknya
yang bersifat etis dan praktis diistilahkan
dengan tarekat (Dhofier dalam Mulyati,
2006a). Tarekat yang dibahas dalam
penelitian ini adalah Tarekat Qadiriyah
wa Naqsyabandiyyah.
Sufisme merupakan salah satu
minat khusus orientasi penelitian
mahzab keempat psikologi yaitu
psikologi transpersonal (Grof, 1996).
Dalam kajian psikologi transpersonal,
sufisme didefinisikan sebagai mistisisme
Islam (Frager, 1989) dan psikologi
spiritual dari Timur (Tart, 2001). Tarekat
Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah adalah
salah satu aliran dalam tasawuf atau
sufisme (Praja dkk, 1995). Berdasarkan
hal tersebut, Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah adalah salah satu
orientasi kajian penelitian psikologi
transpersonal.
Selanjutnya, Daniels (2006)
mengemukakan pengalaman
transpersonal mempunyai asumsi umum
yang berarti berhubungan dengan ragam
kesadaran yang lebih tinggi atau diri
yang biasa terlewati. O`kane (1989)
menjelaskan individu pengamal tarekat
mampu melewati batasan-batasan
kesadaran diri yang biasa untuk
mengetahui kesadaran-kesadaran
transendental atau transpersonal melalui
hasil latihan-latihan spiritual dalam
bentuk amalan-amalan dan muraqabah
(meditasi). Berdasarkan uraian tersebut,
Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah merupakan salah satu
jalan atau cara bagi individu untuk
memperoleh pengalaman-pengalaman
transpersonal.
Penelitian-penelitian psikologi
transpersonal di Amerika Serikat
menunjukkan bahwa para pengamal
tarekat
memiliki
pengalamanpengalaman
transpersonal.
Dalam
literatur psikologi transperson al,
pengamal tarekat memiliki pengalaman
kesadaran kesatuan dengan lima elemen
yaitu tanah, logam, udara, air dan api;
pengalaman kesadaran mengetahui
seluruh alam semesta sehingga dapat
beridentifikasi dengan berbagai
warisannya misalnya matahari, bulan,
binatang, tumbuh-tumbuhan dan lain
sebagainya; indera keenam yaitu
clairvoyance, clairaudience, telepati dan
psikometri (membaca sejarah benda
hanya dengan memegangnya),
pengalaman keluar dari tubuh (out-ofbody-experience); lathoif (organ energi
halus); pengalaman bertemu dan
komunikasi dengan roh, kesadaran
kosmik, bersatu dengan Tuhan (fana)
(O`kane, 1989). Pengalaman kesadaran
mengetahui seluruh tahap perkembangan
setiap manusia, pengalaman kesadaran
dengan tumbuh-tumbuhan serta aspekaspek eksistensi kehidupan lainnya
kemudian pengala man kesatua n
eksistensial dengan alam semesta serta
mengetahui rahasianya, pengalaman
mitologis, kemampuan indera keenam,
pengalaman kesadaran mengetahui
esensi-esensi ketuhanan, kemampuan
menghilang atau teleportasi menuju ke
tempat tujuannya dalam sekejap (Shafii
dalam Safken, 1998).
Pengalaman kesadaran tumbuhtumbuhan yang ber tasbih, tahan
terhadap tusukan senjata tajam dan
panasnya bara api, pengalaman puncak
kesadaran bersatu dengan Tuhan (fana)
(Frager, 2005) tetapi tiga penelitian
psikologi transpersonal terdahulu
tersebut belum menginvestigasi secara
menyeluruh pengalaman transpersonal
pada pengamal tarekat. Dengan kata
lain, peneliti-peneliti tersebut tidak
mengkhususkan penelitiannya untuk
mengetahui seluruh pengalaman
transpersonal pada pengamal tarekat.
Diharapkan dengan penelitian orisinil
pe nga la m a n tra ns p e rs ona l pa da
pengamal Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah turut memperkaya
keilmuan
psikologi
transpersonal
khususnya di bidang tarekat. Penelitian
sejarah tarekat di Indonesia juga
melaporkan para pengamal tarekat di
Indonesia dari hasil latihan amalan ilmu
hikmah memiliki kemampuan
pengobatan spritual, kemampuan
menghilang, memukul lawan dari jarak
jauh dan kekuatan-kekuatan dahsyat
lainnya untuk masuk ke dalam tubuhnya
sendiri (sambatan) kemudian
kemampuan memperagakan seni beladiri
apapun tanpa mempelajari seni fisiknya,
melihat serta komunikasi dengan jin,
debus (ilmu kekebalan tubuh) dan
kekuatan-kekuatan supernatural lainnya
(hadiran) (Bruinessen, 1999) dan
komunikasi pribadi peneliti dengan para
pengamal tarekat diantaranya Tarekat
Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah bahwa
mereka memiliki pengalaman pengalaman transpersonal.
Perkembangan
spiritual,
termasuk di dalamnya pengalaman
transpersonal, memungkinkan individuindividu untuk mencapai tingkat
tertinggi kesadaran, kesehatan yang
dipertimbangkan dan merepresentasikan
p ote n s i m a n us ia y a n g m e le b ih i
aktualisasi diri (Cowley, 1993). Potensi
itu dicapai sufi dengan menemukan
kedamaian, kebenaran, mengenal Tuhan
sehingga mendapatkan nilai-nilai dan
aspek-aspek aktualisasi diri yang
transenden. Ini juga mengembangkan
aspek-aspek tambahan dari
kehidupannya, yaitu karakteristik yang
lebih maju. Pada setiap
perkembangannya, sufisme atau tasawuf
memberikan manfaat, termasuk setiap
aspek dari kehidupan sehari-hari.
(Wilcox, 2003).
Sebagai salah satu tradisi agung
spiritualitas Timur, Tarekat Qadiriyyah
Wa Naqsyabandiyyah merupakan suatu
jalan bagi para pengamalnya menuju
pengalaman transpersonal. Pengalaman
transpersonal mengantarkan manusia
menuju kehidupan positif yang lebih
bermakna dan sebagai hubungan dirinya
dengan lingkungannya baik itu sesama
manusia, segala bentuk alam materi
ataupun non materi dan ketuhanan.
B. Pertanyaan Penelitian
Penelitian ini disusun untuk
menjawab pertanyaan sebagai
berikut:
1. Mengapa subjek menjadi
pengamal
Tarekat
Qadiriyyah
wa
Naqsyabandiyyah?
2.
T i p e - t i p e pengalaman
transpersonal apa saja yang
termasuk
di
dalam
pengalaman pengamal
Tare ka t Q a diriyya h w a
Naqsyabandiyyah?
3. Bagaimanakah dampak pengalaman
transpersonal pada pengamal Tarekat
Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah?
4. Mengapa subjek pengamal Tarekat
Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah
dapat mengalami pengalaman
transpersonal?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui menapa seseorang
menjadi pengamal Tarekat
Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah,
tipe-tipe pengalaman pada pengamal
Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah, dampak
pengalaman transpersonal pada
pengamal Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah dan mengapa
pengamal Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah dapat mengalami
pengalaman transpersonal.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki dua manfaat
yaitu:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini memperkuat
penelitian dari Shafii (dalam
Shafken, 1998), Bruinessen (1999)
dan O`kane (1989) dan sebagai
penelitian yang mengivestigasi
penuh pengalaman transpersonal
pada pengamal tarekat diharapkan
dapat memberikan masukan yang
bermanfaat untuk psikologi
transpersonal dengan memberikan
tambahan data tentang pengalaman
transpersonal pada pengamal Tarekat
Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah.
Selanjutnya, memperluas dan
menambah wawasan peneliti-peneliti
di bidang psikologi khususnya
psikologi jungian, parapsikologi dan
psikologi fenomenologi tentang
struktur-stuktur kesadaran
transpersonal akan kemampuan
pengamal tarekat. Bagi psikologi
maupun para ilmuwan sosial lainnya
diharapkan dengan adanya penelitian
ini sebagai langkah awal dalam
mempelajari ilmu pengetahuan
autentik melalui studi empiris tradisi
intelektual transendental tentang
penelitian kesadaran transpersonal
2. Manfaat Praktis
Memperluas
dan
menambah
khasanah, wawasan, pengetahuan,
manfaat praktek-praktek spiritual
Tarekat
Qadiriyyah
wa
Naqsyabandiyyah sehingga dapat
dijadikan contoh oleh para praktisi
spiritual
untuk
memahami
pengalaman-pengalaman
transpersonal. Bagi psikolog dan
psikiater agar memahami secara
lebih mendalam potensi-potensi,
kemampuan-kemampuan tertinggi
manusia sehingga mendapatkan
pemahaman mendalam tentang
spiritualitas.
Sedangkan
untuk
ma s ya ra ka t um um aga r le bih
mengethaui manfaat latihan-latihan
spiritual dalam rangka meningkatkan
kualitas
kehidupannya
serta
mendapatkan pemahaman mendalam
mengenai spiritualitas. Hal yang
terpenting dari semuanya yaitu
pengalaman-pengalaman
transpersonal dapat dipahami secara
intelektual transendental.
E. Pengalaman Transpersonal
1. Pengertian Pengalaman
Transpersonal
Pengalaman-pengalaman
transpersonal memiliki nama-nama
lain dan menyerupai pengalamanpengalaman praeternatural (Nelson,
1989), pengalaman-pengalaman luar
biasa manusia (Braud dan Palmer,
2002),
pengalaman-pengalaman
transendental (Baruss, 2003) dan
pengalaman-pengalaman spiritual
(Hardy dalam Hibbard, 2007).
Grof (1988) mendefinisikan
pengalaman transpersonal sebagai
perluasan kesadaran fenomenologis
melewati batasan biasa diri-tubuh
dan melewati batasan ruang serta
waktu.
2. Kategori Pengalaman
Transpersonal
Grof (1988) secara keseluruhan
pengalaman transpersonal dapat
dibagi menjadi tiga kategori besar,
yaitu :
a. Pengalaman Perluasan dalam
Konsensus Realitas dan Ruang
Waktu
1) Transendensi batasan ruang
Pengalaman t rans personal
melibatkan transendensi dari
ruang rintangan yang
sebelumnya dinyatakan bahwa
batasan-batasan antara individu
dan kesatuan dengan alam
semesta belum dapat diperbaiki
dan absolut. Dalam keadaan
khusus, sangat memungkinkan
sekali untuk mengidentifikasi diri
dengan alam semesta termasuk di
dalamnya menyatukan alam
semesta atau kosmos dengan diri.
Secara
spesifik
tipe-tipe
pengalamannya terdiri dari
pengalaman dua rangkap yang
menyatu (perasaan bergabung
dengan orang lain tetapi tetap
menahan identitas kesadaran
dirinya), identifikasi dengan
orang lain (pengalaman
identifikasi menyeluruh dengan
orang lain sehingga kehilangan
kesadaran identitas diri sendiri
secara sementara), identifikasi
grup serta kesadaran grup,
identifikasi dengan binatangbinatang, identifikasi dengan
tumbuh-tumbuhan serta prosesproses yang berkaitan dengan
tumbuhan, kesatuan dengan
kehidupan serta semua
penciptaannya, pengalaman
dengan zat benda mati serta
proses anorganik, kesadaran yang
berhubungan dengan planet,
pengalaman-pengalaman di luar
bum i, ide ntifika si de nga n
keseluruhan fisik alam semesta
dan fenomena paranormal yang
mencakup transendensi tempat
(pengalaman keluar dari tubuh,
clairvoyance dan clairaudience
menjelajahi kejadian yang terjadi
saat itu juga).
2) Transendensi batasan waktu linier
Secara
spesifik
tipe-tipe
pengalamannya
terdiri
dari
pengalaman-pengalaman embrio dan
janin (intrauterine & prenatal),
pengalaman-pengalaman
leluhur
(perasaan kemunduran sejarah dan
identfikasi dengan salah satu
leluhur), pengalaman-pengalaman
rasial serta kolektif (identifikasi
dengan anggota-anggota dengan
kesamaan etnisitas atau kemanusiaan
secara keseluruhan), pengalaman
inkarnasi masa lalu (perasaan
meyakini
suatu
kejadian di
kehidupan lainnya misalnya deja vu),
pengalaman-pengalaman
sejarah
genetik (identifikasi total dengan
anggota-anggota spesies lain tapi
dengan
perasaan
meyakini
kemunduran waktu sejarah awal
evolusioner),
pengalamanpengalaman yang berhubungan
dengan evolusi planet (menyaksikan
imej -imej panorama evolusi planet),
pengalaman-pengalaman
kosmogenetik
(menyaksikan
panorama evolusi seluruh alam
semesta) dan fenomena paranormal
meliputi transendensi waktu
(prekognisi, clairvoyance kejadian
masa lalu & depan, clairaudience
masa lalu & depan, psikometri yaitu
membaca sejarah benda dengan cara
memegang benda tersebut dan
menjelajahi waktu) kemudian
introversi fisik serta bagian sempit
kesadaran: organ, jaringan otot serta
kesadaran yang berhubungan dengan
sel (kesadaran ruang bagian dalam
dari fisik bahkan beridentifikasi
secara fenomenologis dengan organorgan, jaringan-jaringan otot dan selsel).
b. Pengalaman Perluasan Melewati
Realitas Konsensus dan Ruang
Waktu
Dalam grup besar pengalaman
transpersonal ini, perluasan
kesadaran menuju melewati dunia
fenomenal dan jarak waktu
merupakan rangkaian kesatuan yang
dirasakan dalam seluruh kehidupan
termasuk khususnya fenomena
astral-paranormal. Dalam peristiwa
tersebut, subjek melaporkan
petualangan fantastik yang
nampaknya dapat terjadi di seluruh
alam semesta yang kita miliki.
Dalam tahap-tahap kesadaran yang
tidak pada biasanya, imej-imej dunia
terdahulu (primordial) dari
ketidaksadaran kolektif sebagaimana
diuraikan oleh Jung (dalam Grof,
1988) dapat memasuki kehidupan.
Secara
spesifik tipe-tipe
pengalamannya terdiri dari
pengalaman-pengalaman arwah dan
mediumisasi (bertemu dan
komunikasi telepatik dengan orang
yang sudah meninggal), fenomena
energi organ halus (melihat dan
mengalami bidang serta aliran energi
misalnya melihat aura, merasakan
energi organ halus dan membaca
penyakit orang lain) pengalamanpengalaman dengan roh-roh binatang
(merasakan kedalaman serta bertemu
dengan esensi arkhetipal binatangbinatang), pertemuan dengan roh-roh
pe m bim bing se rta e ksis te ns i
keberadaan manusia super (guruguru, pembimbing-pembimbing dan
protektor-protektor dari dunia
spiritual) berkunjung ke alam
semesta yang berbeda serta bertemu
dengan penghuninya (berjumpa serta
berkomunikasi dengan alien &
melihat piring terbang alien)
pengalaman mitologis serta
rangkaian cerita dongeng (dunia
legenda-legenda dan dongengdongeng secara literal datang ke
kehidupan seperti perjuangan
sebagai pahlawan yang memiliki
resolusi positif), pengalamanpengalaman kebahagiaan khusus
serta kemarahan dewa -dewa,
pengalaman-pengalaman arkhetipe
universal (kedalaman pola-pola
universal di dalam jiwa yang
mereprentasikan generalisasi
biologis, psikologis, sosial dan
profesional misalnya wanita, pria,
ayah, ibu, anak dan anak),
pemahaman intuitif tentang simbolsimbol universal (insight tentang
makna simbol-simbol esoteris yang
terkait dengan realitas transendental),
inspirasi kreatif serta dorongan
keberanian hati (artistik, ilmiah,
filosofis, inspirasi religius,
pemecahan masalah dan kreativitas),
pengalaman dengan pencipta alam
semesta serta tercapainya wawasan
kreasi kosmik (perasaan berjumpa
atau merasakan kehadiran sang
pencipta alam semesta), pengalaman
ke s a da ra n kos m ik ( pe ra s a a n
ketidakterbatasan, tak diduga serta
tak terlukiskan mencakup totalitas
eksistensi dan menjangkau pokok
yang mendasari seluruh realitas
biasanya diungkapkan dalam bentuk
syair atau sajak) dan suprakosmik
serta kehampaan metakosmik
(identifikasi fenomenologis dengan
permulaan kekosongan, ketiadaan
dan kehampaan menuju kejernihan
hati).
c. Pengalaman Transpersonal bersifat
Psychoid
Fenomena transpersonal bersifat
psychoid memiliki karakteristikkarakteristik ganjil. Pada satu sisi,
psychoid menjelaskan peristiwaperistiwa di dalam subjektifitas
paranormal. Pada sisi lain, psychoid
menjelaskan konektivitas penuh arti
dengan perubahan-perubahan fisik
tertentu dalam realitas dunia umum.
Istilah psychoid yang digunakan di
sini memberikan kesan bahwa
fenomena psychoid adalah
peranakan-peranakan ganjil yang ada
dalam zona waktu antara kesadaran
dan perkara. Jung dalam (Grof,
1988) menggunakan istilah psychoid
dalam hubungan sifat khusus
arkhetipe-arkhetipe dan jiwa yang
menyebabkan peristiwa-peristiwa
sinkronisitas, sebagai tambahan
untuk elemen-elemen dunia material.
Di sini diambil kebebasan untuk
memperluas ke tipe-tipe fenomena
lain yang didiskusikan dalam
golongan ini.
1) Hubungan-hubungan sinkronisitas
diantara kesadaran dan perkara
Dalam konteks ini, difokuskan pada
bentuk sinkronisitas yang paling
menarik yaitu suatu hubungan
kekhususan individu pada peristiwaperistiwa dalam paranormal dengan
peristiwa-peristiwa
fisik
dalam
kehidupan individu. Peristiwaperistiwa sinkronisitas semacam ini
berasosiasi dengan seluruh bentukbentuk pengalaman transpersonal.
Pengalaman transpersonal subjek
muncul saat mendekati situasi atau
peristiwa yang membahayakan
dirinya meskipun disebabkan oleh
orang lain atau faktor -faktor
eksternal independen. Keadaan atau
situasi berbahaya yang dialami
subjek cenderung terpecahkan secara
magis sampai selesai.
2) Kejadian-kejadian psychoid yang
terjadi secara spontan
Secara
spesifik
tipe-tipe
pengalamannya terdiri dari kekuatankekuatan fisik supernormal
(perubahan-perubahan spektakuler
fisiologis dalam tubuh atau kekuatan
fisik), fenomena makhluk halus
(melihat, berjumpa serta
berkomunikasi dengan makhluk
halus) serta mediumisasi fisik
(komunikasi-komunikasi nyata
termasuk
suara, pembicaraan,
telekinesis
dan
materialisasi),
kejadian psikokinesis secara spontan
atau ketukan peri ( poltergeist ),
objek-objek terbang yang tidak
teridentifikasi (UFO dan fenomena
alien yang dijumpai secara fisik).
3) Psikokinesis yang disengaja
Psikokinesis yang
disengaja
didefinisikan sebagai kemampuan
untuk mempengaruhi lingkungan
materi tanpa intervensi fisik dari
tubuh (otot-otot dan kelenjarkelenjar)
dengan
kehendak
sederhana sehingga menimbulkan
suatu peristiwa yang dikehendakinya
atau dengan melakukan suatu
tindakan yang diluar dari kebiasaan
hubungan antara sebab dan akibat
sebagai hasilnya. Secara spesifik
tipe-tipe pengalamannya terdiri dari
upacara
magis,
penyembuhan
(penyembuhan spiritual) serta
menjatuhkan kutukan, kekuatankekuatan supernatural (eksistensi
fisik lebih dari satu di suatu tempat
dalam waktu yang bersamaan, ilmu
kekebalan tubuh, levitasi) dan
psikokinesis laboratorium
(mempengaruhi objek dari jarak
jauh).
3.
Dampak
Pengalaman
Transpersonal
Dampak pada kehidupan dari
pengalaman-pengalaman luar biasa atau
pengalaman-pengalaman transpersonal
dibawah ini, yaitu (Braud dan Palmer,
2002):
a. Aspek-aspek bermakna
1. Keterbukaan yaitu sebagian subjek
memiliki
kepercayaankepercayaan dan sikap-sikap
sangat
positif.
Mereka
melaporkan perluasan dan
kedalaman
kepercayaankepercayaan dan sikap-sikap
mengenai pengalamannya dan
spiritualitas yaitu subjek lebih
menyukai
untuk
menginterpretasikan
dan
menemukan
kebermaknaan
pengalaman-pengalamannya
sebagai pengalaman-pengalaman
spiritual.
2. Spiritualitas yaitu subjek lebih
menyukai
untuk
menginterpretasikan
dan
menemukan
kebermaknaan
pengalaman-pengalamannya
sebagai pengalaman-pengalaman
spiritual.
3. Aspek-aspek kebutuhan-hubungan
yaitu
subjek
menguraikan
bagaimana
banyak
pengalamannya menunjukkan
sebagai
”pengalaman-
pengalaman menolong”, tepat di
saat subjek membutuhkannya.
b. Peningkatan keterbukaan
1. Keterbukaan selektif yaitu subjek
menguraikan
bagaimana
keterbukaan
pengalamanpengalamannya
mendapatkan
tempat utama dengan anggotaanggota keluarga terdekat dan
grup khusus dengan orang yang
dirasa aman untuk berbagi tipetipe pengalamannya.
2. Aspek-aspek bermanfaat yaitu
berbagi pengalaman memiliki
efek-efek bermanfaat bagi subjek
misalnya
menghubungkan
dirinya secara lebih mendalam,
peningkatan tingkat kedalaman
kepada diri, orang lain, alam dan
kehidupan secara keseluruhan.
c. Manfaat psikologis dan fisik
Manfaat-manfaat psikologis
dan fisik dilaporkan hampir seluruh
subjek yang memiliki pengalamanpengalaman luar biasa atau
transpersonal melaporkan manfaat
kesehatan seperti menurunkan stress,
membantu dalam mengurangi
penyakit dan penderitaan di
kehidupannya.
d. Kehadiran spiritualitas
Kehadiran spiritualitas adalah
s e g i t e ra k h i r d a l a m k u a l i t a s
kelompok sindrom lebih baik
(wellness). Spiritualitas memiliki
banyak definisi, terhadap definisi
studi ini, spiritual didefinisikan
sebagai suatu perasaan
interkonektivitas, perasaan ”lebih”
atau sebagai diri terbesar, puncak
atau nilai-nilai mendalam. Subjek
menguraikan banyak pengalamannya
memiliki aspek-aspek spiritual yang
berkontribusi bagi pertumbuhan
spiritual dan keadaan sehat spiritual.
e. Aspek-aspek perubahan
transformatif
Eksplorasi
perubahan
dan
transformasi dengan pengalamanpengalaman luar biasa atau
transpersonal dilaporkan oleh subjek
dalam kehidupan sehari -hari.
Sebagian besar subjek mengamati
pengalamannya
mempengaruhi
kehidupannya secara positif serta
luar biasa menolong diantaranya
memberikan
bimbingan,
penyingkapan
kesadaran,
keterbukaan,
konektivitas
dan
peluang untuk perubahan
transformatif.
4. Aktivasi lathoif (organ halus)
Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah
O`Kane (1989) seorang psikolog
transpersonal dan khalifah tarekat
menjelaskan seluruh latihan-latihan
spiritual dalam tarekat (termasuk
Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah)
mencakup
pembukaan berbagai lathifah.
Lathifah yang berarti kehalusan juga
memiliki arti roda yang dialami
sebagai hubungan antara berbagai
sirkuit, semacam jari-jari dari roda.
Lathifah-lathifah (lathoif) juga
menggambarkan sirkuit urat-urat
syaraf pusat serta sistem autonomik
yang membentuk tiang fondasi
kesadaran serta menggerakkan
lintasan energi di dalam lathifah
yang berkorespondensi dengan
kesadaran pengalaman
transpersonal.` Elemen penting atau
utama lainnya adalah hubungan
suara-suara khusus dalam tiap-tiap
tipe wazifa (amalan tarekat, amalan
m ur a q a b a h da n a m a la n ilm u
hikmah) dengan lathoif (lathifahlathifah) yang diaktifkan sehingga
pengulangan doa-doa dalam bentuk
amalan tersebut memunculkan
impresi idea tertentu yang nyata serta
jelas melalui kedalaman pikiran alam
bawah sadar pengamal tarekat dalam
bentuk peruba han - perubaha n
kesadaran.
Amalan utama yang diamalkan
dalam Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah adalah dzikir
lathoif (lathifah-lathifah). Dengan
dzikir ini, seseorang memusatkan
kesadarannya berturut-turut pada
tujuh titik halus (lathoif) pada tubuh
(Syaikhu, 2003). Aktifnya energi
lathifah qalab mengha s ilka n
kesadaran diri dengan tubuh serta
ke sa da ra n diri; lathifah nafs
menghasilkan kesadaran identitas
hubungan diri dengan orang lain;
lathifah qalb menghasilkan
kesadaran teori adlerian serta
kesadaran bersama; lathifah sirr
menghasilkan kesadaran nilai-nilai
altruistik, psikologi jungian,
pe n ga la m a n pe rta m a de n ga n
ketuhanan di dalam diri, kesadaran
alam semesta; lathifah ruh
menghasilkan kapasitas kesadaran
bidang pengalaman mental, realitas
dunia ruh dan mendengarkan suara
hati diri serta orang lain; lathifah
khafi menghasilkan kesadaran indera
keenam, kekuatan-kekuatan
paranormal atau supernatural serta
diri sebagai psike dan puncaknya
yaitu lathifah haqq menghasilkan
kesadaran non-dualitas (suprakosmik
dan kehampaan metakosmik) dan
non-duality. Dengan kata lain,
keeksisan diri sebagai suatu entitas
yang tidak terpisah (O`Kane, 1989).
F.
Tarekat
Qadiriyyah
wa
Naqsyabandiyyah
1. Pengertian Tarekat
Sebelum
menjelaskan
tarekat, akan dijelaskan terlebih
dahulu pengertian dan hubungan
antara tasawuf, tarekat dan sufi.
Ajibah dalam Isa (2007)
mengemukakan para ulama
berpendapat bahwa, asal mula
kata tasawuf berasal dari bahasa
arab yaitu al-shuf (bulu domba),
al-sifah (jernih) Tasawuf dalam
Islam bersumber dari teladan
perilaku Rasul umat Islam yaitu
Nabi Muhammad (Siregar,
2002).
Kata tarekat berasal dari
bahasa arab yaitu thariqah yang
berarti al-khat fi al-syai` (garis
sesuatu), al-sirah (jalan) dan alsabil (jalan) (Mukram dalam
Jamil, 2005).
Hubungan langsung antara
tasawuf dan tarekat terlihat dari
tarekat sebagai pengorganisasian
tasawuf yang berkembang dalam
berbagai aliran. Bila tasawuf
adalah sebuah konsep, maka
tarekat adalah jalan untuk
mewujudkan konsep tasawuf
tersebut. Tarekat adalah
pelembagaan ajaran tasawuf
ya ng dila kuka n oleh Wali
(Ulama sufi) untuk menjaga
ajarannya (Siregar, 2002).
Dalam bahasa arab, shufi
(sufi) memiliki beberapa makna,
termasuk suci dan wol (para sufi
terdahulu mengenakan mantel
wol sederhana dan mencari
kesucian batiniah). Seseorang
yang mengamalkan tarekat
disebut sufi (Frager, 2005).
Kaum sufi dibagi menjadi dua
golongan yaitu kategori tasawuf
akhlaqiy (perilaku) merupakan
golongan yang mengutamakan
tasawuf sebagai alat untuk
pembentukan akhlak (perilaku)
mulia dan golongan tasawuf
falsafi (filsafat) yaitu tasawuf
yang menekankan pada aspek
filsafat-nya. Persamaannya ialah
sama-sama menempatkan Allah
sebagai tujuan akhir (Praja,
1995).
2. Pengertian Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah
Tarekat
Qadiriyyah
wa
Naqsyabandiyyah ialah sebuah
tarekat gabungan dari Tarekat
Qadiriyyah
dan
Tarekat
Naqsyabandiyyah. Tarekat ini
didirikan oleh Syekh Ahmad Khatib
Sambas (Mulyati, 2006b). Tarekat
Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah
tampil sebagai sebuah tarekat
gabungan karena Syekh Sambas
adalah seorang Syekh dari kedua
tarekat tersebut (Att as dalam
Mulyati, 2006b) dan
mengajarkannya dalam satu versi
(Mulyati, 2006b) namun dalam
prakteknya, Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah lebih menekankan
unsur-unsur Qadiriyyah daripada
unsur-unsur
Naqsyabandiyyah
(Bruinessen, 1999).
Selanjutnya, Syekh Ahmad
Khatib Sambas menjelaskan silsilah
Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah yaitu (Sambas,
1983) dimulai dari Allah SWT –
Malaikat Jibril – Nabi Muhammad
SAW – Sayyidina Ali bin Abi Thalib
– Imam Husain - Imam Zainul
Abidin – Syekh Muhammad AlBaqir – Imam Ja`far – Syekh Musa
Al-Kazim – Syekh Abi Al-Hasan –
Syekh Ma`ruf Al-Karkhi – Syekh
Sari Al-Saqati – Syekh Al-Ta`ifa –
Syekh Abi Bakar Al-Shibli – Syekh
Abdul Wahid Al-Tamimi – Syekh
Abu Al- Faraj – Syekh Abi Hasan –
Syekh Abi Said – Sulthon Al-Awliya
Syekh Abdul Qadir Jaelani – Syekh
Muhammad Al-Hattak – Syekh Saraf
– Syekh Nur – Syekh Wali – Syekh
Husam – Syekh Yahya – Syekh Abu
Bakar – Syekh Abdul Al-Rahim –
Syekh Uthman – Syekh Syekh Abdul
Al-Fatah – Syekh Muhammad
Murad – Syekh Syamsuddin – Syekh
Ahmad Khatib Sambas.
3. Amalan Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah
Amalan Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah terdiri dari
serangkaian teknik-teknik spiritual
dan praktik-praktik ibadah yang
khas. Hal terpenting dari semua
ibadah tersebut adalah dzikir (bahasa
Arab: dzikr ,”mengingat Tuhan”),
yang berisi pembacaan nama-nama
Allah dan kalimat “La ilaha illa
Allah” dengan cara yang khas dan
jumlah yang sudah ditentukan, serta
berbagai rangkaian doa (hizib,
shalawat) atau doa yang panjang
(ratib, wirid). Pembacaan ini
kadangkala digabungkan dengan
pengaturan nafas, gerakan tubuh
tertentu dan kadang-kadang juga
terdapat beberapa amalan asketik.
Kegunaan atau manfaat dari amalanamalan tersebut hanya dapat “dibeli”
dengan berpuasa atau pengekangan
diri lainnya di bawah bimbingan
guru. Tarekat Qadiriyyah w a
Naqsyabandiyyah juga mempunyai
teorinya yang khas tentang hal dan
maqam (tingkatan) ruhani yang akan
dicapai oleh para pengamalnya
melalui latihan-latihan tersebut
(Bruinessen, 1999).
Sedangkan amalan ilmu hikmah
adalah amalan yang terdiri dari
berbagai jenis. Ada satu jenis amalan
memiliki banyak fungsi tetapi pada
umumnya satu amalan untuk satu
fungsi. Mulai yang berfungsi untuk
beladiri hadiran yaitu mampu
melakukan berbagai teknik beladiri
apapun tanpa perlu mempelajari
teknik fisik beladiri tersebut,
memukul lawan dari jarak jauh,
melihat dan berkomunikasi dengan
makhluk halus, ilmu kekebalan
tubuh dari hantaman senjata tajam
serta tembakan peluru, melariskan
dagangan, pengobatan dan lain
sebagainya (Luthi dalam Jindan,
2007). Hubungannya dengan tarekat
adalah ilmu-ilmu hikmah sering
melekat pada tarekat, banyak
Mursyid Tarekat sekaligus punya
nama sebagai ahli hikmah. Hal yang
perlu dicatat bahwa amalan-amalan
ilmu hikmah bukanlah tujuan utama
dalam bertarekat (Bruinessen, 1999).
4. Mengapa Seseorang Mengikuti
Tarekat
Alasan-alasan
mengapa
seseorang mengikuti tarekat adalah
sebagai berikut:
a. Individu
ingin
melengkapi
kewajiban-kewajiban agama lahir
karena tidak merasa cukup
melaksanakan
kewajbankewajiban itu sehingga
ditambahnya dengan melakukan
ibadah-ibadah sunnah yang akan
meninggikan kedudukannya di
sisi Allah SWT. Kewajibankewajiban itu menyampaikannya
kepada posisi dekat Allah dan
amalan-amalan sunnah
itu
menyampaikannya
kepada
kedudukan dicintai Allah SWT
(Qadhawi, 1995).
b. Frager (2005) mengemukakan
permulaan seseorang mengikuti
tarekat tertentu, biasanya diawali
ketertarikan terhadap untaian
kata seorang filsuf atau penyair
sufi besar. Langkah selanjutnya
berhubungan dengan para sufi
dan menjadi akrab dengan adat
istiadat dan praktek-praktek
spiritual mereka.
c. Sebelum memasuki dunia
tarekat, seseorang masih dalam
pengembaraan spiritual, mencoba
mencari jati diri dan
memecahkan masalah yang
tengah dihadapinya dengan
mendekatkan diri kepada Tuhan.
Inilah momen dimana seseorang
memasuki dunia tarekat dan
orang yang mendapatkan
manfaat dari coping ini, semakin
pasti melangkah untuk semakin
mendekatkan diri kepada Tuhan
(Aida, 2005).
G. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan
pe nde ka ta n kua litatif ps ikologi
fenomenologi dengan bentuk studi kasus
yang bermaksud mendeskripsikan hasil
penelitian dan berusaha menemukan
gambaran menyeluruh mengenai suatu
pengalaman.
Menurut
Baruss
(2003)
perspektif tentang kesadaran terdiri dari
tiga pendekatan penelitian yaitu
fisiologis, kognitif dan experiential.
Perspektif experiential terkait dengan
pengalaman kesadaran yang dimiliki
oleh individu itu sendiri. Perspektif ini
dike na l juga se ba ga i pe rs pe ktif
fenomenologis yang berarti fenomena
yang tampil seperti apa adanya tanpa
melalui perubahan ke dalam beberapa
hal konseptualisasinya. Perspektif
terhadap kesadaran tersebut digunakan
oleh psikologi, filsafat, antropologi dan
studi-studi spiritual melalui metode
introspeksi. Dengan kata lain, individu
itu sendiri yang memeriksa isi
pengalaman-pengalamannya sebagai
metode pemeriksaan utama dalam
penelitian. Grof (1988) mengemukakan
pengalaman-pengalaman transpersonal
merefleksikan realitas experiential. Hal
tersebut juga diperkuat oleh Valle dan
Mos h (1998) ba hwa pe ne litia n penelitian pengalaman transpersonal
menggunakan pendekatan penelitian
kualitatif psikologi fenomenologi.
Menurut Stake (dalam Basuki,
2006), penelitian studi kasus adalah
suatu penelitian (inquiry) atau studi
tentang suatu masalah yang memiliki
sifat kekhususan (particularity) dapat
dilakukan baik dengan pendekatan
kualitatif maupun kuantitatif dengan
sasaran perorangan (individual) maupun
kelompok bahkan masyarakat luas.
H. Subjek Penelitian
1. Karakteristik Subjek
Pengamal Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah yang telah
menjalankan
amalan-amalan
tarekat, muraqabah (meditasi)
dan ilmu hikmah minimal selama
8-16 tahun.
2. Jumlah Subjek Penelitian
Menurut
Patton
(dalam
Poerwandari, 1998), jumlah
subjek tergantung pada apa yang
ingin diteliti, tujuan penelitian,
pertimbangan waktu dan sumber
yang tersedia. Agar tercapai
penelitian yang terfokus dan
mendalam
maka
peneliti
menggunakan subjek 1 (satu)
orang.
I. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
metode wawancara, observasi
fenomenologis dan observasi, berikut ini
adalah penjabaran lengkap mengenai
tiga metode yang digunakan dalam
penelitian:
1. Metode Wawancara
Wawancara semi-struktur
menggunakan suatu standarisasi
daftar
wawancara.
Daftar
wawancara terdiri dari beberapa
urutan
pertanyaan-pertanyaan
yang pada umumnya ditetapkan
terlebih dahulu. Bagaimanapun,
tipe wawancara semi- struktur
tidak sepenuhnya tergantung
pada ketetapan penggunaan
daftar wawancara (Langridge,
2004). Interviewer bebas untuk
menggali
dan
improvisasi
pertanyaan-pertanyaan
berikutnya.
Pertanyaanpertanyaan biasanya tak dibatasi
karena
”tujuannya
untuk
mendorong komunikasi,
menggali dan mendorong urutan
respon informan untuk mencari
perluasan, penjelasan dan hal-hal
spesifik selanjutnya” (Arksey &
Knight, 1999).
Arksey & Knight (1999)
mengemukakan agar fleksibilitas
wawancara semi-struktur tetap
terjaga, dilakukan hal sebagai
berikut yaitu urutan pertanyaan
yang bervariasi disesuaikan
dengan alur wawancara, susunan
kata pertanyaan bervariasi untuk
membantu pembicaraan terlihat
natural, biarkan wawancara
terlihat mengalir dan berikan
perhatian untuk membangun
kepercayaan dan hubungan.
Pertanyaan-pertanyaan sebaiknya
dapat dimengerti dengan jelas,
tepat, relevan, sederhana dan
tidak ambigu.
2. Metode
Observasi
Fenomenologis
Metode
introspeksi
kadangkala disebut dengan
observasi fenomenologis
(Higgard dalam Pekala dan
Cardena, 2000) sebagai suatu
objek dari legitimasi penelitian
ilmiah (Pekala dan Cardena,
2000) sebagai contoh Mcclelland
& Rumelhart (dalam Pekala dan
Cardena,
2000)
mendemonstrasikan
bahwa
keterangan kesadaran dapat
dibentuk secara teoritis dan
diteliti berdasarkan pengalaman.
Farthing (dalam Pekala
dan Cardena, 2000) menekankan
introspeksi tidak memerlukan
observasi langsung terhadap
pengalaman kesadaran tetapi
refleksi yang berlangsung dalam
pengalaman kesadaran: ”Hal
tersebut merupakan bentuk
kesadaran reflektif dan cara
berpikir mengenai pengalaman
individu itu sendiri. Awal ”arus”
pengalaman adalah hal utama
kesadaran”. Oleh karena itu,
Pekala dan Cardena (2000)
menegaskan introspeksi
mencakup deskripsi isi-isi dan
proses pengalaman kesadaran
tanpa elaborasi, kesimpulankesimpulan,
atribusi-atribusi;
dengan kata lain, individu yang
”mengobservasi” isi-isi
kesadaran serta menggambarkan
”arus” pengalamannya melalui
periode introspeksi pada saat
peneliti mengajukan pertanyaan.
Hal tersebut juga
ditegaskan oleh Baruss (2003)
bahwa tiap-tiap orang
mengembangkan idea-idea atau
gagasan-gagasan tentang sifat
kesadaran
berdasarkan
pengalaman-pengalaman melalui
observasi-observasi yang
dilakukan oleh subjek itu sendiri.
Strategi ini telah diakui berbagai
peneliti-peneliti kesadaran
la innya m is a lnya D e nne t;
Mandler dalam Baruss (2003).
Faktanya, suatu tahap-tahap
kesadaran transendental atau
transpersonal akan tetap sulit
dimengerti kecuali kalau individu
itu sendiri telah memasuki
kesadaran tersebut untuk dapat
memahaminya (Wulff dalam
Baruss, 2003). Selanjutnya, tidak
cukup bagi peneliti yang tetap
sebagai observer yang tidak
tertarik untuk mengetahui tahaptahap kesadaran transendental
atau transpersonal tetapi
membutuhkan observer yang
aktif menjadi subjek jika ingin
mengetahui kesadaran tersebut
(Merrel-Wolff dalam Baruss,
2003).
Berdasarkan uraian di
atas, peneliti memiliki kualifikasi
sebagai observer yang aktif
sebagai subjek. Hal tersebut
dikarenakan peneliti dan subjek
sama-sama pengamal tarekat.
Meskipun peneliti bukan
pengamal Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah
namun
mengamalkan
Tarekat
Naqsyabandiyyah selama 5 tahun
yang sekarang ini aktif sebagai
murid (tamid) dan anggota
Perguruan Pencak Silat Pejuang
Siliwangi selama 8 tahun yang
juga menggunakan amalanamalan ilmu hikmah dari tarekat
sebagai tambahan kemampuan
untuk melengkapi kemampuan
beladiri fisik. Oleh karena itu,
kapasitas
peneliti
sebagai
observer yang aktif menjadi
subjek dapat membantu dalam
memahami tahap-tahap
kesadaran transpersonal yang
dideskripsikan oleh subjek
kepada peneliti.
3. Metode Observasi
Peneliti juga melakukan
observasi, dimana peneliti
memperhatikan dan mencatat
aktivitas–aktivitas yang
berlangsung, serta orang- orang
yang terlibat dalam kejadian.
Observasi dibutuhkan untuk
dapat memahami proses
terjadinya wawancara dan hasil
wawancara dapat dipahami
dalam konteksnya. Observasi
yang akan dilakukan adalah
observasi terhadap
subjek,
perilaku
subjek
selama
wawancara, interaksi subjek
dengan penelitian dan hal–hal
lain yang dianggap relevan
sehingga dapat memberikan data
tambahan terhadap hasil
wawancara (Poerwandari, 2001).
Selanjutnya, Pekala dan
Cardena (2000) mengemukakan
apabila memungkinkan peneliti
dapat mencoba mengobservasi
keakuratan pengalaman
experiential
yang
bersifat
psikofenomenologis sebagai
usaha dalam menilai perubahanperubahan subjektif (kesadaran)
yang bersamaan dengan bukti
fisik yang bertujuan menetapkan
bukti sifat fisik pengalaman
te rs e b u t. Be r da s a r ka n ha l
tersebut, peneliti akan meminta
kepada subjek untuk
mendemonstrasikan pengalamanpengalaman transpersonal yang
berkombinasi antara aspek fisik
da n a s pe k ke s a da r a n ji ka
memiliki pengalaman tersebut
sehingga peneliti dapat
mengobservasi langsung aspek
fisik pengalaman tersebut.
J. Keakuratan Penelitian
Pekala dan Cardena (2000)
mengemukakan empat macam teknik
triangulasi penelitian psikologi
fenomenologi terhadap kesadaran
experiential, yaitu:
1. Triangulasi Data
Menggunakan sumber data yaitu
hasil wawancara, dokumen
pribadi serta sejarah kehidupan
subjek, hasil wawancara
significant other sebagai penguat
hasil introspeksi subjek dan hasil
pengamatan terhadap
pengalaman transpersonal subjek
yang memiliki aspek fisik.
2. Triangulasi Pengamat
Pengamat lainnya yang turut
memeriksa hasil pengumpulan
data dalam konteks penelitian
tersebut. Dalam penelitian ini,
beberapa pengamat yaitu dosen
pembimbing yang memberikan
masukan terhadap hasil
pengumpulan data.
3. Triangulasi Teori
Penggunaan teori yang berlainan
untuk memastikan bahwa data
yang dikumpulkan sudah
memenuhi syarat. Pada penelitian
ini, berbagai teori telah
dijelaskan pada bab II.
4. Triangulasi Metode
Metode cross-check dengan
sumber-sumber
data
dapat
diharapkan
menguatkan
informasi.
K. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data untuk
pengalaman transpersonal ini pada
dasarnya mengikuti metode
pembandingan tetap ( constant
comparison method) dari Glaser dan
Strauss (dalam Hibbard, 2007) yang
menggunakan rangkaian tahap-tahap
analisis data agar dapat
memperkirakan data “bagaimana
untuk menggambarkan agar dapat
ditulis atau direkam ke dalam alatalat material peneliti, membuat dan
mengklasifikasikan
pengalamanpengalaman subjek” ke dalam
kategori pengalaman transpersonal.
Isi analisis data terdapat tujuh tahap,
yaitu (Hibbard, 2007):
1. Pembacaan
awal
(Initial
reading). Tiap deskripsi verbal
dari
suatu
pengalaman
terdokumentasi dalam rekaman
kemudian disalin ke suatu lembar
kertas yang terpisah.
2. Meninjau deskripsi secara luas
(Overview of descriptions).
Membaca setiap lembar kertas
untuk mendapatkan suatu “rasa”
tentative (bersifat sementara)
terhadap tipe-tipe pengalaman
yang telah dilaporkan. Perhatian
diberikan lebih menyeluruh
kepada pola-pola dan bentukbentuk dengan lebih detail.
3. Mengidentifikasi deskriptor
(Identifying Descriptors). Setiap
lembar dibaca kembali untuk
identifikasi
karakteristikkarakteristik deskriptif atau sifat
dari
tiap-tiap pengalaman.
Deskriptornya dicatat dengan
pensil di tiap-tiap kertas paling
bawah.
4. Pemisahan awal (Initial sorting).
Setiap lembar
sementara
digolongkan
kedalam sifat
penggelompokan atau kategori
yang mengandung kemiripan
atau
menyerupai tipe-tipe
pengalaman. Suatu label
deskriptif sementara ditempatkan
kepada tiap penggelompokan
atau kategori.
5. Pemisahan akhir (Final sorting).
Setiap lembar kertas dibaca
sekali lagi, dibandingkan dan
dikaitkan lagi dan ditentukan
kembali bila diperlukan. Namanama kategori tiap lembar
pengalaman perlu direvisi supaya
membuat uraian lebih tepat.
6. Kategorisasi
akhir
(Final
categorization). Setiap lembar
kertas diperiksa kembali untuk
ditetapkan jika itu diperlukan
selanjutnya dibagi kembali atau
jika
dapat dikombinasikan
dengan lembar kertas lainnya
atau
digolongkan kedalam
lembar kertas lainnya. Dalam
cara ini, kategori dan subkategori
pengalaman-pengalaman
transpersonal dikembangkan.
7. Membuat suatu
klasifikasi
(Create a taxonomy). Kategorikategori dan sub-sub kategori
kemudian diatur ke dalam
klasifikasi logis dan penuh arti.
Klasifikasi yang dihasilkan dari
data kemudian dibandingkan
dengan
teori
pengalaman
transpersonal. Data mengacu
kepada karakteristik-karakteristik
umum deskriptif subjek dan label
tipe-tipe pengalamannya secara
induktif diambil dari data
menurut deskripsi subjek itu
sendiri. Tiap pengalaman subjek
dapat lebih dari satu tipe
pengalaman transpersonal. Tiap
tipe pengalaman ditinjau dari
laporan deskripsi fenomenologis.
L. Pembahasan
Dari hasil penelitian ditemukan
hasil sebagai berikut:
1.
Alasan
subjek menjadi
pengamal Tarekat Qadiriyyah
wa Naqsyabandiyyah
Alasan subjek menjadi
pengamal Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah karena ingin
mendekatkan diri kepada Tuhan,
dipengaruhi wawasan dari filsuf
sufi, tarekat sebagai jalan hidup
dan penyempurna syariat untuk
kesempurnaan lahir dan batin dan
diajak mengamalkan tarekat oleh
ayahnya.
2.
Kategori
Pengalaman
Transpersonal
Dari hasil penelitian
ditemukan tipe-tipe pengalaman
transpersonal subjek pengamal
Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah dalam kategori
pertama dalam transendensi
batasan ruang yaitu subjek dapat
melakukan kontak spiritual
dengan ayahnya (pengalaman
dua rangkap menyatu),
mengetahui kondisi sesama
pengamal tarekat ketika berdoa
bersama (identifikasi grup dan
kesadaran grup), mengetahui
sifat-sifat tumbuhan (identifikasi
dengan tumbuh-tumbuhan dan
proses yang berkaitan dengan
tumbuhan), melihat berbagai
interaksi kehidupan di bumi
(kesatuan dengan kehidupan dan
semua penciptaannya), kesadaran
berada di luar bola bumi
kemudian kesadarannya kembali
ke bumi serta merasakan bersatu
dengan lima elemen zat benda
mati sehingga dapat berlevitasi
(pengalaman dengan zat benda
mati dan proses anorganik serta
berkombinasi
dengan
tipe
pengalaman transpersonal di luar
bola bumi serta kekuatan
supernatural), penghayatan
planet bumi (kesadaran yang
berhubungan dengan planet),
bersatu dengan cahaya bintang
scorpio (pengalaman di luar bola
bumi), clairvoyance, telepati,
keluar dari tubuh (fenomena
paranormal yang mencakup
transendensi tempat). Sedangkan
dalam transendensi batasan
waktu linier yaitu subjek
merasakan kondisi ayahnya
(pengalaman-pengalaman
leluhur), penghayatan sejarah
sunda serta mampu melakukan
beladiri dan tarian tanpa latihan
beladirinya (pengalaman rasial
dan kolektif), déjà vu
(pengalaman inkarnasi masa
lalu), prekognisi serta
menerawang peristiwa masa lalu
serta masa depan dan membaca
sejarah patung Buddha dengan
memegangnya (fenomena
paranormal
yang
meliputi
transendensi waktu).
Tipe
pengalaman
transpersonal dalam kategori
kedua diantaranya yaitu dzikir
lathifah untuk pengembangan
kekuatan organ halus,
mendekatkan diri kepada Tuhan,
kesehatan dirinya dan membaca
penyakit seseorang (fenomena
energi organ halus); melihat
siluman binatang (pengalamanpengalaman dengan roh
binatang), bertemu dengan
Siddharta Gautama serta menulis
kitab Buddha (pertemuan dengan
roh-roh pembimbing dan
eksistensi keberadaan manusia
super berkombinasi dengan tipe
pengalaman
arwah
dan
mediumisasi), mengunjungi
dunia alien dengan keluar dari
tubuh atau merogo sukm o
(berkunjung ke alam semesta
yang berbeda dan bertemu
dengan penghuninya
berkombinasi
dengan
tipe
pengalaman transpersonal
fenomena paranormal yang
mencakup transendensi tempat),
memasuki alam mitologis dengan
cara merogo sukmo kemudian
bertarung dengan dukun yang
menguasai para siluman
mitologis untuk menyelamatkan
seorang gadis dari upacara
pengorbanan (pengalaman
mitologis dan rangkaian cerita
dongeng berkombinasi dengan
tipe pengalaman transpersonal
fenomena paranormal yang
mencakup transendensi tempat),
mengetahui arti simbol spiritual
dua titik lathifah atau organ halus
(pengalaman dengan pencipta
alam semesta dan tercapainya
wawasan kreasi kosmik),
melakukan tarian sambil
melantunkan syair (pengalaman
kesadaran kosmik), pengalaman
ketuhanan dan kesunyataan atau
kejernihan hati (suprakosmik dan
kehampaan metakosmik).
Tipe
pengalaman
transpersonal dalam kategori
ketiga diantaranya yaitu selamat
dari kecelakaan (hubunganhubungan sinkronisitas diantara
kesadaran dan perkara), secara
spontan mampu mengangkat
beban berat (kekuatan-kekuatan
fisik supernormal), penyembuhan
spiritual (penyembuhan dan
menjatuhkan kutukan),
komunikasi dan pertemuan
dengan
makhluk
halus
(fenomena makhluk halus dan
mediumisasi fisik), debus atau
ilmu kekebalan tubuh serta
levitasi kemudian eksistensi fisik
dapat menjadi tiga (kekuatankekuatan supernatural) dan
mengunci serta mempengaruhi
pergerakan lawan (psikokinesis
laboratorium). Beberapa
pengalaman transpersonal subjek
saling berkombinasi dengan tipe
pengalaman transpersonal
lainnya. Subjek juga memiliki
pandangan intelektual
tra ns e n de nta l . Se la in i t u ,
berdasarkan hasil wawancara
dapat diketahui bahwa subjek
juga menekankan bahwa semua
pengalaman transpersonal yang
dialaminya berasal dari kekuatan
pikirannya.
Subjek
mengemukakan
pengalamanpengalaman tersebut
dapat
dimengerti
berdasarkan
pengalaman-pengalaman
langsung yang diperolehnya.
Bagi subjek, pengalaman dunia
arkhetipe seperti alien hanya
dapat
dirasakan
ketika
kesadarannya berubah, bukan
dalam bentuk kesadaran biasa
ketika melihat dunia material
atau
fisik.
Pengalamanpengalaman transpersonal
lainnya seperti kesadaran alam
semesta juga berasal dari bentuk
perubahan kesadaran yang
dialami oleh dirinya melalui
pikirannya.
Pandangan
intelektual
subjek tersebut sesuai dengan
Baruss (2003) yaitu pandangan
studi empiris dalam tradisi
intelektual transendental terdiri
dari gagasan kesadaran dan dunia
fisik sebagai sifat keberadaan
yang dibentuk oleh pikiran
manusia. Diantara dua kutub
dualis tersebut, membentuk
berbagai pergerakan realitas
pikiran yang dianggap terdiri dari
kedua aspek yaitu aspek fisik dan
aspek tra nsendental. Para
intelektual transendental dapat
disebut posisi ”transenden” yang
cenderung menekankan
subjektifitas yaitu aspek-aspek
kesadaran experiential atau
fenomenologis dan mempercayai
kesadaran memberikan makna
terhadap realitas dan menetapkan
bukti dimensi spiritual. Bagi
intelektual transendental yang
telah beridentifikasi dengan
posisi luar biasa transenden pada
s ka la tra n s e nde n e k s tre m
kemungkinan
besar
lebih
mempercayai
pengalamanpengalaman yang tidak biasanya
dengan menekankan perubahanperubahan kesadaran.
Bagi
intelektual
transendental,
kesadaran
adalah
realitas
fundamental
yang
dapat
dipahami
melalui
proses
transformasi-diri.
3. Dampak
Pengalaman
Transpersonal
Dampak
pengalaman
transpersonal pada pengamal
Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah yaitu aspekaspek bermakna diantaranya
subjek mampu mendapatkan
data-data rasional tentang
pengalaman
transpersonal
(keterbukaan),
meningkatkan
motivasi dalam dirinya sehingga
mencerdaskan pola pikirnya
dalam mengarungi kehidupannya
sebagai anugerah yang diberikan
oleh
Tuhan
(spiritualitas),
karakter
diri
berkembang
sehingga
menolong
disaat
berhubungan dengan orang lain
(aspek kebutuhan-hubungan).
Pada peningkatan keterbukaan,
subjek hanya terbuka pada ayah
dan guru mengenai
pengalamannya
(keterbukaan
selektif), kemudian keadaan
psikologis lebih sabar, ikhlas dan
bersyukur dan pola makan serta
pikir yang teratur sehingga tubuh
atau fisik sehat (manfaat
psikologis
dan
fisik),
pengetahuan
spiritual lebih
terbuka serta kesehatan spiritual
ya n g t um b u h de n g a n ba i k
sehingga keyakinan terhadap
Tuhan semakin mantap karena
f i s i k n y a s e ha t ( ke h a d i r a n
spiritualitas) dan semangat hidup
meningkat serta perubahan
komunikasi dengan orang lain
karena tutur perkataannya santun
sehingga mendapatkan
pengakuan dan penghargaan dari
orang lain (aspek-aspek
perubahan transformatif).
4. Aktivasi Lathoif (organ halus)
Tarekat Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah
Sebagai
Teknik Menuju Pengalaman
Transpersonal
Subjek pengamal Tarekat
Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah
dapat mengalami pengalaman
transpersonal karena melakukan
latihan-latihan spiritual sehingga
membangkitkan aliran energi
tujuh lathifah (organ halus)
dalam tubuhnya. Tiap -tiap
lathifah memiliki fungsi masingmasing dalam setiap tipe-tipe
pengalaman transpersonal yaitu
aktifnya energi lathifah qalab
menghasilkan kesadaran diri
dengan tubuh serta kesadaran
diri, lathifah nafs menghasilkan
kesadaran identitas hubungan diri
dengan orang lain, lathifah qalb
menghasilkan kesadaran teori
adlerian serta kesadaran bersama,
lathifah sirr menghasilkan
kesadaran nilai-nilai altruistik,
psikologi jungian, pengalaman
pertama dengan ketuhanan di
dalam diri, kesadaran alam
semesta, lathifah ruh
menghasilkan kapasitas
kesadaran bidang pengalaman
mental, realitas dunia ruh dan
mendengarkan suara hati diri
serta orang lain, lathifah khafi
menghasilkan kesadaran indera
keenam,
kekuatan-kekuatan
paranormal atau supernatural
serta diri sebagai psike dan
puncaknya yaitu lathifah haqq
menghasilkan kesadaran nondualitas (suprakosmik dan
kehampaan metakosmik).
M. Saran
Saran yang diberikan penulis yaitu :
1. Untuk praktisi spiritual
Untuk para praktisi spiritual
diha ra pka n da pa t m e na rik
manfaat dari amalan-amalan
tarekat sebagai bentuk
pengobatan diri pribadi maupun
penerapan aplikasinya kepada
masyarakat umum, introspeksi
diri melalui pemahaman jiwa
alam semesta dalam diri dan
manfaat kemampuan
transpersonal dalam amalan ilmu
hikmah sebagai bentuk
perlindungan diri yang tetap
bertujuan meminta pertolongan
Tuhan.
2. Untuk kalangan masyarakat
umum
Untuk masyarakat umum
diharapkan dapat mengambil
manfaat amalan-amalan tarekat
agar dapat mendekatkan diri
kepada Tuhan dan membantu
dalam kesehatan fisik serta
mental diri pribadi.
3. Untuk kalangan psikolog
Untuk kalangan psikolog di
Indonesia agar dapat terjun
langsung sebagai seorang praktisi
spiritual, salah satu contoh
kongkritnya adalah para psikolog
transpersonal barat yang
berperan sekaligus sebagai
pengamal tarekat dari mursyid,
khalifah atau posisi lainnya
sehingga dapat menggunakan
teknik-teknik psikospiritual
organ halus (lathoif) Tarekat
Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah
sebagai psikoterapi dan
penyembuhan fisik. Selain itu,
psikologi transpersonal sufi
seperti kesadaran alam semesta
melalui teknik meditasi dapat
membantu dalam teknik-teknik
psikoterapi dan pengembangan
teori psikologi serta aplikasinya.
4. Untuk peneliti selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya yang
ingin mengembangkan atau
melanjutkan penelitian,
diharapkan dapat aplikasikan
metode pendekatan penelitian
psikologi fenomenologi secara
penuh dan berikan label
hubungan antara tipe amalan
tarekat (tipe-tipe dzikir seperti
latho `if , asmaul husna; shalawat;
hizib dan ratib), tipe muraqabah
(meditasi) dan tipe amalan ilmu
hikmah (misalnya `asma, asror,
rajah dan lain sebagainya)
dengan tipe-tipe pengalaman
transpersonal.
N. Daftar Pustaka
Aida,
N.
(2005).
Mengungkap
p e n g a l a m a n s p i r i tu a l d a n
ke be rma knaa n hidup pa da
pengamal thariqah. Indigenous:
Jurnal Berkala Ilmiah Berkala
Psikologi, 7(2), 108-129.
Arksey, H. & Knight, P. (1999).
Interviewing for social scientists.
London: Sage Publication.
Baruss, I. (2003). Alterations of
consciousness: An empirical
analysis for social scientists.
Washington, DC: American
Psychological Association.
Basuki, A. M. (2006). Pendekatan
kualitatif
untuk
ilmu-ilmu
kemanusiaan
dan
budaya.
Jakarta: Universitas Gunadarma.
Braud, W. & Palmer, G. (2002).
Exceptional human experiences,
disclosure, and a more inclusive
view of physical, psychological
and spiritual well-being. The
Jo ur na l of Tr a ns p er s on al
Psychology. 34(1), 29-61.
Bruinessen, M. (1999). Kitab kuning,
pesantren dan tarekat: Tradisitradisi Islam di Indonesia. (Alih
Bahasa oleh Kholidy Ibhar &
Farid Wajidi). Bandung: Mizan.
Cowley, A. S. (1993). Transpersonal
social work: A theory for the
1990s. Social Work, 38(5), 527534.
Daniels, M. (2006). Transpersonal FAQ
- Frequently Asked Questions
about the Transpersonal.
http://www.transpersonalscience.
org/tranfaq.aspx#Q 13
Frager, R. (1989). Transpersonal
ps y ch olo gy : Pr om i s e an d
pr os pects . In Va lle, R. &
Halling, S. (Eds.), Existentialphenomenological perspectives
in psychology: Exploring the
breadth of human experience
(pp. 289-309). New York:
Plenum Press.
Frager, R. (2005). Hati, diri dan jiwa:
Psikologi sufi untuk
transformasi. (Alih Bahasa oleh
Hasmiyah Rauf). J akarta:
Serambi.
Grof, S. (1988). The adventure of selfdiscovery: Dimensions of
consciousness and new
perspectives in psychotherapy and
inner exploration. Albany: State
University of New York Press.
Grof, S. (1996). Theoretical and
empirical foundations of
transpersonal psychology. In
Boorstein, S. (Ed.),
Transpersonal psychotherapy
(pp. 43-64). Albany: State
University of New York Press.
Hibbard, W. (2007). Native American
Sweat Lodge ceremony: Reports
of transpersonal experiences by
Non-Native practitioners. The
Jour nal of Tr ans personal
Psychology, 39(1), 68-91.
Isa, A. Q. (2007). Cetak biru tasawuf:
Spiritual ideal dalam Islam.
(Alih Bahasa oleh. Tim Ciputat
Press di Mesir). Jakarta: Ciputat
Press.
Jindan, F. (2007). Nasihat spiritual:
Mengenal tarekat ala Habib
Luthfi bin Yahya. Bekasi: Hayat
Publishing.
Langride, D. (2004). Introduction to
research methods and data
analysis in psychology. Harlow:
Pearson Education.
Mulyati, S. (Ed.). (2006a). Pendahuluan.
Dalam Mengenal & memahami
tarekat-tarekat muktabarah di
Indonesia (pp. 3-21). Jakarta:
Kencana & Fakultas Ushuluddin
dan Filsafat Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Mulyati, S. (Ed.). (2006b). Tarekat
Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah:
Tarekat temuan tokoh Indonesia
asli. Dalam Mengenal &
memahami tarekat-tarekat
muktabarah di Indonesia (pp. 2532 90). Jakarta: Kencana & Fakultas
Ushuluddin dan Filsafat
Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Munawwar, S. A. (2003). Pengamalan
tasawuf di era modern. Dalam
Munawwar, S. A., Amin, M. &
Kartanegara, M. (Eds.),
Pengamalan tasawuf masyarakat
modern (pp. 5-31). Jakarta:
Media Sufi Indonesia.
Nelson, P. L. (1989). Personality factors
in the frequency of reported
sponta neous praete natural
experiences. The Journal of
Transpersonal
Psychology,
21(2), 193-210.
O`kane, T. A. (1989). Transpersonal
dimensions of transformations: A
study of the contributions drawn
from the sufi order teachings and
training to the emerging field of
transpersonal psychology. Ann
Arbor: The Union for
Experimenting
College
and
Universities.
Pekala, R. J. & Cardena, E. (2000).
Methodological issues in the study
of altered states of consciousness
and anomalous experience. In E.
Cardena, S. J. Lynn & S. C.
Krippner. (Eds.), Varieties of
anomalous experience: Examining
the scientific evidence (pp. 47-82).
Washington, DC: American
Psychological Association.
Poerwandari, E. K. (1998). Pendekatan
kualitatif
dalam
penelitian
psikologi.
Jakarta:
Lembaga
Pengembangan Sarana Pengukuran
dan Pendidikan Psikologi (LPSP3)
Universitas Indonesia.
Poerwandari, E. K. (2001). Pendekatan
kualitatif untuk penelitian perilaku
manusia. Jakarta: Lembaga
Pengembangan Sarana Pengukuran
dan Pendidikan Psikologi (LPSP3)
Universitas Indonesia.
Qardhawi, Y. (1995). Fatwa-fatwa
kontemporer I & II. (Alih Bahasa
oleh Mohammad Nurhakim)
Jakarta: Gema Insani Press.
Safken, A. (1998). Sufi stories as
vehicles of self-development:
Exploration, using in-depth
interviews, of the self-perceived
effects of the study of sufi stories.
(Doctoral Dissertation, Institute of
Transpersonal Psychology, 1998).
UMI Dissertation Services (UMI
No. 9833355).
Praja, J. S. (1990). TQN pondok
pesantren Suryalaya dan
perkembangannya pada masa
Abah Anom (1950-1990). Dalam
Nasution, H (Ed.), Thoriqot
Qodiriyyah
Naqsyabandiyyah
sejarah
asal-usul
perkembangannya. Tasikmalaya:
Institut Agama Islam
Mubarokiyah.
Praja, J. S., Syafi`i, R., Ain, N., Alba, C.,
Sumpeno., Hadoliah, L., Nuruddin,
A., Hamzah, Y. (1995). Model
tasawuf menurut syari`ah :
Penerapannya dalam perawatan
korban narkotik dan berbagai
penyakit ruhani. Tasikmalaya:
Latifah Press, Institut Agama Islam
Latifah Mubarakiyah & Pondok
Pesantren Suryalaya Tasikmalaya.
Sambas, A. K. (1983). Fath al-arifin.
Surabaya.
Siregar, R. (2002). Tasawuf: Dari
sufisme klasik ke neo-sufisme.
Jakarta: Rajawali Press.
Tart, C. T. (2001). Parapsychology and
transpersonal psychology:
“Anomalies” of to be explained
away or spirit to manifest. Journal
of Parapsychology, 66(2), 31-47.
Valle, R. & Mosh, R. (1998).
Transpersonal
awareness in
phenomenological
inquiry:
Philosophy, reflections, and recent
research. In W. Braud & R.
Anderson. (Eds.), Transpersonal
research methods for the social
science: Honoring human
experience (pp. 95-113).
Thousand Oaks, CA: Sage
Publication.
Wilcox, Lynn. (2003). Ilmu jiwa
berjumpa tasawuf: Sebuah upaya
spiritualisasi psikologi. (Alih
Bahasa oleh IG Harimurti
Bagoesoka). Jakarta: Serambi.
Download