pekerjaan sosial industri

advertisement
PEKERJAAN SOSIAL INDUSTRI
A. Definisi Pekerjaan Sosial Industri
Pekerjaan sosial industri dapat didefinisikan sebagai lapangan praktik pekerjaan
sosial yang secara khusus menangani kebutuhan-kebutuhan kemanusiaan dan sosial
di dunia kerja melalui berbagai intervensi dan penerapan metoda pertolongan yang
bertujuan untuk memelihara adaptasi optimal antara individu dan lingkungannya,
terutama lingkungan kerja. Dalam konteks ini, pekerja sosial dapat menangani
barbagai kebutuhan individu dan keluarga, relasi dalam perusahaan, serta relasi yang
lebih luas antara tempat kerja dan masyarakat (NASW, 1987) atau yang lebih dikenal
dengan istilah tanggung jawab perusahaan (corporate social responbility)(suharto,
2006b).
Pekerjaan sosial industri menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai
pekerjaan sosial dalam pemberian pelayanan , program, dan kebijakan bagi para
pegawai dan keluarganya, manajemen perusahaan, serikat-serikat buruh dan bahkan
masyarakat yang berada di sekitar perusahaan. Inti pekerjaan sosial industri meliputi
kebijakan, perencanaan, dan pelayanan sosial pada persinggungan antara pekerja
sosial dan dunia kerja. (Suharto 2006b). Kegiatan pekerjaan sosial industri antara
lain adalah program bantuan (bagi pegawai), promosi keshatan , manajemen
perawatan kesehatan, tindakan alternatif affirmatif (pembelaan), penitipan anak,
perawatan lanjut usia, pengembangan sumber daya manusia (SDM), pengembangan
organisasi, pelatihan, dan pengembangan karir, konseling bagi penganggur atau yang
terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), tanggung jawab sosial perusahaan
(corporate social responbility), tunjangan-tunjangan pegawai, keamanan dan
keselamatan kerja, pengembangan jabatan, perencanaan sebelum dan sesudah pensiun
serta bantuan pemindahan kerja.
Konsep pekerjaan sosial industri lebih luas dari konsep tanggung jawab sosial
perusahaan (CSR) maupun masyarakat (community development). Pekerjaan sosial
industri mencangkup pelayanan sosial yang bersifat internal dan eksternal, pekerjaan
sosial industri melibatkan program-program bantuan bagi pegawai, seperti pelayanan
konseling. Terapi kelompok, dan pengembangan sumber daya manusia. Secara
1
eksternal, pekerjaan sosial industri, berwujud dalam berbagai bentuk program CSR
termasuk
di
dalamnya
strategi
dan
program
pengembangan
masyarakat,
pengembangan kebijakan sosial, dan advokasi sosial.
Hubungan antara PSI, CSR, dan ComDev
Pelayanan sosial internal
Terapi individu, terapi
kelompok, pengembangan
sumber daya manusia
PSI
Pelayanan sosial eksternal
Tanggung jawab sosial
perusahaan,
pengembangan
masyarakat.
Pengembangan kebijakan
sosial, advokasi sosial
B. Sejarah dan Perkembangan Pekerjaan Sosial Industri
Pekerjaan sosial industri terlahir dalam konteks pertumbuhan masyarakat industri.
Pekerjaan sosial industri pertama kali muncul tahun 1800-an. Para pekerja sosial
mulai terlibat di berbagai perusahaan Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat sekitar
tahun 1890, sedangkan di Perancis tahun 1920. Pada masa itu, beberapa perusahaan
di sana menyewa apa yang disebut ” sekretaris kesejahteraan”,”pekerja kesejahteraan
industri” , atau ”sekretaris sosial”. Di Jerman, pekerja sosial atau sosiater industri ini
dikenal dengan nama arbeiter sozial, sedangkan di Perancis dinamakan consul de
familie atau conseillers du travail (Suharto, 2006ab).
Pekerja sosial memiliki peranan penting dalam pemberian pelayann sosial, baik
yang bersifat pencegahan, penyembuhan maupun pengembangan dalam sebuah
perusahaan. Tugas utamanya adalah menangani masalah kesejahteraan, kesehatan,
keselamatan kerja, relaxi buruh dan majikan, serta perencanaan dan pengorganisasian
program-program pengembangan masyarakat bagi komunitas yang ada di sekitar
perusahaan (Suharto, 1997;2006b). Karena tugas utamanya menangani permasalahan
2
sosial yang terkait dengan perusahaan, sosiawan industri ini dikenal pula dengan
nama pekerja sosial kepegawaian atau occupational social worker (Strausser, 1989).
Menurut Freud, fokus pekerjaan sosial harus menyentuh dunia kerja, karena ia
memberi tempat aman bagi seseorang dalam realitas sebuah komunitas manusia
(human community). Pada tahun 1975, seorang pioneer pekerjaan sosial, Bertha
Reynolds memberi komentar atas pendapat Freud yang dikemukakan pada tahun
1930 itu. Menurut Reynolds, ” tempat kerja yang merupakan sebuah persimpangan
kehidupan (the crossroads of life) sering kali diabaikan sebagai sebuah komunitas
manusia”.
Pernyataan Reynolds tidak lagi berlaku dewasa ini. Sekarang ini kita telah
menyaksikan peningkatan yang luar biasa dalam hal perhatian dan kehadiran profesi
pekerjaan sosial di dunia kerja. Semenjak tahun 1970-an., pekerja sosial telah
menemukan bahwa tempat kerja bukanlah untuk bekerja saja, tetapi merupakan
sebuah tempat yang penting dan unik di mana para pegawainya perlu diberi informasi
mengenai pelayanan-pelayanan yang tidak selalu terkait dengan pekerjaan. Tempat
kerja juga merupakan tempat dimana diagnosis aktual mengenai kebutuhan dan
pelayanan sosial tertentu dapat diberikan. (suharto, 2006b)
Banyak pelayanan sosial di tempat kerja yang dapat diberikan pekerjaan sosial
industri berkisar pada domain-domain fungsi-fungsi pekerjaan sosial tradisional
seperti konseling bagi para pegawai. Dengan semakin canggihnya pendidiksn
pekerjaan sosial dalam bidang industri, ekonomi, perencanaan, dan analisis kebijakan,
asesmen keorganisasian, penelitian, pengembangan masyarakat, membuat pekarjaan
sosial berkiprah dalam bidang industri yang bersifat non-tradisional, seperti
pengembangan SDM dan organisasi, tanggung jawab sosial, dan filantropis
perusahaan. Dengan demikian seperangkat pengetahuan pekerjaan sosial yang begitu
luas yang berpadu dengan kebutuhan kompleks tempat kerja serta semakin
meningkatnya individu yang bekerja di dunia bisnis yang memilih pekerjaan sosial
sebagai ”karir kedua” telah meningkatkan peran pekerja sosial industri di dunia kerja.
Industri merupakan salah satu bidang garapan profesi pekerjaan sosial yang paling
muda. Namun, akar sejarah pekerjaan sosial industri di AS beranjak pada akhir abad
ke-18 dan semakin dikenal pada awal abad ke-19 saat di mana istilah ”kapitalisme
3
kesejahteraan” (welfare capitakism) semakin populer dan saat ”sekretaris sosial”
(social secretaries) dipekerjakan di perusahaan. Kapitalisme kesejahteraan merujuk
pada berbagai tunjangan dan pelayanan sosial yang disediakan secara sukarela oleh
majikan dalam upaya mensosialisasikan, menjaga, dan mengontrol tenaga kerja kasar
yang sangat dibutuhkan pada masa revolusi industri (Suharto, 2006b)
Pemicu lain yang menyebabkan lahirnya pekerjaan sosial industri di AS yaitu
berkaitan dengan upaya para majikan untuk mangatasi masalah yang diakibatkan oleh
meningkatnya wanita yang memasuki dunia kerja setelah perang sipil. Menurut
Brandes, permulaan pekerjaan sosial medis berakar pada suatu bentuk seksisme
(sexism) akibat tumbuhnya bisnis dan majikan mengalami peningkatan pegawai
wanita. Para majikan menghadapi kesulitan manangani masalah pegawai wanita yang
”ganjil” karena pada saat itu, fenomena pekerja wanita masih sangat sedikit. Sebagai
solusinya yaitu dengan menyewa seorang spesialis. Spesialis yang pertama yaitu ibu
Anggie Dunn yang disewa pada tahun 1875 sebagai sekretaris sosial pada perusahaan
H.J. Heinz di Pittsburg ( Suharto, 2006b).
Dunn mungkin satu-satunya sekretaris kesejahteraan hingga tahun 1900 ketika
banyak perusahaan mulai menyewa spesialis seperti dirinya. Pada tahun 1919, Biro
Statistik Buruh melakukan survei terhadap 431perusahaan besar di As dan
menemukan bahwa 141 perusahaan mempekerjakan sekretaris perusahaan secara full
time, dan 154 perusahaan mempekerjakan sekretaris perusahaan secara kontrak dari
luar perusahaan. Tahun 1926, sebesar 80% dari 1500 perusahaan besar di AS
memiliki beberapa jenis program kesejahteraan (people, 1981). Meskipun belum
tahun 1920 sebagian besar tahun lulusan sekolah tinggi pekerjaan sosial New York (
New York School of Social Work) bekerja pada settimng industri daripada setting
lainnya, pekerja sosial yang terlatih secara profesional masih sedikit jmlahnya.
Sebagian besar sekretaris kesejahteraan adalah wanita yang berpendidikan sebagai
guru atau perawat. Salah seorang perawat, ibu Marrion T. Brockway disewa sebagai
”ibu kerumahtanggaan/ perawat tatalaksana” pada Perusahaan Asuransi Jiwa
Metropolitan.
4
Pada pengumuman mengenai penunjukan dia tanggal 3 September 1919, fiske,
presiden perusahaan itu menjelaskan tugas-tugas ibu Brockway sebagai berikut
(Strausser, 1989;4):
Tugas ibu kerumahtanggaan akan dilakukan sesuai dengan sebutannya. Semua
pegawai wanita dipersilakan berkonsultasi mengenai kesehatan kepegawaian, reklasi
dengan rekan kerja, atasan atau anggota keluarga, dan urusan-urusan dan masalahmasalah pribadi jika ada. Ibu Brockway akan melihat kondisi-kondisi pelayanan
sosial di kantor dan memberi nasihat berkenan dengan masalah-masalah di dalam dan
luar perusahaan, penduduk sekitar perusahaan, serta dewan perusahaan ya g tinggal
jauh dari para tetangga. Ide utama menunjuk seorang ibu kerumahtanggaan adalah
para jurutulis wanita dapat memperoleh layanannya, meskipun ibu Brockway dapat
pula memeberi nasihat pada jurutulis pria.
Usia dewasa, pengalaman luas,
kecerdasan, dan kapasitasnya bersimpati, membuat ibu brockway cocok bagi pegawai
wanita maupun pria. Dan semua juru tulis kita menjadi senang berkonsultasi dengan
dia.
Dalam garis besar Carter mengelompokkan peranan sekretaris kesejahteraan ke
dalam empat bidang tugas yang mencangkup(Suharto, 2005;2006b):
1. Kesejahteraan fisik: kesehatan, keamanan, sanitasi, dan perumahan pegawai.
2. kesejahteraan budaya: rekreasi, perpustakaan, pendidikan, dan akulturasi dasar
mengenai dunia kerja dan budaya Amerika.
3. Kesejahteraan personal: pelayanan casework (konseling perseorangan) bagi
para pegawai dan keluarganya.
4. kesejahteraan ekonomi: administrasi pinjaman dan pensiun dan bahkan
perekrutan, pemecatan, dan penetapan gaji karyawan.
Karena kombinasi berbagai kekuatan, seperti ketidakpuasan karyawan, perubahan
ekonomi, peningkatan pelayanan sosial yang disediakan pekerja sosial masyarakat,
dan pergeseran ideologi (Strausser dan Phillips,1988), kehadiran pekerjaan sosial
industri menghilang dari setting industri pada tahun 1920-an dan baru muncul
kembali setelah perang dunia II. Saat itu pekerjaan sosial industri, tidak hanya
memberikan pelayanan sosial untuk membantu orang beradaptasi secara personal
5
terhadap dampak perang., tetapi juga pelayanan sosial yang memungkinkan mereka
untuk lebih produktif pada saat produksi.
Pekerjaan sosial bertugas sebagai pemberi pelayanan sosial langsung dalam
setting serikat buruh (Kyle.1994 dan Ronalds 1963) di pemerintah militer dan federal
dan kantor militer (Stanlley,1944) serta sejumlah perusahaan swasta seperti Macy’s
di New York (Evans, 1940), RCA Victor di Indianapolis (Coyle,1944) , J.Lhudson
Departement Store dan perusahaan asuransi jiwa Metopolitan (Palevsky, 1945).
Perkembangan Pekerjaan sosial modern dimulai sejak tahun 1960-an pada saat
pembentukan dua program terpisah yang bertujuan menangani kebutuhan kesehatan
mental karyawan. Program yang dibentuk oleh perusahaan Polaroid di Boston dan
perusahaan pakaian Amerika Amalgamasi di kota New York itu dikendalikan oleh
para pekerja sosial profesional dan mampu mencatat kesuksesan (Kurzman,1988).
Perkembangan pekerjaan sosial industri ini juga didorong dengan munculnya
Pusat Kesejahteraan Sosial Industri (the Industrial Social Welfare Center) yang
dibentuk tahun 1969 di sekolah pekerjaan sosial Columbia University di bawah
arahan Hyman J. Weiner dan didanai oleh pelayanan sosial dan rehabilitasi,
departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan, dan Kesejahteraan AS. Lembaga ini
memiliki 3 tujuan yaitu:
a.
Membangun bank pengetahuan dan informasi berkaitan dengan pemberian
pelayanan sosial terhadap populasi para pegawai.
b.
Menyediakan bantuan teknis dan pelayanan konsultasi terhadap serikat
buruh, perusahaan bisnis, dan lembaga-lembaga sosial.
c.
Memberi kontribusi pada pendidikan pekerja sosial dan profesi pertolongan
lainnya (CUSSW dalam Suharto, 2006). Lembaga tersebut sangat berhasil
dalam mencapai tujuan ini.
Pada pertengahan tahun 1970-a, perkembangan pekerjaan sosial industri yang
tadinya secara terkotak-kotak (terserak) mulai mengkerucut melalui gerakan yang
terorganisir (Masi dalam Suharto 2006b). Kemajuan ini berasal dario beberapa
sebab, antara lain:
6
1.
Menurunkan afiliasi para pekerja sosial profesional dengan sektor
publik (semula sebagian besar pekerja sosial di lembaga
pemerintah);
2.
Semakin banyaknya pekerja sosial yang membuka praktek mandiri
(privat);
3.
Perubahan angkatan kerja karena masuknya kaum wanita,
minoritas, dan orang dengan kecacatan (ODK) ke dunia industri;
4.
Disahkan sebagai peraturan dengan perundang-undang yang terkait
dengan pekerjaan, seperti the Hughes Act, the Vocational
Rehabilitation Act, The OCCUPATIONAL Safety and health Act,
the Employee Retirement Income Security ACT, the Age
Discrimination in Employment Act, dan Title VII of the Civil
Rights Act;
5.
Meningkatnya kesadaran sosial mengenai dampak tempat kerja
terhadap kesehatan mental dan kecanduan alcohol di kalangan
pegawai.
Selain lima kondisi di atas, semakin populernya pekerjaan sosial industri
juga dipicu oleh profesionalisme pada program-program penanggulangan
alkoholisme di tempat kerja, evolusi program-program bantuan bagi pegawai
(Employee Asistance Programs/EAPs), serta dibentuknya program-program
pelatihan di sejumlah sekolah pekerjaan sosial di seluruh AS dan Kanada yang
ke;ak meningkatkan kesempatan kerja dan tersedianya pekerja sosial yang terlatih
untuk posisi-posisi baru.
Jumlah pekerja sosial saat ini belum diketahui secara pasti. Namun,
Asosiasi National Pekerja Sosial (National Association of Social Workers) AS
menghimpun daftar alamat surat sekitar 2200 individu sebagai bagian dari survey
nasional pekerjaan sosial industri yang dilaksanakan lembaga ini tahun 1985.
Pada tahun 1987, tercatat ada 614 pekerja sosial berlisensi yang menjadi anggota
the Association of Labor Management Administrators and consultans on
Alcoholism(ALMACA), sebuah organisasi profesional utama yang mewakili para
pekerja sosial yang bekerja di program-program bantuan (EAPs) bagi pegawai.
7
Seperti dinyatakan oleh Googins (1987;37). ”Para pekerja sosial memegang
posisi-posisi pimpinan dan menjadi kelompok profesional terdepan di asosiasiasosiasi dunia kerja, seperti ALMACA, EASNA (Employeeassistance Society of
North America) dan IASISW (International Association of Industrial Social
Workers).
Pekerja sosial industri dewasa ini bekerja di sektor swasta, baik untuk
organisasi laba maupun nir-laba di lembaga-lembaga pemerintah tingkat federal,
negara bagian, dan lokal, di organisasi militer, dan serikat-serikat buruh. Survei
national yang dilakukan di 39 sekolah pekerjaan sosial yang menyelenggarakan
pelatihan-pelatihan pekerjaan sosial industri mengidentifikasikan bahwa 30% dari
pekerja sosial industri bekerja di organisasi-organisasi swasta, 23% di kontraktorkontraktor yang menyediakan pelayanan sosial bagi perusahaan-perusahaan besar,
17% di lembaga-lembaga pemerintah negara bagian dan lokal, 15% di serikat
buruh dan 15% di lembaga pemerintahan federal (Maiden dan Hardcastle, 1985).
Pekerja sosial industri mampu memberikan beragam pelayanan sosial di berbagai
macam setting. Namun, sebagian besar setting pekerjaan sosial industri adalah di
bidang-bidang yang berkaitan dengan program-program bantuan pegawai (EAPs).
C. Bidang Garapan Pekerjaan Sosial Industri
1. Bidang Garapan Pekerja sosial
Guna mengenal lebih jauh fungsi dan peranan pekerjaan sosial, di bawah ini
disajikan beberapa contoh bidang garapan atau setting utama yang sering kali menjadi
tempat berkiprah para pekerja sosial yaitu antara lain:
1.
Keluarga dan pelayanan anak: penguatan keluarga, konseling keluarga,
pemeliharaan anak, dan adopsi, perawatan harian, pencagahan
penelantaran, dan kekerasan dalam rumah tangga.
2.
Kesehatan dan rehabilitasi: pendampingan pasien di rumah sakit,
pengembangan kesehatan masyarakat, kesehatan mental. Rehabilitasi
vokational, rehabilitasi pecandu obat dan alkohol, pendampingan
ODHA, harm reduction programmer.
8
3.
Pengembangan masyarakat: perencanaan sosial, pengorganisasian
masyarakat, revitalisasi ketetanggaan, perawatan lingkungan hidup,
kehutanan sosial, penguatan modal sosial, penguatan ekonomi kecil.
4.
Jaminan sosial: skema asuransi sosial, bantuan sosial, social fund,
JKSM, jaringan pengaman sosial.
5.
Pelayanan kedaruratan: pengorganisasian bantuan: manajemen krisis,
informasi dan rujukan, integrasi pengungsi, pengembangan peringatan
dini masyarakat.
6.
Pekerjaan sosial sekolah: konseling penyesuaian sekolah, manajemen
perilaku
pelajar,
manajemen
tunjangan
biaya
pendidikan.
Pengorganisasian makan siang murid, peningkatan partisipasi keluarga
dan masyarakat dalam pendidikan.
7.
Pekerjaan sosial industri: program bantuan pegawai, penanganan
stress, dan burnout, penempatan dan relokasi kerja, perencanaan
pensiun, tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social
responbility)
2. Masalah yang ditangani Pekerja Sosial
Berawal dari abad ke-14 di Inggris, masyarakat industri sangat ditentukan
sistem pebrik. Pada zaman merkantilisme ini, pada awalnya laki-laki dan wanita
bekerja di ladang atau pada perusahaan-perusahaan keluarga (informal)
(Johnson,1984; Kartono, 1994).Hal ini memisahkan orang dewasa yang sebagian
besar waktunya bekerja di pabrik dengan anak-anak yang ditinggalkan di rumah
bersama keluarga besar atau tanpa pengawasan sama sekali. Pemisahan ini
menjadi awal bagi dinamika keluarga dan masyarakat termasuk bagi munculnya
permasalahan sosial yang diakibatkannya. Retaknya relasi sosial antara pekerja
dan keluarganya, kurangnya kesempatan anak dalam meniru model peranan
orangtua dan munculnya alinasi atau keterasingan pekerja dalam kehidupan
masyarakatnya adalah beberapa contoh masalah sosial yang timbul akibat
industrialisasi.
Mekanisme dan otyomatisasi melahirkan rutinitas pekerjaan dan membuat
tenaga manusia tampak semakin tidak penting. Para pekerja kerah biru maupun
9
kerah putih merasa tidak bermakna dan terancam karena kapan saja dapat
digantikan oleh saingannya, yakni mesin. Perubahan teknologi, penggantian
tenaga kerja (shift), dan pemutusan hubungan kerja yang semakin menjadi
fenomena dalam kehidupan sehari-hari sering menimbulkan kecemasan bagi para
pekerja. Proses otomatisasi di As menggantikan sekitar 2 juta pekerjaan setiap
tahunnya. Para pekerja yang merasa tidak berguna dan tidak berdaya dalam
pekerjaanya seringkali membawanya ke rumah dan masyarakat. Johnson
(1948:261) mengklasifikasikan akibat akibat industrialisasi yang bersifat negatif
terhadap kesejahteraan manusia ke dalam 5A yaitu:
a. Alienation: perasaan keterasingan dari diri, keluarga, dan kelompok sosial
yang menimbulkan apatis, marah, dan kecemasan.
b. Alcoholism atau addiction: ketergantungan terhadap alkohol, obat-obat
terlarang atau rokok yang dapat menurunkan produktivitas, meruasak
kesehatan fisik dan psikis , dan kehidupan sosial seseorang.
c. Absenteeism: kemangkiran kerja atau perilaku membolos kerja dikarenakan
rendahnya motivasi pekerja, perasaan-perasaan malas, tidak berguna, tidak
merasa memiliki perusahaan, atau sakit fisik dan psikis lainnya.
d. Accidents: kecelakaab kerja yang diakibatkan oleh menurunnya konsentrasi
pekerja atau oleh lemahnya sistem keselamaatan dan kesehatan lingkungan
kerja.
e. Abuse: bentuk-bentuk perlakuan salah terhadap anak-anak atau pasangan
dalam keluarga (istri/suami), seperti memukul. Dan menghardik secara
berlebihan yang ditimbulkan oleh frustasi, kebosanan, kelelahan di tempat
pekerjaannya.
Beberapa permasalahan lainnya yang terkait dengan masalah industrialisasi
adalah: diskriminasi di tempat kerja atau tindakan-tindakan tidak adil terhadap
wanita, kaum minoritas, imigran, remaja, pensiunan, dan para penyandang cacat.
Beberapa industri dan perusahaan kerap menimbulkan dampak negatif terhadap
masyarakat di sekitarnya,sepeti polusi (udara, air,suara) dan kerusakan-kerusakan
fisik dan psikis para pekerjanya. Para pekerja sosial industri dapat membantu
10
dunia industri untuk mengidentifikasi dan mengatasi berbagai biaya sosial (social
care) yang ditimbulkan oleh perusahaan.
3. Tugas Pekerja Sosial Industri
Menurut Johnson (1984:263-264) ada 3 bidang tugas pekerja sosial yang
bekerja di perusahaan antara lain:
a. Kebijakan, perencanaan dan administrasi.
Bidang ini umumnya tidak melibatkan pelayanan sosial secara langsung.
Sebagai
contoh,
perumusan
kebijakan
untuk
peningkatan
karir,
pengadministrasian program-program tindakan afirmatif, pengkoordinasian
program-program jaminan sosial dan bantuan sosial bagi para pekerja , atau
perencanaan kegiatan-kegiatan sosial dalam departemen perusahaan.
b. Praktik langsung dengan individu, keluarga, dan populasi khusus.
Tugas pekerja sosial dalam bidang ini meliputi intervensi krisis (crisis
intervention),
assesmen
(penggalian)
masalah-masalah
personal,
dan
pelayanan rujukan, pemberian konseling bagi para pensiunan atau pekerja
yang menjelang pensiun.
c. Praktik yang mengkombinasikan pelayanan sosial langsung dan perumusan
kebijakan sosial bagi perusahaan.
Para pekerja sosial telah memberikan kontribusi penting dalam memanusiakan
dunia kerja. Mereka umumnya terlibat dalam konseling di dalam maupun di luar
perusahaan, pengorganisasianprogram-program personal, konsultasi dengan manajemen
dan serikat-serikat kerja mengenai konsekuensi kebijakan-kebijakan perusahaan terhadap
pekerja, serta bekerja dengan bagian kesehatan dan kepegawaian untuk meningkatkan
kondisi lingkungan kerja dan kualitas tenaga kerja (Johnson,1994;Suharto,1997).
11
Download