BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERSAINGAN USAHA TIDAK

advertisement
BAB II
TINJAUAN UMUM MENGENAI PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT
2.1 Pengertian Persaingan Usaha dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
Setiap Individu harus diberi ruang gerak tertentu dalam pengambilan
keputusan yang berkaitan dengan “apa”, “berapa banyak” dan ‘bagaimana”
produksi. Suatu proses pasar hanya dapat dikembangkan di dalam struktur
pengambilan keputusan yang terdsentralisasi artinya bahwa terdapat individuindividu independen dalam jumlah secukupnya yang menyediakan pemasokan
dan permintaan dalam suatu pasar, karena proses-proses pasar memerlukan saatsaat aksi dan reaksi pelaku pasar yang tidak dapat diprediksi. Ini adalah satu –
satunya cara untuk menjamin bahwa kekeliruan-kekeliruan perencanaan oleh
individu tidak semakin terakumulasi sehingga akhirnya menghentikan fungsi
pasar.21
Salah satu esensi penting bagi terselenggaranya pasar bebas tersebut adalah
persaingan para pelaku pasar dalam memenuhi kebutuhan konsumen.22 Dalam hal
ini, persaingan usaha merupakan sebuah proses dimana para pelaku usaha dipaksa
menjadi perusahaan yang efisien dengan menawarkan pilihan-pilihan produk
barang dan jasa dalam harga yang lebih rendah. Persaingan hanya bila ada dua
pelaku usaha atau lebih menawarkan produk atau jasa kepada para pelanggan
21
Andi Fahmi Lubis et. al., 2009, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan Konteks, ROV
Creative Media, Jakarta, h.2.
22
Ibid.
19
20
dalam sebuah pasar. Berbicara tentang pasar, pasar memiliki sekurang-kurangnya
tiga fungsi utama, yaitu :



Sebagai fungsi distribusi, pasar berperan sebagai penyalur barang dan
jasa dari produsen ke konsumen melalui transaksi jual beli.
Sebagai fungsi pembentukan harga, di pasar penjual yang melakukan
permintaan atas barang yang dibutuhkan.
Sebagai fungsi promosi, pasar juga dapat digunakan untuk
memperkenalkan produk baru dari produsen kepada calon
konsumennya.23
Untuk merebut hati konsumen, para pelaku usaha berusaha menawarkan
produk dan jasa yang menarik, baik dari segi harga, kualitas dan pelayanan.
Kombinasi ketiga faktor tersebut untuk memenangkan persaingan merebut hati
para konsumen dapat diperoleh melalui inovasi, penerapan teknologi yang tepat,
serta kemampuan manajerial untuk mengarahkan sumber daya perusahaan dalam
memenangkan persaingan. Jika tidak, pelaku usaha akan tersingkir secara alami
dari arena pasar tersebut.
Dari keadaan tersebut diatas, maka persaingan yang terjadi tidak akan
selamanya berjalan sebaik apa yang dicita – citakan, karena tidak bisa dihindari
lagi bahwa adanya kekuatan – kekuatan yang akan muncul nantinya untuk
menguasai pasar demi kepentingan diri sendiri, sehingga menciptakan iklim pasar
yang kurang baik. Munculnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
23
M.Fuad, Christine H, Nurlela, Sugiarto, dan Paulus Y.E.F., 2000, Pengantar Bisnis,
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
21
Sehat merupakan puncak dari berbagai upaya yang mengatur masalah persaingan
antarpelaku usaha dan larangan melakukan praktik monopoli.24
Dalam melakukan persaingan usaha, pelaku usaha melakukan kegiatan
bersaing untuk merebut hati konsumen untuk memenangkan pangsa pasar dengan
upaya menawarkan produk barang atau produk jasa kepada konsumen dengan
berbagai startegi pemasaran yang diterapkannya. 25 Persaingan usaha secara umum
dibagi menjadi dua, yakni persaingan usaha sehat (healthy competition) dan
persaingan usaha tidak sehat (unfair competition).
a. Persaingan Sehat (healthy competition)
Istilah ini menegaskan yang ingin di jamin adalah terciptanya
persaingan yang sehat. Dengan melihat beberapa istilah di atas dapat
dikatakan bahwa apapun istilah yang di pakai, semuanya berkaitan tiga hal
yaitu :
1) Pencegahan atau peniadaan praktek monopoli
2) Menjamin persaingan yang sehat
3) Melarang persaingan yang tidak jujur
Secara umum, konsep dari persaingan usaha secara sehat ini ialah
untuk melindungi pelaku usaha baru baik yang sejenis maupun yang
berkaitan dengan usaha lain yang merupakan pesaingnya. Dengan adanya
konsep persaingan usaha secara sehat ini, pelaku usaha tersebut akan tetap
bisa bersaing. Sehingga kegiatan usaha yang dilakukan pelaku usaha baru ini
24
Rachmadi Usman, 2013, Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta,
h.1.
25
http://eprints.walisongo.ac.id/3575/3/092411001_Bab2.pdf, diakses pada 13 Maret 2016
pukul 20 : 56 WITA.
22
nantinya tidak dapat dibendung oleh pelaku usaha yang sudah lama terdapat
pada suatu pasar tertentu. Setidaknya ada tiga asumsi yang mendasari agar
terjadi persaingan yang sempurna dalam suatu pasar, yakni :
 Pelaku usaha tidak menentukan secara sepihak harga atas produk dan
atau jasa.
 Barang atau jasa yang dihasilkan oleh pelaku usaha adalah betul-betul
sama.
 Konsumen dan pelaku usaha memiliki informasi yang sempurna, baik
berupa kesukaan, tingkat pendapatan, maupun biaya serta teknologi
yang digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa.26
b. Persaingan Tidak Sehat (unfair competition)
Persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha
dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau
jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau
menghambat persaingan usaha. Dalam persaingan usaha tidak sehat, dibagi
kembali menjadi dua jenis yang tergolong persaingan tidak sehat, yakni,
perjanjian yang dilarang dan kegiatan yang dilarang.
Adapun perjanjian yang dilarang yang dimaksudkan disini adalah
segala bentuk perjanjian yang mengakibatkan terjadinya praktik monopoli
dan persaingan usaha tidak sehat. Secara umum, perjanjian diartikan sebagai
suatu peristiwa dimana dua orang atau dua pihak saling berjanji untuk
melakukan suatu hal. Pengertian secara umum tersebut tidak jauh berbeda
dengan penegrtian perjanjian di Kamus Besar Bahasa Indonesia yang
menyatakan bahwa perjanjian adalah persetujuan (tertulis atau dengan lisan)
yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing bersepakat akan
26
Pindyck, Robert S dan Daniel L. Rubinfeld, 1998, Micro Economics, Prentice Hall
International, USA.
23
menaati apa yang telah dipersetujukan. Sedangkan dalam Black’s Law
Dictionary yang dimaksud dengan perjanjian adalah “an agreement between
two or more person which creates an obligation to do or not to do a
particular thing”. Dalam Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat juga tercantum maksud dari perjanjian adalah
suatu perbuatan satu atau lebih pelaku usaha untuk mengikatkan diri terhadap
satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama apapun, baik secara tertulis
maupun tidak tertulis.
Hal yang terpenting dari perjanjian dalam hukum antimonpoli adalah
ikatan. Pihak yang terikat tidak harus melibatkan semua pihak, jika hanya
satu pihak yang terikat juga sudah cukup. Ikatan tersebut dibagi menjadi dua,
yakni :
 Ikatan Hukum
Suatu pihak terikat dengan hukum jika perjanjian yang dilakukan
mengakibatkan kewajiban hukum. Ikatan hukum juga diakibatkan
oleh kewajiban pembayaran ganti rugi satu pihak kepada pihak lain
apabila melanggar ketentuan perjanjian. Mengingat Komisi Pengawas
Persaingan Usaha (KPPU) berwenang membatalkan perjanjian, maka
perjanjian yang menghambat persaingan usaha tidak mengikat
menurut hukum karena dapat dibatalkan. Namun hal ini bukan berarti
suatu perjanjian sebagaimana dimaksud Paal 1 angka 7 tidak
mengikat (bagi pelaku usaha). Ikatan hukum berarti bahwa suatu
24
kewajiban tertentu dilindungi hukum jika tidak melanggar UndangUndang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
 Ikatan Ekonomi
Ikatan ekonomi dihasilkan oleh suatu perjanjian jika ada standar
perilaku tertentu yang harus ditaati bukan karena persyaratan hukum,
tetapi dalam rangka mencegah kerugian ekonomi. Pihak yang
diikutsertakan dalam ikatan ini biasanya menuntut harga yang lebih
rendah agar tidak mengalami kerugian dalam persaingan usaha. Pihak
yang ikut dalam ikatan ini tersebut akan beruntung jika mengikuti
startegi yang disepakati, jika menyimpang dari strategi yang disepkati
maka akan menaglami kerugian. Ikatan ini biasanya lahir secara tegas
dan nyata (express agreement) artinya terjadinya kesepakatan secara
tertulis maupun tidak, serta ada juga secara diam-diam (tacit
agreement) artinya seolah-olah ada perjanjian, padahal itu merupakan
perilaku seseorang atau sekelompok pelaku usaha yang membuat
pelaku usaha lain “ikut” dengan caranya. 27
Dalam persaingan usaha tidak sehat, jenis-jenis perjanjian dilarang adalah :
a. Oligopoli, adalah perjanjian antara pelaku usaha untuk secara bersamasama melakukan penguasaan produksi atau pemasaran barang dan atau
jasa.
27
Mustafa Kamal Rokan, 2012, Hukum Persaingan Usaha Teori dan Praktiknya di Indonesia,
PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta, h. 86-87.
25
b. Penetapan harga, adalah perjanjian antara pelaku usaha untuk
menetapkan harga atas suatu barang dana tau jasa yang harus dibayar
oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama.
c. Pembagian wilayah, adalah perjanjian antara pelaku usaha yang
bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar
terhadap barang dan atau jasa.
d. Pemboikotan,
adalah
perjanjian
antara
pelaku
usaha
untuk
menghalangi pelaku usaha lain guna melakukan usaha yang sama, baik
untuk tujuan pasar dalam negeri maupun luar negeri.
e. Trust, adalah perjanjian antara pelaku usaha guna melakukan kerja
sama dengan membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang
lebih besar, dengan tetap menjaga dan mempertahankan kelangsungan
hidup masing-masing perusahaan dan perseroan anggotanya, yang
bertujuan untuk mengontrol produksi dana tau pemasaran atas barang
atau jasa.
f. Oligopsoni, adalah perjanjian antara pelaku usaha yang bertujuan
untuk secara bersama-sama menguasai pembelian atau penerimaan
pasokan agar dapat mengendalikan harga atas barang dana tau jasa
dalam pasar bersangkutan.
g. Integrasi vertikal, adalah perjanjian antara pelaku usaha yang bertujuan
untuk menguasai produksi sejumlah produk yang termasuk dalam
rangkaian produksi barang dan atau jasa tertentu, yang mana setiap
26
rangkaian produksi merupakan hasil pengolahan atas proses lanjutan,
baik dalam satu rangkaian langsung maupun tidak langsung.
h. Perjanjian tertutup, adalah perjanjian antara pelaku usaha yang
memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa
hanya akan memasok kembali barang dan atau jasa tersebut kepada
pihak tertentu dana atau tempat tertentu.
i. Perjanjian dengan pihak luar negeri, adalah pejanjian dengan pihak
luar negeri yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat.
Selain perjanjian yang dilarang, persaingan usaha tidak sehat dapat muncul
dari faktor kegiatan yang dilarang. Pada dasarnya, kegiatan adala suatu aktivitas,
usaha, atau pekerjaan. Dalam Black’s Law Dictionary, kegiatan adalah “an
occupation or pursuit in which person in active”.
Dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli
dan Persaingan Usaha Tidak Sehat tidak ditentukan suatu rumusan mengenai
kegiatan sebagaimana halnya perjanjian. Oleh karena itu, dengan berdasarkan
pengertian perjanjian yang dirumuskan dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat, maka dapat dirumuskan bahwa, kegiatan adalah
suatu aktivitas yang dilakukan oleh satu atau lebih pelaku usaha yang berkaitan
dengan proses dalam menjalankan kegiatan usahanya. Jadi, kegiatan yang
dilarang merupakan kegiatan yang dilakuakn oleh satu atau lebih pelaku usaha
yang mengakibatkan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
27
Adapun jenis-jenis dari kegiatan yang dilarang menurut Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1999 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999
tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah
sebagai berikut :
a. Monopoli, adalah kegiatan melakukan penguasaan atas produksi dan
atau jasa.
b. Monopsoni, adalah kegiatan yang menguasai penerimaan pasokan atau
menjadi pembeli tunggal atas barang dan atau jasa dalam pasar yang
bersangkutan.
c. Penguasaan pasar, adalah kegiatan baik sendiri ataupun bersama-sama
pelaku usaha lain berupa menolak atau menghalangi pelaku usaha lain
untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar yang
bersangkutan, atau meatikan usaha pesaingnya di pasar yang
bersangkutan.
d. Kegiatan jual rugi, adalah kegiatan pemasokan barang dan atau jasa
dengan cara melakukan jual rugi atau menetapkan harga yang sangat
rendah dengan maksud menyingkirkan atau mematikan usaha
pesaingnya.
e. Kegiatan penetapan biaya produksi secara curang, adalah kegiatan
melakukan kecurangan dalam menetapkan biaya produksi dan biaya
lainnya yang menjadi komponen harga barang dan atau jasa.
28
f. Persekongkolan, adalah kegiatan bersekongkol dengan pihak lain
untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender.28
2.2 Asas-Asas Dalam Melakukan Persaingan Usaha
Perusahaan dalam melakukan strategi pemasaran, harus berpedoman pada asas
untuk melakukan suatu persaingan usaha. Dalam Pasal 2 Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli
dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, dinyatakan bahwa “pelaku usaha di Indonesia
dalam menjalankan kegiatan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan
memerhatikan keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan
umum”. Adapun asas-asasnya sebagai berikut :

Asas itikad baik (good faith) harus dimiliki oleh seluruh pelaku usaha
ketika melakukan suatu persaingan usaha. Itikad baik menurut Sutan
Remy Sjahdeini secara umum adalah niat dari pihak yang satu dalam
suatu perjanjian untuk tidak merugikan mitra janjinya maupun tidak
merugikan kepentingan umum". 29

Asas kepastian hukum, bahwa salah satu fungsi ditetapkannya norma
hukum adalah untuk menjamin adanya kepastian hukum itu sendiri.
Gustav Radbruch sebagaimana dikutip oleh Esmi Warassih,30
mengemukakan adanya tiga nilai dasar yang ingin dikejar oleh hukum,
yakni nilai keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan. Dengan
28
Rachmadi Usman, op.cit, h. 369.
Sjahdeini, Sutan Remy, 1993, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Seimbang bagi
Para Pihak dalam Perjanjian Kredit di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, Jakarta. h.112.
30
Esmi Warassih, Tanpa Tahun Terbit, Pranata Hukum , Sebuah Telaah Sosiologis,
PT.Suryandanu Utama, Semarang, hal. 13.
29
29
adanya fungsi kepastian hukum dari norma hukum, maka pengaturan
tentang persaingan usaha tidak sehat dapat dilaksanakan dengan baik.

Asas demokrasi ekonomi, adalah suatu asas yang mengarahkan pada
setiap kegiatan ekonomi yang dilakukan harus berdasarkan pada
kepentingan kerakyatan secara keseluruhan.

Asas kepentingan umum adalah suatu asas yang mendasarkan diri pada
wewenang negara untuk melindungi dan mengatur kepentingan dalam
kehidupan bermasyarakat
2.3 Unsur – Unsur Persaingan Usaha Tidak Sehat
Pasal 1 huruf f Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999
tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
menyebutkan pengertian persaingan usaha tidak sehat, adalah persaingan antar
pelaku dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dana tau
jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau
menghambat persaingan usaha. Berdasarkan bunyi pasal diatas, dapat ditemukan
beberapa unsur yang menjadi parameter suatu kegiatan usaha melakukan
persaingan usaha tidak sehat, yakni :
a. Adanya pelaku usaha, yang dimaksud dengan pelaku usaha
adalah setiap orang-perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk
badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan
berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Negara
Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui
30
perjanjian, menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang
ekonomi.
b. Menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau
jasa, yang dimaksud adalah pada saat melakukan kegiatan usahanya
tersebut, pelaku usaha yang bersangkutan menghasilkan produksi baik
berupa barang ataupun jasa.
Dilakukan secara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan
usaha. Secara tidak jujur, mengartikan bahwa tidak adanya itikad baik pelaku
usaha dalam kegiatannya untuk melakukan persaingan usaha. Melawan hukum
artinya adanya ketentuan yang dilanggar akibat kegiatan usaha yang dijalankan
tersebut. Sedangkan menghambat persaingan usaha, artinya ada usaha lain yang
terkena dampak berupa penghambatan produksi barang dana tau jasa yang
dihasilkan oleh pesaing usaha tersebut.
Download