BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan

advertisement
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan dibahas teori penunjang yang mendukung penelitian. Teori
penunjang tersebut meliputi teori tentang Pekerja Sektor Informal, Teknologi Selular,
Database Terdistribusi, dan Java Micro Edition. Selain itu, pada bab ini juga akan
dijabarkan penelitian-penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang akan
dibuat dan kontribusi penelitian.
2.1.
Pekerja Sektor Informal
Sejak krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1997, banyak perusahaan di
sektor formal mengalami penurunan angka produksi, bahkan ada yang harus berhenti
beroperasi. Dampaknya yaitu pemutusan hubungan kerja [14]. Hal ini menyebabkan
para pengangguran ini berusaha bekerja di sektor pekerjaan informal. Selain itu
tingginya tingkat urbanisasi juga merupakan salah satu faktor penyebab
berkembangnya pekerjaan di sektor informal. Pekerja informal adalah pekerja dengan
pekerjaan yang tidak menghasilkan pendapatan tetap, tempat pekerjaan yang tidak
terdapat keamanan kerja (job security), tempat bekerja yang tidak ada status
permanen atas pekerjaan tersebut dan unit usaha atau lembaga yang tidak berbadan
hukum [5].
Universitas Sumatera Utara
2.1.1. Sektor konstruksi bangunan
Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia sedang giat melakukan
pembangunan di segala bidang. Salah satu bidang yang banyak menyerap tenaga
kerja informal adalah bidang konstruksi bangunan [15]. Hal ini disebabkan tenaga
kerja adalah salah satu komponen penting dalam industri jasa pelaksanaan konstruksi
[14]. Hampir semua bagian dan detail pekerjaan konstruksi masih memerlukan tenaga
kerja manusia. Secara umum terdapat lima macam tenaga kerja dalam bidang
konstruksi yaitu konsultan, arsitektur, pengawas, mandor dan tukang [16]. Pada
penelitian ini yang akan dibahas adalah tenaga kerja mandor dan tukang.
2.1.1.1.Mandor/kepala tukang
Mandor atau kepala tukang adalah orang yang membawahi belasan hingga
ratusan tukang dan kenek [16]. Jika menggunakan sistem borongan maka ia adalah
orang yang membayar gaji tukang yang ditagih ke kontraktor sebagai pelaksana. Pada
prakteknya, seorang mandor akan mencari tukang dan kenek untuk dipekerjakan.
Hubungan kerja antara mandor dan tukang tidak mempunyai ikatan formal atau tidak
ada kontrak hitam di atas putih.
2.1.1.2.Tukang
Tukang adalah pekerja atau buruh bangunan yang pekerjaannya membangun
rumah atau bangunan. Keahliannya juga berbeda-beda mulai dari tukang batu, tukang
kayu, tukang finishing hingga tukang listrik [16]. Untuk membantu tugas tukang
Universitas Sumatera Utara
biasanya seorang mandor akan mempekerjakan seorang kenek. Kenek adalah
pekerjaan dibawah tukang yang bertugas membantu pekerjaan tukang.
2.1.2.
Kriteria pencarian proyek kerja
Seorang mandor ketika mendapatkan pekerjaan akan mencari tukang untuk
dipekerjakan [16]. Dalam prakteknya, seorang mandor akan mencari tukang
berdasarkan krteria-kriteria tertentu. Diantaranya yaitu spesifikasi keahlian tukang,
upah tukang dan wilayah proyek kerja.
2.1.2.1. Spesifikasi keahlian tukang
Tenaga kerja tukang yang dibutuhkan dalam suatu proyek konstruksi untuk
berbagai jenis pekerjaan yang ada dilapangan akan berbeda antara satu dengan yang
lainnya. Menurut Ikatan Arsitek Indonesia perbedaan ini disebabkan karena setiap
jenis pekerjaan konstruksi yang dilakukan membutuhkan keahlian tenaga kerja yang
berbeda-beda [16]. Untuk itu seorang mandor akan mencari tukang berdasarkan
keahlian yang dibutuhkan di lapangan. Adapun pembagian spesifikasi tukang
berdasarkan keahliannya adalah sebagai berikut [14]:
Tukang Rangka Baja
Tukang Kayu
c. Tukang Listrik / Instrumen
d. Tukang Besi
e. Tukang Keramik
Universitas Sumatera Utara
f. Tukang Batu
g. Tukang Cat
h. Tukang Batu
i. Tukang Pemasang Pipa
j. Dan lain sebagainya
Biasanya seorang tukang hanya dapat mendalami satu keahlian saja, namun
ada juga tukang yang dapat menguasai lebih dari satu keahlian. Contohnya tukang
keramik dapat mengerjakan tugas dari tukang batu namun tidak semua tukang batu
dapat mengerjakan tugas seorang tukang keramik. Keahlian-keahlian ini didapatkan
dari pendidikan formal maupun non formal. Sebuah lembaga pemerintah yaitu
Lembaga
Pengembangan
Jasa
Konstruksi
Nasional
(LPJK)
bertugas
menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan keterampilan kerja jasa konstruksi [17].
Pendidikan formal ini akan membentuk suatu Badan Sertifikasi Keterampilan
Institusi Diklat yaitu Badan penyelenggara sertifikasi yang independen dan mandiri,
yang menyelenggarakan pengujian keterampilan kerja untuk proses sertifikasi
keterampilan kerja tertentu [17]. Dengan itu seorang tukang yang telah mendapatkan
sertifikasi suatu bidang keahlian telah mendapat pengakuan tertulis tentang
keahliannya tersebut. Selain dari pendidikan formal keahlian ini juga bisa didapatkan
dari pengalaman kerja. Biasanya sebelum menjadi seorang tukang, seorang buruh
bangunan dipekerjakan sebagai kenet terlebih dahulu. Lama kelamaan kenet akan
mahir dan bisa menjadi tukang dengan keahlian tertentu.
Universitas Sumatera Utara
2.1.2.2.Upah kerja
Biasanya seorang mandor akan membayar tukang dan kenek dengan upah
yang dihitung secara harian. Besarnya upah harian tukang dan kenek berdasarkan
kesepakatan antara kedua pihak. Salah satu pertimbangan tukang menerima suatu
pekerjaan dari seorang mandor ataupun sebaliknya yaitu berdasarkan kesepakatan
besar upah harian yang diberikan mandor kepada tukang. Belum adanya standarisasi
upah kadangkala membuat adanya kemungkinan salah satu pihak dirugikan [6].
2.1.2.3.Wilayah kerja
Kadangkala seorang mandor tetap mempertahankan tukang yang pernah
dipekerjakan untuk melaksanakan proyek kerja baru. Tak jarang jika ada proyek di
luar kota mandor akan memboyong tukang-tukang ini untuk dipekerjakan. Biasanya
para tukang ini akan mendapatkan upah lebih karena wilayah kerja yang berada di
luar kota. Wilayah kerja merupakan salah satu kriteria dalam pencarian kerja. Karena
tak selamanya seorang tukang bersedia kerja diluar kota karena berbagai alasan
diantaranya upah kerja yang tak dapat menutupi biaya hidup di luar kota, jauh dari
keluarga dan lain sebagainya.
2.2.
Teknologi Selular
Telepon selular (ponsel) adalah perangkat elektronik yang berfungsi
sebagaimana pesawat telepon normal, yang dapat bergerak pada suatu area yang luas.
Saat ini industri ponsel mengalami perkembangan yang pesat dalam dua dekade
Universitas Sumatera Utara
terakhir, baik di negara maju ataupun negara berkembang. Di Indonesia telepon
seluler telah mengubah peta industri telekomunikasi secara tajam. Ponsel yang
dulunya merupakan barang mewah, sehingga hanya kelompok kalangan tertentu yang
bisa menikmatinya, sekarang dengan semakin murahnya harga ponsel maka dapat
dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat [18]. Ponsel telah digunakan baik itu dari
lapisan masyarakat elit sampai buruh bangunan, dari kota besar sampai pelosokpelosok di seluruh Indonesia dapat mengakses sarana telekomunikasi yang ada.
Semua lapisan masyarakat memiliki akses untuk dapat menggunakan sarana
telekomunikasi untuk berbagai keperluan, baik untuk urusan bisnis, keluarga, ataupun
keperluan lainnya. Saat ini ponsel telah menjadi “Part of life” dari penduduk
Indonesia.
Dari sisi teknologi ponsel telah mengalami perkembangan pesat dari generasi
pertama sampai dengan generasi ke empat. Perkembangan teknologi ponsel dapat
dirangkum sebagai berikut [18]:
a. Generasi pertama: hampir seluruh sistem pada generasi ini merupakan
sistem analog dengan kecepatan rendah (low-speed) dan suara sebagai
objek utama. Contoh: NMT (Nordic Mobile Telephone) dan AMPS
(Analog Mobile Phone System).
b. Generasi kedua: dijadikan standar komersial dengan format digital,
kecepatan rendah - menengah. Contoh: GSM dan CDMA2000 1xRTT.
c. Generasi ketiga: lahir di awal era tahun 2000 berformat digital dengan
berbasiskan kombinasi antara circuit switching dan packet switching
Universitas Sumatera Utara
sehingga dapat meningkatkan kecepatan akses data hingga mencapai 2
mbps, mampu mentransfer data dengan kecepatan tinggi (high-speed) dan
aplikasi multimedia, untuk pita lebar (broadband). Contoh: W-CDMA
(atau dikenal juga dengan UMTS) dan CDMA2000 1xEV-DO.
d. Generasi Keempat (4G) merupakan kelanjutan dari teknologi 3G, tidak
hanya menjanjikan kecepatan hingga mencapai 100 mbps, namun juga
beberapa hal lain yaitu sistem hanya berbasiskan switching, solusi one
device one IP yang memungkinkan kita terkoneksi kapan saja dan di mana
saja, keamanan yang terjamin dan harganya yang terjangkau.
Saat ini fasilitas ponsel yang banyak digunakan meliputi Voice function, Short
Message Service (SMS), packet switching untuk Internet dan Multimedia Message
Service (MMS).
2.2.1. Teknologi selular sebagai salah satu solusi permasalahan
Perusahaan komersil telah melihat perkembangan pemakaian ponsel
masyarakat dunia semakin pesat dari waktu ke waktu. Perusahaan-perusahaan ini
memanfaatkan media ponsel untuk mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat.
Hal ini ditandai dengan maraknya bermunculan aplikasi-aplikasi berbasis ponsel
untuk mengatasi permasalahan yang umum seperti aplikasi sistem pencarian kerja,
aplikasi kesehatan, aplikasi pertanian, aplikasi sosial budaya dan aplikasi lainnya
[19]. Selain perusahaan komersil, para peneliti dan akademisi khususnya di bidang
teknologi informasi juga berlomba untuk menciptakan suatu inovasi berbasis ponsel.
Universitas Sumatera Utara
Acara atau event seperti konferensi Mobile For Development (M4D) dilakukan secara
periodik untuk menampung ide dari para peneliti agar menghasilkan inovasi berbasis
ponsel yang dapat mengatasi permasalahan sosial budaya [13].
Menurut Jonathan Donner, Katrin Verclas dan Kentaro Toyoma dalam jurnal
mereka yang berjudul “Reflections on MobileActive 2008 and the M4D Landscape”,
suatu sistem dapat dikatakan sukses, jika dapat mencapai tujuan dengan
menyelesaikan permasalahan yang ada dengan menerapkan pilihan spesifikasi
perancangan yang sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan [13]. Dalam jurnal
yang sama dijabarkan terdapat empat kategori yang dapat mempengaruhi pilihan
spesifikasi dalam perancangan sistem berbasis ponsel yaitu siapa yang akan
menggunakan sistem, pemilihan cara aksesibilitas sistem yang sesuai, pemilihan
teknologi pendukung yang sesuai dan bagaimana ketergantungan sistem terhadap
operator atau merk ponsel tertentu [13]. Empat kategori tersebut adalah:
a.
Siapa pengguna sistem
Tahapan ini akan menjelaskan apakah sistem ditujukan untuk masyarakat
umum atau untuk suatu kalangan tertentu saja. Tahapan ini juga dapat
mempengaruhi pilihan spesifikasi dalam perancangan sistem. Misalkan jika
pengguna sistem merupakan masyarakat dengan penghasilan rendah maka
sistem harus dapat berjalan di ponsel biasa dan bukan smart phone karena
rata-rata masyarakat berpenghasilan rendah tidak mampu membeli ponsel
smart phone yang relatif mahal.
Universitas Sumatera Utara
b.
Bagaimana aksesibilitas sistem
Terdapat beberapa pilihan cara aksesibilitas sistem. Misalkan aksesibilitas
yang dapat dicakup oleh seluruh jenis ponsel dan operator seperti SMS dan
Voice ataupun pengaksesan yang hanya dapat dijangkau oleh sebagian ponsel
saja seperti GPRS, WiFi, Bluetooth dan infra red. Contohnya adalah aplikasi
Souktel yang berbasis SMS [8] dan aplikasi Mobile JobHunt yang berbasis
GPRS [20].
c.
Apakah sistem terhubung pada teknologi lain
Beberapa sistem berbasis ponsel terhubung dengan teknologi lain seperti WEB
atau database. Untuk sistem yang membutuhkan media penyimpanan data
seperti database perlu dipikirkan pemilihan penyimpanan data yang paling
sesuai mengingat ponsel hanya memiliki kapasitas memori dan layar terbatas,
seperti mekanisme konfigurasi jaringan, penyimpanan dan pengaksesan data
yang paling cocok. Terdapat beberapa pilihan teknologi seperti database
terpusat maupun database terdistribusi. Jika pilihan jatuh
pada database
terpusat harus dipikirkan siapa yang akan mengelola database bagimana jika
server rusak. Jika menggunakan database terdistribusi perlu dipikirkan
algiritma pencarian data, mekanisme alokasi data, cara transmisi data dan
pemrosesan query. Sebagai Contoh adalah aplikasi Souktel yang telah di
implementasikan di Negara Palestina yang terhubung pada suatu server
database yang dikelola oleh perusahaan Souktel [8,21]
Universitas Sumatera Utara
d.
Ketergantungan sistem
Sistem dapat dirancang secara independent atau tidak tergantung pada suatu
operator maupun suatu merk ponsel tertentu. Namun beberapa sistem memang
dibangun dengan dukungan suatu operator selular ataupun perusahaan ponsel
tertentu. Contohnya adalah aplikasi Mobile JobHunt yang sejak tahun 2009 mulai
di implementasikan di Cina hanya dapat dijalankan pada ponsel Nokia tipe
tertentu [22].
2.2.2. Perancangan aplikasi berbasis teknologi selular
Perancangan aplikasi berbasis ponsel berbeda dengan perancangan aplikasi
berbasis komputer [23]. Hal ini disebabkan media ponsel memiliki kapasitas
memori dan instruksi terbatas. Beragamnya jenis ponsel dan operator juga menjadi
bahan pertimbangan sistem yang dirancang. Tabel 2.1 akan menjelaskan
karakteristik piranti ponsel umum.
Universitas Sumatera Utara
2.3.
Database Terdistribusi
Pada dasarnya sistem manajemen database terdistribusi merupakan salah satu
pengembangan sistem database. Database terdistribusi adalah sekumpulan data
yang saling terhubung secara logik tapi tersebar secara fisik pada suatu jaringan
komputer [24]. Ilustrasi Teknologi database terdistribusi dapat dilihat pada Gambar
2.1 dimana teknologi ini melibatkan penggabungan 2 konsep yang berbeda, yaitu
integrasi menyeluruh elemen database dengan distribusi menyeluruh elemen
jaringan. Dengan kata lain, distribusi data ini memungkinkan unit lain dapat
mengakses data dari suatu unit tertentu [24].
Network
Distributed
++
DB
DDB
=
Integrasi
Gambar 2.1 Konsep database terdistribusi
Pada
sistem
database
terdistribusi
terdapat
beberapa
cara
untuk
mentransmisikan data atau file antar site. Yang pertama data dikirim ke komputer
pengolahan (yang melakukan transaksi) dan yang kedua yaitu transaksi dikirim ke
dan diolah di lokasi data. Pemilihan cara pentransmisisan data tergantung dari mesin
dan aplikasinya [25].
Universitas Sumatera Utara
Terdapat 2 jenis tipe sistem dari database terdistribusi yaitu sistem yang
homogen dan sistem heterogen. Dimana sistem homogen yaitu sistem database
terdistribusi yang menghubungkan Database Management System (DBMS) yang
bertipe sama, kompatibel, memiliki struktur dan deskripsi data yang sama. Sedangkan
sistem heterogen merupakan sistem database yang menghubungkan DBMS yang
tidak memiliki struktur dan deskripsi data yang sama sehingga membutuhkan suatu
standar agar dapat menginterkoneksikan database dari pembuat yang berbeda [25].
Site-site dalam database terdistribusi dihubungkan secara fisik dengan berbagai cara.
Beberapa topologi digambarkan sebagai sebuah graph yang simpul-simpulnya
bersesuaian dengan site. Sebuah edge dari simpul A ke simpul B bersesuaian dengan
sebuah hubungan langsung antara dua site. Beberapa konfigurasi (bentuk) dapat
dilihat pada Gambar 2.2 [26]:
Gambar 2. 2 Konfigurasi database terdistribusi
Universitas Sumatera Utara
Beberapa keuntungan dari sistem database terdistribusi dibandingkan dengan
database terpusat adalah [24] :
a. Pengelolaan secara transparan data terdistribusi dan replikasi.
1. Mengurangi ketergantungan data
2. Transparansi jaringan
3. Transparansi replikasi
4. Transparansi fragmentasi
b. Mengacu pada struktur organisasi
c. Meningkatkan kemampuan untuk berbagi dan otonomi lokal
d. Meningkatkan ketersediaan data
e. Meningkatkan kehandalan
f. Meningkatkan unjuk kerja
g. Memudahkan pengembangan system
Pada penerapan database terdistribusi terdapat beberapa kelemahan
dibandingkan dengan database terpusat yaitu [24]:
a. Kompleksitas manajemen
b. Control integritas lebih sulit
c. Biaya pengembangan
d. Keamanan
e. Kurang standarisasi
f. Menambahkan kebutuhan penyimpanan
Universitas Sumatera Utara
g. Lebih sulit dalam mengatur lingkungan data
h. Menambah biaya pelatihan.
2.4.
Java Micro Edition (Java ME)
Java ME diperkenalkan oleh Sun Microsystem tahun 1999 dimana Java ME
adalah salah satu edisi pemrograman Java yang didesain khusus untuk perangkat
selular yang memiliki keterbatasan baik dari segi memori maupun tampilan [27].
Java ME pada dasarnya adalah subset dari edisi standar Java yaitu edisi Java 2
Standard Edition (J2SE) [28]. Java ME terdiri dari satu set spesifikasi dan teknologi
yang fokus kepada perangkat konsumen yang memiliki jumlah memori yang terbatas,
menghabiskan sedikit daya dari baterai, layar yang kecil dan bandwith jaringan yang
rendah seperti ponsel, PDA, peralatan rumah tangga, remote AC dan lain sebagainya
[29]. Program Java ME, seperti semua program JAVA adalah diterjemahkan oleh
Virtual Machine (VM). Program-program tersebut di-compile ke dalam bytecode dan
diterjemahkan denga Java Virtual Machine (JVM). Ini berarti bahwa programprogram tersebut tidak berhubungan langsung dengan perangkat. Java ME
menyediakan suatu antar muka yang sesuai dengan perangkat [23]. Aplikasi-aplikasi
tersebut tidak harus di-compile ulang supaya mampu dijalankan pada mesin yang
berbeda. Arsitektur Java ME dapat dilihat pada Gambar 2.3.
Universitas Sumatera Utara
APPLICATIONS
OEM
OPTIONAL
PROFILE
API’S
PACKAGE
LIBRARIES
CONFIGURATION
JAVA VIRTUAL MACHINE
DEVICE OPERATING SYSTEM
Gambar 2.3 Arsitektur Java ME
Java ME terbagi menjadi dua bagian utama yang dikenal sebagai
configuration dan profile [29]. Dua istilah ini sangatlah penting dalam pengembangan
aplikasi wireless dengan Java sehingga harus dipahami dengan baik. Sebuah profile
dibangun dalam sebuah configuration namun harus ditambahkan beberapa API
(Application Program Interface) khusus agar dihasilkan sebuah lingkungan yang
lengkap
untuk
membangun
aplikasi.
Sedangkan
sebuah
configuration
mendeskripsikan sebuah JVM dan sekumpulan API dasar, dan hal ini tidak cukup
untuk membangun sebuah aplikasi yang lengkap. Profiles biasanya termasuk API-
Universitas Sumatera Utara
API untuk aplikasi lifecycle, user inteface, dan penyimpanan secara kontinu. Java ME
configuration mendefinisikan lingkungan kerja Java ME runtime. Oleh karena
masing-masing piranti ponsel memiliki fitur-fitur yang berbeda-beda, Java ME
configuration
dirancang
untuk
menyediakan
library
standar
yang
mengimplementasikan fitur standar dari ponsel.
Bila Java ME configuration menyediakan library Java untuk implementasi
fitur-fitur standar dari sebuah piranti ponsel maka Java ME profile menyediakan
implementasi tambahan yang sangat spesifik untuk sebuah piranti ponsel [29]. MIDP
(Mobile Information Device Profile) menyediakan library-library Java untuk
implementasi dasar Graphical User Interface (GUI), implementasi networking,
database, dan timer. MIDP dirancang khusus untuk wireless phone dan pager.
Beberapa perusahaan mengembangkan sendiri Java ME profile, misalnya NTT
Docomo, yang mengembangkan J2ME profile yang spesifik untuk perangkat keras
yang dimiliki NTT Docomo. Keuntungan yang paling menonjol dari Java ME
dibandingkan
dengan
teknologi
wireless
sebelumnya
adalah
security
dan
disconnected access dan synchronization [23].
2.4.1. MIDlet
MIDlet adalah sebutan untuk aplikasi-aplikasi ponsel dengan menggunakan
profil MIDP [30]. MIDP digunakan pada piranti ponsel yang umum dengan
kemampuan CPU, memori, keyboard, dan layar yang terbatas [29]. Arsitektur tingkat
Universitas Sumatera Utara
tinggi dari sebuah aplikasi MIDP ditunjukkan oleh Gambar 2.4.
Aplikasi Spesifik
OEM
Aplikasi
MIDP
MIDP
Native
Application
Class
Khusus
OEM
CLDC
MID Native Software
MID
Gambar 2.4 Arsitektur sebuah aplikasi MIDP
Secara umum, terdapat beberapa hal penting dalam membuat sebuah aplikasi
MIDlet, yaitu menyangkut lifecycle, user interface, command handling, deployment
dan Application Management. Paket javax.microedition.midlet memiliki kelas MIDlet
yang mendefinisikan MIDP.
2.4.2. Record Management Store (RMS)
Pada pemrograman MIDP tidak dikenal adanya penyimpanan data ke dalam
file. Hal ini disebabkan karena pada umumnya piranti ponsel tidak memiliki sistem
file. Untuk mengantisipasi hal tersebut, MIDP telah menyediakan sebuah mekanisme
penyimpanan data secara persisten (tetap) di memori ponsel [30]. Mekanisme ini
Universitas Sumatera Utara
disebut dengan Record Management System (RMS). Record yang telah ditempatkan
di dalam ruang penyimpanan selanjutnya dapat di ambil kembali untuk kemudian
digunakan kembali sesuai kebutuhan. Ruang penyimpanan yang tetap adalah sebuah
tempat non-volatil untuk menyimpan data dalam sebuah aplikasi. Di sinilah record
akan disimpan [30]. Tiap record memiliki nama yang unik untuk membedakannya
denganr record yang lain. Jumlah penyimpanan data pada tiap ponsel tidak sama dan
bervariasi. Setiap MIDlet yang menggunakan RMS harus menspesifikasikan jumlah
minimum dari penyimpanan yang diperlukan pada JAR (Java Archive) manifest dan
application descriptor.
2.5.
Penelitian Terkait
Ada beberapa riset yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu berkaitan
dengan permasalahan sosial yang terjadi di negara berkembang khususnya yang
berkaitan dengan penelitian ini. Seperti yang akan dijelaskan di bawah ini. I. Medhi,
G. Menon Hamza, dan K. Toyama [9] dalam risetnya menjelaskan tantangan yang
dihadapi untuk penerapan sistem pencari kerja berbasis komputer yang membantu
mencocokkan pekerja berpenghasilan rendah dari daerah kumuh perkotaan dengan
majikan kelas menengah di Bangalore, India. Pada riset ini dijelaskan walaupun para
peneliti
menyadari
penerapan
teknologi
dapat
membantu
menyelesaikan
permasalahan yang banyak dihadapi oleh para pekerja informal di negara
berkembang, namun penerapannya sering membutuhkan pekerjaan di luar suatu
Universitas Sumatera Utara
implementasi teknologi, dimana peran penting dipegang oleh manusia yang dapat
dipercaya sebagai perantaranya. Kendala yang dihadapi yaitu para pekerja ini tidak
tahu cara mempergunakan komputer karena mereka tidak terbiasa mempergunakan
komputer.
Selanjutnya riset yang dilakukan oleh David L Van Rooy, A. Alonso, Z.
Fairchild [12] dalam risetnya target yang dituju adalah penduduk umum dan bukan
pekerja informal secara khusus. Pada riset ini para peneliti
membahas tentang
perbandingan banyaknya jumlah pekerjaan yang didapat antara dua metode. Metode
tersebut yaitu metode pencarian kerja dengan memanfaatkan teknologi internet
dibandingkan dengan metode pencarian kerja tradisional. Hasil yang didapat pada
penelitian ini bahwa metode pencarian dengan memanfaatkan teknologi terbukti
dapat mencari kesempatan kerja lebih banyak dibandingkan dengan metode
tradisional,
namun
hasil
terbaik
didapatkan
oleh
para
pekerja
yang
mengkombinasikan kedua metode ini. B. Banerjee dan G.A Bucci [7] membuat riset
tentang sistem pencarian kerja bagi tenaga migran di negara berkembang dengan
studi analisa di Negara India. Pada riset ini diketahui tenaga migran walaupun sudah
bekerja namun sering mencari kerja lain yang lebih menjanjikan. Dari hasil penelitian
didapatkan jika pekerja di sektor informal walaupun sudah bekerja lebih sering
mencari pekerjaan lainnya yang lebih baik dibandingkan dengan pekerja di sektor
formal yang lebih jarang mencari pekerjaan lain jika telah bekerja.
Selanjutnya penelitian yang memanfaatkan teknologi ponsel seperti yang
dilakukan oleh J. Donner, K. Verclas dan K. Toyama [13] membahas tentang
Universitas Sumatera Utara
keanekaragaman proyek berbasis ponsel yang dipresentasikan pada MobileActive
2008 di Johanesburg untuk mengatasi permasalahan sosial budaya yang dihadapi oleh
negara-negara berkembang. Pada riset ini, masing-masing proyek dibahas dalam
beberapa kategori untuk dilihat kelebihan dan kekurangannya. Selain dari penelitian
dan riset terdahulu, ada beberapa sistem berbasis ponsel yang dibangun oleh
perusahaan komersial yang dipakai sebagai bahan perbandingan pada penelitian ini.
sistem tersebut diantaranya mobile JobHunt yaitu sistem pencari kerja yang dibangun
oleh perusahaan ponsel raksasa Nokia, yang diluncurkan pada tahun 2009. Aplikasi
yang kini telah mulai dijalankan di Cina, ini adalah software yang dikembangkan
oleh perusahaan software LEG khusus untuk ponsel Nokia tipe 40 [19] [20]. Selain
itu perusahaan Cogilent Solution dari Pakistan juga sudah membangun sistem
pencarian kerja yang bernama m-Employment dimana aplikasi ini memungkinkan
para pekerja dapat mengakses portal pencarian kerja dengan koneksi SMS [19].
Aplikasi lainnya adalah aplikasi sistem pencarian kerja Souktel yang telah
diaplikasikan di Palestina. Aplikasi ini adalah aplikasi yang “menjodohkan” antara si
pencari kerja dengan si pemberi kerja. Aplikasi ini dikhususkan bagi penduduk di
daerah Palestina yang ingin mencari kerja melalui ponsel. Sistem ini memungkinkan
pengaksesan database pekerjaan yang dikelola oleh Souktel [13,21].
2.5.1. Persamaan dengan penelitian lain
Dari beberapa riset dan aplikasi yang telah dilakukan peneliti sebelumnya,
Universitas Sumatera Utara
terdapat beberapa titik persamaan dengan riset yang akan dilakukan ini yaitu :
a. Merupakan Penelitian Tentang Sistem Pencarian Kerja
Sistem yang akan dibangun memiliki persamaan yaitu membahas tentang
sistem pencarian kerja seperti yang dilakukan oleh penelitian [7,9,21].
b. Pemanfaatan Teknologi Ponsel
Pada riset sebelumnya dan riset yang akan dilakukan saat ini mempunyai
persamaan yaitu pemanfaatan teknologi ponsel untuk menyelesaikan
permasalahan sistem pencarian kerjaseperti yang dilakukan oleh penelitian.
c. Database Terdistribusi
Sistem yang akan dibangun pada penelitian ini merupakan sistem database
terdistribusi seperti pada penelitian.
2.5.2. Perbedaan dengan penelitian lain
Dari beberapa riset yang telah dilakukan peneliti sebelumnya, terdapat
beberapa titik perbedaan dengan riset yang akan dilakukan ini yaitu:
a. Salah satu yang membedakan riset ini dengan riset lainnya adalah lokasi
penelitian. Lokasi penelitian menjadi penting mengingat setiap tempat
memiliki keadaan sosial budaya yang berbeda sehingga juga akan
mempengaruhi pemilihan teknologi yang digunakan. Penelitian ini dilakukan
di Indonesia dengan target user yaitu pekerja informal khususnya buruh
bangunan sedangkan penelitian [20] merupakan sistem pencari kerja bagi
Universitas Sumatera Utara
masyarakat umum di Negara China dan penelitian [21] merupakan sistem
pencari kerja untuk masyarakat umum di Negara Palestina.
b. Cara kerja sistem yang akan dirancang berbeda sistem yang telah
diimplementasikan di beberapa negara, pada sistem yang akan dirancang ini,
sistemlah yang mengambil keputusan untuk menentukan “the best match”
antara pekerja dan majikan dengan membandingkan beberapa kriteria tertentu,
hal ini berbeda dengan aplikasi Souktel dan Job-Hunt yang menampilkan
beberapa hasil pencarian lalu user akan memilih salah satu hasil pencarian
untuk ditindak lanjuti [8,20,21].
c. Sistem yang akan dirancang pada penelitian ini merupakan database
terdistribusi dengan memanfaatkan jaringan ponsel, hal ini berbeda dengan
penelitian tentang database terdistribusi pada penelitian [10,31,32,33] yang
tidak menggunakan jaringan ponsel.
d. Sistem yang dirancang diharapkan dapat berjalan untuk semua jenis ponsel
dan operator yang ada di Indonesia dimana tidak mengacu pada satu jenis
ponsel tertentu hal ini berbeda dengan penelitian [20].
2.6.
Kontribusi Penelitian
Kontribusi utama dari penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Memberikan kontribusi bagi penelitian lanjutan dalam perancangan database
terdistribusi dengan mengoptimalkan pemanfaatan jaringan ponsel misalkan
Universitas Sumatera Utara
untuk permasalahan pekerja informal lainnya seperti mencari pembeli
potensial untuk produk UKM.
b. Dengan sistem yang akan dirancang ini pencarian kerja dan angkatan kerja
semakin cepat dengan area pencarian yang lebih luas sehingga lebih
menghemat waktu dan biaya, lebih menjamin pendapatan pekerja informal
dan pada akhirnya dapat meminimalkan jumlah pengangguran.
c. Salah satu kriteria sistem dalam menentukan pasangan mandor dan tukang
adalah kriteria keahlian tukang, sehingga tukang mendapatkan proyek
pekerjaan sesuai dengan keahliannya hal ini akan berefek dengan
meningkatnya mutu pekerjaan.
d. Selain keahlian tukang, kriteria lainnya yang diperbandingkan adalah upah
kerja, jika upah yang diinput oleh mandor terlalu kecil atau upah yang diinput
tukang terlalu besar berakibat sistem tak dapat memasangkan keduanya untuk
menghindari hal ini maka baik mandor maupun tukang harus menginput upah
standar, hal ini secara tak langsung akan menciptakan bisnis yang sehat.
Universitas Sumatera Utara
Download