Document

advertisement
HUKUM & ETIKA
Isnaini
Apa itu Hukum ?
Himpunan petunjuk,peratutan,norma/kaidah
perintah dan larangan yang mengatur tata
tertib suatu masyarakat dan apabila melanggar
akan mendapat sanksi yang tegas.
Keadilan dan kesejahtraan
Pemahaman Hukum Administrasi Publik melalui
pendekatan :
Hukum
1. Mengatur
kepastian
hukum
masyarakat dalam hubungannya
dengan negara sebagai badan
hukum.
2. Mencari kebenaran dan keadilan.
3. Negara tidak akan merugikan
masyarakat sekalipun untuk
kepentingan umum.
4. Tujuan akhir ketertiban dan
ketenteraman
masyarakat
(security approach).
5. Hakim yang memutuskan suatu
sengketa.
Adminitrasi Publik
1. Mengatur
birokrasi
dan
masyarakat.
2. Mencari
keseimbangan
dan
keselarasan kepentingan negara
dan masyarakat.
3. Sama-sama
menguntungkan
negara dan masyarakat.
4. Tujuan
akhir
kemakmuran
masyarakat
(prosperity
approach).
5. Atasan
birokrasi
yang
memutuskan
kepentingan
birokrat
atau
masyarakat
(delivery of service / public
accessibility).
ETIKA
Ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana PATUTnya manusia
hidup dalam masyarakat ; apa yang BAIK dan apa yang BURUK.
(Ensiklopedi Indonesia)
Moral
BEDA
1. Menyatakan perbuatan lahiriah
seseorang, atau daya dorong internal
untuk mengarah kepada perbuatan
baik dan sebaliknya.
2. Menekankan kepada karakter dan
sifat individu yang khusus (rasa
kasih, murah hati, jiwa besar), diluar
ketaatan pada peraturan.
3. Instrumen kemasyarakatan yang
berfungsi sebagai penuntun tindakan
(action guide) untuk segala pola
tingkah laku yang disebut bermoral.
Dengan demikian, moralitas serupa
dengan hukum disatu pihak dan
dengan etiket dipihak lain.
Etika
1. Tidak hanya menyangkut tindakan
lahiriah, tetapi juga nilai mengapa
dia bertindak demikian. Etika
tumbuh dari pengetahuan seseorang
diberimemiliki
makna pertimbangan
kesepakatan
1. yang
Moralitas
sosial,
dan dijadikan
acuantentang
/tolok
yang jauh
lebih tinggi
ukur
moralitas masyarakat.
‘kebenaran’
dan
‘keharusan’
2. Berkenaan
dengan
disiplin
ilmu yang
dibanding Etiket.
tentang
nilai-nilai
yang
2. mempelajari
Moralitas bukan
Hukum,
sebab tidak
dianut
beserta
dapat diubahmanusia
melalui tindakan
pembenarannya
; serta
hukum
yang
legislatif, eksekutif
maupun
yudikatif.
mengatur
manusia. dalam
Demikian tingkah
pula lakusanksi
3. Mencakup
filsafat
moralpaksaan
atau
moralitas tidak
melibatkan
pembenaranpembenaran
filosofis.lebih
fisik atau ancaman, melainkan
bersifat internal
Pembentukan & Implementasi Etika
Internal
Terbentuk karena pemahaman dan
keyakinan terhadap suatu nilai-nilai
tertentu (khususnya agama /religi).
Pembentukan
Eksternal
Internal
Diciptakan oleh aturan-aturan eksternal
yang disepakati secara kolektif
Seseorang akan selalu bertingkah laku
baik meskipun tidak ada orang lain
disekitarnya
Implementasi
Eksternal
Berbentuk sikap / perbuatan /perilaku
yang baik dalam kaitan interaksi
dengan orang / pihak lain
Arti Penting Etika Bagi Administrasi Publik
NEGARA KESEJAHTERAAN
DISCRETIONARY POWER
/ FREIES ERMESSEN
REGULASI
KEBIJAKAN PUBLIK
Konsekuensi Yuridis
Konsekuensi Etis atau Moral
1. Berisi perintah (keharusan) atau
larangan. Barangsiapa yang melanggar
perintah atau melaksanakan perbuatan
tertentu yang dilarang, maka ia akan
dikenakan sanksi tertentu pula.
2. Kurang memperhatikan aspek dampak
dan / atau kemanfaatan dari kebijakan.
3. Sering ditolak oleh masyarakat (public
veto) karena kurang mempertimbangkan
dimensi etis dan moral
1. Tidak hanya menonjolkan nilainilai
BENAR – SALAH, tetapi harus lebih
dikembangkan kepada sosialisasi nilainilai BAIK –BURUK.
2. Memiliki keterikatan untuk menjamin
terselenggaranya
kepentingan
/
kesejahteraan rakyat banyak, serta untuk
memajukan daerah / tanah air dimana
PENGARUH BERBAGAI NORMA YANG MEMBENTUK
KEPRIBADIAN SEORANG PEJABAT PUBLIK DALAM
FUNGSI PELAYANAN
Norma
Jabatan
Norma
Sosial
Norma
Profesi
Norma
Keluarga
Individu
Pejabat
Pelayanan
Publik
KESEIMBANGAN SIKAP
DAN PERILAKU
BIROKRASI
Norma
Lain
LANDASAN ETIKA PEMERINTAHAN INDONESIA
• Falsafah Pancasila dan Konstitusi/UUD 1945 Negara RI;
• TAP MPR No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan
Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme ;
• UU No. 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negara
yang bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme;
• UU. No. 5 Tahun 2014 Tentang ASN perubahan dari UU
No. 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas UU No. 8
Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian ( LN No.
169 dan Tambahan LN No. 3090 );
• UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
yang dirubah dengan UU No. 3 Tahun 2005 dan UU No. 12
Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah ;
• PP No. 53/2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Psl 3-4
Ttg Kewajiban dan Larangan .
Hukum dan Etika
• Keduanya mengatur perilaku individu
• Terdapat perbedaan: ilegalitas tidak selalu
berarti tidak etis
• Hukum bersifat eksternal dan dapat
ditegakkan tanpa melibatkan perasaan, atau
kepercayaan orang (sasaran hukum),
sementara etika bersifat internal, subyektif,
digerakkan oleh keyakinan dan kesadaran
individu.
 Hukum dalam konteks administrasi adalah soal
pemberian otoritas atau instrumen kekuasaan
 Basis dari hukum adalah etika, dan ketika hukum
diterapkan harus dikembalikan pada prinsip-prinsip
etika
 Banyak kasus, secara hukum dibenarkan tapi secara
etika dipermasalahkan [trend anak politisi yang jadi
calon anggota legislatif]
 Finer (1936): Untuk menjamin birokrasi yang
bertanggungjawab yang diperlukan adalah penegakan
sistem kontrol melalui undang-undang dan peraturan
yang dapat mendisiplinkan para pelanggar hukum.
 Friedrich (1940): Birokrasi yang bertanggungjawab
hanya bisa ditegakkan dengan dengan menseleksi
orang yang benar dengan kriteria profesionalisme
yang jelas, dan mensosialisasikannya ke dalam nilainilai pelayanan publik.
Kenapa perilaku tidak etis terjadi?
 Kecenderungan mengedepankan etika personal
ketimbang etika yang lebih besar (sosial).
 Kecenderungan mengedepankan kepentingan diri
sendiri
 Tekanan dari luar untuk berbuat tidak etis.
Perilaku tidak etis di birokrasi pemerintah
 Bohong kepada publik
 Korupsi, kolusi, nepotisme
 Melanggar nilai-nilai publik: responsibilitas,
akuntabilitas, transparansi, keadilan, dan
lain-lain
 Melanggar sumpah jabatan
 Mengorbankan, mengabaikan, atau
merugikan kepentingan publik
Moralitas Pribadi
 Konsep baik-buruk, benar-salah yang telah
terinternalisasi dalam diri individu
 Produk dari sosialisasi nilai masa lalu
 Moralitas pribadi adalah superego atau hati
nurani yang hidup dalam jiwa dan menuntun
perilaku individu
 Konsistensi pada nilai mencerminkan kualitas
kepribadian individu
 Moralitas pribadi menjadi basis penting dalam
kehidupan sosial dan organisasi
Karakteristik Hambatan
Birokrasi Pemerintahan Negara
• Birokrasi yang Formalism, Nevotism and Coruption
( KKN ) bukan pada NSPM (N (Undang-undang no 25 tahun 2009 )
SPM (PP No. 25 tahun 2000) )
• Intervensi Birokrasi Politik terhadap Birokrasi Pemerintahan
• Orientasi kekuasaan (Powership ) bukan pada Pelayanan Publik
• Sentralisasi Pemerintahan bukan desentralisasi
• Berorientasi pada produk ( output ) bukan pada manfaat dan
dampak Kesra ( benefit and infact )
• Cenderung untuk Kepentingan Birokrasi ( kawan, Partai, dan
Golongan ) bukan kepentingan publik
• Organisasi yang besar dan birokratis tidak ramping dan
prefesional, fungsional dan proporsional
• Inefensiensi/pemborosan sumberdaya organisasi dan birokrasi
pemerintahan
• Dsb
KOMPETENSI PERILAKU INDIVIDU BIROKRASI
PEMERINTAHAN
• Kualifikasi,
Carier
system
SDM
APARATUR
SISTEM,
STRUKTUR
DAN KULTUR
ORGANISASI
PEMERINTAHAN
•
•
•
•
Kompetensi
Profesionalisme
Proporsionalisme
dsb
Pendidikan formal,
informal
dan non formal
Wassalam
Download