Pengkhianatan Yudas Iskariot Terhadap Yesus Dalam Injil Yohanes

advertisement
BAB 2
KONTEKS SOSIO-POLITIK INJIL YOHANES
2.1
Pendahuluan
Pada bab ini penulis mendeskripsikan informasi seputar latar belakang sosial-politik
yang mengkonstruksi masyarakat di masa penyusunan Injil Yohanes. Informasi tersebut akan
dipergunakan sebagai pedoman dalam upaya penyelidikan terhadap Injil Yohanes 13: 1-35.
Informasi tentang latar belakang sosial-politik Injil Yohanes diperoleh berdasarkan
keterangan tentang penulis, waktu dan tempat penulisan teks Injil Yohanes. Namun sampai
saat ini keterangan mengenai ketiga hal tersebut masih menjadi polemik di kalangan para
ahli, untuk itu penulis terlebih dahulu harus menuntaskan persoalan-persolan yang berkaitan
dengan ketiga hal tersebut. Atas dasar pertimbangan di atas maka tulisan ini disusun dalam
dua bagian. Bagian pertama berisi penjabaran seputar persoalan-persoalan teks Injil Yohanes.
Sedangkan bagian kedua berisi konteks sosio-politik Injil Yohanes. Informasi yang
dijabarkan dalam dua bagian tersebut diperoleh dari beberapa ahli Perjanjian Baru seperti
Groenen, Mark. W.G Stibbe, R.E. Brown dan ahli-ahli lain yang relevan dengan pokok
bahasan pada bagian ini.
2.2
Persoalan – Persoalan Teks Injil Yohanes
2.2.1
Penulis Injil Yohanes
Keterangan tentang identitas penulis Injil Yohanes sampai saat ini masih menjadi
perdebatan. Sangat sulit untuk menentukan siapa penulis Injil Yohanes yang sebenarnya, hal
ini di sebabkan oleh kompleksitas pendapat yang dikemukakan oleh para ahli seputar
keterangan tersebut. Walaupun demikian dari berbagai sumber yang dihimpun, mayoritas ahli
masa kini mengatakan bahwa penulis Injil Yohanes adalah penerus tradisi Yohanes. Groenen,
Goundry dan Stibbe misalnya dalam tulisanya mereka mengatakan bahwa tidak ada
14
kemungkinan pasti tentang siapa penulis Injil Yohanes namun dari corak teologis tulisannya
yang khas sastra Yohanes maka dapat diperkirakan bahwa penulisnya adalah penerus tradisi
Yohanes.22 Selain pendapat mayoritas, ada beberapa pendapat lain yang tidak dapat di
kesampingkan. Gereja perdana misalnya, seperti yang dicatat oleh Quimby, berdasarkan
konsensus pendapat yang dikatakan oleh Bapa-bapa gereja, seperti Ireneus, Clement dari
Alexandria, Tertulianus dan Theofilus23, gereja perdana meyakini bahwa Injil Yohanes ditulis
oleh Rasul Yohanes.24
Berbeda dengan gereja perdana, Papias seperti yang dicatat Quimby, mengatakan
bahwa berdasarkan corak tulisannya penulis Injil Yohanes kemungkinan sama dengan penulis
Surat Yohanes yaitu beberapa orang yang dijuluki “Tua-Tua”, mereka berperan sebagai
penasihat gereja Yohanes.25 Pendapat selanjutnya di catat oleh Koester, berdasarkan
kesamaan ciri sebagai sastra apokaliptik muncul ahli yang mengidentikkan penulis Injil
Yohanes dengan penulis Wahyu Yohanes.26 Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh
penginjil Yohanes tentang identitas murid yang dikasihi, Drane dan Marxsen mengatakan
bahwa penulis Injil Yohanes adalah murid yang dikasihi.27 Namun pedapat ini kurang relevan
22
Dr. C. Groenen, OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1997) 152.,
Lihat juga Robert H. Goundry, A Sourvey of The New Testament (Grand Rapids: Academic Book, 1970) 99.,
Lihat juga Mark W.G Stibbe, John as Storyteller: Narrative Criticism and The Fourt Gospel (Cambridge:
Cambridge University Press, 1994) 67.
23
Ireneus dalam suratnya kepada Florinus, ia mengatakan bahwa “Yohanes seorang murid Tuhan, yang
bersandar pada dada Yesus, menulis Injilnya ketika berada di Asia”. Kemudian Clement dari Alexandria dalam
suratnya kepada Eusebius, ia mengatakan bahwa “Tradisi para Bapa Gereja dari pertama mengungkapkan jika,
Yohanes yang terakhirlah, yang menjadi saksi hidup Yesus, karena di gerakkan oleh Roh-Nya, maka ia
menyusun Injilnya”. Terakhir adalah Tertulianus serta Theofilus, seorang Uskup dari Antiokhia, seorang teolog
Afrika Utara yang lahir pada tahun 160 Z.B mereka berdua juga meyakini bahwa Penulis Injil Yohanes adalah
Yohanes Rasul. (Sumber: Quimby, John The Universal Gospel, 50)
24
Chester Warren Quimby, John:The Universal Gospel (New York: Mac Millan Compagny, 1947) 50.
25
Quimby, John: The Universal Gospel, 55.
26
Helmut Koester, Introduction to the New Testament: History and Literature of Early Christianity
(Berlin: Walter de Gruyer, 1987) 325.
27
John Drane, Memahami Perjanjian Baru: Pengantar Historis-Teologis (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2005) 227., Lihat juga Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis terhadap MasalahMasalahnya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008) 321.
15
karena menurut Brown kata murid yang dikasihi merupakan simbolisme dari komunitas
Yohanes.28
Selanjutnya didasarkan pada keterangan penginjil Perjanjian Baru yang mengatakan
bahwa Yesus memiliki murid berusia muda yang tinggal di Yerusalem, menurut Quimby, ada
ahli yang mengatakan jika Injil Yohanes ditulis oleh anak muda yang menjadi murid Yesus
tersebut. Kemudian berdasarkan pengetahuan historis bahwa Guru yang memiliki reputasi
besar seperti Yohanes, Plato dan Sokrates mendirikan Mazhab untuk mewariskan tradisinya
maka muncul pendapat terakhir yang mengatakan bahwa Injil Yohanes ditulis oleh murid dari
“Mazhab Yohanes”.29
Dari kerumitan pendapat seputar penulis Injil Yohanes maka dapat disimpulkan
bahwa kemungkinan Injil Yohanes ditulis oleh beberapa orang dalam beberapa tahap
penulisan. Apabila perkiraan tersebut benar maka akan lebih baik jika penulis menganut
pendapat mayoritas ahli masa kini yang mengatakan bahwa Injil Yohanes ditulis oleh penerus
tradisi Yohanes.
2.2.2
Waktu dan Tempat Penulisan
Dalam memberikan keterangan seputar waktu penulisan Injil Yohanes, sebagian besar
ahli hampir sepakat mengatakan bahwa Injil Yohanes ditulis sekitar abad pertama Zaman
Bersama. Gereja Perdana misalnya, berdasarkan kesaksian yang diberikan oleh Herakleon,
seorang penganut ilmu Gnostik yang hidup sekitar tahun 160 ZB, serta Eusebius, seorang
Bapa gereja perdana yang juga berprofesi sebagai ahli sejarah. Kedunya mengatakan bahwa
Injil Yohanes ditulis sekitar akhir abad pertama.30 Pendapat yang sama diungkapkan oleh
Groenen dan Quimby, berdasarkan analisanya terhadap sejarah konflik yang dialami oleh
28
Raymond. E Brown, The community of the Beloved Disciple:The life, Loves and Hates of an
Individual Church in New Testament Times (London: Geoffrey Chapman, 1979) 75.
29
Quimby, John the Universal Gospel, 51.
30
Helmut Koester, Introduction to the New Testament: History and Literature of Early Christianity,
330.
16
pembaca Yohanes dengan Yudaisme, kedua ahli tersebut mengatakan bahwa Injil Yohanes
ditulis pada akhir abad pertama.31
Berdasarkan analisanya terhadap papyrus egerton yang ditemukan di Mesir, di
dalamnya tersimpan manuskrip Injil Yohanes, bertanggal sekitar tahun 135 ZB serta
berdasarkan pendapat Clement dari Alexandria dan Ignatius yang mengaku bahwa semasa
hidupnya mereka mengetahui sosok Yohanes yang dikenal sebagai penulis Injil Yohanes, di
mana kedua Bapa Gereja tersebut hidup sekitar tahun 190 ZB. Kummel mengatakan bahwa
Injil Yohanes ditulis pada akhir dekade abad pertama.32 Keterangan yang agak berbeda
diungkapkan oleh Robinson seperti yang dicatat oleh John Drane, berdasarkan dugaannya
bahwa Injil Yohanes adalah Injil tertua, dalam analisanya Robinson mengatakan bahwa Injil
Yohanes ditulis antara tahun 40-65 ZB. Namun terlalu sulit untuk memahami bahwa Injil
Yohanes ditulis antara tahun 40-65 ZB, karena tidak ada fakta yang kuat untuk membuktikan
argumentasi tersebut.33
Berdasarkan pendapat sebagian besar ahli yang mengatakan bahwa Injil Yohanes
ditulis sekitar abad pertama, maka dapat disimpulkan bahwa Injil Yohanes kemungkinan
ditulis antara tahun 90-100 ZB.
Terdapat dua pendapat seputar tempat penulisan Injil Yohanes. Pendapat pertama
dikatakan oleh Groenen dan Kummel, dalam analisanya terhadap karakteristik pembaca
Yohanes keduanya menyimpulkan bahwa Injil Yohanes ditulis disekitar Asia Minor. 34 Lebih
spesifik, berdasarkan analisa sosio-linguistik, Stibbe memberikan keterangan lanjutan bahwa
Injil Yohanes ditulis di Efesus.35 Pendapat serupa dikemukakan oleh Richey, Goundry serta
31
Groenen. OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, 58., Lihat juga Quimby, John The Universal
Gospel, 53.
32
W.G Kummel, Introduction to the New Testament (Canada: Abingdon Press, 1966) 156.
33
Drane, Memahami Perjanjian Baru, 226.
34
Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, 146. Lihat juga Kummel, Introduction to the New
Testament, 159.
35
Stibbe, John As Storyteller: Narative Criticism and The Fourt Gospel, 58.
17
Quimby, berdasarkan pandangan gereja perdana serta berdasarkan analisanya terhadap
sejarah konflik yang dialami komunitas Yohanes dengan kelompok yang mewarisi ajaran
Yohanes Pembaptis ketiga ahli tersebut juga menyimpulkan bahwa Injil Yohanes ditulis di
Efesus.36 Masih mengambil konteks di sekitar Asia Minor, Drane, berdasarkan analisanya
terhadap kedekatan kelompok Yohanes dengan kelompok Qumran serta analisanya terhadap
Yohanes 21 mengatakan bahwa Injil Yohanes pada mulanya ditulis di Palestina dan pada
masa terkemudian di rekonstruksi ulang di Efesus.37
Pendapat kedua diuangkapkan oleh Koester dan Marxsen, berdasarkan penemuannya
tentang sejarah konflik antara komunitas Yohanes dengan golongan Kristen Gnostik yang
memang banyak berkembang di daerah Syria, maka kedua ahli tersebut menyimpulkan
bahwa Injil Yohanes kemungkinan ditulis di Syria.38
Kompleksitas pendapat seputar tempat penulisan Injil Yohanes semakin meyakinkan
penulis bahwa Injil Yohanes disusun dalam beberapa tahap penulisan dan di beberapa tempat
berbeda. Dari pendapat beberapa ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kemungkinan
terbesar pada mulanya penulisan Injil Yohanes mengambil tempat di sekiar Asia Minor yaitu
di Efesus. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator, pertama yaitu munculnya pendapat
para ahli yang mengatakan bahwa Injil Yohanes memang ditulis pada konteks situasi kota
yang metropolis seperti Efesus. Kedua, fakta sejarah yang menyatakan bahwa Efesus adalah
tipikal kota besar jajahan Romawi. Ketiga, corak kekristenan di Efesus yang bergerak sebagai
kelompok menyendiri. Corak tersebut memiliki persamaan dengan jemaat Kristen yang
menjadi tujuan Injil Yohanes, para ahli juga mengatakan bahwa komunitas Yohanes dalam
kehidupannya bergerak sebagai kelompok yang menyendiri.
36
Lance Byron Richey, Roman Imperial Ideology and The Gospel Of John (Washington DC: The
Chatolic Biblical Association of America) 65. Lihat juga Goundry, A Sourvey of the New Testament, 79. Lihat
juga Quimby, John: The Universal Gospel, 3
37
Drane, Pengantar Perjanjian Baru: Pengantar Historis-Teologis, 227.
38
Koester, Introduction to the New Testament: History and Literature of Early Christianity, 178., Lihat
juga Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kristis Terhadap Masalah-Masalahnya, 321.
18
2.2.3
Tahap Penulisan Injil Yohanes
Berdasarkan dugaan bahwa Injil Yohanes di tulis dalam beberapa tahap dan beberapa
tempat penulisan maka pada bagian ini penulis merasa perlu menjelaskan proses penulisan
Injil Yohanes. Penulis memanfaatkan pendapat Brown dalam menjelaskan dugaan tersebut.
Dalam tulisannya tentang tahap penulisan Injil Yohanes, Brown mengatakan bahwa teks Injil
Yohanes melewati empat tahap penyusunan. Tahap pertama disebut dengan “sebelum Injil”,
jejaknya dapat ditemukan dalam Yoh 1: 1-51. Pada tahap ini penulis Injil Yohanes mencoba
untuk menghubungkan mata rantai antara Yesus historis dengan komunitas Yohanes.
Menurut Brown, teks Yohanes dalam tahap ini ditulis oleh pemimpin dari kelompok “Murid
yang di kasihi”, kemungkinan dia adalah mantan murid Yohanes pembaptis dan pengikut
Yesus dari permulaan pelayanannya, tetapi bukan salah satu dari kedua belas.
Tahap kedua disebut dengan “saat Injil mulai ditulis”, jejaknya dapat ditemukan
dalam Yoh 2-12: 50. Pada tahap ini penulis Injil Yohanes ingin menunjukkan bahwa konflik
dengan Yahudi sudah dimulai. Komunitas Yohanes bergerak melawan orang-orang Yahudi
yang dianggap sebagai orang yang tidak percaya. Hal ini dapat dianalisa dari upaya penulis
yang memasukkan narasi tentang orang Samaria dan mengklaim kelompok anti-Sinagoge
sebagai bagian dari kelompok Yohanes.39
Tahap ketiga disebut dengan “saat Injil sedang ditulis”, jejaknya dapat ditemukan
pada 13-20: 29. tahap ini penulis ingin menunjukkan bahwa kelompok Yohanes mulai
melakukan perlawanannya terhadap kelompok Yahudi dan kelompok Yunani serta kultuskultus lain di luar mereka. Di sini kelompok Yohanes mulai mengalami goncangan karena
pemberontakan yang dilakukan oleh sebagian orang yang ada dalam kelompok mereka serta
pembantaian yang dilakukan oleh pemerintah Romawi. Akibat konflik dan perlawanan
tersebut komunitas Yohanes mulai menyendiri ke gua-gua. Tahap keempat disebut dengan
39
Brown, The community of the Beloved Disciple, 74.
19
“saat Injil sudah ditulis”, ini merupakan tahap akhir dalam sejarah komunitas Yohanes,
jejaknya dapat ditemukan dalam Yoh 20-21: 25. Pada tahap ini mulai muncul perpisahan dan
pembubaran, hal ini dikarenakan sebagian anggota kelompok sudah di serap oleh gereja
besar, yang ada kaitannya dengan Doketisme dan Montanisme yang salah satunya adalah
Gnostikisme.40
Pendapat Brown tersebut cukup meyakinkan penulis bahwa Injil Yohanes memang
tidak ditulis dalam satu tahap, hal ini sangat di mungkinkan mengingat teori peredaksian yang
mengungkapkan bahwa ada kemungkinan penulis Perjanjian Baru mengedit, menambahkan,
mengurangi, menggubah bahkan mengubah konten dari sebuah teks sesuai dengan
kepentingan masing-masing. Jika dibandingkan dengan susunan Injil Yohanes maka dugaan
tersebut mungkin ada benarnya, hal ini dapat dibuktikan dengan melihat struktur dari Injil
Yohanes yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya, tetapi jejaknya mungkin tidak
tersusun secara rapi melainkan tersebar secara menyeluruh dalam semua bagian teks
Yohanes.
2.2.4
Struktur Injil Yohanes
Dalam rangka membuktikan dugaan bahwa Injil Yohanes ditulis dalam beberapa
tahap penulisan maka pada bagian ini di kemukakan beberapa pendapat ahli yang
mengungkap susunan sastra Injil Yohanes. Pada pembahasan mengenai struktur dan fungsi
teks Injil Yohanes dalam bukunya Stibbe menyertakan pendapat Wayne Meeks dan Bruce
Malina. Kedua ahli tersebut menganalisa teks Injil Yohanes dengan meneliti fungsi sosial
dari tata bahasa yang digunakan dalam Injil Yohanes. Stibbe mencatat bahwa dari hasil
penelitiannya Meeks mengungkapkan jika teks Injil Yohanes mengandung unsur mitos.
Dengan menitik beratkan penelitiannya pada fungsi mitos dari cerita tentang Yesus anak
Allah yang hidup. Maka Meeks berpendapat bahwa tata bahasa dan narasi tentang tokoh40
Brown, The community of the Beloved Disciple,75.
20
tokoh tertentu yang digunakan oleh penulis Injil Yohanes memiliki simbolnya sendiri baik
dalam arti positif maupun negatif, oleh karena itu menurut Meeks yang perlu ditelaah lebih
lanjut adalah fungsi sosial yang ada di dalamnya.41
Dalam Injil Yohanes, Yesus dipandang sebagai anak Allah yang turun ke bumi dari
surga. Hal ini mengandung sebuah pernyataan bahwa Yesus dan murid-muridnya ataupun
pengikutnya memiliki perbedaan yang sangat mencolok, ada gap di antara mereka. Yesus dari
surga dan para pengikutnya dari dunia. Selain itu, Meeks juga menyatakan bahwa metafora
yang terdapat dalam Injil Yohanes memiliki fungsi tertentu bagi kelompok yang
mengembangkannya. Salah satunya adalah memberikan pernyataan meskipun kelompok
Yohanes merupakan kelompok yang diasingkan, dianiyaya dan dikucilkan, tetapi mereka
hidup bersama Yesus, Sang Anak Allah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa teks ini
berfungsi khususnya untuk menggambarkan identitas dari kelompok Yohanes yang telah
mendapat citra sangat buruk pada konteksnya waktu itu.42
Sementara itu Stibbe mencatat bahwa Malina menggabungkan pendekatan narative
dan prespektif sosio-linguistik untuk menemukan bagaimanakah interaksi dari teks Yohanes
terhadap konteks sosial yang saat itu dialami oleh penginjil dan pembacanya. Dalam
penelitian ini Malina memperoleh beberapa penemuan diantaranya, pertama, satra Yohanes
berbentuk “Tragedi Romantis”. Kedua, tata bahasa yang dipakai oleh penginjil Yohanes
dalam mengungkapkan maksud teologisnya mengimplikasikan beberapa hal diantaranya
adalah pertama, komunitas Yohanes adalah kelompok sosial yang berada dalam kehancuran
akibat dikeluarkan dari institusi agama Yahudi, tindakan tersebut di nilai melebihi batas
kewajaran.
Ketiga, dengan mempergunakan model analisa Mary Douglas, Malina berpendapat
bahwa tata bahasa Injil Yohanes menunjukkan jika teks tersebut ditujukan kepada kelompok
41
42
Stibbe, John as Storyteller, 50, 61.
Stibbe, John as Storyteller, 56, 65.
21
kelas bawah yang melakukan perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan baru yang muncul
dalam kelompoknya sebagai faksi oposisi, didalamnya menunjukkan bahwa ada ketegangan
terhadap kepentingan individu. Mendasarkan analisanya pada kategori sosio-linguistik
Michael Haliday, Malina mengatakan bahwa tata bahasa dari Injil Yohanes termasuk pada
kategori anti-bahasa. Kategori tersebut menggambarkan bahwa kelompok Yohanes
merupakan kelompok anti sosial yang bergerak melawan realita sosial yang saat itu hidup di
masyarakat luas.43
2.2.5
Tujuan Injil Yohanes
Menurut Metzger yang disampaikan oleh Vanderwatt, melalui analisanya terhadap
kata i[na pisteu,shte yang memiliki dua bentuk keterangan waktu yaitu aorist pisteu,shte dan
present pisteu,hte mengatakan bahwa, penggunaan bentuk waktu aorist mengimplikasikan
jika Injil Yohanes ditulis kepada golongan non-Kristen agar mereka mau menerima Yesus
sebagai Mesias. Sedangkan penggunaan bentuk waktu present mengimplikasikan bahwa Injil
Yohanes ditujukan kepada sekelompok orang yang sudah percaya. Hal ini dimaksudkan
untuk menguatkan iman mereka kepada Kristus ditengah penderitaan yang dialami.44
Seperti yang di katakan oleh Groenen, orang-orang tersebut adalah generasi Kristen
kedua atau ketiga yang hidup diluar Palestina pada abad pertama, mereka sudah berkembang
dengan jumlah yang cukup besar, memiliki corak keagamaan di luar arus Paulinis atau yang
tergambar dalam tradisi Injil-injil Sinoptik, mereka hidup dalam lingkup budaya Yunani, pola
pikir keagamaan mereka “sinkretis” mengikuti arus sinkretisme yang hadir di dalam dunia
Yunani-Romawi zaman Perjanjian Baru. Mereka memiliki corak kehidupan menyendiri, hal
ini di sebabkan oleh latar belakang sejarah konflik yang pernah dialaminya.45 Carson seperti
yang di sampaikan oleh Vanderwatt, dengan mendasarkan analisanya pada Yohanes 20:30-31
43
44
Stibbe, John As Atoryteller56, 65.
Jean G. Vanderwatt. The Presence of Jesus through the Gospel of John (Pretoria: Neotestamentica,
2002) 89.
45
Groenen. Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, 172.
22
mengatakan bahwa dari ungkapan Yesus sebagai Raja Penyelamat serta Anak Allah yang memberi
hidup kekal,46 maka dapat diketahui bahwa tujuan penulisan Injil Yohanes adalah untuk
menyebar-luaskan kepercayaan Kristen yang mengimani Yesus sebagai Anak Allah dan Juru
Selamat.47
Dari berbagai macam pendapat ahli yang mengungkapkan tujuan penulisan Injil
Yohanes, maka dapat disimpulkan bahwa pertama, Injil Yohanes ditujukan kepada golongan
non-Kristen dengan maksud agar mereka bersedia menerima Yesus sebagi juru selamat.
Kedua, Injil Yohanes ditujukan kepada golongan Kristen dengan maksud agar mereka
memperoleh penguatan didalam Kristus atas penderitaan yang mereka terima akibat konflik
melawan Agama Negara, kekaisaran Romawi serta kultus-kultus keagamaan lain diluar
kekristenan.
Ketiga, Injil Yohanes ditujukan kepada golongan Kristen yang sudah terpengaruh
oleh ajaran lain sehingga mereka mencampur adukkan ajaran Kristen dengan ajaran tersebut,
jika pokok persolannya menurut Carson adalah menyetujui bahwa Yesus sebagai Kristus dan
juru selamat, maka kemungkinan Injil Yohanes ditujukan kepada golongan Kristen Gnostik
untuk melawan Kristologi mereka dimana golongan Kristen Gnostik tidak lagi menerima
Yesus sebagai Kristus dan juru selamat.48
2.3
Konteks Sosio-Politik Injil Yohanes
2.3.1
Konteks Sosio-Politik
Setelah disimpulkan bahwa kemungkinan Injil Yohanes ditulis pada akhir abad
pertama Zaman Bersama yaitu antara tahun 90-100 ZB, di kota Efesus. Maka gambaran
konteks sosio-politik dari Injil Yohanes adalah sebagai berikut; sekitar abad pertama ZB yaitu
46
Alkitab Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2007)
Vanderwatt, The Presence of Jesus through the Gospel of John, 95.
48
D.A Carson, The Pillar New Testament Commentary: The Gospel According to John (USA :
Eerdmans Publishing Company, 1990) 209.
47
23
antara tahun 90-100 ZB kota Efesus berada dalam penjajahan Romawi. Melalui kekuasaan
yang dimilikinya, kemudian pemerintah Romawi menjadikan Efesus sebagai kota metropolis
besar yang menjadi ibu kota provinsi Roma di wilayah Asia Minor.49
Sebagai ibu kota negara yang masuk dalam kekuasaan pemerintahan monarki
Romawi, maka proses pemerintahan dan administrasi dari kota ini bukan berada di tangan
seorang wali negeri, namun secara langsung dikontrol oleh kaisar yang berkuasa di
kekaisaran Romawi. Pada rentang waktu tersebut kaisar yang berkuasa di kekaisaran Romawi
di antaranya adalah Titus Flavius Domitianus, Flavius Nerva serta Trajanus. Dua di antara
mereka termasuk dalam dinasti Flavian, Domitianus memerintah Romawi antara tahun 81-96
ZB. Ciri dari pemerintahannya adalah totalitarian, dalam hal ini ia menganggap dirinya
sebagai kaisar Agustus yang baru, yang akan membawa Romawi pada era keemasan. Dalam
melakukan tujuan tersebut, Domitianus membangun sebuah ritus pemujaan terhadap dirinya
sendiri melalui propaganda religius, budaya dan militer. Dalam ritus ini ia menyebut dirinya
sebagai Domitianus Et Deus Noster, yang artinya adalah Domitianus tuhan dan allah kami. 50
Pada masa pemerintahannya yang singkat tersebut, tentunya ada berbagi macam
kebijakan politik yang dihasilkan oleh kaisar Domitianus, diantaranya adalah pertama,
melakukan pembangunan besar-besaran untuk merestorasi kota Roma setelah habis dibakar
pada tahun 80 ZB. Kedua, memperkuat sistem administrasi pemerintahan Romawi dengan
mengkonsolidasikan semua bentuk pelayanan publik. Ketiga, melakukan ekspansi kepada
kekuatan-kekuatan dominan di Eropa, Jerman dikukuhkan sebagai provinsi dari Romawi
dengan tujuan untuk memfungsikan hukum Romawi di Jerman serta memenangkan Britania
Raya menjadi salah satu wilayah jajahan Romawi. Keempat, merevaluasi mata uang Romawi
49
Groenen, OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, 159.
Helmut Koester, Introduction to the New Testament; History, Culture and Religion of the Helenistic
Age, (Berlin: Walter de Gruyer, 1987) 307.
50
24
untuk memperkuat perekonomian negara. Kelima, memperkuat sistem pertahanan dan militer
dari kekaisaran Romawi.
Namun demikian kebijakan-kebijakan politik tersebut menghasilkan berbagai
kecaman dari pihak oposisi, penolakan pertama datang dari “Senator”. Mereka mengecam
kultus imperialisme yang dengan arogan dipergunakan oleh Domitianus sebagai sarana
pemujaan diri dan dengan maksud politis untuk melanggengkan kekuasaannya. Kedua,
datang dari para filosof, pastur dan astrolog, mereka keluar dari wilayah kekaisaran Romawi,
karena ketakutan terhadap kenyataan hukuman mati yang akan diterima karena pemikiran
mereka, ketakukan ini juga muncul karena isu yang disebarkan oleh musuh politik
Domitianus, mereka mengatakan bahwa Domitianus adalah kaisar yang kejam karena sudah
melakukan pembunuhan terhadap anggota keluarganya termasuk pamannya yaitu Flavius
Clemens.51
Mengingat otoritas pemerintah Roma sangat berpengaruh terhadap kehidupan kultuskultus agama baru seperti kekristenan maka kebijakan politik Domitianus juga berdampak
bagi orang-orang Kristen yang tinggal di wilayah Romawi termasuk Efesus. Dampak tersebut
adalah pertama, banyak orang Kristen yang dianiaya dan dihukum karena iman
kepercayaannya. Kedua, mereka dituduh sebagai penyebab kerusuhan publik, oleh karena itu
mereka harus tinggal di wilayah Romawi sebagai kelompok ilegal dan diam-diam. Ketiga,
orang Kristen dianggap sebagai kelompok yang menentang pemerintah imperial karena
mereka tidak melakukan kultus imperialisme.
Keempat, muncul pembunuhan masal yang dilakukan oleh Domitianus dengan
menyembelih ribuan orang Kristen di Roma. Akibatnya berita tentang pembunuhan masal
yang dilakukan oleh Domitianus dengan memenggal kepala dari orang-orang Kristen tersebar
ke seluruh penjuru kekaisaran Romawi dan menimbulkan kekuatiran yang sangat besar. Pada
51
Koester, Introduction to the New Testament; History, Culture, 309.
25
masa Domitianus banyak orang Kristen yang menerima kekerasan dan mati sebagai martir.
Salah satu bentuknya, Domitianus membuang Rasul Yohanes ke pulau Patmos. Penganiayaan
tersebut kemudian memunculkan semangat apokaliptik, orang Kristen mulai berbicara
tentang anti-Kristus dan waspada terhadap gerakan tersebut. Kejayaan tersebut tidak
berlangsung lama karena akibat kebijakan politik yang dilakukan Domitianus, pada akhir
masa pemerintahannya Roma terbelit permasalahan ekonomi.52
Setelah Domitianus meninggal, Kekaisaran Romawi kemudian dikuasai oleh Flavius
Nerva, ia memerintah antara tahun 96-98 ZB. Dalam catatan para ahli seperti Koester, masa
pemerintahan Nerva dihabiskan untuk memperbaiki kerusakan yang muncul pada masa akhir
pemerintahan kekaisaran Domitianus yang ditimbulkan oleh kebijakan politiknya. Semua
orang yang dibuang dikembalikan, ia menghapus kenangan tentang Domitianus. Kaisar
Nerva memulai pekerjaannya dengan membangun ulang perbendaharaan Negara, ia
membagikan tanah kepada orang-orang miskin, dan ia membagikan kesejahteraan kepada
seluruh penduduk dalam kekaisaran Romawi. Ia mencoba mendorong pembangunan di
berbagai tempat sebagai penopang pertumbuhan kekaisaran Romawi.
Namun posisi politik tersebut tidak tertalu kokoh, maka dari itu Nerva mengangkat
Gubernur Jerman yang bernama Marcus Upius Traianus sebagai anak angkatnya dan
menjadikannya sebagai pendukungnya.53 Dalam situasi politik tersebut Reicke mencatat
bahwa pada masa Nerva kekristenan memperoleh keuntungan yang sangat besar, hal ini
disebabkan oleh kebijakan politik yang diterapkan oleh Nerva. Dimana kekaisaran Nerva
membantu pekerjaan misi dari kekristenan mula-mula. Atas segala kemudahan yang
52
53
Koester, Introduction to the New Testament; History, Culture, 312.
Koester, Introduction to the New Testament: History, Culture, 318.
26
diperolehnya kekristenan seolah-olah dalam waktu singkat telah menang dan memperoleh
perlindungan dari kekaisaran dan dapat merasakan kedamaian.54
Setelah kaisar Nerva meninggal pada tahun 98, kekaisaran Romawi kemudian
dikuasai oleh Trajan, ia memerintah Roma mulai tahun 98-117 ZB. Dalam menjalankan
pemerintahannya Trajan menerapkan aturan ganda. Satu sisi ia terlihat mendukung
ketertarikan para senatornya untuk melanjutkan Tatriarki, tetapi pada faktanya ia melanjutkan
aturan yang dibuat Domitianus. Didukung dengan kekuatan militer yang besar serta keuangan
yang besar ia mulai melakukan ekspansi-ekspansi untuk memperluas kekaisaran Romawi. Ia
menghidupkan kembali rencana Domitianus untuk menguasai Asia Timur serta memulai
perang dengan Dacia, Kekaisaran Nabatean, Parthians, Armenia, Mesopatamia, Assyria serta
Babylonia sampai pada akhirnya Ia berhasil menguasainya.
Ekspansinya mengalami kemunduran ketika terjadi perang antar suku bangsa Yahudi
yang kedua. Kemudian di Cilicia ia jatuh sakit dan meninggal pada tahun 117.55 Menurut
Koester, sejarah yang penting bagi kekristenan yang terjadi dimasanya adalah melalui
ekspansi yang dilakukan di Asia Timur dan dalam situasi politik yang mencekam tersebut
kekristenan justru dapat berkembang pesat. Bahkan pada masa pemerintahan Trajan
kekristenan mulai melepaskan diri dari bayang-bayang keyahudian untuk menjadi sebuah
kultus keagamaan yang baru.56
2.3.2
Konteks Sosio-Budaya
Dalam hal kebudayaan, sama dengan kota-kota imperialis Romawi pada umunya, di
Efesus setidaknya terdapat dua macam kebudayaan yang hidup dalam masyarakat, yaitu
54
Bo. Riecke, The New Testament Era: The World of the Bible from 500 B.C to A.D 100 (Philadelphia:
Fortress Press, 1989) 314.
55
Bo Riecke, The New Testament Era, 315.
56
Koester, Introduction To the New Testament: History, Culture, 319.
27
kebudayaan Yunani dan Yahudi.57 Mengingat kedudukan Efesus secara politis adalah sebagai
ibu kota Negara Romawi di kawasan Asia Minor maka dengan kedudukan politis tersebut
Efesus sekaligus menjadi pusat dari kebudayaan yang diusung oleh kaum imperialis Romawi.
Menurut Sizoo, kebudayaan yang diusung oleh kaum imperialis Romawi dan menjadi sangat
mendominasi serta berkembang di Efesus adalah kebudayaan Yunani.58
Stambaugh dan Bach menambahkan bahwa bentuk kebudayaan Yunani yang hidup di
Efesus sangat beragam dan merembet pada segala bidang kehidupan bangsa Yunani-Romawi
maupun Yahudi diaspora, mulai dari keagamaan, pendidikan, ekonomi, sosial dan politik.
Bentuk kebudayaan itu diantaranya adalah bahasa Yunani, agama Helenisme dengan
membangun berbagai kuil dan bangunan-bangunan berciri Yunani, seperti kuil Artemis,
arsitektur kota bergaya Yunani, kesenian puisi dan prosa, filosofi serta sistem kekerabatan.
Dampak negatif dari Helenisasi ini adalah munculnya ketidakadilan dalam masyarakat pada
segala bidang kehidupan. Bentuk ketidakadilan yang sangat menonjol salah satunya adalah
diskriminasi berdasarkan tingkat pendidikan, dalam hal ini hanya orang-orang yang
berpendidikan dan berbudaya Yunani yang dapat berkiprah dalam bidang ekonomi, sosial dan
politik serta pendidikan. Tanpa menguasai kebudayaan Yunani orang-orang tidak dapat
berdagang, menjadi pegawai negeri, atau memperoleh kedudukan dalam pemerintahan serta
bersekolah. Simbol budaya yang sangat penting adalah bahasa, oleh karena itu jika orangorang ingin dianggap beradap, maka salah satu caranya adalah mereka harus menguasai
bahasa Yunani.59
Tindak ketidakadilan yang terjadi pada sistem kebudayaan tersebut menurut Malina
sampai menimbulkan klasifikasi sosial pada kehidupan masyarakat yang berada di daerah
jajahan Romawi. Klasifikasi tersebut terutama di dasarkan pada pola hidup keagamaan dan
57
Quimby, John: The Universal Gospel, 14.
A. Sizoo, Dari Dunia Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1974) 175.
59
John E. Stambauch dan David L. Bach. The New Testament in its Social Environment (Philadelphia:
The Westminster Press, 1986) 13.
58
28
bahasa yang dipakai pada komunikasi sehari-hari dalam bersosialisasi. Kebudayaan Yunani
dianut oleh masyarakat golongan atas, hal ini mereka pergunakan untuk menunjukkan status
sosialnya sebagai warga negara jajahan Romawi. Sebaliknya masyarakat kelas bawah tetap
berusaha setia pada adat istiadat nenek moyang mereka yang berkebudayaan Yahudi dan
berbahasa Aram.60 Namun demikian, menurut Groenen, arus kebudayaan Yunani begitu
besar sehingga masyarakat golongan bawah tidak terluput dari pengaruh kebudayaan Yunani.
Bahasa Yunani menjadi syarat sebuah kemajuan, karena dipakai dalam semua institusi
pemerintahan serta pendidikan.61
Pada perkembangannya budaya Yunani dianut oleh sebagian besar orang-orang kelas
atas termasuk jemaat yang menjadi tujuan penulisan Injil Yohanes. Hal ini dapat dilihat dari
beberapa istilah Yunani yang dipergunakan oleh penginjil Yohanes untuk menterjemahkan
istilah-istilah dalam bahasa Aram dan Ibrani, misalnya kata “Danau Tiberias” dalam Yoh 6:
1; 21: 1 yang merupakan terjemahan dari kata Aram dan Ibrani “Danau Galilea”, berdasarkan
analisa ini Groenen berkesimpulan bahwa Injil Yohanes dialamatkan kepada jemaat Kristen
yang berkebangsaan Yahudi tetapi berkebudayaan Yunani. Kebangsaan Yahudi diperoleh
jemaat Yohanes karena mereka dahulu merupakan bagian dari orang-orang Yahudi diaspora
yang melarikan diri dari palestina ketika negara ini dijajah oleh Romawi dan Bait Allah
dihancurkan.62 Sedangkan kebudayaan Yunani merupakan hasil internalisasi dari budaya
popular yang saat itu berkembang di masyarakat. Bersentuhan dengan dua budaya tersebut
Groenen kemudian mengidentifikasikan bahwa kelompok Yohanes memiliki corak budaya
Yunani yang tidak murni, atau merupakan hasil percampuran dari berbagai unsur budaya
dalam peradaban Yunani dan Yahudi.63
60
Bruce J. Malina. The New Testament World: Insight from Cultural Antropology (Louisville: John
Knox Press, 1981) 7.
61
Groenen, Pengantar Ke dalam Perjanjian baru, 143.
62
Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, 146.
63
Koester, Introduction to the New Testament; History, Culture, 322.
29
Mengingat pendekatan politik kaisar Domitianus dan Trajanus, maka sangat mungkin
bila dominasi budaya Yunani di Efesus merupakan hasil propaganda pemerintah imperialis
untuk memusnahkan semua budaya di luar budaya Yunani dalam rangka melanggengkan
kekuasaan kaisar dan pemerintah imperialis Romawi atas wilayah jajahannya. Dampak sosial
dari pemaksaan budaya tersebut dintaranya adalah ketidakadilan, konflik kelas sosial serta
sinkretisme budaya dan keagamaan.
2.3.3
Konteks Sosio-Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, Efesus adalah kota komersial yang menjadi salah satu pusat
perekonomian terpenting bagi kekaisaran Romawi. Menurut Quimby kedudukan ekonomi
tersebut dipengaruhi oleh berbagai macam hal diantaranya adalah pertama, kondisi geografis
Efesus yang strategis yaitu berada di pertengahan pantai barat Asia Minor. Kedua, terdapat
pelabuhan yang menjadi pusat pelayaran dan perdagangan dari seluruh wilayah yang berada
di sekitar laut Mediterania. Ketiga, terdapat pusat jalan besar yang menjadi jalan penghubung
daerah kekuasaan Romawi di sebelah barat. Jalan tersebut menjadi ujung dari jalan arteri
yang melalui seluruh wilayah di Asia Minor serta jalan provinsi yang menghubungkan Siria,
Babilonia serta Mesir.64
Keempat, terdapat titik persinggahan dari kapal-kapal yang berlayar di seluruh
wilayah laut Mediterania. Kelima, terdapat pusat perbekalan yang memfasilitasi pelayaran
antar wilayah maupun lalu lintas orang-orang yang melakukan perjalanan darat menuju Siria,
Babilonia serta Mesir ataupun sebaliknya. Keenam, tempat pertemuan dari sekelompok kecil
penyembah-penyembah berbagai macam agama yang saat itu berkembang di metropol
Efesus, diantaranya adalah agama negara dan agama misteri seperti Kekristenan,
Gnostikisme, Montanisme. Hal ini mendatangkan keuntungan ekonomi tersendiri, karena
penyembah-penyembah tersebut diwajibkan untuk membayar upeti terhadap pemerintah atas
64
Quimby, John: The Universal Gospel, 8.
30
kegiatan keagamaan yang dilakukannya. Ketujuh, pemungutan pajak berlapis yang dilakukan
oleh pemerintah terhadap seluruh warga negaranya. 65
Atas dasar kedudukan ekonomi Efesus sebagai kota komersil dan kota metropolis
besar yang ditopang dari berbagai macam sektor ekonomi maka dapat dibayangkan bahwa
sebagian besar penduduknya berkemampuan ekonomi di atas rata-rata. Karena kemampuan
ekonomi tersebut Quimby menjuluki Efesus sebagai duplikasi Romawi di Asia Minor. Selain
kepada kota Efesus julukan tersebut juga ia alamatkan kepada penduduk-penduduk Efesus
karena tingkah dan budaya mereka layaknya penduduk Romawi, berbahasa Yunani, memiliki
budak dengan jumlah lebih dari satu dan senang membelanjakan uang. Namun kenyataannya
tidak selalu demikian, karena berdasarkan kemampuan ekonominya masyarakat Efesus terdiri
dari tiga lapisan, yang pertama adalah rakyat jelata mereka adalah para budak, peternak,
petani, nelayan dan orang-orang Yahudi Diaspora, jumlah mereka paling banyak dan
menduduki lapisan terbawah, dari segi ekonomi mereka miskin, ditindas dan diperas oleh
lapisan masyarakat diatasnya. Secara politis rakyat jelata tidak berdaya. Kedua adalah orang
pribumi terkemuka atau aristokrat, mereka adalah tuan tanah, pedagang dan pegawai. Secara
politis mereka adalah kaki tangan penguasa setempat dan pemerintah Roma. Ketiga adalah
penguasa politis, mereka adalah antek-antek kekaisaran Romawi.66
Akibat yang ditimbulkan dari kesenjangan ekonomi tersebut diantaranya adalah
munculnya ketegangan antara kota-kota besar dan daerah yang terutama dihuni oleh rakyat
jelata yang bekerja sebagai petani, peternak, dan nelayan. Ketegangan itu diperuncing oleh
kenyataan bahwa penduduk kota merupakan campuran antara orang Yunani-Romawi serta
orang Yahudi Diaspora terkemuka, tuan tanah, pedagang dan pegawai. Mereka menjadi kaki
tangan pemerintah Roma untuk memeras rakyat. Kota besar menarik penganggur dari kota-
65
66
Quimby, John: The Universal Gospel, 8.
Quimby, John: The Universal Gospel, 13.
31
kota lain, mereka menghidupi diri dengan menjadi pengemis dan buruh harian serta budak
belian.67
Dari paparan tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kota Efesus mencirikan
pengelolaan sistem administrasi dan ekonomi imperialis Romawi. Hal ini dapat dilihat dari
pertama, perekonomian dipusatkan pada daerah perkotaan yang ditopang oleh sektor
pelayaran, pertanian, pertambangan, pertukangan, industri, serta perdagangan. Kedua, adanya
sistem pajak berlapis yang harus di bayar oleh masyarakat kepada pemerintah Romawi.
Menurut Groenen, regulasi tersebut menimbulkan berbagai macam permasalahan dalam
bidang ekonomi diantaranya pertama, kebijakan pemusatan perekonomian di daerah
perkotaan menimbulkan kesenjangan ekonomi yang sangat mencolok antara masyarakat yang
tinggal di perkotaan dan pedesaan. Segala macam faktor-faktor ekonomi yang menjadi hajat
hidup orang banyak di eksploitasi oleh orang-orang kaya, sedangkan orang-orang kelas
bawah yang kebanyakan adalah penduduk asli menjadi korban dari ketidakadilan ekonomi
ini. Kedua, sistem pajak berlapis dinilai sangat membebani masyarakat dari segala lapisan,
terutama masyarakat kelas bawah yang tinggal diluar wilayah makmur yang menjadi pusat
perekonomian yaitu perkotaan seperti Efesus, hal ini menimbulkan kecemburuan sosial. 68
Dampak dari regulasi ekonomi yang diterapkan oleh pemerintah Romawi tersebut
pada perkembangannya menimbulkan stratifikasi sosial dalam masyarakat, Groenen
mengatakan bahwa berdasarkan kemampuan ekonominya, masyarakat yang hidup di wilayah
jajahan Romawi seperti Efesus dapat dikelompokkan dalam tiga kelas sosial. Pertama adalah
kaum aristokrat, mereka terdiri dari pejabat yang berkuasa, tuan tanah, pedagang serta
usahawan besar, dengan kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki mereka membentuk oligarki
dan menutup diri dari lingkungan masyarakat.
67
68
Quimby, John: The Universal Gospel, 14.
Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, 36.
32
Kedua adalah warga kota, mereka berprofesi sebagai pegawai kecil, tukang,
pengusaha kecil, buruh dan petani. Ketiga adalah budak, mereka adalah tawanan perang,
orang yang memiliki hutang, atau keturunan budak. Menurut tata hukum mereka tidak
memiliki hak apapun, mereka diperdagangkan di pasar. Mereka tidak memiliki hak politik,
namun negara memberikan kebebasan kepada mereka untuk membentuk semacam
perserikatan budak yang bergerak dalam bidang sosial dan keagamaan.69 Lapisan teratas
dalam piramida tersebut tidak mudah ditembus oleh lapisan-lapisan bawah yang jumlahnya
jauh lebih banyak, kenyataan inilah yang selanjutnya menimbulkan konflik sosial antar
kelas.70
2.3.4
Konteks Sosio-Keagamaan
Mengingat Efesus adalah wilayah yang menjadi pusat politik dari kekaisaran Romawi
dan menjadi pusat peradaban dari kebudayaan Yunani. Bukan hal yang mustahil bila Efesus
dikepung oleh berbagai macam bentuk kebudayaan yang bersifat Yunani-Romawi maupun
Yahudi. Salah satu bentuk kebudayaan tersebut adalah agama. Dengan melihat konteks
situasi sebelumnya banyak ahli menemukan bahwa di dalam kota Efesus di temukan berbagai
macam aliran keagamaan yang dapat dikelompokkan dalam dua faksi besar yaitu agama
negara dan agama misteri.
Pertama adalah agama negara, yaitu agama yang dibentuk oleh negara, berupa
pemujaan terhadap ibu kota Roma, kaisar, serta dewa-dewi Romawi, dimana ibadah kultus
tersebut diselenggarakan dan diatur oleh negara serta dipimpin oleh uskup-uskup kenegaraan.
Uskup-uskup inilah yang secara aktif melakukan intervensi keagamaan kepada seluruh
masyarakat Romawi termasuk orang-orang Kristen dalam kelompok Yohanes agar mereka
meninggalkan agamanya dan berbalik kepada agama negara. Pertimbangan dari pemujaan
tersebut lebih kepada persoalan politis dimana negara ingin memaksakan persatuan dan
69
70
Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, 39, 143.
Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, 144.
33
kemantapannya atas seluruh wilayah jajahan. Pemujaan terhadap kaisar dan dewa-dewi
Romawi yang ada di masa Efesus adalah pemujaan kaisar Domitianus serta pemujaan
terhadap dewi Artemis.71
Pada perjalanannya praktik keagamaan tersebut mendatangkan reaksi dari orangorang Kristen Efesus seperti pemboikotan dan pemartiran. Terhadap reaksi tersebut
pemerintah Romawi pada masa kaisar Domitianus melakukan penganiayaan verbal terhadap
orang-orang Kristen di Efesus. Orang Kristen di Efesus dianggap sebagai golongan atheos
dengan kepercayaannya dalam menyembah benda yang tidak berwujud yaitu Yesus Kristus.
Orang Kristen dianggap sebagai orang yang anti-sosial karena keberadannya yang
menyendiri. Kekristenan dianggap tidak toleran, orang-orang Kristen di ejek dan diperolok
karena mereka tidak ikut serta dalam perayaan publik seperti yang dilaksanakan oleh
masyarakat Efesus yang berbudaya Yunani-Romawi. Orang Kristen dianggap biadap karena
dalam ibadahnya mereka melakukan „sakramen‟ dengan memakan daging dan minum darah,
orang Kristen dianggap hidup dalam takhyul dengan cerita kebangkitan Yesus Kristus, dan
yang terakhir orang Kristen dianggap sebagai orang bodoh karena masyarakat berpendapat
bahwa bagaimana mungkin orang yang tersalib dianggap sebagai juru selamat. Karena
hukuman salib dalam budaya Romawi adalah hukuman yang rendah, hukuman salib hanya
diberikan pemerintah Roma kepada penjahat-penjahat politik, yaitu mereka yang oposisi dan
memberontak pemerintah yang berkuasa.72
Penganiayaan tersebut sempat terhenti pada masa kekaisaran Nerva, hal ini
disebabkan oleh kebijakan politik kaisar Nerva yang coba untuk membersihkan kekaisaran
dari pengaruh aturan Domitianus dengan merekonstruksi aturan negara menjadi lebih toleran
dan merakyat. Salah satu kebijakan politiknya adalah dengan menyatakan keberpihakannya
kepada kekristenan, yaitu dengan dukungan pada kegiatan-kegiatan misi yang dilakukan oleh
71
72
Koester, Introduction to the New Testament: History, Culture, 322.
Koester, Introduction to the New Testament: History and Literature, 144, 148.
34
gereja mula-mula. Namun ketika kekuasaan jatuh ketangan Trajan, penganiyaan tersebut
kembali terulang, karena Trajan kembali menghidupkan sistem serta rencana politik
Domitianus, tetapi yang membedakan justru melalui penganiayaan yang dialami pada masa
Trajan tersebut kekristenan menjadi salah satu agama yang berkembang pesat, dan mulai
keluar dari bayang-bayang keyahudian untuk menjadi sebuah agama yang mandiri.73
Kedua adalah agama misteri, yaitu agama-agama baru yang muncul sebagai akibat
dari sinkretisme agama-agama dominan. Terdapat berbagai macam agama misteri yang
berkembang di Efesus pada masa penulisan Injil Yohanes namun yang paling sering
disinggung oleh para ahli adalah kekristenan, Gnostikisme, Stoikisme, Neo-Pitagoranisme,
Cynic dan Hellenistic Jewish Piety. Pertama adalah kekristenan, agama ini muncul sebagai
hasil sinkretisme dari agama Yahudi. Di Efesus kekristenan telah mengarah pada satu
institusi yang formal. Mereka terbagi dalam beberapa faksi, yang banyak disinggung dan
berkaitan dengan penulisan Injil Yohanes adalah Kekristenan Proto-Ortodoks dan Penerus
Tradisi Yohanes Pembaptis. Kedua faksi tersebut pada perkembangannya kemudian
berkonflik karena kaum Proto-Ortodoks berpegang pada keyakinan atau iman yang benar.
Sedangkan kelompok Kristen penerus tradisi Yohanes pembaptis, adalah kelompok yang
berbeda dalam tata cara pembaptisan serta pandangan Kristologis seputar Yesus.74
Pendapat tersebut sangat diragukan karena agak sulit untuk memahami bahwa penerus
tradisi Yohanes Pembaptis masih bertahan sampai pada akhir abad pertama karena tidak ada
bukti-bukti yang cukup kuat untuk menyatakan pendapat tersebut. Mengingat komunitas
Yohanes Pembaptis hidup pada masa Yesus yaitu antara abad ke 4 SZB-66 ZB. Namun jika
kelompok kekristenan Proto-Ortodoks kemungkinan memang mengalami perkembangan
pada masa penulisan Injil Yohanes yaitu pada periode akhir abad pertama. Ioanes Rakhmat
mengidentifikasikan bahwa kelompok Kristen pembaca Injil Yohanes merupakan bagian dari
73
74
Riecke, The New Testament Era, 302.
Goundry, A Survey of the New Testament, 76.
35
kekristenan Proto-Ortodoks.75 Goundry mencatat bahwa kelompok Kristen pengikut Yohanes
meyakini bahwa Yesus adalah Mesias, yang memiliki nilai superioritas, yang telah
membaptis orang-orang percaya dengan darah dan Roh. Kelompok Kristen pembaca Injil
Yohanes hidup menyendiri dan terpisah dari lingkungan sosialnya. Mereka hidup sebagai
kultus agama rahasia di lingkungan Yunani-Romawi yang keberadaaannya tidak diakui oleh
hukum dan tata negara.76
Gnostikisme, aliran keagamaan ini muncul pada akhir abad pertama. Terdapat
berbagai macam faksi dalam kelompok Gnostik. Salah satu kelompok Gnostik yang ada
hubungannya dengan penulisan Injil Yohanes adalah kelompok Gnostik Kristen. Kelompok
ini meyakini bahwa seseorang diselamatkan bukan karena Kristus atau karena melakukan
perbuatan baik, melainkan karena pengetahuan yang benar tentang dunia, Allah dan diri
sendiri. Dalam rangka mempelajari pengetahuan tersebut mereka memerlukan pewahyuan
yang datang dari atas melalui utusan dari alam rohani yaitu adalah Kristus. Secara teologis,
kaum Gnostik memahami Kristus dalam dua hal, pertama Kristus dianggap sebagai dewa dari
atas, dan tidak pernah menjadi manusia. Kedua, Kristus dianggap sebagai manusia sejati
tetapi tidak memiliki kekuatan ilahi. Hal yang membedakan antara kelompok Gnostik Kristen
dengan Kristen adalah kelompok Gnostik Kristen menganggap orang-orang yang
memperoleh pencitraan buruk dalam sejarah kekristenan seperti, kain dan Yudas Iskariot,
dianggap sebagai orang-orang yang justru telah melihat kebenaran, dan memahami rahasia
yang dipersyaratkan bagi keselamatan. Persoalan inilah yang kemudian mendatangkan
konflik dengan Jemaat Yohanes.77
Stoikisme, kultus keagamaan ini mulai terbentuk pada abad ketiga SZB. Latar
belakang terbentuknya kultus keagamaan ini adalah karena sejarah teror yang di alami oleh
75
Ioanes Rakhmat, Yesus, Maria Magdalena, Yudas dan Makam Keluarga, (Banten: Sirao Credentia,
2006) 36.
76
77
Goundry, A Survey of the New Testament, 80.
Koester, Introduction to the New Testament: History, Culture, 302 .
36
manusia sehingga membuat kelompok ini mempertanyakan keberadaan Tuhan; jika Tuhan
memang ada dan jika memang Ia peduli, kenapa Ia membiarkan orang-orang menderita
berkepanjangan akibat perang dan kelaparan? jika memang hanya dia yang memiliki
kekuatan atas dunia ini kenapa Ia membiarkan orang-orang miskin dirampok oleh orangorang kaya dan orang-orang baik mendapatkan kekejaman dari kuasa kejahatan?. Tuhan
dalam pengertian tradisional tidak memiliki tempat pada filosofi kelompok Stoikisme. Dalam
ajarannya mereka menganggap bahwa Tuhan tidak hadir secara personal. Penekanan ajaran
mereka adalah pada ketenangan hati (apetheia) yang dimengerti sebagai rasa pemenuhan diri
dan otonomi diri terhadap rasa keasyikan dan kekhawatiran. Pemenuhan tersebut mereka
yakini dapat menimbulkan kepedulian terhadap penderitaan sesama.78
Neo-Pitagoranisme, kultus keagamaan ini mulai popular sekitar abad pertama ZB.
Kepopulerannya disebabkan oleh kemampuan kultus ini dalam mensintesakan berbagai
macam aliran filosofi dan keagamaan yang saat itu berkembang di Efesus. Kultus ini
meyakini bahwa sisi ketuhanan dari diri masing-masing orang secara terus-menerus
menyerukan untuk kembali kepada pencarian pada hal-hal yang bersifat ketuhanan. NeoPitagoranisme memandang segala hal dalam hidup ini secara matematis. Pengikut kultus ini
membentengi diri dari segala macam bentuk kehidupan, mereka tidak memakai pakaian yang
berbahan dasar kulit atau wol, mereka tidak memakan daging.79
Dalam menggambarkan hubungannya dengan Tuhan mereka menyebut dirinya
sebagai orang-orang yang tinggal didalam Tuhan, serta orang-orang yang berada di antara
Roh Tuhan. Kultus ini menawarkan sebuah metode pembebasan dari tragedi kemanusiaan
yaitu berada dalam keselarasan bersama Tuhan, sebuah cara untuk mengatasi keterasingan
dan kesendirian yaitu dengan mempererat ikatan kekeluargaan dengan kekuatan yang
78
79
Calvin J. Roetzel, The World that Shaped the New Testament (Atlanta: John Knox Press, 1985) 47.
Roetzel, The World that Shaped the New Testament, 47.
37
memiliki sifat ketuhanan, dan menawarkan sebuah pesan pembebasan dari belenggu hal-hal
yang irasional dan kekuatan yang tidak terduga.
Cynics, kultus ini menggadang-gadang sebuah bentuk kesederhanaan hidup dan
memiliki
keberpihakan
pada
ketidak-berdayaan
dengan
mengkalaim
memperoleh
pembebasan dari nilai-nilai yang dianggap keliru oleh masyarakat dan pendapat yang murah
yang datang dari mayoritas orang yang tidak dianggap. Cynic mencari keutuhan pribadinya
dengan menelanjangi diri dari lingkaran kekayaan, pakaian yang bagus, jaminan kemewahan,
popularitas dan keluarga. Mereka mempelajari nilai-nilai ketradisionalan yang dianggap hina
oleh kebanyakan masyarakat. Rasa hina yang mereka terima akibat perbedaan memperlihatan
kekuatan yang besar. Atas dasar kehidupan yang mereka jalani, Cynic menganggap dirinya
sebagai kaum yang paling terberkati.80
Hellenistic Jews Piety, yaitu agama yang dianut oleh sebagian besar orang-orang yang
berkebangsaan Yahudi. Pada mulanya agama ini terdiri dari tiga faksi besar diantaranya
adalah kaum Saduki yaitu imam besar dan imam kepala Bait Allah. Kaum Farisi, terdiri dari
orang awam dan rohaniawan tingkat rendahan. Serta Kaum Esseni, ketiga faksi tersebut
bernaung dalam sebuah lembaga keagamaan besar yang dinamakan dengan Sanhedrin.
Namun setelah intervensi yang dilakukan oleh kekaisaran Romawi dan perang saudara antara
orang-orang Yahudi yang terjadi sekitar tahun 70 ZB ketiga faksi tersebut hilang dan hanya
menyisakan sekelompok kecil penganut Yahudi yang keberadaaannya tersebar keseluruh
kekaisaran Romawi termasuk Efesus. Di wilayah-wilayah kekaisaran Romawi tersebut
mereka hidup sebagai orang-orang Yahudi Diaspora dan membentuk kultus keagamaan yang
dinamakan dengan Helenistic Jewish Piety.81
Kultus tersebut dibentuk sebagai sebuah upaya yang dilakukan oleh orang-orang
Yahudi Diaspora untuk mempertahankan keyahudian ditengah gerusan budaya Yunani yang
80
81
Roetzel, The World that Shape the New Testament, 47.
Roetzel, The World that Shape the New Testament, 49.
38
begitu besar melanda seluruh dunia yang berada di bawah kekaisaran Romawi. Usaha
tersebut dilakukan dengan menghilangkan jurang pemisah antara agama Yahudi dengan
kultur kebudayaan Yunani, yaitu dengan mengubah terjemahan kitab suci Ibrani kedalam
bahasa Yunani, serta mewajibkan para imam untuk berbahasa Yunani. Mereka menyebarkan
kultus tersebut kepada semua orang, baik kepada orang Yahudi asli ataupun orang-orang
yang bukan Yahudi. Untuk mendapatkan pendengar dan pengikut mereka melakukan
penyebaran agama secara berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Keberhasilannya adalah
banyak orang yang bukan Yahudi datang ke Sinagoge, mengikuti sabbat Yahudi,
mempelajari Torah, dan memberikan anak mereka nama Yahudi. Dampaknya adalah jurang
pemisah antara Yahudi dan bukan Yahudi mulai hilang, interaksi mereka mendatangkan
toleransi, penghormatan, dan dalam beberapa konteks terjadi saling kerjasama.82
Para ahli seperti Groenen menduga bahwa salah satu dari kelompok Yahudi Diaspora
tersebut sama dengan kelompok apokaliptik yang berpusat di Qumran, yaitu sebuah daerah di
tepi laut asin disekitar gurun Yudea. Mereka merupakan pusat dari kelompok-kelompok
keagamaan lain diluar Palestina. Anggota kelompok ini terdiri dari kaum lewi orang-orang
awam dan imam-imam rendahan yang dahulu tidak diizinkan menyelenggarakan peribadatan
di Bait Allah, karena mereka mengalami konflik dengan imam-imam kalangan atas di
Yerusalem dan dianiaya oleh mereka. Secara ekonomi kelompok Qumran menerapkan
semacam sistem komunisme yang dipimpin oleh seorang imam, mereka mencukupi
kebutuhan hidupnya dengan bertani, beternak, bertukang.
Dari segi keagamaan mereka tampil sebagai bidah, mereka melaksanakan hukum
taurat, mulai dari upacara pembasuhan, sunat, bahkan aturan taurat menjadi syarat untuk ikut
serta dalam kelompok ini. Dari segi kebudayaan, kelompok Qumran berkebudayaan Yahudi,
namun mereka hidup menyendiri di gurun, oleh karena itu mereka memiliki nilai dan aturan
82
Koester, Introduction to the New Testament: History, Culture, 390.
39
sendiri dalam sektenya, sebagian dari mereka tidak menikah. Secara ekonomi dan politik
mereka dapat dibedakan dalam dua kelas yaitu kelas atas dan kelas bawah. Kelas atas adalah
kelompok imam yang memiliki peranan ekonomi dan politik sedangkan kelas bawah adalah
kelompok imam yang miskin dan tidak memiliki peranan politik.83 Banyak ahli yang
menduga kelompok tersebut sebagai asal-usul dari komunitas Yohanes namun pendapat
tersebut perlu dikaji lebih lanjut untuk membuktikan kebenarannya.
Menurut Groenen, kelompok Yohanes memiliki sejarah konflik yang panjang dengan
orang-orang Yahudi Diaspora yang berada di Efesus. Pokok permasalahannya adalah tentang
monotheisme YHWH. Orang-orang Yahudi mengimani bahwa hanya ada satu Tuhan yang
esa yaitu YHWH, tetapi orang-orang Kristen mengimani bahwa Tuhan mereka adalah Yesus.
Dampak dari polemik ini adalah munculnya surat keputusan untuk mengucilkan golongan
Kristen Yohanes dari Komunitas Yahudi. Kemudian mereka juga dilaporkan sebagai bidah
kepada Sinagoge, sehingga pada setiap peribadatan kelompok Yohanes dikutuk. Tindakan ini
meruncing dan sampai pada puncaknya ketika muncul pembunuhan kepada jemaat Kristen
pembaca Yohanes. Ketiga adalah polemik dengan Sinagoge yang penyebabnya tidak begitu
diketahui, dampak dari polemik ini adalah munculnya keputusan yang secara resmi
mengeluarkan kelompok Yohanes dari masyarakat Yahudi.84
2.4
Penutup
Dari paparan tentang persoalan-persoalan teks Injil Yohanes dapat disimpulkan
bahwa Injil Yohanes ditulis oleh penerus tradisi Yohanes antara tahun 90-100 ZB di Efesus.
Injil Yohanes ditulis dalam empat tahap penulisan. Tahap pertama disebut dengan sebelum
Injil, tahap kedua disebut dengan saat Injil mulai ditulis, tahap ketiga disebut dengan saat Injil
sedang ditulis, tahap keempat disebut dengan saat Injil sudah ditulis. Injil Yohanes terdiri dari
dua struktur sastra, yang pertama adalah mitos sedangkan yang kedua adalah tragedi
83
84
Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, 50.
Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, 143.
40
romantis. Penulisan Injil Yohanes ditujukan kepada tiga alamat berbeda, pertama adalah
kepada golongan non-Kristen agar mereka bersedia menerima Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamat. Kedua kepada golongan Kristen agar mereka memperoleh penguatan didalam
Kristus atas penderitaan yang mereka terima akibat konflik melawan Agama Negara,
Kekaisaran Romawi dan kultus keagamaan lain diluar kekristenan. Ketiga kepada golongan
Kristen yang sudah mulai terpengaruh oleh ajaran lain diluar kekristenan sehingga mereka
mencampur adukkan ajaran Kristen dengan ajaran dari kultus keagamaan lain diluar
kekristenan.
Kemudian dari paparan tentang konteks sosio-politik Injil Yohanes dapat disimpulkan
bahwa pada dasarnya kelompok Kristen pembaca Injil Yohanes harus berjuang melawan
tekanan dan penganiayaan yang luar biasa. Penganiayaan dan tekanan tersebut diterima dari
luar kelompok maupun dari dalam kelompok. Penganiayaan dari luar diterima kelompok
Yohanes dari kekaisaran Romawi melalui penjajahan berlapis yang diupayakan melalui
propaganda politik, budaya, ekonomi dan keagamaan. Dalam hal politik kelompok Yohanes
dianggap menentang pemerintah imperial, keberadaannya dianggap illegal, penyebab
kerusuhan publik, muncul pembunuhan masal terhadap orang-orang Kristen, sehingga
banyak orang Kristen yang menjadi martir. Dalam hal budaya mereka berjuang untuk
mengkomunikasikan Yesus dalam budaya Yunani-Romawi, mereka dianggap anti-sosial
karena tidak mengikuti aturan dalam budaya Yunani-Romawi, dalam stratifikasi mereka
menempati kelas paling bawah.
Dalam hal ekonomi, kelompok Yohanes harus berjuang melawan diskriminasi
ekonomi, tidak memiliki hak apapun, untuk bekerja mereka harus diam-diam, berada dalam
sratifikasi sosial paling rendah. Dalam hal keagamaan, mereka tidak diakui secara hukum,
hidup sebagai agama misteri, tidak dapat melakukan kultus keagamaan secara leluasa,
dianggap bodoh karena mengimani Yesus yang telah mati dalam salib, dianggap biadab
41
karena makan daging dan darah. Hidup dalam keberagaman kepercayaan, dalam
keberagaman tersebut muncul desakan dan intervensi dari agama negara yang menganggap
kaisar Romawi serta dewa-dewi Romawi sebagai Tuhan dan Allah, kemudian dari berbagai
macam agama misteri, mulai dari Gnostikisme yang memisahkan sisi ilahi dan insani Yesus.
Stoikisme yang menganggap bahwa Tuhan tidak hadir secara Personal. Neo-Pitagoranisme
yang mensintesakan berbagai macam aliran kepercayaan serta memandang segala hal dalam
hidup secara matematis. Cynic yang menganggap dirinya sebagai kaum yang paling
terberkati, menekankan kesederhanaan hidup, menelanjangi diri dari ikatan keluarga,
pupolaritas. Helenistik Jewish Piety yang pada masa lalunya memiliki sejarah konflik yang
panjang dengan kelompok Yohanes, menganggap YHWH sebagai Tuhan.
Selain dari pihak pemerintah penganiayaan dari luar juga diterima dari masyarakat
Yunani-Romawi. Mereka menganggap kelompok Yohanes sebagai kaum yang anti-sosial,
biadab, tidak bermoral dan bodoh. Sedangkan penganiayaan dari dalam diterima kelompok
Yohanes dari orang-orang Kristen yang sudah mulai terpengaruh oleh agama negara serta
agama-agama misteri. Pengaruh tersebut menyebabkan persaingan tentang siapa kelompok
yang memiliki pemahaman paling benar. Akibat persaingan tersebut kemudian muncul
perpecahan dalam kelompok Yohanes.
Penganiayaan berlapis yang mereka terima baik dari luar maupun dari dalam
kelompok, sentuhan dengan keberagaman budaya, ideologi serta sistem kepercayaan
menjadikan komunitas Kristen pembaca Injil Yohanes bias akan identitasnya sebagai orang
Kristen. Mereka mengalami kebingungan dalam menentukan bentuk kehidupan yang harus
mereka jalani sebagai komunitas Kristen. Mereka mulai gamang akan eksistensinya di dunia
Yunani-Romawi. Karena ada kemungkinan berbagai macam kepercayaan yang mendominasi
dan ideologi yang terbentuk dalam masyarakat akan memusnahkan mereka dari sejarah
peradaban dunia.
42
Download