peraturan dirjen bea dan cukai nomor p

advertisement
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI
NOMOR P- 01/BC/2006
TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 78/PMK.010/2005
TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG UNTUK KEGIATAN
PENGUSAHAAN PANAS BUMI BERDASARKAN KONTRAK SEBELUM BERLAKUNYA
UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2003 TENTANG PANAS BUMI
DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI,
Menimbang
Mengingat
:
:
a.
bahwa dengan terbitnya peraturan Menteri Keuangan Nomor
78/PMK.010/2005 tentang Pembebasan Bea Masuk atas Impor Barang
untuk Kegiatan Pengusahaan Panas Bumi Berdasarkan Kontrak
Sebelum Berlakunya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang
Panas Bumi perlu diatur petunjuk pelaksanannya;
b.
berdasarkan uraian sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu
menetapkan Peraturan direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang
Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
78/PMK.010/2005 Tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor
Barang untuk Kegiatan Pengusahaan Panas Bumi Berdasarkan
Kontrak Sebelum Berlakunya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003
tentang Panas Bumi;
1.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612);
2.
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 115,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4327);
3.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 545/KMK.01/2003 tentang
Penetapan Sistem Klasifikasi Barang Impor;
4.
Keputusan menteri Keuangan Nomor 547/KMK.01/2003 tentang
Penetapan Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor;
5.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK.01/2004 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan sebagaimana telah
diubah
dengan
Keputusan
Menteri
Keuangan
Nomor
426/KMK.01/2004;
6.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.010/2005 tentang
Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Barang Untuk Kegiatan
Pengusahaan Panas Bumi Berdasarkan Kontrak Sebelum Berlakunya
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan
:
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR 78/PMK.010/2005 TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS
IMPOR BARANG UNTUK KEGIATAN PENGUSAHAAN PANAS BUMI
BERDASARKAN KONTRAK SEBELUM BERLAKUNYA UNDANGUNDANG NOMOR 27 TAHUN 2003 TENTANG PANAS BUMI
Pasal 1
(1)
Atas impor barang untuk keperluan kegiatan Pengusahaan Panas
Bumi diberikan pembebasan Bea masuk.
(2)
Pembebasan bea Masuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diberikan kepada Kontraktor Kontrak Operasi Bersama (Kontraktor
KOB/Joint Operation Contract Contractor) sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 1 angka 2 Peraturan menteri Keuangan Nomor
78/PMK.010/2005 tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor
Barang untuk Kegiatan Pengusahaan Panas Bumi Berdasarkan
Kontrak Sebelum Berlakunya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003
tentang Panas Bumi, sampai dengan berakhirnya Kontrak Operasi
Bersama (KOB).
Pasal 2
Permohonan pembebasan bea masuk atas impor barang untuk keperluan
panas bumi diajukan oleh Kontraktor KOB kepada Direktur Jenderal Bea
dan Cukai u.p. Direktur Fasilitas Kepabeanan.
Pasal 3
(1) Permohonan pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 harus dilengkapi dengan Rencana Impor Barang (RIB) yang
paling sedikit memuat elemen data sebagai berikut:
a. Nama Kontraktor KOB;
b. Nomor Pokok Wajib Pajak;
c. Alamat;
d. Nomor dan tanggal KOB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1
angka 1 peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.010/2005;
e. Wilayah Kontrak;
f.
Nomor dan tanggal RIB;
g. Nomor, tanggal, dan jangka waktu berlaku kontrak pengadaan
barang bersangkutan;
h. Uraian jumlah dan jenis barang sebagaimana dipersyaratkan
dalam ketentuan tatacara pengisian dokumen Pemberitahuan
Impor Barang (PIB);
i.
Pos Tarif HS;
j.
Perkiraan harga/nilai pabean;
k. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tempat pemasukan barang;
l.
Nama dan tanda tangan pimpinan, manajer, atau pejabat
Kontraktor KOB yang berwenang; dan
m. Cap/stempel Kontraktor KOB.
(2) Salinan RIB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan
kepada Direktur Jenderal Mineral, Batubara dan Panasbumi,
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.
Pasal 4
(1)
Direktorat Fasilitas Kepabeanan meneliti keabsahan pemohon dan
kebenaran uraian jumlah dan jenis barang yang dimintakan
pembebasan Bea Masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
dengan berpedoman pada Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI).
(2)
Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Direktur Fasilitas Kepabeanan atas nama Menteri Keuangan
menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan tentang Pembebasan Bea
Masuk Atas Impor Untuk Keperluan Kegiatan Pengusahaan Panas
Bumi dengan tembusan Direktur Verifikasi dan Audit, untuk jangka
waktu paling lama 12 bulan.
Pasal 5
(1)
Impor barang yang mendapatkan pembebasan bea masuk hanya
dapat dilakukan melalui Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tempat
pemasukan barang yang tercantum dalam keputusan Menteri
Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2).
(2)
Perubahan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dimaksud ayat (1)
diajukan oleh Kontraktor KOB kepada Direktur Fasilitas Kepabeanan
sepanjang dapat dipastikan jumlah dan jenis barang yang akan
dimasukkan melaui Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dimaksud.
(3)
Persetujuan perubahan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dimaksud
ayat (2) diberikan dalam bentuk surat pemberitahuan yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keputusan Menteri
Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2).
Pasal 6
(1) Terhadap impor barang yang mendapatkan pembebasan bea masuk
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) berlaku ketentuan
tatalaksana kepabeanan di bidang impor.
(2) Pemenuhan persyaratan ketentuan barang larangan, pembatasan dan
tataniaga impor dilakukan pada saat pengajuan Pemberitahuan Impor
dilakukan pada saat pengajuan Pemberitahuan Impor Barang (PIB) di
Kantor Pelayanan Bea dan Cukai sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5.
Pasal 7
Untuk keperluan pengawasan, Kontraktor KOB wajib :
a.
menyampaikan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai u.p. Direktur
Fasilitas Kepabeanan :
1. foto kopi KOB;
2. foto kopi penetapan wilayah kontrak; dan
3. contoh cap/stempel perusahaan dan spesimen tanda tangan
pimpinan, manajer, atau pejabat yang diberi wewenang
menandatangani permohonan dan RIB.
b.
melaporkan realisasi impor barang kepada Direktur Jenderal Bea dan
Cukai u.p. Direktur Verifikasi dan Audit paling lama 30 hari setelah
realisasi impor barang terakhir yang mendapatkan pembebasan bea
masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2).
Pasal 8
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman
Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai ini dengan penempatannya
dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetpkan di jakarta
Pada tanggal 18 Januari 2006
DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI
ttd,-
EDDY ABDURRACHMAN
NIP 060044459
Download