UPACARA NGERASAKIN DI DESA BANYUATIS (Kajian Bentuk

advertisement
UPACARA NGERASAKIN DI DESA BANYUATIS
(Kajian Bentuk Fungsi dan Makna)
Gede Mahardika
Tenaga Pengajar Jurusan Brahma Widya STAHN Gde Pudja Mataram
Email : [email protected]
Abstrac.
Ajaran agama Hindu meliputi tiga kerangka yaitu tattwa, Etika dan upacara. Dalam
pelaksanaannya diimplementasikan umat Hindu secara terpadu dan utuh. Namun pada
kenyataanya yang lebih sering tampak menonjol adalah bagian upacaranya. Hal ini disebabkan
karena bagian inilah yang merupakan wujud pelaksanaan dengan segala kelengkapannya.
Upacara Ngerasakin merupakan upacara yadnya yang bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur
kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan manifestasi sebagai Jero Sedahan Abian dan
Jero Sedahan Sawah atas apa yang telah dinikmati selama ini dari hasil bumi. Pelaksanaan
Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis dilaksanakan setiap satu tahun sekali, dan sudah menjadi
tradisi turun-temurun oleh masyarakat setempat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa bentuk Upacara Ngerasakin di Desa Banyuastis dapat dilihat dari : struktur banten
Upacara Ngerasakin, prosesi upacara ngerasakin, mantra dan saa Upacara Ngerasakin, dan
tempat dan waktu pelaksanaan Upacara Ngerasakin. Sedangkan fungsi Upacara Ngerasakin
antara lain : fungsi pelayanan kepada Tuhan, fungsi sosial ekonomi, fungsi budaya dan seni, dan
fungsi edukatif. Makna Upacara Ngerasakin adalah : makna religius, makna ungkapan rasa
syukur, makna sosial kemasyarakatan, dan makna budaya dan seni.
PENDAHULUAN
Tata kehidupan beragama Hindu di Bali mempunyai ciri tersendiri, dibandingkan dengan
umat Hindu di Manca Negara. Pola kehidupan di Bali dilandasi oleh konsep Tri Hita Karana
yakni tiga unsur yang menyebabkan kebahagiaan yaitu Tuhan, manusia dan alam. Menjaga
kehidupan yang harmonis dengan Tuhan, antara manusia dengan manusia, dan keharmonisan
hidup antara manusia dengan lingkungan hidup. Alam merupakan yang takterpisahkan dari suatu
ekosistem, yaitu lingkungan sebagai tempat berlangsungnya hubungan timbal balik antara
mahluk hidup dan faktor alam, antara mahluk hidup yang satu dan yang lainnya. Lingkungan
hidup sebagai media timbal balik mahluk hidup dengan faktor alam yang terdiri dari berbagai
macam keadaan dan hubungan yang secara bersama mewujudkan struktur dasar ekosistem
sebagai suatu kesatuan yang mantap. Hubungan timbal balik tersebut merupakan mata rantai atau
siklus penting yang menentukan daya dukung lingkungan hidup sebagai pembangunan.
Ajaran agama Hindu yang disebut dengan Tri Hita Karana merupakan filsafat hidup umat
Hindu dalam membangun sikap hidup yang benar menurut ajaran agama Hindu. Sikap hidup
yang benar menurut ajaran Hindu adalah bersikap yang seimbang antara percaya dan bhakti pada
Tuhan dengan mengabdi pada sesama manusia dan menyayangi alam berdasarkan Yajna. Yang
membutuhkan telaksana ajaran Tri Hita Karana adalah manusia. Manusia secara hakiki adalah
identik dengan alam. Manusia adalah bagian dari ekosistem alam juga. Alam semesta disebut
sebagai “bhuana agung” (makrokosmos) dan manusia sendiri disebutnya sebagai “bhuana alit”
(mikrokosmos). Manusia dalam hidupnya selalu menyatukan diri dengan alam, yang berarti
manusia hendaknya mempergunakan alam sebagai paradigma dalam bertindak (Wiana : 2007 :
24).
Upacara Ngerasakin memiliki maksud untuk mengucapkan rasa syukur dan terimakasih
para petani di Desa Banyuatis kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa Yang Maha Esa karena
hasil kebun mereka berproduksi dengan baik. Ritual ini biasanya dilaksanakan setiap satu tahun
sekali atau enam bulan sekali tergantung kemampuan dari masyarakat setempat. Secara umum
masyarakat Banyuatis memiliki pedewasaan di dalam melaksanakan upacara, seperti halnya
Upacara Ngerasakin. Umat Hindu menyadari bahwa dalam menjalani hidupnya di dunia ini
tidak bisa berdiri sendiri (individu) tetapi selalu membutuhkan orang lain sebagai teman untuk
mengarungi hidupnya sampai pada tujuannya yang terakhir, maka itu manusia disebut sebagai
makhluk sosial (Purnomohadi, 1993:25). Secara umum dipahami bahwa Upacara Ngerasakin
merupakan salah satu pemujaan Sang Hyang Sangkara, yaitu manifestasi Tuhan sebagai
Dewanya tumbuh-tumbuhan atau sebagai penunggu lahan pertanian atau disebut dengan Jero
Sedahan. Melalui Upacara Ngerasakin merupakan bentuk ekspresi masyarakat Desa Banyuatis
kehadapan Tuhan Yang Maha Esa sebagai ucapan terima kasih atau rasa bersukur hasil pertanian
yang melimpah ruah. Upacara yang dilaksanakan oleh petani di Desa Banyuatis sangat intens
karena dalam keyakinan mereka dengan pelaksanaan ritual kehadapan sang pencipta maka
mereka merasa selalu dilindungi dan tanaman mereka akan memperoleh hasil yang maksimal.
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana bentuk Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis Kec. Banjar Kab Buleleng?
2. Apa Fungsi Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis Kec. Banjar Kab. Buleleng?
3. Makna apakah yang terkandung dalam Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis Kec.
Banjar Kab. Buleleng?
TUJUAN PENELITIAN
1.
Untuk Mengetahui bentuk Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis.
2.
Untuk mengetahui fungsi Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis.
3.
Untuk Mengetahui makna Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis.
MANFAAT
1. Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi lembaga Kemasyarakatan Hindu
tentang Upacara Ngerasakin.
2. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang fungsi, makna dan
bentuk Upacara Ngerasakin bagi umat Hindu yang berada di Desa Banyuatis.
3. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi umat Hindu pada umumnya
dan Desa Banyuatis pada khususnya dalam melaksanakan Upacara Ngerasakin.
METODE PENELITIAN
Sebagaimana judul penelitian ini adalah “Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis (Kajian
Bentuk, Fungsi dan Makna)”, lokasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah Desa Banyuatis
Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng Singaraja Bali. Desa Banyuatis terdiri dari empat Dusun
yaitu Dusun Kaja, Dusun Kelod, Dusun Tengah dan Dusun Kuwum, sedangkan luas wilayah
Desa Banyuatis adalah 184,55 Ha yang terdiri dari Tanah Sawah 90, 092 Ha, Tanah Pekarangan
46, 058 Ha, Tanah Tegalan 10, 400 Ha, Tanah Kering 38,000 Ha dan Tanah Kuburan 600 M2.
Potensi Desa yang dikembangkan adalah bidang pertanian yaitu : Cengkeh, Kopi, Coklat, Padi
dan Tanaman keras lainnya sedangkan di bidang pertenakan adalah sapi, itik dan ayam. Jumlah
penduduk Desa Banyuatis adalah 4.224 Jiwa yang terdiri dari laki-laki 2.027 Jiwa dan
Perempuan 2.197 Jiwa, dan mayoritas beragama Hindu. Dilihat dari luas wilayah yang ada maka
mayoritas penduduk Desa Banyuatis adalah sebagai petani Cengkeh, Padi, Kopi dan Coklat.
Pendekatan teologi digunakan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui atau
mengungkapkan sejauh mana tingkat hubungan antara manusia dengan Tuhan sebagai
penciptaan-Nya yang di wujudkan dalam bentuk simbol-simbol dalam upakara (banten)
Ngerasakin dan doa atau matra dalam pelaksanaan Upacara Ngerasakin. Serta untuk mengetahui
sejauh mana norma agama yang telah terwahyukan dalam kitab suci diberlakukan atau
dipedomani dalam pelaksanaan Upacara Ngerasakin.
Penelitian tentang Upacara Ngerasakin ini merupakan jenis penelitian kualitatif, dikatakan
demikian karena hasil-hasil temuanya tidak diperoleh melaui prosedur statistik atau hitungan
lainnya. Penelitian Upacara Ngerasakin ini lebih banyak membutuhkan jenis data yang
berbentuk rangkaian kata-kata, bukan angka-angka. Prosedur penelitia kualitatif menghasilkan
data deskriptif berupa paparan, lisan dan prilaku orang-orang yang diamati (Bogdan & Taylor
dalam Maleong). Penelitian kuantitatif digunakan untuk mengungkapkan dan memahami suatu
bentuk, fungsi dan makna di balik tata cara pelaksanaan upacara yang belum atau yang baru
sedikit diketahui (Stauss & Corbin, 2003 :4-6).
Strategi analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif-kualitatif.
Analisis deskriptif-kualitatif adalah telaah pada suatu gejala obyek sesuai dengan data
kepustakaan maupun data lapangan yang menjadi obyek penelitian. Selanjutnya hasil telaah
tersebut diwujudkan menjadi sebuah bentuk tulisan untuk melukiskan sebuah rincian dari obyek
yang diteliti. Teknik yang digunakan untuk membantu analisis data adalah perpaduan antara
teknik indukatif (khusus ke umum) dan deduktif (umum ke khusus) serta dilengkapi dengan
argumentasi.
PEMBAHASAN
I. Bentuk Upacara Ngerasakin
a. Struktur Banten Upacara Ngerasakin
Kelompok banten yang digunakan dalam Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis
menggunakan kosnsep Triangga yang terdiri dari banten Canang Raka, Banten Ajuman dan
Banten Daksina merupakan banten hulu (kepala) yang dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang
Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Siwaraditya dan Pertiwi sebagai Pesaksi. Dan banten
yang di persembahkan ke pelinggih atau pemujaan kepada Dewa Sangkara menggunakan banten
Tipat Kelanan Misi taluh Abungkul (ada telur satu). Banten yang termasuk dalam posisi badan
atau disebut dengan banten ayaban, yang terdiri dari Banten Pengambean Pengulapan, Banten
Sorohan Alit dan banten Guling di atas Kapar/Nampan yang berisi : (tumpeng pitu, cacahan,
dan Guling Babi yang dihiasi dengan hati yang di potong-potong dan urutan). Banten ayaban
merupakan persembahan kepada Jero Sedahan Abian dan atau Jero Sedahan Carik. Dan banten
yang digolongkan sebagai kaki dalam upacara ngerasakin adalah menggunakan banten Segehan
Panca Warna (lima warna) yang merupakan persembahan kepada Bhuta Kala.
Dengan demikian bentuk Upacara Ngerasakin yang dilaksankan oleh umat Hindu di Desa
Banyuatis, dilihat dari aspek upakara (banten) yang digunakan dan tatacara atau prosesi
pelaksanaanya, merupakan sebuah simbul yang mengandung nilai sosial relegius. Menurut teori
interaksi simbol, banten merupakan perwujudan dari hasil interaksi manusia. Sebagaimana
dikatakan oleh Bodgan dan Taylor bahwa manusia (orang) senantiasa berada dalam suatu proses
interprestasi dan difinisi karena mereka secara terus menerus bergerak dari suatu situasi ke
situasi lainnya. Pelaksanaan Upacara Ngerasakin dengan segaala prangkat pendukungnya
sebagai perwujudan atau simbolis yang harus dimaknai sebagai sikap dan prilaku hidup bersama
dalam proses peningkatan prilaku keagamaan. Setiap orang yang beragama Hindu akan selalu
melakukannya, oleh karena tiu harus dimaknai sebagai hasil bersama umat pendukungnya
sebagai proses pendekatan hubungan kepada Tuhan, kepada sesama manusia, dan
lingkungannya.
Banten sebagaimana dikatakan dalam Teori Simiotik merupakan sebuah sistem tanda atau
simbol yang dibangun atau dibentuk oleh beberapa simbol atau tanda lainnya. Banten Daksina
yang berfungsi sebagai stana Tuhan di Bumi dibuat dari berbagai simbol seperti kelapa yang
berbentuk bundar sebagai simbol Bumi, tapak (tapak dara) sebagai simbol keharmonisan atau
keseimbangan sebagai dasar Bumi, telor itik sebagai simbol dari krida (kerja) Tuhan di Bumi,
gegantusan simbul dari isi Bumi. Keseluruhan dari unsur yang membangun Banten Daksina
dapat mendukung fungsi dan perwujudan dari Daksina itu sendiri. Salah satu unsur tidak ada,
dapat mengurangi makna dari yang disimbolkan oleh Banten Daksina itu. Hal ini sejalan dengan
Teori Fungsional Struktual
bahwa Upacara Ngerasakin baik bantenya maupun prilaku
orangnya sebagai suatu simbol yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Salah satu
tidak berfungsi akan mengganggu fungsi lainnya, oleh karena itu seseorang harus memaknai dan
melaksanakan fungsinya masing-masing.
b. Prosesi Upacara Ngerasakin
Dalam proses Upacara Ngerasakin ada beberapa tahap yang dilaksanakan. Sebelum
proses intinya maka terlebih dahulu Nunas Tirta Pengelukatan dengan cara Nyonteng atau
dengan menggunakan mantram. Dilanjutkan dengan Ngelukat Banten dan Pelinggih Ida Betare
termasuk pemimpin upacara dan juga yang melaksanakan upacara dengan tujuan agar bersih atau
suci. Setelah semuanya sudah bersih maka selanjutnya Nuur atau mendak atau memanggil Ida
Betara agar berkenan hadir dengan cara memohon atau Ngajum agar beliau berkenan kontak
dengan manusia melalui manifestasi-Nya sesuai dengan fungsinya, untuk menyaksikan
persembahyangan atau sebagai Pesaksi. Dalam prosesi Upacara Ngerasakin disebut dengan
Ngaturang Piuning ke pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang
Hyang Raditya dan Pertiwi. Banten yang di gunakan adalah banten Canang Raka, banten
Ajuman dan banten Daksina misi segehan. (Rangkuman Hasil Wawancara Dengan Jero Gde
Putu Nata tgl. 09 Oktober 2014).
Kedua, Ngadegang (Stiti) yang dimaksud dengan Ngadegang adalah mestanakan Beliau,
dalam imajinasi seolah-olah beliau telah duduk pada stananya, dan telah siap menyaksikan dan
menerima persembahan upacara yang di suguhkan. Dalam proses menstanakan ini banten yang
dipakai dapat di bagi menjadi dua yaitu banten untuk di Pelinggih terdiri dari Canang Raka Tipat
Kelanan Misi Taluh Abungkul yang merupakan suguhan unruk Dewa Sangkara. Dan yang kedua
adalah banten yang utama atau yang disuguhkan kepada Jero Sedahan Abian atau Jero Sedahan
Carik yang terdiri dari banten Pengambean Pengulapan, Banten Sorohan Alit dan Banten Guling
alasnya memakai kapar yang terdiri dari : Cacahan, Tumpeng Pitu dan Babi Guling yang di hiasi
dengan potongan-potongan hati. Dalam proses Upacara Ngerasakin ada proses Ngayabang,
dalam proses Ngayabang yang di pakai adalah Sesontengan yang di ikuti dengan Murak atau
memotong kepala guling dan memotong keempat kakinya sebagai simbol bahwa persersembahan
sudah disuguhkan atau diaturkan. Dalam Sesontengan dikatakan bahwasanya aturan atau
persembahan yang disuguhkan katur atau diterima sehingga untuk kedepannya harapannya agar
hasil bumi lebih meningkat lagi dan terhindar dari gangguan manusia, binatang dan penyakit.
Ketiga, Ngamantukang (Pralina) merupakan proses menghaturkan persembahan untuk
memohon agar Beliau berkenan untuk kembali ke Kahyangan (ke sumbernya) karena proses
upacara sudah selesai. Dalam hal ini menggunakan sarana sarana (simbol) arak, berem, maka
dalam melakukan tetabuhan dengan tujuan prelina dalam hal ini yang dituangkan terlebih dahulu
adalah araknya kemudian baru beremnya dengan puja Sesontengan.
Dilanjutkan dengan proses Ngeluarang dengan memakai Segehan Panca Warna, perlu
diingat bahwasanya dalam proses Ngelarang ini merupakan memberikan suguhan kepada Bhuta
Kala. Bhuta Kala supaya ikut juga menikmati persembahan Guling ini maka telubih, kuping,
layah, kuku kaki dan ekornya di potong untuk di persembahkan ke pada bhuta kala yang di taruh
di segehan dan di ayabang/di manterai atau bisa juga memakai Sesontengan. Dengan tujuan
supaya tidak mengganggu atau merusak abian secara niskala. Sehingga apa yang menjadi tujuan
dari pelaksanaan Upacara Ngerasakin bisa terwujud, hidup tentram damai dan hasil yang dicapai
bisa menjadi maksimal. (Rangkuman Hasil Wawancara dengan Jero Gde Putu Nata Tgl. 09
Oktober 2014).
c. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan Upacara Ngerasakin perlu diungkapakan dimana dan kapan upacara
itu dilaksanakan. Proses Upacara Ngerasakin di laksanakan di Tagal/Abian atau ladang dan juga
di Carik atau Sawah. Di Desa Banyuatis setiap warga yang memiliki ladang/abian maupun
carik/sawah selalu memiliki penunggu berupa pelinggih yang disebut dengan Jero Sedahan
Abian untuk di Ladang/abian atau Jero Sedahan Carik untuk di Sawah. Jero Sedahan Abian dan
Jero Sedahan Sawah merupakan manifestasi Tuhan dengan fungsi menjaga/melindungi atau
Ngeraksa Abian dan Carik. Karena tugasnya menjaga dan melindungi abian atau carik yang
menjadi sumber penghasilan petani, maka masyrakat Desa Banyuatis wajib melaksanakan
Upacara Ngerasakin dengan maksud untuk mengucapkan rasa syukur atau terima kasih kepada
Tuhan dalam manifestasi sebagai Jero Sedahan abian maupun carik yang dikenal dengan
membayar upeti atau disebut dengan Ngaturang Tiga Sana Suku Empat yang menjadi
persembahan utamanya adalah Guling Babi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ir Made Mangku Jasaratha pada tanggal 8 Oktober
2015 dikatakan bahwasanya pelaksanaan Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis lebih banyak
dilaksanakan tiga hari menjelang Galungan dengan dasar agar daging Guling Babi hasil dari
persembahan Upacara Ngerasakin dapat digunakan pada saat hari Raya Galungan. Sedangkan
menurut Jero Gde Natha dalam hasil wawancara, mengatakan bahwasanya dalam pelaksanaan
Upacara Ngerasakin sebaiknya dilaksanakan bertepatan dengan Tumpek Wariga yang
dilaksanakan dua puluh lima hari menjelang Galungan yang jatuh pada Sabtu Kliwon Wuku
Wariga. Berdasarkan hasil wawancara di atas dan hasil observasi bahwa pelaksanaan Upacara
Ngerasakin di Desa Banyuatis dilaksanakan menjelang hari raya Galungan, untuk padewasaan
sesuai dengan hala ayuning dewasa menurut kalender Bali dalam melaksanakan Upacara
Ngerasakin menghindari Pasah dalam Tri Waranya dan yang sering disarankan untuk
dilaksanakan adalah beteng maupun kajeng.
ANALISIS FUNGSI UPACARA NGERASAKIN
a. Fungsi Pelayanan Kepada Tuhan
Upakara sebagai alat kosentrasi pikiran untuk menuju Sang Hyang Widhi atau
manifestasinya misalnya saja bagi orang yang sedang membuat banten, maka dengan tidak
sengaja dia sudah membayangkan kehadapan siapa yang akan di persembahkan. Demikian juga
bagi orang yang sedang melakukan piodalan atau persembahyangan menganggap bahwa Dewa
yang dipuja berada pada Daksina Pelinggih atau Tapakan yang telah dibuat. Upakara
mempunyai fungsi sebagai alat kosentrasi, persembahan/korban suci, sarana pendidikan menuju
Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sarana penyucian, sarana perwujudan menuju Ida Sang Hyang
Widhi Wasa dalam berbagai manifestasi dan sarana meningkatkan estetika (Arwati 1992 :2).
Berkenaan dengan diatas bahwa Upacara Ngerasaki merupakan fungsi pelayanan terhadap Ida
Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa, dapat dilihat dari proses pembuatan dan
menyiapkan sarana prasarana upakara yang di gunakan dalam pelaksanaan uapacara. Seperti
halnya dalam proses pembuatan Babi Guling, banten daksina, Canang Raka, Ajuman,
Pengambean Pengulapan, Cacahan dan Segehan Panca Lima. Semua yang di persiapkan
merupakan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi-Nya.
Karena apa yang kita lakukan merupakan bentuk pelayanan kepada Tuhan, begitu juga dalam
pelaksanaan Upacara Ngerasakin melalui kitab suci Weda.
b. Fungsi Sosial Ekonomi
Pelaksanaan Upacara Ngerasakin yang merupakan sebagai kegiatan keagamaan umat
Hindu, mempunyai tujuan religius dalam meningkatkan kehidupan sosial. Hal ini dapat dilihat
dalam pelaksanaan Upacara Ngerasakin, dimana dalam mempersiapkan segala pelaksanaanya
sudah terjadi interaksi antara pelaksana Yadnya dengan Pinandita dan serati banten. Begitu juga
hubungan diatara umat akan menjadi sangat baik dan haormonis karena selalu terjadi interaksi
sosial, ketika dalam proses perencanaan, mempersiapkan sarana dan prasarana upacara sampai
dengan puncak acara dan akhir upacara, akan selalu terjadinya interaksi satu dengan yang
lainnya. Dengan demikian Upacara Ngerasakin berfungsi sebagai wadah komunikasi di antara
warga sekitarnya khususnya bertetangga di Desa Banyuatis.
Secara ekonomis Upacara Ngerasakin berfungsi untuk menciptakan keseimbangan
ekonomi, ini dapat dilihat dari besar kecilnya tingkatan upacara (nista, madya dan utama) yang
dilaksanakan oleh umat Hindu di Desa Banyuatis dapat dilihat dari bentuk upakara (banten) yang
dipersiapkan. Semakin tinggi tingkatan upacara yang dilakukan, semakin banyak upakara
(banten) yang dibuatnya, dan tentu pula semakin banyak tenaga yang diperlukan dalam
pembuatannya. Semakin besar Babi Guling yang digunakan dalam Upacara Ngerasakin semakin
besar biaya yang diperlukan atau dikeluarkan dalam mempersiapkan pelaksanaanya, sehingga
semakin besar peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh para pedagang, peternak babi
untuk mendapatkan rejeki dalam proses upacara yang dilakukan. Karena bahan dari pada upacara
yang diperlukan dalam membuat upakara (banten) berasal dari perternakan, pertanian dan
perdagangan yang kesemuanya itu akan berdampak pada penambahan dan peningkatan
pendapatan masyarakat, atau pemerataan ekonomi masyarakat Desa Banyuatis akan terujud.
Dengan demikian pelaksanaan Upacara Ngerasakin disamping berfungsi sebagai peningkatan
dan pemerataan perekonomian umat, juga dapat memperluas lapangan pekerjaan buruh, petani,
peternak dan juga pedagang.
c. Fungsi Budaya dan Seni (Estetika)
Pada aspek budaya dan seni
(estetika), pelaksanaan Upacara Ngerasakin di Desa
Banyuatis merupakan suatu kegiatan budaya, karena semua kegiatan prilaku yang dilakukan oleh
manusia adalah budaya. Upacara Ngerasakin sebagai perilaku beragama Hindu lahir dari
pemikiran manusia sebagai usaha untuk menyelamatkan hidupnya. Upacara Ngerasakin
merupakan sebagai salah satu usaha manusia dalam menyelamatkan diri dari sifat buruk yang
dialami pada proses perpindahan tingkat kehidupan menuju tingkatan hidup lainya. Menurut Van
Gennep, manusia dari banyak kebudayaan selalu terdapat saat yang penting, yang mengikat
hidupnya dari masa lalu ke masa yang akan dihadapinya. Kebutuhan pokok hidup manusia
menurut ajaran agama Hindu adalah kebahagiaan lahir dan batin. Upacara Ngerasakin yang
berfungsi sebagai penyucian lahir batin manusia yang bertujuan untuk kebahagian hidup manusia
secara lahir dan batin. Di lihat dari bentuk upakara (banten) yang digunakan dalam pelaksanaan
Upacara Ngerasakin memiliki fungsi estetika (seni) dan budaya. Disamping memiliki fungsi
budaya, banten juga sebagai pengembangan seni dan estetis.
Dengan demikian dari uraian di atas, fungsi Upacara Ngerasakin yang dilakukan oleh
masyarakat di Desa Banyuatis, baik dilihat dari proses pelaksanaanya dan juga upakara (banten)
dan sarana lainya yang digunakan sebagai sebuah sistem yang terdiri dari sub -sub sistem lain
sebagai pendukungnya. Sebagaimana diungkapkan dalam Teori Fungsionalisme Struktural yang
menekankan pada tercapainya keseimbangan dan keharmonisan hidup sebagai individu dan
kelompok (masyarakat). Manusia atau masyarakat adalah sebagai sesuatu sistem perimbangan
dan keharmonisan. Sebagaimana dikatakan oleh Talchott Parsons, masyarakat merupakan
sebagai suatu sistem perimbangan seperti halnya tubuh manusia yang terdiri dari berbagai bagian
yang memiliki fungsi masing-masing yang mendukung sistem tubuh secara keseluruhan. Satu
dengan bagian lainya mempunyai hubunga yang saling ketergantungan. Salah satu tidak
berfungsi akan berpengaruh terhadap fungsi lainya. Demikian juga dalam masyarakat, setiap
orang atau kelompok dapat memberikan sumbangan-sumbangan yang khas melalui peranannya
masing-masing yang telah ditentukan demi lestarinnya sistem perimbangan secara keseluruhan.
Upacara Ngerasakin sebagai sebuah sistem dapat berfungsi untuk memelihara eksetensi dan
stabilitas masyarakat secara keseluruhan. Prilaku masyarakat agama dalam pelaksanaan Upacara
Ngerasakin sebagai aktifitas masyarakat yang dapat mengarahkan keadaan masyarakat yang
harmonis, stabil dan seimbang. Upacara Ngerasakin dapat mengharmoniskan struktur dalam diri
manusia (jasmani dan rohani) sebagai mahluk individu dan dan mengharmoniskan struktur
masyarakat sebagai mahluk sosial melalui prilaku hidupnya yang selalu menjunjung tinggi nilainilai kebenaran. Melalui dogma-dogma dan mitos-mitos keagamaan yang tidak terikat oleh
tempat dan waktu dapat mendorong dan menjadi dasar dari prilaku hidup keagamaan. Upacara
Ngerasakin yang berfungsi sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan yang diyakini oleh
seseorang dapat menghantarkan hidup manusia mencapai kebahagiaan lahir dan batin dan
tercapainya tujuan hidup beragama. Atas dasar inilah yang mendorong manusia untuk
melaksanakan upacara termasuk Upacara Ngerasakin. Berbagai jenis upakara (banten) dalam
Upacara Ngerasakin, merupakan sub-sub sistem yang mendukung sebuah sistem pemujaan
kepada Tuhan dalam bentuk Upacara Ngerasakin. Kalau salah satu sub sistem banten ini tidak
berfungsi akan menjadi berpengaruh terhadap fungsi banten yang lainya dan berdampak pada
kualitas nilai yang ada didalam pelaksanaan Upacara Ngerasakin. Demikian halnya dengan
masyarakat pendukungnya, antara tukang banten (sarati), pimpinan upacara (Pandita/Pinandita)
dan Sang Yajaman (Pelaksana Uapacara) adalah merupakan bagaian dari sub sistem dalam
sistem Upacara Ngerasakin.
d. Fungsi Edukatif
Pendidikan semestinya merupakan proses perkembangan kepribadian manusia secara
menyeluruh, dengan kata lain mekarnya nilai kemanusiaan yang luhur menuju kesempurnaan
dan terwujudlah nilai-nilai yang baik. Pendidikan itu mengajarkan manusia bahasa dan
pengetahuan tetapi tidak ada pelajaran tentang bagaimana kita hidup tenang, bahagia atau dalam
kedamaian
diantara
kita
sendiri
maupun
dengan
orang
lain.
Pendidikan
haruslah
mengembangkan karakter kearah yang lebih baik. Upacara Ngerasakin yang dilaksanakan oleh
masyarakat di Desa Banyuatis merupakan salah satu proses sistem pembelajaran yang alami non
formal guna memberikan nilai tambah bagi generasi penerus. Dalam hal ini fungsi pendidikan
dalam Upacara Ngerasakin sangat menonjol seperti halnya dalam pembuatan sarana upacara
seperti halnya pembuatan banten/upakara yang jarang dipraktekan sehari-harinya, disana
masyarakat saling isi mengisi saling memberikan, tetntunya peranan/tuntunan Pinandita dan
Sarati Banten tidak bisa diabaikan. Tugas dari Pinandita atau Pandita dalam hal ini Jero Mangku
/Jero Mangku Gede yang ada di Desa Banyuatis selalu memberikan tuntunan dalam pembuatan
upacara sesuai dengan petunjuk sastra. Mengenali banten yang begitu rumitnya bagi masyarakat
awam dengan adanya upacara itu maka sastra agama tidak boleh diabaikan. Semua berasal dari
aksara seperti bebanten yang di pakai dalam Upacara Ngerasakin, semuanya dilalui dari sistem
pembelajaran sebelum upacara maupun saat berlangsungnya upacara.
Demikian pula dengan hidup manusia, selalu terdapat saat yang sangat penting yang akan
mengikat hidupnya dari masa lalu kemasa yang dihadapinya. Orang akan selalu meninggalkan
suatu tingkatan dan kemudian segera akan memasuki tingkatan yang laian. Menurut teori karma,
hal ini disebabkan oleh hubungan sebab akibat dari perbuatan (karmaphala) yaitu : Sancita
Karmaphala adalah : apa yang dihadapi sekarang merupakan hasil dari apa yang telah dilakukan
pada kehidupan yang lalu. Prabda Karmaphala adalah : Apa yang dihadapi pada kehidupan
sekarang juga merupakan hasil dari pada perbuatan sekarang juga. Kriamana Karmaphala adalah
: Apa yang dilakukan sekarang merupakan rintisan untuk kehidupan yang akan datang (Jendra,
2004 :61).
MAKNA UPACARA NGERASAKIN
a. Makna Religius
Upacara Ngerasakin juga merupakan pelaksanaan Panca Maha Yadnya yaitu : Dewa
Yadnya ini dapat kita lihat dalam persembahan kepada Ida Hyang Widhi Wasa sebagai rasa
bhakti kepada Tuhan, yang diwujudkan dalam persembahan upakara (banten) kepada Tuhan
dalam manifestasinya sebagai Surya (Siwaraditya). Persembahan dengan Segehan merupakan
perujudan rasa bakti dan hormat kepada para bhuta kala merupakan pelaksanaan Bhuta Yadnya.
Secara religius Upacara Ngerasakin bermakna sebagai wujud rasa terima kasih kepada yang
memiliki dan menjaga Abian (perkebunan) dan Carik (sawah) secara niskala yang merupakan
manisfestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam bentuk Jero Sedahan Abian dan Jero Sedahan
Carik. Secara religius pelaksanaan Upacara Ngerasakin mengandung makna untuk menyerap
nilai etis dan religius yang disimbolkan berbagai jenis banten yang digunakan dalam Upacara
Ngerasakin. Bentuk banten yang di gunakan dalam Upacara Ngerasakin yaitu Daksina sebagai
simbol Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pada daksina misalnya terdapat kelapa, telor, pisang kayu,
tingkih, beras, bija ratus rampak, dan peselan. Banten daksina menggambarkan badan alam
makroskosmos, dalam mithologi bahwa kelapa itu tidak lain wujud makrokosmos atau alam
jagad raga karena berasal dari kepala Dewa Brahma. Telor sebagai jantung atau papusuh karena
bentunknya menyerupai jantung, tingkih sebagai ungsilan, pangi simbolik sebagai hati karena
bentuknya menyerupai hati dan warnanya. Pisang kayu sebagai tulang karena bentuknya seperti
tulang. Bija ratus sebagai jeroan (usus). Kemudian tampak sebagai simbol cakra berputar yang
melambangkan hukum alam selalu bergerak. Peselan melambangkan Panca Dewata. Penyerapan
nilai-nilai etis dan riligius ini bertujuan untuk membangun atau meningkatkan sifat-sifat
ketuhananyang ada dalam diri manusia. Secara hakekat manusia bersumber pada Tuhan,
memiliki sifat-sifat ketuhanan. Dengan demikian pelaksanaan Upacara Ngerasakin sebagai salah
satu cara umat Hindu untuk membangun manusia seutuhnya.
b. Makna Ungkapan Rasa Syukur
Nilai keseimbangan dan keharmonisan secara horizontal dan vertikal terefleksi dalam
konsep Tri Hita Karana yakni keseimbangan secara horizontal dengan alam (Palemahan) dan
sesama manusia (Pawongan), serta keseimbangan secara vertikal dengan Tuhan atau Ida Sang
Hyang Widhi Wasa (Parhyangan). Konsep Tri Hita Karana mengajarkan kepada umat Hindu
untuk menjaga keseimbangan dan hubungan yang harmonis dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Pelaksanaan Upacara Ngerasakin mengandung makna ungkapan rasa syukur ke hadapan Tuhan
Yang Maha Esa melalui manifestasinya sebagai Jero Sedahan Abian atau Carik atas segala
karunianya, berupa hasil bumi yang melimpah ruah. Sehingga dengan hasil bumi ini masyarakat
di Desa Banyuatis bisa hidup tentram nyaman tanpa ada masalah.
c. Makna Sosial Kemasyarakatan
Manusia sebagai individu, menjadi milik atas dirinya sendiri dan menjadi objek atas
dirinya. Semua reaksi yang diekspresikan terhadap tanggapan luar dirinya, merupakan hasil dari
pada interkasi antara jasmani dan rohani dalam dirinnya. Tindakan manusia menghasilkan
karakter yang berbeda sebagai hasil dari bentukan proses interaksi dalam dirinya. Bila dikaitkan
dengan pelaksanaan Upacara Ngerasakin, yang berfungsi sebagai rasa ucapan syukur kehadapan
Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala hasil dari pertanian. Menurut Mead, intearksi sosial ada
dua yaitu interaksi non simbolis dan interaksi simbolis. Interaksi non simbolis berarti bahwa
manusia merespon secara langsung tindakan atau isyarat orang lain, sedangkan interaksi simbolis
berarti bahwa manusia menginterpretasikan masing-masing tindakan dan isyarat orang lain
tersebut berdasarkan arti yang dihasilkan dari interaksi yang ia lakukan (Riyadi Soeprapto, 2001
: 163). Hal ini juga dapat dimaknai bahwa interkasi simbolik adalah interpretasi yang dilakukan
oleh seseorang terhadap tindakan dan isyarat dari orang lain berdasarkan arti yang dihasilkan
dari interprestasi yang dilakukan terhadap simbol yang digunakan sebagai media iteraksi. Hal ini
dihubungkan dengan upakara (banten), yang digunkan dalam Upacara Ngerasakin sebagai
simbol yang harus diinterprestasikan maknanya dalam memberikan respon terhadap pelaksanaan
uapacaranya. Dengan demikian Upacara Ngerasakin dan juga upakaranya mengadung makna
sosial kepada manusia sebagai individu dan juga sebagai mahluk yang hidup bermasyakat.
Menurut Van Gennep ritual dan upacara relegi (agama) secara universal pada dasarnya
berfungsi sebagai aktivitas untuk menimbulkan atau meningkatkan semangat kehidupan sosial
antara warga masyarakat. Ia menyatakan bahwa kehidupan sosial dalam setiap masyarakat
didunia secara berulang dengan interval waktu tertentu memerlukan apa yang di sebut dengan
”regenerasi” yang mengadung makna peremajaan atau penyegaran kembali. Semangat
kehidupan sosial selalu mengalami pasang surut hal ini disebabkan selalu adannya saat-saat
dimana semangat kehidupan sosial itu menurun dan sebagai akibatnya akan timbul kelesuan
hidup bermasyarakat (Koentjaraningrat,1993:32). Hal inilah selalu perlu disegarkan sehingga
melahirkan kehidupan yang harmonis diantara sesama manusia. Upacara Yadnya (Panca
Yadnya) sebagai salah satu media dalam meningkatkan atau mempererat hubungan diantara
sesamanya.
Pelaksanaan Upacara Ngerasakin disamping memiliki nilai religius (keagamaan), juga
memiliki nilai sosial. Nilai religius yang terlihat dari tujuan pelaksanaanya juga untuk
membangun kepekaan sosial manusia. Sebagaimana tujuan pelaksanaanya Upacara Ngerasakin
dilaksanakan dengan dasar iklas dan bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan
Yang Maha Kuasa sehingga dibutuhkan kesucian pikiran manusia, dengan kesucian pikirannya
manusia dapat berprilaku secara baik di dalam masyarakat. Semua bentuk perubahan yang
dialami manusia baik secara lahir maupun batin sebagai sebuah tanda yang ditangkap atau
dimaknai oleh masyarakat akan adanya suatu perubahan sikap hidup dari seseorang di dalam
bermasyarakat. Hal inilah yang dianggap sebagai suatu perubahan setatus yang berpengaruh pada
kehidupan sosial.
Made Mangku Jasaratha dalam wawancara mengatakan bahwa manusia sebagai mahluk
sosial tidak bisa hidup sendiri atau menyendiri, oleh karena itu dia selalu memerlukan orang lain
untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan hidupnya. Upacara keagamaan atau Panca Yadnya,
termasuk Upacara Ngerasakin disamping sebagai kegiatan keagamaan yang megandung nilai
spiritual, juga merupakan kegian yang megandung aspek sosial, karena dalam proses
pelaksanaan upacaranya dari muali mempersiapkan puncak acaranya sampai akhir acara selalu
melibatkan orang lain baik secara individu (perseorangan) atau secara kelompok.
Menurut Ketut Denda dalam wawancara, dalam pelaksanaan Upacara Ngerasakin dapat
dijadikan tempat untuk berinteraksi antar sesama umat. Dengan semakin seringnya
melaksanakan kegiatan Yadnya atau upacara, maka semakin sering pula terjadi interaksi antara
satu dengan yang lainnya. Dengan demikian akan terjadi jalinan yang kuat dan harmonis antara
sesama manusia, sehingga dapat tercipta atau terjalin kerukunan hidup antara umat Hindu.
d. Makna Budaya dan Seni
Pelaksanaan Upacara Ngerasakin, dilihat dari tindakan atau prilakunya sebagai suatu
tradisi budaya yang memiliki nilai budaya sangat tinggi, karena dihasilkan dari sebuah pemikiran
yang halus dan temotivasi oleh nilai-nilai agama. Dilihat dari upakaara (banten) yang digunakan,
merupakan suatu hasil budaya yang bersipat relegius dan mengandung nilai seni atau estetika
yang sangat tinggi. Agama dan budaya merupakan dua hal yang berbeda namun merupakan satu
kesatuan yang utuh. Budaya sebagai penampakan tradisi keagamaan sehingga agama menjadi
sangat kuat dalam kehidupan manusia. Agama merupakan roh atau jiwa dari suatu budaya
sehingga dapat hidup bertahan dalam prilaku hidup manusia. Upacara Ngerasakin adalah suatu
kegiatan keagamaan yang dihasilkan dari daya budi manusia untuk mendapatkan ketenangan
lahir dan batin manusia. Dengan demikian Upacara Rajaswala baik prosesnya maupun
upakaranya adalah merupakan wahana dalam meningkatkan dan memelihara seni dan budaya
sauatu daerah. Pelaksanaan keagamaan termasuk Upacar Ngerasakin tidak dapat dipisahkan dari
seni dan budaya masyarakat, oleh karena itu prilaku keagamaan harus tetap memperhatikan seni
dan budaya setempat dimana agama itu berkembang. Agama dan seni budaya bagaikan uang
logam yang memilki dua sisi satu dengan yang lainya tidak dapat dipisahkan. Agama tanpa seni
dan budaya akan sulit berkembang, begitu juga budaya tanpa agama tidak berjiwa.
Upakara (banten) yang dipergunakan dalam pelaksanaan Upacara Ngerasakin
merupakan wujud budaya manusia yang sangat tinggi. Pembuatan banten atau upakara (sarana
upakara), merupakan suatu hasil budaya dan seni yang sangat tinggi nilainya karena dalam
proses pembuatannya dilakukan dengan kesadaran yang sangat tinggi yang lahir dari hati nurani
yang dimotivassi atau digerakkan oleh sifat keagamaan yang tinggi dan suci. Di dalam
pelaksanaanya pun diatur atau diikat oleh suatu tatakrama tertentu, memelihara nilai-nilai yang
terdapat di dalam pelaksanaanya. Jadi dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa pelaksanaan
Upacara Ngerasakin tidak saja sebagai bagian dari kegiatan keagamaan yang memiliki tujuan
sebagai ungkapan rasa syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena karunia yang di
berikan berupa hasil perkebunan maupun pertanian, tetapi juga merupakan bagian dari kegiatan
seni dan budaya.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data di atas, maka dapat disimpulkan sesuai dengan rumusan
permasalahan dari kajian bentuk, fungsi dan makna Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis
sebagai berikut :
1. Bentuk Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis
Dilihat dari struktur banten Upacara Ngerasakin
mengikuti konsep Triangga yaitu
bagian kepala atau hulu terdiri dari banten Canang Raka, banten Ajuman, dan banten Daksina.
Sedangkan yang termasuk banten badan atau banten ayaban terdiri dari banten : banten
Pengambean Pengulapa, banten Sorohan Alit, banten Guling (cacahan, tumpeng lima dan
Guling Babi yang dihiasi dengan urutan dan hati) dan yang termasuk banten kaki adalah
Segehan Panca Warna.
Prosesi Upacara Ngerasakin di mulai Nguling (Babi Guling), pembuatan upakara/banten
dan prasarana lainnya, memohon Tirtha Pengelukatan, Ngaturang Piuning, Ngadegang,
Ngelinggihang atau menstanakan dan memberikan suguhan sesuai dengan tujuan upacara
ngerasakin di tandai dengan murak atau motong kepala guling, dan ngemantukang atau
mengembalikan kembali keasalnya dan yang terakhir Ngeluarang memakai Segehan Panca
Warna.
Mantra atau Saa yang digunakan dalam upacara ngerasakin terdiri dari mantram atau
Sesontengan Nguripang Lis, Nirtain Lis, Ngemargiang Lis, Pengastawa ke Sanggar Surya, Ke
Pertiwi, Sesontengan pemujaan ke Jero Sedahan, dan Sesontengan mempersembahkan Segehan.
Tempat dan waktu pelaksanaan Upacara Ngerasakin di Abian atau kebun yang disebut dengan
Jero Sedahan Abian dan di carik atau sawah yang di sebut dengan Jero Sedahan Carik. Waktu
pelaksanaan upacara dalam tri waranya menghindari beteng di Desa Banyuatis dilaksanakan 3
hari menjelang hari Raya Galungan
2.
Fungsi Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis
Fungsi Pelayanan Kepada Tuhan, Upacara Ngerasakin berfungsi sebagai bentuk
pelayanan kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) dapat dilihat dari proses pembuatan
banten dan menyiapkan sarana dan prasarana yang di gunakan dalam upacara. Sebenarnya apa
yang kita lakukan merupakan perintah Tuhan melalui kitab suci Weda begitu juga dalam
melaksanakan Upacara Ngerasakin.
Fungsi Sosial Ekonomi, untuk menciptakan keseimbangan ekonomi, ini dapat dilihat
dari besar kecilnya tingkatan upacara (nista, madya dan utama) yang dilaksanakan oleh umat
Hindu di Desa Banyuatis dapat dilihat dari bentuk upakara (banten) yang dipersiapkan. Semakin
besar Babi Guling yang digunakan dalam Upacara Ngerasakin semakin besar biaya yang
diperlukan atau dikeluarkan dalam mempersiapkan pelaksanaanya, sehingga semakin besar
peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh para pedagang, peternak babi untuk
mendapatkan rejeki dalam proses upacara yang dilakukan
Fungsi Budaya dan Seni, banten yang digunakan dalam Upacara Ngerasakin
memberika nilai estetis kepada seseorang yang membuatnya. Pembuatan banten oleh seseorang
bukan saja termotivasi oleh pelaksanaan dari pada upacara Yadnya semata akan tetapi digerakkan
oleh nilai estetis yang ada dalam diri seseorang
Fungsi Edukatif, sebagai sistem pembelajaran yang alami non formal guna memberikan
nilai tambah bagi generasi penerus. Seperti halnya dalam pembuatan banten yang jarang
dipraktekan dalam sehari-hari tentunya peranan tuntunan pinandita atau serati banten yang tidak
bisa diabaikan.
3. Makna Upacara Ngerasakin di Desa Banyuatis
Makna Religius, untuk menyerap nilai etis dan religius yang disimbolkan berbagai jenis
banten yang digunakan dalam upacara ngerasakin seperti halnya penggunaan banten Daksina
yang merupakan simbul Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Banten tataban merupakan simbol
persembahan kepada Jero Sedahan Abian dan segehan Panca Warna merupakan persembahan
kepada Bhuta Kala.
Makna Ungkapan Rasa Syukur, pelaksanaan Upacara Ngerasakin mengandung nilai
ungkapan rasa syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan manifestasi Jero Sedahan
Abian atau Jero Sedahan Sawah, karena apa yang diterima selama ini merupakan pemberian
Tuhan.
Makna Sosial Kemasyarakatan, Upacara Ngerasakin disamping sebagai kegiatan
keagamaan yang megandung nilai spiritual, juga merupakan kegian yang megandung aspek
sosial, karena dalam proses pelaksanaan upacaranya dari muali mempersiapkan puncak acaranya
sampai akhir acara selalu melibatkan orang lain baik secara individu (perseorangan) atau secara
kelompok. Pelaksanaan Upacara Ngerasakin dapat dijadikan tempat untuk berinteraksi antar
sesama umat. Dengan semakin seringnya melaksannakan kegiatan Yadnya atau upacara, maka
semakin sering pula terjadi interaksi antara satu dengan yang lainnya. Dengan demikian akan
terjadi jalinan yang kuat dan harmonis antara sesama manusia, sehingga dapat tercipta atau
terjalin kerukunan hidup antara umat
Makna Budaya dan Seni, Pelaksanaan Upacara Ngerasakin, dilihat dari tindakan atau
prilakunya sebagai suatu tradisi budaya yang memiliki nilai budaya sangat tinggi, karena
dihasilkan dari sebuah pemikiran yang halus dan temotivasi oleh nilai-nilai agama. Dilihat dari
upakaara (banten) yang digunakan, merupakan suatu hasil budaya yang bersipat relegius dan
mengandung nilai seni atau estetika yang sangat tinggi.
SARAN
1) Pelaksanaan Upacara Ngerasakin perlu disebar luaskan kepada semua masyarakat di
Desa Banyuatis khususnya yang belum mengerti mengenai, bentuk, fungsi maupun
makna Upacara Ngerasakin sehingga dikemudian hari tidak ada masyarakat yang tidak
melaksanakan.
2) Perlu perhatian tokoh-tokoh agama dalam mengkampayekan Upacara Ngerasakin
tehadap umat yang tidak mengerti makna yang terkandung dalam Pelaksanaan Upacara
Ngerasakin melalui media dharmawacana dan dharmatula disetiap-tiap Pura atau disetiap
Dusun yang ada sehingga tidak ada lagi pelaksanaan upacara yang mengandung konsep
anak mule keto.
3) Perlu adanya sosialisasi bahwa pelaksanaan Upacara Ngerasakin merupakan bentuk
ucapan rasa syukur kita kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya
sebagai Jero Sedahan Abian yang telah menjaga abian atau kebun dari gangguan pihak
luar.
4) Sangat di perlukan lagi para generasi penurus khususnya generasi muda untuk menggali
lagi nilai-nilai yang terdapat dalam upacara agama.
DAFTAR PUSTAKA
Adnyana I Nyoman Minder. 2012. Arti dan Fungsi Banten Sebagai Sarana Persembahyangan.
Denpasar : Pustaka Bali Post
Ali Sayuti. 2002. Metodelogi Penelitian Agama Pendekatan Teori & Praktek. Jakarta : Raja
Grafindo Persada
Ananda I Nyoman. 2004. Wraspatitattwa, Kajian Bentuk Fungsi dan Makna, Tesis Magister
Brahma Widya, Program Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Bagus Lorens. 2005. Kamus Filsafat. (Cetakan Keempat). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Bandana I Gde Wayan Soken, Dkk. 2012. Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali dalam Wacana
Seremonial Kematian. Denpasar : Cakra Press.
Bogdan & Taylor. 1992. Metode Penelitian Kualitatif Suatu Pendekatan Fenomenologis
Terhadap Ilmu-Ilmu Sosial. Surabaya : Usaha Nasional.
Bugin Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Bugin Burhan. 2001. Metodelogi Penelitian Sosial. Surabaya : Airlangga University Press
Campbell Tom. 2001. Tujuh Teori Sosial. Yogyakarta : Kanisius
Coulson J. 1978. Oxford Illustrated Dictiona. Oxford : Oxford University Press
Djaja Sudarman. 1999. Semantik Dua Pemahaman Ilmu Makna. Bandung : Rafika Aditama
Endraswara Suardi, 2003. Metodelogi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta : Gajah
MadaUniversitas Press
Gie The Liang. 1996. Garis Besar Esatetika (Filsafat Keindahan) Yogyakarta : Karya
Gulo W. 2002. Metodelogi Penelitian, Cetakan Ketiga). Jakarta : PT GramediaWidiasarana
Indonesia
Hadi Sutrisno. 2000. Metodelogi Researc. Yogyakarta : Andi
Iqbal Hasan. 2002. Pokok-Pokok Penelitian dan Aplikasinya. Indonesia : Ghalia
Kartono. 1986. Metodelogi Penelitian. Yogyakarta. Universitas Gajah Mada
Kleden Ignas. 1996. Pergeseran Nilai Moral Perkembangan Seni dan Perubahan Nilai Moral
Dalam Kalam, No VIII. Jakarta : Pustaka Grafindo
Koenjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi, Jakarta : Universitas Indonesia
Koenjaraningrat. 1996. Pengantar Antropologi. Jakarta : PT Bineka Cipta
Liputo Yuliani. 1995, Kamus Filsafat. Bandung : Remaja Rosdakarya
Mikkelsen Britha. 1999. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan.
Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Moleong Lexy J. 2001. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosda Karya
Piliang Yasraf Amir. 2003. Hipersemiotik Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna.
Yogyakarta : Jalasutra.
Polama Margaret. 2003. Sosiologi Konteporer. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Purwita Ida Bagus Putu. 1984. Desa Adat dan Banjar di Bali. Denpasar : Kawi Sastra
Raho Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Prestasi Pustakarya
Ritiaksa I Wayan. 2012. Upacara Nyentuk. Surabaya : Paramita
Strauss & Corbin. 2003. Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Suprayogo. 2001. Metodelogi Penelitian Sosial-Agama. Bandung : PT Rosdakarya
Suarjaya I Wayan. 2010. Analisis Upacara Wana Kertih di Pura Batu Karu Desa Wongaya Gede.
Surabaya : Paramita
Titib I Made. 2009. Teologi dan Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu. Surabaya : Paramita
_________. 2003. Veda Sabda Suci (Pedoman Praktis Kehidupan). Surabaya : Paramita
Triguna Yudha Ida Bagus Gde. 2000. Teori Tentang Simbol. Denpasar : Widya Dharma
Universitas Hindu Indonesia
Udayana I Dewa Gede Alit. 2009. Tumpek Wariga Kearifan Lokal Bali Untuk Pelestarian
Sumber Daya Tumbuh-Tumbuhan. Surabaya : Paramita
Wiana I Ketut. 2009. Suksmaning Banten. Surabaya : Paramita
___________. 2007. Tri Hita Karana Menurut KonsepHindu. Surabaya : Paramita
Download