analisis portofolio menggunakan indeks tunggal untuk optimalisasi

advertisement
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
ANALISIS PORTOFOLIO MENGGUNAKAN INDEKS TUNGGAL UNTUK
OPTIMALISASI SAHAM PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI DI BEI
Moch. Erric Valdino
[email protected]
Prijati
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya
ABSTRACT
This research is entitled “Portfolio Analysis with Single Index Model to Select Optimal Stock at
Telecommunication Companies in Indonesia Stock Exchange”. The purpose of this research is to apply
single index model to form optimal stocks in considering stock investment at telecommunication
companies in Indonesia Stock Exchange. The data is the Composite Stock Price Index (IHSG),
dividend sharing, individual stock price, and interest rate in 2010-2012. This research is conducted in
Indonesia Stock Exchange (BEI) at STIESIA (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia) Surabaya. The
calculation is carried out by using profit rate formulas and individual stock risk rate. Then, the Excess
Return to Beta (ERB) value and Cut off Point (Ci) is calculated. Stock which has ERB is bigger than
Ci is categorized in optimal portfolio. The results of the research of 6 samples companies have obtained
2 optimal stocks which have ERB value higher than Ci value. The stock which is categorized in
optimal portfolio is PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk and PT. Indosat Tbk has profit rate
0.1578 and risk rate is 0.1160.
Keywords: Single Index Model, Investment, Stock
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Analisis Portofolio Dengan Model Indeks Tunggal Untuk Memilih
Saham Optimal Pada Perusahaan Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia”. Tujuan
penelitian ini adalah mengaplikasikan model indeks tunggal untuk membentuk sahamsaham yang optimal dalam pertimbangan investasi saham pada perusahaan telekomunikasi
di Bursa Efek Indonesia. Data dalam penelitian yaitu Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG), pembagian dividen, serta harga saham individu dan tingkat suku bunga tahun 20102012. Penelitian ini berlokasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terdapat di STIESIA
(Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia) Surabaya. Perhitungan dilakukan dengan
menggunakan rumus-rumus tingkat keuntungan dan tingkat risiko saham individu. Setelah
itu menghitung menghitung nilai Excess Return To Beta (ERB) dan Cut Off Point (Ci). Saham
yang memiliki ERB lebih besar daripada Ci masuk dalam kategori portofolio optimal. Hasil
penelitian dari 6 perusahaan yang menjadi sampel diperoleh 2 saham yang optimal yaitu
saham yang memiliki nilai ERB lebih tinggi daripada nilai Ci. Saham yang masuk dalam
portofolio optimal adalah PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk dan PT. Indosat Tbk
dengan tingkat keuntungan sebesar 0,1578 dan tingkat risiko sebesar 0,1160.
Kata Kunci: Model Indeks Tunggal, Investasi, Saham
Pendahuluan
Pasar modal merupakan salah satu tonggak penting dalam perekonomian dunia saat ini.
Banyak industri dan perusahaan yang menggunakan institusi pasar modal sebagai media
untuk menyerap investasi dan media untuk memperkuat posisi keuangannya. Secara formal
pasar modal dapat didefinisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan (atau
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
2
sekuritas) jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang maupun
modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorities, maupun perusahaan
swasta. Ada beberapa daya tarik pemodal untuk melakukan investasi dalam pasar modal.
Pertama, pasar modal diharapkan akan bisa menjadi alternatif penghimpunan dana selain
sistem perbankan. Kedua, pasar modal memungkinkan para pemodal mempunyai berbagai
pilihan investasi yang sesuai dengan preferensi risiko mereka ( Husnan, 2005:3 ).
Dalam dunia bisnis yang sebenarnya hampir semua melakukan investasi mengandung
unsur ketidak pastian atau risiko. Pemodal tidak tahu dengan pasti hasil yang akan
diperolehnya dari investasi yang dilakukannya. Pengembalian dan risiko memiliki
hubungan yang sangat erat dimana semakin besar tingkat pengembalian yang diharapkan
maka semakin besar pula tingkat risiko yang dihadapi, jadi antara pengembalian dan risiko
tidak dapat dipisahkan. Adanya perbedaan dalam memandang risiko ini maka perlu adanya
pengelolaan kesempatan investasi, yaitu dengan penciptaan berbagai pengelolaan investasi
alternatif. Dengan adanya keadaan tersebut, pilihan investasi tidak dapat hanya
mengandalkan tingkat keuntungan yang diharapkan. Dalam menghadapi risiko, investor
akan dibagi menjadi tiga kelompok yaitu investor yang menghindari risiko, investor yang
mempertimbangkan risiko, dan investor yang menyukai risiko.
Salah satu karakterikstik investasi pada sekuritas adalah kemudahan untuk membentuk
portofolio investasi. Artinya, pemodal dapat dengan mudah menyebar (melakukan
diversifikasi) investasinya pada berbagai kesempatan investasi. Diversifikasi dilakukan
dengan mengkombinasikan berbagai saham dalam portofolio mereka karena pada
umumnya para investor tidak seluruhnya menginvestasikan dananya pada satu saham.
Tujuan melakukan diversifikasi saham adalah untuk mengurangi risiko yang terjadi jika
investor hanya menginvestasikan seluruh dananya pada satu saham dan ternyata
mengalami penurunan yang tidak terduga sehingga akan mengalami kerugian yang tidak
sedikit.
Investasi dalam saham juga mendatangkan keuntungan berupa capital gain ( loss ) dan
yield. Capital gain ( loss ) adalah pendapatan yang diterima investor dari kelebihan harga jual
atau harga beli saham sedangkan yield merupakan pendapatan yang diterima investor secara
periodik, biasanya dalam bentuk dividen atau bunga. Dividen adalah sebagian keuntungan
perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham dan biasanya dibagikan sekurangkurangnya sekali dalam setahun. Dari keuntungan-keuntungan tersebut menjadi alasan
yang kuat bagi investor untuk mengembangkan modalnya pada bursa saham.
Investor memilih portofolio yang memberi kepuasan melalui risiko dan return. Dengan
portofolio dikategorikan efisien apabila memiliki tingkat risiko yang sama, mampu
memberikan tingkat keuntungan yang lebih tinggi, atau mampu menghasilkan tingkat
keuntungan yang sama, tetapi dengan risiko yang lebih rendah. Menurut Tandelilin
(2010:157) Portofolio optimal adalah portofolio yang dipilih seorang investor dari sekian
banyak pilihan yang ada pada kumpulan portofolio yang efisien. Portofolio optimal
merupakan sesuatu yang unik atas investasi pada aset berisiko. Untuk menganalisis
portofolio, diperlukan sejumlah prosedur perhitungan melalui sejumlah data sebagai input
tentang struktur portofolio. Model-model analisis portofolio yang dapat digunakan oleh
investor antara lain adalah model Markowitz dan model indeks tunggal. Model Markowitz
membatasi pilihan investor hanya pada portofolio yang terdiri dari aset berisiko, padahal
pada kenyataannya investor bebas memilih portofolio yang juga terdiri dari aset bebas
risiko. Sedangkan Model indeks tunggal didasarkan pada pengamatan bahwa harga dari
suatu sekuritas berfluktuasi searah dengan indeks pasar. Menurut Jogiyanto (2010:339)
Model indeks tunggal merupakan penyederhanaan dari model Markowitz.
Secara khusus dapat diamati bahwa kebanyakan saham cenderung mengalami kenaikan
harga jika indeks harga saham naik. Kebalikannya juga benar, yaitu jika indeks harga saham
turun, kebanyakan saham mengalami penurunan harga. Asumsi-asumsi dari model indeks
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
3
tunggal mempunyai implikasi bahwa sekuritas-sekuritas bergerak bersama-sama bukan
karena efek di luar pasar, melainkan karena mempunyai hubungan yang umum terhadap
indeks pasar yang searah dengan perubahan IHSG. Model indeks tunggal ini dapat diterima
dan mewakili kenyataan sesungguhnya tergantung dari seberapa besar asumsi-asumsi ini
realistis.
Dengan latar belakang tersebut maka rumusan masalah yang akan dikemukakan adalah
bagaimana memilih portofolio saham optimal pada perusahaan telekomunikasi di Bursa
Efek Indonesia dengan menggunakan model indeks tunggal ?
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi pada investor bagaimana
menentukan saham-saham yang masuk ke dalam portofolio optimal pada perusahaan
telekomunikasi di Bursa Efek Indonesia.
Tinjauan Teoritis
Pengertian Pasar Modal
Definisi pasar modal menurut (Tandelilin, 2010:26 ) adalah pertemuan antara pihak yang
memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara
memperjualbelikan sekuritas.
Jenis Pasar Modal
Menurut (Samsul, 2006:46), pasar modal juga memiliki beberapa jenis dalam
perdagangan sekuritas, antara lain sebagai berikut: (1) Pasar Pertama (Perdana) merupakan
tempat di mana perusahaan pertama kali menjual surat berharga yang baru dikeluarkan
oleh perusahaan berupa penawaran perdana ke publik, (2) Pasar Sekunder yang merupakan
tempat perdagangan surat berharga antar sekuritas baru yang sudah dijual di pasar perdana
dengan sekuritas perusahaan lain yang berada di pasar sekunder dan harga dibentuk oleh
investor melalui perantara efek, (3) Pasar Ketiga yaitu sarana transaksi perdagangan surat
berharga antara market marker serta investor dan harga dibentuk oleh market marker, dan (4)
Pasar Keempat yaitu merupakan sarana transaksi perdagangan antara investor jual dan
investor beli tanpa melalui perantara efek.
Pengertian Investasi
Investasi menurut (Sunariyah, 2006:4) merupakan penanaman untuk satu atau lebih
aktiva yang dimiliki dan memiliki jangka waktu dengan harapan akan mendapatkan
keuntungan di masa-masa yang akan datang.
Jenis-jenis investasi
Investasi menurut (Jogiyanto, 2008:6) dapat berupa investasi secara langsung atau direct
investing dan investasi tidak langsung atau indirect investing. Investasi langsung dapat
dilakukan dengan membeli langsung aktiva keuangan dari suatu perusahaan baik melalui
perantara atau dengan cara lain. Sedangkan investasi tidak langsung dilakukan dengan
membeli saham dari perusahaan investasi yang mempunyai portofolio aktiva - aktiva
keuangan dari perusahaan lain. Tujuan investasi menurut (Tandelilin, 2010:8) adalah untuk
mendapatkan kehidupan yang layak di masa yang akan datang, mengurangi tekanan inflasi,
dan dorongan menghemat pajak.
Pengertian Saham
Definisi saham yaitu merupakan secarik kertas yang menunjukkan hak pemodal untuk
memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan organisasi yang menerbitkan sekuritasnya
dan berbagai kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut menjalankan haknya ( Husnan,
2004:13 ).
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
4
Jenis Saham
Menurut ( Jogiyanto, 2008:107 ) saham dibedakan atas tiga jenis saham, antara lain: (1)
Saham biasa yaitu sekuritas yang menunjukkan bahwa pemegang saham biasa tersebut
mempunyai hak kepemilikan atas aset-aset perusahaan, (2) Saham preferen merupakan
saham yang mempunyai sifat gabungan antara obligasi dan saham biasa. Saham ini
memberikan hasil yang tetap berupa dividen preferen, dan (3) Saham treasuri merupakan
saham milik perusahaan yang pernah dikeluarkan dan beredar yang kemudian dibeli
kembali oleh perusahaan untuk disimpan sebagai treasuri yang nantinya dapat dijual
kembali.
Keuntungan dan Kerugian Investasi dalam Bentuk Saham
Kelebihan dari investasi biasa ini adalah kemampuannya untuk memberikan tingkat
keuntungan atau rate of return yang tidak terhingga. Darmadji dan Fakhruddin (2001:8)
menyatakan bahwa investasi pada saham memang memberikan harapan pengembalian dan
tingkat keuntungan yang tinggi. Manfaat yang diterima investor dalam investasi saham di
pasar modal antara lain untuk mendapatkan dividen dan memperoleh capital gain.
Sedangkan kerugian yang diterima investor yaitu tidak mendapat dividen, memperoleh
capital loss, perusahaan bangkrut atau dilikuidasi, dan saham di delist dari bursa (delisting).
Pengertian Portofolio
Portofolio merupakan sekumpulan kesempatan investasi yang menyangkut identifikasi
saham-saham yang mana yang akan dipilih dan menentukan proporsi dana yang
ditanamkan pada masing-masing saham tersebut. Suatu portofolio dibentuk guna
memanfaatkan secara optimal situasi dan kondisi yang didasarkan pada pertimbangan
risiko dan keuntungan. Portofolio mempunyai beberapa alternatif dengan pertimbangan
investor harus melihat risiko dan tingkat keuntungan yang bergerak positif didalam
portofolio ( Husnan, 2001:49 ).
Return dan Risiko Portofolio
Return portofolio dan risiko portofolio keduanya merupakan hasil dari investasi. Dalam
berinvestasi di samping menghitung expected return, investor juga harus memperhatikan
risiko yang harus ditanggungnya. Mengukur return dan risiko untuk seluruh sekuritas
didalam portofolio sangat penting bagi manajer portofolio ( Jogiyanto, 2008:239 ).
Expected Return Portofolio (E(Rp))
Expected Return dari portofolio menurut (Halim, 2005:37) adalah rata-rata tertimbang
dari tingkat pengembalian yang diharapkan masing-masing saham.
Menurut (Jogiyanto, 2008:240) terdapat beberapa aspek return portofolio dalam
mengukur sekuritas tunggal, antara lain: (1) Return Realisasi yang merupakan rata-rata
tertimbang dari return-return realisasi masing-masing sekuritas tunggal di dalam portofolio
tersebut. Keuntungan ini dihitung berdasarkan data historis dan digunakan sebagai
pengukur kinerja perusahaan dan (2) Return Ekespektasi Portofolio yang merupakan ratarata tertimbang dari return-return ekspektasi (yang diharapkan) tiap-tiap sekuritas tunggal
didalam portofolio.
Risiko Portofolio
Menurut (Halim, 2005:42), risiko merupakan besarnya penyimpangan antara tingkat
pengembalian yang diharapkan ( expected return ) dengan tingkat pengembalian aktual (
actual return ). Semakin besar penyimpangannya, berarti semakin besar tingkat risikonya.
Apabila dikaitkan dengan preferensi investor terhadap risiko, maka risiko dibedakan
menjadi tiga, yaitu: (1) Investor yang menyukai risiko ( Risk Seeker ) adalah investor yang
apabila dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan expected return yang sama
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
5
dengan risiko yang berbeda, maka ia akan lebih suka mengambil investasi dengan risiko
yang lebih tinggi, (2) Investor yang netral terhadap risiko ( Risk Neutral ) yaitu investor yang
akan meminta kenaikan tingkat pengembalian yang sama untuk setiap kenaikan risiko. Atau
dengan kata lain, investor lebih bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi
dan (3) Investor yang menghindari risiko ( Risk Averter ) yaitu investor yang apabila
dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan expected return yang sama dengan
risiko yang berbeda, maka ia akan lebih suka mengambil investasi dengan risiko yang lebih
rendah karena investor jenis ini cenderung mempertimbangkan keputusan investasinya
secara matang dan terencana.
Menurut (Halim, 2005:43), dalam konteks portofolio, risiko dibedakan menjadi dua,
yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Risiko sistematis atau dikenal dengan
risiko pasar/ umum merupakan risiko yang tidak dapat dihilangkan dengan melakukan
diversifikasi, karena fluktuasi risiko ini dipengaruhi oleh faktor-faktor makro ( perubahan
tingkat suku bunga, kurs valuta asing, kebijakan pemerintah, dsb ) yang dapat
memengaruhi pasar secara keseluruhan. Risiko ini juga disebut risiko yang tidak dapat
didiversifikasi ( undiversifiable risk ). Sedangkan risiko tidak sistematis merupakan risiko
yang dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi, karena risiko ini hanya ada dalam
satu perusahaan atau industri tertentu. Risiko ini juga disebut risiko yang dapat
didiversifikasi ( diversifiable risk ).
Kedua jenis risiko tersebut tampak pada gambar berikut ini:
Risiko
Portofolio
Risiko Tidak Sistematis
Risiko
Total
Risiko Sistematis
Jumlah saham dalam portofolio
Gambar 1
Risiko Sistematis, Risiko Tidak Sistematis, dan Risiko Total
Sumber: Halim ( 2005:43 )
Keterangan:
Gambar 1 menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah saham dalam portofolio, maka
semakin kecil risiko yang tidak sistematis. Karena risiko tidak sistematis merupakan risiko
unik suatu perusahaan, yaitu hal buruk terjadi di suatu perusahaan dapat diimbangi dengan
hal yang baik terjadi di perusahaan lain, maka risiko ini dapat dihilangkan dengan cara
diversifikasi di dalam portofolio. Oleh sebab itu, risiko ini menjadi tidak relevan dalam
portofolio, sehingga yang relevan bagi investor adalah risiko sistematis/ risiko pasar yang
diukur dengan beta (β). Kemudian, risiko total merupakan penjumlahan dari risiko tidak
sistematis dan risiko sistematis.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
6
Risiko portofolio tidak merupakan rata-rata tertimbang dari seluruh risiko sekuritas
tunggal. Risiko portofolio mungkin dapat lebih kecil dari risiko rata-rata tertimbang masingmasing sekuritas tunggal. Menurut Harry M. Markowitz, syarat utama untuk mengurangi
risiko didalam portofolio adalah return untuk masing-masing saham tidak berkorelasi secara
positif dan sempurna.
Diversifikasi
Untuk menurunkan risiko, investor perlu melakukan diversifikasi. Diversifikasi
(portofolio) bermakna bahwa investor perlu membentuk portofolio melalui pemilihan
kombinasi sejumlah aset sedemikian rupa hingga risiko dapat diminimalkan tanpa
mengurangi return harapan (Tandelilin, 2010:115). Diversifikasi dapat dilakukan dengan
beberapa cara, yaitu diversifikasi secara random dan diversifikasi secara markowitz.
Konsep Pembentukan Portofolio Optimal
Menurut (Tandelilin, 2010:156), portofolio yang optimal dapat dibentuk dengan adanya
tiga konsep dasar pembentukan antara lain sebagai berikut:
1. Portofolio Efisien dan Portofolio Optimal
Menurut (Tandelilin, 2010:157) dikatakan sebagai portofolio efisien di mana dalam
pembentukan portofolio, investor selalu ingin memaksimalkan expected return dengan
tingkat risiko tertentu yang bersedia ditanggungnya, atau mencari portofolio yang
menawarkan risiko terendah dengan expected return tertentu.
Sedangkan, portofolio optimal merupakan portofolio yang dipilih seorang investor dari
sekian banyak pilihan yang ada pada kumpulan portofolio efisien dan sesuai dengan
preferensi investor bersangkutan terhadap expected return maupun terhadap risiko yang
bersedia ditanggungnya.
Portofolio yang efisien dan portofolio optimal ditunjukkan oleh gambar 2 dibawah ini:
Return yang
diharapkan
(E(Rp))
u1
Garis permukaan
u2
efisien B-C-D-E
E
D
C
B
G
Titik-titik portofolio
optimal B, C, D, E
H
A
Risiko (σp)
Gambar 2
Portofolio Efisien dan Portofolio Optimal
Sumber: Tandelilin ( 2010:161 )
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
7
Keterangan:
Garis horizontal menggambarkan risiko suatu portofolio (σ p), sedangkan garis vertikal
menggambarkan return portofolio yang diharapkan (E(Rp)). Bidang ABCDEGH
menunjukkan kumpulan portofolio yang tersedia bagi investor. Bagian yang ditunjukkan
oleh garis BCDE disebut sebagai permukaan efisien (efficient frontier), yaitu kombinasi asetaset yang membentuk portofolio yang efisien. Bagian yang ditunjukkan oleh titik BCDE
merupakan pilihan-pilihan portofolio terbaik bagi investor dibandingkan bagian AGH. Titiktitik C, D, E yang terlihat lebih baik (dominan) dibanding titik G dan H, karena mampu
menawarkan expected return yang lebih tinggi pada tingkat risiko yang sama. Oleh
karenanya, pilihan investor nantinya akan berada di titik-titik yang ditunjukkan oleh garis
BCDE dalam menentukan portofolio yang paling optimal. Jadi, portofolio optimal yang tepat
bagi investor adalah portofolio pada titik D, karena portofolio tersebut menawarkan return
yang diharapkan dan risiko yang sesuai dengan preferensi investor tersebut.
2. Fungsi Utilitas dan Kurva Indeferen
Fungsi utilitas bisa diartikan sebagai suatu fungsi matematis yang menunjukkan nilai
dari semua alternatif pilihan yang ada. Semakin tinggi nilai suatu alternatif pilihan, semakin
tinggi utilitas alternatif tersebut. Dalam konteks manajemen portofolio, fungsi utilitas
menunjukkan preferensi seorang investor terhadap berbagai pilihan investasi dengan
masing-masing risiko dan tingkat return yang diharapkan. Fungsi utilitas bisa digambarkan
dalam bentuk grafik kurva indeferen sebagai berikut:
Return yang
diharapkan
(E(Rp))
u3
u2
u3
u1
u2
u1
u1a
u1b
Peningkatan Utilitas
Risiko (σp)
Gambar 3
Fungsi Utilitas dan Kurva Indeferen
Sumber: Tandelilin ( 2010:158 )
Keterangan:
Garis horizontal menggambarkan risiko suatu portofolio (σ p), sedangkan garis vertikal
menggambarkan return portofolio yang diharapkan (E(Rp)). Tiga kurva indeferen yang
menunjukkan fungsi utilitas dilambangkan sebagai u1, u2, u3. Setiap kurva indeferen
menggambarkan kumpulan portofolio dengan return yang diharapkan dan risikonya
masing-masing. Titik-titik yang terletak pada kurva indeferen u1 yaitu titik u1a dan u1b
menunjukkan kombinasi return yang diharapkan dan risiko tertentu, di mana titik u1a
mempunyai return yang diharapkan dan risiko lebih kecil daripada titik u1b. Kemiringan
(slope) positif pada setiap kurva indeferen menggambarkan bahwa investor ingin
memaksimalkan expected return pada risiko tertentu. Semakin jauh suatu kurva indeferen
dari sumbu horizontal, semakin tinggi pula fungsi utilitas bagi seorang investor. Sedangkan
semakin tinggi utilitas suatu kurva indeferen, semakin tinggi pula expected return pada risiko
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
8
tertentu. Jadi dapat disimpulkan pada gambar 3 terlihat bahwa kurva indeferen u3
mempunyai utilitas yang paling tinggi dibanding dua kurva lainnya.
3. Aset Berisiko dan Aset Tidak Berisiko
Dalam berinvestasi, investor bisa memilih menginvestasikan dananya pada berbagai
aset, baik aset yang berisiko maupun aset yang bebas risiko, ataupun kombinasi dari kedua
aset tersebut. Aset berisiko merupakan aset-aset yang tingkat return aktualnya di masa
mendatang masih mengandung ketidakpastian. Sedangkan, aset bebas risiko merupakan
aset yang tingkat returnnya di masa mendatang sudah bisa dipastikan saat ini.
Pilihan investor atas aset-aset tersebut akan tergantung dari sejauh mana preferensi
investor terhadap risiko. Semakin enggan seorang investor terhadap risiko ( risk averse ),
maka pilihan investasinya akan cenderung lebih banyak pada aset-aset yang bebas risiko.
Model Indeks Tunggal
Model indeks tunggal didasarkan pada pengamatan bahwa harga dari suatu sekuritas
berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar ( Jogiyanto, 2008:323).
Secara umum perubahan saham memberikan pergerakan terhadap indeks pasar
sehingga dapat memberikan pertimbangan dalam analisis investasi. Indeks yang digunakan
secara umum adalah Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ). Didalam model ini risiko
investasi yang terjadi adalah risiko sistematik, sehingga investor perlu menaksir besar
betanya untuk ukuran risiko. Keuntungan saham berasal dari perubahaan harga saham dan
pembagian dividen, berkorelasi karena adanya reaksi umum terhadap perubahanperubahan nilai pasar.
Munurut ( Jogiyanto, 2003:246 ) Model indeks tunggal dapat digunakan sebagai input
analisis portofolio serta dapat juga langsung digunakan dalam analisis portofolio dan risiko
portofolio. Asumsi-asumsi model indeks tunggal mempunyai implikasi bahwa sekuritas
bergerak bersama-sama bukan karena efek diluar pasar, melainkan karena mempunyai
hubungan umum terhadap indeks pasar.
Pembentukan Portofolio Optimal Berdasarkan Model Indeks Tunggal
Dalam menentukan portofolio yang optimal diperlukan beberapa proses perhitungan
melalui sejumlah data sebagai input tentang perusahaan. Perhitungan tersebut dimudahkan
sebuah angka yang dapat menentukan apakah suatu saham dapat dimasukkan ke dalam
portofolio yang optimal tersebut.
Angka tersebut adalah rasio antara excess return to beta. Excess return didefinisikan
sebagai selisih return ekspektasi dengan aktiva bebas risiko. Excess return to beta berarti
mengukur kelebihan return relatif terhadap satu unit risiko yang tidak dapat
didiversifikasikan yang diukur dengan beta. Rasio ERB ini juga menunjukkan hubungan
antara dua faktor penentu investasi, yaitu return dan risiko.
Portofolio yang optimal berisi aktiva-aktiva yang mempunyai nilai rasio ERB yang
tinggi. Untuk menentukan batas nilai ERB yang dikatakan tinggi maka diperlukan sebuah
titik pembatas atau Cutt-Off Point ( Jogiyanto, 2003:253 ).
Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian ini, mengambil tiga sumber referensi dari penelitian sebelumnya
berkaitan dengan analisis portofolio dengan model indeks tunggal.
Untuk lebih jelasnya persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian
terdahulu dapat dilihat pada tabel 1 mapping persamaan dan perbedaan dibawah ini:
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
9
Tabel 1
Mapping Persamaan dan Perbedaan Penelitian
Nama
Teknik
Judul
Hasil Penelitian
Peneliti
Analisis Data
Handiartanti Analisis Portofolio
Indeks
Hasil penelitian
(2010)
Dengan Model Indeks
Tunggal
menunjukkan terdapat
Tunggal Untuk
3 saham yang
Memilih Saham-saham
digolongkan
Sebagai Pertimbangan
portofolio optimal
Investasi Pada
yaitu PT. Bank Mega
Perusahaan Perbankan
Tbk, PT. Bank
Yang Go Public Di
Ekonomi Raharja Tbk,
Bursa Efek Indonesia
dan PT. Bank
Internasional
Indonesia.
Sholihah
Analisis Portofolio
Indeks
Hasil dari penelitian
(2011)
Optimal Pada
Tunggal
menunjukkan terdapat
Perusahaan Makanan
2 saham saham yang
Dan Minuman
membentuk portofolio
Berkapitalisasi Pasar
optimal yaitu PT.
Terbesar Yang
Mayora Indah dan PT.
Terdaftar Di Bursa
Delta Djakarta.
Efek Indonesia Dengan
Menggunakan Single
Index Model
Atmaja dan Penerapan Analisis
Indeks
Hasil penelitian
Widodo
Portofolio Saham
Tunggal
menunjukkan
(2010)
Dalam Rangka
portotolio optimal
Optimalisasi Return
yaitu : PT. Astra Agro
Dan Minimalisasi
Lestari Tbk, PT. Astra
Risiko Pada
International Tbk, PT.
Perusahaan LQ45
Bank Mandiri Tbk, PT.
Tambang Batubara
Bukit Asam Tbk dan
PT. Holcim Indonesia
Tbk.
Penelitian
sekarang
Analisis Portofolio
Dengan Model Indeks
Tunggal Untuk
Memilih Saham Yang
Optimal Pada
Perusahaan
Telekomunikasi Di
Bursa Efek Indonesia.
Indeks
Tunggal
Mengetahui manakah
yang termasuk
potofolio saham
optimal pada
perusahaan
telekomunikasi di
Bursa Efek Indonesia.
Penelitian kali ini terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian-penelitian
terdahulu yang telah dilakukan sebagai berikut :
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
10
Persamaan dan Perbedaan
Dalam penelitian kali ini sama-sama menganalisis saham manakah yang membentuk
portofolio optimal serta teknik analisa data yang digunakan sama-sama menggunakan
metode indeks tunggal. Sedangkan perbedaan penelitian kali ini terletak pada obyek yang
diteliti. Pada penelitian kali ini obyek yang diteliti adalah Perusahaan telekomunikasi yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sedangkan pada penelitian terdahulu obyek peneliti oleh
Handiartanti (2010) adalah Perusahaan Pebankan di Bursa Efek Indonesia. Sholihah (2011)
mengambil obyek peneliti perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Sedangkan Atmaja dan Widodo (2010) menggunakan perusahaan LQ45 sebagai
obyek penelitian. Data yang digunakan oleh peneliti terdahulu adalah data bulanan yaitu
harga saham, ihsg, dan sertifikat bank indonesia, sedangkan peneliti sekarang menggunakan
data tahunan yaitu mulai 2010-2012.
Metode Penelitian
Jenis Penelitian dan Gambaran Dari Populasi (Objek) Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan penulis adalah jenis penelitian deskriptif, yaitu
penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat ini dari suatu populasi yang
menggambarkan obyek yang diteliti, dimana data dikumpulkan, dipelajari, diolah kemudian
dianalisis. Gambaran objek populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan
telekomunikasi yang terdaftar di PT. Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012 yaitu semua
perusahaan yang diambil sesuai dengan kriteria-kriteria yang ditentukan.
Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penelitian ini sampel yang digunakan diambil dengan menggunakan teknik
Purposive Sampling, artinya yang dijadikan sampel penelitian adalah sampel yang
memenuhi kriteria sampel tertentu sesuai dengan yang dikehendaki peneliti. Adapun
pertimbangan pengambilan sampel adalah perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012 dan perusahaan telekomunikasi yang sahamnya aktif
diperdagangkan tahun 2010-2012. Berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan dalam
pengambilan sampel, maka yang memenuhi kriteria tersebut adalah: PT. Telekomunikasi
Indonesia (Persero) Tbk, PT. Indosat Tbk,dan PT. XL Axiata Tbk, PT. Inovisi Infracom Tbk,
PT. Bakrie Telecom Tbk dan PT. Smartfren Tbk.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data diperoleh dengan cara studi pustaka dan dokumentasi. Studi
pustaka adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mempelajari teori-teori
dari berbagai literatur yang berhubungan dengan investasi portofolio. Data ini merupakan
landasan teoritik yang digunakan sebagai dasar untuk menjamin tetap terjaganya kualitas
nilai ilmiah dalam penelitian ini. Sedangkan dokumentasi merupakan cara untuk
mendapatkan data melalui catatan-catatan serta dokumen-dokumen tertulis. Dalam
penelitian ini mempelajari informasi yang terdapat dalam catatan atau dokumentasi tentang
harga saham, dividen dan lain-lain yang berhubungan dengan investasi portofolio dan
diperoleh secara langsung dari Bursa Efek Indonesia.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
11
Variabel dan Definisi Operasional Variabel
Variabel merupakan suatu sifat yang dapat memiliki berbagai macam nilai. Sedangkan
definisi Operasional variabel adalah suatu pernyataan yang dapat mengartikan dan
memberikan makna untuk suatu istilah atau konsep tertentu, sehingga tidak salah
dimengerti, dapat diuji dan ditentukan atau dinyatakan kebenarannya oleh orang lain.
Berdasarkan judul “ Analisis Portofolio dengan Model Indeks Tunggal Untuk Memilih
Saham Optimal Pada Perusahaan Telekomunikasi di Bursa Efek Indonesia “, maka definisi
operasional variabel sebagai berikut:
1. Analisis Portofolio dengan Model Indeks Tunggal
Merupakan analisis portofolio sederhana yang berkaitan dengan jumlah dan jenis input
atau data serta prosedur analisis untuk menentukan portofolio yang optimal. adapun faktorfaktor didalam analisis portofolio sebagai berikut :
1) Tingkat Keuntungan Masing-masing Saham ( Rit )
Merupakan keuntungan saham yang berasal dari perubahan harga saham dan
pembagian dividen, berkorelasi karena adanya reaksi umum terhadap perubahanperubahan nilai pasar.
2) Koefisisen Alpha ( ɑ ) dan Beta ( β )
Memperkirakan apa yang terjadi dengan suatu variabel apabila variabel lain berubah.
3) Tingkat Keuntungan Ekspektasi ( E(Ri) )
Merupakan rata-rata tertimbang dari tingkat keuntungan yang diharapkan masingmasing saham yang membentuk portofolio tersebut.
4) Tingkat Risiko Pasar ( σm )
Mengukur risiko dari seberapa besar nilai tiap-tiap item menyimpang dari rata-ratanya.
5) Excess Return To Beta ( ERB )
Merupakan selisih keuntungan ekspektasi dengan keuntungan aktiva bebas risiko atau
mengukur kelebihan keuntungan relatif terhadap satu unit risiko yang tidak dapat
didiversifikasikan yang diukur dengan beta.
6) Tingkat Pembatas Saham / Cut Off Point ( C* )
Merupakan batasan untuk memisahkan saham-saham / aktiva mana saja yang akan
dimasukkan didalam pembentukan portofolio optimal.
7) Proporsi Sekuritas
Merupakan penghitungan untuk masing-masing sekuritas untuk dimasukkan ke dalam
investasi portofolio yang optimal.
8) Beta Portofolio ( βp )
Menghitung beta portofolio merupakan rata-rata dari beta saham individu.
9) Alpha Portofolio ( ɑp )
Menghitung alpha portofolio merupakan rata-rata dair alpha saham individu.
10) Keuntungan Ekspektasi Portofolio ( E(Rp) )
Merupakan rata-rata tertimbang dari keuntungan-keuntungan ekspektasi tiap-tiap
saham tunggal didalam portofolio.
11) Menghitung Risiko Portofolio
Merupakan risiko yang berhubungan dengan pasar ( market related risk ) dan risiko unik
( unique risk ). Dengan memasukkan karakteristik beta portofolio.
Teknik Analisis Data
Dalam penelitian diperlukan teknik-teknik dalam menganalisis data. Data yang
dikumpulkan dianalisis secara sistematis, kemudian diteliti dan hasil dari analisis data
diterapkan dalam memecahkan permasalahan.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
12
Adapun teknik menganalisis data yang digunakan penulis dalam hal ini adalah:
1. Menghitung tingkat keuntungan masing – masing saham
Keterangan:
Rit = Tingkat keuntungan saham individu pada periode t
Pt = Harga saham individu pada periode t
Pt-1 = Harga saham pada periode sebelumnya
Dt = Dividen saham yang diterima pada saham i
2. Menghitung koefisien α dan β
Keterangan:
Rmt
= Indeks Keuntungan Pasar
IHSGt
= Indeks Harga Saham Gabungan pada periode t
IHSGt-1
= Indeks Harga Saham Gabungan pada periode sebelumnya
β
α
β
Keterangan:
n = Jumlah periode
X = Indeks keuntungan pasar
Y = Tingkat keuntungan saham
β = Beta Saham i
α = Alpha Saham i
3. Menghitung Tingkat Keuntungan Ekspektasi
E( Ri ) = αi + βi . E( Rm )
Keterangan:
E( Ri )
= Tingkat keuntungan ekspektasi dari saham i
αi
= Alpha saham i
βi
= Beta saham i
E( Rm )
= tingkat keuntungan ekspektasi dari indeks pasar
4. Menghitung Tingkat Risiko Pasar
1) Menghitung Tingkat Risiko Pasar σm2
σ
Keterangan:
σ m2
= Varian dan keuangan pasar
Rm
= Keuntungan pasar
E( Rm )
= tingkat keuntungan ekspektasi dari indeks pasar
2) Menentukan Varian Dari Keseluruhan Residu ( σei2 )
σ
Jadi total risiko adalah
σi2 = βi2 . σm2 + σei2
5. Menghitung Excess Return To Beta ( ERB )
β
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
13
Keterangan:
E( Ri )
= Tingkat keuntungan saham yang diharapkan dari saham i
βi
= Beta saham i
RBR
= Keuntungan bebas aktiva bebas risiko
6. Menghitung Tingkat Pembatas Saham atau Cut Off Point ( C* )
β
σ
β
σ
σ
σ
7. Proporsi Masing-masing Sekuritas
Keterangan:
Wi = Proporsi sekuritas ke – i
n
= jumlah sekuritas di portofolio optimal
βi
= Beta sekuritas ke – i
σei2 = varian dari kesalahan residu sekuritas ke-i
ERBi= excess return to Beta sekuritas ke-i
C* = Nilai cut-off point yang merupakan nilai Ci terbesar
8. Menghitung Beta Portofolio
β
Keterangan:
βp
= Beta portofolio
∑ Wi.βi
= Rata-rata saham individu
9. Menghitung Alpha Portofolio
α
α
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
14
Keterangan:
αp
= Alpha portofolio
∑ Wi.αi
= Rata-rata alpha saham individu
10.Menghitung Keuntungan Ekspektasi Portofolio
E( Rp ) = αp + βp . E( Rm)
Keterangan:
E( Rp )
= Tingkat keuntungan ekspektasi dari portofolio
αp
= Alpha portofolio
βp
= Beta portofolio
11.Menghitung Risiko Portofolio
σp2 = βp2 . σm2 + ( ∑ Wi . σei )2
Keterangan:
σp2
= Risiko portofolio
Analisis dan Pembahasan
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis portofolio dengan model indeks
tunggal sehingga dapat membentuk suatu portofolio yang optimal. Penulis mengambil
enam saham dalam bidang yang sama dan ke keenam perusahaan tersebut terdaftar di Bursa
Efek Indonesia. Dalam menganalisis portofolio dengan model indeks tunggal penulis
menggunakan rumus-rumus yang telah ada pada bab tiga sedangkan data-data penelitian
terdapat pada bab empat ini. Berikut perhitungan portofolio dengan model indeks tunggal :
1. Menghitung Return dan Risiko Masing-masing Saham
Untuk menghitung return masing-masing saham (Rit) menggunakan rumus pertama (1).
Sedangkan perhitungan tingkat keuntungan indeks pasar (R m), nilai alpha dan beta
menggunakan menggunakan rumus kedua (2). Untuk lebih jelasnya, hasil perhitungan R it ,
Rm , α dan β terdapat pada tabel 2 dan tabel 3 dibawah ini :
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
15
Tabel 2
Perhitungan Indeks Keuntungan Pasar Periode ke-t (Rmt)
Berdasarkan IHSG tahun 2010-2012
Tahun 2010-2012
Tahun
IHSG
2534,356
3703,512
3821,992
4316,687
2009
2010
2011
2012
Rmt
0,4613
0,0320
0,1294
0,6227
0,2076
Jumlah / Rm
Rata-rata / E(Rm)
Sumber : data diolah
Pada perhitungan indeks keuntungan pasar diperoleh E(Rm) sebesar 0,2076. Setelah itu
maka dapat dicari nilai alpha (α) dan beta (β) masing-masing saham. Selanjutnya untuk
menghitung E(Ri) masing-masing saham penulis menggunakan nilai alpha dan beta. Berikut
penulis sajikan hasil perhitungan pada tabel 3 dibawah ini :
Tabel 3
Daftar Alpha, Beta, dan E(Ri) Masing-masing Saham
No
1
Nama Saham
TLKM
Αi
-0,0555
Βi
-0,4160
E(Ri)
-0,1419
2
ISAT
0,0829
0,1746
0,1191
3
EXCL
-0,2927
4,5248
0,6466
4
INVS
-1,4426
20,3519
2,7824
5
BTEL
-0,4367
1,9390
-0,0342
6
FREN
0,3365
-0,5249
0,2275
Sumber : Data diolah
Dengan melihat kedua tabel diatas (tabel 2 dan tabel 3) dapat dijelaskan sebagai berikut :
nilai Rm sebesar 0,6227 merupakan keuntungan dari indeks pasar yang berhubungan
dengan beta masing-masing saham. Beta i adalah sensifitas keuntungan suatu sekuritas
terhadap keuntungan pasar. Besar beta biasanya ditetapkan sebesar 1. Jika nilai beta suatu
saham diatas 1 berarti mempunyai sifat sensitif terhadap perubahan pasar. Sebaliknya jika
besarnya nilai beta suatu saham dibawah 1 berarti memiliki sifat yang tidak rentan atau
tidak sensitif terhadap perubahan pasar. Dari keenam perusahaan yang dijadikan sampel
diatas terdapat tiga perusahaan yang memiliki beta diatas 1 yaitu PT. Inovisi Infracom Tbk,
PT. XL Axiata Tbk, dan PT. Bakrie telecom Tbk. Ketiga saham ini sangat rentan terhadap
perubahaan kondisi pasar. Sedangkan tiga perusahaan lainnya yang memiliki beta dibawah
1 yaitu PT. Indosat Tbk, PT. Telekomunikasi Tbk dan PT. Smartfren Tbk yang berarti saham
ketiga perusahaan tersebut tidak rentan atau tidak sensitif terhadap perubahan pasar.
Perusahaan yang memiliki beta terbesar adalah PT. Inovisi Infracom Tbk sebesar 20,3519
dan beta terendah adalah PT. Smartfren Tbk sebesar
-0,5249. Apabila terjadi perubahan
keuntungan pasar sebesar 1%, PT. Smartfren Tbk harus berhati-hati karena akan berakibat
pada perubahan keuntungan perusahaan dengan arah sama yaitu sebesar -0,5249.
Setelah diketahui besar alpha dan beta masing-masing saham maka nilai expected return
E(Ri) dari tiap saham perusahaan juga dihitung. PT. Inovisi Infracom Tbk memiliki nilai
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
16
E(Ri) tertinggi sebesar 2,7824 yang artinya sahamnya dapat memberikan keuntungan bagi
investor.
Perhitungan selanjutnya adalah menentukan risiko pasar suatu sekuritas (σ m2), varian
kesalahan residu (σei2), dan perhitungan tingkat risiko masing-masing saham (σi). Berikut
hasil perhitungan yang akan penulis sajikan pada tabel 4 dibawah ini :
Tabel 4
Varian Pasar
Varian Kesalahan Residu (σei2),
dan Tingkat Risiko Masing-masing Saham (σi)
Nama Perusahaan
σ m2
σei2
σi
(σm2),
No
1
0,0203
0,0483
0,2276
2
PT. Telekomunikasi
Indonesia (Persero) Tbk
PT. Indosat Tbk
0,0203
0,0011
0,0412
3
PT. XL Axiata Tbk
0,0203
0,0009
0,6454
4
PT. Inovisi Infracom Tbk
0,0203
0,8057
3,0354
5
PT. Bakrie Telecom Tbk
0,0203
0,3190
0,6287
6
PT. Smartfren Tbk
0,0203
0,1402
0,3818
Sumber : Data diolah
Dari tabel diatas menunjukkan bahwa varian keuntungan pasar (σ m2) diperoleh sebesar
0,0203. Jumlah ini berlaku sama pada semua saham karena dalam periode penelitian
keadaan varian keuntungan pasar tetap.
Risiko unik (σei2) adalah varian dari kesalahan residu yang menunjukkan besarnya risiko
tidak sistematis yang unik terjadi di dalam perusahaan. PT. Inovisi Infracom Tbk memiliki
risiko unik paling tinggi sebesar 0,8057 dan semakin tinggi risiko unik maka akan semakin
tinggi pula keuntungan yang didapat. Sedangkan risiko unik terendah adalah
PT. XL
Axiata Tbk sebesar 0,0009 yang merupakan risiko tidak sistematis.
Langkah berikutnya adalah menghitung risiko tiap-tiap saham (σi), yang pertama risiko
pasar dan yang kedua risiko unik. Berdasarkan hasil perhitungan semua perusahaan yang
dijadikan sampel terdapat lima perusahaan yang memiliki risiko dibawah 1. Nilai risiko
dibawah 1 berarti menandakan bahwa saham tersebut memiliki risiko yang rendah,
sedangkan nilai risiko diatas 1 menandakan bahwa saham tersebut memiliki risiko yang
tinggi. PT. Inovisi Infracom Tbk memiliki risiko sebesar 3,0354 yang berarti memiliki
keuntungan yang tinggi pula.
2. Menghitung Keuntungan Aktiva Bebas Risiko
Aktiva bebas risiko (RBR) adalah aktiva yang mempunyai keuntungan ekspektasi
tertentu dengan risiko yang sama dengan nol.
Tabel 5
Perhitungan Return Bebas Risiko
Tahun
SBI
2010
6,50
2011
6,00
2012
5,75
Jumlah
18,25
Rata-rata
6,08
RBR
0,0608
Sumber : Data diolah
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
17
Dalam tabel diatas aktiva bebas risiko yang digunakan adalah Sertifikat Bank Indonesia
periode 2010–2012. Dari hasil perhitungan keuntungan bebas risiko diperoleh sebesar 0,0608.
Hasil perhitungan RBR digunakan untuk menghitung Excess Return To Beta (ERB).
3. Perhitungan Portofolio Optimal
Penentuan portofolio optimal akan menjadi mudah apabila didasarkan pada sebuah
angka yang disebut excess return to beta atau ERB. Portofolio optimal akan berisi dengan
aktiva-aktiva yang memiliki nilai rasio ERB yang tinggi, sedangkan nilai rasio yang rendah
tidak termasuk dalam portofolio yang optimal. Oleh karena itu diperlukan sebuah titik
pembatas atau cut off point yang menentukan batas nilai ERB berapa yang dikatakan tinggi.
Perhitungan rumus ERB adalah menggunakan rumus ke lima (5). Hasil perhitungan dapat
dilihat pada tabel 6:
Tabel 6
Perhitungan Portofolio Optimal
Nama
E(Ri)
Βi
RBR
ERBi
Saham
TLKM
-0,1419
-0,4160
0,0608
0,4872
ISAT
0,1191
0,1746
0,0608
0,3339
EXCL
0,6466
4,5248
0,0608
0,1295
INVS
2,7824
20,3519
0,0608
0,1337
BTEL
-0,0342
1,9390
0,0608
-0,0490
FREN
0,2275
-0,5249
0,0608
-0,3176
Sumber : Data diolah
Tabel 6 menunjukkan nilai ERB tertinggi adalah PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero)
Tbk yaitu sebesar 0,4872. Sedangkan ERB terkecil adalah PT. Smartfren Tbk sebesar -0,3176.
Langkah selanjutnya adalah mengurutkan saham berdasarkan nilai ERB terbesar ke ERB
terkecil. Kemudian menghitung nilai Ai, Bi, dan Ci menggunakan rumus (6). Saham yang
membentuk portofolio optimal adalah saham yang memiliki nilai ERB lebih besar atau sama
dengan nilai Ci-nya. Saham yang memiliki nilai ERB dibawah nilai dibawah Ci tidak
termasuk portofolio optimal. Berikut hasil perhitungan yang disajikan pada tabel 7 :
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
18
Tabel 7
Urutan ERB, Perhitungan Ci, dan Batas Optimal Ci
Nama saham
ERB
Ai
Bi
∑Aj
∑Bj
Ci
TLKM
0,4872
1,7458
3,5829
1,7458
3,5829
0,0330
ISAT
0,3339
9,2538
27,7138
10,9996
31,2967
0,1429
INVS
0,1337
68,7473
514,0869
79,7469
545,3836
0,1341
EXCL
0,1295
2945,1420
22748,6834
3024,8889
23294,0670
0,1295
BTEL
-0,0490
-0,5774
11,7859
3024,3115
23305,8529
0,1295
FREN
-0,3176
-0,6241
1,9652
3023,6874
23307,8181
0,1294
Sumber : Data diolah
Pada tabel 7 diketahui terdapat tiga perusahaan yang memiliki nilai ERB yang lebih
besar atau sama dengan nilai C*. PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk memiliki nilai
ERB lebih besar dari nilai C* yaitu 0,4872 dan 0,0330. Sedangkan PT. Indosat Tbk memiliki
nilai 0,3339 dan 0,1429. PT. XL Axiata Tbk memiliki nilai ERB yang sama dengan nilai C*
yaitu sebesar 0,1295. Perusahaan yang memiliki nilai ERB lebih kecil daripada nilai C* tidak
termasuk dalam portofolio optimal.
4. Proporsi masing-masing saham
Setelah mengetahui saham yang membentuk portofolio optimal, yaitu PT.
Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, PT. Indosat Tbk, dan PT. XL Axiata Tbk, langkah
selanjutnya adalah menghitung proporsi masing-masing saham. Hasil perhitungan proporsi
saham dapat dilihat pada tabel 8 dibawah ini :
Tabel 8
Proporsi Saham
Nama
saham
Βi
σei2
ERBi
Ci
Zi
Wi
TLKM
-0,4610
0,0483
0,4872
0,0330
-3,9119
-0,1481
ISAT
0,1746
0,0011
0,3339
0,1429
30,3169
1,1481
EXCL
4,5248
0,0009
0,1295
0,1295
0,0000
0,0000
TOTAL
26,4050
1,0000
Sumber : Data diolah
Tabel diatas menunjukkan proporsi masing-masing sekuritas pada portofolio optimal
adalah PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk sebesar -0,1481 dan PT. Indosat Tbk
sebesar 1,1481.
5. Menghitung Tingkat Keuntungan Portofolio
Perhitungan tingkat keuntungan portofolio adalah untuk mengetahui berapa besarnya
tingkat keuntungan dari portofolio yang telah masuk dalam portofolio optimal. hasil
perhitungan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
19
Tabel 9
Perhitungan Tingkat Keuntungan Portofolio
Nama
saham
TLKM
ISAT
Total
Wi
-0,1481
1,1481
1,0000
Βi
-0,4160
0,1746
Βp
0,0616
0,2004
2,6922
αi
-0,0555
0,0829
Αp
0,0082
0,0952
E(Rm)
0,2076
0,2076
E(Rp)
0,0210
0,1368
0,1578
Sumber : Data diolah
Setelah menghitung timgkat keuntungan portofolio diatas, didapat hasil portofolio yang
diharapkan dari portofolio optimal yaitu sebesar 0,1578.
6. Menghitung Risiko Portofolio
Langkah yang terakhir yaitu menghitung risiko portofolio. berikut hasil perhitungan
risiko portofolio yang penulis sajikan pada tabel 10 dibawah ini :
Tabel 10
Perhitungan Risiko Portofolio
Nama saham
βi
Βp
σm2
σp2
σp
TLKM
-0,4160
0,0616
0,0203
0,0077
0,0877
ISAT
0,1746
0,2004
0,0203
0,0008
0,0283
0,1160
Sumber : Data diolah
Pada perhitungan diatas didapatkan hasil portofolio optimal sebesar 0,1160. Untuk itu
sebaiknya investor berinvestasi pada sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio
optimal karena risikonya lebih rendah daripada risiko saham individu.
Hasil dari analisis dan pembahasan, didapatkan dua perusahaan yang memiliki
portofolio optimal yaitu PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero) dan PT. Indosat Tbk karena
memiliki nilai ERB yang lebih tinggi atau sama dengan nilai ERB di titik C*. Tingkat
keuntungan portofolio kedua saham sebesar 0,1578. Sedangkan tingkat risiko kedua saham
sebesar 0,1160. Sehingga dapat disimpulkan bahwa investor lebih baik berinvestasi pada
kedua saham tersebut karena memiliki tingkat keuntungan portofolio yang lebih tinggi
daripada tingkat risiko portofolionya.
Simpulan dan Keterbatasan
Simpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan yang dilakukan pada bab sebelumnya, maka yang
dapat peneliti simpulkan adalah Portofolio Optimal merupakan sekumpulan portofolio
yang layak dipilih oleh investor sekian banyak pilihan yang ada pada portofolio yang efisien
dan sesuai dengan preferensi investor terhadap tingkat keuntungan maupun tingkat risiko
yang bersedia ditanggungnya. PT. Inovisi Infracom Tbk, PT. XL Axiata Tbk, dan PT. Bakrie
Telecom Tbk memiliki sifat sensitif atau rentan terhadap perubahan pasar. Perusahaan yang
memiliki risiko saham tertinggi adalah PT. Inovisi Infracom sedangkan kelima perusahaan
lainnya memiliki risiko yang rendah. Perusahaan yang masuk kedalam portofolio optimal
adalah perusahaan yang memiliki nilai ERB lebih besar daripada nilai Cinya. Dari enam
perusahaan telekomunikasi yang dijadikan obyek penelitian terdapat dua perusahaan yang
memiliki ERB lebih besar daripada nilai Ci yang artinya kedua perusahaan tersebut
merupakan perusahaan yang masuk dalam portofolio optimal.
Untuk memilih portofolio optimal yang ada pada gambar 2, langkah yang pertama
adalah menentukan kumpulan portofolio yang tersedia bagi investor yaitu terdiri dari enam
saham. Kemudian mengkombinasikan aset-aset yang membentuk portofolio efisien. Setelah
mengkombinasikan aset-aset yang membentuk portofolio optimal maka diketahui terdapat 2
saham yang membentuk portofolio optimal yaitu PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero)
Tbk dan PT. Indosat Tbk. Berdasarkan preferensi investor terhadap keuntungan dan risiko
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 5 (2014)
20
yang bersedia ditanggungnya portofolio yang paling optimal adalah PT. Indosat Tbk karena
menawarkan keuntungan yang diharapkan tinggi dengan risiko rendah.
Keterbatasan
Keterbatasan utama pada penelitian ini adalah bahwa untuk melakukan perhitungan
portofolio optimal sebaiknya lebih memperbanyak sampel dan periode penelitian agar
mendapatkan hasil yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Atmaja, B.S dan H. Widodo. 2010. Penerapan Analisis Portofolio Saham Dalam Rangka
Optimalisasi Return dan Minimalisasi Risiko Pada Perusahaan LQ45. Emisi Vol. 3 No.
2, 161-174.
Darmadji, T dan M.H. Fakhruddin. 2001. Pasar Modal di Indonesia. Edisi Pertama. Jakarta:
Salemba Empat.
Halim, A. 2005. Analisis Investasi. Edisi Kedua. Jakarta: Salemba Empat
Handiartanti, O. 2010. Analisis Portofolio Dengan Model Indeks Tunggal Untuk Memilih
Saham-saham Sebagai Pertimbangan Investasi Pada Perusahaan Perbankan Yang Go
Public Di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Program Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi Indonesia (STIESIA). Surabaya.
Husnan, S. 2001. Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi 2. Yogyakarta: UPP
AMP YKPN.
, 2004. Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi 3. Yogyakarta: UPP
AMP YKPN.
, 2005. Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi 4. Yogyakarta: UPP
AMP YKPN.
Jogiyanto, 2003. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi 3. Yogyakarta: BPFE.
, 2008. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi 5. Yogyakarta: BPFE.
, 2010. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi 7. Yogyakarta: BPFE
Samsul, M. 2006. Pasar Modal dan Manajemen Portofolio. Jakarta: ERLANGGA.
Sholihah, M. 2011. Analisis Portofolio Optimal Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman
Berkapitalisasi Pasar Terbesar Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Dengan
Menggunakan Single Index Model. Skripsi. Program Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi Indonesia (STIESIA). Surabaya.
Sunariyah. 2006. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Edisi 5 Yogyakarta: UPP AMP YPKN.
Tandelilin, E. 2010. Portofolio dan Investasi. Edisi Pertama. Yogyakarta: Kanisius Yogyakarta.
Download