pengajaran sastra menggunakan pendekatan sosiologi sastra

advertisement
PENGAJARAN SASTRA MENGGUNAKAN PENDEKATAN
SOSIOLOGI SASTRA
Dwi Ario Fajar (PBI FKIP Universitas Pekalongan)
[email protected]
Abstract
This research covers the use of sociology of literarture as the teaching literature approach. The
problems statement comes from the use of intrinsic elements in teaching literature recently. It uses
library research method. Through sociology of literature, learning will be more interesting because it
explores both intrinsically and extrincically. This research also gives the application of teaching
literature using sociology of literature approach. Using sociology of literature, the teacher could teach
students both intrinsically and extrinsically of literary works. For extrinsic elements, the teacher could
connect the literary works to the social condition of the author and the social condition reflected in
literary works. Sociology of literature offers more interactive discussion literature learning.
Keywords: sociology of literature, literary teaching, extrinsic elements
dengan perasaan terpaksa karena guru hanya
PENDAHULUAN
Persoalan
pengajaran
dan
pembelajaran di sekolah yang terjadi di
mengajarkan apa yang diperlukan siswa saat
menghadapi ujian.
Indonesia sangat kompleks dan pelik. Salah
Dari kekurangan dan masalah tersebut,
satunya bersumber dari pengajar atau guru itu
sebenarnya pengajaran sastra di sekolah
sendiri.
cenderung
menimbulkan dampak positif bagi siswa.
pengajaran
Rahmanto (1998: 16) menyatakan bahwa
kesusasteraan, guru hanya mengajarkan sastra
pengajaran sastra dapat membantu pendidikan
hanya
nilai
secara utuh apabila cakupannya meliputi
muridnya agar mendapat nilai yang baik saat
empat manfaat, yaitu: membantu keterampilan
ujian. Di sini, tidak penting apakah siswa
membaca, meningkatkan pengetahuan budaya,
benar-benar menikmati dan memahami karya
mengembangkan
sastra atau tidak. Sehingga yang terjadi dalam
menunjang pembentukan watak.
Tidak
mengejar
sedikit
target.
untuk
guru
Dalam
keperluan
mengejar
cipta
dan
rasa,
serta
pengajaran sastra saat ini adalah tidak penting
Pengajaran sastra di sekolah tidak
siswa mengetahui dan memahami sastra, yang
sekedar mengatahui karya sastra. Apresisasi
penting siswa dapat mengerjakan soal yang
sastra justru lebih bermanfaat. Menurut Dola
mengandung kesusasteraan. Proses pengajaran
(2007), secara terminologi, apresiasi sastra
sastra seperti itulah yang membuat tidak
dapat
menarik. Siswa
penilaian, dan pengertian terhadap karya
seringkali belajar sastra
diartikan
sebagai
penghargaan,
sastra, baik
drama,
yang
berupa
maupun
pernyataan
tersebut,
prosa
fiksi,
METODE PENELITIAN
puisi. Berdasarkan
sebenarnya
kegiatan
Metode penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah studi pustaka
apresiasi karya sastra dapat dilaksanakan
mengenai
secara
dikarenakan
pendekatan sosiologi sastra di sekolah. Nazir
kurikulum pendidikan sekarang didukung oleh
(1998 : 112) studi kepustakaan merupakan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau
langkah dimana setelah seorang peneliti
sering disebut KTSP, guru berhak untuk
menetapkan
membuat kurikulum sendiri. Meskipun begitu,
selanjutnya adalah melakukan kajian yang
apresiasi sastra di sekolah tetap masih kurang
berkaitan dengan teori yang berkaitan dengan
jika dirasakan. Para murid kadang enggan
topik penelitian. Dalam pencarian teori,
mempelajari bahasa dan sastra secara serius.
peneliti
Sebab, mereka tidak melihat adanya manfaat
sebanyak-banyaknya dari kepustakaan yang
tertentu yang bisa diraihnya dengan menekuni
berhubungan.
pelajaran dimaksud secara khusus dan serius.
dapat diperoleh dari: buku, jurnal, majalah,
maksimal.
Hal
ini
Di sisi lain, pengajaran sastra di
sekolah
hanya
sebatas
menitikberatkan
analisis
pengajaran
unsur
yang
intrinsik,
pengajaran
akan
topic
sastra
dengan
penelitian,
mengumpulkan
Sumber-sumber
langkah
informasi
kepustakaan
hasil-hasil penelitian (tesis dan disertasi), dan
sumber-sumber lainnya yang sesuai (internet,
koran dll).
seperti menganalisis tokoh, alur, latar dsb.
Karya sastra sering dipahami dengan
Analisis unsur intrinsik tersebut mempunyai
pengertian sempit, yaitu segala sesuatu yang
kelemahan, yaitu tidak mencakup secara luas
tercetak atau tertulis saja. Pengertian tersebut
apa yang ada diluar karya sastra. Dengan
terlalu sempit karena karya sastra tidak selalu
menggunakan pendekatan sosiologi sastra,
berkaitan dengan teks tertulis. Ini disebabkan
maka setidaknya akan membantu pengajaran
karena adanya pengabaian eksisnya sastra
sastra
lisan. Padahal jika dirunut sejarahnya, sastra
disekolah
menjadi
lebih
luas
cakupannya, tidak sebatas membahas unsur
intrinsik sebuah karya sastra, namun aspekaspek sosiologis yang mengelilinginya.
lisan adalah karya sastra yang pertama.
Akan tetapi harus diingat bahwa
adanya ketidaksamaan antara karangan sastra
Dengan latar belakang yang telah
dan karangan ilmu pengetahuan meskipun
diuraikan di atas, permasalahan yang dibahas
keduanya merupakan karangan yang terulis
pada tahap selanjutnya dirumuskan sebagai
atau tercetak, yang membedakan keduanya
berikut. Bagaimanakah langkah-langkah dalam
terletak di kategori fiksi atau non fiksi. Namun
menerapkan
lebih tepatnya menurut Noor (2007: 11), jika
pengajaran
sastra
dengan
pendekatan sosiologi sastra terhadap siswa?
kita memperhatikan karya sastra adalah karya
sastra merupakan karya imajinatif seseorang,
baik lisan maupun tertulis, meskipun bahan
(inspirasinya) diambil dari dunia nyata yang
pengarangnya.
atau lebih memiliki kemungkinan besar untuk
Sehingga mencari kebenaran di dalam sebuah
menghasilkan tanggapan yang berbeda. Dalam
karya sastra adalah kebenaran ideal bagi
hal ini, karya sastra merupakan sesuatu yang
pengarangya. Sebab, realitas dalam karya
subjektif,
sastra
Singkatnya sastra dapat berfungsi sebagai
telah
dimodifikasi
sudah
oleh
ditambah
“sesuatu”
oleh
dan
tiada
duanya.
suatu tanggapan terhadap sesuatu hal dalam
pengarangnya.
Sastra
pribadi,
menampilkan
gambaran
kehidupan nyata.
suatu
Keterkaitan antara karya sastra dengan
ini,
kondisi dan kehidupan masyarakat membuat
kehidupan hubungan antarmasyarakat dengan
penelitian sastra dapat dikaji dengan bantuan
orang-orang, antarmanusia, dan antarperistiwa
sudut pendekatan sosiologi sastra. Ratna
yang
menyatakan bahwa dalam lingkup sosiologi
kehidupan;
dan
kenyataan
sosial.
terjadi
kehidupan
adalah
Dalam pengertian
dalam
batin
seseorang.
Bagaimanapun juga, peristiwa-peristiwa yang
sastra,
terjadi dalam batin seseorang yang sering
membahas aspek-aspek kemasyarakatannya,
menjadi
pantulan
kaitan karya sastra dengan masyarakat yang
hubungan seseorang dengan orang lain atau
melatarbelakanginya, dan hubungan antara
dengan
masyarakat dangan karya sastra (Ratna, 2005:
bahan
sastra,
masyarakat
Melalui
karya
adalah
(Damono,
sastra,
2009:
pembaca
1).
dapat
sastra
dimengerti
dengan
cara
2-3).
mengetahui dan memahami salah satu atau
Menyangkut keterkaitan antara sastra
beberapa persoalan yang dapat ditemui dalam
dengan masyarakat atau lebih khususnya sastra
kehidupan, dengan kata lain sastra mempunyai
dengan sosiologi, menurut Damono sastra dan
fungsi, yaitu sebagai cermin dari kenyataan.
sosiologi bukanlah dua bidang yang sama
Selain pengaruh karya sastra dengan
sekali
berbeda
garapan,
dikatakan
sastrawan, karya sastra juga merupakan suatu
keduanya selama ini cenderung untuk terpisah-
terjemahan perjalanan hidup manusia ketika
pisah (Damono, 2009:13). Sehingga dari
manusia
dengan
pendapat Damono dan para ahli sastra tersebut
dalam
dapat disimpulkan bahwa sastra atau karya
kehidupannya (Sardjono, 1995: 10). Oleh
sastra sangat terkait dengan keadaan sosiologis
karena itu karya sastra dapat dipandang
karya sastra itu dibuat.
sebagai suatu pernyataan sikap, perasaan atau
Karena
peristiwa-peristiwa
bersentuhan
yang
terjadi
melengkapi,
dapat
lingkungan sosial di sekitar pengarang atau
tersebut
saling
malahan
keterkaitan
nyatanya
anatara
karya
pemikiran yang dimiliki oleh pengarang
sastra dan sosiologis sekitar, maka pendekatan
mengenai hal-hal yang terjadi di sekitarnya.
sosiologi sastra sangat dibutuhkan peneliti
Hal yang pengarang pilih haruslah suatu isu
sastra dalam meneliti hal-hal sosiologis yang
yang ia pandang menarik dan menyentuh bagi
terkait
dirinya secara personal. Dalam memandang
sosiologi sastra yang paling banyak dilakukan
sebuah isu yang sama, dua orang pengarang
saat ini menaruh perhatian yang besar terhadap
dalam
karya
sastra.
Pendekatan
aspek dokumenter sastra, landasannya adalah
dan 3). Audien atau pembaca (1981: 178).
gagasan bahwa sastra merupakan cermin
Dari penjelasan Abrams mengenai pendekatan
zamannya.
sosiologi sastra tersebut dapat dijadikan acuan
Suatu karya sastra tidaklah cukup
pengajar
dalam
pengajaran
sastra
yang
dipahami kalau hanya diteliti strukturnya saja
menggunakan pendekatan sosiologi sastra,
tanpa bekerjasama dengan disiplin ilmu lain.
menjadi semacam langkah-langkah dalam
Hal ini dikarenakan, permasalahan yang
menganalisis karya sastra.
terkandung di dalam suatu karya sastra pada
Dari ketiga yang disebutkan diatas,
dasarnya merupakan masalah masyarakat.
cukup diambil dua dari ketiga hal tersebut,
Jakob Sumardjo mengungkapkan bahwa sastra
yakni sosiologi penulis dengan budaya tempat
adalah produk masyarakat. Ia berada di tengah
ia tinggal dan karya dengan kondisi sosial
masyarakat karena dibentuk oleh anggota-
yang direfleksikan di dalamnya. Pengambilan
anggota masyarakat berdasarkan desakan-
dua hal tersebut dikarenakan pendekatan yang
desakan
ketiga cukup rumit dimengerti oleh siswa atau
emosional
atau
rasional
dari
masyarakatnya. Jadi jelas bahwa kesusasteraan
mahasiswa di luar jurusan sastra.
dapat dipelajari berdasarkan disiplin ilmu
sosial juga, dalam hal ini sosiologi (Sumardjo,
HASIL DAN PEMBAHASAN
1979:12).
Aplikasi dalam Pengajaran Sastra
Pengajaran
sastra
menggunakan
1. Penulis dengan Sosial Budayanya.
pendekatan sosiologi sastra merupakan bagian
Dalam penerapan pengajaran sastra
dari pengajaran sastra yang tidak hanya
menggunakan pendekatan sosiologi sastra,
berfokus kepada unsur intrinsik pada karya
karya sastra yang dipilih adalah novel The
sastra. Dengan metode ini siswa akan diajak
Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald dan
melihat unsur ekstrinsik, yaitu unsur-unsur
cerpen “Robohnya Surau Kami" karya A.A.
yang ada diluar karya sastra. Membahas unsur
Navis, berkaitan dengan pendekatan sosiologi
ekstrinsik tersebut merupakan suatu hal yang
sastra pengarang dengan lingkungan budaya
baru bagi siswa atau mahasiswa diluar jurusan
tempat ia tinggal. Yang perlu dilakukan dalam
sastra. Tentunya ini merupakan hal yang
langkah
menarik, karya sastra tidak akan terlihat
membaca karya sastra dan biografi pengarang
sempit bagi kalangan umum.
tersebut. Di sini, pengarang yang akan dibahas
Menurut Abrams (1981)
dalam A
pertama
adalah
pengajar
harus
adalah F. Scott Fitzgerald.
Glossary of Literature Term ada tiga perhatian
Fitzgerald adalah penulis Amerika
yang dapat dilakukan oleh kritikus atau
yang tenar pada awal abad 20, yang terkenal
peneliti yaitu dalam menggunakan pendekatan
dengan adanya era Jazz Age atau Roaring
sosiologi sastra: 1) Penulis dengan lingkungan
Twenties, yakni Amerika Serikat sedang
budaya tempat ia tinggal, 2) Karya dengan
mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat
kondisi sosial yang direfleksikan di dalamnya,
pesat setelah Perang Dunia
I. Analisis
pengarang ini difokuskan terhadap keterkaitan
pengarangnya, F. Scott Fitzgerald?” dari
pengarang dengan budaya dimana ia tinggal.
pertanyaan
Sehingga hal yang pertama dilakukan oleh
perbedaan opini dan pendapat dari siswa yang
pengajar adalah meneluri informasi kehidupan
telah membaca novel The Great Gatsby.
nyata sosok F. Scott Fitzgerald melalui
Sedikit informasi bahwa tokoh Jay Gatsby
pembacaan biografinya. Hubungan antara
memiliki kesamaan cerita dengan kisah hidup
pengarang dan lingkungan budaya ia tinggal
F.
tersebut
memiliki kesamaan cerita asmara mereka,
setidaknya
akan
melahirkan
Scott
tersebut
akan
Fitzgerald.
memunculkan
Keduanya
hampir
apabila Jay Gatsby mengejar cinta tokoh Daisy
pertanyaan yang diberikan kepada siswa.
Sebelum memberi pertanyaan kepada
yang
merupakan
anak
pejabat
militer,
siswa, pengajar memberikan dua buah bacaan,
sedangkan F. Scott Fitzgerald menikahi Zelda
yaitu novel The Great Gatsby dan informasi
yang merupakan anak pejabat pengadilan
singkat biografi F. Scott Fitzgerald sebagai
setempat. Meskipun demikian, pengajar harus
pengarangnya. Setelah siswa telah membaca
mengingatkan dan memberi penjelasan kepada
keduanya, barulah pengajar mulai memberi
siswa bahwa sastra tidak mutlak cermin dari
pertanyaan. Contoh pertanyaan dapat berupa
kenyataan. Hal ini telah diungkapkan oleh Ian
“Seperti yang diketahui, F. Scott Fitzgerald
Watt dalam Damono (2009: 5) dalam esainya
adalah penulis yang berasal dari Amerika
“Literature and Society” bahwa pengarang
Serikat, coba anda sebutkan hal-hal yang
sering
menunjukkan
seorang
penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya.
pengarang yang berasal dari Amerika?”.
Dengan demikian, meskipun ada kemiripan
Jawaban yang diberikan para siswa akan selalu
kisah pengarang dengan karyanya, kemiripan
bervariasi, seperti latar setting novel The Great
tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran.
bahwa
ia
adalah
mempengaruhi
pemilihan
dan
Gatsby ada di wilayah New York dan Long
Pada karya sastra yang kedua adalah
Island. Meskipun tidak semua cerita rekaan
cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A.
seperti novel dan cerpen mempunyai latar
Nafis. Sama seperti yang dilakukan analisis
tempat
yang
yang
jelas,
setidaknya
sebelum
pertama
yaitu
pembacaan
biografi
memilih karya sastra, penulis harus mengenal
penulis. Di era teknologi elektronik yang maju
terlebih dahulu karya sastra yang digunakan
saat ini, pengajar tidak perlu bersusah payah
dalam pengajaran.
untuk mencari keterangan di perpustakaan
Pertanyaan mengenai pengarang dapat
sekolah atau institusi ia mengajar, cukup
pribadi
dengan bantuan pencarian di mesin pencari
pengarang, dengan catatan pengajar harus
seperti google.com, semua informasi yang
menguasai
satu
dibutuhkan akan tersedia. Dalam pencarian
pertanyaan tersebut adalah “Apakah ada tokoh
biografi A.A. Navis di internet, saya rasa tidak
dalam novel The Great Gatsby yang memiliki
terlalu
kesamaan
lengkap mengenai penulis tersebut.
diperluas
mengarah
terlebih
cerita
kehidupan
dahulu.
Salah
kehidupan
dengan
sulit
untuk
didapatkan
informasi
Sedikit info mengenai A.A. Navis
mendapat pengetahuan-pengatahuan di luar
yang diambil dari situs Balai Bahasa Jambi, ia
karya sastra yang dibahas, misalnya dalam hal
adalah pengarang kelahiran Padangpanjang,
ini mengenai informasi terhadap penulis.
Sumatera Barat, pada tanggal 17 November
Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan
1924. Ia merupakan anak sulung dari lima
kepengarangan dan karyanya semisal sebagai
belas bersaudara. Navis memulai kariernya
berikut, “Seperti yang diketahui, A.A. Navis
sebagai penulis ketika usianya sekitar tiga
adalah
puluhan. Sebenamya, ia sudah mulai aktif
Padangpanjang, Sumatera Barat, dapatkah
menulis sejak tahun 1950. Akan tetapi,
menunjukkan
kepenulisannya baru diakui sekitar tahun 1955
penulis dengan latar belakang budaya minang
sejak cerpennya banyak muncul di beberapa
dengan isi cerpen “Robohnya Surau Kami” ?”
majalah, seperti Kisah, Mimbar Indonesia,
atau “Dapatkah anda menemukan ke-khasan
Budaya,
cerpen
dan
Roman,
termasuk
cerpen
pengarang
yang
bahwa
Robohnya
berasal
adanya
Surau
dari
keterkaitan
Kami
dengan
“Robohnya Surau Kami” diterbitkan pada
latarbelakang minang yang dimiliki oleh
tahun 1955 Selain cerpen, Navis juga menulis
penulis, A.A. Navis ?”.
naskah sandiwara untuk beberapa stasiun RRI,
Kedua
pertanyaan
menimbulkan
Palembang, dan Makassar. Seterusnya, ia juga
tersebut
mulai menulis novel. Tema-tema yang muncul
seingga menimbulkan diskusi yang menarik.
dalam karya-karya A.A. Navis biasanya
Siswa akan menerka-nerka jawaban dengan isi
bernafaskan
keagamaan
cerita keseluruhannya cerpen tersebut. Namun
sekitar masyarakat Minangkabau. Tentang
hal yang mungkin apabila siswa kurang aktif,
kehadirannya di percaturan sastra Indonesia,
pertanyaan-pertanyaan tersebut mustahil akan
A.
Navis
dijawab. Disini tugas pengajar selain mengajar
sebenarnya bukan seorang pengarang besar,
yaitu membimbing. Bimbingan pengajar dapat
tetapi seorang pengarang yang menyuarakan
dilakukan dengan menyuruh siswa mencari
suara Sumatera di tengah konsep Jawa
informasi di internet atau langsung diarahkan
(pengarang Jawa) sehingga ia layak disebut
untuk menjawab dengan bantuan pengajar itu
sebagai
sendiri. Pengajar memberikan jawaban dengan
kedaerahan
Teeuw
berkomentar
dan
bahwa
pengarang
“Angkatan
jawaban.
akan
seperti Stasiun RRI Bukittinggi, Padang,
akan
banyak
tersebut
mengembang
dan
Jawaban
meluas
penjelasan-penjelasan yang logis. Misalnya
Terbaru”(balaibahasa.org).
mengenai
untuk pertanyaan pertama dan kedua, ke-
pengarang, A.A. Navis, pengajar segera
khasan budaya minang dapat ditemukan
mencari
beberapa
melalui pencarian istilah-istilah minang itu
pertanyaan yang terkait dengan pengarang dan
sendiri, misalnya penggunaan kata garin oleh
karyanya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan
A.A. Navis. Garin adalah sebutan untuk
memicu perdiskusian yang akan menarik bagi
penjaga surau di masyarakat Minangkabau.
siswa. Siswa secara langsung berbicara dan
Dari informasi yang kecil tersebut, siswa
Dari
sedikit
informasi
permasalahan
atau
secara tidak langsung mendapat pengetahuan
2. Karya dengan Kondisi Sosial yang
yang
Direfleksikan di Dalamnya.
baru
mengenai
kebudayaan
Minangkabau, terlebih siswa yang berasal dari
luar Minangkabau.
Pendekatan
yang
kedua
adalah
mengkaitkan karya sastra dengan kondisi
Pertanyaan lain mengenai sosiologi
sosial yang direfleksikan didalamnya. Kata
pengarang dapat diperoleh dengan mengajak
refleksi ini tidak seperti cermin, karya sastra
siswa
membaca
dahulu
cerpen
persis seperti apa yang ada dalam kenyataan.
Setelah
siswa
Pengarang pasti telah merubah kenyataan alam
membaca dengan cermat, pengajar sebelum
nyata ke dalam novel atau karya sastra. Hal
memberikan informasi mengenai pengarang
yang pertama dilakukan adalah pengajar harus
dapat
mencari
Robohnya
terlebih
Surau
Kami.
memberikan
dengan
pertanyaan
informasi
sebanyak-banyaknya
sederhana, misalnya “Setelah anda membaca
mengenai kondisi sosial pada saat novel
cerpen “Robohnya Surau Kami”, kira-kira
tersebut ditulis. Masih dengan novel yang
dapatkah
anda
dari
mana
sama, novel The Great Gatsby ditulis atau
Pertanyaan
yang
diluncurkan pada tahun 1925 di Amerika
sederhana tersebut akan memicu siswa untuk
Serikat. Dengan demikian, tahun 1925 dapat
berpikir lebih luas, tidak berpikir hanya
dijadikan acuan untuk mencari informasi
sebatas
dan
sebanyak-banyaknya mengenai kondisi sosial
pengalaman siswa juga secara tidak langsung
novel The Great Gatsby. Akan tetapi, lebih
diasah.
baik jika mencari latar waktu di dalam novel
pengarang
mengetahui
berasal?”.
isi
cerita.
Pengetahuan
Bila digambarkan skema mengajar
tersebut. Hal ini berguna untuk menghindari
sastra dengan pendekatan sosiologi sastra
adanya
khususnya
mengenai kondisi sosial suatu karya. Sebab,
keterkaitan
antara
pengarang
kesalahan
pencarian
informasi
dengan lingkungan budayanya maka akan
tidak
terlihat seperti berikut,
kondisi sosialnya menurut karya tersebut
semua
karya
sastra
merefleksikan
dibuat. Di dalam novel The Great Gatsby, latar
waktu yang ditemukan adalah tahun 1922.
Membaca
Karya Sastra
Mencari Biodata
Pengarang
Latar waktu tersebut dapat menjadi acuan
pertanyaanpertanyaan
mengenai
pengarang dan
lingkungan
budayanya
mengenai informasi kondisi sosial novel
tersebut.
Setelah mengetahui bahwa tahun 1922
atau 1920 an, maka yang perlu diketahui oleh
pengajar adalah pencarian informasi kondisi
sosial Amerika 1920 an. Pertanyaan yang
membantu pengajar adalah “Ada kejadian-
Gambar 1
kejadian apa yang terjadi pada saat itu, 1920
an?” sebagai informasi, tahun 1920
terjadi
peningkatan ekonomi masyarakat Amerika
Untuk karya sastra yang kedua yakni
karena tingginya arus investasi yang masuk di
cerpen, pengajar masih dapat berpijak pada
dalam negara Amerika, terutama di bursa
tahun terbit cerpen tersebut. “Robohnya Surau
saham Wall Street New York. Selain itu juga
Kami” diterbitkan pada tahun 1955. Setelah
adanya
budaya
mengetahui tahun terbit cerpen tersebut,
konsumerisme dan alkoholisme yang tinggi di
pengajar harus mencari tahu kondisi sosial
masyarakat
Amerika.
Sebagian
besar
Minangkabau pada saat itu. Jika hal itu sulit
masyarakat
Amerika
kalangan
atas
tingkat
gejala-gejala
dilakukan,
pencarian
data-data
mengenai
dengan
kondisi sosial Minangkabau dapat diperluas ke
Masalah
arah pencarian data-data ataupun informasi
alkoholisme, pada saat itu Amerika melaran
mengenai kondisi sosial Indonesia pada saat
semua bentuk aktifitas peredaran minuman
itu, tahun 1955. Sehingga pembahasan akan
beralkohol atau minuman keras, baik legal
menjadi variatif, tidak terpaku kepada kondisi
maupun ilegal. Dampak pelarangan tersebut
sosial masyarakat Minangkabau.
menghambur-hamburkan
mengadakan
uangnya
pesta-pesta.
Amerika
Setelah mencari informasi tentang
mencari penghasilan di bidang penyelundupan
kondisi sosial saat cerpen tersebut diluncurkan,
minuman keras. Alkohol ilegal beredar di
pengajar
masyarakat dengan harga yang cukup tinggi.
pertanyaan yang memancing siswa untuk
Hal
berdiskusi.
membuat
ini
sebagian
masyarakat
dikarenakan,
adanya
tingginya
segera
mencari
Pertanyaan
pertanyaan-
mengenai
kondisi
Para
sosial Minangkabau yang direfleksikan ke
penyelundup minuman keras atau sring disebut
dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” seperti
bootlegers tersebut banyak yang menjadi
sebagai berikut, “Apa pentingnya sebuah surau
orang kaya baru, umumnya mereka berasal
bagi masyarakat Minang?” pertanyaan ini
dari kelas menengah.
mungkin akan membuat siswa bertanya-tanya
permintaan
alkohol
di masyarakat.
kondisi
karena siswa yang mempunyai latar belakang
sosial Amerika 1920 an, maka apabila
di luar kebudayaan Minang pasti akan
dikaitkan dengan novel The Great Gatsby, ada
menjawab
beberapa pertanyaan yang dapat memicu
mengenai surau bagi masyarakat di luar
diskusi bagi siswa, antara lain “Mengapa
masyarakat Minang hanyalah sebuah tempat
terjadi adanya pesta-pesta baik di rumah tokoh
ibadah, sebutan lain untuk masjid ataupun
Gatsby dan sebagian di tempat lain di dalam
mushola. Bagi masyarakat Minang, Surau
novel The Great Gatsby? Mengapa adanya
memiliki fungsi yang cukup luas, tidak
kata bootleging di dalam novel The Great
sekadar tempat ibadah. Di surau, seorang anak
Gatsby ? Faktor apa yang membuat tokoh
terutama remaja putra akilbalig tidak hanya
Nick Carraway mencari pekerjaan sebagai
diwajibkan mengaji-mendalami Al-Quran atau
pialang saham di kota New York di dalam
seluk-beluk agama Islam, tetapi juga dibekali
novel The Great Gatsby?
ilmu bela diri pencak silat dan kesenian.
Dari
informasi
mengenai
dengan
sederhana.
Pandangan
Kecuali itu, mereka pun dilatih menyimak dan
direfleksikan didalamnya, maka akan terlihat
menuturkan berbagai pengalaman sehari-hari,
sehari
seperti berikut,
serta mendiskusikan permasalahan
masalahan hidup dan
kehidupan (harianhaluan.com).
Pertanyaan mengenai kondisi sosial
Indonesia sekitar tahun 1955 dapat diajukan
sebagai berikut, “Seperti yang diketahui tahun
1955 Indonesia ada peristiwa penting, yakni
Pemilu yang pertama
ma kali diadakan oleh
Indonesia, pertanyaannya adalah dapatkah
anda menunjukkan
enunjukkan bagian mana atau petunjuk
apa yang mengindikasikan adanya refleksi
suasana Pemilu di cerpen “Robohnya Surau
Kami”?”.
Ketika
menjawab
pertanyaan
tersebut, siswa akan merasa heran dan
Gambar 2
kemungkinan sebagian besar tidak
ti
dapat
KESIMPULAN
menemukannya. Pengajar harus
arus peka terhadap
Karya sastra tidak dapat dipahami
karya sastra yang harus dibahas. Kepekaan
secara
pengajar
lingkungan atau kebudayaan atau peradaban
dapat
dibantu
dengan
mencari
lengkap
apabila
dipisahkan
dari
informasi seluas-luasnya
luasnya mengenai karya yang
yang
dibahasnya.
dipelajari dalam konteks yang seluas
seluas-luasnya
Dalam
cerpen
“Robohnya
telah
menghasilkannya.
Ia
harus
Surau
dan tidak hanya dirinya sendiri. Setiap karya
Kami”, kondisi sosial Indonesia tahun 1955,
sastra adalah hasil dari pengaruh timbal
timbal-balik
suasana pemilu, dapat dirasakan
sakan melalui
yang rumit dari faktor
faktor-faktor sosial dan
penggunaan
kultural.
kata-kata
kata
seperti
“berdemonstrasi” dan “revolusioner”. Suasana
Perkembangan pengajaran sastra saat
pemilu dapat diperkuat dengan kutipan “
ini
Cocok
perkembangan
sekali.
berdemonstrasi
Di
dunia
saja,
dulu
yang
dengan
semakin
teknologi,
pesatnya
sangat
kita
memungkinkan untuk saling berintegrasi.
peroleh” (hal 9). Seperti yang diketahui,
Pengajar diharapkan lebih kreatif dalam
suasana pemilu
lu baik menjelang atau sesudah
menyampaikan materinya, termasuk dengan
pemilu
cara mencari semua informasi yang diperlukan
kegiatan
banyak
dengan
diiringi
berdemonstrasi
marak
dilakukan oleh masyarakat.
melalui media internet. Kaitannya dengan
Bila digambarkan, skema mengajar
pendekatan sosiologi sastra, pengajar dapat
sastra dengan pendekatan sosiologi sastra
memperoleh akses seluas
seluas-luasnya mengenai
khususnya karya dengan kondisi sosial yang
informasi tentang suatu karya, pengarang, dan
kondisi sosial suatu tempat. Pendekatan
sosiologi sastra ini sangat bermanfaat di
891:kejayaan-pendidikan-
tengah pengajaran sastra yang cukup monoton,
surau&catid=41:kultur&Itemid=155
yang selalu berkutat dalam analisis instrinsik.
Navis, A.A. 2009. Robohnya Surau Kami:
Kumpulan Cerpen. Jakarta: Gramedia
Nazir. 1998. Metode Penelitian. Jakarta:
DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary
Terms.
New York: Holt, Rinehart
and
Winston.
Noor, Redyanto. 2007. Pengantar Pengkajian
Sastra. Semarang: Fasindo
Damono, Sapardi Djoko. 2009. Sosiologi
Sastra: Pengantar Ringkas. Ciputat:
Editum.
Rahmanto. 1998. Cerita Rekaan dan Drama.
Jakarta: Depdikbud.
Ratna, Nyoman Kutha. 2005. Sastra dan
Dola, Abdullah. 2007. Apresiasi Prosa Fiksi
dan Drama.
Rineka Cipta
Makassar:
Badan
Penerbit Universitas Negeri Makassar
http://balaibahasajambi.org/laman/index.php?o
ption=com_content&task=view&id=7
2&Itemid=35
http://www.harianhaluan.com/index.php?optio
n=com_content&view=article&id=10
Cultural Studies: Representasi Fiksi
dan Fakta. Denpasar: Pustaka Pelajar.
Sardjono, Maria A. 1995. Paham Jawa.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Sumardjo, Jakob. 1979. Masyarakat dan
Sastra Indonesia. Yogyakarta: CV.
Nur
Cahaya.
Download