dinamika sel darah putih pada domba lokal yang

advertisement
DINAMIKA SEL DARAH PUTIH PADA DOMBA LOKAL
YANG DIIMPLANTASI MATERIAL TULANG
HIDROKSIAPATIT-TRIKALSIUM FOSFAT (HA-TKF) DAN
HIDROKSIAPATIT-KITOSAN (HA-KITOSAN)
DWI KOLINA PRATIWI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
i
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul Dinamika Sel
Darah Putih pada Domba Lokal yang Diimplantasi Material Tulang
Hidroksiapatit-Trikalsium Fosfat (HA-TKF) dan Hidroksiapatit-Kitosan (HAKitosan) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum
diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Januari 2011
Dwi Kolina Pratiwi
B04061971
ii
ABSTRACT
DWI KOLINA PRATIWI. B04061971. Dynamics of White Blood Cells on
Local Sheep which Implanted Bone Graft Hydroxyapatite-Tricalcium Phosphate
(HA-TCP) and Hydroxyapatite-Chitosan (HA-Chitosan). Under directed:
GUNANTI and ANITA ESFANDIARI.
The study was conducted to evaluate the blood dynamics of sheep that
includes total number of white blood cells and diferential of white blood cells
(lymphocytes, monocytes, neutrophils, eosinophils and basophils) in sheep
implanted with the HA-TCP and HA-Chitosan in the tibia bones. Six local sheeps
were used in this experiment. Six local sheeps divided into two group. Group I
implanted with the HA-TCP and groups II implanted with HA-Chitosan. Blood
sample were collected from jugular veins and were observed presurgery (H0) and
3, 7, 14, 21, 30, 60 and 90 days postsurgery. The results showed that the dynamics
of white blood cell in both treatment groups in the normal range. White blood
cell profile was showed the implant was not rejected by the body and did not
cause any excessive inflammatory reaction.
Keywords: differential white blood cell, hydroxyapatite-chitosan, hydroxyapatitetricalcium phosphate, local sheep, white blood cells.
iii
RINGKASAN
DWI KOLINA PRATIWI. B04061971. Dinamika Sel Darah Putih pada Domba
Lokal yang Diimplantasi Material Tulang Hidroksiapatit-Trikalsium Fosfat (HATKF) dan Hidroksiapatit-Kitosan (HA-Kitosan). Di bawah bimbingan:
GUNANTI dan ANITA ESFANDIARI.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dinamika sel darah putih yang
meliputi jumlah total sel darah putih dan diferensial sel darah putih (jumlah
limfosit, monosit, neutrofil, eosinofil dan basofil) pada domba yang diimplantasi
dengan material tulang HA-TKF dan HA-Kitosan pada tulang tibia. Domba yang
digunakan dalam penelitian ini sebanyak enam ekor, yang dibagi ke dalam dua
kelompok. Kelompok pertama diimplantasi dengan material tulang HA-TKF dan
kelompok kedua diimplantasi dengan material tulang HA-Kitosan. Sampel darah
diambil melalui vena jugularis, sebelum operasi (H0) dan pada hari ke-3, 7, 14,
21, 30, 60, dan 90 setelah operasi. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa
dinamika sel darah putih pada kedua kelompok perlakuan masih berada dalam
kondisi normal. Gambaran sel darah putih menunjukkan bahwa kedua material
implan dapat diterima oleh tubuh dan tidak menyebabkan reaksi peradangan yang
berlebihan.
Kata kunci: diferensial sel darah putih, hidroksiapatit-kitosan, hidroksiapatittrikalsium fosfat, domba lokal, sel darah putih.
iv
© Hak Cipta Milik IPB, tahun 2011
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau
tinjauan suatu maslah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang
wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.
v
DINAMIKA SEL DARAH PUTIH PADA DOMBA LOKAL
YANG DIIMPLANTASI MATERIAL TULANG
HIDROKSIAPATIT-TRIKALSIUM FOSFAT (HA-TKF) DAN
HIDROKSIAPATIT-KITOSAN (HA-KITOSAN)
DWI KOLINA PRATIWI
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kedokteran Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
vi
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Tugas Akhir
Nama
NIM
: Dinamika Sel Darah Putih pada Domba Lokal yang
Diimplantasi Material Tulang Hidroksiapatit-Trikalsium
Fosfat (HA-TKF) dan Hidroksiapatit-Kitosan (HAKitosan)
: Dwi Kolina Pratiwi
: B04061971
Disetujui
Dr. drh. Hj. Gunanti, MS
Ketua
Dr. drh. Anita Esfandiari, MSi
Anggota
Diketahui
Dr. Nastiti Kusumorini
Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan
Tanggal Lulus:
vii
PRAKATA
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat
dan karunia-Nya kepada penulis. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Berkat ridho Allah SWT penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul Dinamika Sel Darah Putih pada Domba
Lokal yang Diimplantasi Material Tulang Hidroksiapatit-Trikalsium Fosfat (HATKF) dan Hidroksiapatit-Kitosan (HA-Kitosan).
Skripsi ini adalah salah satu syarat memperoleh gelar sarjana dari Fakultas
Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Tulisan ini merupakan hasil
penelitian yang dilakukan penulis di Bagian Bedah dan Radiologi, Departemen
Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian
Bogor.
Penulis sangat menyadari bahwa penulisan ini tidak akan dapat
terselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu,
penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1.
Keluarga tercinta: Ayah (Suharyono) dan Ibunda (Mardiyah Nurjanah) yang
senantiasa mencurahkan segala kasih sayang dan cintanya kepada penulis
dengan selalu mendoakan, mendukung, mendidik dan menasehati penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di FKH IPB, serta tak lupa
kepada kakak tercinta Aditya Priyambodo.
2.
Dr. drh. Gunanti, MS. dan Dr. drh. Anita Esfandiari M.Si, sebagai dosen
pembimbing yang telah sabar dalam memberikan bimbingan, evaluasi,
arahan dan nasehat kepada penulis selama melakukan penelitian hingga
tersusunnya skripsi ini.
3.
drh. Dudung Abdullah sebagai dosen penilai, Prof. Dr. drh. M. Agatha
Winny Sanjaya, MS. dan drh. Mokh. Fahrudin, Ph.D sebagai dosen penguji
atas segala masukan yang diberikan.
4.
Dr. drh. Dwi Jayanti Gunandini, M.Si, selaku pembimbing akademik yang
telah menjadi orang tua selama penulis menimba ilmu di FKH-IPB.
5.
Prof. Dr. Djarwani S. Soejoko (Dept. Fisika FMIPA UI) dan Dr. Ir. Kiagus
Dahlan, M.Sc (Dept. Fisika FMIPA IPB) yang telah bersedia memberikan
bantuan berupa material implan dalam penelitian ini.
viii
6.
drh. Riki Siswandi, drh. M. Fakhrul Ulum, drh. Dudung Abdullah dan drh.
Deni Noviana, Ph.D atas keahliannya dalam membantu terlaksananya
penelitian ini.
7.
Seluruh staf Bagian Bedah dan Radiologi Departemen Klinik, Reproduksi,
dan Patologi FKH IPB: Pak Katim, Pak Engkos yang telah membantu
penulis selama penelitian.
8.
Teman-teman seperjuangan dalam penelitian (Asmawati, Ayu Berlianty,
Gendis Aurum, Rachmat Ayu, Raditya Pradana dan Santi Purwanti) atas
kebersamaan, bantuan dan kerjasamanya.
9.
Keluarga Besar Aesculapius 43 atas kebersamaannya selama ini.
10.
Keluarga Besar UKM Uni Konservasi Fauna IPB dan Keluarga Kecil Divisi
Konservasi Herbivora UKF atas pengalaman dan pelajaran dalam
kebersamaan dan kekeluargaannya selama ini.
11.
Kak Jojo, Maika, Mba Uut, Teh Lina dan Mba Mute atas dukungan, doa,
bantuan, kekeluargaan dan kenangan yang tidak terlupakan.
12.
Unita Pratiwi, Ni Made Ferawati, Tika Lina, Mike, Putri, Fitri, Hernawati,
Arum, Ria, Septiani, Septi, Devita, Gita, Anggun, Apri, Nanda, Ikrar,
Rahma, Ipin dan Binol atas persahabatan dan kebersamaannya.
13.
Vicky Anggriawan (Alm.) atas ketulusan persahabatan dan segala kenangan
yang tidak akan terlupakan.
14.
Ahmad Syifa Sidik atas kebersamaan, doa, dukungan dan semangat yang
diberikan.
15.
Dan seluruh pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak dapat
disebutkan satu persatu.
Penulis sadar bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Penulis
mengharapkan kritik dan saran untuk melengkapi skripsi ini. Semoga skripsi ini
bermanfaat bagi penulis, pembaca dan semua pihak yang terkait.
Bogor, Januari 2011
Dwi Kolina Pratiwi
ix
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat pada tanggal 9 Juni
1988. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan Suharyono
dan Mardiyah Nurjanah.
Penulis mulai menempuh pendidikan formal di Sekolah Dasar Bekasi
Timur III (kini menjadi Bekasi Jaya X) dari tahun 1994 dan lulus pada tahun
2000. Penulis menyelesaikan pendidikan di SLTP Negeri 1 Bekasi pada tahun
2003. Penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Bekasi dan lulus pada
tahun 2006. Penulis menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor pada tahun 2006
dan setahun kemudian penulis diterima di Mayor Kedokteran Hewan, Fakultas
Kedokteran Hewan IPB.
Selama
masa
perkuliahan,
penulis
aktif
mengikuti
organisasi
kemahasiswaan di UKM Uni Konservasi Fauna (UKF) pada tahun 2006 sampai
sekarang dan pernah menjabat sebagai Sekertaris I pada tahun 2007 dan Sekertaris
Umum pada tahun 2008. Setelah menjadi mahasiswa FKH, penulis menjadi
anggota Himpro Satwaliar sejak tahun 2007. Selain itu, penulis juga aktif dalam
kepanitiaan acara yang diselenggarakan baik di tingkat nasional maupun
internasional.
Penulis
x
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................
xiv
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................
xv
PENDAHULUAN
Latar Belakang ...........................................................................................
Tujuan ........................................................................................................
Manfaat ......................................................................................................
1
3
3
TINJAUAN PUSTAKA
Domba ........................................................................................................
Darah ..........................................................................................................
Sel Darah Putih ...................................................................................
Limfosit .......................................................................................
Monosit ......................................................................................
Neutrofil ......................................................................................
Eosinofil ......................................................................................
Basofil .........................................................................................
Peradangan dan Persembuhan Luka ..........................................................
Tulang .....................................................................................................
Persembuhan dan Perbaikan Fraktur Tulang .............................................
Material Implan Tulang .............................................................................
Hidroksiapatit .....................................................................................
Trikalsium Fosfat................................................................................
Kitosan ................................................................................................
4
5
6
7
8
9
10
12
12
15
16
18
19
21
22
METODOLOGI
Waktu dan Tempat Penelitian ....................................................................
Alat dan Bahan ...........................................................................................
Metode Penelitian ......................................................................................
Persiapan Hewan Coba .......................................................................
Operasi Penanaman Material Implan Tulang .....................................
Perawatan Hewan Coba ......................................................................
Pengambilan Darah ............................................................................
Pemeriksaan Darah .............................................................................
Analisis Data ......................................................................................
24
24
25
25
26
27
27
28
30
HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................
31
SIMPULAN DAN SARAN .............................................................................
43
xi
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................
44
LAMPIRAN .....................................................................................................
49
xii
DAFTAR TABEL
Halaman
1
Waktu pengambilan dan pemeriksaan darah ....................................... 28
xiii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1
Domba lokal (Ovis aries) ...........................................................................
2
Lokasi pembentukan darah (sumsum tulang panjang) dan komponen sel
4
darah putih .................................................................................................
6
3
Sel limfosit dalam preparat ulas darah ......................................................
7
4
Sel monosit dalam preparat ulas darah ......................................................
9
5
Sel neutrofil dalam preparat ulas darah......................................................
10
6
Sel eosinofil dalam preparat ulas darah .....................................................
11
7
Sel basofil dalam preparat ulas darah ........................................................
12
8
Proses perbaikan kerusakan jaringan .........................................................
15
9
Diagram skematik pembentukan kalus dan perbaikan fraktur ...................
17
10 Alat dan bahan dalam operasi ortopedik ....................................................
24
11 Hewan coba dalam kandang individu ........................................................
25
12 Pembuatan lubang pada os.tibia domba dengan bor tulang. ......................
27
13 Pengambilan darah domba melalui vena jugularis ....................................
28
14 Kamar hitung Neubauer .............................................................................
29
15 Rataan jumlah total leukosit domba sebelum dan setelah operasi
penanaman material implan tulang ............................................................
31
16 Rataan jumlah neutrofil domba sebelum dan setelah operasi penanaman
material implan tulang ...............................................................................
33
17 Rataan jumlah limfosit domba sebelum dan setelah operasi penanaman
material implan tulang ...............................................................................
36
18 Rataan jumlah monosit domba sebelum dan setelah operasi penanaman
material implan tulang ...............................................................................
37
19 Rataan jumlah eosinofil domba sebelum dan setelah operasi penanaman
material implan tulang ...............................................................................
39
20 Rataan jumlah basofil domba sebelum dan setelah operasi penanaman
material implan tulang ...............................................................................
40
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1
Rataan dan standar deviasi jumlah total sel darah putih yang
diimplantasi HA-TKF dan HA-Kitosan .....................................................
2
Rataan dan standar deviasi jumlah neutrofil pada domba yang
diimplantasi HA-TKF dan HA-Kitosan .....................................................
3
50
Rataan dan standar deviasi jumlah eosinofil pada domba yang
diimplantasi HA-TKF dan HA-Kitosan .....................................................
6
49
Rataan dan standar deviasi jumlah monosit pada domba yang
diimplantasi HA-TKF dan HA-Kitosan .....................................................
5
49
Rataan dan standar deviasi jumlah limfosit pada domba yang
diimplantasi HA-TKF dan HA-Kitosan .....................................................
4
49
50
Rataan dan standar deviasi jumlah basofil pada domba yang diimplantasi
HA-TKF dan HA-Kitosan ..........................................................................
50
xv
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kasus kerusakan tulang akibat trauma yang menyebabkan fraktur atau
fisura banyak diderita oleh jutaan orang setiap tahunnya. Begitu pula dengan
kasus kelainan tulang akibat tumor. Berbagai kasus tersebut dapat menyebabkan
kehilangan struktur tulang, sehingga diperlukan alternatif biomaterial yang dapat
menggantikan bagian tulang yang rusak atau hilang (Ratajska et al. 2008).
Biomaterial adalah suatu material, baik alami maupun buatan manusia
(sintetis) yang digunakan sebagai suatu sistem atau bagian dari sistem pada
jaringan, organ atau fungsi tubuh (Darwis 2008, Dorland 2002). Penggunaan
biomaterial ini bertujuan untuk memperbaiki (repair), memulihkan (restore) atau
mengganti (replace) jaringan yang rusak atau sakit. Autograft dan allograft
merupakan biomaterial alamiah sedangkan biomaterial sintetik atau sering disebut
biomedical material adalah keramik sebagai bone graft (Darwis 2008). Kesulitan
dan keterbatasan dalam mendapatkan allograft dan autograft yang cocok
menjadikan bone graft sintetis sebagai alternatif pilihan yang tepat.
Biomaterial yang biasa digunakan dalam menunjang proses persembuhan
tulang adalah keramik seperti hidroksiapatit (HA) dan trikalsium fosfat (TKF)
serta bahan polimer seperti kitosan (Ratajska et al. 2008). Sifat yang dimiliki oleh
setiap biomaterial memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga
penggabungan dan variasi antara hidroksiapatit dengan trikalsium fosfat dan
hidroksiapatit dengan kitosan diharapkan dapat menjadi material implan tulang
yang potensial sebagai alternatif dalam membantu memperbaiki kerusakan atau
kehilangan tulang pada manusia.
Banyaknya penggunaan material implan tulang dalam bidang ortopedi atau
implan gigi yang telah dilakukan, mengharuskan adanya suatu penelitian dan
pengujian lebih lanjut baik secara in vitro maupun in vivo. Penelitian lanjutan ini
bertujuan untuk menentukan material implan yang digunakan sesuai dengan
persyaratan bio-kompatibilitas, stabilitas mekanik dan keselamatan. Hasil
pengujian secara in vitro belum tentu sesuai dengan kondisi in vivo. Alasan itulah
2
yang menjadikan penggunaan hewan model sangat penting dalam pengujian
material implan sebelum digunakan pada manusia (Pearce et al. 2007).
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih hewan model
diantaranya adalah bentuk tulang dari spesies hewan coba, yang meliputi
makrostruktur tulang, mikrostruktur tulang, komposisi tulang dan proses
persembuhannya. Pemilihan ini menekankan pada kemiripan hewan model
dengan kondisi klinis manusia (Pearce et al. 2007).
Spesies yang cocok dalam pengujian material implantasi tulang
diantaranya adalah anjing, domba, kambing, babi atau kelinci. Anjing dan
domba/kambing lebih cocok dijadikan sebagai hewan model untuk manusia dalam
menguji material implan tulang, karena hewan tersebut memiliki dimensi tulang
panjang yang mirip dengan tulang manusia. Alasan lain pemilihan ini adalah
dengan mempertimbangkan kemudahan dalam perawatan, pemeliharaan dan
penanganan, ketahanan hewan terhadap infeksi penyakit, keseragaman antar
hewan dan karakteristik biologi yang menyerupai manusia. Selain itu jangka
hidup spesies yang dipilih harus sesuai dengan lamanya waktu penelitian (Pearce
et al. 2007).
Sel darah putih atau leukosit merupakan unit dalam sistem pertahanan
tubuh untuk merespon keberadaan benda asing (Guyton & Hall 2006). Gambaran
sel darah putih dapat digunakan untuk mendiagnosa kondisi infeksi dalam tubuh
(Reece 2006). Penanaman biomaterial implan tulang, yaitu HidroksiapatitTrikalsium fosfat (HA-TKF) dan Hidroksiapatit-Kitosan (HA-Kitosan) yang
dilakukan dapat direspon oleh tubuh sebagai suatu benda asing dan dapat
menyebabkan terjadinya infeksi. Gambaran sel darah putih tersebut diharapkan
dapat menunjukkan bahwa kedua biomaterial HA-TKF dan HA-Kitosan tidak
mempunyai efek toksik dan sesuai/harmonis dengan sistem tubuh (biocompatible)
serta terserap secara sempurna (biodegradable) dalam proses persembuhan tulang
(bone remodelling).
3
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati dinamika sel darah putih
domba yang meliputi jumlah total sel darah putih dan diferensial sel darah putih
(jumlah limfosit, monosit, neutrofil, eosinofil dan basofil) pada domba yang
diimplantasi dengan material implan tulang HA-TKF dan HA-Kitosan pada tulang
tibia domba.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa informasi
mengenai gambaran sel darah putih pada domba yang diimplantasi HA-TKF dan
HA-Kitosan.
4
TINJAUAN PUSTAKA
Domba
Domba merupakan hewan ruminansia kecil yang telah dijinakkan sejak
ribuan tahun yang lalu sebagai hewan gembala dataran rendah. Hal ini didasarkan
pada penemuan tulang-belulang hewan domba di sekitar pemukiman manusia
pada zaman dahulu menurut Smith & Mangkoewidjojo (1988). Klasifikasi domba
dalam Herren (2000) adalah sebagai berikut (Gambar 1):
kingdom
: Animalia
filum
: Chordata
kelas
: Mamalia
ordo
: Artiodactyla
famili
: Bovidae
genus
: Ovis
spesies
: aries
Gambar 1 Domba lokal (Ovis aries).
(sumber: foto hasil penelitian)
Domba merupakan hewan gembala dataran rendah, sehingga memiliki
kecenderungan untuk membentuk kelompok besar. Domba juga memiliki perilaku
yang cenderung mengabaikan atau menjauhi manusia. Tingkah laku ini penting
untuk diketahui dalam pemeliharaan domba di laboratorium, karena domba akan
mengalami stres jika dipelihara terpisah dari domba lain (Smith &
Mangkoewidjojo 1988).
Domba dipelihara untuk dimanfaatkan wol dan dagingnya (Hafes 2000).
Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), domba juga dapat dimanfaatkan
sebagai hewan percobaan di laboratorium. Hal ini karena pemeliharaan domba
tidak terlalu mahal, persyaratan kandang sederhana dan persyaratan pakan tidak
sulit.
Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), dalam aplikasi penelitian,
domba biasanya digunakan sebagai sumber sel darah merah untuk memproduksi
antibodi dan dapat diperoleh serum dalam jumlah yang besar. Domba dapat pula
5
digunakan dalam percobaan dasar seperti percobaan fisiologi, farmakologi,
endokrinologi, biokimia, percobaan bedah eksperimental dan penelitian anestesi.
Ukuran tubuh domba yang besar dan memiliki bobot tubuh yang
menyerupai manusia, sangat cocok dan sesuai bila digunakan dalam aplikasi
penelitian sebagai hewan model untuk manusia (Wolfensohn & Lloyd 2000).
Menurut Pearce et al. (2007), domba memiliki kelebihan dibandingkan dengan
anjing. Secara makrostruktur tulang, domba dewasa memiliki dimensi tulang
panjang yang serupa dengan manusia bila dibandingkan dengan anjing. Oleh
karena itu domba sangat cocok dan sesuai bila digunakan sebagai hewan model
dalam percobaan implantasi material tulang untuk tujuan aplikasi pada manusia.
Darah
Darah diklasifikasikan sebagai jaringan konektif. Jaringan ini berupa
cairan yang mengalir ke seluruh tubuh melalui pembuluh pada sistem
kardiovaskular (Colville & Bassert 2008).
Total volume darah pada ruminansia berkisar antara 6 - 7% dari bobot
badan. Total volume darah pada hewan muda yang sedang tumbuh dapat melebihi
10% dari total bobot badan (Meyer & Harvey 2004).
Darah dibagi menjadi dua bagian, yaitu cairan dan padatan (sel). Bagian
cairan disebut plasma yang sebagian besar terdiri atas 91-94% air. Bagian padatan
mengandung sekitar 30-45% dari total kandungan (Lawhead & Baker 2005), yang
terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(leukosit) dan platelet (trombosit) (Gambar 2).
Menurut Colville dan Bassert (2008), darah memiliki tiga fungsi utama
dalam tubuh, diantaranya adalah sebagai sistem transportasi, sistem regulasi, dan
sistem pertahanan tubuh. Darah sebagai sistem transportasi berperan dalam
membawa oksigen, karbondioksida, zat nutrisi, hasil sisa metabolisme dan
hormon. Peranannya sebagai sistem regulasi adalah menjaga homeostasis dan
suhu tubuh, sedangkan dalam pertahanan tubuh berperan dalam melawan benda
asing.
Proses pembentukan darah secara umum disebut hematopoiesis. Sel darah
ini tidak abadi di dalam tubuh, suatu ketika akan mengalami kerusakan dan
6
kematian, sehingga harus digantikan dan diproduksi secara teratur. Oleh karena
itu hematopoiesis merupakan suatu proses yang berkelanjutan (Colville & Bassert
2008).
Colville dan Bassert (2008) mengatakan bahwa hematopoiesis pada fetus
terjadi di hati dan limpa, dan secara bertahap akan diproduksi di dalam sumsum
tulang. Sel darah diproduksi secara aktif di dalam sumsum tulang pada hewan
yang baru lahir. Sumsum tulang merah pada hewan dewasa ditemukan di tulang
panjang (tulang panggul, sternum dan iga) (Gambar 2).
Sumsum tulang
Gambar 2 Lokasi pembentukan darah (sumsum tulang panjang)
dan komponen sel darah putih (Colville & Bassert 2008).
Sel Darah Putih (Leukosit)
Sel darah putih disebut juga leukosit. Sel ini dikategorikan sebagai
granulosit (neutrofil, eosinofil dan basofil) dan agranulosit (limfosit dan monosit).
Sel granulosit dikarakteristikkan dengan segmentasi atau lobulasi, memiliki
nukleus dan bergranul. Sedangkan agranulosit berupa sel mononuklear dan tidak
bergranul (McCurnin & Bassert 2006).
Pembentukan sel darah putih disebut leukopoiesis. Proses pembentukan ini
terjadi di sumsum tulang (Meyer & Harvey 2004) dan di jaringan limfe. Sel
granulosit dan monosit dibentuk di sumsum tulang, sedangkan sel limfosit
sebagian dibentuk di jaringan limfe (Guyton & Hall 2006). Saat awal proses
leukopoiesis, seluruh sel darah putih yang belum matang terlihat serupa, namun
7
saat perkembangannya memperlihatkan karakter yang unik (Colville & Bassert
2008). Setelah selesai dibentuk, sel-sel ini akan diangkut dalam darah menuju ke
berbagai bagian tubuh yang membutuhkan (Guyton & Hall 2006).
Fungsi utama sel darah putih adalah mempertahankan tubuh dari benda
asing. Setiap tipe sel darah putih memiliki peran unik dalam sistem pertahanan
tersebut. Saat terjadi serangan benda asing, sel darah putih akan menuju jaringan.
Sel ini memanfaatkan darah perifer untuk mengantarkannya dari sumsum tulang
menuju ke lokasi (jaringan yang membutuhkan). Aliran sel darah putih secara
tetap berasal dari sumsum tulang dan masuk menuju jaringan sebagai usaha untuk
mengontrol serangan benda asing dalam tubuh setiap saat (Colville & Bassert
2008).
Menurut Lawhead dan Baker (2005), jumlah total dan tipe sel darah putih
dalam pemeriksaan hematologi dapat digunakan untuk membantu mendiagnosa
keadaan atau status infeksi pada hewan. Jumlah total sel darah putih lebih sedikit
dibandingkan dengan jumlah sel darah merah dan jumlah platelet. Jumlah total sel
darah putih berkisar antara (5 – 20) x 103 /µL pada mamalia (Meyer & Harvey
2004).
Limfosit
Limfosit biasanya berukuran kecil sampai sedang, merupakan sel
mononuklear dengan lingkaran tipis terang sampai gelap (McCurnin & Bassert
2006), sitoplasma berwarna jernih dan tidak bergranul (Gambar 3).
16 µm
Gambar 3 Sel limfosit dalam preparat ulas darah.
(sumber: foto hasil penelitian. Perbesaran mikroskop 1000x)
8
Limfosit diproduksi di berbagai jaringan limfoid, khususnya di kelenjar
limfe, limpa, timus, tonsil dan sebagian sumsum tulang (Guyton & Hall 2006).
Limfosit memiliki nukleus tunggal yang penting dalam fungsi kekebalan.
Limfosit memproduksi antibodi untuk membantu dalam melawan penyakit.
Limfosit dapat ditemukan di semua jaringan dan organ dalam melawan infeksi
(Lawhead & Baker 2005).
Limfosit memiliki sistem sirkulasi secara kontinu, bersama dengan aliran
limfe dari limfonodus dan jaringan limfoid lain. Setelah beberapa jam limfosit
keluar dari aliran darah dan kembali ke jaringan dengan cara diapedesis.
Selanjutnya memasuki pembuluh limfe dan kembali ke dalam sirkulasi darah,
demikian seterusnya, sehingga terjadi sirkulasi limfosit yang terus-menerus di
seluruh tubuh. Limfosit memiliki masa hidup berminggu-minggu atau berbulanbulan. Masa hidup ini bergantung pada kebutuhan tubuh terhadap sel-sel tersebut
(Guyton & Hall 2006).
Limfosit bersirkulasi secara berulang dari darah menuju jaringan, limfe
dan kembali ke dalam sirkulasi darah. Populasi limfosit terdiri atas sel T dan sel
B. Masa hidup sel bervariasi, tergantung pada klasifikasinya. Sel T secara umum
memiliki masa hidup yang panjang (100-200 hari), sedangkan sel B memiliki
masa hidup yang pendek (2-4 hari). Menurut Reece (2006), sel T dan sel B
memori memiliki masa hidup yang sangat panjang (dalam hitungan tahun).
Monosit
Monosit memiliki warna biru abu-abu, bersitoplasma dan bentuk nukleus
bervariasi. Nukleus dapat bergerombol, berbentuk oval, amuboid, atau lobulasi
(Gambar 4). Ukuran monosit biasanya lebih besar dibandingkan dengan limfosit
dan neutrofil, yaitu 14–20 µm (Brown 1980). Sitoplasma monosit biasanya lebih
gelap dibandingkan dengan neutrofil band (McCurnin & Bassert 2006).
Monosit dibentuk di dalam sumsum tulang dan bersirkulasi dalam darah
dengan singkat sebelum memasuki jaringan dan berubah menjadi makrofag
(McCurnin & Bassert 2006). Monosit bersirkulasi di dalam darah dan memiliki
masa hidup yang singkat, yaitu berkisar antara 10–20 jam sebelum menuju ke
dalam jaringan (Guyton & Hall 2006). Makrofag dapat berada di dalam jaringan
9
untuk beberapa bulan (Reece 2006) atau bahkan bertahun-tahun sampai sel ini
terpanggil untuk melakukan fungsi pertahanan lokal spesifik (Guyton & Hall
2006).
20 µm
Gambar 4 Sel monosit dalam preparat ulas darah.
(Anonima Agustus 2010)
Monosit memiliki aktivitas dalam fagositosis mikroba, yaitu dengan
menghilangkan mikroorganisme, mematikan sel atau partikel asing (Lawhead &
Baker 2005). Makrofag memfagosit (memakan) partikel besar dan sel debris sisa
hasil aktivitas neutrofil (McCurnin & Bassert 2006).
Monosit dapat menghancurkan bakteri, virus, partikel asing dan sel debris
yang menyerbu masuk ke dalam tubuh. Monosit mempunyai kemampuan hebat
untuk memberantas agen-agen penyakit di dalam jaringan. Sel ini mampu
memfagosit bakteri sampai 100 bakteri dan mempunyai kemampuan untuk
menelan partikel yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya (Guyton
& Hall 2006).
Neutrofil
Neutrofil memiliki nukleus (inti sel) yang terlihat segmentasi atau terbagi
(Lawhead & Baker 2005) dan warna kromatin yang padat (Underwood 1992)
(Gambar 5A). Tipe ini merupakan neutrofil yang telah matang. Neutrofil yang
belum matang biasa disebut neutrofil band. Sel ini memiliki nukleus yang
berbentuk seperti huruf U (Lawhead & Baker 2005) (Gambar 5B). Sitoplasma
berwarna pink dan mengandung granul (Underwood 1992). Tingginya persentase
10
sel band dalam darah menggambarkan aktivitas sel dalam melawan agen infeksi
(Lawhead & Baker 2005).
A
B
15 µm
15 µm
Gambar 5 Sel neutrofil dalam preparat ulas darah.
A) sel neutrofil segmen; B) sel neutrofil band.
(sumber: foto hasil penelitian. Perbesaran mikroskop 1000x)
Neutrofil memiliki kemampuan fagositik dan bakterisidal yang sangat
berperan dalam kondisi inflamasi (McCurnin & Bassert 2006). Peran neutrofil
yaitu
dengan
fagositosis
(memakan
dalam
bentuk
endositosis)
dan
menghancurkan mikroorganisme. Jika tubuh mengalami infeksi, neutrofil akan
berpindah menuju jaringan yang terinfeksi. Sumsum tulang akan melepaskan
neutrofil band dalam jumlah besar sebagai cadangan dalam waktu beberapa jam.
Sumsum tulang akan mulai meningkatkan produksi neutrofil. Produksi neutrofil
yang tinggi memerlukan waktu tiga sampai empat hari sebelum ditransfer menuju
pembuluh darah. Sumsum tulang akan melepaskan sedikit neutrofil dewasa
kedalam darah (Lawhead & Baker 2005). Neutrofil berada di dalam darah sekitar
10 jam dan jumlah neutrofil bergantung pada banyaknya stimulus yang terjadi
(McCurnin & Bassert 2006).
Eosinofil
Eosinofil dikarakteristikkan oleh nukleus segmentasi atau lobulasi, tidak
berwarna, dengan sitoplasma biru pucat (McCurnin & Bassert 2006). Eosinofil
memiliki granul besar dan berwarna merah, inti sel berlobus, biasanya terdapat 2-
11
3 lobus (Underwood 1992) (Gambar 6). Eosinofil terlihat serupa dengan neutrofil
yang juga memiliki nukleus segmented. Eosinofil juga memiliki ukuran yang
besar dan granul-granul pada sitoplasmanya. Eosinofil berperan dalam melawan
parasit dan juga reaksi alergi. Granul-granul yang terdapat dalam eosinofil
membantu mengontrol peradangan/inflamasi (Lawhead & Baker 2005). McCurnin
& Bassert (2006) memaparkan bahwa eosinofil membantu dalam mengontrol
alergi atau reaksi hipersensitivitas anafilaksis. Eosinofil menuju lokasi reaksi
akibat pelepasan suatu substansi dari sensitisasi sel mast.
15 µm
Gambar 6 Sel eosinofil dalam preparat ulas darah.
(sumber: foto hasil penelitian. Perbesaran mikroskop 1000x)
Eosinofil berperan dalam merespon adanya reaksi alergi dan pertahanan
terhadap infeksi agen parasit (Underwood 1992) dan mengurangi inflamasi (Bush
1991). Eosinofil diproduksi dalam jumlah besar saat terjadi infeksi parasit.
Eosinofil bekerja dengan melekatkan diri pada parasit melalui permukaan molekul
dan melepaskan zat-zat yang dapat membunuh parasit. Eosinofil akan bermigrasi
ke daerah jaringan alergik yang meradang akibat pelepasan faktor kemotaktik
yang dilepaskan oleh sel mast dan basofil yang berperan dalam reaksi alergi.
Eosinofil diduga mampu mendetoksifikasi beberapa zat pencetus peradangan yang
dilepaskan oleh sel mast dan basofil, memfagositosis dan menghancurkan
kompleks alergen antibodi, sehingga mencegah penyebaran proses peradangan
setempat (Guyton & Hall 2006).
Basofil
12
Basofil berwarna gelap dengan granul dan nukleus yang segmented
(lobulasi) (Lawhead & Baker 2005). Basofil memiliki granul basofilik gelap
(biru), tetapi juga sangat bervariasi pada tiap spesies (McCurnin & Bassert 2006)
(Gambar 7). Basofil serupa dengan eosinofil, keduanya termasuk sel yang
merespon terhadap reaksi alergi. Beberapa granul dalam basofil mengandung
histamin. Histamin menyebabkan peradangan pada lapisan saluran hidung dan
sistem pernafasan. Peradangan akan menimbulkan gejala bersin, hidung berair,
bahkan dapat menyebabkan demam (Lawhead & Baker 2005). Basofil relatif
jarang ditemukan dalam preparat ulas darah (McCurnin & Bassert 2006).
15 µm
Gambar 7 Sel basofil dalam preparat ulas darah.
(Anonimb Agustus 2010).
Peradangan dan Persembuhan Luka
Cedera yang dialami oleh suatu jaringan dapat menyebabkan kerusakan
sel. Kerusakan sel akan melepaskan mediator yang menghasilkan akumulasi sel
polimorfik (neutrofil, eosinofil dan basofil) dan makrofag, serta faktor humoral
seperti antibodi menuju lokasi kerusakan. Proses ini disebut inflamasi yang
merupakan proses dalam persembuhan (Wolfensohn & Lloyd 2000).
Inflamasi merupakan respon pertahanan setempat yang ditimbulkan oleh
cedera atau kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi atau
menahan agen pencedera maupun jaringan yang cedera (Dorland 2002).
Wolfensohn dan Lloyd (2000) mengatakan bahwa proses inflamasi dapat
menunjukkan berbagai gambaran klinis sebagai tanda utama inflamasi, yang
meliputi:
1. Panas (kalor), lokasi tersebut akan panas saat disentuh,
13
2. Kemerahan (rubor), kemerahan terjadi akibat dilatasi pembuluh darah,
3. Pembengkakan (tumor), infiltrasi sel dan cairan menyebabkan area tersebut
membengkak,
4. Sakit (dolor), stimuli mediator inflamasi pada syaraf menyebabkan sakit.
Beberapa analgesik bekerja dengan memblok pelepasan mediator inflamasi,
5. Functio laesa (kehilangan fungsi).
Setelah kerusakan sel, terjadi perubahan pada jaringan yang merupakan
hasil dari inflamasi dan persembuhan. Rangkaian kejadian tersebut terdiri atas
beberapa fase, diantaranya yaitu:
Fase Inflamasi
1) Hemoragi, perdarahan terjadi akibat kerusakan pembuluh darah dan kemudian
ditahan oleh platelet dan fibrin sehingga membentuk keropeng (Wolfensohn &
Lloyd 2000). McGavin dan Zachary (2007) memaparkan bahwa hemostasis
terjadi dengan segera setelah terjadi perlukaan (Gambar 8) kecuali terdapat
kelainan pada proses pembekuan darah. Hemostasis dikontrol melalui
vasoplasma, yang merupakan proses pengkerutan pembuluh darah dalam
merespon perlukaan. Selama awal periode vasokonstriksi, platelet berkumpul
dan melekat pada kolagen, terutama kolagen yang terdapat di dasar membran
sel epitel yang cedera. Sewaktu melekat, platelet mensekresikan bahan
vasokonstriktif untuk: 1) mempertahankan konstriksi pembuluh darah, 2)
menginisiasi proses trombogenesis untuk menyumbat kebocoran, dan 3)
menginisiasi perbaikan pembuluh darah (angiogenesis).
Secara garis besar, peradangan ditandai dengan vasodilatasi pembuluh darah
lokal yang mengakibatkan terjadinya akumulasi darah yang berlebihan,
kenaikan permeabilitas kapiler yang disertai kebocoran cairan dalam jumlah
besar ke dalam ruang interstitial, dan migrasi sejumlah besar granulosit dan
monosit ke dalam jaringan (Gambar 8A), sehingga terjadi pembengkakan sel
jaringan (Guyton & Hall 2006).
2) Inflamasi, menurut McGavin dan Zachary (2007), terjadi selama 24 jam
setelah perlukaan vascular. Fase inflamasi (inflamasi akut) pada perbaikan
jaringan terbentuk secara penuh dan akan berlanjut dalam 96 jam (± 4 hari)
atau lebih jika proses persembuhan tersebut mengalami infeksi, trauma atau
14
beberapa gangguan lainnya. Pada fase ini terlihat gejala inflamasi yang
meliputi kemerahan, kebengkakan, sakit dan kehilangan fungsi (functio laesa).
Sejumlah mediator dari sel yang rusak menyebabkan datangnya sel polimorfik
dan faktor humoral (Wolfensohn & Lloyd 2000). Menurut McGavin dan
Zachary (2007), neutrofil dan makrofag memfagosit dan mendegradasi enzim,
mengurangi dan membersihkan sel debris hasil jaringan yang rusak. Makrofag
mensekresikan berbagai faktor kemotaktik dan growth factor yang
mendukung fase proliferasi (granulasi) (Gambar 8B).
3) Pengerutan luka pertama, sel fibroblas setempat mengkerut untuk mengurangi
area luka.
Fase Proliferasi (Granulasi Jaringan)
1) Proliferasi Epitel
Fase ini terjadi selama 12-24 jam. Sel membelah dan bermigrasi menuju
permukaan luka.
2) Granulasi
Fibroblas dan kapiler di bawah epitel memulai proliferasi kurang lebih selama
36 jam (Wolfensohn & Lloyd 2000), dan dapat terjadi kurang lebih 4 hari
setelah perlukaan dan berlanjut hingga 3-4 minggu atau lebih bergantung
besarnya luka. Fase ini dikarakteristikkan dengan pembentukan endotelium
baru (angiogenesis), epitelium (epitelisasi) dan stroma jaringan konektif untuk
memulihkan struktur dan fungsi normal jaringan tersebut (McGavin &
Zachary 2007). Granulasi jaringan terbentuk sewaktu inflamasi berkurang dan
area tersebut akan dibersihkan dari sel nekrotik debris oleh makrofag
(Wolfensohn & Lloyd 2000).
Fase Maturasi (Remodelling)
Fase remodelling (maturasi, perubahan bentuk) terjadi kurang lebih 3-4
minggu setelah perlukaan jaringan terjadi, fase ini terjadi setelah didahului oleh
fase inflamasi dan proliferasi yang sempurna. Fase ini merupakan perubahan
granulasi jaringan dari jaringan konektif yang belum matang dan mengubahnya
menjadi jaringan konektif dewasa membentuk kolagen ekstraselular (Gambar 8C).
15
Remodelling akan berakhir dalam waktu 2 tahun atau lebih (McGavin & Zachary
2007).
A
B
Scab
Mitoses
Granulation tissue
Macrophage
Neutrophils
Clot
Fibroblast
New capillary
24 hours
3-7 days
C
Fibrous union
Weeks
Gambar 8 Proses perbaikan kerusakan jaringan (McGavin & Zachary 2007).
Tulang
Tulang terdiri atas bahan organik dan anorganik. Kurang lebih 20% tulang
terdiri atas air dan sisanya terdiri atas bahan anorganik berupa kalsium fosfat (6570%), matriks protein dan kolagen (30-35%). Bahan anorganik mengandung
komponen utama yaitu kalsium fosfat dan kalsium karbonat, dengan sedikit
magnesium, fluoride dan sodium (Kalfas 2001), fosfor, mangan, timah dan
tembaga (McGavin & Zachary 2007).
Sel tulang meliputi struktur yang menopang keutuhan tulang yang terdiri
atas osteoblas, osteosit dan osteoklas (McGavin & Zachary 2007). Osteoblas
merupakan sel yang berasal dari fibroblas (Dorland 2002). Sel ini banyak terdapat
di permukaan tulang (periosteal, endosteal, trabekular, intracortical) yang
memproduksi matriks tulang (osteoid), menginisiasi mineralisasi matriks (deposisi
hidroksiapatit). Osteosit merupakan sel yang terletak di dalam matriks tulang. Sel
ini mendeteksi adanya perubahan saat terjadi tekanan pada tulang dan perubahan
16
bentuk struktur tulang. Sel osteosit menempati ruang yang kecil pada tulang yang
disebut lakuna yang memiliki hubungan dengan osteoblas dan osteosit lainnya
yang dihubungkan dengan kanalikuli. Osteoklas merupakan sel yang berasal dari
hematopoietik stem sel tipe granulosit monosit. Sel ini berupa sel multinuklear
yang berespon terhadap resorpsi tulang (McGavin & Zachary 2007). Osteoklas
menjadi sangat aktif dengan adanya hormon paratiroid yang menyebabkan terjadi
peningkatan resorpsi tulang dan pelepasan garam-garam tulang (fosfor dan
khususnya kalsium) ke dalam cairan ekstraseluler (Dorland 2002).
Mineral kristal dari hidroksiapatit merupakan hasil pengendapan di sekitar
serabut kolagen yaitu osteoid (Kalfas 2001). Osteoid menyerupai tulang,
merupakan matriks tulang atau tulang muda yang belum mengalami kalsifikasi
(Dorland 2002).
Persembuhan dan Perbaikan Fraktur Tulang
Persembuhan fraktur diawali dengan memperbaiki jaringan yang
dipengaruhi berbagai faktor lokal dan sistemik. Persembuhan terjadi pada tiga
tahap atau lebih, diantaranya adalah: 1) tahap inflamasi awal; 2) tahap perbaikan;
dan 3) tahap remodelling.
Saat berada dalam tahap inflamasi, terjadi hematoma di daerah sekitar
fraktur pada beberapa jam pertama hingga beberapa hari (Gambar 9). Sel
inflamatori (makrofag, monosit, limfosit dan sel polimorfonuklear) dan fibroblas
menginfiltrasi tulang dengan mediasi prostaglandin (Kalfas 2001). Saat terjadi
hematoma, faktor pertumbuhan melepaskan makrofag dan platelet dalam
pembekuan darah dan ploriferasi jaringan osteogenik. Faktor pertumbuhan
(protein tulang, Transforming growth factor-β/TGF-β dan platelet) merupakan
komponen penting dalam menstimulasi terjadinya proliferasi sel mesenkim dalam
perbaikan jaringan. Sel mesenkim yang memiliki kemampuan osteogenik, secara
aktif berproliferasi sehingga memulai terjadinya penetrasi hematoma dari perifer
dalam waktu 24-48 jam. Proliferasi sel mesenkim yang terjadi saat hematoma,
membuat jaringan kolagen merenggang atau terlepas. Proliferasi ini membentuk
kolagen dan vaskularisasi baru yang disebut ―granulasi jaringan‖ (McGavin &
Zachary 2007).
17
McGavin dan Zachary (2007) mengatakan bahwa kalus terbentuk pada 4-6
minggu setelah fraktur terjadi. Kalus merupakan gumpalan jalinan tulang tak
terorganisasi yang berkembang mengikuti pola bekuan fibrin yang terbentuk
sebelumnya dan akan digantikan oleh tulang dewasa yang keras (Dorland 2002).
Gambar 9 menunjukkan pembentukan kalus yang terjadi pada bagian eksternal
(dibentuk oleh periosteum) atau bagian dalam (dibentuk antara ujung fragmen dan
endosteum atau medullary cavity). Kalus pertama ini menghubungkan antar celah
dan mengelilingi daerah di sekitar fraktur. Pada suatu saat, jalinan antara fraktur
tersebut akan digantikan oleh tulang dewasa menjadi lebih kuat, yaitu dengan
terbentuknya lamella dewasa (sebagai kalus kedua). Bergantung pada kekuatan
mekanis, kalus pada akhirnya akan dikurangi (diresorpsi) oleh osteoklas sampai
terbentuk tulang normal. Kalus tersebut mengandung kartilago hialin. Jumlah
kartilago yang ada menggambarkan kecukupannya dalam suplai darah (McGavin
& Zachary 2007).
Gambar 9 Diagram skematik pembentukan kalus dan perbaikan fraktur.
(McGavin & Zachary 2007)
Proses penyempurnaan perbaikan tulang (bone remodelling) terjadi dalam
hitungan bulan hingga tahun (McGavin & Zachary 2007). Proses ini terjadi
melalui absorpsi jaringan tulang dan deposisi simultan tulang baru. Pada tulang
normal, kedua proses tersebut berada dalam keseimbangan yang dinamis (Dorland
2002).
18
Perbaikan fraktur bergantung oleh sejumlah faktor, seperti umur hewan,
banyaknya suplai darah menuju tulang, keberadaan agen infeksi dan adanya
kerusakan di sekitar jaringan. Persembuhan paling baik terjadi pada hewan muda
dan dengan suplai darah yang cukup (Frandson 1992).
Implantasi material (logam, plastik dan semen tulang) sering dipisahkan
dengan daerah di sekitar tulang oleh selaput tipis pada jaringan fibrous, kadangkadang dengan kartilago metaplastik yang merupakan bentuk dari respon trauma
operasi, pergerakan implan, atau korosi dari material implan. Permukaan material
implan dapat memicu pertumbuhan bakteri, dan campuran bakteri dengan cairan
akan membentuk sesuatu yang tahan terhadap antibiotika dan sel inflamatori.
Partikel mikroskopis debris dari fiksasi material implan akan mendatangkan
respon makrofag atau giant cell multinuclear. Sel inflamatori akan melepaskan
sitokin dan growth factor yang menghasilkan resorpsi tulang dan merusak
permukaan implan tulang, menyebabkan pelepasan dan kerusakan implan
(McGavin & Zachary 2007).
Material Implan Tulang
Biomaterial menurut Darwis (2008) adalah suatu material, baik alami
maupun buatan manusia (sintetis) yang digunakan untuk berkontak dengan sistem
biologi. Penggunaan biomaterial ini bertujuan untuk memperbaiki (repair),
memulihkan (restore) atau mengganti (replace) jaringan yang rusak atau sakit.
Beberapa contoh biomaterial alamiah yaitu autograft, allograft, kolagen
dan serat protein, sedangkan biomaterial sintetik atau sering disebut biomedical
material adalah keramik (Darwis 2008). Autograft menurut Kalfas (2001)
merupakan jenis graft yang ditransplantasikan dari bagian lain tubuh resipien
(individu itu sendiri). Dorland (2002) menyatakan bahwa autograft atau
autologous merupakan pencangkokan jaringan yang berasal dari tempat lain di
dalam atau pada bagian organisme itu sendiri. Menurut Kalfas (2008), allograft
ditransplantasikan dari gen nonidentik pada tubuh donor. Pencangkokan jaringan
pada jenis ini dilakukan di antara individu dari spesies yang sama tetapi berbeda
genotipe-nya (Dorland 2002).
19
Penggunaan material alamiah terkadang memiliki keterbatasan, antara lain
membutuhkan sayatan tambahan, dapat menyebarkan penyakit menular (Kalfas
2001), dan kemungkinan terdapatnya perbedaan karakter mineral pada tulang
(Stavropoulos 2008).
Biomaterial yang digunakan sebagai material implan tulang harus
memiliki struktur dan sifat yang mirip dengan tulang, sehingga dapat membantu
mempercepat proses persembuhan tulang (Guyton & Hall 2006). Idealnya bone
graft harus memiliki kemampuan: 1) osteoinduktif dan osteokonduktif; 2)
stabilitas biomekanik; 3) bebas penyakit; 4) memiliki faktor antigen minimal
(Kalfas 2001), 5) bioaktif, biodegradable, bioresorbable dan biocompatible
dengan tubuh (Lane et al. 1999), dan tidak bersifat toksik (Laurenchin & Yusuf
2009). Material tersebut biasanya berupa bahan keramik seperti hidroksiapatit
(HA) dan trikalsium fosfat (TKF) serta bahan polimer seperti kitosan.
Hidroksiapatit (HA)
Hidroksiapatit (HA) merupakan mineral alami dari senyawa apatit
kalsium fosfat yang berupa garam kristal dengan rumus Ca 10(PO4)6(OH)2. HA
merupakan senyawa kalsium apatit yang paling stabil dibandingkan dengan
kalsium fosfat lainnya , yaitu oktakalsium fosfat (OKF), dikalsium fosfat dihidrat
(DKFD), dan trikalsium fosfat (TKF) (Saraswathy et al. 2001).
Biomaterial HA pada dasarnya digunakan sebagai bahan pengganti tulang
atau untuk melapisi implan prostetik yang akan ditumbuhkan ke dalam tulang,
untuk gigi, ortopedik dan praktik medis lainnya (Aoki 1991). Laporan lain
mengatakan bahwa HA banyak digunakan sebagai bahan pengganti dalam
cangkok tulang (Fujishiro et al. 2005).
HA memiliki sifat biocompatible, osteoconduction dan osteoinduction
(Shi 2004, Fujishiro et al. 2005). Biocompatible dalam hal ini memiliki arti
bahwa terjadi harmonisasi dengan sistem tubuh, tidak mempunyai efek toksik atau
mengganggu fungsi biologis (Dorland 2002). Osteoconduction adalah sifat fisik
yang dimiliki graft untuk menyediakan ruang dan sebagai perancah agar
persembuhan tulang dapat berjalan. Sifat ini memberikan ruang bagi pertumbuhan
vaskularisasi baru dan infiltrasi sel prekursor osteogenik ke dalam tulang (Kalfas
20
2001) sehingga mempercepat proses regenerasi tulang (Fujishiro et al. 2005).
Osteoconductive dapat ditemukan pada autograft dan allograft, demineralisasi
matriks tulang, hidroksiapatit, kolagen, dan kalsium fosfat. Osteoinduction berarti
kemampuan material graft untuk menginduksi stem sel menjadi sel tulang
dewasa. Proses ini berhubungan dengan kehadiran faktor pertumbuhan tulang
dengan material graft atau suplemen bone graft. Protein morfogenik tulang dan
demineralisasi matriks tulang merupakan prinsip osteoconductive material (Kalfas
2001).
Sifat lain yang dimiliki HA yaitu biodegradable dan incorporation
(Sunil et al. 2008). Biodegradable berarti material tersebut mudah mengalami
dekomposisi melalui proses biologi normal (Dorland 2002). Hal ini berarti bahwa
material HA dapat terdegradasi dengan sendirinya.
Guyton dan Hall (2006) menjelaskan HA dan fosfat merupakan garam
kristal yang terdapat pada struktur matriks organik tulang dan gigi, sehingga
penggabungan antara HA dengan fosfat dapat memberikan persembuhan tulang
dengan baik karena HA memiliki sifat fisis, kimia, mekanis dan biologis yang
mirip dengan struktur tulang. Struktur HA relatif stabil, memiliki sifat
biokompatibilitas yang baik sehingga cepat bergabung dengan jaringan tulang
(Ratajska et al. 2008). Struktur HA adalah berpori, terserap ulang (resorpsi), tidak
korosi, inert, tahan aus dan bioaktif (Putri 2008). Bioaktif berarti mampu
berkontak dengan sistem jaringan dan mampu bereaksi dengan jaringan (Purnama
2006). Akan tetapi kelemahan sifat-sifat pada HA adalah getas dan mudah patah
(Putri 2008).
HA memiliki sifat yang stabil, namun kemampuan penyerapannya kecil.
Maka untuk menyeimbangkan sifat stabil ini ditambahkan trikalsium fosfat (TKF)
yang memiliki daya penyerapan yang lebih tinggi. HA dan TKF merupakan bahan
sintetis yang memiliki umur simpan panjang, menyebabkan reaksi inflamasi yang
minimal, memiliki resiko penularan agen dan reaksi imonologi yang rendah
(Brown 2002). Saat diimplantasikan ke hewan atau manusia, HA tidak
menimbulkan respon tubuh terhadap benda asing (Aprilia 2008). Ratajska et al.
(2008) melaporkan bahwa HA tidak menginduksi respon penolakan imun.
21
Nurlaela (2009) melaporkan bahwa senyawa kalsium fosfat HA dapat
dibuat dengan melakukan presipitasi larutan pada suhu 37ºC dengan
menggunakan prekursor CaO untuk kalsium dan prekursor KH2PO4 untuk fosfat.
CaO sendiri dihasilkan melalui kalsinasi dari cangkang telur ayam maupun bebek
pada suhu 1000 ºC selama 5 jam (untuk cangkang telur ayam) dan 900 ºC selama
3-5 jam (untuk cangkang telur bebek). Kedua prekursor ini, yaitu CaO dan
KH2PO4 akan bereaksi membentuk HA dengan persamaan reaksi:
10CaO + 6KH2PO4 + 2KOH → Ca10(PO4)6(OH)2 + 8KOH + 2H2O.
Tri Kalsium Fosfat (TKF)
Trikalsium fosfat (TKF) adalah senyawa dengan rumus Ca3(PO4)2.
Senyawa ini dikenal sebagai tribasic calsium phosphate atau "abu tulang". TKF
dapat berbentuk kristal alfa dan beta. Kristal alfa biasanya dibentuk dengan
temperatur tinggi. Kristal β-TKF dalam bentuk granul halus dapat diserap
sempurna, sedangkan dalam bentuk blok hanya diserap sebagian (Schwartz et al.
2004).
Senyawa ini banyak ditemukan pada kerangka tulang maupun gigi hewan
vertebrata. Senyawa ini di alam tidak sepenuhnya murni. Sebagian besar
mengandung kadar fosfat 30% - 40%. Kandungan senyawa ini sering digunakan
sebagai pengganti untuk memperbaiki kerusakan jaringan tulang (Anonim1 2009).
Menurut Aoki (1991), TKF sejenis dengan kalsium fosfat dengan rasio
Ca/P 1.50. TKF memiliki sifat biodegradable, terutama β-TKF (Cai et al. 2009),
memiliki tingkat kerapuhan yang tinggi (Viswanath et al. 2008) dan cepat diserap
(Bohner 2000). Sifat ini menunjukkan bahwa material tersebut mampu
didegradasi oleh tubuh. TKF bersifat
osteoconductive (Laurenchin & Yusuf
2009). Kemampuan ini memungkinkan terjadinya vaskularisasi baru dan infiltrasi
sel-sel prekursor osteogenik ke dalam celah atau pori-pori bone graft (Kalfas
2001).
Jika dibandingkan dengan HA, TKF lebih bersifat bioresorbable (mudah
diserap) tetapi kurang bersifat osteoinductive. Hal ini menunjukkan bahwa TKF
tidak mampu menginduksi stem sel menjadi sel tulang dewasa, sehingga
diperlukan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan proses pembentukan
22
jaringan tulang yang baru (Zerwek et al. 1992). Trikalsium fosfat memiliki
kemampuan biodegradation dan incorporation
yang lebih baik ketika
digabungkan dengan HA (Sunil et al. 2008).
TKF dapat digunakan sebagai senyawa tunggal ataupun dikombinasikan
dengan senyawa lain yang biodegradable, polimer resorbable seperti asam
polyglycolic. TKF dapat juga digabungkan dengan bahan autologus untuk
kepentingan cangkok tulang (Anonim1 2009).
Penggabungan antara HA dan TKF dalam pembuatan biomaterial untuk
aplikasi biomedis sangat menguntungkan karena dapat meningkatkan kekuatan
mekaniknya (Viswanath et al. 2008). HA-TKF yang merupakan senyawa apatit
alami dalam tulang (Saraswaty et al. 2009) memungkinkan bahan tersebut dapat
diterima oleh tubuh. Senyawa ini tidak menimbulkan inflamasi, respon imunologi
dan respon iritasi terhadap jaringan (Murugan & Ramakrishna 2004)
Kitosan
Kitosan adalah polisakarida linear yang terdiri dari β-(1-4)-D-glukosamin
dan N-asetil-D-glukosamin (asetat). Kitosan diproduksi dari deasetilasi kitin yang
merupakan struktur elemen dalam eksoskeleton krustasea (kepiting, udang)
(Anonim2). Kitosan banyak dijumpai di alam dan memiliki kemampuan
osteoconduction serta biocompatibility yang baik dalam jaringan (Hua et al.
2005).
Keutamaan kitosan adalah bersifat biodegradable dan biocompatible
(Maachou et al. 2008). Saraswaty et al. (2001) menambahkan bahwa kitosan juga
memiliki biodegradabilitas, fleksibilitas dan ketahanan terhadap panas yang tinggi
karena ikatan intramolekul hidrogen yang terbentuk antara gugus hidroksil dan
amino.
Penelitian dengan implan yang dilapisi kitosan menunjukkan hasil yang
terjadi granulasi dan kapsulasi pada jaringan di sekitar implan akibat material
implan yang tidak stabil (Turck et al. 2007), sehingga biasanya digabungkan
dengan senyawa kalsium fosfat seperti HA (Feng Zhao et al. 2002) yang memiliki
sifat senyawa yang stabil (Saraswathy et al. 2001). Polimer kitosan sebagian besar
digunakan sebagai campuran untuk perekat dalam penggunaannya dengan HA.
23
Kombinasi HA-Kitosan baik untuk memproduksi scaffold (perancah, tempat
bertaut/bergantungan) (Ratajaska et al. 2008). Idealnya campuran tersebut harus
memiliki porositas tinggi, ruang yang besar (berpori), untuk memberi ruang yang
cukup bagi perkembangan jaringan dan vaskularisasi baru. Penggabungan ini
berbentuk pelet berpori sehingga menyediakan jejaring untuk migrasi sel yang
memungkinkan terjadinya pertumbuhan jaringan (Feng Zhao et al. 2002).
Kitosan dapat meningkatkan rasio persembuhan luka, mendukung
pertumbuhan sel dan memberikan hasil yang baik dalam aplikasi pada bidang
rekayasa jaringan. Kitosan juga menunjukkan sifat bakteriostatik dan fungistatik
yang mencegah infeksi (Aprilia 2008).
Penelitian yang dilakukan Nurlaela (2009)
menunjukkan
bahwa
pembuatan senyawa gabungan HA-Kitosan dapat dilakukan dengan presipitasi
secara ex situ, yaitu dengan melarutkan serbuk kitosan ke dalam asam asetat 3%
sehingga didapatkan larutan kitosan 2%. Penggabungan dengan senyawa HA
dilakukan dengan meneteskan larutan kitosan pada hasil presipitasi senyawa
kalsium fosfat.
24
METODOLOGI
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Juli 2009.
Penelitian dilakukan di Bagian Bedah dan Radiologi Departemen Klinik,
Reproduksi dan Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
dan di Kandang Ruminansia Kecil, Kandang Fasilitas Hewan Coba FKH IPB.
Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah disposable syringe 10
ml, thermos es/cold box, mikroskop, hemositometer Neubauer, kaca preparat/
object glass dan alat penghitung. Peralatan lain yang digunakan meliputi
perlengkapan operasi bedah minor, perlengkapan operasi ortopedik (bor tulang)
serta perlengkapan anestesi (Gambar 10A).
Bahan yang digunakan untuk melakukan pengambilan dan pemeriksaan
darah antara lain kapas, antikolagulan Potasium Ethylene Diamine Tetraacetic
Acid (K3-EDTA) ukuran 5 ml, aquadestilata, Giemsa 10%, alkohol 70%, metanol,
minyak emersi, dan larutan Turk.
Bahan implan yang digunakan berupa pelet silinder yang terbuat dari
komposit HA-TKF (putih) dan HA-Kitosan (putih kekuningan) dengan diameter 4
mm dan tinggi 7 mm (Gambar 10B). Material implan tulang HA-TKF dan HAKitosan tersebut diperoleh dari Departemen Fisika FMIPA IPB.
A
B
HA-Kitosan
HA-TKF
Gambar 10 Alat dan bahan dalam operasi ortopedik. A) bor tulang, alat operasi minor dan
sediaan anestesi; B) material implan HA-Kitosan dan HA-TKF.
25
Bahan lain yang digunakan yaitu sejumlah bahan dalam operasi ortopedik,
sediaan anestesi yang meliputi atropin sulfas 0,25 mg/ml (premedikasi), xylazine
2% (anestesi per-injeksi), isofluran 1,5-3% dan oksigen 25 ml/kg BB (anestesi
per-inhalasi). Bahan lain yang diperlukan dalam perawatan hewan setelah operasi,
seperti Cefotaxime sodium 250 mg (antibiotik), Toradol® (analgesik), iodine
tincture 3% (desinfektan), rivanol, Gusanex® (anti serangga), levertran,
perubalsam, perban, plester dan kapas.
Metode Penelitian
Persiapan Hewan Coba
Hewan coba yang digunakan adalah enam ekor domba lokal (Ovis aries)
yang terdiri dari tiga ekor domba jantan dan tiga ekor betina. Keenam ekor domba
tersebut berumur lebih dari satu tahun (1 – 2 tahun) dengan bobot badan berkisar
antara 17,2 – 20,2 kg. Domba dikelompokkan ke dalam dua kelompok yang
dipilih secara acak dan tanpa membedakan jenis kelamin, sehingga didapatkan
kelompok implan tulang HA-TKF (1 ekor jantan dan 2 ekor betina) dan kelompok
implan tulang HA-Kitosan (2 ekor jantan dan 1 ekor betina).
Pemeliharaan dan perawatan domba dilakukan di kandang individu yang
terlindungi dari panas dan dingin serta beralaskan kayu (Gambar 11). Pakan
domba berupa hijauan dan konsentrat serta air minum yang diberikan secara ad
libitum menggunakan wadah plastik. Pakan tersebut diberikan setiap hari pada
pagi dan sore hari.
Gambar 11 Hewan coba dalam kandang individu.
26
Domba diadaptasi kurang lebih selama satu minggu sebelum diberikan
perlakuan
(operasi
penanaman
material
implan).
Menurut
Smith
dan
Mangkoewidjojo (1988), waktu tersebut merupakan waktu adaptasi atau karantina
normal, karena hewan harus diberikan waktu untuk menyesuaikan diri terhadap
lingkungan baru sebelum digunakan sebagai hewan percobaan.
Operasi Penanaman Material Implan Tulang
Penanaman material implan tulang dilakukan melalui operasi ortopedik
yang dilaksanakan oleh dokter ahli. Operasi dilakukan secara aseptis di dalam
ruangan steril dengan peralatan dan perlengkapan yang telah disterilisasi. Domba
tersebut berada dalam keadaan teranestesi dengan menggunakan atropin sulfas
0,25 mg/ml sebagai premedikasi dengan dosis 0,2 mg/kg bobot badan (BB)
melalui aplikasi subcutan (SC). Xylazine 2% 20 mg/ml digunakan sebagai agen
anestesi rute per-injeksi dengan dosis 0,2–0,3 mg/kg BB melalui aplikasi
intramuscular (IM) dan 0,1–0,2 ml/kg BB melalui aplikasi intravena (IV) (Pugh
2002). Anestesi dengan rute per-inhalasi dapat dilakukan menggunakan xylazine
2% 20 mg/ml untuk induksi melalui aplikasi IM. Setelah domba tersedasi
kemudian diberikan isofluran 1,5–3% dan oksigen dengan dosis 25 ml/kg BB.
Domba dioperasi pada posisi lateral recumbency. Operasi dilakukan
dengan menyayat kulit selebar ± 3–4 cm, kemudian dilanjutkan dengan
penyayatan subkutan, otot dan jaringan periosteum hingga mencapai tulang.
Penyayatan ini dilakukan sejajar dengan sumbu tulang pada bagian 1/3 proksimal
tulang tibia kiri dan kanan bagian medial. Penyayatan dilakukan secara hati-hati
agar tidak mengenai vena saphena dan nervus saphenus. Musculus peroneus
tertius akan tampak di bagian proximocranial sedangkan musculus flexor digitalis
pedis longus akan tampak di bagian proximocaudal. Selanjutnya dilakukan
pembuatan lubang menggunakan bor tulang dengan diameter dan kedalaman yang
disesuaikan dengan ukuran material implan tulang (Gambar 12). Tulang tibia kiri
ditanami material implan, yaitu HA-TKF atau HA-Kitosan untuk masing-masing
kelompok, sedangkan tulang tibia kanan pada masing-masing kelompok dibiarkan
berlubang (tanpa ditanami material implan) sebagai kontrol positif. Selanjutnya
dilakukan penutupan jaringan dengan penjahitan dari jaringan periosteum, otot,
27
jaringan subkutan dan terakhir bagian kulit dengan metode penjahitan sederhana,
kemudian luka diperban untuk mencegah adanya infeksi sekunder.
Gambar 12 Pembuatan lubang pada os.tibia domba dengan bor tulang.
Perawatan Hewan Coba
Perawatan hewan coba dilakukan dengan pemberian antibiotik profilaksis
secara intramuskular (IM) yaitu Cefotaxime sodium 250 mg/hari (Nandi et al.
2008) serta pemberian analgesik secara peroral yaitu Toradol ®/tablet sebanyak
dua kali sehari selama 5 hari pasca operasi. Setiap hari luka operasi dibersihkan
dengan iodine tincture 3% sebagai desinfektan, dilakukan penggantian perban,
disemprot dengan obat anti serangga (Gusanex ®), dan diolesi dengan campuran
salep levertran dan perubalsam hingga luka kembali normal. Pemberian salep
tersebut bertujuan untuk mempercepat persembuhan jaringan. Kandang hewan
dibersihkan dari kotoran hewan dan sisa-sisa pakan untuk mencegah terjadinya
infeksi.
Pengambilan Darah
Enam ekor domba lokal (Ovis aries) yang akan diimplantasi dengan
material implan HA-TKF dan HA-Kitosan, diambil sampel darahnya pada saat
sebelum operasi implantasi dilakukan, yaitu hari ke-0, serta beberapa hari setelah
operasi, yaitu pada hari ke-3, 7, 14, 21, 30, 60 dan 90 (Tabel 1).
Pengambilan darah tersebut dilakukan melalui vena jugularis domba
(Gambar 13). Darah diambil sebanyak 5 ml dengan menggunakan disposable
syringe 10 ml, kemudian dimasukkan ke dalam tabung ukuran 5 ml yang berisi
28
antikoagulan Potasium K3-EDTA. Setelah itu dihomogenkan untuk mencegah
terjadinya pembekuan darah (Brown 1980). Darah yang berada dalam tabung K3EDTA selanjutnya digunakan untuk berbagai keperluan dalam pemeriksaan.
Tabel 1 Waktu Pengambilan dan Pemeriksaan Darah
Kelompok
Perlakuan
HA-TKF
Domba
Waktu Pemeriksaan
keH0
H+3 H+7 H+14 H+21 H+30
1
2
3
HA-K
4
5
6
Keterangan: H0 = hari operasi (data diambil sebelum operasi),
H+ = hari ke- setelah operasi,
Data pada H+60=2 ekor domba dan H+90=1 ekor domba.
H+60
H+90
eutanasia
eutanasia
eutanasia
eutanasia
Gambar 13 Pengambilan darah pada domba melalui vena jugularis.
Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah dilakukan pada saat sebelum operasi (hari ke-0) dan
beberapa hari setelah operasi, yaitu pada hari ke-3, 7, 14, 21, 30, 60 dan 90 setelah
operasi (Tabel 1). Parameter yang diamati meliputi penghitungan jumlah total sel
darah putih dan diferensial sel darah putih (meliputi jumlah limfosit, monosit,
neutrofil, eosinofil dan basofil).
Penghitungan jumlah total sel darah putih dilakukan dengan metode
hemositometer (kamar hitung Neubauer). Sampel darah dihisap dengan pipet
khusus untuk sel darah putih hingga batas tera 0.5 dan ditambahkan larutan
29
pengencer (Turk) hingga mencapai batas tera 11. Campuran tersebut
dihomogenkan dengan membentuk angka delapan, kemudian dibuang sedikit (1-3
tetes). Hal ini dilakukan dengan tujuan membuang bagian yang tidak tercampur.
Selanjutnya campuran tersebut diteteskan sebanyak 1-2 tetes di atas tepi kamar
hitung. Penghitungan dilakukan di bawah mikroskop dengan pembesaran 10 x 40
(400x), pada daerah ruang hitung untuk sel darah putih, yaitu empat kotak besar
yang ada di setiap sudut yang ditandai dengan huruf W (Gambar 14) (Jain 1986).
Jumlah sel darah putih yang didapat dari keempat kotak kamar hitung, selanjutnya
dikalikan dengan volume ruangan kamar hitung dan faktor koreksi pengenceran.
Penghitungan jumlah total sel darah putih dilakukan sebagai berikut:
Volume ruangan kamar hitung yang digunakan:
total volume = 4 x 1 mm2 x 1/10 mm
= 4/10 mm3
keterangan:
4
= jumlah ruang hitung (kotak besar yang ditandai huruf W)
2
1 mm
= luas tiap ruang hitung
1/10 mm
= tinggi/kedalaman ruang hitung
bila jumlah total sel darah putih di dalam ruangan tersebut = a butir,
maka
1 mm3 → 10/4 x a
faktor koreksi pengenceran = 20x
jadi, jumlah total sel darah putih per mm 3 atau (µl) darah
= 20 x 10/4 x a butir
= a x 50 butir
Gambar 14 Kamar hitung Neubauer (Brown 1980).
30
Pembuatan preparat ulas darah untuk diferensial sel darah putih dilakukan
dengan meneteskan darah pada gelas obyek dan mengulasnya dengan gelas obyek
lain, kemudian dikeringkan di udara. Preparat yang sudah kering difiksasi dengan
metanol dan dikeringkan di udara. Selanjutnya preparat diwarnai dengan Giemsa
10% selama 30 menit. Preparat dibersihkan dengan air mengalir. Pemeriksaan
dilakukan di bawah mikroskop pada pembesaran lensa obyektif 100x
(menggunakan minyak emersi) dengan metode zigzag (Jain 1986). Diferensiasi
sel darah putih dilakukan dengan menghitung setiap jenis sel darah putih hingga
mencapai jumlah 100 dan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali untuk tiaptiap preparat ulas darah. Hasil penghitungan tersebut (dalam persen) kemudian
dikalikan dengan jumlah total sel darah putih sehingga didapatkan nilai absolut
untuk masing-masing jenis sel darah putih per µl darah (McCurnin & Bassert
2006).
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan nilai rata-rata dan
standar deviasi. Nilai tersebut kemudian ditampilkan dalam bentuk grafik beserta
interpretasinya secara deskriptif.
31
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemeriksaan darah dilakukan sesaat sebelum operasi penanaman material
implan (H0), dan beberapa hari setelah operasi penanaman, yaitu hari ke-3, 7, 14,
21, 30 , 60 dan 90. Pemilihan waktu pemeriksaan dilakukan berdasarkan waktu
proses persembuhan tulang dan kerusakan jaringan (Cheville 2006). Pemeriksaan
darah yang dilakukan adalah jumlah total sel darah putih dan diferensial sel darah
putih yang meliputi jumlah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil dan basofil.
Jumlah Total Sel Darah Putih (/µl)
Jumlah Total Sel Darah Putih (Leukosit)
20000.00
16000.00
12000.00
HA-TKF
8000.00
HA-Kitosan
Normal
4000.00
0.00
0
3
7
14
21
30 60 90
Waktu (hari)
Gambar
15
Rataan jumlah total sel darah putih domba sebelum dan setelah
operasi penanaman material implan tulang.
Keterangan: Data pada H60=2 ekor , H90=1 ekor.
Gambar 15 memperlihatkan bahwa kelompok perlakuan HA-Kitosan
memiliki pola yang relatif stabil namun berada dibatas atas ambang normal, yaitu
berkisar antara 4.000–12.000 µl (Lawhead & Baker 2005). Peningkatan jumlah
total sel darah putih pada kelompok HA-Kitosan yang cukup tinggi terjadi pada
hari ke-3 setelah operasi. Hal ini merupakan respon alami tubuh dalam mengatasi
kerusakan jaringan akibat trauma setelah operasi (Underwood 1992). Kerusakan
jaringan meningkatkan kebutuhan sel darah putih menuju jaringan tersebut. Jika
kebutuhan tidak mencukupi, maka di dalam sumsum tulang akan terjadi
peningkatan produksi dan melepaskan sel darah putih dalam jumlah yang lebih
32
banyak ke dalam sirkulasi (Bush 1991). Peningkatan jumlah total sel darah putih
yang melebihi batas kisaran normal terjadi pada hari ke-90. Hal ini diduga karena
material implan HA-Kitosan lebih sulit terdegradasi dibandingkan HA-TKF,
sehingga keberadaannya yang tidak terserap sempurna pada akhir pemeriksaan,
direspon oleh tubuh sebagai benda asing. Hasil penelitian Nurlaela (2009)
menunjukkan bahwa morfologi komposit HA-Kitosan terlihat lebih rapat
dibandingkan dengan HA-TKF yang lebih rapuh, sehingga HA-Kitosan lebih sulit
terdegradasi dibandingkan HA-TKF.
Kelompok HA-TKF memiliki jumlah total sel darah putih yang masih
berada dalam kisaran normal. Kelompok ini memperlihatkan pola yang
menyerupai kurva terbalik, terjadi peningkatan hingga mencapai puncak kurva
pada hari ke-14 dan kemudian mengalami penurunan hingga hari terakhir
pengamatan (hari ke-90) menuju nilai awal sebelum diberi perlakuan (hari ke-0).
Namun demikian, nilai tersebut masih berada dalam kisaran normal. Peningkatan
jumlah total sel darah putih terjadi hingga hari ke-14 merupakan respon tubuh
akibat kerusakan jaringan. Menurut Underwood (1992), apabila terjadi kerusakan
jaringan, tubuh akan merespon dengan cara sumsum tulang melepaskan cadangan
sel darah putih ke dalam sirkulasi darah, sehingga jumlah total sel darah putih
dalam darah akan meningkat.
Jumlah total sel darah putih yang menurun hingga hari ke-90 merupakan
indikasi bahwa HA-TKF memberikan persembuhan yang lebih baik dibandingkan
dengan kelompok HA-Kitosan. Hal ini dikarenakan sifat senyawa HA-TKF yang
biodegradable (Cai et al. 2009), biokompatibiliti sempurna, osteokonduktif (Shi
2004). Material TKF memiliki sifat biologis non-reaktif dan resorbable, bertindak
sebagai scaffold untuk pertumbuhan ke dalam tulang sehingga penggantian tulang
dapat mengalami degradasi progresif (Lange et al. 1986). HA terbukti memiliki
kemampuan osteokompatibiliti dan osteokonduktif yang mempercepat proses
regenerasi tulang (Fujishiro et al. 2005). Struktur HA relatif stabil, memiliki sifat
biokompatibilitas yang baik sehingga cepat bergabung dengan jaringan tulang
(Ratajska et al. 2008). Brown et al. (2002) melaporkan bahwa HA-TKF
menyebabkan reaksi inflamasi yang minimal, sehingga peningkatan jumlah total
sel darah putih yang terjadi masih berada dalam kisaran normal.
33
Kelompok HA-Kitosan secara umum memiliki jumlah total sel darah putih
yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok HA-TKF. HA merupakan
garam kristal yang terdapat pada matriks organik tulang (Guyton & Hall 2006)
dan TKF merupakan mineral kalsium yang terdapat dalam tubuh dalam jumlah
rendah (Samuelson 2007), sehingga komposisi HA dan TKF dapat diterima oleh
tubuh. Sunil et al. (2008) mengatakan bahwa TKF memiliki kemampuan
biodegradation dan incorporation yang lebih baik ketika digabungkan dengan
HA. Dalam penelitian ini tujuan penggunaan kitosan adalah sebagai perekat
dalam penggunaannya dengan HA (Ratajaska et al. 2008), dan secara morfologi
HA-Kitosan memiliki struktur yang lebih rapat (Nurlaela 2009), sehingga kitosan
dimungkinkan lebih sulit terdegradasi.
Jumlah Neutrofil
7000.00
Jumlah Neutrofil (/µl)
6000.00
5000.00
4000.00
HA-TKF
3000.00
HA-Kitosan
2000.00
Normal
1000.00
0.00
0
3
7
14
21
30
60
90
Waktu (hari)
Gambar 16
Rataan jumlah neutrofil domba sebelum dan setelah operasi penanaman
material implan tulang.
Keterangan: Data pada H60=2 ekor , H90=1 ekor.
Gambar 16 menunjukkan bahwa jumlah neutrofil pada kelompok HAKitosan secara umum masih berada dalam kisaran normal, yaitu berkisar antara
700–6.000 µl (Jain 1993). Kelompok HA-Kitosan mengalami peningkatan jumlah
neutrofil pada hari ke-3, ke-30 dan pada hari terakhir pemeriksaan.
34
Peningkatan jumlah neutrofil kelompok HA-Kitosan yang terjadi pada hari
ke-3 merupakan respon alami tubuh dalam mengatasi kerusakan jaringan.
Peningkatan jumlah neutrofil terjadi akibat meningkatnya kebutuhan yang
disebabkan oleh kerusakan jaringan. Kerusakan sel akan melepaskan mediator
yang menghasilkan akumulasi sel polimorfik (neutrofil, eosinofil dan basofil) dan
makrofag, serta faktor humoral seperti antibodi menuju lokasi kerusakan
(Wolfensohn dan Lloyd 2000). Jika kebutuhan tidak mencukupi, maka di dalam
sumsum tulang akan terjadi peningkatan produksi dan pelepasan neutrofil dalam
jumlah yang lebih banyak ke dalam sirkulasi. Produksi sel neutrofil yang terjadi di
sumsum tulang distimuli dalam 1-2 hari dan setelah itu neutrofil dilepaskan,
sehingga neutrofil akan terlihat di dalam sirkulasi (Bush 1991).
Penurunan jumlah neutrofil kelompok HA-Kitosan terjadi pada hari ke-7
dan mendekati nilai pada awal pemeriksaan. Hal ini merupakan sistem pengaturan
tubuh setelah sumsum tulang memproduksi sel neutrofil yang berlebihan untuk
mengatasi kerusakan jaringan yang terjadi (Jain 1993), sehingga jumlah neutrofil
yang ditemukan dalam sirkulasi darah pada hari ke-7 menurun mendekati nilai
pada awal pemeriksaan.
Peningkatan jumlah neutrofil kelompok HA-Kitosan yang terjadi pada hari
ke-30 diduga disebabkan akumulasi stres. Stres dapat meningkatkan jumlah
neutrofil dalam darah (Kelly 1984). Stres ini dimungkinkan terjadi akibat
handling yang dilakukan setiap hari. Menurut Kelly (1984), stres akibat rasa
sakit, takut ataupun exercise yang berlebihan juga dapat meningkatkan frekuensi
nafas dan denyut jantung. Hal ini didukung oleh pemeriksaan klinis setelah
operasi yang dilakukan Paradisa (2010) yang menunjukkan bahwa terjadi
peningkatan frekuensi nafas dan denyut jantung melebihi kisaran normal pada
domba tersebut.
Peningkatan yang terjadi pada hari terakhir pengamatan dapat disebabkan
oleh jaringan pada kelompok HA-Kitosan yang mengalami persembuhan jaringan
dan degradasi yang lebih lama dibandingkan dengan kelompok HA-TKF. Hal ini
karena HA-Kitosan memiliki struktur yang lebih rapat, sehingga tidak ada poripori untuk vaskularisasi yang akan merangsang sel-sel progenitor untuk
memperbaiki kerusakan tulang. Idealnya campuran material implan tersebut harus
35
memiliki porositas tinggi, ruang yang besar (berpori), untuk memberi ruang yang
cukup bagi perkembangan jaringan dan vaskularisasi baru (Feng Zhao et al.
2002).
Peningkatan jumlah neutrofil pada kelompok HA-Kitosan merupakan
respon normal setelah operasi dalam proses persembuhan, bukan disebabkan
adanya infeksi bakteri, karena berdasarkan hasil penelitian tentang pemeriksaan
klinis yang dilakukan oleh Paradisa (2010) tidak memperlihatkan terjadinya
demam yang merupakan salah satu indikasi adanya infeksi. Hal ini ditunjukkan
dengan temperatur tubuh domba yang masih berada dalam kisaran normal.
Kelompok HA-TKF memperlihatkan jumlah neutrofil yang masih berada
dalam kisaran normal, yaitu berkisar antara 700–6.000 µl (Jain 1993). Kelompok
ini memiliki jumlah neutrofil yang lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok
HA-Kitosan. Kelompok ini mengalami peningkatan jumlah neutrofil pada hari ke3 dan hari ke-14 setelah operasi dan secara perlahan mengalami penurunan hingga
mencapai nilai seperti pada titik awal pemeriksaan. Underwood (1992)
melaporkan bahwa peningkatan jumlah neutrofil merupakan respon alami tubuh
yang terjadi akibat trauma operasi. Penurunan yang terjadi pada akhir pengamatan
merupakan proses pemulihan (persembuhan), dengan ditandai jumlah neutrofil
yang sebelumnya tinggi akan menurun menjadi normal (Bush 1991). Menurut
Brown et al. (2002), HA-TKF merupakan bahan sintetik dengan reaksi inflamasi
minimal.
Neutrofil berperan dalam pertahanan pertama terhadap infeksi bakteri
(Underwood 1992). Sel ini memiliki kemampuan fagositik dan bakterisidal serta
sangat berperan dalam kondisi inflamasi (McCurnin & Bassert 2006). Neutrofil
berperan dalam melawan infeksi dengan cara migrasi menuju jaringan yang
terinfeksi oleh bakteri, menembus dinding kapiler dengan cara diapedesis dan
memfagosit bakteri tersebut. Neutrofil menuju jaringan yang terluka ataupun
diserang, kemudian melepaskan zat-zat kemotoksik. Sel-sel yang mengalami luka
atau kerusakan melepaskan histamin yang membantu mengawali proses
peradangan (Frandson 1992). Jumlah neutrofil pada kedua kelompok perlakuan
secara umum masih berada dalam kisaran normal. Hal ini menunjukkan bahwa
tidak terjadi infeksi bakteri selama proses persembuhan.
36
Jumlah Limfosit
Jumlah Limfosit (/µl)
10000.00
8000.00
6000.00
HA-TKF
4000.00
HA-Kitosan
Normal
2000.00
0.00
0
3
7
14
21
30
60
90
Waktu (hari)
Gambar 17
Rataan jumlah limfosit domba sebelum dan setelah operasi
penanaman material implan tulang.
Keterangan: Data pada H60=2 ekor , H90=1 ekor
Gambar 15 memperlihatkan bahwa kelompok HA-Kitosan masih berada
dalam kisaran normal, yaitu berkisar antara 2.000–9.000 µl (Jain 1993).
Kelompok HA-Kitosan memiliki jumlah limfosit yang mendekati kelompok HATKF. Kelompok HA-Kitosan memiliki jumlah limfosit yang lebih tinggi
dibandingkan kelompok HA-TKF sejak awal hingga hari ke-3 pemeriksaan,
namun mengalami penurunan hingga jumlahnya berada dibawah kelompok HATKF.
Selanjutnya
kelompok ini
mengalami
peningkatan
hingga
akhir
pemeriksaan. Peningkatan jumlah limfosit terjadi pada hari ke-3, 60 dan 90,
namun demikian peningkatan yang terjadi masih berada dalam kisaran normal.
Menurut Jain (1993), peningkatan jumlah limfosit distimuli oleh paparan antigen
akibat adanya infeksi bakteri, virus dan agen parasit.
Kelompok HA-TKF memiliki jumlah limfosit yang masih berada dalam
kisaran normal, yaitu berkisar antara 2.000–9.000 µl (Jain 1993). Pada hari
terakhir pengamatan, kelompok HA-TKF mengalami penurunan jumlah limfosit
hingga mencapai batas bawah nilai awal pengamatan, namun demikian nilainya
masih berada dalam kisaran normal. Hal ini menunjukkan bahwa material implan
HA-TKF dapat memberikan persembuhan tulang yang baik karena senyawa ini
37
memiliki sifat fisis, kimia, mekanis, dan biologis yang mirip dengan struktur
tulang (Guyton & Hall 2006), sehingga keberadaannya dapat diterima dengan
baik di dalam tubuh.
Jumlah limfosit domba pada kedua kelompok perlakuan masih berada
dalam kisaran jumlah limfosit domba normal. Hal ini menunjukkan bahwa
senyawa yang terkandung dalam material implan HA-TKF dan HA-Kitosan masih
dapat diterima oleh tubuh dan tidak mempengaruhi dinamika limfosit domba. HA
tidak menimbulkan respon tubuh terhadap material asing (Aprilia 2008), sehingga
tidak menimbulkan respon imun berupa respon penolakan terhadap implan.
Jumlah Monosit
800.00
Jumlah Monosit (/µl)
700.00
600.00
500.00
400.00
HA-TKF
300.00
HA-Kitosan
200.00
Normal
100.00
0.00
0
3
7
14
21
30
60
90
Waktu (hari)
Gambar 18
Rataan jumlah monosit domba sebelum dan setelah operasi
penanaman material implan tulang.
Keterangan: Data pada H60=2 ekor , H90=1 ekor
Gambar 18 memperlihatkan jumlah monosit kelompok HA-Kitosan
memiliki jumlah monosit yang masih berada dalam kisaran normal, yaitu berkisar
antara 0-750 µl (Jain 1993). Kelompok HA-Kitosan memiliki pola yang fluktuatif.
Peningkatan jumlah monosit terjadi pada hari ke-3, 14, 21 dan 90. Peningkatan
jumlah monosit terjadi akibat adanya respon untuk melakukan fagositosit benda
asing seperti jaringan yang mati (sel debris) (Underwood 1992), sel rusak atau sel
yang tidak berfungsi (Bush 1991). Sel ini memfagosit partikel besar dan sel
38
debris yang tidak dapat ditangani oleh sel neutrofil (McCurnin & Bassert 2006).
Penurunan jumlah monosit terjadi pada hari ke-7. Jain (1993) melaporkan jumlah
monosit dalam darah juga dipengaruhi oleh konsentrasi kortikosteroid. Steroid
menginduksi penurunan jumlah monosit yang akan menghambat pelepasan
monosit dari sumsum tulang atau terjadi penurunan jumlah produksi.
Kelompok HA-TKF mulai awal hingga akhir pengamatan menunjukkan
pola yang relatif stabil dan memiliki jumlah monosit yang cenderung rendah
dibandingkan dengan HA-Kitosan. Namun demikian, jumlah monosit kelompok
ini masih berada dalam kisaran normal, yaitu berkisar antara 0-750 µl (Jain 1993).
Peningkatan dan penurunan yang ditunjukkan pada Gambar 18
memperlihatkan jumlah monosit kedua kelompok masih dalam kisaran normal.
Bush (1991) mengatakan bahwa monosit dalam darah normal jumlahnya sangat
sedikit. Hal serupa dipaparkan oleh Reece (2006) bahwa monosit bersirkulasi di
dalam darah kurang dari 24 jam, sehingga jumlahnya dalam darah normal sangat
sedikit. Monosit berada di sirkulasi darah dalam waktu yang pendek, kemudian
masuk ke dalam jaringan dan berubah menjadi makrofag akibat adanya respon
untuk melakukan fagositosit benda asing seperti bakteri (Frandson 1992) dan
jaringan yang mati (sel debris) (Underwood 1992), sel rusak atau sel yang tidak
berfungsi (Bush 1991).
Kemampuan biocompatible yang dimiliki HA-TKF (Shi 2004, Fujishiro et
al. 2005) dan HA-Kitosan (Maachou et al. 2008) menunjukkan bahwa pada
material tersebut terjadi harmonisasi dengan sistem tubuh, tidak mempunyai efek
toksik atau mengganggu fungsi biologis (Dorland
2002). HA-TKF memiliki
reaksi inflamasi yang minimal (Brown et al. 2002) dan HA-Kitosan memiliki
kemampuan bakteriostatik dan fungistatik yang mencegah infeksi (Aprilia 2008),
sehingga tubuh tidak merespon kedua material implan sebagai benda asing dan
dapat diterima oleh tubuh.
Jumlah Eosinofil
Gambar 19 memperlihatkan bahwa kelompok HA-Kitosan memiliki
jumlah eosinofil yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok HA-TKF.
Kelompok HA-Kitosan mengalami peningkatan dan penurunan jumlah eosinofil
39
yang fluktuatif, namun masih berada dalam kisaran normal, yaitu berkisar antara
0–2.400 µl (Jain 1993). Peningkatan jumlah eosinofil terjadi pada hari ke-3, 14
dan 90, sedangkan penurunan jumlah eosinofil terjadi pada hari ke-7 dan 60 yang
mencapai nilai di bawah nilai awal pemeriksaan. Bush (1991) melaporkan bahwa
peningkatan jumlah eosinofil dapat juga terjadi akibat kerusakan jaringan kronis.
Kerusakan jaringan mengandung sejumlah besar sel mast (terutama pada kulit,
sehingga sel mast melepaskan histamin). Hal ini akan menarik lebih banyak
eosinofil menuju ke lokasi jaringan yang rusak. Penurunan jumlah eosinofil dapat
disebabkan stres dan rasa takut akibat handling. Jain (1993) melaporkan bahwa
penurunan jumlah eosinofil terlihat dalam kondisi stres, yang ditandai dengan
peningkatan pelepasan glukokortikoid oleh korteks adrenal. Glukokortikoid ini
akan menurunkan pelepasan eosinofil dari sumsum tulang, sehingga jumlah
eosinofil dalam sirkulasi menurun.
Jumlah Eosinofil (/µl)
3000.00
2500.00
2000.00
1500.00
HA-TKF
1000.00
HA-Kitosan
Normal
500.00
0.00
0
3
7
14
21
30
60
90
Waktu (hari)
Gambar 19
Rataan jumlah eosinofil domba sebelum dan setelah operasi
penanaman material implan tulang.
Keterangan: Data pada H60=2 ekor , H90=1 ekor
Jumlah eosinofil pada kelompok HA-TKF relatif stabil, kecuali pada hari
ke-14 terjadi sedikit peningkatan. Menurut Frandson (1992), peningkatan ini
dapat disebabkan juga oleh adanya respon tubuh terhadap reaksi alergi. Tubuh
dalam merespon adanya reaksi alergi, akan meningkatkan jumlah eosinofil.
Eosinofil berperan dalam merespon adanya reaksi alergi dan pertahanan terhadap
40
infeksi agen parasit (Underwood 1992) dan mengurangi inflamasi (Bush 1991).
Menurut Frandson (1992), eosinofil yang bersirkulasi dalam darah normal
jumlahnya sedikit. Pergerakan jumlah eosinofil pada hari terakhir pemeriksaan
yang mencapai nilai awal merupakan indikasi bahwa selama proses persembuhan
tulang, domba tidak mengalami infeksi parasit, reaksi alergi atau reaksi
hipersensitivitas anafilaksis yang merupakan peran eosinofil dalam mengontrol
reaksi tersebut, sehingga jumlah eosinofil dalam darah yang ditemukan pada
kelompok HA-TKF berada dalam kisaran normal dan mancapai nilai awal
sebelum diberi perlakuan.
Jumlah Basofil
Jumlah Basofil (/µl)
350.00
300.00
250.00
200.00
HA-TKF
150.00
HA-Kitosan
100.00
Normal
50.00
0.00
0
3
7
14
21
30 60 90
Waktu (hari)
Gambar 20
Rataan jumlah basofil domba sebelum dan setelah operasi penanaman
material implan tulang.
Keterangan: Data pada H60=2 ekor , H90=1 ekor
Gambar 20 memperlihatkan bahwa jumlah basofil kelompok HA-Kitosan
masih berada dalam kisaran normal, yaitu berkisar antara 0–300 µl (Jain 1993).
Jumlah basofil yang ditemukan pada kelompok ini sangat sedikit. Hal ini
didukung oleh Underwood (1992) yang melaporkan bahwa jumlah basofil yang
bersirkulasi dalam darah normal sangat sedikit. Kelompok HA-Kitosan
mengalami peningkatan jumlah basofil pada hari ke-30 hingga hari ke-90, namun
peningkatan yang terjadi sangat sedikit, sehingga dapat dikatakan bahwa
kelompok HA-Kitosan memiliki jumlah basofil yang relatif stabil. Menurut
41
Frandson (1992), peningkatan ini dapat disebabkan adanya reaksi sel basofil yang
merangsang sel mast dalam mengontrol peradangan di lokasi kerusakan jaringan.
Kelompok HA-TKF juga memperlihatkan jumlah basofil yang masih
berada dalam kisaran normal dan secara umum memiliki jumlah basofil yang
lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok HA-Kitosan. Sampai hari terakhir
pengamatan, basofil hampir tidak ditemukan pada kelompok HA-TKF, kecuali
pada hari ke-30, namun peningkatan yang terjadi dalam jumlah yang sangat
sedikit, sehingga dapat dikatakan bahwa kelompok HA-TKF memiliki jumlah
basofil yang relatif stabil. Peningkatan ini diakibatkan pelepasan heparin dan
histamin oleh sel mast dalam mengontrol peradangan di lokasi kerusakan jaringan
(Frandson 1992).
Basofil mengandung heparin dan histamin (Underwood 1992). Basofil
memiliki fungsi utama dalam reaksi alergi (terutama hipersensitivitas) oleh
pelepasan sejumlah mediator termasuk histamin, heparin dan serotonin (Bush
1991). Heparin dilepaskan di daerah peradangan. Basofil merupakan prekusor
bagi sel mast. Sel mast dan basofil melepaskan histamin, sedikit bradikinin dan
serotonin. Sel-sel ini terlibat dalam reaksi peradangan jaringan dan proses reaksi
alergi (Frandson 1992). Gambar 18 menunjukkan bahwa jumlah basofil kedua
kelompok perlakuan berada dalam kisaran normal dan memiliki jumlah yang
sedikit. Hal ini menggambarkan bahwa selama proses persembuhan tulang,
domba pada kedua kelompok perlakuan, yaitu kelompok HA-TKF dan HAKitosan tidak mengalami reaksi alergi yang ditimbulkan oleh kedua material
implan.
Penanaman material implan tulang yang dilakukan tidak mempengaruhi
dinamika sel darah putih domba. Peningkatan sel darah putih pada awal
pemeriksaan setelah dilakukan operasi penanaman material implan merupakan
reaksi yang normal dalam mengatasi kerusakan jaringan akibat trauma operasi
(Underwood 1992). Berdasarkan hasil penelitian Paradisa (2010), dikatakan
bahwa terjadi peradangan secara lokal pada bagian proksimal tibia yang ditanami
material implan berupa rubor (kemerahan), kalor (panas), dolor (rasa sakit) dan
tumor (pembengkakan) selama beberapa hari setelah operasi. Tanda peradangan
yang terjadi merupakan reaksi yang normal setelah operasi dan dialami pada
42
proses persembuhan (Wolfensohn & Lloyd 2000). Brown et al. (2002)
melaporkan bahwa HA-TKF memiliki reaksi inflamasi minimal dan rekasi
imunologi yang rendah, sehingga sel darah putih yang berperan dalam melawan
infeksi bakteri maupun dalam reaksi alergi dapat ditemukan dalam jumlah yang
sangat sedikit.
Pemilihan biomaterial yang tepat sangat penting dalam proses implantasi.
Idealnya biomaterial yang dipilih harus bersifat osteogenic, biocompatible,
bioresorbable (Nandi et al. 2008), osteoinductive, osteoconductive, biodegradable
(Thanaphat et al. 2008) dan memiliki stabilitas mekanik (Pearce et al. 2007).
Biomaterial tersebut juga harus memiliki porositas tinggi (berpori) agar dapat
memberikan ruang untuk vaskularisasi sehingga akan merangsang sel-sel
osteoprogenitor dalam proses osteogenesis (Maachou et al. 2008).
43
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Penanaman material implan HA-TKF dan HA-Kitosan yang dilakukan tidak
mempengaruhi dinamika sel darah putih (leukosit) domba. Reaksi inflamasi yang
terjadi merupakan respon alami akibat adanya pembukaan jaringan setelah operasi
dan merupakan proses persembuhan. Kedua material implan, baik HA-TKF dan HAKitosan, dapat diterima dengan baik oleh tubuh dan tidak mengganggu dinamika sel
darah putih domba.
Saran
Saran yang dapat diberikan adalah perlu dilakukan penelitian dengan jangka
waktu yang lebih lama. Perlu juga dilakukan penelitian pada jaringan di sekitar lokasi
penanaman material implan untuk mengetahui respon sel darah putih secara lokal di
daerah penanaman material implan tersebut. Selain itu perlu dilakukan penelitian
lebih lanjut pada hewan model lain yang memiliki struktur tulang yang mirip dengan
manusia, yaitu babi, kambing, anjing dan kelinci serta perlunya membedakan jenis
kelamin.
44
DAFTAR PUSTAKA
Anonim1.
2009.
Tricalcium
Phosphate.
[terhubung
http://en.wikipedia.org/wiki/Tricalcium_phosphate [Juni 2010].
berkala].
Anonim2. Chitosan. [terhubung berkala]. http://en.wikipedia.org/wiki/Chitosan.
[Juni 2010].
Anonima. Sel monosit.jpg. http://drdjebrut.wordpress.com. [Agustus 2010].
Anonimb. Sel basofil.jpg. http://labkesehatan.blogspot.com [Agustus 2010].
Aoki H. 1991. Science and Medical Applications of Hydroxyapatit. Tokyo:
Institute for Medical and Dental Engineering, Tokyo Medical and Dental
University.
Aprilia R. 2008. Analisis Produksi Fosfatase Alkali oleh Osteoblas yang Distimuli
Graft Berbentuk Pasta pada Berbagai Komposisi, Konsentrasi dan Waktu
yang Berbeda (In Vitro). Jakarta: FKG UI.
Bohner M. 2000. Calcium orthophosphates in medicine: from ceramics to calcium
phosphate cements. Injury 4: 37-47.
Brown BA. 1980. Hematology: Principles and Procedures. Philadelphia: Lea and
Febiger.
Brown M, Cutshall WD, Hilles MC. 2002. A new biomaterial derived from small
intestine submucosa: synthetic and biological-derived wound dreesings.
Health Management Publications. Inc. LCC.
Bush BM. 1991. Interpretation of Laboratory Result for Small Animal Clinicians.
Oxford: Blackwell Scientific Publishing.
Cai S, Xu GH, Yu XZ, Zhang WJ, Xiao ZY, Yao KD. 2009. Fabrication and
biological characteristics of β-tricalcium phosphate porous ceramics
scaffolds reinforced with calcium phosphate glass. J Matter Sci 20: 351358.
Cheville NF. 2006. Introduction to Veterinary Pathology Ed-3. Ames: Blackwell
Publishing.
Colville T, Bassert JM. 2008. Clinical Anatomy and Physiology for Veterinary
Technicians. Philadelphia: Mosby.
Darwis D. 2008. Biomaterial untuk keperluan klinis. [terbitan berkala].
http://nhc.batan.go.id/[20 September 2010].
45
Dorland WAN. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. (Hartanto H, et al. Alih
bahasa). Jakarta: EGC. (Buku asli diterbitkan tahun 2000).
Feng Zhao et al. 2002. Preparation and histological evaluation of biomimetic
three-dimensional hydroxyapatite/chitosan-gelation network composite
scaffolds. Biomaterials 23: 3227-3234.
Frandson RD. 1992. Anatomi dan Fisiologi Hewan Ternak Ed-4. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Fujishiro T., Nishikawa T., Niikura T., Takikawa S., Nishiyama T., Mizuno K.,
Yoshiya S., dan Kurosaka M. 2005. Impaction bone grafting with
hydroxyapatite increased femoral component stability in experiments
using Sawbones. Acta Orthopaedica: 76:4,550 — 554.
Guyton AC, Hall JE. 2006. Fisiologi Kedokteran Ed-11. Jakarta: EGC.
Hafes B. 2000. Reproduction in Farm Animal Ed-6. Philadelphia: Lea and
Febiger.
Herren R. 2000. The Science of Animal Agriculture Ed-2. Delmar.
Jain NC. 1986. Schalm’s Veterinary Hematology Ed-4. Philadelphia: Lea and
Febiger.
Jain NC. 1993. Essentials of Veterinary Hematology. Pennsylvania: Lea and
Febiger.
Kalfas IH. 2001. Principles of Bone Healing. Neurosurgery Focus 10:7-10.
Kelly WR. 1984. Veterinary Clinical Diagnosis Ed-3. London: Bailliera Tindall.
Lane JM, Muschler GF, Kurz LT. 1999. Spinal fuion, in Rothman RH, Simeone
FA(eds): The Spine: 1739-1755. Philadelphia: WB Saunders.
Lange TA, Zerwekh JE, Peek RD, Monney V, Harrison BH. 1986. Granular
tricalcium phosphate in large cancellous defects. Annals of Clinical and
Laboratory Science Vol. 16, Issue 6, 467 – 472.
Laurenchin CT, Yusuf K. 2009. Bone Graft Substitute Materials. Orthopedic
Surgery.
Lawhead JB, Baker M. 2005. Introduction to Veterinary Science. Australia:
Thomson and Learning.
Maachou H, Bal KE, Bal Y, Chagnes A, Cote G, Alliouce D. 2008.
Characterization and In Vitro Bioactivity of Chitosan/Hydroxyapatite
46
Composite Membrane Prepared by Freeze-Gelation Method. Trends
Biomater. Artif. Organ 22(1): 0-0.
McCurnin DM, Bassert JM. 2006. Clinical Textbook for Veterinarians
Technicians Ed-6. Philadelphia: Elsevier Saunders.
McGavin MD, Zachary JF. 2007. Pathologic Basis Veterinary Disease. Missouri:
Mosby Elsevier.
Meyer DJ, Harvey JW. 2004. Veterinary Laboratory Medicine Interpretation and
Diagnosis. Missouri: Elsevier Saunders.
Murugan R, Ramakrishna S. 2004. Bioresorbable composite bone paste using
polysaccharide based nano hydroxyapatite. Biomaterials 25: 3829-3835.
Nandi SK, Kundu B, Datta S, De DK, Basu D. 2008. The repair of segmental
bone defects with porous bioglass: an experimantal study in goat.
Research in Veterinary Science 86 (2009) 162 – 173.
www.sciencedirect.com.
Nurlaela A. 2009. Penumbuhan Kristal Apatit dari Cangkang Telur Ayam dan
Bebek pada Kitosan dengan Metode Presipitasi [tesis]. Bogor: Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Paradisa GA. 2010. Evaluasi gambaran klinis persembuhan tulang implan
hidroksiapatit-kitosan (HA-Kitosan) dengan hidroksiapatit-trikalsium
fosfat (HA-TKF) pada domba lokal sebagai model untuk manusia.
[skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Pearce AI, Richards RG, Milz S, Schneider E dan Pearce SG. 2007. Animal
models for implant biomaterial research in bone: a review. Switzerland:
AO Research Institute, AO Foundation.
Pugh DG. 2002. Sheep and Goat Medicine. Philadelphia: Saunders.
Purnama EF. 2006. Pengaruh suhu reaksi terhadap derajat kristalinitas dan
komposisi hidroksiapatit dibuat dengan media air dan cairan tubuh buatan
(synthetic body fluid) [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
Putri T. 2008. Tulang Buatan dan Komposisi Pembuatnya. [terhubung berkala].
http://initiaputri.wordpress.com/2008/02/23/tulang-buatan-dan-komposisipembuatnya/. [2 Februari 2010].
Ratajska M., Haberko K., Ciechańska D., Niekraszewicz A., Kucharska M. 2008.
Hydroxyapatite - Chitosan Biocomposites. Monograph XIII: 13: 89 – 94.
47
Reece WO. 2006. Functional Anatomy and Physiology of Domestic Animals.
Ames, Iowa: Blackwell Publishing.
Samuelson DA. 2007. Textbook of Veterinary Histology. Missouri: Elsevier.
Saraswathy G, Pal S, Rose C, Sastry TP. 2001. A novel bio-inorganic bone
implant containing deglued bone, chitosan and gelatin. Indian Academy of
Sciences: Bull. Mater. Sci 24(4): 415–420.
Schwartz C, Lecestre P, Fraysinet P, Liss P. 2004. Bone subtitues. Eur J Orthop
Surg Traumatol 13: 161-5
Schowengerdt F. 2002. Better Bone Implants. [terhubung
http://science.nasa.gov/science-news/science-at-nasa/2002/30
oct_hipscience/ [10 Februari 2010]
berkala].
Shi D. 2004. Biomaterial and Tissue Engineering. Cincinnati: Department of
Chemical and Materials Engineering.
Smith JB, Mangkoewidjojo S. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan, dan Penggunaan
Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Jakarta: Universitas Indonesia (UIPress).
Stavropoulos A. 2008. Deproteinized bovine bone xenograft. Orthop Bio Med (2):
119-151.
Sunil P, Goel SC, Rastogi A. 2008. Incorporation and biodegradation of
hydroxyapatite-tricalcium phosphate implanted in large metaphyseal
defects-an animal study. Indian Journal of Experimental Biology Vol. 46
pp.836-841.
Thanaphat P, Thunyakitpisal P, Tachaboonyakit W. 2008. Chitosan/calcium
phosphate composites scaffolds prepared by membrane diffusion process.
Journal of Metals, Materials and Minerals 18(2): 67-71.
Truck C, Brandes G, Krueger I, Behrens P, Mojallal H, Lenarz T, Stieve M. 2007.
Histological evaluation of novel ossicular chain replacement prostheses:
an animal study in rabbits. Acta Otolaryngol 127(8): 801-808.
Underwood JCE. 1992. General and Systemic Pathology. New York: Churchill
Livingstone.
Viswanath B, Raghavan R, Gurao NP, Ramamurty U, Ravishankar N. 2008.
Mechanical properties of tricalcium phosphate single crystals grown by
molten salt synthesis. Acta Biomater. 4(5):1448-54. Epub 2008 Apr 1
PubMed.
48
Wolfensohn S, Lloyd M. 2000. Handbook of Laboratory Animal Management
and Welfare Ed-2. UK: Blackwell Science.
Zerwek J, Kourosh S, Scheinberg R. 1992. Fibrillar collagen: biphasic calcium
phosphate composite as a bone graft substitute for spinal fusion. J Orthop
Res 10: 562-572.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Rataan dan Standar Deviasi Jumlah Total Sel Darah Putih Domba yang Diimplantasi HA-TKF dan HA-Kitosan.
Kelompok
Perlakuan
HA-TKF
HA-Kitosan
Waktu Pemeriksaan
H0
H+3
H+7
H+14
H+21
H+30
H+60
H+90
7183,33 ±
3960,53
10116,67 ±
1433,82
10016,67 ±
4064,89
14733,33 ±
5755,29
11600,00 ±
6406,83
10033,33 ±
4660,83
12691,67 ±
991,95
12416,67 ±
1371,43
10483,33 ±
625,17
12025,00 ±
715,93
10800,00 ±
2642,44
12833,33 ±
3924,71
7900,00 ±
2934,49
11525,00 ±
2934,49
5725,00 ±
0,00
15950 ± 0,00
Lampiran 2 Rataan dan Standar Deviasi Jumlah Limfosit Domba yang Diimplantasi HA-TKF dan HA-Kitosan.
Kelompok
Waktu Pemeriksaan
H0
H+3
H+7
H+14
H+21
H+30
Perlakuan
HA-TKF
4166,15 ±
4204,63 ±
6573,65 ±
5951,12 ±
5702,47 ±
5975,15 ±
2586,94
1130,93
3464,35
447,39
784,44
1897,80
HA-Kitosan
4578,62 ±
5887,50 ±
4644,22 ±
4979,95 ±
4985,81 ±
5291,30 ±
513,23
2151,13
1771,59
1234,16
1055,53
3154,62
H+60
H+90
4533,28 ±
2429,70
7093,81 ±
988,52
2614,61 ±
0,00
8660,85 ±
0,00
Lampiran 3 Rataan dan Standar Deviasi Jumlah Neutrofil Domba yang Diimplantasi HA-TKF dan HA-Kitosan.
Kelompok
Waktu Pemeriksaan
H0
H+3
H+7
H+14
H+21
H+30
Perlakuan
HA-TKF
2302,27 ±
4890,3 ±
4014,22 ±
5469,49 ±
3893,89 ±
3830,05 ±
585,83
1788,29
1820,31
380,28
556,25
574,29
HA-Kitosan
4477,39 ±
6043,66 ±
4621,09 ±
5651,44 ±
5745,65 ±
6295,28 ±
291,13
1151,6
1563,26
150,45
2043,82
14.58
H+60
H+90
2402,56 ±
49,90
4043,17 ±
904,19
2290,00 ±
0,00
5477,24 ±
0,00
Keterangan: H0 = hari operasi (data diambil sebelum operasi),
H+ = hari ke- setelah operasi,
Data pada H+60=2 ekor domba dan H+90=1 ekor domba.
Lampiran 4 Rataan dan Standar Deviasi Jumlah Monosit Domba yang Diimplantasi HA-TKF dan HA-Kitosan.
Kelompok
Waktu Pemeriksaan
H0
H+3
H+7
H+14
H+21
H+30
Perlakuan
HA-TKF
49,27 ±
76,30 ±
62,42 ±
52,85 ±
69,64 ±
108,27 ±
17,30
26,21
60,26
45,84
37,95
116,35
HA-Kitosan
117,28 ±
219,87 ±
76,93 ±
231,82 ±
244,45 ±
131,53 ±
67,93
192,14
74,60
37,15
96,23
55,42
H+60
H+90
83,30 ±
117,79
162,50 ±
37,48
95,61 ± 0,00
366,85 ±
0,00
Lampiran 5 Rataan dan Standar Deviasi Jumlah Eosinofil Domba yang Diimplantasi HA-TKF dan HA-Kitosan.
Kelompok
Waktu Pemeriksaan
H0
H+3
H+7
H+14
H+21
H+30
Perlakuan
HA-TKF
456,97 ±
410,26 ±
560,89 ±
766,90 ±
453,13 ±
487,12 ±
505,63
291,69
294,98
551,61
244,62
307,31
HA-Kitosan
999,29 ±
1920,15 ±
674,33 ±
1549,27 ±
1055,65 ±
1094,14 ±
78,32
1991,85
531,09
1524,72
105,25
869,05
H+60
H+90
588,71 ±
338,30
271,18 ±
191,17
458,00 ± 0,00
1382,87 ±
0,00
Lampiran 6 Rataan dan Standar Deviasi Jumlah Basofil Domba yang Diimplantasi HA-TKF dan HA-Kitosan.
Kelompok
Waktu Pemeriksaan
H0
H+3
H+7
H+14
H+21
H+30
H+60
Perlakuan
HA-TKF
0,00 ± 0,00
0,00 ± 0,00
0,00 ± 0,00
0,00 ± 0,00
0,00 ± 0,00 13,85 ± 23,99
0,00 ± 0,00
HA-Kitosan
0,00 ± 0,00
0,00 ± 0,00 14,00 ± 24,25
0,00 ± 0,00
0,00 ± 0,00 17,20 ± 29,79 14,18 ± 20,05
Keterangan: H0 = hari operasi (data diambil sebelum operasi),
H+ = hari ke- setelah operasi,
Data pada H+60=2 ekor domba dan H+90=1 ekor domba,
Untuk keterangan lebih lanjut ada di Bab Metodologi.
H+90
0,00 ± 0,00
47,85 ± 0,00
Download