اجستري - IAIN Syekh Nurjati Cirebon

advertisement
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah:
Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif Solusinya
Oleh: Hasan saefuloh1
[email protected]
Abstrak
‫تعليم اللغة العربية يف املدارس مل حيصل قادرا إتقاان ملتخرجني اللغة العربية إما بشكل‬
.‫سليب أو بشكل فعلي إال خرجيي املدرسة الذين مكثوا داخلية املعهد‬
‫هذا البحث سوف يشرح لكم بعض النقاط املرتبطة بدليل على فشل تعليم اللغة‬
‫العربية يف املدارس الدينية والعوامل اليت تسبب إىل فشل تعليم اللغة العربية فيها‬
.‫ويبحث على حل مشاكله اخلياري‬
Kata Kunci: Bahasa Arab, Kurikulum, Madrasah Aliyah.
a. Muqaddimah
Sejak beberapa tahun yang lalu, bahasa Arab tidak saja dipelajari oleh
siswa-siswa di lembaga pendidikan bercirikan Islam (Madrasah), tetapi juga
dipelajari di beberapa sekolah umum (SMA) dengan status sebagai bahasa
asing pilihan, sejajar dengan posisi bahasa Asing lain seperti bahasa Jerman,
bahasa Mandarin, bahasa Jepang, bahasa Prancis, dan bahasa Korea.
Masuknya mata pelajaran bahasa Arab ke dalam kurikulum sekolah
umum di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menandakan
bahwa bahasa ini telah memainkan peranan yang baik di tingkat
Internasional. Ini terbukti dengan digunakannya bahasa Arab oleh lebih dari
200.000.000 umat manusia dan digunakan secara resmi oleh kurang lebih 20
negara (Arsyad, 2003:1).
1
Dosen Bahasa Arab pada Jurusan PBA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Syekh
Nurjati Cirebon
139
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
Selanjutnya menurut Arsyad, bahwa akhir-akhir ini bahasa Arab
merupakan bahasa yang peminatnya cukup besar di Barat. Di Amerika,
misalnya, hampir semua perguruan tinggi Katolik atau Kristen mengajarkan
bahasa Arab. Sebagai contoh, Harvard University, sebuah perguruan tinggi
swasta paling terpandang di dunia yang didirikan oleh para 'alim ulama'
Protestan, dan Georgetown University, sebuah universitas swasta Katolik,
keduanya mempunyai pusat studi Arab yang kurang lebih merupakan “Center
For Contemporary Arab Studies’’. Di dalam The organization of Affrican
Univercity sebagai bahasa nomor tiga. Dan di Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) sejak tahun 1973 Bahasa Arab telah diakui secara resmi sejajar dengan
bahasa Inggris, Francis, Rusia, Cina dan Spanyol.
Di saat bangsa-bangsa lain, termasuk bangsa ‘non muslim’, mulai
memperhatikan
pentingnya
bahasa
Arab
untuk
berbagai
tujuan,
pembelajaran bahasa Arab di madrasah di Indonesia, yang sudah berjalan
sejak puluhan tahun yang lalu2, belum menunjukan hasil yang memuaskan.
Menurut Azyumardi Azra (1998:126) bahwa penguasaan bahasa Arab
mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi Islam pada umumnya sangat lemah.
Kelemahan ini, selain bersumber dari kegagalan pengajaran bahasa Arab di
madrasah sebelumnya, juga karena metode pengajaran yang diterapkan
relative tradisional. Apa yang diberikan bukan pelajaran bahasa, tetapi
pelajaran tentang bahasa. Kegiatan belajar bahasa lebih menitikberatkan
pada penghafalan kaedah tata bahasa darai pada penggunaan bahasa itu
sendiri, baik secara lisan maupun tulisan.
2
Menurut para ahli sejarah, bahasa Arab masuk ke Indonesia bersama-sama dengan masuknya
agama islam di Nusantara ini. Namun kapankah Islam masuk ke Nusantara? Suatu pertayaan
yang sulit dijawab. Oleh karena itu, para pakar sejarah mengadakah muktamar di medan pada
tahun 1963 dan hasilnya adalah bahwa agama islam masuk ke Nusantara pada abad pertama
hijriah (tahun enam ratusan). Hasil muktamar ini juga didukung oleh hasil muktamar lain yang
diadakan di Sumatera Barat yang menyepakati bahwa Islam masuk ke minangkabau sekitar
abad 7-8 masehi (Ahmad’ Abd Al-Syukur,”Intisyar Al-Lugah Al-Arabiyyah Wa Musykilatuh
Fi Indunisiya”. Aljami’ah, Juli-Desember 2002).
140
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
Muhammad Matsna dalam Jurnal al-Hadharah3 (2002: 49)
mengatakan bahwa pengajaran bahasa Arab di madrasah-madrasah selama
ini belum bisa menghasilkan lulusan yang menguasai bahasa Arab, baik
secara pasif, maupun secara aktif, kecuali lulusan madrasah yang ada dalam
lingkungan pesantren.
Hal senada diungkapkan oleh Azhar Arsyad (2003: 121) yang
mengatakan bahwa pembelajaran bahasa asing di sekolah di Indonesia,
bahasa Inggris dan Arab, dapat dikatakan gagal. Kalaupun ada siswa atau
alumni Madrasah yang cakap berbahasa Arab, menurut Nazri Syakur (2008:
57), setelah ditelusuri, kemahiran mereka itu bukan merupakan hasil dari
kualitas pembelajaran di Madrasah, melainkan karena siswa tersebut adalah
juga santri di pesantren.
Dalam tulisan ini akan diuraikan beberapa hal yang berkaitan dengan
bukti-bukti kegagalan pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah, factor-faktor
yang menyebabkan kegagalan pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah, dan
alternative solusi pemecahan masalahnya.
b. Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah
Pernyataan-pernyataan dan tuduhan-tuduhan terhadap kegagalan
pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Negeri regular, tentunya tidak bisa
diterima begitu saja. Hal ini perlu dibuktikan. Untuk membuktikan tuduhantuduhan di atas, perlu kriteria atau indikator yang menunjukan kegagalan
tersebut.
Kalau kita merujuk pada tujuan pembelajaran bahasa Arab di
Madrasah Aliyah sebagaimana tertuang dalam kurikulum Madrasah, sesuai
yang ditetapkan dalam peraturan Menteri Agama no. 2.tahun 20084, adalah:
3
Muhammad Matsna. 2002. Problematika Pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia dalam
jurnal Ikatan Pengajar Bahasa Arab Al-Hadharah. Hal. 49
4
Peraturan Meneri Agama no. 02 tahun 2008 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi
Lulusan Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.
141
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
1) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab, baik
lisan maupun tulisan yang mencakup empat kecakapan berbahasa:
menyimak (istima’), berbicara (kalam), membaca (qira'ah), dan menulis
(kitabah). 2) Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya bahasa Arab
sebagai salah satu bahasa asing untuk menjadi alat utama belajar, khususnya
dalam mengkaji sumber-sumber ajaran Islam. 3) Mengembangkan
pemahaman tentang saling keterkaitan antara bahasa dan budaya serta
memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian, peserta didik diharapkan
memiliki wawasan lintas budaya dan melibatkan diri dalam keragaman
budaya.
Kalau kita break down dari tujuan nomor (1), misalnya, maka secara
sederhana dapat dikatakan bahwa lulusan Madrasah Aliyah harus mampu:
1.
Memahami berbagai ungkapan bahasa Arab yang disampaikan secara
lisan baik secara langsung maupun melalui rekaman pada tema-tema
yang sesuai dengan tingkat Madrasah Aliyah (Maharat al-istima’).
2.
Mampu berbicara bahasa Arab, baik secara monolog seperti bercerita,
berpidato, memberi pengumuman, dan lain-lain; maupun secara dialog,
seperti bermuhadatsah, berdiskusi, melakukan wawancara, berdebat,
dan lain-lain (maharat al-Kalam).
3.
Mampu membaca dan memahami kitab berbahasa Arab pada tema yang
sesuai dengan tingkat Madrasah Aliyah (maharat al-qiraah).
4.
Mampu mengarang dalam bahasa Arab (insya’) pada tema-tema yang
sesuai dengan tingkat Madrasah Aliyah (maharat al-kitabah).
Kalau kita lihat dari sisi lain, misalnya dengan mengacu pada konsep
pembelajaran tuntas5, yang menjadi ciri penguasaan kompetensi pada
5
Penentuan skor ini mengacu pada prinsip belajar tuntas (mastery learning). Pembelajaran
tuntas adalah pola pembelajaran yang menggunakan prinsip ketuntasan secara individual.
Pembelajaran tuntas (mastery learning) dalam proses pembelajaran berbasis kompetensi
dimaksudkan adalah pendekatan dalam
pembelajaran yang mempersyaratkan peserta
didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata
pelajaran tertentu. Bahkan Menurut Gagne, suatu materi dikatakan tuntas dipelajari apabila
90% peserta didik berhasil menguasai 90% tujuan pelajaran. Kunandar dalam bukunya guru
142
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004 (KBK) dan KTSP tahun 2006, atau
Permenag nomor 2. Tahun 2008 untuk kurikulum Madrasah, maka semua
siswa harus memperoleh skor minimal 80 dari sekala 0-100. Atau mendekati
skor 80. Namun, kenyataan di lapangan, berdasarkan hasil observasi di
beberapa Madrasah, nilai ketuntasan minimal untuk mata pelajaran bahasa
Arab rata-rata 75.
Untuk mengetahui apakah tujuan tersebutt tercapai atau tidak,
sehingga tuduhan-tuduhan di atas dapat diterima atau ditolak, banyak
peneliti yang melakukan pengkajian empiris berkaitan dengan hal di atas:
1. Hasil penelitian Moh. Khasairi6 dalam Jurnal al-Hadharah (2002: 80)
menunjukan bahwa pencapaian hasil belajar pelajaran bahasa Arab di
beberapa Madrasah Aliyah di Malang, masih berada jauh di bawah
standar. Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh Khasairi di
dua Madrasah Aliyah Negeri di Malang menunjukan bahwa nilai rata-rata
hasil ujian sumatif pada umumnya mencapai 50 kebawah. Padahal sesuai
dengan prinsip Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning) yang sudah
diberlakukan sejak penerapan kurikulum 1984, kurikulum 1994, nilai ratarata kelas harus mencapai 80.
Walaupun temuan ini bersifat kasuistik di tempat penelitian (Malang),
namun kondisi seperti ini diasumsikan juga terjadi di madrasah-madrasah
yang mempunyai karaktrer yang sama. Dalam hal ini Madrasah Aliyah
Negeri yang penyelenggaraan pendidikannya tidak diintegrasikan dengan
pesantren.
2. Pada setiap tahun, Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
(HMJ-PBA) IAIN Syekh Nurjati Cirebon menyelenggarakan multi lomba
propesional implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan persiapan
menghadapi sertifikasi guru mengatakan bahwa ketuntasan belajar setiap indikator yang telah
ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Kriteria ideal ketuntasan
untuk masing-masing indikator 75%.
6
Moh. Khasairi. 2002. Pengajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyahantara Harapan dan
Kenyataan dalam jurnal Ikatan Pengajar Bahasa Arab Al-Hadharah. Hal. 80
143
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
berkaitan dengan penguasaan bahasa Arab, seperti cerdas cermat bahasa
Arab, lomba debat bahasa Arab, lomba pidato bahasa Arab, lomba
mengarang
bahasa
Arab
(insya’),
lomba
menerjemahkan,
dan
sebagainya7.
Data tiga tahun terakhir penyelenggaraan kegiatan multi lomba tingkat
wilayah III (Cirebon, Kuningan, Indramayu, Majalengka) yang bertajuk
“Gebyar Bahasa Arab” untuk tingkat Madrasah Aliyah menunjukan bahwa
para pemenang multi lomba tersebut didominasi oleh MA swasta yang
penyelenggaraan pendidikannya menyatu dengan pesantren, seperti MA
Husnul Khatimah Kuningan, MA al-Shighar Gedongan Cirebon, MA Khas
Kempek Cirebon, MA al-Ikhlas Kuningan, dan MA al-Sakinah Indramayu.
3. Data hasil pre-test/placement test yang dilakukan oleh Pusat
Pengembangan Bahasa (PPB) IAIN Syekh Nurjati Cirebon, dengan materi
tes yang disesuaikan dengan kurikulum Madrasah Aliyah, terhadap semua
mahasiswa baru yang mayoritas merupakan alumni Madrasah Aliyah
menunjukan bahwa peserta yang memperoleh nilai tinggi dan
ditempatkan di kelas unggulan, bahkan ada yang dinyatakan bebas dari
mata kuliah bahasa Arab, adalah alumni Pesantren (baik Pesantren
Modern, maupun Pesantren Tradisional) dan Madrasah Aliyah swasta
yang penyelenggaraan pendidikannya terintegrasi dengan pesantren8.
4. Dalam kegiatan PPL mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di
Kota dan Kabupaten Cirebon9, peneliti mencoba melakukan wawancara
dengan salah seorang guru pamong di salah satu Madrasah Aliyah Negeri
di kabupaten Cirebon. Diantara temuan yang mengejutkan
adalah
ungkapan guru pamong (guru Bahasa Arab di MAN) yang menyatakan
7
Laporan kegiatan Himpunan Mahasiswa Jurusan PBA IAIN Cirebon tahun 2011, 2012, dan
2013.
8
Pengalaman dan pantaua peneliti sebagai Sekretaris Pusat Pengembangan Bahasa periode
2002-2006, dan sebagai ketua Pusat Pengembangan Bahasa periode 2006-2010.
9
Wawancara peneliti denga guru pamong di Madrasah Aliyah Negeri 1 Cirebon pada saat
membimbing PPL2 mahasiswa Jurusan PBA tahun 2012.
144
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
“Kalau harus jujur, pada ujian akhir sekolah mayoritas siswa sesungguhnya
tidak mencapai nilai standar ketuntasan minimal yang sudah ditentukan
oleh pihak sekolah, yaitu 75”.
Data-data dan fakta di atas memperkuat statemen yang mengatakan
bahwa pembelajaran bahasa Arab di Madrasah, khususnya Madrasah Negeri
regular yang penyelenggaraannya tidak diintegrasikan dengan pendidikan
pesantren dianggap gagal. Dengan demikian, tuduhan para ahli di atas dapat
diterima.
c. Faktor-faktor yang menyebabkan Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab
di Madrasah Negeri Reguler
Berkaitan dengan kekurang berhasilan pembelajaran bahasa Arab di
Madrasah, pihak guru sering kali melemparkan tuduhan kepada siswa
sebagai penyebabnya; misalnya motivasi siswa untuk belajar bahasa Arab
rendah, latar belakang kebahasaan siswa sangat minim, banyak yang berlatar
belakang pendidikan umum (SD atau SMP), dan sebagainya.
Banyak juga guru yang melempar tangung jawab atas kekurang
berhasilan pembelajaran bahasa Arab di Madrasah ini kepada aspek system
atau program pembelajaran bahasa Arab itu sendiri, misalnya kurangnya
sarana pendukung pembelajaran, seperti tidak adanya laboratorium bahasa,
tidak tersedianya proyektor/LCD, terlalu sedikit jam pelajaran bahasa Arab,
kurang tersedianya buku paket bahasa Arab, tidak dimasukkannya bahasa
Arab pada kelompok mata pelajaran yang di-UN-kan, dan sebagainya.
Pihak siswa sering kali menganggap pelajaran bahasa Arab termasuk
pelajaran yang sulit dan membosankan. Di sisi lain, pihak pemerintah atau
akademisi menganggap bahwa kekurang berhasilan pembelajaran bahasa
Arab di Madrasah disebabkan oleh guru yang kurang professional.
145
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
Mahmud Yunus10 mengatakan "Al-Thariqah Ahamm min al-maddah,
lakin al-Mudarris Ahamm min kull al-syai" (Metode lebih penting dari materi,
tetapi guru lebih penting dari segalanya). Ungkapan ini menunjukkan bahwa
dalam pendidikan pada umumnya, dan dalam proses belajar mengajar
khususnya, metode memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting.
Artinya, bahwa keberhasilan PBM tidak hanya ditentukan oleh penguasaan
materi. Faktor-faktor atau komponen-komponen pendidikan lainnya juga
ikut mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Namun, peran yang paling
besar untuk mencapai keberhasilan itu, terletak pada guru.
Dalam konteks pendidikan modern banyak ditemukan statemen yang
menyatakan bahwa tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah guru yang
tidak tahu cara mengajar yang cocok untuk anak tersebut.
Ungkapan yang senada dengan statemen di atas disampaikan oleh
Munif Chatib (2012:33), penulis buku “Gurunya manusia” yang mengatakan
“Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada adalah guru yang tidak mau belajar
untuk mengajar yang sesuai dengan gaya belajar anak”.
Atau ungkapan Yohanes Surya, seorang
fisikawan Indonesia,
pembimbing TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) yang mengatakan bahwa
tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak mendapat
kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar; tidak ada
anak yang gagal, yang ada adalah anak yang kurang beruntung tidak
mendapatkan guru yang tepat.
Ungkapan-ungkapan di atas menegaskan betapa sentralnya peran
dan tanggung jawab guru atas keberhasilan atau kegagalan belajar siswa,
termasuk dalam pembelajaran bahasa Arab di Madrasah.
Mengacu pada statemen-statemen di atas, maka tidak beralasan
kalau kekurang berhasilan pembelajaran bahasa Arab di Madrasah
disebabkan oleh faktor atau variable siswa.
10
Mahmud Yunus. 1994. (Ensiklopedi Islam 5, 1994: 215).
146
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
Namun demikian, guru bukanlah satu-satunya faktor yang
mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan belajar. Menurut Syaiful Bahri
Djamarah (2010:109) ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan
belajar yaitu: Faktor tujuan, guru, peserta didik, kegiatan pengajaran, alat
evaluasi, dan bahan evaluasi.
Abdul Chaer (2007:154) mengatakan bahwa faktor yang menentukan
keberhasilan dalam belajar, termasuk belajar bahasa antara lain: kualitas
guru, kurikulum, bahan ajar, minat dan motivasi siswa, tingkat intelejensi
siswa, sarana dan fasilitas belajar, lingkungan sekolah, perhatian orang tua
(keluarga), latar belakang sosial budaya, dan lingkungan tempat tinggal.
Secara lebih spesifik, Henry Guntur Tarigan, (1993: 2) mengatakan
bahwa keberhasilan proses pembelajaran bahasa, dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu:
1. Faktor pembelajar/siswa; (berkemauan keras, punya motivasi tinggi,
melihat relevansi pelajaran bahasa, dan mempunyai harapan yang
cerah).
2. Faktor pengajar/guru; (berkompetensi professional yang tinggi,
menghargai para pembelajar; selalu meningkatkan pengetahuannya).
3. Faktor sistem; (tujuan yang realistis, sarana dan organisasi yang baik,
intensitas pengajaran yang relatif tinggi, kurikulum dan silabus yang
tepat guna.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat ditarik benang merah bahwa
faktor-faktor yang menyebabkan kekurang berhasilan pembelajaran,
termasuk bahasa Arab di Madrasah dapat dikerucutkan kepada tiga aspek;
aspek yang berkaitan dengan siswa, aspek yang berkaitan dengan guru, dan
aspek system.
147
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
d. Alternativ Pemecahan Masalah
1.
Peningkatan kualitas guru
Kondisi seperti yang sudah dipaparkan diatas, yang berkaitan
dengan
kegagalan
pembelajaran
bahasa
Arab
di
Madrasah,
sesungguhnya sudah dirasakan oleh banyak pihak, seperti pihak sekolah,
guru bahasa Arab, pengguna lulusan, pihak pemerintah, kalangan
akademisi dan lain-lain.
Upaya-upaya untuk mengatasi masalah inipun sudah banyak
dilakukan, seperti perubahan kurikulum yang dilakukan secara periodik,
peningkatan kualitas dan profesionalitas guru, dan sebagainya. Namun
upaya-upaya tersebut belum menunjukan hasil yang maksimal.
Pertanyaannya kemudian adalah “Mengapa upaya-upaya yang sudah
dilakukan tersebut belum juga menjadi solusi untuk meningkatkan
kualitas pembelajajar bahasa Arab di Madrasah“.
Berkaitan dengan aspek guru, sampai saat ini pihak pemerintah
masih terus berupaya meningkatkan kualitas dan profesionalitas guru
melalui berbagai program, seperti program sertifikasi guru melalui
kegiatan PLPG, atau melalui kegiatan PKG (Peningkatan Kualitas Guru),
PPG (Pendidikan Profesi Guru), dan sebagainya. Program-program
tersebut dilakukan untuk meningkatkan profesionalitas guru, termasuk
untuk mengatasi fakrot kegagalan siswa, yang disinyalir disebabkan oleh
kelemahan kompetensi guru.
Melalui beebagai program di atas, maka saat ini sudah banyak
guru yang memperoleh gelar sebagai “guru professional”. Namun,
kenyataan di lapangan, berdasarkan temuan hasil observasi peneliti dan
wawancara dengan guru bahasa Arab di Madrasah Aliyah Negeri 1
Cirebon, menunjukan bahwa dalam proses belajar mengajar, hampir
semua guru membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Tetapi
pada waktu yang sama, hampir semua guru yang diwawancarai,
melaksanakan pembelajaran tanpa mengacu pada RPP yang ditulisnya.
148
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
Dengan kata lain, RPP adalah suatu hal, dan pelaksanaan pembelajaran
adalah hal lain. Membuat RPP dengan demikian, hanyalah suatu upaya
untuk memenuhi kebutuhan administrative semata.
Kenyataan ini menunjukan bahwa walaupun secara formal dan
secara administrative, guru-guru Bahasa Arab di Madrasah sudah
bersertifikat sebagai guru professional, namun pada tataran praktis,
upaya-upaya kreativ yang seharusnya dilakukan oleh guru prosesional
dalam kegiatan pembelajaran, belum tampak dan belum menunjukan
hasil maksimal, sehingga kompetensi siswa Madrasah dalam bahasa
Arab masih saja lemah. Artinya, program peningkatan kualitas guru
melalui kegiatan PLPG dan sejenisnya belum dapat dikatakan berhasil
meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab di Madrasah.
Pertanyaanya kemudian adalah, apakah “penyakit” ketidak
profesionalan
guru
yang
sudah
sangat
akut,
sehingga
sulit
“disembuhkan”; atau apakah program semacam PLPGnya yang tidak
dilaksanakan secara serius.
Untuk yang berkaitan dengan efektivitas dan keseriusan
pelaksanaan program PLPG dan sejenisnya, perlu dilakukan pengkajian
dan penelitian secara khusus dan mendalam oleh tim tertentu atau
secara
individual. Sedangkan
yang berkaitan dengan
sulitnya
meningkatkan profesionalisme guru secara factual, sesungguhnya inti
masalahnya bukan pada guru itu sendiri. Kalau dianalogikan dengan
pribahasa di bidang kesehatan “prepentive is better than curative”, maka
pertanyaan besar yang perlu dikaji cesara mendalam juga adalah
“mengapa lembaga yang menyiapkan tenaga kependidikan (baca: guru)
tidak mampu mengeluarkan lulusan (alumni) yang siap pakai”.
2.
Perbaikan Kurikulum
Sebagaimana diuraikan di atas, bahwa selain aspek guru dengan
segala kompetensinya (kompetensi professional, kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, dan kompetensi social), aspek yang tidak kalah
149
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
pentingnya dalam proses pembelajaran dan ikut menentukan
keberhasilan siswa adalah kurikulum.
Para ahli pendidikan mengatakan bahwa mutu pendidikan
dipengaruhi oleh mutu proses belajar mengajar; sedangkan mutu proses
belajar mengajar ditentukan oleh berbagai komponen yang saling terkait
satu sama lain, yaitu peserta didik, kurikulum, pendidik dan tenaga
kependidikan, sarana prasarana, dana, manajemen, dan lingkungan.
Kurikulum dengan demikian, merupakan salah satu komponen
pendidikan yang sangat strategis karena ia memuat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran memberikan makna
bahwa di dalam kurikulum terdapat panduan interaksi antara guru dan
peserta didik. Dengan demikian, kurikulum berfungsi sebagai “inti” dari
program pendidikan di sekolah untuk memberdayakan potensi peserta
didik.
Bahkan menurut Abdul Alim Ibrahim (1973: 35) kurikulum dapat
menentukan masa depan kehidupan bangsa. Beliau mengungkapkan
pandangan para ahli berkaitan dengan masa depan suatu bangsa. Ketika
salah seorang politikus ditanya tentang masa depan suatu bangsa, beliau
menjawab:
"‫ أن بؤكم بست قبل المة‬،‫"ضعوا أمامى مناهجكم‬
“tunjukan padaku kurikulum-mu, akan kutunjukan bagaimana
masa depan kehidupan bangsa-mu”.
Artinya, kurikulum yang berkualitas akan mampu memotret
masa depan bangsa yang baik. Sebaliknya, sosok kurikulum yang tidak
baik, tidak akan mampu mengantarkan anak bangsa ke masa depan yang
baik.
150
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
Senada dengan ungkapan di atas, S. Nasution (2003:1)
mengatakan bahwa masa depan bangsa terletak pada tangan kreatif
generasi muda. Mutu bangsa di kemudian hari bergantung pada
pendidikan yang dinikmati anak-anak saat ini, terutama dalam
pendidikan formal yang diterima dibangku sekolah. Apapun yang akan
dicapai di sekolah harus ditentukan oleh kurikulum sekolah. Jadi, barang
siapa yang menguasai kurikulum maka ia memegang peran penting
dalam mengatur nasib bangsa dan Negara ke depannya.
Upaya solutive untuk meningkatkan keberhasilan pembelajaran
bahasa Arab di Madrasah dalam bidang kurikulum pun sudah dilakukan
oleh pemerintah, dalam hal ini kementerian Agama, yaitu menetapkan
kurikulum melalui SK Dirjen Pendis no. 2676 Tahun 2013, tentang
kurikulum 2013 mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa
Arab di Madrasah.
Untuk mengkaji dan mengevaluasi tingkat efektivitas kurikulum
2013, khususnya mata pelajaran bahasa Arab, tentunya belum bisa
dilakukan, karena kurikulum ini baru diberlakukan pada tahun pelajaran
2014/2015, dan belum genap 1 tahun. Namun sebagai pemerhati
pembelajaran
bahasa Arab, peneliti mencoba
mengakaji
dan
menganalisis kualitas kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Arab
sebagai sebuah dokumen. Apakah dokumen kurikulum bahasa Arab
tersebut cukup handal untuk dijadikan pedoman pembelajaran atau
tidak, dan apakah upaya peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Arab
melalui perubahan kurikulum sudah tepat sasaran atau tidak.
Berdasarkan kajian sekilas terhadap dokumen kurikulum bahasa
Arab Madrasah Aliyah menurut SK Dirjen Pendis no. 2676 Tahun 2013,
terdapat beberapa kejanggalan yang ditemukan, diantaranya sebagai
berikut:
151
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
Bunyi rumusan tujuan pembelajaran bahasa Arab, sebagaimana
dimuat dalam dokumen kurikulum, adalah sebagai berikut11:
“Mata pelajaran bahasa Arab merupakan suatu mata pelajaran yang
diarahkan untuk mendorong, membimbing, mengembangkan, dan
membina kemampuan serta menumbuhkan sikap positif terhasap
bahasa Arab, baik reseptif maupun produktif. Kemampuan reseptif yaitu
kemampuan untuk memahami pembicaraan orang lain dan memahami
bacaan. Kemampuan produktif yaitu kemampuan menggunakan bahasa
sebagai alat komunikasi baik secara lisan maupun secara tertulis.
Kemampuan berbahasa Arab serta sikap positif terhadap bahasa Arab
tersebut sangat penting dalam membantu memahami sumber ajaran
Isalam yaitu Al-Qur’an dan al-hadis, serta kitab-kitab berbahasa Arab
yang berkenaan dengan Islam bagi peserta didik. Untuk itu, bahasa
Arab di Madrasah dipersiapkan untuk pencapaian kompetensi dasar
berbahasa, yang mencakup empat keterampilan
berbahasa yang
diajarkan secara integral, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis. Meskipun begitu, pada tingkat pendidikan dasar (elementary)
dititikberatkan
pada kecakapan menyimak dan berbicara sebagai
landasan berbahasa. Pada tingkat pendidikan menengah (intermediate),
keempat kecakapan berbahasa diajarkan secara seimbang. Pada tingkat
pendidikan lanjut (advanced), dikonsentrasikan pada kecakapan
membaca dan menulis, sehingga peserta didik diharapkan mampu
mengakses berbagai referensi berbahasa Arab.
Mata pelajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah memiliki tujuan sebagai
berikut:1)
Mengembangkan
kemampuan
berkomunikasi dalam
bahasa Arab, baik lisan maupun tulis yang mencakup empat kecakapan
berbahasa, yakni menyimak (istima‘), berbicara (kalam), membaca
(qira'ah), dan menulis (kitabah). 2) Menumbuhkan kesadaran tentang
11
Lampiran SK Dirjen Pendis no. 2676 Tahun 2013, tentang kurikulum 2013 mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah
152
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
pentingnya bahasa Arab sebagai salah satu bahasa asing untuk menjadi
alat utama belajar, khususnya dalam mengkaji sumber-sumber ajaran
Islam.3) Mengembangkan pemahaman tentang saling keterkaitan
antara bahasa dan budaya serta memperluas cakrawala budaya.
Dengan demikian, peserta didik diharapkan memiliki wawasan lintas
budaya dan melibatkan diri dalam keragaman budaya”.
Bunyi rumusan tujuan seperti di atas, ternyata juga ditemukan
pada dokumen kurikulum bahasa Arab tingkat Madrasah Tsanawiyyah
dan Madrasah Ibtida’iyyah dengan redaksi yang sama persis, sehingga
target capaian untuk tiap tingkatan (MI, MTs, dan MA) menjadi tidak
jelas. Padahal, tingkat kematangan dan kemampuan siswa tingkat MI,
tentunya berbeda dengan siswa tingkat MTs, apalagi dengan siswa
tingkat MA. Kalau rumusan tujuan pada tataran mapel ini tidak jelas,
maka komponen-komponen lain seperti materi, metode, evaluasi dan
komponen lainnya akan menjadi tidak jelas pula.
Dalam pengantar perumusan tujuan mapel bahasa Arab, untuk
tiap tingkatan, sesungguhnya disebutkan secara ekplisit, bahwa pada
tingkat pendidikan dasar (elementary) dititikberatkan pada kecakapan
menyimak dan berbicara sebagai landasan berbahasa. Pada tingkat
pendidikan menengah (intermediate), keempat kecakapan berbahasa
diajarkan secara seimbang. Pada tingkat pendidikan lanjut (advanced),
dikonsentrasikan pada kecakapan membaca dan menulis, sehingga
peserta didik diharapkan mampu mengakses berbagai referensi
berbahasa Arab. Namun kenyataannya pada tahapan perumusan
Kompetensi Dasar (KD), perbedaan level-level ini tidak tampak. Artinya,
di semua tingkatan, KD yang mengarah pada empat kecakapan
berbahasa Arab tetap dimuat. Contohnya bahwa kompetensi dasar (KD3) aspek Kognitif, misalnya, untuk kelas 10 semester 1, dan semester 2,
bunyi rumusannya sama persis, yaitu:
KD 3.1. Mengidentifikasi bunyi kata, frasa, dan kalimat bahasa
153
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
Arab….
KD 3.2. Melafalkan bunyi huruf, kata, frasa, dan kalimat bahasa
Arab…
KD 3.3. Menemukan makna atau gagasan dari ujaran kata, frase, dan
kalimat bahasa Arab....
Setelah ditelusuri, ternyata bunyi rumusan KD 3.1, KD 3.2 dan KD
3.3 pada KI-3 di atas juga terdapat di kelas 11 dan kelas 12. Artinya
rumusan KD aspek kognitif (KI 3) dari kelas 1 sampai kelas 3 tingkat
Madrasah Aliyah sama persis 100%.
Yang lebih mengejutkan lagi, adalah ternyata bunyi rumusan KDKD dari KI-3 seperti itu, tidak saja terjadi pada satu tingkatan pendidikan,
dalam hal ini tingkat Madrasah Aliyah, tetapi juga pada tingkatan
pendidikan di bawahnya, yaitu Madrasah Tsanawiyah, bahkan di
Madrasah Ibtidaiyyah (kelas 4, 5, dan 6).
Dalam rumusan KD ini belum tergambar prinsip urutan dan
kontinuitas yang logis dan gradual. Dalam rumusan ini juga tidak tampak
perbedaan level kompetensi siswa yang diharapkan untuk dicapai; baik
antar semester 1 dan semester 2 dalam satu kelas, antar kelas 1, 2, dan
3 dalam satu tingkatan pendidikan, maupun antar tingkatan pendidikan
itu sendiri (MI, MTs, dan MA).
Kerancuan kurikulum baru (kurikulum 2013), paling tidak, pada
aspek tujuan dan rumusan kompetensi dasar, menunjukan bahwa upaya
perbaikan mutu pembelajaran Bahasa Arab melalui perubahan
kurikulum seperti ini tidak akan mampu memberikan jaminan
peningkatan kualitas lulusan Madrasah dalam penguasaan Bahasa Arab.
Demikian itu, karena kurikulum tersebut tidak dapat dipedomani.
Sementara tingkat ketergantungan guru di lapangan pada kurikulum,
dan terutama pada buku teks pelajaran yang dikembangkan mengacu
pada kurikulum yang berlaku, sangat tinggi.
154
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
Hasil survey yang dilakukan peneliti di sebuah Madrasah Aliyah
Negeri di Cirebon menunjukan kenyataan bahwa guru di saat mengajar,
(guru yang diwawancarai), sangat jarang memperhatikan standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Yang
terjadi adalah bagaimana guru berupaya menghabiskan semua materi
yang ada dalam buku. Sementara bukua teks pelajaran, berdasarkan
kriteria
yang
dibuat
oleh
pusat
kurikulum
dan
perbukuan
Kemendikbud12, harus sesuai denga standar kompetensi dan kompetensi
dasar yang dituangkan dalam kurikulum yang berlaku.
Dengan demikian, upaya perbaikan mutu pembelajaran Bahasa
Arab di Madrasah melalui perubahan kurikulum saja tidak cukup. Apa
lagi kalau perubahan kurikulum tersebut lebih bersifat formalitas,
bersifat politis, sekedar ikut-ikutan, dan hanya melibatkan orang-orang
yang kurang kompeten di bidangnya. Perubahan kurikulum Bahasa Arab
harus lebih substantive, realistis, sesuai dengan kebutuhan lapangan,
dan melibatkan para ahli dan praktisi pembelajaran Bahasa Arab.
e. Penutup
Pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Negeri reguler sampai saat
ini belum menunjukan hasil yang memuaskan. Bahkan para ahli dan
pemerhati pendidikan Madrasah menganggap bahwa pembelajaran bahasa
Arab di Madrasah gagal. Anggapan ini memang tidak bisa dipungkiri.
Beberapa hasil penelitian di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di
Cirebon, membuktikan kegagalan tersebut.
Diantara faktor penyebab kegagalan tersebut adalah faktor siswa,
faktor guru, dan faktor sistem (termasuk di dalamnya kurikulum dan buku
ajar). Namun faktor yang paling dominan berdasarkan kajian di atas adalah
faktor kurang profesionalnya guru bahasa Arab. Beberapa hal yang
memperkuat simpulan ini adalah ungkapan para ahli dan pemerhati
12
Lihat instrument penilaian Buku Teks Pelajaran (BTP), Pusat Kurikulum dan Perbukuan
Nasional tahun 2011.
155
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
pendidikan yang mengatakan bahwa tidak ada siswa yang bodoh atau gagal,
yang ada adalah siswa yang tidak beruntung karena tidak diajar oleh guru
yang mengetahui cara mengajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa
tersebut. Berkaitan dengan kurikulum dan buku ajar, ada pandangan yang
menegaskan bahwa
"‫ واملدرس الفاسد يفسد املنهج اجليد‬،‫"املدرس الناجح ينجح املنهج الفاسد‬
Faktor lain, yang tidakkalah pengaruhnya, terhadap kegagalan
pembelajaran bahasa Arab di Madrasah adalah ketidakmampuan Lembaga
Pendidikan untuk melahirkan tenaga pendidik yang profesional dan siap
pakai.
Diantara upaya solutive untuk mengatasi masalah di atas adalah
meninjau ulang program peningkatan profesionalitas guru, seperti PLPG dan
sejenisnya, dan ditangani secara lebih serius, bukan sekedar formalitas.
Perubahan dan perbaikan kurikulum pun perlu dilakukan, namun bukan
perubahan yang bersifat formalitas, politis, apa lagi latah, melainkan
perubahan yang substantive yang sesuai dengan kebutuhan dan melibatkan
para ahli dan praktisi yang kompeten di bidangnya.
Wallahu waliyyuttaufiq, wa huwalmusta’an.
156
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Kegagalan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah: Faktor-faktor Penyebab dan Alternatif
Solusinya
Hasan S.
‫اجستري‬
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. 2003. Bahasa Arab dan metode pengajarannya. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Chaer, Abdul. 2007. Kajian Bahasa: Struktur Internal, Pemakaian, dan
Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Chatib, Munif. 2012. Gurunya Manusia. Bandung: kaifa.
Djamara, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rhineka Cipta.
Ibrahim, ‘Abd al-‘Alim. 1973. al-Muwajjih al-Fanny Li Mudarris al- Lughah al‘Arabiyah. Kairo: Dar al-Ma’arif.
Lampiran SK Dirjen Pendis Nomor 2676 tahun 2013 tentang Kurikulum 2013
Mata Pelajaran PAI dan Bahasa Arab di Madrasah.
Moh. Khasairi. 2002. Pengajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyahantara
Harapan dan Kenyataan dalam jurnal Ikatan Pengajar Bahasa Arab
Al-Hadharah.
Muhammad Matsna. 2002. Problematika Pembelajaran Bahasa Arab di
Indonesia dalam jurnal Ikatan Pengajar Bahasa Arab Al-Hadharah.
Peraturan Meneri Agama no. 02 tahun 2008 tentang Standar Isi dan Standar
Kompetensi Lulusan Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.
Pusat Kurikulum dan Perbukuan Nasional. 2011. Instrument penilaian Buku
Teks Pelajaran (BTP).
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta :
Rineka Cipta.
Syakur, Nazri. 2008. Revolusi Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab.
Yogyakarta: Pedagogia.
Tarigan, Henry Guntur. 1998. Dasar-dasar Kurikulum Bahasa. Bandung:
Angkasa.
157
El-Ibtikar Volume 04, nomor 01, Juli 2015
Download