II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Permintaan Menurut

advertisement
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Permintaan
Menurut pengertian sehari-hari permintaan diartikan secara absolut yaitu jumlah
barang yang dibutuhkan. Jalan pikiran ini didasarkan atas pemikiran manusia
mempunyai kebutuhan. Atas kebutuhan inilah individu tersebut mempunyai
permintaan akan barang, semakin banyak penduduk suatu negara maka makin
besar permintaan masyarakat akan jenis barang (Sudarsono, 1992 dalam Pramana,
2010:27).
Permintaan menurut ilmu ekonomi diartikan sebagai jumlah barang yang dibeli
oleh sejumlah konsumen dengan harga tertentu pada waktu dan tempat tertentu
(Samuelson, 1992 dalam Pramana, 2010:27). Sesuai hukum permintaan, apabila
harga suatu barang semakin meningkat, maka jumlah barang yang diminta akan
semakin menurun. Begitu pula sebaliknya, apabila harga suatu barang semakin
menurun, maka jumlah barang yang diminta akan semakin meningkat. Jika jumlah
barang yang dibeli tergantung pada berbagai kemungkinan tingkat harga, maka
disebut “permintaan harga”, jika jumlah barang yang dibeli tergantung pada
berbagai kemungkinan tingkat pendapatan, maka disebut “permintaan
pendapatan”, dan jika jumlah barang yang dibeli tergantung pada berbagai
16
kemungkinan tingkat harga barang lain, maka disebut “permintaan silang”
(Oktiana, 2011:12).
Analisa tersebut didasari asumsi Ceteris Paribus, yaitu keadaan lain dianggap
tetap sehingga tidak mempengaruhi besar kecilnya permintaan akan barang,
seperti barang itu sendiri, harga barang lain yang berkaitan, pendapatan rumah
tangga, pendapatan rata-rata masyarakat, corak distribusi pendapatan dalam
masyarakat, jumlah penduduk, dan ramalan keadaan di masa yang akan datang
(Oktiana, 2011:12).
Kurva permintaan mencerminkan hubungan antara harga suatu barang dan
kuantitas yang diminta, Ceteris Paribus. Suatu perubahan harga akan
menghasilkan suatu pergerakan sepanjang kurva permintaan pasar yang tetap,
tidak ada perubahan hal lain yang akan menyebabkan pergerakan sepanjang kurva
permintaan (Mudakir, 2007, dalam Oktiana, 2011:12). Kurva pemintaan
diperoleh dengan menambahkan seluruh kuantitas yang diminta seluruh oleh
seluruh individu pada tiap tingkat harga. Maka dari itu banyak faktor yang
menentukan permintaan salah satu yang terpenting adalah harga barang itu sendiri
(Pramana, 2010:30).
Permintaan seseorang atas suatu barang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain harga barang itu sendiri, harga barang-barang lain yang mempunyai kaitan
dengan barang tersebut, pendapatan rumah tangga, dan pendapatan rata-rata
masyarakat, corak distribusi pendapatan dalam masyarakat, citarasa masyarakat,
jumlah penduduk serta ramalan mengenai keadaan di massa yang akan datang
(Sadono, 1994 dalam Oktiana, 2011: 13).
17
Selain faktor tersebut, ada satu faktor yang dapat mempengaruhi permintaan, yaitu
penduduk. Jumlah penduduk sebagai determinan permintaan dikemukakan oleh
Miller dan Meiners, 2000 dalam Wahyu dan Johanna, 2013:2, menyatakan bahwa
jumlah penduduk merupakan salah satu detereminan dari permintaan atas suatu
barang. Suatu komoditas dihasilkan oleh produsen karena dibutuhkan oleh
konsumen dan karena konsumen bersedia membelinya, konsumen mau membeli
komoditas-komoditas yang mereka perlukan itu apabila harganya sesuai dengan
ekspetasi atau keinginan mereka dan bila komoditas tersebut berguna baginya.
B. Hukum Permintaan
Perilaku konsumen yang sederhana dapat dijelaskan dalam hukum permintaa yang
menyatakan bahwa jika harga suatu barang naik Ceteris Paribus, maka jumlah
barang yang diminta konsumen tersebut akan turun dan sebaliknya jika harga
suatu barang turun maka jumlah barang yang diminta konsumen tersebut akan
naik. Kenaikan harga dan permintaan seperti di atas disebabkan oleh:
a. Kenaikan harga yang menyebabkan pembeli mencari barang lain yang
dapat digunakan sebagai pengganti atas barang yang mengetahui kenaikan
harga, demikian sebaliknya.
b. Kenaikan harga menyebabkan pendapatan riil pada pembeli berkurang.
Setiap penurunan harga suatu barang tanpa ada perubahan atas harga
barang lain atau pendapatan yang diterimanya selalu berarti kenaikan
pendapatan riil, yaitu jumlah barang yang dibeli. Gejala ini dinamakan
efek penurunan harga (Arsyad, 1996 dalam Pramana, 2010: 29).
18
Kemudian apabila kuantitas barang yang diminta cenderung turun apabila harga
naik, terdapat dua alasan:
a. Efek substitusi
Apabila harga sebuah barang naik, maka konsumen akan
menggantikannya dengan barang-barang yang serupa lainnya.
b. Efek pendapatan
Apabila harga naik maka konsumen menganggap bahwa dirinya sekarang
lebih miskin daripada sebelumnya dan sebaliknya apabila harga turun
maka konsumen akan menganggap dirinya lebih berkecukupan
dibandingkan sebelumnya (Samuelson, 1992 dalam Pramana, 2010: 29).
C. Fungsi Pemintaan
Menurut Soediyono, 1989 dalam Oktiana, 2011:13, fungsi permintaan
didefinisikan sebagai fungsi yang menunjukkan hubungan antara jumlah-jumlah
dari suatu barang yang akan terbeli persatuan waktu dari berbagai nilai dari dua
atau lebih variabel yang turut menentukan jumlah pembelian. Secara umum
fungsi permintaan dapat dirumuskan sebagai berikut:
Qx= f (Px, Py, M, E, N)
Dimana:
Qx
= Kuantitas barang tersebut
Px
= Harga barang x
Py
= Harga barang y
M
= Pendapatan konsumsi yang disediakan untuk dibelanjakan
E
= Selera dan faktor-faktor lain
N
= Jumlah penduduk
19
Apabila pendapatan berubah maka jenis barang dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Barang Inferior
Barang inferior yaitu barang yang banyak diminta oleh orang-orang yang
berpendapatan rendah. Apabila pendapatan bertambah maka permintaan
akan barang-barang inferior akan digantikan oleh barang-barang yang
lebih baik mutunya.
b. Barang Esensial
Barang esensial yaitu barang yang sangat penting artinya dalam kehidupan
masyarakat sehari-hari yang biasanya terdiri dari kebutuhan pokok
masyarakat seperti makanan dan pakian.
c. Barang Normal
Barang normal yaitu barang dimana permintaan atas barang akibat
kenaikan pendapatan yang disebabkan oleh dua faktor, yaitu:
1. Pertambahan pendapatan menambah kemampuan untuk membeli
lebih banyak barang.
2. Pertambahan pendapatan memungkinkan seseorang menukar
konsumsi mereka dari barang yang kurang baik mutunya ke barang
yang lebih baik mutunya.
d. Barang Mewah
Barang mewah yaitu barang yang akan dikonsumsi oleh masyarakat
apabila pendapatan masyarakat sudah menjadi relatif lebih tinggi. Barang
mewah ini akan dibeli oleh masyarakat apabila kebutuhan mereka akan
bahan pokok sudah terpenuhi (Suparmoko, 1990 dalam Pramana,
2010:32).
20
D. Elastisitas Permintaan
Elastisitas adalah suatu pengertian yang menggambarkan derajat kepekaan.
Elastisitas permintaan menggambarkan derajat kepekaan fungsi permintaan
terhadap perubahan yang terjadi pada variabel-variabel yang menggantinya.
Besaran koefisien elastisitas ditunjukkan oleh perbandingan antara persentase
perubahan dalam variabel tidak bebas itu dan persentase perubahan variabel bebas
yang mempengaruhinya (Suparmoko, 1997 dalam Pramana, 2010: 33).
P
D
P
D
0
Q
a. Tidak Elastis Sempurna (ED = 0)
P
0
b. Elastis Sempurna (ED = ∞)
P
D
0
b. Elastisitas Uniter (ED = 1)
Q
Q
D
0
d.Tidak Elastis (ED ≤ 1)
Q
21
P
D
0
Q
e. Elastis (ED > 1)
Gambar 2. Jenis-jenis Elastisitas Permintaan
Gambar 2 diatas merupakan jenis-jenis elastisitas permintaan. Nilai koefisien
elastisitas berkisar di antara nol dan tak terhingga (0 ≤ E ≤ ∞). Menurut
besaranya angka koefisien, elastisitas permintaan ada beberapa jenis, yaitu:
a. Elastisitas adalah nol (ED = 0), apabila perubahan harga tidak akan
merubah jumlah yang diminta, jumlah yang diminta tetap walaupun harga
mengalami kenaikan atau penurunan. Kurva permintaan yang koefisien
elastisitasnya bernilai nol bentuknya sejajar dengan sumbu tegak kurva
permintaan ini dinamakan tidak elastis sempurna.
b. Koefisien elastisitas permintaan bernilai tak terhingga (ED = ∞), apabila
pada suatu harga tertentu pasar sanggup membeli semua barang yang ada
di pasar. Berapapun banyaknya barang yang ditawarkan oleh penjual pada
harga tersebut, semuanya akan terjual. Kurva permintaan yang koefisien
elastisitasnya adalah tidak terhingga disebut elastisitas sempurna.
c. Koefisien elastisitas permintaan sebesar 1 (ED = 1), disebut elastisitas
uniter dimana perubahan jumlah barang yang diminta sama dengan
perubahan harga.
22
d. Permintaan tidak elastis atau inelastis dengan koefisien elastisitas
permintaan adalah 0 dan 1 (ED ≤ 1), dimana persentase perubahan harga
adalah lebih besar daripada persentase perubahan jumlah yang diminta.
e. Kurva permintaan bersifat elastis adalah apabila harga berubah maka
permintaan akan mengalami perubahan dengan persentase yang melebihi
persentase perubahan harga. Nilai koefisien permintaan yang bersifat
elastis adalah lebih besar dari 1 (ED > 1) (Sukirno, 2003 dalam Oktiana,
2011: 15)
Tujuan pengukuran elastisitas permintaan adalah untuk menentukan suatu tingkat
dimana jumlah permintaan peka terhadap perubahan salah satu peubah atau lebih
yang mempengaruhinya. Peubah yang mempengaruhi elastisitas permintaan
adalah elastisitas harga, elastisitas pendapatan, dan elastisitas silang (Sukir, 2003
dalam Oktiana, 2011: 17.
1. Koefisien Elastisitas Permintaan Harga
Adalah suatu angka penunjuk yang menggambarkan sampai berapa besarkah
perubahan jumlah barang yang diminta apabila dibandingkan dengan perubahan
harga. Koefisien elastisitas permintaan dihitung dengan menggunakan rumus:
Persentase perubahan jumlah barang yang diminta
Ed =
Persentase perubahan harga
Ada beberapa faktor yang menimbulkan perbedaan dalam elastisitas permintaan
barang, yaitu:
a. Banyaknya barang pengganti yang tersedia
23
Sekiranya sesuatu barang yang mempunyai banyak barang pengganti,
permintaannya cenderung untuk bersifat elastis. Pada waktu harga naik
para pembeli akan merasa enggan membeli barang tersebut, mereka lebih
suka menggunakan barang-barang lain sebagai penggantinya, yang
harganya tidak mengalami perubahan dan sebaliknya.
b. Persentase pendapatan yang dibelanjakan
Semakin besar pendapatan yang diperlukan untuk membeli sesuatu
barang, semakin elastis permintaan barang tersebut.
c. Jangka waktu analisis
Semakin lama jangka waktu dimana permintaan itu dianalisis, semakin
elastis permintaan suatu barang. Dalam jangka waktu yang singkat
permintaan bersifat lebih tidak elastis karena perubahan-perubahan yang
harus terjadi dalam pasar belum diketahui oleh para pembeli. Dalam
jangka waktu yang lebih panjang para pembeli dapat mencari barang
pengganti yang mengalami kenaikan harga dan ini akan banyak
mengurangi permintaan terhadap suatu barang.
2. Elastisitas Permintaan Silang
Adalah koefisien yang menunjukkan sampai dimana besarnya perubahan
permintaan terhadap suatu barang apabila terjadi perubahan terhadap harga barang
lain.
Besarnya elastisitas silang dapat dihitung berdasarkan rumus:
Persentase perubahan jumlah barang X yang diminta
Ed =
Persentase perubahan harga
24
Nilai elastisitas silang berkisar di antara tak terhingga yang negatif kepada tak
terhingga yang positif. Barang-barang penggenap elastisitas silangnya bernilai
negatif, jumlah barang X yang diminta berubah ke arah yang bertentangan
dengan perubahan harga barang Y. Nilai elastisitas silang untuk barang-barang
pengganti adalah positif, yaitu pemintaaan terhadap suatu barang berubah ke arah
yang bersamaan dengan harga barang penggantinya.
3. Elastisitas Permintaan Pendapatan
Adalah keofisien yang menunjukkan sampai dimana besarnya perubahan
permintaan terhadap suatu barang sebagai akibat daripada perubahan pendapatan
pembeli.
Besarnya elastisitas pendapatan dapat ditentukan dengan menggunakan rumus:
Persentase perubahan jumlah barang yang diminta
Ed =
Persentase perubahan pendapatan
Elastisitas pendapatan dikatakan tidak elastis apabila koefisien elastisitasnya
adalah kurang dari satu, yaitu apabila perubahan pendapatan menimbulkan
perubahan kecil saja terhadap jumlah yang diminta. Elastisitas pendapatan
dikatakan elastis apabila perubahan pendapatan menimbulkan pertambahan
permintaan yang lebih besar daripada perubahan pendapatan (Sadono, 2003 dalam
Oktiana, 2011: 20).
25
E. Pengertian Peramalan (Forecasting)
Dalam melakukan analisis di bidang ekonomi, sosial, dan sebagainya, diperlukan
suatu perkiraan apa yang akan terjadi atau gambaran tentang masa yang akan
dating. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang
akan dating, dikenal dengan peramalan (forecasting) (Assauri, 1984:1).
Peramalan (forecasting) adalah kegiatan mengestimasi apa yang akan terjadi pada
masa yang akan datang. Peramalan diperlukan karena adanya perbedaan
kesenjangan waktu (timelag) antara kesadaran akan dibutuhkannya suatu
kebijakan baru dengan waktu pelaksanaan kebijakan tersebut. Apabila perbedaan
waktu tersebut panjang maka peran peramalan begitu penting dan sangat
dibutuhkan, terutama dalam penentuan kapan terjadinya suatu sehingga dapat
dipersiapkan tindakan yang perlu dilakukan.
Kegunaan dari peramalan terjadi pada waktu pengambilan keputusan. Setiap
orang selalu dihadapkan pada masalah pengambilan keputusan. Keputusan yang
baik adalah keputusan yang didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan yang
matang dan perkiraan tentang kejadian yang mungkin akan terjadi. Apabila
ramalan yang dihasilkan kurang tepat, maka keputusan yang diambil tidak akan
mencapai hasil yang memuaskan. Dengan meramalkan kejadian-kejadian yang
akan datang, tindakan-tindakan yang akan datang dapat direncanakan dengan
matang sehingga dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dengan demikian peramalan memiliki peran penting baik dalam sebuah
penelitian, perencanaan, pengambilan keputusan, maupun dalam menentukan
suatu kebijakan. Tetapi perlu diperhatikan juga bahwa peramalan bertujuan untuk
26
memperkecil kemungkinan kesalahan. Baik atau tidakynya suatu ramalan sangat
bergantung pada faktor data dan metode serta kebenaran asumsi yang digunakan.
Menurut Assauri, 1984:3, dilihat dari sifat penyusunannya, peramalan dibedakan
atas dua macam, yaitu:
1. Peramalan yang subjektif, yaitu peramala yang didasarkan atas perasaan
atau instuisi dari orang yang menyususnnya.
2. Peramalan yang objektif, adalah peramalan yang didasarkan atas data yang
relevan pada masa lalu dengan menggunakan teknik-teknik dan metodemetode dalam penganalisisan data tersebut.
Menurut Assauri, 1984:4, dilihat dari jangka waktu ramalan yang disusun,
peramalan dibedakan atas dua macam, yaitu:
1. Peramalan jangka panjang, yaitu peralaman yang dilakukan untuk
penyusunan hasil ramalan yang jangka waktunya lebih dari satu setengah
tahun atau tiga semester.
2. Peramalan jangka pendek, yaitu peralaman yang dilakukan untuk
penyusunan hasil ramalan yang jangka waktunya yang kurang dari satu
setengah tahun, atau tiga semester.
Menurut Assauri, 1984:4, berdasarkan ramalan yang telah disusun, peramalan
dibedakan atas dua macam, yaitu:
1. Peramalan kualitatif, yaitu peramalan yang didasrkan atas data kualitatif
pada masa lalu. Hasil peramalan yang dibuat sangat tergantung pada
orang yang membuatnya, karena ditentukan berdasarkan pemikiran yang
27
bersifat intuisi judgment atau pendapat, dan pengetahuan serta pengalaman
dari penyusunnya.
2. Peramalan kuantitatif, yaitu peramalan yang didasarkan atas data
kuantitatif pada masa lalu. Hasil peramalan yang dibuat sangat tergantung
pada metode yang dipergunakan dalam peramalan tersebut.
Menurut Taylor III, 2005:5, terdapat dua macam metode dalam melakukan
peramalan, yaitu dengan metode Time Series dan Metode Kausal.
1. Metode Time Series
Metode ini membuat peramalan dengan menggunakan asumsi bahwa masa depan
adalah fungsi dari masa lalu. Tujuannya adalah untuk menentukan pola dalam
deret data historis dan menterjemahkan pola tersebut ke masa depan.
Menganalisis time series berarti membongkar data masa lalu menjadi komponenkomponen dan kemudian memproyeksikan ke masa atau periode yang akan
datang. Model ini sendiri memiliki tiga metode peramalan kuantitatif, yaitu:
a. Metode Rata-Rata Bergerak (Moving Avarage)
Metode ini digunakan dan bermanfaat apabila kita menggunakan asumsi
bahwa permintaan pasar lebih stabil sepanjang waktu. Metode ini dipakai
untuk kondisi dimana setiap data pada waktu yang berbeda mempunyai
bobot yang sama sehingga fluktuasi random data dapat diredam dengan
rata-ratanya. Apabila semua masa lalu dapat mewakili asumsi pola data
berlanjut terus di masa yang akan datang, maka dapat dipilih sejumlah n
data pada periode tertentu saja.
28
Rumus:
(Permintaan n periode terdahulu)
Rata-rata bergerak n periode =
n
dimana n adalah banyaknya periode dalam rata-rata bergerak.
b. Metode Eksponential Smooting
Metode ini adalah metode peramalan yang mudah dan efisiensi
penggunaannya bila dilakukan dengan computer. Meskipun merupakan
teknik moving average, metode ini mencangkup pemeliharaan data masa
lalu yang sedikit.
Rumus:
Ft = Ft-1 + (At-1 − Ft-1) α
Dimana:
Ft = Ramalan baru
Ft-1 = Ramalan sebelumnya
At-1 = Permintaan aktual periode sebelumnya
α = Konstanta penghalus
c. Metode Trend Projection
Metode ini digunakan dengan cara mencocokkan garis trend ke rangkaian
titik-titik data historis dan kemudian memproyeksikan garis itu ke dalam
ramalan jangka panjang menengah hingga jangka panjang. Beberapa
persamaan trend matematis bisa dikembangkan, tetapi saat ini kita kan
membahas trend linear.
29
Jika memutuskan untuk mengembangkan garis trend linear dengan
metode statistik yang tepat, maka kita dapat menggunakan metode kuadrat
kecil (Least Square Methode). Metode ini digambarkan dalam bentuk
perpotongan Y-nya (puncak dimana garis itu memotong sumbu Y dan
slope-nya (kelandaian).
Persamaan yang digunakan adalah:
Dimana:
Ŷ = Nilai variabel yang dihitung untuk diprediksi (disebut variabel tak
bebas)
= Perpotongan sumbu Y
= Kelandaian garis regresi (tingkat perubahan dalam bentuk Y
perubahan tertentu dalam x)
= Variabel waktu
Ahli statistik mengembangkan persamaan yang bisa digunakan untuk
memperoleh nilai a dan b untuk regresi.
Kelandaian b diperoleh dengan:
̄
̄
dan perpotongan y dapat dihitung dengan:
̄
30
Dimana:
= Kelandaian garis regresi
= Nilai variabel bebas
y = Nilai variabel terikat
= Rata-rat nilai x
ӯ = Rata-rata nilai y
2. Metode Kausal
Regresi linear, model kausal, bergabung menjadi model variabel atau hubungan
yang bisa mempengaruhi jumlah yang sedang diramal. Model ini mengasumsikan
bahwa faktor yang diramalkan mewujudkan hubungan sebab akibat dengan satu
atau lebih independent variabel. Tujuan dari model ini adalah menemukan bentuk
hubungan tersebut dan menggunakannya untuk meramalkan nilai mendatang dari
dependent variabel. Pendekatan ini lebih kuat dibandingkan metode seri waktu
yang hanya menggunakan nilai historis untuk variabel yang diramalkan.
Model matematika yang kita gunakan pada metode kuadrat terkecil dari proyeksi
trend bisa digunakan untuk melakukan analisis regresi linear.
Variabel-variabel tak bebas yang akan diramal tetap Ŷ, namun sekarang variabel
bebas x bukan lagi waktu.
Dimana:
Ŷ = Nilai variabel tak bebas
= Perpotongan sumbu Y
= Kelandaian garis
= Variabel bebas
31
F. Kelebihan Permintaan (Excess Demand)
Kelebihan permintaan adalah kondisi dimana dengan penetapan harga seharga P1
mengakibatkan kuantitas permintaan (Q2) lebih besar daripada kuantitas
penawaran (Q1) sehingga terjadi pengalokasian sumber ekonomi yang tidak
optimum karena kuantitas yang sebenarnya diminta pasar lebih besar dari yang
ditawarkan (Oktiana, 2011: 20)
.
S
P
Excess Supply
E
P0
P1
A
B
D
Excess Demand
Q
Q1
Q0
Q2
Gambar 3. Kelebihan Permintaan (Excess Demand)
Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa keseimbangan permintaan di titik E (P0, Q0),
kelebihan permintaan terjadi di sepanjang titik A sampai B, dimana penetapan
harga di (P1) mengakibatkan kuantitas permintaan (Q2) lebih besar dari penawaran
(Q1) sehingga terjadi pengalokasian sumber ekonomi yang tidak optimum karena
kuantitas yang sebenarnya diminta pasar lebih besar dari yang ditawarkan
(Oktiana, 2011: 21).
32
Kelebihan permintaan (Excess Demand) pada energi listrik adalah dimana PLN
melayani permohonan penyambungan baru dan tambah daya tanpa menambah
kapasitas pembangkitan yang mengakibatkan terjadinya penurunan beban,
mengganggu peralatan elektronik konsumen karena tegangan tidak stabil dan
frekuensi pemadaman meningkat. Pemadaman terjadi karena pemadaman yang
terencana oleh PT. PLN maupun gangguan sistem penyaluran.
G. Teori Barang Publik
Beberapa jenis barang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, akan tetapi tidak
seorang pun yang bersedia menghasilkannya atau mungkin dihasilkan oleh pihak
swasta akan tetapi dalam jumlah yang terbatas, misalnya pertahanan, peradilan,
dan sebagainya. Jenis barang tersebut dinamakan barang publik murni yang
mempunyai dua karkteristik utama, yaitu penggunaannya tidak bersaing
(Nonrivalry) dan tidak dapat diterapkan prinsip pengecualian (Non Excludability).
Oleh karena pihak swasta tidak mau menghasilkan barang publik murni, maka
pemerintahlah yang harus menghasilkannya agar kesejahteraan seluruh
masyarakat dapat ditingkatkan (Guritno, 1999: 42).
Menurun Bowen barang publik adalah barang dimana tidak terdapat pengecualian.
Ketika suatu barang telah tesedia maka tidak ada satu orang pun yang dapat
dikecualikan untuk mengkonsumsinya. Jadi, Bowen berpendapat bahwa barang
publik yang dikonsumsi oleh individu X sama dengan jumlah yang dikonsumsi
individu Y (Guritno, 1999 dalam Wahyu dan Johanna, 2013: 4).
33
Erick Lindahl mengemukakan analisis yang mirip dengan teori yang dikemukakan
oleh Bowen, hanya saja pembayaran masing-masing konsumen tidak dalam
bentuk harga absolut akan tetapi berupa persentase dari total biaya penyediaan
barang publik, dimana dianggap bahwa dalam perekonomian hanya ada dua orang
konsumen, yaitu individu C dan D. Analisis Lindahl didasarkan pada analisis
kurva indeferens dengan anggaran tetap yang terbatas (Fixed Budget Constrains)
(Guritno, 1999: 70).
Samuelson menyempurnakan teori pengeluaran pemerintah dengan sekaligus
menyertakan barang sektor swasta. Samuelson menyatakan bahwa adanya barang
publik yang mempunyai dua karakteristik (Non-Exclusionary dan Non-Rivalry)
tidaklah berarti bahwa perekonomian tidak dapat mencapai kondisi pareto optimal
atau tingkat kesejahteraan masyarakat yang optimal, dimana pareto optimal adalah
suatu kondisi perekonomian dimana perubahan yang terjadi menyebabkan paling
tidak salah satu orang akan menderita kerugian (Guritno, 1999: 74).
H. Pengertian Listrik
Aliran listrik menurut Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Republik
Indonesia Nomor 02/P/451/M/PE/1991 adalah suatu bentuk energi sekunder yang
dibangkitkan, ditransmisikan, dan didistribusikan untuk semua jenis keperluan
dan bukan yang digunakan untuk mengkomunikasi atau isyarat. Jaringan tenaga
listrik merupakan sistem penyaluran yang dioperasikan dengan tegangan rendah,
tegangan menengah, tegangan tinggi, atau tegangan ekstra tinggi. Aliran listrik
dan penggunaannya adalah untuk kepentingan umum yang didirikan oleh
pengusaha atau pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan. Pemegang izin usaha
34
ketenagalistrikan menjual kelebihan tenaga listriknya di atas kepentingan pribadi.
Peminta tenaga listrik adalah setiap orang atau badan usaha atau badan/lembaga
lainnya yang meminta sambungan energi listrik dari instalasi pengusaha (Oktiana,
2011: 23).
Tenaga listrik merupakan sarana produksi maupun sarana kehidupan sehari-hari
yang memegang peranan penting dalam upaya mencapai sasaran pembangunan.
Sebagai sarana produksi, tersedianya energi listrik dalam jumlah dan mutu
pelayanan yang baik serta harga yang terjangkau merupakan penggerak utama dan
sangat mendorong laju pembangunan di berbagai sektor lain. Tersedianya tenaga
listrik yang merata dan diperguanakan secara luas untuk keperluan sehari-hari
akan dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat (Adriyansya,
2011:14).
1. Asas Pembangunan Ketenagalistrikan
Menurut Arismunandar, 1993 dalam Oktiana, 2011: 24, ada empat asas
pembangunan ketenagalistrikan, yaitu:
a. Asas manfaat, yaitu bahwa pelaksanaan pembangunan ketenagalistrikan
harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat.
b. Asas adil dan merata, yaitu bahwa hasil-hasil pembangunan
ketenagalistrikan yang dicapai dalam pembangunan harus dinikmati secara
merata oleh seluruh rakyat.
35
c. Asas kepercayaan rakyat pada diri sendiri, yaitu bahwa segala usaha dan
kegiatan dalam pembangunan ketenagalistrikan harus mampu
membangkitkan kepercayaan dan kemampuan serta kekuatan diri sendiri.
d. Asas keseimbangan, yaitu pelaksanaan pembangunan kelistrikan harus
dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan sumber daya dan
kelestarian lingkungan hidup.
2. Kebijakan Pengembangan Ketenagalistrikan
Untuk melaksanakan strategi pembangunan energi, maka ditetapkan lima
kebijakan utama yaitu:
a. Melakukan penganekaragaman jenis energi yang digunakan oleh setiap
sektor pemakai.
b. Menciptakan iklim yang mendorong upaya penemuan cadangan tambahan
dan baru.
c. Melakukan upaya konservasi di sisi hulu dan sisi hilir untuk kepentingan
generasi mendatang.
d. Menerapkan ekonomi pasar dalam pemanfaatan energi.
e. Memasukkan pertimbangan mengenai dampak terhadap lingkungan hidup
pada setiap aspek pemanfaatan energi (Oktiana, 2011: 24).
Selain kebijakan utama, terdapat juga kebijakan pendukung, yaitu:
a. Kebijakan investasi;
b. Kebijakan insentif dan didinsentif;
c. Kebijakan standarisasi dan sertifikasi;
d. Kebijakan pengembangan infrastruktur;
36
e. Kebijakan peningkatan kualitas sumber daya manusia;
f. Kebijakan sistem informasi;
g. Kebijakan penelitian dan pengembangan;
h. Kebijakan kelembagaan;
i. Kebijakan pengaturan (Oktiana, 2011: 25).
Seluruh strategi pengembangan ketenagalistrikan ditujukan kepada pencapaian
tujuan pengembangan ketenagalistrikan dengan sasaran akhir pengembangan
ketenagalistrikan nasional dengan pelaksanaan kebijakan pengembangan
ketenagalistrikan secara efektif dan efisien (Atmoko, 1994 dalam Oktiana, 2011:
26).
I. Penelitian Terdahulu
1.
Penelitian terdahulu dilakukan oleh Oktiana (2011) mengenai “Analisis
Permintaan Energi Listrik Pada Rumah Tangga di Kota Bandar Lampung”.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dari tahun 2000-2009. Alat
analisis yang digunakan melalui pendekatan deskriptif kuantitatif, uji
hipotesis, dan uji asumsi klasik. Dari hasil linier berganda dan uji asumsi
klasik, disimpulkan bahwa jumlah pelanggan listrik golongan rumah tangga
tarif R1/Batas Daya 900 VA, tarif dasar listrik golongan rumah tangga tarif
R1/Batas Daya 900 VA, dan pendapatan perkapita memiliki pengaruh yang
positif terhadap permintaan energi listrik di Kota Bandar Lampung.
Permintaan energi listrik di Kota Bandar Lampung lebih besar dibandingkan
dengan wilayah lainnya, hal ini dapat dilihat dari pendapatan perkapitanya
yang lebih besar dari daerah lainnya yang ada di provinsi Lampung.
37
2.
Penelitian dilakukan oleh Bagio Mudakir (2007) dengan judul “Permintaan
Energi Listrik di Jawa Tengah”. Studi kasus dalam penelitian ini
menjelaskan faktor-faktor yang permintaan energi listrik di Jawa Tengah.
Data yang digunakan adalah data sekunder time series dari tahun 1994-2003
dan data cross section dari 10 Area Pelayan Jaringan (APJ) PT. PLN
(Persero) Distribusi Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta. Data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data PDRB, nilai tambah sektor industri,
penduduk dan data energi listrik yang terjual dalam Mwh.
Penelitian ini membandingkan dua model untuk menganalisis data panel yaitu
common model dan fixed effect model (FEM). Hasil dari pengujian tersebut
dapat menyimpulkan bahwa permintaan energi listrik dipengaruhi oleh
faktor-faktor, yaitu PDRB Perkapita, PDRB sektor industri, krisis ekonomi,
dan jumlah penduduk. Pesatnya permintaan energi listrik cenderung
dipengaruhi lebih besar oleh permintaan untuk tujuan akhir komsumtif
dibanding dengan permintaan untuk tujuan menghasilkan nilai tambah atau
aktivitas ekonomi.
3.
Penelitian terdahulu dilakukan oleh Wahyu Hiskia Surbakti dan Johanna
Maria Kodoatien (2013) dengan judul “Analisisi Permintaan Riil Energi
Listrik di Jawa Tengah dan DI. Yogyakarata”.
Penelitian ini mencoba menganalisis bagaimana peta konsumsi listrik per
sektor rumah tangga, bisnis, industri, sosial, dan pemerintah dan menganalisis
bagaimana pengaruh jumlah konsumen dan harga listrik (Rp/kWh) dalam
konsumsi listrik di Jawa Tengan dan DI. Yogyakarta. Penelitian ini
menggunakan total permintaan konsumsi energi listrik akhir (kWh) dalam
38
bentuk bulanan, mulai dari bulan januari-desember pada tahun 2007-2011
sebagai variabel dependen, sedangkan harga listrik (Rp/kWh) provinsi Jawa
Tengan dan DI. Yogyakarta dan jumlah konsumen yang terdaftar di PT. PLN
sebagai variabel independen. Data yang digunakan merupakan data sekunder
yang diperoleh dari PT. PLN Cabang Jatingaleh.
Variabel dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan trend analysis,
regresi berganda dan analisis deskriptif. Dari hasil penelitian dengan
menggunakan model regresi deskriptif dapat disimpulkan bahwa dari total
jumlah listrik yang terjual di Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta, sektor
terbesar yang mengkonsumsi listrik adalah sektor rumah tangga. Selanjutnya
adalah sektor industri, sektor bisnis, sektor pemerintahan, dan yang terakhir
sektor sosial. Variabel jumlah konsumen memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap jumlah listrik terjual di Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta.
Upaya untuk mengatasi masalah kelistrikan di regional Jawa Tengah dan DI.
Yogyakarta adalah perencanaan dan estimasi permintaan listrik di masa yang
akan datang untuk dapat mengurangi adanya pemadaman bergilir dan juga
listrik yang merupakan salah satu komponen penting dalam pembangunan
perekonomian diharapkan mampu mendongkrak perekonomian di regional
Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta melalui perbaikan dibidang energi listrik.
4.
Penelitian terdahulu dilakukan oleh Irawan Pramana (2010) mengenai
“Analisis Permintaan Listrik Rimah Tangga 900 VA di Kabupaten
Karanganyar”.
Studi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jangka panjang
dan jangka pendek permintaan energi listrik rumah tangga 900 VA di
39
Kabupaten Karanganyar. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
data time series periode 2001-2008 dan bulanan dengan model the Partial
Adjustment Method. Hasil dari regresi menggunakan the Partial Adjustment
Method menunjukkan bahwa dalam jangka pendek PDRB berpengaruh positif
dan tidak signifikan pada permintaan listrik rumah tangga 900VA. PDRB
tidak mempengaruhi secara langsung akan permintaan listrik rumah tangga
900VA, akan tetapi pertumbuhan PDRB akan berdampak pada pertumbuhan
daya beli masyarakat. Dalam jangka pendek UMK dan rasio elektrifikasi
berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap permintaan listrik rumah
tangga 900VA. Perkembangan jumlah rumah yang sudah dilistriki
seharusnya membawa dampak pada konsumsi kegiatan listrik rumah tangga
khususnya pada rumah tangga dengan daya 900VA. Sedangkan dalam
jangka pendek, tarif listrik berpengaruh positif dan signifikan pada
permintaan listrik rumah tangga 900VA.
5.
Penelitian dilakukan oleh Nella Katili (2008) dengan judul “Analisis
Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Sambungan Listrik Sektor
Industri di Jawa Timur”.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor pendukung yang
mempengaruhi permintaan sambungan listrik sektor industri. Data yang
digunakan adalah data sekunder selama 15 tahun dari tahun 1993-2007.
Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui
secara simultan dan parsial dari variabel bebas Jumlah Pelanggan, Tarif
Penjualan, PDRB, dan Jumlah Produksi Listrik terhadap variabel terikat
Konsumsi Tenaga Listrik.
40
Dari pengujian hipotesis diperoleh hasil bahwa secara simultan faktor atau
variabel Jumlah Pelanggan (X1), Tarif Penjualan (X2), Produk Domestik
Regional Bruto (X3) dan Jumlah Produksi Listrik berpengaruh signifikan
terhadap Jumlah Konsumsi Tenaga Listrik (Y). Tetapi setelah dilakukan uji
parsial, ternyata variabel Jumlah Pelanggan dan Jumlah Produksi Listrik saja
yang berpengaruh signifikan terhadap Konsumsi Tenaga Listrik. Sedangkan
variabel Tarif Penjualan dan Produk Domestik Regional Bruto tidak
signifikan terhadap Konsumsi Tenaga Listrik.
6.
Penelitian terdahulu dilakukan oleh Dedi Adriyansyah (2011) dengan judul “
Faktor-Faktor Apa Saja yang Mempengaruhi Konsumsi Listrik Bagi Rumah
Tangga Masyarakat Kelurahan Tembung Kecamatan Percut Sei Tuan
Kabupaten Deli Serdang”.
Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Pendapatan Rata-rata Total
Keluarga, Jumlah tanggungan Keluarga dan Luas bangunan rumah di
Kelurahan Tembung dengan menggunkan responden sebanyak 100 orang.
Metode penelitian yang digunakan dalam analisis ini adalah Ordinary Least
Square (OLS) dengan metode regresi Log linear.
Hasil dari penelitian ini disimpulkan bahwa pendapatan rata-rata total
keluarga dan luas bangunan memiliki pengaruh positif terhadap konsumsi
listrik bagi rumah tangga di Kelurahan Tembung. Sedangkan jumlah
tanggungan keluarga mempunyai pengaruh yang negatif terhadap konsumsi
listrik bagi rumah tangga di Kelurahan Tembung.
41
7.
Penelitian dilakukan oleh Madris (2013) dengan judul “Struktur Permintaan
Energi Listrik PT. PLN di Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat”.
Studi kasus dalam penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang
mempengaruhi permintaan energi listrik sektor sosial, rumah tangga, bisnis,
industry, dan pemerintahan terutama dalam kaitannya dengan tarif, jumlah
pelanggan, dan perkembangan PDRB. Data yang digunakan adalah data
sekunder time series dari tahun 1995-2009. Metode penelitian yang
digunakan dalam analisis ini adalah analisis regresi dengan menggunakan
model Cobb-Douglas.
Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa faktor tarif berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap permintaan KWh listrik PLN baik secara totalitas maupun
secara parsial, kecuali pada sektor rumah tangga dan industri. Jumlah
pelanggan berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan energi
listrik pada sektor rumah tangga dan pemerintah, tetapi pada sektor sosial,
bisnis, dan industri tidak signifikan. Pertumbuhan ekonomi berpengaruh
positif dan signifikan terhadap permintaan energi listrik.
Download