XML - Universitas Kanjuruhan Malang

advertisement
ABSTRAK
Zahroh, Mauliatuz. 2016. Pengaruh kepemimpinan Kepala Sekolah, Iklim Kerja, Kompetensi
Profesional Guru Terhadap Kinerja Guru Di MTS Negeri kepanjen. skripsi. Program Studi
Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kanjuruhan Malang.
Pembimbing I : Drs. Abdoel Bakar TS, M.Pd
Pembimbing II:Udik Yudiono, SE.,M.Pd
Kepemimpinan adalah segala tindakan yang dilakukan seseorang baik individu
maupun kelompok untuk melakukan koordinasi dan melakukan pengarahan kepada individu
atau kelompok lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, Iklim kerja
yang kondusif adalah iklim yang benar-benar sesuai dan mendukung kelancaran serta
kelangsungan proses pembelajaran yang dilakukan guru, Guru profesional adalah orang yang
memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu
melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan yang maksimal, Kinerja
guru adalah perilaku yang nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja sesuai
dengan peranannya.
Tujuan penelitian ini adalah: Adakah pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah
terhadap Kinerja Guru di MTs Negeri Kepanjen, Adakah pengaruh Iklim Kerja terhadap
Kinerja Guru di MTs Negeri Kepanjen, Adakah pengaruh Kompetensi Profesional Guru
Terhadap Kinerja guru di MTs Negeri Kepanjen, Adakah pengaruh Kepemimpinan Kepala
Sekolah, Iklim Kerja dan Kompetensi Profesional Guru Terhadap Kinerja guru di MTs
Negeri Kepanjen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian ekspost-factodengan menggunakan regresi linier berganda. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh guru di MTsNegeriKepanjen, yaitu sebanyak 36 guru.
Dari hasil uji t-hitung untuk X1 sebesar 2.836 dengan tingkat signifikan sebesar 0,008.
Karena tingkat signifikannya lebih kecildari 0,05, maka X1 berpengaruh terhadap variabel Y.
Pada hasil uji t-hitung untuk X2 sebesar -2.400 dengan tingkat signifikan sebesar 022.
Karena tingkat signifikannya kurang dari 0,05, maka X2 berpengaruh terhadap variabel Y.
Pada hasil uji t-hitung untuk variabel X3 sebesar -2.344 dengan tingkat signifikan sebesar
0,25. Karena tingkat signifikannya kurang dari 0,05, maka X3 berpengaruh dengan variabel
Y.
Kesimpulan penelitian ini adalah: Ada pengaruh yang signifikan Kepemimpinan
kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru di MTs Negeri Kepanjen, Ada pengaruh yang
signifikan Iklim Kerja terhadap Kinerja Guru di MTs Negeri Kepanjen, Ada pengaruh yang
signifikan Kompetensi Guru Profesional terhadap Kinerja Guru di MTs Negeri Kepanjen,
Ada pengaruh yang signifikan secara simultan tentang kepemimpinan kepala sekolah, Iklim
Kerja dan Kompetensi Guru Profesional terhadap Kinerja Guru di MTs Negeri Kepanjen
KataKunci: Kepemimpinan Kepala Sekolah, Iklim Kerja, Kompetensi Profesional Guru,
Kinerja Guru.
2
merupakan suatu wujud prilaku seseorang
atau organisasi dengan orientasi prestasi”.
Kinerja guru dapat dilihat dan diukur
berdasarkan spesifikasi kompetensi yang
harus dimiliki oleh guru. Kinerja seorang
guru dalam melaksanakan tugasnya
sebagai guru akan dirasakan optimal
apabila
guru
tersebut
memiliki
kemampuan dalam melaksanakan tugasnya
sebagai seorang guru.
MTs Negeri Kepanjen adalah
madrasah tsanawiyah negeri satu-satunya
yang ada di kecamatan Kepanjen.
Madrasah tsnawiyah negeri kepanjen
adalah salah satu madrasah yang diminati
oleh siswa-siswi di kabupaten khususnya
malang selatan. MTs Negeri Kepanjen
berada di JL. Raya Sukoraharjo 36
Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.
Madrasah dengan banyak prestasi menjadi
lirikan
semua
orang
tua
untuk
menyekolahkan anaknya di MTs Negeri
Kepanjen.
Ada saling keterkaitan antara
kepemimpinan yang dilakukan oleh kepala
sekolah, guru yang memiliki kompetensi
profesional dengan iklim kerja yang ada di
sekolah. Melihat fenomena di atas dan
mengingat
betapa
pentingnya
kepemimpinan kepala sekolah, iklim kerja
dan kompetensi profesional guru menuju
tercapainya tujuan sekolah untuk dapat
mengoptimalkan kinerja guru.
Berdasarkan latar belakang yang
telah dikemukakan, penelitian ini akan
melakukan kajian secara mendalam
tentang permasalahan yang difokuskan
pada judul Pengaruh Kepemimpinan
Kepala Sekolah, Iklim Kerja dan
Kompetensi Profesional Guru Terhadap
Kinerja guru di MTs Negeri . Berpijak
pada uraian latar belakang masalah di atas,
maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih
luas permasalahan, yaitu (1) Mengetahui
pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah
terhadap Kinerja Guru di MTs Negeri
Kepanjen? (2) Mengetahui pengaruh Iklim
Kerja terhadap Kinerja Guru di MTs
Negeri Kepanjen? (3) Mengetahui
pengaruh Kompetensi Profesional Guru
PENDAHULUAN
Menurut Danim (2008: 204)
mendefinisikan, “bahwa kepemimpinan
adalah segala tindakan yang dilakukan
seseorang baik individu maupun kelompok
untuk
melakukan
koordinasi
dan
melakukan pengarahan kepada individu
atau kelompok lain untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya”. Oleh
karena itu, ia harus memiliki jiwa
kepemimpinan untuk mengatur para guru
pegawai tata usaha dan pegawai sekolah
lainnya. Tercapai tidaknya tujuan sekolah
sepenuhnya bergantung pada kebijakan
yang diterapkan kepala sekolah terhadap
seluruh personal sekolah.
Supardi (2014:84) mempertegas
bahwa:Iklim kerja yang kondusif adalah
iklim yang benar-benar sesuai dan
mendukung kelancaran serta kelangsungan
proses pembelajaran yang dilakukan guru.
Untuk itu perlu dipahami beberapa hal
yang mempunyai peran penting dalam
penciptaan iklim kerja yang kondusif,
yaitu lingkungan fisik, lingkungan sosial,
dan lingkungan budaya, ketiga aspek
tersebut dalam proses pembelajaran
haruslah saling mendukung.
Lebih lanjut Mulyasa (2011:135)
menjelaskan, “kompetensi profesional
dalam Standar Nasional Pendidikan, yang
tercantum dalam Pasal 28 ayat (3) butir c
dikemukakan
bahwa
kompetensi
profesional
adalah
kemampuan
penguasaan materi pembelajaran secara
luas dan mendalam yang memungkinkan
membimbing peserta didik memenuhi
standar kompetensi yang ditetapkan dalam
Standar Nasional Pendidikan”. Sedangkan
Kusnandar (2007:55) mengemukakan,
“bahwa kompetensi guru merupakan
seperangkat penguasaan kemampuan yang
harus ada dalam diri guru agar dapat
mewujudkan kinerjanya secara tepat dan
efektif”.
Menurut Rivai (2009), “Kinerja guru
adalah perilaku yang nyata yang
ditampilkan setiap orang sebagai prestasi
kerja sesuai dengan peranannya. Kinerja
3
Terhadap Kinerja Guru di MTs Negeri
Kepanjen? (4) Mengetahui pengaruh
Kepemimpinan Kepala Sekolah, Iklim
Kerja dan Kompetensi Profesional Guru
Terhadap Kinerja guru di MTs Negeri
Kepanjen?
kerja disekolah/madrasah terjadi: karena
disebabkan terdapat hubungan yang baik
diantara kepala sekolah, guru, dan diantara
guru dan peserta didik (Supardi, 2014:121)
Salah satu aspek penting mendukung
keberhasilan proses pembelajaran guru
adalah iklim kerja. Iklim kerja yang
kondusif adalah iklim yang benar-benar
sesuai dan mendukung kelancaran serta
kelangsungan proses pembelajaran yang
dilakukan guru. Untuk itu perlu dipahami
beberapa hal yang mempunyai peran
penting dalam penciptaan iklim kerja yang
kondusif,
yaitu
lingkungan
fisik,
lingkungan sosial, dan lingkungan budaya,
ketiga aspek tersebut dalam proses
pembelajaran haruslah saling mendukung.
Kompetensi Profesional Guru
PEMBAHASAN
Kepemimpinan Kepala Sekolah
Menurut Danim (2008: 204)
mendefinisikan, “kepemimpinan adalah
segala tindakan yang dilakukan seseorang
baik individu maupun kelompok untuk
melakukan koordinasi dan melakukan
pengarahan
kepada
individu
atau
kelompok lain untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkansebelumnya”.Sedangkan
menurutKartono(2013:
62)
mengungkapkan, “kepemimpinan adalah
“kegiatan mempengaruhi orang-orang agar
orang yang dipimpinnya mau bekerja sama
untuk mencapai tujuan yang diinginkan”.
Menurut Mulyasa (2004: 37-38),
“kompetensi merupakan perpaduan dari
pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap
yang direfleksikan dalam kebiasaan
berpikir dan bertindak. Pada sistem
pengajaran, kompetensi digunakan untuk
mendeskripsikan kemampuan profesional
yaitu kemampuan untuk menunjukkan
pengetahuan dan konseptualisasi pada
tingkat yang lebih tinggi”. Menurut
Undang-Undang No. 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen, kompetensi
adalah
seperangkat
pengetahuan,
ketrampilan, dan perilaku yang harus
dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru
atau dosen dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan.
Menurut Mariani (2009: 216), “bahwa
kompetensi guru adalah salah satu faktor
yang mempengaruhi tercapainya tujuan
pembelajaran dan pendidikan di sekolah,
namun kompetensi guru tidak berdiri
sendiri, tetapi dipengaruhi oleh faktor latar
belakang
pendidikan,
pengalaman
mengajar, dan lamanya mengajar”.
Kompetensi guru dapat dinilai penting
sebagai alat seleksi dalam penerimaan
calon guru, juga dapat dijadikan sebagai
pedoman dalam rangka pembinaan dan
pengembangan tenaga guru. Di samping
itu, juga penting hubungan dengan
Selanjutnya
menurut(Wahyudi,2009:120)mengungkap
kan, “kepemimpinan dapat diartikan
sebagai kemampuan seseorang dalam
menggerakkan, mengarahkan, sekaligus
mempengaruhi pola pikir, cara kerja setiap
anggota agar bersikap mandiri dalam
bekerja untuk kepentingan percepatan
pencapaian
tujuan
yang
telah
ditetapkan”.Berdasarkan
definisi
diatasdapatdisimpulkanbahwa
kepemimpinan merupakan kemampuan
seseorang dalam mempengaruhi orang
lain, baik individu atau kelompok. Serta
kemampuan untuk mengarahkan tingkah
laku individu atau kelompok untuk
memiliki kemampuan atau keahlian khusus
dalam bidang yang diinginkan oleh
kelompoknya.
Pengertian Iklim Kerja
Iklim
kerja
di
sekolah
menggambarkan keadaan warga sekolah
tersebut dalam keadaan riang dan mesra
ataupun kepedulian antara satu sama
lainya. Hubungan yang mesra pada iklim
4
kegiatan belajar mengajar dan hasil belajar
siswa.
pendidikan
dasar,
dan
pendidikan
menengah”.
Dalam
Undang-Undang
No.14 Tahun 2006 dijelaskan bahwa:
“Guru mempunyai kedudukan sebagai
tenaga
profesional
pada
jenjang
pendidikan usia dini, pendidikan dasar,
dan pendidikan menengah, pada jalur
pendidikan formal yang diangkat sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
(Pasal 2 UURI No.14: 2005).
Kinerja guru dalam pembelajaran
menjadi
bagian
terpenting
dalam
mendukung terciptanya proses pendidikan
secara efektif terutama dalam membangun
sikap di siplin dan mutu hasil belajar siswa
(Supardi, 2014: 13). Dengan demikian,
guru sangat menetukan mutu pendidikan,
berhasil tidaknya proses pembelajaran,
tercapai tidaknya tujuan pendidikan dan
pembelajaran, terorganisasikannya saran
prasarana, peserta didik, media, alat dan
sumber belajar. Kinerja guru yang baik
dapat menciptakan efektivitas dan
efesiensi pembelajaran serta dapat
membentuk di siplin peserta didik,
madrasah dan guru sendiri.
Kinerja
guru
tidak
hanya
ditunjukkan oleh hasil kerja, akan tetapi
juga ditunjukkan oleh perilaku dalam
bekerja. Lembaga Administrasi Negara
menyebut kinerja sebagai: “gambaran
tentang tingkat pencapian pelaksanaan
suatu kegiatan dalam mewujudkan
sasaran”(LAN RI,1993:3). Kriteria kinerja
guru ini diterjemahkan kepada ketentuan
yang berlaku bagi PNS. Di dalam
himpunan peraturan perundang-undangan
tentang kepegawaian tahun 1982 yang
diterbitkan oleh Depdikbud, kriteria
kinerja guru PNS terdiri atas kesetiaan,
prestasi kerja, tanggung jawab, ketaatan,
kejujuran dan kerjasama.
Untuk menilai kinerja guru selain
perencanaan, proses pembelajaran dan
kemampuan membina hubungan dilakukan
terhadap
kemampuan
guru
dalam
melakukan penilaian. Penilaian yang
dilakukan guru pada saat awal, proses
maupun pada akhir pembelajaran. Pada
awal pembelajaran penilaian dapat
Kompetensi Profesional
Pengertian profesionalisme, itu
tersirat
adanya
suatu-keharusan
kompetensi agar profesi itu berfungsi
dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini
pekerjaan profesional berbeda dengan
pekerjaan lain karena mempunyai fungsi
sosial,
yakni
pengabdian
kepada
masyarakat. Kompetensi sangat diperlukan
guna menjalankan tugas profesi.
Mulyasa
(2011)
berpendapat,
“kompetensi
profesionalisme
guru
berhubungan dengan kompetensi yang
menuntut guru untuk ahli di bidang
pendidikan sebagai suatu pondasi yang
dalam melaksanakan profesinya sebagai
seorang guru profesional”. Karena dalam
menjalankan profesi keguruan, terdapat
kemampuan dasar dalam pengetahuan
tentang belajar dan tingkah laku manusia,
bidang studi yang dibinanya, sikap yang
tepat tentang lingkungan belajar mengajar
dan mempunyai keterampilan dalam teknik
mengajar.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut
dapat disimpulkan bahwa kompetensi
profesional guru dapat diartikan sebagai
kemampuan yang harus dimiliki sebagai
dasar
dalam
melaksanakan
tugas
profesional
yang
bersumber
dari
pendidikan
dan
pengalaman
yang
diperoleh. Kompetensi profesional tersebut
berupa kemampuan dalam memahami
landasan
kependidikan,
kemampuan
merencanakan
proses
pembelajaran,
kemampuan
melaksanakan
proses
pembelajaran,
dan
kemampuan
mengevaluasi proses pembelajaran.
Kinerja Guru
Menurut Undang-Undang Republik
Indonesia No.14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen: ”guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai dan mengevaluasi peserta
didik pada pendidikan usia dini,
5
dilakukan melalui pretes dan apersepsi.
Penilaian pada proses dapat dilakukan
melalui observasi, tanya jawab dan
diskusi. Dan penilaian pada akhir kegiatan
proses pembelajaran dapat dilakukan
melalui pos tes, pemberian tugas, dan
sebagainya. Penilaian yang dilakukan
meliputi hasil belajar dan prestasi belajar.
Kinerja guru juga dapat ditunjukkan
dari
seberapa
besar
kompetensikompetensi yang di persyaratkan dipenuhi,
Kompetensi
tersebut
meliputi:
“kompetensi
pedagogik,
kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial dan
kompetensi profesional” (Undang-Undang
No. 14 2005 tentang Guru dan Dosen).
HipotesisPenelitian
Berdasarkan kajian tersebut di atas, maka
hipotesis yang di ajukan pada penelitian ini
adalah sebagai berikut:
Ha1: Di duga ada pengaruh yang signifikan
Kepemimpinan
Kepala
Sekolah
terhadap Kinerja Guru di MTs Negeri
Kepanjen.
ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh
antara kepemimpinan kepala sekolah,
iklim kerja, kompetensi profesional guru
terhadap
kinerja
guru.
Melihat
permasalahan yang ada dalam penelitian
ini, maka metode yang digunakan adalah
metode regresi linier berganda. Teknik
pengumpulan data menggunakan angket
dan dokumentasi.
Adapun variabel yang diteliti
dalam penelitian ini adalah kepemimpinan
kepala sekolah, iklim kerja, kompetensi
profesional guru terhadap kinerja guru.
Dengan subyek penelitian semua guru
yang ada di MTs Negeri Kepanjen sebnyak
36 orang.
Menurut Arikunto (2010: 173)
populasi adalah keseluruhan objek
penelitian. Populasi dalam penelitian ini
sebanyak 36 orang.“Sampel adalah bagian
dari jumlah dan karakteristik yang dimilki
oleh populasi tersebut” (Sugiyono, 2011:
81).Oleh
karena
penelitian
ini
menggunakan semua populasi sebagai
sampel maka, penelitian ini merupakan
penelitian populasi dan penelitian ini
memakai teknik pengambilan sampel
jenuh. Sampling jenuh adalah suatu teknik
penentuan sampel jika semua anggota
populasi digunakan sebagai sampel.
Menurut Arikunto (2010: 192)
Metode angket atau kuesioner adalah
pengumpulan data yang menggunakan
pertanyaan-pertanyaan yang dijawab dan
ditulis oleh responden.
.Sebelum angket digunakan untuk
mengumpulkan data dari subjek penelitian,
terlebih dahulu dilakukan
uji coba
instrumen yang dimaksudkan untuk
memperoleh alat ukur yang valid dan
reliabel.
Agar penelitian ini mencapai hasil
yang diharapkan, penelitian membuat
jabaran variabel penelitian sebagai berikut:
1. Kinerja guru dengan Indikator: Memahami
dan
mengidentifikasi
tujuan
pembelajaran, Mengenal karakteristik
utama pesertadidik, Membuat tujuan
pembelajaran, Mengembangkan media
pembelajaran, Mengembangkan metode
Ha2: Diduga ada pengaruh yang signifikan
Iklim Kerja terhadap Kinerja Guru di
MTs Negeri Kepanjen
Ha3: Diduga ada pengaruh yang signifikan
Kompetensi
Guru
Profesional
terhadap Kinerja Guru di MTs Negeri
Kepanjen
Ha4: Diduga ada pengaruh yang signifikan
secara
simultan
tentang
kepemimpinan kepala sekolah, Iklim
Kerja
dan
Kompetensi
Guru
Profesional terhadap Kinerja Guru di
MTs Negeri Kepanjen
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini
menggunakan
pendekatan kuantitatif, yang memiliki
sejumlah ciri-ciri yang membedakannya
dengan penelitian jenis lainnya.Jenis
penelitian ini termasuk dalam penelitian
ex-post-facto, karena peneliti berhubungan
dengan variabel yang telah terjadi dan
mereka tidak perlu memberikan perlakuan
terhadap variabel yang diteliti. Penelitian
6
dan strategi pembelajaran, Kegiatan
Pendahuluan, Kegiatan Inti, Kegiatan
Penutup, Melakukan Penilaian sesuai
dengan RPP, Mampu menggunakan
bentuk
dan
jenis
penilaian,
Melaksanakan
tes,
pengamatan,
penugasan, dan bentuk lain yang
diperlukan, Mengolah Hasil penilaian
untuk mengetahui kemajuan hasil
belajar,
Mengembalikan
hasil
pemeriksaan pekerjaan peserta didik,
Memanfaatkan hasil penilain untuk
perbaikan pembelajaran, Melaporkan
hasil penilaian matapelajaran pada
setiap akhir semester.
2. Kepemimpinan kepala sekolah dengan
indikator: Menunjukkan komitmen
tinggi
dan
fokus
terhadap
pengembangan kurikulum dan kegiatan
belajar mengajar di sekolahnya,
Memfasiltasi
dan
memberikan
kesempatan yang luas kepada para guru
untuk
melaksanakan
kegiatan
pengembangan
profesi,
Kepala
sekolahdapat mengalokasikan anggaran
yang memadai bagi upaya peningkatan
kompetensi guru, Kepala sekolah perlu
melaksanakan
kegiatan
supervise,
Kepala sekolah menggunakan dua gaya
kepemimpinan yaitu kepemimpinan
yang berorientasi pada tugas dan
kepemimpinan yang berorientasi pada
manusia
3. Iklim kerja dengan indikator: Semangat
dalam mengajar, Pertimbangan dalam
menggunakan
metode
mengajar,
Motivasi dari sesama guru, Aspek
semangat guru dan pegawai lainya
rendah, Aspek pertimbangan dan
motivasi yang diberikan oleh pimpinan
dan teman sejawat.
4. Kompetensi profesional guru dengan
indikator: Menguasai materi, struktur,
konsep, dan pola pikir keilmuan yang
mendukung,
Menguasai
standar
kompetensi dan kompetensi dasar,
Mengembangkan materi secara kreatif,
Mengembangkan
keprofesionalan
secara
reflektif,
Memanfaatkan
teknologi informasi mengembangkan
diri.
Sebelum angket digunakan untuk
mengumpulkan data dari subjek penelitian,
terlebih dahulu dilakukan
uji coba
instrumen yang dimaksudkan untuk
memperoleh alat ukur yang valid dan
reliabel. Uji coba instrumen dilakukan
dengan mengalakukan uji validitas dan
reliabilitas.
Dari uji coba validitas yang sudah
dilakukan ditemukan hasil bahwa 74 butir
soal valid, karena nilai signifikasi dari
setiap soal <0,05. Sedangkan untuk uji
reliabilitas menunjukkan bahwa seluruh
soal sangat reliabel karena nilai >0.08.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel. 4.2 Distribusi Jawaban Rata-rata
Responden
Keterangan
Rata-Rata
SSS SS
S
TS
STS
Kepemimpinan 2.41 3.33 5.56 59.07 29.63
Kepala
Sekolah
Iklim Kerja
55.56 25.69 13.43 4.40 0.93
Kompetensi
69.44 16.44 7.41 5.32 1.39
Profesional
Guru
Kinerja Guru
36.67 21.19 11.67 22.14 8.33
Berdasarkan tabel 4.2 analisis data
bahwa 59,07% guru menjawab tidak
setuju. Guru menjawab tidak setuju artinya
kepemimpinan kepala sekolah kurang
berpengaruh terhadap kinerja guru. Hal ini
berarti bahwa indikator kepemimpinan
kepala sekolah yaitu Menunjukkan
komitmen tinggi dan fokus terhadap
pengembangan kurikulum dan kegiatan
belajar
mengajar
di
sekolahnya,
Memfasiltasi dan memberikan kesempatan
yang luas kepada para guru untuk
melaksanakan kegiatan pengembangan
profesi,
Kepala
sekolah
dapat
mengalokasikan anggaran yang memadai
bagi upaya peningkatan kompetensi guru,
7
Kepala sekolah perlu melaksanakan
kegiatan supervise, Kepala sekolah
menggunakan dua gaya kepemimpinan
yaitu kepemimpinan yang berorientasi
pada tugas dan kepemimpinan yang
berorientasi pada manusia memiliki
pengaruh yang rendah terhadap kinerja
guru.
Berdasarkan tabel 4.2 analisis data
bahwa 55.56% guru menjawab sangat
setuju sekali artinya iklim kerja sangat
mempengaruhi kinerja guru. Hal ini
menunjukkan bahwa indikator iklim kerja
yaitu memiliki berikut Semangat dalam
mengajar,
Pertimbangan
dalam
menggunakan metode mengajar, motivasi
dari sesama guru, Aspek semangat guru
dan pegawai lainya rendah, aspek
pertimbangan dan motivasi yang diberikan
oleh pimpinan dan teman sejawat
pengaruh yang sangat besar terhadap
kinerja guru.
Berdasarkan analisis data bahwa
69.44% guru menjawab sangat setuju
sekali artinya kompetensi profesional guru
sangat mempengaruhi kinerja guru. Hal ini
menunjukkan bahwa indikator kompetensi
profesional guru yaitu cara pengambilan
keputusan dengan cara musyawarah dan
melibatkan bawahan, pembagian tugas
kepada
bawahan
sesuai
dengan
kemampuan,
kedisiplinan
dalam
menjalankan tugas
dan fungsinya,
komunikasi bersifat terbuka dan dua arah
memiliki pengaruh yang sangat besar
terhadap kinerja guru.
Berdasarkan analisis data diperoleh
kesimpulan bahwa dari 36 guru yang
menjawab sangat setuju sekali 36,67%.
Guru memiliki kinerja yang sangat baik.
Hal ini karena banyak guru yang dinilai
baik dalam menjalankan tugasnya oleh
kepala sekolah MTs Negeri Kepanjen.
Penggunaan analisis Regresi Linear
Berganda
sebagai
model
analisis
memerlukan dipenuhinya uji asumsi
(asumsi klasik) yang meliputi: Normalitas,
Multikoliniaritas, Heteroskedastisitas, dan
Autokorelasi.
Uji Normalitas
Gambar 4.2 Uji Normalitas
Berdasarkan gambar di atas
dapat disimpulkan bahwa sebaran titiktitik residual berada di sekitar garis
normal. Hal tersebut terjadi karena titiktitik residual tersebut berasal dari data
dengan distribusi normal. Dengan
demikian, disimpulkan bahwa regresi
telah memenuhi persyaratan normalitas.
Uji Multikolinearitas
Tabel
4.2Interprestasi
Uji
Multikolonieritas
Collinearity
Statistics
No
Variabel
Keputusan
Tol
.
era VIF
nce
Kepemimpi .94
Tidak
1.061 terjadimultikolin
1
nan kepala 3
sekolah (X1
ieritas
iklim kerja .98
Tidak
terjadi
1.921
2
(X2)
multikolinieritas
0
3
Kompetensi .92
Tidak
terjadi
1.077 multikolinieritas
profesional 8
guru (X3)
Sumber: data diolah peneliti (2015)
Berdasarkan Tabel 4.2 di atas, hasil uji
multikolinieritas menunjukkan tiga variabel
bebas tidak terjadi multikolinieritas yang
ditunjukkan dengan nilai VIF pada kolom
collinearity statistic, untuk variabel
kepemimpinan kepala sekolah nilai VIF
sebesar 1,061, iklim kerja nilai VIF sebesar
1,921, dan kompetensi profesional guru nilai
VIF sebesar 1,077, dikarenakan lebih kecil
dari 5, maka ketiga variabel tersebut
dinyatakan
tidak
adanya
gejala
multikolinieritas dalam model regresi.
8
Uji Heteroskedastisitas
Unstandardized
Coefficients
Model
1
Gambar 4.3 Uji Heteroskedastisitas
Berdasarkan grafik scatterplot di
atas dapat dilihat diagram pencar residual
tidak
membentuk
pola
tertentu.
Sedangkan suatu regresi dikatakan
terdeteksi heteroskedastisitas-nya apabila
diagram pencar residual membentuk pola
tertentu. Kesimpulannya, regresi terbebas
dari kasus heteroskedastisitas dan
memenuhi persyaratan asumsi klasik
tentang heteroskedastisitas.
Uji Autokorelasi
Tabel 4.3 (Autokorelasi)
Change Statistics
R
Square F
Sig. F
Chang Chan
Chang Durbine
ge
df1 df2 e
Watson
.373
6.333 3
32 .002
1.941
Berdasarkan data di atas, terlihat
bahwa nilai Durbin-Watson adalah 1.941.
Sedangkan nilai signifikan 0,002 yang
berarti <0.05. Dengan demikian dapat
disimpulkan tidak terjadi autokorelasi, atau
model regresi memenuhi persyaratan
asumsi klasik tentang autokorelasi.
Tabel 4.5 Hasil Analisis Regresi
Unstandardized
Coefficients
Model
1
B
(Constant)
299.131 67.78
.817
Iklim Kerja
-2.276
.948
Kompetensi
Profesional
Guru
-2.293
.978
(Constant)
Std. Error
299.131 67.78
Kepemimpin 2.318
an
KepalaSekola
h
.817
Iklim Kerja
.948
-2.276
Kompetensi -2.293
.978
Profesional
Guru
a.
Dependent
Variable:
KINERJA GURU
Sumber: hasil perhitungan penelitian
Berdasarkan hasil perhitungan
dapat diketahui nilai: a =299.131, b1
=2.318, b2 = -2.276,b3 = -2.293 maka
dapat disusun persamaan regresi linear
berganda sebagai berikut:
Y=a+b1X1+b2X2+ b3X3+e
Y = 299,1+2,318(X1)+(-2,28)(X2)+(2,30)(X3)
Persamaan tersebut dapat diartikan:
a. Konstanta sebesar 299,1 memiliki arti
jika variabel X1, X2 dan X3 atau jika
variabel X1, X2 dan X3 bernilai nol,
maka nilai variabel dependen (Y) akan
sebesar 299,1
b. Nilai koefisien regresi variabel X1
(kepemimpinan
kepala
sekolah)
sebesar -2,318, artinya jika variabel
X1ditingkatkan 1 akan menyebabkan
peningkatan kinerja guru (Y) sebesar
2,318.
c. Nilai koefisien regresi variabel X2
(iklim kerja)sebesar -2,28, artinya jika
variabel X2ditingkatkan 1 akan
menyebabkan penurunan kinerja guru
(Y) sebesar -2,28.
d. Nilai koefisien regresi variabel X3
(kompetensi profesional guru) sebesar
-2,30
artinya
jika
variabel
X3ditingkatkan 1 akan menyebabkan
penurunan
kinerja
guru
(Y)
sebesar2,30.
Setelah melihat hasil analisis
tersebut maka dapat diketahui variabel
Std. Error
Kepemimpin 2.318
an
KepalaSekola
h
B
9
bebas (independen) berpengaruh dengan
variabel terikat (dependen). Pengaruh
variabel bebas dapat dilihat berdasarkan
ketepatannya
(nilai
yang
paling
signifikan) dari masing-masing variabel
bebas, jadi variabel kepemimpinan kepala
sekolah (X1) memiliki pengaruh yang
besar dengan kinerja guru (Y), karena
nilai X1 koefisien determinasinya lebih
besar daripada X2(iklim kerja) dan
X3(kompetensi profesional guru) yaitu
(2.318>-2,276) dan (2.318>-2,293).
Pengujian Hipotesis
Uji t
Tabel 4.6 Hasil uji t (uji signifikan
parsial)
tVariabel
Sig Keteranga
hitun
n
g
Constant
4.41
3
00
0
Kepemimpin
an
Kepala
Sekolah (X1)
2.83
6
00
8
Signifikan
Iklim
kerja(X2)
2.40
0
02
2
Signifikan
Kompetensi
Profesional
Guru(X3)
2.34
4
02
5
Signifikan
kepemimpinan kepala sekolah terhadap
kinerja guru di MTs Negeri Kepanjen.
Hipotesis
penelitian
untuk
menguji hipotesis kedua (H2) adalah
sebagai berikut:
Pengambilan keputusan untuk
pengujian hipotesis yang diajukan adalah:
berdasarkan tabel 4.6 di atas nilai t-hitung
untuk variabel X2 (iklim kerja) sebesar 2.400 dengan tingkat signifikan sebesar
022. Karena tingkat signifikannya kurang
dari 0,05, maka variabel X2 (iklim kerja)
berpengaruh terhadap variabel Y (kinerja
guru). Sehingga H2 diterima dan Ho2
ditolak yaitu, terdapat pengaruh iklim kerja
terhadap kinerja guru di MTs Negeri
Kepanjen.
Hipotesis
penelitian
untuk
menguji hipotesis ketiga (H3) adalah
sebagai berikut:
Pengambilan keputusan untuk
pengujian hipotesis yang diajukan adalah:
berdasarkan tabel 4.6 di atas nilai t-hitung
untuk variabel X3 (kompetensi profesional
guru) sebesar -2.344 dengan tingkat
signifikan sebesar 0,25. Karena tingkat
signifikannya kurang dari 0,05, maka
variabel X3 (kompetensi profesional
guru)berpengaruh dengan variabel Y
(kinerja guru). Sehingga H3 diterima dan
Ho3 ditolak yaitu, terdapat pengaruh
kompetensi profesional guru terhadap
kinerja guru di MTs Negeri Kepanjen
Uji F
Tabel 4.7 Hasil Tes ANOVA Uji F
ANOVAb
Sum
of
Mean
Model
Squares
Df Square
F
Sig.
1
Regres 29894.476 3 9964.825 6.33 .002
a
sion
3
Residu 50354.524 32 1573.579
al
Total
80249.000 35
Sumber: hasil perhitungan penelitian
Hipotesis penelitian untuk menguji
hipotesis kesatu (H1) adalah sebagai
berikut:
Pengambilan keputusan untuk
pengujian hipotesis yang diajukan adalah:
berdasarkan Tabel 4.6 di atas nilai t-hitung
untuk variabel X1 (kepemimpinan kepala
sekolah) sebesar 2.836 dengan tingkat
signifikan sebesar 0,008. Karena tingkat
signifikannya lebih kecildari 0,05, maka
variabel X1 (kepemimpinan kepala
sekolah)berpengaruh terhadap variabel Y
(kinerja guru). Sehingga H1 diterima dan
Ho1 ditolak yaitu, terdapat pengaruh
a. Predictors: (Constant), KOMPETENSI PROFESIONAL GURU
(X3), IKLIM KERJA (X2), KEPEMIMPINAN KEPALA
SEKOLAH (X1)
b. Dependent Variable: KINERJA GURU (Y)
Sumber: hasil perhitungan penelitian
10
Hipotesis penelitian untuk menguji
hipotesis keempat (H4) adalah sebagai
berikut:
Dasar pengambilan keputusan
untuk pengujian hipotesis yang diajukan
adalah sebagai berikut:hasil tes anova
diperoleh nilai F-hitung sebesar 6.333
dengan tingkat signifikan .002 karena
tingkat signifikan lebih kecil dari 0,05,
maka hasil penelitian ini menolak hipotesis
penelitian Ho4 dan menerima hipotesis
penelitian H4 yaitu: terdapat pengaruh
kepemimpinan kepala sekolah, iklim kerja
dan kompetensi profesional guru terhadap
kinerja guru di MTs Negeri Kepanjen.
kepemimpinan
kepala
sekolah
berpengaruh terhadap kinerja guru.
Menurut (Wahyudi, 2009: 120)
mengungkapkan, “kepemimpinan dapat
diartikan sebagai kemampuan seseorang
dalam
menggerakkan,
mengarahkan,
sekaligus mempengaruhi pola pikir, cara
kerja setiap anggota agar bersikap mandiri
dalam
bekerja
untuk
kepentingan
percepatan pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan”.
Faktor
internal
yang
mempengaruhi kinerja guru yaitu motivasi
kerja. Seorang guru diharapkan memiliki
semangat kerja dan motivasi yang tinggi,
untuk mewujudkan tujuan pendidikan
yang ditetapkan.
Pengaruh
Kepemimpinan
Kepala
Sekolah Terhadap Kinerja Guru
Kepemimpinan Kepala Sekolah
sangat mempengaruhi kondisi kerja.
Kebijakan, pengaruh sosial dengan para
guru serta para murid dan juga
tindakannya dalam membuat berbagai
kebijakan, kondisi tersebut memberikan
dampak terhadap kinerja guru. Dengan
kata lain, apabila kepemimpinan kepala
sekolah rendah, kepala sekolah tidak dapat
melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya dengan maksimal, sehingga
monitoring dan motivasi untuk meningkat
kinerja guru kurang maksimal, begitu juga
sebaliknya.
Hasil
analisis
statistik
menunjukkan bahwa ada pengaruh
kepemimpinan kepala sekolah terhadap
kinerja guru di MTs Negeri Kepanjen. Hal
ini dibuktikan dari hasil uji t didapatkan
statistik uji t sebesar 2.836 dengan tingkat
signifikan sebesar 0.008. karena tingkat
signifikannya lebih dari 0.05, maka
variabel X1 (Kepemimpinan Kepala
Sekolah) berpengaruh terhadap variabel Y
(Kinerja Guru).
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Hasanah
(2005) dengan judul “Pengaruh Perilaku
Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap
Kinerja Guru di SLTPN Kota Bandung”.
Dari hasil analisis regresi liner berganda
menunjukkan gaya kepemimpinan kepala
sekolah memberikan pengaruh positif yang
sangat besar terhadap kinerja guru, peran
kepala sekolah sebagai pendidik meberi
pengaruh positif dan besar terhadap kinerja
guru, peran kepala sekolah sebagai
manajer memberi pengaruh positif dan
sangat besar terhadap kinerja guru, peran
kepala sekolah administrator memberi
pengaruh positif dan sangat besar terhadap
kinerja guru. Penelitian yang dilakukan
oleh peneliti mendapatkan hasil yang sama
dengan
peneliti
terdahulu
yaitu
Pengaruh Iklim
Kinerja guru
kerja
Terhadap
Berdasarkan hasil analisis uji t,
diperoleh bahwa terdapat pengaruh iklim
kerjaterhadap kinerja guru MTs Negeri
Kepanjen. Hal ini dibuktikan dari hasil
analisis uji t didapatkan statistik uji t
sebesar -2.400 dengan tingkat signifikan
sebesar 0.008. karena tingkat signifikannya
lebih kecil dari 0.05, maka variabel X2
(Iklim Kerja) berpengaruh terhadap
variabel Y (Kinerja Guru).
Hasil penelitian ini sejalan yang
dilakukan Noordianti (2012) dengan judul
“Pengaruh Prilaku Kepemimpinan Kepala
Sekolah, Iklim Kerja dan Motivasi Kerja
Terhadap Kinerja Guru”. Program Pasca
11
Sarjana
Universitas
Muhammadiyah
Surakarta. Hasil Analisis Menunjukkan
Bahwa, Perilaku kepemimpinan kepala
sekolah, iklim kerja dan motivasi kerja
bersama-sama berpengaruh signifikan
terhadap Kinerja Guru di MTs Negeri
Tinawas Nogosari Boyolali. Penelitian
yang dilakukan peneliti mendapatkan hasil
yang sama dengan penelitian terdahulu
yaitu iklim kerja berpengaruh terhadap
kinerja guru
Kepemimpinan Kepala Sekolah dan
Profesionalisme Guru terhadap Kinerja
Guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan
Paguyangan Kabupaten Brebes” Program
Pasca
Sarjana
Universitas
Negeri
Semarang.Hasil analisis regresi berganda
menunjukkan adanya pengaruh bersamasama secara positif dan signifikan
kepemimpinan kepala sekolah dan
profesionalisme guru terhadap kinerja guru
SD Negeri Kecamatan Paguyangan.
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti
mendapatkan hasil yang sama dengan
peneliti yang terdahulu yaitu kompetensi
profesional guru terhadap kinerja guru.
Kompetensi profesional guru dapat
diartikan sebagai kemampuan yang harus
dimiliki
sebagai
dasar
dalam
melaksanakan tugas profesional yang
bersumber
dari
pendidikan
dan
pengalaman yang diperoleh. Kompetensi
profesional tersebut berupa kemampuan
dalam memahami landasan kependidikan,
kemampuan
merencanakan
proses
pembelajaran, kemampuan melaksanakan
proses pembelajaran, dan kemampuan
mengevaluasi proses pembelajaran.
Salah satu aspek penting mendukung
keberhasilan proses pembelajaran guru
adalah iklim kerja. Iklim kerja yang
kondusif adalah iklim yang benar-benar
sesuai dan mendukung kelancaran serta
kelangsungan proses pembelajaran yang
dilakukan guru. Untuk itu perlu dipahami
beberapa hal yang mempunyai peran
penting dalam penciptaan iklim kerja yang
kondusif,
yaitu
lingkungan
fisik,
lingkungan sosial, dan lingkungan budaya,
ketiga aspek tersebut dalam proses
pembelajaran haruslah saling mendukung.
Pengaruh antara iklim kerja terhadap
kinerja guru adalah dengan iklim kerja
yang nyaman dan kondusif maka kinerja
guru akan meningkat. Hal ini disebabkan
karena pengaruh dari iklim kerja yang
kondusifakan membuat guru lebih
termotivasi
untuk
meningkatkan
kinerjanya dalam proses pembelajaran.
Pengaruh kompetensi profesional
guru terhadap kinerja guru adalah dengan
adanya guru yang memiliki kompetensi
profesional tinggi, guru menjalankan tugas
dan tanggung jawabnya dalam mengajar
untuk meningkatkan prestasi siswa/peserta
didik, sehingga sekolah dapat mencapai
kinerja yang di harapkan. Jika kompetensi
guru
rendah,
guru
tidak
dapatmelaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya dengan maksimal, sehingga
sekolah tidak dapat mencapai kinerja yang
di inginkan.
Pengaruh Kompetensi Profesional Guru
Terhadap Kinerja Guru
Berdasarkan hasil analisis uji t,
bahwa secara statistik terdapat pengaruh
kompetensi profesional guru terhadap
kinerja guru MTs Negeri Kepanjen. Hal ini
dibuktikan dari hasil analisis uji t
didapatkan statistik uji t sebesar -2.344
dengan tingkat signifikannya lebih kecil
dari 0,05, maka variabel X3 (Kompetensi
Profesional Guru) berpengaruh terhadap
variabel Y (Kinerja Guru).
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Sumarsono
(2009)
dengan
judul
“Pengaruh
Pengaruh
Kepemimpinan
Kepala
Sekolah, Iklim Kerja Dan Kompetensi
Profesional Guru Terhadap Kinerja
Guru
Kegiatan di sekolah akan dapat
berlangsung apabila kepala sekolah
menjalankan tugas dan tanggung jawabnya
secara efektif dan efisien. Kepemimpinan
12
kepala sekolah yang tinggi dapat
mengelola atau mengatur segala kebutuhan
maupun kegiatan yang ada di MTs Negeri
Kepanjen. Keberhasilan sekolah dapat juga
dikatakan sebagai keberhasilan kepala
sekolah. Kinerja guru dapat tercipta karena
kepimpinan kepala sekolah. Kepala
sekolah yang bijaksana dapat mendorong
guru agar meningkatkan kompetensi
mengajarnya. Salah satu kompetensi guru
yang ditingkatkan dalam penelitian ini
adalah kompetensi profesional guru.
kepemimpinan kepala sekolah (X1), iklim
kerja (X2), dan kompetensi profesional
guru (X3) terhadap kinerja guru (Y).Hasil
statistik menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh kepemimpinan kepala sekolah,
iklim kerja dan kompetensi profesional
guru terhadap kinerja guru di MTs Negeri
Kepanjen.
Uji F digunakan untuk mengetahui
tingkat pengaruh variabel bebas yaitu
kepemimpinan kepala sekolah, iklim kerja,
kompetensi profesional guru terhadap
kinerja guru. Hasil statistik menunjukkan
bahwa ada pengaruh yang signifikan
secara simultan antara kepemimpinan
kepala sekolah, iklim kerja, kompetensi
profesional guru terhadap kinerja guru
yang ditunjukkan dengan nilai F-hitung
6,333 dengan tingkat signifikansi 0,002a,
karena nilai signifikansi lebih kecil dari
0,05, maka hasil penelitian menolak H04
dan menerima HA4
Guru yang profesional adalah guru
yang dapat menjalankan tugas mengajar
dengan baik. Semakin tinggi kompetensi
profesional guru, akan berpengaruh dalam
pengolahan pembelajaran yang nantinya
akan berpengaruh terhadap prestasi
siswa/peserta didik. Semakin tinggi
kompetensi profesional yang di miliki guru
akan menyebabkan peningkatan kinerja
guru. Selain kepemimpinan kepala sekolah
dan kompetensi profesional guru. Kinerja
guru juga dipengaruhi oleh iklim kerja
yang ada di sekolah.
KESIMPULAN
1. Ada
pengaruh
yang
signifikan
Kepemimpinan
Kepala
Sekolah
terhadap Kinerja Guru di MTs Negeri
Kepanjen.
2. Ada pengaruh yang signifikan Iklim
Kerja terhadap Kinerja Guru di MTs
Negeri Kepanjen
3. Ada
pengaruh
yang
signifikan
Kompetensi ProfesionalGuru terhadap
Kinerja Guru di MTs Negeri Kepanjen
4. Adapengaruh yang signifikan secara
simultan tentang kepemimpinan kepala
sekolah, Iklim Kerja dan Kompetensi
Profesional Guru terhadap Kinerja Guru
di MTs Negeri Kepanjen
Iklim
kerja
di
sekolah
menggambarkan keadaan warga sekolah
tersebut dalam keadaan riang dan mesra
ataupun kepedulian antara satu sama
lainya. Hubungan yang mesra pada iklim
kerja disekolah/madrasah terjadi: karena
disebabkan terdapat hubungan yang baik
diantara kepala sekolah, guru, dan diantara
guru dan peserta didik (Supardi, 2014:121)
Jika kepemimpianan kepala sekolah
baik maka kinerja guru akan baik, jika
iklim kerja yang ada di sekolah kondusif
maka proses belajar mengajar akan
terlaksana dengan baik, dan jika
kompetensi profesional guru tercipta
dengan baik maka kinerja guru akan
semakin meningkat.Selain itu untuk
mengetahui
secara
bersama-sama
pengaruh kepemimpinan kepala sekolah,
iklim kerja dan kompetensi profesional
guru terhadap kinerja guru digunakan uji
F. Uji F digunakan untuk mengetahui
tingkat pengaruh variabel bebas yaitu
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka
saran yang diajukan adalah sebagai
berikut:
1. Bagi Peneliti :
Penelitian ini diharapkan dapat
menambah wawasan danpengetahuan
mengenai
berbagai
faktor
yang
mempengaruhi kinerja guru.
13
2. Bagi Kepala Sekolah:
Sebagai bahan pertimbangan dalam
pengambilan
keputusan
untuk
perbaikan sekolah.
3. Bagi Guru:
Penelitian ini diharapkan dapat
memberi masukan bagi guru untuk
meningkatkan kinerjanya di sekolah
dengan memperhatikan faktor-faktor
yang ada di dalam maupun diluar diri
guru yang dapat mempengaruhi kinerja
guru.
4. Bagi Peneliti Lain:
Diharapkan dapat menjadi dasar dalam
pengembangkan penelitiannya, yang
memiliki kesamaan variabel dengan
penelitian ini.
Sarwoko, Endi.2011.Statistik 1 dan II
(Deskriptif dan Inferensial)
Sisdiknas.
2003.
Pendidikan
Citra Umbara
Sugiyono,
2011.Metode
Penelitian
Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
Bandung Alfabeta
Supardi. 2014. Kinerja Guru. Jakarta: Raja
Grafindo Persada
Universitas Kanjuruhan Malang. 2013.
Pedoman
Penulisan
Skripsi.
Malang: Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan.
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
Nomor 20 Tahun 2003
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur
Penelitian
Suatu
Pendekatan
Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Danim, Sudarwan. 2008. Visi baru
manajemen sekolah: dari unit
birokrasi ke lembaga akademik.
Jakarta: Bumi Aksara
Hasan, I. 2001. Pokok-Pokok Statistik 1
(Statistik Deskriptif). Jakarta: PT.
Bumi Aksara
Hasan, I. 2001. Pokok-Pokok Statistik II
(Statistik Deskriptif). Jakarta: PT.
Bumi Aksara
Mendiknas, 2007. Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional
Mulyasa, 2004. Menjadi Kepala Sekolah
Profesional. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2011. Menjadi Guru
Profesional.Bandung:
Remaja
Rosdakarya
Nasir
Tentang
Sistem
Nasional.Bandung:
Usman.
2007.
Manajemen
Peningkatan
Kinerja
Guru.
Bandung: UPI
Sarwoko, Endi. 2010. Modul Praktikum
Statistik SPSS 22.0 for windows.
Malang Universitas Kanujuruhan
14
Download