perbaikan tanah media tanaman jeruk dengan berbagai

advertisement
PERBAIKAN TANAH MEDIA TANAMAN JERUK
DENGAN BERBAGAI BAHAN ORGANIK
DALAM BENTUK KOMPOS
ANI SURYANI
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007
2
ANI SURYANI. Soil Improvement of Citrus Crop Media with Organic
Substances in the Form of Compost. Supervised by GUNAWAN
DJAJAKIRANA and BASUKI SUMAWINATA
ABSTRACT
Addition of compost can improve the properties of soil, but it is rarely
used although it has many benefits to soil. On the other hand, the use of ex situ
material has been found in many places. Organic substances that easily available
in situ are effective as compost materials.
This research used five in situ organic substances with the objectives: to
know the nutrient content of compost that have been used, to see the influence of
compost addition to soil properties and citrus growth, and to find the compost type
that giving the best influence to the growth of citrus crop. This research analyzed
the physical, chemical, and biological properties of soil, and analyzed the nutrient
content of the crop.
The results of this research indicated that the nutrient content of compost
depended on its origin. Compost influenced the properties of soil beginning three
months after compost application that was showed by the increasing of nutrient
availability. Compost also influenced the earthworm population where 906
worms/m2 have been found after six months of application of straw compost, and
1099 worms/m2 after application of grass compost. Compost application
influenced physical properties of soil that encourage “the piled soil” (trumbuk)
porosity, through improvement the composition of soil. After six month of
application, the growth of the citrus plant was slightly influenced by addition of
compost, this can be seen from the nutrient content of the plants, but from the
amount of citrus fruits were shown clearly that application of cattle dung and
banana tree compost could increased the yields.
Keywords: citrus, organic substance, and compost
3
RINGKASAN
ANI SURYANI. Perbaikan Tanah Media Tanaman Jeruk dengan Berbagai Bahan
Organik dalam Bentuk Kompos. Di bawah Bimbingan GUNAWAN
DJAJAKIRANA dan BASUKI SUMAWINATA.
Penambahan bahan organik berupa kompos dapat memperbaiki sifat-sifat
tanah, akan tetapi banyak ditinggalkan penggunaannya padahal perannya sangat
besar bagi perbaikan tanah. Selain itu, penggunaan bahan yang tidak ditemukan di
lapang pun sering terjadi. Penggunaan bahan organik yang mudah diperoleh
setempat (in situ) dipandang efektif sebagai bahan pembuat kompos.
Penelitian ini menggunakan lima macam bahan organik in situ, dengan
tujuan mengetahui kandungan hara dari kompos yang digunakan, melihat
pengaruh penambahan kompos terhadap perubahan sifat-sifat tanah dan
pertumbuhan tanaman, dan mencari jenis kompos yang memberikan pengaruh
terbaik terhadap pertumbuhan tanaman jeruk. Penelitian ini menganalisis sifat
kimia, biologi tanah, dan fisika, dan analisis kadar hara tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan hara kompos tergantung
dari jenis bahan asalnya. Pengaruh aplikasi kompos terhadap sifat-sifat tanah
media tanaman jeruk sudah mulai terlihat sejak tiga bulan setelah aplikasi, di
mana terjadi peningkatan ketersediaan hara di dalam tanah. Kompos juga sangat
mempengaruhi populasi cacing di dalam tanah, terlihat dari aplikasi kompos
jerami padi populasi cacing mencapai 906 ekor/m2, bahkan aplikasi kompos
rumput mencapai 1099 ekor/m2. Terhadap sifat fisik, aplikasi kompos
memperbaiki porositas trumbuk, dengan perbandingan komposisi pembentuk
tanah menjadi lebih baik. Pertumbuhan tanaman selama enam bulan setelah
aplikasi kompos sedikit dipengaruhi oleh penambahan kompos yang dapat terlihat
dari masih kurangnya perubahan dalam kadar hara tanaman jeruk, namun dari
jumlah buah sudah terlihat bahwa aplikasi kompos kotoran sapi dan kompos
batang pisang jelas meningkatkan produksi buah.
4
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Perbaikan Tanah Media Tanaman
Jeruk dengan Berbagai Bahan Organik dalam Bentuk Kompos adalah karya
saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi
mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam tesis dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, September 2007
Ani Suryani
NIM A251040031
5
©Hak cipta milik IPB, tahun 2007
Hak cipta dilindungi Undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,
penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau
tinjauan suatu masalah
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
ilmiah dalam bentuk apappun tanpa izin IPB
6
PERBAIKAN TANAH MEDIA TANAMAN JERUK
DENGAN BERBAGAI BAHAN ORGANIK
DALAM BENTUK KOMPOS
ANI SURYANI
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007
7
Judul Tesis
Nama
NIM
: Perbaikan Tanah Media Tanaman Jeruk dengan Berbagai Bahan
Organik dalam Bentuk Kompos
: Ani Suryani
: A251040031
Disetujui,
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Gunawan Djajakirana, M.Sc.
Ketua
Dr. Ir. Basuki Sumawinata, M.Agr.
Anggota
Diketahui,
Ketua Program Studi
Ilmu Tanah
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr. Ir. Komaruddin Idris, M.S.
M.S.
Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro,
8
Tanggal Ujian: 23 Agustus 2007
Tanggal Lulus:
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pontianak pada tanggal 23 Agustus 1980 dari
pasangan Ayahanda Helmi Ma’az dan Ibunda Zainab (Almh). Penulis merupakan
anak kelima dari lima bersaudara.
Pada tahun 1998 penulis lulus dari SMU Negeri 1 Pontianak dan pada
tahun yang sama lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor melalui jalur
Undangan Seleksi Masuk IPB. Penulis diterima pada Program Studi Ilmu Tanah,
Departemen Tanah, Fakultas Pertanian dan menamatkannya pada tahun 2003.
Penulis pernah bekerja sebagai Staff Administrasi (Honorer) di Proyek
Quality for Undergraduate Education (QUE), Departemen Tanah, Fakultas
Pertanian IPB. Pada tahun 2004 penulis diterima di Program Studi Ilmu Tanah
pada Sekolah Pascasarjana IPB.
Bogor, September 2007
Penulis
9
KATA PENGANTAR
Puji syukur tiada hentinya penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas
rahmat, nikmat, dan hidayah-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah
kepada junjungan hamba, Nabi besar Muhammad saw. beserta keluarganya,
sahabat-sahabatnya, dan para pengikutnya yang tetap setia mengikuti risalahnya
hingga hari akhir.
Alhamdulillah, penulis dapat menyelesaikan tesis sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Institut Pertanian Bogor yang
berjudul Perbaikan tanah Media tanaman Jeruk dengan Berbagai Bahan Organik
dalam Bentuk Kompos.
Terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya diucapkan pada
Bapak Dr. Ir. Gunawan Djajakirana, M.Sc., sebagai ketua komisi atas bantuan,
petunjuk, saran dan bimbingannya sejak awal pendidikan hingga penulisan tesis
ini selesai. Kepada Bapak Dr. Ir. Basuki Sumawinata, M.Agr. sebagai anggota
komisi atas petunjuk, arahan, dan pelajaran hidup yang diberikan selama ini.
Kepada Bapak Dr Ir Suwardi M.Agr. sebagai penguji atas masukan, ide dan
sarannya.
Penghargaan dan ucapan terima kasih juga disampaikan pada:
1. Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (DAMANDIRI), Pemerintah Daerah
Provinsi Kalimantan Barat, Pemerintah Kabupaten Sambas yang turut serta
membantu pembiayaan hingga terlaksananya penelitian ini,
2. Seluruh Dosen yang mengajarkan banyak hal kepada penulis,
3. Seluruh Staff di Lab. Tanah atas kerjasama dan bantuannya,
4. Staff di Lab. Kimia Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, atas
kerjasama, dan bantuan fasilitasnya,
5. Teman-teman kerja di kebun atas bantuan dan kerjasamanya, dan
6. Teman-teman seperjuangan di Kampus yang banyak memberikan motivasi
sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas-tugas.
Secara khusus penulis mengucapkan rasa terima kasih dan rasa hormat
yang mendalam kepada Ayahanda Hemi Ma’az dan Kakanda Dewi Mustika, Ana
Rosilawati, Iskandar Zulkarnaen dan Siti Komalasari dan seluruh keluarga yang
10
telah mendanai dan memberikan kepercayaan, dukungan dan doa tulus ikhlasnya
sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini. Kepada Ibunda Zainab (Almh),
yang selama masa hidupnya telah memberikan kepercayaan, doa tulus ikhlasnya
dan pelajaran hidup yang sangat berharga kepada penulis.
Terimakasih pula kepada seluruh pihak yang terlibat secara langsung
maupun tidak langsung atas seluruh partisipasinya sehingga penulisan ini dapat
diselesaikan. Akhirnya penulis mengharapkan semoga tulisan ini dapat
bermanfaat.
Bogor, September 2007
Penulis
11
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .............................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xii
PENDAHULUAN ..............................................................................................
1
Latar Belakang ..........................................................................................
Tujuan .......................................................................................................
1
4
TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................
5
Bahan Organik Tanah ............................................................................... 5
Pengaruh Bahan Organik terhadap Tanaman ............................................ 9
Pengomposan ............................................................................................ 11
Tanaman Jeruk .......................................................................................... 13
METODOLOGI ................................................................................................. 15
Waktu dan Tempat .................................................................................... 15
Bahan dan Alat .......................................................................................... 15
Metode Penelitian ..................................................................................... 15
HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................................... 22
Hasil Pengomposan ...................................................................................
Kualitas Kompos dari Berbagai Bahan Organik .......................................
Pengaruh Kompos terhadap Sifat Kimia Tanah ........................................
Pengaruh Kompos terhadap Sifat Biologi Tanah .......................................
Pengaruh Kompos terhadap Sifat Fisika Tanah .........................................
Pengaruh Kompos terhadap Kadar Hara dan Pertumbuhan Tanaman ......
Peluang Bisnis Kompos ............................................................................
22
23
27
33
37
42
48
KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................................... 51
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 52
LAMPIRAN ....................................................................................................... 56
12
DAFTAR TABEL
No.
Teks
Halaman
1.
Metode yang digunakan untuk analisis sifat tanah ................................
19
2.
Metode yang digunakan untuk analisis tanaman ....................................
19
3.
Lamanya proses dan hasil pengomposan ................................................
22
4.
Sifat kimia kompos dari berbagai bahan ................................................
24
5.
Jumlah hara tersedia yang ditambahkan ................................................
26
6.
Pengaruh perlakuan kompos terhadap sifat kimia tanah setelah tiga dan
enam bulan aplikasi ................................................................................
28
Pengaruh perlakuan kompos terhadap unsur mikro tanah setelah tiga
dan enam bulan aplikasi (ppm) ...............................................................
32
Pengaruh perlakuan kompos terhadap kandungan nitrat tanah pada
kondisi awal dan setelah enam bulan aplikasi ........................................
33
Pengaruh perlakuan kompos terhadap kadar unsur makro daun
tanaman setelah tiga dan enam bulan aplikasi ......................................
45
10. Pengaruh perlakuan kompos terhadap kadar unsur mikro tanaman
setelah tiga dan enam bulan aplikasi (ppm) ...........................................
46
11. Prediksi jumlah Hari Orang Kerja (HOK) dalam pembuatan kompos ..
49
7.
8.
9.
Lampiran
1.
Analisis tanah pendahuluan di lokasi penelitian ....................................
57
2.
Standar analisa daun jeruk yang berasal dari cabang yang tidak
berbuah (Obreza et al., 1999) dan kadar hara awal tanaman .............. ....
58
Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan kompos terhadap
ketersediaan hara tanah pada bulan ketiga .............................................
58
Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan kompos terhadap kadar hara
tanaman jeruk pada bulan ketiga ............................................................
60
Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan kompos terhadap
ketersediaan hara tanah pada bulan keenam ..........................................
61
Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan kompos terhadap kadar hara
tanaman jeruk pada bulan keenam .........................................................
62
Data curah hujan daerah penelitian tahun 2006 ......................................
64
3.
4.
5.
6.
7.
13
DAFTAR GAMBAR
No.
Teks
Halaman
1.
Penampang profil tanah di lokasi penelitian ...........................................
2
2.
Penanaman jeruk dengan pembuatan trumbuk ......................................
2
3.
Lokasi penelitian di lapang ....................................................................
16
4.
Kerangka pemikiran penelitian yang dilakukan .....................................
21
5.
Hubungan perlakuan kompos dengan populasi cacing tanah .................
34
6.
Cacing yang ditemukan di lapang (a) cacing yang ditemukan pada
tanah yang diaplikasikan kompos kotoran ayam, (b) cacing yang
ditemukan pada tanah yang diaplikasikan kompos jerami padi .............
35
7.
Hubungan perlakuan kompos dengan respirasi tanah .............................
36
8.
Hubungan perlakuan kompos dengan CMic tanah ..................................
37
9.
Hubungan perlakuan kompos dengan komposisi tanah lapisan trumbuk
pada bulan ketiga.....................................................................................
38
10. Hubungan perlakuan kompos dengan komposisi tanah lapisan trumbuk
pada bulan keenam ..................................................................................
38
11. Hubungan perlakuan kompos dengan komposisi tanah lapisan lantai
pada bulan ketiga ....................................................................................
39
12. Hubungan perlakuan kompos dengan komposisi tanah lapisan lantai
pada bulan keenam .................................................................................
39
13. Hubungan perlakuan kompos dengan bobot isi tanah ............................
40
14. Hubungan perlakuan kompos dengan porositas tanah ...........................
41
15. Hubungan perlakuan kompos dengan perubahan diameter tajuk
tanaman ...................................................................................................
42
16.
Hubungan perlakuan kompos dengan kedalaman perakaran tanaman ...
43
17.
Hubungan perlakuan kompos dengan jumlah buah yang dihasilkan .....
48
14
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Jeruk merupakan salah satu jenis komoditas hortikultura yang banyak
disukai masyarakat dan pemasarannya cukup baik. Upaya pengembangan jeruk ini
banyak dilakukan oleh petani. Salah satu daerah sentra produksi jeruk adalah di
Kalimantan Barat, Kabupaten Sambas yang dikenal sebagai sentra jeruk
pontianak.
Dalam sejarahnya, jeruk pontianak pernah mencapai masa keemasan pada
tahun 1992 di mana luas pertanaman mencapai sekitar 21.000 ha, tanaman
produktif sekitar 15.000 ha dan produksi total mencapai 234.059 ton/tahun (Azri,
2004). Produksi jeruk yang melimpah ini didistribusikan sampai ke Pulau Jawa.
Akan tetapi, setelah beberapa tahun, jeruk pontianak mengalami kehancuran
produksi. Penyebab hancurnya perdagangan jeruk pontianak menurut beberapa
pendapat di antaranya adalah: 1) praktik monopoli perdagangan, 2) harga jeruk
yang rendah mengakibatkan petani tidak mampu membiayai perawatan kebun
jeruk, dan 3) tidak adanya pemeliharaan yang menyebabkan timbulnya berbagai
penyakit. Tanaman yang sudah tua akibat tidak adanya peremajaan sehingga
produktivitas tanaman menurun juga menyebabkan hancurnya perdagangan jeruk.
Namun jika dihubungkan dengan karakteristik tanah di lokasi sentra jeruk
tersebut, kami berpendapat hal itu lebih disebabkan oleh faktor fisika kimia tanah
yang tidak cukup menunjang pertanaman jeruk.
Jika diamati dengan seksama, karakteristik sifat fisika tanah tempat sentra
produksi jeruk umumnya adalah tanah yang memiliki porositas dan drainase yang
baik. Di daerah Sambas, jeruk dikembangkan di atas tanah yang berdrainase buruk
dengan struktur masif, di mana penggunaan awal umumnya adalah areal
persawahan. Gambar 1 menunjukkan kondisi daerah perakaran tanaman jeruk di
daerah Kabupaten Sambas. Terlihat dengan jelas bahwa tanah pada lokasi
penanaman jeruk sangat masif bahkan terdapat bercak-bercak kuning kemerahan
yang menunjukkan bahwa tanah sering berada dalam kondisi tereduksi.
15
Gambar 1. Penampang profil tanah di lokasi penelitian
Salah satu alasan sehingga jeruk dapat berkembang di daerah tersebut
adalah karena petani menanam jeruk dengan menumpukkan tanah sehingga
menjadi tinggi, atau yang dikenal masyarakat Sambas sebagai trumbuk. Adapun
tujuan pembuatan trumbuk ini adalah agar akar tanaman tidak terendam air pada
saat musim hujan. Secara ilmu tanah, hal tersebut dipandang sebagai usaha untuk
memperbaiki struktur tanah.
Gambar 2. Penanaman jeruk dengan pembuatan trumbuk
16
Mengingat kemantapan struktur agregat sangat berkorelasi dengan
kandungan bahan organik tanah, maka dalam penelitian ini dilakukan penelitian
tentang pemberian bahan organik. Bahan organik tanah sangat penting dalam
usaha pertanian (Syers dan Crasswell, 1995; Carter, 2001; Crasswel dan Leffroy,
2001). Bahan organik tanah memiliki peran dan fungsi yang sangat vital di dalam
perbaikan tanah, meliputi sifat fisika, kimia maupun biologi tanah (Young, 1989;
Keulen, 2001). Terhadap sifat fisik tanah, bahan organik berperan dalam proses
pembentukan dan mempertahankan kestabilan struktur tanah, berdrainase baik
sehingga mudah melalukan air, dan mampu memegang air banyak. Sebagai
akibatnya tanah tidak mudah memadat karena rusaknya struktur tanah.
Penambahan bahan organik juga menambah ketersediaan hara dalam tanah. Selain
itu juga sebagai penyedia sumber energi bagi aktivitas mikroorganisme sehingga
meningkatkan kegiatan organisme, baik mikro maupun makro di dalam tanah.
Perbaikan tanah dapat dilakukan melalui perbaikan sifat-sifat kimia, fisik
maupun biologinya agar tanah tersebut memiliki kemampuan lebih besar dalam
mendukung produksi tanaman. Agar ketiga sifat tanah dapat diperbaiki secara
simultan, maka pemberian bahan organik serta pupuk anorganik dipandang
merupakan alternatif yang terbaik. Permasalahannya adalah bahan organik yang
perlu ditambahkan memerlukan jumlah yang sangat besar dan tidak tersedia
dalam jumlah dan mutu yang sesuai. Selain itu, jika bahan organik tersebut
didatangkan dari tempat lain maka biaya yang dibutuhkan menjadi sangat tinggi
dan seringkali menjadi tidak layak untuk dilakukan. Oleh karena itu, diupayakan
untuk menghasilkan bahan organik in situ yang bahan-bahan dasarnya bersumber
dari potensi wilayah. Faktor lain yang juga menjadi masalah untuk penyediaan
bahan organik adalah waktu yang lebih lama untuk terdekomposisinya bahan
sehingga penyediaan hara berlangsung jauh lebih lambat dibandingkan dengan
penggunaan pupuk anorganik.
Untuk mempercepat penyerapan hara oleh tanaman, bahan organik dapat
dikomposkan terlebih dahulu. Kompos adalah bahan organik yang telah
mengalami proses pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme yang
bekerja di dalamnya. Kompos sebagai produk dari proses penguraian bahan
organik memiliki sifat-sifat yang baik untuk menyuburkan tanah dan menyediakan
17
hara bagi tanaman. Sifat-sifat kompos tergantung pada tingkat kematangannya
(Suzuki et al., 2004).
Sifat kompos yang baik dan berguna bagi tanah ternyata belum mampu
membuat para petani tertarik untuk menggunakannya. Hal ini mungkin
disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan petani di Kecamatan Tebas, Kabupaten
Sambas untuk memberdayakan bahan organik in situ menjadi kompos. Hal inilah
yang kemudian menimbulkan ketertarikan peneliti untuk mengadakan penelitian
yang berhubungan dengan kompos, bahan organik yang akan digunakan untuk
memperbaiki tanah sebagai media tanaman jeruk.
Tujuan
Sejalan dengan usaha peningkatan kualitas jeruk, penelitian ini
dilaksanakan dengan tujuan untuk:
1. Mengetahui kandungan hara berbagai pupuk organik dalam bentuk kompos
yang digunakan,
2. Mencari jenis kompos yang memberikan pengaruh terbaik terhadap
pertumbuhan tanaman jeruk, dan
3. Melihat pengaruh penambahan kompos terhadap perubahan sifat tanah dan
pertumbuhan tanaman.
18
TINJAUAN PUSTAKA
Bahan Organik Tanah
Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem
kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman dan atau binatang yang
terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena
dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia (Kononova, 1961). Menurut
Stevenson (1994), bahan organik tanah adalah semua jenis senyawa organik yang
terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa
mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, dan bahan organik yang
stabil atau humus.
Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan
tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah
menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga
menurun. Menurunnya kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk
kerusakan tanah yang umum terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah penting
bagi negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat
sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat.
Kerusakan tanah secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga
kelompok utama, yaitu kerusakan sifat kimia, fisika dan biologi tanah. Kerusakan
kimia tanah dapat terjadi karena proses pemasaman tanah, akumulasi garamgaram (salinisasi), tercemar logam berat, dan tercemar senyawa-senyawa organik
dan xenobiotik seperti pestisida atau tumpahan minyak bumi (Djajakirana, 2001).
Terjadinya pemasaman tanah dapat diakibatkan penggunaan pupuk nitrogen
buatan secara terus menerus dalam jumlah besar (Brady, 1990). Kerusakan tanah
secara fisik dapat diakibatkan karena kerusakan struktur tanah yang dapat
menimbulkan pemadatan tanah. Kerusakan struktur tanah ini dapat terjadi akibat
pengolahan tanah yang salah atau penggunaan pupuk kimia secara terus menerus.
Kerusakan biologi ditandai oleh penyusutan populasi maupun berkurangnya
biodiversitas organisme tanah, dan terjadi biasanya bukan kerusakan sendiri,
melainkan akibat dari kerusakan lain (fisik dan atau kimia). Sebagai contoh
penggunaan pupuk nitrogen (dalam bentuk ammonium sulfat dan sulfur coated
19
urea) yang terus menerus selama 20 tahun dapat menyebabkan pemasaman tanah
sehingga populasi cacing tanah akan turun dengan drastis (Ma et al., 1990).
Kehilangan unsur hara dari daerah perakaran juga merupakan fenomena
umum pada sistem pertanian dengan masukan rendah. Pemiskinan hara terjadi
utamanya pada praktek pertanian di lahan yang miskin atau agak kurang subur
tanpa dibarengi dengan pemberian masukan pupuk buatan maupun pupuk organik
yang memadai. Termasuk dalam kelompok ini adalah kehilangan bahan organik
yang lebih cepat dari penambahannya pada lapisan atas. Dengan demikian terjadi
ketidakseimbangan masukan bahan organik dengan kehilangan yang terjadi
melalui dekomposisi yang berdampak pada penurunan kadar bahan organik
dalam tanah. Tanah-tanah yang sudah mengalami kerusakan akan sulit
mendukung pertumbuhan tanaman. Sifat-sifat tanah yang sudah rusak
memerlukan perbaikan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi kembali
secara optimal.
Penyediaan hara bagi tanaman dapat dilakukan dengan penambahan pupuk
baik organik maupun anorganik. Pupuk anorganik dapat menyediakan hara
dengan cepat. Namun apabila hal ini dilakukan terus menerus akan menimbulkan
kerusakan tanah. Hal ini tentu saja tidak menguntungkan bagi pertanian yang
berkelanjutan. Meningkatnya kemasaman tanah akan mengakibatkan ketersediaan
hara dalam tanah yang semakin berkurang dan dapat mengurangi umur produktif
tanaman.
Menurut Lal (1995), pengelolaan tanah yang berkelanjutan berarti suatu
upaya pemanfaatan tanah melalui pengendalian masukan dalam suatu proses
untuk memperoleh produktivitas tinggi secara berkelanjutan, meningkatkan
kualitas tanah, serta memperbaiki karakteristik lingkungan. Dengan demikian
diharapkan kerusakan tanah dapat ditekan seminimal mungkin sampai batas yang
dapat ditoleransi, sehingga sumberdaya tersebut dapat dipergunakan secara lestari
dan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang.
Bahan organik tanah berpengaruh terhadap sifat-sifat kimia, fisik, maupun
biologi tanah. Fungsi bahan organik di dalam tanah sangat banyak, baik terhadap
sifat fisik, kimia maupun biologi tanah, antara lain sebagai berikut (Stevenson,
1994):
20
1. Berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap ketersediaan hara.
Bahan organik secara langsung merupakan sumber hara N, P, S, unsur mikro
maupun unsur hara esensial lainnya. Secara tidak langsung bahan organik
membantu menyediakan unsur hara N melalui fiksasi N2 dengan cara
menyediakan energi bagi bakteri penambat N2, membebaskan fosfat yang
difiksasi secara kimiawi maupun biologi dan menyebabkan pengkhelatan
unsur mikro sehingga tidak mudah hilang dari zona perakaran.
2. Membentuk agregat tanah yang lebih baik dan memantapkan agregat yang
telah terbentuk sehingga aerasi, permeabilitas dan infiltrasi menjadi lebih baik.
Akibatnya adalah daya tahan tanah terhadap erosi akan meningkat.
3. Meningkatkan retensi air yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman.
4. Meningkatkan retensi unsur hara melalui peningkatan muatan di dalam tanah.
5. Mengimmobilisasi senyawa antropogenik maupun logam berat yang masuk ke
dalam tanah
6. Meningkatkan kapasitas sangga tanah
7. Meningkatkan suhu tanah
8. Mensuplai energi bagi organisme tanah
9. Meningkatkan organisme saprofit dan menekan organisme parasit bagi
tanaman.
Selain memiliki dampak positif, penggunaan bahan organik dapat pula
memberikan dampak yang merugikan. Salah satu dampak negatif yang dapat
muncul akibat dari penggunaan bahan organik yang berasal dari sampah kota
adalah meningkatnya logam berat yang dapat diasimilasi dan diserap tanaman,
meningkatkan salinitas, kontaminasi dengan senyawa organik seperti poli khlorat
bifenil, fenol, hidrocarburate polisiklik aromatic, dan asam-asam organik
(propionic dan butirik) (de Haan, 1981 dalam Aguilar et al., 1997)
Faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah juga harus diperhatikan
karena mempengaruhi jumlah bahan organik. Miller et al. (1985) berpendapat
bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah bahan organik dalam tanah
adalah sifat dan jumlah bahan organik yang dikembalikan, kelembaban tanah,
temperatur tanah, tingkat aerasi tanah, topografi dan sifat penyediaan hara.
21
Faktor-faktor yang mempengaruhi dekomposisi bahan organik dapat
dikelompokkan dalam tiga grup, yaitu: 1) sifat dari bahan tanaman termasuk jenis
tanaman, umur tanaman dan komposisi kimia, 2) tanah termasuk aerasi,
temperatur, kelembaban, kemasaman, dan tingkat kesuburan, dan 3) faktor iklim
terutama pengaruh dari kelembaban dan temperatur.
Bahan organik secara umum dibedakan atas bahan organik yang relatif
sukar didekomposisi karena disusun oleh senyawa siklik yang sukar diputus atau
dirombak menjadi senyawa yang lebih sederhana, termasuk di dalamnya adalah
bahan organik yang mengandung senyawa lignin, minyak, lemak, dan resin yang
umumnya ditemui pada jaringan tumbuh-tumbuhan; dan bahan organik yang
mudah didekomposisikan karena disusun oleh senyawa sederhana yang terdiri dari
C, O, dan H, termasuk di dalamnya adalah senyawa dari selulosa, pati, gula dan
senyawa protein.
Dari berbagai aspek tersebut, jika kandungan bahan organik tanah cukup,
maka kerusakan tanah dapat diminimalkan, bahkan dapat dihindari. Jumlah bahan
organik di dalam tanah dapat berkurang hingga 35% untuk tanah yang ditanami
secara terus menerus dibandingkan dengan tanah yang belum ditanami atau belum
dijamah (Brady, 1990). Young (1989) menyatakan bahwa untuk mempertahankan
kandungan bahan organik tanah agar tidak menurun, diperlukan minimal 8 – 9 ton
per ha bahan organik tiap tahunnya.
Hairah et al. (2000) mengemukakan beberapa cara untuk mendapatkan
bahan organik:
1.
Pengembalian sisa panen. Jumlah sisa panenan tanaman pangan yang dapat
dikembalikan ke dalam tanah berkisar 2 – 5 ton per ha, sehingga tidak dapat
memenuhi jumlah kebutuhan bahan organik minimum. Oleh karena itu,
masukan bahan organik dari sumber lain tetap diperlukan.
2.
Pemberian pupuk kandang. Pupuk kandang yang berasal dari kotoran hewan
peliharaan seperti sapi, kambing, kerbau dan ayam, atau bisa juga dari hewan
liar seperti kelelawar atau burung dapat dipergunakan untuk menambah
kandungan bahan organik tanah. Pengadaan atau penyediaan kotoran hewan
seringkali sulit dilakukan karena memerlukan biaya transportasi yang besar.
22
3.
Pemberian pupuk hijau. Pupuk hijau bisa diperoleh dari serasah dan dari
pangkasan tanaman penutup yang ditanam selama masa bera atau pepohonan
dalam larikan sebagai tanaman pagar. Pangkasan tajuk tanaman penutup
tanah dari famili leguminosae dapat memberikan masukan bahan organik
sebanyak 1.8 – 2.9 ton per ha (umur 3 bulan) dan 2.7 – 5.9 ton per ha untuk
yang berumur 6 bulan.
Pengaruh Bahan Organik terhadap Tanaman
Pemberian bahan organik ke dalam tanah memberikan dampak yang baik
terhadap tanah, tempat tumbuh tanaman. Tanaman akan memberikan respon yang
positif apabila tempat tanaman tersebut tumbuh memberikan kondisi yang baik
bagi pertumbuhan dan perkembangannya.
Bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah menyediakan zat
pengatur tumbuh tanaman yang memberikan keuntungan bagi pertumbuhan
tanaman seperti vitamin, asam amino, auksin dan giberelin yang terbentuk melalui
dekomposisi bahan organik (Brady, 1990).
Bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah mengandung karbon
yang tinggi. Pengaturan jumlah karbon di dalam tanah meningkatkan
produktivitas
tanaman
dan
keberlanjutan
umur
tanaman
karena
dapat
meningkatkan kesuburan tanah dan penggunaan hara secara efisien. Selain itu
juga perlu diperhatikan bahwa ketersediaan hara bagi tanaman tergantung pada
tipe bahan yang termineralisasi dan hubungan antara karbon dan nutrisi lain
(misalnya rasio antara C/N, C/P, dan C/S) (Delgado dan Follet, 2002).
Penggunaan
bahan
organik
telah
terbukti
banyak
meningkatkan
pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian Duong et al. (2006) yang memberikan
kompos berupa jerami pada tanaman padi sudah memberikan pengaruh setelah 30
hari diaplikasikan. Selain itu, juga ditemukan dampak positif lain seperti
meningkatkan ketersediaan makro dan mikronutrien bagi tanaman (Aguilar et al.,
1997)
Bahan organik yang berasal dari sisa tanaman mengandung bermacammacam unsur hara yang dapat dimanfaatkan kembali oleh tanaman jika telah
mengalami dekomposisi dan mineralisasi. Sisa tanaman ini memiliki kandungan
unsur hara yang berbeda kualitasnya tergantung pada tingkat kemudahan
23
dekomposisi serta mineralisasinya. Unsur hara yang terkandung dalam sisa bahan
tanaman baru bisa dimanfaatkan kembali oleh tanaman apabila telah mengalami
dekomposisi dan mineralisasi. Menurut Brady (1990), gula, protein sederhana
adalah bahan yang mudah terdekomposisi, sedangkan lignin yang akan lambat
terdekomposisi. Secara urutan, kemudahan bahan yang untuk terdekomposisi
adalah sebagai berikut:
1. Gula, zat pati, protein sederhana
mudah terdekomposisi
2. Protein kasar
3. Hemiselulosa
4. Selulosa
5. Lemak
6. Lignin, lemak, waks, dll
sangat lambat terdekomposisi
Kemudahan dekomposisi bahan organik berkaitan erat dengan nisbah
kadar hara. Secara umum, makin rendah nisbah antara kadar C dan N di dalam
bahan organik, akan semakin mudah dan cepat mengalami dekomposisi. Oleh
karena itu, untuk mempercepat dekomposisi bahan organik yang memiliki nisbah
C dan N tinggi sering ditambahkan pupuk nitrogen dan kapur untuk memperbaiki
perbandingan kedua hara tersebut serta menciptakan kondisi lingkungan yang
lebih baik bagi dekomposer. Selain itu, kandungan bahan juga mempengaruhi
proses pengomposan.
Selama proses dekomposisi bahan organik, terjadi immobilisasi dan
mobilisasi (mineralisasi) unsur hara. Immobilisasi adalah perubahan unsur hara
dari bentuk anorganik menjadi bentuk organik yaitu terinkorporasi dalam
biomassa organisme dekomposer, sedangkan mineralisasi terjadi sebaliknya.
Kedua kegiatan ini tergantung pada proporsi kadar hara dalam bahan organik.
Immobilisasi nitrogen secara netto terjadi bila nisbah antara C dan N bahan
organik lebih dari 30, sedangkan mineralisasi netto terjadi bila nisbahnya kurang
dari 20. Jika nisbahnya antara 20 hingga 30 maka terjadi kesetimbangan antara
mineralisasi dan immobilisasi. Immobilisasi dan mineralisasi tidak hanya terjadi
pada unsur nitrogen, tapi juga terjadi pada unsur lain. Pada saat terjadi
immobilisasi tanaman akan sulit menyerap hara karena terjadi persaingan dengan
dekomposer. Oleh karena itu, pemberian pemberian bahan organik perlu
24
memperhitungkan kandungan hara dalam bahan organik tersebut. Bahan organik
yang memiliki nisbah C dan N rendah, lebih cepat menyediakan hara bagi
tanaman, sedangkan bila bahan organik memiliki nisbah C dan N yang tinggi akan
mengimmobilisasi hara sehingga perlu dikomposkan terlebih dahulu.
Pengomposan
Pengomposan adalah dekomposisi alami dari bahan organik oleh
mikroorganisme yang memerlukan oksigen (aerob). Hasil pengomposan berupa
kompos memiliki muatan negatif, dapat dikoagulasikan oleh kation-kation dan
partikel tanah untuk membentuk agregat tanah. Dengan demikian, penambahan
kompos dapat memperbaiki struktur tanah sehingga akan memperbaiki pula
aerasi, drainase, absorbsi panas, kemampuan daya serap tanah terhadap air serta
berguna untuk mengendalikan erosi tanah (Gaur, 1981).
Pengomposan dapat didefinisikan sebagai dekomposisi biologi dari bahan
organik sampah di bawah kondisi-kondisi terkontrol. Gaur (1981) menyatakan
bahwa pengomposan adalah suatu proses biokimia, di mana bahan-bahan organik
didekomposisi menjadi zat-zat seperti humus (kompos) oleh kelompok-kelompok
mikroorganisme campuran dan berbeda-beda pada kondisi yang dikontrol.
Hasil dari pengomposan dikenal dengan nama kompos. Dalam banyak
buku pertanian kompos didefinisikan sebagai campuran pupuk dari bahan organik
yang berasal dari tanaman atau hewan atau campuran keduanya yang telah
melapuk sebagian dan dapat berisi senyawa-senyawa lain seperti abu, kapur dan
bahan kimia lainnya sebagai bahan tambahan. Kompos merupakan inti dan dasar
terpenting dari berkebun dan bertani secara alami, serta merupakan jantung dari
konsep pertanian organik (Djajakirana, 2002).
Penggunaan kompos sangat baik karena dapat memberikan manfaat baik
bagi tanah maupun tanaman. Kompos dapat menggemburkan tanah, memperbaiki
struktur
dan
porositas
tanah,
serta
komposisi
mikroorganisme
tanah,
meningkatkan daya ikat tanah terhadap air, menyimpan air tanah lebih lama, dan
mencegah lapisan kering pada tanah. Kompos juga menyediakan unsur hara mikro
bagi tanaman, memudahkan pertumbuhan akar tanaman, mencegah beberapa
penyakit akar, dan dapat menghemat pemakaian pupuk kimia dan atau pupuk
buatan, sehingga dapat meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk kimia. Karena
25
keunggulannya tersebut, kompos menjadi salah satu alternatif pengganti pupuk
kimia karena harganya murah, berkualitas dan akrab lingkungan. Müller-Sämann
dan Kotschi (1997) menyimpulkan empat fungsi penting kompos, yaitu:
1. Fungsi nutrisi, nutrisi yang disimpan diubah menjadi bahan organik, jaringan
mikroorganisme, produk sisanya, dan humus. Kompos adalah pupuk yang
lambat tersedia (slow release), hara yang dihasilkan tergantung pada bahan
dasar dan metode pengomposan yang digunakan.
2. Meningkatkan struktur tanah, yaitu melalui peningkatan persentase bahan
organik yang meningkatkan stuktur tanah.
3. Meningkatkan populasi dan aktivitas organisme tanah. Kompos juga
meningkatkan kemampuan mengikat air dan agregat tanah, meningkatkan
infiltrasi, menghalangi terjadinya erosi dan menunjang penyebaran dan
penetrasi akar tanaman.
4. Memperkuat daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit. Berbagai
penelitian telah menunjukkan bahwa tanaman yang diberi pupuk kompos lebih
tahan terhadap hama dibandingkan tanaman yang tidak diberi kompos maupun
yang tidak dipupuk.
Selama pengomposan, bahan-bahan organik didekomposisi terlebih dahulu
menjadi
bentuk-bentuk
anorganiknya.
Faktor-faktor
lingkungan
yang
mempengaruhi pengomposan adalah kadar air, suplai oksigen, suhu dan pH.
Kadar air (kelembaban) diperlukan untuk pertumbuhan mikroorganisme.
Dekomposisi aerob dapat terjadi pada kadar air bahan 30-60%, asalkan dilakukan
pembalikan pada bahan yang dikomposkan. Kadar air yang optimal adalah 5060%. Kadar air yang berlebihan dapat menurunkan suhu dalam gundukan bahanbahan yang dikomposkan, karena menghambat aliran oksigen serta dihasilkannya
bau.
Suplai oksigen yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroorganisme
aerobik adalah 5-15% dari udara yang dibutuhkan atau di atas 5% dari volume
gundukan. Oksigen dibutuhkan untuk mendekomposisi limbah organik yang
dikomposkan. Menurut Obeng dan Wright (1987) konsumsi oksigen yang
diperlukan oleh proses pengomposan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 1)
tahap dalam pengomposan, 2) suhu, 3) tahap dekomposisi bahan, 4) komposisi
26
bahan yang dikomposkan, 5) ukuran partikel, dan 6) kandungan air. Konsumsi
oksigen nampak bervariasi (meningkat dan menurun) secara logaritmik dengan
perubahan suhu.
Kematangan kompos yang digunakan juga menjadi faktor yang
mempengaruhi cepat aplikasinya ke tanaman. Kriteria kematangan kompos
bervariasi tergantung bahan asal kompos, kondisi dan proses dekomposisi selama
pengomposan. Gaur (1981) menyatakan bahwa ada beberapa parameter untuk
menentukan kematangan kompos, yaitu: 1) karakteristik fisik, seperti suhu, warna,
tekstur dan besarnya kelarutan dalam larutan natrium hidroksida atau natrium
fosfat; 2) nisbah C/N, status dari kandungan hara tanaman, dan nilai kompos yang
ditunjukkan oleh uji tanaman, dan 3) tidak berbau dan bebas dari patogen parasit
dan biji rumput-rumputan. Kematangan kompos menurut Harada et al. (1993)
sangat berpengaruh terhadap mutu kompos. Kompos yang sudah matang akan
memiliki kandungan bahan organik yang dapat didekomposisi dengan mudah,
nisbah C/N yang rendah, tidak menyebarkan bau yang ofensif, kandungan kadar
airnya memadai dan tidak mengandung unsur-unsur yang merugikan tanaman.
Oleh sebab itu, kematangan kompos merupakan faktor utama dalam menentukan
kelayakan mutu kompos.
Tanaman Jeruk
Tanaman jeruk memerlukan kondisi tanah yang subur, solum yang dalam,
banyak bahan organik, dan mengandung liat yang tidak terlalu tinggi, sehingga
drainase tanahnya baik. Secara umum, tingkat kemasaman yang terbaik adalah
antara 5.5 – 6.5. Jika pH di bawah 5.0, sering terjadi keracunan Al dan keracunan
Mn pada akar tanaman. Rendahnya pH tanah juga menyebabkan defisiensi hara
seperti kalsium, magnesium, dan fosfor dan Mo (FFTC, 2003).
Tanaman memerlukan air yang cukup untuk pertumbuhan dan
pembentukan bunga serta buah. Tanah yang banyak mengandung pasir dan muka
air tanah tidak lebih dari 150 cm pada musim kering dan pada musim hujan 50 cm
cocok sekali untuk pertumbuhan tanaman jeruk. Curah hujan optimum 1500
mm/th ditambah dengan pengairan. Daerah beriklim kering (2-4 bulan atau 4-6
bulan kering yang menurut Smith-Fergusson digolongkan dalam tipe B dan C).
27
Tanaman jeruk memerlukan oksigen yang cukup di dalam tanah sehingga
bila tanah padat atau berdrainase jelek maka tanaman akan kekurangan oksigen,
dan pertumbuhan tanaman akan terhambat. Pertumbuhan akan menjadi baik bila
hujan dan panas silih berganti sepanjang tahun. Jeruk membutuhkan banyak sinar
matahari, yaitu sekitar 50-70%. Keadaan udara yang lembab akan menimbulkan
lebih banyak serangan hama.
28
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di lapang pada bulan Februari hingga
Desember 2006 di Desa Senyawan, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas,
Kalimantan Barat (Gambar 3). Analisis di laboratorium dilakukan hingga bulan
Maret 2007. Analisis Kimia, Fisika, dan Biologi tanah dilaksanakan di Lab.
Pengembangan Sumberdaya Fisik Lahan, Lab. Kimia dan Kesuburan, Lab. Fisika
dan Konservasi Tanah, dan Lab. Biologi, Departemen Ilmu Tanah dan
Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Sebagian
analisis juga dilakukan di Lab. Kimia Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian,
Universitas Tanjungpura, Pontianak.
Bahan dan Alat
Bahan Tanaman
Bahan tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah jeruk siam
hasil penempelan yang berumur dua tahun. Secara taksonomi, jeruk ini termasuk
Citrus nobilis var microcarva.
Bahan lain
Bahan lain yang digunakan adalah kompos dengan bahan baku kotoran
sapi dan kotoran ayam, bahan organik yang mudah diperoleh di lapang seperti
batang pisang, rumput liar pakan ternak, dan jerami padi. Selain itu, bahan-bahan
kimia digunakan untuk menetapkan parameter pengamatan yang akan ditetapkan
di laboratorium.
Peralatan yang Digunakan
Alat yang digunakan adalah perlengkapan untuk pengambilan contoh
tanah, pembuatan kompos; analisis tanah seperti Three Phasemeter, ring sampel,
satu set ayakan; analisis hara seperti AAS, Spektrofotometer, pH meter, mesin
pengocok, dll.
Metode Penelitian
Kerangka penelitian penelitian secara bagan disajikan dalam Gambar 4.
Penelitian ini dipilah menjadi tiga tahapan kerja, yaitu:
Peta Kabupaten Sambas, Prov. Kalimantan Barat
Peta Kecamatan Tebas
lokasi
Gambar 3. Lokasi penelitian di lapang
17
1. Pembuatan kompos dari berbagai bahan organik
2. Analisis pendahuluan tanah, kompos dan jaringan tanaman
3. Studi pengaruh aplikasi kompos terhadap sifat tanah, komposisi hara dan
pertumbuhan tanaman jeruk
Pembuatan Kompos dari Berbagai Bahan Organik
Kompos dibuat dari bahan mentah sebanyak 2 ton. Pembuatan kompos
yang berasal dari sisa kotoran hewan, langsung ditimbun di tempat pembuatan
kompos. Untuk pembuatan kompos yang berasal dari bahan tanaman yaitu batang
pisang, rumput liar pakan ternak dan jerami padi yang ditemukan di lapang,
dilakukan pencacahan terlebih dahulu dengan memperkecil ukuran bahan yang
akan dikomposkan sekitar 3 hingga 5 cm. Pada saat dimasukkan ke tempat
pengomposan, bahan dibuat lapisan dengan tiap lapis ditambahkan bahan
pembantu berupa pupuk organik cair dan pupuk anorganik untuk mempercepat
pengomposan seperti urea, SP-36 dan kapur berturut-turut sebanyak 5-10 kg, 5 kg,
dan 5 kg untuk tiap 1 ton bahan. Selain bahan-bahan tersebut juga ditambahkan
air tiap lapisan hingga basah. Basahnya kompos dapat diuji dengan memasukkan
kayu ke dalam timbunan dan mengangkatnya kembali. Kondisi basah yang
diinginkan tercapai bila terlihat bahwa kayu tersebut basah namun air yang
menempel tidak sampai menetes. Dapat pula dilakukan dengan menggenggam
bahan. Kondisi basah diperoleh ketika tangan terasa basah, namun tidak ada air
yang menetes.
Selama pembuatan kompos, dilakukan pengukuran suhu, perbaikan aerasi,
dan pengukuran C/N rasio. Kompos yang telah matang ditandai dengan perubahan
warna menjadi coklat kehitaman, C/N yang rendah, dan stabilnya suhu bahan
organik. Lama pengomposan ini bervariasi, kurang lebih 6 minggu. Setelah proses
pengomposan selesai, bahan dikeringanginkan dan diayak pada ayakan 1 cm x 1
cm, kemudian dimasukkan ke dalam karung. Apabila bahan tersebut masih belum
digunakan, maka disimpan pada kondisi lembab dan tidak terkena sinar matahari
langsung. Sebelum diaplikasikan, diambil sampel untuk diketahui sifat kimia
haranya.
18
Analisis Pendahuluan
Sampel diambil secara komposit dari kompos, tanah dan tanaman yang
akan diteliti. Metode yang digunakan untuk analisis berdasarkan Method of Soil
Analysis (USDA). Kompos hanya dianalisis sifat kimianya. Analisis tanah
dilakukan berdasarkan kebutuhan. Untuk analisis sifat fisik dan biologi tanah,
sampel diambil dari dua lapisan tanah, yaitu lapisan atas dan lapisan bawah,
sedangkan untuk analisis sifat kimia dilakukan pada lapisan atas di mana tanaman
mengambil unsur hara. Pada lokasi tersebut diambil pula sampel tanaman berupa
daun.
Setelah sampel tanah diambil, sampel dianalisis meliputi sifat fisik, kimia
maupun biologinya dengan metode yang disajikan pada Tabel 1. Sifat fisik tanah
yang akan diamati meliputi: pengukuran kadar air, tekstur, bobot isi tanah, dan
kemantapan agregat. Sifat kimia meliputi: pengukuran pH, C-organik, N total,
C/N rasio, Ptersedia, Kdd, Cadd, Mgdd, Nadd, Fe, Cu, Zn, dan Mn. Analisis kimia ini
juga dilakukan pada sampel daun dan kompos. Komunitas biologi tanah yang
diamati berupa populasi cacing tanah, respirasi dan CMic tanah.
Sampel tanaman diambil dari bagian tanaman berupa daun. Daun yang
dianalisis merupakan daun kelima dari ujung cabang yang tidak berbuah dan telah
berkembang sempurna. Sampel yang diambil dianalisis sifat kimianya berupa
pengukuran kadar nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), natrium (Na), kalsium
(Ca), magnesium (Mg) dan unsur mikro berupa besi (Fe), tembaga (Cu), seng
(Zn), dan mangan (Mn) dengan metode yang disajikan pada Tabel 2.
Metode pengabuan kering tanaman dilakukan dengan menimbang 1 gr
sampel ditempatkan pada cawan porselen kemudian dimasukkan ke dalam muffle,
dibakar pada suhu 600oC selama 2 jam. Setelah suhu muffle dingin (<100oC),
cawan dikeluarkan. Setelah cawan dingin, tambahkan 5 tetes HCl pekat ke dalam
sampel, kemudian dipanaskan kembali di atas pemanas bersuhu 90oC hingga
semua uap hilang, dan dinginkan kembali. Ulangi kegiatan ini sebanyak 3 kali.
Setelah semua usai, tambahkan 10 ml HCl 1N, aduk rata kemudian disaring. Hasil
saringan kemudian bisa digunakan selanjutnya untuk pengukuran unsur mikro,
sedang unsur lain perlu dilakukan pengenceran 50 kali.
19
Tabel 1. Metode yang digunakan untuk analisis sifat tanah
Sifat Tanah
Metode
Sifat Tanah
Sifat Kimia
Metode
Sifat Fisik
pH H2O (1:1)
Elektroda gelas
Kemantapan agregat Pengayakan basah
pH KCl
Elektroda gelas
Bobot isi tanah
C-organik
Walkley Black
N total
Kjeldahl
Porositas
perhitungan
C/N rasio
perhitungan
Tekstur
pipet
P tersedia
Bray-1
Kdd
NH4OAC pH 7.0
Cadd
NH4OAC pH 7.0
Mgdd
NH4OAC pH 7.0
Nadd
NH4OAC pH 7.0
Populasi Cacing
Hand sorting
Aldd
N KCl Titrasi
C mic
Sonifikasi
Hdd
N KCl Titrasi
Fe
0.05 N, AAS
Cu
0.05 N, AAS
Zn
0.05 N, AAS
Mn
0.05 N, AAS
Gravimetrik,
ring sampel
Sifat Biologi
(Djajakirana, 2004)
Respirasi
Verstraete (1981)
dalam Anas (1989)
Tabel 2. Metode yang digunakan untuk analisis tanaman
Analisis Tanaman
Metode
N
Micro Kjeldahl
P
Pengabuan kering; Spektrofotometer
K, Na, Ca, Mg
Pengabuan kering; AAS; Flamefotometer
Fe, Cu, Zn, Mn
Pengabuan kering; AAS
Aplikasi Kompos
Aplikasi kompos ini dilakukan dengan pengambilan sampel tanaman dari
total populasi yang ada. Dari lima jenis kompos yang ada, dibuat tujuh perlakuan
yaitu aplikasi kompos yang berasal dari kotoran sapi, kotoran ayam, rumput liar
pakan ternak, batang pisang, jerami padi, dan campuran dari lima kompos yang
ada, masing-masing dibagi sesuai dengan hasil pengomposan yang diperoleh.
Selain itu, diambil pula kelompok tanaman sebagai kontrol yang tidak
ditambahkan kompos, hanya diberi perlakuan yang sama yaitu trumbuk
20
ditinggikan. Untuk aplikasinya, tiap perlakuan kompos diberikan pada sembilan
tanaman, dan hanya tiga tanaman yang diambil sebagai sampel pengamatan.
Aplikasi dilakukan dengan memberikan kompos pada tiap tanaman dengan
metode circle banding, di mana pupuk dicampur merata di sekitar tanaman. Pada
akhir pengamatan, dilakukan analisis tanah, berupa beberapa parameter kimia,
fisika, dan biologi tanah.
Pengamatan Pertumbuhan Jeruk
Setelah penambahan bahan organik, tanaman diamati secara morfologi
melalui pengukuran kedalaman perakaran, dan diameter tajuk tanaman secara
berkala juga analisis jaringan daun. Pengamatan ini dilakukan sebanyak dua kali
yaitu tiga bulan dan enam bulan setelah aplikasi. Setelah itu juga dilakukan
penghitungan jumlah buah.
Analisis Data
Percobaan ini dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap dengan tujuh
perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Model hipotetik rancangan percobaan
untuk analisis statistik adalah sebagai berikut:
Yij = µ + τi + εij
Di mana:
i
: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
j
: 1, 2, 3
Yij : Pengamatan pada perlakuan penambahan kompos ke-i dan ulangan ke-j
µ
: Rataan umum
τi
: Pengaruh perlakuan penambahan kompos ke-i
εij
: Pengaruh acak pada perlakuan penambahan kompos ke-i dan ulangan ke-j
Jika perlakuan memberikan pengaruh yang nyata, maka dilakukan uji lanjut
menurut Duncan pada selang kepercayaan 95%.
21
Survai Lapang
Pembuatan
Kompos
Aplikasi ke
Tanaman Jeruk
Analisis
Pendahuluan
Pengamatan Akar dan
Pertumbuhan Tanaman
Analisis Tanaman
Analisis Tanah
Sifat
Fisik
Sifat
Kimia
Sifat
Biologi
Kadar Hara Tanaman
Jumlah Buah
Gambar 4. Kerangka pemikiran penelitian yang dilakukan
22
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan pengamatan setelah melaksanakan penelitian, diperoleh hasil
yang disusun dengan sistematika hasil pengomposan, kualitas kompos dari
berbagai bahan organik, pengaruh kompos terhadap sifat kimia, biologi dan fisika
tanah, pengaruh kompos terhadap kadar hara dan pertumbuhan tanaman. Selain
itu, dilihat pula peluang bisnis untuk mengembangkan kompos.
Hasil Pengomposan
Lamanya proses dan hasil pengomposan yang dilakukan di lapang
disajikan pada Tabel 3. Lamanya pengomposan menunjukkan kecepatan bahan
baku untuk dikomposkan. Terlihat dari tabel bahwa kompos dari rumput
mengalami proses dekomposisi paling lama yaitu 68 hari. Rumput yang
digunakan adalah rumput liar yang mengandung lignin sehingga lebih sulit untuk
terdekomposisi. Selain kandungan bahan, sifat bahan juga mempengaruhi
lamanya pengomposan.
Pengomposan dari bahan tanaman lebih lama dibandingkan dari kotoran
hewan. Kotoran hewan banyak mengandung selulosa yang lebih mudah
terdekomposisi, sedangkan sisa tanaman walaupun juga mengandung selulosa
namun juga mengandung lignin maupun polifenol yang lebih sulit terdekomposisi
(Brady, 1990).
Jenis bahan baku dan proses pengomposan juga mempengaruhi hasil yang
diperoleh. Dari dua ton bahan mentah, diperoleh hasil kotoran hewan yang lebih
berat dibandingkan dengan sisa tanaman terkait dengan kadar air maupun jumlah
padatan bahan asalnya. Namun bila dilihat dari bobot isi, kotoran hewan memiliki
bobot isi yang lebih besar dibandingkan sisa tanaman.
Tabel 3. Lamanya proses dan hasil pengomposan
Jenis Kompos
Batang Pisang
Kotoran Ayam
Kotoran Sapi
Rumput
Jerami Padi
Lama Pengomposan
(hari)
30
56
25
68
50
Hasil yang diperoleh
(kg)
250
472
452
288
432
23
Kualitas Kompos dari Berbagai Bahan Organik
Bahan kompos yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan adanya
ketersediaan bahan di lapang, berupa kotoran ayam, kotoran sapi, batang pisang,
rumput dan jerami padi. Sifat masing-masing kompos baik kadar air maupun
kandungan hara masing-masing kompos yang digunakan disajikan pada Tabel 4.
Perbedaan kandungan kadar air terkait dengan kemampuan untuk memegang air.
Perbedaan yang paling nyata pada kompos dari bahan batang pisang yang
memiliki kadar air yang sangat besar (257,98%) dengan kondisi yang sama,
setelah proses pengomposan dilakukan pengeringan terhadap kompos. Dari hasil
pengukuran ini menunjukkan bahwa kompos dari bahan batang pisang memiliki
kemampuan menahan air yang sangat besar. Hal ini justru menunjukkan
kurangnya jumlah hara yang ditambahkan ke dalam tanah dibanding kompos
lainnya.
Pengukuran pH yang dilakukan pada tiap kompos menunjukkan bahwa
kompos yang dihasilkan memiliki pH antara enam hingga delapan. Terlihat bahwa
pH H2O lebih tinggi dibanding pH KCl, kecuali pada kompos kotoran ayam yang
memiliki pH H2O yang sama dengan pH KCl. Kompos dari batang pisang dan
jerami padi memiliki pH di atas delapan, pH kompos kotoran ayam dan rumput di
atas tujuh, dan hanya kompos dari kotoran sapi yang kurang dari tujuh.
Kemasaman bahan kompos juga mempengaruhi kandungan unsur hara di
dalamnya. Selain itu, kandungan unsur hara kompos juga dipengaruhi oleh jenis
bahan, serapan hara bagi tanaman dan jenis makanan untuk bahan organik yang
berasal dari kotoran hewan.
Hasil analisis juga memperlihatkan karakter masing-masing kompos.
Kematangan kompos dapat dilihat dari kandungan karbon dan nitrogen melalui
rasio C/N. Menurut Leaon (1995), nisbah C/N kompos yang stabil antara 10-30.
Rasio C/N yang tinggi (>30) menunjukkan nitrogen yang belum termineralisasi
sehingga belum tersedia bagi tanaman. Kompos rumput masih mengandung
karbon yang tinggi, namun bila dilihat dari rasio C/N, kompos ini sudah stabil
dan nitrogen yang ada sudah tersedia bagi tanaman. Kandungan nitrogen tertinggi
dimiliki oleh kompos dari jerami padi. Dari hasil terlihat semua kompos memiliki
nilai C/N yang lebih kecil dari 30. Ini menunjukkan semua kompos sudah
24
termineralisasi, dan nitrogen yang tersedia siap dimanfaatkan tanaman. Dilihat
dari jumlahnya, kompos yang berasal dari jerami padi memiliki kandungan
nitrogen yang lebih tinggi (2.48%) dari pada kompos yang lain.
Tabel 4. Sifat kimia kompos dari berbagai bahan
Parameter
Kadar Air
pH H2O (1:5)
pH KCl (1:5)
C
N
C/N
KTK
P
P tersedia
K total
K tersedia
Na total
Na tersedia
Ca total
Ca tersedia
Mg total
Mg tersedia
Fe total
Fe tersedia
Cu total
Cu tersedia
Zn total
Zn tersedia
Mn total
Mn tersedia
Satuan
%
%
%
me/100g
%
%
%
%
%
%
%
%
%
%
ppm
ppm
ppm
ppm
ppm
ppm
ppm
ppm
Batang
Pisang
257,98
8,17
7,85
28,27
1,28
22,09
129,49
2,38
0,48
2,79
5,46
0,37
0,70
12,31
1,99
3,44
0,95
2368,4
1,6
14,0
1,0
99,3
1,3
283,5
20,5
Kompos
Kotoran Kotoran
Ayam
Sapi
54,63
75,46
7,10
7,17
22,62
1,72
13,15
129,02
3,48
0,48
1,55
0,79
0,46
0,52
21,59
1,44
1,14
1,24
2609,5
2,7
24,9
2,8
177,2
3,3
377,7
24,4
6,69
6,47
30,23
1,66
18,21
122,59
1,09
0,48
1,10
5,62
0,29
1,41
3,55
3,73
0,79
1,70
1131,7
9,4
24,0
3,7
182,3
60,1
445,1
274,8
52,06
Jerami
Padi
46,93
7,58
7,26
40,44
1,78
22,72
155,00
1,50
0,51
2,40
4,67
0,49
1,09
6,12
1,40
1,44
0,81
1330,6
7,6
14,9
1,2
101,4
2,8
368,2
82,5
8,08
7,59
35,95
2,48
14,50
108,09
0,82
0,33
1,58
4,50
0,36
0,93
3,49
1,33
0,76
0,81
1127,7
14,7
11,0
3,5
81,0
7,8
388,1
174,0
Rumput
Kandungan fosfor dan basa-basa dalam kompos berbeda-beda tergantung
bahan asalnya. Kompos dari batang pisang mengandung kalium dan magnesium
yang tinggi. Ultra et al. (2005) menyatakan bahwa tanaman pisang memang
banyak menyerap kalium, dan kompos pisang yang diaplikasikan ke tanaman
pisang mampu memberikan serapan kalium yang tinggi sehingga kadarnya tinggi
pada buah pisang (Abd El-Naby, 2000). Kompos kotoran ayam mengandung
25
fosfor dan kalsium yang tinggi. Hasil penelitian Suzuki et al. (2004) juga
menunjukkan bahwa kompos kotoran ayam mengandung fosfor dan kalsium yang
tinggi. Kompos kotoran sapi terlihat tidak memiliki kandungan hara yang
dominan dibanding yang lain. Ini terkait dengan pH yang dimiliki oleh kotoran
sapi yang lebih rendah dibanding kompos lain.
Kandungan unsur mikro berupa Fe, Cu, Zn dan Mn juga dianalisis pada
penelitian ini. Kandungan total besi pada kompos yang berasal dari batang pisang
dan kotoran ayam lebih tinggi dibandingkan kompos yang lain. Kompos kotoran
sapi mengandung Mn dan Zn yang lebih tinggi dibanding yang lain. Kandungan
unsur mikro ini juga tergantung dari jenis bahan asalnya. Faktor ini
mempengaruhi total nutrisi dalam kompos karena serapan hara tanaman yang
berbeda tiap jenis tanaman bagi kompos yang berasal dari tanaman dan jenis
konsumsi pakan ternak bagi kompos yang berasal dari kotoran hewan.
Terlihat pada Tabel 4 bahwa tidak semua total hara lebih besar dari pada
hara yang tersedia, misalnya pada unsur kalium. Hal ini dapat terjadi karena pada
saat pengabuan untuk mengukur total hara kompos terjadi pembentukan kristal
silikat sehingga kalium yang ada terikat pada kristal tersebut. Dari penelitian Sardi
(2006) menunjukkan bahwa pengabuan sekam padi pada 700oC akan membentuk
kristal silikat yang memungkinkan terjadinya pengikatan bahan lain sehingga
menjadi tidak tersedia. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua total
unsur hara dapat terukur dari bahan baku kompos yang digunakan dengan
pengabuan suhu 600oC.
Banyaknya bahan yang diberikan ke tanaman tergantung dari jumlah
bahan yang dihasilkan dari seluruh proses. Jumlah kompos yang diaplikasikan
pada tiap pohon dibagi berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengomposan. Tabel
5 menunjukkan banyaknya hara tersedia yang ditambahkan ke dalam tanah.
Jumlah hara tersedia yang ditambahkan ini diperoleh dari hasil perhitungan
berdasarkan jumlah kompos yang ditambahkan ke dalam tanah dikonversi
berdasarkan kadar airnya. Selanjutnya dikonversi kembali berdasarkan jumlah
hara yang tersedia dari hasil analisis.
26
Bobot bersih diperoleh sama seperti menghitung bobot kering mutlak,
yaitu bobot yang diaplikasikan dibagi dengan (1+KA). Secara matematis ditulis
sebagai berikut:
1
× kompos yang diaplikasikan
(1 + KA)
Hara tersedia yang ditambahkan dihitung berdasarkan konversi hara
Bobot Bersih =
tersedia dari hasil analisis dikalikan dengan bobot bersih, dapat ditulis sebagai
berikut:
Bobot yang ditambahkan = hara yang tersedia × bobot bersih
Misalkan untuk perhitungan bobot bersih kompos batang pisang. Dengan kadar
air 257,98% diperoleh berat bersih 6,70 kg. Untuk menghitung unsur fosfor
tersedia yang ditambahkan, dengan hasil analisis ketersediaan fosfor batang
pisang adalah 0,48%, maka diperoleh jumlah yang ditambahkan sebanyak 0,03
kg. Demikian pula untuk perhitungan unsur yang lain.
Dari hasil perhitungan tersebut ditunjukkan bahwa walaupun kalsium total
dari kompos kotoran ayam sangat tinggi, tidak menjadikan jumlah hara tersedia
yang ditambahkan ke dalam tanah tinggi. Dari Tabel 5 terlihat bahwa aplikasi
kompos kotoran sapi menyediakan hara kalium, natrium, kalsium, dan magnesium
lebih banyak dibanding kompos lain.
Tabel 5. Jumlah hara tersedia yang ditambahkan
Parameter
Kadar Air
Kompos yang
diaplikasikan
Bobot Bersih
C
P
K
Na
Ca
Mg
Fe
Cu
Zn
Mn
Satuan
Kompos
Kotoran
Rumput
Sapi
75,46
52,06
Jerami
Padi
46,93
%
Batang
Pisang
257,98
Kotoran
Ayam
54,63
kg
24
40
40
27
40
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
mg
mg
mg
mg
6,70
1,90
0,03
0,37
0,05
0,13
0,06
10,73
6,70
8,72
137,44
25,87
5,85
0,12
0,20
0,13
0,37
0,32
69,84
72,43
85,37
631,18
22,80
6,89
0,11
1,28
0,32
0,85
0,39
214,29
84,35
1370,11
6264,68
17,76
7,18
0,09
0,83
0,19
0,25
0,14
134,95
21,31
49,72
1464,88
27,22
9,79
0,09
1,23
0,25
0,36
0,22
400,19
95,28
212,35
4736,95
27
Pengaruh Kompos terhadap Sifat Kimia Tanah
Penelitian aplikasi kompos di lapang dilakukan bulan Juni 2006 pada
tanah Alluvial (Entisol). Analisis pendahuluan terhadap tanah menunjukkan masih
memiliki kandungan bahan organik yang tinggi sebesar 3.59%. Kandungan pH
H2O 1:1 sebesar 4.29 dan pH KCl (1:1) sebesar 3.23. Ciri lain yang dimiliki tanah
antara lain N-total 0.17%, P 13 ppm, Al 2.45 me/100g, dan H 1.65 me/100g.
Kandungan basa-basa yaitu K sebanyak 0.39 me/100g, Na 3.20 me/100g, Ca 3.2
me/100g, dan Mg 1.71 me/100g. Unsur mikro yang juga dianalisis berupa Fe
sebanyak 88.1 ppm, Cu 1.1 ppm, Zn 6.0 ppm dan 30.3 ppm. Secara lebih lengkap,
analisis tanah pendahuluan di lokasi penelitian disajikan pada Tabel Lampiran 1.
Referensi yang ditemukan menunjukkan, hanya daftar kecukupan fosfor
untuk tanaman jeruk yang ditemukan pada analisis tanah, yaitu 40 ppm P untuk
tanah yang diekstrak dengan Bray I, data Ca dan Mg yang ditemukan dianalisis
dengan Mehlich-1 menunjukkan kecukupan Ca dan Mg bila tersedia 250 ppm Ca
dan 30 ppm Mg (Obreza et al., 1999). Hasil yang diperoleh dari analisis tanah
menunjukkan bahwa tanah pada lokasi penelitian mengalami kekurangan fosfor.
Aplikasi bahan organik berupa kompos ke tanaman jeruk memberikan
pengaruh kepada kondisi tanah selanjutnya. Beberapa sifat tanah yang dianalisis
menunjukkan adanya perubahan sifat-sifat kimia tanah. Perubahan sifat kimia
tanah setelah aplikasi kompos disajikan pada Tabel 6 dan hasil analisis ragam
disajikan pada Tabel Lampiran 3 dan Tabel Lampiran 5.
Aplikasi bahan organik berupa kompos berpengaruh terhadap perubahan
pH H2O, baik pada bulan ketiga maupun bulan keenam setelah aplikasi. Pada
kondisi tiga bulan setelah aplikasi, perubahan pH terbesar terjadi pada aplikasi
kompos jerami padi dan batang pisang, walaupun dari hasil analisis ragam terlihat
hanya aplikasi kompos batang pisang yang nyata berbeda dibandingkan dengan
kontrol. Selanjutnya, setelah enam bulan aplikasi terjadi perbedaan yang sangat
nyata pada perlakuan kompos yang berasal dari kotoran ayam. Kompos
meningkatkan kation yang terikat, terutama hidrogen di dalam tanah.
Kadar hidrogen dan aluminium yang dapat dipertukarkan dalam tanah
(Aldd dan Hdd) berubah dengan adanya aplikasi kompos. Hasil analisis
menunjukkan adanya pengaruh kompos yang diaplikasikan terhadap Hdd. Pada
28
bulan ketiga setelah aplikasi mulai terlihat penurunan kadar Hdd, demikian pula
setelah enam bulan setelah aplikasi. Hal ini nampak jelas pada aplikasi kompos
batang pisang yang hanya sebesar 0,20 me/100 g sangat berbeda dengan kontrol
yang sebesar 0,92 me/100g tanah.
Tabel 6. Pengaruh perlakuan kompos terhadap sifat kimia tanah setelah tiga dan
enam bulan aplikasi
Para
Perlakuan Kompos
Satuan
3,92 ab
Batang
Pisang
4,43 c
H
me/100g 1,46 ab
1,55 b
0,90 ab
0,77 ab
Al
me/100g 3,12 d
1,11 abc
1,03 ab
2,16 cd
3,47 b
2,75 a
3,71 b
3,72 b
0,23 a
0,28 ab
meter
kontrol
pH H2O
C org
%
3,50 b
%
0,25 ab
Kotoran Kotoran
Ayam
Sapi
4,16 abc 4,04 ab
Rumput
4,06 abc
Jerami Padi Campuran
4,28 bc
3,87 a
0,94 ab
0,83 a
0,58 ab
1,81 abc
0,90 a
2,09 bcd
3,89 b
3,45 b
Bulan
N
ketiga
P
ppm 32,6 a
K
me/100g 0,14 a
0,26 a
Na
me/100g 0,57 a
0,94 ab
3,18 c
0,93 ab
1,66 b
3,73 c
1,39 ab
Ca
me/100g 6,02 a
7,46 b
7,97 b
6,81 ab
6,63 ab
7,89 b
7,03 ab
Mg
me/100g 4,42 a
6,01 bc
5,30 abc 5,36 abc
5,47 abc
6,09 c
4,95 ab
pH H2O
1:1
0,24 ab
84,5 ab
82,6 ab 64,5 a
0,60 b
0,14 a
0,27 ab
0,32 b
0,30 ab
69,2 a
132,5 b
62,9 a
0,30 a
0,62 b
0,29 a
3,97 a
4,56 a
6,01 b
4,03 a
4,35 a
4,26 a
4,90 a
H
me/100g 0,92 b
0,20 a
0,61 ab
0,91 b
0,85 b
0,72 b
0,52 ab
Al
me/100g 4,12 c
1,29 ab
0,07 a
2,94 bc
1,21 ab
1,92 abc
1,64 abc
C org
%
3,75 ab
3,36 a
3,44 a
4,97 c
4,65 bc
3,87 ab
4,64 bc
Bulan
N
%
0,24 ab
0,24 a
0,27 abc
0,31 cd
0,30 bcd
0,30 abcd
0,35 d
keenam
P
ppm 26,8 a
105,4 b
211,2 c
109,5 b
105,5 b
108,7 b
105,9 b
K
me/100g 0,31 a
0,85 ab
1,46 b
0,94 ab
0,76 ab
1,20 b
1,03 b
Na
me/100g 0,32 a
0,48 ab
0,71 b
0,58 b
0,56 ab
0,68 b
0,64 b
Ca
me/100g 3,01 a
5,50 ab
15,10 c
5,70 ab
5,80 ab
5,10 a
10,00 b
Mg
me/100g 4,51 a
6,82 ab
8,17 b
6,75 ab
6,75 ab
5,58 ab
7,71 b
Keterangan: angka pada baris yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata
pada taraf 5% menurut uji Duncan
Terjadinya peningkatan pH tanah diikuti dengan menurunnya kemasaman
tanah yang dapat ditukar. Pengaruh yang nyata terhadap perubahan Aldd pada
bulan ketiga terlihat oleh aplikasi kompos batang pisang, rumput dan kotoran
ayam. Bahkan kompos jerami padi memberikan pengaruh yang nyata yaitu hanya
0,90 me Al/100 g tanah. Demikian pula pada bulan keenam, perbedaan kadar Aldd
akibat aplikasi kompos ini dapat mencapai 4 me/100g setelah enam bulan aplikasi
kompos kotoran ayam. Hal ini terkait dengan pH tanah yang mulai meningkat
sehingga Al mulai terikat ke bahan organik yang ditambahkan. Terlihat pula
29
adanya hubungan terbalik antara pH dan kandungan Aldd di dalam tanah. Hal ini
tampak jelas pada perlakuan kompos kotoran ayam pada bulan keenam, pH H2O
tanah mencolok tinggi (6,01) dan kandungan Aldd yang sangat rendah (0,07
me/100 g). Kemampuan bahan organik untuk mengurangi jumlah Al yang dapat
dipertukarkan ini juga telah didemonstrasikan oleh Hargrove dan Thomas (1981)
dalam Syers dan Crasswell (1995).
C organik dan N total tanah
Kadar C organik tanah pada lokasi penelitian termasuk tinggi yaitu sebesar
3,59 %. Pada tiga bulan setelah aplikasi, hanya terjadi perbedaan pada aplikasi
kompos kotoran ayam yang menurunkan kadar C organik. Eve et al. (2002)
menyatakan bahwa kadar C di dalam tanah tergantung pada tekstur tanah, iklim,
tipe dan pertumbuhan tanaman, sejarah penggunaan lahan dan manajemen lahan.
Terjadinya penurunan kadar C organik tanah akibat aplikasi kompos kotoran
ayam bisa diakibatkan karena kompos tersebut cepat terurai dalam tanah. Enam
bulan setelah aplikasi, kompos batang pisang dan kotoran ayam lebih rendah
dibandingkan kontrol yang mengandung 3,75% C organik. Hanya aplikasi kotoran
sapi yang meningkatkan kandungan C organik hingga mencapai 4,97% yang
berbeda nyata dengan kontrol.
Penurunan kadar C organik yang terukur terkait dengan priming effect
negatif dari kompos. Mikroba yang ada di dalam tanah memanfaatkan bahan
organik yang ditambahkan ke dalam tanah sebagai sumber energi utama. Setelah
bahan organik yang ditambahkan telah terdekomposisi sempurna, mikroba
kembali memanfaatkan bahan organik yang ada di dalam tanah. Hal inilah yang
menyebabkan kadar C organik menjadi rendah dibanding kondisi awal tanah.
Ketersediaan nitrogen terlihat belum nyata akibat aplikasi kompos pada
bulan ketiga. Jumlah yang lebih tinggi terutama akibat penambahan kompos
jerami padi. Hal ini terkait dengan penambahan nitrogen tersedia tiap tanaman
dari jerami padi yang lebih tinggi dibanding penambahan kompos lain. Namun
bila dilihat pada bulan keenam, ketersediaannya di dalam tanah menurun, dan
hanya perlakuan kompos kotoran sapi dan campuran berbagai kompos yang
memberikan pengaruh yang berbeda. Penambahan hara tersedia selain kompos
jerami padi yang diberikan dalam jumlah sedikit, belum dapat terurai sempurna
30
pada bulan ketiga, terkait iklim yang panas dengan curah hujan rendah.
Sedangkan pada bulan keenam setelah aplikasi, curah hujan yang meningkat dari
bulan ketiga aplikasi (bulan September) dimungkinkan mempengaruhi kelarutan
nitrogen sehingga ketersediaannya semakin meningkat di dalam tanah (Tabel
Lampiran 7).
Fosfor dan Basa dapat dipertukarkan
Hasil analisis fosfor dengan ekstrak Bray 1 dapat dilihat pada Tabel 6.
Analisis tanah memperlihatkan terjadinya kenaikan kadar fosfor setelah
pemberian perlakuan. Pada tiga bulan pertama pemberian kompos terlihat
perbedaan nyata hanya antara perlakuan kontrol (32,6 ppm) dengan jerami padi
(132,5 ppm). Fosfor bersifat lambat tersedia, terlihat setelah enam bulan aplikasi
semua kompos berbeda nyata dengan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa dengan
adanya aplikasi kompos ke dalam tanah mampu menyediakan fosfor ke dalam
tanah, dan kompos kotoran ayam yang diberikan dalam jumlah fosfor tertinggi
juga menyediakan fosfor tertinggi pula di dalam tanah. Hasil penelitian Haynes
dan Mokolobate (2001) dan Madejon et al. (2003) juga menunjukkan bahwa
penggunaan sisa bahan organik dapat meningkatkan ketersediaan fosfor.
Ekstraksi basa-basa dengan NH4OAC pH 7,0 memperlihatkan kenaikan
kadar K, Ca, Mg, dan Na yang tersedia dalam tanah akibat perlakuan. Aplikasi
kompos kotoran ayam dan jerami padi meningkatkan kadar kalium secara nyata
dalam tanah pada bulan ketiga. Tingginya kalium tersedia di tanah akibat aplikasi
kompos kotoran ayam tidak sejalan dengan jumlah kalium yang ditambahkan ke
dalam tanah. Hal ini menunjukkan bahwa kompos kotoran ayam mampu
melepaskan kalium terikat yang lebih besar dibanding kompos lain. Setelah enam
bulan, kadar kalium akibat perlakuan kompos campuran (1,03 me/100g), jerami
padi (1,20 me/100g) dan kotoran ayam (1,46 me/100g) berbeda nyata dengan
perlakuan kontrol yang hanya mengandung 0,31 me/100g. Peningkatan basa-basa
ini pula yang turut mempengaruhi peningkatan pH tanah terutama akibat aplikasi
kompos kotoran ayam.
Peningkatan tertinggi untuk unsur kalsium tersedia terjadi pada perlakuan
kompos kotoran ayam (7,97 me/100g) dibandingkan kontrol (6,02 me/100g).
Perlakuan kompos batang pisang (7,46 me/100g) dan jerami padi (7,89 me/100g)
31
juga terjadi perbedaan yang nyata. Dengan analisis lanjut Duncan, pada bulan
ketiga hanya perlakuan aplikasi kompos tersebut berbeda nyata dibanding kontrol.
Selanjutnya pada bulan keenam hanya kompos campuran (10,03 me/100g) dan
kotoran ayam (15,09 me/100g) yang berbeda nyata dengan kontrol (3,08
me/100g).
Untuk ketersediaan natrium juga diperlihatkan terjadinya peningkatan
pada tiga bulan setelah aplikasi kompos rumput, kotoran ayam dan jerami padi
yang memberikan perbedaan nyata terhadap kontrol dan setelah enam bulan
kompos kotoran sapi, campuran, jerami padi dan kotoran ayam yang memberikan
perbedaan nyata.
Unsur Mikro
Hasil analisis unsur mikro dengan menggunakan ekstrak HCl 0,05 N
disajikan pada Tabel 7. Berdasarkan rata-rata unsur terekstrak bila ditinjau kadar
Fe dan Cu terjadi penurunan sedangkan Zn dan Mn relatif meningkat setelah tiga
dan enam bulan aplikasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan adanya
aplikasi kompos mampu menurunkan kadar Fe dari 42,7 ppm pada bulan ketiga
hingga mencapai 15,3 ppm setelah ditambahkan kompos dari jerami padi. Di
bulan keenam, kadar Fe dalam tanah terus menurun, dan yang terendah adalah
hasil dari aplikasi kompos kotoran ayam. Ini menunjukkan bahwa unsur mikro
tersebut diikat oleh bahan organik. Kadar Cu dan Zn tidak mengalami perubahan
yang nyata akibat perlakuan, sedangkan kadar Mn meningkat pada bulan ketiga.
Hal ini terlihat dari perlakuan kontrol yang mengandung 24,5 ppm Mn yang
berbeda nyata terutama dengan perlakuan kompos batang pisang (32,9 ppm) dan
jerami padi (64,2 ppm). Pada bulan keenam, konsentrasi Mn lebih tinggi
dibanding kontrol, kecuali pada kompos kotoran ayam. Perlakuan kompos kotoran
sapi (49,0 ppm) sangat berbeda dengan kontrol (23,8 ppm), sedangkan akibat
perlakuan kompos kotoran ayam, tanah hanya mengandung 12,4 ppm Mn yang
tidak berbeda nyata dengan kontrol.
Pemberian bahan organik berupa kompos pada penelitian ini berpengaruh
terhadap ketersediaan unsur mikro dalam tanah. Pengaruh perlakuan ini
menunjukkan bahwa dengan aplikasi kompos umumnya membuat Fe dan Cu
menjadi lebih terikat sehingga menjadi kurang tersedia. Hal ini terjadi pada bulan
32
ketiga dan keenam setelah aplikasi. Ketersediaan Zn secara umum meningkat dan
ketersediaan Mn bervariasi tergantung jenis kompos yang digunakan.
Banyaknya unsur mikro yang ditambahkan ke dalam tanah tidak
menunjukkan semakin banyaknya ketersediaan unsur hara mikro yang teranalisis.
Hal ini menunjukkan bahwa unsur mikro yang tersedia di dalam kompos masih
bereaksi dalam tanah untuk menjadi tersedia di dalam tanah.
Tabel 7. Pengaruh perlakuan kompos terhadap unsur mikro tanah setelah tiga dan
enam bulan aplikasi (ppm)
Perlakuan Kompos
Parameter
Fe
42,7 d
Batang
Pisang
20,6 ab
Bulan
Cu
0,8 a
0,5 a
0,5 a
0,5 a
0,7 a
0,3 a
0,4 a
ketiga
Zn
3,4 a
3,4 a
5,9 a
7,2 a
4,1 a
7,3 a
6,2 a
Mn
24,5 a
32,9 b
23,5 a
29,8 ab
25,7 ab
64,2 c
24,7 a
Fe
26,5 c
9,9 ab
2,2 a
14,5 ab
17,8 bc
12,2 ab
8,7 ab
Bulan
Cu
0,5 b
0,1 a
0,3 a
0,3 ab
0,5 b
0,5 b
0,4 b
keenam
Zn
2,8 a
2,6 a
3,2 a
10,0 b
3,7 a
3,8 a
3,6 a
Mn
23,8 ab
33,3 bc
12,4 a
49,0 d
34,1 bc
42,3 cd
23,7 ab
Kontrol
Kotoran
Ayam
36,9 cd
Kotoran
Rumput
Sapi
26,4 abc 36,3 bcd
Jerami
Campuran
Padi
15,3 a
27,3 abcd
Keterangan: angka pada baris yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata
pada taraf 5% menurut uji Duncan
Nitrat
Nitrogen yang berada di dalam tanah dalam bentuk ammonium (NH4+) dan
nitrat (NO3-). Adanya bahan organik tanah, maka akan terjadi mineralisasi
melepaskan NH4+ dan proses nitrifikasi menghasilkan NO3-. Penelitian ini hanya
melihat kandungan nitrat pada awal dan enam bulan setelah aplikasi yang
disajikan pada Tabel 8. Dari data tabel tersebut terlihat bahwa nitrat yang
terkandung di dalam tanah lebih terus meningkat dibandingkan sebelum aplikasi
kompos. Konsentrasi nitrat ini terus meningkat setelah diaplikasikan kompos ke
dalam tanah. Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi kompos meningkatkan
konsentrasi nitrat di dalam tanah.
Tingginya kandungan nitrat di dalam tanah terlihat begitu besar pada
aplikasi kompos kotoran sapi. Hal ini didukung oleh tingginya kandungan
nitrogen di dalam tanah yang diaplikasikan kotoran sapi walaupun tak sebanyak
kandungan nitrogen pada tanah yang diaplikasikan kompos campuran. Hal ini
33
menunjukkan bahwa perlakuan kompos sapi lebih mampu menyediakan nitrogen
pada tanaman.
Tabel 8. Pengaruh perlakuan kompos terhadap kandungan nitrat tanah pada
kondisi awal dan setelah enam bulan aplikasi
Perlakuan
Para
meter
Satuan
NO3
mg/kg 11,26
Awal Kontrol
29,64
Jerami
Batang Kotoran Kotoran
Campuran
Rumput
Padi
Pisang
Ayam Sapi
34,62
47,74 59,83 34,62 41,10
50,02
Pengaruh Kompos terhadap Sifat Biologi Tanah
Penelitian ini juga melihat pengaruh pemberian kompos terhadap
perubahan sifat biologi tanah berupa populasi cacing, respirasi dan karbon
mikroorganisme (CMic).
Populasi Cacing
Aplikasi kompos pada tanaman jeruk memberikan pengaruh terhadap
populasi cacing tanah. Populasi cacing yang ditemukan di lapang disajikan pada
Gambar 5. Di awal penelitian ditemukan cacing rata-rata 260 ekor/m2. Menurut
Curry (1998), cacing tanah jarang ditemukan pada tanah dengan pH <4.5, padahal
tanah awal memiliki pH 4,29. Hal ini dapat terjadi karena tanah yang diteliti
masih memiliki kadar karbon yang tinggi (3,59%).
Pada tiga bulan setelah aplikasi kompos, beberapa perlakuan menurunkan
populasi cacing, yaitu aplikasi kompos jerami padi, rumput, dan kotoran ayam.
Namun hal ini tidak menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata dengan kontrol
(287 ekor/m2). Pengaruh yang nyata ditunjukkan akibat aplikasi kompos
campuran dan kotoran sapi, berturut-turut ditemukan 427 dan 430 ekor/m2.
Pada bulan keenam, terjadi peningkatan jumlah cacing yang sangat besar.
Perlakuan kontrol hanya ditemukan cacing rata-rata 437 ekor/m2, sedangkan
perlakuan yang memberikan pengaruh yang sangat nyata yaitu perlakuan jerami
padi dan rumput masing–masing ditemukan 906 dan 1099 ekor/m2. Banyaknya
cacing yang ditemukan terkait dengan ketersediaan makanan dan kondisi
lingkungan bagi cacing untuk tumbuh dan berkembang. Kandungan yang terdapat
dalam bahan organik tanah dapat digunakan untuk memprediksi banyaknya
jumlah cacing dalam tanah (Curry, 1998). Hal ini menunjukkan bahwa kompos
34
rumput dan jerami memiliki kandungan hara yang digunakan cacing untuk
tumbuh dan berkembang biak.
Jumlah Cacing
1200
Jumlah (ekor/m 2)
1000
800
600
400
200
0
Kontrol
Btg Pisang
Kot Ay am
Kot Sapi
Rumput
Jerami
Campuran
Perlakuan
bulan ketiga
bulan keenam
Gambar 5. Hubungan perlakuan kompos dengan populasi cacing tanah
Dari hasil pengamatan di lapang pada bulan keenam menunjukkan adanya
perbedaan fisik (Gambar 6). Perbedaan mencolok ditemukan pada cacing dengan
ciri fisik yang besar pada tanah yang diaplikasikan kompos kotoran ayam,
sedangkan pada tanah yang diaplikasikan kompos rumput dan jerami padi, cacing
yang ditemukan relatif kecil, namun ditemukan dalam jumlah yang banyak. Hal
ini terkait dengan ketersediaan bahan makanan bagi cacing dan penggunaannya.
Faktor yang mendukung adalah tingginya kalsium dalam tanah yang diaplikasikan
kompos kotoran ayam, sehingga dimungkinkan cacing ini ikut terlibat dalam
merombak kalsium sehingga ketersediaannya di dalam tanah semakin meningkat.
Hasil penelitian Dlamini dan Haynes (2004) menunjukkan adanya peningkatan
jumlah cacing berkorelasi positif dengan aplikasi bahan organik, pH tanah dan
kadar kalsium yang dapat dipertukarkan dalam tanah, tetapi tidak berbeda nyata
korelasinya dengan Mg, K, Na yang dapat dipertukarkan dan Truog P.
Menurut Parmelee et al. (1998), cacing ini akan mempengaruhi sifat dan
proses yang terjadi dalam tanah seperti aktivitas dan biomassa mikroba, bahan
organik, ketersediaan hara, serapan hara tanaman dan produksinya, dan struktur
35
tanah. Dalam penelitian ini, hal inilah yang diharapkan terjadi, struktur tanah
menjadi baik dan porositas pun meningkat.
(a)
a
(b)
b
Gambar 6. Cacing yang ditemukan di lapang
(a) cacing yang ditemukan pada tanah yang diaplikasikan kompos kotoran ayam,
(b) cacing yang ditemukan pada tanah yang diaplikasikan kompos jerami padi
Respirasi dan CMic
Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah merupakan salah satu cara
yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat aktivitas mikroorganisme tanah.
Tingkat respirasi yang diukur dari besarnya CO2 yang dikeluarkan merupakan
indikator yang baik bagi aktivitas mikroorganisme tanah. Kecepatan respirasi di
sini lebih mencerminkan aktivitas metabolik daripada jumlah, tipe atau
perkembangan mikroorganisme tanah. Jenis tumbuhan juga bisa mempengaruhi
respirasi tanah yaitu melalui pengaruhnya terhadap iklim mikro dan struktur
tanah, jumlah daun-daun yang berguguran ke tanah, kualitasnya, dan tingkat
respirasi akar (Raich dan Tufekcioglu, 2000).
Reaksi umum yang terjadi pada saat respirasi adalah sebagai berikut:
(CH2O)x + O2 Æ CO2 + H2O + hasil antara media + bahan sel + energi
Dari hasil pengukuran yang disajikan pada Gambar 7 terlihat bahwa aplikasi
bahan organik pada bulan ketiga meningkatkan respirasi organisme pada trumbuk
pohon jeruk. Hal ini terjadi karena aplikasi bahan organik tersebut mampu
menyediakan energi bagi mikroorganisme tanah, dan dapat meningkatkan
36
aktivitas mikroorganisme untuk bekerja menguraikan bahan organik yang ada.
Hasil penelitian Lovel dan Jarvis (1996) menyatakan efek terbaik akan terjadi bila
bahan organik yang ditambahkan sudah secara sempurna tercampur dalam tanah,
yang dapat meningkatkan respirasi tanah. Pada lapisan dasar, aktivitas
mikroorganisme di sekitar trumbuk juga meningkat. Pada bulan keenam terlihat
bahwa aktivitas mikroorganisme mulai menurun yang dimungkinkan karena
semakin berkurangnya makanan. Adanya peningkatan respirasi pada lapisan dasar
pada bulan keenam dimungkinkan karena terjadinya pencucian hara pada lapisan
trumbuk.
Respirasi
mg CO2-C kg-1ha -1
35
30
25
20
15
10
5
0
Kontrol
Btg Pisang Kot Ayam
Kot Sapi
Rumput
Jerami
Campuran
Perlakuan
Lapisan trumbuk bulan ketiga
Lapisan lantai bulan ketiga
Lapisan trumbuk bulan keenam
Lapisan lantai bulan keenam
Gambar 7. Hubungan perlakuan kompos dengan respirasi tanah
Mikroba memanfaatkan karbon sebagai pembentuk tubuhnya. Aktivitas
mikroorganisme dapat dilihat dari kandungan C yang berasal dari karbon
mikroorganisme (CMic) yang disajikan pada Gambar 8. Kandungan CMic yang
tinggi diikuti dengan respirasi yang tinggi menunjukkan kualitas tanah yang sehat.
Dari hasil analisis, terlihat bahwa kandungan CMic sangat beragam.
Kandungan CMic juga tergantung kondisi tanaman. Rendahnya CMic pada
perlakuan batang pisang dan kotoran sapi pada bulan keenam yang disertai dengan
respirasi yang cukup tinggi menandakan bahwa mikroba yang hidup di lapisan
trumbuk didominasi oleh bakteri. Pada perlakuan aplikasi jerami padi terlihat
bahwa respirasi yang tinggi diikuti dengan CMic yang tinggi pada bulan ketiga
37
menunjukkan kondisi mikroba yang seimbang antara bakteri dan fungi.
Sedangkan pada kontrol terlihat hasil CMic yang tinggi diikuti dengan respirasi
yang rendah menunjukkan bahwa tanah didominasi oleh fungi. Hal ini sejalan
dengan kondisi tanah pada kontrol yang masam, fungi lebih tahan terhadap tanah
yang masam dibanding bakteri (Killham, 1994).
CMic
1200
1000
ug/g
800
600
400
200
0
Kontrol
Btg Pisang Kot Ayam
Kot Sapi
Rumput
Jerami
Campuran
Perlakuan
Lapisan trumbuk bulan ketiga
Lapisan lantai bulan ketiga
Lapisan trumbuk bulan keenam
Lapisan lantai bulan keenam
Gambar 8. Hubungan perlakuan kompos dengan CMic tanah
Pengaruh Kompos terhadap Sifat Fisika Tanah
Perlakuan kompos pada penelitian ini juga melihat perubahan sifat fisik
tanah, berupa volume tanah, bobot isi, ketersediaan air, dan kemantapan agregat
akibat perlakuan aplikasi bahan organik.
Volume tanah terkait pada besarnya jumlah padatan, pori dan air dalam
tanah. Semakin besar volume padatan tanah berarti semakin kecil ruang pori tanah
yang berisi air dan udara. Dari hasil penelitian, terlihat bahwa umumnya volume
tanah berkurang pada bulan ketiga ke bulan keenam dengan adanya aplikasi
kompos. Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi bahan kompos mampu mengurangi
jumlah padatan dalam tanah. Namun hal yang berbeda dengan lapisan di
bawahnya yang tidak mengalami perubahan yang berarti.
Pada Gambar 9, Gambar 10, Gambar 11, dan Gambar 12 memperlihatkan
distribusi komposisi tanah pada lapisan trumbuk dan lapisan lantai, tiga dan enam
bulan setelah aplikasi kompos.
38
Komposisi Tanah Lap. Trumbuk Bulan Ketiga
100%
Persentase
80%
60%
40%
20%
0%
Kontrol
Btg Pisang Kot Ay am
Kot Sapi
Rumput
Jerami
Campuran
Perlakuan
Padat
Air
Udara
Gambar 9. Hubungan perlakuan kompos dengan komposisi tanah lapisan trumbuk
pada bulan ketiga
Komposisi Tanah Lap. Trumbuk Bulan Keenam
100%
Persentase
80%
60%
40%
20%
0%
Kontrol
Btg Pisang Kot Ay am
Kot Sapi
Rumput
Jerami
Campuran
Perlakuan
Padat
Air
Udara
Gambar 10. Hubungan perlakuan kompos dengan komposisi tanah lapisan
trumbuk pada bulan keenam
39
Komposisi Tanah Lap. Lantai Bulan Ketiga
100%
Persentase
80%
60%
40%
20%
0%
Kontrol
Btg Pisang
Kot Ayam
Kot Sapi
Rumput
Jerami
Campuran
Perlakuan
Padat
Air
Udara
Gambar 11. Hubungan perlakuan kompos dengan komposisi tanah lapisan lantai
pada bulan ketiga
Komposisi Tanah Lap. Lantai Bulan Keenam
100%
Persentase
80%
60%
40%
20%
0%
Kontrol
Btg Pisang Kot Ay am
Kot Sapi
Rumput
Jerami
Campuran
Perlakuan
Padat
Air
Udara
Gambar 12. Hubungan perlakuan kompos dengan komposisi tanah lapisan lantai
pada bulan keenam
40
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan volume udara pada
lapisan trumbuk setelah enam bulan aplikasi. Volume padatan rumput dan jerami
berkurang, dan kemampuan mengikat air semakin besar. Kompos batang pisang
dan kotoran ayam makin banyak menyediakan rongga udara yang menunjukkan
makin tingginya porositas tanah setelah diaplikasikan kompos. Ini berarti bahwa
aplikasi kompos tersebut sangat pengaruh positif terhadap kondisi tanah.
Volume padatan lapisan lantai yang ditunjukkan Gambar 11 dan Gambar
12 menunjukkan perubahan yang tidak begitu besar, jelas terlihat pada aplikasi
kontrol dan jerami padi yang bahkan terjadi peningkatan padatan dan air pada
bulan keenam. Hal ini jelas menunjukkan kondisi tanah di lapang yang
sebenarnya pada saat setelah musim hujan.
Pengukuran bobot isi juga dilakukan pada penelitian ini. Gambar 13
menunjukkan bobot isi tanah dan Gambar 14 menunjukkan porositasnya. Dari
gambar terlihat bahwa bobot isi ini berbanding terbalik dengan adanya ruang pori
di dalam tanah. Adanya hubungan yang berbanding terbalik ini di duga berasal
dari adanya pemadatan tanah. Peningkatan bobot isi tanah akan menurunkan
ruang pori tanah dan tanah tersebut akan menjadi padat.
Bobot Isi
1.2
1.0
g/cm 3
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
Kontrol
Btg Pisang
Kot Ayam
Kot Sapi
Rumput
Jerami
Campuran
Perlakuan
Lapisan trumbuk bulan ketiga
Lapisan lantai bulan ketiga
Lapisan trumbuk bulan keenam
Lapisan lantai bulan keenam
Gambar 13. Hubungan perlakuan kompos dengan bobot isi tanah
41
Porositas
50
40
%
30
20
10
0
Kontrol
Btg Pisang Kot Ayam
Kot Sapi
Rumput
Jerami
Campuran
Perlakuan
Lapisan trumbuk bulan ketiga
Lapisan lantai bulan ketiga
Lapisan trumbuk bulan keenam
Lapisan lantai bulan keenam
Gambar 14. Hubungan perlakuan kompos dengan porositas tanah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi bahan organik menurunkan
bobot isi tanah dan mengurangi pemadatan tanah. Hal ini sejalan dengan pendapat
Aguilar et al. (1997) yang menyatakan bahwa dengan adanya aplikasi bahan
organik dapat menurunkan bobot isi tanah. Selain itu, menurutnya dengan adanya
aplikasi bahan organik, akan meningkatkan kapasitas menahan air, meningkatkan
struktur dan stabilitas agregat sehingga meningkatkan kecepatan infiltrasi dan
membuat tanah lebih tahan terhadap erosi.
Pada penelitian ini juga dilakukan analisis kemantapan agregat untuk
mengetahui seberapa besar pengaruh perlakuan terhadap kemantapan agregat
tanah. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terlihat perbedaan sifat agregat
tanah dengan adanya perlakuan baik pada bulan ketiga maupun pada bulan
keenam.
Dilihat dari tingkat kestabilan, tanah yang dianalisis semakin tidak stabil
walaupun ditambahkan bahan organik yang dapat berfungsi untuk meningkatkan
kestabilan tanah (Aguilar et al., 1997). Hal ini diakibatkan adanya pengaruh iklim,
terutama curah hujan yang tinggi. Daerah sentra produksi jeruk di Florida
menunjukkan jeruk tumbuh optimal pada curah hujan sekitar 1400 mm/tahun
(Paramasivam et al., 2001). Curah hujan ini tentu saja berpengaruh terhadap tanah
dan tanaman. Pada saat aplikasi kompos di lapang, data curah hujan dari UPT
Tebas pada tahun 2006 yang disajikan pada Tabel Lampiran 7 mencapai 2434
42
mm/tahun. Pada saat aplikasi kompos (bulan Juni) curah hujan masih rendah,
namun mulai bulan ketiga setelah aplikasi, curah hujan yang tinggi diduga
mengakibatkan berkurangnya kestabilan agregat tanah.
Dari hasil ini terlihat bahwa pembentukan agregat yang mantap hingga
bulan keenam belum tercapai. Hasil ini juga terkait dengan pembentukan agregat
yang lebih lama dari enam bulan.
Pengaruh Kompos terhadap Kadar Hara dan Pertumbuhan Tanaman
Tanaman yang digunakan adalah jeruk yang berumur dua tahun. Pengaruh
perlakuan terhadap pertumbuhan tanaman diwakili oleh perubahan diameter tajuk
tanaman, dan dalamnya perakaran.
Peningkatan diameter tajuk tanaman terkait fase pertumbuhan tanaman
dan serapan hara tanaman. Pengaruh pemberian kompos terhadap perubahan
diameter tajuk tanaman jeruk dapat dilihat pada Gambar 15. Pada gambar tersebut
terlihat bahwa semua tanaman menunjukkan peningkatan diameter mulai dari
bulan ketiga hingga bulan keenam. Pertumbuhan tanaman terlihat pada aplikasi
kompos kotoran sapi diikuti kompos batang pisang. Namun dari hasil analisis
ragam menunjukkan bahwa aplikasi kompos hingga bulan keenam tidak
memberikan pengaruh yang nyata terhadap diameter tanaman jeruk.
Perubahan Diameter Tajuk Tanaman
70
delta (cm)
60
50
40
30
20
10
0
Kontrol
Btg Pisang Kot Ayam
Kot Sapi
Rumput
Jerami
Campuran
Perlakuan
bulan ketiga
bulan keenam
Gambar 15. Hubungan perlakuan kompos dengan perubahan diameter tajuk
tanaman
43
Kedalaman perakaran menunjukkan intensitas akar tanaman mencari
nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Dalamnya perakaran tanaman
di antaranya dipengaruhi oleh fase pertumbuhan tanaman dan jumlah nutrisi yang
tersedia di dalam tanah. Semakin sedikit hara tersedia dalam tanah, semakin
intensif akar mencari nutrisi yang dapat dilihat dari semakin dalamnya perakaran
tanaman.
Hasil pengamatan kedalaman perakaran pada analisis pendahuluan
tanaman di lapang terlihat bahwa perakaran tanaman masih dangkal yaitu 30 cm
dari permukaan trumbuk. Kedalaman perakaran pada tiga dan enam bulan setelah
aplikasi disajikan pada Gambar 16.
Kedalaman Perakaran
Perlakuan
Kontrol
Btg Pisang Kot Ayam Kot Sapi
Rumput
Jerami
Campuran
0
dalam akar (cm)
-10
-20
-30
-40
-50
-60
-70
bulan ketiga
bulan keenam
Gambar 16. Hubungan perlakuan kompos dengan kedalaman perakaran tanaman
Terlihat perakaran tanaman semakin dalam seiring pertambahan waktu.
Namun masih lebih dangkal dibandingkan dengan kontrol. Ini menunjukkan
bahwa perlakuan menambah ketersediaan hara bagi tanaman, sehingga aktivitas
akar tanaman untuk mencari hara tidak terlalu intensif, ditunjukkan dari lebih
dangkalnya kedalam akar tanaman yang diberi perlakuan kompos.
Selain pengamatan sifat fisik tanaman, dilakukan pula analisis kadar hara
melalui analisis jaringan tanaman. Kondisi awal tanaman dibandingkan dengan
44
total kadar hara pada tiga dan enam bulan setelah aplikasi kompos meliputi hara
N, P, K, Na, Ca, Mg dan unsur mikro berupa Fe, Cu, Zn, dan Mn.
Daun jeruk diukur total haranya untuk melihat unsur-unsur yang diserap
tanaman. Hasil analisis awal pada Tabel Lampiran 2 menunjukkan bahwa
tanaman berada dalam kondisi tidak seimbang bila dilihat pada tabel kecukupan
hara (Obreza et al., 1999). Kandungan nitrogen sebanyak 2,43% menunjukkan
bahwa kandungan nitrogen dalam tanaman masih rendah. Kandungan fosfor
sebesar 0,07% dan kandungan kalium sebesar 0,13% menunjukkan bahwa
tanaman masih mengalami kekurangan hara tersebut. Kandungan kalsium sebesar
1,72% menunjukkan bahwa kandungannya rendah dan hanya kandungan
magnesium sebesar 0,34%, yang menunjukkan tanaman berada dalam kondisi
optimum. Kandungan unsur mikro berupa Fe sebanyak 60,8 ppm, Cu 15,5 ppm,
Zn 28,0 ppm dan Mn 35,6 ppm yang menunjukkan bahwa tanaman mengandung
unsur mikro yang optimum.
Perubahan kadar hara tanaman juga dilihat pada tiga dan enam bulan
setelah aplikasi disajikan pada Tabel 9. Pada bulan ketiga, aplikasi kompos hanya
berpengaruh nyata terhadap kadar nitrogen dan kalium. Kadar N tanaman sangat
berbeda nyata pada perlakuan aplikasi kompos berupa jerami padi yaitu sebesar
3,29% dibanding kontrol yang hanya sebesar 2,39% pada bulan ketiga. Setelah
enam bulan aplikasi, meningkatnya kadar nitrogen tidak memberikan pengaruh
yang nyata pada semua perlakuan.
Tingginya nitrat yang disediakan oleh tanah juga tidak menunjukkan kadar
nitrogen yang tinggi pula pada tanaman. Hal ini dapat terjadi karena serapan hara
yang lebih menggambarkan kondisi tanaman. Pada penelitian ini tidak dihitung
biomassa tanaman, sehingga tidak diperoleh data serapan tanaman.
Kadar kalium tanaman sangat berbeda nyata pada perlakuan aplikasi
kompos berupa kotoran ayam yaitu sebesar 1,29% dibanding kontrol yang hanya
sebesar 0,74% pada bulan ketiga. Pengaruh ini masih terlihat setelah enam bulan
aplikasi. Kadar kalium menjadi lebih besar akibat perlakuan aplikasi kompos
kotoran sapi (1,82%) yang memberikan pengaruh nyata dibanding kontrol
(0,61%). Hal ini terkait dengan semakin tersedianya kalium di dalam tanah.
45
Tabel 9. Pengaruh perlakuan kompos terhadap kadar unsur makro daun tanaman
setelah tiga dan enam bulan aplikasi
Perlakuan
Parameter Satuan
Kotoran Kotoran
Rumput
Ayam
Sapi
2,78 ab 2,66 ab 2,94 ab
Jerami
Campuran
Padi
3,29 b 2,87 ab
N
%
2,39 a
Batang
Pisang
2,56 a
P
%
0,23 b
0,20 a
0,22 ab
0,22 ab
0,22 ab
0,22 b
Kontrol
0,22 b
K
me/100g
0,74 a
0,84 ab
1,29 b
0,98 ab
0,93 ab
1,10 ab 1,00 ab
Ca
me/100g
2,94 a
2,39 a
3,01 a
2,81 a
3,14 a
2,63 a
2,58 a
Mg
me/100g
0,34 a
0,32 a
0,33 a
0,37 a
0,36 a
0,33 a
0,34 a
Na
me/100g
0,16 a
0,31 a
0,23 a
0,20 a
0,22 a
0,26 a
0,16 a
N
%
2,94 ab
2,70 a
2,95 ab
3,00 ab
3,13 ab
3,35 b
3,07 ab
P
%
0,26 a
0,25 a
0,24 a
0,30 a
0,25 a
0,27 a
0,24 a
Bulan
K
me/100g
0,61 a
1,46 ab
1,62 b
1,82 b
1,13 ab
1,15 ab 1,15 ab
Keenam
Ca
me/100g
3,21 ab
2,77 ab
2,90 ab
3,47 b
2,99 ab
2,36 a
Mg
me/100g
1,33 b
1,18 bc
1,16 bc
1,45 c
1,10 bc
0,90 ab 0,73 a
Na
me/100g
0,15 a
0,30 ab
0,29 ab
0,31 b
0,21 ab
0,23 ab 021 ab
Bulan
Ketiga
2,59 ab
Keterangan: angka pada baris yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata
pada taraf 5% menurut uji Duncan
Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi pada kadar unsur mikro yang
terlihat pada Tabel 10. Pada tiga bulan setelah aplikasi, semua perlakuan tidak
memberikan pengaruh yang nyata terhadap kontrol. Hanya kadar Mn yang
berbeda nyata setelah enam bulan aplikasi kompos. Kadar Mn akibat perlakuan
kompos menjadi lebih besar akibat aplikasi kompos batang pisang (90,6 ppm) dan
jerami padi (109,4 ppm) dibandingkan kadar kontrol yang hanya 51,0 ppm.
Bila dilihat dari kecukupan hara, perlakuan ini pada bulan ketiga
menghasilkan ketersediaan nitrogen pada kontrol masih rendah, aplikasi kompos
dari batang pisang, kotoran ayam dan kotoran sapi berada pada kondisi optimum
dan rumput, jerami padi dan campuran berada pada selang yang tinggi. Semua
perlakuan pada kadar hara juga menunjukkan bahwa kadar fosfor juga tinggi.
Kadar kalium tanaman juga meningkat. Kontrol masih mengalami defisiensi,
hanya kompos kotoran ayam yang menyebabkan kadar kalium menjadi optimum,
dan yang lain kandungannya masih rendah. Kadar kalsium juga sudah optimum
pada perlakuan kotoran ayam dan rumput, dan ketersediaan natrium menjadi
tinggi pada semua perlakuan.
46
Tabel 10. Pengaruh perlakuan kompos terhadap kadar unsur mikro tanaman
setelah tiga dan enam bulan aplikasi (ppm)
Perlakuan
Para
kontrol
Fe
139,5 a
Batang
pisang
90,4 a
Bulan
Cu
13,9 a
14,9 a
13,7 a
12,0 a
11,8 a
13,9 a
11,8 a
ketiga
Zn
26,8 a
23,5 a
25,3 a
26,3 a
21,6 a
24,0 a
23,2 a
Mn
49,3 a
47,9 a
55,2 a
44,1 a
63,9 a
65,8 a
38,8 a
Fe
120,9 a
87,6 a
69,3 a
116,7 a
91,2 a
88,9 a
114,4 a
Cu
8,6 a
7,9 a
7,2 a
7,9 a
8,5 a
7,9 a
8,2 a
keenam Zn
33,9 a
18,2 a
27,2 a
17,5 a
15,5 a
20,4 a
21,7 a
Mn
51,0 a
90,6 bc
67,1 ab
75,7 abc
82,5 abc
109,4 c
73,2 ab
Bulan
Kotoran
Kotoran sapi rumput
ayam
142,2 a
122,6 a
96,7 a
Jerami
Campuran
padi
134,1 a
94,0 a
meter
Keterangan: angka pada baris yang diikuti dengan notasi huruf yang sama tidak berbeda nyata
pada taraf 5% menurut uji Duncan
Pada bulan keenam juga terjadi peningkatan kadar hara. Hanya perlakuan
kompos batang pisang yang menunjukkan kadar nitrogen yang optimum, kontrol
dan perlakuan kompos kotoran ayam dan kotoran sapi berada pada kondisi tinggi,
sedangkan yang lain sudah berlebih. Kadar fosfor juga tinggi untuk semua
perlakuan. Kadar kalium kontrol masih rendah, aplikasi kompos rumput, jerami
padi dan campuran masih rendah, kompos batang pisang dan kotoran ayam adalah
yang optimum dan kompos kotoran sapi termasuk tinggi. Dari data juga terlihat
bahwa perlakuan kontrol dan kompos kotoran sapi menunjukkan kadar kalsium
yang optimum, sedangkan yang lain menunjukkan rendah. Kadar magnesium
menunjukkan bahwa semua perlakuan berlebih. Begitu juga kadar natrium, hanya
kontrol, rumput, jerami dan campuran yang menunjukkan kadar yang tinggi,
sedangkan yang lain juga berlebih.
Untuk kadar hara mikro yang awalnya sudah optimum, adanya perlakuan
menyebabkan jumlah total dalam tanaman menurun. Hal ini terjadi karena aplikasi
bahan organik mampu mengikat unsur mikro yang ada di dalam tanah
mengganggu serapan hara tanaman.
Kadar Fe menjadi rendah untuk perlakuan kompos kotoran ayam, rumput
dan kontrol, sedang yang lain menjadi defisien pada bulan ketiga. Selanjutnya
semua menjadi kekurangan pada bulan keenam. Kadar Cu dan Zn juga menjadi
kekurangan pada tiga dan enam bulan aplikasi. Ketersediaan Mn masih optimum
47
pada bulan ketiga untuk semua perlakuan sedangkan pada bulan keenam hanya
perlakuan kompos kotoran ayam yang memiliki kadar yang rendah.
Besi merupakan unsur yang penting untuk pembentukan khlorofil dan
transfer elektron, Mn terlibat dalam perubahan O2 dalam fotosintesis, Zn
merupakan bagian dari sistem transfer elektron dan sintesisi protein, dan Cu
terlibat dalam beberapa enzin dan tidak dapat digantikan oleh ion lainnya. Sampai
bulan keenam, kekurangan unsur mikro ini belum terlihat pengaruhnya terhadap
penampakan fisik tanaman. Penelitian Aguilar et al. (1997) yang menggunakan
bahan organik 33,6 ton/ha, menunjukkan bahwa serapan hara unsur P, K, dan Fe
berbeda nyata pada tanaman jeruk dibanding kontrol, setelah diaplikasikan selama
dua tahun.
Faktor penting untuk melihat pengaruh aplikasi kompos terhadap tanaman
dapat dilihat dari hasil produksi. Hasil pengamatan di lapang setelah empat belas
bulan aplikasi menunjukkan rata-rata jumlah buah per pohon yang disajikan pada
Gambar 17. Dari Gambar terlihat bahwa jumlah buah jeruk terbanyak setelah
diaplikasikan kompos kotoran sapi mencapai rata-rata 109 buah/pohon, diikuti
kompos batang pisang sebanyak rata-rata 100 buah/pohon.
Dilihat dari hara yang ditambahkan, kompos kotoran sapi memang lebih
banyak dibanding kompos lain. Namun, bila dibandingkan dengan hara yang
ditambahkan melalui aplikasi kompos batang pisang yang rendah dibanding yang
lain, adalah suatu hal yang kurang wajar bila penyebab banyaknya buah adalah
ketersediaan hara. Dari hal tersebut, adalah suatu hal yang menarik ditemukan
bahwa hasil buah yang banyak yang bukan hanya disebabkan dari banyaknya
ketersediaan hara dari tanah, namun juga oleh faktor lain yang dalam penelitian
ini menunjukkan bahwa kompos pisang memiliki spesifikasi khusus yang dapat
merangsang pertumbuhan buah.
Pertumbuhan tanaman terkait dengan ketersediaan hara. Adapun yang
membatasi pertumbuhan adalah yang tersedia dalam jumlah terkecil. Pendapat ini
sesuai dengan Hukum Liebig yang menyatakan bahwa ketersediaan yang paling
sedikitlah yang membatasi pertumbuhan. Dari hal ini dapat dinyatakan bahwa
penambahan kompos pisang yang terbatas jumlahnya, namun mampu memberikan
48
hasil yang banyak menunjukkan bahwa ketersediaan hara pada kompos ini cukup
memberikan hara yang seimbang pada tanaman jeruk.
Jumlah buah
120
Jumlah buah
100
80
60
40
20
0
Kontrol
Btg Pisang Kot Ay am
Kot Sapi
Rumput
Jerami
Campuran
Perlakuan
Gambar 17. Hubungan perlakuan kompos dengan jumlah buah yang dihasilkan
Kemungkinan lain yang bisa menyebabkan hal itu terjadi adalah adanya
faktor yang dihasilkan dari penambahan kompos pisang yang merangsang
pertumbuhan bunga dan buah. Menurut Coggins et al. (1966) dalam Arteca
(1996), giberelin memiliki kemampuan meningkatkan pembentukan buah pada
semua tanaman yang memberikan respon positif terhadap auksin, termasuk
tanaman jeruk.
Peluang Bisnis Kompos
Berdasarkan pengalaman dalam mencermati data selama penelitian,
terdapat peluang untuk mengembangkan kompos. Peluang ini muncul dari
banyaknya bahan organik yang dapat dimanfaatkan di lapang, didukung dengan
banyaknya lokasi kebun jeruk yang memerlukan pemakaian kompos. Luas
pertanaman jeruk pontianak di Kabupaten Sambas telah mencapai 6.928,07 Ha,
bahkan Kecamatan Tebas yang mencapai hampir setengah dari luas areal
pengembangan jeruk di Kabupaten Sambas yaitu mencapai 3.241 Ha (Direktorat
Tanaman Buah, 2003). Dengan asumsi penggunaan kompos 20 ton/ha saja, maka
49
kompos yang diperlukan mencapai 64.820 ton/tahun. Hal ini merupakan peluang
yang sangat besar untuk mengembangkan kompos.
Berdasarkan jumlah Hari Orang Kerja (HOK) yang terpakai selama
pembuatan kompos, kemudian dibandingkan dari hasil analisis yang dilakukan
baik pada tanah maupun tanaman, dapat dihitung potensi pembuatan kompos
untuk dibisniskan. Data biaya yang dikeluarkan selama pembuatan bahan kompos
disajikan pada Tabel 11. Dari tabel tersebut terlihat bahwa HOK yang terpakai
untuk menghasilkan kompos dari bahan kotoran hewan jauh lebih kecil
dibandingkan dengan kompos yang dihasilkan dari sisa tanaman.
Tabel 11. Prediksi jumlah Hari Orang Kerja (HOK) dalam pembuatan kompos
Jenis Kompos
Kotoran ayam
Kotoran sapi
Batang pisang
Rumput
Jerami padi
Hasil yang
diperoleh (kg)
472
452
250
288
432
Tenaga untuk
mencacah (HOK)
46
48
50
HOK/kompos
18
15
65
63
68
Pada penelitian ini, pembuatan kompos terutama dari sisa tanaman
memerlukan HOK yang cukup besar untuk mencacah bahan. Hal ini harus
dilakukan karena pada penelitian ini tidak memiliki alat pencacah sehingga
dilakukan secara manual, yang membutuhkan HOK yang lebih banyak. Selain itu,
jumlah kompos yang dihasilkan dari kotoran hewan lebih banyak dibandingkan
dengan kompos yang berasal dari sisa tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa
penggunaan kompos dari kotoran hewan lebih menguntungkan dibandingkan
dengan kompos dari sisa tanaman.
Kompos dari sisa tanaman dapat lebih efisien dihasilkan jika dipergunakan
alat untuk mencacah. Kompos sisa tanaman dapat diambil secara gratis di lapang,
bahkan menguntungkan petani yang sekaligus ingin membersihkan kebun atau
rumahnya. Berbeda dengan kotoran hewan yang memerlukan tambahan dana
untuk mengumpulkan kotoran ke dalam karung dan mengangkutnya ke tempat
lain, walaupun lebih efektif dan efisien.
Pemakaian alat pencacah ini sangat mengurangi tenaga yang dikeluarkan
untuk menghasilkan kompos. Terlihat dari Tabel 11 bahwa dominasi tenaga yang
dikeluarkan adalah digunakan untuk mencacah bahan. Apabila digunakan mesin
50
untuk mencacah bahan, maka HOK yang dibutuhkan untuk membuat kompos
menjadi tidak jauh berbeda antara sisa tanaman dan kotoran hewan.
Selain berdasarkan tenaga yang dikeluarkan untuk menghasilkan kompos,
dapat pula dilihat pengaruh pemberian kompos terhadap tanah dan tanaman.
Kompos yang berasal dari kotoran sapi memerlukan tenaga paling sedikit, diikuti
kotoran ayam, rumput, batang pisang, dan yang paling banyak adalah kompos
yang berasal dari jerami padi. Bila dilihat pengaruhnya terhadap produksi
tanaman, pemberian kompos yang berasal dari kotoran sapi lebih disarankan
dibandingkan yang lain. Selain HOK yang dibutuhkan lebih sedikit, pengaruhnya
terhadap tanah dan tanaman lebih baik dibandingkan yang lain.
51
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kandungan hara kompos tergantung dari jenis bahannya, kompos jerami padi
banyak mengandung unsur nitrogen, kotoran ayam kandungan fosfor yang
tinggi dan kompos batang pisang dominan mengandung kalium.
2. Pengaruh baik penggunaan kompos terhadap ketersediaan hara sudah mulai
terlihat setelah tiga bulan hingga enam bulan aplikasi, demikian juga terhadap
sifat biologi. Aplikasi kompos sangat mempengaruhi aktivitas cacing yang
berpengaruh pula terhadap sifat fisik, yaitu mampu meningkatkan porositas
tanah.
3. Pengamatan pertumbuhan tanaman selama enam bulan belum memberikan
pengaruh yang nyata terhadap kadar hara tanaman jeruk. Namun jelas terlihat
dari jumlah buah, kompos kotoran sapi dan kompos batang pisang yang
memberikan hasil buah terbanyak. Selain ketersediaan hara setelah aplikasi
kompos kotoran sapi, kecukupan hara akibat aplikasi kompos batang pisang
sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan buah.
Saran
Saran yang diajukan dari hasil penelitian ini, yaitu:
1. Dilakukan penelitian mengenai kandungan hormon, vitamin, asam humat,
asam fulfat pada kompos, sehingga jelas faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
2. Aplikasi
sangat
kompos
disarankan
untuk
digunakan
karena
jelas
memperbaiki sifat tanah.
3. Penggunaan alat pencacah sangat diperlukan untuk mengurangi biaya
persiapan bahan pembuat kompos.
52
DAFTAR PUSTAKA
Abd El-Naby, S.K.M. 2000. Effect of banana compost as organic manure on
growth, nutrients status, yield and fruit quality of Maghrabi banana. Assiut
J. Agric. Sci. (EGY), 31, (3), p: 101-114.
Aguilar, F. J., P. Gonzalez, J. Revilla, J. J. De Leon, and O. Porcel. 1997.
Agricultural Use of Municipal Solid waste on Tree and Bush Crops. J.
Agric. Engng Res. No 67: 73-79.
Anas, I. 1989. Biologi Tanah dalam Praktek. Petunjuk Laboratorium. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat
Antar Universitas Bioteknologi. IPB. Bogor.
Arteca, R. N. 1996. Plant Growth Substances. Principles and Applications.
Chapman and Hall. New York.
Azri. 2004. Kebangkitan Kembali Jeruk Siam Pontianak. Sinar Tani. Februari
2004.
Brady, N. C. 1990. The Nature and Properties of Soil. 10th ed. MacMillan
Publishing Co. New York.
Carter, M. R. 2001. Organic Matter and Sustainability. In. Rees, R. M., B. C. Ball,
C. D. Campbell, and C. A. Watson. (eds.). Sustainable Management of
Soil Organic Matter. CAB International Publishing.
Crasswel, E. T. and R. D. B. Leffroy. 2001. The role and function of organic
matter in tropical soils. Nutr. Cycl. in Agroecosys. 61: 7-18.
Curry, J. P. 1998. Factors Affecting Earthworm Abundance in Soils. In. Edwards,
C. A. (ed). Earthworm Ecology. Soil and Water Conservation Society. St
Lucie Press. Ankeny, Iowa.
Delgado, J. A. and R. F. Follett. 2002. Carbon and Nutrient Cycles. J. Soil and
Water Conserv. Vol 57 no. 6: 455-464.
Direktorat Tanaman Buah. 2003. Profil Jeruk di Kabupaten Sambas.
www.deptan.go.id. [November 2005].
Djajakirana, G. 2001. Kerusakan Tanah Sebagai Dampak Pembangunan
Pertanian. Makalah disampaikan pada Seminar Petani “Tanah Sehat Titik
Tumbuh Pertanian Ekologis” di Sleman, 30 Oktober 2001.
Djajakirana, G. 2002. Proses Pembuatan, Pemanfaatan dan Pemasaran
Vermikompos untuk Pertanian di Indonesia. Makalah disampaikan pada
Seminar “Pemanfaatan Teknologi Aplikatif Pertanian dalam Mencapai
Suatu Pertanian Berkelanjutan” –‘Planologi –A Plus 2002’- Bogor, 12 Mei
2002.
53
Djajakirana, G. 2004. Pengembangan Metoda Penetapan Cmic dengan
menggunakan Ultrasonic Processor. Laporan Akhir. Quality for
Undergraduate Education (QUE) Project. Program Studi Ilmu Tanah.
Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Dlamini, T. C. and R. J. Haynes. 2004. Influence of agricultural land use on the
size and composition of earthworm communities in northern KwaZuluNatal, South Africa. Appl. Soil Ecol. No. 27: 77-88.
Duong, V. M., T. Watanabe, M. H. Luu, T. K. Vu, and T. K. P. Nguyen. 2006.
Application of Rice Straw Compost for Sustainable Rice Production. 18th
World Congress of Soil Science. Pennsylvania.
Eve, M. D., M. Sperow, K. Howerton, K. Paustian and R. F. Follett. 2002.
Predicted Impact of Management Changes on Soil Carbon Storage for
Each Cropland Region of The Conterminous United States. J. Soil and
Water Conserv. Vol 57 number 4. p: 196-204.
Food & Fertilizer Technology Center. 2003. Soil Management for Citrus
Orchards. An International Information Center for farmers in the Asia
Pacific Region. http://www.fftc.agnet.org/library/article/bc52004.html
[Januari 2006].
Gaur, A. C. 1981. Improving Soil Fertility through Organic Recycling: A Manual
of Rural Composting. FAO/UNDP. Regional Projects RAS/75/004.
Project Field.
Hairah, K., Widianto, S. R. Utami, D. Suprayogo, Sunaryo, S. M. Sitompul, B.
Lusiana, R. Mulia, M. van Noordwijk, dan G. Cadisch. 2000. Pengelolaan
Tanah Masam secara Biologi. Refleksi Pengalaman dari Lampung Utara.
ICRAF.
Harada, Y. K., T. H. Osada, and M. Kashino. 1993. Quality of Compost from
Animal Waste. JAQR 26(4).
Haynes, R. J., and M. S. Mokolobate. 2001. Amelioran of Al Toxicity and P
deficiency in acid soils by additions of organic residues: a critical review
of the phenomenon and the mechanisms involved. Nutr. Cycl. in
Agroecosys. 59: 47-63. Kluwer Academic Publishers.
Keulen, H. 2001. (Tropical) soil organic matter modelling: problems and
prospects. Nutr. Cycl. in Agroecosys. 61: 33-39.
Killham, K. 1994. Soil Ecology. Cambridge University Press. Melbourne.
Kononova, M. M. 1961. Soil Organic Matter: Its Nature, Its Role in Soil
Formation and in Soil Fertility. Translated by T. Z. Nowakowski, and A.
C. D. Newman. Pergamon Press Inc. New York.
Lal, R. 1995. Sustainable Management of Soil Resources in the Humid Tropics.
United Nation University Press. Tokyo-New York-Paris.
Leaon, M. 1995. Organic Material Management. California Integrated Waste
Management Board.
54
Lovell, R. D., and S. C. Jarvis. 1996. Effect of cattle dung on soil microbial
biomass C and N in a permanent pasture soil. Soil Biol. Biochem. Vol 28
No. 3. pp. 291-299.
Ma, W. C., L. Brussard, and J. A. de Ridder. 1990. Long-term effect of
nitrogenous fertilizers on grassland earthworm (Oligochaeta:
Lumbricidae): Their relation to soil acidification. Agric. Ecosys. Environ.
30: 71-80.
Madejon, E., P. Burgos, R. Lopez, and F. Cabrera. 2003. Agricultural use of three
organic residues: effect on orange production and on properties of a soil of
the Comarca Costa de Huelva” (SW Spain). Nutr. Cycl. in Agroecosys. 65:
281-288.
Miller, C. E., L. M. Turk, and H. D. Foth. 1985. Fundamentals of Soil Science.
Third Edition. John Wiley and Sons Inc. New York.
Müller-Sämann, K. M. and J. Kotschi. 1997. Sustaining Growth: Soil fertility
management in tropical smallholding. Margraf Verlag. Germany.
Obeng, L. A., and F. W. Wright. 1987. The-Co-Composting Domestic Solid and
Human Waste. World Bank. Washington.
Obreza, T. A., A. K. Alva, E. A. Hanlon, and R. E. Rouse. 1999. Citrus Grove
Leaf Tissue and Soil Testing: Sampling, Analysis, and Interpretation. Soil
and water Science Departement, Florida Cooperative Extension Service,
Institute of Food and Agricultural Sciences, University of Florida.
http://edis.ifas.ufl.edu/CH046. [Oktober 2005].
Paramasivam, S., A. K. Alva, A. Fares, and K. S. Sajwan. 2001. Estimation of
nitrate leaching in an Entisol under optimum citrus production. Soil Sci.
Soc. Am. J. 65: 914-921.
Parmelee, R. W., P. J. Bohlen, and J. M. Blair. 1998. Earthworms and Nutrient
Cycling Processes: Integrating Across the Ecological Hierarchy. In.
Edwards, C. A. (ed). Earthworm Ecology. Soil and Water Conservation
Society. St Lucie Press. Ankeny, Iowa.
Raich, J. W. and A. Tufekcioglu. 2000. Vegetation and
Correlations and controls. Biogeochem. 48: 71-90
soil respiration:
Sardi, I. 2006. Identifikasi Silika Amorf dari Sekam Padi. Skripsi. Departemen
Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Stevenson, F. J. 1994. Humus Chemistry: Genesis, Composition, Reactions. 2th
ed. John Wiley & Sons, Inc. New York.
Suzuki, T., Y. Ikumi, S. Okamoto, I. Watanabe, N. Fujitake, and H. Otsuka. 2004.
Aerobic composting of chips from clear-cut trees with various comaterials. Bioresour. Tech. 95: 121-128.
55
Syers, J. K., and E. T. Crasswell. 1995. Role of Soil Organic Matter in Sustainable
Agricultural System. In. Lefroy, R. D. B., G. J. Blair, and E. T. Craswell
(eds.). Soil Organic Matter Management for Sustainable Agriculture. Aciar
Proceeding No. 56. Canberra.
Ultra, V. U., D. M. Mendoza, and A. M. Briones. 2005. Chemical changes under
aerobic composting and nutrient supplying potential of banana residue
compost. Renewable Agriculture and Food Systems. Volume 20. Number
2. pp: 113-125(13). CABI Publishing.
Young, A. 1989. Agroforestry for Soil Management. Second edition. CABI.
ICRAF.
56
Tabel Lampiran 1. Analisis tanah pendahuluan di lokasi penelitian
Parameter
Satuan
Kandungan dalam tanah
pH H2O
4,29
pH KCl
3,23
Corganik
%
3,59
Ntotal
%
0,17
ppm
13,0
Aldd
me/100g
2,45
Hdd
me/100g
1,65
K
me/100g
0,39
Na
me/100g
3,20
Ca
me/100g
3,20
Mg
me/100g
1,71
Fe
ppm
88,1
Cu
ppm
1,1
Zn
ppm
6,0
Mn
ppm
30,3
KTK
me/100g
21,78
pasir
%
0,33
debu
%
30,30
liat
%
69,37
P
57
Tabel Lampiran 2. Standar analisa daun jeruk yang berasal dari cabang yang
tidak berbuah (Obreza et al., 1999) dan kadar hara awal
tanaman
N
%
<2.2
2.2-2.4
2.5-2.7
2.8-3.0
>3.0
Kadar Hara
Awal Tanaman
2,43
P
%
<0.09
0.09-0.11
0.12-0.16
0.17-0.30
>0.30
0,07
K
%
<0.7
0.7-1.1
1.2-1.7
1.8-2.4
>2.4
0,13
Ca
%
<1.5
1.5-2.9
3.0-4.9
5.0-7.0
>7.0
1,72
Mg
%
<0.20
0.20-0.29
0.30-0.49
0.50-0.70
>0.70
0,34
Na
%
-
-
-
0.15-0.25
>0.25
0,02
Fe
ppm
<35
35-59
60-120
121-200
>200
60,8
Cu
ppm
<3
3-4
5-16
17-20
>20
15,5
Zn
ppm
<17
18-24
25-100
101-300
>300
28,0
Mn
ppm
<17
18-24
25-100
101-300
>300
35,6
Elemen Satuan Defisiensi
Rendah
Optimal
Tinggi
Berlebih
Tabel Lampiran 3. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan kompos terhadap
ketersediaan hara tanah pada bulan ketiga
H
JK
df
KT
F
1,621
Sig.
0,214
Perlakuan
Galat
Total
3,325
4,786
8,111
6
14
20
0,554
0,342
Al
Perlakuan
Galat
Total
11,436
4,455
15,891
6
14
20
1,906
0,318
5,990
0,003
pH H2O
Perlakuan
Galat
Total
0,717
0,565
1,282
6
14
20
0,120
0,040
2,963
0,044
pH KCl
Perlakuan
Galat
Total
1,068
0,597
1,665
6
14
20
0,178
0,043
4,174
0,013
C organik
Perlakuan
Galat
Total
2,443
1,195
3,638
6
14
20
0,407
0,085
4,768
0,008
58
Lanjutan Tabel Lampiran 3
N
JK
Perlakuan
0,018
Galat
0,028
Total
0,046
df
KT
6
14
20
0,003
0,002
F
1,515
Sig.
0,244
P
Perlakuan
Galat
Total
16645,127
15499,520
32144,647
6
14
20
2774,188
1107,109
2,506
0,074
K
Perlakuan
Galat
Total
0,703
0,268
0,971
6
14
20
0,117
0,019
6,109
0,003
Ca
Perlakuan
Galat
Total
9,023
7,182
16,205
6
14
20
1,504
0,513
2,931
0,046
Mg
Perlakuan
Galat
Total
6,046
4,412
10,458
6
14
20
1,008
0,315
3,198
0,034
Na
Perlakuan
Galat
Total
26,470
3,877
30,347
6
14
20
4,412
0,277
15,929
0,000
Fe
Perlakuan
Galat
Total
1705,162
974,213
2679,375
6
14
20
284,194
69,587
4,084
0,014
Cu
Perlakuan
Galat
Total
0,482
1,342
1,824
6
14
20
0,080
0,096
0,837
0,561
Zn
Perlakuan
Galat
Total
52,221
59,178
111,399
6
14
20
8,703
4,227
2,059
0,125
Mn
Perlakuan
Galat
Total
3793,897
248,236
4042,133
6
14
20
632,316
17,731
35,661
0,000
Berbeda nyata berdasarkan Uji Duncan pada selang kepercayaan 95%
59
Tabel Lampiran 4. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan kompos terhadap
kadar hara tanaman jeruk pada bulan ketiga
N
JK
df
KT
F
1,910
Sig.
0,149
Perlakuan
Galat
Total
1,534
1,874
3,408
6
14
20
0,256
0,134
P
Perlakuan
Galat
Total
0,001
0,001
0,003
6
14
20
0,000
0,000
1,803
0,170
K
Perlakuan
Galat
Total
0,580
0,816
1,396
6
14
20
0,097
0,058
1,660
0,203
Ca
Perlakuan
Galat
Total
1,270
3,026
4,296
6
14
20
0,212
0,216
0,979
0,475
Mg
Perlakuan
Galat
Total
0,006
0,031
0,038
6
14
20
0,001
0,002
0,462
0,825
Na
Perlakuan
Galat
Total
0,055
0,154
0,209
6
14
20
0,009
0,011
0,832
0,564
Fe
Perlakuan
Galat
Total
9333,952
40904,413
50238,366
6
14
20
1555,659
2921,744
0,532
0,775
Cu
Perlakuan
Galat
Total
29,005
152,007
181,011
6
14
20
4,834
10,858
0,445
0,837
Zn
Perlakuan
Galat
Total
61,539
177,047
238,586
10,257
12,646
0,811
0,578
6
14
20
60
Lanjutan Tabel Lampiran 4
Mn
Perlakuan
Galat
Total
JK
1808,578
5663,153
7471,731
df
6
14
20
KT
301,430
404,511
F
0,745
Sig.
0,623
Berbeda nyata berdasarkan Uji Duncan pada selang kepercayaan 95%
Tabel Lampiran 5. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan kompos terhadap
ketersediaan hara tanah pada bulan keenam
pH H2O
JK
df
KT
F
6,441
Sig.
0,002
2,043
0,245
8,330
0,001
6
14
20
0,201
0,072
2,784
0,054
30,766
27,400
58,166
6
14
20
5,128
1,957
2,620
0,065
C
Perlakuan
Galat
Total
7,481
4,658
12,139
6
14
20
1,247
0,333
3,747
0,020
N
Perlakuan
Galat
Total
0,031
0,017
0,047
6
14
20
0,005
0,001
4,307
0,011
P
Perlakuan
Galat
Total
51646,987
244,460
51891,447
6
14
20
K
Perlakuan
Galat
Total
2,353
1,908
4,262
6
14
20
Perlakuan
Galat
Total
8,981
3,253
12,234
6
14
20
1,497
0,232
pH KCl
Perlakuan
Galat
Total
12,257
3,433
15,690
6
14
20
H
Perlakuan
Galat
Total
1,206
1,011
2,218
Al
Perlakuan
Galat
Total
8607,831 492,963
17,461
0,392
0,136
2,878
0,000
0,048
61
Lanjutan Tabel Lampiran 5
Ca
Perlakuan
Galat
Total
JK
294,905
82,179
377,084
Mg
Perlakuan
Galat
Total
df
KT
F
8,373
Sig.
0,001
4,604
2,598
1,772
0,177
6
14
20
0,055
0,019
2,931
0,046
1060,906
674,308
1735,215
6
14
20
176,818
48,165
3,671
0,021
Cu
Perlakuan
Galat
Total
0,349
0,204
0,554
6
14
20
0,058
0,015
3,987
0,015
Zn
Perlakuan
Galat
Total
118,440
65,430
183,870
6
14
20
19,740
4,674
4,224
0,012
Mn
Perlakuan
Galat
Total
2754,490
900,627
3655,117
6
14
20
459,082
64,331
7,136
0,001
6
14
20
49,151
5,870
27,623
36,377
63,999
6
14
20
Na
Perlakuan
Galat
Total
0,329
0,262
0,591
Fe
Perlakuan
Galat
Total
Berbeda nyata berdasarkan Uji Duncan pada selang kepercayaan 95%
Tabel Lampiran 6. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan kompos terhadap
kadar hara tanaman jeruk pada bulan keenam
N
JK
df
Perlakuan
Galat
Total
0,708
1,049
1,757
6
14
20
P
Perlakuan
Galat
Total
0,007
0,020
0,027
6
14
20
KT
0,118
0,075
F
1,574
Sig.
0,227
0,001
0,001
0,863
0,545
62
Lanjutan Tabel Lampiran 6
K
JK
df
KT
0,472
0,266
F
1,774
Sig.
0,176
6
14
20
0,419
0,255
1,645
0,207
1,060
0,489
1,549
6
14
20
0,177
0,035
5,058
0,006
Na
Perlakuan
Galat
Total
0,058
0,083
0,141
6
14
20
0,010
0,006
1,626
0,212
Fe
Perlakuan
Galat
Total
6614,758
15732,098
22346,856
6
14
20
1102,460
1123,721
0,981
0,474
Cu
Perlakuan
Galat
Total
3,999
16,747
20,747
6
14
20
0,667
1,196
0,557
0,757
Zn
Perlakuan
Galat
Total
751,023
1725,769
2476,792
6
14
20
125,171
123,269
1,015
0,454
Mn
Perlakuan
Galat
Total
6121,984
4506,315
10628,299
6
14
20
1020,331
321,880
3,170
0,035
Perlakuan
Galat
Total
2,829
3,721
6,550
6
14
20
Ca
Perlakuan
Galat
Total
2,512
3,565
6,077
Mg
Perlakuan
Galat
Total
Berbeda nyata berdasarkan Uji Duncan pada selang kepercayaan 95%
63
Tabel Lampiran 7. Data curah hujan daerah penelitian tahun 2006
Bulan
Curah Hujan (mm)
Hari Hujan
Januari
344
10
Februari
165
18
Maret
67
6
April
108
14
Mei
271
21
Juni
80
14
Juli
37
8
Agustus
66
8
September
232
10
Oktober
195
9
November
299
16
Desember
570
18
Total
2434
152
Download